Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 03

 
Jilid 03

"Tenma kasih," sahut Yok Sau Cun sambi! duduk di atas sebuah kursi pendek dekat pintu.

Perahu itu sudah mulai berangkat Malam hari angin sangat kencang Begitu memnggalkan pelabuhan, perahu itu terombang-ambing. Tentu saja harus duduk baru bisa tenang.

Wanita berbaju hij'au itu tertawa merdu melihat sikap Yok Sau Cun.

"Siau Cui mengatakan kau adalah seorang kutu buku. melihat tampangmu yang [ugu, kau memang minp kutu buku," katanya.

Yok Sau Cun hanya tersenyum mendengar perkataan itu. "Tampaknya kau bukan orang dunia Bulim?" tanya wanita itu mengalihkan arah pembicaraan.

"Cayhe memang bukan orang Bulim," sahut Yok Sau Cun.

"Kau adalah putera keluarga baik-baik Seorang pelaiar bukan?" tanya wanita itu kembali.

"Cayhe belum pernah benar-benar belajar ilmu silat Hanya pernah berlatih selama beberapa tahun di rumah," sahut Yok Sau Cun.

"Begitu baru betu! Hanya orang yang belajar membaca dan menulis baru mengerti sopan santun " kata wanita tersebut.

Pada waktu itu Siau cui masuk dan meletakkan secangkir teh di atas meja. "Sayangnya sedikit pemarah," sahutnya,.

"Siau cui, jangan mengoceh sembaranganl' kata wanita baju hijau itu Cui kouwnio mengiakan Dia menoleh ke arah Yok Sau Cun.

"Siangkong, silahkan minum ".

"Tenma kasih, Cui kouwnio," sahut Yok Sau Cun.

Cui kownio seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi Wanita berbaju hijau itu mengangkat kepalanya.

"Aku masih belum tahu nama Siangkong yang mulia," katanya. "Cayhe Yok Sau Cun.".

"Siocia kami bernama Hui Fei Cin," Siau cui menjelaskan. Wanita berbaju hijau itu tampak panic.

"Siau cui !" Bentaknya Cui kouwnio tertawa-tawa.

"Siocia sudah menanyakan nama or'ang Seharusnya memperkenalkan diri sendiri juga Siocia tentu malu hati mengatakannya, maka Siau cui yang mewakili," katanya.

"Aku toh tidak bermaksud menyembunyikan nama,' kata wanita yang bermana Hui Fei Cin itu. Dia menoleh kembali kepada Yok Sau Cun, "Yok siangkong menyeberangi sungai dengan tujuan kemana'?".

"Cen kiang," sahut Yok Sau Cun.

"Ada apa Yok Siangkong ke kota tersebut'?"tukas Siau Cui. "Cayhe bermaksud mencan seseorang," sahut Yok Sau Cun.

"Kalau begitu Yok Siangkong pasti tidak akan tama menetap di kota itu. Dua hari lagi kami akan kembali ke Yang ciu. Setelah urusan Yok Siangkong selesai, boleh ikut kami ke Yang ciu untuk berpesiar," kata Siau Cui.

Di balik cadar penutup wajahnya, mata Hui Fe Cin bersinar cerah.

"Kalau Yok Siangkong sudi mampir di kota kami siaumoi pasti akan menyambut dengan senang," Dia sendiri telah menyebut dirinya sebagai Siaumoi. Hal ini membuktikan bahwa dia masih seorang gadis remaja.

Yok Sau Cun yang mendengar nada bicaranya begitu senus, menjadi agak terkejut.

"Kalau cayhe ada waktu luang tentu akan memenuhi undangan dengan senang hati," sahutnya.

"Siaumoi bermaksud merubah kata kalau ada waktu luang' Yok Siangkong," kata Hui Fei Cin.

"Entah bagaimana cara Siocia merubahnya?" tanya Yok Sau Cun.

"Merubah dengan kata “kalau urusan Cen kiang sudah selesai' Bagaimana pendapat Yok Sia'ngkong?".

Sekali lagi Yok Sau Cun terpana Dalam hati dia berpikir "Kalau melihat perkataan yang dirubahnya, maka berarti kalau urusan Cen kiang sudah selesai, mau tidak mau aku harus berkunjung ke rumahnya Dia adalah seorang gadi.s yang cerdik tentu tidak mau mengatakan secara terus terang kepada seorang laki-iaki Dia bermaksud mengajak aku ke rumahnya. Oleh sebab itu dia merubah perkataan 'kalau ada waktu fuang' menjadi kalau urusan di Cen kiang sudah sele sail Bukankah maksudnya sudah jelas?".

Yok Sau Cun memandang kepada Hui Fei Cin Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus membenkan jawaban Cui kouwnio diam diam meninggalkan mereka berdua.

Hui Fei Cin menunggu beberapa saat Dia belum mendapat jawaban dan Yok Sau Cun.

"Kau tidak bersedia?" tanyanya dengan nada pilu.

"Siocia jangan menduga yang bukan-bukan Cayhe " sahutnya panic.

"Aku tak tahu Mungkm aku menganggap pertemuan kita hanya kebetulan Tidak perlu saling mengenal lebih mendalam Namun entah mengapa aku bisa bisa'?" Nada suaranya semakin menyedihkan.

Setelah berhenti sejenak Dia memaksa kan diri untuk menatap pemuda itu. "Yok Siangkong adalah seorang laki-laki sejati Penampiiannya pun amat sopan Benar benar membuat siaumoi kagum Aku menyesal mengapa dilahirkan sebagai seorang anak gadis Kalau tidak, aku akan mengangkat persaudaraan dengan Yok Siangkong Hal mi memang menyedihkan Ada sebuah pepatah zaman duiu yang sangat bagus Jin sin tek it ce yi, si el bo han jAsalkan bisa mendapatkan apa yang di dambakan, mati pun tidak percuma) lanjut Hui Fei Cin.

Mendengar kata-kata itu, Yok Sau Cun semakin terperanjat. Dia mengibaskan tangannya dengan panik.

"Tenma kasih atas cinta kasih Siocia, cayhe tidak berani menyambutnya.". "Kalau Siangkong tidak keberatan nama kecilku adalah Fei Cin Harap Siangkong

memanggil nama itu saja," kata Hui Fei Cin. "Ini. " Yok Sau Cun semakin gugup.

"Aku tadi sudah mengatakan, seorang manusia asal bisa mendapatkan apa yang didambakan mati pun tidak sia sia. Aku percaya diriku tidak berumur pendek, Yok Siangkong juga akan hidup lama. Itu hanya sebuah perumpamaan Siaumoi bermaksud baik. Mengundangdan berkunjung ke rumah untuk saling mengenal lebih dalam.

Benarkah kau tidak bersedia'"' tanya Hui Fei Cin sendu. Yok Sau Cun jadi serba salah.

"Sio cia jangan menduga yang bukan-bukan. Cayhe tidak ada maksud demikian. Hanya. .".

"Kalau begitu kau, ." Tangannya dengan lembut menarik cadar yang menutupi wajahnya. Tia (ayah) yang menyuruh aku mengenakan cadar ini. Orang tua itu mengatakan bahwa merantau di dunia kangouw sangat berbahaya. Lebih baik jangan menunjukkan wajah asli pada siapa pun Yok Siangkong adalah laki-laki yang jujur Siaumoi sengaja membuka cadar ini agar bila kelak kita bertemu lagi, Yok Siangkong tidak lupa," katanya.

Cadar itu telah dilepas Dia adalah seorang gadis remaja dengan wajah berbentuk kuaci. Hidungnya mancung. Wajahnya tenang dan lembut Meskipun dia tidak secantik pelayannya Siau cui yang sangat rupawan. Setelah melihat wajah aslinya, Yok Sau Cun malah lebih tenang Dia tersenyum lernbut.

"Harap Sio Cia mengenakan cadar itu kembali," katanya.

Huei Fei Cin mengerlingkan matanya yang seperti telaga berair jernih. Dia juga tersenyum manis.

"Apakah YokSiangkong sudah mengingat wajah siaumcn?" tanyanya Sebetulnya, meskipun wajahnya biasa saJa namun sepasang matanya yang sayu dan giginya yang putih memberi kesan menawan Yok Sau Cun menganggukkan kepaianya.

"Cayhe sudah ingat betul" sahutnya.

Hui Fei Cin mengenakan kembali cadar penutup wajahnya. "Yok siangkong belum menjawab permlntaan siaumoi Apakah setelah urusan di Cen kiang selesai, Yok Siangkong bersedia mampir ke rumah?".

'Melihat kesediaan Siocia mengundang, setelah urusan ini selesai, tentu cayhe akan berkunjung ke sana," sahut Yok Sau Cun.

"Ternyata aku memang tidak salah memlai Yok Siangkong benar-benar seorang laki laki sejati," kata Hui Fei Cin.

Tiba-tiba Slau cui masuk ke dalam ruangan dengan sikap tergesa-gesa.

"Siocia, di pelabuhan terdapat sinar terang jangan jangan Ku Taiya mengutus orang untuk menjemput kita,' katanya.

"Meskipun Ku ku (paman) tahu aku akan datang, juga tidak mungkin menyuruh orang menyambut dan jarak demikian jauh " sahut Hui Fei Cin.

Siau Cui tersenyum penuh rahasia.

"Belum tentu Meskipun Ku loya tidak menyuruh orang menyambut, tentu ada orang lain yang ".

