Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 30 Tamat

 
Jilid 30 (Tamat)

"Racun yang kau benkan kepada Yaya adalah racun pembuyar tenaga dan racun penghilang kesadaran. Apakah ada obat pemunahnya?" tanya Tiong Hui Ciong.

"Mengenai hal ini, aku kurang jelas," sahut selir Li.

"Lalu, kedua macam racun itu diramu oleh Siapa?" tanya Tiong Hui Ciong kembali.

"Be Hua popo Ciok Sam Ku dan Ca popo yang meramunya. Kemungkinan besarmereka mempunyai obat pemunahnya. Karena racun pembuyar tenaga merupakan warisan dari keluarga Ca di Sia Pak. Sedangkan racun penghilang kesadaran merupakan warisan kaluarga Be hua popo. Kedua Jenis racun ini samasama tidak berbau dan tidak berwarna. Kalau dicampurkan ke dalam tah pasti sulit di ketahui. Mereka berdua sekarang tidak pernah berpisah dengan Hu kaucu. Mungkin karena takut kedua orang itu akan membocorkan rahasia," sahut selir Li.

Sejak berpisah dengan Yok Sau Cun di Yang Ciu, Ciok Ciu Lan bagai tenggelam ke dasar lautan. Sama sekali tidak pernah terdengar kabar beritanya. Hati Yok Sau Cun terus tenngat kepadanya. Tetapi karena banyak kejadian yang dialaminya, Yok Sau Cun tidak mempunyai kesempatan untuk mencarinya. Sekarang dia mendengar bahwa orang-orang yang meramu racun pembuyar tenaga dan racun penghilang kesadaran adalah Be Hua popo dah Ca popo yang mana kedua orang itu tidak pernahberpisah sejengkal pun dengan Hue leng senbu, hatinya langsung yakin bahwa Ciok Ciu Lan pasti ada di samping ibunya. Mengingat hal itu, tanpa bisa menahan perasaannya lagi dia langsung bertanya....

"Apakah Be Hua popo juga sudah bergabung dengan Kong Tong pai?". Selir Li tersenyum manis.

"Be Hua popo memang merupakan orang kepercayaan Senbu, Dia berjuatan bunga sebetulnya hanya sebagai kedok. Tujuan sebenarnya adalah mencari orang-orang dunia kangouw yang memiliki ilmu tinggi dan membujuk mereka bergabung dengan Kong Tong pai.".

Be Hua popo pandai menggunakan racun penghilang kesadaran, tentu merupakan hal yang mudah baginya untuk membujuk tokohtokoh dunia kangouw untuk bergabung dengan Kong Tong pai.

"Ciong cici, apakah pertanyaanmu sudah selesai?" tanya Yok Sau Cun Dia ingin bergegas berangkat ke Ce Po tangoan.

"Baiklah, kita berangkat sekarang " Dia menolehkan kepalanya dan berpesan kepada kaempat pelayannya." Kalau sudah tiba di Ce Po tangoan nanti, di antara kalian berempat, biar Ciu Suang dan Tung Soat yang mencekal selir Li Cun ftong dan Sia Ho harus bersiap-siap meringkus orang!".

Ciu Suang dan Tung Soat segera mengiakan.

"Ji siocia, siapa yang harus diringkus oleh budak berdua?" tanya Cun Hong.

"llmu silat Be Hua popo cukup tinggi, biar aku yang menghadapinya. Kau dan Sia Ho harus meringkus Ca popo. Tetapi ingat. orang ini mempunyai hubungan yang penting dengan keselamatan Yaya Kalian harus meringkusnya hiduphidup, namun jaga jangan sampai dia metoloskan diri!".

"Budak mengerti Ji siocia jangan khawatir Pasti tidak terjadi kesalahan," sahut Sia Ho.

"Kalau hanya seorang Ca popo saja, tidak perlu khawatir dia bisa tumbuh sayap," tukas Cun Hong.

"Tidak Urusan ini kalian tidak boleh mainmain. Karena hanya dengan menngkusnya secara hidup-hidup baru bisa menyelamatkan diri Yaya dan racunnya," kata Tiong Hui Ciong,.

Ciu Suang dan Tung Soat mengemban tugas mengginng selir Li Dengan Ujung pedangnya, Tung Soat menutuk tahu perempuan itu.

"Bangun, bangun Kita mau berangkat. Buat apa kau masih enak-enakan bersandar di sana?" teriaknya pura-pura galak.

Selir Li sudah terjatuh ke tangan mereka, Terpaksa dia menanma hinaan ini. Dia tidak percaya Tian Te kau yang sudah lama direncanakan dengan segala persiapan matang oleh Hu kaucu dapat dihancurkan begitu saja. Apalagi untuk menghadapi orang-orang dari delapan partai besar, Hu kaucu sudah menebarkan racun pembuyar tenaga. Siapa lag! yang mempunyai kemampuan sebesar Itu hendak berbentrok dengan Tian Te kau? Oleh karena itu, mendengar mereka akan menyeretnya ke Ce Po tangoan, diamdiam dalam hatinya merasa senang bukan kepalang. Dia segera melonjak bangun mendengar perintah Tung Soat.

Tiong Hui Ciong mengedarkan pandangannya. "Adik Cun, mari kita berangkatl" katanya kemudian.

Tung Soat dan Ciu Suang yang menggiring selir Li berjalan di bagian buntut. Mereka meneruskan perjalanan dengan tergesa-gesa. Tidak iama kemudian mer6ka sudah sampai di Ce po tangoan.

Pada saat itu, pertarungan di dalam berlangsung dengan seru. Tetapi dari luar suasananya sunyi mencekam, Kalau dilihat dari jauh, tampaknya tidak terjadi keributan apa-apa. Apabila didengarkan dengan seksama, maka samarsamar akan terdengar suara bentakan dan benturan senjatanya.

Ternyata kedua belah pihak masih melangsungkan pertarungan. Hati Yok Sau Cun tercekat sekali. Langkah kakinya segera dipercepat. Tiba-tiba dari pintu sebeiah kanan keluar delapan orang manusia yang mengenakan cadar berwarna hijau untyk menutupi sebagian wajahnya.

Wajah mereka tidak terlihat Jelas Tetapi tangan nnasingmasing mencekal sebatang pedang panjang. Warna kulit mereka pucat, mata menyorotkan sinar dingin Di balik langkah kaki mereka yang nngan, terlihat sedikit kekakuan.

Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di hadapan Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun. Dari balik cadar yang tipis, terlihat sorot yang menyeramkan dari mata mereka. Tiong Hui Ciong langsung merasa curiga melihat keadaan delapan orang ini.

"Adik Cun, hati-hati. Kedelapan orang ini bukan tokoh sembarangan!".

Belum lagi suara bentekannya sirna, kedelapan orang itu tanpe mengucapkan sepatah katapun langsung menggerakkan pedang masing-masing dan menyerbu ke arah mereka. Sinarpedang berkilauan, hawayang terpancar dari kedelapan batang pedang itu sangat keji dan mematikan.

Tanpa sadar sepasang alis Yok Sau Cun langsung terjungkit ke atas. "Tidak tahu diri!" bentaknya marah.

"Cring!" Dia mengeluarkan sebatang pedang yang diujungnya terdapatdua buah kaitan. Sebetulnya itu merupakan senjata Ci sancu yang direbut dan langan selir Li Pedang iUi mengeluarkan cahaya putih keperakperakan. Dalam sekejap mata dia sudah menyapukan ke arah empat manusia berkain cadar itu.

Tiong Hui Ciong Juga tidak bertambatlambat. Dalam waktu yang bersamaan dia menghunus Han engkiamnya Kakinya segera maju ke depan menghadang keempat manusia bercadar tersebut.

Cun Hong dan Sia Ho tidak menunggu perintah lagi. Mereka membalikkan tubuh dan berdiri di samping Ciu Suang dan Tung Soat untuk berjaga-jaga apabila ada kemungkinan pihak lawan yang ingm menyelamatkan selir.

Tapi tampaknya tujuan kedelapan manusia bercadar itu bukan untuk menolong selir Li. Setelah melihat dua orang lawan di hadapannya, mereka langsung menjulurkan pedang menyerang. Untuk sesaat, hawa pedang mulai menebal Bayangan pedang kokoh bagai gunung Serangan mereka sangat keji dan juga kehebatannya tidak usah diragukan lagi. Gerakan tubuh Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun bagai awan yang berarak. Sepasang pedang mereka bagai dua ekor naga yang meliuk-liuk Mereka menghadapi serangan kedetapan manusia bercadar itu Dalam sekejap saJa mereka sudah menemukan bahwa ilmu pedang yang digunakan kedelapan orang ini semuanya berlainan Jenis. Ada yang menggunakan Hua San kiamhoat, ada yang berasal dan Go Bi pai, Bu Tong pai dan beberapa partai dunia persiiatan lainnya. Dan masing-masing sudah menguasai ilmu itu dengan mahir sekali.

Salah satu yang berhadapan dengan Yok Sau Cun mempunyai gerakan yang aneh. llmu pedang yang digunakannya berasal dari Bu Liangkiam pai. Tenaga dalam yang dimilikinya bahkan lebiil tinggi dari Ciang bunjin Bu Liangkiam pai sendiri, yakni Hong Lam San,.

Dengan kekuatan tenaga Tiong Hui Ciong dan Yok Sau Cun, mereka malah berhasil mendesak kedua jago kita hingga hanya mempunyai kesempatan untuk mempertahankan diri saja. Dalam waktu yang singkat, mereka berdua sudah berputaran sampai belasan kali.

Tiba-tiba Tiong Kui Ciong merasakan bahwa kedelapan orang ini hanya tahu menyerang musuhnya dengan gencar. Mereka sama sekali tidak memperdulikan keselamatan diri masing-masing Hatinya jadi tergerak, dia segera berkata dalam hatinya.

"Cu Leng Sian menggunakan racun penghilang kesadaran Bahkan Yaya dan Ci sancu pun diracuninya. Jangan-jangan ingatan orang ini juga sudah hilang sehingga menyerang orang tanpa memperdulikan keselamatan diri...".

Mengingat hal itu, dia segera berseru kapada Yok Sau Cun.

"Adik Cun, rasanya kedelapan orang ini sudah kehilangan kesadarannya. Jangan sampai melukai mereka di tempat yang membahayakan nyawanya!" kemudian dia berpaling ke arah empat pelayannya. "Kalian berempat, cepat robohkan merekal".

Baru saja ucapannya selesai, Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat segera mengibaskan tangannya. Tampaknya beberapa titik sinar yang meluncur dengan pesat. Apabila mata orang itu kurang awas, pasti tidak dapat melihat dengan jelas. Karena sinar itu begitu halus.

Di sebelah sini sinar berkeredep, di sebelah sana delapan orang berkain cadar itu rubuh di atas tanah Rupanya kata-kata yang diucapkan oleh Tiong Hui Ciong merupakan isyarat bagi keempat pelayannya. Sebab dia melihat kedelapan orang itu hanya perduli menyerang musuh dan tidak memperdulikan keselamatan diri mereka sendiri Oleh karena itu dia menyuruh Cun Hong berempat merubuhkannya, Sedangkan keempat pelayan itu segera mengerti apa yang dimaksudkannya, Mereka langsung menyambitkan Jarum yang haius untuk merubuhkan mereka.

Jarum itu sebetulnya merupakan ilmu khas dari Soat san sameng. Senjaia rahasia itu dinamakan Bwehua ciam (Jarum bunga bwe). Tetapi Jarum yang digunakan Oleh Tiong Hui Ciong ini Jauh lebih halus dari Bwehua ciam yang biasa. Setiap jarumnya hanya seukuran bulu kerbau. Khusus untuk menusuk ke dalam urat nadi lawan. Tiong Hui Ciong sendiri menamakannya Jarum angin, karena sentuhannya hanya seperti tiupan angin sehingga orang sulit menghindannya.

Yok Sau Cun sampai tertegun melihat kedeiapan orang itu tahu-tahu sudah rubuh di atas tanah. Baru saja dia ingin menanyakan hal ini kepada Tiong Hui Ciong, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang....

"Yok siauhiap, harap jangan melukai mereka!".

Yok Sau Cun segera menolehkan kepalanya. Dia melihat beberapa sosok bayangan sedang melesat ke arahnya. Yang paling depan merupakan seorang tosu tua yang mengenakan jubah berwarna biru. Dia adalah Ciang bujin dari Bu Liangkiam pai, Hong Lam San. Sedangkan delapan orang yang mengikuti di belakangnya sudah pasti merupakan murid orang itu.

Yok Sau Cun menyimpan pedangnya kembali. Dia tangsung menjura dalam-dalam. "Rupanya totiang juga sudah datang kemari," sapanya.

Hong Lam San menyingkapkan sebelah tangannya, dia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa. Kakinya langsung menuju ke tempat delapan orang bercadar itu terkapar. Diperhatikannya mereka satu per satu.

"Apakah Yok siauhiap yang meringkus mereka?"tanyanya.

Hong Lam San sudah banyak pengalaman di dunia kangouw. Sekali lihat saja dia langsung menyadari bahwa kedelapan orang ini tidak mengalami luka apa pun. Hanya jalan darahnya saja yang tertotok.

"Tidak salah. Aku lihat kesadaran mereka seperli hilang, maka sengaJa hanya menotok jalan darah mereka saja," sahut Tiong Hui Ciong.

"Baguslah kalau begitu," kata Hong Lam San sambil menyingkapkan sebelah tangannya sekali lagi. "Pinto mendapat undangan dari Kong Tong pai, karenanya bergegas datang ke tempat in.i. Hanya kedatangan Pinto agak terlambat. Tadi dari kejauhan Pinto melihat Yok siauhiap bergebrak melawan seseorang yang menggunakan Bu liangkiam hoat. Baik bentuk tubuh maupun gerakannya ada kemiripan dengan suheng pinto, Ca Nam Kiau Itulah sebabnya Pinto minta Yok siauhiap jangan melukai mereka ".

