Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 24

 
Jilid 24

Yang terakhir merupakan sepasang laki-laki dan perempuan yang masih muda. Usia yang laki-laki kurang lebih dua puiuh tahun. Wajahnya tampan dan penampilannya gagah. Dia mengenakan pakaian berwarna biru langit. Sepasang alisnya yang berbentuk go|ok membuat dirinya tampak lebih perkasa.

Sedangkan yang perempuan mungkin barusia sedikit di atas dua puluh tahun. Dia mengenakan pakaian berwarna kuning gading. Wajahnya sangat cantik dan gayanya anggun. Sayangnya mimik wajah iiu terlalu dingin sehingga membuat takut laki-laki yang ingin memandangnya lebih lama.

Mereka adalahTiongHui Ciong, Yok Sau Cun, Hu loanio beserta keempat pelayan Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soatyang melakukan perjaianan menuju ke Soat san. Mereka melangkah masuk ke kedai arak Mata Hu toanio mengeriing sekilas kepada tosu tua dan kedelapan anak buahnya.

Tetapi, kehadiran Yok Sau Cun dan rombongannya ternyata tidak menarik perhatian kesembilan tosu lersebut Mereka bahkan tidak mendongakkan kepalanya sekalipun. Hu toanio sudah lama berkecimpung di dunia kangouw. Keiopak matanya sudah pasti lebih lebar dari pada yang lain Diam-diam hatinya menjadi curiga.

"Keadaan sembilan tosu mi lidak seperti biasanya. Jangan-jangan kedatangan mereka di tempat ini memang sengaja untuk mencari gara-gara dengan kami," katanya dalam hati.

Sebagai seorang yang sudah banyak makan asam garam, sedikit saja melihat lingkah laku yang kurang wajar, dia langsung dapat merasakan sesuatu yang kurang beres.

Umpamanya rombongan mereka yang terdiri dari sekian banyak orang. Mereka tiba- tiba berhenti di depan kedai arak dengan kereta kuda, seharusnya ada satah satu atau dua dari tosu tersebut yang meiink sediklt atau mendongakkan kepalanya, Apabila dan tosu yang berjumlah sembilan orang itu tidak ada satu pun yang mengerling sekilas atau pun dipengaruhi rasa ingin tahu, berarti mereka sudah mengetahui bahwa tempat tersebut akan kedatangan rombongan mereka.

Perbuatan mereka yang mendongakkan kepaia pun tidak, seperti tidak ada ke|adian apaapa, bukankah berarti mereka memang sengaja melakukannya'? Diamdiam Hu toanio mendengus dingin.

"Benar-benar ingin mencari perkara dengan kami, memangnya mata kalian sudah buta?" maki Hu toanio dalam hatinya.

Pemilik kedai arak itu merupakan sepasang suami istn yang sudah lanjut usia.

Lao pocu sedang mengipas tungku api. Si kakek tua yang melihat kedatangan beberapa orang tamu segera keluar menyambul Wajahnya yang sudah keriput langsung mengembangkan seulas senyuman.

"Kongcu, siocia, silahkan duduk. Entah apa yang ingin dipesan oleh kalian?".

Yok Sau Cun, Tion'g Hui Ciong serta Hu toanio duduk di meja yang satunya. Sedangkan keempat gadis peiayan Tiong kouwnio duduk di meja sebelahnya lagi.

"Toiong Lao cang sediakan duiu beberapa cawan teh. Hidangan apa yang dijual di sini, harap sediakan saja kata Yok Sau Cun.

Kakek tua itu segera mengiakan Dia menuangkan secawan teh untuk masing-masing tamunya. Kemudian dia bertanya dengan bibir tersenyum 'Apakah kongcu ingin memesan arak?".

"Kami semua lidak minum arak. Tapi tolong kau bawakan satu botol untuk kusit kami di sana," sahut Yok Sau Cun sambil menunjuk ke arah Yu Knn Piau.

"Kalau begitu, Siau lojt sediakan semacam sayuran dan buatkan kalian masing- masing satu mangkok bakmi, bagaimana?" Tanya orang tua itu.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. "Baiklah.".

Tidak lama kemudian, orang tua itu kembali lagi dengan dua pinng berisi sayuran dan satu botol arak. Yu Kim Piau menambatkan tali kendal! kuda pada sebatang pohon. Dia meminta orang tua tadi inenyediakan semangkok kedelai dan rumput segar. Seteiah memberi makan kedua ekor kudanya, dia mencuci muka di sumur yang tedetak di samping kedai baru melangkah ke dalam.

Yok Sau Cun menggapaikan tangannya.

"Yu heng, silahkan duduk di sini. Makanan sudah kami pesankan untukmu," katanya. "Terima kasih, Yok Siangkong," sahut Yu Kim Piau.

Dia langsung duduk di kursi kosong yang ada di samping Hu toanio dan berbisik kepadanya: "Hu Toanio, tampaknya kesembtlan tosu ini memang menunggu kehadiran kita di sini.".

Yu Kim Piau juga sudah lama berkecimpung di dunia kangouw. Sekali lihat saja, dia Juga langsung curiga. Hu toanio mengeluarkan suara seruan 'ohi' yang lirih.

"Rasanya mereka orang-orang dari Bu Liang kiam pai.". Hu toanio mendengus dingin.

"Memangnya kenapa kalau memang benar orang-orang dan Bu Liang kiam pai?". "Bu Liang sou hudl'. Tiba-tiba tosu tua yang duduk sendirian mengeluarkan suara seruan Wajahnya menatap ke atas langit 'Bu Uangkiam pai jarang datang ke daerah Tionggoan. Dengan tokoh Bulim yang ada di Tionggoan, tidak pernah terjadi perselisihan apaapa. Kalau mendengar nada ucapan U sicu tadi, tampaknya sangat tidak puas terhadap Bu Liangkiam pai kami!".

Hu toanio sedang meneguk teh dan cawannya. Mendengar kata-kata tosu tua itu, tanpa sadar dia mendehem satu kali.

"Memangnya kedatangan kalian tosutosu ini bukan untuk mencan garagara dengan kami?".

"Siancai! Siancail Kedatangan kami di tempat mi memang sedang menunggu seorang sicu, tetapi tidak ada hubungannya dengan Li sicu ini'.

Hu toanio agak terpana mendengar keterangannya. "Entah siapa yang sedang kalian tunggu itu?".

"Pinto sedang menunggu seorang sicu yang bermarga Yok!". "She Yok?" Diamdiam Hu toanio tertawa dingin dalam hatinya.

"Kalian masih tidak mengaku bahwa kedatangan kalian memang sengaja mencari garagara dengan kami?" katanya daiam hati.

"Pasti sicu she Yok yang totiang katakan itu mempunyai nama bukan?" tanyanya kembali.

"Sicu itu she Yok, namanya Sau Cun!".

Yok Sau Cun merasa heran Dia tidak merasa kenal dengan tosutosu itu Mengapa mereka datang mencarinya? Meskipun hatinya merasa aneh. tetapi dia berdiri juga. Sepasang kepalan tangannya langsung dirangkapkan serta menJura dalam-dalam.

"Cayhe adalah Yok Sau Cun Tosu sekalian menunggu cayhe di tempat iru entah ada keperluan apa?" tanyanya sopan.

Tosu tua yang mendengar bahwa pemuda yang ada di hadapannya itu adalah Yok Sau Cun, langsung berdiri dari tempat duduknya.

Dia memperhatikan anak muda itu dari atas kepaia sampai ke ujung kaki.

"Siancai! Siancai! Rupanya sicu ini adalah Yok Sau Cun. Hitunghitung perjalahan kami ini tidak sia-sial".

Yok Sau Cun juga memperhatikan tosu tua itu sekilas. "Entah siapa gelar tosu ini?". Tosu tua itu membungkukkan tubuhnya sedikit. "Pinto bergelar Hong Lam San ".

Mendengar tosu tua itu menyebutkan namanya, tanpa terasa sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung terjungkit ke atas Setahunya. Hong Lam San adalah Ciang bunjing dan Bu Liang kiam pei Menurut kabar, llmu silatnya sangat tinggi Sebagai seorang Ciang bunjin dan sebuah partaiyang terkemuka, dia juga berminat besar terhadap ilmutlmu dari Tionggoan. Kali ini, dengan membawa delapan mundnya dia duduk di tempat ini menunggu, apakah dia pernah berbentrokan dengan adik Cun nya? Hati Tiong Hui Ciong menjadi waswas Dia langsung ikut berdiri.

"Bagaimana Lao totiang dapat mengetahui bahwa kami akan melewati jalanan ini sehingga sudah mendahului di depan dan menunggu kami di sini? Tentunya ada seseorang yang memberitahukan kepadaLaototiang, bukan? Dapatkah Lao totiang memberitahukan kepada kami siapa orangnya?".

Hong Lam San tarsenyum simpul.

"Pinto mencari Yok sicu innaukan satu dua haci saja. Tadi malam kebatulan Pinto bertemu dengan seorang teman lama Dia memberitahukan kepada pinto bahwa siang ini Yok sicu pasti akan lewat di tempat mi, dan meminta menunggu saja Ternyata pinto berhasil bertemu dengan Yok sicu di sini," sahutnya.

Mendengar kata-katanya, dia sama sekali tidak ingin memberitahukan siapa orang yang memberi kabar kepadanya.

"Kalau ditilik dari ucapan totiang tadi, tampaknya rombongan totiang mencan cayhe sudah agak lama Entah ada urusan apa yang demikian penting? Dapatkah totiang mengatakannya agar cayhe menjadi Jelas?".

Hong Lam San menatap Yok Sau Cun sekilas.

"Pinto dengar, senjata yang digunakan Yok sicu adaiah sebatang pedang lemas. Entah benar atau tidak kabar yang pinto dengar itu?".

Yok Sau Cun tidak merasa perlu menutupi hal tni, Dia langsung menganggukkan kepatanya.

"Memang benar!".

Sinar mata Hong Lam San berkelebat tajam. "Bolehkah pinto pinjam lihat sebentar?".

"Kalau totiang memang berminat, silahkan saja." Dia mengulurkan tangannya dan mengeluarkan gulungan pedang lemasnya dan menyodorkannya ke hadapan Hong Lam San. Tosu tua itu segera menerima dan memperhatikannya sesaat Tampak perubahan pada waJahnya Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Yok Sau Cun.

"Entah dan mana Yok sicu mendapatkan pedang ini?".

"Apa maksud totiang sendiri menanyakan asal usul pedang Cayhe ini'?" tanya Yok Sau Cun kembali.

