Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 14

 
Jilid 14

Wi Ting Sin tiaw tidak membiarkan dia berkata lebih lanjut.

"Bengcu sudah minum obat penawar Sekarang masih belum terlihat apakah yang ini asli atau tidak Terpaksa menunggu sampai dia sadar Kitaharus membagitugas Laosiu sudah memben pesan kepada Ciok kouwnio dan Yok Sau Cun Rasanya tidak akan terjadi apa apa" Dia menoleh ke arah Su Po Hin "Lebih baik Su toheng membawa nensk jahat itu ke dalam goa Kemudian keluar lagi untuk menyambut Di sini biar Ciek Congkoan dan Song sau cengcu yang men]aga Di celah sebelah sini, keadaannya paling rumit Banyak sekali lekukan, gampang menyerang tak 'mudah diserang Juga merupakan benteng yang penting. Dalam keadaan terdesak, kita bisa mengundurkan diri ke te'mpat lain. Asal Bengcu sudah sadar dan dapat dipastikan keasliannya Kita sudah boleh keluar .beraama untuk menyambut musuh.".

Su Po Hin mengiakan Sebelah tangannya menarik Co pocu dan masuk ke sebelah dalam goa Wi Ting sin tiaw melewati Song Bun Cun dan Ciek Ban Cing keluar dari tengah goa Sampai di depan dia melihat Bu Cu taisu sedang berdiri tegak men|aga.

Rembulan masih memancarkan sedikit sinarnya Hamparan luas terbentang di depan mata Ternyata bayangan bayangan orang tampak remangremang Paling tidak, jumlah mereka ada tujuh atau delapan orang Mereka sama sekali tidak menyerang ataupun berteriak Semuanya berdiri di ujung bukit seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dan belum tiba di tempat ini," lanjut Wi ting sin tiaw.

"Mengapa Beng toheng mempunyai pandangan demikian?" tanya Hui Hung i su sambil mengerutkan keningnya.

"Dengan melihat apa yang ada di hadapan kita sekarang. Mereka semuanya termasuk tokoh golongan hitam yang sangat terkenal, kejahatan mereka satu dan yang lainnya hampir seimbang Siapa yang dapat memerintah mereka-mereka ini kalau bukan seseorang yang ilmunya jauh lebih tinggi dan mereka," sahut Wi Ting sm tiaw.

Kan Si Tong mengangguk-anggukkan ke palanya. "Kata-kata Beng toheng memang masuk akal," katanya.

Tepat pada saat itu, terlihat dan atas bukit ada penerangan yang bergerak Karena ketiga orang itu berdiri di mulut goa dan ada Bu Cu taisu yang menghalangi, maka mereka tidak dapat melihatnya. Hui Hung i su berdiri berhadapan dengan Wi Ting sin tiaw. Dia yang pertama kali melihat kelebatan sinar tersebut.

"Ada lagi orang yang datangi" serunya " Kalau dilihat dan sinar penerangan, rasa nya lebih dari satu orang," lanjut Kan Si Tong.

Wi Ting sin tiaw segera membalikkan tubuhnya dan ikut memperhatikan. "Kemungkinan kawanart' perijahat itu datang lagi," katanya.

"Beng toheng seperti seorang juru ramal sa[a," sahut Hui Hung i su dengan maksud bergurau.

'Meskipun hengte hanya menduga, tapi tebakan hengte tidak akan meleset terlalu

]auh," kata Wi Ting sin tiaw.

'Coba katakan agar pinto tambah pengalarnan," sahut Hui Hung i su.

"Hengte hanya berkata menurut keadaan Coba pikirkan baikbaik Biasanya kalau Ya heng pn sedang melakukan penyelidikan dia tidak mungkin membawa penerangan dengan terangterangan Sedangkan mereka yang datang sekarang malah disediakan oleh kawanan yang sampai lebih dahulu Kalau mereka bukan satu komplotan, tentu kelakuan mereka ttdak akan seperti ini," kata Wi Ting sni tiaw menjelaskan.

Tanpa sadar, Hui Hung i su menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Tampaknya Beng toheng benar benar mempunyai bakat Kunsu".

Dari luar goa, penerangan semakin mendekat. Yang jalan di bagian muka merupakan Long san it pei yang tadi melankan diri Di belakangnya ada dua gadis yang mengenakan pakaian ungu Usia mereka paling banter baru tujuh belasan Tangan mereka membawa dua buah lentera berwarna merah dan ber|alan bersandingan Di belakang mereka, ada lagi seorang laki laki dengan pakaian pelajar serta berwajah persegi bibir tipis dan bentuk alis seperti golok. Pakaiannya berwarna hijau pupus Pinggangnya diikat dengan sehelai kulit lembut Juga terselip sebatang pedang panjang di tempat yang sama Tangannya memegang sebuah kipas Tampangnya gagah dan tampan Dia berjalan dengan langkah lebar.

Melihat kehadiran mereka Wi Ting sin tiaw dan rekan rekannya menjadi tersentak Tadinya mereka mengira kalau yang datang adalah seorang pentolan yang menjadi pemimpin ibhsibhs itu atau orang yang namanya sudah menggetarkan nmba persilatan Tidak disangkasangka malah yang datang adalah seorang pelajar berusia kurang dari tigapuluh tahun. Melihat tampangnya yang tenang dan gerak geriknya yang sopan, sama sekali tidak berkesan bahwa dia adalah seorang pentolan tokoh hitam.

"Liong wi toheng, apakah kalian tahu siapa orang itu?" tanya Kan si Tong dengan nada rendah.

Wi Ting sin tiaw dan Hui Hung i su menggelengkan kepala mereka.

Dengan mengandalkan pengetahuan ketiga orang itu, yang sudah berkecnnpung di dunia kangouw selama puluhan tahun, dan selatan sampai utara sepanjang sungai Huang ho, golongan hitam atau putih, kebanyakan mereka tahu semuanya Meskipun ada sebagian yang belum pernah mereka lihat sama sekali, namun ciriciri tertentu orang-orang itu sudah hampir dihapal dalam benak mereka. Hanya pelajar berpakaian hijau ini yang tidak mereka dengar sebelumnya.

Sementara itu, salah satu dan delapan orang yang berdiri di Ujung sebelah sana, tiba- tiba tampil dan msmbun?kuk dengan hormat.

"Hamba Cuk Siang Hu memben hormat kepada Tiong hu hoat (Pelindung hukum dan pusat)".

Orang itu adalah Kiu ci Lo Han Cuk Siang Hu Tampaknya tidak salah lagi kalau ketUjUh orang yang lainnya datang karena ajakannya Pelajar berpakaian hijau itu mengedarkan pandangannya ketujuh orang itu sekilas Bibirnya mengembangkan senyuman.

"Cuwi sudah menunggu terlalu lama" sapanya.

Tujuh orang lamnya yang sedang berdiri meniura serentak Dari cara mereka, kelihatannya pelajar berpakaian hijau itu sangat dihormati oleh mereka Tentu bukan hal yang mudah kalau mengharapkan manusiamanusia buas yang setiap han membuat kejahatan ini menaruh rasa hormat Pelaiar itu melangkah terus sampai ke sebuah batu di tengah tengah Dia menghentikan langkah kakinya Dua gadis yang membawa lentera merah itu tidak perlu menunggu perintah lagi Keduanya segera berdiri di beiakang pelajar berpakaian hijau tersebut.

Laki-laki itu mendongakkan wajahnya dan memandang ke arah Bu Cu taisu yang menggenggam ruyung pan|ang di tangan, Dia menuding dengan kipasnya.

"Siapa hwesio tua itu'?" tanyanya.

"Dia adalah kepala Lo Han tong di Siaulnn si yang bernama Bu Cu taisu," sahut Long san it pei yang berdiri di belakangnya dengan kelabakan.

Pelajar berpakaian hijau itu mengeluarkan suara "Oh...l".

"Kalau dilihat dan keadaannya, kemungkinan besar mereka sudah berhasil menguasai goa tersebut". "Kelihatannya memang ".

Pelajar berpakaian hljau mengulapkan tangannya.

"Tidak usah katakan lagi Kau tanya pada Bu Cu taisu, bagaimana keadaan orangorang kita yang berada di dalam goa? Apakah mereka sudah mati atau masih hidup?".

Long sanit pei mengiakan. Dia maju beberapa langkah ke depan dan menjura penuh hormat.

"Harap taisu menjawab, Cong huhoat kami ingin bertanya kepada Bu Cu taisu Kalian tidak berhasil mengepung goa, entah bagaimana nasib orangorang kami'?".

Bu Cu taisu merangkapkan sepasang tangannya.

"Omitohud. Tugas pinceng hanya menJaga mulut goa Sedangkan urusan yang lainnya, pinceng tidak tahu," sahutnya tenang.

"Taisu adalah orang yang terpandang Mengapa dapat mengeluarkan kata-kata dusta seperti itu?" tanya Long sanit pei.

"Pinceng memang tidak tahu," sahut Bu Cu taisu.

"Ada apa? Apakah dia tidak mau mengatakannya?" tanya pelajar berpakaian hijau itu lantang.

Long san it pei membungkukkan tubuhnya berkali-kali. "Dia memang keras kepala sekali " sahutnya.

"Suruh dia minggir!" kata si pelajar berpakaian hijau Tampaknya dia sudah terbiasa main perintah Dia sama sekali tidak berpikir bahwa mana mungkin Bu Cu taisu mau disuruh menggeser begitu saja Long san it pei mengiakan sekali lagi "Kalau begitu harap taisu mengundurkan diri panggil saja orang lain yang tahu," katanya.

"Mengapa pinceng harus mengundurkan diri?" tanya Bu Cu taisu berlagak tidak mengerti,.

"Apakah taisu benar-benar tidak mau mengalah sedikit juga?" bentak Long san it pei.

"Pinceng mendapat tugas untuk menjaga di mulut goa ini, mengapa harus menggeser untuk mengalah kepada orang sepertimu?" sahut Bu Cu taisu.

Wajah Long sanit pei berubah hebat mendengar kata-kata Bu Cu taisu.

"Bu Cu taisu, hengte menasehatimu baikbaik. Cong huhoat sengaja bergegas datang ke sini Kalau taisu mau bekerfa sama, maka tidak akan menemukan kesulitan apa pun, kalau tidak, he .. he he ". Bu Cu taisu tetap berdiri dengan tegak.

'"Siancai Siancai . Pinceng hanya tahu melaksanakan tugas soal lainnya tidak berminat sama sekali," sahutnya tenang.

