Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 21

 
Jilid 21

Seharusnya setelah menelan Soat Som wan milik kakeknya, ditambah lagi bantuan penyaluran hawa murni Jit Kong dan Pat Kong, luka Yok Sau Cun dapat disembuhkan dalam jangka waktu yang singkat Tetapi ini matah bertolak belakang Lnka Yok Sau Cun kelihatannya malah bertambah parah.

Mengapa keadaannya bisa berbeda de ngan orang lain'? Justru semakin di pikirkan Tiong Hui Ciong semakin tidak mengerti.

Hatinya gugup lagi panik Tetapi jalan darahnya sedang dalam keadaan tertotok Dia tidak bisa menghampin mereka untuk melihat apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba terdengar lagi suara Blam! Biam! Seperti tubuh manusia yang terpental jatuh Tiong Hui Ciong segera mengalihkan pandangannya Hatinya sudah tegang tidak terkirakan.

Setiap tanggal satu bulan apa pun, rembulan tidak pernah menunjukkan diri. Dengan demikian keadaan di tempat tersebut semakin gelap Tetapi Tiong Hui Ciong memiliki mata yang tajam Dia mennaksakan matanya untuk melihat apa yang terjadi Kali ini hatinya benar-benar ciut Bahkan jantungnya hampir putus saat itu juga.

Rupanya kedua orang tua yang sedang nnenyalurkan hawa murni kepada Yok Sau Cun dengan maksud menolongnya, entah kenapa keduanya sudah terkulai di atas tanah dan tidak bergerak lagi Tidak, mereka bahkan tengkurap di atas tubuh Yok Sau Cun'.

Apa yang terjadi dengan kedua orang itu'? hati Tiong Hui Ciong bertanya-tanya.

Tiong Hul Ciong dapat merasakan bahwa telah terjadi sesuatu pada kedua orang itu Namun dia menyayangkan tubuhnya yang tidak dapat bergerak sehingga tidak dapat memberi pertolongan apa apa Hatinya semakin gelisah. Satusatunya jalan saat itu yang dapat dilakukannya hanya menyalurkan hawa murni untuk melepaskan dirinya sendiri dari totokan Jit Kong tadi.

Dia berusaha menenangkan perasaannya Sepasang matanya dipejamkan Pikirannya dikosongkan Perlahan-lahan hawa murninya dihimpun dan dialirkan ke seluruh bagian tubuhnya. Untung saja totokan Jit Kong tidak terlalu keras sehmgga lambat laun jalan darahnya yang tertotok mulai mengendur. Sebetulnya, berdasarkan ilmu silat yang dimiliki Tiong Hui Ciong, lagipula totokan Jit Kong yang tidak seberapa keras seharus nya dalam waktu smgkat dia dapat mem bebaskan dirinya dari totokan tersebut Tetapi, karena hatinya begitu panik dia menghimpun hawa murninya dengan tergesa-gesa Padahal totokannya tidak begitu keras, namun didesak oleh hawa murni yang mengalir deras malah menfadi semakin kuat dan akhirnya hawa murni gadis itu sendiri yang membalik lagi.

Tentu saja Tiong Hul Ciong tahu bahwa tadi Jit Kong tidak menotoknya dengan keras Namun selain ilmu orang itu mempunyai cin khas tersendiri, dia juga melakukan kesalahan ketika hendak menerobos jalan darahnya dengan aliran hawa nnurni. Sekarang keadaannya menjadi semakin sulit Rasanya dia tidak sanggup melepaskan dih dari totokan tersebut Mengingat akan hal itu, hati Tiong Hui Ciong semakin gelisah. Dia meniadi kebingungan.

Justru pada saat hatinya sedang dilanda kesedihan, kepanikan, tiba-tiba serangkum angin menerpa dan atas Disusul dengan suara angin yang berdesir Tahu-tahu di bawah pohon Kui telah bertambah seorang laki-laki berusia lanjut yang mengenakan pakaian berwarna kuning.

"Go Kong, Cuang Kong Yuani" terjak Tiong Hui Ciong dalam hati.

Sinar mata orang tua berpakaian kurnng itu bercahaya bagai kilat Dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya Tiba-tiba sinar matanya menyiratkan rasa terkejut yang tidak kepalang.

"Lao Jit, Lao Pat, kalian !" Serunya dengan suara parau.

Pada saat itu juga, lenggotnya seakan berdlri tegak Malanya mengembang air Dia mendongakkan kepalanya sambil mengepal tinjunya erat-erat.

"Siapa yang mencelakai Lao jit dan Lao pat?" teriaknya murka. "Mencelakal! Ternyata Jit kong dan Pal kong sudah mati!.

Hampir saja Tiong Hui Ciong tidak mem percayai pendengarannya sendiri Dengan mengandalkan ilmu yang dimiliki oleh Jit kong Oey Kong Tu dan Pat Kang Tia Kong Kian, bagaimana mungkin bisa dicelakai orang?.

Hatinya langsung bergidik Apabila Jit kong dan Pat kong benar-benar telah dicelakai orang maka adik Cun. .

Tiong Hui Ciong benar-benar tidak beram berpiklr tebih jauh Dengan suara parau, dia berteriak memanggil.

"Locianpwe, tolong kau bebaskan totokan di tubuhku!".

Orang tua berpakalan kuning itu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sepasang matanya yang bersinar aneh menatap Tiong Hui Ciong lekat-lekat.

"Siapa kau?" Baru saja ucapannya selesai tahu tahu orangnya sudah mencapai di hadapan Tiong Hui Ciong dengan kecepatan kilat. Tangan kanannya langsung mencengkeram bahu gadis itu "Cepat katakan! Kalau kau berani berbohong sepatah kata saja, lohu akan menghancurkan tulang bahumu ini!".

Dalam keadaan marah, CBngkeramannya di bahu Tiong Hui Ciong tidak berbeda dengan sebuah cakar yang terbuat dari baja Tiong Hui Ciong merasa sebagian tubuhnya seperti kesemutan Rasa sakitnyamenyusup sampai ke tulang Dia menggertakkan rahangnya erat-erat.

“Locianpwe, harap lepaskan tanganmu Boanpwe adalah Tiong Hui Ciong dari Soat san," sahutnya cepat.

Dua patah kata Soat san yang diucapkannya ternyata maniur sekali Cengkeraman tangan orang tua berpakaian kuning itu langsung mengendur Matanya tetap menatap Tiong Hui Ciong lekat lekat.

"Apa hubunganmu dengan Soat san pai?' tanyanya menyelidik. "Boanpwe adalah generasi penerus Soa san pai;" sahut Tiong Hui Ciong.

Mendengar kata 'generasi penerus' yang dikatakan Tiong Hui Ciong, orang tua itu menjadi tertegun seketika. Apakah generasi penerus yang dimaksudkannya adalah cucu Soat san Lo sin sian?.

"Kalau begitu, apamu Soat san Lo sin Sian itu?" tanyanya kemudian. "Kakek," sahut Tiong Hui Ciong.

Wajah orang tua berpakaian kumng itu langsung berubah.

"Rupanya kouwnio adalah cucu perempuan Lo sin sian Maafkan kelancangan Lao siu barusan,' suaranya juga jauh tebih lembut dari sebelumnya.

"Locianpwe terlalu sungkan. Tadi boanpwe ditotok jalan darahnya oleh Jit Kong Sekarang mohon Locianpwe membebaskan boanpwe dari totokan ini dulu," pinta Tiong Hui Ciong.

"Aih .. Lao siu sampai meiupakan hal ini," Orang tua berpakaian kuning itu segera mengulurkan tangannya menepuk jalan darah Tiong HU| Ciong yang bertotok. "Apakah kouwnio tahu siapa yang mencelakai Jit kong dan Pat kong'?".

"Boanpwe tidak tahu. Barusan Jit kong dan pat kong sedang menghimpun tenaga murni dan menyalurkannya ke dalam tubuh adik boanpwe untuk menyembuhkan luka yang dideritanya Entah bagaimana tiba-tiba mereka terkulai jatuh. ".

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dl benaknya Secepat kilat dia menghambur ke samping batu besar tersebut Dia menundukkan kepalanya untuk melihat keadaan Yok Sau Cun Wajah pemuda itu pucat pasi, di sudut bibirnya terlihat bekas darah yang sudah mengental Untuk sesaat Tiong Hui Ciong sendiri tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati Hatinya terasa pilu. "Adik Cun'' panggilnya tanpa sadar.

Air matanya mengalir bagai air pancuran Dia langsung mendekap Yok Sau Cun erat- erat Sementara itu, orang tua berpakaian kuning sedang berdiri termenung sambil menggelengkan kepalanya. Dia seakan sedang bergumam seorang diri.

"Rasanya ada yang tidak beres . Lo sin sian kan tidak mempunyai cucu laki-laki. Budak perempuan ini pasti. ." Begitu pikirannya tergerak, dia langsung melesat ke hadapan Tiong Hui Ciong dan membentak dengan suara berat. "Nona cilik' Siapa kau sebenarnya? Jangan cobacoba mendustai aku orang tual".

Hati Tiong Hui Ciong sedang sedih Dla menyahut dengan nada enggan. "Boanpwe sudah mengatakan kepada iocianpwe tadi Boanpwe Tiong Hul Ciong.". "Lalu siapa bocah ini"?" tanya orang berpakaian kuning sekali lagi.

"Dia adalah adikku," sahut Tiong Hui Ciong rnasih belum mengerti arah pertanyaan orang tua tersebut.

