-->

MKLP Jilid 32. Misteri Kapal Layar Pancawarna (Tamat)

Jilid 32. Misteri Kapal Layar Pancawarna (Tamat)

Tapi arah yang dituju oleh tapak kaki itu justru menjurus ke sebelah kanan.

Kalau sekarang Po-giok harus mampir ke pondok bintang kecil, lalu bertolak balik menuju ke jalan sebelah kanan, sukarnya mungkin seperti memanjat ke langit, apalagi Ciang-Jio-bin sudah mati di tangannya, siapa tahu kalau di balik surat peninggalan ini ada rencana jahat, perangkap yang akan membahayakan jiwanya? Siapa berani menjamin bahwa di Pondok Bintang Kecil tiada perangkap?

Kondisi badannya sudah payah, umpama ia masih mampu berjalan setelah mampir ke Pondok Bintang Kecil, sisa tenaga yang masih ada jelas tambah lemah lagi, lalu dapatkah dirinya menghadapi ujian dua jurus serangan yang mematikan itu?

Po-giok bimbang, tidak tahu ke arah mana dirinya harus meneruskan perjalanan, ke kiri dulu atau langsung ke arah kanan?

Kalau ke arah kiri dulu, apakah dirinya mampu bertolak balik ke arah kanan, hal ini masih merupakan teka-teki, mungkin sekali tiada kesempatan lagi. Tapi kalau langsung ke arah kanan, kesempatan mempertahankan hidup juga sudah mendesak di depan mata, itu berarti tugas untuk menyerahkan surat peninggalan Ciang-Jio-bin kepada penghuni pondok bintang kecil terpaksa harus diabaikan, mengingkari janjinya terhadap Ciang-Jio bin.

Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, gumamnya, "Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, Ciang- Jio-bin berani mati karena percaya kamu akan menunaikan pesannya, lalu kenapa kau takut mati dan tidak berani mempertaruhkan jiwa ragamu untuk menepati janjimu?

Sambil mengertak gigi akhirnya Po-giok melangkah ke arah Pondok Bintang Kecil. Tempat macam apakah sebetulnya Pondok Bintang Kecil.

Kalau Pondok Bintang Kecil berada dalam Pek-cui-kiong, apakah pondok ini juga termasuk di bawah kekuasaan Pek-cui-kiong? Demikian pula penghuni atau pemilik Pondok kecil ini juga Pek-cui-kiong?

Malas Po-giok memikirkan hal ini, karena ia tahu umpama dipikir juga percuma, tidak akan memperoleh jawaban.

Namun ia sudah menyadari dan mendapatkan bahwa jalan di dalam gua raksasa ini, semuanya serba megah, warna-warni dan semarak, gua ini berarti sengaja diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk tempat para dewa dan dewi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil, ternyata tidak jauh berbeda dengan jalanan umum yang dapat ditemukan di mana-mana, jalan yang gelap lagi lapang dan biasa. Po-giok merasakan begitu berjalan di jalan yang menjurus ke arah Pondok Bintang Kecil seolah- olah dirinya kembali lagi ke jalan yang menuju surga.

Walau Pondok Bintang Kecil berada dalam gua misterius di Pek cui-kiong, tapi seolah olah berada di suatu dunia yang tersendiri, dalam suasana yang berbeda, di suatu tempat yang lepas dari ruang lingkup kemisteriusan Pek-cui-kiong.

Mungkin maju ke depan, makin dekat dengan Pondok Bintang Kecil itu, lebih nyata lagi Po-giok merasakan bahwa dugaannya benar.

Sekarang Po-giok sudah melihat jelas, Pondok Bintang Kecil di depannya ini adalah sebuah rumah gubuk yang tidak banyak bedanya dengan rumah petak yang terdapat di kampung halamannya, kampung di mana dirinya dibesarkan. Keadaan gubuk mungil yang satu ini jelas jauh berbeda, berbeda secara menyolok dengan segala kemegahan, keajaiban gua yang semarak dan serba misteri ini.

Pondok kecil mungil itu didirikan di tempat tinggi, ada tangga batu yang menjurus naik ke atas tepat ke arah pintu.

Pintu gubuk mungil itu tertutup rapat, ada cahaya lampu dari dalam yang menyorot keluar dari celah-celah pintu.

