Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 26

 
Jilid 26

"Budak kurang ajar! Beraninya kau bersandiwara di hadapanku! Tampaknya Cu leng sian mengutusmu ke lembah ini dengan maksud tertentu!" bentaknya gusar.

Penampilan Li so masih setenang tadi. Bibirnya masih mengembangkan seulas senyuman yang manis.

"Kata-kata Ji Siocia ini tidak tepat sama sekali. Hamba hanya khawatir Ji Siocia akan mengganggu ketenangan Lao sinsian maka melakukan perbuatan ini.".

Mata Tiong Hui Ciong menatap Li so lekat-lekat.

"Aku tidak akan mempercayai kata-katamu lagi. Bagaimana? Kau akan menyerahkan diri sendiri atau menunggu aku yang meringkusmu?".

Li so masih juga tersenyum simpul.

"Apabila Ji siocia berkeras ingin bertemu dengan Lao sinsian, hamba terpaksa menunjukkan jalan." Tanpa menunggu bantahan dan Tiong Hui Ciong, dia langsung membafikkan tubuhnya dan berjalan dengan pinggang meliuk-liuk.

Gerakennya semakin lama semakin cepat. Bagajkan segumpal asap berwarna hijau, dia menyelusup ke dalam goa. Gayanya indah dan gemulai tetapi justru membuat hati Tiong Hui Ciong semakin panas.

"Hm. Kau berusaha untuk meloloskan diri?" bentak Tiong Hui Ciong Dengan

gerakan yang tidak kalah cepatnya dia mengejar ke dalam goa.

Meskipun Yok Sau Cun tahu kalau Tiong Hui Ciong sudah kenal betul keadaan dalam goa. Tetapi kelicikan Li so mau tidak mau membuat hatinya menjadi waswas, Janganjangan di dalam goa ini sudah dipasang perangkap untuk meniebak mereka.

Ke|adian ini berlangsung datam sekejap mata. Tiong Hui Crong mehhat bayangan tubuh Li so menyelinap ke pintu batu yang terdapat di sebelah kiri. Tanpa berpikir panjang lagi dia segera mengejar.

Tiba-tiba dia merasakan serangkum angin menerpa dari depan. Matanya menangkap kelebatan seseorang yang mengenakan jubah hijau Dari bagian mata sebelah bawah wajah orang itu ditutup dengan secarik kain hitam. Mereka membiarkan Li so lolos dari samping tubuh mereka dan menghadang di tengahtengah dengan bahu membahu. Hati Tiong Hui Ciong terceket. Tiong Cun tonghu adalah tempat tinggal kakeknya, mulut lembah diJaga pula oleh Suto pekpek, bagaimana orang-orang ini bisa masuk seenaknya? Tetapi setelah merenung sejenak, Tiong Hui Clong segera mengerti. Pada dasarnya dia memang sangat cerdas. Ingatannya tajam. Bukankah Suto pekpek mengatakan bahwa Ci San cu pernah datang? Orang-orang ini pasti dia yang bawa masuk ke dalam lembah Tiong cun kok.

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung membentak dengan suara nyaring....

"Siapa kalian ini? Mengapa menghadang di depanku?" Tangan kirinya langsung terulur dan menghantam ke arah kedua orang itu.

Periu diketahui bahwa pukulannya ini dilancarkan dalam keadaan gusar. Meskipun hanya mengandung tenaga sebanyak delapan bagian, tetapi ilmu yang digunakannya Justru adalah Kim Hengciang (Bayangan emas) dari Soat san pai. Begitu pukulan dilancarkan, gelombang angin yang kuat serta mengandung hawa pembunuhan bagaikan badai yang melanda.

Terdengar suara.

"Puhhhl" yang menderuderu, angin yang timbul dari pukulannya langsung menghantam kedua orang berpakaian hijau itu. Tampak mereka berdiri tegak di tempat semula, sedikit pun tidak bergeming oleh pukulannya.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya hati Tiong Hui Ciong, dia memandang kedua orang itu dengan mata terbelalak, saking terkesiapnya tanpa terasa kakinya sampai mundur satu langkah.

Terdengar suara teriakan Li so berkumandang dari dalam goa....

"Dialah Ji siocia Tiong Hui Ciong, kalian berdua orang tua tidak boleh melepaskannyal".

Saat ini Tiong Hui Ciong beru melihat dengan jelas. Kedua orang berpakaian hijau yang berdiri di hadapannya memang menutupi wajahnya dengan secarik kaln hitam. Tapi bagian keningnya terlihat jelas kerutankerutan yang menandakan ketuaan mereka. Bentuk alis dan mata mereka persis sekali. Tampaknya usia mereka sudah sangat tinggi. Tiong Hui Ciong segera menuding kedua orang itu dengan ujung pedangnya,.

"Siapa kalian sebetulnya?" bentaknya kembali.

"Kalau kau memang cucu parempuan Si Leng Sou jangan katakan kami berdua saja kau tidak tahu. " sahut orang tua yang berdiri di sebelah kiri.

Tiong Hui Ciong tertegun sejenak. Sebuah ingatan melintas di benaknya. Hatinya langsung merasa tegang.

"Apakah kalian ini Kong Tong sihao (Kakek beruban dari Kong Tong pai)?". Empat kakek beruban dari Kong Tong pai merupakan paman seperguruan atau susiok daci ketua Kong Tong pai yang sekarang, Ci Leng Un. Kedudukannya termasuk paling _tinggi di dalam partai itu. Menurut kabar, keempat orang Jtu memang bersaudara kembar. Ketika dilahirkan rambut mereka sudah .berwarna putih. Itulah sebabnya mereka mendapat julukan Kong Tong sihao.

Kakek yang berdiri di sebalah kanan terdengar mendengus dingin.

"Bagus kalau kau sudah mengenali kamil" Tangannya dlangket dan kain penutup wajahnya langsung ditarik turun.

Kakek yang satunya lagi seperti memilik! perasaan hati yang sama. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga menarik kain penutup waphnya. Sekarang tampakiah wajah asli mereka. Ternyata bukan rambut mereka saja yang sudah memutih, bahkan alis dan jenggotnya iuga sudah menjadi uban. Wajah mereka penuh keriput Gigi mereka sudah ompong semua. Kalau diperhatikan sekilas, tidak tampak seperti orang yang benlmu tinggi Malah lebih minp kakek tua renta yang sudah uzur dan hampir masuk liang kubur.

Tiong Hui Ciong merasa gusar sekali melihat sikap mereka.

"Soat san pai dan Kong Tong pai tidak mempunyai perselisihan apa pun Mengapa kalian senibarangan masuk ke dalam tempat tinggal kakekku ini?".

"Budak cilik, apa sih yang kau tahu? Lohu dua kakak beradik menerima perintah dari San cu untuk melindungi Si Leng Sou'" sahut kakek sebelah kiri.

"Tidak perlu. Sekarang aku sudah pulang. Aku bisa melindungi kakek. Kalian silahkan tinggalkan tempat ini'" kata Tiong Hui Ciong sinis.

Li so yang menyembunyikan diri di dalam goa mendengus dengan suara genit.

"Tiong Hui Ciong, di dalam hatimu telah mengandung rencanayang licik, kau pikir aku tidak tahu?".

Kemarahan Tiong Hui Ciong semakin meluap. "Rencana licik apa?".

Sekali lagi dari dalam goa berkumandang suara tawa yang kenes.

"Aku katakan kepadamu, sejak semula aku sudah mendapat kiriman surat lewat merpati pos dari Senbu. Di dalamnya dinyatakan bahwa kau telah berkhianat.

Membela orang luar bahkan mslankan diri d&ngan seorang pemuda hidung belang Sekarang kau pulang ke Tiong Cun kok untuk merampok harta pusaka kakekmu bukan?".

Dada Tiong Hui Ciong hampir meledak mendengar fitnahnya Pedang panjang di tangannya langsung ditudmgkan ke arah goa. "Siapa suruh kau sembarangan mengoceh?".

Baru saja dia hendak meneriang ke dalam, Kakek yang berdiri di sebelah kanan tangsung menghadang di depannya.

"Budak cilik, lebih baik kau berdiri diam-diam di sana" bentak orang tua itu.

Tanpa dipenntahkan, kakek yang satunya lagi langsung merentangkan tangannya menghalangi tangkah Tiong H ui Ciong. Kembalj terdengar suara tawa cekikikan Li so yang berkumandang dari dalam goa.

"'Ji siocia, hatimu benar-benar terpukul karena rencana busukmu ketahuan bukan? Mengapa demikian panik? Ikuti saja keinginan kedua orang itu!".

Wa|ah Tiong Hui Ciong hijau membesi. Matanya mendelik kepada kedua orang tua berpakaian hijau.

"Kelau kalian berdua masih tidak mau menggeser, jangan katakan aku Tiong Hui Ciong tldak tahu sopan santun!" teriaknya marah.

Li so melongokkan kepalanya sedikit, tampaknya matanya berbinar-binar.

"Ji sioda, kedua orang tua ini mendapat perintah untuk melindungi Lao sinsian, kau berani mengkhianati perguruanmu sendiri, mereka akan menngkusmu lalu dibawa ke hadapan Lao sinsian untuk menerima hu' kuman. Kau masih berani membuka mulut berkoarkoar sembarangan?" katanya dengan nada dibuat-buat.

Orang tua yang berdiri di sebe.iah kiri melangkah maju lambat-lambat.

"Budak cilik, aku rasa sebaiknya kau buang pedangmu kemari dan menyarah saja secara baik-baik!".

Kali ini hawa amarah di dalam dada Tiong Hui Ciong benar-benar tidak terbendung lagi.

"Tua bangka beruban, katianlah rupanya yang mempunyai rencana licik...!" teriaknya gusar.

Orang tua yang berdiri di sebelah kanan sejak tadi memejamkan matanya. Sekarang tiba-tiba matanya membuka Secarik sinar dingin terpancar dan matanya itu. Dia memandang Tiong Hui Ciong lekat-lekat.

"Budak cilik, kau berani kurang a|ar terhadap lohu?" bentaknya dengan suara keras.