"Saiu cui, jangan ngoceh sembarangan'" tukas Hui Fei Cin.

Siau cui meniulurkan lidahnya dengan cepat dia keluar kembali ke depan perahu perlahan lahan menepi Akhirnya bersandar Terdengar suara tenakan Siau cui di muka pintu.

'Sio cia Piau siauya sendiri yang datang menjemput Tandu sudah tersedia di d^r maga Silahkan Siocia keluar!".

Hui Fei Cin tampak menank nafas panlang Dia berdiri dan menoleh kepada Yok Sau Cun.

"Yok siangkong, silahkan!" katanya.

"Siau cui masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Sio cia, kau saja yang naik lebih dahulu Yok Siangkong biar menunggu sebentar lagi," katanya dengan suara rendah.

"Mengapa harus begitu? perahu toh sudah bersandar. Yok Siangkong adalah tamuku. Dengan sendirinya harus didahulukan Kau Jangan banyak mulut'" sahut Hui Fei Cin sambil mendelikkan matanya.

Siau cui tidak berani banyak bicara lagi. Dia mundur keluar dan membukakan tirai penghubung.

"Yok Siangkong jangan melupakan perjalanan ke Yang cui. Jangan membuat siaumoi mendambakan siang malam," kata Hui Fei Cin. Dia tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menjawab. Dia hanya mengulurkan tangannya dan mengucapkan. Silahkan!".

Yok Sau Cun mulai bisa menenangkan diri. Dia tidak sungkan lagi.

"Terima kasih," sahutnya kemudian mendahului Hui Fei Cin melangkah ke luar dari anjungan perahu.

Hui Fei Cin mengikuti di belakangnya Tukang perahu sudah menyediakan papan untuk meniti Dia membiarkan Yok Sau Cun berjalan di muka dengan diiringi Hui Fei Cin dan Siau cui.

Di sekitar pelabuhan terlihat delapan orang laki-laki bertubuh tinggi besar. Mereka memakai baju tanpa lengan Tangan masing-masing membawa obor Mereka berjajar berbentuk bansan yang rapi Di samping mereka terdapat sebuah tandu berwarha hijau.

Di depan orang-orang itu ada seorang pemuda yang berwajah tampan. Dia sedang berdiri menghadap jembatan titian Pakaiannya berwarna biru langit Ikat pinggang merupakan sulaman dengan batu kumala menjuntai di uJungnya Sepatunyajuga bersulam indah. Selain itu dia mengenaRan ikat rambut berwarna biru langit juga Alisnya hitam lebat. Raut wajahnya persegi dan gagah Bibir nya kemerahan Sayangnya ada sedikit ke san sombong pada diri pemuda itu.

Pemuda berpakaian biru langit itu melihat bahwa yang pertama-tama turun adalah seorang pemuda yang tidak pernah d;kenalnya Dia agak terpana Dengan sendirinya Yok Sau Cun juga sudah melihat pemuda tersebut Pikirannya membayangkan kata- kata Siau Cui yang meminta Siocianya naik lebih dahulu. Dalam sekejap hatinya mulai yakin Kemungkinan besar pemuda inilah yang disebut sebagai Piau siauya tadi. Yok Sau Cun terpaksa menjura dengan hormat kepadanya.

Meskipun pemuda berpakaian biru langit ilu iiicmporhnlikan Yok Sflii Cun donfian sek Gaina lapi dia [icldk mGmpordulikan peng hormatan yang dilakukan olehnya Matanya malah dialihkan kepada Hui Fei Cin Wajahnya menampilkan senyum.

'Piaumoi, mengapa sampai saat im kau baru tiba? Sejak sore han aku sudah bergegas datang ke sini Aku menunggu terus sampai sekarang Aku kira kau tidak jadi datang malam ini," katanya.

"Siaumoi minta maaf karena piauko menyambut dari tempat yang jauh Siaurnoi ada urusan sedikit sehingga terlambat Siapa suruh kalian menyambut dari kemann sore?" sahut Hui Fei Cin.

"Tia tidak tenang Dia mengatakan bahwa dalam beberapa han ini perjalanan kurang aman. Dia mengharuskan aku menunggu di smi," kata pemuda itu.

"Paman juga ketedaiuan Aku toh bukan anak kecil lagi. Masa aku bisa menghilang'?" gerutu Hui Fei Cin dengan wajah cemberut.

Mata pemuda itu melink ke arah Yok Sau Cun. "Piaumoi Orang ini ".

"Ah Aku lupa memperkenalkan kalian berdua Ini adalah Yok Siangkong ...".

Yok Sau Cun tidak menunggu sampai kata-katanya selesai Dia segera memper kenalkan diri sendiri kepada pemuda tersebut.

"Cayhe Yok Sau Cun Tadi menumpang perahu Siocia untuk menyeberang " Selesai memperkenalkan diri, dia segera menoleh kepada Hui Fei Cin "Tenma kasih atas ke baikan hati Siocia membiarkan cayhe menumpang Sampai jumpa".

Di balik cadar penutup wajahnya, Hui Fei Cin tergetar. "Yok Siangkong tidak perlu sungkan," sahutnya.

Pemuda berpakaian biru langit itu mengerling ke arah Hui Fei Cin Dia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Yok heng, silahkan " katanya.

Tanpa melihat lagi kepada Yok Sau Cun, dia segera berkata dengan suara rendah. "Piaumoi han sudah larut. Cepat naik ke a.tas tandu," lanjutnya.

Yok Sau Cun melewati kedua orang itu, dengan iangkah santai dia melanjutkan perjalanan Mata Hui Fei Cin menatapnya sampai menghflang di kegelapan Setelah itu dia baru naik ke atas tandu Siau cui menurunkan tirainya.

Pemuda baju biru itu tentu dapat merasakan kebimbangan hati Hui Fei Cin yang tidak seperti biasanyaAda sesuatu yang hilang dan sinar matanya yang bening. Dia mengangkat tangannya memben isyarat kepada beberapa laki-laki tadi Tandu segera diusung Pemuda itu sendiri naik ke atas kudanya Dia mengawa! dari belakang.

Oborobor di tangan laki-laki tinggj besar itu membuat daerah sekitar itu terang benderang.

Orang banyak sudah berlalu Tidak lama kemudian, tampak sebuah sampan muncul di permukaan sungai. Karena cuaca gelap maka tidak terlihat jelas apa yang ada diper.

mukaan sungai Sampan itu kecil sekali OIeh sebab itu, lebih sulit lagi diketahui orang.

Sampan kecil itu bergerak cepat Tidak sampai sepeminuman teh sudah tiba di dermaga. Terlihat bayangan seseorang Dia melayang dan atas sampan tersebut Sebentar saja sudah sampai di jembatan titian.

Dia adalah laki laki berus.ia pertengahan. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja Wajahnya putih bersih Dalam kegelapan, ma tanya berkilauan Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah orang yang berilmu tinggi. Setelah mencapai daratan, matanya di edarkan ke sekelilmg tempat itu, kemudian mengarah kepada tandu yang sudah berada di jarak yang jauh Tubuhnya melesat cepat. Dia mengikuti rombongan orang tadi secara diam-diam Dari caranya melayang dan mengintil tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dapat dibayangkan sampai di mana ginkang yang dimilikinya.

Siapakah orang itu'? Apa tujuannya^ Apakah dia ditugaskan oleh seseorang? Mungkm selain orang itu sendiri, tidak ada orang lain yang akan mengetahui jawabannya.

Cen kiang, sebuah kota yang menjadi persimpangan antara dua sungai In ho dan Cang kiang Kota kecil itu juga menjadi pusat perdagangan Keadaannya ramai sekali Kehidupan di sana cukup makmur oleh karena itu, meskipun malam hari tetap saja semarak, lentera-lentera besar memenuhi jalan.

Rumah makan, kedai minum Tempat hiburan banyak terdapat di kota itu Pada musim apa pun, selalu ada saja tamu yang keluar masuk penginapan-penginapan di kota kecil tersebut.

Yok Sau Cun memilih sebuah penginapan di dalam kota. Dia melangkah masuk Tepat pada saat itu, ada seseorang yang mengintil d' belakangnya Ketika Yok Sau Cun sudah masuk ke dalam dia mendongakkan kepafanya ke atas seakan hendak menghapalkan nama pengmapan tersebut Sesaat kemudian baru dia mengundurkan diri.

Kalau melihat dan pakaiannya bukankah dia yang tadi menggotong tandu Hui Fei Cin dan merupakan anak buah pemuda berbaju biru langiP Mengapa dia harus mengintil di belakang Yok Sau Cun?".

Keesokan paginya Yok Sau Cun mfin bayar sewa kamarnya. Dia juga menanyakan kepada pengurus penginapan tersebut, kemana arah harus ditempuhnya apabiia hendak menuju Cang ciu Setelah itu dia melan jutkan perjalanan.

Sebetulnya dia mempunyai seekor kuda sebagai alat transportasi Namun ketika di Kwa ciu, dia diseret oleh Ciok Ciu Lan meninggalkan kedai minum Kuda itu di tambat di bawah sepatang pohon liu Karena keadaan waktu itu sangat tergesa-gesa maka kuda itu tidak sempat diambilnya Sekarang dia terpaksa menempuh perjalanan dengan sepasang kakinya.