Hong Lam San tidak menyahut Jempol tangannya perlahanlahan menekan di bagian UJung. Terdengar suara.

"Cring.". Pedang itu pun langsung terjulur keluar menjadi panjang. Tampak segulung cahaya dingin memijar darj pedang pusaka tersebut! Tetapi melihat ujung pedang tersebut yang sudah berkurang, kurang lebih tiga cun, wajah tosu itu langsung berubah hebat.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara tawa yang memilukan. Sepasang matanya bersinar tajam. Dia mendelik lebarlebar kepada Yok Sau Cun.

"Yok sicu harus mengatakan siapa teman yang menghadiahkan pedang ini kepadamu!" kata tosu itu dengan suara berat.

Saat ini pengalaman Yok Sau Cun sudah mulai banyak walaupun dia belum begitu lama berkecimpung di dunia kangouw. Melihat tampang Hong Lam San, dalam hatinya langsung timbul kecurigaan.

'Begitu melihat pedang lemas pemberian Lan moay, mimik waJahnya seperti murka dan sedih. Janganjangan pedang lemas ini ada kaitannya dengan Bu Liangkiam pai mereka, tetapi, bagaimana aku boleh mengatakan kalau pedang ini adalah pemberian Lan moay?' katanya dalam hati.

Di luar dia tetap tersenyum simpul.

"Totiang belum menjelaskan kepada cayhe apa sebabnya totiang menanyakan dari mana cayhe mendapatkan pedang ini?".

"Apa sebabnya?" Suara tawanya semakin berat. "Sebab pinto sedang mencari seseorang!".

Pada dasarnya Yok Sau Cun memang seorang pemuda yang cerdas. Mendengar tosu itu mengatakan bahwa tu]uannya menginjak daerah Tionggoan edalah untuk mencan dirinya Setelah bertemu dia ingin melihat pedang lemas yang selalu digunakan sebagaj senjata sejak dia berhecimpung di dunia kangouw. Sekarang setelah melihat pedang tersebut, dia menanyakan siapa yang menghadiahkannya. Kemudian dia juga mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencari seseorang. Apabila semua cerita ini dirangkaikan, maka sudah dapat dipastikan bahwa orang yang dicannya adalah pemilik pedang ini. Pikirannya langsung tergerak, dia segera mengajukan pertanyaan....

"Apakah orang yang totiang can itu pemilik pedang ini?". Hong Lam San melirik sekilas Dia menganggukkan kepalanya.

"Tidak salah Orang yang hendak pinto can adalah suheng pinto sendiri, Ca Nam Kiau. Orang-orang menjulukinya Nam Fang Kiau Cu.".

Seumur hidup Yok Sau Cun belum pernah mendengar nama Ca Nam Kiau maupun Nam Fang Kiau Cu.

"Dapatkah Yok sicu mengatakannya sekarang?" tanya Hong Lam San kembali. "Apa yang harus cayhe katakan?".

"Pinto lihat Yok Sicu berwajah terang, pasti berasal dari perguruan besar Harap Yok sicu mengatakan dengan terus terang, siapa yang menghadiahkan pedang ini kepadamu?".

"Tadi cayhe sudah mengatakan bahwa pedang ini merupakan pemberian dari seorang sahabat," sahut Yok Sau Cun.

"Tapi Yok sicu tidak menyebutkan nama orang yang menghadiahkannyai" Hbng Lam San tidak memberi kesempatan kepada Yok Sau Cun untuk menyahut. "Mungkin Yok sicu belum tahu Pedang lemas ini merupakan padang pusaka Bu Liangkiam pai kami Bahannya terbuat dan campuran besi dengan emas murni. Bukan saja dapat memotong besi bagai tanah, tetapi juga lentur sekali sehingga tidak mudah patah Oieh karena itu, dalam partai kami ada sebuah peraturan yang tidak tertulis Pedang ada, orangnya pun ada. Pedang hilang, orangnya mati. ".

Semua orang hanya mendengarkan kata-katanya, tidak ada satu pun yang bersuara. Hong Lam San melanjutkan ucapannya ..

"Partai kami masih mempunyai sebuah peraturan yang lain Para murid yang mengalami kekalahan tidak boleh menenma hinaan. Seandamya dikalahkan oleh seseorang, maka dia harus mematahkan pedangnya sendiri lalu membunuh diri dengan memotong urat nadinya " Hong Lam San berhenti seJenak "Kekalahan murid partai kami ibarat kekalahan diri pinto sendiri, juga para murid lamnya. Oleh karena itu, segenap murid yang memiliki ilmu cukup tinggi langsung dikerahkan. Meskipun sampai ke Ujung langit, kami harus menemukan orang yang mengalahkan murid partai kami itu dan menjbalaskan dendamnya!".

Tiba-tiba Yok Sau Cun tenngat bahwa Song loya cu pernah menasehati agar dia iangan terlalu senng menggunakan pedang lemas tersebut. Orang tua itu memang tidak mengutarakan maksudnya. Ternyata di batik pedang ini terdapat cerita yang sedemikian rupa rumitnya.

Berkata sampai di situ, mimik wajah Hong Lam San berubah meniadi serius. "Tentunya Yok sicu sudah mengerti sekarang. Pedang yang kau gunakan ini adalah milik suheng pinto. Apalagi pedang ini sudah terkutung kurang lebih tiga cun, hat ini membuktikan bahwa telah terjadi sesuatu pada diri suheng pinto itu dan sebelumnya dia pasti mengutungkan pedangnya sendiri ".

'Celaka!' Mengapa di dunia ini ada keJadian yang begini kebetulan?' seru Yok Sau Cun daiam hati.

Pedang lemas milik Yok Sau Cun tetah dikutungkanoleh Song loya cu sebanyak tiga kali. Dan setiap kalinya pasti terkutung kurang lebih satu cun. Hal ini kebetulan sama dengan peraturan dalam partai Bu Liangkiam pai, yang rpana setiap murid yang mengalami kekalahan harus mengutungkan pedangnya sendiri kurang lebih tiga cun sebefum membunuh dirinya sendiri.

"Orangnya mati mayatnya tentu ada. Pedang ini berada di tangan Yok sicu, biar bagaimana Yok sicu harus membenkan sebuah tanggung jawab kepada partai pinto dengan mengatakan siapa yang menghadiahkan padang ini Dan petunjuk yang dibenkan oleh Yok sicu nanti, kami dapat menelusun lebih jauh siapa sebenarnya orang yang menjadi musuh partai Bu liangkiam kami Dalam masalah ini kami harap Yok sicu bersedia mengulurkan tangan untuk bekerja sama." Selesai berkata, dia merangkapkan sepasang telapak tangannya di depan dada dan membungkuk penuh hormat.

Yok Sau Cun segera membalas penghormatan tersebut dengan menJura dalam- dalam.

"Totiang ternyata salah paham. Pedang ini bukan dikutungkan oleh suheng totiang sendiri.".

"Lalu siapa yang mengutungkannya?" tanya Hong Lam San kurang percaya.

"Cerita ini cukup panjang,"Yok Sau Cun terpaksa mengisahkan tentang permintaan suhunya yang mana harus dengan persetujuan Song loya cu, baru dapat dikabulkan. Sedangkan orang tua itu sudah menentukan sebuah peraturan. yakni permintaannya akan dikabulkan apabila Yok Sau Cun sanggup menerima satu jurus saja serangan ilmu pedangnya. Ternyata tiga kali dia mencoba tetap saja tidak berhasil.

Mendengarkan cerita Yok Sau Cun, bibir Hong Lam San langsung tersenyum.

"Pedang lemas Bu Liang kiam pai kami terbuat dari campuran besi dan emas. Meskipun pedang pusaka yang sudah terkenal, tetap tidak mudah mengutungkannya. llmu pedang Song loya cu memang tersohor di dunia Bulim Pinto sendiri sudah mengetahuinya. Tetapi dengan sebatang sumpit, dia berhasil mengutungkan pedang lemas partai kami, rasanya pinto masih belum bisa percaya sepanuhnya," sahut tosu itu.

Wajah Yok Sau Cun serius sekali.

"Apa yang cayhe beberkan tadi semuanya adalah kenyataan. Untuk apa cayhe harus berdusta kepada totiang?". "Baiklah. Andaikata apa yang Yok sicu katakan memang benar Tentunya ketika sahabat Yok sicu memberikan pedang jtu kepadamu, keadaannya masih utuh. Apakah itu berarti suheng pinto masih hidup? Kalau suheng pinto itu tidak mengutungkan pedangnya sendiri dan orangnya masih hidup sekaljpun, pedang ini pasti tidak akan berpisah dengan dirinya Tetapi sekarang pedang ini justru ada pada diri Yok sicu.

Bagaimana penjelasan yang sebenarnya?".

"Masalah ini cayhe sendiri kurang mengerti," sahut Yok Sau Cun.

"Oleh karena itu. pinto masih mengulangi pertanyaan yang sama Harap Yok sicu bersedia mengatakan siapa sahabet yang menghadiahkan pedang ini kepadamu?".

Untuk sesaat Yok Sau Cun jadi serba Salah.

"Cayhe benar-benar mempunyai kesulitan sendiri untuk mengatakannya. Terus terang saja, sahabat yang menghadiahkan pedang jni tiba-tiba menghilang beberapa hari yang lalu. Cayhe sendiri sedang mencari jejaknya. Seandainya totiang dapat mempercayai cayhe, tunggu sampai cayhe menemukan sahabat cayhe itu dan menanyakan kepadanya sampai Jelas. Kalau sudah mendapat penjeiasan, meskipun jarak yang harus ditempuh sejauh ribuan li, Cayhe tetap akan mengunjungi partai totiang dan mengabarkannya Entah bagaimana pendapat totiang?".

Hong Lam San tersenyum simpul.

"Yok sicu bukan saja tidak bersedia mengatakan siapa nama sahabat itu bahkan sekarang tiba-tiba mengatakan bahwa orang tersebut telah menghilang sejak beberapa hari yang lalu Apakah Yok sicu mengira pinto sebagai anak yang baru berusia tiga tahun sehingga dapat dikelabui begitu saja?".

"Apa yang Cayhe katakan semuanya merupakan kenyataan Bukan sekedar mengada- ada saja ".