Yok Sau Cun tidak tahu asalusul Kong Tong sihao. Bahkan mendengar namanya saja baru kali ini Tetapi melihat sinar mata mereka yang tajam dan gerak kaki mereka yang mantap walaupun usianya sudah demikian tua, dia segera menyadan bahwa tenaga dalam kedua orang ini sudah tinggi sekali. Oia tidak berani memandang remeh, namun dia juga khawatir terjadi apaapa pada diri Tiong Hui Ciong. "Ciong cici, tebih baik kau mundur saja, biar siaute yang menerima beberapa Jurus ilmu sakti mereka," katanya.

Terdengar sahutan manja dari Li so. "Anak manis, kau benar-benar seperti sebutir

telur ayam yang membentur batu karang Sungguh tidak tahu diri".

Yok Sau Cun memicingkan matanya. "Belum tentu," sahutnya tenang Orang tua yang di sebelah kin melinknya sekilas. Mulutnya tertawa terkekeh-kekeh.

"Bocah cilik, dengan sebuah telunjuk iohu ini, kau bisa kubuat menggelinding di atas tanah beberapa kali!".

Yok Sau Cun tertawa lebar. "Mengapa tidak kau coba saJa?" "Adik Cun, Kong Tong si hao adalah susiok dari Ci Leng Un. llmu mereka sangat tinggi, kau harus berhati- hati," kata Tiong Hui Ciong memperingatkan.

Yok Sau Cun masih tersenyum simpul. "Orang yang memiliki ilmu tinggi, hatinya harus berjiwa pendekar dan berjatan di tempat terang. Dengan demikian hati pun menjadi tenang dan dapat bertarung dengan siapa saja tanpa takut dikalahkan.

Meskipun berilmu tinggi tapi perbuatannya busuk, mana mungkin hati bisa tenang dalam menghadapi pertarungan?".

Kakek yang berdiri di sebelah kanan marah sekali mendengar perkataan Yok Sau Cun.

"Bocah busuk, mulutmu tampaknya besar juga!" katanya sambil tertawa marah.

Tiba-tiba tangan kanannya diangkat ke atas, tampak jari telunjuknya meluncur datang Yok Sau Cun yang melihat dia turun tangan asalasalan saja, segera menduga bahwa tenaga dalam yang dikarahkan paling. paling tiga bagian. Tetapi dia juga merasakan segulung angin keluar dari telunjuk orang tua itu dan menyerang ke arahnya Sasaran orang tua itu adalah bahu kanannya.

Pihak lawan pernah mengatakan bahwa sebuah iari telunjuknya saia sanggup membuat dla bergulingan di tanah beberapa kali. Tentu saJa dia tidak akan turun tangan keras terhadapnya. Sedangkan ilmu yang dipelajari oleh Yok Sau Cun adalah Yu Tian sikang yang kebal terhadap segala macam totokan. Oleh karena itu dia tetap berdiri tegak di tempatnya sambil tersenyumsenyum.

"Usia Lao cang sudah tua, mengapa hawa amarahmu masih berkobar-kobar?" Mulutnya berbicara, tetapi tubuhnya tidak menghindar dari totokan orang tua tersebut.

Orang tua sebelah kanan masih friengira bahwa totokan jaci tangannya diluncurkan terialu cepat sehingga anak muda itu tidak sempat menghindarkan diri lagi. Terdengar suara.

"Duk!" Jari tangannya dengan tepat menotok di bahu kanan Yok Sau Cun.

Bukan saja Yok Sau Cun tidak terpental, apalagi bergulingan di atas tanah, malah wajahnya mengembangkan seulas senyuman dan tetap berdiri tegak di tempat semula. Tubuhnya bahkan tidak bergeming sedikit pun.

Orang tua sebelah kanan melihat kejadian itu dengan mata terbelalak. Hampir saja dja tidak percaya dengan pandangannya. Dengan kekuatan totokan jari tangannya, boleh dibilang sebagian besar tokoh kelas satu saja belum sanggup menerimanya. Umur anak muda ini baru selikuran, tetapi dia sanggup menyafnbut totokan iari tangannya tanpa goyah sedikit pun. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Bibirnya bergerak-gerak kemudian dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Anak muda, beranikah kau sambut sekafj lagi pukulan lohu?".

Yok Sau Cun baru sadar urusan hari ini sulit lagi apabila ingin diselesaikan secara baikbaik. Dia sendir! juga tidak periu merasa sungkan lagi terhadap mereka. Oleh karena itu, dia segera mendongakkan wajahnya dan tertawa bebas.

"Kalau Lao cang ada maksud memberi pelajaran, jangan kata satu pukulan, biar tiga pukulan sekalipun, orang she Yok ini juga terpaksa menerimanya'".

Kakek yang berdiri di sebelah kiri menatapnya sekilas.

"Tampaknya asal-usul anak muda ini tidak mudah juga," katanya dengan suara lirih. Orang tua yang sebelah kanan langsung tertawa terbahak-bahak.

"Biar asal-usulnya tidak mudah, hengte juga tetap akan menngkusnya!" Sinar matanya langsung beralih kepada Yok Sau Cun.

"Anak muda, hati-hatilah kau!".

Tangan kanannya terangkat ke atas, tampak sebuah lengan dengan jari tangan yang seperti tinggal tulang dengan kacepatan tinggi meluncur ka arah Yok Sau Cun Tubuh orang tua ini kurus sekali. Pakaiannya becwarna hijau pula. Kalau dilihat sepintas lalu bagaikan sebilah bambu panjang. Telapak tangannya tidak ada dagingnya sama sekali, seperti kulit yang langsung membungkus tulang. Tetapi telapak tangannya itu besar sekali, bahkan lebih besar dari orang blasa.

Dari hal mi saja dapat dibuktikan bahwa dia telah lama menekuni ilmu pukulan telapak tangan. Yok Sau Cun diamdiam menghimpun tenaga dalamnya Dia menyalurkannya ka telapak tangan kanan. Matanya menatap orang tua itu lekat-lekat. Kakinya berdiri tegak. Sampai deruan angin dan telapak tangan lawan sudah terasa, baru dia menjulurkan telapak tangan kanannya menyambut.

Kakek yang berdiri di sebelah kiri terus memperhatikan Yok Sau Cun. Dalam waktu sesaat, dia segera merasakan bahwa anak muda ini sangat tenang. Penampilannya gagah dan tidak tampak sedikit pun kekhawatiran pada dirinya. Tentu tenaga dalam yang dimilikinya tidak berada disebelah bawah mereka dua bersaudara.

Kekuatan tenaga kedua telapak tangan segera beradu. Terdengar suara benturan yang lembut, baik orang tua sebelah kanan maupun Yok Sau Cun, keduaduanya tergetar mundur satu langkah. Justru karena keduanya tergetar mundur satu langkah, orang tua sebelah kiri langsung tergetar hatinya. Sedangkan wajah orang tua sebelah kanan langsung berubah hebat.

Tenaga yang dikerahkan pada tetapak tangannya tadi kurang lebih tujuh bagian. Nyatanya anak muda ini hanya tergetar mundur satu langkah Sedangkan dia sendiri juga tergetar mundur satu langkah Bukankah hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam mereka setali tiga uang? Tentu saja hati orang tua sebelah kanan itu merasa tidak puas Dia mendengus dingin.

"Anak muda, beranikah kau menyambut pukutan lohu sekali lagi?" tanya dengan mata bersinar tajam.

Kong Tong Si hao mempunyai kedudukan tinggi dalam Kong Tong pai. Mereka adalah angkatan tua yang disegani. Tadi dia mengatakan satu pukulan, sekarang dia malah mengatakan pukulan yang kedua. Otomatis dia harus menanyakan lebih dulu kepada anak muda itu supaya wibawanya tidak jatuh.

Yok Sau Cun tertawa bebas.

"Cayhe sudah mengatakan, biar tiga pukulan dan Lao cang sekalipun, Cayhe juga akan menerimanya dengan senang hati. Silahkan Lao cang lancarkan serangan!".

Tampak sinar kebuasan menyorot dari mata orang tua itu. Dia mengeluarkan suara tertawa yang seram.

"Baik! Kalau begitu, terimalah pukulan lohu sekali lagi!" Kali ini, dia tidak sungkan lagi. Perkataannya selesat, tubuhnya langsung mencelat ke udara. Sepasang telapak tangannya dijulurkan, secara berturutturut dia melancarkan dua buah pukulan.

Kedua pukulan ini bukan saja cepat tetapi juga berat. Telapi tenaga dalamnya masih tersimpan di telapak tangan dan belum lagi disalurkan keluar. Sebelum keempat telapak tangan beradu, tidak terdengar sedikit suara pun dan tidak terasa sedikit angin pun yang terpancar dari telapak tangannya.

Inilah ilmu pukulan Cui kuciang yang termasyhurdari Kong Tong pai. Getaran tenaga dalam tidak bocor sama sekali. Meskipun sudah dipersiapkan pada telapak tangan dan juga hawa murni melindungi seluruh urat nadi serta melindungi seluruh tubuh, sepasang telapak tangannya merekah di depan dada lalu diluncurkan ke depan. Tiba- tiba terdengar suara.

"Blam! Blam!" sebanyak dua kali. pakaian kedua orang itu memperdengarkan suara berdesirdesir Namun baik Yok Sau Cun maupun orang tua Itu tetap berdih tegak di tempat semula Tidak ada satu pun yang tergetar mundur walaupun hanya setengah " langkah.

Hati orang tua yang sebelah kanan terkesiap sekali. Hampir saja dia tidak percaya bahwa yang barusan terjadi adalah kenyataan. Cui kuciang yang dilancarkannya sedemikian hebat, tetapi lawannya yang masih muda itu sanggup menyambutnya.

Tentu saja dia tidak tahu kalau ilmu Yu tian sikang Yok Sau Cun sudah dilatih sampai taraf kesempurnaan di mana dia dapat mengerahkan dan menank kembali sesuka hatinya. llmu Cui KuCiang saja tidak mudah melukainya. Apaiagi di dalam tubuhnya terdapat tenaga Ciap hun sin kang aliran Buddha yang secara tidak sengaja disalurkan oleh Lao fangciong dari cap ji libio. Tenaga sakti ini dapat menolak kekuatan apapun yang membentur dari luar dan oleh karena itu dengan mudah Yok Sau Cun dapat menyambut Cui Kuciang yang dilancarkan oleh orang tua itu.