Selangkah demi selangkah Po-giok beranjak ke atas, setiap kali melangkah ke atas selalu bertambah satu tanda tanya dalam hatinya.

Kalau Pondok Bintang Kecil ini lepas dari kekuasaan Pek-cui-kiong, lalu siapa pemilik dan penghuninya? Mungkinkah Pek-cui-kiong memberi izin untuk orang luar bertempat tinggal di sini?

Setelah menenangkan hati, akhirnya Po-giok tarik suara, "Adakah penghuni Pondok Bintang Kecil di rumah?"

Tiada suara sahutan, tapi di dalam pondok terdengar suara ramai mirip ombak yang mendampar bertubi-tubi.

Po-giok maju belasan langkah lebih dekat, kembali ia berteriak, "Aku mendapat titipan untuk menyampaikan surat dan harus diserahkan langsung kepada penghuni Pondok Bintang Kecil."

Mendadak ada suara orang dari dalam Pondok mungil itu.

Setelah menghela napas rawan, seorang berkata dengan suara pedih, "Penghuni Pondok Bintang Kecil ini sudah mati."

Jelas itu suara perempuan.

Suara merdu enak didengar namun nadanya mengandung rasa sedih dan dingin. Nada yang dingin tapi suaranya merdu, keruan Po-giok melengong.

"Sudah mati?" teriaknya kaget.

Suara merdu itu tidak menjawab. Po-giok memang tidak mengharap jawabannya, perlahan ia menarik napas panjang, ia menunggu gejolak perasaannya tentram, rasa kecewanya pun lenyap.

Agaknya kedatangannya menjadi sia-sia, padahal betapa berat tadi ia mengambil keputusan, kenyataan pengorbanannya tak berguna sama sekali.

perlahan ia membalik dan menuruti anak tangga, karena surat titipan itu harus langsung diserahkan kepada penghuni Pondok Bintang Kecil, kini penghuni pondok itu sudah mati, terpaksa ia harus meninggalkan tempat ini dengan perasaan kecewa.

Tapi setelah turun beberapa langkah, Po-giok menolak serta bertanya, "Lalu ... nona, engkau

...siapa?"

Kalem suara itu menjawab, "Aku adalah penghuni pondok mungil ini." Hampir saja Po-giok berjingkrak, teriaknya kurang tenang "Kenapa engkau menggodaku?" "Menggodamu?" jengeknya itu dingin, "orang yang sudah mati mana bisa menggoda orang?" Kaget lagi gusar Po-giok, "kau ... kau ..."

"Aku sudah mati!" tawar suara itu, "Kini aku hanya sukma ..." Tanpa pikir Po-giok menerjang ke sana.

Gubuk itu memang kecil saja, dibangun dengan dinding batu hijau, meja dan kursi juga dari batu hijau, keadaan serba sederhana, tiada sesuatu yang istimewa, tapi dalam rumah justru dipenuhi hawa dingin yang menyeramkan orang.

Gubuk mungil ini ternyata diliputi hawa kematian yang mencekam perasaan.

Begitu berada dalam rumah ini, tanpa terlihat Po-giok bergidik, kaki pun berhenti dengan segera.

Tampak di depan ada sebuah jendela kecil yang terbuka, hembusan angin lembab berbau amis dan asin meniup masuk dari luar jendela, demikian pula gemuruh damparan ombak terdengar di bawah sana.

Melongok keluar dari jendela kecil orang akan melihat langit nan biru, bergumpal-gumpal mega putih terapung di angkasa, halimun juga terhembus angin masuk ke dalam rumah, seorang gadis tengah berdiri terlongong mengawasi mega.

Gadis ini berdiri membelakangi pintu, berpakaian sari warna hitam, rambutnya yang hitam gelap melambai dihembus angin, demikian pula kain sari yang membungkus tubuhnya juga menari-nari dimainkan angin.

Tapi gadis ini berdiri tegak seperti patung, seolah-olah sejak jaman dulu ia sudah berdiri di situ, hawa kematian yang serba misteri dalam rumah ini justru teruar dari badannya.