"Kalau Yok sicu berani mengutarakannya, tentu saia semuanya benar," sindir Hong Lam San sambil mendengus dingin. Mimik wajahnya berubah menjadi datar dan kaku. "Satu hal yang harus diketahui oteh sicu, tUjuan kami adalah mencari pedang berikut dengan orangnya Apabila belum mendapat keterangan yang jelas, kami tidak akan melepaskannya begitu saja.".

"Hal ini tentu saja cayhe tahu, tetapi.. .".

Hong Lam San tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berkata lebih lanjut.

"Bagus sekati kalau Yok sicu tahu Kecuali Yok sicu bersedia mengatakan siapa nama sahabatmu itu, dan apabila orangnya benar ada serta pernah menghadiahkan pedang tersebut kepadamu, meskipun dia menghilang ke UJung dunia pinto pasti akan berhasil menemukannya Tetapi kalau Yok sicu tidak bersedia mengatakannya, maka terpakaa pinto mendesak Yok sicu sendiri untuk membenkan ]awaban atas pertanyaanpertanyaan pinto tadi". "Kalau ditilik dan nada bicara totiang, sepertinya totiang kurang percaya dengan keterangan yang cayhe benkan tadi?".

"Pedang suheng pinto ada di tangan Yok Sicu, seharusnya Sicu dapat memberikan pen]elasan Pecmmtaan pinto barusan tidak dapat dikatakan keterlaluan bukan?".

"Kalau menurut pendapat totiang, bagaimana cara kita menyelesaikan parsoalan ini?" tanya Yok Sau Cun.

"Pinto tidak perlu mengelabui Yok sicu. Kalau menurut peraturan partai Bu Liangkiarn kami, kenyataannya pedartg ini berada di tangan Yok Slcu, Kalau pedang ini belum putus, maka Yok Sicu seharusnya dapat mengatakan di mana Jejak suheng kami sekarang. Karena pedangnya sudah kuiung, maka Yok Sicu harus dapat memperlihatkan mayatnya. Dan Yok Sicu harus mempersembahkan pedang ini di hadapan Jasad suheng kami itu dan menyatakan permohonan maaf!".

"Minta maaf kepada orang yang sudah mati? Omongan apa itu?" bentak Hu toanio yang tidak dapat menahan kekesalan hatinya.

Hong Lam San meng ling ke arahnya sekilas.

'Harap U sicu maafkan. Tetapi ini sudah mecupakan peraturan partai Bu Uangkiam kami," sahutnya tenang.

"Apakah totiang tidak merasa bahwa kejadian hari ini merupakan adu domba yang memang sudah direncanakan oleh seseorang?" tanya Tlong Hui Ciong.

"Siancai! Siancai!" Hong lam san merangkapkan sepasang telapak tangannya memuji. "Dua patah kata 'adu domba' yang Li sicu katakan ini rasanya tidak tapat sama sekali. Pada diri Yok sicu memang ada pedang lemas mitik partai kami, hal ini bukan palsu adanya dan merupakan kenyataan yang dapet disaksikan oleh kita semua!".

"Kalau begitu, totiang bersedia menyudahi masalah ini?' tanya Tiong Hui Ciong kembali.

"Tidak salah! Pinto sudah berhasil menemukan Yok sicu dan sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa pedang lemas ini memang ada padanya Sedangkan pedang ini sudah pinto penksa dengan teliti dan memang benar kepunyaan suheng pinto.

Bagaimana mungkin pinto harus menyudahinya begitu saja?" sahut Hong Lam San. "Lalu, bagaimana cara totiang menyelesaikannya?".

"Pinto sudah mengatakan, pedang ada orangnya pun ada Kenyataan pedang ini ada pada diri Yok sicu Bagamnana pun Yok sicu harus mempertanggungjawabkan masalah Jni. Seandainya Yok sicu tidak dapat memberikan keterangan apaapa, terpaksa kami menyelesaikannyadengan ilmu silat. Apabila dia bisa memecahkan barisan peAang Bu Ljangkiam pai kami atau memenangkan pertarungan dengan pinto sendiri, dalam waktu tiga tahun. partai kami tidak akan menanyakan soal pedang ini..." sahut Hong Lam San. "Tiga tahun kemudian?" tanya Tiong Hui Ciong.

"Tigatahun kemudian pasti ada orang dari pihak partai kami yang meminta pelajaran kembali!".

"Baik Tiga tahun kemudian, kemungkinan adik Cun sudah dapat membenkan penjelasan kepada partai kalian!" Tiong Hui Ciong melirik Hong Lam San sekilas "Sekarang juga Siau li bersedia menerima petunjuk dan totiang!".

"Cringl' Dan selipan ikat pinggangnya Tiong Hui Ciong mencabut sebilah pedang pendek yang langsung nnemancarkan serangkum hawa dingin dan cahayanya putih berkilauan seperti bongkah batu es. Dia melintangkannya di depan dada dengan gaya yang anggun.

Mata Hong Lam San memperhatikan sejenak. Mimik wajahnya menampilkan kesan tarperanjat.

"Han Eng kiam dari Soat san. Rupanya kouwnio merupakan salah satu dari Soat san sam eng!".

Tiong Hui Ciong tertawa dingin. "Bagus kalau kau tahu'".

Sementara itu, Yok Sau Cun cepatcepat maju ke depan satu langkah.

"Ciong cici, urusan ini tfdak ada hubungannya dengannw Kalau Lao totiang Jni tidak bersedia menyudahi masalah ini, biar siaute sendiri yang menyelesaikannyal' Yok Sau Cun mengalthkan pendangannya kepada Hong Lam San. 'Botehkeh totiang mengembalikan pedang lemas itu kepada cayhe?".

Hong Lam San memandangnya dengan curiga.

"Harap Yok sicu maafkan. Pedang ini asalnya memang milik partai kami, sudah seharusnya kembali ke tangan pemiliknya yang sah Mudahmudahan Yok sicu dapat mengerti".

Yok Sau Cun mulai marah mendengar ucapannya itu.

"Ucapan totiang ini tidak benar sama sekali. Tadi totiang hanya pinjam lihat sebentar. Yang dinamakan pinjatyi lihat, setelah melihat otomatis harus dikembalikan.

Kenyataan ini tidak dapat dipungkin lagi. Mana boleh totiang mengucapkan kata-kata seperti tadi?".

Hong Lam San tersenyum mengejek.

"Awalnya memang pinjam lihat. Karena pada waktu itu, pinto belum berani memastikan bahwa pedang lemas yang Yok sicu bawa itu adalah barang milik partai kami. Sekarang pinto sudah yakin bahwa pedang itu memang senjata yang biasa digunakan oleh suheng pinto Sebagai Ciang bunjin dan Bu Liangkiam pai yang menjadi pemilik pedang ini, sudah tentu pinto berhak menyimpannya.".

Hati Yok Sau Cun semakin gusar mendengar kata-katanya.

"Pedang itu adalah pembenan seorang sahabat Cayhe sama sekali tidak tahu kalau pedang itu merupakan milik partai kalian!".

Sikap Hong Lam San semakin dingin. "Bukankah Yok sicu sekarang sudah tahu?".

Yok Sau Cun merasakan bahwa pihak lawan seperti sengaja mendesak dirinya. Kata- kata Hong Lam San membuat kesabarannya habis. Wajahnya yang tampan berubah merah padam.

"Meskipun cayhe sudah tahu bahwa pedang itu merupakan milik partai kalian. Tetapl sebelumnya totiang hanya pinjam lihat saja. Mana boleh tidak mengembalikannya kepada cayhe? Bukankah totiang sendiri sudah mengatakan syaratnya? Cayhe bersedia mengikuti apa pun kemginan Totiang Mengenai pedang lemas itu, mau tidak mau totiang harus mengembalikannya Cepat bawa kemari!" Karena hatinya dipenuhi hawa amarah, sembari bicara, tangannya langsung meluncur ke depan.

Tangan Hong Lam San memang sedang menggenggam pedang lemas itu Tapi karena tidak bersiapsiap, dia tidak menggenggamnya dengan erat Baru saja dia melihat tubuh Yok Sau Cun bergerak, tahutahu pergelangan tangannya sudah tergetar dan pedang lemas itu pun terpental di udara. Dengan kecepatan kilat, Yok Sau Cun segera meraihnya.

Padahal Yok Sau Cun tidak sengaja melakukan serangannya. Karena perasaannya yang terlalu marah. maka dia bergerak secara refleks. Baru ketika pedang sudah tarlepas dan tangan Hong Lam San dan terpental di udara, dia tarperanjat. Untung saja dengan segera kesadarannya pulih kembali. Cepatcepet dia mencelat ke atas dan menyambut jatuhnya pedang tersebut.

Sepasang mata Hong Lam San menyorotkan sinar yang tajam. Mioipi pun dia tidak menyangka kalau Yok Sau Cun yang usianya masih demikian muda dapat memiliki tanaga dalam yang begjtu hebat. Bahkan dia sudah berhasil mencapai taraf merebut benda dari jarak jauh. Hatinya terkejut sekali Namun mulutnya mengeluarkan suara tawa yang mengandung kegusaran.

"Rupanya Yok sicu sudah berhasil mempelajari Ciap hun sinkang dari aliran Buddha. Pinto kagum sekali. Anggap saja pinto tidak mengukur kepandaian sendiri dan sekarang ingin meminta pelajaran barang beberapa jurus dari Yok sicu " Setesai berkata, dia segera keluar dan kedai tersebut dan menuju ke tanah kosong yang ada di depan halaman.

Tiong Hui Ciong sendiri sampai tarpana melihat gerakan yang dilakukan oleh Yok Sau Cun Mendengar Hong Lam San menyebut Ciap hun sinkang dan aliran Buddha, hatinya langsung tercekat Pikirannya bergerak dengan cepet. "Adik Cun mendapat penyaluran tenaga dalam dari Jitkong dan Patkong ketika berusaha mengobatinya. Namun pada saat itu juga kedua cianpwe itu dibokong orang sehingga menemui ajal Otomatis kedua gulungan tenaga dalam yang sudah tersalur ke dalam tubuh adik Cun tidak dapat ditarik kembali. Itulah sebabnya dia Jatuh pingsan karena tidak tahan terhadap gejolak dua arus tenaga yang saling bertentangan Kemudian oleh Lao Fang ciong dan Cap ji libio, Yok Sau Cun kembali dibantu dengan ilmu Ciap hun sinkang dan aliran Budha untuk menyatukan tanaga dalam yang bersimpang siur tersebut. Mungkinkah ketika selesai menyalurkan hawa murni dengan ilmu Ciap hun sinkang dari aliran Buddha, Lao langciong tidak sempat menarik kembali ilmu itu secara keseluruhan sehingga masih ada sedikit yang tertinggal di dalam tubuh adik Cun? Pasti demikian. Buktinya tadi dia tidak sengaja melancarkan sebuah serangart, tahutahu tanaga Ciap hun sinkang ikut terpancar ketuar," pikir Tiong Hui Ciong dalam hatinya. Diamdiam dia ikut gembira atas penemuan Yok Sau Cun yang tidak terduga-duga ini.