Siang hannya dia sudah sampai di Tan yang Dia tidak masuk ke dalam kota itu Dia mengisi perut di sebuah kedai kecil di pinggir jalan Tempat itu merupalan perbatasan penting menuju Lam pak Banyak orang yang menempuh perjalanan benstirahat di sana Apalagi tengah hari seperti ini, banyak tamu yang sedang bersantap Kedai yang hanya berisi beberapa meja itu sudah penuh semuanya Terpaksa la bergabung dengan orang lain.

Yok Sau Cun memesan semangkok mi dan seporsi bakpao. Baru saja dia mulai makan dan minum, ketiga orang yang duduk semeja dengannya sudah selesai bersantap dan menmggalkan kedai tersebut Tidak lama kemudian, seorang tamu berpakaian hijau dan bertubuh sedang menggantikan mereka di hadapannya Usia orang itu seki tar empatpuluhan Dia menjura kepada Yok Sau Cun. 'Apakah Siangkong hanya seorang d'ri?" sapanya.

Yok Sau Cun mendongakkan kepalanya.

"Cayhe hanya seorang diri Silahkan hengtai duduk," sahutnya.

"Terima kasih " Laki-laki itu tanpa segan segan lagi duduk di hadapan pemuda itu. Pelayan mengantarkan sebuah ceret tah Dia menanyakan apa yang hendak dipesan oleh laki-laki setengah baya itu Sesudah itu ia segera mengundurkan diri.

Yok Sau Cun juga tidak memperdulikan,. Dia menyantap hidangan di depannya dengan penuh selera. Setelah kenyang, dia membayar semuanya. Dia bermaksud melanjutkan kembali perjalanannya.

Terlihat seseorang dengan dandanan pengawal menghampinnya dengan tergesa-gesa. Dia membungkukkan tubuhnya di hadapan Yok Sau cun.

"Apakah anda Yok Siangkong?" sapanya.

Yok Sau Cun agak terpana mendengar teguran itu. "Cayhe memang Yok Sau Cun Anda ..".

Laki-laki itu mengunjukkan senyuman lebar.

"Siau ya menerima perintah Kongcu untuk mengundang Yok siangkong," katanya. 'Siapa kongcu saudara?" tanya Yok Sau Cun.

'Kalau Yok Siangkong sudah bertemu dengan Kongcu kami, dengan sendirinya akan tahu," sahut pengawal itu.

"Cayhe dengan kongcu saudara belum mengenal dengan akrab Dia mengutuskan untuk mengundang aku, entah apa keperluannya?" tanya Yok Sau Cun "Kongcu kami hanya memmta siau jin lengundang Yok siangkong. ada perlu apa, siau Jin tidak dibentahu," sahut pengawal itu.

Meskipun Yok Sau Cun merasa penstiwa ini agakaneh Dan diatidaktahu siapa kong cu laki-laki di hadapannya ini, namun dia tidak dapat menghiiangkan penasaran yang ada di hatinya. 0!eh karena itu dia menganggukkan kepalanya.

"Baiklah Di mana kongcumu sekarang'?" tanyanya.

"Kongcu kami berada di depan sana Dia sedang menantikan kedatangan Yok Siang kong," kata pengawal itu.

Yok Sau Cun mengibaskan tangannya. "Tolong saudara menunjukkan jalan," katanya.

"Baik . baik Harap Yok Siangkong mengikuti siau jin," ajaknya setelah mengiakan berkali-kali.

Pengawal itu berjalan di depan Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya. Setelah menempuh perialanan sejauh tiga li, pemuda itu merasa cunga Tidak seorang pun yang ter lihat di sekitar itu Dia tidak dapat menahan sabar lagi.

"Sebetulnya di mana kongcu saudara menunggu?" tanyanya.

Pengawal itu menunjuk ke arah depan. "Di tempat peristirahatan itu," sahutnya Yok Sau Cun mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk pengawai tersebut. Di ujung jalan yang letaknya masih cukup jauh terdapat sebua+i bangunan berbentuk segi enam Di depannya ada seekor kuda putih yok Sau Cun terkejut melihat kuda itu.

"Bukankah kuda itu yang ditunggangi si pemuda berbaju biru kemarin?" pikirnya dalam hati.

Pikiran itu baru mehntas di kepalanya, pe ngawal tersebut sudah mengaiaknya berlan ke arah bangunan itu Setelah dekat Yok Sau Cun baru melihat dengan jelas Di dalamnya terdapat sebuah meja batu untuk beberapa bangku mengelilinginya. D| atas salah satu bangku tersebut duduk seseorang Siapa lagi kalau bukan pemuda yang kemarin menyambut Hui Fei cin!.

Di atas meja yang ada di hadapannya, terdapat sebuah teko teh berwarna keemas an dua buah cawan dengan bahan yang sama melihat keadaan itu, agaknya dia me mang sedang menanti kedatangan seseorang. Di dekat tiang sebelah kanan ada sebuah perapian, Apinya sedang menyala dan berwarna merah terangAda sebuah ceret yang terbuat dari tanah liat di atasnya. Tampaknya dia sedang memasak air untuk menyeduh teh.

Yok Sau Cun menghampiri dengan tergesa gesa Pemuda itu bangkit dan menyambutnya dengan bibir tersenyum.

"Teh hangat menyambut tamu Hengte sudah menunggu sejak tadi,' sapanya. Yok Sau Cun men]ura dalam-dalam.

"Hengtai mengutus orang untuk mengundang cayhe Entah ada keperluan apa?" tanyanya.

"Terima kasih atas kesudian Yok heng memenuhi undangan Silahkan duduk " ajak pemuda itu tanpa mengatakan maksudnya Meskipun dia tersenyum dan berbicara dengan nada sopan, namun ada kesan kesombongan dalam sinar matanya.

Yok Sau Cun tidak tahu apa maksudnya mengundang dia datang. Tetapi pemuda itu menyambutnya dengan ramah, maka dia terpaksa melangkahkan kakinya ke dalam rumah penstirahatan tersebut dengan wajah tersenyum. "Cayhe belum tahu nama 'hengtai yang besar," tanyanya.

"Hengte mengundang Yok heng ke sim hanya untuk menikmati teh saja Tidak perlu menyebutkan nama atau she," kata pemuda tersebutangkuh.

Pengawal yang tadi menjadi petunjuk jalan menuangkan teh untuk kedua orang itu. "Yok Siangkong, silahkan minum," katanya.

"Tenma kasih Kuan ke (Pengurus rumah)," sahut Yok Sau Cun yang mulai mengerti apa kedudukan pengawal tersebut Dia mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah pemuda berbaju biru.

'Kalau begitu, Hengtai pasti ada urusan yang lebih penting maka mengundang Cayhe ke sini bukan?" tanyanya.

"Betul. Yok heng duduklah dulu. Dengan demikian kita juga dapat berbmcang lebih leluasa," kata pemuda berbaju biru.

Yok Sau Cun duduk di hadapannya. "Cahye bersedia mendengarkan," sahutnya.

Pemuda itu mengangkat cangkir teh dan mengucapkan sepatah kata silahkan' Setelah itu dia meletakkan cangkirnya kembali dan menatap Yok Sau Cun dengan par angan menyelidik.

"Dan manakah asal Yok heng? Dan dengan maksud apa berkunjung ke kota Cen kiang?"tanyanya.

"Apa yang Hengtai tanyakan adalah soal pnbadi cayhe. Apakah harus diberitahukan kepada hengtai?" sahut Yok Sau Cun datar.

Mata pemuda itu menyiratkan sinar yang tajam.

"Tentu saja harus, Hengte mendapat kabar bahwa Hengtai datang ke kotaCen kiang karena ada urusan yang harus diselesaikan. Namun baru menginap satu malam, Hengtai sudah melanjutkan perjalanan. Sebetulnya kemana tujuan Hengtai ini?" tanyanya sinis.

Alis Yok Sau Cun berkerut Dia tampak kurang senang mendengar nada pembicaraan pemuda itu.

"Aneh sekali kemana pun tujuan cayhe, apakah ada hubungannya dengan hengtai?". Pemuda berbaju biru itu mendengus satu kali.

"Hengte mengundang kau kemari, sama sekali tidak ada mat buruk Aku hanya ingin mengenal tebih dalam asal usul Hengtai Dan apa tujuannya datang ke kota Cen kiang? Sebagai nasehat dan hengte, lebih baik Hengtai berterus terang saja " katanya.

"Hengtai berkeras menanyakan tujuan cayhe, sedangkan nama dan she hengtai sendiri keberatan di bentahukan Apakah tindakan saudara tidak keterlaluan? Tidak ada yang dapatcayhejelaskan Selamattinggal" Yok Sau Cun segera bangkit dan tempat duduknya.

Pemuda berbaju biru langit itu iuqa berdiri. "Tahan!" bentaknya.

"Apakah Hengtai masih ada urusan yang lain?" tanya Yok Sau Cun. Mata pemuda itu menatap Yok Sau Cun dengan tajam Wajahnya kaku.

"Apakah kau akan pergi begitu saja sebelum mengatakan lebih jelas tujuan Heng tai?" tanyanya sinis.

Wajah Yok Sau Cun menampilkan kemarahan,.

"Cayhe dan Hengtai hanya kenal sepintas lalu. Tidak ada kaitan yang istimewa. Hengtai mendesak cayhe terus menerus Sebetulnya apa maksudmu?".