"Suheng totiang mungkin sudah diracuni dengan sejenis obat yang dapat meng^ hilangkan kasadaran sehingga pribadi mereka tidak dapat dikenali lagi. Sekarang mereka lertotok oleh Tian hongciam dan sebelum obet pemunah drdapatkan, totokannya lebih baik jangan dibuka dulu," tukas Tiong Hui Ciong.

"Kong Tong pai juga termasuk salah satu partal besar di dunia kangouw. Mengapa mereka bisa menggunakan racun penghilang kesadaran? Apakah mereka tidak takut akan ditertawakan oleh sahabatsahabat dari dunia kangouw?" tanya Hong Lam San. "Mungkin karena totiang datang terlambat sehinggatidaktahu urusan yang sebenarnya Sekarang ini pihak detapan partai besar sedang bertarung matimatian dengan pihak Kong Tong pai .." sahut Tiong Hui Ciong.

"Masa ada kejadian seperti itu?" Hong Lam San lerkejut setengah mati.

"Kaml juga baru datang dari Soat san. Keadaan yang sebenarnya juga belum paham betul Menurut kabar, banyak orang-orang dari delapan partai besar yang sudah terkena racun pihak Kong Tong pai. Apabila totiang masuk ke dalam, tentu akan membuktikan sendiri. Tetapi kadelapan orang ini sekarang sedang dalam keadaan tertotok, mereka tidak bisa bergerak. Untuk sementara ini leblh baik totiang suruh kedelapan muridmu itu untuk menjaga mereka di sini Setetah mendapatkan obat pemunahnya, baru kita bebaska.n totokan di tubuh mereka. Entah bagainnana pendapat totiang?" kata Tiong Hui Ciong mengeluarkan pendapatnya.

Hong Lam San segera menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Apa yang Nona katakan memang benar." Dia menolehkan kepalanya dan memberi pesan kepada delapan mundnya. "Kedelapan orang ini dalam keadaan tertotok. Kalian jaga saJa di sini, tidak perlu ikut Suhu masuk ke dalam.".

Kedelapan orang muridnya segera membungkukkan badan mengiakan. Hong Lam San mengulapkan tangannya.

"Yok siauhiap, Nona. . silahkan!".

Karena tidak tahu bagaimana keadaan di dalam, YoK Sau Cun ingin bergegas masuk untuk melihatnya. Oleh karena itu, dia tidak sungkan lagi. Dengan langkah lebar dia masuk ke daiam Ce po tangoan. Tiong Hui Ciong dan Hong Lam Sair pun ikut melebarkan langkah kaki mereka. Cun Hong, Sia Ho, Ciu Suang dan Tung Soat tidak menunggu perintah lagi. Mereka segera menyeret selir Li dan mengikuti di belakang ketiga orang tersebut.

Saat itu di dalam Ce po tangoan yang sedang tarjadi pertempuran besar-besaran, sudah terjadi perubahan! K«lau tadi pihak delapan partai besar sudah mulai kewalahan menghadapi musuh, tetapi sejak kemunculan Liang Seng taisu, Hui hujin, Hue Fei Cin dan Tan hujin, semangat mereka kembali terpacu.

Di antera delapan partai besar, meskipun sudah banyak orang-orangnya yang merasakan hawa murni di datam tubuhnya mulai membuyar sedikit demi sedikit, setelah mengadakan pertarungan yang sengit Tetapi beberapa yang memegang peranan penting seperti Song Ceng San, Bu Cu taisu, Beng Ta jin dan Kan Si Tong masih dapat mempertahankan diri. Hal ini karena mereka menahan diri agar jangan mengerahkan hawa murni ketika melawan musuhnya tadi. Apalagi tenaga dalam orang-orang ini memang sangat tinggi. Jadi sampai sekarang racun masih belum bereaksi.

Sementara itu Giok Si Cu dan Hui Kin Siau berlugas membantu rekanrekan yang tidak sanggup berlempur lagi Sejak tadi mereka belum bergebrak dengan siapa pun. Otomatis hawa murni di datam tubuh mereka masih belum membuyar,. SedangkandipihakTlanTekau, Long San itpei Suo Yi Hu sudah terbunuh oleh Ciang bunjin Hua San pai, Sang Ceng Hun. Hun Bu Pao dan Ciek Ban Cing yang bertarung dengan sengit, akhirnya sama-sama terluka. Pekpo sin cian Yan Kong Kiat yang menghadapi Tung Sit Cong sama-sama lerkuras habis tenaganya, akhirnya mengundurkan diri berdua untuk menghimpun tenaga baru. Cuo huhoat Toan Pek Yang tertotok oleh ilmu Liok Hap sinci mili Beng Ta jjn, hampir saja hawa mucninya buyar semua. Saat ini ia juga sedang memejamkan matanya bersemedi. Bagi Tian Te kau, semua ini merupakan kerugian besar.

Ketika Lian Seng taisu, Hui hujin, Tan hujin serla yang lainnya sampai ke tempat itu, sebetulnya Hue leng senbu telah menyuruh toahao dan samhao dari Kong Tong sihao untuk menghalangi mereka. Tetapi tiba-tiba muncul Kim Ti jui yang menahan kedua kakek tersebut.

Cian Poa teng yang sedang bertarung melawan Kan Si Tong tadi, tanpa alasan apa pun ditinggalkan begitu saja Karena tidak mempunyai lawan lagi, dia segera menghunus pedang panjangnya dan menghadang di depan Lian Seng taisu. Ca popo dan Be Hua popo Ciok Sam Ku Juga tidak mau ketinggalan. Mereka segera menyambut kedatangan Hu hujin dan Tan hujin.

Sementara itu, Hue moli Cu Kiau Kiau melihat munculnya Hui Fei Cin. Dia paling benci pada gadis yang satu ini (karena menganggapnya sebagai saingan dalam asmara). Mulutnya langsung mengeluarkan suara bentakan....

"Hui Fei Cin, tepat sekali. kedatanganmu.

Sambut pedangku ini!" Dengan jurus ajaran Hue leng senbu sendiri, yakni Ya hue sau tian atau api berkobar-kobar ke atas langit, dia segera menyerang ke arah Hui Fei Cin.

Pedang Sit kim kiam di tangan Hui Fei Cin diulurkan ke depan. Bibirnya tersenyum mengejek. "paling-paling kau hanya bisa main beberapa jurus senjata api, memangnya selain itu kau masih memiliki ilmu lain yang lebih hebat? Berani-beraninya menantang akul" terdengar suara "Trak!" Pedang Cu Kiau Kiau pun tertangkis olehnya. Pergelangan tangannya barputar, dia juga melancarkan sebuah serangan.

Siau Cui mengikuti di belakang nonanya. Melihat Liu Cing Cing, dia langsung menghampiri.

"Bagus sekali kaulah yang mengaku bernama Cun Bwe!" bentaknya nyaring. Pedang pendeknya dituding ke depan dan sebuah serangan pun segera dikerahkan.

Giok Si Cu melihat bantuan tenaga sudah datang. Semangatnya terbangkit kembali Dia meminta Beng Ta Jin menggantikan dirtnya dan Hui Kin Siau untuk mengatur barisan Lo han tin Tepat pada saat itu duamayat dari Siang si menerjang ke arah mereka Pikiran Giok Si Cu langsung tergerak Dia mengambil keputusan untuk membasmi kedua manusia sesat ini Pedangnya ia getarkan ke udara kemudian ditudingkan kepada dua mayat dan Siang si lersebut. "Goheng liek tin (Barisan tangguh lima langkah)! bentaknya dengan suara nyaring.

Dia memerintahkan kepadalima muridnya untuk segera membentuk barisan dan mengurung kedua orang itu. Dan delapan murid Bu Tong pai yang ikut hadir dalam pertemuan itu,lima di antarahya segera maju dengan pedang masing-masing di tangan Dalam sekejap mata mereka sudah mengambil posisi mengurung Siang si suangse Cahaya pedang bersambungan membantuk jaring. Kedua musuh sudah terkepung di tengah-tengah barisan.

Pedang panjang Giok Si Cu dikibaskan, dia menyerang ke arah Go Ca cinjin yang sedang menerjang datang Pada waktu yang bersamaan, Hui Kin Siau pun menghadang di depan Kiu ci lo han.

Untuk sesaat, pertarungan yang tadinya semrawut sekarang dapat teratasi lagi. Barisan lo han tin yang dibentuk oleh delapan belas orang murid Siau lim pai masih tetap gagah seperti semula Selain itu masih ada Beng Ta jin dan Kan Si Tong yang berdiri santai menyaksikan jalannya pertempuran. Mereka hanya menjaga di tempat itu bersama sisa tiga murid Bu Tong pai dan empat murid Go Bi pai yang diajak oleh Lian Seng taisu Apabila keadaan menjadi genting, mereka baru turun tangan.

Situasi saat itu bukan hanya menjadi tenang, bahkan ada kemungkinan pihak delapan partai besar yang akan meraih kemenangan.

Diceritakan kembali tentang Kim Tijui yang meletakkan dua buah karung di atas tanah. Mendengar perintah dari toahao, samhao segera maju dengan maksud membuka kedua karung tersebut. Kim TiJui segera merentangkan tangannya mencegah Bibirnya tetap tersenyum. 

"Samhao lao koko, jangan terburu-burul" Kesabaran samhao hampir habis menghadapi orang yang satu ini.

"Ada urusan apa lagi?" bantaknya kesal.

Kim Tijui menyurutkan kepafanya. Bahunya diturun naikkan. Tangan kanannya terJulur ke depan dan mulutnya cengar-cengir.

"Ini... He... he... he. . Lao koko berdua, kerja keras hengte ini. ".

"Kau mau minta upah?" tanya samhao.

Kim Tijui langsung memanggLitmanggutkan kepalanya Bibirnya tersenyum simpul.

"Barang kan sudah diantar kemari, tentunya upah capai lelah juga harus segera diberikan".

Samhao tambah kesal melihat tampangnya.

"Biar matipun kau masih tetap minta uang itu?" bentaknya sambil menghantamkan sebuah pukulan. "Kalau Lao koko tidak mau memberikan upah, tidak apa-apa. Jangan sernbarangan memukul orang. Benar-benar orang yang tidak tahu aturan. Kalau memang kepingin pukul, hayo! Pukul saja" Tangan kirinya segera bergerak dan tahu-tahu sebuah karung sudah diangkat olehnya dan digendong di depan tubuhnya.

Coba beyangkan sampai di mana kecepatan gerakan samhao. Di dunia ini ada barapa orang yang sanggup menghindarkan diri dari serangannya? Kim TiJui bukan saja tidak menghindar, bahkan bicaranya saja seperti sengaja dilambat-lambatkan. Selesai bicara dia baru meraih karung yang tergeletak di atas tanah dan menggendongnya sebagai perisai. Seberapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk melakukan semua ini?.

Tetapi dia mengambil karung itu dan menggendongnya di bagian depan, gerakannya itu malah lebih cepat dan serangan yang dilancarkan oleh Samhao Melihat keadaan nu, toahao langsung membentak..

"Lao sam, tunggu dulu!".

Kong Tong sihao melatih ilmu tenaga dalam hampir tujuh puluh tahunan. Tentu saja serangannya dapat dilancarkan ataupun ditarik kembali sesuka hati Mendengar suara bentakan sang toahao, samhao segera menghentikan serangannya. Padahal Jaraknya dengan karung itu tinggal satu cun. Dia memalingkan kepalanya dan bertanya....

"Lotoa, ada urusan apa lagi?".

"Sahabat ini sengaja menghantarkan kedua buah karung itu ke sini. Kita tidak boleh berpandangan picik. Berapa yang dia inginkan, kita berikan saja," sahut toahao.

Kim Ti Jui tersenyum senang.

"Memang pikiran toahao lao koko lebih terbuka.". "Berapa yang kau inginkan?" tanya samhao.

Kim Tijui mengangkat kedua bahunya. Dua jari tangannya ditunjukkan dan digerakgerakkan. Bibirnya tersenyum-senyum.

"Ini kan sudah menurut perjanjian. Orang yang menitipkan kedua karung itu

mengatakan, asal aku mengantarkan kedua karung ini ke hadapan Lao koko berdua, maka aku akan menerima upah sebanyak dua puluh tail.".

"Baik, kau akan mendapatkan dua puluh tail itu," sahut samhao. Kim Tijui masih tersenyum simpul.

"Dua puluh tail memang tidak banyak, tapi takutnya kantong Lao koko berdua sedang kosong sekarang," katanya.

Sindirannya memang telak. Orang seperti mereka mana pernah membawa uang? Oleh karena itu, toahao segera memalingkan kepalanya ke arah seorang gadis berpakaian hijau.

"Kalian cepat ambilkan uang sebanyak dua puluh tail" perintahnya.

Gadis berpakaian hijau itu segera menglakan. Dia membalikkan tubuhnya dan menuju ke dalam ruangan. Tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan sebongkah uang perak di tangan.

"Hei, uang ini berjumlah empat puluh tail. Ambillah semuanyai".

Kim Tijui tidak mengulurkan tangannya untuk menyambut uang perak tersebut. Mulutnya malah tertawa cengengesan.

"Selamanya Siau Loji rnerupakan orang yang paling taat pada peraturan Sudah bilang dua puluh tail, tetap harus dua puluh tail. Nona tadi mengatakan uang itu jumlahnya lebih, Siau loji semakin tidak berani menerima Maaf, Nona. Kalau uang itu lebih, harap disimpan saja kembali. Siau loji hanya menginginkan dua puluh tail, kurang tidak sudi, lebih pun tidak mau.".

"Bagaimana sih kau ini?" gerutu gadis berpakaian hijau itu kesal.

Sepasang mata toahao bersinar tajam menusuk, tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman.