Long san it pei tertawa terbahak-bahak "Kalau taisu masih tidak bersedia minggir, hengte juga tidak akan sungkan lagi!" ucapannya selesai, telapak tangannya segera dikembangkan dan meneijang ke arah Bu Cu taisu Karena di hadapannya ada Cong huhoat, maka sekali turun tangan, dia langsung menggunakan ilmu Toa tat kim kong ciang Serangkum tenaga dalam tanpa bentuk, tanpa suara atau pun getaran menerpa.

Ruyung Bu Cu taisu dipindahkan ke tangan kiri Telapak kanan diulurkan ke muka Kedua telapak saiing membentur menimbulkan suara menggelegar Telapak tangan kiri Long sanit pei langsung menyusul menghantam Lima serangan dikerahkannya sekaligus.

Bu Cu taisu melepas ruyung ketika melihat gencarnya serangan Long san it pei Sepasang telapak tangannya segera dikerahkan Dia menyambut dengan baik lima serangan Long sanit pei itu Setelah itu dia mencelat mundur dan merangkapkan se pasang lelapak tangannya.

"Kalau sicu masih tidak mau mundur, jangan salahkan pinceng berlaku kasar," katanya dengan nada berat.

Suara angin berdesirdesir, tiga serangan dilancarkan oleh hwesio tua tersebut, Tiga serangan ini merupakan jurus yang sangat menggemparkan dunia kangouw yakni Lo Han cian Angin yang timbul dan tinju itu menimbulkan suara menderu-deru Kekerasan tinjunya bagai batu padat yang kokoh Tenaga yang terpancar dahsyat sekali Dapat dibayangkan sampai di mana kehebatannya.

Tanpa sadar Long sanit pei terdesak mundur dua langkah Tapi dia tak sudi mengalah begitu saja Sesudah terdesak mundur, dia ma|u lagi dengan tegak Telapak tangannya segera dikerahkan untuk menyerang Kedua orang itu langsung terlibat pertarungan yang seru Mereka saling menyerang dan menghindar Tapi meskipun Long san it pei mengerahkan segenap kemampuan namun Bu Cu taisu hanya terdesak sejauh dua langkah lalu majU kembali Dia tetap tidak bergeser dan mulut goa tersebut Dalam jangka waktu tidak seberapa lama, mereka telah saling bergebrak sebanyak lima jurus.

Long san it pei semakin gencar menyerang, namun dia dapat merasakan bahwa serangannya tidak banyaK membawa hasil. Hatinya mulai tidak sabar.

"Hwesio tua, tenmatah beberapa hantaman telapak tanganku inii" teriaknya dengan nada dingin.

Tangan kanan diulurkan ke depan Terasa sekumpulan angin menerpa Telapak tangan kiri menyusul dihantamkan dengan sepenuh tenaga. Sekali lihat saja Bu Cu laisu tahu kalau lawannya teiah mengerahkan Cui sim ciang yang keji.

Bu Cu taisu sadar bahwa dia mendapat tugas menjaga mulut goa Lawan berjumlah lebih banyak, dia tidak boleh berlaku sungkan lagi Sepasang telapak tangannya dirangkapkan Mulutnya mengucap nama Buddha.

"Omitohud'".

Diam diam dia mengerahkan Pan juo sinkang kedua telapak tangannya tetap dirangkapkan Perlahan lahan diulurkannya ke depan Perlu diketahui bahwa Pan juo sinkang adalah ilmu aliran Buddha Di antara tujuh puluh dua macam ilmu pusaka Siau lim pai, Pan iuo sinkang menduduki urutan ketiga Hanya para tianglo dan ciang bunjinnya sendiri yang boleh mempelajari ilmu ini.

Selama berpuluh tahun, Bu Cu taisu baru sekali mengerahkan ilmu ini, ketika mengobati Song Bu Cun Baru sekarang inilah pertama kali dia mengeluarkan ilmu simpanannya itu untuk menghadapi musuh.

#Dalam pertarungan kali ini, Long san itpei telah mengerahkan ilmu andalannya yakni Cui sim ciang sedangkan Bu cu taisu juga memainkan ilmu simpanannya yakni Pan Juo sinking. Mereka bergebrak dengan cara keras lawan keras Kehebatannya tentu tidak dapal disamakan dengan pertarungan biasa.

Namun dalam pertarungan ini sama sekali tidak lerdengar benturan keras akibat bertemunya kedua pasang telapak tangan Juga tidak ada angin yang menderuderu Cui sim ciang adalah sejenis ilmu yang mengandalkan tenaga Im yang lembut. Sedangkan Pan juo singkang, tidak berbentuk maupun bersuara, pun tak terasa sedikit pun hembusan angin.

Baik Bu Cu taisu maupun Long san itpei tiba-tiba seperti didorong oleh seseorang. Tanpa terasa keduanya terpental mundur sejauh dua langkah. Bu Cu taisu langsung mengambil ruyungnya dan berdiri tegak. Kain yang menyampir di bahunya terus melambai-lambai.

Long san itpei Suo Yi Hu berdiri terhuyung-huyung setelah terdesak mundur dua langkah. Dadanya bergemuruh, nafasnya tarsengal-sengal lalu mulutnya memuntahkan segumpal darah segar.

Kiuci to han Kong Beng menghambur ke arahnya ctengan panik. Dia langsung me' mapah Long san itpei . Wajah orang itu sudah pucat pasi. Sementara itu. di pihak lain Wi Ting sin taiw dan Hui hung gisu segera menghampiri Bu Cu taisu.

"Apakah taisu baikbaik saja? Cepat masuk ke dalam goa dan beristirahat sejenak!" tanya Wi Ting sin tiaw dengan perasaan khawatir.

Bu Cu laisu menuruti permintaan mereka. Perlahanlahan dia mundur ke dalam goa lalu tersenyum datar.

"Luka Suo Yi Hu jauh lebih parah daripada pinceng. Luka yang pinceng derita hanya sedikit saja Selelah duduk bersila beberapa saat tentu akan pulih kembali seperti semula' sahutnya menjelaskan.

Mendengar ucapannya, Wi Ting sin tiaw dan Hui Hung gisu menjadi agak tenang. Bu Cu taisu langsung mencengkeram ruyungnya erat erat dan menjadlkannya pegangan serta duduk bersila di atas batu bundar Matanya segera dipejamkan. Dla ttdak berkata apa-apa lagi.

Pada saat Bu Cu taisu mengundurkan diri ke dalam goa, Hui Hung gisu dan Wi Ting sin tiaw langsung menggantikannya menjaga di mulut goa Tiba tiba terdengar sebuah suara teriakan yang kasar dari mulut seorang laki-laki.

"Lotoa, kali ini seharusnya gitiran kami yang tampil Akan kami ringkus si hidung kerbau itu'.

Kemudian terdengar sahutan yang dmgin dan mendirikan bulu roma ... "Baiklah!".

Baru saja ucapan mereka selesal, di antara kegelapan remangremang terlihat dua sosok bayangan tubuh manusia. Gerakan mefeka bagai burung rajawali dan dalam sekejap mata sudah sampai di hadapan Kan Si Tong.

Tampang kedua orang ini sangat aneh. Wajah mereka pucat pasl seperti mayal Saiah satunya memejamkan mata rapai rapat ibarat orang bula Yang satunya lagi membelalakkan matanya lebarlebar Sinar matanya bagai kobaran api neraka Di bagian tengah bahunya terdapat segurat luka yang dalam Keduanya memakai pakaian berwarna hitam tanpa lengan Mereka juga berlelanjang kaki Tampaknya aneh dan terasa sekali serangkum hawasesat yang terpancar dari diri mereka.

Namun asalusul kedua orang ini tidak dapat dipandang nngan Orangorang dunia kangouw yang bertemu dengan sepasang iblis kembar ini, palingtidakakan mengambil langkah senbu atau menyembunyikan diri Mereka adalah Siang si suangse yang terkenal kekejiannya Loloa merupakan orang yang memejamkan matanya, sedangkan loji yang membelalakkan matanya lebar lebar bagai setan penasaran.

Setelah melihat jelas siapa yang dalang menghampiri tanpa sadar Kan Si Tong mengerutkan sepasang alisnya dalam-dalam.

"Pelunjuk apa yang akan diberikan oleh liong wi?".

Loloa dan Siang si suangse yang bernama Bun Pau Ying tertawa dingin. "Hidung kerbau'" Asal kau minggir sedikit maka tidak akan ada masalah lagi'". "Mengapa pinto harus minggir'?" tanya Kan Si Tong tenang.

"Karena kami berdua saudara ingin masuk meninjau ke dalam goa Apakah orang orang kami yang masih berada di dalam goa telah diringkus oleh kalian kawanan hidung kerbau dan hwesio busuk?".

"Bagaimana kalau pinto tidak bersedia minggir?".

Bun pao Ying tidak menyahut, adiknya yang bernama Bu Lui Ymg memejamkan matanya dan tiba-tiba dia mengangkal tangan kanannya Lima jari tangan yang kurus bagai tengkorak laksana cakar elang mencengkeram ke depan. Sasarannya dada Kan Si Tong.

"Kalau begitu kau saja yang mati di tangan kami terlebih dahulu'" dia berseru ber barengan dengan meluncurnya cengkeraman tangannya tersebut.

Cara turun tangannya cepat sekali, tapi Kan Si Tong sejak dini sudah siap sedia Dia sudah lama mendengar kekejian kedua iblis kembar ini, Kakinya mendadak mundur setengah langkah Pergelangan tangannya memutar Dia mengerahkan jurus Tau kua cu lien Pedangnya memancarkan sinar dan terlihat bayanganbayangan yang menusuk Dia langsung menyerang ke arah Bu Lui Ying.

Bun Pao Ying kembaii mendengus dingin.

"Kau ingin memamerkan ilmu pedangmu dl hadapan kami dua bersaudara?" sindirnya tajam. Dia tangsung metesat ke samping Kan Si Tong. Sepasang telapak tangannya terulur ke depan Tiba-tiba tangannya bergerak dan berubah menjadi cengkeraman Tangan kanannya mencengkeram bahu kin Kan Si Tong dan tangan kirinya mencengkeram pedang di tangan kanan tosu tersebut.

Orang itu mempunyai julukan Pik yan ciangsi alias Mayat dengan mata tarpejam. Memang dia selalu memejamkan malanya Kadangkadang hanya sekejap saja m nya membuka Padahal dia tidak buta.

Jurusnya yang pertama belum berhasil mencengkeram Kan Si Tong. Gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah Dengan kecepatan yang sulit diuraikan dengan kata-kata dia memutari tubuh Kan Si Tong Kelima jari tangannya mendadak berubah menjadi cengkeraman kembali Yang sebelah mengarah bahu kanan Kan Si Tong sedangkan yang kiri mengancam bagian belakang batok kepalanya.

