Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 27

 
Jilid 27

"Bagus sekalil Budak nomor dua, aku masih mengira halimu baik datang untuk melihat keadaan Lao sinsian. Rupanya kau mengandung maksud jahat dan berpihak kepada orang luar unluk mencelakainya.,.1" Bola matanya segera beralih. Dia menatap Yok Sau Cun dengan sinar mate mengandung api yang berkobackobar.

Telapak tangannya diulurkan kemudian menghantam ke arah Yok Sau Cun.

"Bocah busuk, budak nomor dua itu tiba-tiba menjadi berani dan mengandung rencana jahat. Semua ini pasti karena rayuanmu. Lo hu benar-benar salah menilaimul" bentaknya marah.

Dia, sudah tentu yang mendapat julukan "It ciang kuilian" Suto Gi. Coba bayangkan saja, ]ulukan orang mi Satu pukulan membuka langit. Serangan pukulannya ini dilancarkan dengan hati gusar. Tentunya tanaga yang terkandung di dalamnya juga besar sekali.

Yok Sau Cun mengerti bahwa orang tua di hadapannya ini adalah manusia kasar tetapi polos. Tenaga pukulannya tidak di bawah kedua kakek dan Kong Tong Pai tadi. Malah mungkin lebih hebat dari mereka Dia tidak berniat berkelahi dengan orang tua ini. Itulah sebabnya dia hanya mencelat mundur ke samping kurang lebih selengah tindak dan mengulurkan telapak tangannya unluk menahan serangan orang tua itu.

Mulutnya berteriak lantang.

"Sito cianpwe, lebih baik urusan dibuat terang dulu baru bertindak ".

Pukulan yang dilancarkan oleh Suto Gi dalam sekejap mala sudah beradu dengan telapak langan Yok Sau Cun Ternyala beradunya kedua pukulan ini lidak menimbulkan suara sedikil pun. Rupanya tanpa suara dan tanpa wujud pukulan lersebut buyar begitu saja Yok Sau Cun hanya merasa sedikil tergetar dan kakinya mundur satu langkah ke belakang. Sedang kui tian Suto Gi tidak tahu kalau dalam tubuh Yok San Cun terdapat tiga bagian hawa murni Tai kil taisu dan Cap Ji libio Sadangkan ilmu yang dipelajari oleh Tai kit taisu adalah Ciap hun sinkang allran Buddha.

Tenaga pukulan Suto Gi mengandung unsur Yang yang tinggi. Sementara itu Ciap hun sinkang adalah semacam ilmu yang dilatih dengan kekosongan pikiran atau semacam ilmu semedi tingkal tinggi dalam agama Buddha. llmu ini mengandung unsur kelembutan alau Ying. Oleh karena ilu, ketika kadua pukulan tersebut saling beradu, maka tenaga dalam Suto Gi yang mengandung unsur Yang ditelan oteh tenaga dalam Yok Sau Cun yang mengandung unsur Ying tetapi karena tenaga dalam Suio Gi sudah mencapai taraf kesempurnaan. Tetap saja Yok Sau Cun lergetar oleh pukulannya dan mundur satu langkah.

Suto Gi hampir tidak dapat percaya kalau Yok Sau Cun yang berusia begilu muda sudah menguasai tenaga dalam setinggi itu. Sinar matanya mengandung kecurjgaan Tiba-tiba ia tertawa terbahakbahak.

"Bocah busuk, tidak heran kau berani mengacau di Tiong Cunkok inj. Rupanya kau mengandalkan sedikit kebisaanmu itu, Terimalah sekali lagi pukulan Lo hu ini!" Tangan kanannya sudah bersiapsiap dihantamkan ke depan.

Terdengar suara.

"Trang!" yang nyanng. Ternyata Tiong Hui Ciong mengibaskan pedang han engkiam miliknya untuk menekan pedang si bungsu Hui yan. Karena kibasannya cukup keras, maka timbullah suara yang nyaring. Wajah Tiong Hui Ciong hijau membesi.

"Kaliansemuaberhentil"teriaknyadengan nada berwibawa.

Suto Gi yang sudah siap melancarkan serangan terpaksa menarik telapak tangannya kembali. Matanya menatap Tiong Hui Ciong sekilas.

"Budak nomor dua, apalagi yang ingin kau katakan?".

Wajah Tiong Hui Ciong kembali seperti biasanya. Dingin dan menggidikkan hati siapa pun yang memandangnya,.

"Salah salu dari kalian, adalah orang yang melihat aku tumbuh dewasa. Tidak ubahnya seperti ayahku sendiri. Dan yang satunya lagi adalah adik kandung yang dilahirkan oleh rahim yang sama Aku ingin mengajukan salu pertanyaan kepada kalian. Apakah kalian lebih mempercayai ucapanku alau lebih mempercayai ucapan orang luar yang mungkin sa]a mengandung maksud mengadu domba kita?" tanyanya dengan nada sinis.

"Yang kau maksud sebagai orang luar itu, apakah Li so adanya?" Sulo Gi malah bal'k bertanya.

"Li so?" Tiong Hui Ciong mendengus dingin. "Apakah kalian tahu identitas orang itu yang sebenarnya?". Suto Gi sampai tertegun mendengar pertanyaan Tiong Hui Ciong. "Maksudmu dia bukan Li so?".

Tiong Hui Ciong mendengus sekali lagi.

"Dia adalah selir kedua dan Ci Leng Un yang biasa dipanggi! selir Li!".

Tampaknya Suto Gi seperti kurang percaya. Tetapi kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Hm... memang Ci sancu yang membawanya kamari. Katanya untuk melayani Lao sinsian. Ci Sancu dan Loa sinsian bersahabat selama puluhan tahun. Mana mungkin. ".

Tiong Hui Ciong menunjuk ka arah kakeknya Tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras.

"Yaya pasti sudah terkena bokongan perempuan siluman itu Dia orang tua tidak bisa bicara ataupun bergerak Suto pekpek, kau sudah lama berkecimpung di dunia kangouw. Pengalamanmu luas sekali Coba kau lihat apa yang telah terjadi pada diri Yaya?".

Tubuh Suto Gi langsung lergetar mendengar perkataannya.

"Bukankah Lao sinsian sedang bersemedi melatih ilmu?" tanyanya gugup.

Tiong Hui Ciong hanya mencibir bibirnya tanpa menyahut. Suto Gi langsung menghambur ke samping tempat tidur. Dia meniperhatikan dengan seksama. Keadaan Lao sinsian masih termangumangu seperti tadi. Matanya yang terbuka lebar menyorotkan sinar kekhawatiran dan kaflusaran yang tidak terkira.

Melihat keadaan Lao sin-sian, tubuh Suto Qi sampei tachuyunghuyung karena terkejut bukan kepatang.

"llmu silat Lao sinsian sudah mencapai taraf kasempurnaan, mengapa dia bisa. ?"

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan menggeram marah. "Lohu 'akan meringkus budak Li so itu kemball. Dia pasti tahu mengapa Lao sinsian bisa berubah seperti ini!.

Tiong Hui Ciong tertawa dingin.

"Dia yang menurunkan tangan jahat kepada Yaya, tentu saja dia tahu." Dia berhenti sejenak. "Tapi kemungkinan besar sudah terlambat. Identitas dirinya sudah terbongkar. Saat ini dia pasti sudah lari ke tempat yang jauh ".

Suto Gi mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Perempuan siluman itu. Lohu pasti akan menangkapnya kembali!" Tubuhnya

melesat bagai angin. Tahutahu dia sudah menghambur keluar dari ruangan tersebut. Hui Yan menyimpan pedangnya kambali. Wajahnya yang manis tertunduk dengan perasaan jengah.

"Ji ci, maafkan aku. Aku telah salah meniiaimu," katanya dengan suara lirih. Tiong Huj Ciong meraih tangannya sambil tersenyum.

"Kita adalah saudara. Apa yang telah terjadi, jangan dimgat lagi. Tetapi ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada Sam Moay, mengapa kau tibalibe pulang ke Soat san ini?".

"Senbu yang mengatakan kepadaku, katanya Ji ci. " Matanya mendelik secara

diam'diam kepada Yok Sau Cun. Wajahnya meniadi merah padam. Kemudian dia mendekati telinga Tiong Hui Ciong dan membisikinya beberapa patah kata.

Setelah mendengar bisikan adiknya, selembar wajah Tiong Hui Ciong juga menjadi merah pedam.

"Nenek siluman ilu ternyata pandai mengadaada. Rupanya dia tidak segan mengeluarkan fitnahan keji agar kita terpecah belah. Hm, aku harus mencarinya untuk mengadakan perhitungan!" Kemudian dia menggapaikan tangannya kepada Yok Sau Cun dan memperkenalkan mereka berdua. "Ini adalah Sam Moay yang bernama Kit hui Yan, sedangkan yang ini. adik angkatku Yok Sau Cun. Adik Cun, tahun ini Sam

moay berusia delapan belas tahun. Kau boteh memanggilnya Moay Cu saja " Dia lalu menoleh kembali kapada si Bungsu Hui Yan. "Sam Moay, adik Cun adalah murid perguruan Tian San pai. llmu silatnya tinggi sekali Iho. Kau boleh panggil dia Yok toako. ".

Dengan sepasang mata yang indah dan berbinarbinar, Hui Yan menatap Yok Sau Cun. Kemudian dia tertunduk tersipu-sipu.

"Yok toako.. " panggilnya dengan suara lirih. Yok Sau Cun terpaksa membalas panggilannya.

"Moay Cu. " Akhirnya panggilan itu kefuar juga dari bibirnya, tetapi dia merasa

malu sekali. Wa]ahnya tampak tersipu-sipu.

Tiong Hui Ciong lalu mencerilakan bagaimana Tal kil taisu berpesan wantiwanti pada Kim tijui unluk menyampaikan kepeda mereka agar dia dengan Yok Sau Cun kembali ke Soat san secepatnya, dan bagaimana mereka menghadapi penghadangan orang-orang Kong Tong pai dalam perjalanan, lalu kejadian selelah mereka sudah sampai di Tiong cunkok yang mana Yok Sau Cun tarpaksa bertarung dengan kakek dari Kong Tong sihao.

Wajah si bungsu Hui Yan menyiratkan hawa amarah yang meluapluap. Dia mengepalkan sepasang tinjunya erat-erat.

"Padahal Ci Sancu dengan Yaya sudah bersahabat selama puiuhan tahun Sekarang dla berbuat demikian, sebelulnya apa yang direncanakan dalam halmya?". Pinlu batu terbuka lebar It cing kuitian Suto Gi ternyata sudah kembali. Dia masuk ke dalam ruangan tanpa menyerel selir Li. Hal ini menandakan bahwa dia tidak berhasil mengejar perempuan itu.

Hui Yan segera menyongsongnya dengan perasaan khawatir.

,.

"Suto pekpek, apakah kau tidak berhasil menemukan selir Li itu?" tanyanya panik. Wajah Suto Gi lampak kelam. Dia menggertakkan giginya erat-erat.

"Aih, lohu memang patut mali! Lohu sudah hidup di dunia sampai setua ini, tarnyata masih bisa dikecoh oleh seorang perempuan siluman yang bermulut manis. Lohu merasa malu menghadapi Lao sinsian,.." katanya dengan nada gusar,.