"Ha ha... ha. !" Orang tua berpakaian kuning itu tertawa terbahak-bahak Sepasang matanya langsung menyorotkan sinar tajam yang men'ggidikkan hati Suaranya pun berubah menjadi melengking tinggi penuh kemarahan "Kau masih berani mengoceh sembarangan di hadapan Lao siu? Tampaknya kaulah yang mencelakai Jit kong dan Pat kong!".

Tiong Hui Ciong terkejut sekali Dia menatap orang tua itu dengan sinar mata tidak mengerti.

"Kau mangatakan bahwa boanpwe yang mencelakal Jit kong dan Pat kong?".

"Memangnya siapa lagi?" Orang tua itu membusupgkan dadanya Terdengar suara gemerutukan tulangtulang dalam tubuhnya seperti sedang terputus satu demi satu Mulutnya mennperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan. Kau berani memalsukan cucu perempuan Lo sin sian, kau kira caramu ini dapat mengelabui orang tua seperti Lao siu?".

Pada dasarnya tubuh orang tua berpakaian kuning itu memang tinggi besar. Begitu dla membusungkan dadanya, tampak tubuhnya seperti bertambah tinggi sebanyak lima enam cun. Kalau di perhatikan sekilas mirip dengan manusia buatan alias robot. Dalam waktu yang bersamaan dia mengangkat tangan kanannya ke atas dengan perlahan-lahan.

Hati Tiong Hui Ciong langsung tergetar.

"Kim kong ciang (Telapak baja emas)" serunya dalam hati.

Wajahnya berubah menjadi serius. "Mengapa locianpwe bisa menduga bahwa boanpwe bukan cucu perempuan Lo sin sian?" tanyanya hati-hati. "Menurut yang Lao siu ketahui, Lo sin sian tidak mempunyai cucu laki-laki," sahut orang tua berpakaian kuning itu dengan wajah garang.

"Dia. dia adalah adik angkat Boanpwe " Akhirnya Tiong Hui Ciong terpaksa mengaku terus terang.

"Memangnya lohu bisa percaya begitu saja'?" sahut orang tua berpakaian kuning tersebut.

"Lalu, bagaimana caranya agar locianpwe bisa mempercayai keterangan boanpwe?".

"Lo sin sian mempunyai tiga orang cucu perempuan Di durua kangouw mereka terkenal dengan sebutan Soat san sam eng llmu silat mereka dJdidik langsung oleh Lo sin sian. Kalau kau sanggup menerima satu jurus dari lohu, tentu lohu blsa tahu apakah kau memang cucu Lo sin sian yang asti ateu gadungan'" sahut orang tua berpakaian kuning.

Hawa amarah dalam hati Tiong Hul Ciong mulai meluap. Dia mendengus dingin dan menatap kepada orang tua berpakaian kuning dengan tajam.

"Mati hidupnya adik angkatku ini masih Delum ketahuan Pada saat seperti im locianpwe mendesak boanpwe untuk turun tangan Apakah kau sudah melupakan budi yang ditanam oleh kakekku pada masa silam'?' tanyanya ketus.

Mendengar ucapannya orang tua itu langsung tertegun Dia merangkapkansepasang tangannya dan mendongak menatap langit.

"Budi pertolongan Lo ain sian di masa silam sampai mati pun tidak akan lohu lupakan ".

Tiong Hui Ciong segera mengibaskan lengan bajunya. Terdengarlah suara.

"Cring!" yang nyaring. Dia mengeluarkan sebilah pedang pendek dari balik pakaiannya dan ditudingkahnya kehadapan orang tua berpakaian kuning itu.

"Kalau locianpwe dapat mengenali pedang pendek ini, mungkin locianpwe dapat mengenal siapa diri boanpwe sekarang,' katanya sinis.

"Han eng kiam!" Sinar mata orang tua berpakaian kuning itu langsung terpaku Terlihat sorot ketakutan dalam sinar matanya itu Suaranya agak bergetar "Rupanya kouwnio memang cucu perempuan Lo sin sian Maafkan kelancangan Lao siu barusan ".

Ternyata Soat san lo iin sangat menya yangi ketiga cucu perempuannya Sengaja dis memesankan tiga bilah pedang pusaks yang terasa dmgin sekali apabila digenggarr dalam tengan Dia menamakan pedang ter sebut Han eng kiam. Itulah sebabnya begitu ketiga orang cucu perempuannya berkelana di dunia kangouw, mereka mendapat julukan Soat san sam eng (Tiga pendekar wanita dari Soat san).

"Tentunya locianpwe sekarang tidak menaruh kecurigaan lagi terhadap boanpwe?' tanya Tiong Hui Ciong "Dengan adanya Han eng kiam di tangan kouwnlo, tentu Lao siu sudah percaya penuh " sahut orang tua berpakaian kuning. Bibirnya yang barusan tersenyum langsung mengatup kembali Dia menarik nafas panjang "Tapi urusan Jit kong dan Pat kong yang dicelakai orang, hanya kouwniolah satu satunya saksi yang ada di tempat. Harap kouwnio dapat menceritakan secara terperinci apa yang diketahui agar Lao siu dapat membalaskan dendam bagi Lao jit dan dan Lo pat".

"Baik Kalau begitu harap locianpwe tunggu sebentar Boanpwe ingin melihat keadaan adikku apakah dia masih bisa tertolong?".

"Adik kouwnio belum mati Hanya nafasnya saja yang tidak teratur," kata orang tua berpakaian kuning Tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Dengan mengandalkan pendengarannya saja dia sudah tahu apa yang terjadi pada diri Yok Sau Cun.

Air mata Tiong Hui Ciong mengalir dengan deras.

"Lo cianpwe, kalau menurut pendapatmu, apakah dia masih bisa tertolong?".

Orang tua berpakaian kuning atau Gc kong Cuang Kong Yuan menarik nafas panjang.

"Biar lohu periksa sebentar" Matanya ma sih basah karena air mata. Ditinggalkannya mayat Jit kong dan Pal kong yang diletakkannya perlahan-lahan di atas tanah lalu dia mulai memperhatikan keadaan Yok Sau Cun, Oia melihat noda darah memenuhi sebagian wajah dan dada anak muda itu. Nafasnya memburu tetapi tidak teratur.

Orangnya sendiri masih tldak sadarkan diri.

Dia mengulurkan tangannya menekan jalan darah Leng Tai hiat. Disalurkannya hawa murni di dalam tubuh Yok Sau Cun Tidak disangka-sangka. begitu dia menyalurkan hawa murninya, dia merasa di dalam tubuh anak muda itu ada dua aliran tenaga yang saling bertentangan dan hampir saja membuat telapak tangannya yang sedang menempel tersentak Oia merasa heran sekali. Tapi Go kong Cuang Kong Yuan masih pe nasaran. Sekali lagj dla menempelkan ta ngannya di lalan darah Hua Kai hiat yang terdapat di depan dada Kembali dia menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Yok Sau Cun. Lagilagi telapak tangannya tersentak.

Go Kong Cuang Kong Yuan masih merasakan adanya dua gulungan tenaga yang saling bertentangan di dalam tubuh anak muda tersebut Tampaknya kekuatan tenaga dalam yang mengatir ilu tidak berada di bawahnya Kali ini rasa terkejut dan keheranan nya semakin dalam.

"Apakah kedua adik Jit kong dan Pat kong telah menyalurkan seluruh tenaga dalam mereka kepada bocah ini?" tanyanya dalam hati.

Tiong Hui Ciong melihat orang tua itu merenung sekian lama Wajahnya juga berkerut-kerut seakan mencurigai sesuatu. Hati gadis itu semakin tidak tenang. "Locianpwe. bagaimana keadaannya?".

"Lao siu tidak dapat menduga dimana letak luka yang diderita adikmu. Tetapi di dalam tubuhnya mengalif dua gulung tenaga dalam yang saling bertentangan. Begitu mendapat saluran hawa murni dari luar, dua gulung tenaga itu langsung memberontak dan menerjang Tenaga tersebut kuat sekali.

Benar-benar mengherankan. Dapatkah kouwnio menceritakan semuanya dengan terperinci lebih dahulu? Mungkin dari kejadian yang dialaminya, Lao siu dapat mengambil kesimpulan yang pasti," sahut Go Kong Cuang Kong Yuan.

Tiong Hui Ciong langsung menceritakan kejadian tentang terlukanya Yok Sau Cun oteh ilmu Hue Yan to di tengan Hue leng senbu Bagaimana dia memberinya Soat som wan pemberian sang kakek Soat san lo jin. Dan meskipun anak muda itu pernah tersadar namun tidak ada tenaga sama sekali Tiong Hui Ciong juga menceritakan ba gaimana dia menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh anak muda itu dengan maksud mempercepat daya kerjanya obat agar Yok Sau Cun dapat sembuh dalam waktu yang singkat namun dia merasakan aliran darah dalam tubuh anak muda itu mengalir dan arah yang beriawanan. Meskipun dia berhasil menembus salah satu urat nadi dalam tubuh Yok Sau Cun namun kejadian selanjutnya malah di luar dugaannya. Anak muda yang sudah tersadar sebelumnya jatuh tak sadarkan diri kembali.

Dalam keadaan terdesak dan khawatir akan keselamatan jiwa adik Cunnya, Tiong Hui Ciong teringat bahwa setiap tanggal satu bulan dua belas sampai langgal sepuluh tahun benkutnya, delapan orang locianpwe yang terkenat sebagai Pat kong selalu berkumpul di Pat Kong san Terpaksa dia bergegas datang ke tempat itu untuk mengharapkan uluran tangan dari mereka.