Sementara itu loji dari Siang si suangse juga sudah bsrgerak Gerakan kedua orang ini kompak. Cara mereka turun tangan menghadapi lawan saling mengimbangi satu dengan lainnya Serangan mereka juga memberikan manfaat yang besar bagi diri mereka sendiri Yang satu berusaha merebut pedang, sedangkan yang lainnya bergerak menyerang lawan.

Kalau gerakan Kan Si Tong terlambat satu lindak saja, bukan hanya sepasang tangannya yang kena dicengkeram, batok kepalanya mungkin akan terbetot putus Tapi biar bagaimana pun, Kan Si Tong merupakan tokoh lingkat alas dalam Pal Kua bun. Begitu Pak Kua kiam hoat dikerahkan, pancarannya benar benar mencapai delapan penjuru Jurus yang dimainkannya memiliki ribuan per ubahan. Beberapa tahun yang silam. dengan sebatang pedang ia berhasil mengalahkan Ki san pat kuai. Namanya pun sudah lerkenal di dunia kangouw. Apabila golongan sesal bertemu dengannya, meskipun jumlah me reka banyak juga harus berpikir dua kali untuk berhadapan dengan tosu ini.

Siang si suang se bergabung melawan Kan Si Tong. Sebagai saudara kembar, mereka selalu bergabung menghadapi musuh, tak peduli berapa pun jumlah lawan Keduanya pun bukan lawan yang dapal dianggap remeh. Dengan sebatang pedang di tangan, Kan Si Tong juga tidak mudah merubuhkan mereka.

Tampak tubuh Kan Si Tong bergerak perlahan Serangan Siang si suangse sudah berhasil dihindarkannya Pedangnya me mancarkan cahaya berkilauan Dia menyapu ke kanan dan kiri seolah ingin membagi rata kepada kedua musuhnya Bun Pao Ying dan Bun Lui Ying yang melihat bahwa Kan Si Tong membalas serangan mereka dengan serangan pula jadi panas pula hatinya Pada dasarnya kedua orang ini sangal angkuh.

Mereka merasa tidak senang bila disaingl orang lain, meskipun mereka sadar bahwa dalam sualu pertarungan tidak mungkin lawan akan mengalah. Kekejian mereka terbangkit seketika. Sambil meraung keras mereka lanlas menerjang ke arah Kan Si Tong dalam waktu yang bersamaan.

Empat cakar dikerahkan. Dua puluh jari yang seperti tengkorak yang mengancam di depan mala. Kiam hoat Kan Si Tong segera dikerahkan Sejurus demi sejurus dimainkannya Kakinya melangkah mengikuti unsur pat kua Bayangan pedang berkelebat. Semuanya membentuk bungabunga yang melindungi dadanya Perlahanlahan gerakannya mulai berubah cepat dan akhicnya bayangan tubuhnya seperti menjelma menjadi beberapa orang dan membentuk barisan pedang.

Meskipun hawa pembunuhan telah menyelimuli Siang si suang se dan serangan yang mereka lakukan sangat keji, tapi jangan harap dapat menerobos ke dalam bayangan pedang Kan Si Tong yang ketat itu. Kedua orang itu semakin berang. Suara raungan mereka bagai orang yang kalap.

Dua pasang cakar tangan bagai ular yang menarinari menimbulkan suara angin yang menderuderu, gaungnya memekakkan telinga.

Beberapa kali mereka berhasil mendekati Kan Si Tong dan berusaha menerobos masuk dalam bayangan pedang Hampir saja Kan Si Tong terenggut oleh cakar mereka yang tajam. Diamdiam hati Kan Si Tong ter kejut sekali. Kenngal dingin telah membasahi keningnya.

Dengan mengandalkan latihannya selarna puluhan tahun, dia mempertahankan posisinya. Bagian tubuhnya yang berbahaya dilindungi dengan kelal Tubuh bergerak mengiringi pedang, sementara pedang bergerak mengiftuti perubahan pal kua Tangannya menggenggam pedang eral erat laksana memegang benda yang beratnya puluhan kati Kiri menyerang, kanan melindungi Ju rus pedang yang dimainkannya memang bergerak lambal, tapi cahayanya memancarkan warna kehijauan Dengan ketat dia menutupi bagian tubuhnya yang berbahaya Dengan kekuatan sebagai pedangnya dia melawan dua orang iblis yang sudah menggetarkan dunia kangouw Sedikit pun dia tidak sudi mengalah.

Wajah Bun Pao Ying maupun Bun Lui Ying menyiratkan hawa pembunuhan yang semakin dalam. Tampang mereka lebih mirlp hantu gentayangan yang mencari korban Dalam kemarahan yang 'memuncak, tiba-tiba Bun Lui Ying mengeluarkan suara siulan ren dah yang menggidikkan hati Lotoa Bun Pao Ying juga ikut mengeluarkan suara siulan yang tinggi dan panjang. Dua jenis suara siulan yang salu tinggi dan yang salunya lagi rendah lerdengar bersahutsahutan Telinga yang mendengarnya terasa tidak enak sekali Suara siulan itu lebih minp ratap tangis para setan yang sedang disiksa dalam neraka Justru di antara suara siulan yang mengenkan itu, Bun Pao Ying dan Bun Lui Ying langsung menarik kembali sepasang cakar mereka Gerakan mereka juga terhenli. Seperti lupa bahwa mereka sedang bertarung menghadapi lawan.

Karena melihat gerakan kedua iblis itu terhenli, Kan Si Tong juga ikutikutan menghentikan gerakannya. Mana mungkin dia bertarung seorang diri seperti orang yang pikirannya kurang waras.

Wi Ting sin tiaw yang menjaga di mulut goa juga melihat tingkah laku ketiga orang tersebut Hatinya menjadi curiga Cepalcepat dia mengerahkan ilmu Coan im jit bit untuk membisiki Kan Si Tong. "Kan toheng, hatihati!" Baru saja perkataannya selesai lerdengar oleh Kan Si Tong, libatiba sepasang lengan tangan Bun Lui Ying bergerak mengancam pinggang Kan Si Tong Dalam waktu yang bersamaan, Bun Pao Ying juga bergerak Tubuhnya berkelebat secepat kilat Sepasang cakar tangannya mengembang dan mengincar bagian punggung losu tersebut.

Kan Si Tong sendiri sudah mendengar perihgatan Wi Ting sin tiaw dia juga sudah merasa curiga Meskipun pedangnya lelah ditarik kembali, tapi kewaspadaannya lelap ditingkatkan Namun melihat gerakan kedua iblis itu, tak urung hatinya tercekat juga.

"Ciang sikang (llmu mayat hidup)!' seru nya dalam hati.

Tubuhnya langsung bergerak menerobos lewat serangan kedua iblis tersebut. Gerakan Siang sr suangse menubruk tempat yang kosong Mulut mereka mengeluarkan suara pekikan laksana dua ekor binatang buas Sepasang kaki mereka melangkah kian keman dengan cepat Tubuh rnereka berkefebal bagaikan angin Tangan mereka siap mencengkeram lagi.

Seandainya hal ini terjadt pada orang lain, mulut goa demikian sempit, tentu tidak sanggup menghindan serangan mereka yang ke|i Tetapi Kan Si Tong adalah lokoh angkaian lua dalam Pal Kua bun Dalam perguruan itu terdapat semacam ilmu ajaib yang bernama Pal Kua yu seng po yang artinya Langkah gerakan Pat kua llmu in' sengaja diciplakan unluk menghadapi lawan yang lebih banyak dan arena pertarungan yang sempil Dengan demikian, Kan Si Tong belum sampai kewalahan mengh dapi sepasang iblis kembar ini.

Biar bagaimana pun kejinya serangan lawan, tapf orang yang menguasai ilmu ini tetap dapat menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa sehingga dapat menerobos lewat dengan selamat Itulah sebabnya ilmu ini dinamakan Yu seng po.

Kan Si Tong justru menggunakan ilmu ini unUik menerobos lewat di anlara Siang si suangse. Kedua iblis itu hampir meledak amarahnya melihat kegesitan tubuh lawan Serangan yang mereka lakukan semakin gencar dan ke|i Tubuh Kan Si Tong pun melesat semakin cepat dan membingungkan. Bagi orang luar, lampaknya losu tersebut tidak memerlukan banyak lenaga dan pikiran untuk menghindari serangan Siang si suang se tersebut Padahal kenyalaannya tidak demikian.

Pada dasarnya kedua orang ini bukan lawan yang enteng Apalagi setelah mereka mengerahkan ilmu Ciang sikang yang lele ngas Serangan yang dalangnya saling susul menyusul itu cukup menguras lenaga dan pikirannya Jarak di anlara mereka semakin lama semakin merapal Bayangan sepasang iblis bagai kilal yang menyambar Meskipun ilmu langkah itu disebul ilmu ajaib, tapi untuk metoloskan diri dari serangan kedua tokoh sesal itu tetap bukan hal yang mudah.

Meskipun tangan Kan Si Tong menggenggam sebalang pedang, namun diajuga tidak mempunyai kesempatan menggerakkannya Dia harus memusalkan perhatian untuk menghindan serangan yang semakin lama semakin gencar itu.

Tidak dapal menyerang, letapi lerus menghindar, bukankah lamakelamaan Kan Si Tong yang akan berada di bawah angin ..? Walaupun untuk waktu yang singkat Siang si suang sejak dapat mengenai tubuh Kan Si Tong, tapi bagaimana pun mereka menghadapi lawan dengan gabungan tenaga dua orang. Sejak mengerahkan ilmu Ciang sikang, tenaga yang terpancar sudah melampaui kemampuan Kan Si Tong Tfga sosok bayangan terus berkelebat. Dua di anlaranya meloncat ke sana kemari, sedangkan seorang yang lainnya terus menggunakan cara melesat ke kiri dan kanan unluk menerobos lewal Semakin lama gerakan mereka semakm cepat. Lama kelamaan bayangan tubuh. Ketiga orang itu semakin samar, mata para ahli pun tidak dapat menangkis dengan jelas Mereka bahkan sulit membedakan mana kawan dan mana lawan.

Hanya suara siulan kedua iblis yang tinggi iendah t orus berkumandang Mereka yang menyaks 'kan pertarungan tersebut hanya dapat me mbedakannya dengan mendengar kan suara siulan Siang si suang se itu.

