Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 01

 
Jilid 01

Tiong chiu berlalu Angin yang bertiup pada saat musim rontok membawa kesejukan. Matahari juga lebih cepat menarik diri di bandingkan musim panas Saat ini hari belum terlalu senja Namun kegelapan mulai menyebar.

Di daerah Kwaciu terdapat sebuah tapal batas yang mengandung sejarah Di jalanan mulai terlihat penerangan dinyalakan Di ujung sebelah utara ada sebuah rumah makan kecil. Di depan pintu tergantung sebuah lentera yang redup. Mungkin hampir kehabisan minyak. Cahayanya makin pudar karena tiupan angin. Papan-papan cantang hanya disandarkan di tembok.

Ruangannya tidak besar Hanya adalima meja dan kursi Semuanya dirapatkan dengan tembok Namun

semua meja itu tensi penuh Tamu tamu ini tentu saja tak tergesa gesa menyeberangi Sungai. Kalau tidak, mereka pasti tidak akan mempunyai waktu bersantap dengan tenang.

Tamu-tamu yang duduk dilima meja tersebut mempunyai penampilan yang berbeda Tiga orang yang duduk paling depan adalah laki-laki bertubuh tinggi besar. Masing- masing membawa sebuah bungkusan kain yang bentuknya panjang. Isinya pasti pedang atau golok Wajah mereka tampak garang Dapat diduga bahwa ketiga orang itu bukan dari golongan baik baik.

Di pintu bagian kiri duduk dua orang laki-laki Tampang mereka kelihatan jujur. Kemungkinan besar dari kalapgan pedagang. Yang satu bertubuh gemuk dan yang satunya lagi malah kurus D atas meja terdapat tumpukan kain berwarna-warni.

Ternyata pedagang kain. Di tengah tengah ruangan ada dua meja. Yang kiri merupakan seorang pemuda berusia dua puluhan.

Alisnya hitam berbentuk golok. Bibirnya merah dan giginya putih bersih Bukan hanya penampilannya saja yang enak dipandang tingkahnya pun lembut dan berpendidikan. Sekali pandang sudah dapat dipastikan bahwa pemuda ini seorang su- seng (pelajar). Meja dalam sebelah kanan diisi oleh seorang perempuan berusia kira kira dua puluh tiga atau empat tahun Dia hanya seorang diri. Pakaiannya adalah stelan celana berwarna hijau pupus Rambut kepalanya diikat dengan sehelai selendang berwarna hijau pula. Pinggangnya ramping hanya kulitnya saja yang agak hitam, namun malah menambah kemanisan wajahnya Meskipun dandanannya seperti seorang perempuan desa, tapi penampilannya tidak kampungan. Di bagian paling pojok dekat pintu rumah menuju dapur duduk seorang pemuda. Bajunya lusuh Wajahnya kotor dan hitam. Mungkin sedang mengadakan perjalanan jauh. Dia duduk disudut yang gelap. Kepalanya tertunduk. Sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Dia menikmati bakmi dihadapannya dengan penuh selera.

Pemilik rumah makan ini adalah seorang laki laki tua berpungggung bungkuk. Kepalanya tertutup sebuah topi kecil. Di pundaknya tersampir sehelai kain lap berwarna biru. Tampaknya sudah kumal dan berminyak Dia juga bertindak sebagai koki, bagian tukang potong sayur, menuangkan teh, mengantar makanan dan melap meja Pokoknya semua pekerjaan ditanganinya sendiri. Tentu saja dia sangat kerepotan dalam melayani tamu.

Blangg!!! terdengar suara keras seseorang yang menggebrak meja Kemudian dilanjutkan dengan bentakan yang kasar....

"Hei Lao pan .. aku menyuruh kau membawakan lagi tiga kendi arak, tapi kau tidak melayani sejak tadi. Apakah telingamu tuli. Toayamu masih banyak urusan yang harus diselesaikan setelah kenyang makan dan minum, Cepat!".

Dari bentakan itu saja, biarpun tidak usah melihat siapa orangnya sudah dapat dipastikan tamu-tamu yang berwajah garang di depan pintu yang mengeluarkan suara itu. Mata mereka mendelik Di kening terlihat urat hijau yang menyembul keluar Tampaknya mereka sudah minum cukup banyak. Gebrakan yang keras di meja, hamplr saja membuat lilin yang sedang menyala tumpah.

Baju ketiga orang itu telah terbuka. Bulu-bulu dada yang lebat membuat orang-orang yang menatap mereka semakin ketakutan, Mungkin mereka sengaja memperiihatkan kegarangan mereka agar dilayani lebih cepat.

Tamu-tamu yang lain memang sudah sejak pertama tidak menyukai tampang ketiga orang tersebut. Perbuatan mereka yang kasar semakin membuat para tamu membungkam. Pemilik rumah makan tersebut cepat-cepat memberikan reaksi sebelum orang-orang kasar itu bertambah marah.

"Baik baik," sahutnya tergopoh-gopoh.

Orang tua itu segera masuk ke dalam dapur untuk memenuhi pesanan mereka Dalam waktu sekejap dia sudah keluar lagl dengan tangan membawa arak Langkah- langkahnya bagai orang kelabakan Dia meletakkan pesanan tersebut di atas meja.

Wajahnya dibuat secerah mungkin.

"Sam wi khek kuan. Harap maafkan Tidak biasanya rumah makan saya seramai hari ini Sedangkan yang melayani hanya seorang, jadi agak terlambat memenuhi pesanan para tuan," katanya.

Laki-laki kasar yang duduk di sebelah dalam, dengan tidak sabar merebut arak dl tangan orang tua itu. "Sudah. Sudah. Jangan banyak omong! Pergisana ! bentaknya.

Orang tua itu mana berani bicara lebih banyak lagi. Ia hanya mengiakan saja, lalu ngeluyur untuk melayan, tamu yang lain, Laki-laki kasar tadi menuangkan arak bagi kedua rekannya, kemudian memenuhi cawannya sendiri. Diangkatnya cawan tersebut Sekali teguk saja, arak itu telah berpindah ke perutnya matanya memandang laki laki di hadapannya dengan seksama.

Laki-laki yang dipandangnya adalah seorang setengah baya dengan bercak-bercak putih di wajah. Tampaknya orang itu merupakan Lao toa dari rombongan tersebut. Sedangkan rekan yang satu lagi menikmati araknya dengan kepala mangut-mangut.

Laki-lak kasar yang tadi menggebrak meja bangkit dari duduknya Kaki sebelah kirinya ditangkringkan dikursi kayu. Matanya menatap tajam kepada kedua orang yang diduga pedagang tadi.

"Apakah sam wi datang dari Si Pao?”. tanyanya. Si Pao merupakan daerah perdagangan paling besar di tenggara.

Mendengar nada yang kurang ramah dari laki lak kasar itu kedua orang tersebut segera berdiri. Yang bertubuh lebih gamuk segera memamerkan seulas senyuman.

"Betul.. betul Enghiong” sahutnya.

"Toaya bernama Pek Phi Long (Sengala berhidung putih) Pek Seng Bukan segala macam Enghiong atau keturunan beruang (Hiong dalam bentuk tulisan yang lain artinya beruang)," jawab laki-laki kasar itu.

"lya lya maaf," kata pedagang bertubuh gemuk itu gugup. Tangannya saling menggenggam dengan gemetar. Waiahnya tampak pucat Dia sudah ketakutan sekali.

Kalian datang dari tempat yang jauh, di sepanjang perjalanan tidak pernah terjadl apa-apa tahukah kalian apa sebabnya?" tanya Pek Phi Long kembali.

Pedagang bertubuh gemuk itu memandang dengan terkesima. Dia bingung mendapat pertanyaan seperti itu.

"Siaute tidak tahu ." sahutnya gagap-gugup. Pek Phi Long tartawa kering.

"Kalian harus mengerti. Perjalanan Kang Wi selamanya tidak amanPara penguasa di jalan jalan yang kalian lalui tidak mungkin membiarkan dua ekor kambing gemuk seperti kalian lewat begitu saja Bahkan mencium baunya pun tidak " katanya.

Pedagang bertubuh gemuk itu tidak tahu arah tujuan percakapan Pek Phi Long Dia terpaksa mengangguk saja berkali-kali.