Tadinya Tiong Hui Ciong masih khawatir Yok Sau Cun tidak akan sanggup menandingi tosu tua dari Bu Liongkiam pai ini Sekarang perasaannya menjadi lega.

"Cayhe tidak mengerti Ciap hun Sinkang sama sekali. Kalau totiang berkeras ingin bergebrak, orang she Yok ini pasti tidak keberatan menemani!" Terdengar teriakan Yok Sau Cun yang mengandung kemarahan.

Tanpa menunggu sahutan dari Hong Lam San, dia langsung melangkah keluar dari kedai arak tersebut. Delapan orang tosu yang mengiringi Hong Lam San, demi melihat Ciang bunjinnya segera akan bertarung melawan anak muda itu. segera berdiri serentak dan ikut berjalan keluar.

Salah satu dari delapan orang tosu itu segera menghampiri Hong Lam San Dia membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Harap Ciang bunjin ijinkan teecu membentuk barisan pedang. Kalau Yok sicu berhasil menembusnya, masih belum terlambat untuk bergebrak dengan Ciang bunjin," katanya.

Hong Lam san mengelus-elus jenggotnya yang panjang Wajahnya menampilkan kebimbangan hatinya. Dia tidak menyahut sepatah kata pun. Tosu tadi kembali membungkukkan tubuhnya sedikit dan melanjutkan kata-katanya.

"Ini juga merupakan peraturan partai kita. Sebelum Yok sicu melewati barisan pedang, dia tidak boleh bergebrak dengan Ciang bunjin. Harap Ciang bunjin segera turunkan perintah'.".

"Meskipun usia Yok sicu itu masih muda, tetapi dia sudah berhasil menguasai Ciap hun sinkang dari aliran Budha. Tenaga dalamnya sama sekali tidak dapat dipandang ringan. Rasanya barisan pedang kita tidak sanggup menyulitkan dirinya," sahut Hong Lam San.

Tosu tadi menghormat dulu sebelum berkata: "Tecu akan berusaha sekuat tenaga!". Hong Lani San terpaksa menganggukkan kepalanya. "Baiklah... tetapi kalian harus berhati-hati!.

"Tecu menerima perintahl" sahut tosu itu.

Kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadap Yok Sau Cun.

"Yok sicu tentu sudah mendengar ucapan Ciang bunjin tadi. YoK Sicu harus meiewati rintangan barisan pedang' kami dulu baru boleh bergebrak meiawan Ciang bunjin sendiri.".

"Cayhe tadi juga sudah mengatakan akan mengikuti apa saja keingjnan kalian Toheng ini. ".

Tosu itu segera membungkukkan tubuhnya sedikit,. "Pinto Li Yuan Kok, pimpinan barisan pedang ini".

"Kalau begitu, silahkan toheng mempersiapkan barisan pedangnya!".

Li Yuan Kok membalikkan tubuhnya. Tangan kirinya diangkat ke alas memberi abaaba. Tujuh orang lainnya segera memencarkan diri dan membentuk kelompok yang masing-masing terdiri dari dua orang. Jarak antara setiap kelompok kurang lebih tiga cun.

Kelompok yang paling depan dipimpin oleh Ll Yuan Kok dan seorang tosu lainnya. Pada saat itu, Li Yuan Kok sedang berbicara dengan Yok Sau Cun. Dleh karena itu, di sana hanya berdiri seorang tosu saja.

Yok Sau Cun pernah mendengar bahwa di Siau Ilm pai ada barisan yang bernama Lo Han tin, di Bu Tong pai ada barisan Tai kitcian. Konon barisan ini sangat terkenal dan mempunyai kekuatan yang dahsyat. Dan selama ratusan tahun ini, orang yang dapat menerobos barisan Lo Hantin dari Siau lim maupun Tai Kitcian dari Bu Tong pai dapat dihitung dengan jari.

Barisan pedang sesuai dengan namanya, hierupakan bentukan kelompok beberapa orang yang akan melawan musuh dengan cara bergabung. Sekarang Bu Liangkiam pai juga mempunyai barisan pedang. Tetapi cara mereka berkelompok malah seperti orang yang sedang berbaris menanti jatah beras. Tidak tampak sedikit pun kewibawaannya.

Li Yuan Kok sudah memberi isyarat kepada rekanrekannya untuk membentuk barisan pedang seinentara Yok Sau Cun memperhatikan dengan tenang.

"Barisan pedang partai kami sudah terbentuk. Semuanya dibagi dalam kelompok yang terdiri dari dua orang. Asal Yok sicu dapat menerobos keluar dari bansan pedang kami ini dalam waktu sepembakaran hio, maka berarti kau sudah mencapai kemenangan," keta Li Yuan Kok. Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Baik. Cayhe bersedia menerima syaratnya!".

Li Yuan Kok mengeluarkan sebuah kotak kayu dan mengambil sebatang hlo dan dalamnya. Dia menyalakan hio tersebut dan menancapkannya di atas tanah dekat bawah pohon. Dengan kecepatan kilat dia mundur kembali dan berdiri di samping tosu yang hanya seorang diri tadi. Tampangnya berubah menjadi serius.

'Yok sicu, silahkan tembus dulu barisan pedang ini!" Maksudnya tidak sulit dimengerti. Dia menyuruh Yok Sau Cun masuk ke dalam bansan dengan cara menerobos dari antara dua orang yang berkelompok.

Asal dia sanggup menerobos keluar masuk kelompok yang terdiri dari empat baris ttu berarti dia sudah berhasit Tampaknya cara menerobos barisan pedang ini tidak terlalu sulit. Yok Sau Cun malah merasa seperti sedang kembali ke masa kanakkanaknya yang mana dia sering melakukan permainan 'Elang makan anak ayam!'.

Pedang lemas pembenan Ciok Ciu Lan sudah tergenggam di tangan. Yok Sau Cun menjura dalam-dalam.

"Cayhe terpaksa lancang, maafkan!" Dia segera berJalan menuju barlsan pedang tersebut dan perlahan-lahan mendesak ke depan.

Justru ketika dia mendesak ke depan itulah, Li Yuan Kok dan tosu yang satunya mendadak memencarkan diri. Sekarang bentuk antara Yok Sau Cun dengan mereka berdua seperti segitiga.

Pihak lawan sudah memencarkan diri se. perti dua orang penjaga pintu yang berdiri di bagian kiri dan kanan serta menunggu masuknya Yok Sau Cun dengan tenang.

Karena kedua tosu itu masih belum mengeluarkan pedangnya, dia juga merasa tfdak enak untuk turun tangan. Pedang lemasnya dilintangkan di depan dada dan dia mendesak maju satu langkah lagi.

Tentu saja Yok Sau Cun sadar, senjata yang digunakan pihak lawan pasti pedang lemas seperti miliknya. Sekarang mereka memang belum mengeluarkan pedang tersebut tetapi sejak sefnula sudah disiapkan dalam genggaman tangan. Orang yang tidak tahu pasti tidak mehhatnya dengan jetas. Karena seperti pedang lemas milik Yok Sau Cun, pedang mereka juga dapat dilipat menjadi gulungan kecil.

Justru karena senjata mereka tidak terlihat maka tidak bisa ditebak bagaimana jurus pembukaan yang akan mereka lakukan Hal ini membuat jawan mereka seperti merabaraba dalam kegelgpan. Masih mending kalau mereka belum menyerang, sekali serangan dilancarkan pasti hebat sekali. Itulah sebabnya ketika dia mendesak maju satu langkah, matanya terpaku menatap kedua orang di hadapannya. Dialah yang harus menerobos barisan pedang tersebut. Maka dari itu dia tidak boleh berdiam diri. Kaki kirinya bertindak ke depan dan baru saja dia hendak menerjang ke dalam barisan....

Tiba-tiba terdengar suara seruan dari mulut Li Yuan Kok. ",. "Yok sicu, harap hati-hati!" Mendadak dia melangkah ke depan, sepasang tangannya bergerak seketika. Tetapak tangan kiri diturunkan dan melindungi di depan dada, telapak tangan kanan langsung meluncur. Serangannya ini ternyata dahsyat sekali sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru.

Yok Sau Cun terpana. Bu Liangkiam pai. Nama pertainya menggunakan nama pedang Bansannya juga menggunakan sebutan pedang, tetapi serangan yang dilancarkannya justru menggunakan tinju dan pukulan.

Tangan kanan Yok Sau Cun sudah bersiapsiap dengan pedang temasnya. Pihak lawan tidak menggunakan pedang namun mengerahkan pukulan, tentu saja hal ini merupakan hal yang di luar dugaannya, Untuk sesaat anak muda itu menjadi serba salah.

Kaki kiri yang sudah melangkah ke depan tiba-tiba ditarik mundur setengah tangkah. Tubuhnya berkelebat. Pertamatama dia mengelakkan diri dari pukulan tangan kanan pihak lawan. Dia sudah menyadari apabila tangan kanan lawan dapat mengerahkan pukulan, berarti tangan kirinya yang menggenggam gulungan pedang. Telapak tangan kiri langsung bergerak. Dengan jurus Ci liong tankua, Yok Sau Cun mendesak kepalan tangan kiri yang menempel di dada.

Penstiwa ini berlangsung hanya dalam sekejap mata. Begitu Li Yuan Kok mendesak maju, kaki Yok Sau Cun pun mundur setengah langkah. Tosu yang satunya lagi tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Secara diamdiam tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan tahutahu dia sudah berada di belakang Yok Sau Cun. Terdengar suara.

"Cnng!" yang nyanng disusuf dengan cahaya berkilauan dengan serangkum hawa dingin. Belum lagi hilang rasa terkejut Yok Sau Cun, pedang di tangan tosu itu sudah meluncur menyerang ke arah pinggangnya.

Pada saat Yok Sau Cun mengelakkan diri dari serangan pukulan Li Yuan Kok itulah, pedang tosu itu dikeluarkan, Perlu diketahui, apabila seseorang sedang mengelakkan diri dari serangan, maka matanya pasti terpusat pada orang yang ada di hadapannya. Lagi pula dia harus menggeser tubuhnya dengan perhatian penuh. Otomatis sulit baginya untuk menghindarkan diri dari serangan yang lain. Oleh karena itu, luncuran pedang tosu yang satunya lagi boleh dibilang seperti bokongan yang sangat keji.