"Tampaknya sahabat ini sedang mengulurkan waktu, apakah sedang menantikan datangnya bala bantuan?".

Kim Tijui terlawa terkekeh-kekeh.

"Apa yang Lao koko tebak hanya benar setengahnya saja. Hengte memang sedang menantikan kedatangan seseorang Orang itu kemLingkinan akan membuka harga yang lebih tinggi untuk membeli kedua buah karung ini. Tetapi bukan bala bantuan seperti apa yang Lao koko katakan barusan.".

Kim Tijui mendongakkan kepalanya Dia melihatlihat cuaca Tiba-tiba tangannya di ma sukkan ke dalam saku baju dan mengeluarkan sesuatu benda yang warnanya kehitamhitaman. Dia melemparkan ke arah samhao.

"Maukah kau mencoba ini?" tanya Kim TiJUI seenaknya.

Samhao tidak tahu benda apa yang dilemparkan Kim Ti Jui tadi. Dengan gugup dia mencelat mundur beberapa langkah.

Kim Tijui memandang ke arahnya sambil memamerkan dua baris giginya yang kekuning-kuningan.

"Lao sam, mengapa kau mundur dengan moratmarit? Hengte hanya menawarkan sepotong tahu kering Hm, harum sekalil" Dia menggigit tahu kenng itu sedikit, bibirnya mendecapdecap Kemudian dia menggelenggelengkan kepalanya "Sayangnya sudah terlalu lama disimpan dalam saku sehingga meniadi kenng sekali Gigitnya saja pun susahl".

Dia sendiri yang mangatakan menggigitnya saja susah. tetapi lagaknya seperti orang yang kepalang tanggung. Sepotong basar tahu kering itu dimasukkannya sekaligus ke dalam mulut. Dengan susah payah dia mengunyah...

Sepotong tahu kenng ukurannya memang tidak terlalu besar. Tetapi kalau dimasukkan ke dalam mulut sekaligus, tentu saja susah mengunyahnya. Tetapi kalau tidak dikunyah, bagaimana dapat menelannya?.

Terdengar suara krokt krokl dari tenggorokannya. Tampaknya Kim Tijui terselak karena berusaha menelan aepotong tahu kering itu sekaligus. Hidungnya bergerak- gerak. Tanpa dapat ditahan lagi, dia berbangkis sampai keras sekali. Sepotong tahu kering yang masih ada di dalam mulutnya, seperti pancuran air mancur bermuncratan kemana-mana.

Di arena pertempuran, orang yang pertama mendapat hasil seharusnya terhitung barisan Goheng liek tin dari Bu Tong pai. Begitu barisan pedang terbentuk, bukan saja berhasil mengurung Siang 51 suangse, tetapi kurang lebih dalam waktu sepembakaran hio terdengar suara siulan panjang, Pertamatama Sam yan ciangsi Bun Cing Ho tertusuk satu pedang, mulutnyalah yang mengeluarkan siulan panjang itu.

Yang kemudian disusul dengan jehtan ngeri. Gerakan barisan pedang dari Bu Tong pai ini cepat seperti angin. Mereka menyerang lawan dengan cara berputaran. Asal lawan sudah terkena satu tusukan pedang, maka tusukan yang lain pun akan menyusul sampai genap lima kali. Begitutah apa yang terjadi pada saudara tua Siang si suangse tersebut. Rupanya dia menjerit ngeri ketika empat tusukan yang lain menembus tubuhnya. Sudah tentu riwayat hidup orang itu tinggal sebentar lagi.

Saudara kedua dari Siang si suangse, yakni Bu Cing Lui. melihat kakaknya rubuh terkapar di atas tanah. Hatinya menjadi panik sekaligus marah. Begitu perhatiannya terpencar, pinggang kanannya pun tertusuk satu pedang. Dengan memberontak dia bangun kembali. Namun justru di saat dia sedang berjuang untuk berdiri, bagian belakang pinggangnya kembali terkena satu tusukan. Disusul lagi bagian tubuhnya yang lain. Sesaat kemudian dia sudah rubuh di atas tanah.

Dua orang iblis yang telah banyak berbuat kejahatan, akhirnya mati bersama dalam bahsan Goheng liek tin dari Bu Tong pai Suatu akhir yang tragis namun sesuai dengan kejahatan yang telah mereka lakukan.

Sementara itu, Cu Kiau Kiau yang menggenggam sebatang Hue lengkiam telah melancarkan berbagai ilmunya yang aneh. Tetapi selalu pedangnya terhisap oteh Sit kimkiam di tangan Hui Fei Cin. Walaupun belum sampai kalah, tapi dia sudah mulai kelabakan menghadapi lawannya.

Hui hujin menghadapi Be Hua popo, sedangkan Tan hujin menghadapi Ca popo. Meskipun kedua nenek itu berilmu tinggi, telapi kedua kakak beradikyang dihadapinya mengerahkan seratus Jurus Hmu pedang dari keluarga Song. llmu pedang mereka merupakan ilmu tingkat tinggi di dunia kangouw. Dalam belasan jurus saja, baik Be Hua popo maupun Ca popo sudah mulai barada dj bawah angin.

Cian Poa Teng juga bukan tandingan Lian Seng taisu dan Go Bi pai. Di antara tiga kali serangannya, pasti ada satu kali yang hampir tidak dapat disambut oleh Cian Poa Teng. Berulang kali dia terdesak mundur.

Dengan sebatang potlot besi, Kiuci lo han menghadapi Hui Kin Siau yang menggunakan sebatang pedang Meskipun masih bisa mempertahankan diri, tapi gerakgeriknya sudah mulai kalang kabut.

Go ca cinjin Bun Tian Hong berhadapan dengan Ciok Si Cu dari Bu Tong pai. Sebelumnya dia sudah bertarung melawan Hui Hung I su. Tubuhnya sudah mulai lelah. Sedangkan Oiok Si Cu belum bertarung dengan siapa pun. Begitu terjun ke arena dia langsung mengerahkan jurus-jurus yang mematikan. Satah satu ilmunya yang hebat adalah Tai kiat kiamhoat. Cahaya yang terpancar dari pedang segelombang demi segelombang menerJang datang. Hal ini membuat Goca cinjtn sampai ber]ingkrak kesana kamari untuk menghindari serangannya.

Hanya Siau Cui yang bukan tandingan Liu Cing Cing. Setelah beberapa gebrakan, dia mulai kewalahan. Beberapa kali hampir dia tertebas pedang lawannya Justru pada saat itulah, telinga semua orang mendengar suara bangkisan yang keras Kecuaii Hue leng senbu, Cu Tian Cun, Cian Poa Teng, Be Hua popo berempat yang tanaga dalamnya lebih tinggi, selain itu orang Fang seperti Kiuci Lo han, Goca cinJin, Ca popo, Hue moli Cu Kiau Kiau dan Liu Cing langsung terkulai lemas akibat semburan tahu kering dari mulut Kim Tijui yang langsung menotokjalan darah beberapa orang itu dalam waktu yang bersamaan.

Orang-orang dari pihak delapan partai besar yang sudah merasa gusar sekali seperti Hui Kin Siau, langsung nnenggunakan kesempatan itu untuk menebas putus batok kepala Kiuci lo han. Giok Si Cu juga ti ak kalah sigap. Pedangnya langsung menusuk ke arah jantung Goca cinjin sampai tembus ke betakang. Tan huJin pun tidak mau ketinggalan, pedangnya juga menikam ke dada Ca popo sehingga darah muncrat kemanamana. Beberapa kali terdengar dengusan marah yang menyusul suara bangkisan tadi.

Kim Tijui (nenjadi panik sekali. Dia segera berteriak sekeras-kerasnya.

"Hei! Hej! Kalian semua berhenti! Jangan sampai menambah dosa Siau loji yang memberikan kesempatan membLinuh untuk kalian...!".

Toahao sama sekali tidak menyangka kalau semburan tahu kering dan mulut Kim Tijui saja sudah mempunyai kekuatan sedahsyat itu Hatinya menJadi marah sekali.

"Tua bangka! Sambut pukulan!" Telapak tangannya menjulur dan melancarkan sebuah serangan ke arah Kim Tijui. Bayangkan saja bagaimana hebatnya tenaga dalam Toahao yang sudah dilatih hampir tiga perempat abad itu.

Dalam waktu yang bersamaan, samhao juga melangkah maju, tahu-tahu dia sudah sampai di bagian belakang punggung Kim Tijui. Lima jari tangan kanannya segera menekuk membentUk cakar dan diluncurkan ke arah punggung lawannya. Tafflpaknya Kim Tijui sejak semuta sudah menduga kalau dia akan diserang dari depan belakang oleh dua bersaudara itu. Sepasang tangannya secepat kilat mengangkat kedua karung di atas tanah dan menjadikannya pensai untuk bagian dada dan punggungnya.

"Tenang, tenang! Kalian benar-benar menginginkan selembar nyawa tua ini? Apa tidak bisa perlahan-lahan'' Apakah kalian tidak perduli lagi dengan nyawa kedua orang saudara kalian ini?" teriaknya berkaok-kaok.

Hali toahao jadi cunga seketika. Tanpa sadar telapak tangannya langsung berhenti di tengah jalan.

"Apa yang kau katakan?" bentaknya dengan suara parau. "Apa yang aku katakan, masa kau tidak mendengarnya?".

"Saudara siapa yang kau katakan barusan?" tanya toahao sekali lagi.

"Masa perlu ditanyakan lagi? Kalian kan terdiri dari Kong Tong sihao, kemana dua orang saudara kalian yang lainnya?" sahut Kim TiJui sambil mengangkat sepasang bahunya dan tertawa cengar-cengir.

Terdengar suara tertawa yang aneh dari mulut samhao.

"Kau bermaksLid mengatakan bahwa orang yang ada di dalam karung ini adalah Loji dan losi?".

Sepasang mata ayam Kim Tijui langsung mendelik lebar-lebar. "percaya atau tidak, terserah!".

"Coba lohu lihat sendicil" sahut samhao sambil melesat maJu dan mengulurkan tangannya untuk merebut karung yang ada di tangan kanan KimTijui.

Tetapi gerakan Kim TiJui lebih cepat dari padanya. Dia segera menarik mundur karung tersebut.

"Tidak bisa. Karung ini baru boleh dibuka setalah semuanya ada di sini'".

Toahao menyadari bahwa ilmu silat Kim Tijui 1ebih tinggi dari mereka empat bersaudara. Tetapi dia juga kurang percaya kalau Lo ji dan Lo si bisa tarjatuh begitu saja di tangan Kim Tijui. Matanya menyorotkan sinar tajam menusuk.

"Lalu mau tunggu sampai kapan baru boleh dibuka?".

Kim Ti]ui melongokkan kepalanya ke arah pintu Mututnya tertawa terkekeh-kekeh. "Bukankah pemer i utama yang sebenarnya sudah muncul?". Ce Po tangoan hanya mempunyai sebuah lapangan yang besar Dan orang-orang dari kedua pihak semuanya berkumpul dalam lapangan tersebut. Tapi karena banyaknya tokoh yang harus diceritakan, maka semuanya harus diuraikan dengan terperinci.

Apalagi semua kejadian boleh dibilang berlangsung dalam waktu yang hampir bersamaan. repot menceritakannya satu per satu.

Kembali, pada saat Kim Tijui menyemburkan tahu kering dan mulutnya sehingga beberapa jago pihak musuh terkulai lemas karena tertotokjalan darahnya. Kesempatan itu digunakan oleh pihak delapan partai besar untuk membunuh tokoh sesat yang kejahatannya sudah kelewat batas. Sedangkan yang lainnya langsung diringkus oleh lawannya masingmasing.

Perubahan ini terjadinya terlalu mendadak. Keadaan jadi berbaiik Sekarang pihak Kong Tong pai mulai melemah kekuatannya dan boleh dibilang sudah kehilangan banyak jagonya yang dapat diandalkan.

Hue leng senbu yang sedang bertarung denflan seimbang melawan Song Ceng San sampai berubah hebat wajahnya. Begitu marahnya dia sehingga matanya menjadi merah dan rsimbutnya seakan berdiri tegak. Giginya digertakkan erat-erat.

"Tua bangka she Song, urusan hari ini garagara kau yang sengaja berbentrok denganku. Hu kaucu akan membunuhmu lebih dahulu baru membuat perhitungan dengan yang lainnya." bentaknya gusar Pedang digenggam erat-erat Serangan yang dilancarkannya bagai orang kalap Rupanya kali ini hawa aimarah dalam dadanya benar-benar telah meluap. Dia ingin mengadu selembar nyawa tuanya dengan Song Ceng San.

Sebatang padang di tangannya bergerak bagaikan allran air sungai yang deras Perlu dikatahui bahwa dia sudah menghabiskan waktu yang lama dan tenaga yang banyak untuk memahami seratus jurus ilmu peclang keluarga Song. Kemudian dia berhasil menciptakan serangkaian ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu pedang keluarga Song tersebut. Sekarang dia mulai mengerahkan ilmunya yang sejati.

Sejak pertarungan antara Song Bun C un dengan Cu Tian Cun, Song Ceng San sud.ah sadar bahwa pihak lawan sudah berha.sil memecahkan ilmu pedang keluarganya S5ekarang lawan sudah melancarkan berbaig ai serangan dengan gencar. Hanya karena te'naga dalamnya yang tinggi sekali, maka sam pai saat ini dia masih dapat mempertahankan diri. Tetapi dia merasa mulai kewalahan, pedang di tangannya hanya dapat menahan diri, dia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk membalas menyerang.

Sementara itu, Beng Hu Ing yang sejak tadi berdiri di sebelah kanan sudah melihat perubahan yang terjadi Kiuci lo han, Ooca cinjin dan Ca popo mengocbankan nyawa dengan sia-sia. Adik iparnya Cu Kiau Kiau dan gadis pelayan bernama Liu Cing Cing sudah tertotok jalan darahnya oleh pihak lawan Bahkan kedua gadis itu sedang diseret oleh Siau Cui dan Hue P'ei Cin menuju ke dalam barisan Lo han tin.