Mengawasi bayangan gadis baju hitam, Po-giok juga berdiri diam tanpa bergerak. Memang, kalau benar ada sukma gentayangan di dunia ini, maka gadis bersari hitam yang berdiri di depannya inilah adanya.

Secara gaib gadis ini seperti terbungkus oleh suasana serba hitam gelap, hanya pelipisnya saja yang sewaktu-waktu kelihatan putih bila rambutnya yang panjang tersingkap karena hembusan angin, kulit tubuhnya yang putih halus, begitu indah laksana batu jade.

Walau Po-giok susah melihat wajahnya, tapi secara langsung ia merasakan adanya daya menarik dan misteri secara kuat menyedot keinginannya untuk mendekatinya.

Tanpa bergerak dan tidak menoleh gadis itu berkata pula tawar, Pondok Bintang Kecil adalah tempat kediaman sukma gentayangan, kenapa kau datang kemari?"

"Kedatanganku untuk menyampaikan sepucuk surat," sahut Po-giok. "Surat? Untuk siapa?" tanya gadis baju hitam.

"Engkau ...penghuni Pondok Bintang Kecil ini."

Dingin suara gadis baju hitam, "Mana ada manusia di dunia ini yang mau kirim surat kepada arwah?"

"Tapi ...orang itu tidak tahu ..." "Siapa yang kau maksud?" "Ciang-Jio-bin"

Mendadak gadis baju hitam menunduk diam, sayang Po-giok tidak bisa melihat perubahan air mukanya, sukar diketahui apakah roman mukanya berubah.

Sesaat kemudian, Po-giok bertanya pula "kau kenal Ciang-Jio-bin?" "Sudah tentu kenal," kalem dan perlahan suara gadis baju hitam, "hanya saja ...dia sudah mati."

"Jadi kau tahu kalau dia sudah mati?" tanya Po-giok dengan terbeliak. "Kenapa aku tidak tahu?" gadis itu balas bertanya.

"kau ... dari mana kau tahu?"

"Kalau dia belum mati, bukankah dia sendiri yang akan datang." "Lho, kenapa dia harus datang?"

"Dia ada janji denganku, sudah tentu pasti datang."

"Tapi ...mungkin lantaran ada persoalan lain sehingga dia tertunda datang, lalu bagaimana kau berani memastikan dia sudah mati."

"Kecuali sudah mati, menghadapi persoalan apa pun dia pasti datang, karena ... orang yang punya janji dengan dia adalah aku, bukan orang lain."

Sampai di sini mendadak ia membalik badan. Wajah nan pucat penuh misteri, wajah yang cantik jelita kini berhadapan dengan Po-giok.

Bola matanya dengan kerlingannya yang tajam, cukup membuat setiap laki-laki normal berdegup jantungnya bila diliriknya, kini mata jeli dan bening itu tengah mengawasi Po-giok.

Sepatah demi sepatah ia berkata, "Kalau kamu ada janji dengan aku, kecuali mati, persoalan apa yang dapat merintangi kedatanganmu?...Adakah persoalan lain?"

Po-giok mengawasi kerlingan matanya yang bening dan tenang, di bawah tatapan mata yang indah ini, seolah-olah tiada mata gadis di dunia ini yang dapat membandinginya.

Bukan hanya cantik, tapi kerlingan matanya juga mengandung kecerdikan yang luar biasa, ketabahan dan keuletan yang tiada bandingan.

Sepasang bola mata ini seakan-akan serba tahu, mencakup segala persoalan yang ada di dunia ini tentang kehidupan manusia, lahir, dewasa, tua dan sakit lalu mati, tentang suka duka, puas, sedih dan gembira, di bawah tatapan matanya, semua itu akan berubah menjadi sepele dan pandir.

Di sinilah letak yang tak mungkin disamai oleh gadis lain. Siau-kong-cu sendiri yang menjadi pujaannya juga bukan apa-apa, kalau Siau-kong-cu dijajarkan dengan gadis lain, nona binal itu ibarat bocah cilik yang jenaka dan masih bodoh dan sebelum mengenyam pahit getirnya kehidupan.

Akhirnya Po-giok menghela napas panjang, katanya dengan menunduk, "Betul, Ciang-Jio-bin memang sudah mati."