Orang tua sebelah kiri mendengus marah. "Losi, kau mundurlah. Brar aku yang mencoba sampai di mana kekuatan tenaga dalam bocah ini!" bentaknya sambil melangkah maju perlahan-lahan. Dari dalam lengan, bajunya yang longgar dia mengeluarkan sebuah mistar yang warnanya hitam pekat.

"Anak muda, mana senjatamu? Lohu ingin menguji dalam ilmu senjata!" Yok Sau Cun tersenyum sirripul. "Bagus sekali. Kalau Lao cang berminat menguii dengan senjata, cayhe pasti akan menemaninya dengan senang hati. Tapi cayhe pikir, kalian berdua orang tua sudah datang sendiri ke tempat ini, tentu tidak mudah menyelesaikan persoalan ini begitu saja. Daripada capaicapai, lebih baik katian turun tangan berdua sekaligus," sahutnya tenang.

Justru karena dia tahu persoalan ini tidak akan terselesaikan begitu saja, maka dia sengaja mengeluarkan ucapan dengan nada sombong. Orang tua yang eebalah kanan menjadi marah seketika.

"Bocah busuk, beram kau berkata seperti itu di hadapan tohu?" bentaknya dengan suara lantang.

Orang tua sebelah kin segera mengangkat mistarnya ke atas dan barkata sepatah demi sepatah...,.

"Anak muda, kalau lohu sudah turun tangan, mungkin masih ada beberapa persen kesempatanmu untuk hidup, tetapi kalau kami turun tangan bersama-sama, kesempatanmu untuk hidup hilang sama sekali....

Yok Sau Cun tersenyum simpul.

"Begitukah? Cayhe takut yang terjadj justru sebaliknya. Dengarlah nasehat dari orang muda ini Lebih baik kaiian tinggatkan tempat ini segera, kalau tidak ingin pulang setelah cayhe turun tangan, rasanya tidak begitu mudah lagi.".

Rambut putih orang tua sebelah kiri lancsung berdiri tegak. "Orang muda, lagakmu terlalu sombongl" bentaknya marah. Yok Sau Cun masih juga tersenyum-senyum,.

"Lohu lihat usiamu masih begitu muda. Seremaja Ini kau sudah memiliki ilmu demikian tinggi pasti tidak mudah. Oleh karena itu, lohu merasa sayang apabila orang yang berbakat seperti dirimu mati siasia. Membuat lohu marah pasti merugikan dirimu sendiri," kata orang tua sebelah kiri selanjutnya. Yok Sau Cun merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam.

"Terima kasih atas maksud baik Lao cang bardua. Cayhe juga mempunyai sedikit na' sehat yang ingin disampaikan. Cayhe hanya seorang bocah ingusan yang baru berkecimpung dalam dunia kangouw. jadi tidak tahu asal usul Kong Tong sihao.

Tetapi tadi cayhe dengar Ciong cici mengatakan bahwa kalian adafah susiok dan Ci Leng Un. Kedudukan kalian pesti tinggi sekali, ilmu sjlat pun sangat hebat. Hal ini tidak perlu diragukan iagi. Kong Tong sihao dapat menduditki jabatan yang tinggi, tentu nama kalian yang tersohor tidak diperoleh dengan mudah. Setahu cayhe, Kong Tong pai dan Soat san pai telah setuju untuk bekerja sama. Bahkan cucu perempuan sutung Lao sinsian mempunyai jodoh yang erat dengan Kong Tong pai. Hal ini membuktikan bahwa Kong Tong pai dan Soat san pai sebetufnya adalah satu keluarga. Sekarang kalian berdua berkeras meniaga di depan Tiong cun tonghu ini, akibatnya pasti timbul persetisihan. Mengapa tidak mendengar nasehat cayhe dan tinggalkan tempai ini sebelum pertikaian ini semakin mendalam?".

Terdengar kumandang suara Li so me' nukas dari dalam goa.

"Jangan kau memutar balikkan kenyataan. Kedatangan kedua orang tua ini adalah untuk melindungi Lao sin-sian!".

Sepasang alis Tiong Hui Ciong langsung 'terjungkit ke atas. Hah engkiam ditudingkan ke depan dan membentak dengan suara keras.

"Perempuan tidak tahu malu' Sekali lagi kau berani mengoceh sembarangan, akan kubunuh dulu dirimu!".

Tubuhnya langsung barketebat untuk menerjang masuk ke dalam goa. Orang tua sebelah kanan segera mengibaskan lengan bajunya. Terasa serangkum angin yang kuat mendorong Tiong Hui Ciong dan menghadang langkah kakinya.

"Ciong cici, kau masuk saja ke dalam. Ringkus perempuan Itu. Urusan di sini biar siaute yang selesaikan" bentak Yok Sau Cun.

Tanpe menunda waktu lagi, pergelangan tangan kanannya langsung diangkat ke atas, terdengar suara gemerincing senjata yang disentakkan. Cahaya dingin memijar Datam spkejap mata pedang lemasnya telah menjulur kaku. Dia fangsung mengibasken pedangnya ttu ke arah lengan baju sl orang tua tadi yang longgar.

Orang tua sebelah kiri itu marah sekali. Dia membentak dengan suara keras....

"Bocah busuk, kau benar-benar tidak tahu tinggi tebalnya bumi!" Mistardi tangan kanannya langsung menebas ke arah pedang lemas Yok Sau Cun.

Kali ini keempat orang itu semuanya ber' gerak. Meskipun ada yang bergerak terlebih dahulu dan ada yang belakangan, namun waktu yang terpaut sedikit sekali, Orang tua di sebelah kanan yang terlebih dahulu mengibaskan lengan bajunya ke arah Tiong Hui Ciong. Dafam waktu yang bersamaan, sinar pedang Yok Sau Cun juga menyapu datang. Terdengar suara. "Sret!" yang halus di mana ujung pedang berkelebat. Secarik lengan baju orang tua tadipun tertebas putus. Tepat pada saat itu, mister di tangan orang tua sebelah kiri meluncur datang dan bermaksud menahan ujung pedang Yok Sau Cun yang sudah terkutung tfga cun. Dalam waktu yang bersamaan, Tiong Hui Ciong menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap ke dalam goa.

Pedang di tangan Yok Sau Cun yang sudah berhasil menebas kutung ujung lengan baju orang tua sebelah kanan, langsung ditarik kembali dan menebas mistar kakek yang satunya. Caranya turun tangan damikian cepat dan gaya pun aneh Hal ini membuat orang tua sebelah kin itu Jadi tercengang.

Padahal mistar di tangannya sedang dijulurkan untuk menangkis pedang Yok Sau Cun, bukan sa|a tindakannya tidak berhasil, malah dengan kecepatan yang sulit djikuti pandangan mata, pedang lemas anak muda itu malah berbalik manebas dari atas ke bawah. Bukankah hal ini membuktikan bahwa gerakannya lebih lambat satu detik dari pada Yok Sau Cun?.

Kejadian ini baginya merupakan suatu peristiwa yang memalukan. Apalagi beradunya pedang dan mistar cukup keras. Keduanya tentu saja mengerahkan tenaga dalam. Tetapi anak muda itu tidak bergetar sedikit pun. Hanya terdengar suara.

"Trang!" yang nyaring LJalam sekejap mata pedang dan mistar terpisah lagi. Yok Sau Cun sudah berdiri lagi di tempat semula. Bahkan pedang lemas yang tadi digenggamnya sudati terselip lag! di ikat pinggang. Sama sekali tidak terlihat bagaimana dia melakukannya.

Dengan perasaan terkejut orang tua sebelah idri memandang Yok Sau Cun lekat- lekat.

"Apakah kau anak murid dari Bu Liangkiam pai?" tanyanya.

Sebetulnya dia tidak percaya murid Bu Liangkiam pai ada yang memiliki ilmu sehebat ini Sementara itu, Yok Sau Cun tersenyum simpui.

"Cayhe bukan anak murid Bu Liang kiam pai," sahutnya.

Kakek yang sebelah kanan tidak berhasil mencegah terobosan Tiong Hui Ciong, behkan ujung lengan bajunya yang telah disalurkan hawa murni dapat tertebas kutung oleh pedang lemas Yok Sau Cun. Hatmya semakin marah. Bibirnya mencibir dan membentak dengan suara keras.

"Loji, tidak perlu banyak cakap dengannya. Pokoknya hari ini aku aken mencincang tubuh bocah ini menjadi tujuh bagian!" Tangan kanannya langsung terangkat. Sabuah mistar yang juga berwarna hitam pekat segera dikeluarkan. Bagian depan jubahnya yang menutupi dada seperti mengambang lebih besar. Matanya menatap Yok Sau Cun dengan sinar yang mengandung hawa pembunuhan yang tebal.

"Bocah busuk, hari ini adalah hari kematianmu!" Perlahan-lahan dia melangkeh mendekati anak muda itu. Rupanya mereka adalah loji dan losi dari Kong Tong sihao, pikir Yok Sau Cun dalam hatinya. Pikirannya tergerak, hawa murninya segera disalurken untuk bersiap siaga.

Mulutnya tertawa terbahak-bahak.

"Sejak tadi cayhe sudah mengatakan bahwa kalian sebaiknya turun tangan berdua sekaligus..." sindirnya tajam.

Belum lagi ucapannya selesai, tubuh orang tua sebelah kfri tiba-tiba melesat meninggalkan tanah kirakira tiga cun. Kecepatannya bagai gumpalan awan yang berarak. Sekelebatan saja mistar hdamnya sudah meluncur ke arah jantung Yok Sau Cun.

Kakek sebetah kiri tadi sudah mengadu tenaga dalam satu kali dengan anak muda yang ada di hadapannya. Dia'sadar ilmu silat Yok Sau Cun sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Hal ini benacbenar di luar dugaannya. Oleh karena itu, ketika orang tua sebelah kanan mulai menerjang ke arah Yok Sau Cun, kaki kirinya pun segera melangkah mendekati.