Hatinya menjadi panik. Dia segera mengambil pedang Han engkiamnya dan seorang gadis berpakaian hiJau. Tubuhnya melayang di udara melewatl kepala beberapa orang yang ada di tengah arena dan bagai burung hong terbang ke arah Hui Fei Cin Orangnya belum sampai, pedang Han engkiamnya sudah meluncur ke depan. Hui Fei Cin terkeJul sekali. Pegangannya pada Cu Kiau Kiau terlepas, kakinya mundur beberapa langkah. Pada saat itulah, Beng Hui Ing menepukjalan darah Cu KiaU Kiau untuk membebaskan dari totokan.

Dengan sekali tusuk. Tan hujin berhasil membunuh Ca popo. Matanya melihat sesosok bayangan melayang di udara dengan dnringi secarik cahaya yang berkilauan Sasaran orang itu Justru Hui Fei Cin. Bahkan gadis itu beium apeapa sudah terdesak mundur. Sudah tentu Tan hujin dapat melihat bahwa ilmu orang ini Jauh lebih tinggi dari keponakannya. Hui Fei Cin pastl bukan tandingan orang ini. Dengan panik dia segera melesat maju. Pedang panjangnya melintang di depan dada dan dia berdiri di hadapan Hui Fei Cin.

Cu Kiau Kiau yang melihat Hui Fei Cin merasa bencinya bukan kepalang. Oiginya sampai mengatup erat-erat.

"Budak she Hui, keluar ke sinil" bentaknya nyaring. Hui Fei Cin mendengus dingin.

"Prajurit yang sudah kalah masih berani berkoarkoarl" Tubuhnya melesat dan langsung menyerang.

Kedua gadis itu benar-benar seperti musuh bebuyutan. Begitu bertemu, dua batang pedang langsung dikerahkan, mereka pun terlibat pertarungan yang seru sekali lagi.

Beng Hui |ng melirik Tan hujin sekilas. "Apakah kau ingin bergebrak dengan nonamu ini?" tanyanya dengan nada dingin.

"Sikap perempuan ini benar-benar dingin dan angkuhl" pikir Tan hujin dalam hatinya. Namun di luar dia mengembangkan seulas senyuman.

"llmu Nona sangat tinggi aku sudah mehhatnya. Kalau boleh, dengarlah sedikit nasehat dari .".

"Selamanya aku tidak pernah mendengati nasehat orang lain Tidak perlu rewel, sambut seranganku ini!" bentak Beng Hui Ing marah.

Tan hujin tidak tahu kalau perempuan yang ada di hadapannya ini adalah menantunya sendiri. Melihat nada bicaranya yang begitu sombong, hatinya kesal juga.

"Dalam ilmu pedang, di atas langit masih ada langit. Di atas seorang Jago masih ada jago tainnya lagi. Hanya mengandalkan sedikit kepandaianmu itu, kati berani menyombongkan diri di hadapan aku orang tua?" katanya dengan nada suara yang tak kalah dinginnya.

Tangannya bergerak, pedangnya langsung diluncurkan untuk menyerang Beng Hui Ing. Mertua dan menantu berdua, baru bertemu langsung sudah bertarung dengan sengit. Sementara itu, Siau Cui sudah menyeret Liu Cing Cing ke dalam barisan Lo han tin.

Be Hua popo ahli dalam senJata rahasia. Itulah sebabnya dia tidak sampai tertotok oleh semburan tahu kering dari mulut Kim TiJui. Tetapi ilmu pedangnya kalau dibandingkan dengan Hui huJin masih kalah satu tingkat Saat itu dia sudah terkurung dalam cahaya pedang di tangan Hui hujin.

Baik tenaga maupun ilmu pedang Cian Poa Teng masih belum bisa menandingi Lian Seng taisu Berkali-kali dia terdesak mundur dan hanya dapat mempertahankan diri tanpa sempat membalas sekalipun.

Hanya Cu Tian Cun dan Bu Cu taisu yang masih bertarung dengan seimbang. Hal ini disebabkan karena Bu Cu taisu yang membisikkan beberapa patah kata ketika mereka bergebrak. Dia mengatakan asalusul Cu Tian Cun seperti apa adanya Hwesio tua itu sama sekali tidak tahu kalau Tan hujin yang datang bersama Lian Seng taisu adalah ibu kandung Cu Tian Cun Dia hanya tahu kalau Song Ceng San adalah pamannya.

Terhadap kata-kata ini, tentu saja Cu Tian Cun merasa curiga. Tampaknya dia masih kurang percaya Tetapi sedikit banyaknya kata-kata Bu Cu taisu berpengaruh pada perasaannya sehingga serangan pedang panjangnya pun tidak segencair tadi lagi.

"Orang-orang Siu lim pai dan Kong Tong pai, harap keluar ke depanl".

Suara teriakannya demikian lantang. Persls sebuah lonceng besar yang berdentang sehingga membuat telinga mereka seperti di tusuktusuk Jarum Hampir serentak mereka tertegun.

Saat itu, dari luar pintu gerbang Ce Po tangoan terlihat enam tuJuh sosok bayangan yang menghambur ke tengah arena. Orang yang paling depan mengenakan pakaian berwarna hijau. Di pinggangnya terselip sebatang pedang yang ujungnya mempunyai dua kaitan taJam Dia adalah Yok Sau Cun.

Di belakangnya terlihat Tiong Hui Ciong, Hong Lam San, Cun Hong, Sia Ho dan Ciu Suang beserta Tung Soat yang mengiringi selir Li Justru ketika rombongan mereka berbondong-bondong memasuki pintu gerbang, dari tembok sekeliling yang tingginya delapan sembilan depa di sebelah kiri melayang seorang kakek yang sudah tua sekali. Sekejap mata dia sudah melayang turun di atas tanah. pakaiannya berwarna kuning.

Matanya bersinar tajam. Datang-datang dia langsung membentak dengan suara keras.

Orang yang dl tunjuk oleh Kim Tijui adalah orang ini Toahao dan samhao segera mengalihkan pandangannya mengikuti telunjuk Kim TiJui Menggunakan peluang ini, Kim Tijui segera mengangkat dua buah karungnya dan melesat ke depan orang tua berpakaian kuning itu Mulutnya yang tajam langsung menggerutu.

'Mengapa Lao koko sampai sekarang baru datang? Benar-benar membuat aku Kim loji jadi panik setengah mati!'.

Mata orang tua berpakaian kuning itu menatapnya lekat-lekat. Sejenak kemudian dia baru menganggukkan kepalanya. "Apakah loheng ini si tukang ramal nasib, Kim Tijui?" Akhirnya dia ingat juga siapa orang yang ada di hadapannya ini.

Kim Tijui segera memanggutmanggutkan kapalanya sambil tersenyum.

'Sedikit pun tidak salah. Hengta memang Kim Tijui adanya. Hari itu hengta sudah pernah meramalkan nasib untukmu dan menyuruh kau Lao koko datang ke tempat ini Pasti pembunuh yang dicari akan berhasil ditemukan.".

"Terima kasih kepada loheng," sahut orang tua berpakaian kuning tersebut. Dengan kedua tangan memanggul karung, Kim Tijui tertawa cengar-cengir.

"Kita kan orang sendtn Tidak perlu sungkan-sungkan. He... he he. Entah bagaimana cara Lao koko berterima kasih kepada hengte?".

"Harap loheng minggir dulu sebentar Lohu ingin mencari orang-orang Bu Tong pai dan Siau lim pai untuk membuat perhitungan," kata orang tua berpakaian kuning.

Kim TiJui tetap berdiri di hadapannya. Kepalanya di geleng-gelengkan.

"Hengte toh tidak mengatakan kepada Lao koko bahwa pembunuhnya merupakan hwesio dari Siau lim pai atau tosu dari Bu Tong pai.".

Orang tua berpakaian kuning mendengus marah.

"Tidak perlu kau katakan, Lohu sendiri sudah tahu. Cepat kau minggirl".

Kim TiJui tetap tidak bergeser. Bibirnya matah menyunggingkan seulas senyuman lebar.

"Lao koko katau mencari tosu atau hwesio untuk membuat perhitungan, maka berarti kau telah membuat kesalahan besar.".

Sepasang mata orang tua berpakaian kumng itu langsung mendelik.

"Kalau begitu, coba kau katakan siapa yang membu.nuh kedua adik lohu, Lojit dan Lopat?".

Rupanya orang tua berpakaian kuning ini adalah Gokong Cuang Kong Yuan dari Pat Kong san Waktu itu dia memenksa luka yang diaiami oleh Lojit dan Lopat. Dari kematian mereka, dia berhasil mengetahui bahwa Jitkong Tnati oleh serangan Tai kittiam dan Bu Tong pai Sedangkan Patkong mati oleh serangan Pan juo sinkang dari Siau lim pai. Oleh karena itu pula dia ingin mencari orang-orang Bu Tong pai dan Siau lim pai untuk membuat perhitungan.

Kim Tijui yang mendengar Gokong meminta pendapatnya, langsung saja merasa bangga. Dia menganggukkan kepalanya. "Inilah sebabnya hengte mengaJak Lao koko datang ke tempat ini. Hengte jamm kau dapat menemukan pembunuhnya di sini. .".

"Siapa pembunuhnya?" tanya Gokong penasaran.

Kim TiJui meletakkan kedua karung yang dipanggulnya ke atas tanah.

"Dua orang tersangka sudah hengte masukkan ke dalam karung-karung ini Justru menunggu kedatangan Lao koko dan secara berhadapan msnanyakan persoaian ini sampai jelas " Selesai berkata, dia menggapaigapaikan tangannya kepada toahao dan samhao.

"Lao koko berdua, kalian juga harus ke sini mempunyai hubungan erat dengar kalianl" teriaknya.

Toahao masih belum bisa menebak asalusul Kim Tijui. Tapi dia selalu merasa bahwa orang ini bukan tokoh sembarangan Terutama dua orang yafig ada di dalam karungkarung tersebut. Kalau dltilik dan nada bicaranya, kemungkinan besar kedua orang itu adalah saudaranya. yakni Loji dan Losi. Mulamula dia masih kurang percaya. Tiba-tiba sekarang dia merasa percaya juga dengan kata-kata orang itu.

Maka dia pun melangkah perlahan-lahan ke tempat Kim Tijui.

Kim Tijui meluruskan pinggangnya seperti orang tua yang baru terserang penyakit encok.

"Sebelum hengte membuka kedua karung ini, ada sedikit ucapan yang harus disampaikan kepada kalian bertiga Apabila aku membuka karung-karung ini, kalian bertiga harus tenang Jangan sekali-kali menyelesaikan urusan dengan emosi Kalian harus mendengarkan dulu semua keterangan dariku, baru merundingkarinya baiktoaik," katanya serius.

Gokong toahao dan samhao segera menganggukkan kepaianya serentak tanda setujudengan usul Kim Tijui Tanpa banyak bicara lagi, Kim TIJUI menyingsingkan lengan bajunya dan kedua tangannya tangsung membuka ikatan tali pada kedua karung tersebut.

Ternyata di dalam karungkarung itu memang terdapat dua orang. Mata Gokong, toahao dan samhao langsung menatap ke arah kedua orang itu.

"Siapa kedua orang ini?" tanya Gokong heran.

Toahao dan samhao mengeluarkan suara terkejut dalam waktu yang bersamaan. "Rupanya iriemang Loji dan Losi!".

Wajah toahao berubah hebat Dengan cepat dia membalikkan badannya. "Tua bangka, apa yang telah kau perbuat atas diri Loji dan Losi?".

Jihao dan sihao duduk di dalam karung seperti orang yang sedang tidur Mereka tidak dapat bergerak sama sekali Sudah pasti jalan darah keduanya dalam keadaan tertotok Samhao tidak banyak bicara Dia langsung menepuk beberapa jalan darah di tubuh Jihao dan sihao, tetapi kedua orang itu tptap memejamkan matanya, sedikit pun tidak bergerak. Ha! ini berarti jalan darah mereka sama sekali belum terbebaskan.

Kim Tijui segera mengibasngibaskan tangannya.

"Hengte barusan sudah mengatakan bahwa kaiian tidak boleh menyelesaikan urusan dengan emosi. Tenanglah dulu, Biar hengte selesaikan kata-kata ini, dengan sendirinya kalian akan mengerti," kata Kim Tijui.

"Cepat katakan!" Bentak toahao.

Kim Tijui merabaraba dua untai kumisnya yang tipis. Dia malah berdehem dulu beberapa kali.

"Hengte hanya menotok mereka dengan semacam ilmu yang khas. Orang lain tentu saja tidak bisa membebaskan totokan pada diri mereka. Sebetulnya bukan apaapa, Kalau totokan sudah terbebas, mereka akan pulih kembali seperti biasa Mengenai. oh ya, betul. Toahao seharusnya tahu, apakah Loji dan Losi pernah mempelajari ilmu Toajiuin (Telapak tangan besar) dan ilmu Wu Songkang (llmu laba-laba)?".

"Kami empat bersaudara masingmasing memang mempelajan semacam itmu yang khas. Orang-orang Bulim se Tua juga tahu. Untuk apa kau menanyakannya?" sahut Samhao.

Kim Tijui mengangkat bahunya sedikit dan memandang Gokong sambil tersenyum,.

"Benarkan ? llmu Toa jiuin apabila mengenai tubuh seseorang, ciricirinya sama dengan Pan juo sinkang dan Siau lim pai Sedangkan orang yang belajar ilmu Wu Songkang hanya menggunakan dua jan tangannya, yakni jan telunjuk dan Jari tengah. Hal ini juga tidak berbeda dengan Tai kittiam dari Bu Tong pai. Sekarang seharusnya kau sudah mengerti bukan?".