"Betul! Betul”. Pek Phi Long mengalihkan pandangannya ke arah laki laki setengah baya dengan bercak bercak putih di wajah itu. Dia tertawa terkekeh kekeh.

"Hal ini merupakan jasa besar Ma Bin Long (Srigala berwa|ah bintik bintik) Sen Lo toa dan Lao sam Toan bwe long (Srigala berekor putus) Tio Cau Selama dalam perjalanan kalian di lindungi oleh kami tiga kakak beradik”, katanya sambil memandang para pedagang itu secara bergantian.

Pedagang bertubuh gemuk itu merasa bersyukur mendapat perlindungan mereka. Dia masih belum sadar bahwa peristiwa ini masih berbuntut.

"Kami kakak beradik mengucapkan beribu-rlbu terima kasih atas perllndungan Sam wi enghiong," sahutnya sambi! menjura dalam-dalam.

Pek Phi Long kembali tertawa terkekeh-kekeh.

Hengte tadi sudah mengatakan, Kami bukan segala macam enghiong Kami adalah serigala Wi Pak sam ong (Tiga srigala dari Wi Pak)," katanya.

Pedagang bertubuh gemuk itu tampak terperanjat Dia sudah dapat meraba siapa orang orang yang ada di hadapannya itu.

Mengerti mengerti Siaute sering berkelana di daerah Lam pak dan sungai telaga, Kami berdagang kain keliling. Nama besar Wi Pak sam long sudah pernah kami dengar," sahutnya sambil mengerling saudaranya yang kurus "Tangannya diulurkan untuk mengambil buntalan dibahu si kurus. Setelah merogoh kian kemari akhirnya dia mengeluarkan uanglima tail dalam bentuk recehan. Dia meletakkannya dengan hati hati di atas meja para laki laki kasar itu Wajahnya mengembangkan senyuman.

"Siaute adalah rakyat kecil. Bisa mendapat perlindungan ketiga orang toaya, merupakan kebanggaan kami. Ini sedikit uang yang kami dapatkan sepanjang perjalanan. Kami memberikannya dengan rela kepada para Toaya..." katanya kemudian.

Sepasang mata Pek Phi Long yang memancarkan warna kemerahan menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pedagang bertubuh gempal itu melihat reaksi yang kurang menyenangkan. Dia menatap kepada pedagang bertubuh gemuk. Mereka sibuk mengeluarkan isi yang tersisa dan dalam buntalan tersebut Jumlahnya mencapai tiga ratus tail perak.

"Uang ini tentu tidak berarti buat Toaya, tapi harap jangan menganggapnya sebagai balas jasa. Siaute memberikannya karena rasa hormat semata," kata pedagang bertubuh gemuk itu dengan tangan gemetar.

Pek Phi Long mengangkat cawannya yang masih tensi separuh. Dia mengebaskannya ke arah muka pedagang bertubuh gemuk itu, Gerakan tangannya wajar sekall Seakan sedang mengadakan sebuah pertunjukan saja.

Pedagang bertubuh gemuk itu terpana. Wajah dan sebagian baju bagian dada basah semua. Pek Phi Long merasa lucu melihat tampangnya. Dia tertawa terbahak-bahak, Bulu kuduk pedagang bertubuh gemuk itu berdiri mendengar suaranya yang menyeramkan itu. Dla tidak merasakan tubuhnya yang basah kuyub. Tanpa sadar, kakinya mundur selangkah. Tampaknya bernafas agak keras pun, dia tidak berani.

Tawa Pek Phi Long lenyap. Sinar matanya semakin dingln rnenusuk Seperti sebilah pisau yang tajam. Dia memandang pedagang bertubuh gemuk dari atas kepala sampal ujung kaki.

"Kau kira Wi Pak sam long menndungimu sampai sekian Jauh hanya untuk uang senilal tiga ratus tail?" tanyanya ketus.

Pedagang bertubuh gemuk itu mengerutkan badannya.

"Tentu tidak tentu tidak,,." sahutnya gemetar. Sampai saat itu, dia baru berani mengusap air yang membasahi waJahnya.

"Bagus sekali kalau kau tahu" kata Pek Phi Long sambil mengelus dagunya, "Kami merupakan orang-orang yang suka berterus-terang. Toaya melindungi kalian dari Wi Pak tentu mempunyai niat tertentu Kami hanya menginginkan barang berharga di buntalan yang satu lagL Kalian tentu mengerti apa yang kami maksudkan bukan?" Pek Phi Long melanjutkan perkataannya tadi,.

Wajah kedua pedagang itu pucat seketika.

"Kami hanya dua orang pedagang kecil kata pedagang bertubuk gemuk gugup.

Pek Phl Long megeluarkan sebatang go-lok baja dari buntalan di mejanya. Dia mengibas-ngibaskan di hadapan kedua pedagang tersebut, Di waiahnya terpancar segumpal hawa pembunuhan,.

"Toaya tldak ada waktu untuk berdebat dengan kalian, Jawab saja... mau harta atau sayang nyawa?" bentaknya.

Pedagang bertubuh gemuk itu gemetar. Wajahnya pucat pasi.

"Kau . mengancam nyawa kami untuk merampok harta?" tanyanya panik. Pedagang yang kurus diam-diam menjawil lengan baju adiknya.

"Loji..., Jangan berkata apa-apa lagi. Sam wi eng hiong mengikuti kita sejauh ratusan li. Mereka tentu sudah menyelidiki keadaan kita sampai jelas. Untung saja barang pesanan ini jumlahnya tidak seberapa. Paling-paling laksaan tail saja. Kita masih harus serlng melewati wilayah para toaya ini. Ang-gaplah barang ini sebagai tanda persaha-batan Orang yang serlng mengadakan perjalanan seperti kita, memang harus banyak bergaul. Ini yang disebut, kehilangan harta namun hati tenang," kata pedagang tubuh kurus tersebut.

Wi Pak sam long tadinya mengira barang yang dibawa kedua pedagang itu, paling paling bernilai ribuan tall, sakarang mereka mendengar sendiri bahwa jumlahnya jauh melebihrperklraan mereka. Tentu saja hal ini membuat Wi Pak sam long kesenangan. pedagang bertubuh gemuk itu mengang-gukkankepalanya berkali-kalL.

"Kaiau lotoa sudah berkata begitu, aku loji mana berani membantah Namun perjalanan kita kali ini boleh dl bilang sia-sia saja," sahutnya sambil menghela nafas,.

"Tidak apa-apa. Selama gunung masih menqhijau, tidak usah takut kekurangan kayu bakar. Kali Ini Wi Pak sam long mau mengampuni jiwa kita, sudah termasuk suatu keburuntungan, kata pedagang bertubuh kurus.

"Tidak salah! Kami Wi Pak sam long biasanya tidak membiarkan korban kami lolos dalam keadaan hidup. Namun kali ini kami bisa membuat pengecualian. Melihat keJujuran kalian berdua, biarlah kami mengampuni jiwa kalian” sahut Pek Phi Long.

Kedua pedagang itu bagaikan mendapat pengampunan dari kaisar. Mereka tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Dan buntalan yang satunya lagi, mereka mengeluarkan serenceng mutiara yang besar-besar. Keduanya saling berebutan meletakkannya di atas me|a laki-laki besar tadi.

Pek Phi Long sudah lama berkecimpung di rimba hijau. Matanya setajam burung elang, Dia melihat buntalan yang berisi mutiara itu belum kempes seluruhnya. Dl dalamnya pasti masih tersisa sesuatu. Dia mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Apakah seluruh isi buntalan itu telah dikeluarkan?" tanyanya sinis. Pedagang bertubuh gemuk itu menganggukkan kepala berkali-kali. "BetuL semuanya telah di keluarkan," sahutnya terbata-bata,.

Peh Phi Long mendengus keras, Dia menarlk kerah baju pedagang gemuk pendek itu.

"Keluarkan semuanya! Jangan kau anggap aku manusla tolol" bentaknya, Wajah kedua pedagang itu semalyn pucat Mereka memaksakan sebuah senyuman di bibir.

"Terus-terang saja, Toaya.. Yang sisa ini adalah modal....