Si pelajar berpakaian hijau yang melihat pertarungan itu masih belum ada penyelesaiannya. Ia mulai tidak sabar hatinya. Sepasang alisnya bertaut erat. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkahkan kakinya ke depan.

Begitu dia melangkahkan kakinya, Kiu ci lo han Kong Beng, Hue mo li Cu Kiau Kiau, pek po sin, Yan Kong Kiat beserta Go Ca jin Bun Tian Hong ikut maju ke depan. Mereka mengira Cong huhoat itu ingin turun tangan sendiri menghadapi lawan.

Di pihak sini, Wi Ting sin tiaw Beng To jin dan Hui Hun gi su Lu Hui Peng melihat rombongan musuh sudah mulai maju. Diam diam mereka terkejut sekali Mereka segera memencarkan diri di bagian kiri dan kanan goa. Pikiran mereka tergerak Kedua orang itu malah mengira rombongan orang itu akaii segera mener|ang ke dalam goa Mata rriiereka tidak lepas dari diri Kan Si Tong. Apabila keadaan mendesak, mereka dapat be'rgabung untuk menghadapi tawan,.

Pelajar berpakaian hijau itu ternyata hanya maju beberapa langkah. Kemudian dia menghentikan gerakan kakinya Kipas di tangannya digoyangkan perlahan.

"Kalian semua mundur," katanya tenang Suarartya tidak keras, tapi mengandung kewibawaan yang besar Kiuci Lo Han Beng dan lain-lainnya tidak satu pun yang berani membantah Mereka menghentikan langkah kaki serentak kemudian dalam waktu yang bersamaan mereka mengundurkan diri.

Pelajar itu menepuk nepuk kipasnya di depan dada Kepalanya menggeleng beberapa kali.

"Kalian berhenti'" bentaknya tjbatiba Siang si suangse mendengar suara bentakan pelajar lersebut Keduanya melesat ke udara dan melayang lurun kembali di sampingnya Pada saal itu, kenngat sudah membasahi seluruh tubuh Kan Si Tong Nafasnya tersengal-sengal Kentara sekali bahwa dia sudah menguras banyak tenaga untuk menghadapi kedua iblis lersebut.

Pelajar berpakaian hijau melirik ke arah Siang si suang se sekilas. "Kalian juga mundur " katanya dengan suara lembut.

Bun Pao Ying dan Bun Lui Ying menarik nafas panjang llmu Ciang si kang ditarik kembali. Setelah itu, lanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka mengundurkan diri dan membaur dengan rekanrekan yang lain.

Dengan suara rendah Hui hung gisu membisiki Wi Ting sin tiaw ..

"Beng to heng, sekarang kau harus meng gantikan Kan loheng Tampaknya dia tidak sanggup melawan musuh Lintuk sementara ini Beng toheng sebagai kuncu sudah saatnya memunculkan diri.

Wi Ting sin tiaw menganggukkan kepala nya Tubuhnya melesal ke depan "Kan To heng, kau harus masuk dan beristirahal sejenak," kalanya.

Kan Si Tong langsung mengundurkan diri ke dalam goa. Namun dia masih sempat berkata dengan suara berbisik.

"Harap Beng to heng hatihati Orang itu tidak dapal dianggap remeh ".

"Jangan khawatir. Heng te mempunyai cara untuk menghadapinya ." sahut Wi Ting sin liaw.

Sementara itu, si pelajar berpakaian hiJau sudah melangkahkan kakinya sampaj jarak kurang tebih tiga depa 'dengan mulul goa.

Dia berhenti di tempat tersebut. Matanya mengedar sekeiap kemudian berhentt pada diri Wi Ting sin tiaw. Dia merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura.

"Entah siapa nama kojin yang menyambul maalkan apabila pandangan cayhe masih celek," katanya dengan nada angkuh.

Wi Ting sin liaw segera merangkapkan tangannya membalas penghormatan pelajar tersebut.

"Lao siu Beng To jin dari Liok Hap bun Entah apa sebutan saudara yang mulia?" Wi Ting sin tiaw senga;a menyebut Liok Hap bun dengan suara keras Dia berharap dapal menyelidiki asal usul pelajar itu.

Pelajar itu mengembangkan seulas senyuman.

"Cayhe Cu Tian Cun " Ternyata dia hanya menyebutkan namanya saja. Sekali lagi Wi Ting sin tiaw menjura dalam-dalam.

"Rupanya Cu Taihiap Lao siu sudah lama mengagumi nama besarmu ". Cu Tian Cun tertawa dingin.

"Beng taihiap tidak usah sungkansung kan Cayhe baru pertama kali berkecimpung di dunia kangouw.".

Beng To jin memperhatikan pelajar itu le katlekat Orang ini selalu tersenyum apabila berbicara Kata-katanya juga diucapkan de ngan tenang Bahkan ada kesan seperti orang yang santai. Tidak seperti sedang menghadapi musuh Memang kalau ditilik dan penampilannya Cu Tian Gun ini tidak minp orang kangouw. Tapi kalau melihat kenyataan bahwa dia sanggup memimpin segerombolan tokoh dunia hitam seperti orangorang'yang datang bersamanya mau tidak mau timbul kecurigaan yang dalam di hati Wi Ting sin tiaw Setelah tertegun se jenak, Wi Ting sm tiaw menenangkan perasaannya. Dia sengaja mengembangkan seulas senyuman ramah.

"Justru Cu taihiap terfalu sungkan Dengardengar, jabatan Cu taihiap adalah Cong huhoat Bolehkan Lao siu tahu, partai mana yang dnkuti oleh Cu taihiap?".

Bibir Cu Tian Cun tetap tersenyum Kipas di tangannya juga tidak berhenti bergerak.

"Harap Beng taihiap sudi memaafkan Partai kami belum bisa dikenalkan pada umum pada saat ini Tentu cayh'e mempunyai kesulitan yang tidakdapatdiuraikan Pada pertemuan di Oey san nanti, kalian dengan sendirinya akan tahu Toh, waktunya'tidak berapa lama lagi," sahutnya sopan.

"Kalau begrtu maksud kedatangan Cu taihiap ini. ".

'Cayhe merasa waktu pertemuan tidak berapa lama lagi Antara pihak kami dengan beberapa partai besar tidak ada permusuhan apa-apa Kedua pihak mempunyai cara masing masing dalam menghadapi lawan Itulah sebabnya cayha bergegas kemari agar tidak terjadi kesalahpahaman Harap cuwi bersedia meninggalkan goa tersebut. Karau bisa tidak saling melukai adalah hal yang terbaik".

Wi Ting sin tiaw tertawa terbahak-bahak.

"Seandainya Cu taihiap merasa bahwa kedua pihak tidak boleh terjadi pertarungan, apalagi saling melukai dan menyuruh kami memnggalkan goa ini, bagaimana kalau Laoi siu sekarang meminta kalian saja yang pergi| dan sini, bukankah dengan demikian sama saja? Lao siu yakin tidak ada orang yanc, hsndak menghalangi". Wajah Cu Tian Cun yang tampan perj lahaniahan berubah.

"Cayhe mengharap cuwi akan memperj timbangkannya kembali" u]arnya dingin.

"Lao siu juga harap pihak Cu taihiap ber sedia mempertimbangkan sekali lagi” sahut Wi Ting sin tiaw.

"Cayhe sama sekali tidak perlu mempertimbangkannya," kata Cu Tian Cun.

"Nada bicara orang ini angkuh sekali," pikir Wi Ting sin tiaw dalam hati Di luar dia tetap mengembangkan tawa lebar.

"Kata kata Cu taihiap ini rasanya kurang adil Mengapa kami harus mempertimbang kannya sedangkan pihak Cu {aihiap tidal' perlu?".

Cu Tian Cun memperhatikan Wi Ting sin tiaw sekilas.

"Cayhe menyuruh kahan meninggalkan goa tersebut adalah demi kebaikan kalian sendiri," katanya tenang.

"Apa maksud ucapan Cu taihiap ini?".

"Karena kali ini cayhe yang datang sendiri," sahut Cu Tian Cun angkuh.

"Kalau Cu taihiap yang datang sendiri, lalu kenapa'?" tanya WiTing sin tiaw seakan tidak mengerti.

Cu Tian Cun tersenyum manis.

"Apakah Beng taihiap benar-benar tidak mengerti?". Wi Ting sin tiaw menggelengkan kepalanya.

"Cara bicara Cu taihiap agak berbelitbelit Lao siu benar benar tidak mengerti.".

"Baiklah " Cu Tian Cun menarik nafas pan|ang 'Aku orang she Cu sudah datang kemari Kalau kalian ingin meninggalkan goa ini dengan cara paksa, apakah kalian merasa ada kesanggupan berbuat demikian'"'.

Wi Ting sin tiaw tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha " Sejenak kemudian dia baru menghentikan suara tawanya Wajah nya berubah senus. "Nada bicara Cu taihiap ternyata cukup besar. Lao siu sudah berkefana di dunia kangouw selama puluhan tahun, tapi baru kalt mendengar orang berkata demikian".

Sikap Cu Tian Cun tetap tenang.

"Aku orang she Cu selamanya tidak suka menggertak orang Lebih baik Beng taihiap masuk kembali ke dalam goa dan merundingkan masalah ini dengan rekan yang lainnya".

Wi Ting sin tiaw tersenyum.

"Kalau ingin Lao siu masuk ke dalam goa dan marundingkan masalah ini dengan rekan yang lainnya, tentu boleh saja. Tapi Lao siu tetap ingin melihat apakah permintaan Cu taihiap pantas atau tidak ".

"Bagaimana cara mengetahui pantas atau tidaknya?".

"Maafkan kekasaran Lao siu yang bodoh ini Tapi Lao siu ingin memmta pelajaran barang beberapa jurus dari Cu taihiap.".

"Bagus sekali!" Cu Tian Cun menggoyangkan kipas di tangannya "Kalau Beng taihiap ingin menguii orang she Cu im silahkan turun tangan" Sikapnya begitu tenang seakan dia yakin sekali dengan kepandaian yang dimilikinya.

"Tunggu dulu'" Hui hung gisu Lu Hui Peng segera melesat keluar. Dia mengedipkan matanya kepada Wi Ting sin tiaw. Kemudian dia menoleh kembali ke arah Cu Tian Cun Bibirnya mengembangkan seulas senyuman "Beng lo heng adalah kuncu kami. Pinto yang semestinya minta pelajaran terlebih dahulu dari Cu taihiap." Dia merandek sejenak "Oh ya, orang tua memang kadangkadang suka pikun Pinto adalah Lu Hui Peng dan Ciong lam pai Harap Cu taihiap jangan Sungkan-sungkan".