Ketika telapak tangan kanan Yok Sau Cun mendorong kepalan kiri Li Yuan Kok, telinganya menangkap suara gerincingan di balik punggungnya. Pada waktu yang sama, karena tubuh Yok Sau Cun sedang berkelebat, menghindari serangannya, hal ini benar-benar di luar dugaan Li Yuan Kok Mulutnya mengeluarkan suara tawa yang terbahakbahak. Tangan kinnya semakin mengepal. Dalam sesaat, mendadak sekafebat lagi sinar berkilau memijar, Pedang lemasnya juga sudah dikeluarkan. Pergelangan tangannya memutar. Segaris sinar meluncur ke arah perut Yok Sau Cun.

Serangan dan' depan belakang ini, meskipun dilancarkan dalam waktu yang berbeda. Tetapi jarak di antara keduanya hanya baberapa detik. Apalagi serangan kedua tosu ini demikian cepatnya seperti kilat yang menyambar. Sekali gerak tahutahu sudah mencapai sasaran yang dimaksud. Namun Yok Sau Cun yang sekarang tidak dapat disamakan dengan Yok Sau Cun yang dulu. Dia tidak perlu menolehkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi Dari suara kelebatan pedang sa|a dia sudah tahu bagian mana yang diincar oleh tosu tersebut.

Apa yang diuraikan di ata^ memang cukup panjang. Namun begi Yok Sau Cun semuanya hanya kejadian sekedipan mata. Diamdiam dia tertawa dingin. Pedang lemas di tangan kinnya segera mengerahkan Jurus Liong bwe huihong (Ekor naga mengibas angin). Dia melancarkan serangannya ke bagian belakang. Yang dimaksudkan dengao melancarkan serangan ke belakang yakrse menusuh dari bawah ke atas. Kemudian dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata dia menebas lagi ke depan. Sudah tentu kali ini serangannya difancarkan dari atas ke bawah.

Gerakannya yang demikian cepat benarbanar seperti angin yang berhembus sambil lalu. Tetapi terdsngar suara.

"Trangl" Sebanyak dua kali. Serangan tosu satunya yang mengincar bagian. pinggang serta Li Yuan Kok yang mengancam bagian perutnya, dapat disambut sekaligu$ dengan baik.

Ketika pedang lemasnya beradu dua kali, pertama ke belakang kemudjan ke depan, beik Li Yuan Kok maupun tosu tersebut segera merasa adanya serangkum tenaga kuat yang mendesak sehingga pergelangan tangan sampai ke lengan mereka terasa kesemutan. Hampir saja pedang lemas di tangan keduanya terlepas. Kaki mereka terhuyunghuyung sejenak kemudian terdesak mundur sejauh tiga langkah.

Begitu keduanya terdesak mundur, berarti dari delapan orang yang membentuk barisan, sekarang sudah berkurang dua anggotanya. Yok Sau Cun tidak mengejar Li Yuan Kok serta rekannya. Dia langsung menerj'ang ke arah kelompok yang kedua.

Pada saat Li Yuan Kok membuka serangannya, barisan pedang itu juga sudah mulai bergerak. Tangantangan tosu yang lainnya sudah menyiapkan pedang lemas masing- masing. Bayangan tubuh mereka bergerakgerak. Cahaya pedang berkilauan, bagaikan tarian yang $amarsamar namun indah dipandang. Kaiau diperhatikan seperti lorong yang sempit namun tidak panjang. Seharusnya tidak sulit menerobos barisan pedang seperti ini.

Sekarang barlsan pedang itu sudah mulai bergerak. Tidak perlu lagi Yok Sau Cun fnenghampirinya perlahan-lahan dan juga tidak memerlukan basabasi segala macam. Dua orang tosu yang ada di bagian paling depan langsung mengulurkan pedangnya menyeraflg Yok Sau Cun. Otomatis yang lainnya mengikuti tindakan kedua orang tosu tersebut.

Jangan cuma melihat Jumlah mereka hanya enam orang. Serangan yang mereka lancarkan begai seekor naga panjang yang mengamuk. Begitu dahsyatnya terjangan mereka seperti ingin mencaplok Yok Sau Cun hiduphidup. Belum lagi langkah Yok Sau Cun mendekati mereka, barisan pedang itu sudah menerjang di depan matanya, Dua orang tosu yang paling depan dengan pedang di tangan menusuk kepadanya secepat. Bu Liangkiam pai cukup terkenal. Namun orang-orangnya jarang berkeliaran di daerah Tionggoan. llmu pedang yang mereka kerahkan juga tidak sama dengan ilmu pedang daerah Tionggoan. Jurus yang dimainkan lain dengan umumnya. Malah memberi kesan agak aneh.

Yok Sau Cun menggetarkan pedang lemas di tangannya. Sekaligus dia melakukan perubahan sebanyak tujuh delapan kali. Tetapi dia merasakan serangan pihak lawan semakin lama semakin gencar. Dia sendiri baru melancarkan beberapa serangan, dua orang tosu dari pihak lawan sudah menjalan belasan Jurus.

Apalagi pihak lawan begitu bergerak, dua orang yang paling depan meluncurkan pedangnya dengan gerakan yang aneh Hal ini saJa sudah membuat orang kebingungan. Belum lagi keempat tosu yang ada di belakangnya. Mereka bagai ekor naga yang mengibasngibas. Sebentar menyapu ke timur, sekejap lagi menyapu ke barat, dan dengan cepat tahutahu sudah menyusul sampai di bagian belakang kedua orang tosu tadi.

Keenam orang tosu itu masing-masing menggenggam sebatang pedang. Mereka melancarkan serangan dengan pedang disapu secara berselangseling. Pertama mengibas ke kanan, orang yang kedua mengibas ke kiri. Begitulah yang terlihatjadi tiga batang pedang di sebelah kiri dan tiga lagi menyerang dari kanan. Kalau diperhatikan gerakan mereka seperti orang yang mendayung sampan.

Selain berjagajaga menghadapi serangan dua orang yang paling depan, setiap saat empat orang lainnya yang di belakang akan melancarkan serangan yang mengejutkan. Yang paling memusingkan pikiran Yok Sau Cun justru pedang lemasnya yang telah dikutungkan sebanyak tiga kali oleh Song loya cu. Setiap kali tertebas satu cun. Jadi pedangnya sekarang lebih pendek tiga cun dibandingkan dengan pedang keenam tosu tersebut. Serangan anak muda itu belum iagi sempat menyentuh mereka, pedang mereka sudah hampir mencapei tubuh Yok Sau Cun.

Sambil menghindarkan diri dari serangan keenam orang tosu tersebut, Yok Sau Cun juga harus berjaga-jaga terhadap Li Yuan Kok dan seorang tosu lainnya lagi yang mungkin akan menggunakan kasempatan ketika dia lengah untuk melancarkan serangan dah belakang. Namun setelah berhasil diterobos oleh Yok Sau Cun, sejak tadi kedua orang itu belum terlihat tandatanda akan melakukan penyerangan kembali.

'Kemudian kelompok mereka sudah berhasil kuterobos sehingga sudah dianggap berhasil melewati satu rintangan dan sekarang mereka mengundurkan diri serta tidak melakukan penyerangan lagi,' pikir Yok Sau Cun dalam hatinya.

Meskipun pikirannya tergerak, tetapi gerakannya tidak berhenti. Pedang lemasnya tampak berkelebat di udara dan langsung mengerahkan Jurus Cuo Yu Fung Yuan (Padang rumput di kiri kanan). Segaris sinar pedang mendadak berputar menimbulkan dua buah bayangan hngkaran, Terdengarlah suara.

"Trang! Trang!" Sebanyak dua kati berturutturut. Pedang lemas dengan pedang lemas lainnya saling beradu. Yok Sau Cun mengerahkan tenaga dalam ke ujung pedang.

Dua orang tosu yang paling depan segera merasakan serangkum arus kekuatan yang mendesak mereka. Langkah kaki mereka otomatis terdorong sehingga mundur s jauh tujuh delapan langkah.

Dan delapen orang sekarang yang tertinggal hanya empat. Bukankah berarti setengah dari barisan itu sudah berhasil dibuat kocarkacir oleh Yok Sau Cun? Pada saat itu, barisan pedang tersebut masih bergerak. Setelah dua orang yang paling depan berhasil didesak mundur oleh Yok, Sau Cun, dua orang tosu yang di belakang langsung merandek maju lalu mengerahkan serangan.

Untuk membentuk barisan pedang jni, pihak Bu Liangkiam pai pasti memilih muridmurid yang paiing hebat ilmu pedangnya Setiap anggota barisan itu pasti mempunyai ilmu pedang yang tinggi sehingga setiap serangan yang dilancarkan merupakan maut yang mengintai.

Seandainya menghadapi mereka satu per satu sejurus demi sejurus, maka pasti akan menemukan kesulitan untuk menerobos barisan tersebut. Seandainya pun bisa, pesti memeriukan waktu yang banyak dan tenaga bisa habis terkuras.

Setelah mendapatkan pengalaman sebanyak dua kali sebelumnya, Yok Sau Cun segera sadar bahwa tenaga dalamnyajauh di atas keenam tosu tadi. Bahkan jauh lebih tinggi dari Li Yuan Kok yang menjadi pimpinan mereka. Oleh karena itu, metfhat dua orang tosu kembali menyerang ke arahnya, tanpa berpikir panjang lagi, dia menggenggam pedang lemasnya eraterat dengan mengerahkan tenaga dalam menyambut kedatangan mereka.

Kembali terdengar suara.

"Trang' Trang'" sebanyak dua kati. Dua orang tosu yang sedang menerjang ke arahnya langsung tergetar hebat dan mundur dengan langkah kaki terhuyung-huyung.

Dalam hati Yok Sau Cun segera menimbangmmbang. Dari detapan orang sekarang hanya sisa dua orang saja. Kaki kirinya segera melangkah ke depan dan dia bermaksud menggerakkan pedangnya. Siapa sangka ketika matanya memperhatikan ke depan, plhak lawan sudah mendahuluinya bergerak dan serangan mereka sudah di depan mata!.

Rupanya katika dia merenung dalam sesaat saja, pihak laAan segera menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya dari kiri kenan, Tahutahu dua batang pedang bagai kilat menyambar menerjang ke arahnya.