.

Pek Phi Long mengibaskan tangannya menghentikan pembicaraan pedagang bertubuh gemuk,.

"Rupanya kalian belum gentar kalau melihat peti mati. Mau keluarkan atau tidak”. bentaknya sekali lagi Dia tidak memberi kesempatan kepada pedagang tersebut melanjutkan penjelasannya.

"Lotoa. Bukankah ini sama saja dengan meminta nyawa kita?" tanya pedagang

gemuk itu kepada saudara tuanya,.

"Hal ini juga tidak dapat dikelabui lagi, Kalau sam enghiong memang ingin melihat, lebih baik kita tunjukkan saja," sahut pedagang bertubuh kurus. Pedagang bertubuh gemuk itu tampaknya serba salah. Dia menatap saudaranya kebingungan.

"Tapi, kalau di tunjukkan, kita bisa kehilangan nyawa," katanya.

"Tidak dikeluarkan |uga sama kehilangan nyawa," sahut Pek Phi Long sambil mendengus.

"Betul! Betul!" kata si pedagang bertubuh kurus.

Saudaranya terpaksa merogoh kembali buntalan tersebut Wajahnya terlihat tegang. "Lotoa.. Kau saja yang mengeluarkan milikmu lebih dahulu.".

Mata pedagang bertubuh kurus Itu mendelik Dia menganggap saudaranya terlalu bodoh. Mestinya ketiga laki-laki kasar itu tahu bahwa di sakunya masih tersimpan sesuatu, Perkataan lojinya sama dengan memberitahukan, Benar saja! Wajah Pek Phi Long tampak cerah.

"Oh,.. kau juga punya sesuatu.. . Hayo... keluarkan sekalian!" bentaknya.

Gerakan pedagang kurus itu leblh slgap, Mungkin dia menganggap hal tersebut tidak dapat disembunyikan lagi. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan balik sakunya. Tang!!! Bunyinya berdenting. Tampaknya bungkusan itu berat ]uga isinya Dia membuka kain penutup benda tersebut Wa-jahnya menunjukkan senyuman terpaksa.

"Siaute hanya mempunyai sepasang inl saja..." katanya,.

Kain pembungkus yang, diletakkan di meja sudah lusuh sekali. Isinya ternyata bukan segala permata atau uang emas, hanya sepasang potlot besi berwarna hitam pekat.

Wajah Pek Phi Long berubah seketika Dia tarperanjat sekali.

"Sepasang potlot besi..." gumamnya. Pedagang bertubuh gemuk juga segera mengeluarkan isi dalam buntalannya. Dia menyodorkannya ke hadapan Pek Phi Long. Wajahnya masih tetap tersenyum.

"Siaute hanya mempunyai sebuah cakar baja saja Apakah para enghiong menyukainya?".

Biarpun dia tidak menerangkan, Pek Phi Long juga sudah melihat dengan jelas. Tangan kanan pedagang gemuk itu sekarang, mengenakan sebuah cakar elang denganlima kuku yang terbuat dari baja. Sekelebatan angin menerpa wajah pek Phi Long, cakar baja itu bergerak cepat dan berhenti di depan dadanya. Cakar baja itu menge-luarkan sinar berwarna kebiruan. Hal ini membuktikan bahwa senjata itu telah direndam racun yang ganas.

Pek Phi Long bukan orang baru dalam kalangan nmba hijau. Sedikit banyak, pengetahuannya cukup luas juga. Tentu saja dia pernah mendengar tentang kedua sen- jata tersebut.

"Thi pit, Kang jiau, Ai mia pai cu (Potlot besi, cakar baja, pedagang peminta nyawa)!" serunya gemetar.

Lo toa dari Wi Pak sam long baru saja menyumpit sebuah tahu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Tanpa sempat mengunyah lagi, tahu itu langsung ditelannya. Dia terkejut mendengar keterangan saudaranya yang kedua. Tadinya dia menyerahkan urusan jual beli tersebut di tangan lojinya. Dia hanya duduk dan makan sambil menunggu hasil. Dia segera bangkit dari tempat duduknya. Tangannya menjura kepada kedua pe-dagang tersebut.

"Cayhe hengte benar-benar ada mata tapi tak berbiji, tidak mengenali kedua Hiap khek. Kalau tadi ada sedikit kesalahpahaman, harap kedua Taihiap maafkan” katanya sambil membungkukkan badan dengan hormat.

Mata pedagang bertubuh gemuk itu seperti setengah terpicing. Bibirnya masih mengulum senyum.

"Kiu lotoa Kata-katamu terlalu sungkan. Kami heng te bukan sembarang taihiap. Tapi pedagang. Pedagang peminta nyawa!" sahutnya ramah.

Ma bin long merasa ucapan itu agak tidak beres Kenngat dingin mulai mengucur di keningnya. Thi pit, kang jiau, Ai mia pai cu, memang bukan sembarang pendekar. Mereka selalu mengadakan jual beli di daerah. tenggara. Hati keduaorang itusangat kejam. Tangan mereka juga amat telengas Ma Bin Long berdiri di Wi Pak mempunyai sedikit nama, tapi kalau di bandingkan dengan kedua orang pedagang peminta nyawa ini, mereka ibarat tiga ekor semut di telapak kaku mereka.

Meskipun dia dapat dikatakan seorang penguasa di daerahnya, namun dia juga tahu Asalkan telunjuk saiah satu orang itu terulur. Nyawa mereka bertiga terpaksa dikorbankan. Malam ini merupakan malam sial bagi mereka. Mengapa tidak mengikuti orang lain, malah bisa bertemu dengan kedua iblis ini? Siapa pun tidak akan menyangka bahwa akhir kejadian itu bisa berubah demikian. Padahal kedua pedagang itu tampak sungguh-sungguh ketakutan ketika diancam tadi. Ma bin long segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan kedua pedagang tersebut.

"Harap kedua Taihiap berjiwa besar. Siaute mempunyai mata tapi tidak melihat gunung Thaisan yang menjulang. Orang yang ,berjiwa besar tidak akan menganggap serius seorang manusia tolol. Harap Taihiap mengampuni jiwa kami beberapa hengte ini," katanya sambil membenturkan kepala ke lantai berkali-kali.

Pedagang bertubuh gemuk itu melebar-kan senyumannya Ma bin long terkesiap. Dia sudah mendengar kebiasaan kedua orang ini. Yang gemuk jika semakin tertawa semakin berbahaya. Sedangkan yang kurus semakin sering menartk nafas, semakin kuat keingmannya untuk membunuh.

"Sam wi enghiong makin tidak benar. Bukankah tadi siaute sudah menerangkan, bila barang ini dikeluarkan bisa meminta nyawa. Namun memang siaute juga ikut bersalah Sebetulnya nyawa yang dimmta bukan nyawa kami, tapi nyawa kalian. Barang yang merupakan modal kami tni sangat aneh. Kalau sudah dikeluarkan pasti akan melukai orang Siaute juga tidak mengertl apa sebabnya" sahut si Cakar baJa,.

Pek Phi Long, Toan bwe long segera ikut berlutut di samping Ma bin tong. Mereka bagai sebuah kelompok penyanyi koor.

"Taihiap, ampuni jiwa kami!" kata mereka serentak.

Kepala mereka terangguk-angguk bagai burung pelatuk, Tentu saja kening itu bercucuran darah segar.

"Tampaknya sam wi enghiong lebih menyayangi nyawa daripada harta. Mengapa aku Ho loji. tidak menyimpannya lebih dulu?" katanya seorang din Dia mengulurkan tangan dan meraup uang parak yang tersedia di atas meja tadi. Semuanya dimasukkan kembali ke dalam buntalan.

Pedagang yang bertubuh kurus tampaknya tidak tega melihat ketiga orang itu Dia menank nafas panjang.

"Loji, Begini saja... melihat keadaan mereka yang begrtu ketakutan, apalagi mereka juga sudah cukup sopan terhadap kita, leblh baik kita bermurah hati sedikit Suruh mereka masing-masing memotong sebelah ta-ngan lalu biarkan mereka pergi.

Bagaimana" katanya memberi usul.