Meskipun dia belum turun tangan, tapi pertarungan kali ini pasti tidak terhindarkan lagi. Ketika kakek sebelah kanan mulai bergerak, padang lemas Yok Sau Cun sudah dihentakkan dan sekerang melintang di depan dada. Tenaga dalamnya segera disalurkan. Belum lagi mistar orang tua itu mencapai dirinya, hawa dingin dari pedangnya sudah memancar keluar.

Dirinya sadar bahwa ilmu pedang yang dikuasainya sulit menandingi kedua orang tua sakti ini. Oleh karena itu, dia tidak menunggu sampat mistar tersebut mencapai dirinya, pedangnya langsung digetarkan dan menusuk ke depan.

llmu yang digunakannya adalah Jurus pertama yang diajarkan oleh Kim Tijui Jurus pertama ini sebetulnya ada gerakan pembukaannya. Tetapi saat itu dia hanya menggetarkannya sadikit lalu menusuk ke depan. Berarti dia hanya mengerahkan setengah jurus dari ilmu itu Kemudian setelah lukanya sembuh, Kim Tijui mengajarkan tagi jurus kedua ilmu tersebut. Sepanjang perjalanan menuju Soat san, Yok Sau Cun tidak parnah lupa berlatih. Sekarang dia sudah menguasai dengan mahir.

Meskipun garakannya sangat sederhana dan dia hanya mengarahkan setangah jurus saja, tetapl begitu meluncur keluar, kecepatannya seperti kilat serta mengandung kekuatan tenaga yang dahsyat. Sedangkan orang tua sebelah kanan juga bukan tokoh sembarangan. Begitu merasakan sesuatu yang tidak benar, wajahnya langsung berubah hebat. Dengan panik dia menank mistarnya kembali, namun terlambat juga Terdengar suara.

"Trakkk!" pedang dan mistar segera beradu. Ternyata mistar kakeksebelah kanan itu langsung terpenta! di udara. Dengan gugup dia mencelat ke sampmg sejauh tujuh delapan depa.

Mata kakek sebelah kiri menyorot dengan tajam.

"Losi, anak muda ini tampaknya sudah menguasai ilmu yang dapat mengikuti ke . inginan padangnya," katanya dengan suara berat.

Wajah kakek sebelah kanan berkerutkerut saking marahnya. "Makanya kita harus membunuhnya!".

Kong Tong sihao adalah angkatan tua Kong Tong pai yang sangat disegani Kalau pada hari biasa, dia pasti tidak sudi melawan seorang anak muda dengan berkeroyok. Tapi situasi han ini berbeda, dia tidak perlu sungkan lagi. Orang tua sebeiah kanan menganggukkan kepalanya sambil berdehem. Tubuh orang tua sebelah kiri langsung mencelat ke udara.

Kadua orang itu bargerak dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua buati mistar hitam menimbulkan cahaya yang redup dan meluncur menyerang dari dua arah.

Angin menderuderu. Suasana mencekam. Serangkum hawa dingin memenuhi tempat itu. Membuat perasaan orang Jadi menggigil.

Yok Sau Cun tidak bersuara. Pedang lemas di tangannya hanya digetarkan ke depan. Kemudian dia memutarnya satu kali membuat lingkaran Kalau dipikirkan, gerakannya yang hanya menggetarkan pedang kemudian memutarnya satu kali, tidak terlalu hebat Apalagi membuat nyali lawan menjadi ciut. Tetapi tidak tersangka, begitu pedangnya berputar hawa pedang langsung memenuhi tempat tersebut.

Kalau dikatekan memang aneh, kedua mistar di tangan orang tua itu seperti terangkat sendiri menjauhi dirinya. Hanya terdengar suara.

"Trak! Trak!" sebanyak dua kali. Pertama yang sebelah kiri, kemudian yang sebelah kanan. Dalam waktu yang hampir bersamaan beradu dengan pedang lemas Yok Sau Cun, ternyata dia berhasil menyambut dengan baik serangan kedua lawan itu.

Tidak! Dia bukan saja dapat menyambut dengan baik, kedua buah mistar terpental ke atas dan tangkah kedua kakek itu pun targetar mundur dua tindak. Padahal dua orang kakek dan Kong Tong Pai itu sudah bergabung untuk melawannya. Sebetutnya dalam pikiran mereka, paling tidak Yok Sau Cun akan kalang kabut dan terdesak terus.

Namun tidak disangkasangka, meskipun mereka berdua mengeroyokinya, tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.

Lagipula mereka melihat Yok Sau Cun hanya memainkan sebuah jurus yang sangat sederhana. Pedangnya hanya digetarkan dan kemudian diputar satu kali. Sepertinya mudah sekali dia berhasil menangkis kedua buah mistar hitam sampai terpental.

Bahkan lengan kanan orang tua itu sampai terasa kesemutan akibat getarannya. Sedangkan di pihak Yok Sau Cun sendiri diamdiam merasa terkejut. Pergetangan tangannya yang menggenggam pedang lemas hampir saja mengendur dan sedikit lagi pasti pedangnya terlepas dari tangannya.

Ketiga orang itu tertegun datam sesaat. Kakek sebelah kiri menatap Yok Sau Cun sekilas dan berkata dengan suara perlahan....

"Anak muda, dengan sekati gerak kau bisa menghindarkan diri dari serangan kami kakek beradik, sebetulnya di dunia kangouw sudah boteh matang melintang. Siapa kau sebetutnya dan berasal dari perguruan mana?".

Pedang lemas masih tergenggam eraterat di tangan Yok Sau Cun.

"Suhu cayha. meskipun disebutkan, Jiwi belum tentu kenal," sahutnya tenang. Orang tua yang sebelah kanan tampaknya tidak sabaran.

"Loji, buat apa kau mengoceh panjang lebar dengannya?" Mistar di tangannya bergerak lagi. Tampak segurat sinar kelabu berkelebat dan tangannya pun terjulur dengan perlahan.

Orang tua itu tidak seperti sedang menyerang. Gerakan tangannya malah lebih mirip orang yang sedang menari. Tidak jelas Jurus apa yang dimainkannya. Tetapi dalam sekejap mata, gerakan mistar di tangannya membentuk bayangan seperti sebuah jaring yang siap mencaplok bagian dada Yok Sau Cun.

Terdengar suara keluhan yang berat dari mulut orang tua sebelah kiri. "Kau sendiri yang cari mati, jangan salahkan lohu!".

Dengan gerakan yang sama dia memutar mistarnya. Tampak juga secarik sinar kelabu yang membentuk bayangan seperti jaringan. Lambat laun bergerak dan akhirnya bergabung dengan ianngan yang dibentuk oleh mistar Losi. Kedua janngan yang terpancar dari mistar-mister hitam tersebut, semakin lama semakin merapat. Yok Sau Cun berdiri tegak di antara kedua orang itu Dia hanya merasakan bahwa serangkum hawa dingin yang menyerang dirinya semakin lama semakin menguat.

Seluruh peredaran darah dalam tubuhnya seakan mulai membeku.

Namun bayangan janng yang muncul dari mistar kedua lawan juga bergerak semakin lambat. Kalau jarak lawan dengan dirinya belum sampai batas tertentu, Yok Sau Cun juga tidak bisa mengerahkan jurusnya untuk melawan. Dleh karena itu, dia terpaksa berdiri tegak di tempatnya dan menghimpun hawa murni secara diamdiam. Dia berharap dengan cara ini dia sanggup menahan rasa dingin yang semakin menggigit. Tetapi tampaknya kurang berhasil. Hawa dingin bahkan menyusup ke dalam tulang dan tanpa sadar gigi atas dan gigi bawahnya gemerutuk terus.

Melihat keadaannya, kedua orang tua tadi diamdiam menertawakan di dalam hati. Gerakan kedua rrnstar di tangan mereka mulai cepat. Bagaikan sedang menari-nari, mereka mendekati Yok Sau Cun. Hawa dingin pun semakin menyebar.

Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata. Kedua mistar yang menyerang dari kiri dan kanan juga bergerak semakin dekat. Tentu saja Yok Sau Cun memperhatikan dengan seksama gerakan kedua mistar yang mendesak terus ke arah dirinya. Dia juga tahu gerakan kedua kakek itu bukan sedang menari-nari, namun sedang mengerahkan sebuah jurus yang menambah kekuatan daya serang mereka.

Jaringan yang terbentuk dari kedua mistar itu juga tidak mudah dihadapi. Yok Sau Cun sadar sekali akan hat ini. Namun dia tidak mempunyai pilihan lain.Padang lemasnya segera digetarkan lalu berputar dan kemudian menyapu ke kiri dan kanan. Jurus yang dimainkannya ini mengandung hawa murni yang kuat. Tentu saja suara angin yang timbul pun menderu-deru. Sekilas cahaya terang berwarna kehijauan segera menyelimuti sekitar tubuhnya. Justru karena bayangan kedua mistar itu telah membentuk menjadi jaringan, dia tahu kedua orang tua ini sedang menJalankan semacam ilmu yang hebat Yok Sau Cun juga menambah kekuatan tenaganya dan disalurkan ke ujung pedang lalu menyapukannya ke hadapan mereka. Sinar pedangnya dan tenaga yang terpancar sangat dahsyal. Namun dia hanya dapat menahan mister kedua orang itu agar jangan sampai mendeketi dirinya dan tetap tidak sanggup membuat kedua kakek itu tergetar mundur.

Hati Yok Sau Cun menjadi panik. Pergelangan tangannya memutar. Kembali dia mainkan jurus pertama ilmu pedang yang diajarkan oleh Kim Tijui. Karena Kim Tijui pernah mengataken bahwa jurus kedua dari Nmu pedang yang diajarkannya sangat dahsyat serta mengandung kekejian, maka kalau bukan pada saat yang teramat genting, dia dilarang mengerahkannya. Itulah sebabnya sampai hari ini, Yok Sau Cun belum pernah menggunakan jurus kedua itu untuk melawan musuh yang dihadapmya.

Sekarang dia sudah menjalankan jurus yang pertama, hasilnya pun segera terlihat. Sinar pedang memijar dan dua jaringan dari mistarmistar di tangan orang tua jtu pun mulai goyah, tatapi dia tetap tidak sanggup mendesak bayangan jaring itu sampai menghilang atau buyar.