"Cring!" pedang panjangnya segera dihunus Tampaknya HU| hung gisu ini tidak ingin memberi kesempatan kepada Cu Tian Cun untuk menolaknya Wi Tmg sin tiaw sebetulnya ingin mencegah Tapi pedang rekannya sudah dicabut, tentu dia tidak enak hati berkata apa-apa lagi. Dia hanya mengerahkan lima Coan im jut bit untuk memperingatkan Lu Hui Peng.

"Lu toheng orang ini sangat mistenus Nada bicaranya besar sekali. Tampaknya dia mernpunyai kebiasaan yang mengejutkan. Kalau tidak, para tokoh golongan sesat itu tidak mungkin bersedia mendengarkan kata-katanya Harap Lu toheng hatihati".

Lu Hui Peng menganggukkan kepalanya. Dia menjawab dengan cara yang sama.

"Pinto akan perhatikan kata kata Beng toheng. Ketika kami bergebrak nanti, harap Beng toheng lihat baikbaik jurus yang di mainkannya Dengan demikian kita bisa tahu asalusul orang ini".

Cu Tian Cun menatap Hui hung gi su dengan sinar mata tajam.

"Kalau Lu totiang ingin meminta pelajaran dari cayhe, mengapa masih belum turun tangan juga?" tanyanya dengan nada dingin.

"Cu taihiap, silahkan!" kata Lu Hui Peng.

Cu Tian Cun menggelengkan kepalanya perlahan. Dengan gaya santai dia tersenyum. "Selama bergebrak dengan siapa pun orang she Cu ini belum pernah turun tangan terlebih dahulu Lu totiang silahkan mulai saja.".

"Baiklah, daripada membantah lebih baik menurut Kalau begitu, Pinto harap Cu taihiap keluarkan senjata sekarang ".

Cu Tian Cun menggerakkan kipas yang terbuat dan tulang bambu yang ada.d?ta ngannya. Orang ini benar-benar tidak bo sanbosannya tersenyum.

"Pedang pusaka cayhe tidak pernah sembarangan dihunus Sekali keluar pasti lawan akan terluka parah Lu totiang toh hanya ingin meminta pelajaran Biar cayhe sambut beberapa jurus permainan Lu totiang dengan kipas ini saja," sahutnya angkuh sekali.

Mendengar nada pembicaraannya, Hui hung gisu tahu bahwa orang ini benar-benar tidak memandang sebelah mata kepadanya Tak urung hatinya marah juga Dia meng anggukkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Cu taihiap tnemang orang yang suka berterus terang Baik' Pinto juga tidak perlu sungkan sungkan lagi".

Lu Hui Peng memang tidak maiu disebut sebagai tokoh angkatan tua Ciong lam pai Meskipun hatinya marah sekali, tetapi penampilannya tetap tidak berubah Dia tidak membuat malu dirinya sendiri sebagai seorang tokoh yang disegani dan Ciong lam pai Ucapannya selesai, pedangnya langsung direntangkan di depan dada kemudian perlahan lahan dia mengulurkannya ke depan.

Jurus ini merupakan gerakan pembukaan dan Ciong lam kiam hoat yang bernama It kiam cao tian Gerakan pembukaan Ciong ham kiam hoat tidak sama dengan jurus pembukaan ilmuilmu dari partai lam Kalau gerakan pembukaan dan partai lain hanya merupakan sambutan terhadap serangan lawan Sedangkan jurus pembukaan dan Ciong lam kiam hoat mencakup tiga ratus enam puluh satu jurus berikutnya.

Ciong lam kiam hoat terkenal kecepatannya di dunia bu lim. Begitu dikerahkan, tiga ratus enam puluh satu jurus lainnya akan mengalir seperti air sungai yang deras bergerak sejauh seribu li. Satu Jurus demi satu jurus terus berubah bagai tidak dapat dibendung lagi.

Setelah uraian di atas kita lanjutkan kembali kisah yang tertunda Saat itu Lu Hui Peng telah menggerakkan pedangnya Titiktitik sinar memercik Jurus pembukaan It kiam cao tian atau Sebatang Pedang Menyapa Langit sudah mulai dimainkan Di pi hak lam, Cu Tian Cun masih berdiri tegak dan memandang lawannya dengan tenang Gayanya demikian santai tidak memmbulkan kesan seperti orang yang sedang menghadapi musuh Kipas di tangannya terus digoyanggoyangkan. Dia malah lebih mirip seorang penonton yang menyaksikan keramaian dari samping.

Lagaknya memang terlalu sombong dan tidak memandang sebelah mata kepada Lu Hui Peng. Hati tosu itu panas sekali Setidaknya, dia merupakan angkatan tua yang mempunyai nama di dunia kangouw Tokoh-tokoh angkatan tua saja masih menghargamya. Diam-diam dia memaki di dalam hati.. "Bocah kurang ajar' Aku, Lu Hui Peng, sudah berkecimpung di dunia kangouw selama puluhan tahun tapi tidak pernah menemukan orang yang demikian sombong seperti engkau ini. Han ini aku harus memben pelajaran kepadanya agar tahu rasa ".

Dengan membawa pikiran seperti itu. tiba-tiba gerakan tubuhnya men|adi cepat Pedangnya diputar beberapa kali lalu meluncur ke arah Cu Tian Cun Di wajah pemuda itu langsung timbul seulas senyuman yang angkuh dan dingin Dia sama sekali tidak menghfndarkan diri atau pun menangkis serangan tersebut Dia masih saja berdiri tegak seperti tidak ada apa pun yang terjadi Hanya matanya saja yang menatap lekatlekat ke arah pedang yang sedang mengancam dirinya.

Jarak di antara mereka sudah sedemikian dekat. Jangan kata jago kelas satu seperti Lu Hui Peng yang meiancarkan serangan, pesilat biasa sekalipun mestinya sudah mempersiapkan diri untuk menghindar atau menangkis. Cu Tian Cun menunggu sampai pedang Lu Hui Peng hampir menyentuh ujung bajunya baru menggeser tubuhnya sedikit. Kipas di tangannya bergerak perlahan dengan gaya yang membingungkan Tahutahu kipasnya telah mengetuk tubuh pedang Lu Hui Peng.

Terdengar suara.

"Trak!" Meskipun gerakannya perlahan sekali, tetapi kejadiannya sangat cepat Jucus yang dikerahkan oleh Lu Hui Peng adalah Po liong ji sim atau Naga sakti merenggut hati Jurus ini cepat sekali sehingga pedang yang digunakan tosu tersebut memi|arkan ribuan titik sinar Tapi Lu Hui Peng melihat Cu Tian Cun masih menggerakkan kipasnya dengan tenang Seperti tidak ada maksud menangkis serangannya sama sekali.

Bagaimana pun Lu Hui Peng adalah tokoh aliran lurus Tidak mungkin dia akan melukai musuhyang tidak mengadakan perlawanan sama sekali. Rupanya hal itu sudah berada daiam dugaan Cu Tian Cun Lu hui Peng pasti.menarik pedangnya kembali Ternyata benar saja Baru pedangnya ditarik, sedikit, tahutahu kipas Cu Tian Cun sudah bergerak dan mengetuk tubuh pedang di tangannya.

Hati Lu Hui Peng semakin kesal.

"Apa maksud Cu taihiap berbuat demikian?" tanyanya dingin "Pedang tidak bermata, mana boleh dianggap sebagai permainan Apalagi Pinto tadi tidak keburu menarik kembali pedang pusaka ini ".

Cu Tian Cun tetap tersenyum Matanya memandang Lu Hui Peng dengan seksama Tanpa menunggu tosu itu menyelesaikan perkataannya, dia sudah menukas ,.

"Ternyata Lu totiang benar-benar seorang laki-laki sejati. Jarak pedang dengan tubuh orang she Cu ini masih ada dua cun lebih, tapi karena tidak sampai hati, pedang itu ditarik kembali" Dia berhenti sejenak dan tersenyum "Sebetulnya Lu totiang harus mengerahkan jurus Po liong JI sim itu sampai selesai Cayhe benar-benar ingin tahu apa kah jurus itu sehebat namanya dan dapat merenggut hati cayhe'?".

Mendengar kata-kata, Lu Hui Peng men jadi tertegun, orang orang Ciong lam pai jarang berkelana di durna kangouw Otomatis Ciong lam kiam hoat belum banyak dilihat orang Para tokoh bu lim juga jarang yang bisa menyebutkan nama jurus dan ilmu Ciong lam kiam hoat mereka Tetapi Cong hu hoat dan perkumpulan yang mistenus ini da pat menyebutkannya hanya dengan sekali lihat sa|a Kalau ditilik dari usianya, Cu Tian Cun pasti belum mencapai angka tiga puluh Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau jurus yang dimainkan oleh Lu Hui Peng adalah Po liong ji sim dan Ciong lam kiam hoat "?.

Hm dia malah meminta Lu Hui Peng memainkan jurus itu sampai selesai untuk membuktikan kehebatannya Bukankah ini berarti bahwa dia benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada Hu hung gisu? Lu Hui peng merasa hawa amarah di dada nya hampir meledak.

'Baik' Kalau begitu biar Bu taihiap mencobanya sekali lagi!" bentaknya garang. Pergelangan tangannya langsung memutar Ribuan titik sinar kembali memijar. Gerakannya secepat kilat Kali ini dia mengancam urat nadi di bagian bahu kiri Cu Tian Cun. Tubuh lawannya tetap tidak bergerak, tapi cara turun tangannya lebih cepat dan pada Lu Hui Peng. Tidak terlihat bagaimana tangannya bergerak, tapi tahu-tahu terdengar suara.

"Trak'" Kipasnya telah membentur pedang di tangan Lu Hui Peng.

Sebetulnya kipas Cu Tian Cun hanya membentur tangan di pedang Lu Hui Peng suaranya bahkan hanya seperti ketukan pintu saja. Tapi bagi Lu Hui Peng tentu tidak sama. Begitu kipas tersebut mengenai pedangnya, dia merasa getaran yang hebat sehingga pergelangan tangannya terguncang. Hampir saja pedangnya terlepas dari tangan. Dia merasakan tekanan yang berat pada pedangnya itu Hatinya terkejut sekali. Cepat-cepat ditariknya pedang itu ke belakang.

Matanya mengedar. Dia melihat Cu Tian Cun masih berdiri di tempat semula dengan bibir tersenyum Dia juga tidak membalas menyerang Hati Lu Hui Peng hampir tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya Pedangnya kembali direntang di depan dada Matanya menatap lawan di hadapannya lekat-lekat.