"Karena sikapmu mencurigakan," sahut pemuda tersebut. Yok Sau Cun terpana mendengar perkataannya.

"Sikap mana yang mencurigakan?" tanyanya.

"Hatimu sendirl lebih mengerti," sahut pemuda itu dengan nada dingin.

"Cayhe minta penjelasan yang lebih dalam Apa maksud Hengtai sebenarnya?" ta nya Yok Sau Cun mulai tidak sabar.

"Semalam kau purapura hendak menyeberangi sungai Kau minta ijin menumpang di perahu piaumoi Sebenarnya apa maksudmu'?" Pemuda itu membuka kedoknya sendiri.

Yok Sau Cun segera mengerti. Pemuda berbaju biru ini rupanya cemburu kepadanya. "Oh. Hengtai salah pengertian. Cayhe sampai di tempat penyeberangan, hari sudah

larut malam Tidak ada perahu lain yang disewakan lagi. Karena kebetulan Hui siocia memang mempLinyai tujuan yang sama. Berkat kemurahan hatinya cayhe dibolehkan menumpang," sahutnya.

"Tidak usah banyak bicara.. !" bentak pemuda itu. "Kau terang-terangan sudah tahu asal usul piaumoi Bukankah kau mempunyai niat tertentu'?".

Wajah Yok Sau Cun merah padam. "Mana boleh Hengtai sembarangan menuduh'" katanya dingin. "Apakah yang ku katakan itu salah?" tanya pemuda itu ketus.

Tangan kanan yang sejak tadi disembunyikan di belakang diangkat. Sebuah pedang yang bercahaya tajam telah tergenggam di tangan itu.

"Kalau kau tidak mau mengakui secara terus terang, Hengte terpaksa menahan dirimu di sini!" bentaknya.

Mata Yok Sau Cun menyiratkan sinar yang aneh.

"Apakah Hengtai hendak menggunakan senjata melawan aku?" tanyanya. "Betul Hengtai tidak ingin meminum arak kehormatan, terpaksa hengte

menyuguhkan arak hukuman," sahut pemuda itu dengan sinar mata yang tidak kalah aneh.

Yok Sau Cun sudah marah sekali.

"Hengtai tampaknya seorang yang terpelajar Mengapa begitu tidak mengerti peraturan?" tanyanya.

"Menghadapi seorang manusia rendah saia, untuk apa harus memakai peraturan Apalagi aku sudah menyambutmu dengan sopan sebelumnya Berarti aku tidak melanggar peraturan dunia kangouw lagi Menurut orang, kepandaianmu amat tinggi Mana senjatamu?" Pemuda itu agaknya tidak memandang sebelah mata kepada Yok Sau Cun.

"Cayhe dengan hengtai sebelumnya be]um pemah ada dendam pribadi. Sekarang pun demikian Apakah Hengtai tidak merasa terlalu mendesak cayhe?" tanya Yok Sau Cun yang tidak suka mencan kenbutan.

"Kalau kau tidak mau mengefuarkan senjatamu jangan bilang aku terlalu kejam!" bentak pemuda itu Pedang di tangannya direntangkan Dia mendesak Yok Sau Cun sampai mundur tiga langkah.

"Hengtai terlalu menghina. Cay.he tidak dapat mengatakan apaapa [agi kecuali memenuhi kehendak Hengtai!" tenak Yok Sau Cun kesal.

Pemuda itu tersenyum mengejek Yok Sau Cun mengeluarkan pedang yang dibenkan oleh Ciok Ciu Lan kepadanya Cring!! Berbareng dengan suara itu sebuah sinar yang gemerlap menyilaukan mata Pedang yang berbentuk gulungan bola itu mengulur menjadi kaku.

Pemuda berbaju biru itu yakin kalau dirinya dapat mengalahkan Yok Sau Cun melihat pedangnya yang lentur, tanpa sadar mulutnya mendesah kagum.

'Pedang bagus!" serunya. Yok Sau Cun mendongakkan wajahnya.

"Hengtai tetap ingin bergebrak denganku Silahkan mulai!" katanya.

"Harap hati hati,' sahut pemuda itu. Dengan gerakan yang cepat pedang tersebut menerjang dari arah depan.

Pedang lemas Yok Sau Cun terangkat Dia menggunakan jurus Fo hun jut ci dengan gaya yang indah. Dia yakin jurus itu dapat memecahkan serangan pemuda tersebut Tapi dugaannya ternyata salah Serangan pemuda itu berubah di tengah jalan Hal itu di luar dugaan Yok Sau Cun Pedangnya memutar bagai kitiran angin sebuah serangan yang keji dan telengas.

Yok Sau Cun memang kurang pengalaman dalam bertarung. Dia terkejut sekali melihat perubahan yang dilancarkan pemuda itu Tanpa berpikir panjang, dia meloncat mundur beberapa langkah Siapa tahu pemuda itu seperti sudah menduga apa yang akan diiakukan oleh Yok Sau Cun. Mulutnya bertenak nyanng, pedangnya meluncur terus Kaki Yok Sau Cun belum sempat berdiri dengan mantap, serangan yang ganas itu sudah tiba Tidak ada waktu lagi untuk menghindar Yok Sau Cun terpaksa mengangkat pedangnya dan melawan dengan kekerasan pula. Kedua pedang saling membentur Pihak Yok Sau Cun lebih rugi ketimbang pemuda tersebut. Kakinya belum sempat mantap Lagipula pedang yang digunakan adalah pedang lemas. Dan dia iuga harus mengerahkan tenaga dalam agar pedang itu meniadi kaku. Dengan demikian ketika pedang itu sating membentur, tenaganya sudah jauh berkurang.

Trangi!! Terdengar suarayang menggelegar. Pedang di tangan Yok Sau Cun seakan tergetar lepas dari tangannya. Tubuhnya sendiri juga terdesak mundur dua langkah seiring getaran tersebut.

Pemuda berbaju biru itu tertawa terbahak-bahak. "Terima lagi tiga jurus serangankul" tenaknya lantang.

Pergelangan tangannya memutar Dia mengeluarkan tiga jurus sekaligus Kecepatannya bagaikan petir yang menyambar Tusukan demi tusukan beruntun diarahkan kepada Yok Sau Cun.

Belum lagi gerakan pemuda itu dapat terlihat dengan jelas, Yok Sau Cun sudah diserang kembali Di sekitarnya hanya terlihat bayangan pedang yang mengelilinginya Hatinya tergetar. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut serangan pemuda tersebut. Langkah kakinya bukan mundur tapi maju. Dia melakukannya berkali-kali Ketika kesempatan mulai luang, dia menghentakkan tubuhnya mendesak ke depan Sekali foncat saja dia sudah berhasil lolos dari serangan pemuda berbaju biru Lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang sedang terancam oleh tusukan pedang akan menggunakan siasat demikian Pada umumnya orang yang diserang akan memilih jalan mundur. Beluin pernah orang menggunakan siasat seaneh itu untuk meloloskan dirl Pemuda itu agak terkeiut melihat cara Yok Sau Cun.

"Bagus sekalil" serunya dengan nada dlngin Pedangnya sekali lagi meluncur Lengan kanannyajugamenggempur ke depan. Kelihatannya serangan itu sederhana saJa Pada saat itu, tubuh Yok Sau Cun masih melayang di udara Dia yakm serangannya kaii ini tidak akan luput lagi Apalagi posisinya berada di belakang Yok Sau Cun Meskipun dia meluncur terus ke depan atau membalikkan tubuh, tusukan pedang pemu da itu tetap dapat melukai Yok Sau Cun Tapi tanpa disangka, sekali lagi Yok Sau Cun memutar tubuhnya, pedang lemas di tangan nya telah dikibaskan dengan cara yang sama seperti tadi Dia menggunakan cara keras lawan keras Tampak secank wama merah dan keperakan memenuhi angkasa Trangi".

Sekali lagi kedua pedang saling membentur Keduanya sama sama mencelat mundur sebanyak tiga langkah Wajah tampan pe muda itu tersirat hawa amarah Dia menatap tajam ke arah Yok Sau Cun.

"Ternyata ilmu Hengtai lumayan Juga'" katanya sinis.

Jaraknya dengan Yok Sau Cun kira-kira beberapa cun Meskipun dia betum mendesaknya, namun begitu perkataannya selesai. pedang di tangannya menikam ke depan dan menimbulkan warna keperakan.

Sampai kitauan perak tersebut membuyar, pedangnya tetah di depan mata. Bayangan tubuhnya berputar Pergelangan tangannya digeser sedikit ke samping Bagai kan seekor naga yang sedang mengamuk menerjang secepat kilat ke arah pundak Yok Sau Cun Gerakannya sungguh aneh dan keJi. Yok Sau Cun belum sempat menenangkan perasaannya yang galau Tadi dia baru saja menerima serangan pedang pemuda itu dengan kekerasan. Dia merasa ilmu pemuda itu jauh di atas dirinya. Apalagi jurus- jurus yang dikeluarkan pemuda itu sangat aneh sehingga dia tidak sanggup memecahkannya Namun dari pengalaman dua kali melawan dengan kekerasan, tampaknya ada hasilnya juga. Dengan pikiran demikian, hatinya menjadi agak mantap Asal melihat pemuda itu menyerang, dia selalu menyambut dengan cara yang sama.