Sepasang mata Gokong menyorotkan sinar yang menyeramkan.

"Kalau begitu, maksudmu kedua orang ini yang membunuh Jitkong dan Patkong Han iru Lohu harus ..".

Kim Tijui cepatcepat menggoyangkan tangannya.

"Lao koko tenang dulu Memang betul kedua orang ini yang meiTibunuh kedua saudaramu. Tapi sebetuloya Jihao dan sihao juga diperalat oleh orang lain Mereka bukan melakukannya atas kemauan sendiri Itulah sebabnya hengte menotok jalan darah mereka.".

Sepasang mata toahao memancarkan sinar yang berbinarbinar. Wajah Gokong juga tampak seperti orang yang curiga.

"Apa maksud ucapanmu itu?" tanya mereka serentak. Kim Tijui mengangkat sepasang bahunya. "Karena Jihao dan Sihao sudah dicekoki semacam racun yang dapat menghilangkan akal sehat mereka. Bukan mereka berdua saja, bahkan Ci sancu dan Soat san lojin juga sudah terkena racun yang sama ".

Yok Sau Cun dan Tiong Hui Ciong sudah masuk ke dalam pelataran Ce Po tangoan. Mereka langsung dapat melihat pertarungan sengit yang sedang berlangsung Yok Sau Cun yang sudah mendapatkan petunjuk dari Kim Tijui, inatanya langsung mengincar pada diriHue leng senbu.

Pada saat itu tangannya yang menggenggam pedang Hue lengkiam terus mendesak maju Begitu tangannya membuka serangan, pedang di tangannya bagai angin topan yang sedang mengamuk Meskipun tenaga dalam Song Ceng San sangat tinggi, tetapi iimu kepandaiannya sudah berhasil dipecahkan lawannya Setiap kali dia melancarkan sebuah jurus dari iimu pedangnya, baru sampai di tengah jalan, lawan sudah berhasil menyampoknya sehingga dia terpak&a mengganti jurus yang tain. Namun apa yang terJadi tetap sama saja. Tampaknya dia hanya mengandalkan tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama puluhan tahun dan pengalamannyayang luas untuk menghadapiHue leng senbu. Ini pula salah satu alasan mengapa dia masih bisa mengimbangi perempuan tua itu.

Yang dikhawatirkan oleh Tiong Hui Ciong justru Be Hua popo. Karena racun yang mengendap di dalam tubuh kakeknya adalah buatan nenek ini. Dan hanya dia saja yang mempunyai dbat pemunahnya Tetapi ketika matanya sedang mencaricari, diajustru melihat toacinya sedang bertarung melawan seorang wanita setengah baya yang memakai pakaian bahan kasar Pertarungan mereka berlangsung dengan sengit. Padahal Tiong Hui Ciong tahu sekali kalau ilmu Soat san huihong kiamhoat milik toacinya sangat hebat. Tetapi nyatanya dia hanya bisa mengim bangi wanita setengah baya itu. Hatinya teckejut sekali. Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba telinganya mendengar suara seperti dengungan nyamuk.

"Hei, Tiong kouwnio. Cepat suruh toacimu itu berhenti. Masa mertua dan menantu beckelahi seperti banteng yang diadu,kan tidak lucu?".

Mendengar dari nada suaranya saja, Tiong Hui Ciong segera mengenalinya sebagai Kim Tijui. Tiong Hui Ciong jadi tertegun. Mertua dan menantu? Toacinya adalah istri Cu Tian Cun. Mana mungkin dia menJadi mertua dan menantu dengan wanita setengah baya itu? Tetapi biar bagaimanapun, apa yang dikatakan Lao koko tidak pernah salah.

Tiong Hui Ciong menolehkan kepalanya Dia melihat Be Hua popo sudah terkurung dalam sinar pedang Hui hujin yang berkilauan. Biar bagaimana dia menubruk ke kiri ataupun ke kanan, tetap saja dia tidak sanggup melepaskan diri dari kurungan sinar pedang tersebut. Kalau ditilik dari keadaannya, Hui hujin hanya ingin mengurungnya untuk sementara, sama sekali tidak bermaksud me[ukainya. Kemudian dia membisikkan beberapa patah kata kepada Cun Hong dan Sia Ho. Dia berdiri segera mengeluarkan Han engkiamnya dan melesat ke udara.

Tampak segurat sinar dingin terpancar dari pedangnya. Dia meluncur dengan pedang di tangan dan menerobos di antara Tan hujin dan Beng Hui Ing. "Toaci, cepat berhenti'" teriaknya lantang.

llmu yang digunakan oleh Beng Hui Ing memang Soat san Huihong kiam hoat. Pedang panjang seperti seekor burung hong yang menannari. Perubahannya menakjubkan Tetapi dla masih belum berhasil merath kemenangan. Hatinya merasa gusar sekali Dia segera mengerahkan jurus Burung Hong terbang melintasi awan Dan gerakan pedangnya terlihat bayangan lebar seperti bentangan sayap seekor burung Serangannya dengan cepat meluncur ke arah Tan hujin Tiba-tiba dia mendengar teriakan Tiong Hui Ciong. Di depan matanya segera melintas cahaya yang berkilauan. Cahaya itu meimtas dengan cepat. Kemudian telinganya mendengar suara benturan senjata sebanyak tujuh delapan kali. Jurus Burung hong melintasi awannya sudah di sambut oleh Tiong Hui Ciong.

Tan hujin memang tidak berniat melukai orang. Melihat melesatnya Tiong Hui Ciong yang langsung menyambut serangan Bens Hui Ing, dia pun cepatcepat mundur ke samping Pada saat itu Beng Hui Ing sudah menyimpan pedang Han engkiamnya.

"Bukankah kau sudah pulang ke Soat san? Untuk apa lagi kau datang ke sini?" bentaknya dengan nada marah.

Setelah menyambut serangan toacinya, Tiong Hui Ciong juga sudah mendarat kembali di atas tanah "Toaci, apakah kau sudah tahu katau teiah teriadi sesuatu pada diri Yaya?" tanyanya cepat.

Waiah Beng Hui Ing langsung berubah mendengar perkataannya. "Apa yang kau katakan'?" Tanyanya seakan salah dengar.

Tiong Hui Ciong segera menarik toacinya ke samping dan dia langsung menceritakan berbagai kejadian yang diataminya. Begitu terkejutnya Beng Hui Ing sampai tubuhnya bergetar.

"Ji rnoay, be.. benarkah apa yang kau katakan?".

"Siau moay sudah menggiring selir Li ke mari Kalau toaci tidak percaya, mengapa tidak tanyakan langsung saja kepadanya?' Selesai berkata, dia segera menggapai ke pada Ciu Suang dan Tung Soat segera menyeret selir Li ke tempatnya.

Cun Hong dan Siau Ho yang sudah mendapat perintah dari Tiong Hui Ciong segera mencabut pedang masingmasing dan menghampiri Hu hujin dari arah yang berlawanan. Melihat keadaan itu, Hu Fei Cin segera melintangkan padangnya dan membentak.

"Berhenti!".

Cun Hong langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menjura kepada Hui Fei Cin.

"Hui kouwnio, kau salah paham. Budak berdua menenma perintah darl Ji Siocia untuk meringkus orang," sahutnya tanang.

"Siapa yang akan kalian ringkus?" tanya Hui Fei Cin. "Be hua popo," sahut Cun Hong dengan suara rendah.

"Be hua popo sudah ditahan oleh ibuku Kalian tidak perlu melelahkan diri," sahut Hui Fei Cin dengan nada dingin.

"Hui kouwnio tidak mengerti. Orang-orang darl delapan partai besar hampir semuanya sudah terkena racun pembuyar tenaganya. Hanya nenek itu yang memiliki obat pemunah racun tersebut. Kalau sampai dia tari,kan gawat. Itulah sebabnya Ji Siocia memerintahkan kami untuk meringkus," kata Cun Hong.

Setalah mendengar keterangannya, Hui Fei Cin Juga tidak enak lagi menghalangi mereka.

"Baiklah. Apakah kalian sanggup meringkusnya?". Cun Hong tersenyum simpul.

"Kalau mengandalkan budak berdua saja, tentu tidak sanggup menngkusnya. Tetapi sekarangkan ada Hui hujin yang menahannya. Urusan ini menjadi mudah.

"Kalau begitu, cepat kalian kerjakan.".

Cun Hong dan Sia Ho tidak banyak cakap lagi. Tubuh mereka melesat. Dengan ilmu Tian sin hoat mereka mengambil posisi seorang di kiri dan seorang lagi di kanan.

Geakan mereka bagai dua ekor ikan yang linah. Keduanya langsung menerobos lewat ahaya pedang Hu! hujin yang berkitauan.

Meskipun cahaya pedang Huj hujin sangat cepat. tetapi seseorang yang menggunakan pedang, biarpun sudah melatihnya selama puluhan tahun dan ilmu ini sudah mahir sekali serta cahaya pedang yang terpancar lebih rapat lagi, tetap saja hanya menggunakan satu tangan dan satu pedang Dengan demikian tetap saja ada kekosongan Sedangkan orang yang menguasai Tian 1 sinhoat, meskipun hanya sedikit kekosongan yang terlihat, dia tetap dapat menerobos masuk ke dalamnya.

Be hua popo adalah orang kepercayaanHue leng senbu. Pedang yang digunakannya berukuran pendek namun lebar. Di bawah Jaringan cahaya yang terpancar dari pedang Hui Hujin, sudah sejak tadi dia kewalahan menghadapinya. Rairibunyayang putih bagai berdiritegak Wajahnya kelamsekali Biardia menerjang ke kin dan kanan, tetap saja dia tidak sanggup menerobos keluar dan jaringan yang dibuat oleh Hu hujin.

Dia menguasai semacam ilmu yang dapat menyambitkan delapan belas senjata rahasia sekaligus. Nama ilmu itu Tian li sanhua (Bidadari menaburkan bunga) Dia juga mempunyai semacam obat bius yakni Pek iihiong llmuilmu ini khusus untuk menghadapi musuh tangguh Tetapi kali ini dia benar-benar terdesak sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengerahkan kedua macam ilmunya itu. Ha! ini sudah diperhitungkan matangmatang oleh Hui hujin. Maka dan itu, begitu tucun tangan dia langsung menyerang nenek itu dengan gencar sehingga dia tidak dapat mengeluarkan dua macam ilmu yang unik itu. Tetapi Be hua popo juga bukan tokoh sembarangan Hui hujin hanya sanggup mengurungnya tetapl tidak bisa merubuhkannya.

Tepat pada saat itu, dua sosok bayangan hijau dan arah kiri dan kanan menerobos masuk ke dalam cahaya pedang. Hatinya tercekat sekali BehJm tagi dia mengetahui apakah yang datang itu kawan atau lawan, telinganya sudah mendengar teriakan seorang gadis.

"Hui hujin, harap berhenti. Ciok San Ku sudah diringkus oleh budak berdua!".

Tentu saja Hui hujin tidak percaya. Tangannya yang menggenggam pedang malah menyerang semakin gencar Dia mengalihkan pandangannya Dia metihat Be hua popo telah dicekal dari kiri kanan oleh dua orang gadis. Bahkan pedang pendeknya juga sudah direbut oleh mereka. Hui hujin segera menghentikan serangannya.

"Kalian. ".

Dengan wajah berseri-seri, Hui Fei Cin bedari menghampiri.

"Ibu, mereka adalah pelayan Tiong kouwnio. Di tubuh Be Hua popo ada obat pemunah racun. ".

"Tidak ada. Biar kalian bunuh aku juga sama saja!" tukas Be Hua popo dengan suara tajam.

"Ibu. " Dengan gerakan seperti terbang, Ciok Ciu Lan menghambur mendekati. Dia

langsung menjatuhkan diri di depan Hui Fei Cin "Hui cici, tolonglah, ibuku benar- benar tidak punya obat pemunah itu," katanya dengan suara meratap.

Hui Fei Cin segera membangunkannya.

"Ciok cid, Ibuku pasti tidak akan melukai ibumu. Tetapi banyak orang yahg terserang racun. Tanpa obat pemunah dari ibumu ".

"Setahu Siau moay, obat pemunah racun itu memang dibuat oleh Ca popo dan ibuku. Tetapi obat pemunah yang sudah jadi, semuanya di ambil oleh Hu leng senbu. ".

"Budak kurang ajar! Tutup mulutmu. Kau maiah membela orang luar.. Kau. kau

bisa membuat aku mati kesai!" bentak Be Hua popo.

Jadi obat pemunah racun itu semuanya ada padaHue leng senbu? Hui HuJin sampai tertegun mendengarnya.

"Ibu, apa yang dilakukan olehHue leng senbu selama ini, kau tahu sendiri. Tian Te kau merupakan sebuah perkumpulan sesat yang hanya akan mencelakakan sesama manusia Perkumpulan seperti ini pasti tidak akan bertahan. Sekarang saja ambang kematiannya sudah hampir tiba. Tidak ada kemudian han bagi Tian Te kau Kau orang tua seharusnya kembali ke Jalan yang benar ." suara Ciok Ciu Lan lebih mirip ratapan.

Be Hua popo gusar sekali Sayangnya dia dicekal oleh Cun Hong dan Sia Ho Kalau tidak ingin rasanya dia menampar pipi putn'nya sampai bengap. Terdengar suara tawanya yang aneh . ".

"Yang akan hancur justru delapan partai besar. llmu kepandaian Hu Kaucu tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Kalian ingin mendapatkan obat pemunah? Ha.. ha... ha... Huhl Jangap bermimpil".

Kepandaian Hu leng senbu memang tinggi bukan kepelang. Selama bertahuntahun dia dengan licik menutupi kepandaiannya. Sekarang begitu dikerahkan, nyatanya sampai Song Ceng San yang pernah mendapat julukan Jago pedang nomor satu kewalahan menghadapinya. Bukan begitu saJa, tampaknya orang tua itu mulai berada di bawah angin.