Melihat keadaan itu, orang tua sebelah kiri langsung terbahak-bahak. "Loji, bocah ini hanya menguasai satu Jurus ilmu saja!".

Tampak kakek sebelah kiri mengeluarkan suara keluhan dari mulutnya. "Satu jurus saja sudah sehebat ini, sayang sekali. ".

Jaringan dari kedua mistar sebentar lagi akan bertemu. tampaknya sekejap kemudian tubuh Yok Sau Cun dapat hancur oleh serangan mereka. Datam saat yang genting itu, tiba-tiba tampak tubuh Yok Sau Cun berkelebat. Sekilas bayangan hijau melesat bagai segumpal asap dan menerobos lewat di antara kedua orang tua itu.

Padahal kedua mistar itu sudah hampir merapat. Jarak di antara'nya sedemikian sempit sehingga tinggal segurat garis yang terlihat. Apabila hendak menerobos lewat celah sekecil itu tanpa terluka sedikit pun, rasanya merupakan sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Tetapi anak muda itu justru menggunakan peluang yang tidak mungkin untuk menerobos keluar. Hati kedua kakek itu langsung tergetar. Tetapi mereka sudah kepatang tanggung. Mana mungkin membiarkan Yok Sau Cun lolos begitu saja? Mulut kakek sebelah kanan menggerung keras. Dengan kecepatan bagai angin yang berhembus, dia mengejar ketat di betakang tubuh Yok Sau Cun. pergelangan tangannya memutar. Mistar hitam yang ada di tangannya berputar setengah lingkaran kemudian bagai orang yang sedang bermain catur digesekkan ke depan.

Sedangkan kakek kiri yang mengeJar Yok Sau Cun, segera menutulkan sepasang kakinya dan mencelat di udara Mistar di tangannya juga mengeluarkan secarik sinar kelabu yang akhirnya membentuk jaringan terus menyerang dari atas ke bawah.

Kedua jaringan ini kirakira membentuk bayangan sebesar delapan cun persegi panjang. Kalau tadi mereke menyerang dari kiri dan kanan, sekarang serangan mereka ber. ubah dari atas dan bawah. Ketika kedua bayangan bergabung, dengan perlahantahan namun pasti bergerak dengan gaya meliuk-liuk. Kalau gerakan yang partama tadi tarus lambat, make serangan yang kali ini mendadak meluncur secepat kilat.

Yok Sau Cun baru saja meloloskan diri dari jaringan kedua mistar tersebut. Belum lagi kakinya berdki dengan tegak, dari betakang punggungnya sudah tarasa serangkum hawa dingin yang menerjang. Jaringan yang pertama mengancam bagian kepalanya dan Jaringan yang kedua mengancam bagian kakinya.

Kalau serangan mereka masih sama seperti sebelumnya, yakni dari kiri dan kanan maka Tian san kiamhoat yang dipetajarinya rnasih dapat digunakan untuk menangkis. Tetapi serangan yang dilakukan kali inijustru dari atas dan bawah. Sedangkan gerakan jurus partamanya adalah menggetarkan padang, memutar dan menusuk ke depan.

Karena dia harus melancarkan serangan kedua mistar itu justru mengancam dari atas dan bawah?.

Otaknya segera bekerJa. Setelah rnempertimbangken dalam waktu yang singkat, dia mengambil keputusan untuk cnenghadapi serangan bagian atas terlebih dahulu.

Pikirannya tergerak, pedang lemasnya digatarkan, hawa murni dihimpun dan dia membecok ke atas. Keadaannya saat itu sudah sedemikian tardesak, tarpeksa dia harus mengerahkan jurus kedua dari Tian san kiamhoat yang diajarkan oleh Kim Tijui.

Pedangnya menjulur ke atas, bagai seekor naga sakti yang mengibaskan ekornya. Sinar pedangnya berkilauan. Ketika beradu dengan mistar yang membentuk bayangan seperti jaring itu langsung terdengar suara seperti mata rantai yang dihantam ke dinding batu.

"Ting! Ting!" Angin yang timbul dari sapuan pedang Yok Sau Cun bergelombang- gelombang bagai topan dan cahaya terang pun menyilaukan mata.

Mistar di tangan kakek sebelah kiri yang tadinya memancarkan sinar kelabu lambat laut memudar Padahal dia menggengamnya dengan erat dan mengibaskan dari atas ke bawah. Ketika beradu dengan keras dan menimbulkan suara nyanng. mistar itu pun terlepas dari tangan. smar kelabu sirna seketika tubuh kakek itu pun meluncur ke bawah dengan posisi kaki di atas dan kepala di bagian bawah.

Kebetulan saat itu, mistar di tangan kakek kanan sedang menyapu bagian kaki Yok Sau Cun Dia metihat tubuh anak muda itu yang melesat ke udara, gerakan tangannya pun berubah, dia bermaksud menyerang ke bagian atas. Tetapj sinar matanya sempat melihat tubuh saudaranya yang sedang meluncur jatuh ke bawah. hatinya tarkejut sekali. Dengan gugup dia merubah lagi jurus yang sedang dikerahkannya. Pada saat genting dia terpaksa menggunakan kekerasan untuk menarik serangannya. "Loji, bagaimana keadaanmu?" tanyanya cemas.

Tubuh kakek kiri itu mengalami sedikit luka di sana sini, tetapi lukanya itu tldak terlalu parah Setelah terhempas di atas tanah. dengan susah payah dia berdiri lagi.

"Losi, hari ini untuk pertama kalinya lohu mendapat kekalahan dalarn ilmu pedang seseorang. .." katanya dengan suara pilu.

Setelah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun dan perlama kali mengalami kekalahan, tentu saja merupakan hal yang mengenaskan! Kalau jurus pertama yang diajarkan oleh Kim Ti jui, Yok Sau Cun sudah menggunakannya berapa kali untuk menghadapi lawan tangguh. Sedangkan Jurus kedua baru pertama kali ini dikerahkannya. Padahal dia belum dapat dikatakan matang sekali. Hanya asal-asalan menurut ajaran Kim Tijui.

Saat itu tubuhnya sedang melayang di tengah udara. Dia hanya tahu bahwa dirinya telah berhasil menangkis serangan mistar kakek kiri yang meluncur dari atas. Tetapi dia tidak tahu sampai di mana kekuatan yang terpancar dari pedangnya. Dan begitu kakek kiri terhempas jatuh ke atas tanah, dia juga melayang turun kembali.

Kakek kanan tidak membiarkan saudaranya berkata lebih lanjut. Melihat Yok Sau Cun matayan'g turun di sebelah kanannya dan jarak di antara mereka begitu dekat, mulutnya langsung mengeluarkan suara geraman. Mistar di tangannya dijulurkan dengan kecepatan kilat dia menghantam ke arah belakang punggung Yok Sau Cun.

Yok Sau Cun baru saja mencapai tanah, dia merasa serangkum angin dingin menerjang dah betakang punggungnya. Hatinya terasa marah, tubuhnya langsung berbalik dan pedang lemas pun ditusukkan dalam waktu yang bersamaan.

Serangannya kalj ini disertai hawa amarah yang meluap, maskipun yang dijatankannya adalah jurus pertama dari ilmu pedang ajaran Kim Ti jui, tetapi serangan itu mengandung kekuatan tenaga sebanyak sepuluh bagian.

Sebelumnya dia sudah menggunakan jurus pertama ini untuk melawan kedua orang kakek dari Kong Tong pai itu. Berarti dia menyambut dua mistar sekaligus. Sekarang yang dihadapmya hanya misiar si kakek kiri saja, sedangkan tenaga yang digunakannya sebanyak sepuluh bagian, tentu saja akibatnya lebih dahsyat lagi.

Terdengar suara.

"Trang!' yang memekakkan telinga. Mistar di tangan kakek kiri langsung terlepas dan terpental di udara Setitik sinar yang dingin bagai bintang jatuh dalam sekejap mata menempel di bagian tenggorokan kakek kiri tersebut.

Kakek kiri bahkan tidak sempat melrtiat jelas jurus apa yang digunakannya. Tahutahu dia merasa setitfk hawa dingin menempel di tenggorokannya Tentu saja dia tidak sempat menghindar lagi.

Namun Yok Sau Cun tidak menusukkan pedangnya. Gerakan tubuhnya berhenti, pedangnya pun ditank kembali. "Cayhe tidak ingin melukai orang Jiwi, silahkan!" Katanya dengan nada dingin.

Kakek sebelah kiri diam saja Kakek sebelah kanan merasa gusar bukan kepalang. Matanya mendelik lebarlebar kepada Yok Sau Cun. Dadanya terasa hampir rfteledak. Dia menggertakkan giginya eraterat.

"Baik, bocah busuk! Harap kau ingat baikbaik. Kong Tong sihao pasti akan memperhitungkan hutang piutang ini".

Sepasang mata Yok Sau Cun memancarkan sinar taJam.

"Harap Lao cang juga ingat baikbaik. Orang she Yok han im kalau tidak memandang usia kalian yang sudah tua sehingga sengaja tidak turun tangan berat Kalau tidak, kalian ingin meninggalkan tempat ini pun tidak sederrnkian mudah keadaannya!".

Kakek kiri segera mengambil kembali mistarnya yang terlempar di atas tanah.

"Lo si, ilmu kita memang tidak dapat disamakan dengan orang Buat apa kjta banyak bicara lagi," katanya dengan nada pilu. Tanpa menoleh lagi, dia langsung membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Kakek kanan terpaksa mengikuti di belakangnya. Sampai di depan dia menolehkan kepalanya.

"Pada suatu han nanti, kau akan tahu kehebatan Kong Tong sihaol" ancamnya.

Yok Sau Cun sedang mencemasken keadaan Tiong Hui Ciong. Dia enggan berdebat dengan kakek itu. Tangan kanannya menggenggam pedang lemas eraterat. Dia membalikkan tubuh dan melangkah masuk ke dalam goa.

Tiong Hui Ciong merasa benci sekali terhadap Li so. Tentu saja dia juga mengkhawatirkan keselamatan kakeknya, oleh ka. rena itu, ketika Yok Sau Cun mengatakan bahwa dia akan mengurus kedua kakek dah Kong Tong pai, dia langsung menghentakkan sepasang kakinya dan dengan kecepetan seperti seekor burung walet, dia melesat ke dalam goa.