Pada saat itu, pedang lawan seperti roda yang berputar, datangnya cepat sekali. Tentu saja Yok Sau Cun mempunyai pikiran untuk mengadu dengan kekerasan lagi, namun kall ini harinya ragu Dalam keadaan terdesak. dia bergeser ke kiri dua langkah, kemudian baru mengangkat pedangnya untuk menangkis pedang pemuda itu. Trang!'! Pemuda itu tergetar bersamaan dengan bunyi yang keras itu. Pedangnya segera ditarik kembalj Matanya menatap Yok Sau Cun dengan tajam Di antara kedua alisnya terlihat hawa pembunuhan yang tebal. Dia mendengus sekali, disusul dengan melesatnya tubuh menerjang kembali ke arah lawannya.

Bayangan tubuhnya memutar bagai terbang Di sekitar terasa udara menggigil Lima jurus dilontarkannya berturutturut. Pedangnya menimbulkan cahaya seperti pelangi Yok Sau Cun kelabakan, hawa pedang memenuhi sekitarnya.

Dalam keadaan demikian, Yok Sau Cun tidak berani berharap banyak pedang lemasnya diputar bagai orang sedang menan dengan sehelai selendang Dia hanya mempertahankan diri tanpa menyerang Kakinya bergeser terus kadang ke kin dan ke kanan Tampaknya dia ingin menghindari arah yang dituju lawannya.

Dapat dikatakan aneh juga ketika dia menggeser kakinya secara serampangan, tiba- tiba dia merasa ada beberapa jurus iangkah kaki yang pernah diajarkan oleh gurunya sangat tepat digunakan untuk mengimbangi serangan pemuda tersebut Setiap kali pedang lawannya hampir mengenai dirinya, dia pasti dapat menghindar dengan langkah a;aibnya itu Meskipun keadaannya terdesak, namun dia tidak usah khawatir dirinya akan terluka Tetapi, justru setiap kali pedang pemuda itu hampir mengenai diri Yok Sau Cun, pasti terdengar suara Trang' Yang lembut dan tangannya tergetar.

Dia tidak tahu, Yok Sau Cun sudah menemukan cara menghindan setiap serangannya Dia hanya tahu bagaimanapun dirinya tetap tidak sanggup melukai pemuda tersebut Dia jadi marah sekali Apalagi ketika pedangnya hampir terlepas dan genggaman begitu beradu dengan tangan Yok Sau Cun. Dia merasa ada orang lain yang membantu pemuda itu.

'Siapa?" bentaknya.

Di sebelah kiri bangunan berbentuk segi enam itu ada sebuah pohon yang sangat lebat Pemuda itu segera melesat ke arah pohon itu dengan pedang terarah ke depan. Pedang menimbulkan sinar pelangi. Dia menyabel ke kiri dan kanan dengan kesal Pada saat yang sama, dan bagian dalam pohon yang nmbun terlihat sesosok bayangan manusia melesat Dia hinggap di pucuk bangunan segi enam dan menutul kakinya sebagai tambahan tenaga kemudian melayang pergi Sekali hentakan sajatubuhnya sudah berada di tempat sejauh tiga depa. Kecepatannya bagai terbang, kemudian menghilang.

Pemuda berbafu biru itu menyabet ketempat kosong Matanya menatap orang itu melayang pergi Mana mungkin dia mau'melepaskannya begitu saja Mulutnya bertenak nyan'ng dan melesat mengikuti bayangan tersebut.

Dua sosok bayangan, yang satu di depan dan yang lainnya di belakang dafam waktu sekejap menghilang di kejauhan. Yok Sau Cun bagai terpana Dia baru tahu ada orang yang membantunya secara diamdiam Dia sama sekali tidak dapat berpikir siapa adanya orang itu? Karena pengalamannya yang dangkal, se|ak tadi dia masih mengira dirinya sendiri yang berhasil mengimbangi serangan pemuda tersebut.

Dia hanya sempat melihat bahwa di punggung orang tersebut tersampir sehelai kain berwarna hijau Tampaknya orang itu sengaja mengalihkan perhatian pemuda berbaju biru itu dan dirinya.

Sebetulnya, kepandaian Yok Sau Cun sendiri mamang sudah cukup untuk menandingi pemuda itu. Dia hanya kurang pengalaman dalam bertarung. Namun bagaimana pun orang tadi mungkin bermat baik Yok Sau Cun berdiri di tempat dan memandang kedua orang itu menghilang di kejauhan Seandainya dia mgin menyusul tentu tidak keburu lagi Dia memasukkan pedang lemasnya ke dalam baju, kemudian menoleh ke arah koan ke yang sedang berdiri dengan termangu-mangu.

"Seandainya kongcu koan kembali nanti, tolong sampaikan cayhe masih ada urusan lain aehingga tidak bisa menemani lebih lama,' katanya.

"Yok Siangkong harap tunggu sebentar Kongcu tentu akan kembali segera" sahutnya panic. Yok Sau Cun baru berjalan beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya.

"Tidak perlu Cayhe dengan kongcu saudara memang tidak ada permusuhan apa-apa Hanya sedikit salah paham saja Kalau bertemu muka, mungkin semakin dijelaskan semakin ruwet Cayhe sama sekali tidak ada niat melanjutkan perkelahian yang tidak ada alasannya," katanya.

Yok Sau Cun melanjutkan perjalanannya Tidak lama kemudian dia sudah tiba di kota Lu ceng Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara nngkikan kuda 1lati Yok Sau Cun terkesiap.

"Apakah pemuda berbaju biru itu telah berhasil mengejarku?" pikirnya dalam hati.

Dia tidak ingin melanjutkan pertikaian dengan pemuda berbaju biru itu Dengan cepat tubuhnya melayang ke balik rerumputan yang tinggi dan mengintip ke jalanan Tampak pemuda berbaju biru itu mendatangi dengan kuda putihnya. Matanya celingukan kesana kemari Yok Sau Cun menundukkan kepalanya dalam-dalam Sejenak kemudian pemuda itu menepuk kudanya dan meninggalkan tempat tersebut.

"Entah berasal dan keluarga mana pemuda itu Orangnya tampan, ilmunya juga cukup tinggi Sayangnya terlalu angkuh Aku hanya menumpang perahu piaumomya untuk menyeberangi sungai, tampaknya dia mencan aku seperti hendak membalas den dam Mana ada peraturan demikian'?" kata nya dalarn hati.

Yok Sau Cun segera bangkit Dia bermaksud melanjutkan perjalananya Tiba- tibatelinganya menangkap suara erangan Pendengaran Yok Sau Cun sangat taJam Sekali mendengar saja, dia segera tahu bahwa suara rintihan itu datang dari arah belakangnya. Dan dia juga dapat merasakan bahwa penderitaan orang itu cukup parah.

Yok Sau Cun segera mencari sumber suara tersebut. Dia menyibak rumput-rumput yang tinggi dan tumbuh liar di sekitarsana . Tempat itu tidak jauh dan gudang penyimpanan alat-alat pertanian penduduk desa Di bagian sebelah dalam rumput- rumput itu ada sebuah lumbung padi yang sudah terbengkalai Disana ada tumpukan jerami dan mata Yok Sau Cun segera menangkap sesosok tubuh sedang rebah di atasnya.

Dia belum sempat melihat wa|ah orang itu dengan jelas, namun yang pertama tama ditangkap oleh matanya adalah sehelai selendang berwarna hijau Yok Sau Cun segera mengenali bahwa orang tersebut adalah laki-laki setengah baya berpakaian hijau yang duduk semeja dengannya di kedai makan pinggir Jalan kota Tan yang. Apakah orang yang diam-diam membantunya tadi adalah laki-laki setengah baya ini'?.

Yok Sau Cun maju beberapa langkah Tampaknya dia menderita luka yang cukup parah. Napasnya tersengal-sengal. Mulutnya mengeluarkan suara nntihan terus menerus. Yok Sau Cun meringankan langkah kakinya dan mendekati laki-laki tersebut.

"Apakah Hengtai mengalami cedera?" tanyanya. Laki-laki setengah baya itu mengerling sekilas. Tampaknya dia hampir tidak mempunyai tenaga untuk bicara.

"Karena sikapmu mencurigakan," sahut pemuda tersebut. Yok Sau Cun terpana mendengar perkataannya.

"Sikap mana yang mencurigakan?" tanyanya.

"Hatimu sendirl lebih mengerti," sahut pemuda itu dengan nada dingin.

"Cayhe minta penjelasan yang lebih dalam Apa maksud Hengtai sebenarnya?" ta nya Yok Sau Cun mulai tidak sabar.

"Semalam kau purapura hendak menyeberangi sungai Kau minta ijin menumpang di perahu piaumoi Sebenarnya apa maksudmu'?" Pemuda itu membuka kedoknya sendiri.

Yok Sau Cun segera mengerti. Pemuda berbaju biru ini rupanya cemburu kepadanya. "Oh. Hengtai salah pengertian. Cayhe sampai di tempat penyeberangan, hari sudah

larut malam Tidak ada perahu lain yang disewakan lagi. Karena kebetulan Hui siocia memang mempLinyai tujuan yang sama. Berkat kemurahan hatinya cayhe dibolehkan menumpang," sahutnya.

"Tidak usah banyak bicara.. !" bentak pemuda itu. "Kau terang-terangan sudah tahu asal usul piaumoi Bukankah kau mempunyai niat tertentu'?".