Kedua orang tosu yang di depannya sudah menerJang ke arahnya dengan kecepatan kilat. Tampaknya mereka sudah memetik pengalaman dari kekalahan beberapa rekannya tadi. Pedang mereka dilancarkan untuk rnenyerang lawan Baru sampai tengah jalan mereka sudah mengganti jurus yang lain Mereka mengepung Yok Sau Cun dari kiri dan kanan Rupanya mereka ingin membingungkan lawan. Setiap kali serangan yang sudah dilancarkan mencapai tengah jalan, gerakan mereka pasti berubah. Namun serangan mereka bagai gertakan saja Tidak berani membentur Yok Sau Cun dengan kekerasan. Gerakan mereka ini ternyata bermanfaat juga Termasuk sebuah tipuan yang bagus. Di bawah serangan kedua orang itu yang sebentar menikam kemudian menarik kembali, Yok Sau Cun terus menyapu dengan pedangnya Namun setiap kali dia hampir mencapai lawannya, kedua tosu itu sudah melangkah mundur dan menarik kembali serangannya Biar bagaimana pun dia tidak bisa mendesak mundur mereka seperti rekanrekan mereka yang sebelumnya.

Dengan cara ini mereka bisa mengulur waktu selama mungkin Sedangkan batas waktu yang dibenkan kepada Yok Sau Cun hanya sepembakaran hio Apabila waktu itu habis dan dia masih belum sanggup menerobos keluar dan barisan tersebut, berarti pihak Yok Sau Cun yang kalah.

Yok Sau Cun sadar dia tidak boleh membiarkan mereka bertarung dengan cara demikian Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara gerungan yang keras dan pedang lemasnya segera digerakkan. Dia tidak memperdulikan lagi jurus apa yang harus dipakainya. Kalau pihak lawan bisa menggunakan cara mainmain untuk melawannya, mengapa dia sendiri tidak?.

Yok Sau Cun menyerang dengan kalang kabut. Pokoknya dia terus mengibas ke kfri dan ke kanan. Sebetulnya cara menyerang seperti Jni, apabita tidak mempunyai tenaga dalarrl yang kuat, malah merugikan dirinya sendiri. Untung saja dia berhasil mendapatkan pengalaman aneh, yakni mendapat saluran tenaga dari Jitkong dan Patkong. Karena tenaga dalamnya sudah tinggi sekali, maka sapuan pedangnya Juga mengandung kekuatan yang dahsyat. Kedua tosu itu tidak berani menyampok pedangnya dengan kekerasan. Sekarang ganti mereka yang panik menghadapi serangan Yok Sau Cun yang tidak menentu.

Meskipun kedua orang tosu itu berusaha menghindari dari sapuan pedang Yok Sau Cun telapi karena tenaga dalam anak muda ilu yang sangat kuat, angin yang ditimbulkan pun dapet menghempaskan mereka. Tanpa dapat tertahan lagi, tubuh mereka terhuyunghuyung sehingga terdesak mundur sejauh beberapa langkah.

Baru Yok Sau Cun menghentikan gerakan pedangnya. Oua orang tosu yang lain segera maju dan menyerang kembali. Yok Sau Cun ingat dengan jelas bahwa dia sudah berhasil mendesak mundur delapan orang tosu. Hal ini berarti dia sudah berhasil memecahkan barisan tersabut. Mengapa masih saja ada orang yang menyerangnya?.

Pedang lemasnya sagera diangkat ke atas. Timbullah segurat sinar yang beckrlauan. Oia langsung menghentakkan pedang tersebut dan menghadang di depan kedua tosu yang sedang menerjang ke arahnya.

"Tahan!" bentak Yok Sau Cun.

Bupanya kedua orang tosu yang ada di depannya terdiri dan U Yuan Kok dan rekannya.

"Entah apa sebabnya, YokSicu menghenHkan gerakan kami?" tanya Li Yuan Kok. Yok Sau Cun menatapnya dengan tajam.

"Cayhe sudah bsrhasil mendesak mundur delapan orang. Seharusnya sudah dapat dihitung bahwa cayhe berhasil menembus barisan pedang Toheng!".

U Yuan Kok tersenyum simpul.

"Barisan pedang Bu Liangkiam pei kam! disebut "Leng coaceng" (Barisan sukma ular). Meskipun hanya terdiri dari delapan orang, tapi kepala dan ekor sahng bergantian. Selamanya tidak terhentikan Dua orang mundur, dua orang lagi maju. Begitulah seterusnya. Yok Sau Cun belum berhasil menerobos barisan pedang kami ini, bagaimana dapat dihitung sudah berhasil?".

"Kalau menurut pendapat toheng, bagaimana caranya baru dihitung sudah berhasil menerobos bansan ini'?" tanya Yok Sau Cun.

"Kalau Yok Sicu berhasil membuat kami berdelapan kehilangan kekuatan untuk menyerang lagi, baru dapat dihitung sudah berhasil menerobos bansan p dang ini," sahut Li Yuan Kok.

Yok Sau Cun segera memalingkan kepalanya Dalam waktu yang tidak berapa lama ini, sebatang hio yang tertancap di tanah tadi sekarang sudah terbakar setengahnya. Hati anak muda itu meniadi tegang sekaligus marah Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Apa susahnya kalau hanya demikian?" sahutnya tenang.

Tubuhnya tiba-tiba berkelebat. Dengan kecepatan kilat dia berhasil mencengkram pergelangan tangan Li Yuan Kok dan melemparnya ke tempat yang agakjauh. Namun ketika tangannya mencengkram dan melemparkan tubuh tosu tersebut, tangan kirinya juga ikut men|ulur keluar dan langsung menotok. Dengan demikian, tubuh Li Yuan Kok yang terpental di kejauhan langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup bergerak lagi.

Gerakannya itu membuat Li Yuan Kok terkejut setengah mati. Jangan kata untuk membalas menyerang, sedangkan kesempetan untuk menghindarkan diri saja tidak ada. Tahutahu tubuhnya sudah terpental jauh dan sekaligus ditotok ofeh Yok Sau Cun sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.

Peristiwa ini terjadi dalam sekejap mata. Seorang tosu yang berdiri di samping kiri Li Yuan Kok segera merasakan sesuatu yang tidak benar. Tetapi baru saja dia hendak melakukan penyerangan, mendadak pergelangan tangannya tetah tercengkeram oleh Yok Sau Cun. Namun tosu yang satunya ini ternyata cukup gesit. Pergelangan tangan kiri dicengkeram orang, tangan kanannya langsung menggerakkan pedang lemas di tangan. Tapi Yok Sau Cun tidak kalah cepat, matanya yang tajam segera melihat apa yang sedang dilakukan tosu itu. Diajuga menyapu pedang lemas di tangan kirinya dan terdengarlah suara.

Trang!". Dalam sekeiap mata tubuh tosu itu sudah terlempar ke depan dan juga dalam keadaan tertotok Para tosu yang lainnya terkejut sekali melihat dalam segebrakan Yok Sau Cun berhasil melempar kedua orang rekannya Enam orang yang tersisa segera bersiapsiap melancarkan serangan.

Tetapi mana mungkin Yok Sau Cun bersedia memben kesempatan kepada mereka. Hatinya sedang merasa marah karena merasa dipermainkan oleh Li Yuan Kok Secepat kilat dia mencengkeram lagi seorang tosu yang ada di sebelah kiri dan melemparkannya keluar dalam keadaan tertotoK seperti yang lainnya.

Pedangnya pun tidak berhenti bergerak Setiap tosu yang berusaha mendekatinya terpaksa mundur kembali karena sapuan tenaga dalamnya yang'kuat Salah seorang tosu dengan nekad mengadu pedangnya dengan pedang lemas di tangan Yok Sau Cun dengan kekerasan. Akibatnya pedang di tangannya terlepas dan tubuhnya sendiri tersentak mundurdan jatuh bergulingan di atas tanah.

Gerakan yang dilakukan Yok Sau Cun tampaknya sangat sederhana Tapi yang membuat para tosu itu tidak mengerti, justru mengapa tidak ada seorang pun yang berhasil menghindarkan diri dan cengkramannya.

Sinar mata Yok Sau Cun menyorot tajam Setiap gerakgenk dan para tosu itu tidak ada yang terlepas dan pandangannya Meski kemana pun mereka mengelak Yok Sau Cun tetap mempunyai cara untuk mencettal pergeiangan tangan mereka dan melemparkan tubuh mereka sampai jauh Dari delapan orang tosu tersebut, iima orang teriempar dan tertotok sekaligus Tiga lamnya tergetar mundur dengan pedang masing- masing terpenta! lepas dan genggaman.

Pandangan Yok Sau Cun menyapu sekilas Tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahakbahak dengan penuh rasa bangga. Terdengar.

"Sret'" pedang lemasnya ditarik kembali Dia melangkah mendekati kelima orang tosu yang tergeletak di tenah dan m^mbuka totokan mereka dengan cara menepuk bahu orang-orang itu. Setelah itu dia memandang Li Yuan Kok dengan bibir mengembangkan senyuman dan sepasang kepalan tangan menjura.

"Li Toheng, apakah sekarang cayhe sudah berhasil menerobos barisan pedang kalian yang hebat itu?" tanyanya.

Wajah Li Yuan Kok menyiratkan rasa penasaran di hatinya. Hampirhampir dia tidak percaya kalau barisan pedang "Leng CoaCeng" dan Bu Liangkiam pai mereka dapat dipecahkan dalam waktu yang demikian singkat dan dengan gerakan yang aneh pula. Tetapi berhasilnya Yok Sau Cun menerobos barisan pedangnya, mefnang merupakan kenyataan yang tidak dapet dibantah Li Yuan Kok segera membungkukkan tubuhnya sedikit dan memberi hormat kepada Yok Sau Cun.

"llmu silat Yok Sicu ternyata memang tinggi sekali. Pinto sungguh merasa kagum Barisan ini sudah terpecah belah, berarti Yok Sicu sudah berhasil menerobos bansan pedang kami," sahut Li Yuan Kok dengan nada terpaksa sekali.

Meskipun Tiong Hui Ciong sudah tahu bahwa tenaga datam Yok Sau Cun boleh dibilang telah mencapai taraf yang tinggi sekali dan bahsan "Leng CoaCeng" dah Bu LiangKiam pai saja pasti tidak bisa mengapa-apakan dirinya, namun dia sendiri juga tidak menyangka kalau Yok Sau Cun dapat memecahkannya dalam waktu sesingkat itu. Dalam sesaat, sepasang sinar mata yang indah menyorotkan sinar kegembiraan yang tidak terkirakan.