Pedagang bertubuh gemuk tertawa-tawa, "Apa yang dikatakan Lotoa, selamanya tldak pernah kutawar. Namun rasanya terlalu murah bagi mereka. Ya... sudahlah... sahutnya.

"Wi Pak sam long .. Kalian dengar! Manusia yang bertemu dengan Ai mia pai cu, selamanya tidak ada yang berhasil meninggalkan tempat dalam keadaan hidup. Lie lotoa hanya mengingat bahwa tadi kau pun bersedia melepaskan din kami. Namun kalian diharuskan meninggalkan sebuah tangan di atas meja untuk peringatan.

Mengerti" bentak Lie Lotoa.

Bertemu dengan Ai mia pai cu tanpa kehilangan nyawa, benar-benar terhitung rejeki besar Wi Pak sam long mana berani banyak bertingkah, Mereka menganggukkan kepala serentak.

"Terima kasih untuk pengampunan jiwa kedua Taihiap'" seru Ma bin long mewakil- kan saudara saudaranya "Mereka bangun bersama. Golok ba|a yang masih tergeletak di atas meJa segera diambil Ketiga orang itu bersiap-siap mengutungi tangan kiri mereka Pemiiik rumah makan mengeluarkan sepatah kata: "Eh!" Dia menghampiri Wi Pak sam long dengan langkah tergesa-gesa. Kedua tangannya digoyang- goyangkan.

"Tuan tuan, harap tunggu dulu. Ini tidak boleh jadi," katanya panik Golok baja di tangan Ma bin long sudah hampir diturunkan Gerakannya terhenti mendengar perkataan pemillk rumah makan itu. "Tuan-tuan harap maafkan, Siaulo pernah berjanji di depan para dewa, bahwa tidak akan ada darah yang mengalir dalam rumah makan ini Tuan-tuan hendak mengutungi tangan, tentu ada darah yang mengalir Oleh sebab itu siaulo memberanikan diri untuk mencegah. Sedangkan ayam, bebek, serta lainnya saja selalu siaulo pesan dari luar.

Setelah dibersihkan. baru diantar kemari. Harap tuan tuan mengerti kesulitan siaulo.

Bila memang harus mengutungi tangan sendiri, mohon tuan tuan melakukannya di luar pekarangan saja," kata pemilik rumah makan itu dengan senyum dipaksakan.

"Ciang kuijin. Siapa yang mendirikan peraturan seperti itu?" tanya pedagang kain

bertubuh gemuk.

Orang tua itu meluruskan pinggangnya sejenak. Kemudian dia menoleh ke arah orang yang bertanya dengan senyum semakin lebar.

"Peraturan di rumah makan ini, tentu siaulo sendiri yang menentukan," sahutnya.

Pedagang bertubuh kurus menatap orang tua tersebut dengan pandangan tajam, Dia merasa tidak sabar melihat sikap orang tua itu.

"Bagaimana kalau peraturan Hu tidak diindahkan?" tanyanya.

"Bagaimana mungkin.Ada pepatah yang mengatakan: Bo khua hud bin, khua kim bin (Tidak memandang muka buddha, pandanglah muka dewata) Tuan-tuan tidak memberi muka kepada siaulo tidak apa-apa, tapi setidaknya tuan-tuan harus memandang muka para dewa, sahut orang tua tersebut dengan senyum datar.

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut tangannya menunjuk ke arah sebuah meja sembahyang di bagian dalam. Meja itu terlihat kotor. Sedangkan gambar yang tergantung di atasnya juga telah berwarna kehitaman karena terkena asap dari dapur Gambar itu adalah sebuah lukisan hasil kerja tangan dengan menggunakan tinta mopit. Setelah diperhatikan dengan jelas, baru terlihat bahwa yang dilukis adalah seekor harimau hitam.

Di atas meja sembahyangan itu juga ter-dapat dua buah tempat lilin dan sebuah pedupaan. Tampaknya pemilik rumah makan itu seorang yang fanatik sekali dalam memuja dewa tersebut. Bila tidak, dia tentu ti-dak akan berarn berkata seperti itu di depan Ai mia pai cu.

Pedagang bertubuh kurus itu sama sekali tfdak mendongakkan wajahnya. Otomatis dia juga tidak tahu dewa apa yang disembah orang tua tersebut Dia bahkan menatap orang tua itu dengan pandangan sinis.

"Kalau kami memang ingin mengalirkan darah di rumah makan ini, apakah dewamu sanggup menghalanginya” pertanyaan itu dilontarkan dengan nada dingin.

Pemilik rumah makan itu tersenyum lebar.

"Kalau tuan-tuan memaksa melakukan hal yang dilarang dj rumah makan ini, dewapasti bisa menghalanginya " sahutnya yakin. Tepat pada saat perkataannya selesai, sebuah tertawa yang merdu terdengar dl kedai kecil tersebut Sekali dengar saja, orang su-dah bisa mengetahui bahwa suara Itu keluar dari mulut seorang perempuan Di dalam rumah makan Itu, hanya ada satu orang perempuan Dia adalah tamu yang duduk di sebelah kanan dalam. Suara tawanya sudah sirap.

"Thi pit, Kang jiau, dua orang taihiap dengan nama begitu besar Masa tldak dapat menduga dewa apa yang disembah orang tua itu? Tentunya pengalaman kahan sudah cukup banyak bukan?".katanya dengan bibir mencibir.

Jangan di llhat dari cara berpakaiannya yang seperti orang desa Sekali buka mulut, orang sudah dapat menduga kalau perempuan ini tidak seperti orang biasa.

Thi pit Lie Pak tou (pedagang bertubuh kurus) mengangkat kepalanya seketika. Dia memandang perempuan berbaju hijau itu sekejap, kemudian tatapannya berallh ke lukisan yang tergantung di atas meja sembahyang Dja memang sudah lama merantau ke segala penjuru Begitu mendengar kata kata perempuan itu, sebuah ingatan berkelebat di j benaknya. Dia pernah mendengar tentang seorang Jago di kalangan kangouw yang sudah lama mengundurkan din Julukannya adalah Hek houw sin.

Nama aslinya Chao Kuang Tu Hatinya tergetar. Orang ini tidak boleh dipandang ringan. Slapa yang menyangka bahwa dia sekarang membuka sebuah rumah makan kecil di desa ini. Lie Pak Tou cepat-cepat menjura dalam dalam ...

"Cahye kakak beradik tidak tahu kalau lojin adalah Hek houw sin Chao cianpwe. Ucapan yang kurang ajar tidak disengaja. harap Cianpwe maafkan." katanya.

Pemilik rumah makan itu tampak terpana, Dia segera membalas penghormatan. tersebut.

"Tuan-tuan jangan begitu Yang siaulo puja adalah dewa reJeki. Ini pun baru dimulai se|ak tanggallima awal tahun ini,Ada orang yang memberikannya kepada siaulo.

Katanya kalau siaulo menempelkan lukisan dewa inl di dinding dan bersembahyang dengan pasang hio setiap che it, cap go, maka rejeki akan mengalir terus.

Kenyataannya memang rumah makan siaulo lebih ramai dari biasanya sejak memuJa dewa tersebut," sahut orang tua ilu dengan tampang ketolol-tolol-an, Dia menelan ludah sejenak. Kemuchan bibimya tersenyum kembalL "Harap tuan-tuan jangan mendengar gurauan niocu itu, Slaulo bukan orang besar apa-apa," lanjut-nya dengangaya merendahkan diri.

Thi pit Lie Pak Tou mana mau percaya dengan omongan orang tua tersebut. Dia mengallhkan pandangan kepada Wi Pak sam long.

"Karena Chao lo cianpwe Sudah membuka mulut emasnya, berarti hukuman kalian mengutungf tangan tidak usah ddanjutkan lagi. Cepat menggeHnding»" bentaknya.

Wi Pak sam long mengiakan serentak Ma bin tong sebagai lotoa segera merangkap- kan kedua tangannya. Dia menjura dalam-dalam kepada pemillk rumah makan tersebut "Terima kasih, Chao lo yacu" katanya. Mereka segera membalikkan tubuh dan me-nlnggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa Mungkin merekatakut kalau salah satu dan ketiga orang tersebut berubah pikiran.