"Dia sudah mati, maka aku pun sudah mati," kalem dan tawar suara gadis baju hitam. Suaranya tawar lagi datar, namun mengandung kepedihan dan duka cita yang tak terperikan.

Mendadak Po-giok angkat kepalanya, sekarang baru ia dapat melihat jelas kepedihan orang, mendadak terasakan pula oleh Po-giok, kecerdikan dan keceriaannya ternyata tergembleng dari kepedihan dan duka citanya itu.

Ciang-Jio-bin dianggap "bu-ceng", tidak kenal kasihan, agaknya gadis ini lebih "bu-ceng" lagi, memangnya siapa yang tahu betapa mendalam perasaan mereka, begitu mendalamnya sehingga tak mungkin dijajaki lagi.

Kerlingan tajam gadis baju hitam tetap menatap Po-giok, lambat laun timbul perasaan heran dalam benak Po-giok. Padahal baru pertama kali ini ia melihat dan berhadapan dengan gadis asing ini tapi lama kelamaan dia merasakan dirinya seperti sudah kenal dan dekat dengannya.

Padahal gadis ini bak suatu benda suci yang berada di tempat paling atas, di tempat yang tidak mungkin diraih oleh tangan manusia, namun Po-giok merasakan gadis ini berada di sampingnya, begitu dekat seolah-olah dapat memeluknya, menghibur dan membujuknya supaya tidak sedih.

Tapi Po-giok hanya meraba-raba sampul surat dalam bajunya, sampul surat itu sudah basah dan menjadi kering, basah lagi dan kering, hingga menjadi kumal.

Po-giok berkata, "Apa pun yang terjadi, adalah pantas kalau aku menyerahkan surat ini kepadamu"

"Milikku atau milikmu, apa pula perbedaannya sekarang?" "Apa ...apa engkau tidak ingin membaca surat ini?"

"Kubaca boleh, tidak kubaca juga tidak menjadi soal, apa bedanya!" "Tapi ...surat ini sudah kubawa kemari kau "

"kalau begitu, tolong bacakan, cukup aku mendengar saja." "Hei, mana boleh begitu?"

"Kenapa tidak boleh?"

"Ini kan menyangkut rahasia pribadi kalian."

"Rahasia pribadi apa, orang yang sudah mati masih ada rahasia pribadi apa."

Sesaat lamanya Po-giok terlongong, setelah menghela napas ia rogoh keluar sampul surat serta membukanya. Diam-diam ia kuatir keringatnya membuat surat yang basah kering ini menjadi buram tulisannya dan tidak terbaca lagi, ia ingin mempertahankan dan menyimpan sampul surat ini dengan baik.

Karena sampul surat ini melambangkan sehidup semati, cinta murni yang abadi.

Tak pernah terpikir dan terbayangkan oleh Po-giok, bahwa sampul surat itu hanya berisi selembar surat putih kosong tanpa satu huruf pun di atasnya.

Secara prihatin dan penuh keiklasan Ciang-Jio-bin menyerahkan sampul surat itu kepadanya, surat ini ternyata hanya kertas kosong belaka.

Memegangi kertas surat putih kosong itu. Po-giok berdiri melongo.

Sikap gadis baju hitam tetap dingin kaku tanpa berubah, badan kasarnya memang belum mati, namun sanubarinya sudah lama mati, maka hanya berkata tawar, "Bagus sekali, akhirnya aku melihat suratnya itu."

"Tapi ...tapi surat ini " Po -giok bingung.

"Makna surat ini kan cukup gamblang, aku juga sudah mengerti, sudah jelas seluruhnya." Terbelalak mata Po-giok, "Engkau , mengerti surat ini tidak tertulis satu huruf pun." "Tanpa membaca isi surat itu, aku sudah maklum dan mengerti maksudnya."

"Apa maksudnya?" tanya Po-giok.

"Dia menyuruhmu menyerahkan surat ini padaku, tujuannya supaya aku dapat melihatmu."

Tawar dan datar gadis ini bicara, tapi kaget Po-giok seperti disengat kalajengking, surat di tangannya hampir tak kuat dipegangnya lagi, "Melihatku?" pekiknya heran, "Kenapa harus melihatku?"