Sampai di Pat Kong san, dia langsung menjatuhkan diri berlutut Kira kira satu kentungan kemudian dia melihat Jit kong dan Pat kong yang datang lalu langsung terjadi perdebatan Dia sendiri pernah mendengar cerita dan kakeknya bahwa meskipun kedua orang itu sudah berusia tinggi namun sikap mereka masih kekanakkanahan. Tiong Hui Ciong khawatir mereka tidak akan sudi menolong apabila memmta secara baikbaik maka dia menggunahan akal untuk memancing rasa penasaran mereka agar sudi turun tangan sendiri.

Dia juga menceritakan bahwa Jit konglah yang menotok jalan darahnya sehingga tidak bisa bergerak. Tetapi Tiong Hui Ciong tidak menyalahkan orang tua tersebut karena dia mengerti sebetulnya Jit kong bermaksud baik. Orang tua itu tidak ingin pekerjaan mereka terganggu oleh dirinya Kemudian Jit kong dan Pat kong langsung duduk saling berseberangan dan menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Yok Sau Cun Entah apa sebabnya tiba-tiba dia melihat adik angkatnya itu memuntahkan darah sebanyak dua kali dan dalam waktu yang bersamaan Jit kong dan Pat kong pun terkulai jatuh Dia sendiri berusaha melepaskan to tokan dalam tubuhnya untuk melihat apa yang telah terjadi. Tetepi belum lagi dia berhasil, Go Kong Cuang Kong Yuan sudah muncul. Tiong Hui Ciong mengisahkan seluruh kejadian dengan terperinci.

Go Kong Cuang Kong Yuan mendengarkan dengan seksama. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun Langsung dihampirinya mayat Jit kong Dey Kong Tu dan membalikkan tubuhnya Disingkapkannya pakai an atas orang tua itu dan ditelitmya seluruh tubuh adik ketujuh tersebut Matanya menatap bagian punggung Jit kong dengan tidak berkedip. Wajahnya meniratkan hawa amarah yang meluap.

"Ternyata Tai kit tiam. Ini adalah hasil perbuatan orang Bu Tong pai!" Tai Kit tiam adalah sejenis ilmu totokan khusus dan merupakan ilmu pusaka Bu Tong pai yang tidak diwariskan kepada siapa pun. Totokan tersebut dilakukan dengan dua jarj telunjuk dan jari tengah. Menurut selentingan yang tersebar, totokan tersebut dapat melukai orang dari jarak tujuh langkah.

Go kong Cuang Kong Yuan langsung meninggalkan mayat Jit kong Oey Kong Tu dan beralih kepada mayat Pat kong. Dia Juga membalikkan tubuh orang itu dan menyingkapkan pakaiannya. Oiperhatikannya bagian punggung adik kedelapan itu dengan teliti. Jit kong dan Pat kong sedang duduk dengan posisi berhadapan karena mereka sedang saling membantu untuk menyembuhkan luka yang diderita Yok Sau Cun. Dan apabifa ada seseorang yang ingin membokong mereka, tentu saja bagian punggung yang meniadi sasaran. Sedangkan Go kong Cuang Kong Yuan yakin hal ini tidak mungkin dilakuKan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan.

Wajah Go kong langsung berubah melihat luka yang diderita Pat kong Ternyata dugaannya tidak salah. Mereka tidak mungkin dibokong oleh orang yang sama.

"Pan Juo sin ciang! Ternyata yang melukai Lo pat adalah orang dari Siau Lim pai!" Ucapannya terhenti. Sepasang tinjunya mengepal Dia berusaha menenangkan perasaannya yang berkecamuk. "Kalau menurut pendapat Lao siu apabila dilihat dan kenya taan yang ada, tentu Lo jit dan Lo pat sedang memusatkan konsentrasi mereka untuk menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh anak muda ini. Dengan demikian, musuh datang secara mengendap-endap dan mereka tetap tidak menyadari adanya bahaya Sedangkan orang yang datang itu pasti berilmu tinggi dan mereka dapat turun tangan dengan leluasa pula. Jit kong dan Pat kong sedang menyembuhkan luka bocah ini mereka tidak dapat menghindarkan diri dari bokongan musuh maka keduanya pun terbunuh seketika," Go kong Cuang Kong Yuan menarik nafas panjang. Wajahnya menampilkan perasaannya yang tertekan.

"Sedangkan mengenai adik Kouwnio yang tiba-tiba memuntahkan darah sebanyak dua kali, Lao siu sendiri tidak mengerti Tetapi ketika dibokong oleh musuh Lo jit dan Lao pat sedang menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh pemuda im dan otomatis mereka tidak sempat menghentikan tindakan yang sedang berlangsung Dengan demikian, hawa murni dalam tubuh kedua Jit kong serta pat kong tersalur seluruhnya ke dalam tubuh anak muda ini Apakah int suatu keberuntungan atau kemalangan, Lao siu tidak dapat mengatakan Karena dan dua belas urat penting yang terdapat di dalam tubuhnya, sudah ada dua urat yang tertembus oleh bantuan Lo jit dan Lo pat Aliran darah datam tubuhnya masih mengalir dari arah yang berlawanan Ditambah lagi dua gulung tenaga dalam yang demikian kuat Lao siu takut tidak ada orang yang sanggup membendung tenaga dalam tersebut apabila ingin memberikan pertolongan kepadanya Tetapi kalau ditilik dan keadaannya sekarang, tampaknya tidak terlalu membahayakan.".

Meskipun orang tua itu mengatakan ke adaan Yok Sau Cun tidak terlalu membahayakan, namun Tiong HuiCiong tetap merasa panik dan khawatir.

"Kalau menurut pandangan Locianpwe, apa yang akan terjadi pada diri adik boanpwe ini?" tanyanya cemas. Padahal biasanya Tiong Hui Ciong adalah seorang gadis berotak cerdik dan banyak akal. Dia juga selalu tenang dalam menghadapi berbagai persoalan tetapi kali ini dia benar-benar seperti seekor cacing yang kepanasan.

Sepasang alis Go kong langsung berkerut. Dia merenung sekian lama.

"Lao siu sendiri tidak tahu cara apa yang harus digunakan agar dapat menyelamatkan jiwa adikmu. Tetapi tampaknya untuk sementara ini kita hanya mempunyai satu jalan ".

"Jalan apa?" tanya Tiong Hui Ciong cepat.

"Kakekmu Soat san lo jin memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Tenaga dalamnya juga melebihi tokoh kelas satu lainnya Jalan satu-satunya yang dapat kouwnio lakukan adalah bergegas kembali ke Soat san dan memohon agar orang tua sakti itu bersedia turun tangan menyelamatkan jiwa pemuda ini,"sahut Go kong.

Tentu saja hal ini juga sudah terpikir oleh Tiong Hui Ciong. Dia juga tahu kakeknya dapat menolong Yok Sau Cun Namun perjalanan daci tempat sebelumnya ke Soat san sangat jauh. Sedangkan luka yang diderita Adik Cun demikian parah. Oia khawatir anak muda itu tidak dapat bertahan selama perjalanan. Oleh karena itulah dia teringat akan Pat kong san yang jaraknya tebih dekat. Kedua. dia juga sadar bahwa tenaga dalam ketiga orang dari anggote Pat kong yang masih tersisa sangat tinggi.

Dapat dikatakan bahwa pada jaman itu mereka hampir tidak tertandingi lagi kecuali oleh kakeknya sendiri Ketiga, mereka mempunyai hutang budi dengan kakeknya sehingga Tiong Hui Ciong yakin mereka tidak akan menolak apabila dimintai pertolongan.

Sekarang hawa murni serta tenaga dalam Jit kong dan Pat kong sudah mengalir semua ke dalam tubuh Yok Sau Cun. Malah jadi bertentangan dengan tenaga dalam anak muda itu sendiri. Sedangkan kedua orang tua ttu dibokong orang sampal mati Sedangkan tenaga dalam dan hawa murni yang sedang tersalur ke dalam tubuh Yok Sau Cun tentu tidak ditarik kembati. Benar-benar berniat menolong malah mencelakainya..

Hati Tiong Hui Ciong kalut sekali Air matanya terus mengalir.

"Menurut locianpwe, apabila boanpwe bergegas membawanya ke Soat san, apakah dia dapat bertahan dalam perjalanan?" tanyanya bingung.

Go Kong Cuang Kong Yuan merenung sejenak.

"Hal ini sulit dikatakan. Tapi kalau ditilik dari keadaannya sekarang, hawa murm da lam tubuh adikmu mengallr dengan deras Tapi hal ini memang sudah pasti terjadi karena dia sudah menelan obat Soat som wan milik Lo sin sian. Lagipula ketika Lao ji dan Lao pat sedang menyalurkan tenaga dalam serta hawa murni mereka, tiba tiba men dapat bokongan sehingga mati saat itu juga Paling tidak enam bagian ke atas tenaga dalam mereka telah tersalur ke dalam tubuh adikmu Dapat dibayangkan berapa besar tenaga dalam serta hawa murni yang sedang bergejolak dalam tubuhnya sekarang " Go Kong berhenti sejenak "Saat ini tenaga dalam yang mengalir ada dua macam Yang satu mengalir secara normal dan lainnya berlawanan arah Masing- masing melalui urat nadi yang tidak sama Meskipun demikian, rasanya tidak terlalu membahayakan Tetepi apabila kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu yang agak panjang, tentu ada efek sampingan yang kurang menguntungkan. Itulah sebabnya Lao sm tidak dapat memastikan apakah adikmu dapat bertahan dalam perjalanan menuju Soat san yang demikian jauh, tetapi ".