Sementara itu, Yok Sau Cun sudah membalikkan tubuhnya dan meojura kepada Hong Lam San.

"Apakah Totiang sekarang sudah boleh memberi petunjuk kepada cayhe?".

Tampak Hong Lam San sedang berdiri termangu-mangu. Dia seperti sedang merenungkan sesuatu persoalan yang penting. Mendengar ucapan Yok Sau Cun, dia baru tersentak dari lamunannya. Matanya mengawasi anak muda itu dengan seksama.

"Jurus yang Yok Sicu kerahkan tadi begitu aneh dan ajaib. Selama puluhan tahun Pinto mendalami ilmu pedang, tapi boleh dibilang belum pernah menemui jurus yang demikian aneh. Kalau Yok Sicu tidak keberatan, Pinto ingin tahu apakah ilmu ttu berasal dan Tian San?".

Jurus yang dikerahkan oleh Yok Sau Cun tadi dalam sekali gebrak berhasil mementalkan tiga batang pedang lemas para tosu itu. Jurus ini merupakan ilmu yang diajarkan oleh Kim Tijui.

Sekarang ini latihannya sudah matang. Gerakan tangan maupun pedangnya sudah bisa dikerahkan sesuka hati Tetapi kalau diperhatikan oleh orang luar, dia hanya sembarangan memutar pergelangan tangannya.

Mendengar pertanyaan Hong Lam san yang ingin tahu apakah ilmu itu berasal dan Tian San, hati Yok Sau Cun tercekat Juga Tidak disangka pandangan mata orang tua ini cukup taJam dan dapat mengenali ilmu yang digunakannya. Yok Sau Cun segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam.

"Pengllhatan Totiang ternyata taiam sekaii llmu yang barusan cayhe kerahkan memang berasal dan Tian san.".

"Rupanya Yok Sicu adalah mund perguruan Tian San Maafkan kelancangan Totiang yang berani mengganggu perialananmu. Tetapi Pinto tidak mempunyai maksud lain. TUjuan Pinto memang ingin menelusuri jejak suheng Pfilto. Satusatunya petunjuk yang berhasil Pinto dapatkan adalah pedang lemas yang sehanhannya digunakan sebagai senjata oleh suheng Pinto tersebut. Kalau Yok Sicu dapat mengatakan siapa yang menghadiahkan pedang tersebut kepadamu, saat ini juga kami akan mengundurkan diri dan silahkan Yok Sicu meneruskan perjalanan ".

"Ucapan totiang terlatu berat Cayhe tadi sudah menielaskan bahwa pedang fni memang pembenan seorang sahabat, sedangkan sahabat cayhe ini beberapa hari yang lalu berpisah di kota Yang Ciu. Setelah itu kami berjanji bertemu kembali di sebuah penginapan yang terdapat di dalam kota. Ternyata dia tidak pernah muncul dan menghitang begitu saja. Sampai saat ini tidak ada sedikit pun kabar benta darinya Kalau totiang bisa menaruh kepercayaan kepada cayhe, maka beri cayhe waktu sefama tiga bulan untuk menemukannya. Apabila sudah berjumpa dengn sahabat cayhe itu, tentu cayhe akan menanyakan dengan jelas dari mana dia mendapatkan pedang ini. Setelah itu cayhe pasti akan melaporkan hasilnya kepada Totiang.

Bagaimana menurut pendapat totiang atas usul cayhe ini?" sahut Yok Sau Cun,. Hong Lam San menganggukkan kepalanya.

"Murid perguruan Tian San, mana mungkin Pinto tidak menaruh kepercayaan. Kalau begitu, Pinto mohon diri sekerang," sahutnya.

Yok Sau Cun segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura dalam- dalam.

"Totiang ttdak pertu khawatic. Kata-kata yang sudah Cayhe keluarkan tidak akan dljilat kembali'".

Hong Lam San membalas penghormatan Yok Sau Cun sekali lagi. Dengan menggapai kepada deiapan muridnya, dia melangkah mendahului mereka meninggalkan tempat tersebut. Dengan wajah berseriseri, Hu toanio segera menghampiri Yok Sau Cun Bibirnya mengembangkan senyuman.

"Hari ini Yok Siangkong benar-benar telah membuka kelopak mata Lao pocu. Tian San kiamhoat ternyata sungguh hebat Lao pocu melihat kau hanya sembarangan menggerakkan pergelangan tangan, tapi tahutahu pedang beberapa bocah itu sudah terlepas dari tangan masing-masing Lao pocu benar-benar puas sekali Ini yang dinamakan bahwa manusia itu tidak boleh melihat apa yang ada dalam lingkungannya saja seperti "Kodok . kodok... datang Ah' Pokoknya ada pepatah seperti itu, hanya Lao pocu lupa... ".

"Katak dalam tempurung!" tukas Cun Hong.

"Betul! Betul! Memang itu yang ingin Lao pocu katakan barusan Maklumlah orang sudah tua, pikirannya pun mulai pikun," sahut Hu toanio sambil tertawa terkekeh- kekeh.

"Hu toanio, kata-katamu memang tepat Kita kita inilah katak dalam tempurungnya!" kata Sia Ho sambil tertawa cekikikan.

Hu toamo langsung mendelik kepadanya.

"Kau budak ini memang paling banyak mulut. Kalau kata-kata Lao pocu salah sedikit saja, kau langsung sambar seperti minyak menyambar api.".

"Salah lagi, Hu popo. Api menyambar minyakl" sahut Tung Soat. Tiong Hui Ciong memaHngkan wajahnya dan bertanya. .

"Adik Cun, jurus ilmu pedangmu tadi berasal dari Tian san tidak perlu diragukan lagi pasti hebat sekali Manusia sebangsa tosu tadi mana mungkin sanggup memecahkannya? Tetapi gerakan tanganmu yang dapat melemparkan orang dalam sekejap matajuga ajaib sekali Meskipun cici sudah melihatnya berutang kali, tetapi tetap tidak dapat menangkap bagaimana cara kau melakukannya. Apakah ilmu gerakan tangan itu juga berasal dari Tian san?".

Yok Sau Cun menggelengkan kepalanya.

"Siaute juga tidak tahu. Ketika suhu masih mengajar ilmu baca tulis di rumah, pelajaran silat pertama yang diajarkannya adalah gerakan tangan tadi Orang tua itu pernah mengatakan bahwa satu jurus ilmu ini saja sudah dapat mengalahkan berbagai macam ilmu dari keluargakeluarga terkenal di dunia Bu Lim. Meskipun tidak mematikan, namun merupakan ilmu yang baik sekali untuk mempertahankan diri meiawan musuh. Setelah mengajarkan ilmu yang satu ini, sebetulnya suhu tidak mau mengajarkan lagi ilmu yang lain. Namun siaute terus memohon kepadanya siang dan malam. Akhirnya dia terpaksa meluluskan permintaan siaute dan menurunkan berbagai macam ilmu. Namun menurut ingatan siaute, ilmu ini memang hanya terdiri dari satu iurus Suhu pernah bercerita, bahwa untuk ilmu ini, dia orang tua mendapatkannya dan seorang totiang ketika berkelana ke daerah selatan Pada'saat itu usia suhu masih muda Namun dia orang tua juga tidak tahu siapa totiang itu sebenarnya. Dia tidak membentahukan nama maupun gelarnya. Kemudian suhu berusaha menyelidiki berbagai ilmu gerakan tangan yang ada df dunia Bu Lim Menurut suhu, dia merasa jurus ini ada keminpannya dengan "Sou liongjiu" dan Kun Lun pai, tetapi dia orang tua|uga tidak berani memastikannya ".

"Cici juga pernah mendengar cerita dari Yaya bahwa "Sou Liong jiuhoat" dari Kun lun pai memang merupakan ilmu gerakan tangan tangan nomor wahid di dunia Kangouw, belum pernah ada orang yang bisa memecahkannya. Sayangnya ilmu itu sudah lama menghilang dan dunia kangouw. Tidak pernah diketahu; apakah ada orang yang sempat mewarisinya. Mari kita segera berangkat ke Soat san. Nanti kau tunjukkan di hadapan Yaya, mungkin Yaya bisa memberikan penjelasan kepadamu ".

Rombongan mereka masuk kembati ke dalam kedai arak. Orang tua itu sudah seJak tadi menyiapkan bakmi untuk mereka Sekarang dia langsung menghidangkannya di atas meja Bibirnya segera mengembangkan senyuman.

"Kongcu, Siocia, silahkan makan bakminya.".

Yok Sau Cun beserta rombongannya segera duduk kembali di kursi masing-masing dan menyantap pesanan mereka Selesai makan, Yu Kim Piau mengeluarkan beberapa keping uang parak dan meletakkannya di atas meja.

"Lao Jin ke, tidak perlu kembali lagi".

Sepasang suami istri itu memang mengandalkan hidup dari kedai arak tersebut. Penghasilan mereka setiap hari paling banyak dua gobang perakan, sekarang tiba-tiba para tamu ini memberikan uang sebanyak itu. Mana pernah mereka temui tamu yang demikian royal Tanpa sadar, keduanya jadi termangu-mangu Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih berulang kali, mereka menyimpan uang yang disodorkan olah Yu Kim Piau.

Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun berdiri. Begitu pula Hu toanio beserta keempat gadis pelayan Tiong kouwmo Yu Kim Piau mendahului mereka keluar dan kedai arak. Dia melepaskan tali kendali yang ditambatkan pada batang pohon Kereta kuda sudah disiapkan Baru saia rombongan ini bermaksud naik ke dalam, tiba-tiba dan kejauhan terlihat dua sosok bayangan berlan secepat kilat mendatangi ke arah mereka.

Tiong Hui Ciong mendongakkan kepala dan memperhatikan dengan seksama. Dia melihat gerakan kaki kedua orang itu demikian nngan. Dapat dipastikan bahwa kedua orang yang sedang mendatangi itu bukan tokoh sembarangan Tanpa terasa, dia tidak jadi naik ke dalam kereta, kepalanya menoieh kepada Hu toanio.

"Hu momo, coba kau lihat siapa yang datang?".

Hu toanio segera mempertajam penglihatannya. Dia menatap sejenak. "Tampaknya gerakan kedua orang itu hebatjuga. Pasti bukan tokoh biasa.". "Apakeh mereka juga ingin mencari perkara dengan kita?" tanya Cun Hong. Hu toanio langsung mendengus dingin.