"Dalam hal ini, sudah tentu ada sebab musababnya." "Sebab apa, coba jelaskan?" "Apa sebabnya, kelak akan kau tahu sendiri."

"Kenapa tidak kau jelaskan sekarang?" desak Po-giok dengan lantang, "seperti juga dua orang yang terdahulu tadi, seolah-olah kau pun menyembunyikan sesuatu rahasia terhadapku.

Persoalan apa yang kalian rahasiakan terhadapku?"

Gadis bersari hitam itu tidak menghiraukan pertanyaannya, tidak memedulikan kehadirannya lagi perlahan ia menggerakan kaki, bergerak lembut seperti sukma melayang ke luar, tinggal Po-giok berdiri terlongong di tempatnya.

Hati Po-giok amat ruwet, pikiran gundah. Kenapa Ciang-Jio-bin berbuat demikian?

Apa dia menghendaki supaya aku menggantikan kedudukannya dalam sanubari gadis ini? Tidak mungkin! Jelas tidak mungkin!

Jangankan gadis ayu ini mencintainya setengah mati, rela sehidup semati, siapa pun tak mungkin menggantikan dia, umpama aku ...aku merasakan ada sesuatu yang ganjil antara aku dengan dia, sesuatu yang ganjil ini jelas bukan cinta asmara ....

Tahu-tahu gadis bersari hitam itu masuk kembali.

Membawa nampan yang berisi satu poci air dingin, juga berisi makanan, nampan itu ia taruh di depan Po-giok, "Silakan makan!"

Nada perkataannya seperti perintah, po-giok seperti tidak kuasa menolak perintahnya. Apalagi keadaan Po-giok sekarang memang membutuhkan makanan yang disediakan ini. Waktu makan dan minum, sedapat mungkin Po-giok melupakan segalanya.

Gadis bersari hitam itu juga membawa sebaskom air dingin dan satu potong handuk yang bersih dan masih baru.

Tanpa minta persetujuan Po-giok, gadis itu mulai menanggalkan pakaian padahal dalam menghadapi ujian berat tadi, mati pun Po-giok tidak membuka pakaian, anak muda itu, kini entah kenapa, sedikit pun Po-giok tidak membantah atau melawan, dia mandeh saja ditelenjangi.

Dengan handuk yang dibasahi air dingin, perlahan tapi meyakinkan gadis bersari hitam, membersihkan luka-luka di tubuh Po-giok yang melepuh terbakar, wajahnya dingin dan kaku, tapi gerak-geriknya tampak lembut dan hangat.

Air dingin itu mungkin sudah dicampur obat, terasa oleh Po-giok ketika handuk basah itu menyentuh kulitnya, terasa dingin nyaman, segar lagi enak menyentuh sanubarinya.

Betapapun dingin dan segar air dalam baskom itu, tetap tidak bisa membersihkan rasa sangsi Po-giok.

Hatinya tidak habis mengerti, gadis dingin yang gerak-geriknya seperti arwah gentayangan ini kenapa mau meladeni dirinya dengan sikap yang hangat, lembut lagi telaten?

Akhirnya tak terkendali rasa ingin tahu Po-giok, "kenapa ini kau lakukan? Apa karena datang mengantar surat itu?"

"Memangnya ada faedah apa surat itu terhadapku?"

"Ya, surat itu hanya kertas kosong " Po-giok menunduk.

"Ini kulakukan, karena aku bertemu denganmu."

Terangkat kepala Po-giok, "Karena bertemu denganku? Tapi kenapa? Kenapa?"

"Karena aku ingin bertemu denganmu." "Tapi kenapa kau ingin bertemu denganku?" desak Po-giok, "kau ...engkau tidak kenal aku! Tidak kenal siapa aku."

"kau kan Pui-Po-giok!"

Bergetar tubuh Po-giok, teriaknya kaget, "Engkau mengenalku! Dari ... dari mana kau kenal aku?"

"Sudah tentu ada sebabnya." "Sebab apa?"

Gadis bersari hitam menaruh handuk basah, lalu berdiri, suaranya rawan memelas, "Sekarang, sebab apa pun tiada persoalan, sekarang tidak ada sebabnya lagi. Sekarang antara dirimu dan aku sudah tiada hubungan apa pun."