Wajah Yok Sau Cun merah padam.

"Mana boleh Hengtai sembarangan menuduh'" katanya dingin. "Apakah yang ku katakan itu salah?" tanya pemuda itu ketus.

Tangan kanan yang sejak tadi disembunyikan di belakang diangkat. Sebuah pedang yang bercahaya tajam telah tergenggam di tangan itu.

"Kalau kau tidak mau mengakui secara terus terang, Hengte terpaksa menahan dirimu di sini!" bentaknya.

Mata Yok Sau Cun menyiratkan sinar yang aneh.

"Apakah Hengtai hendak menggunakan senjata melawan aku?" tanyanya. "Betul Hengtai tidak ingin meminum arak kehormatan, terpaksa hengte

menyuguhkan arak hukuman," sahut pemuda itu dengan sinar mata yang tidak kalah aneh.

Yok Sau Cun sudah marah sekali. "Hengtai tampaknya seorang yang terpelajar Mengapa begitu tidak mengerti peraturan?" tanyanya.

"Menghadapi seorang manusia rendah saia, untuk apa harus memakai peraturan Apalagi aku sudah menyambutmu dengan sopan sebelumnya Berarti aku tidak melanggar peraturan dunia kangouw lagi Menurut orang, kepandaianmu amat tinggi Mana senjatamu?" Pemuda itu agaknya tidak memandang sebelah mata kepada Yok Sau Cun.

"Cayhe dengan hengtai sebelumnya be]um pemah ada dendam pribadi. Sekarang pun demikian Apakah Hengtai tidak merasa terlalu mendesak cayhe?" tanya Yok Sau Cun yang tidak suka mencan kenbutan.

"Kalau kau tidak mau mengefuarkan senjatamu jangan bilang aku terlalu kejam!" bentak pemuda itu Pedang di tangannya direntangkan Dia mendesak Yok Sau Cun sampai mundur tiga langkah.

"Hengtai terlalu menghina. Cay.he tidak dapat mengatakan apaapa [agi kecuali memenuhi kehendak Hengtai!" tenak Yok Sau Cun kesal.

Pemuda itu tersenyum mengejek Yok Sau Cun mengeluarkan pedang yang dibenkan oleh Ciok Ciu Lan kepadanya Cring!! Berbareng dengan suara itu sebuah sinar yang gemerlap menyilaukan mata Pedang yang berbentuk gulungan bola itu mengulur menjadi kaku.

Pemuda berbaju biru itu yakin kalau dirinya dapat mengalahkan Yok Sau Cun melihat pedangnya yang lentur, tanpa sadar mulutnya mendesah kagum.

'Pedang bagus!" serunya.

Yok Sau Cun mendongakkan wajahnya.

"Hengtai tetap ingin bergebrak denganku Silahkan mulai!" katanya.

"Harap hati hati,' sahut pemuda itu. Dengan gerakan yang cepat pedang tersebut menerjang dari arah depan.

Pedang lemas Yok Sau Cun terangkat Dia menggunakan jurus Fo hun jut ci dengan gaya yang indah. Dia yakin jurus itu dapat memecahkan serangan pemuda tersebut Tapi dugaannya ternyata salah Serangan pemuda itu berubah di tengah jalan Hal itu di luar dugaan Yok Sau Cun Pedangnya memutar bagai kitiran angin sebuah serangan yang keji dan telengas.

Yok Sau Cun memang kurang pengalaman dalam bertarung. Dia terkejut sekali melihat perubahan yang dilancarkan pemuda itu Tanpa berpikir panjang, dia meloncat mundur beberapa langkah Siapa tahu pemuda itu seperti sudah menduga apa yang akan diiakukan oleh Yok Sau Cun. Mulutnya bertenak nyanng, pedangnya meluncur terus Kaki Yok Sau Cun belum sempat berdiri dengan mantap, serangan yang ganas itu sudah tiba Tidak ada waktu lagi untuk menghindar Yok Sau Cun terpaksa mengangkat pedangnya dan melawan dengan kekerasan pula. Kedua pedang saling membentur Pihak Yok Sau Cun lebih rugi ketimbang pemuda tersebut. Kakinya belum sempat mantap Lagipula pedang yang digunakan adalah pedang lemas. Dan dia iuga harus mengerahkan tenaga dalam agar pedang itu meniadi kaku. Dengan demikian ketika pedang itu sating membentur, tenaganya sudah jauh berkurang.

Trangi!! Terdengar suarayang menggelegar. Pedang di tangan Yok Sau Cun seakan tergetar lepas dari tangannya. Tubuhnya sendiri juga terdesak mundur dua langkah seiring getaran tersebut.

Pemuda berbaju biru itu tertawa terbahak-bahak. "Terima lagi tiga jurus serangankul" tenaknya lantang.

Pergelangan tangannya memutar Dia mengeluarkan tiga jurus sekaligus Kecepatannya bagaikan petir yang menyambar Tusukan demi tusukan beruntun diarahkan kepada Yok Sau Cun.

Belum lagi gerakan pemuda itu dapat terlihat dengan jelas, Yok Sau Cun sudah diserang kembali Di sekitarnya hanya terlihat bayangan pedang yang mengelilinginya Hatinya tergetar. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut serangan pemuda tersebut. Langkah kakinya bukan mundur tapi maju. Dia melakukannya berkali-kali Ketika kesempatan mulai luang, dia menghentakkan tubuhnya mendesak ke depan Sekali foncat saja dia sudah berhasil lolos dari serangan pemuda berbaju biru Lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang sedang terancam oleh tusukan pedang akan menggunakan siasat demikian Pada umumnya orang yang diserang akan memilih jalan mundur. Beluin pernah orang menggunakan siasat seaneh itu untuk meloloskan dirl Pemuda itu agak terkeiut melihat cara Yok Sau Cun.

"Bagus sekalil" serunya dengan nada dlngin Pedangnya sekali lagi meluncur Lengan kanannyajugamenggempur ke depan. Kelihatannya serangan itu sederhana saJa Pada saat itu, tubuh Yok Sau Cun masih melayang di udara Dia yakm serangannya kaii ini tidak akan luput lagi Apalagi posisinya berada di belakang Yok Sau Cun Meskipun dia meluncur terus ke depan atau membalikkan tubuh, tusukan pedang pemu da itu tetap dapat melukai Yok Sau Cun Tapi tanpa disangka, sekali lagi Yok Sau Cun memutar tubuhnya, pedang lemas di tangan nya telah dikibaskan dengan cara yang sama seperti tadi Dia menggunakan cara keras lawan keras Tampak secank wama merah dan keperakan memenuhi angkasa Trangi".

Sekali lagi kedua pedang saling membentur Keduanya sama sama mencelat mundur sebanyak tiga langkah Wajah tampan pe muda itu tersirat hawa amarah Dia menatap tajam ke arah Yok Sau Cun.

"Ternyata ilmu Hengtai lumayan Juga'" katanya sinis.

Jaraknya dengan Yok Sau Cun kira-kira beberapa cun Meskipun dia betum mendesaknya, namun begitu perkataannya selesai. pedang di tangannya menikam ke depan dan menimbulkan warna keperakan.

Sampai kitauan perak tersebut membuyar, pedangnya tetah di depan mata. Bayangan tubuhnya berputar Pergelangan tangannya digeser sedikit ke samping Bagai kan seekor naga yang sedang mengamuk menerjang secepat kilat ke arah pundak Yok Sau Cun Gerakannya sungguh aneh dan keJi. Yok Sau Cun belum sempat menenangkan perasaannya yang galau Tadi dia baru saja menerima serangan pedang pemuda itu dengan kekerasan. Dia merasa ilmu pemuda itu jauh di atas dirinya. Apalagi jurus- jurus yang dikeluarkan pemuda itu sangat aneh sehingga dia tidak sanggup memecahkannya Namun dari pengalaman dua kali melawan dengan kekerasan, tampaknya ada hasilnya juga. Dengan pikiran demikian, hatinya menjadi agak mantap Asal melihat pemuda itu menyerang, dia selalu menyambut dengan cara yang sama.

Pada saat itu, pedang lawan seperti roda yang berputar, datangnya cepat sekali. Tentu saja Yok Sau Cun mempunyai pikiran untuk mengadu dengan kekerasan lagi, namun kall ini harinya ragu Dalam keadaan terdesak. dia bergeser ke kiri dua langkah, kemudian baru mengangkat pedangnya untuk menangkis pedang pemuda itu. Trang!'! Pemuda itu tergetar bersamaan dengan bunyi yang keras itu. Pedangnya segera ditarik kembalj Matanya menatap Yok Sau Cun dengan tajam Di antara kedua alisnya terlihat hawa pembunuhan yang tebal. Dia mendengus sekali, disusul dengan melesatnya tubuh menerjang kembali ke arah lawannya.

Bayangan tubuhnya memutar bagai terbang Di sekitar terasa udara menggigil Lima jurus dilontarkannya berturutturut. Pedangnya menimbulkan cahaya seperti pelangi Yok Sau Cun kelabakan, hawa pedang memenuhi sekitarnya.

Dalam keadaan demikian, Yok Sau Cun tidak berani berharap banyak pedang lemasnya diputar bagai orang sedang menan dengan sehelai selendang Dia hanya mempertahankan diri tanpa menyerang Kakinya bergeser terus kadang ke kin dan ke kanan Tampaknya dia ingin menghindari arah yang dituju lawannya.