"Tetapi apa?" tanya Tiong Hui Ciong cepat.

"Tetapi kalau menurut pandangan Lao siu, meskipun aliran tenaga dalam di tubuh adikmu.sangat deras, namun tiga hari ke mudian pasti akan mengalami perubahan Kemungkman aliran itu tidak demikian deras dan bagaimana selarijutnya tergantung stamina tubuh adikmu sendiri. Semua irn juga hanya dugaan saja, Lao siu tidak berani mengatakan pasti akan tecjadi hal demikian ".

Tiong Hui Ciong mendengar ceritanya yang memang masuk akal juga, namun semua itu masih dalam dugaan. Dia sadar meskipun tenaga dalam Go Kong sangat tinggi tetapi orang tua ini juga tidak mempunyai kesanggupan untuk mengobati Yok Sau Cun.

Satusatunya jalan yang dapat ditempuh sekarang adalah mencoba keberuntungan menuju Soat san dan memohon pertolongan dari kakeknya. Setelah mengambil keputusan demikian, Tiong Hui Ciong langsung menyimpan kembali pedang pusakanya dan menjura dalam-dalam kepada Go Kong.

"Terima kasih atas petunjuk yang locian pwe berikan. Boanpwe ingin memohon diri Sekarang Juga." Diangkatnya tubuh Yok Sau Cun dan dengan cara yang sama dia menghambur turun dari pat Kong san.

Hu Toanio yang melihat Tiong Hui Ciong sudah turun lagi dengan menggendong Yok Sau Cun, segera menyongsongnya.

"Ji siocia, bagaimana keadaan Yok siangkong? Apakah dia...?".

Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang, Tung Soat berempat juga "segera mengerumuninya.

"Cepat! Kita harus bergegas kembali ke Soat san!" sahutnya tanpa memperdulikan pertanyaan orang-orang itu.

Hu toanio sampai heran mendengar ucapannya. "Kembali ke Soat san'?".

"Tidaksalah!"sahutTiong Hui Ciong. "Kita tidak boleh berhenti Tempuh perjalanan siang dan malam " Dia menoleh kepada keempat gadis pelayannya "Biar Hu toanio saja yang ikut denganku Kalian tidak usah ikut". "Ji Siocia B panggil Cun Hong.

"Untuk menngankan beban kereta agar dapat mempercepat perjalanan Kalian tidak usah ikut aku ke Soat san Tunggu saja di tempat toaci, aku akan kembali secepatnyal" tukas Tiong Hui Ciong tanpa memberinya kesempatan untuk meneruskan kata- katanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Cun Hong, dia langsung menggendong Yok Sau Cun naik ke atas kereta Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat segera membungkukkan tubuh mereka dengan penuh hormat.

"Budak terima perintah!" kata mereka serentak. Hu Toanio juga bergegas naik ke atas kereta. "Yu Kim Piau, cepat berangkat'" teriaknya.

Yu Kim Piau segera mengiakan Pecut paniang dilontarkan Kereta kuda langsung menghambur menembus kegelapan malam.

Keempat pelayan itu mengantarkan kepergian Tiong Hui Ciohg dengan pandangan mata Sampai kereta kuda menghilang dalam kegelapan malam, barulah Cun Hong mendongakkan kepalanya menatap langit.

"Hampir kentungan ketiga, mari kita berangkat," katanya.

"Aih Tadi Ji Siocia naik ke atas puncak gunung. entah apa yang dilakukannya di sana'? Begitu turun gunung wajahnya kelam sekali Tampaknya dia seperti sangat kecewa'' kata Sia Ho seperti bergumam seorang diri.

"Entah siapa tokoh yang tinggal di puncak gunung ini Mungkin dia tidak bersedia mengobati Yok siangkong," tukas Ciu Suang.

'Ji siocia datang sendiri untuk memohonnya Aku tidak percaya orang itu tidak bersedia mengobati Pasti ilmu pengobatannya kurang tinggi sehingga Ji siocia memutuskan untuk kembali ke Soat san saja," sahut Tung Soat sok tahu.

Cun Hong menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Kata-kata Tung Soat memang beralasan ".

Baru saja dia selesai berkata, tiba tiba Ciu Suang mengulapkan tangannya. "Ssst, coba kalian dengar? Suara apa itu?".

Semua orang segera mempertajam pendengarannya Terdengar suara berderek-derek. Seakan dekat namun sebetulnya berkumandang dari kejauhan.

"Ciu Suang, kau ini ada-ada saja.ItuKan suara angin," sahut Sia Ho. Ciu Suang tidak puas mendapat teguran dan rekannya. "Masa suara angin berderak-derak?".

"Lalu, apa menurutmu'"' tanya Sia Ho penasaran.

"Justru aku tidak dapat mengirangira maka menyuruh kalian ikut mendengarkan," kata Ciu Suang bersungut-sungut.

Cun Hong segera mengulapkan tangannya. "Sudah, kalian jangan berdebat lagii".

"Prak! Prak! Prak!" Suara berderak derak itu semakin mendekat saja. Keempat orang gadis itu mempertajam pendengarannya dan mencoba menerka.

"Masa suara angin seperti itu?" kata Ciu Suang.

"Mungkinkah para siluman penunggu gunung yang muncul?" tanya Tung Soat dengan tubuh menggigil.

Wajah Cun Hong berubah semakin kelam.

"Jangan-jangan " Perkataannya belum lagi selesai, suara berderak-derak tadi seakan mengikuti hembusan angin dan tiba di hadapan mereka.

Ternyata seorang manusia biasa Kakinya menyeret sepasang sepatunya yang sudah robek di sana-sini Cara berjalan orang ini cepat sekali Sekarang dia sudah berhenti di hadapan keempat gadis tersebut.

Ketika dia melesat tadi, tidak terlihat jelas bayangan tubuhnya. Dari jauh seperti seekor monyet besar yang sedang menari-nari Bentuk tubuh orang ini kurus sekali Setelah dia berhenti sekarang, keempat gadis itu baru dapat melihat dengan jelas.

Orang ini memakai topi dan kulit labu yang dikeringkan Tampangnya terlihat lucu. Dia mengenakan pakaian berwarna hiJau berbahan belacu yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci Usianya sekitar lima puluh tahunan Wajahnya tidak enak dipandang sama sekati Matenya sipit seperti mata ayam Hidungnya seperti burung betet Di atas bibirnya terdapat dua untai kumis panjang seperti kumis tikus.

Siapapun yang memandangnya pasti merasa sebel dan tidak berminat melihat untuk kedua kalinya.

Pada saat itu dia berdiri dengan nafas tersengal-sengal Dari tubuhnya terpancar serangkum bau yang membuat orang menjadi mual Keempat gadis itu segera mengeluarkan sehelai sapu tangan dari baiik pakaian masing-masing dan menutup hidung mereka.

"Mari kita pergi!" kata Cun Hong. Ketiga rekannya yang lain tentu saja setuju. Mereka langsung membalikkan tubuh untuk meninggalkan tempat itu. Laki-laki berkumis tipis itu segera mengembangkan seulas senyuman yang lebih mirip seringaia seekor serigala.

"Nona-nona cilik, harap berhenti sebetar!" sapanya.

Tung Soat melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya sengaja dibuat segarang mungkin. "Ada apa?" bentaknya dengan suara keras.

"Suwi kouwnlo Siau loji merasa tidak asing dengan kalian Seperti kita pernah bertemu entah di mana?" kata laki-laki bertubu kurus itu.

"Di rumah mertuamu'" sahut Ciu Suan ketus.

Mendengar ucapannya, tanpa sadar Cu Hong, Sia Ho dan Tung Soat langsung ter tawa terkekehkekeh Laki-laki kurus itu ta paknya kurang senang mendengar ejeKa tersebut.

"Nona cilik mana boleh bicara seperti itu.

"Lalu, apa yang harus kukatakan?" tany Ciu Suang dengan gaya nakal.

Cun Hong memperhatikannya denga seksama Meskipun tampang orang ini sangat jelek tapi kalau ditilik dan gerakannya yang begitu cepat, dia dapat menduga bahwa laki-laki kurus ini pasti bukan orang biasa .Mau tidak mau hatinya menjadi curiga.

"Sebetulnya ada urusan apa kau memanggil kami?" tanyanya hati-hati.

Laki iaki kurus itu segera maju satu langah Dia melebarkan senyumannya sehing'a terlihat sebans giginya yang kekuning-kuningan.

"Sebetulnya Siau loji sedang mengejar seeorang Ketika melihat nona berempat, ra anya pernah bertemu di suatu tempat ituah sebabnya aku sengaja berhenti dan meanyakan hal ini".

"Kami tidak merasa pernah mengenalmu sekarang kau boleh pergi dari sini," tukas la Ho.

Laki-laki kurus itu mengedip-kedipkan matanya yang sipit. Tangannya terangkat dan menggaruk garuk topinya yang aneh.

"Kita pasti pernah bertemu di suatu temat," katanya keras kepala.

Sepasang matanya yang sipit terus mengedar secara bergantian di wajah keempat orang gadis tersebut Tampangnya seperti laki-laki hidung belang yang sedang menaksir gadis yang akan diajaknya berkencan.