Lalu perlahan ia membalik tubuh, suaranya berubah dingin, "Orang yang sudah mati, tidak mungkin punya hubungan dengan siapa pun."

"Apa ...apakah sebenarnya engkau ada hubungan sesuatu denganku?"

"Peduli apa pun hubungannya, apa yang ingin kulakukan untukmu sekarang sudah kulakukan semua, lebih baik kau "

"Aku tidak mengerti," pekik Po-giok, "makin banyak ucapanmu, aku makin bingung "

"Hakikat dari persoalan ini tidak perlu kau ketahui, antara kau dan aku sudah tiada sangkut- paut, dan selanjutnya, kuharap engkau tidak akan memikirkan diriku, aku pun tidak akan memedulikan dirimu, karena ".

Dia menarik kain hitam di atas kepalanya untuk menutup wajahnya. "Karena orang mati takkan mengingat atau memikirkan seseorang lagi."

Po-giok melompat bangun dan memburu ke sana, tapi mendadak ia berhenti lalu mundur dan duduk kembali di tempatnya dengan lesu.

Gadis sari hitam berkata, "Waktu Ciang-Jio-bin masuk ke istana tempo hari, dari tempatku ini ia melarikan diri, dari jendela ini, hanya jendela ini satu-satunya tempat yang dapat untuk meloloskan diri dalam istana ini, dia setelah merawat luka-lukanya hingga sembuh, dia

lompat ke bawah melalui jendela ini di luar jendela ada air laut ....air laut yang lembut yang

tidak akan mencelakai jiwa manusia "

Po-giok menghela napas, "Sejak mula sudah aku duga tentu engkau yang menolongnya ...

Selama hayat kau hidup dalam kesepian, maka begitu bertemu dengan dia, kau pasrah dan menyerahkan jiwa ragamu kepadanya."

"Dia memang laki-laki yang patut dihargai setiap gadis boleh menyerahkan diri kepadanya." "Betul, dia ... dia memang laki-laki baik, seorang ksatria, tapi tapi" mendadak Po-giok

menggenggam tinju, suaranya keras, "Tapi engkau masih muda, kenapa tidak kau pertahankan

hidupmu, ke kenapa tidak berusaha?"

"Karena hatiku, semangat dan sukmaku sudah dibawanya pergi." "Lama Po-giok tepekur, "Jadi engkau sudah bertekad. "

"Ya, tekadku sudah bulat, tentang dirimu aku anjurkan melompatlah dari jendela ini. Pek-cui-

kiong bukan suatu tempat yang patut kau datangi, di sini hanya ada duka, lara, sengsara dan kesepian "

Po-giok bergumam, "Sekarang aku bertambah tahu sedikit, Ciang-Jio bin memberikan suratnya supaya aku menyerahkan padamu, kecuali agar kau dapat melihat dan bertemu denganku, dia juga memperhitungkan bahwa aku juga akan terkurung di sini seperti dia, maka ia memberi petunjuk cara bagaimana aku harus melarikan diri betul tidak?"

"Mungkin demikian, tapi juga mungkin bukan." "Benar atau tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Kecuali aku harus bertemu dengan Kiong-cu aku dapatkan juga Pek-cui-kiong seperti menyembunyikan suatu rahasia yang ada sangkut pautnya denganku ...Sungguh aku tidak habis mengerti, bagaimana mungkin Pek-cui-kiong ada rahasia yang menyangkut diriku. Aku akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini."

"Sudah kau putuskan?"

Po-giok mengertak gigi, "Ya, sudah aku putuskan sekarang." "Kamu tidak menyesal?"

"Kenapa aku harus menyesal?"

"Karena kenyataan itu kejam, kenyataan sering melukai hati orang, tapi kalau kamu sudah bertekad bulat, boleh silakan saja, di sini ada sebuah jalan, jalan yang langsung menembus ke istana tempat tinggal Pek Cui-nio."

Jalan yang ditunjukkan bukan berada di luar rumah tapi di dalam rumah, bentuknya seperti almari.

Gadis sari hitam berdiri di depan mulut jalan, "Dari sini kamu akan dapat bertemu dengan Pek- Cui-nio".