Li so segera mencelat mundur. Mulutnya mengeluarkan suara tawa yang genit. "Ji siocla, untuk apa kau berbuat demikian?".

Ketika berbicara, tangannya mengibas. Tampak puluhan utas tali yang berwarna keemasan dan yang pasti merupakan sebuah perangkap meluncur seperti terbang dari atas kepala Tlong Hui Ciong.

Bagian dalam goa ini berbentuk lorong panjang. Keadaannya cukup luas. Pada setiap celah dinding terdapet sebuah lampu kaca. Oteh karena itu, meskipun adanya dj bagian dalam tetapi suasananya terang benderang.

Tiong Hui Ciong mempertajam penglihatannya. Dia melihat belasan tali seperti benang yang mana terdapat kaitan kecilkaitan kecil bersinar biru Dia langsung tahu bahwa di atas setiap kaitan itu telah dilumuri racun yang ganas. Pergelangan tangannya langsung terangkat ke atas, Han engkiam di ulur ke depan kemudian menebas ke arah tali-tali tersebut.

Li so tertawa genit.

"Ji siocia yang baik, Han engkiam dapat memotong besi maupun emas, tapi belum tentu dapat menebas putus kedua belas utas tali kapas ini!" Rupanya tali yang digunakan sebagai senjata itu dibuat dari bahan kapas dan bahan lainnya lagi.

Perempuan yang satu ini benar-benar ticik dan banyak akal busuknya. Meskipun sedang menghadapi musuh, mulutnya tetap bisa mengucapkan kata-kata manis dan selalu tertawa genit.

Tiong Hui Ciong mendengus dingin. Sinar pedangnya bagai rantai dan terus menebas ke arah tali yang sedang meluncur ke arahnya Mulut Li So mengatakan bahwa Han engkiam tidak dapal menebas putus tali senjatanya, namun bicara boleh demikian, tetapi sepasang tangannya tetap menghenlak ke atas dan merubah gerakannya sehingga tali itu seperti seekor meliuk ke arah pinggang Tiong Hui Ciong.

Dua belas utas tali yang digunakan Li so sebagai senJata mempunyai perbandingan panJang yang berbedabeda Tebal halusnya puntidaksama Tali yang panjang digunakan , untuk melilit lawan, yang pendek untuk mellndungi diri. Yang kasar untuk menyerang, sedangkan yang halus untuk mengibaskan senjata rahasia.

Dalam satu jurus saja, senjata talinya itu dapat membentang selebar beberapa cun. Bisa diluncurkan sekaligus dan dapat ditarik sekehendak hati. Kedua belas tali itu bisa dimanfaatkan sebagiannya saja. Umpanya tali yang panjang meluncur keluar, maka tali yang pendek bisa menyurut untuk melindungi dirinya Benar-benar merupakan senjata yang jarang dijumpai Sudah tentu sulit menemukan kelemahannya.

Tiong Hui Ciong berturut-turut menebas sebanyak delapen kali. Sinar pedangnya berkilauan. tetapi seutas tali pun tidak tertebas olehnya Malah terdengar suara.

"Crepp!" lengan bajunya sendiri terkoyak ujungnya karenatercantol oleh kaitan dari tali yang panjang Hati gadis itu terkejut bahkan akhirnya menjadi marah.

Dia menggunakan kesempatan ketika lawannya melancarkan jurus serangan di mana enam utas tali yang panjang kemudian ditank kembali. Sementara enam utas tali yang pendek belum sempat meluncur keluar, tiba-tiba dikerahkannya jurus Tian sinhoat dan Tian san pai Tubuhnya bagai segumpal asap hijau meluncur kemudian menerobos di antara talitali yang sedang bergerakgerak. Sinar pedangnya langsung dihunjamkan ke depan, mengancam dada Li so.

"Kalau masih tidak lepas tangan juga, aku akan membuat kau menjajal rasanya pedang menembus jantung!".

Tali panjang di tangan Li so kurang lebih ukurannya delapen cun. Begitu tubuh Tiong Hui Ciong melesat mendekati dirinya, dia ttdak punya peluang untuk melakukan gerakan macammacam lagi. Saat itu dia melihat Tiong Hui Ciong menghambur ke arahnya dengan pedang di tangan. Jarak antara pedang itu dengan dadanya tinggal tiga cun saja. Hatinya menjadi panik. Mulutnya mengeluarkan suara jeritan tarkejut. Dengan gugup dia mengibaskan tangannya dan melepaskan senjata talinya. Bagai seekor tikus yang dfkejar kucing, dia mencalat mundur dan menghambur keluar.

Setelah serangannya berhasil, Tiong Hui Ciong mana sudi melepeskan dicinya begitu saja. Tubuhnya seperti bayangan yang berkelebat dan secepat tarbang melesat mengejar. Pedang Han engkiamnya terus meluncur mengikuti gerakan tubuhnya.

Dengan demikian jarak mereka tetap terpaut tiga cun.

Tetapi justru ketika dia berhasil mengejar Li so, tiba-tiba matanya menangkap kilasan cahaya berwarna keperakperakan, disusul dengan terdengarnya suara Trangl yang nyanng, Lalu dalam waktu yang bersamaan dia merasa tangannya tergetar dan pedang Han engkiam pun terdesak ke belakang.

Sementara itu, Li so sudah mencelat mundur lagi satu langkah. Mulutnya tartawa cekikikkan. Dia berdiri di depan Tiong Hui Ciong dan tangannya sudah menggenggam sebatang kaitan yang besar dan tarbuat dari perak.

Han engkiam adalah hasil karya kakeknya yang dibuat dari bahan besi dingin yang dicampur dengan emas murni. Pedang itu dapat memotong besi maupun emas.

Namun terpyata tjdak sanggup menebas kutung kaitan perak miiik Li so yang memancarkan sinar berkilauan. Bahkan dalam satu gebrakan saja, perempuan itu sanggup membuat Han engkiam di tangannya tergetar ke belakang. Hal ini membuktikan tenaga dalam Li so ini tidak berada di bawahnya.

Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benak Tiong Hui Ciong. Dia membayangkan seseorang yang she Li juga Jangan Jangan dialah selir kedua yang paling disayangi Ci Leng Un dan selalu dipanggif selir Li. Tidak salah, dia mengubah panggilannya menjadi Li so. Tidak keliru lagi, perempuan ini pasti selir Li adanya. Senjata kaitan perak yang ada di tangannya pasti Go koukiam milik Ci Leng Un.

Begitu pikirannya targerak, matanya langsung menatap Li so lekat-lekat. "Kau adalah selir Li!" katanya dengan nada dingin.

Perempuan itu memang selir Li. Bibirnya tersenyum sehingga dua baris giginya yang putih berkilauan kentara jetas.

"Terserah bagaimana kau menyebutnya," sahut selir Li yang seakan 'mengakui siapa dirinya.

Tiong Hui Cioog menggertakkan giginya dengan erat.

"Yaya dengan Ci Sancu tidak ada dendam apa-apa. Kalian malah merencanakan hal" yang licik untuk mencelakai kakekku. Sebetulnya apa maksud kalian?".

Sinar mata selir Li berkifaukjiauan. Senyumnya tetap mengembang. "Ji siocia, kata-katamu tidak tepat. Kedaianganku di lembah ini memang benar-benar mengemban tugas dari Sancu untuk menjaga Lao sinsian.".

"Sudahlah. Yaya dengan Ci Sancu sudah bersahabat selama puluhan tahun, aku tidak ingin banyak bicara. Kau sudah boleh pergi sekarang," kata Tiong Hui Ciong selanjutnya.

"Pergi?" Selir Li seperti terkejut. "Mana boleh aku pergi begitu saja Kaiau aku meninggatkan tampat ini, coba kau pikirkan, bagaimana aku harus bertanggung jawab di hadapan Sancu?".

Tiong Hui Ciong menudingnya dengan Han engkiam.

"Kalau kau tidak mau pergi, jangan salahkan kalau aku Tiong Hui Ciong tidak memakai aturan lagi'.

Selir Li tersenyum simpul.

"Ji siocia ingin mengandalkan kepandaian untuk mengusirku? Bukankah tadi kita sudah ' menjajaki diri masingmasing ..? Rasanya kepandaian Ji siocia belum bisa berbuat apaapa terhadap diriku.".

Selembar wajah Tiong Hui Ciong menyiratkan perasaannya yang marah. Mulutnya mengeluarkan suara gerungan dan tubuhnya melesat. Pedang Han engkiam bergerak menimbulkan cahaya yang berkilauan. Gadis itu langsung menerjang ke arah setir Li.

"Tepat. Untuk mengetahui siapa yang kalah atau menang, sebaiknya kita bertarung dengan senjata masing-masing! sindirnya tajam.

Kaitan perak bergerak, Trangl Terdengar suara yang nyaring ketika beradu dengan pedang Han engkiam milik Tlong Hui Ciong. Bayangan kaitan berkelebat, selir Li sudah menerjang lagi ke depan. Tiong Hul Ciong tidak memberinya kesempatan sampai serangannyatiba. Han engkiam segeramenerbitkan sinar yang berpijarpijar Sekaligus dia menebas sebanyak dua kali. Gerakan yang pertama beradu dengan kaltan perak Li so. Sedangkan serangan yang kedua mengincar bagian perut lawannya. Telapak tangan kiri mengiringi pedang menghantam ke depan.

Kaitan perak di tangan selir Li segera bergerak dengan jurus Po Jau sincoa (Menguak rumput mencari ular). Tangan kirinya mendorong ke depan. Dengan keras dia menyambut pukulan talapak tangan Tiong Hui Ciong.

Terdengar suara Plakl Kedua telapak telah beradu. Dengan memanfaatkan tenaga yang terpancar dari telapak tangan ini, tubuh selir Li mencelat ke udara. Pakaiannya yang berwarna hijau melambai-lambai. Orangnya sendiri langsung berjungkir balik ke belakang dan lari ke ujung koridor panjang.