Dapat dikatakan aneh juga ketika dia menggeser kakinya secara serampangan, tiba- tiba dia merasa ada beberapa jurus iangkah kaki yang pernah diajarkan oleh gurunya sangat tepat digunakan untuk mengimbangi serangan pemuda tersebut Setiap kali pedang lawannya hampir mengenai dirinya, dia pasti dapat menghindar dengan langkah a;aibnya itu Meskipun keadaannya terdesak, namun dia tidak usah khawatir dirinya akan terluka Tetapi, justru setiap kali pedang pemuda itu hampir mengenai diri Yok Sau Cun, pasti terdengar suara Trang' Yang lembut dan tangannya tergetar.

Dia tidak tahu, Yok Sau Cun sudah menemukan cara menghindan setiap serangannya Dia hanya tahu bagaimanapun dirinya tetap tidak sanggup melukai pemuda tersebut Dia jadi marah sekali Apalagi ketika pedangnya hampir terlepas dan genggaman begitu beradu dengan tangan Yok Sau Cun. Dia merasa ada orang lain yang membantu pemuda itu.

'Siapa?" bentaknya.

Di sebelah kiri bangunan berbentuk segi enam itu ada sebuah pohon yang sangat lebat Pemuda itu segera melesat ke arah pohon itu dengan pedang terarah ke depan. Pedang menimbulkan sinar pelangi. Dia menyabel ke kiri dan kanan dengan kesal Pada saat yang sama, dan bagian dalam pohon yang nmbun terlihat sesosok bayangan manusia melesat Dia hinggap di pucuk bangunan segi enam dan menutul kakinya sebagai tambahan tenaga kemudian melayang pergi Sekali hentakan sajatubuhnya sudah berada di tempat sejauh tiga depa. Kecepatannya bagai terbang, kemudian menghilang.

Pemuda berbafu biru itu menyabet ketempat kosong Matanya menatap orang itu melayang pergi Mana mungkin dia mau'melepaskannya begitu saja Mulutnya bertenak nyan'ng dan melesat mengikuti bayangan tersebut.

Dua sosok bayangan, yang satu di depan dan yang lainnya di belakang dafam waktu sekejap menghilang di kejauhan. Yok Sau Cun bagai terpana Dia baru tahu ada orang yang membantunya secara diamdiam Dia sama sekali tidak dapat berpikir siapa adanya orang itu? Karena pengalamannya yang dangkal, se|ak tadi dia masih mengira dirinya sendiri yang berhasil mengimbangi serangan pemuda tersebut.

Dia hanya sempat melihat bahwa di punggung orang tersebut tersampir sehelai kain berwarna hijau Tampaknya orang itu sengaja mengalihkan perhatian pemuda berbaju biru itu dan dirinya.

Sebetulnya, kepandaian Yok Sau Cun sendiri mamang sudah cukup untuk menandingi pemuda itu. Dia hanya kurang pengalaman dalam bertarung. Namun bagaimana pun orang tadi mungkin bermat baik Yok Sau Cun berdiri di tempat dan memandang kedua orang itu menghilang di kejauhan Seandainya dia mgin menyusul tentu tidak keburu lagi Dia memasukkan pedang lemasnya ke dalam baju, kemudian menoleh ke arah koan ke yang sedang berdiri dengan termangu-mangu.

"Seandainya kongcu koan kembali nanti, tolong sampaikan cayhe masih ada urusan lain aehingga tidak bisa menemani lebih lama,' katanya.

"Yok Siangkong harap tunggu sebentar Kongcu tentu akan kembali segera" sahutnya panic.

Yok Sau Cun baru berjalan beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya.

"Tidak perlu Cayhe dengan kongcu saudara memang tidak ada permusuhan apa-apa Hanya sedikit salah paham saja Kalau bertemu muka, mungkin semakin dijelaskan semakin ruwet Cayhe sama sekali tidak ada niat melanjutkan perkelahian yang tidak ada alasannya," katanya.

Yok Sau Cun melanjutkan perjalanannya Tidak lama kemudian dia sudah tiba di kota Lu ceng Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara nngkikan kuda 1lati Yok Sau Cun terkesiap.

"Apakah pemuda berbaju biru itu telah berhasil mengejarku?" pikirnya dalam hati.

Dia tidak ingin melanjutkan pertikaian dengan pemuda berbaju biru itu Dengan cepat tubuhnya melayang ke balik rerumputan yang tinggi dan mengintip ke jalanan Tampak pemuda berbaju biru itu mendatangi dengan kuda putihnya. Matanya celingukan kesana kemari Yok Sau Cun menundukkan kepalanya dalam-dalam Sejenak kemudian pemuda itu menepuk kudanya dan meninggalkan tempat tersebut.

"Entah berasal dan keluarga mana pemuda itu Orangnya tampan, ilmunya juga cukup tinggi Sayangnya terlalu angkuh Aku hanya menumpang perahu piaumomya untuk menyeberangi sungai, tampaknya dia mencan aku seperti hendak membalas den dam Mana ada peraturan demikian'?" kata nya dalarn hati.

Yok Sau Cun segera bangkit Dia bermaksud melanjutkan perjalananya Tiba- tibatelinganya menangkap suara erangan Pendengaran Yok Sau Cun sangat taJam Sekali mendengar saja, dia segera tahu bahwa suara rintihan itu datang dari arah belakangnya. Dan dia juga dapat merasakan bahwa penderitaan orang itu cukup parah.

Yok Sau Cun segera mencari sumber suara tersebut. Dia menyibak rumput-rumput yang tinggi dan tumbuh liar di sekitarsana . Tempat itu tidak jauh dan gudang penyimpanan alat-alat pertanian penduduk desa Di bagian sebelah dalam rumput- rumput itu ada sebuah lumbung padi yang sudah terbengkalai Disana ada tumpukan jerami dan mata Yok Sau Cun segera menangkap sesosok tubuh sedang rebah di atasnya.

Dia belum sempat melihat wa|ah orang itu dengan jelas, namun yang pertama tama ditangkap oleh matanya adalah sehelai selendang berwarna hijau Yok Sau Cun segera mengenali bahwa orang tersebut adalah laki-laki setengah baya berpakaian hijau yang duduk semeja dengannya di kedai makan pinggir Jalan kota Tan yang. Apakah orang yang diam-diam membantunya tadi adalah laki-laki setengah baya ini'?.

Yok Sau Cun maju beberapa langkah Tampaknya dia menderita luka yang cukup parah. Napasnya tersengal-sengal. Mulutnya mengeluarkan suara nntihan terus menerus. Yok Sau Cun meringankan langkah kakinya dan mendekati laki-laki tersebut.

"Apakah Hengtai mengalami cedera?" tanyanya.

Laki-laki setengah baya itu mengerling sekilas. Tampaknya dia hampir tidak mempunyai tenaga untuk bicara.

"Cayhe terkena serangan telapak maling itu," sahutnya.

"Tampaknya Hengtai terluka oleh pemuda berbaju biru itu. Apakah Hengtai yang membantuku secara diam-diam?" tanya Yok Sau Cun terkejut.

"Kebetulan cayhe lewat di tempat itu Cayhe tidak tahan melihat kesombongannya. Oleh karena itu, cayhe mengalihkan perhatiannya Cayhe bukan terluka di tangannya tapi dibokong oleh seseorang. Telapaktangannya tepat mengenai cayhe..." sahut laki- lakl setengah baya tesebut.

"Di mana Hengtai terluka? Apakah parah sekali?" tanya Yok Sau Cun,. Wajah laki-laki setengah baya itu menyiratkan perasaan berterima kasih.

"Terima kasih. Cayhe... terluka tepat di bagian hati sebelah belakang Tadi cayhe sudah minum obat. Rasanya masih sanggup bertahan .. tapi . aih ...".

Yok Sau Cun merasa ada kata-kata yang berat dikatakan oleh laki-laki setengah baya itu Dia jadi penasaran. .

"Hengtai ada perkataan apa, silahkan jelaskan," katanya. Laki-laki setengah baya itu meliriknya sekilas.

"Siangkong adalah seorang laki-laki sejati Cayhe sebetulnya ada sesuatu yang ingtn dititipkan Hal ini penting sekali, namun., " Kata-katanya belum selesai, wajahnya membayangkan seperti ada sesuatu yang memberatkan.

"Hengtai ada urusan apa. harap katakan dengan jelas Asalkan sesuatu yang tidak menyalahi peraturan Bulim, cayhe pasti akan melaksanakannya sampai tuntas," sahut Yok Sau Cun tegas.

Laki-laki setengah baya itu menganggukkan kepatanya berkali-kali dengan sorot mata penuh Terima kasih.

"Siangkong mempercayai aku Cayhe dengan sendirinya lebih mempercayai Siangkong, tetapi urusan ini menyangkut hal yang besar." katanya.

"Apa sebetulnya yang Hengtai ingin katakan?" tanya Yok Sau Cun.

"Tentang . selembar surat rahasia," sahut laki laki tersebut. Dia menekan kedua telapak tangannya ke tanah dan berusaha memperbaiki duduknya Matanya celingak- celinguk ke kiri dan kanan Dia menyondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Yok Sau Cun.