"Suto pekpek, meskipun perempuan siluman itu sudah kabur, tetapi hwesio lari, kuilnya toh masih ada. Kita bisa pergi ke Kong Tong pai dan memperhitungkan hutang piutang ini. Sekarang yang tarpenthig adalah menolong orang, coba kau lihat sekali. Apa yang djlakukan perempuan siluman itu terhadap diri Yaya?".

Suto Gi memeriksa kaadaan Lao sinsian sejenak. Wajahnya menyiratkan kebimbangan yang dalam.

"llmu silat Lao sinsian sudah mencapai taraf kesempurnaan. Apabila ingin membokong Lao sinsian begitu saja, rasanya bukan hal yang mudah dilaksanakan. Rasanya cuma ada satu kemungkinan yang masuk akal...".

"Apa itu?" tanya Hui Yan cepat.

"Dengan racun." kata Suto Gi sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Tetapi... ingin meracuni Lao sinsian, juga bukan masalah yang gampang. ".

Hui Yan menganggukkan kepatanya.

"Betul. Tenaga dalam 'Yaya tinggi sekali. Dengap mudah diadapat merasakan sesuatu yang tidak wajar dalam tubuhnya. Apabila Yaya tahu dirinya keracunan, pasti dia akan menghimpun hawa mumi dan mendesak racun itu kaluar dari tubuhnya. " Gadis

cilik itu rupanya mempunyai otak yang tidak kalah cerdasnya dengan Tiong Hui Ciong Suto Gi juga mengangguk perlahan. "Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk melakukannya, yaitu dengan mengguna' kan racun yang proses kerjanya lambat. Mungkin Lao sinsian setiap hari dicekoki sedikit demi sedikit. Dengan demikian dia tidak menyadarinya, Ketika racun sudah mulai memperlihatkan reaksinya di dalam tubuh, dan dia bermaksud menghimpun hawa murni untuk mendesaknya, pasti sudah terlambat," sahutnya dengan wajah semakin kelam.

"Apa yang Suto pekpek katakan memang masuk akal. Perempuan siluman itu sudah tiga bulan melayani Yaya. Tentu saja dia bisa membenkan racun yang prosesnya lambat itu sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh Yaya sendiri.".

Si bungsu Hui Yan merasa gusar sekali. "Kaiau aku bertemu lagi dengan perempuan siluman itu, aku akan membuat tubuhnya terkoyakkoyak menjadi beberapa bagian.

Biar dia tahu bahwa kita orang dari Soat san bukan orang yang nnudah dipermainkan," katanya geram.

'Sarn kouwnio, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengumbar amarah. Orang toh sudah tidak ada lagi disini Yang harus kita pikirkan justru bagaimana caranya memunahkan racun yang terdapat dalam tubuh Lao sinsian? Yang lainnya harus ditangguhkan dulu untuk sementara Ini," tukas Suto Gi,.

"Baiklah," sahut si bungsu Hui Yan. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ini?".

"Kalau ingtn memunahkan racun dalam tubuh Yaya, pertama-tama Rita harus tahu dulu jenis racun apa yang digunakannya Setelah itu kita baru bisa mencari jalan keluar untuk menyembuhkannya, kata Tiong Hui Ciong.

Suto Gi menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Tidak salah. Obat pemunah racun tidak dapat sembarang dipakai Setiap obat hanya untuk memunahkan jenis racun tertentu. Kalau sembarangan dimmumkan akibatnya malah akan membahayakan tubuh. Kita memang harus memeriksa dulu apa yang diminum oteh Lao sinslan, kemudian baru dapat nnenentukan obat yang tepat untuk mennusnahkannya.".

"Bagaimana cara kita mengetahuinya?" tanya Hui Yan.

"Memang sulit untuk mengetahuinya. Satusatunya jalan yang harus kita tempuh sekarang ini adalah mencari Ci Leng Un atau Hue leng senbu untuk meminta obat penawar racun itu." sahut Tiong Hui Ciong.

Hui Yan memang sejak tadi sudah gusar sekali mengetahui kakeknya diracuni orang. Tentu saja dia nnerupakan orang pertama yang setuju dengan usul Tiong Hui Ciong.

"Betul. Mari kita berangkat sekarang juga. Aku dengar dari mulut toaci bahwa pertamuan para pendekar akan diadakan di Oey san. Ci sancu sendiri juga akan turut hadir. Kita segera mencarinya di Oey san saja!".

Tiong Hui Cipng menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Yaya tidak bisa bergerak sama sekali. Mulutnya pun tidak bisa berbicara, Harus ada orang yang menjaganya. Kau tinggal saja di sini menunggui Yaya, Suto pekpek yang menjaga di mulut lemba.h. Urusan mencari Ci Sancu, serahkan kepada cici dan adik Cun yang akan menyelesaikannya.".

"Ci Sancu tidak mengingat hubungan persahabatan yang sudah dibina selama puluhan tahun. Dia sampai hati turun tangan sekeji ini. Biarpun kalian berhasil menemuinya, belum tentu dia bersedia mednberikan obat penawar racun itu. Mungkin dia malah mengarang centa lain yang akan menyudutkan posisi kalian " tukas Suto Gi.

Tiong Hui Ciong tersenyum simpul.

"Aku akan pergi menemui toaci dulu Aku akan menceritakan semua kejadian yang dialami Yaya. Kaiau Ci Leng Un tidak sudi mengeluarkan obat penawar racun, maka kami akan melabraknya.".

"Kekuatan Kong Tong pai sekarang tidak dapat dipandang ringan Di sana banyak terdapat jagojago yang memihak kepada mereka. Ji siocia. ".

Tiong Hui Ciong tidak memberinya kesempatan untuk membantah lebih lanjut. "Aku tidak takut!".

Tiba-tiba Yok Sau Cun berdehem satu kali. "Ciong cici, siaute tiba-tiba teringat sesuatu hal. ".

Tiong Hui Ciong mendengar Yok Sau Cun memanggilnya "Ciong cici" dengan mesra di hadapan Suto Gi dan Hui Yan, wajahnya menjadi merah padam.

"Hal apa yang teringat olehmu?" tanyanya dengan kepala tertunduk sedikit.

"Kedatangan kita yang tergesa-gesa ke Soat san ini adalah atas suruhan Lao koko yang dipesankan oieh Tai Kit taisu Siaute rasa sejak semula Lao koko sudah dapat menduga rencana licik pihak Kong Tong pai. Mungkin dia bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini," kata Yok Sau Cun mengeluarkan pendapatnya.

Mendengar perkataannya, wa|ah Tiong Hui Ciong menjadi bersensen seketika.

"Betul. Mengapa aku tidak teringat akan hal itu? Hanya Lao koko yang dapat membantu kita. Man kita mencarinya sekarang juga!".

Hui Yan merasa bingung karena tidak mengerti maksud pembicaraan mereka. "Ji ci, siapa yang kalian sebut Lacf koko itu?"tanyanya.

"Lao kokojuga murid perguruan Tian san.

Dia mengaku sebagai toa suhengnya adik Cun. llmu silatnya tinggi sekall. Pokoknya sulit diuraikan dengan kata-kata. Tapi kisah ini panjang sekali apabila diceritakan.

Ketak kalau urusan ini sudah selesai, cici akan menceritakannya dengan terperinci. Sekarang waktu kita terbatas, kami harus berangkat sekarang juga!".

Bulan dua belas tanggal satu. Paglpagi sekali. Matahari baru menampakkan cahayanya.

Di depan Ce Po tangoan yang terletak di puncak gunung Oey san, terlihat undakan batu yang jumtahnya mungkin mencapai ratusan. Undakan batu itu merupakan tangga untuk mencapai puncak gunung. Saat Itu terlihat serombongan orang sedang mendaki dengan parlahan-lahan.

Rombongan ini dipimpin oteh Bu Lim toalo. Song Ceng san. Mengiringi di sisi klri dan kanannya sudah pasti putranya sendirl Song Bun Cun dan Lao koanke Ciek Ban Cing. Di balakang mereka terdapat puluhan orang yang mengikutt dangan perlahan. Mereka adalah Clang bun'jln dari Hoa san paj, Sang Ceng Hun; wakil ketua Siau Kiam Beng dan Kimbak Leng yan (Kera sakti bermata emas) Ciok Sam San darl Ciong San pai; Huihung 1 Su Liok Huipefig darl Cong Lem pai, Ciang bunjin darl Pat Kua bun, Kwek Si Hong beserta wakilnya Kan SI Tong, Wi Ting sintiau Beng Ta iin darl Liok Hap Bun. Yang taraktiir adalah Wi Yang samkiat. Wi Lamcu, Gi Huato basarta Ciang bunjin mereka, Hui Kin Siau.

Kurang tebih dua puluh undakan batu di belakang mereka masih ada rombongan yang lain. Mereka terdiri dari Giok Si Cu dari Bu Tong pai, Yu Uong kiamkek Su Po Hin» ketua Lo Han tong dari Siau Lim pai. Bu Cu taisu dan detapan belas orang. muridnya. Di belakang orang-orang ini adalagi seorang murid Siau Lim yang menyediakan tempat tinggal untuk mereka selama partemuan Itu berlangsung. Dia adalah Tung Sit Cong.

Di depan pintu gerbang Ce Po tangoan, yaitu di bagian kiri dan kanan. berdiri delapan orang pamuda yang mengenakan pakaian hijau. Semuanya berwajah bersih dan tampan. Usia mereka paling banyak tujuh belas atau delapan belas tahunan, Oi bagian pinggang mereka terselip pedang panJang. Pada dada sebelah kanan terselip sebuah pita yang bertuliskan "Penerima tamu".

Baru saja rombongan itu sampai di depan pintu gerbang, salah seorang pemuda berpakaian hijau sudah maju dua langkah dan membungkukkan tubuhnya sebagai pepghormatan.

"Mohon tanya kepada para tamu, dari partai manakah saudara sekalian?". Kim kasin Ciek Ban Cing maju ke depan dan menyahut dengan suara lantang.

"Bulim Bengcu terdahulu, Song Loya cu beserta anggota Siau lim pai, Bu Tong pai, Ciong san pai, Cong lam pai, Pat kua Bun, Liok hap bun. Wi Yang samkiat, segenap undangan telah sampai di sini untuk menghadiri partemuan Ce Po tangoan Harap masuk ke dalam dan beri laporan Tai Hwu cutaijin (Pengurus pertemuan) harap keluar menyambut kedatangan tamutamunya.".

Kata-kata yang diucapkan oleh Ciek Ban Cing inj tidak kelewatan. Dengan kedudukan Song Loya cu dan orang-orang dari delapan partai yang hadir. Pihak pengelola partemuan ini memang sudah seharusnya keluar menyambut. Dunia kangouw memang paling memberatkan masalah 'etiket'. Dan hal ini termasuk etiket yang harus dijalankan oleh orang-orang dunia kangouw.

Justru ketika Kim kasin Ciek Ban Cing baru saja menyelesaikan kata-katanya, dari balik pintu gerbang terlihat seorang tua berpakaian kuning yang tubuhnya kurus kering melangkah keluar dengan tergopohgopoh. Sampai di depan dia menguak tubuh anak muda tadi dan merangkapkan sepasang tangannya menJura kepada Song Ceng San beserta rombongannya.