"Berangkat!" kata Cun Hong tanpa memperdulikannya lagi. Dia langsung mendahului melangkah Ketiga rekannya yang lain secara serentak mengikuti dari belakang. Laki-laki bertubuh kurus itu menunggu sampai mereka sudah berjalan beberapa tindak, kemudian tiba-tiba dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Hei! Kalian berhenti dulu, siau loji ekarang sudah ingat. ".

"Ingat atau tidak, apa urusannya dengan mereka? Keempat gadis itu tentu saja tidak sudi meladeninya. Mereka meneruskan langkah kaki dengan santai.

"Prak! Prak' Prak'" Laki-laki bertubuh kurus itu seakan mulai panik. Dengan menyeret sepatunya yang sudah bolong di sana-sini dia segera mengejar keempat gadis itu dan belakang.

"Siau loji sekarang sudah ingat kembali Kalian adalah keempat gadis yang melayani Tiong kouwnio!" teriaknya sambil terus mengejar.

Cun Hong dan ketiga rekannya tetap tidak sudi memperdulikannya. Laki-laki kurus itu mempercepat langkah kakinya.

"Hei! Hei! Kalian tunggu sebentar! Benar-benar keterlaluan. Jangan membuat Siau loji berlanlari seperti orang yang tidak waras!" teriaknya kembali.

Cun Hong dan kawankawan masih juga meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh sekalipun Laki-laki itu menjadi kelabakan.

"Heii Hei! Nona cilik, kalian dengar dulu perkataanku . Aku datang kemari untuk menemui Siocia kalian. Harap kalian berhenti dulu !".

Mendengar bahwa kedatangannya adalah untuk menemui Siocia mereka, tanpa sadar langsung kaki Cun Hong terhenti seketika Dia membalikkan tubuhnya.

"Siapa kau? Ada urusan apa kau mencari Siocia kamf?" tanyanya serius.

Begitu dia menghentikan langkah kakinya, otomatis tindakannya juga ditiru oleh Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat. Laki-laki kurus itu sampai tersengalsengal adanya karena berlari mengejar mereka. Namun bibirnya masih juga mengembangkan senyurnan yang tidak enak dilihat.

"Tentu saja ada urusan panting. Katau tidak, kalian kira siau lo|i kekurangan peker jaan berlari dan Cin Ciu sampai ke tempat ini?".

"Urusan penting apa?" tanya Sia ho.

"Kemana sebetulnya Tiong kouwnio sekarang?" Laki-laki itu malah berbalik meng ajukan pertanyaan.

"Tidak tahu," sahut Tung Soat.

"Masa kalian tidak tahu kemana tujuan siocia kalian itu'?" tanya laki-laki kurus itu seperti kurang percaya. "Pokoknya tidak tahu Tidak percaya ya sudah " sahut Tung Soat kesal. Laki laki kurus itu menganggukkan kepalanya kepada keempat gadis itu.

"Nyonya besar berempat, tolonglah kalian berbuat sedikit kebaikan Katakanlah kepada Siau lop kemana tujuan siocia kalian," katanya dengan suara memohon.

Mendengar laki-laki itu menyebut mereka Nyonya besar tanpa sadar Ciu Suang tertawa terkekeh-kekeh.

"Rupanya kau ini lucu juga ".

"Kalau kau memang ingin tahu tujuan Ji siocia, maka kau harus memberitahukan terlebih dahulu maksudmu mencan siocia kami" tukas Sia Ho.

"Nona cilik jangan. menyulitkan Siau loji lagi Cepatlah katakan kemana tujuan siocia kalian Urusan ini menyangkut masalah yang sangat gawat " kata laki-laki kurus tersebut.

"Kalau kau tidak bersedia mengatakan maksudmu, mengapa kami harus memberitahukan tujuan Ji siocia kami?" sahut Sia Ho.

"Urusan ini menyangkut jiwa manusia " kata laki-laki bertubuh kurus itu sambil menariknank telmganya sendiri "Kalian suruh siau loji bagaimana mengatakannya dari awal Ceritanya sangat panjang Aih Dia berlan ke sana ke man seperti orang linglung Mengapa tidak mencari Siau loji dan merundingkan masalah ini " gumamnya seperti kepada diri sendiri.

Ciu Suang segera mencibirkan bibirnya mengeiek. "Mengapa harus merundingkannya denganmu?".

"Kalau dia berunding dulu dengan Siau loji, tentu tidak perlu berlan ke sana ke mari mencari orang yang bisa mengobati penyakit".

Sejak tadi Cun Hong tidak berkata apa-apa Dia hanya berdiri di sudut dan mendengarkan perdebatan antara laki-laki kurus itu dengan ketiga saudaranya Sekarang mendengar laki-laki itu mengatakan 'mencari orang yang bisa mengobati penyakit' pikirannya langsung tergerak.".

"Apakah kau kenal dengan Ji siocia kami?".

LakMaki kurus itu tersenyum dengan penuh kebanggaan Kembali sebaris giginya yang kek ningkuningan dipamerkan lebar-lebar.

"Bukan hanya kenal saja. Kami malah merupakan kawan baik," sahutnya. Tung Soat langsung mendengus dingin. "Masa Ji siocia kami bisa berkawan dengan orang sepertimu?".

Laki-laki kurus itu memijit-mijit hidungnya yang seperti hidung burung betet itu Sepasang matanya langsung mendelik.

"Apa? Kau anggap siau loji tidak pantas berkawan dengan Siocia kalian? Kalau tidak percaya, apabila beriemu dengannya nanti, tanyakan saja langsung. Coba lihat apakah dia mengakuinya atau tidak Mendengar.

Siau loji sudi menganggapnya sebagai kawan baik, Tiong kouwnio sendiri pasti akan kegirangan setengah mati!".

Tung Soat memandangnya dengan tatapan kurang peccaya. Cun Hong lebih bijaksana. Dia tidak mempersoalkan benar atau tidaknya keterangan laki-laki kurus tersebut.

"Tadi kau mengatakan bahwa Siocia kami berlari kesana ke mari untuk mencari orang yang dapat mengobati penyakit. Apa arti ucapanmu itu?" tanyanya purapura tidak mengerti.

"Memangnya ucapan Siau loji salah. Apakah dia tidak berlari kesana kemari mencari orang yang bisa mengobati penyakit sampai-sampai melupakan diriku ini?".

"Rupanya kau seorang tabib?" tanya Cun Hong. Laki-laki kurus itu tersenyum simpul.

"Sebetulnya siau loji seorang peramat nasib," Sampai setengah harian berkutat kesana kemari temyata dia adalah Seng mia lo si tukang ramal.

"Kalau hanya bisa melihat nasib, untuk iapa mencari Ji siocia kami?" tanya Cun hong mulai kesal.

"Aih." Laki-laki kurus itu menarik nafas panjang "Tetapi penyakit yang diderita saudaraku itu, siau loji mengerti sekali".

"Rupanya kau adalah saudara Yok siang kong?" tanya Cun Hong. Laki-laki kurus ilu menganggukkan kepalanya berkali kali. 'Tidak salah lagi. Dia memang sute siau loji''.

Cun Hong menatapnya dengan seksama.

Yok siangkong begitu tarnpan dan cerdas llmu silatnya juga sangat tinggi Mengapa suhengnya begini ketololtololan? Pikirnya dalam hati Namun dan luar dia tersenyum. 'Apakah kau benar benar dapat menyembuhkan luka yang diderita oleh Yok Siangkong?".

Sekali lagi laki laki kurus itu menganggukkan kepalanya. "Bukannya Siau loji membual Penyakit yang diderita suteku ilu, hanya siau loji yang dapat menyembuhkannya biarpun Tiong kouwnio pergi menemui kakeknya juga sia sia saja," sahutnya dengan nada yakin.

"Ji siocia justru sedang menuju ke tempat Lao sin sian," tukas Tung Soat. Dia memang paling mudah terpancing.

Baru saja Cun Hong bermat mencegah, namun sudah lerlambat Terdengar laki-laki ku rus itu mengeluarkan suara desahan dari mulutnya.

"Dia menuju ke Soat san'? Bukankah benar benar nnenyusahkan siau loji? Baiklah, sekarang juga siau loji akan menyusul mereka Mudah mudahan masih keburu ." Belum tagi kumandang suaranya lenyap, tubuhnya langsung melesat bagai mercon air mancur yang sering dimainkan anak-anak dan lenyap dalam kegelapan malam.

Sia Ho meieletkan lidahnya. "Cepat sekaii gerakan tubuhnya!".

Cun Hong menolehkan kepalanya ke arah Tung Soat.

"Mulutmu memang kelewatan Asal-usulnya saja kita masih belum tahu, bagaimana boleh sembarangan memberitahukan tujuan Ji siocia?" tegurnya seakan menyalahkan.

"Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah suheng dari Yok siangkong?" sahut Tung Soat kurang puas.

"Apakah kita bisa mempercayai ucapannya begitu saja?" bentak Cun Hong.

"Betul Kalau dilihat dan tampangnya saja, rasanya dia bukan orang baik-baik," tukas Sia Ho.

Tung Soat Jadi ketakutan mendengar perdebatan mereka. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?".

"llmu silat orang Ini tampaknya sangat tinggi Lebih baik kita segera berangkat menyusul Ji siocia dan rnemperingatkannya agar berhati-hati.".

Sia Ho menganggukkan kepalanya. "Baik, mari kita berangkati".