Tiba tiba sepasang kakinya dihentakkan, tubuhnya melesat ke udara setinggi tiga depa pergelangan tangan kanannya digetarkan Segurat cahaya panjang berkelebat Cahaya pedangnya menebas dan arah kepala Cu Tian Cun ke bawah.

Jurus ini bernama Sin liong tou can atau Naga sakti berkelahi. Jurus ini juga merupakan salah satu jurus dari tiga macam ilmu andalan Lu Hui peng yang membuat namanya terangkat di dunia kangouw Kalau bukan berhadapan dengan lawan yang benar-benar tangguh, dia ]arang mengerahkannya. Tapi keadaan malam ini tampaknya kurang menguntungkan baginya Mau tidak mau dia harus mengeluarkan ilmu simpanannya itu.

Wajah Cu Tian Cun masih dipenuhi senyuman Matanya menatap pedang Lu Hui Peng yang meluncur mendahului tubuhnya. Sampai pedang Lu hui Peng sudah hampir mengenai tubuhnya, baru dia menggeser sedikit untuk menghindar.

Tangan kanan mengibas, kipas langsung bergerak menahan serangan Lu Hui Peng. "Mengingat kemurahan hati totiang yang menarik kembali pedang di tengah jalan, cayhe juga tidak akan berlaku kejam," katanya datar.

Tubuhnya hanya bergeser sedikit. Dengan ajaib dia dapat menghindarkan diri dari serangan Lu Hui Peng. Tepat pada saat itu juga kipasnya bergerak menahan serangan pedang tosu tersebut. Hui hung gisu hanya merasakan pedangnya tergetar. Ketika itu tubuhnya masih melayang di udara, dia tidak bisa mengerahkan tenaga dalamnya Otomatis tubuhnya ikut tergetar bahkan terpental ke betakang Lu Hui Peng terjatuh di atas tanah dengan keras Hampir-hampir dia tidak bisa bangkit dengan tegak.

Berusaha dia mendengar dengan jelas sekali bahwa lawannya mengmgat kemurahan hatinya ketika menarik pedangnya kembali yang sudah meluncur setengah jalan. Oleh karena itu sekafang dia juga tidak berlaku kejam Hal ini membuktikan bahwa sebetulnya bisa saja dia melukai Lu Hui Peng dengan parah tapi dia menunjukkan hatinya yang besar Benar-benar orang yang sombong sekali.

Begrtu malunya Lu Hui Peng sampai sampai dia tidak sanggup mengatakan apa apa Pada jurus pertama memang dia sendiri yang menarik pedangnya kembali Jurus kedua ini dia baru benar benar turun tangan menyerang Belum apa-apa dia sudah dibuat terpental ke belakang dengan cara yang benar-benar memalukan. Padahai saat itu dia baru mulai mengerahkan jurusnya yang ketiga.

Tiga jurus ini sebenarnya malah belum bergebrak dengan lawan dalam arti sesungguhnya Pihak lawan malah belum memainkan satu jurus pun, tapi dia sudah tidak berhasil didesak mundur dengan cara sedemikian mengenaskan.

Bahkan Wi Ting sin tiaw yang berdiri di mulut goa dan menyaksikan kejadian itu membelalakkan matanya lebar lebar Hati' nya tergetar juga Bayangkan saja Hui hung gisu bukan saja angkatan tua dan Ciong lam pai, malah dia juga mempunyai nama yang cukup menonjol di antara delapan partai besar Tetap! hanya dengan dua kali gerakan biasa saja, la sudah berhasil dilemparkan oleh Cu Tian Cun Gerakan pelajar ini pun sangat aneh Tidak sempat terlihat dia menggerakka? tangannya ataupun jurus yang dimainkannya.

Meskipun hatinya sangat terkejut, tetapi kenyataannya memang sudah demikian Te tap saja tidak dapat diubah lagi. Maka terpaksa dia mengeraskan hati dan tertawa terkekeh kekeh.

'Lu toheng kalah atau menang dalam suatu pertarungan adalah hal yang lumrah Kau sudah mengerahkan tiga jurus Sekarang sudah seharusnya kembali ke tangan heng te yang meminta pelajaran dari Cu taihiap ini ".

"Lu Hui Peng menyimpan pedangnva kembali Dia menjura kepada Wi Ting sin tiaw Kemudian menjura lagi kepada Cu Tian Cun.

"Tenma kasih atas kemurahan hati Cu ?aihiap Pinto mengundurkan diri," katanya. Cu Tian Cun sambil tersenyum simpul. "Lu totiang, silahkan ".

Ketika Lu Hui Peng mengundurkan diri dengan langkah perlahanlahan, WiTing sin tiawmengerahkan ilmu coan im jut bit untuk berbisik kepadanya...

"Kalau Lu toheng sudah kembali ke dalam goa, harap cepatcepat katakan kepada Ciek congkoan agar bersiapsiap. Hengte tahu bukan tanaingan orang she Cu itu Pada saat Beng cu meminum obat penawar dan menghimpun kembali tenaga murninya, kita masih belum tahu asli atau palsunya orang itu. Dalam keadaan terpaksa kita harus menjaga di tengah goa.".

Ketika Wi ting sin tiaw membisiki Lu Hul Peng dengan ilmu Coan im ]Ut bit, tokoh tokoh hitam yang mengiringi Cu Tian Cun seperti Kiuci 1o han Kong Beng, Siang si suangse, Huemo li Cu Kiau Kiau Pekpo sin cian Yan Kong Kiat, Goca cin jin Bun Tian Hong bahkan Long san it suo Yi hfti memandang dengan tertegun Mereka ha nya tahu bahwa Cu Tian Con merupakan suami Toa kiongcu yang benlmu sangat ting gi Mereka juga tahu bahwa Cu Tian Cun sangat cerdas dan berpengetahuan luas Oleh karena itulah dia mendapat kepercayaan penuh dari Lo sin sian. Ini juga merupakan satah satu sebab merekatidak berani membantah perintah orang dengan dandanan pelajar itu Tapi sampai di mana sebenarnya katinggian ilmu silat yang dimiliki Cong huhoat ini? Tidak ada seo.rang pun yang tahu.

Malam ini, mereka semua telah melihatnya.dengan mata kepala sendiri Seorang tokoh yang namanya menonjol di antara delapan partai besar seperti Lu Hui Peng dari Ciong lam pai dapat dikalahkan bahkan langsung mengundurkan diri tanpa mengerahkan sejurus pun ilmu yang dimilikinya Hal ini membuktikan bahwa ilmu silat Cong huhoat ini sudah mencapai taraf yang tidak terukur Hanya sehariharinya dia pandai menutupi kepandaiannya saja.

Sinar mata Cu Tian Cun mengedar Kemudian berhenti pada waiah Wi ting s'in tiaw. "Dengan cara apa Beng taihiap ingin menguji cayhe?" tanyanya tenang.

Wi Ting sintiaw tidak langsung menyahut. Diamdiam dia berpikir dalam hati "Tadi Lu toheng sudah bergebrak dengannya Tidak sampai tiga jurus sudah berhasil dikalahkan.

Sedangkan ilmu pedang yang aku kuasai tidak jauh berbeda tarafnya dengan Lu toheng. Kalau ingin memenangkan perta rungan dengan orang she Cu ini, rasanya tidak mungkin Lebih baik aku mencobanya dalam ilmu tin|U serta telapak tangan Usia nya masih muda. Mungkin tenaga dalam yang dilatihnya belum mencapai tahap diriku sendiri." Pikirannya segera tergerak, bibirnya mengembangkan seulas ssnyuman.

"Anggaplah Lao siu tidak tahu kekuatan sendiri ingin meminta pelajaran barang sepuluh jurus kepada Cu taihiap Sekarang yang Lao siu inginkan adalah dalam hal mengadu telapak tangan dan tin|U Entah Cu taihiap keberatan atau tidak'?".

Cu Tian Cun menganggukkan kepalanya dengan bibir tetap tersenyum. "Baik. . Beng taihiap boleh langsung mulai.".

Kerutan di wajah Wi Ting sin tiaw semakin terlihat jelas apabila tersenyum Dia juga menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Kalau begitu Lao siu tidak sungkan lagi.".

Tubuhnya langsung berkelebat Kece patannya bagaikan angin Sepasang telapak tangannya digosokgosokkan di depan dada Terdengar suara desahan yang semakin lama semakin keras. Tangan kiri tiba-tiba terulur dan telapak tangan kanan letap pada posisi semula.

Jurus ini bernama Llng hou se jiu atau Kera sakti membasuh tangan. Kalau diperhatik'an, tampaknya tidak ada keistimewaan apa-apa Apalagi jarak antara kedua orang itu cukup jauh Ketika Wi Ting sin tiaw mengerahkan i|mu tersebut, kakinya tidak bergerak Tangannya hanya setengah terjulur atau menekuk Tidak mungkin serangannya dapat mencapai tubuh Cu Tian Cun.

Pelajar itu juga tidak bergeming. Tapi sepasang matanya yang bersinar tajam menatap Wi Ting sin tiaw dengan lekatlekat. Tampaknya dia sudah dapat melihat bahwa jurus yang dikerahkan oleh Wi Ting sin tiaw itu mengandung banyak perubahan. Perlahan namun dahsyat.

Wi Tmg sin tiaw baru mengerahkan setengah jurusnya saja, otomatis setengah jurus yang belakangan akan menyusul tiba Ter" lihat sepasang kaki orang itu tiba-tiba dihentakkan Tubuhnya pun langsung menerJang datang.

Kembali terdengar suara. "Srettt!" Telapak tangan kirinya ditarik kembah secara mendadak Dengan kecepatan kilat telapak tangan kanannya terulur dan meluncur ke arah bahu kin' Cu Tian Cun. Sementara itu, jan tengah dan telunjuk sebelah kiri langsung terulur menotok salah urat nadi bahu kanan Cu Tian Cun.

Melihat gerakan Wi Ting sin tiaw yang begitu cepat, Cu Tian Cun sudah bersiap diri. Tubuhnya yang sejak tadi berdiri tegak tiba-tiba menggeser kakinya ke belakang setengah langkah Gerakannya itu biasa-biasa saja. Tapi kedua serangan Wi Ting sin tiaw luput seketika. Tapi rupanya tindakan orang tersebut sudah berada dalam dugaan Wi Ting sin tiaw. Tubuhnya mendadak merandek maju dan kedua jari tangannya kembali menotok.

Cu Tian Cun memang tidak malu diangkat sebagai Cong huhoat sebuah perkumpulan yang misterius Melihat serangan Wi Ting sin tiaw itu, tubuhnya langsung memLJtar dan iengan bajunya dikibaskan.