"Song Loya cu, cuwi Ciang bunjin, taisu, totiang dan undangan lainnya sekalian, maafkan keterlambatan hengte menyambut kedatangan kalian. Silahkan masuk menikmati suguhan," katanya sambil tersenyum simpul.

Sekali lihat saja, tentu Song Loya cu sudah mengenali orang tua kurus yang menyambut mereka adalah Yu huhoat dari Kong Tong pai, yakni Cian Poa Teng Diamdiam hatinya merasa kesal.

"Pertemuan hari ini, terangterangan diselenggarakan oleh pihak Kong Tong pai. Ci Leng Un merasa kedudukannya demikian tinggi sehingga begitu sonnbong," pikirnya dalam hati.

.

Tetapl Song Loya cu tidak mau kalah pamor. Dia mengeluselus Jenggot dengan santai. Matanya memandang sekilas kepada Cian Poa Teng, tetapi dia purapura tidak tahu siapa orang itu.

"Ciek congkoan, siapa orang yang baru ketuar inl?" tanyanya.

Ciek Ban Cing juga merasa geram melihat pihak KongTong pai dennikian tidak sopan. Ciang Bunjln dari delapan partai besar dan sebagian wakilnya, nnereka semua adalah tokohtokoh yang dfsegani dalam dunia kangouw. Saat ini mereka semua sudah sampai di depan pintu Ce Po tangoan untuk menghadirl partemuan, tetapi pihak penyelenggara hanya mengutus seorang Yu huhoat dari Kong Tong pai untuk keluar menyambut. Bukankah ini sanna saja artinya bahwa mereka tidak memandang sebelah mata terhadap delapan partal besar?".

Ciek Ban Cing tantu 3aja mengerti maksud Song Loya cu. Oieh kerena itu, dia tidak merasa aneh tarhadap pertanyaan majikannya itu. Dia segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat dan menjawab....

"Lapor Loya cu, orang yang keluar menyambut ini adalah yu huhoat dari Kong Tong pai yang barnama Cian Poa Teng taihiap." Dia sengaja menambahkan kata-kata "taihiap" di balakang nama orang itu.

Cian Poa Teng tangsung menjura sekali lagi.

"Song Loya cu nnungkin tidak ingat lagi, Cayhe memang Cian Poa Teng dari Kong Tong pai. Tetapi di dalam pertemuan besar ini, Cayhe juga menjabat kedudukan Cong Ying peng (Kepala rnenerima tamu) Mewakili pihak penyelenggara menyambut tamutamu yang datang Harap Ciek congkoan dapat memberi patunjuk apabila ada kesalahan yang tidak disengaja.".

Begitu dia menegakkan tubuhnya, tampak di dada kiri pakaian kuningnya tarnyata terfepit sebuah pita merah yang bantuknya lebih besar dari kedelapan pamuda tadi, dan di atasnya tertera huruf "Cong Ying Peng". Cong Ying Peng memang yang disebut sebagai wakil untuk menyambut tamu-tamu yang diundang. Hal ini tidak ada salahnya, oleh karena itu Song Ceng San tidak enak hati apabila terlalu menyudutkannya.

"Apakah pertemuan ini diselenggarakan oleh Ci Sancu sendiri?". Cian Poa Teng membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Lapor Loya cu, pertemuan hari ini memang diselenggarakan oleh Ci sancu. Tentu dia sendiri harus hadir dalam pertemuan ini. Tetapi sampai saat ini kereta kudanya belum sampai juga. Jadi dia tidak bisa keluar sendiri menyambut kedatangan para tamu agung. Harap Loya cu dan saudara sekalian memaktuminya.".

Song Ceng San tersenyum datar.

"Kaiau begitu, kedatangan lohu dan rekanrekaniah yang terlalu awal!". Cian PoaTeng tersenyum simpul.

"Song Loya cu dan cuwi sekalian silahkan masuk dulu ke dalam untuk beristirahat.".

Mereka sudah sampai di tempat ini, tentu tidak dapat mengundurkan diri begitu saja. Song Ceng San mengibas tangannya.

"Kalau begitu, harap Cong Ying peng menunjukkan jalan," sahutnya. Cian Poa Teng segera mengiakan.

"Cuwi taisu, totiang, harap ikut orang she Cian ini." Selesai berkata dia langsung membalikkan tubuh berjalan masuk mendahului.

Para hadirin juga tidak banyak cakap lagi. Mereka segera mengikuti di belakang Cian Poa Teng. Setelah menikung di sebuah cetah gunung, mereka masuk ke dalam sebuah lapangan terbuka yang sangat luas. Di hadapan mereka terdapat ruangan yang sangat luas. Tadinya tempat ini merupakan sebuah museum yang menyimpan berbagai bendabenda bersejarah. Sekarang untuk sementara digunakan sebagai tempat penyelenggara pertemuan para pendekar.

Dari lapangan terbuka sampai depan ruangan besar tersebut, di tengahtengah jalan telah terhampar parmadani panjang becwarna kuning Mereka diajak ke dalam ruangan besar itu. Di atas ruangan terhias pita besar berwarna merah yang mentuntai dari sebalah kiri ke sebelah kanan. Di bagian tengahnya ada lagi secarik kain besar yang bertuliskan huruf Tian te taihue (Pertemuan besar langit dan bumi). Empat huruf itu ditulis dengan tinta emas sehingga menyolok pandangan.

Melihat tulisan itu, diam-diam hati Song Ceng San merasa geli.

"Pertemuan besar apa ini? Namanya aneh, kata-kata yang ditulis sembarangan. Dan keempat huruf saja sudah dapat dibuktikan bahwa orang-orang ini tidak berpendidikan dan hanya bisa menyombongkan diri. Orang seperti ini mana mungkin bisa mengurus persoalan besar segala macam?" katanya dalam hati.

Di atas undakan batu terdapat sebuah koridor panjang yang luas. Di bagian kiri kanan telah diletakkan dua buah mejayang ditutupi dengan kain merah. Di beiakang masingmasing meja berdiri dua orang gadis yang cantik dan menawan.

Di atas meja sebelah kiri terdapat sebuah bantaian yang bersulamkan bungabunga yang indah. Di atas bantal tersebut terletak sebuah buku besar yang dasarnya berwarna keemasan. Tentunya buku itu digunakan sebagai daftar para tamu.

Di atas meja sebelah kanan terdapat setumpukkan pita merah. Entah apa kegunaannya? karena jarak di antara kedua meja ini amat rapat, maka j'aian di tengahtengahnya menjadi sempit. Mungkin hanya timbang pas apabila dua orang jalan berendengan. Dengan kata lain, apabila ingin memasuki ruangan pertemuan, para tamu harus melewati celah antara kedua meja tersebut.

Di bagian kiri kanan undakan batu, sama seperti di depan gerbang. Disana juga dijaga oleh delapan orang pemuda yang berpakaian hijau. Pinggang masingmasing menyelip sebatang pedang panjang. Wajah merekajuga bersih dan tampan. Usia mereka juga paling banter tujuh atau delapan belas tahunan, Di depan dada sebelah kanan juga terjepit pita merah dengan tulisan "Penerima tamu'.

Tetapi apabila kita perhatikan dengan seksama, jangan dikira usia mereka masih muda, namun sinar mereka tajam dan di tengahtengah kening merekaterlihat urat hijau yang menonjol sedikit. Demikian samarnya urat hijau tersebut sehmgga apabila mata kita kurang awas, tentu tidak menyadarinya. Hal Jni membuktikan bahwa mereka mempelajari semacam ilmu tenaga daiam yang berbeda dengan golongan umumnya.

Namanya sih penenma tamu. tapi tidak usah diragukan lagi bahwa mereka juga mempunyai tugas lain, yakni menjaga keamanan dan bertindak sebagai matamata. Sementara itu, Cian Poa Teng sedang mengajak rombongan Song Ceng san ke arah meja yang di sebelah kiri. Dia menghentikan langkah kakinya dan menjura dengan hormat.

"Silahkan Loya cu rnencantunikan nama.".

Seorang gadis berpakaian kuning yang berdiri di betakang meja segera maju ke depan. Dia mengambil sebatang pit kemudian mencelupkan pjt itu ke bak tinta dan menyodorkannya kepada Song Ceng San.

"Harap tamu agung tuljs nama di atas buku ini," katanya dengan suara merdu.

Sinar mata Song Ceng San memperhatikan buku daftar nama tersebut. Di atasnya terdapat tulisan "Daftar namanama wakil delapan partai besar dan para tamu undangan iainnya". Song Loya cu melihat buku itu nnasih kosong. Berarti dia merupakan orang pertama yang mencantumkan namanya sebagai tamu. Akhirnya dia menerima pit yang disodorkan gadls itu dan menulis Song Ceng San tiga huruf. Gadis tadi mengambil kembalj pit di tangannya yang kemudian dicelupkan lagi ke dalam baktmta lalu menyodorkannya lagi kepada Song Bun Cun. Pemuda itu juga mengikuti tindakan ayahnya dan menuliskan nama di atas buku tersebut.

Cian Poa T6ng kemudian mengajak Song Cenq San berjalan di antara kedua meja. Seorang gadis berpakaian kuning lainnya yang berdiri di meja sebelah kanan segera menghampiri. Dia mengambil sebuah pita berwarna ungu keemasan dengan huruf "tamu" di atasnya, bibirnya tersenyum manis.

"Selamat datang kepada para tamu agung. Harap jepitkan pita jni dulu beru kemudian masuk ke ruangan pertemuan," katanya dengan suara ramah,.

Penyambutan yang ramah dan senyuman manis yanfg tersungging dari bibir seorang gadis cantik, tentu saja tidak dapat ditolak oieh siapa pun. Oleh karena itu, Song Ceng San terpaksa menghentikan tangkah kakinya.

Gadis cantik berpakaian kuning itu mengulurkan tangannya yang indah Dia menyematkan pita berwarna ungu keemasan Jtu di pakaian Song Ceng San. Pita itu disematkan di dada sebelah kiri Mata gadis itu berkedip-kedip.

"Terima kasih," sahutnya lirih.

Pokoknya setiap tamu yang akan menghadiri pertemuan itu harus terlebih dahulu menuju meJa sebetah kiri untuk mencantumkan nama, kemudian menuju meja sebelah kanan dan gadis berpakaian kuning itupun akan menyematkan masingmasing selembar pita berwarna ungu keemasan di dada kiri para tamu. Setelah itu mereka baru boleh melalui jalan panjang yang diapit oteh kedua meja tadi.

Rombongan itu seperti direpotkan oleh segala macam tatek bengek itu hampir setengah kentungan kemudian baru diantarkan ke dalam ruangan pertemuan. Ruangan pertemuan itu besar sekali, cukup untuk menampung ratusan tamu. Pada bagian depannya yang terbuka telah didirikan tiangtiang penyangga dengan alas yang tabal untuk menutupi permukaannya. Bagian tengah ruangan dihiasi pita berwarnawarni. Di bagian paling ujung terdapat lagi secank kam lebar yang bertuliskan "Tian te taihue" seperti di depan tadi.