Keempat orang itu tidak menunda waktu lagi. Dengan menghimpun hawa murni, mereka mengerahkan ginkang masing-masing dan melesat secepat kilat menembus kegelapan malam. Sudah cukup lama Tlong Hui Ciong meninggalkan mereka.

Apalagi Ji siocianya itu menggunakan kerata kuda yang dikendalikan oteh seorang ahli seperti Yu Kim Piau. Apakah mereka dapat menyusulnya atau tidak masih merupakan suatu pertanyaan yang belum dapat dipastikan jawabannya. Baglan Empat Puluh Sembilan.

Fajar perlahan-lahan mulai menyingsing. Dari ujung hutan terlihat segurat sinar kekuningan yang indah dan terang. Kabut-kabut yang sedang melayang mulai menipis Di atas jalanan masih terlihat selapis salju yang tipis.

Sebuah kereta dengan dua ekor kuda yang menariknya berlari mendatangi dari arah timur Roda kereta berputar dengan kencang meninggalkan dua baris jejak di atas salju yang tipis. Di depan sudah terlihat kuil Oey Wong si Dafam waktu selama dua kentungan, mereka sudah menempuh perjalanan sejauh dua ratus li Hal ini merupakan batas tertinggi bagi seorang pengendara kereta.

Tepat pada saat itu, terdengar suara.

"Serrr!" seperti desiran angm. Sesosok bayangan melesat dari arah kiri hutan dan mencelat turun di depan kereta. Lebih lepat kalau dikatakan menghadang di tengah jalan.

Orang itu merupakan orang tua yang tinggi kurus Pakaiannya berwarna kuning. Jaraknya dengan kereta masih ada tujuh delapan depa. Tetapi dia berteriak dengan suara lantang.

"Kereta yang sedang mendatangi harap berhenti!".

Kereta dilarikan dengan kencang. Jarak tujuh detapan depa sebentar saja sudah dicapainya. Tetapi jarak itu juga cukup bagi kereta itu untuk berhenti secara mendadak Ternyata orang yang duduk di dalam kereta adatah Hu Toanio. Tiong Hui Ciong yang sedang membawa Yok Sau Cun menuju Soat san. Keadaan anak muda itu tidak sadarkan diri.

Yang mengendarai kereta sudah tentu Yu Kim Piau yang ahli sekafi. Dia sedang memecut kuda agar bertari lebih kencang ketika tiba-tiba ada seseorang yang menghadang di tengah jalan.

Mendengar suara teriakan orang tersebut, terpaksa Yu Kim Piau menarik kembali pecut di tangannya dan sekallgus menarik tali kendali kuda agar kereta dapat berhenti seketika. Untung saja Yu Kim Piau adalah seorang ahli dalam bldang yang satu ini Pada saat yang tepat dia dapat menghentikan kereta kuda. Padahal jarak antara orang itu dengan keretanya hanya tinggal sekitar lima cun saja.

"Apakah kau kepingin mati?" bentak Yu Kim Piau marah. Orang tua berpakaian kuning itu langsung tersenyum lebar.

"Harap saudara jangan marah. Lao siu adalah Cian Poa Teng dari Kong Tong pai dan ingin mohon bertemu dengan Tiong kouwnio ".

Tiong Hui Ciong sedang memejamkan matanya menghimpun tenaga Ketika kereta tiba-tiba berhenti, dia membuka matanya dengan perasaan heran. "Apa yang terjadi dengan kereta ini?".

Belum lagi Hu toanio sempat menjawab, Yu Kim Piau yang duduk di bagian depan kereta sudah membalikkan tubuhnya dan menyahut dengan suara hormat.

"Lapor Ji siocia, ada seseorang yang mengaku dirinya bernama Cian Poa Teng dari Kong Tong pai mohon bertemu.".

"Tanyakan padanya ada urusan apa?" kata Tiong Hui Ciong.

"Ji siocia tanya kau ada urusan apa ingin menemuinya?" tanya Yu Kim Piau melanjutkan ucapan Tiong Hui Ciong.

Cian Poa Teng segera maju beberapa langkah dan membungkukkan tubulinya memberi hormat ke arah kereta.

"Cayhe Cian Poa Teng menghadap Tiong kouwnio " Tampaknya dia ingin bicara lang sung dengan Tiong Hui Ciong.

Tiong Hui Ciong tetap duduk di dalam kereta Dia hanya menymgkapkan tirai dan meiongokkan kepalanya sedikit.

"Tidak perlu memakai segala macam per adatan. Apa maksud Yu huhoat menghadang perjalananku ini?".

Sekali lagi Cian Poa Teng menjura dalam-dalam.

"Cayhe mendapat perintah dari Hue leng senbu untuk menyusul Tiong kouwnio.".

"Hue leng senbu memerintahkan engkau menyusul aku? Ada urusan apa sebenar nya'?" tanya Tiong Hui Ciong diam diam merasa curiga.

"Maksud Hue leng senbu Ehem ehem . maksudnya agar Tiong kouwnio.. ." Tampaknya orang tua itu merasa serba salah meneruskan kata katanya.

Tiong Hui Ciong mulai dapat meraba maksud hati Cian Poa Teng. Dia tersenyum datar.

"Kong Tong pai dan Soat san pai sudah sepertl keluarga sendiri. Yu huhoat ada kata- kata yang hendak disampaikan Silah kan, tidak usah sungkan-sungkan.".

"Betul, betul," sahut Cian PoaTeng sambil terus menjura "Cayhe mengemban tugas dari Senbu yang mendengar kabar bahwa Yok Sau Cun ditolong oleh Tiong kouwnio Harap Tiong kouwnio dapat memberi muka kepada Lao siu agar meninggalkan anak muda tersebut di tempat ini.

Tiong Hui Ciong marah sekali mendengar ucapannya. Dia mendengus dingin. "Apakah ini perintah yang diberikan oleh Hue leng senbu?" tanyanya ketus.

"Betul, betul" Lagilagi Cian Poa Teng menjura. Bibirnya memaksakan seulas senyuman. "Kalau bukan perintah dan Senbu, meskipun cayhe mempunyai lima kepala |uga tidak berani menghada.ng perjalanan Tiong kouwnio".

Kembali Tiong Hui Ciong mendengus dingin.

"Bukankah kedudukan Cian Lao adalah Yu huhoat dari Kong Tong pai? Seorang Huhoat juga dapat mengambi! keputusan bukan'?" sindirnya taJam.

"Tiong kouwnio memandang cayhe terlalu tinggi Dalam Kong Tong pai Cian lao masih belum termasuk apa-apa. Cayhe masih mengharapkan petunjuk dari Tiong kouwmo ".

Tiong Hui Ciong menyingkapkan tirai kereta lebih ke atas. Ditatapnya Cian Poa Teng dengan pandangan menusuk.

"Cian Lao adalah Yu huhoat dan Kong Tong pai. Aku ingin meminta petunjuk tentang sesuatu. ".

"Soal 'Meminta petunjuk' yang dikatakan Tiong kouwnio, mana berani cayhe menerimanya?".

Sekarang penglihatan Cian Poa Teng lebih jelas. Dia melihat sepasang mata gadis itu begitu tajam menusuk.

Pandangan gadis ini benar-benar dingin dan menggidikkan hati katanya dalam hati Namun dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Dia hanya meniura sekali lagi kepada Tiong Hui Ciong sambil tersenyum lebar.

"Entah petunjuk apa yang Tiong kouwnio katakan Lao siu bersedia membersihkan telinga untuk mendengarkan.".

"Yang ingin kutanyakan adalah apakah pihak Soat san pai kami harus mendengar perintah pihak Kong Tong pai kalian?" tanyanya datar.

"Ucapan Tiong kouwnio terlalu berat." sahut Cian Poa Teng "Kong Tong pai dan Soat san pai adalah mitra kerja sama Mana boleh terselip kata-kata 'mendengar perintah' di antara keduanya?".

"Bagus kalau kau mengerti Hue leng senbu sudah melukai Yok Sau Cun. Bahkan dia telah mengeluarkan ucapan untuk melepaskannya Aku membawanya dari tempat orang orang Wi Yang pai dan menolongnya keluar Rasanya urusan ini tidak ada kaitannya lagi dengan Kong Tong pai," sahut Tiong Hui Ciong.

"Ini ini. " Cian Poa Teng tidak dapat melanjutkan kata katanya.

"Mengandalkan apa Hue leng senbu meminta aku meninggalkan Yok Sau Cun di tempat im? Mengapa Yu huhoat berani meminta aku meninggalkannya di sini?" Tiong Hui Ciong seakan tidak memberinya kesempatan untuk membantah. Cian Poa Teng dibuatnya kelabakan dan serba salah.

"Semua ini hanya kesalahpahaman Tiong kouwnio saja.. ".

"Cian Lao tidak perlu mengatakan apa-apa iagi. Mengharap aku meninggalkannya di sini hanya mimpi!" kata Tiong Hui Clong dengan nada dingin. Diturunkannya kembalf tirai kereta tersebut sambll memberi perintah "Yu Kim Piau, kita lanjutkan perjalanan!".

Cian Poa Teng sadar bahwa dla tidak dapat berkata apa-apa lagi Orang tua itu terpaksa menjura dalam-dalam.

"Cayhe mohon diri." Dia membalikkan tubuhnya. Sepasang kakinya menutul kemudian melesat meninggalkan tempat tersebut.

Baru saja bayangan tubuhnya menghilang, dari hutan sebelah kiri kembali terfihat berkelebatnya beberapa sosok bayangan Terdengar suara teriakan dari orang yang paling depan. "Tiong kouwnio, harap tunggu sebentar'".