"Surat ini ditujukan kepada bekas Bulim bengcu yang terdahulu, yaitu Song loya cu. Isinya mengenai keselamatan kaum Bulim". Dia terpaksa berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang memburu Sejenak kemudian dia melanjutkan kembali "Surat ini harus.. di sampaikan langsung ke tangan Song loya cu Tidak boleh lewat dan matahari terbenam hari ini. Tetapi cayhe dibokong orang sehingga tidak sanggup melanjutkannya kewajiban ini Cayhe mati tidak apa, tapi keselamatan kaum Bulim ber ada di surat yang harus cayhe sampaikan. Oleh karena itu cayhe minta siangkong.

.".

Yok Sau Cun terkesiap mendengar peristiwa yang demikian genting Jangan kata orang ini tadi telah membantunya mengalihkan perhatian pemuda berbaju biru. andaikata tidak pun, sebagai seorang manusia yang mengenal budi pekerti, sudah seharusnya dia mengulurkan tangan membantu dunia Bulim Dia segera menganggukkan kepalanya.

"Cayhe mengerti Apakah Song toya cu yang Hengtai maksudkan tadi adalah Song Ceng San Song toya cu itu?" tanyanya.

"Song loya cu yang pernah menjadi Bulim bengcu rasanya hanya orang itu saja," sahut laki lakl setengah baya tersebut.

"Kalau begitu bagus sekali. Perjalanan cayhe kali ini, memang untuk mengunjungi orang tua itu Hengtai ingin cayhe mengantarkan surat rahasia tersebut benar-benar adalah hal yang kebetulan," kata Yok Sau Cun riang.

Laki-laki setengah baya itu mendengar bahwa tujuan Yok Sau Cun memang hendak mengunjungi Song [oya cu, wajahnya tidak menampilkan perasaan gembira malah rada curiga. Dia menatap Yok Sau Cun dengan tajam.

"Entah apa tujuan Siangkong mengunjungi Song loya cu? tanyanya. Yok Sau Cun tidak tahu laki-laki itu mencurigainya.

"Cayhe ada sedikit urusan pribadi ingin memohon sesuatu," sahutnya.

Sebagai orang yang terkenal, sejak muda Song loya cu juga sudah berilmu tinggi. Pada saat usia pertengahan, dia malah ter pilih sebagai Buhm bengcu Tidak heran kalau banyak orang yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memohon sesuatu kepadanya Biasanya sesuatu itu merupa kan pelajaran ilmu silat Laki-laki setengah baya itu menduga maksud Yok Sau Cun pasti sama juga dengan yang lainnya.

"Bagus sekaii Tapi urusan ini sangat mendesak lagipula penting sekali. Siangkong harus menyampaikannya iangsung ke tangan Song loya cu ".

"Hengtai menyerahkan urusan yang demikian penting, cayhe pasti akan melaksanakannya dengan baik Cayhe akan menyerahkan surat ini langsung ke tangan Song loyacu," sahut Yok Sau Cun.

"Terima kasih atas kesediaan Siangkong, cayhe akan mengingat kebaikan ini dalam hati," kata laki-laki tersebut.

"Hengtai tidak perlu sungkan. Di mana surat rahasia tersebut?" tanya Yok Sau Cun. "Surat itu ada di balik pakaian cayhe. Silahkan Siangkong mengambilnya sendiri."

Lukanya cukup parah, kedua tangannya menumpu di tanah agar memudahkan Yok Sau Cun mengambil surat itu. Dia sendiri tampaknya tldak bertenaga lagi.

Yok Sau Cun segera mengulurkan tangan merogoh ke balik pakaian laki laki setengah baya itu Dia meraih sebuah bungkusan dari kain.

"Betul bungkusan itu," kata laki laki setengah baya itu sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

Yok Sau Cun membuka bungkusan kain tersebut Di dalamnya memang terdapat sepucuk surat rahasia, di mana terdapat tulisan 'Kepada yang terhormat, Song loya cu.' Di bagian bawahnya masih terdapat huruf huruf yang tercetak besar 'penting' Tidak ada nama atau pun alamat si penginm Yok Sau Cun menduga tentunya keterangan tersebut ada di datam isi surat. Sekali tihat saja, dia dapat menduga pentingnyasurat itu oleh sebab itu, Yok Sau Cun segera menutupinya kembati dengan kain tadi lalu dimasukkan di balik pakaiannya dengan hati-hati. "Entah Hengtai masih ada pesan apa?" tanyanya.

Wajah laki-laki setengah baya itu semakin pucat Dia memaksakan diri untuk berbicara....

"Suratitu harus sampai sebelum matahan terbenam hari mi. Kaiau tidak, aku tidak membayangkan akibatnya. " katanya.

"Cayhe tahu. Cayhe akan melaksanakan sesuai penntah Hengtai," sahut Yok Sau Cun menenangkannya.

Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di benaknya. 'Cayhe belum tahu nama besar Hengtai," katanya,.

"Cayhe she Yu . " Dia memaksakan sebuah senyuman dibibir "Tetapi cayhe hanya pengantar surat. Song loya cu belum tentu mengenal cayhe. " Dia menarik nafas

beberapa kati. "Urusan ini penting sekali. makin cepat makin baik Lebih baik Siangkong berangkat sekarang juga. Cayhe terpaksa merepotkan Siangkong. .".

Yok Sau Cun tahu laki-laki itu tidak enak hati terhadapnya tapi urusan ini memang mendesak sekali. Meskipun dia tidak tahu apa.

"Hengtai tidak usah khawatir Harap baik-baik merawat luka. Cayhe mohon diri," katanya.

Laki-laki ilu terharu sekali. Air matanya jatuh bercucuran. Dia menatap Yok Sau Cun dengan berbagai perasaan.

"Siangkong harap berhati-hati di jalan '. Yok Sau Cun berdiri.

"Cayhe akan mengingat nasehat Hengtai," katanya.

"Apakah Siangkong sudah tahu tempat tinggal Song loya cu?" tanya laki-laki setengah baya itu.

"Meskipun cayhe baru pertama kali datang ke Cang ciu, namun nama Song loya cu menggetarkan dunia Bulim. Song cia ceng di Cang ciu tidak ada yang tidak tahu 'Asal cayhe bertanya ke sana sini, tentu akan menemukannya dengan mudah," sahut Yok Sau Cun.

Laki-laki setengah baya itu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Rumah keluarga Song di bagian timur adalah tempat tinggal lamanya. Nama Song loya cu telah menggetarkan dunia Bulim Banyak sahabat juga tidak kurang banyak musuh yang mengincarnya Demi ketenteramannya, orang tua itu sudah sepuluh tahun yang lalu pindah ke Ma cik san." katanya. Yok Sau Cun terpana mendengar keterangan tersebut. "Di mana letak Ma cik san?" tanyanya.

Laki-laki itu diam sejenak Dia sedang mengatur nafasnya yang memburu.

"Ma cik san terletak di tengah-tengah Tai hu Song loya cu tinggal di bawah Kuan Cang Fong Disana ada sebuah gedung bernama besar yang mirip sebuah perkam pungan. Orang sekitar situ tidak ada yang tidak tahu. Mereka menyebutnya Tian Hua san ceng," katanya. 

"Cayhe sudah mengingatnya dalam hati," sahut Yok Sau Cun. Setelah itu dia men]ura kepada laki-laki setengah baya dan menatapnya sesaat. Dia tidak ingin perasaannya menjadi berat Oleh karena itu, dia melangkah dengan tergesa-gesa Apalagi dia telah menenma baik permintaan laki-taki itu Jangan sampai dirinya menyalahi janji, sedangkan tugas itu menyangkut keselamatan kaum Bulim.

Belum terlalu senja dia sudah sampai di Hiat kan Yok Sau Cun menarik nafas panjang.

"Untung saja masih ada waktu," katanya seorang diri. Hiatkan merupakan sebuah desa kecil di sekitar telaga Tai huPara pen duduk setempat mengandalkan usaha pencanan telur penyu.Ada sebagian yang menyewakan jasa sebagai pengantar tamu yang pulang pergi ke Ma cik san. Yok Sau.

Cun menyewa sebuah rakit dan langsung menuju Ma cik san. Angin sedang bertiup dengan kencang Yok San Cun tidak memperdulikan. Dia mendayung terus .

Telaga Tai hu sangat besar. Luasnya sekitar tiga puluh delapan nbu pal Ma cik san merupakan salah satu dari tiga pulau besar yang terdapat di sekitar telaga itu Puiau itu dilindungi dua buah gunuog Yang sebelah tnnur adalah gunung Kuan Cang Fong Yang sebelah barat adalah Tai Pu Fong Bulim Toala (Angkatan tua Bulim) Song loya cu tinggal di kaki bukit Kuan Cang Fong Pemandangannya sangat indah Di hadapannya terlthat air yang jermh, sedang bagian belakangnya terdapat sebuah gunung yang menjulang tinggi. Song loya cu membangun sebuah perkampungan yang diberi narna Tian Hua san ceng.

Menceritakan soal Song Ceng San, usianya saat ini sudah mencapai tujuh puluh tiga tahun. Orang tua itu hanya mempunyai seorang putra yang sekarang berusia dua puluh tiga. Namanya Song Bun Cun.

Nama Song Ceng San telah menggetarkan dunia persilatan Oleh teman-teman segolongan Beliau dipanggil Bulim Toalo. Tadinya berasal dari perguruan Huasan pai llmu pedangnya sangat terkenal.