Sapuan lengan bajunya begitu perlahan.

Orangorang yang menyaksikan pertarungan itu mengira dia hanya sembarangan menangkis serangan Wi Ting sin tiaw. Kenyataannya tidak demikian. Kibasan lertgan bajunya itu khusus untuk menahan serangan totokan jari lawannya Tahipaknya memang biasabiasa saja Tapi justru di saat yang tepat dia memutar tubuhnya kembali dan kipas di tangannya langsung menepuk bahu Wi Ting sin tiaw. Rupanya dia sudah memperhitungkan dengan tepat Sampai kipas lawan mengenai bahunya, Wi Ting sin tiaw baru menyadari Gerakan Cu Tian Cun begitu tidak terduga, sehingga jangan kata balas menyerang, bahkan dia tidak mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri lagi Cu Tian Cun hanya memberinya satu pilihan Meskipun dengan nekat mungkin dia bisa menggeser sedikit tubuhnya tetapi siapa yang dapat memastikan kalau tangan lawannya yang satu lagi tidak akan menggunakan kesempatan itu untuk menghantam dadanya Kalau dia berbuat demikian, kemungkinan dia akan dikalahkan dengan cara yang lebih mengenaskan Wi Ting sm tiaw tidak sempat berpikir pan|ang. Kakinya sudah terlanjur menutul ke depan Pada saat kipas Cu Tian Cun menepuk behunya, dia hanya merasakan sekumpulan hawa panas dan pedih merasuk ke dalam daging.

Wi Ting sin tiaw takut Cu Tian Cun tidak sudi melepaskannya begitu saia Cepatcepat dia menghentakkan kahnya di atas ta nah dan berjungkir balik di udara Kemudian dia melayang turun melewati kepala orang itu Setelah itu dia menolehkan kepalanya Terlihat Cu Tian Cun masih berdiri tegak dengan bibir tersenyum Tampaknya dia tidak berniat meneruskan penyerangannya tarhadap WiTing sin tiaw.

Baru jurus pertama saja, orang itu sudah berhasil menepuk bahunya dengan sebatang kipas. Bagaimana perasaan Wi Ting sin tiaw tidak tergetar? Bahkan wajahnya merah padam menahan rasa malu.

Cu Tian Cun menatap Wi Ting sin tiaw lekatlekat. Mulutnya terbuka sedikit seakan ingin mengetakan sesuatu. Tapi tiba-tiba dia mengatupkan bibirnya kembali Matanya melirik ke bawah. Tampak sebuah lubang kecil di bagian tengah lengan bajunya yang dikibaskan tadi Hal ini membuktikan bahwa totokan Wi Ting sin tiaw tadi juga berhasil mengenai lengan bajunya Kalau saja gerakannya kurang cepat....

Wajah Cu Tian Cun yang tampan perlahanlahan berubah Sekejap kemudian tersenyum lagi.

"Beng taihiap ternyata bukan sembarang Jago Llok hap sin ci alias Jari sakti Liok hap memang tiada duanya di kolong langit. Malam inf cayhe benar-benar telah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri,1' katanya.

Rupanya jiwa orang inl cukup besar Lengan bajunya tertotok oleh ilmu jari sakti Wi Ting sin tiaw sehingga berlubang Kalau dia sendiri tidak mengatakannya, Jangan kata para penonton yang menyaksikan pertarungan disana,Wi Ting sin tiaw sendiri pun tidak merasakannya sama sekali.

Wajah Wi Ting sin tiaw semakin rrierah. Dia segera men|ura dalam-dalam. "Cu taihiap terlalu memandang tinggi diri Lao siu," sahutnya berbasa-basi.

Cu Tian Cun seakan tahu bahwa masih ada katakaia yang diucapkan olehnya. Dia tidak memberi kesempatan kepada Wi Ting sin tiaw. Dia sendiri yang melanjutkan ucapan orang itu.

"Dalam iurus pertama ini anggaplah kedudukan klta seimbang. Kau masih mempunyai sembilan jurus untuk membuktikan kehebatanmu " Ketika berbicara, sepasang matanya bersinar tajam menatap ke arah Wi Ting sin tiaw Di antara kedua alisnya langsung terlihat hawa pembunuhan yang tebal.

Melihat keadaan lawannya hati Wi Ting sin tiaw tergetar. Diamdiam dia berpikir:.

"Ternyata totokanku tadi sempat membuat lengan bajunya berlubang Hal ini membangkitkan hawa pembunuhan pada diri orang ini Sebaiknya aku lebih berhatihati menghadapinya.".

Pikirannya tergerak, jurus yang dikerahkannya lebih senus lagi Dia memusatkan segenap perhatiannya. Sepasang telapak tangannya dirangkapkan di depan dada Dia menghimpun hawa murm Liok Hap bun agak seluruh tubuhnya terlindung. Sepasang kakinya lalu bergerak bergantian Sepasang telapak tangannya memutar membuat gerakan yang berubahu'bah. Kedua jari tangannya langsung terutur ke depan Sekaligus dia melancarkan tiga buah serangan.

Tiga buah serangan tersebut dilanca'rkan dengan gencar Boleh dibilang dia telah mengerahkan segenap hawa murni yang telah dilatihnya selama ini Angin yang ditimbulkan oleh kedua jari tangannya keras sekali. Kecepatannya juga sulit diuraikan dengan kata-kata.

Cu Tian Cun memperdengarkan suaratertawa lembut. Tidak terlihat kakinya menulul, hanya tubuhnya yang langsung melayang ke udara. Gerakannya seperti mengikuti arah angin Telapak tangannya menimbulkan suara menderuderu Tapi baik lengan baju maupun pakaiannya sama sekalj tjdak berkibar Tubuhnya melayang melewati slsi kanan bahu Wi Ting sin tiaw Tiba-tiba jari tangannya mengulur. Dengan kecepatan seperti kilat menyambar, dia menotok tulang persendian bahu kanan Wi ting sin tiaw.

Tiga jurus belum lagi selesai dimainkan oleh Wi Ting sin tiaw, mendadak dia merasakan seperti sebaiang jarum menusuk tulang persendiannya, bahu kanannya langsung terasa kebal Otomatis lengannya terkulai ke bawah Hatinya terkejut sekali. Cepatcepat dia melesat mundur.

Sementara itu Cu Tian Cun sudah melayang turun kembali ke tanah. Dengan gaya tenang dia mengibaskan kipas di tangannya Mulutnya masih ]uga mengembangkan seulas senyuman.

"Apakah Beng taihiap masih mempunyai kekuatan untuk meneruskan pertarungan ini?" tanyanya dengan nada yang lebih mirip sebuah sindiran tajam.

Sejak semula Wi Ting sin tiaw sudah menduga bahwa ilmu orang ini sangat tinggi. Namun bagaimana pun dia tidak mengira bahwa dirinya bisa dikalahkan dalam dua jurus sa]a. Saat itu lengan kanannya sudah semakin kebal. Dia bagaikan orang cacat yang tidak merasakan apa-apa Bagaimana mungkin dia masih bisa meneruskan pertarungan tersebut?.

Rasa terkejutnya kali ini lebih parah dari luka yang diderita oleh lengan kanannya Tapi setelah mendengar ucapan Cu Tian Cun, tiba-tiba pikirannya seperti terbuka Bagatmana pun dia merupakan seorang tokoh lama yang sudah banyak pengalaman di dunia kongouw Dia dapat melihat bahwa Cu Tian Cun yang menjabat sebagai Cong hu hoat ini merupakan orang yang kedudukannya paling tinggi dari pihak lawan.

Pandangannya terhadap diri sendiri juga otomatis sangat tinggi.

Mendengar pertanyaan Cu Tian Cun, sudah cukup bagmya untuk menilai orang tersebut. Dia tidak mungkin menggunakan kesempatan ketika dirinya sedang di atas angin maka sengaja mendesak lawannya. Dengan demikian, asal Wi Ting sin tiaw bisa melayanmya dengan baik, maka dla mempunyaf cukup waktu untuk merencanakan hal lainnya.

Oleh karena itu dia sengaja mendekap bahu kanannya dan tertawa getir.

"llmu silat Cu taihiap lernyata tinggi sekali Hal fm mau tidak mau harus diakui oleh Lao siu," katanya.

Maksud Cu Tian Cun juga asal lawannya sudi mengaku kalah Hatinya menjadi senang Bibirnya tersenyum.

"Bagus. Kalau begitu cayhe terpaksa merepotkan Beng laihiap agar masuk ke dalam goa dan rundingkan baikbaik dengan rekanrekan yang lain Harap kalian bersedia meninggalkan goa ini maka kedua pihak ti" dak perlu timbul sengketa yang lebih berlaruMarut," sahutnya santai.

Wi Ting sin tiaw menganggukkan kepalanya berkali-kall.

"Lao siu akan menyampaikan kata-kata Cu taihiap inl kepada rekanrekan yang lam." Dia berhenti sejenak, "Nanti Lao siu akan mengabarkan kepada Cu taihiap apa hasil rundingan kami".

"Baik Cayhe akan memberi waktu sepembakaran sebatang hio. Silahkan Beng taihiap masuk ke dalam goa sekarang" Dia langsung membalikkan tubuh dan berkumpul dengan para tokoh lainnya.

Wi Ting sin tiaw juga masuk kembali ke dalam goa Kan Si Tong dan Hui hung gisu langsung menyambutnya.

"Beng toheng, bagaimana keadaan lengan kananmu?" tanya Hui hung gisu cemas,. "Bahu kanan hengte tidak apa-apa. Hanya tertotok tulang persendianhya saja ,".

"Biar pinto uruturut sebentar" Selesai berkata, dia langsung mengulurkan tangannya dan mengerahkan tenaga dalam ke arah sepuluh jari lalu mengurut-urut daerah persendian bahu Wi Ting sin tiaw yang tertotok.

"Terima kasih, Kan toheng" Setelah mengucapkan tenma kasih, dia merendahkan suaranya sehingga berupa bisikan "Musuh yang kita hadapi kali ini sungguh berat Terutama orang she Cu itullmu silatnya benar-benar sulit diuraikan dengan kata kata Rasanya di antara kita tidak ada satu orang pun yang sanggup menandinginya. Yang penting sekarang kita harus kembali ke tengah goa dan berjagajaga Kita tidak sanggup menghadapi musuh Untuk sementara sebaiknya men]aga di dalam goa Tunggu sampai Bengcu sudah sadaf kembali dan asli palsunya sudah ketahuan, baru kita rundingkan lagi cara untuk menghadapi rombongan itu,".