Apalagi Song Ceng San sudah terkena racun pembuyar tenaga Meskipun tenaga dalamnya sangat tinggi, dan dapat bertahan agak lama, tetapi sampai kapan dia dapat menahan seranganHue leng senbu yang seperti orang kalap itu?.

Hui KinSiau.GiokSiCu,Beng TaJin,Kan Si Tong serta yang lainlainnya tentu mengerti Setelah mendengar ucapan Be Hua popo mereka semakin terkejut. Tanpa sadar mereka saling memandang Satu pun tidak ada yang bersuara.

"Sekarang ini hanya ada satu jalan yang dapat ditempuh. Entah bagaimana pendapat kalian semua?" tanya Beng Ta Jin akhirnya.

"Harap Beng toheng katakan saja," uJar Giok Si Cu.

"Satusatunya jatan adalah membasmi iblis yang mendalangi semua ini. Kita tidak perlu memenuhi peraturan dunia kangouw lagi. Kita semua menyerangnya dengan segenap kemampuan. Pokoknya sampai iblis itu mati barulah delapan partai besar dapat dipertahankan. Kalau tidak .".

"Ini. takutnya ... Bengcu.. ." Giok Si Cu tampaknya ragu-ragu.

"Lurus dan sesat memang tidak pernah bisa berdiri bersama Demi ketentraman dunia kangouw, kita tidak bisa perduli lagi ketidaksetujuan Song heng," tukas Hui Kin Siau.

"Apa yang Hui heng katakan memang benar".

Hui Kin Siau mengggapaikan tangannya. "Fe ji, kemari'". "Tia ada perintah apa?" tanya Hui Fei Gin.

"Kesinikan dulu pedang Sit kim kiammu itu. Kita akan mengadu jiwa dengan Cu leng Sianl".

Hui Fei Cin segera mempersembahkan pedang Sit kimkiamnya derigan kedua tangan, Hui Kin Siau segera menyambutnya dan beralih lagi kepada rekanrekannya yang lain. "Cuwi toheng, biar hengte yang serang dulu. Bila kesempatannya sudah ada hengte akan menahan pedang Cu Leng Sian dengati Sit kimkiam ini. pada saat itulah kalian langsung menyergapnya. Ingat harus sekali gerak langsung berhasi!".

"Akh. " Terdengar seruan dan mulut Hui Fei Cin "Tia, cepat Iihat, Yok toako, dia..

.".

Dengan langkah perlahan-lahan Yok Sau Cun berjatan ke sisi Song Ceng San dan Hu leng senbu. Dia menggenggam pedangnya sambil menjura.

"Song loya cu,Hue leng senbu merupakan bencana bagi dunia persilatan yang telah berbuat banyak kejahatan. Biar boanpwe saja yang menghadapinya," kata anak muda itu dengan suara tantang.

Karena melihat pihaknya terusterusan mengalami kekalahan,Hue leng senbu merasa benci setengah mati tarhadap Song Ceng San. Pedang bergerak bagai terbang.

Berulang kali dia mendesak maju. Dalam tiga kali serangannya, Song Ceng San hanya bisa membalas satu kali. Serangan pun lambat, hawa murni dalam tubuhnya bagai bergolakgolaK. Sekarang dia hanya mengandalkan tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama puluhan tahun untuk mempertahankan diri dari serangan lawannya.

Perkelahian di antara dua orang ini sudah menjadi pertarungan hidup mati Yang satu pedangnya menyambar bagai kilat, cahayanya berkilauan. Yang satunya bergerak lambat, tetapi setiap JUFUS yang dikerahkan mengandung hawa pedang yang memancar deras Dalam sekitar satu dua depa dari jarak mereka, terasa bagai ada angin topan dan geledak yang menggelegar. Sinar pedang tajam menusuk. Apabila seseorang yang ilmunya kurang tinggi, jangan kata berjalan sannpai ke samping mereka, ingin maju satu langkah saja pasti tidak sanggup. Kalau bukan terhempas oleh angin serangah mereka yang kencang, pasti akan terluka oleh tajamnya i sinar pedang kedua orang itu.

Ini dimaksudkan apa.bila melangkah satu tindak dari jarak satu atau dua depa seperti yang diuraikan tadi. Kalau masih terus menerobos masuk, bisabisa selembar nyawa pun ikut melayang.

Saat ini angin yang terpancar dari pedang demikian dahsyat. Belum lagi smarnya yang tajam, tetapi Yok Sau Cun irielangkah masuk dengan tenang. Tentu saja kedua orang itu sama-sama terkejut.

Song Ceng San melink sekilas Ketika dia melihat orang yang datang itu Yok Sau Cun, tanpa dapat menahan diri lagi dia berseru .

"Yok laote, kau bukan tandingannya. Cepat mundur!".

Yok Sau Cun masih berdiri di teiripatnya tanpa bergeser sedikit pun.

"Harap Joya cu mundur saja, Boanpwe mempunyai keyakinan dapat menghadapinya!". Hueleng senbu yang melihat kehadiran Yok Sau Cun langsung memperdengarkan suara tawa yang menyeramkan.

"Bocah busuk, ternyata kau juga datang mengantarkan kematian. Tambah satu lagi, aku juga tidak keberatan.".

"Srettt'l!"Hue leng kiamnya memancarkan secank sinar yang menggigilkan, tiba-tiba dia menyerang ke arah Yok Sau Cun.

Pedang milik Ci sancu di tangan Yok Sau Cun hanya digerakkan sedikit. Terdengar suara.

"Tranggg!" Pedangnya langsung menekan pedangHue lengkiam lawannya. Dia masih sempat memalingkan kepalanya kepada Song Ceng San.

"Song loya cu, silahkan mundur".

Song Ceng San sudah bertarung dengannya sebanyak ratusan Jurus Tetapi dia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menekan pedang lawannya Tetapi dia melihat Yok Sau Cun hanya menggerakkan pedangnya dengan asalasalan saja, namun pedang Hue leng senbu langsung tertekan olehnya. Baru berpisah selama tiga hari, anak muda itu aeperti berubah menjadi diri orang lain saja. Mungkin dirinya yang sudah tua!

Diamdiam Song Ceng San merlank nafas panjang. Akhirnya dia terpaksa mengundurkan diri dari ternpat tersebut.

Bermimpi punHue leng senbu tidak pernah berpikir kalau Yok Sau Cun dapat menyambut serangan pedangnya dalam satu jurus saja. Hatinya menjadi marah sekaligus terkejut Ketika Yok Sau Cun sedang menyambut serangannya, dia menyuruh Song Ceng San mengundurkan diri. Apabila hal inl terjadi pada orang lain, pasti dianggapnya sebagai sesuatu hal yang memalukan Tetapi bagiHue leng senbu malah menjadi sebuah kesempatan.

Oleh karena itu puia, dia tidak tergesa-gesa menarik pedangnya kembah Mulutnya mengeluarkan suara dengusan, tangan kirinya tiba-tiba terangkat dan dengan secepat kilat dihantamkan kepada Yok Sau Cun.

"Blam!" Mata semua orang langsung beralih ke arah sumber suara. Dalam waktu yang barsamaan, Yok Sau Cun juga mengangkat tangan kirinya dan menyambut serangan yang datangnya mendadak itu.

Kedua telapak tangan telah beradu Yok Sau Cun masih berdiri dengan tidak bergerak sedikit pun. Sedangkan Hue leng senbu tergetar sampai mundur dua langkah. Bagi Hue leng senbu, kenyataan ini baru benar-benar membuatnya terkejut bukan kepalang!.

Dia sudah melatih ilmunya setama tiga puluh tahun. Dia menganggap di dunia ini tidak ada orang yang sanggup menyambutHue lengciang (Telapak tangan apinya). Ternyata seorang pemuda yang usianya paling banter dua puluh tahun sanggup menyambutnya. Bahkan dirinya sendiri sampai tergetar mundur sejauh dua langkah!. Untuk sesaat, Giok Si Cu, Hui Kin Siau, Hui hujin, Tan hujin, Beng Ta jin, Kan Si Tong dan Hui Fei Cin serta yang lainnya sudah barhamburan datang. Mereka langsung berhenti di samping Song Ceng San yang baru saja mengundurkan diri dan ajang pertarungan. Hal jni disebabkan karena pertarungan yang berlangsung merupakan penentuan. Asal iblis yang satu ini dapat diienyapkan dari muka bumi, maka badai yang melanda dunia kangouw kali ini pasti akan mereda kembali.

Para hadirin yang melihat Yok Sau Cun sanggup menyambutHue lengdang milikHue leng senbu, menjadi tambah kepercayaannya. Mereka yakin dia akan berhasil meraih kemenangan. Secara diamdiam Beng Ta jin membisikkan kepada rekanrekannya bahwa biar bagaimanapun hari ini nenek jahat itu tidak boleh dibiarkan lolos lagi.

Kalau dia merasa akan kalah dan berusaha melarikan diri, maka mereka semua harus menghafanginya.

Wajah Hue leng senbu garang sekali. Rambutnya yang putih sampai berdiri tegak. Sepasang matanya yang menyorptkan sinar tajam mulai memerah Dia menatap Yok Sau Cun lekat-lekat. Dia memanggutmanggutkan kepalanya berkalikah.

"Di bawah kolong langit ini, orang yang sanggup menyambut Hue Lengciang ini, kaulah yang termasuk orang pertama Tetapi sayang sekali. ".

"Apanya yartg harus disayangkan?" tanya Yok Sau Cun.

"Karena kau menyianyiakan tiga bulir obat yang diben'kan oleh putriku. Menurut pandanganku, di kolong langit ini hanya kau yang pantas bersanding dengannya Sayang sekali kau tidak menjadi menantuku. Oteh karena itu, hari ini juga aku harus membunuhmu!".

Sepasang mata Cu Kiau Kiau langsung memerah. Dengan terisakisak dia memanggil....

"Ibu. !"'.

"Ini sudah merupakan takdir!" kataHue leng senbu. Yo'k Sau Cun melintangkan pedangnya di depan dada. "Senbu, harap mulai saja.".

Hueleng senbu kembali melinknya sekilas. Mulutnya mengeluarkan suara keluhan yang menyayangkan Pedang Hue lengkiamnya perlahan-lahan di angkat ke atas.

"Yok Sau Cun, hati-hatilah!" katanya dengan nada dingin.

Pedang langsung digerakkan. Pergelangan tangannya bagai seutas rantai yang menyapu kesana ke mari Serangannya ini diarahkan ke kepala Yok Sau Cun. Jurus yang digunakannya ini bernama Leng Coa Jiauciag (Ular sakti melilit leher) yang merupakan jurus terkeji dari Kong Tong kiamhoat. Apalagi Hue leng senbu yang memainkat'inya. Kehebatannya dapat dibayangkan.Ada kesan seperti dewadewa di zaman dahulu yang menggunakan pedang terbang untuk menebas kepata orang. Metihat jurus serangannya ini, para hadirin menjadi kebat-kebit.

Yok Sau Cun masih berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada Dia sepertinya balum menyadari. Sampai sinar pedang hanya tinggaj satu cun kurang dari hadapannya, pedang yang ujungnya terdapat kaitan baru digerakkan. Sekarang ini dia sudah mahir sekali menjalankan Tian san samsut yang diajarkan oleh Kim Tijui Begitu pedangnya dikeluarkan, diadapat menggerakkannyasesuka hati. Apalagi ketika pedang bergerak, jangkauannya juga pendek sekali. Orang-orang yang menyaksikan jalannya pertarung an, termasuk Song Ceng San juga tidak melihat adanya perubahan yang hebat pada jurus pedangnya. Tetapi serangan maut danHue leng senbu ini, diiringi dengan suara.

"Trang!" dari benturan kedua senjata dan tahu-tahu pedangHue leng senbu sudah tertangkis olehnya.

Jurus serangan Yok Sau Cun ini sudah pernah dilihat olehHue leng senbu sebelumnya. Justru keti'ka pedangnya tertangkis oleh Yok Sau Cun, mulutnya mengeluarkan suara raungan keras dan tiba-tiba tubuhnya mem batik. Untuk sesaat, terlihatlah gerakan pedangnya yang berubah menjadi bayangan dan mengeluarkan laksaan titik sinar Persis seperti tiba-tiba turun badai salju yang menggigilkan tubuh Tiliktltik itu baga! baterbangan di udara dan menyelimuti tubuh Yok Sau Cun dari depan dan belakang.

Tanpa sadar mulut Ciok Ciu Lan dan Hui Fei Cin mengeluarkan seruan terkejut. Tetapi justru ketika laksaan titik itu menyelimuti tubuh Yok Sau Cun, terdengar lagi suara.

"Trang! Trang!" sebanyak dua kali. Suara itu memekakkan telinga. Di udara pun terlihat titiktitik lainnya yang jumlahnya tidak kalah banyak dengan yang pertama memijarmijar. Tidak ada seorang pun yang sempat melihat jurus apa yang dimainkan oleh Yok Sau Cun Mereka juga tidak mengerti bagaimana caranya Yok Sau Cun memecahkan Jurus serangan Hue leng senbu yang mengerikan itu?.

Hanya terlihat pergelangan tangan kanannya memutar dan pedang yang mempunyai dua kaitan itu sudah meluncur ke arah dadaHue leng senbu. Jaraknya tinggal empat lima cun Tiba tiba luncuran pedangnya berhenti Dia tidak menusukkannya ke dada Hue leng senbu. Pada saaty ang bersamaan, terdengar suara Yok Sau Cun yang nyaring.