Pemuda yang duduk di sebelah kiri dalam, sejak tadi hanya makan dan minum tanpa memperdulikan sekitarnya. Sandiwara yang berlangsung seru di hadapannya, seperti tidak menarik perhatiannya sama se-kali. Dla tidak pernah melirik atau mendo" ngakkan kepala untuk melihat adegan itu. Begitu melihat kepergian Wi Pak sam long, dia juga tampaknya tergesa-gesa ingin me-ninggalkan tempat tersebut. Ditetakkannya mangkok yang sudah kosong di atas meja. Dari balik sakunya, dia mengeluarkan beberapa keping uang receh dan diletakkan di samping mangkok tadi, Dengan langkah terburu-buru dla ketuar dan sebentar saja su-dah menghilang dalam kegeiapan.

Pemilik rumah makan itu melirlknya sekejap. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda tersebut. Kain lap yang tersampir di pundaknya, diambil untuk membersihkan meJa Mangkok dan cawan arak dibereskan. Usianya yang sudah tua membuat gerakannya kaku dan lambat.

Thi pit dan ang ciau tidak melihat bahwa Orang tua itu mengerti ilmu silat Apakah orang tua ini benar-benar Chao Kuang Tu yang sudah mengundurkan diri dari Bu lim? Bukankah menggelikan bila hanya karena selembar lukisan yang ditempel di dinding lalu menganggap orang tua itu adalah Hek houw sln? Dengan kedudukan seperti Thi pit dan Kang jiau, seandalnya mereka sa!ah lihat dan kabar ini tersebar luas dl luaran, bukankah akan menjadi bahan tertawaan?.

Oleh sebab itu, dalam hati Ue Pak Tou merasa bahwa kata katanya terhadap Wi Pak sam long sudah terlanjur diucapkan. Orang toh sudah pergL mau diapakan lagi?

Namun otaknya mempunyai rencana tersen-diri. Dia menunggu sampai orang tua itu membalikkan tubuh dan membelakanginya. Dijumputnya sebuah tulang ayam lalu disentilnya ke arah tulang punggung pemilik rumah makan itu.

Dia hanya bermaksud mengujl orang tua tersebut Tenaga yang digunakannya tentu saja tidak seberapa besar, namun gerakannya cepat sekali. Siapa sangka pemilik rumah makan yang sudah tua Itu memang membersihkan meja dengan setengah hati Dia hanya melap secara serampangan saja, kemudian pindah lagi ke meja lainnya.

Ketika tulang ayam yang disentil oleh Lie Pak Tou hampir mengenai punggungya, dia sudah berpindah ke meja lain. Tentu saja timpukan itu jadi meleset dan terjatuh ke lantai tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Orang tua itu tampaknya tidak menyadari perbuatan Lie Pak Tou, Dia menyampirkan kembali kain lap yang sudah kotor itu di pundaknya dan dengan langkah gontai menuju ruangan dapur.

Lie Pak Tou yang gagal menguji orang tua tersebut, semakin penasaran. Dia menoleh kepada adiknya sekejap Pedagang bertubuh gemuk yang bernama Ho Pak Tung itu sangat mengerti perasaan kakaknya itu, Kalau dipikirkan secara seksama, orang tua tersebut memang tidak mengakui dirinya adalah Hek Houw Sin Yang mengatakannya adalah perempuan berpakaian hijau di dalam. Dia segera mengalihkan pandangan kepadanya SekeJap kemudian dia bangkit dan berjalan menuju meja yang diduduki perempuan tersebut Wafahnya menampilkan senyuman, Pipinya yang gemuk membuat se-pasang matanya bertambah sipit kalau sedang tertawa.

"Siau niocu. Maaf menganggu..."katanya.

Wajah perempuan itu berbentuk bulat telur. Dia mengangkat kepala dan membalas tatapan pedagang gemuk itu dengan tersipu-sipu.

"Oh Tidak apa-apa. Ho ya menghampiri meja Siau nu budak cilik) tentu mengandung maksud tertentu?" tanyanya.

Ho Pak Thung benar-benar bertampang padagang. Wajahnya selalu tersenyum Pe- nampilannya bagai saudagar besar. Dia malah bersikap ramah sekali.

"Cayhe dua bersaudara selalu berdagang di wilayah tenggara. Baru kali ini mencoba mengadu peruntungan di wilayah Kang wi, Terima kasih atas petunjuk Siau niocu yang berharga tadi," katanya sopan.

Perempuan itu membalas senyuman pedagang gemuk itu.

"Aku juga datang dari tenggara. Oleh se-bab itu, sekali mendengar nama besar liong wi tayhiap, aku segera tahu Mengenal perkataan petunjuk, Siau nu sama sekali tidak berani menerimanya.Tapi pemilik rumah ma-kan ini adalah Hek Houw sin, memang sejak semula siau nu sudah mengenalinya,” sahut perempuan itu. Dia tertawa dengan suara merdu. Sederetan gigi yang putih bersih membuat wajahnya semakin'manis.

Gayfc nya juga sangat menawan.

Ho Pak Thung terpesona. Namun dla juga agak terperanjat.

"Siau'niocu mengenali Hek Houw sln Chao Kuang Tu Apakah dia merupakan ciang kui Jin rumah makan ini?" tanyanya sekali lagi Dia tampak masih kurang yakin.

Perempuan berbaju hpau menjebikan bibirnya. Sesaat kemudian diatersenyum nakal,.

"Ho ya bicara sampai kemana,... Siau nu kapan pernah berkata bahwa pernah mengenal Hek Houw sin?" Alis matanya dlkerutkan. Lalu dia melanjutkan kembali. "Siau nd tadi melihat kedua taihiap tidak mengetahui dewa apa yang dipuja pemilik rumah makan ini, makanya Siau nu menjelaskan kepada taihiap berdua.".

Chao Kuang Tu, Julukannya Hek How sin memang dewa harimau yang dipuja orang,.

Mungkin saja perempuan ini memang bukan orang kangouw sehingga kata-katanya jadi kacau. Namun sinar matanya menyembunyi-kan sesuatu. Ho Pak Thung bukan anak ke-marin sore yang dapat dikelabui begitu saja. Dia tahu perempuan itu memang berlagak pllon.

Ho Pak Thung tersenyum.

"Siau njocu datang dari tenggara. Entah darirnana pernah mendengar nama cayhe bersaudara? tanyanya.

Perempuan berbaju hijau itu tertawa. Dia menunjuk keranjang yang terletak di sampingnya.

"Siau nu selaiu berjualan bunga di Pek Toa hu thong (Pintu masuk sebuahkota ) sahutnya Orang yang keluar masuk di Pek Toa hu thong memang berdiri dari berbagai macam kalangan. Tidak heran kalau perempuan itu pernah mendengar nama mereka disana .

'Kemana Siau niocu hendak pergi kali ini?" tanya Ho pak Thung kembali.

Be hua niocu (Perempuan penjual bunga) itu melirik Ho Pak Thung sekilas, Wajahnya tertunduk.

"Pertanyaan Ho ya terasa seolah-olah me-naruh kecurigaan terhadap Siau nu. Tapi tidak apa-apa. Orang tua Siau nu tinggal di Yang ciu. Maksud kepergian siau nu kali ini adalah ingm menjenguk ibu," sahutnya.

Ho Pak Thung terlawa terkekeh-kekeh,.

"Kalau rumah orang tua siau niocu me-mang berada di Yang ciu, seharusnya tidak melalui jalan ini bukan?".

Be hua niocu mendengus sekali Senyumnya tidak dipamerkan lagi.

"Temyata Ho ya memang menaruh kecungaan terhadap siau nu Rumah orang tua siau nu memang di Yang ciu, tapi paman slau nu justru tinggal di ujung desa ini. Siau nu toh sudah melakukan perjalanan jauh Apa salahnya sekalian mampir menengok pamanku" sahutnya ketus.