Tiong Hui Ciong tertawa dingin. Dia mengejar di belakang setir Li dengan ketat. Tubuhnya yang sedang meluncur ke depan belum lagi mendarat di tanah, tiba-tiba dia melihat kelebatan bayangan berwarna hijau yang melesat ke atas kemudian bayangan perak menghunjam ke arahnya. Tubuh Tiong Hui Ciong sedang melayang di udara. Pinggangnya meliuk dan Han engkiam pun segera diulurkan ke depan. Kedua orang itu mengadu kekerasan di tengah udara. SekeJap kemudian keduanya mendarat lagi di atas tanah Gerak tubuh dan pedang Tiong Hui Ciong bagaikan angin. Seperti seekor burung Hong yang mengembangkan sayapnya. Di manamana terlihat bayangan bunga pedang yang berpercikan. Serangannya gencar sekali.

Selir Li juga tidak mau katah sigap. Kaitan di tangannya mengulur, mengait, mengunci, menyapu dan terkadang ditarik kembali. Gerakannya juga tidak kalah cepet. Bagaikan seekor ular berbisa yang siap mencapiok mangsanya. Dia bergerak dari atas kemudian dari bawah Setitik pun kelemahannya tidak terlihat.

Keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru Siapa pun tidak berani memandang remeh lawannya. Yang satu mengerahkan limu Soat san pai yang hebat. Gerakannya bagai rajawali sakti. Siapa pun yang sempat menyaksJkan pertarungan itu pasti akan mendecak kagum Sedangkan yang satunya lagi mengerahkan ilmu pusake Kong Tong pai Kaitan perak di tangan selir li bagai naga sakti yang menannari dt langit biru. Bayangan yang terbentuk dan kaitannya seperti mata rantai yang panjang

?.

Dua macam senjata berutangkali beradu lalu merenggang kembaii Deruan angin yang timbui dari kedua senjata itu memenuhi sepanjang koridor. Tempat itu jadi seolah diselimuti cahaya terang dan suarasuara yang memekakkan telinga.

Tepat pada saat itu, di Ujung koridor tarlihat beyangan seseorang yang mendatangi. Pakaiannya yang berwarna hijau melambailambai. Cara jalannya cepat sekali, seakan tidak menempel di tanah dan melayang di atasnya. Dalam waktu yang singkat dia sudah menerobos di tengah-tengah cahaya pedang Han engkiam dan kaitan perak.

Coba bayangkan saja, kedua orang jni sedang bertarung dengan sengit, sinar pedang bagai kilat, cahaya kaitan berkilauan, orang ini justru menerobos di antara kedua senjata yang sedang saling meluncur itu. Sampai di mana tingginya ilmu sNat orang ini, benarbanar sulit ditanma oleh akal sehat.

Selir Li dan Tiong Hui Ciong sedang bargebrak dengan seru Meskipun ada orang yang mendekat ke arah mereka, keduanya sama-sama ttdak berani mengalihkan perhatiannya Dalam waktu yang barsamaan terdengar suara yang baning dan lantang. "Ciong cici, biar siaute saja yang menghadapinya!".

Serangan yang dilakukan Tiong Hui Ciong gencar sekali Meskipun dia menguasai barbagai ilmu yang aneh, tetapi diasadar tidak mudah mengalahkan perempuan genit ini. Hatinya sedang kalut memikirkan jalan keluarnya, tiba-tiba terdengar suara Yok Sau Cun, perasaannya menjadi tega seketika. Tentu saja dia merasa sangat gembira.

Kalau Tiong Hui Ciong merasa gembira, selir Li Justru terkejut setengah mati, Tap' perlu diketahui behwa perempuan Ini bukan saja mendapet didikan langsung dari Ci Sancu dalam hal ilmu silat Bahkan kelicikan ketua Kong Tong pai itu juga dikuasainya. Mendengar suara Yok Sau Cun, dia tidak memberi kesempatan kepeda Tiong Hui Ciong untuk menyahut. Perempuan itu langsung mengeluarkan suara tawa cekikik.

"Bocah tampan, kedatanganmu sungguh tepat!" Tiba-tiba dia melepasken diri dari Tiong Hui Ciong. Tubuhnya mencelat ke udara dan dengan gerakan yang indah di barjungkir balik lalu kaitan peraknya menebas ke arah Yok Sau Cun.

Kejadian ini apebila diceritakan memang terasa panjang, padahal semuanya terjadi dalam waktu yang singkat. Kaitan perak memancarkan sinar yang menyilaukan mata. Segurat cahaya bagai pelangi memijar. Serangannya ini bukan saja cepat tetapi juga mengandung tenaga dalam sebanyak sepuluh bagian. Begitu bayangan kaitan berkelebat, tahu-tahu sudah di depan tubuh Yok Sau Cun.

Tiong Hui Ciong melihat selir Li meninggalkan dirinya untuk membokong Yok Sau Cun. Hatinya terkejut sekali.

"Perempuan siluman...!' Han engkiam digerakkan. Pedangnya langsung ditusukkan ke arah punggung selir Li yang sedang menerjang datang.

Belum sempat Tiong Hui Ciong menghambur ke arah perempuan itu, tahutahu kaitan perak di tangan selir Li yang sedang meluncur ke arah Yok Sau Cun gagal mencapai sasarannya Terangterangan serangannya mengancam dada Yok Sau Cun. Tiba-tiba dia merasa pergelangan tangannya mengetat, bayangan manusia melintas di depan mata dan tangannya sudah tercekal eraterat oteh orang itu Dia sama sekali tidak sanggup berontak lagi.

Hati selir Li terkesiap sekali. Dia yakin serangannya sudah mengincar arah yang tepat, bagaimana tiba-tiba Yo Sau Cun bisa menghindan serangannya itu? Tentu saja dia tidak tahu kalau Yok Sau Cun menggunakan Pit kiam sinhoat yang khusus diciptakan untuk mengelakkan diri dari serangan lawan.

Tubuh Tiong Hui Ciong yang sedang menerjang ke arahnya, segera melihat bahwa selir Li sudah diringkus oleh adik Cun. Pedang Han engkiam di tangannya langsung terulur ke depan. Dia menotok tiga urat nadi yang ada di belakang punggung perempuan itu. Kemudian dia mengambil kaitan peraknya dan menyodorkannya kepada Yok Sau Cun.

"Adik Cun, senjata ini kepunyaan Ci Leng Un Untuk sementara biar kau saja yang menyimpannya!".

Yok Sau Cun menerima kaitan itu dan menyelipkannya di ikat pinggang Tiong Hui Ciong merapikan rambutnya yang acak-acakan.

"Bagaimana keadaan Kong Tong Jihao?" tanyanya kemudian. "Mereka sudah pergi," sahut Yok Sau Cun.

Tiong Hui Ciong menatap dengan pandangan penuh kasih. "Apakah kau berhasil mengafahkan mereka?". Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya sambil tarsenyum. "Kemenangan tipis," sahutnya tersipu-sipu.

"Kalian juga harus melepaskan aku!" tukas selir Li yang dalam keadaan tertotok. Mimik wajah Tiong Hui Ciong berubah menjadi dingin.

'Kau tidak boleh ke manamana! Sekarang ikut kami ke dalam!" dia langsung menarik tangan selir Li dan menyeretnya untuk berjalan di depan.

Yok Sau Cun mengikuti dari belakang. UJung koridor panjang merupakan sebuah ruangan batu yang sangat luas. Hampir tidak ada bedanya dengan sebuah ruang tamu datam gedung yang besar Di tengahtengah ruangan terletak sebuah meja bundar yang terbuat dan bahan batu gunung yang berwarna kahijauan Juga terdapat beberapa buah kursi batu berbantuk kepata singa Ukirannya 1 sangat halus dan indah.

Di sekeliling ruang batu itu ada lima pintu penghubung. Semuanya terbuat dan batu gunung yang berwarna kehijauan. Saat itu semua pintu tertutup rapat. Jari tangan Tiong Hui Ciong bergerak. Lagilagi dia menotok tiga urat nadi selir Li. Pedangnya ditudingkan ke tenggorokan perempuan itu.

"Kalau keadaan Yaya baikbaiksaja, tentu aku akan membiarkan kau pergi dari sini.

Tetapi kalau terjadi hal yang tidak diinginkan atas diri kakekku, maka aku akan menggunakan dirimu sebagai pensai dan akan kubunuh habis seluruh Kong Tong pai, anjing dan ayam pun tidak ada yang ketinggaian!" ancamnya dengan suara dingin.

Selir Li didorongnya sampai terjatuh di atas tanah. Tanpa meliriknya sekalipun, Tiong Hui Ciong langsung becjalan menuju pintu yang terdapat di tengahtengah ruangan la mendorong pintu tersebut dan melangkah ke dalam.

Yok Sau Cun juga ikut melangkah ke dalam. Ruangan yang satu ini berbentuk segi empat. Dindingnya dilapisi batu-batu kerikil berwarna putih yang ditempelkan dengan

. rapi. Di bagian sudut tardapat sebuah lampu minyak. Tiong Hui Ciong segera menyalakannya. Tampak cahaya yang berkilauan dan seiuruh ruangan itu memantufkan bayangan bagai cermin.

Di bagian utara ruangan terdapat sebuah tempat tjdur besar yang terbuat dari batu kumala kuning Di atasnya duduk bersila seorang lakilaki tua yang rambutnya panjang terurai sampai ke bahu. Jenggotnya yang sudah berubah warna semua menjuntai di depan dada. 

Sepesang matanya terpejam rapat Dua untai alis yang panjangnya menutupi sudut mata juga sudah berwarna putih PanJang alis itu mungkin ada satu cun lebih. Tidak perlu diragukan lagi, orang tua ini pasti Si Leng Sou yang mendapat julukan manusia dewa.

Begitu melihat kakeknya, Tiong Hui Ciong langsung menghambur menghampiri. Dia berdiri sejenak di samping tempat tidur kemudian membungkukkan tubuhnya dan memanggil dengan suara rendah.

"Yaya, aku sudah pulang ' Si Leng Sou tampaknya sudah mendengar suara Tiong Hui Ciong. Matanya yang sedang terpejam membuka dengan pertahanlahan. Yok Sau Cun yang mengikuti Tiong Hui Ciong masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba merasakan bahwa mimik Lao sinsian sangat kuyu dan tampak lelah sekali. Ketika matanya membuka, Yok Sau Cun maiah melihat sinar yang menyorot dan sepesang matanya seperti orang yang termangumangu. Entah apakah Ciong cici juga memperhatikan hal ini?.