"Senbu harus tahu. pintu Buddha selalu terbuka. Lepaskanlah golok pembunuhan dan berpalinglah selagi masih ada kesempatan Kau mencelakai Ci Sancu dan bahkan meracuni Soat san lojin yang tadinya bersedia memberikan bantuan kepadamu Dengan pikiran jahat kau membangun perkumpulan Tian Te kau, namun akhirnya kau gagai juga. Kalau dapat bertobat secepatnya .".

Hue Leng senbu melihat jarak pedang Yok Sau Cun dengan dadanya hanya tinggal sedikit lagi. Hatinya menjadi gusar bukan kepalang. Wajahnya merah padam bagai k├ępiting rabus. Mulutnya mangeluarkan suara bentakan nyaring dan tubuhnya melesat ke udara. Pedang Hue leng-kiam yang tadinya sudah barhasil ditangkis oleh Yok Sau Cun secara mendadak diangkat ke atas dan baru saja dia bermaksud meluncurkannya Sejak Hue leng sen-bu bergerak tubuh Yok Sau Cun sudah mulai ikut berkelabat bagai bayangan. Dengan keyakinan penuh dia mendesak, gerakannya masih sama Pedang yang sebelumnya ditudingkan di depan dada Hue leng sen-bu perlahan-lahan diangkat ke atas kurang lebih satu cun. Gerakannya ini bukan saja mematikan serangan Hue leng sen-bu, malah dengan kecepatan kilat ujung pedangnya menekan di salah satu urat darah Hue leng sen-bu yang mematikan. Snnar mata Yok Sau Cun menunjukkan kemarahan hatinya.

"Cu Leng Sian, tampaknya kau sudah tidak dapat dirubah lagi Mungkin hanya kematian saja...!".

Belum lagi kata-katanya selasai, Cu Kiau Kiau yang melihat keadaan mulai gawat, begitu paniknya sehnngga menguraikan air mana, Dia menghambur ke depan Kaki Yok Sau Cun dan menjatuhkan dirinya berlutut. Sambil terisak-isak dia meratap ,

"Yok siauhiap, waktu itu aku melihat kau terkena serangan Hue Yan to, secara diam diam aku menucri tiga butir obat untukmu. Tidak perduli kau menelannya atau tidak, pokoknya aku melakukannya dengan satulus hati. Aku harap dengan mengingat hal ini kau bersedia mengampuni jiwa ibukui".

Hueleng sen-bu tambah marah Dia membentak keras-keras. "Cu Kiau Kiau, tutup mulutmu! Biar aku beritahukan kepadamu, kau hanya seorang bayi yang kutemukan di tengah jalan. Bukan anak kandungku, kau bukan she Cu Aku bahkan tidak tahu siapa she—mu yang sebenarnya Kalau aku mati, kau bebas menemukan jalan hidupmu. Kau pun tidak perlu mengurus jenasahku!" .

Baru saja perkataannya selesai, telapak tangannya secepat kilat menepuk ubun-ubun kepalanya sendiri. Terdengar suara "Prak!" yang membuat telinga ngilu Tubuh Hue leng san-bu pun tarkapar dengan otak berantakan .

"Ibu !" terial Cu Kiau Kiau Sambil menubruk mayat ibunya dan menangis tersedu- sedu.

Song Ceng San segera menghambur maju Wajahnya berseri seri.

"Yok Laote, ternyata kau sudah berhasil Tragedi yang melanda kangouw kali ini, rupanya dapat diselesaikan dalam tanganmu!".

Yok Sau Cun menyrmpan pedangnya kembali dan cepat-cepat menjura. "Tenma kasnh atas pujran Song loya cu," katanya .

Begitu gembiranya Ciok Ciu Lan, sampai- sampai air matanya mangalir dengan deras.

”Yok toaki, cbat pemunahnya ada di dibalik pakaianHue leng sen bu!" .

Yok Sau Cun melangkah periahan-lahan mendekati Cu Kiau Kiau "Cu kouwmo, kematian Sen-bu adalah atas kemauannya sendiri. Orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali Kouwnio seharusnya menerima kenyataan ini dan menjalani hidup dengan tegar. Lagipula banyak orang yang terserang racun saat ini tarma- suk Cn sancu dan Soat san I0 sm snan. Obat pemunahnya ada pada nbumu Harap Kouw- m0 bersedaa mengambnlkan cbat pmamunah rtu dan ssrahkan kepada cayha Cayhe tentu mcrasa bsrtsrnma kasrh sekaln " katanya de- ngan nada menghnbur Cu K1au Kiau menghapus aur mma dr prpmya Dna mengulurkan tangan dan mang- ambnl Inga b0t0| yangterbuat darn batu kumala kemudian dia berdrrf Wajahnya berhadapan dengan Yok Sau Cun Sepasang matanya yang masnh mengembang arr menatapnya Ie- kat Iekat Botci dn tangannya dnserahkan kepada anak muda rtu.

"Pada saar menjelang kemaliannya, rbu tidak membuang ketnga bum! nm Mesknpun dia tidak berkata apa-apa, tetapi tentunya dia bermaksud menyerahknn obat pemunah ini kepada kalian. AmbiIlahi“ katanya dsngan terisak-isak.

Yok Sau Cun mengulurkan tangannya menyagnbut ketiga botol obat itu "Terima kasih Cu kcuwnic " "Obat pemunah racun pembuyar tenaga dan racun penghilang kesadaran dapat di- bedakan dari tuiisan di botol masing-masing. Bctcl yang satunya lagi bensn obat pemunah racun Put in kiam•tan (Pil emas nada yang kedua). Setiap crang yang meniadi pengikut Kong Tong pai harus minum obat pemunah itu masing- masing satu bum Dengan demikian racun di dalam tubuh dapat dipunahkan dan mereka pun akan tersadar ksmbali pada dirinya sendiri." Selesai menieiaskan, kedua tangannya Iangsung menggendcng mayatHue lang sen-bu dan membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat terssbut.

"Tidak heran mengapa ibu bagitu setia kepadaHue leng sen-bu, dia benar-benar menganggap tidak ada crang kedua di dalam hatinya kecuaii nenek itu. Rupanya dia sudah mensian racun Put ji kim—tan," kata Cmk Ciu Lan.

Yok Sau Cun mengeluarkan salah satu butcl itu dan menysrahkannya kspada Cick Ciu Lan.

"Lan mcay, kau bawa cbat pemunah ini dan capat ambil satu butir dan minumkan ikepada ibumu Lalu bagnkan juga cbat pe- imunah ini kepada crang-crang Kong Tong ‘pai iamnya. Urusan ini aku serahkan kepadamu.".

Cick Ciu Lan msnyambut bctcl cbat itu kemudian dia membalikkan tubuh untuk me- tlaksanakan tugasnya Yok Sau Cun meng- lulurkan dua botol obat Iainnya kepada Hui Fei `Cin dan maminta dia membagikan cbat pa- munah itu kepada crang-crang dan delapan partai besar.

Begitu Hue lang sen-bu mati, Cian Pea Teng dan Cu Tian Cun yang sedang ber- iarung Iangsung berhenti.

"Ibu .. " Dengan berderai air mata, Cu Tian Cun menghambur mengeiar Cu Kiau Kiau. Kim Ti-iui saat itu sedang menerangkari kejadian yang sabenarnya kspada Go- kong, tea-hac dan sam-hac Bang Hui Ing sudah mendengar keterangan dari Ticng Hui Cicng dan kemudian membuktikannya lagi dari mulut selir Li. Bukan hanya kakeknya saia yangi sudah terserang racun bahkan Ci sancu sen diri iuga diperdayai cieh Hue leng sen-bu Kata•kata ini terdengar guga cleh tea-hao dar sam•hac. Semua orang terkejut bukan kepalang Pada saat itu, terirhat tubuh Kim Ti-jun meiesat ke depan dan menghadang Cu Tiani Cun. I.

”Lacte, kau mempunyan ibu kandung sen diri maiah tidak dnakui, iustru mengaku se crang nblns ssbagan ibumu?' katanya Cu Tian Cun menghentikan Iangksh kaki- nya.

"Apa yang kau ¤¤ehkan" Cepat mnngg¤r¤" bentaknya marah.

Beium lagi Kam Ti-iui sempat mengeiaskan kepadanya, Tan hujnn sudah menghambur mendekati "Anak, apakah ibumu sendirn saia kau su- dah tidak mengenaln |ag|?" katanya dengan berurai air mata.

Cu Tran Cun menatap Tan hujin Iekat-Ie kat. Dia merasa wanna setengah baya ini tidak asing bagnnya, tetapi dna tidak dapat mengingat apa•apa.

"Huiin, mungkin kau salah manganali ¤rang’?“ sahutnya dangan wajah sarius. Pada saat itu, Song Gang San sudah ms- nalan chat pamunah. Dangan parlahan-Iahan dia malangkah ka arah maraka.

"Tnan Cun, mba kau ingat bank-baik. Waktu kacil kau barnama Liang Kean Banar tidak? Kau adalah kapunakan Ichu sandiri. Ayahmu barnama Tan Pit Sian. Dna adalah ibu kandungmu sandm. .“ Cu Tian Cun banar•banar trdak bisa mang- ingat sadnknt pun.

"Aku tidak tahu apa-apa," sahutnya br- ngung.

Tardangar sabuah suara yang parau ma- nyahut dan kajauhan "Kau parnah manalan cbat panghilang ka- sadaran yang aku buat Kamudian kau di- cakckn lagi clah Hua lang san-bu dangan Put ijl kim-tan. Tantu saja kau trdak ingatapa•apa. }Pada dasarnya dalam hanmu cuma ada sa- crang Hua lang san—bu " Yang bicara mi su- dah pasti Cick Sam Ku. Dia sudah manalan chat pamunah Put ji kim—tan. Katika dia me- `hhat crang ramai sadang barbncara dangan Cu Tian Cun Dia sagara mengajak Cick Ciu Lan menghampiri ks arah mereka. 'Bagaimana kau bisa tahu7" tanya Cu Tim Cun.

Cnck Sam Ku tersenyum simpul "Asal kau sudah menelan cbat pemunah tentu kau akan mengerti sendiri Karena aku yang menculikmu dengan nlmu Pak hua sin heat. Saat itu dalam keadaan tertotck Aku menyerahkan kau padaHue lang sen-bu yang Iangsung meminumkan racun Putji kim tan.".

Cu Tian Cun terkajut sekaln "Apakah kata-karamu nu benar?" "Buat apa aku mendustanmu?" sahut Cnok Sam Ku.

Hun Fei Cin dan Ciok Cru Lan masnng masmg mengsluarkan sebutir 0bat pemunah dari botol obat dn tangan mereka dan me nyerahkannya kepada Tan hujnn Wanna se tengah baya itu menerimanya dengan meng uraikan air mata.

"Anak, cepat kau telan kedua butir cbat pemunah im. Sebentar Iagn kesadaranmu pasti akan puhh kembaln," katanya. Cu Tian Cun mengedarkan pandangannya ks sekeliling. Dia merasa mereka semua sepertinyn bersungguh•sungguh. Akhirnya dia menerima juga kedua butir obat tersebut dan langsung menelannya. Pada saat itu, Ci sancu, Kong Tong si-hav. Tcan Pek Yang. Cian Pca Teng, sehr Li, selir Liu dan yang Iain-Iainnya juga sudah menelan ubat pemunah tersebut. Kim Ti- jui menjelaskan sekali Iagi bahwa yang mem- bunuh Jit—kcng dan Pat—kcng sebetulnya atas perintahHue lang sen-bu. Dalam hal iniji-hav dan shhac tidak dapat disalahkan. Mereka melakukannya tanpa sadar sebab keduanya telah diben racun oleh nenek jahat itu. Se- karang Hue Ieng sen-bu sudah mati. Segala dendam pun harus dihabisi sampai di situ. Yang ialu bnarkan barlaiu. Gc—kong yang mendengarkannya manarik naias panjang- panjang Setelah menghentakkan kaki dua kaii, dia Iangsung male at meninggalkan tempat tersebut.

Yck Sau Cun iuga menyerahkan pedang iemasnya kepada Hong Lam San. Kemudian Ci¤k Sam Ku ruga menjelaskan bahwa dia yang menggunakan racun pcnghilang ke- sadaran untuk mengajak para iago dari bs- berapn partai besar bsrgabung dengan Kong Tong pai. Termasuk suhengnya Ca Nam Kiah dari Bu Liang-kiam pai. Dialah yang mem- berikan pedang lernasnya kepada Ciuk Ciu Lan yang kemudian menghadiahkannya kspada Yak Sau Cun.

Song Ceng San yang mendengar bahwa delapan crang manusia berkaun cadar yang saat ini dalam keadaan tertutck dn depan pmtu gerbang adalah tukch-tokoh dan ber- bagan partan persnlatan, ssgera menyerahkan sagumlah obat pemunah kepada Hong Lam San dan memintanya supaya mencekckkan cbat-cbat tersebut kepada delapan orang xtu Dengan demnkian pihak Hong Lam San juga dapat segera kembirh ke perguruannya sen- dui.

Hcng Lam San menerima kembali psdang Iemasnya dan memura sekah Iagi kapada Yok Sau Cun. Dna juga menyambut obat-chat pe munah dari tangan Song Ceng San serta mengucapkan terima kasih sekaln Iagi Se- telah itu dia membalikkan tubuhnya mening- galkan tempat itu.

Cu Tian Cun sudah menelan kedua bum obat pemunah yang diberikan oleh Tan huiin Tidak lama kemudnan pikirahnya mulai sadar kemball. Dia mencoba mangingat-ingat masa lalunya. Akhirnya dia merasa bahwa nama kecilnya mamang Lieng Kean, Dia Iangsung menjatuhkan diri berlutut dengan mang- uraikan air mata.

"Anak sudah teringat kembali Anak me- mang bernama Lneng Kean waktu kecilnya. Tetapn di mana ayah sekarang’?" Tan hujnn segera merangkul anaknya dan menangns tersedu-sedu. Bagitu terharunya hati wanna itu sehingga dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun Bang Hui Ing sagera mengnkuu tindakan suaminya man- |atuhkan_d1ri berlutut di hadapan wanita stu.