Sejak tadi Po-giok memperhatikan wajahnya, memperhatikan setiap perubahan air mukanya. Sekarang ia menemukan sesuatu perubahan pada wajah yang dingin, wajah yang tidak kelihatan sedih atau riang, wajah yang tawar ini kelihatan sedikit berubah tatkala mulutnya menyebut nama Pek Cui-nio."

Setiap kali mulutnya mengucap satu kata nama orang, bayangan gelap seperti berkelebat pada wajahnya, bayangan gelap yang penuh kebencian, padahal perasaannya sudah beku, sudah mati, namun hanya kebencian itu masih bersemayam dalam lubuk hatinya.

Betapa mendalam kebencian itu. Betapa keras dan mendesaknya.

Tapi gadis ini berada dalam Pek-cui-kiong, dapat dipastikan bahwa gadis ini pasti punya hubungan erat dengan Pek-cui-kiong, kalau hubungannya cukup erat dengan Pek Cui-nio, kenapa ia begitu membenci Pek Cui-nio?

Lalu ada hubungan atau sangkut-paut apa antara gadis ini dengan Pek Cui nio? Hubungan itulah yang membuat Po-giok tiada habis mengerti, namun saat ini Po-giok tidak sempat dan tiada waktu memikirkannya, apalagi memecahkan masalah ini.

Tiada persoalan yang sempat dia pikir lagi maka ia menjura dan berkata, "Terima kasih atas penyambutanmu, pendek kata segalanya aku ucapkan terima kasih, sekarang aku mohon diri."

Mendadak gadis itu berkata, "Jangan berterima kasih padaku, ada sesuatu permintaanku padamu."

Po-giok melengong gadis yang bergerak bagai arwah, gadis yang ayu bak bidadari ini ternyata memohon sesuatu padanya, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Po-giok.

"Kalau kamu merasa keberatan juga tidak menjadi soal," demikian ucap gadis itu kaku. "Untuk urusan apa saja, boleh kau jelaskan padaku," cepat Po-giok menjawab.

"Dalam hati ada persoalan yang ingin kutanya, hanya engkau yang bisa memberi jawaban." "Persoalan yang tidak dapat kau pecahkan sendiri, mungkin aku tak bisa menjawabnya." "Untuk persoalanku ini, kau pasti dapat menjawabnya."

"Oo, persoalan apa?" "Tentang kungfu."

"Tentang kungfu engkau berminat bicara soal kungfu?" "Sejak aku tahu urusan, sudah mulai aku pikirkan di antara kungfu yang ada di dunia ini entah ada tidak jurus ilmu silat yang tidak dapat ditangkis atau dilawan oleh setiap insan persilatan."

"Wah persoalan ini ... mungkin tiada orang bisa menjawabnya."

"Betul, persoalanku ini memang sukar dijawab, apalagi sepanjang tahun aku hidup terpencil di pondok kecil ini. Umpama benar ada jurus yang aku maksud di dunia ini juga tidak mungkin kuketahui."

"Aliran silat yang ada di dunia ini beraneka ragam dan tidak bisa dihitung jumlahnya, di antara sekian banyak ilmu silat itu, tidak sedikit merupakan jurus atau tipu serangan yang mematikan, umpama jurus lihai mematikan itu dapat merajalela beberapa waktu lamanya, namun belum pernah ada yang dapat menyapu dunia, andai kata bisa menyapu dunia juga belum terbukti bahwa kepandaian yang dimiliki itu mutlak tidak bisa dilawan oleh pesilat mana pun. kau maklum akan pengertian ini?"

"Aku mengerti, memang tidak ada orang bisa membuktikan makna 'mutlak tidak ada' pada kungfu itu.

"Ya, memang demikian."

"Oleh karena itu, siang-malam aku berpikir, banyak aku ciptakan berbagai jurus ilmu silat, seluruh hasil yang aku capai itu, tanpa aku tanyakan orang lain pun aku sendiri yakin masih dapat melawannya."

"Lalu?"

"Aku bertemu dengan Ciang-Jio-bin. Pada waktu merawat luka-lukanya, aku minta dia memberi tahu seluruh jurus ilmu silat yang pernah dia pelajari padaku."