Di bawah tulisan itu ada lagi sebuah meja panjang yang kain berwarna merah dengan sulaman benang emas di tepiannya. Di befakang meja telah diletakkan dua buah kursi tinggi dengan sandaran yang empuk. Di sisi kin kanan masingmasing kursi tinggi tersebut terdapat masingmasing dua kursi yang lebih rendah.

Berhadapan dengan meja panjang, telah tersedia pula sembilan baris bangku. Tiga baris bagian paling depan merupakan kursi yang berbantalan tmggi, khusus disediakan untuk para tamu agung Mulai dari baris keempat sampai belakang disediakan untuk tamu yang kedudukannya lebih rendah atau para generasi muda.

Cian Poa Teng mengantarkan rombongan Song Ceng San di barisan tamu agung. Namun karena banyaknya rombongan mereka. para murid yang lebih muda terpaksa duduk di barisan tamu biasa. Saat itu, para tamu yang ingin menghadiri pertemuan tersebut mulai berdatangan dan membanjiri ruangan itu. Orang-orang yang bisa mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan tersebut setidaknya adalah tokoh-tokoh dunia kangouw yang sudah cukup punya nama. Kalau bukan Ciang bunjm dari sebuah partai, pasti pandekar yang nananya menjulang di wiiayah tertentu. Pokoknya, baik tokoh golongan hitam maupun putih sudah hampir semuanya berkumpul di dalam ruangan pertemuan itu.

Terhadap pertemuan yang diberi nama "Tian te taihue" ini, para undangan hampir semtjanya bertanyatanya dalam hati. Mereka merasa tidak mengerti mengapa dinamakan demikian S&telah bertemu dengan sahabatsahabat lama di tempat tersebut, pokok pembicaraan mereka hampir semuanya berkisar pada tujuan Tian te taihue tersebut. Ada juga beberapa di antaranya yang mendugaduga. Apa sebetulnya rencana di balik pertemuatT besar ini? Apakah benar-benar ada perangkap atau jebakan yang akan membahayakan jiwa mereka?.

Tetapi ketika para hadirin melihat bahwa di barisan "Tamu agung" telah duduk Bulim toafo Song Ceng San dan orang-orang dari delapan partai besar, hati mereka yang tertekan menjadi agak lega. Dengan kehadiran Song Ceng San serta orang-orang dari delapan partai besar, kemungkinan ttdak akan timbul bahaya apa-apa dalam pertemuan besar ini.

Waktu berfalu dengan perlahan-lahan. Dari bagian belakang gedung Ce Po tangoan berkumandang suara tambur yang riuh.

Saatnya sudah hampir tiba! Pikir para hadirin dalam hatinya.

Suara tambur belum lenyap, terdengar lagi suara iringiringan musik dan letusan mercon. Hal ini menandakan bahwa partemuan besar itu memang sebentar lagi akan dimulai.Setring dengan alunan musik, dari balik tirai kuning yang ada di bagian kin, keluarlah orang pertama yang berdandan seperti seorang su seng (pelajar). Dia memakai pakaian berwarna biru langit. Di pinggangnya terselip sebatang pedang panjang.

Wajahnya putth bersih. Sepasang alisnya melengkung seperti golok. Bibirnya tipis matanya bersinar terang. Tangannya mengibasngibas sebuah kipas, Penampilannya gagah. Selain tampan, orans ini juga mempunyai kewibawaan tersendiri bahkan tarsirat juga sedikit keangkuhan pada wajahnya. Langkah kakinya mantap. Dia merupakan orang pertama yang berJalan keluar menuju altar sebelah kiri dan berdiri tegak.

Dari para hadirin, kecuali Song Ceng San, Kan Si Tong dari Pat Kua Bun, Bei g Ta jin dari Liok Hap bun, Hui hung Su dari Cong lam pai, serta beberapa rekannya, tidak ada yang tahu siapa orang ini Sedangkan rombongan Song Ceng San segera mengenalinya sebagai Cong huhoat pertemuan besar ini, yakni Cu Tian Cun Dia juga mecupakan putra Hue leng senbu.

Di belakang Cu Tian Cun, berjalan keluar Long San it pei Suo Yi Hu, Pek po sin cian Yan Kong Kiat, Hek houw sin Cao Kuang Tu, Go la cinjin Bun Tian Lui, Kiuci Lo Han Cu Siang Hu, Siang si suangse, Hun Bu Pao. Begitu rombongan ini keluar, mereka segera berdiri berderet pada bagian belakang kursi tinggi dengan mengambil posisi dari kiri ke kanan.

pada saat Cu Tian Cun berJalan keluar, dari balik tirar sebefah kanan Juga muncul serombongan orang. Yang pectamatama adaiah seorang wanita dengan rambut disanggul ke atas. Pakaiannya sangat mewah.

Usianya kurang lebih dua puluh lima atau enam tahun. Wajahnya cantik jelita Alisnya seperti bulan sabit, di bagian pinggangnya terselip sebatang Han eng kiam. Dia adalah istri kesayangan Cong hu hoat Cu Tian Cun, juga mecupakan salah satu dari Soat san sam eng yakni si sulung Beng Hui Ing. Seperti Juga Cu Tian Cun Dia berjalan ke arah sebelah kanan dan berdiri tegak di sana.

Mengiringi di belakang Beng Hui Ing berjalan seorang gadis berpakaian merah. Dialah Hue moli Cu Kiau Kiau, kemudian terlihat seorang nenek yang rambut kepalanya sudah putih. Dia mengenakan pakaian berwarna hijau pupus. Dia adalah Be hua popo Ciok Sam ku.

Yang membuat orang terkejut adalah seorang gadis yang berJalan di belakangnya. Baik Song Ceng San maupun rekan-rekannya yang lain segera mengenalinya.

Ternyata dialah Ciok Ciu Lan yang dicaricari oleh Yok Sau Cun. Kemudian terlihat Yi Ju Si, Ca popo, dan yang paling belakang adatah seorang gadis yang pernah menyamar sebagai Cun Bwe dan menyelundup ke dsiam Tian Hua sanceng yakni Liu Cing Cing.

Rombongan para perempuan ini, seperti juga rombongan Long san itpei. Mereka berjalan menuju belakang kursi tinggi dan berdiri berderet dari kanan ke kiri. Setelah kedua baris orang-orang ini berdiri di tempatnya masingmasing, dari balik tiral kuning keluar lagi dua orang tua berjubah hijau. Wajah kedua orang Jni mirtp sekati.

Gerakgeriknya pun tidak berbeda dan di bawah dagunya terdapat beberapa helai Janggot yang berwarna keperakan seperti Jenggot kambing.

Mereka keluar dari dua bagian kiri dan kanan. Setelah itu keduanya juga mengambil posisi berdlri di sudut yang berbeda. Satu di kiri dan satunya lagi di sebelah kanan.

Ketika melewati hadapan Cu Tian Cun, mereka merangkapkan tangannya dan menjura.

Cu Tian Cun sebegal angkatan yang lebih muda cepatcepat membalas penghormatan yang dilakukan kedua orang tua itu.

"Jiwi, silahkan," kalanya Oia menunJuk ke arah dua buah kursi yang lebih rendah.

Kedua kakek itu juga tldak sungkan lagi. Mereka tidak Jadi berdiri di sudutsepertj sebelumnya melainkan duduk di kursi yang telah ditunjukkan oleft Cu Tian Cun. Para hadirin yang metihat rupa kedua orang tua itu, diamdiam mengeluh dalam hati.

JanganJangan kedua orang tua inilah yang disebut Kong Tong sihao? Tetapi mengapa Kong Tong sihao yang jumlahnya terdiri dari empat orang sekarang hanya muncul dua orang saja? Kemana dua orang lalnnya?. Justru ketika pera hadirin sedang bectanyatanya itutah, Hun Bu Pao mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah yang ukurannya besar sekad. Dia bicara dengan suara lantang.

"Tian te taihue dimulai. Panitia penyatenggara pertemuan besar ini, Cu Cong

huhoat harap tampil ke depan".

Para hadirin tidak menyangka bahwa panitia penyelenggara pertenwan ini adalah Cong huhoat Cu Tian Cun. Sementara itu, Cu Tian Cun segera maju satu langkah dan berhenti di depan sebuah bangku kecil yang terdapat di samping kursi tinggi.

Hun Bu Pao merentangkan tangannya ke arah wanita bersanggul tinggi yang berdiri di sebelah kanan.

"Harap Cong huhoat hujin tampil ke depanl".

Beng Hu Ing pun maju satu langkah. Dia juga berdiri di depan sebuah bangku kecil lainnya yang terdapat di samping kursi tinggi satunya lagi. Sekarang para hadirin segera dapat menduga. Dua kursi tinggi yang ada di tengahtengah pasti disediakan untuk Ci Leng Un dan Hue leng senbu.

Mereka berdualah yang sebenarnya merupakan dalang penyelenggara pertemuan besar ini. Tentu saja kedudukan mereka lebih tinggi. Namun cara yang diatur menandakan keangkuhan diri mereka. Di hadapan delapan partai besar dan Bulim toalo Song Ceng San, mereka menyediakan tempat duduk yang tingginya di atas mereka semua. Bukankah hal ini berarti mereka memandang diri mereka demikian tinggi sehmgga tidak memandang sebelah mata kepada orang lain?.

Terdengar Hun Bu Pao berseru dengan suara lantang kembali....

"Mengundang kaucu dan Hu kaucu tampil ke depan!".

Yang disebut kaucu dan Hu kaucu tentu saja Ci Leng Un dan Hue leng senbu!".

Selama berpuluh tahun, Ci Leng Un selalu menyebut dirinya sebagai Sancu dari Kong Tong pai, sekarang tiba-tiba panggilannya berubah menjadi kaucu. Sebetulnya perkumpulan agama apa yang mereka dirikan?.

Seiring dengan berkumandangnya suara Hun Bu Pao, dan balik tirai sebelah kiri dan kanan berjalan keluar empat orang gadis yang berwajah dingin dan kaku Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau Di pinggang masingmasing terselip sebatang pedang panjang Dengan berbagi dfri menjadi dua pasangan, mereka berjalan keluar dengan perlahan-lahan.

Kemudian terlihat dua orang gadis lagi yang mengenakan pakaian yang sama dan berwajah dingin dan kaku juga. Tangan orang yang pertama menggenggam sebatang pedang berbentuk api lilin. Sedangkan gadis yang satunya lagi menggenggam sebatang tongkat berwarna ungu. Mereka berdua langsung ber]alan menuju sisi belakang kursi tinggi dan bsrdiri dengan tegak. Tidak lama kemudian, tampak Hue teng senbu yang mengenakan gaun panjang berwarna ungu dengan sulaman merah pada lengan dan begian dadanya. Oia berjalan menuju kursi tinggi sebelah kanan dan monghentikan langkah kakinya di sana. Telapi dia sama sekali tidak duduk.

Saat itu, suasana di dalam ruang pertemuan semakin mencekam. Tldak ada sedikit pun suara yang terdengar. Hati para hadirin sama tegangnya. Mereka seperti merasakan hari tenang sebelum badai menjelang.