Hati Yok Sau Cun tercekat. Dia tldak habis pikir, mengapa sepasang mata Lao sinsian separti orang yang sedang termangu-mangu? Saat itu Tiong Hui Ciong sedang menundukkan wajahnya. Jaraknya dengan Lao sin-sian dekat sekali. Tentu dia tidak dapat melihat sinar mata kakeknya itu Pandangan Yok Sau Cun yang berdiri di belakangnya lebih jelas. Ketika kakeknya membuka mata dengan parlahan-lahan, dia menganggap kakeknya itu baru bangun dari semedinya. Itulah sebabnya dia tidak berani bersuara keraskeras karena takut akan membuat kakeknya terkejut.

"Yaya, baikkah keadaan kau orang tua?" tanyanya dengan suara lembut.

Lao sin-sian sedang menatap ke arah Tiong Hui Ciong. Tiba-tiba mulutnya b®rgerakgerak. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ada yang keluar suara sedikit pun. Yok Sau Curi merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia segera berseru kepada Tiong Hui Ciong.

"Ciong cici, keadaan Lao sinsian tampaknya kurang wajarl".

Tiong Hui Ciong tertegun. Dia menolehkan kepalanya dan memandang dengan mata terbelalak.

"Apanya yang kurang wajar?".

"Lao sin-sian melihatmu, dia seperti ingin mengatakan apa-apa, tapi tidak keluar suara sedikit pun.

"Benarkah?" Hati Tiong Hui Ciong bagai diganduli batu yang berat, dengan gugup dia membalikkan tubuhnya kembali dan menatap kakeknya lekat-lekat. Dengan panik dia memanggil. "Yaya. Yaya, bagaimana keadaanmu? Yaya. ".

Kali ini dia juga sudah melihat dengan Jelas. Mata kakeknya memang terbuka lebar tetapi seperti orang yang termangumangu. Orang tua itu sedang memandang kepadanya, mulutnya bergerak-gerak, ternyata memang seperti ingin mengucapkan sesuatu, tatapi tetap tidak ada sedikit pun suara yang keluar. Wajahnya yang pucat dan layu menyiratkan perasaan khawalir dan gusar.

Hati Tiong Hui Ciong semakin penik, Dia memoluk kakeknya erat-erat. Hampir saja dia menangis terisak-isak. Namun pada dasarnya dia seorang gadis berhati keras Dia hanya rnemanggil terus ...

"Yaya, bagaimana kau bisa.,.?" Tiba-tiba dia melepaskan tangannya dari pelukan dan dengan cepat dia membalikkan tubuhnya, dari wajahnya tersirat hawa pembunuhan yang dalam. Dia mengepalkan tinjunya erat-erat. "Perempuan siluman, aku akan membunuhmu! Kau akan kusiksa perlahan-lahan!" teriaknya marah.

Tiba-tiba pintu batu didorong orang dari luar, kemudian lerdengar sebuah suara yang merdu dan bening....

"Rupanya kau ingin membunuh orang untuk membungkam mulutnya!" Suaranya merdu namun nadanya ketus.

Orang ini mengenakan pakaian berwarna merah. Kepalanya juga diikat dengan sebuah pita dengan warna yang sama. Kakinya memakai sepatu kain yang bersulamkan sekuntum bunga bwe yang indah Wamanya lagi-lagi merah. Tangannya menggenggam sebatang pedang yang menimbulkan cahaya dingin namun berkilauan.

Alisnya tebal dan bentuknya bagus. Matanya besar dan saat itu sadang mendelik. Tampangnya ayu namun sekerang terlihat garang sekali. Kafau dililik dari wajah dan bentukbadannya, usianya paling bantertujuh belas tahunan. Seorang gadis yang baru memasuki tahap remaJa.

Melihat kedatangan gadis itu, wajah Tiong Hui Ciong langsung berseri-seri. "Sam moay, kedalanganmu sungguh kebetulan!" sapanya.

Yok Sau Cun pernah mendengar dari Tiong Hui Ciong bahwa mereka tiga kakak beradik mendapat lulukan Soat san sameng Toacinya yang menikah dengan Cu Tian Cun bernama Beng Hui Ing alias si suiung Hui Ing Tiong Hui Ciong berkedudukan sebagai Jici. Tiong artinya tengah. Dan sam moay itu bernama Kit Hui Yan alau si bungsu Hui Yan. Sekarang tibaliba ada seorang gadis yang berpakaian merah yang masuk ke dalam ruangan tersebut, dan Tiong Hui Ciong menyapanya dengan sebutan Sam moay alau adik ketiga, tidak perlu diragukan lagi, dia pasti si bungsu Hui Yan.

Terdengar suara dengusan djngin dari mulut si bungsu Hui Yan.

"Tentu saja kedatanganku ini sangat kebetulan. Kalau tidak, bukankah rencana busukmu sudah berhasil dilaksanakan?".

Tiong Hui Ciong jadi tartegun mendengar kata-katanya. "Sam moay, apa yang kau maksudkan?" tanyanya bingung. Si bungsu Hui Yan tertawa dingin.

"Apayang aku maksudkan, hatimu sendiri pasti sudah dapat menduganya. " Kata-

katanya tarhenti sampai di situ, malanya beralih, dia melihat Lao sinsian duduk bersemedi di atas tempat tidur batu yang tarbuat dari batu kumala kuning itu. Dari matanya perlahan-lahan tersocot sinar yang keji dan ganas. Sambil menggertakkan giginya dia berkata. "Untung aku keburu datang, kau. rupanya kau sudah dihinggapi

penyakit lupa diri sehingga Yaya sendiri akan kau celakai juga. !". Tiba-tiba secarik cahaya dingin yang berkilauan melintas, dia menusukkan pedangnya ke dada Tiong Hui Ciong. Jangan lihat usianya masih kecil, rupanya gerakan gadis ini cukup gesit dan lincah. Tentu saja Tiong Hui Ciong tidak menyangka akan diserang oleh adiknya sendirl. Untung saja usianya lebih besar dan ilmu yang dimilikinya lebih tinggi. Dengan gerakan yang jauh lebih cepat dia menghindarkan diri ke samping dan luputJah serangan si bungsu Hui Yan.

"Sam Moay, apa yang kau lakukan?" tanya Tiong Hui Ciong dengan suara gugup. Sepasang mata Hui Yan memancarkan api yang berkobar-kobar.

"Jangan panggil aku sam moay, aku bukan adikmu lagi! Jangan,kau kira karena ilmumu lebih tinggi, maka aku akan takut kepadamu. Biar mati sekalipun, aku tetap akan membunuhmu terlebih dahulu!" Sambil menggerung keras, cahaya pedang memijar, pargelangan tangannya yang kecU dan indah. Han engkiam tarus dilancarkan dengan bertubi-tubi.

Tiong Hui Ciong tecus mengelit. Tubuhnya berkelebat ke sana sini Mereka tiga bersaudara memang dibesarkan bersama-sama. llmu pedang maupun gerakan tubuh tentu saja jauh lebih matang Namun pada dasarnya ilmu yang mereka miliki sama. Jadi keniana pun Tiong Hui Ciong menghindar, Hui Yan sudah dapat memperhitungkannya. Dia terus mengejar dengan ketat.

Tiong Hui Ciong tidak mengeluarkan Han engkiam. Dengan tangan kosong dia terus menghindari serangan Hui Yan. Beberapa kali dia hampir tertusuk pedang Han engkiam adiknya itu. Sambil mengelit kesana kemari, dia terus berteriak...

"Sam moay, apakah kau sudah gila?" "Aku gila?" Serangan Hui Yan semakin gencar. Dengan suara dingin dia menyahut. "Kau yang tidak tahu malu. Memihak kepada orang luar, malah mengajaknya pulang ka Tiong Cun kok untuk merampas kitab pusaka serta obatobatan jangka miiik Yaya. Kaulah yang sudah tidak waras".

Di bawah serangan adik bungsunya yang gencar, Tiong Hui Ciong terpaksa mengeluarkan Han engkiam. Dia memainkan jurus Fei hun jutsan (Awan terbang muncul dari gunung) dan terdengarlah suara.

"Trangl" yang nyanng. Pedangnya berhasil menekan pedang Hui Yan. Bahkan adiknya itu mulai terdesak mundur.

"Dari siapa kau mendengar fitnah semacam itu?" bentaknya gusar.

"Kalau takut orang tahu, jangan berbuat." Sekali hentak, Hui Yan berhasil menarik pedangnya kembali "Perduli apa darl mana aku mendengar kebusukanmu! Mendengar ucapan orang memang masih bimbang, tetapi melihat dengan mata kepala sendiri barulah kenyataan. Aku lihat sendiri kau berjongkok di depan Yaya. Tentu kau sudah mencekokinya semacam obat bius yang membuat pikirannya kacau. Cepat keluarkan obat pemunahnya!" bentak gadis itu sambit tertawa dingin. Mendengar kata-katanya, hati Tiong Hui Ciong jengkel juga marah.

"Baik! Kau tunggu sebentarl Aku akan menyeret selir U kemari, nanti kau dengar sendiri dari mulutnya!".

Pedang si bungsu Hui Yan direntangkan. Dia menghadang di depan pintu. "Tidak perlu bertanya kepadanya! Kau kira aku tidaktahu kalau kau ingin

membunuhnya agar ia bungkam. Untung aku kaburu datang, Aku kaiakan kepadamu, aku sudah membebaskan dirinya darl totokanmu. Dia sudah menceritakan seluruh rencana licikmu yang ingin menguasai Soat san pai Sekarang aku sudah menyuruhnya cepatcepet pergi dari sini." sahutnya dengan bibir mengejek,.

Tiong Hui Ciong sampai menghentakkan kakinya karena kasal. Tepat pada saat itulah, terdengar suara.

"Blaml" yang karas. pintu batu terbuka lebar. Sesosok bayangan kuning bagai terbang melayang masuk. Dia adalah seorang laki-laki tua berpakaian kuning dan bongkok.