Suara orang ini bening dan lantang Kumandangnya jelas terdengar sampai ke dalam kereta Tanpa sadar Tiong Hui Ciong mengerutkan sepasang alisnya.

"Yu Kim Piau. siapa lagi yang datang?".

Yu Kim Piau sudah menggetarkan dunia kangouw selama sepuluh tahun lebih. Tentu saja dia mengenali orang-orang yang datang itu.

"Lapor kepada Ji siocia, yang datang kali ini adalah Wi Yang sam kiat," sahutnya segera.

Tidak salah Yang datang menemui Wi yang sam kiat Wi Yang taihiap Hui Kin Siau, Wi Lam cu dan Gi Hua to Selain itu ada Hui Fei Cin dan Siau Cui yang masih menggunakan dandanan seorang pria.

Ketika Yu Kim Piau melaporkan kepada Tiong Hui Ciong Wi Yang taihiap Hui Kin Siau sudah berjalan ke hadapan kereta. Dia segera merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam.

"Wi Yang taihiap Hui Km Siau mengharap sahutan dari Tiong kouwnio'".

Orang sudah mengumumkan namanya dan mengharap sahutan dari dirinya, tentu saja Tiong Hui Ciong tidak enak kalau sampai tidak rrielayani Dengan enggan dia menyingkap tirai keretanya.

"Yang datang berkunjung ternyata Ciang bunjin dan Wi Yang pai Maafkan Tiong Hui Ciong yang tidak menyambut dan jauh," katanya dingin.

"Tiong kouwnio terlalu sungkan ". Tiong Hui Ciong mengedarkan pandangan matanya.

"Wi Yang sam kiat sudah terkenal di dunia kangouw sejak puluhan tahun yang lalu Han ini rupanya berkumpul bersama dan meng hadang jalan pergiku Bolehkah kalau aku bertanya ada petunjuk apa yang ingin disampaikan?'.

"Numpang tanya masih ada siapakah dalam kereta Tiong kouwnio itu?" tanya Wi Yang taihiap.

"Masih ada siapa pun di dalam keretaku, apakati Hui taihiap berhak mengetahuinya'?" tanya Tiong Hui Ciong datar.

Ditapya sedemikian rupa, Hui Kin Siau langsung terdiam Dia belum sempat menjawab apa-apa ketika Hui hujin yang ternyata ikut datang juga langsung menukas "Tiong kouwnip, menurut ppnyelidikan kami, kau telah menyusup ke dalam Kui Hun Ceng kami dan menculik Yok siangkong yang sedang terluka parah Aku rasa hal ini memang kenyataan bukan'?".

Tiong Hui Ciong mendengus dingin. "Menculik'? Mengapa aku harus menculiknya'?".

Hui Fei Cin langsung menghambur maju. Dia marah sekali mendengar ucapan Tiong Hui Ciong.

"Memangnya bukan kau yang menculik Yok siangkong? Kau masih ingin memungkiri ha! yang sudah nyata ini?" teriaknya kesal.

"Mengapa aku harus mungkir kalau me mang aku melakukannya? Aku memang menolong Yok Sau Cun keluar dan Kui Hun Ceng, sama sekali bukan menculiknya Sebab apabila dia tetap berada di tempat kalian pastidiaakan mengalami bencanayang tidak terkirakan " sahut Tiong Hui Ciong sinis.

Hui Fei Cin langsung membalikkan tubuhnya.

'lbu bukankah dia sudah mengakui perbuatannya?".

"Tiong kouwmo, mengapa kau bisa mengatakan bahwa berdiamnya Yok siangkong di Kui Hun Ceng malah akan mengalami bencana yang tidak terkirakan?" tanya Hui hujin.

Tiong Hui Ciong tertawa dingin.

"Dia terkena serangan Hue Yan to oleh Hue leng senbu. Luka ini tidak dapat disem buhkan dengan Pat pao ci giok tan milik Wi Yang pai. Apabila membiarkan dia diobati dengan iarum emas oleh Gi Hua to kalian, maka dia akan menjadi orang cacat seumur hidupnya Coba bayangkan, bencana apa yang paling besar bagi seorang pendekar kalau bukan kehilangan ilmu silat yang dimilikinya? Aku menolongnya dan Kui Hun Ceng Apakah perbuatanku ini tidak benar?". Mendengar sindirannya, wajah Gi Hua to langsung berubah merah padam Dia meng elus elus jenggotnya sembari tertawa sumbang.

"Kalau begitu, Tiong kouwnio mempunya! kepastian dapat menyembuhkan luka Yok sjangkong ini'?".

"Paling tidak aku tidak akan menggunakan jarum emas yang akan membuatnya ca cat seumur hidup," sahut Tiong Hui Ciong.

"Kalau mendengar nada ucapanmu, tampaknya kau sudah berhasil menyembuhkan luka yang Yok siangkong alami?" tanya Hui hujin.

Melihat begitu banyaknya rombongan mereka yang menghadang perjalanannya, hawa amarah dalam hati Tiong Hui Ciong jadi meluap.

"Paling tidak aku sudah menyembuhkan luka akibat serangan Hue Yan to yang dideritanya Kalau kalian tidak menghalangi perjalananku ini, aku pasti dapat menyembuhkan luka yang ia derita secara keseluruhan!" sahutnya kesal.

Hui Pei Cin dapat mendengar nada panggilan Tiong Hui Ciong terhadapYok Sau Cun yang sudah demikian akrab Rasa cemburu membakar hatinya seketika.

"Dia... dia Memangnya apa hubunganmu dengannya'?" tanyanya jengkel. Sikap Tiong Hui Ciong masih tenang sekali.

"Apapun hubungannya denganku, rasanya tidak ada kaitannya denganmu bukan?". Tubuh Hui Fei Cin gemetar saking marahnya Dia mendengus satu kali.

"Tiong Hui Ciong, kau benar-benar tidak tahu malu!" ejeknya.

Mendengar ucapannya yang begitu menyakitkan, hati Tiong Hui Ciong marah sekali.

"Di dunia ini memang banyak orang yang rupanya jelek tapi tidak tahu dirl Lihat saja apakah dirimu pantas bersanding dengan adik Cun?" katanya dalam hati Bsgitu pikirannyatergeraki tiia langsung mendengus dingin "Hui Fei Cin, kau adalah putri seorang Ciang bunjin dari Wi Yang pai mengapa mulutmu begitu kurang ajar? Kalau bukan karena ayahmu sendiri ada di tempat ini, aku akan mewakilinya memberi pelajaran kepadamu!".

Kata-kata ini sungguh tajam Wi Yang taihiap sampai kehilangan muka mendengar ucapannya "Hui ji, mundur!" bentaknya saking malu.

"Tiong kouwmo, maksud kedatangan kami adalah meminta kau meninggalkan Yok siangkong," tukas Hui hujin.

"Mengapa aku harus meninggalkannya?" tanya Tiong Hui Ciong purapura tidak mengerti. "Karena kau menculiknya dan Kui Hun Ceng kami," sahut Hui hujin.

"Seandainya aku meninggalkannya di slni, kalian juga tidak bisa menyembuhkannya Lebih baik kalian dengar saja nasehatku Minggirlah segera, jangan menghabiskan waktu yang tinggai sedikit!".

Hui hujin terkejut sekali mendengar perkataannya.

"Bukankah kau mengatakan bahwa luka akibat Hue Yan to yang dideritanya telah sembuh? Mengapa dia.." rupanya Hui hujin sangat mengkhawatirkan kondisi calon menantunya.

"Aku tidak banyak waktu untuk menjelaskannya kepada kalian. Racun api dalam tubuhnya memang sudah punah, tetapi jalan darahnya mengalir dan arah yang berlawanan. Keadaannya amat kritis. Aku harus segera membawanya ke Soat san agar kakekku dapat memberikan pertolongan kepadanya," sahut Tiong Hui Ciong.

"Ibu, jangan dengarkan perkataannya. Tidak mungkin dia mengandung niat baik!" teriak Hui Fei Cin.

"Tiong kouwmo meskipun ilmu pengobatan Lao siu belum mahir sekali, tapi setidaknya mengerti juga ilmu meraba urat nadi Seandainya benar racun api dalam tubuh Yok siangkong sudah punah, lukanya sendiri tidak terlalu parah Bolehkah Lao siu meraba sebentar urat nadinya? Apabila benar apa yang Tiong kouwnio katakan. maka kami tidak akan menghalangimu memberikan pertolongan kepadanya!" tukas Gi Hua to.

Dari sepasang mata Tiong Hui Ciong yang indah terpancar hawa pembunuhan yang tebal Dia marah sekali.

"Aku mengatakan bahwa keadaannya sedang kritis Apakah aku akan mendustai kalian'? Kalau kalian masih menghalangi perjalananku dan menunda waktu sehingga jiwa adik Cun tidak tertolong, maka aku akan meminta ganti nyawa seluruh Wi Yang pai kalian. !".

Baru saja ucapannya selesai dan tempat yang tidak jauh berkumandang suara lain yang halus dan nyaring "Ibu, mereka ada di sini!".

Sesosok bayangan merah seperti selembar daun mengiringi suara ucapan melayang turun di depan kereta Bayangan itu adalah sosok tubuh seorang gadis yang mengenakan pakaian berwarna merah Siapa lagi kalau bukan Cu Kiau Kiau?.