Tiba-tiba tiral kuning terkuak kembali. Dari dalam berjalan keluar dua orang. Orang yang sebelah kiri bertubuh pendek dan berkepala besar. Raut wajahnya seperti nenek- nenek yang sudah keriput. Dia adalah Cuo huhoat dari Kong Tong pai, yakni Toan Pek Yang yang pernah dikalahkan oleh Yok Sau Cun. Orang yang berada dl bagian kanan tidak bukan tidak laln dari kepala penerima tamu dalam pectamuan besar tersebut, Cian Poa Teng yang juga merupakan Yu huhoat dari Kong Tong pai.

Rupanya kedua orang ini hanya bertindak sebagai pelindung kiri dan kanan. Di antara kedua orang ini, berjalan seorang wanita yang berpakaian hijau yang mana tangannya membimbing seorang laki-laki tua bertubuh kecil dan pendek Orang tua itu juga mengenakan pakaian dengan warnayang sama.

Rambut orang tua itu masih lebat. WaJahnya kekanak-kanakan Seharusnya dia adalah seorang manusia yang berjiwa besar dan optimis pandangan hidupnya. Tetapi pada saat itu, tampak sepasang matanya yang kuyu, mimik wajahnya menunjukkan keletihan yang dalam Tampaknya untuk melangkah saja dia harus menyeret kakinya dengan berat. Dengan dibimbing oleh wanita tadi, dia berjalan dengan perlahan-lahan.

Tidak perlu diragukan lagi, orang tua berjubah hijau ini pasti Kong Tong sancu Ci Leng Un adanya. Sedangkan wanita yang membimbingnya pasti salah satu dan dua selir kasayangannya.

Nama besar Ci Leng Un sebagai ketua Kong Tong pai sudah menggetarkan dunia kangouw. Menurut berita yang tersebar, ilmu silatnya tinggi sekali. Sekarang untuk berjalan saja. dia harus dibimbing oleh seorang wanita. Tampaknya kegemilangannya dahulu hari sudah mulai surut, karena termakan usia tua.

Seharusnya orang seperti dia sudah mengasingkan diri dan melewati sisa umur dengan tenang. Tetapi dia malah menyelenggarakan entah Tian te taihue apa dan menyebut dirinya sebagai kaucu. Sekali lihat saja orang sudah dapat menduga bahwa semua ini hanya sandiwara saja. Tentu Hue leng senbu yang mendalangi semua ini dengan meminjam nama besar suhengnya.

Begitu Sancu dari Kong Tong pai ini melangkah kaluar, Cu Tian Cun segera mengangkat tangannya sebagi isyarat. Suara tambur pun berbunyi kembali. Meskipun suara tepukan tangan juga tidak kalah riuhnya, namun sebagian besar merupakan murid Kong Tong Pai yang seakan menyambut kemunculan ketuanya.

Para hadirin yang duduk di barisan tamu agung ataupun tamu biasa haoya beberapa gelintir yang ikutikutan tepuk tangan. Sebagian besar lainnya memandang ke atas altar dengan mempertahankan ketenangan hati mereka.

Dengan dibimbing oleh wanite berpakaian hijau, Ci sancu langsung berjalan dan kemudian duduk di kursi tinggi sebelah kiri. Balk Cian Poa Teng dan Toan Pek Yang maupun wanita cantik itu mengambil posisi di kiri kanan Ci sancu dan bertindak sebagai pengawalnya.

Hue leng senbu menunggu sampai Ci Leng Un sudah duduk di kursi kebesarannya, baru dia ikut duduk dengan tampang angkuh.

"Harap bagian pengurus Tian tekau membacakan daftar nama anggota!" Terdengar suara Hun Bu Pao yang lantang berkumandang kembali.

Baru saja ucapennya selesai, Laong san itpei yang entah sejak kapan menyelinap keluar dari atas altar tersebut dan sekarang berjalan masuk kambali dengan wajah serius dan berwibawa.

Di belakangnya mengiringi dua orang gadis berpakaian kuning. Tangan mereka masingmasing membawa sebuah baki perak yang atesnya dialasi dengan kain merah dan sebuah buku besar. Mereka berjalan secara berendengan.

Suo Yi Hu terus berjalan sampai di atas altar. Di sana dia menghentikan langkah kakinya. Cu Tian Cun yang bortindak sebagai penyelenggara segera berdiri dari kursinya.

Kedua orang gadis berpakaian kuning tadi segera membalikkan tubuhnya dengan cara mengitar lalu berdiri di depan Suo Yi Hu. Dari kedua baki perak di tangan gadisgadis tersebut, Suo Yi Hu mengambil dua buku besar yang terdapat di atasnya.

Dengan langkah yang kompak kedua gadis berpakaian kuning itu mengundurkan diri kembali. Suo Yi Hu langsung mengangkat sepasang tangannya ke atas dan mempersembahkan dua buah buku besar tersebut.

Cu San Cun majU selangkah untuk menyambut buku-buku yang disodorkan ke hadapannya. Suo Yi Hu membungkukkan badannya melakukan penghormatan kemudian mengundurkan diri lagi ke tempatnya semula.

Setelah menerima kedua buku itu, Cu Tian Cun tidak duduk kembali di atas bangkunya. Tampak sinar matanya yang tajam mengedar ke sekellling ruangan. Kemudian sepasang tangannya mengangkat buku yang sebelah ates dan membuka lembarannya, Dia membaca dengan suaranya yang bening dan lantang.

"Perkumpulan kami telah diputusken memakai nama Tian Te kau. Tinggi langit tidak terkira, dalamnya bumi tidak terukur. Sejak pertama alam diciptakan, semuanya sudah tsrmasuk bagian dan langit dan bumi. Seluruh lautan, pegunungan, bukit maupun daratan adanya antara langit dan bumi. Keadilan langit dan bumi, bukankah ditegakkan di antara Keduanya juga? Dengan adanya Tian Te kau, maka seluruh partai di muka burru ini dapat disatukan Kalau dunia Bulim dapat bergaoung menjadi satu, bukankah tidak akan terJadi lagi segala macam pertikalan? Baik pandanganpandangan yang berbeda maupun segala macam perselisihan, dapat dlhilangkan sampai sirna Ilmu pusaka setiap partai maupun perguruan yang sudah menjadi Warisan selama ratusan tahun dapat disatukan dan dipelajari bersama.

Dengan demikian tidak akan terjadi pencurian kitab pusaka maupun adanya murid yang berkhianat. Meningkatkan kesejahteraan kaum Bulim, menjalankan keadilan serta melindungi yang lemah merupakan tujuan utama perkumpulan kami!".

Dia berhenti sejenak dan merubah nada pembicaraannya.

"Perkumpulan kami ini sudah dipersiapkan sejak tiga tahun yang lalu. Hari ini, tanggal satu bulan dua betas, dinyatakan secara tecbuka bahwa Tian Te kau telah diresmikan. Adapun katua perkumpulan ini, merupakan tokoh besar yang tidak asing lagi, yakni Ci Sancu dari Kong Tong pai yang sejakhari ini panggilannya dirubah menjadi Ci kaucu. Sedangkan wakil ketua perkumpulan kami ini tidak bukan dan tidak lajn dari Hue leng senbu Cu Leng Sian'".

Cu Tian Cun merendek sejenak intuk menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dia melanjutkan lagi dengan suaranya yang lantang dan nyaring. "Orang-orang maupuii tokohtokoh yang memberi dukungan kepada kami terdiri dari bekas Bulim bengcu teidahulu yakni, Song Ceng San. ".

Song Ceng San yang duduk di baris psrtama para tamu agung tersebut setengah mati mendengar uraiannya. Tanpa sadar cia melonjak bangun dari tempat duduknya dan berteriak....

"Tunggu dulu!".

Tampaknya Long san it pei sudah menduga bahwa Song Ceng San akan melonjak bengun begitu namanya disebut. Dia segera turun dari aitar dan mengharnpiri orang tua itu. Wajahnya mengembangkan seulas senyuman.

"Song loya cu, andaikata kau orang tua mempunyai pendapat apa-apa, kalau bisa tunda dulu sampai Cong huhoat menyelesaikan pengumumannya beru kemudian dicetuskan. Pada saat itu kami memberi kesempatan kepadamu agar orang lain juga biaa mendengarkan dengan jelas Sekarang harap kau orang tua sudi duduk kembati," katanya dengan nada ramah.

Ketika Suo Yi Hu turun dari altar dan berbicara dengan Song C®ng San, Cu Tian Cun sama seKali tidak menghentikan pengumumannya.

"Wakif dan Siau lim pai, Bu Cu taisu, Tung Sit Cong, wakil dah Bu Tong pai, Giok Si Cu, Su Po Hin, Ciang bunjin dari Hua san pai, Sang Ceng Hun. Wakil dari Ciong San pai, Ciok Sam San. Wakil dari Cong Lam pai, Lu Hui Peng. Ciang bunjin dari Pat Kua bun,.

Kwek Sf Hong, Kan Si Tong Wakil dari Liok Hap bun, Beng Ta ]in. Wi Yang samkiat, Wi Lam cu, Gi Ceng Lam (Gi Hua to) dan Hui Km Siau " Dia

membacakannya dengan cepat sekali Dengan sekali hembusan nafas dia sudah membacakan semua nama-nama dari para undangan yang duduk di bagian tamu agung. Tepat pada saat itu, para undangan yang namanya disebut tadi, semuanya sudah mengikuti tindakan Song Ceng San. Dengan serentak mereka melonjak bangun dari tempat duduk masing-masing.

Sepasang alis Song Ceng San yang sudah memutih langsung terjungkit ke atas. "Cu Cong huhoat tidak perlu meneruskan pengumumannya. Orang she Song

sekarang juga akan menyangkal di hadapan orang banyak bahwa pernah mendukung Tian Te hue kalian. Aku juga tidak menyetujui diresmikannya perkumpulan kalian ini, apalagi mengakui Ci sancu sebagai kaucu dan Hue teng senbu sebagai Hu kaucu Harap Cu Cong huhoat membereskan masalah ini sekarang juga!" katanya dengan suara penuh wibawa.

"Apa yang Song loya cu katakan memang tepat sekali. Aku percaya setiap orang dari delapan pactai besar yang menghadiri pertemuan ini juga tidak tahu menahu mengenai persoalan ini. Apalagi mengakui Ci Leng Un danHue leng senbu sebagai kaucu dan wakil kaucu. Kami juga tidak pernah memberi dukungan untuk peresmian perkumpulan kalian. Apabila kalian memang ingin mendirikan sebuah perkumpulan, harap dilakukan dengan cara yang baik dan dengan maksud yang baik!" sambung Ciang bujin dari Hua san pai , Sang Ceng Hun.

Kemudian orang-orang dan Siau Lim pai, Bu Tong pal, Ciong San pai, Cong Lam pai, Pat Kua bun, Liok Hap bun maupun Wi Yang samkiat masingmasing mengucapkan beberapa patah kata yang intinya menyangkal pernah memberi dukungan kepada pihak Tian Te kau dan mereka juga tidak mengakui Ci Leng Un dan Hue Leng senbu sebagai kaucu dan wakil kaucu perkumpulan yang akan didirikan.