"Budak ini berlidah tajam. Kata-katanya tidak boleh dipercaya sepenuhnya," pikir Ho pak Thung dalam hati. "Otaknya bekerja, belum sempat lagi dia bertanya lebih lanjut, tiba-tiba seseorang menerobos darl luar. Meskipun langkahnya limbung namun g- rakannya sangat cepat. Begitu bayangannya terlihat, orangnya sudah masuk ke ruangan dalam. Ternyata dia adalah pemuda berwajah kotor dan hitam tadi. Bukankah dia keluar dari rumah makan itu setelah Wi Pak sam long? Pada saat ini, terlihat bahu dan pahanya mengucurkan darah terus-menerus. Bajunya yang memang lusuh semakin tidak karuan. Tampaknya dia baru saja diserang oleh seseorang dengan golok yang taJam. Nafasnya masih tersengal-sengal. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia langsung duduk di atas kursi. Kemudian mengeluarkan sebotol obat dari ikat pinggangnya dan segera menaburkan obat itu di atas luka-lukanya.

Be hua niocu segera menghampirinya. Dia bertanya dengan suara lembut. "Siau hengte (adik kecil) Mengapa kau kembali tadi?'.

Pemuda itu acuh tak acuh. Dia menunjuk ke arah luar rumah makan.

"Kau tanya sa|a pada mereka!" sahutnya ketus. Kamudian dia memejamkan matanya Orang yang mengalirkan darah begitu banyak, pasti membutuhkan istirahat. Namun perkataannya "Kau tanya saja pada mereka," membuat orang yang mendengarnya merasa tidak mengerti.

Tepat pada saat itu, dari luar masuk lagi beberapa orang. Tampak Wi Pak sam long saling memapah satu sama lainnya. Tubuh mereka lebih rusak dari pemuda tadi.

Jalannya juga terhuyung-huyung. Bukan saja go-lok baja yang sudah mereka bawa lidak ke-lihatan, bahkan pakalan mereka pun sudah koyak disana sini. Tubuh mereka berlumur-an darah. Mungkin tidak kurang dari sepuluh bacokan yang diterima oleh ketiga orang tersebut. Begitu masuk ke dalam rumah itu, mereka tidak dapat mempertahankan diri lagi. Semuanya jatuh terduduk di atas lantai.

Melihat keadaan tersebut, orang yang ada di ruangan segera menduga-duga kemungkinan besar, pemuda itu mengejar Wi Pak sam long karena ada dendam pribadi Dan setelah berhasil menyandak, dia jangsung menyerang- Tentunya terjadi pertarungan sengit. Akhirnya kedua belah pihak sama-sama terluka.

* * *.

Pemuda hitam itu masih belia usianya. Dia dapat menghadapi Wi Pak sam long dan melukai mereka demikiap-parah, sedangkan luka di tubuhnya sendiri tidak separah ketiga orang tersebut. Hal ini membuktikan bahwa ilmunya tidak dapat dianggap enteng.

Be hua niocu berdiri. Langkah lemah-gemulai. Dia menghampiri Wi Pak sam Long.

"Kaliah buat apa mencari kesulitan Sedikit sedikit main senjata Lihat darah yang mengalir dari tubuh kalian bukankah menakutkan?" katanya, Dia membalikkan tubuh. Pandangannya terjatuh kepada pedagang bertubuh gemuk.

"Hoya. Di tubuh liong wi, mungkm ada membawa obat untuk menyembuhkan luka. Kita tidak dapat melihat kematian tanpa menolong Cepat keluarkan. Biar siau nu membantu mereka memborehkan di atas luka.

Ho Pak Thung tampak kagum terhadap perempuan ini.

"Ada... ada!" sahutnya. Dari ikat ping-gangnya, dia mengeluarkan sebuah botol obat. Dia menghaturkan dengan kedua tangan. Be hua niocu segera menyambutnya-Dia membuka botol tersebut dan menuang-kan ismya. Dengan hati-hati diborehkannya di atas luka ketiga Wi Pak sam long.

Obat pembenan Ai mia pai cu ternyata sangat manjur. SekeJap saja darah sudah berhenti mengalir. Otomatis rasa sakit juga berkurang. Ma bin long menatap Be hua nlocu,.

"Terima. kasih. Kouwnio," katanya.

"Tidak perlu bertenma kasih untuk hal sekecil ini," sahut Be hua niocu dengan suara lembut. Namun sejenak kemudian, dia melanjutkan lagi. "Lihat tampang kalian, tiga orang besar berkelahi dengan seorang bocah ingusan. Sekarang rasakan, empat orang sama terluka, baikkah kelakuan kalian ini?. "Bukan .. bukan dla .." Wajah Ma Mn long pucat pasi. Tatapan matanya mengarah ke depan plntu. Yang terlihat hanya kegelapan semata. Namun sinar mata Ma bin long jelas ketakutan. "Di luarsana …." Kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi Tubuhnya gemetar. 

Thi pit Lie Pak Tou segera berdiri dan berjalan beberapa langkah. Dia berhenti di depan pintu masuk.

"Adaapa di luar" tanyanya. Ma bin long berusaha menenangkan hatinya. "Di luar.., ada Si sin (Dewa kematian) sahutnya tergagap-gagap.

"Kau melihat Si sin?" tanya Lie Pak Tou kurang percaya. "Tidak.. kata Ma bin long.

"Bagaimana, cara kaiian mendapat iuka-luka Itu?" tanya Lie Pak Tou kembali. Ma bin long tidak segera men|awab. Dia mengatur nafasnya yang memburu. "Golok... Sebilah golok yang tldak ter-lihat, ada yang menggenggamnya sahutnya.

"Golok yang tidak ada pemegangnya, bisa melukai Orang” tanya Lie Pak Tou semakin bingung.

Ma bin long menganggukkan kepaia secara yakin.

"Bisa.., bisa Kami beberapa bersaudara justru dilukai golok semacam itu sahutnya. "Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu adalah Si sin? tanya Lie Pak Tou.

Ma bin iong semakin keiakutan. Wajahnya lebih putih dari seiembar kertas. Hampir saja dla tidak sanggup menjawab. Lie Pak Tou mengguncang bahunya dengan keras. Rasa sakit membuat pikiran Ma bin long agak sadar.

"Sebelum golok terbang itu muncul, terdengar suara seseorang," sahutnya. "Apa yang dikatakannya?” tanya Lie Pak Tou.

"Suaranya sangat anelr Seperti meng-gantung di udara. Kadang-kadang timbul dari sebelah tlmur, kadang-kadang berpindah ke sebelah berat. Dia bilang,.. dia bilang...'.

Be hua nlocu ikut panic. "Apa yang dikatakannya?' tanya perempuan tersebut.

"Dia mengatakan Si sin so cik, kei sou put liu (Peraturan dewa kematian, binatang ayam pun tidak ditinggalkan dalam keadaan hidup)," sahut Ma bin long.

"Apa yang kei sou put liu, sedangkan ter-hadap kalian Wi Pak sam long, dia hanya sanggup melukai. Beium pantas di sebul Si sin," kata Lie Pak Tou sambil tertawa terbahak-bahak. Bacu saja ucapannya selesai. Dari arah luarterdengarsegulung hembusan angin.

"Lie. Pak.,. Tou... Cepat. keluar. !" Suara itu benar-benar seperti tergantung di

udara. Sulit menentukan dari mana tepatnya asal suara tersebut Tarikan nadanya panjang sekali. Seperti ratapan seorang hantu perempuan. yang mati penasaran. Bulu ku-duk orang yang mendengarkannyat lang-sung berdin seketika!".

Tamu yang had»r di rumah makan kecil itu terkejut semua. Wajah mereka berubah he bat Bahkan pelajar yang mengenakan pakalan hijau juga ikut terpana. Sejak tadi dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa Baru se" karang dla terlihat agak takut Meskipun se-perti sebuah permalnan anak-ar.ak, tapl tam-paknya bukan Mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan itu,.

Pek Phl Long semakin mengkeret. "Lotoa, Hu dia!" katanya panik. Tubuh Ma bin long ikut bergetar. "Sudah datang... sudah datang ..!" teri-aknya sambil menunjuk ke depan.

Thi plt Lie Pak Tou menyingsingkan lengan bajunya Dia mengeluarkan kembali se- pasang potlot besi yang sudah disimpannya tadi.

"Sahabat dari mana yang bergurau segal ini?" tanyanya. Tidak terdengar sahutan dari luar.

"Mengapa kau tidak beranl menjawab?” tanya Lie Pak Tou kembali.