"Siapa yang sudah menelan nyali hanmau sehingga berani mencari perkara dengan Ji siocia kita? Lao pocu merupakan orang pertama yang tidak akan mengampuninya!".

Ucapannya baru SBJB selesai, bayangan kedua orang itu sudah semakin dekat. Yu Kim Piau duduk di atas kereta. Penglihatannya lebih jelas dan yang lainnya.

Terdengar suara keluhan dari mulutnya.

"Orang yang datang adalah Kiuci lo han, Cu Siang Hu dan Pekpo sin cian Yan Kong Kiat," katanya melaporkan.

Tiong Hui Ciong langsung mendengus dingin. "Untuk apa kedua orang itu datang ke tempat ini?".

Dalam waktu yang bersamaan dengan ucapan Tiong Hui Ciong, kedua orang itu sudah mencapai jarak kurang lebih delapan sembilan depa dari mereka. Ternyate memang Kiuci lo han dan Pekpo sin cian, Yan Kong Kiatl.

Dan jauh Yan Kong Kiat sudah merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan manjura.

"Tiong kouwnio, harap tunggu sebentar!". Hu toanio mendengus marah.

"Manusia she Yan! Untuk apa kau berteriak-teriak?". Yan Kong Kiat segera maju beberapa langkah.

"Yan Kong Kiat menghadap Tiong koJJWnio!" sapanya dengan hormat. Belum tagi Tiong Hui Ciong sempat menjawab, Hu toanio sudah menukas dengan mata mendelik lebar-ebar.

"Manusia she Yan! Lau pocu sedang berbicara denganmu!".

Yan Kong Kiat sampai terpana mendengar bentakannya. Wajahnya langsung menyiratkan perasaannya yang marah Dalam hal ini Yan Kong Kiat tidak dapat disalahkan. Namanya sudah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun. Dia juga termasuk seorang pendekar yang disegani, sedangkan Hu toanio hanya seorang manusia yang termasuk kelas tiga dalam dunia kangouw, sekarang malah dihadapannya membentak dengan suara keras Benar-benar seperti seekor anjing yang sembarangan menggonggong kepada siapa saja yang tewat di hadapannya Tetapi karena di sana ada Tiong Hui Ciong, Yan Kong Kiat tentu tidak enak untuk meluapkan perasaan ma rahnya. Terpaksa dia memendamnya dalam hati. Perlahan- lahan dia membalikkan tubuhnya.

"Hu toanio apa yang ingin kau katakan?".

"Lao pocu menanyakan untuk apa kau datang kemari Beraniberanian kau menghadang di depan kereta Tiong kouwnio, memangnya kau tidak tahu aturan'"'.

Mendengar perdebatan itu, Kiuci to han cepatcepat maju dua langkah dan merangkapkan sepasang kepaian tangannya menjura.

"Hu toaniojangan salah paham. Kedatangan Yan heng dan hengte sendiri ke tempat ini adalah karena mengemban tugas untuk menemui Ji siocia" katanya menjelaskan.

"Siapa yang memenntahkan kalian?" tanya Hu toanio. Kiuci lo han masih tetap menjura.

"Cong huhoatl".

Tiong Hui Ciong merasa terkejut mendengar bahwa kedatangan mereka adatah atas perintah toa cihunya.

"Entah toa cihu ada ucusan apa sehingga Jiwi cianpwe menyusul ke temat sejauh ini?" tanyanya segera.

"Waktu pertemuan Ce Po tangoan sudah dekat. Apabila saat ini |i siocia menuju ke Soat san, bukankah sama saja kalau ji siocia terangterangan bergontok dengan Hue Leng senbu? Oleh karena itu Cong huhoat menugaskan kami berdua menyusul Ji siocia ke tempat ini dan menasehati agar ji siocia bersedia kembali '.

"Apakah semua ini merupakan ide Hue Leng senbu?" tanya Hu toanio dengan nada dingin.

Padahat dja hanya sembarangan mengoceh. Tapi bagi Tiong Hui Ciong yang mendengarkannya, tanpa terasa menjadi tercekat hatinya. Mana mungkin toa cihu bisa tahu kalau dia sedang menuju ke Soat san? Sudah pasti semua ini diatur oleh Hue leng senbu.

"Mengapa Hue leng senbu masih berusaha menghalangi aku pergi ke Soat san? Kim Ti jui mengatakan bahwa telah terjadi perubahan di Soat san. Mungkinkah Hue leng senbu yang mendalangi semua ini?" tanya Tiong Hui Ciong dalam hatinya Pikirannya langsung tergerak. Matanya menoleh kepada Kiuci lo han.

"Apakah toaciku tahu kedatangan kalian ini'?" tanyanya. Yan Kong Kiat tersenyum simpul.

"Cong Huhoat sendiri yang menugaskan kami berdua Sudah tentu toa siocia Juga sudah tahu.".

"Apakah toa cihu ada menulis surat untuk dibawa kalian kepadaku?" tanya Tiong Hui Ciong kembali.

Yan Kong Kiat masih tersenyum senyum.

"Cong huhoat meminta kami berdua rnenyampaikan langsung kepada Ji siocia. Tidak usah menulis surat iagi.".

Tiong Hui Ciong tertawa dingin.

"Kalian kira aku akan percaya begitu saja?".

"Kami berdua mana mungkin berani berdusta kepada Ji siocia?" sahut Yan Kong Kiat tenang.

Kiu Ci Lo Han segera menjura sekali lagi.

"Omitohudl Pinto sudah menyucikan diri. Murid Buddha pantang berbohong!". "Memangnya kau ini mund Buddha'?" sindir Hu toanio,.

Sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung terjungkit ke atas. "Tampaknya kalian memang sengaja menghalang perjalananku!". "Kami tidak beraniB sahut Yan Kong Kiat cepat.

Tiong Hui Ciong segao melayani mereka lebih lama Dia segsra membalikkan tubuhnya.

"Ji siocia harap tunggu sebentar. Cong huhoat memenntahkan hengte berdua datang ke tempat ini, pertama untuk membentahukan kepada Ji siocia agar jangan menuruti emosi sesaat dan pikirkan dengan kepala dingin. Harap siocia bersedia kembali Kedua, Cong huhoatjuga mengundang Yok siangkong ini untuk men hadiri pertemuan tersebut.". Tiong Hui Ciong tidak ragu lagi. Kedua orang ini memang sengaja menyusul mereka atas perintah dari Hue leng senbu Hawa amarah dalam hatinya langsung meluap.

Wajahnya berubah kelam.

"Nyali kalian sungguh besar!" bentaknya.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang parau dan berat menyahut ucapannya. .

"Mengapa JJ siocia harus marahmarah? Kedatangan mereka ke tempat ini memang atas perintah Cong Huhoatl" kumandang suaranya lenyap, dari hutan sebelah kin melangkah keluar dengan lambatlambat seorang laki-laki berusia lanjut yang bertubuh pendek dan mengenakan pakaian berwarna kuning.

Bentuk tubuh orang ini sangat aneh Kepalanya besar namun tubuhnya pendek. Rambut di kepelanya sudah berwarna keputihan dan panjang terurai, Mukanya penuh dengan tonjolantonjotan. Warna kulitnya pucat keabuabuan. Matanya sipit berbentuk segi tiga. Wama bola matanya juga pucat. Kalau dilihat sekilas, lebih pantas disebut nenek dari pada kakek-kakek.

Orang tua pendek berpakaian kuning berJalan mendekati dengan diiringi seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun ke atas. Wajah perempuan ini sangat kurus. Kulit tubuhnya juga berwarna kepucatan. TuIbuhnya pun kerempeng seperti batang jbambu. Tetapi sepesang matanya bersinar 'terang dan bercahaya bagai kilauan dalam air. Tiong Hui Ciong melirik kedua orang ini sekilas. Dia tertawa dingin. "Toan Pek Yang, rupanya engkau!" Rupanya orang tua pendek ini merupakan Cuo huhoat (Pelindung hukum kiri) dari Kong Tong pai. Namanya Toan Pek Yang dan oleh rdunia kangouw diberi julukan "Wi Bwe Liong" (Naga ekor kuning).

Sedangkan perempuan yang membimbingnya adalah selir Toan Pek Yang yang nama Yi Ju Si. Tapi orang-orang selalu memanggilnya Yi Ji nio Kemana pun Toan pek Yang pergi, dia pasti ikut. Kedua orang ini tampaknya tidak pernah berpisah semenit pun.

Toan Pek Yang seperti tersenyum tidak rsenyum. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Memang hengte adanya. Apakah Ji siocia erasa heran?".

.

Wajah Tiong Hui Ciong tetap kalem seperti tadi.

"Apakah Hue leng senbu yang menyuruh kau datang kemari?". Toan PekYang tersenyum simpul.

"Dugaan Tiong Ji siocia salah sekali. Hengte menerima perintah dari kaucu untuk mengundang Yok siauhiap.". Hati Tiong Hui Ciong tercekat mendengar keterangannya.

"Kalau mendengar dari pembicaraannya Ci Sancu sendiri juga sudah turun gunung" katanya dalam hati.

Toan Pek Yang memperhatikan keadaan sekitarnya sekilas, Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

"Kaucu mendengar bahwa Yok siauhiap adalah seorang pemuda yang cerdas dan memiliki ilmu kepandaian tinggi Kaucu merasa gembira apabila dapat berkenalan dengannya. Karena khawatir Yan heng dan Cu heng berdua tidak mempunyai kesanggupan untuk mengundang Yok siauhiap, maka sengaja meminta hengte menyusul kemari agar dapat menggerakkan hati Yok siauhiap, sekaligus bertemu langsung dengan Tiong Ji siocia.

"Aku ingin pulang ke Soat san secepatnya. Siapa yang berani menghalangi kepergianku ini?" tanya Tiong Hui Ciong dengan suara ketus.

Toan Pek Yang tertawa seram.

"Kafau Tiong Ji siocia memang ingin pulang ke Soat san, tentu saja tidak ada orang yang berani menghalangi, tetapi. ".

"Tetapi apa?".

"Putangnya Ji siocia ke Soat san tidak ada kaitannya dengan undangan kaucu terhadap Yok siauhiap " sahut Toan Pek Yang Dan nada ucapannya, terangterangan dia memaksudkan bahwa Tiong Hui Ciong boleh saja pulang ke Soat san tetapi bagaimana pun Yok Sau Cun harus tinggal.