Parahadirin yang duduk di barisan tamu biasa mendengar dengan telinga sendiri dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Tian Te kau yang akan didirikan ini belum apa-apa sudah bertindak curang. Apalagi delapan partai besar serta Song loya cu pun sudah menyangkal secara terangterangan Hal ini membuktikan bahwa semuanya merupakan ocehan sembarangan dari pihak penyelenggara pertemuan ini. Mereka enggan berdiam disana tebih lama. Satu per satu mulai berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat tersebut.

Saat itu tampak Hue leng senbu berdiri dari tempat duduknya perlahan-lahan.

"Para hadirin harap sabar sebentar Mengenai urusan ini kami bisa memberikan bukti yang kuat dan alasan yang tepat!" kata perempuan itu sambil merentangkan kadua tangannya agar para hadirin agak tenang.

Dia tidak memberi kesempatan kepada Song Ceng San maupun rombongannya untuk membantah. Dengan tenang dia melanjutkan kata-katanya.

"Cian Poa Tengl" Entah apa maksudnya memanggil Yu huhoat itu.

Cian Poa Teng segera mengiakan. Dia melangkah kaluar dan sisi belakang sang 'kaucu' kemudian mengitari meja parijang dan membungkukkan tubuhnya.

"Hamba di sinil". "Apakah masih ada orang-orang dari delapan partai besar yang belum hadir di sini?" tanyanya kembali.

Urusan ini memang merupakan tanggung Jawab Kepala Penerimaan Tamu. Maka Cian Poa Teng pun segera menjawab.

"Lapor Hu kaucu, di antara delapan partai besar hanya Go Bi pai yang belum mengirimkan wakilnya.".

Hue leng senbu mengibaskan tangannya, Cian Poa Teng membungkuk sambil mengundurkan diri dan kembali lagi ke tempat berdirinya semuta. Hue leng senbu memanggil kembali.

"Suo Yi Hu!".

Long san itpei cepatcepat tampil ke depan dan membungkukkan tubuhnya sedikit. "Hamba di sini!".

Wajah Hue leng senbu kaku dan dingin sekali. Dengan nada sepatah demi sepatah dia berkata: "Perkumpulan kita mengadakan pertemuan dengan mengundang berbagai pactai terkemuka, termasuk Go Bi pai yang dikatuai oleh Lian Seng teisu. Sekarang bukan saja dia tidak hadir sendiri, bahkan juga tidak mengirimkan wakilnya. Hal ini merupakan penghinaan bagi perkumpulan kita. Coba kau katakan, menurut peraturan dunia kangouw, orang yang menghina perkumpulan orang lain harus diapakan?".

"Or'ang yang berani menghina sebuah perkumpulan harus dihukum mati!" sahut Suo Yi Hu tegas.

"Bagaimana kaiau sebuah partal yang melakukan penghinaan tersebut?" tanya Hue teng senbu kembali.

"Sama saja," sahut Suo Yi Hu.

"Baik, Suo Yi Hu, Urusan ini kuserahkan ke tanganmu!" Terdengar suara Hue leng senbu yang parau dan berat.

Kata-kata ini membuat perasaan para hadirin menjadi terkejut setengah mati. Hal ini merupakan tindakan pecmulaan yang berarti awal pertumpahan darah. Tian Te kau ingin melakukan pembunuhan besarbesaran. Dan Go Bi pai seperti menJadi korban pertama mereka. 

Suo Yi Hu membungkukkan tubuhnya kembali. "Hamba menerima perintah!".

Hue leng senbu membalikkan tubuhnya lagi ke arah Song Ceng San.

"Song Ceng San, kau bilang bahwa kalian tidak mencantumkan nama sebagai orang- orang yang memberi dukungan kepada perkumpulan kami dan dengan demikian kaljan juga tidak mengakui kami sebagai kaucu dan Hu kaucu, bukankah begitu?".

Selama tiga puluh tahun terakhir ini, belum pernah ada orang yang memanggil Song Ceng San dengan namanya langsung Menilik dari nada suara perempuan tua ini, tampaknya dia memang sudah terangterangan ingin mencari garagara dengan delapan partai besar.

Song Ceng San tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerrnng sedikit pun.

"Tidak salah, perkumpulan kalian seharusnya memberikan jawaban yang dapat diterima oleh kami semua," sahutnya tenang.

Hue leng senbu tertawa dingin.

"Hitam di atas putih merupakan kenyataan yang tjdak dapat dipungkin. Apakah perkumpulan kami memalsukan nama kalian satu per satu?" Berkata sampai di sini, dia menoleh kepada Cu Tian Cun.

"Cong huhoat, kau bawakan daftar nama biar Song loya cu lihat sendiri. Apakah yang tercantum di sana bukan tanda tangannya?".

Cu Tian Cun menatap Hue leng senbu sekilas. Wajahnya tampak jadl serba salah. "Hu kaucu. ".

Hue leng senbu mendengus dingin.

'Apakah kau takut mereka akan menolak merobek daftar nama itu? Hal ini tidak perlu kau khawatirkan. Mereka semua terdiri dah aliran lurus dan sudah lama mempunyai nama basar. Mereka tidak akan melakukan perbuatan serendah itu. Pokoknya kau bawakan saja daftar nama itr agar mereka dapat memeriksanya sendiri!".

Cu Tian Cun segera mengiakan. Dia menggapaikan tangannya ke arah Suo Yi Hu. Dengan cepat Suo Yi Hu menghampirinya. Cu Tian Cun mengambll buku daftar nama dan menyerahkannya kepada Suo Yi Hu.

"Bawakan buku daflar nama para pendukung ini agar mereka dapat membuktikannya sendiri," katanya.

Suo Yi Hu menganggukkan kepalanya. Dia menerima buku daftar nama tersebut kemudian membalikkan tubuhnya turun dari altar dan berjalan ke tempat Song Ceng San. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman. 'Song loya cu, silahkan periksa." Song Ceng San menyambut buku daftar nama tersebut. Pada halaman ketiga yang mana atasnya ada tulisan yang barbunyi. Daftar nama para pandukung parkumpulan Tian Te kau. Di barisan pertama bagian bawahnya, partama-tama memang tercantum namanya sendiri. Lagipula dia segera mengenali bahwa tulisan yang tercantum disana juga buah hasil tangannya sendiri. Dia tidak mengerti rnengapa tulisannya bisa barpindah ke kertas halaman itu. Tentu saja pihakHue leng senbu yang memalsukannya. Tapi bagaimana caranya sampai pemilik nama sendiri tidak dapat mengemukakan perbedaan sedikitpun! Song Ceng San merasa tertekan. Dia menyodorkan buku daftar nama itu kepada Ciang bunjin Hua san pai, Sang Ceng Hun yang ada di sebelahnya.

Sinar mataHue leng senbu yang berbinar-binar mengerling kepada Song Ceng San sekilas,.

"Kau sudah lihat dengan jelas bukan? Apakah yang tercantum disana bukan tulisanmu sendiri?" tanyanya dengan nada dingin.

Song Ceng San mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

'Lohu tidak merasa pernah mencantumkan nama dalam buku daftar tersebut, tetapi tanda tangan yang ada di dalam buku itu tampaknya memang asli. Sampai Lohu sendiri menjadi curiga jangan-jangan memang pernah mencantumkan nama di dalam daftar itu!".

Sekel! lag!Hue leng senbu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Kalian semua sudah melihatnya? Mungkin kalian semua ingin mengatakan bahwa perkumpulan kami yang memalsukannya?".

Daftar nama itu sudah diedarkan ke seluruh tamu agung yang hadir, Terakhir sampai di tangan Gi Ceng Lam, Orang tua yang mempunyai julukan Gi Hua to itu segera menutupnya kembali dan menyodorkan kepada Suo Yi Hu, Orang itu menerimanya dengan bibirtersenyum kemudian dia naik kembali ke atas altar dan buku itu dipersembahkan kepada Cu Tian Cun.

Tampak Beng Ta jin tertawa terbahak-bahak.

"Kata-kata Senbu tapat sekali. Kami tidak mengatakan ada yang memalsukan tanda tangan kami, namun apakah kami harus mengakui bahwa memang kami yang menandatanganinya?".

Hue leng senbu tertawa sumbang.

"Di dalam dunia Bulim, untuk membedakan mana yang aliran putih dan mana yang aliran hitam saja sulit. Kalian semua adalah tokoh kelas satu pada jaman ini. Kalau kelian telah memastikan bahwa perkumpulan kami memang memalsukan tanda tangan kalian, tentu tidak bersedia dibantah begitu saja. Kalau begitu, menurut peraturan dunia Bulim, terpaksa kita menyelesaikannya dengan mengadu kepandaian, Siapa yang menang dan kalah juga dapat membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Entah bagaimana pendapat cuwi sekalian?".

Song Ceng San segera mengembangkan seulas senyuman lebar,. "Apabila Senbu ada minat seperti itu, lohu tentu saja akan mengiringi!".

Bu cu taisu dari Siau lim pai langsung merangkapkan sepasang telapak tangannya. "Omitohud! Tampaknya perkumpulan kalian sudah mengadakan persiapan sejak mula!".

Hue leng senbu memperdengarkan suara tertawa dingin satu kali. Dia menolehkan kepalanya dan memerintahkan...,.

"Tian Cun, di antara para tamu yang hadir, apabila ada yang merasa tidak puas, biar kau saja yang melawannya beberapa jurus Harus membuat perasaan mereka terpuaskan baru boleh berhenti. Kalau ada orang yang sengaja rnengacau atau memfitnah di antara para hadirin, atau sengaja mencari gara gara dengan perkumpulan kita, jangan ragu-ragu, kau boleh bunuh sesuka hatimu!".

Benar-benar kata-kata yang sombong dan mengandung hawa pembunuhan yang tebal!.

Cu Tian Cun segera membungkukkan tubuhnya,. "Hamba terima perintah," sahutnya,.

Cu Tian Cun menegakkan tubuhnya kembali, Dengan langkah perlahan dia berjalan menuruni altar. Kemudian dia menjura kepada Song loya cu.

"Song loya cu, cuwi Ciang bunJin, siapa saja yang berminat memberi petunjuk, siiahkan keluar ke halaman depan'".

Saking kesalnya, selembar wajah Song kiya cu sampai memucat. Dia mendengus dingin satu kali.

Apa? Sen bu tidak turun tangan sendiri untuk membariken petunjuk?" tanyanya. Cu Tian Cun tersenyum simpul,.

"Song loya cu salah paham. Asal cuwi bisa mengalahkan cayhe, dengan sendirinya Hu kaucu akan turun ke gelanggang, untuk meminta petunjuk dari cuwi, Tetapi apabila cayhe saja, tidak sanggup cuwi kalahkan, untuk apa Hu kaucu turun tangan sendiri?".

Senyumannya begitu ceria. Kata-katanya juga diucapkan dengan santai. Penampilannya gagah. Suaranya bening dan nyaring. Tetapi nadanya benar-benar terlalu sombong. Benar-benar merupakan paduan yang jarang terlihat.

Ciok Sam San dari Ciong San pai langsung mendengus dingin.

"Orang she Ciok sudah lama berkecimpung di dunia kangouw, Orang yang pernah kutemui juga tidak sedikit, tetapi belum pernah ada yang demikian tidak tahu malunya mengagulkan diri sendiri'".