"Lie ., Pak Tou... Cepat. keluar." Terdengar suara itu berkumandang kembali.

"Keluar ya keluar ,, Apakah Lie lotoa harus takul dengan setan jadi-jadian macam dirimu." tenaknya sambil melangkah keluar.

Ho Pak Thung bermaksud mencegahnya. “Lotoa. .!".

Lie Pak Tou menepiskan tangannya.

'Jalanl Lo ji . Thi pit, Kang jiau sudah merajalela sampai segala penjuru dunia. Aku tidak percaya di dunia ini benar-benar ada setan jejadian!" bentaknya.

Sepasang potlot besi dibagi ke tangan kanan dan kiri Dia meiangkah keluar de-ngan langkah lebar Ho Pak Thung yang melihat kakaknya sudah berjalan lebih dahulu. terpaksa mengikuti dan arah belakang.

Mata setiap tamu yang ada dalam rumah makan kecil itu semua terpaku pada drri Thipit dan Kang jiau. Be hua nlocu cepat-cepat maju beberapa langkah. Dia menyingkap kain penutup kepalanya, supaya dapat melihat kejadian di luar lebih jelas, Namun karena keadaan sangat gelap, mereka ha-nya dapat melihat bayangan tubuh Lie Pak Tou dan Ho Pak Thurig secara samar-samar, Lambat-laun langkah kedua orang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi.

Rembulan menyembunyikan diri. Suasana semakin mencekam. Memandang sampai arah jauh, tetap tidak apa-apa Hanya desir-an angin yang berhembus membawa suara be Pak Tou lapaMapat. Terdengar dia me-ngoceh dan berteriak seorang din Tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tamu yang hadir tidak dapat mengetahui apa yang telah terjadi.

"Lie Pak Tou sudah keluar Siapa pun yang ada di iuar... mengapa tidak menunjukkan diri untuk bertemu dengan orang she Lie ini?" teriakannya berkumandang di kegelapan malam.

Tidak terdengar jawaban apa-apa. "Lie Pak Tou sudah berani keluar untuk memenuhi undangan. Apakah engkau yang merasa takut” teriaknya sekali lag.

Keheningan tetap merayap.

"Baik,.. baik. Mungkin kau sudah berada di depansana . Lie Pak Tou ingm melihat kau mempunyai pertunjukkan apa lagi" Dia kembali maju beberapa langkah.

Ho Pak Thung mengikuti di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia waspada terhadap keadaan sekeiilingnya. Keadaan Ini tidak teriihat oleh tamu'-tamu dalam rumah makan kecil itu. Mereka hanya dapat menunggu dengan hati tegang.

Me-reka tidak mendengar jawaban dari suara yang menggema tadi, Hanya hembusan angin kadang-kadang menyemilirkan suara perkataan Lle Pak Tou. Tampaknya dia seperti sedang menggumam, lalu membentak dan terakhir tertawa terbahak-bahak Tamu-tamu yang ada di rumah makan tersebut saling pandang Mereka tidak dapat meraba apa yang terjadi dan dialami oleh Thi pit dan Kangjiau.Apakah Lia PakTou tiba-tiba menjadi gila atau kesurupan setan?.

Wi Pak sam long sudah lebih baik ke-L adaannya Darah sudah berhenti mengalir.

Rasa sakit Juga jauh berkurang. Hati mereka juga amat tegang, Mereka memaksakan din untuk bangkit dan duduk di tempat semula Ma bin long mengangkat cawannya yang masih ada sisa arak- Sekali teguKdikerlng-kan isinya. Kemudian dia meraih arak yang tergeletak di atas meja. Dia.menuang kem-bah sampai penuh Sekali lagi dia mengeringkan isi cawan tersebut. Tarnpaknya dia ingin mengurangi ketegangan hatmya de~ ngan minum sebanyak sebanyaknya,.

Pemuda berwajah hitam yang duduk di pojokan, tiba-tiba membuka matanya. "Mereka tldak bisa lari jauh..." katanya. Be hua niocu meliriknya setelas-. "Bagaimana kau bisa tahu'?" tanyanya. Pemuda berwajah hitam itu membalas kerlingan si perempuan. Dia mendengus. 'Tentu saja aku tahu." sahutnya.

"Mengapa kau tidak menjelaskan” tanya Be hua niocu. Suaranya merdu namun mengandung sesuatu kekuatan yang mengharuskan siapa pun menJawab pertanyaannya Pemuda itu menatapnya dengan tajam.

"Mereka tidak akan membiarkan tamu yang ada dalam rumah makan ini pergi" sahutnya. Pemuda pelajar yang duduk di seberang perempuan penjual bunga tampaknya ikut menaruh perhatian.

"Mengapa?" tanyanya.

Be hua niocu melirik ke arahnya. Akhirnya kau membuka mulut juga! pikirnya dalam hati.

"Siapa yang tahu apa alasannya," sahut pemuda berwajah hitam sambil mengangkat bahu.

Be hua niocu memamerkan deretan giginya yang bagus.

"Bukankah kau mengatakan bahwa kau tahu tadi?" tanyanya Gayanya selalu memi kat siapa pun yang memandangnya.

"Aku hanya tahu bahwa mereka tidak akan membiarkan kita nlemnggalkan tempat ini, Apa alasannya, aku tidak tahu,' sahut pe-muda berwaiah hitam tersebut.

Pada saat itu, suara benturan golok terdengar Dan jauh menjadi dekat. Pemuda berwajah hitam itu melebarkan senyumnya.

"Mereka didesak kembali ke tempat ini," katanya.

Be hua niocu mengarahkan pandangannya keluar. Di kegelapan terlihat dua bayangan manusia. Dari tikungan jalan mundur ke arah mereka. Yang mengejar mereka adalah sinar kelebatan golok. Terkadang mengarah ke atas, lalu ke bawah, kemudian ke kiri lantas menyerang sebelah kanan. Gerakannya mengambang di udara. Kedua orang itu berusaha melawan sekuat tenaga. Namun tampaknya mereka tidak sanggup menandingi golok terbang itu Langkah kaki mereka semakin kacau, tapi pasti mundur ke arah rumah makan tersebut.

Jarak mereka semakin dekat Sekarang, para tamu dapat melihat dengan jelas. Orang yang menyerang Thi pit dan Kang jiau adalah bayangan berbentuk tinggi kurus. Jarak antara dirinya dengan kedua pedagang tersebut masih ada tiga depa lebih. Namun goloknya tetap menyerang dengan ganas.

Sepasang potlot besi Lie Pak Tou terlihat separti menari-nari dengan kalang kabut. Laksana sebuah tanan yang tidak sesuai dengan iramanya. Dia berusaha keras untuk melindungi Ho Pak Thung agar dapat mundur terlebih dahulu. Dia sendiri parlahan- lahan juga menyurutkan diri ke cumah makan kembali.

Bayangan tinggi kurus itu makin mendesak semakin mendekat. Sekarang semua orang dapat melihat. Dia mengenakan pakaian berwarna hitam. Lengan bajunya panjang dan besar Wajahnya kehijauan dengan dua taring tajarin menyeringai Sekali lagi orang dapat mengetahui bahwa dia menge-nakan sebuah topeng setan.

"Dia adalah Ho cong au bo ki (Harimau penagih utang yang sombong tidak kepa- lang)'" seru Be hua niocu terkejut. Pelajar berpakaian hijau itu penasaran. "Siapa Ho cong au bo ki itu?" tanyanya.

Be hua mocu tiba-tiba mengembangkan senyuman.

"Dia adalah pembunuh andalan Hek Houw sin," sahutnya. "Apakah pembunuh andalan itu?" tanya pelajar itu kembali.

"Aduh!" Be hua niocu meliriknya sekilas, Kau ini, pembunuh andalan saja tidak tahu Pembunuh andalan hampir sama dengan pembunuh bayaran. Orang yang membunuh untuk melaksanakan parintah majikannya. Apakah kau sudah mengerti sekarang?" kata Be hua niocu.

Wajah pelajar itu merah padam.

"Terima kasih atas petunjuk Kouwnio. ." sahutnya sambil merangkapkan kedua tangan dan menjura dalam-dalam.