Hui hung gisu menatapnya dengan heran.

"Apakah tidak lebih baik kalau kita menJaga di mulut goa saja? Kalau sampai kita tidak sanggup melayaninya lagi. baru kita masuk ke dalam dan menjaga di tengahtengah goa, toh belum terlambat Mengapa kita harus meninggalkan mulut goa?" tanyanya penasaran.

"Keadaan di mulut goaterbuka Tidak ada tempat untuk melindungi diri apabila ada bahaya Kalau mereka menyerang beramairamai, kita tentu akan celaka Sedang di tengah goa rasa sempit dan banyak kelokankelokan, lebih mudah bagi kita untuk rnempermainkan musuh dan kita dapat mengulur waktu pula," sahut Wi Ting sin tiaw.

"Baik, kita menjaga di tengah-tengah goa saja," kata t<an Si Tong. Wi Ting sin tiaw menolehkan kepalanya ke arah Bu Cu taisu. "Apakah taisu sudah selesai menghimpun hawa murninya kembali?". Perlahan-lahan Bu Cu taisu membuka matanya.

"Pinceng sudah selesai menghimpun hawa murni Keadaan tubuh juga sudah pulih kembali seperti semula. Apakah Lo sicu ada kata-kata yang ingin disampaikan kepada Pinceng?" tanyanya sambil meloncat berdiri.

Wf Ting sin tiaw yang melihat keadaan Bu Cu taisu sudah pulih kembali merasa hatinya agak lega.

"Di antara rombongan kita tenaga dalam taisu yang pafing tinggi Kita harus menjaga bagian tengah goa Meskfpun ada kemung kinan timbul bahaya yang tidak diinginkan, tapi keadaan taisu sudah pulih kembali Hati hengte juga jadi rada tenang ".

Selesai berkata dia melongokkan kepalanya ke depan goa Entah sejak kapan di tanah datar tempat mereka bertarung tadi telah dinyalakan sebatang hio Hio Ku memancarkan bau harum Sekarang matah sudah terbakar sepertiganya. Wi Ting sin tiaw tahu, apabila hio itu belum terbakar sampai habis Cu Tian Cun tidak mungkin mencan garagara Dia menggerakgerakkan lengan kanannya, terasa rasa sakitnya juga sudah jauh berkurang.

"Kan toheng, hengte sudah merasa baik," katanya Setelah itu dia mengundurkan diri beberapa langkah dan berkata dengan suara rendah. "Urusan kitatjdak boleh ditunda lagi. Cepat masuk ke tengah goa ".

Keempat orang itu tidak banyak bicara lagi, Dengan tergesa-gesa mereka masuk ke dalam bagian tengah goa, Ciek Ban Cing baru mendapat kabar dari Hui hung gisu bahwa di luar goa telah berdatangan serombongan rekan penjahat, ilmu yang dikuasai sangat tinggi. Hui hung gisu juga mengatakan bahwa sementara Bengcu belum tersadar, sebaiknya orang klta tetap menjaga di bagian tengah goa itu.

Ciek Ban Cing menJabat sebagai Congkoan dari Tian Hua sanceng Pengetahuannya luas sekali Dia juga sudah banyak pengalaman. Mendengar kata-kata Hui hung gisu, dia tahu sebabnya Wi Ting sin tiaw memilih meniaga di tengah goa adalah karena keadaan di sana lebih sempit dan berlfkuliku Dengan demikian lebih mudah bagi mereka untuk mengecoh musuh.

Oleh karena itu, sebelum yang lainnya masuk ke bagian tengah goa dia mengajak Song Bun Cun membenahi batubatu ke mudian mengangkat serta menyusunnya di beberapa tikungan yang ada Jadi tempat itu semakin sempit dan rumit apabila musuh ingin menyerang mereka di sana.

Dia juga meletakkan beberapa batu besar di depan mulut goa bagian tengah Mes kipun tumpukan batu itu tidak seberapa tinggi, tapi beratnya bukan main UntuK memindahkannya saja tidak mudah Dia berharap keadaan goa yang gelap dapat membuat musuhmusuh mereka tersandung atau pa" ling tidak sulit menggerakkan kaki tangan mereka.

Wi Ting sin tiaw yang sudah masuk ke bagian tengah goa dan melihat persiapan yang dibuat oleh Ciek Ban Cing serta Song Bun Cun jadi tersenyum simpul.

"Persiapan Ciek Congkoan bagus sekali Kali ini apabila musuh ingin menerjang ma suk tentu mereka menemui lebih banyak lagi kesulitan," katanya memuji.

"Beng taihiap, bagaimana membagi tugas kepada kitakita ini? Kau sebagai kuncu harus mempersiapkannya terlebih dahulu," tukas Bu Cu taisu,.

Wi ting sin tiaw memperhatikan sekelilingnya sejenak.

'Taisu dan Lu toheng menjaga di balik timbunan batubatu itu. Kalau musuh belum mendakat, maka Bu Cu taisu harus menghantamnya dengan serangan telapak tangan. Kalau musuh sempat mendekat maka Lu toheng harus menyerangnya dengan pedang." Dia lalu menunjuk ke arah timbunan batu yang baru djbuat oleh Ciek Ban Cing "Kan toheng dan Ciek Congkoan bersembunyi di sana Ciek Congkoan dapat bekerja sama dengan taisu menghantam musuh dengan serangan telapak tangan Sedangkan Kan toheng harus melindungi ketiga rekan ini dengan menyambitkan senjata rahasia kepada musuh.".

Kan Si Tong menggelengkan kepalanya. "Seumur hidup Pinto paling jarang menggunakan senjata rahasia. Lagipula Pinto juga tidak pernah membawa senjata rahasia...".

Wi Ting sin tiaw tersenyumsenyum "Bagi orang yang menguasai Iwekang tingkat tinggi, bahkan bunga dan daun pun dapat digunakan sebagai senjata rahasia untuk melukai orang. Meskipun Kan tohsng tidak membawa senjata rahasia tapi di atas tanah tersebar berbagai batu dalam berttuk besar dan kecil. Semuanya dapat diambil dengan mudah, apa lagi yang Kan toheng khawatirkan?". "Baiklah... Pinto akan becusaha sebaik mungkin".

"Tapi Kan toheng harus memperhatikan satu hal. Lebih baik menimpukkan senjata rahasia dengan tangan kiri," kata Wi ting sin tiaw selanjutnya.

"Mengapa demikian?" tanya Kan Si Tong bejum mengerti.

"Karena apabila keadaan mendesak, tangan kanan Kan toheng masih bisa menggerakkan pedang untuk melindungi pedang Lo toheng," kata Wi ting sin tiaw menjelaskan maksudnya.

Kan Si Tong menganggukkan kepalanya berulang kali Wi Ting sin tiaw menoleh ke arah Song Bun Cun.

"Song sau cengcu boleh bersembunyi di balik dinding goa. Apabila musuh ingin menerjang ke dalam, mereka hacus melalui rintangan Bu Cu taisu dan rekan lamnya Apabila ada yang mencoba menerjang dengan keras ke dalam goa maka Song sau cengcu boleh menyambutnya dengan pedang Tidak usah memperlihatkan diri karena bagian yang dijaga oleh Song sau cengcu ini merupakan inti bagi kita ttulah sebabnya ja ngan sekalisekali memperlihatkan diri mau pun bayangan tubuh kepada pihak musuh sehingga mereka tidak tahu bahwa masih ada sebuah nntangan lagi di bagian ini".

Song Bun Cun menganggukkan kepalanya 'Cayhe akan mengikuti kata-kata Beng locianpwe ".

Sekali lagi Wi Ting sin tiaw memperhatikan sekelilmgnya Dia melihat keadaan di sana memang gelap gulita Orang yang matanya tajam serta awas sekalipun tidak mudah mengira ngira berapa banyak lawan yang sedang menunggu mereka di dalam sini Sedangkan bagi orang yang di dalam goa yang berjaga-jaga, mereka mendapat bantuan cahaya dan luar pasti dapat melihat kelebatan bayangan musuh yang hendak menerobos ke dalam Ha| ini sangat meng untungkan karena musuh berada di tempat yang terang dan mereka berada di tempat yang gelap.

Dengan perasaan puas Wi Ting sin tiaw menghela nafas lega.

"Hio yang dibakar pasti sebentar lagi akan habis Kalian harus menggunakan kesempatan ini dengan baik untuk benstirahat. Kalau mereka masuk nanti biar hengte yang akan melayani perlanyaan mereka, kalian jangan sekalisekali mengeluarkan suara ".

Benar saja Tidak berapa lama kemudian terdengar suara Cu Tian Cun yang nyaring berkumandang dan luar goa.

"Beng taihiap waktu sebakaran hio sudah habis Apakah kalian sudah selesai berunding?".

"Sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam Cuwi segera bersiapsiap menyam" but musuh hengte akan keluar berbicara," kata Wi Ting sin tiaw dengan suara rendah. Bu Cu taisu sekalian segera menyelinap di pos penjagaan masinginasing dan berdiam diri di sana Wi Ting sin tiaw keluar dengan jatan memutar batubatu besar. Mu lutnya masih berbicara dengan nada berbisik.

"Kalau hengte kembali nanti, hengte akan menggunakan suara batuk sebagai tanda. Apabila ada bayangan orang menyelinap masuk tapi tidak terdengar suara batuk-batuk maka cuwi sudah tahu itu bukan hengte. Langsung saja kerahkan serangan masinginasing untuk menahannya, iangan sekalisekaii menunggu sampai mereka terlanjur masuk ke dalam." Selesai berkata, dla langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar. Dia melihat keadaan di luar sejenak. Cu Tian Cun memang tidak  malu diangkat sebagai kepala rombongan tokoh sesat itu Dia berdiri di depan goa dengan berpangku tangan. Wajahnya menghadap ke dalam. Sebelum ada keputusan dari Wi Ting sin tiaw, ternyata dja tidak melangkah satindak pun ke dalam goa.

Wi Ting sin tiaw tahu bahwa orang ini sangat memandang tinggi dirinya sendiri. Meskipun ilmunya lihai sekali, tapi kalau dibandingkan dengan tokoh-tokoh sesat lainnya, orang seperti Cu Tian Cun ini lebih mudah dihadapi. Wi Ting sin tiaw jadi tertawa sendiri. Dia mempercepat langkah kakinya dan menjura dalam-dalam.

"Cu taihiap orang yang bijaksana. Lao siu terpaksa mengatakan..." Dia sengaJa menghentikan kata-katanya sampai setengah jalan.