Cu Tian Cun melirik ke arahnya sekilas. "Hal ini pasti karena pengetahuan saudara yang sempit," sindicnya. Kemudian dia menjura kembali kepada Song Ceng San,.

"Song loya cu, silahkan." ".

Meskipun Song Ceng San sebal terhadap nada bicaranya yang sombong, tetapi biar bagaimana pun dia merupakan seorang bekas Bulim bengcu yang disegani orang banyak. Dengan kedudukannya sekarang, tentu tidak baik apabita dia mengumbarkan hawa amarahnya. Akhirnya dia mengeluselus jenggotnya yang panjang dan menyunggingkan seutas senyuman, Dengan gaya santai, dia berjalan keluar.

Ciang bunjin Hua San pai, Sang Ceng Hun dan rekanrekan yang lain segera mengikuti langkeh Song Ceng San kelyar dari ruangan tersebut. Pakaian Cu Tian Cun yang berwarna biru berkibarkibar, Dengan langkah mantap dia menginngi Song Ceng San menuju lapangan yang terdapat di halaman depan.

Long san itpei tidak mau ketinggalan Beserta rombongannya dia j'uga bergegas keluar, Para hadirin yang duduk di barisan tamu biasa tidak jadi meninggalkan tempat itu. Dengan berbondongbondong mereka ikut keluar dari ruangan tersebut untuk ikut menyaksiken keramaian yang akan berlangsung,.

Pada saat itu, kedua meja yang tadi mengapit di kiri kanan jalan telah diangkat. Beberapa pemuda segera menyediakan dua buah kursi tinggi di ujung lapangan. Kaucu Tian Te kau, yakni Ci Leng Un berdlrl dengan dipapah oleh wanita tadi. Yu huhoat Cian Poa Teng dan Cuo huhoat Toan Pek Yang masih mengawal di kedua slsinya. Bersama-sama dengan Hu keucu Cu Leng Sian, mereka keluar menuju lapangan terbuka.

Beng Hui Ing. Hue moti Cu Kiau Kiau, Be Hua popo Ciok Sam ku, Yi Ju Si dan Ca popo langsung berjalan menuju lapangan terbuka dan berdtri berbaris dideretan sebelan kanan.

Tampang Cu Tian Cun berubah menjadi sehus. Dia menjura kepada Song Ceng San dengan sepesang mata terangkat ke atas.

"Apakah Song loya cu ingin turun sendiri memberi petunjuk?".

Terangterangan dia menantang Song Ceng San dj hadapan umum. Begitu mendongkolnya Song Ceng San, sampai d!a merasa dirinya hampir mengamuk. Hamplr saja dia ingin mengatakan 'Kau balum pantas bertarung denganku. Tetapi kata-kata ini akan merendahkan derajatnya sendiri aebagat bakas Bulim bengcu yang diseganl. Oleh karena itu dia hanya mendengus dingln. Kemudlan membalikkan tubuhnya,...

"Cun ji, bawakan pedang!" perintahnya.

Sekali berkelebat, Song Bun Cun sudah berada di hadapannya. Dia membungkukkan tubuhnya menghormat.

"Tia, usia Cu Cong huhoat tidak terpaut Jauh dengan anak. Dia masih balum pantas melawan kau orang tua. Biar anak saja yang menerima beberapa jurus petunjuk darinya Anak ingin lihat sampai di mana kehebatannyasehingga berani menantang delapan partai besar?".

Tentu saja Song Ceng San sadar bahwa dalam pertarungan hari Jni, pihak lawan sudah mempunyai persiapan yang matang, Tetapi Hue leng senbu hanya mengunjuk Cu Tian Cun seorang untuk melawan pihak meraka. Hal ini membuktikan bahwa kepandaian anak muda ini pasti sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali sehingga Hue leng senbu menaruh kepercayaan yang besar pada dirinya.

Berdasarkan kedudukannya sendiri, sebetulnya dia tidak boleh bergebrak dengan anak muda ini. Untung saja putranya, Bun Cun sudah mendapat didikan langsung darinya selama bartahuntahun, Mengandafkan Song ka pekkiam. biarpun anak Cun tidak bisa menang, tetapi rasanya juga tidak mudah dikalahkan. Setelah mempunyal pikiran seperti itu, akhirnya Song Ceng San menganggukkan kepalanya.

"Baikiah, llmu silat orang yang satu ini pasti sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali Harap kau berhatihati menghadapinya," pesannya dengan suara lirih.

Song Bun Cun membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Anak mengerti," sahutnya sembari membalikkan tubuh dan berjalan ketangah arena. Terpaut dari Cu Tian Cun kurang lebih delapan cun, dia menghentikan langkah kakinya serta merangkapkan sepasang kepetan tangannya menjura,.

"Song Bun Cun dari Tian Hua sanceng pertamatama yang Ingin menyambut beberapa jurus petunjuk dari Cu Cong huhoat," katanya.

Kiuci lo han Cu Siang Hu segera melesat keluar ke tengah arena dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Cu Tian Cun.

"Cu Cong huhoat, biar hamba saja yang melawannya!" katanya menawarkan diri,. Cu Tian Cun menggelengkan kepalanya perlahan-lahan,.

"Tidak usah," sahutnya sambil mengibasken tangannya memberi isyarat agar Kiuci lo han keluar dari arena tersebut.

Kiuci lo han tidak barani membantah. Dia terpaksa mengundurkan dJri ke tempatnya semula. Sementara itu, Cu Tian Cun menatap ke arah Song Bun Cun sekilas kemudian mendongakhan wajahnya menatap langit.

"Apakah kau putra kesayangan Song loya cu yang bernama Song Bun Cun?".

Song Bun Cun dapat mendengar nada suaranya yang sangat angkuh, seakan tidak memandang sebelah mata terhadapnya. Tanpa sadar dia mengeluarkan suara tawa yang mengandung kemarahan.

'Tidak salah, kongcumu ini memang Song Bun Cun adanya. Apakeh engkau yang mengaku diri sendiri sebagai Jago andalan Ci Leng Un dan merupakan anak angkat dah Cu Leng Sian?" tanya Song Bun Cun kembali.

Dia sengaja memanggil Ci Leng Un dan Cu Leng Sian dengan namanya langsung, Ha| ini tentu merupakan penghinaan bagi Cu Tian Cun. Tentu saja Cu Tian Cun merasa marah sekati. Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Wajahnya yang tampen segera menyiratkan hawa pembunuhan. Di keningnya terlihat uraturat hijau bertonjolan.

"Bukankeh kau ingin meminta petunjuk dariku? Terimalah seranganku ini!" Dia tidak menghunus pedangnya. Kaki kirinya melangkah ke depan, tangan kanan diulurkan dan kipasnya pun dikibeskibaskan.

Tiba-tiba dia menarik kipasnya kembali kemudian meluncur keluar dengan kecepatan tinggi. Jurus yang digunakan adaiah 'Tangan mengembangkan lima jari', sasarannya menuju ke arah dada kanan Song Bun Cun. Serangannya ini merupekan totoken kilat yang menggunakan ujung kipas.

Gerakannya langsung mengincar tampat yang berbahaya. Tetapi tubuhnya hanya didorong sedikit ke depen, Tampaknya begitu sederhana namun gayanya mempesona. Dia seperti sedang bermalnmain dan tidak menganggap Song Bun Cun sebagai lawan yang serius.

Padang panjang Song Bun Cun masih belum dikeluarkan. Hanya tubuhnya yang berkelebat sedikit dan sekejap mata dia sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan Cu Tian Cun,.

"Cu Cong huhoat, mengapa masih belum keluarkan senjatamu?" tanyanya dengan suara nyaring,.

Dia memang tidak malu disebut sebegai putra dari Bulim toalo, Penampilannya tidak kalah gagah. Gerakannya cepat dan nngan, orang yang menyaksikannya jadi ikut terpesona. Kedua orang ini patut disebut generasi muda harapan bangsa yang berbakat tinggi'.

Terdengar sahutan Cu Tia.n Cun dengan nada yang angkuh,.

"Orang she Cu ini Justru ingin menjajal sampai di mana kehebatan seratus jurus ilmu pedang keluarga Song. Kalau sampai kau sanggup mendesak aku untuk terpaksa menggunakan pedang, dengan sendirinya pedang in! akan kukeluarkan. Kau tidak usah perdulikan hal itu. Yang penting lihat sampai di mana kemampuanmu sendiril".

Padahal biasanya Song Bun Cun sudah tecmasuk seorang pemuda yang angkuh. Sekarang dia menemukan Cu Tian Cun yang ternyata Jauh lebih angkuh dari padanya, Orang Jtu malah mengucapkan kata-kata yang menyatakan kalau dia bisa mendesaknya sedemikian rupa sehingga terpaksa menggunakan pedang, dia tentu akan mengeluarkan pedangnya pada saat itu.

Hampir sa]a Song Bun Cun tidak dapat menahan kemarahan di hatinya. Namun di depan hadapan begitu banyaknya tokoh kangouw yang berkumpul, dia terpaksa menahan sebisanya. Untuk sesaat, dari sepasang matanya tersorot sinar kekejian yang mencekat. Kemudian dia menutupinya dengan tertawa terbahak-bahak,.

"Ucapan Saudara sombong sekali. Song Bun Cun hari ini justru ingin melihat begaimana caranya kau menghadapi seranganku apabila kau tidak mengeluarkan pedangmu itu?".

"Trang!" Cahaya kilat berkelebat, pedang panjangnya telah dihunus. Tangan kanannya mehyusul bergerak, dia mengerahkan jurus Awan terbang menembus langit, Pedangnya ibarat seekor ular terbang yang melesat keluar dari balik rerumputan.

Sebetulnya Song loya cu merupakan murid perguruan Hua San pal. Oleh karena itu, gerakan pedang yang dimainkan oteh Song Bun Cun ini juga merupakan Hua san kiamhoat, Telapi karena hatinya mendongkol sekaii mendengar ucapan pihak lawan yang pongah maka dia sengaja memainksn jurus Awan terbang menembus langit int. Tetapi baru mencapai setengah jurus saja, pedangnya mendadak berputar arah. Dia telah mengganti gerakannya dengan jurus yang iain. KalJ ini yang dikerahkannya adalah Tian San k»amhoat, yakni menguak gunung menerobos batu,.

Pada saat itu juga terlihat cahaya pedang memijar dan menimbulkan baberapa kali kelebetan kilat yang menggigilkan. Cahayacahaya itu mengurung dah kiri dan kanan kemudian menyerang ke arah lawan.

Gerakan perubahan pedang Song Bun Cun sudah cukup cepat, tetapi tarnyala Cu Tian Cun malah lebih cepat setengah langkah dari padanya, mululnya mengaiuarkan suara dengusan dingin satu kall. Tubuhnya melesat dengan ringan. Dalam sekejap mata dia sudah menerobos ke dalam cahaya pedang yang berbungabunga. Kamudian terdengar suara.

"Trak!" dari kipasnya yang telah dibuka. Setelah itu meluncur lurus ke arah tubuh pedang Song Bun Cun dan menekennya.