"Manantu taiah melakukan kesalahan be- sar. Harap Ibu mertua bersedna memaa1kan." Tan hupn capat-capat memapahnya ba- ngun.

“Menantu yang baik, erang yang tidak tahu ndak dapat disalahkan Aku tidak akan me- nyalahkan d¤rimu," katanya dengan mengam- bangkan seulas senyuman yang Iambut. Selembar wajah Bang Hui Ing menjadi merah padam.

"Tsrima kasih, Ibu..." sahutnya lirih.

Sampai saat mi Yek Sau Cun baru tahu kulau Cu Tian Cun adalah anak suhunyai yang menghilang enum belas tahun yang Ialu. Hatinya meniadi gembira sekstika. "Cu toako, rupanya kaulah suheng yang siaute carl-can selama ini. Suhu, dia crang tua, sudah mencanmu selama enam belas tahun.".

Kim Ti—|ui mengamkat bahunya sambil ter- tawa Iebar.

"Urusan ini, biar Lao kckc saja yang ce- ritakan. Song Loya cu, He... he... he.. Hm, siaute seharusnya memanggil Lac kcko se- bagai suheng. Eegini, pada waktu dulu, suhu Tian San I Sou mswariskan nimu pedang se• banyak seratus yurus yang kemudian meniadn ilmu pedang keluarga Song dan dikatakan sebagai ilmu pedang yang tidak terpscahkan Sebetulnya seratus jurus yang diajarkan cleh Suhu adalah almu pedang yang sudah ada rumus pc-mecahannya ".

Song Ceng San menganggukkan kapaia nya sambil tarsenyum-senyum. "sebetulnya Lao siu tidak terhitung mund suhu. Sute baruiah muridnya yang se sungguhnya." Kim Ti-gui juga tertawa Isbar.

"Tan Pit Sian juga termasuk orang yang mandapatkan warisan dari Suhu. Keiuarga Tan iuga terdiri dari pendekar-pendekar yang ahii dalam ilmu pedang. Dia akhirnya me- nikah dengan adikmu. Ilmu yang dipelajari Tan hupn utcmatis adalah ilmu pedang ke- Iuarga Song. Pada suatu hari, hanya karena sepatah kata yang diucapkan ketika beriatih ilmu pedang bersama-sama. Tan huiin me- ngatakan bahwa ilmu

pedang keluarga Song tidak bisa dipecahkan oleh siapa pun iuga dan Tan Laukc menyahut bahwa di dunia ini tidak ada ilmu padang yang tidak dapat di- pecahkan Justru karena ucapan inilah ke- mudian teriadi partentangan di antara suami istri Siang dan malam Tan Iackc berusaha mencari ialan untuk memecahkan ilmu pe- dang keluarga Sung. Pada suatu hari dia du- duk termenung sacrang diri di Iuar hutan.

Kebatulan Suhu iewat di tempat itu. Sengaja dia berlatih ilmu di Iuar hutan tersebut. Tan Iackc Iangsung tertarik. Apa yang dijalankan olsh Suhu pada saat itu adalah Pit kiam sln- hoat. Ketika sampai Tan Iacku berhasil mem- pelajarinya, suhu sudah pergi. Hati Tan Iacko senang sakali. Dia segera pulang ke rumah dan memberitahukan kepada lstrinya behwa dia sudah berhasil memacahkan ilmu pedang keluarga Song.

Dan dia memaksa Tan hujin mengujinya. Kebetulan Song lacks datang berkunjung. He... he... he. Pada seat itu, Song Iaoko kesal sakah mendengar kata- katanya. Kau

mengatakan: 'Kau hanya bisa menghindarkan diri dari serangan pedang, apa termasuk hebat? Kalau kau bsnar-bsnar sanggup menerima due puluh jurus serangan ilmu pedangku, baru boleh menyumbongkan diri!' Tan Iaoko yang mendengar ucapan itu, Iangsung terbangkrt hawa amarahnya. Dia mengatakan: 'Apabrla aku orang she Tan ti- dak sanggup menyambut dua puluh serang- anmu, maka aku akan mengundurkan diri dari dunia kang¤uw!' Sebstulnya kata-kata itu di- ucapkan dalam keadaan emcsi. Siapa sang- ka malam harinya dengan mengendap-endap dia membawa anaknya memnggalkan rumah ".

Selembar wajah Song Ceng San menjadn merah padam.

"Sebstumya bukan dia saja, kaml semua juga terbawa emosi. Aih, Lac siu sendiri juga rkut bersalah. Tetapl sstelah Tan lacks meninggalkan rumah. kami semua keluar mencarinya. Tapi ssiamq ini tidak berhasil menemukannya." ‘.

"Tentu saja. Suhu menyembunyikan diri di rumahku selama bertahun•tahun," kata Yck Sau Cun dalam hatinya. "Laiu di mana Tia sekarang?" tanya Cu Tian Cun.

"Suhu ada di Hun Tai san." Hue Fei Cin yang telah membagi-bagikan obat pemunah kepada crang-orang delapan parfai besar segera menyerahkan kedua bo- t¤I czbatnya kepada Tiong Hui Cicng.

"Tiong cici, kedua chat ini khusus memusnahkan racun pembuyar tenaga dan racun penghiiang kesadaran. Sekarang siau moay menyerahkannya kepadamu.".

Ticng Hui Ciong menerima kedua bctcl itu Cick Ciu Lan iuga menyerahkan bctoi nba! di `tangannya kepada gadis itu.

{ "Tiong cici, yang ini adaiah obat pemunah racun Put ji kim—tan milik Hue Ieng sen-bu. Kau bawalah sekaIian," katanya.

' Tiong Hui Ciong sekali Iagl menerima nba! itu dari tangan Cick Ciu Lan. Bibimya me- ngembengkan seulas senyuman.

"Terlma kasih kepada adik berdua." .

Dia berhadapan dengan Hui Fei Cin yang Iembu! dan Cick Ciu Lan yang Iincah seria cerdas. Diam-diam dna menarik natas pan- jang dalam haiinya. Dia sendiri sudah meng• angkat saudara dengan Yok Sau Cun. Se- bagai senrang kakak seharusnya dia memi- kirkan kebahagiaan adiknya. Pikirannya ter- gerak, hati Ticng Hui Cicng yang tadinya ba- gai diganduli beban berat meniadi Iega se- keiika. Dia ikui berbahagia demi Yck Sau Cun. Perlahan-Iahan dia melangkah ke sam- ping Beng Hui Ing.

"Toaci, Yaya memerlukan chat pemunah ini secepatnya. Aku akan kembali ke Scat san sekarang juga.".

Beng Hui lng menganggukkan kapaianya "Baiklahi Aku akan mengikuii mertuaku ke Hun Tai san. Seielah kembali dari tempai itu. aku akan menjenguk keadaan Yaya.

Kau bo- leh berangkai duluan." sahutnya.

'Hong Hui Cicng juga menganggukkan ke- palanya. Dia membalikkan tubuh menghadap Yuk Sau Cun.

'Adik Cun, cici akan kembali ke Soat san. Kau... harap jaga dirimu beik-baik.' Sudui matanya terlihat air mata mengambang. Te tapi dia memaksakan dlrlnya untuk tidak me- nangis di hadapan anak muda itu. Yck Sau Cun yang mandengar Cicng cnci- nya akan pulang ke Soat san, marasa hatinya agak barat barpisah dengan gadis itu. Dia menatap Tiong Hui Ciong Iekat-Iekal.

*?Ci¤ng cici juga harus menjaga diri baik- baik," katanya kemudian.

. Ti¤ng Hui Ciong tidak barkata apa-apa Iagi. Dia sagera mambalikkan tubuhnya me- ninggalkan tampat itu. Cun Hong. Sia H0, Ciu Guang dan Tung Soat sagera mengikuti dari balakang. Sebentar saja mareka sudah manghilang dari pandangan.

Orang-orang dart delapan partai basar su- dah menelan obat pemunah. Satalah beris? tirahat sajanak, tenaga dan hawa mumi maraka talah pulih kemball. Hanya Ci sancu yang karena sudah agak lama tarserang ra- cun sampai sekarang balum sadar juga. Bu Cu taisu baserta rombongannya mendengar Song Cang San dan keluarganya akan be- rangkaf ke Hui Tai San. Maraka sagem me- mohon diri satu per satu. Sebelumnya

me- raka mangucapkan tarima kasih sebasar•besarnya kepada Yok Sau Gun Kalau bukan karena anak muda itu, urusan yang pehk nm belum tamu dapat diselesaukan secara tuntas hari ini, Yok Sau Cun mengucapkan kata- kata yang merendah.

"Yok lame, Kita juga sudah harus berang- kat " ajak Song Ceng San.

"Ibu. kau juga harus ikut dengan mereka ke Hun Tan san Dulu kau yang mencuhk Cu toako Kau merupakan satu?satunya saksn hi- dup bag| mereka,? tukas Cick Cru Lan.

Tentu saia Cick Sam Ku mengsm maksud han anaknya. Dia Iangsung memangguv manggutkan kepalanya barulang kali.

"Baiklah. Ibu sudah membuat mereka ss- keluarga terpisah se|ama enam belas tahun. Memang seharusnya lbu msminta maat ke- pada Tan tanhnap. Hal ini juga akan meri- ngankan perasaan Ibu yang marasa ber- salah ".

"Cick tcacn gangan berkata demikian Aku- lah yang bersalah terhadap suam|ku," kata Tan hugin.

Yck Sau Cun segera melepaskanpadang drpinggangnya. Dna msnyerahkan ke tangan Cn sancu sambnl berpesan kepada sehr Li dan sslar Liu.

"Pedang ina malak Ci sancu. Harap kalaan simpankan ". Kam Ti aua merentangkan kedua tangan- nya.

"Kau juga harus mengembalakan semacam barang kepada Lao koko ". Yck Sau Cun msnaada terpana. "Apa yang Lao k¤k0 maksudkan?".

Kam Ta aua tertawa terkekeh•kekeh. "Kau tadi menyambut serangan Hue lang sen-bu dengan kekerasan Kalau bukan Lao koko maminaamkan semacam benda pusaka dari Pak haa, mass kau basa tidakterluka cleh serangan telapak tangan apanya? Lao koko masah harus berangkat secepatraya ke Pak haa umuk meragembalikan benda pusaka ten sebut ".

"Banda pusaka apa sebetulnya yang di- maksudkan cleh Lac kcako?" tanya Yak Sau Cun bingung. Kam T1-aui meaagangkat sepasangbahunya.

"Mengapa kau tadak meraba ke balik pakaaanmu sendiri?" Yok Sau Cun segera menuruta perkataan- nya Ternyata daa memarag merasakan ta- ngannya menyentuh semacam barang yang dingin. Cepai-copai dia msngeluarkannya. Ternyata bends itu adalah sebuah baiu ku- mala berwarna hiiam.

"Apa inl? Kapan Lao kckc meleiakkannya ke dalam baiik pakaian siauie?". Kim Tl•jui segera mengulurkan iangannya menyambui benda tersebui. "Batu ini adalah semacam benda pusaka yang sudah ierpendam selama ribuan tahun dalam iautan. Khasiainya khusus uniuk me- nyambut serangan yang mengandung unsur api. He... he... he... Tadi waktu membisik di teiingamu, secara diam-diam aku msmasuk? kannya ke balik pakaianmu. Baiklah Lac koko akan berangkai sekarang." Dia menge• dip-ngedipkan matanya kepada Ciok Ciu Lan dan meiangkah keiuar dan iapangan tersebut.

"La0 koko, di mana kita bisa beriemu iagi?" tsriak Yok Sau Cun.

'Apabila ada iodoh, ribuan Ii pun dapat bertemu. Lao koko menunggu saat kau me- nyajikan arak kebahagiaan. 'tidak diundang pun akan hadiri" sahuinya dariiauh dan Kahu- tahu orangnya sudah menghilang dari pandangan.

Song Ceng San menarik naias panlang. "Dla benar-bennr orang aneh yang tiada duanya di dunia Inii".

Song Ceng San. Song Bun Cun, Ciek Ban Cmg, Hui Kln Siau suami istri, Hue Fei Cin, Tan huiin. Cu Tian Cun suami isiri, Yok Sau Cun, Be Hua popo dan Ciok Ciu Lan serom? ongan semuanya akan menuju ke Huan Tai an Dengan berb¤nd¤ng•b¤nd0ng mereka eninggalkan Ce Po ian-goan`.

Kong Tong si-has mengantarkan sampai i depan pintu gerbang. Toa-hao segera enjura dalam-dalam.

"Kong Tong pai tertimpa musibah. Kami benar-benar diperalat oleh Hua Ieng sen-bu untung saja ada Song Ioya cu dan Yok iauhiap yang mengerahkan segenap tenaga menyelesaikan urusan ini, sehingga Kong tong pai dapat dibenahi kembaii. Sancu sam• ai saat ini beium sadar. Kami empat bersaudara mewakili Sancu mengucapkan terima kasih kepada cuwi.".

Song Gang San segera membalas penghormatan yang diberikan oieh Toa-hao. "Suwi cianpwe terlalu sungkan. Apabiia Ci ancu tarsadar nanti, tciong sampalkan salam Lohu untuknya." .

Rombongan itu segera berangkat ke Hun Tai san. Tentu saja Cu Tian Gun msrubah namanya msnjadi Tan Tian Cun. Suami ism keluarga Tan pun bersaiu kembain, Yok Sau Cun sendiri ieriun ke duma kangouw untuk memenuhi dua permmiaan suhunya Sekarang tugasnya sudah selesan Malah dia mendapatkan dua nrang isiri yang canink jehta Hamnya sudah pasii gembira tidak kepalang.

TAMAT