Tiong Hui Ciong terkejut sekali Tanpa sadar sepasang alisnya langsung mengerut.

"Barusan terdengar dia memanggil ibu Jangan-jangan Hue leng senbu sudah hadir di sini," gumamnya.

Benar saja, dari jauh terlihat sebuah tandu berwama hitam sedang melesat datang de ngan kecepatan tinggi. Orang yang berlari di depan tandu bukan fain dari pada Cian Poa teng Yu huhoat dan Kong Tong pai Empat orang wanita berusia setengah baya bertindak sebagai pengawal yang melindungi sekeliling tandu Orang-orang yang menggotong tandu terdiri dan delapan lakiiaki berpakaian hijau.

Ternyata memang Hue teng senbu sendiri yang sudah datang di tempat tersebut Wanita itu toh sudah tahu bahwa dia yang menolong Yok Sau Cun dan Kui Hun Ceng. Mengapa dia meminta dia menyerahkan Yok Sau Cun kepadanya? Tangannya segera terutur dan tirai kereta diturunkannya kembali.

Dalam sekejap mata tandu itu sudah sampai di depan kereta Begitu tandu diturunkan, keempat wanita segera memencarkan diri melindungi bagian depan tandu dan menyingkapkan tirainya.

Hue leng senbu mengedarkan pandangannya Dia menatap sekilas ke arah rombongan Hui Kin Siau Mulutnya memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Berita yang Wi Yang pai terima cukup cepat juga," sindirnya.

Hui Kin siau langsung merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura.

"Berita yang diterima pihak Senbu juga tidak kalah cepat," sahutnya dengan bibir tersenyum.

Hue leng senbu mendengus dingin. "Cian huhoat'" panggilnya.

Cian Poa Teng segera maju satu langkah dan membungkukkan tubuhnya. "Hamba di sini''.

"Apakah kereta yang ada di depan ini milik Tiong kouwnio'?" tanyanya. "Betut" sahut Cian Poa Teng.

"Bagus Kau katakan kepada Tiong kouwnio bahwa aku mengundangnya," kata Hue leng sen bu.

"Baik " Cian Poa Teng segera memutar ke depan kereta dan menjura dalam-dalam. "Tiong kouwnio. Senbu mengundangmu ".

'Oh1" Tiong Hui Ciong sengaja berdehem satu kali baru melanjutkan kata-katanya "Yu Kim Piau, bukakan tirai keretai" Dia benarbenar tidak mau kalah pamor dengan Hue leng senbu.

Yu Kim Piau segera mengiakan dan loncat turun dan depan lalu menyingkapkan tirai kereta Tiong Hui Ciong turun dengan gaya lamban Matanya mengerling sekiias ke arah Cian Poa Teng. "Apakah Ciang lao yang mengajak Senbu ke sini?" tanyanya dingin. Cian Poa Teng segera rnengembangkan seulas senyuman.

"Tidak, tidak Maaf Tiong kouwnio, Senbu mengundangmu " sahutnya gugup.

Tiong Hui Ciong berjalan menuju tandu berwarna hitam tersebut dan membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Boanpwe Tiong Hui Cfong dan Soat san menjumpai Sen bu " Dia sengaja menambahkan dua kata Soat san di belakang namanya sendiri.

"Tiong kouwmo tidak perlu banyak peradatan," kata Hue leng senbu dengan nada dingin.

"Senbu mengundang boanpwe ada keperluan apa'?".

"Bocah yang bernama Yok Sau Cun itu, apakah kau yang menculiknya?" tanya Hue leng sen bu ketus.

Tiong Hui Ciong mendongakkan wajahnya.

"Maksud kata-kata Sen bu ini . 'Dia tidak meneruskan kata katanya Padahal dia ingin mengatakan Maksud kata kata Sen bu ini tidak benar sama sekali' Dia tidak meneruskan kata-katanya karena bagaimana pun pihak sana adalah angkatan tua Tentu tidak baik kalau bentrokan langsung di hadapan umum Lagipula Tiong Hui Ciong tidak ingin menambah persoalan yang sudah ada.

Namun Hue leng senbu adalah seorang yang sudah kawakan dalam duma kangouw Biar pun Tiong Hui Ciong tidak meneruskan kata katanya, tetapi dia sudah dapat menduga sendiri Oleh karena itu dia mendengus berat.

"Apakah kata kata Senbu ini tidak benar'?".

"Boanpwe tidak berani menganggap demikian " Sekali lagi Tiong Hui Ciong membungkukkan tubuhnya "Tetapi menurut apa yang boanpwe ketahui, Yok Sau Cun menyambut tiga jurus serangan dari Hue ,leng senbu dan memang dia terluka oleh Hue Yan to yang kau lancarkan Namun pada saat itu juga Senbu sudah mengijinkannya pergi Dia dibawa kembali ke Kui Hun Ceng dalam keadaan terluka parah Gi Hua to dari Wi Yang pai berusaha mengobatinya Tetapi obat Pat pao ci giok tan milik mereka bukan obat yang tepat untuk menyembuhkan luka Yok Sau Cun Karena tidak mendapatkan obat dari Senbu mereka mengambil keputusan untuk mencoba menyembuhkannya dengan tusukan jarum emas Hanya dengan cara ini racun api yang mengendap di dalam tubuhnya dapat dipunahkan Boanpwe tahu pengobatan dengan tusukan jarum emas dapat membuat Yok siaute cacat seumur hidup, maka boanpwe sengaja menolongnya keluar dan Kui Hun ceng Rasanya penstiwa ini tidak ada kaitannya lagi dengan Senbu ".

Wajah Hue leng sen bu langsung berubah mendengar ucapan Tiong Hui Ciong. 'Selama puluhan tahun, aku mempunyai sebuah peraturan Siapa pun yang terkena.

serangan Hue Yang toku, baik mati ataupun hidup, hanya aku sendiri yang boleh mengambil keputusan. Pokoknya orang lain tidak bofeh ada yang ikut campur!" katanya ketus.

Wajah Tiong Hui Ciong juga berubah hebat mendengar ucapannya.

"Lagipula pada saat itu aku hanya merasa kesal atas kesombongannya Cara turun tanganku juga terbatas Tidak bermaksud membunuhnya Malah pada malam han itu juga aku menyuruh Kiau Kiau mengantarkan obat penawar Hue leng tan ke Kui Hun Ceng Bukankah tindakanmu ini agak berlebihan?" Hue leng senbu melanjutkan kata- katanya.

"Pada saat itu mana boanpwe tahu Senbu mempunyai niat demikian Sementara itu secara diamdiam boanpwe sempat mende ngar Gi Hua to mengatakan bahwa hanya dengan jalan tusukan jarum emas baru dapat menyembuhkan adik Cun, maka boan pwe menjadi panik Kebetulan boanpwe membawa sebutir Soat sam wan pemberian kakek yang mana dapat melumpuhkan bekerjanya racun api dalam tubuh sehingga tanpa berpikir panjang lagi, boanpwe langsung menolongnya keluar dan Kui Hun Ceng " sahut Tiong Hui Ciong.

Hue leng senbu mendengus dingin.

"Jadi karena kau anggap Soat som wan buatan kakekmu dapat menyembuhkan luka Yok Sau Cun, lalu kau tidak memandang sebelah mata lagi kepada aku orang tua?".

Hawa amarah dalam dada Tiong Hui Ciong hampir meledak, tetapi dia berusaha menahan sebisa mungkin.

"Boanpwe sudah mengatakan bahwa pada saat itu boanpwe tidak mengetahui maksud hati Senbu Lagipula hati boanpwe sedang panik memikirkan bagaimana caranya menolong ".

"Panik memikirkan dia'?" Sinar mata Hue leng sen bu bertambah tajam "Apa hubung anmu dengan bocah she Yok itu?".

Mendapat pertanyaan seperti itu, selembar wajah Tiong Hui Ciong menjadi merah padam Di depan umum dia ditanyakan mengenai hubungannya dengan Yok Sau Cun, tentu sa|a Tiong Hui Ciong merasa malu se kali Di samping itu dia merasa mendongkol juga.

"Kaiau aku tidak mengatakannya terus terang Bagi orang orang KongTong pai dan Wi Yang pai tentu akan menduga bahwa aku menutupi sesuatu yang rnemalukan," pikirnya dalam hati.

Dia berusaha menenangkan perasaan hatinya yang berkecamuk.

"Yok Sau Cun dan boanpwe telah mengangkat saudara. Mana rnungkin boanpwe melihat adlk angkat sendiri terluka parah dan tidak memberikan pertolongan? Kebetulan boanpwe membawa Soat som wan yang dapat menyembuhkan lukanya Apakah boanpwe akan membiarkannya saja dia terluka separah itu?".

Hui Fei Cin yang berdiri di ke|auhan dan Cu Kiau Kiau yang berdiri di samping Hue leng senbu mendengar bahwa Tiong Hui Ciong telah mengangkat saudara dengan Yok Sau Cun Tanpa sadar keduanya tertawa dingin.

"Mengapa aku tidak pernah tahu kalau kau sudah mengangkat saudara dengan Yok Sau Cun?" tanya Hue leng sen bu.

"Ini merupakan urusan pribadi boanpwe Tidak ada alasan untuk memberitahukan kepada Sen bu," sahut Tiong Hui Ciang ketus.

Sekali lagi Hue leng senbu mendengus marah.

"Tiong kouwnio, tentunya kau masih mengingat apa pesan kakekmu ketika k'alian tiga bersaudara turun gunung?".