Serangannya kati ini bukan saja mengandalkan gerakan tubuhnya yang ringan, jurus yang dilancarkan juga aneh, demikian pula putaran pergelangan tangannya. Orang- orang delapan partai besar yang menyaksikannya tidak ada satu pun yang tidak berubah wajahnya. 

Tentu saja Song Ceng San yang paiing khawatir.

"Soat san pei mempunyai semacam ilmu gerakan tubuh yang ajaib. Janganjangan inilah 'Tian Sin Hoat' dari Soat san pai", Pikirnya dalam hati.

Hanya Tian sin hoat dari Soat San pai yang mempunyai gerakan tubuh tidak berwujud namun sanggup menyambut serangan ilmu pedang dari aliran mana pun. Perlarungan kedua belah pihak ini, sama-sama mempunyai kecepatan seperti kilat yang sedang menyambar. Ketika pedang Son Bun Cun dilancarkan, beru saja terlihat tubuhnya melesat, lawannya sudah menerjang datang. Dalam waktu sesaat, Song Bun Cun tkiak sempat lagi menarik kembali jurus serangannya. Dia terdesak mundur dengan terhuyung-huyung sampai beberapa cun, baru terhitung dapat menghindarkan diri. Kali ini, demikian kesal dan marahnya Song Bun Cun sampei selembar wajahnya menjadi merah padam. Bayangkan saja, berpuluh tahun yang lalu saja ayahnya sudah mendapatjutukan jago pedang nomor satu di Bulim. Sebagai putranya, Song Bun Cun mendapat didikan langsung dari ayahnya, Tetapi barusan dengan sebatang pedang, ternyata hanya dalam satu Jurus saja, lawannya berhasit mendesaknya sampai terhuyunghuyung mundur dengan sebuah kipas yang panjangnya hanya satu cun lebih.

Rasa malu yang dirasakannya terlebihlebih daripada ditusuk satu keli oleh Cu Tian Cun. Mulutnya berteriak histen's. Begitu mundur langsung menerjang lagi. Pedang panjangnya dijulurken ke depan, tubuhnya berkelebat mengikuti gerakan pedang. Dia langsung mengerahkan jurus yang hebat dari Song ka pekkiam. Tampak kilatan cahaya yang dingin melesat dan menerbitkan titik sinar yang beterbangan, pedangnya terus menyerang dengan gencar.

Serangannya kali ini dipenuhi rasa amarah. Bukan saja gerakannya demikian cepat seperti kalap, sekitas cahaya pedangnyajuga bagai ular putih yang mengejar mangsanya. Kehebatannya tidak terkirakan,.

Dalam sekeJap mata Cu Tian Cun segera terkurung dalam cahaya pedang yang membentuk bayangan berkilauan. Dia sama sekali tidak berani memandang ringan serangan ini, Kipasnya segera digetarkan sehingga timbul bayangan dalam jumlah banyak. Pakaiannya yang berwarna biru berkibarkibar mengikuti gerakan tubuhnya.

Sapuan pedang Song Bun Cun sudah termasuk hebatnya bukan main, tetapt tidak disangka gerakan kipas di tangan Cu tian Cun lebih cepat lagi mengagumkan. Hampir setiap Jurus dapat dilayaninya dengan baik.

Dalam waktu yang singkat, para hadirin maupun orang-orang dan detapan partai hanya merasakan pedang dan kipas saling berkelebat, kecepatannya bagai kitat, mereka belum merasakan apa-apa. Tetapi sebagai seorang yang sudah memiliki kepandaian tinggi, Song Ceng San memandang dengan penuh perhalian. Di wajahnya tersirat rasa kekhawatiran yang dalam.

Tidakl Begitu terkejutnya orang tua itu sampaisampai tangannya mengeluarkan keringat dingin. Tentu saja sebagai seorang ayah dia mencemaskan keselamatan putranya. Sedangkan kaiau ditilik dari keadaan yang sedang bertangsung, lipis sekali harapan bagi Song Bun Cun untuk memenangkan pertandingan ini.

Padahal Song Ceng San mengetahui bahwa itmu yang baru dimainkan oleh Song Bun Cun merupakan satah satu jurus mematikan dari seratus jurus ilmu pedang keluarga Song. llmu ini keluaran Tian San I Sou. Setiap jurusnya mempunyai perubahan yang sulit dipecahkan.

Apalagi Song Bun Cun yang turun tangan lebih dahulu. Seharusnya Cu Tian Cun tebih lambat setengah jurus dari padanya. Tetapi gerakan kipas di tangan orang itu malah lebih cepat lagl, bahkan mengejar setangah jurus di depan Song Bun Cun. Pertu diketahui, sebagian orang apabila dapat mengejar setengah jurus di muka, tetapi kalau kau turun tangan dengan cepat, tetap saja tidak dapat berbuat apa-apa. Namun gerakan Cu Tian Cun yang lebih cepat setengah jurus dengan hasil mengejar kece^ patan, tentu tidak dapat disamakan.

Dia hanya menggunakan sebatang klpas yang panjangnyacumasatu cun lebih. Begitu mengerahkan jurus yang pertama, serangan pertama Song Bun Cun pun berhasil disambutnya dengan baik.

Sedangkan Song Bun Cun sendiri yang melihat jurus partamanya berhasil disambut oleh Cu Tian Cun dengan baik, segera merubah jurusnya. Siapa sangka begitu jurus kedua dikerahkan, kipas Cu Tian Cun dengan secepat kilat menerjang datang. Song Bun Cun yang baru menjalankan jurus kedua setengah bagian, segera merasakan apabila diteruskan tentu dapat dipecahkan lagi oleh lawan, maka dalam keadaan panik dia segera merubah lagi gerakannya.

Cu Tian Cun melihat dia mengganti jurus yang lain, Juga ikutikutan mecubah gerakan kipasnya. Pokoknya, dalam tiga puluh jurus yang telah berlangsung, kedua orang itu tidak hentinya mengganti gerakan dan jurus. Semuanya merubah gerakan ketika setengah jurus baru dimainkan. Tidak ada satu pun yang menyelesaikan satu Jurus sampai selesai.

Yang membuat Song Ceng San begitu terkejut justru dalam tiga puluh jurus ini, ilmu yang digunakan Song Bun Cun semuanya terdiri dari ilmu pedang keluarga Song.

Tetapi Cu Tian Cun dapat memecahkannya dengan tanpa kesulitan sama sekati,.

Selama berpuluh tahun terakhir ini, seratus Jurus ilmu pedang kaluarga Song yang dikatakan sebagai ilmu pedang yang tidak terpecahkan, ternyata hari ini sudah berhasil dipecahkan semuanya. Bagaimana hal ini tidak membuat parasaan Song Ceng San Jadi tertekan?.

Apabiia ingin memecahkan ilmu pedang sebuah partai atau sebuah keluarga yang terkenal, paling tidak harus memahami dulu s©cara keseluruhan itmu tersebut, Kalau ditilik dari keadaan sekarang, beracti pihak mereka sudah mengadakan persiapan sebelumnya. Hanya melalui pangamatan seorang ahli seperti Ci Leng Un, kemudian merundingkennya bersama lalu menciptakan jurus panangkalnya, barulah ilmu pedang keluarga Song dapat dipecahkan.

Hati Song Ceng San merasa cemas dan marah Baru saja dia ingin membuka mulut membentak, tahu-tahu terdengar suara tertawa dingin dari mulut Cu Tian Cun.

"Cukup. Seratus jurus ilmu pedang keluarga Song ternyata hanya begitu sa]a!" Tubuhnya berkelebat, tangan kirinya tiba-tiba terjulur keluar dan mencengkeram ke arah pedang Song Bun Cun.

Serangannya ini tampaknya hanya asal mencengkeram saja. Sama sekali tidak terlihat kaistimewaan apa-apa. Tangan yang mendadak dijulurkan untuk mencengkaram pedang malah membuat orang merasa orang ini tidak mengenal bahaya. Tetapi kenyataannya gerakan Cu Tian Cun memang indah sekali. Song Bun Cun yang sedang menikamkan pedangnya ke depan, melihat dia mengulurkan tangan untuk mencengkeram padangnya. Sejak usia kecil dia sudah melatih ilmu pedang. Tentu saja dia dapat melihat gerakan tangan lawan yang aneh. Dan yang lebih aneh tagi pedangnya seperti menghampiri sendiri ke arah tangan Cu Tian Cun.

Hatinya terkesiap. Dia bermaksud merubah gerakan pedangnya tetapi sudah tertambet. Ujung padangnya sudah ter|epit oleh dua ]ari telunjuk dan tengah Cu Tian Cun. Dalam keadaan panik, tangan kanannya mengerahkan tenaga dan diputar.

Sedangkan telapak tangan kirinya segera mengirimkan sebuah pukulan yang meluncur ka arah Cu Tian Cun yang sedang menerjang datang.

Dua jari tangan kiri Cu Tian Cun tetap menjepit ujung pedang. Kipas di tangan kenannya mengipas perlahan. Wajahnya segera menyiratkan senyuman yang dingin. Tiba-tiba terdengar suara bentakan....

"Pergilahl".

Tangan kanan diangkat ke atas dan mendorong ke depan. Tubuh Song Bun Cun menjadi tidak seimbang. Orang berikut pedangnya melayang di udara kemudian berjungktr balik satu kali lalu terdengar suara,.

"Bluk!" dan Song Bun Cun pun terhempas di atas tanah.

Cu Tian Cun tidak mengejarnya lebih lanjut, Bahkan dia tidak meliriknya sekilas pun.

Hanya kipasnya yang direntangkan di depan dada kemudian digerakkannya dengan perlahan-lahan.

"Siapa lagl yang bersedia memberikan petunjuk?" tanyanya dengan nada dingin dan angkuh,.

Dengan menopang Song Bun Cun berdiri perlahan-lahan, begitu malunya Song Ceng San sampai selembar wajahnya merah padam. Song Ceng San segera menggapaikan tangannya memberi isyarat agar dia mengundurkan diri.

Saat itu Clek Ban Cing yang sudah terpancjng kemarahannya segera melesat keluar ke tengah lapangan dengan suara tertawa yang lantang.

"Biar orang she Ciek Yang saja yang mencoba jurusJurus mautmul" katanya dengan nada yang keras.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ada lagi seorang yang melesat keluar dari rombongan para tamu agung Dia adalah Ciok Sam San dan Cong San pai.

"Ciek Congkoan harap tunggu sebentac. Hengte sudah lama ingin mengenal ilmu hebat dari Kong Tong pai. Biar babak ini kau mengalah sa|a kepada hengte, bagaimana?" tukasnya dengan lantang. Belum lagi Ciek Ban Cing sempat menjawab, Cu Tian Cun sudah memperdengackan suara tawa dingin.

"Kalian berdua tidak perlu berebutan. Lebih baik turun tangan berdua sa|a!" sindirnya dengan berani.

Mata Ciok Sam San merah membara. Sei perti ada api yang berkobarkobar di dalamnya. Dia tertawa terbahak-bahak.

"Saudara adalah Cong huhoat darl Tian Te kau. Apakah kau mengerti peraturan dan tata krama dunia kangouw? Kau anggap manusia apa lohu ini'?".