Ho pak Thung sudah terdesak sampai depan pintu rumah makan Pandangan se-tiap orang terpaku kepadanya Thi pit, Kang jiau ai mia pai cu telah berkecimpung di kangouw selama puluhan tahun Biia han ini mengalami kejadian yang mengenaskan ini, apa bedanya dengan Wi Pak sam long? Kalau penstiwa ini tersebar di luaran, bukankah nama besar yang telah dipupuk lebih dan sepuluh tahun, akan amblas begitu saja?".

Karena pandangan semua orang tertuju kepadanya dan dia terdesak dalam keadaan begini menyedihkan, membuat Ho Pak Thung tidak sanggup menerimanya Dia meraung dengan keras Tubuhnya berputar. Gsrakannya bagai seekor burung Tangan kirinya diulurkan, menyambut golok yang menyerang dengan cakar bajanya Meski- pun tubuhnya gemuk, gerakannya sama sekali tidak lamban Dia laksana seekor rajawali yang sedang mengamuk.

Gerakan ini sama saja dengan mengadu nyawa Namun dia tidak memperdulikan lagi, Cakar baja di tangan kirinya mencengkeram golok yang datang Sikapnya ini benar- benar diluar dugaan bayangan tinggi kurus itu Takk!!! Sebuah suara yang menyakitkan telinga berkumandang Golok itu telah terpe-gang oleh cakar baja Ho Pak Thung Sekarang semua orang mengerti mengapa golok itu dikatakan bisa terbang oleh Wi Pak sam long. Ternyata di bagian gagangnya, meling-kar sebuah rantai yang halus.

"Cari mati!" bentak bayangan tinggi kurus tersebut.

Lengan baju sebelah kirinya yang pan jang dikibaskan Sekilas sinar keperakan memancar keluar Ho Pak Thung yang sedang mencengkeram golok menundukkan kepala untuk menghindar Gerakan bayangan itu sangat cepat Ho Pak Thung bermak- sud melepaskan golok yang dicengkeram oleh tangannya Namun tampaknya tidak ada waktu untuk melaksanakan matnya lagi.

Lie Pak Tou sama sekali tidak menyangka adiknya akan senekad itu Hatinya tergetar. Dia mengambil keputusan untuk membantu Ho Pak Thung, namun terlambat juga Be hua niocu ikut terkesiap. Setiap orang yang melihat peristiwa itu menahan napas. Pada saat yang genting itu terdengar suara.

"Trang!!'".

Gotok terbang yang berhamburan menyerang Ho Pak Thung mental ke udara Ternyata ada seseorang yang mengibaskan golok terbang tersebut dengan tenaga dahsyat. Bayangan tinggi kurus itu tergetar dan mundur beberapa langkah.

"Siapa?" bentak bayangan tersebut sambil menyimpan kembali golok terbangnya. ke dalam saku.

"Lo hu!" sahut sebuah suara yang terdengar serak.

Perkataannya selesai, orangnya pun muncul Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut Pakaiannya berwarna hijau tua Lie Pak Tou dan Ho Pak Thung segera mengundurkan diri. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kedua orang itu juga mendapat luka-luka di beberapa bagian tubuhnya Bajunya koyak di sana-sini Dan celah-celah luka terlihat darah masih mengalir.

Mata bayangan tinggi kurus itu menatap orang yang baru datang dengan pandangan menusuk.

"Siapakah saudara?" Kami sedang menyelesaikan masalah pribadi, apakah saudara tidak merasa terlalu ikut campur urusan orang lain?" tanyanya.

"Lohu tidak ingin melihat anda berbuat kejahatan di tempat ini," sahut manusia berpakaian hijau itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara dengan suara rendah. "Kau orang tua apakah bukan Wi Yang tayhiap Hui Lo yacu?".

Sebuah bayangan, bagaikan hantu yang muncul entah danmana, mendadak berdiri di belakang orang tua berbaju hijau. Tanpa me-ngeluarkan suara sedikit pun, telapak ta- ngannya di arahkan ke punggung Wi Yang taihiap.

Bayangan tinggi kurus memperdengarkan suara tertawa yang aneh. Sepasang lengan bajunya dikibaskan. Dari dalam lengan yang longgar menghambur golok terbang sebanyaklima batang, Semuanya terarah ke manusia berpakaian hijau itu.

Kedua orang nu menyerang dari depan belakang Namun orang tua berpakaian hijau itu bagai tidak perduli Dia memejamkan mata dan bergumam .

"Tidak tahu diri '". Tangan kin menepuk golok yang beterbangan ke arahnya. Dan tanpa menolehkan kepala sedikit pun, dia menghantam ke belakang. Terdengar suara ser ! ser ! beberapa kali. Golok bayangan tinggi kurus yang mengarah kepadanya jatuh ke atas tanah Sedangkan tangan kanan yang menghantam ke belakang juga menerbitkan suara keras Blammmmm Dia masih berdiri dengan tegak, sedangkan lawannya terhuyung-huyung tiga langkah ke beiakang.

Tamu-tamu yang berada di rumah makan tersebut serasa rnengenal suara orang yang menyerang dan belakang tersebut Rasanya seperti pemilik rumah makan itu Seteiah dia terpukul mundur dan terhuyung huyung, mereka baru melihat bahwa dugaan mereka memang tidak salah Mereka merasa agak heran Jelas tadi dia menuju ke ruangan daiam Entah sejak kapan dia bisa berpindah di luar.

Be hua niocu mendengus sekali.

"Hm... Sejak semula aku sudah menduga tentu dia!" katanya. “Siapa?" tanya beberapa tamu serentak.

"Houw jiau Sun (Sun si cakar harimau)" sahut Be hua niocu.

Pelajar yang juga mengenakan pakaian hijau merasa Be hua niocu mengetahui banyak hal Dia menoleh ke arahnya.

"Pemilik rumah makan ini bernama Houw jiau Sun?" tanyanya. Be hua niocu tersenyum manis, Dia mem-balas tatapan pelajar itu.

"Dia memang dipanggil Houw jiau Sun. Nama aslinya Sun Bu Hai. Dia adalah satu pembunuh andalan Hek Houw sin. Juga merupakan cakar kaki tangannya Itulah sebabnya orang kangouw memberi julukan Houw jiau Sun." sahutnya perempuan itu.

Pelajar itu merangkapkan kedua tangannya. "Kouwnio benar-benar mengagumkan," katanya. Wajah Be hua niocu merah padam,.

"Tenma kasih” sahutnya tersipu-sipu.

Ho cong au bo ki menatap orangtua berpakaian hijau dengan sinar mata dingrn.

"llmu thi jou kang (Sebuah iimu yang me-ngerahkan tenaga dalam pada bagian lengan baju sehingga kaku seperti besi) saudara benar-benar hebat. Cayhe minta pelajaran," katanya ketus.

Orang tua itu tetap berdiri dalam kegelapan malam.

"Lohu hanya ingin kalian meninggaikan tempat ini," sahulnya datar. Houw jiau Sun Bu Hai mengerutkan sepasang alisnya,.

"Kata-kata Hui tayhiap ini bukankah sama saja dengan ingin menyulitkan kami berdua?"tanyanya.

"Apakah kallan tidak berani mengambii keputusan? Kalau begitu Cu jin kalian mung-kin ada di sekitar sini kata Hui tayhlap.

"Cu Jin memang ada di sekitar sini, sahut Houw jiau Sun tertawa lebar. Kata-katanya befum selesai semua, dari jauh sudah berkumandang suara siulan yang aneh,.

Wajah Be hua niocu berubah hebat.

"Coba dengar. Itu siulan sang harlmau!" katanya.

"Apakah maksudmu Hek Houw sin yang datang?" tanya pelajar berpakaian hijau. Be hua niocu berdehem sekali. Dia meiirik ke arah pemuda itu.

"Jangan banyak bicara," katanya,.

Suara siulan semakin lama semakin dekat. Angln tetap berhembus. Kegelapan ma-sih menyelimuti hulan rimba, Dari arah jauh muiai tertampak bayangan seseorang. Ge- rakannya terlihat lambat dan santai. Namun suara siulannya belum habis menggema, orangnya sudah berdiri di hadapan orang tua berpakaian hijau.