Orang itu memang cerdik pandai, keturunan keluarga persilatan. Memang tidak sedikit berbagai aliran ilmu silat di dunia ini yang dipelajari dan diselaminya." ujar Po-giok.

"Jurus-jurus silat yang dia jelaskan padaku ada sebagian kira-kira setanding dengan jurus tipu ciptaanku sendiri, namun sebagian besar berbeda jauh. Setelah dia pergi, aku coba-coba mengkombinasikan jurus-jurus itu, aku ingin menemukan suatu rumus atau intisari dari berbagai ilmu silat itu dan menciptakan satu jurus khas yang tak ada taranya."

"kau ...kepintaranmu, mungkin tiada orang lain yang bisa menandingi."

Selama setahun aku tekun berpikir siang malam, akhirnya berhasil aku ciptakan satu jurus aku yakin jurus ciptaanku ini tidak terdapat dalam semua aliran kungfu yang pernah ada di dunia ini."

"kau dapat membuktikan keyakinanmu?"

"Ya, sebab kalau benar ada jurus yang aku maksudkan, maka jurus itu tentu sudah menggetarkan dunia. Ciang-Jio-bin juga pasti sudah tahu, karena dari sekian banyak jurus lihai mematikan yang dia yakinkan dengan mudah, dapat kulawan dan aku patahkan. Tapi jurus ciptaanku yang satu ini, aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkannya meski sudah aku pikirkan setengah tahun lamanya."

Nada suaranya tetap tenang dan datar, namun mengandung keyakinan dan keteguhan yang tidak mungkin dibikin goyah oleh siapa pun, dan keyakinannya itu membuat orang lain harus percaya bahwa apa yang dia katakan memang benar.

Terpancar sinar gairah di mata Po-giok, "Jurus ciptaanmu itu tentu hebat luar biasa." "Walau aku sendiri tidak mampu melawan atau mematahkan jurus ini, tapi belum bisa

membuktikan bahwa orang lain juga pasti tidak mampu melawannya, maka aku menunggu dan menunggu kedatanganmu. Karena aku maklum kalau ada orang dapat membuktikan keyakinanku itu orang itu adalah dirimu."

"Kenapa diriku?"

"Karena aku sudah dengar engkau lah jago silat nomor satu yang hampir menguasai dunia, jika kau pun tidak mampu mematahkan jurus ini, maka tentu lebih jarang lagi orang yang mampu melawannya."

Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia berkata keras, "Engkau tidak pernah memperhatikan persoalan lain yang ada di dunia ini, kenapa justru ingin benar membuktikan jurus ciptaanmu itu. Mungkin maksudmu hendak menggunakan jurus ciptaanmu ini untuk menghadapi seseorang?"

"Mungkin benar, mungkin juga tidak."

"Untuk menghadapi siapa jurus itu kau ciptakan?"

"Itu urusan pribadiku ... lebih baik jangan turut campur."

"Apakah Pek Cui-nio? Karena engkau membencinya? Kenapa engkau membencinya?"

Tenang gadis itu mengawasi Pui-Po-giok, "Kamu sudah menerima permintaanku, kenapa bertanya dan ingin tahu persoalan lain?"

Po-giok tepekur lama, akhirnya menghela napas, "Mana pedangku?" Sinar pedang berkelebat, pedang panjang pun menyerang.

Pedang gadis bersari hitam menusuk tempat kosong antara tiga dim di depan ujung kaki Po- giok.

Po-giok melengong, teriaknya, "Terhitung jurus apa ini?" "Ya, tapi inilah jurus ciptaanku."

"Jurus seranganmu ini takkan bisa melukaiku Siapa pun takkan kau lukai dengan jurus

ciptaanmu ini."

"Nah, justru di situlah kunci keberhasilan jurus ciptaanku, karena jurus ini meletakkan kita pada posisi yang tidak mungkin menang, maka orang lain tak mungkin melawan, karena siapa pun pesilat di dunia ini belum pernah melihat jurus serangan ciptaanku ini."

Po-giok termenung pula sekian lamanya, akhirnya ia tertawa getir, "Tapi jurus seranganmu ini memang tidak perlu melawan "

"Siapa bilang tidak perlu dilawan?" "Lha apa perlu dijelaskan."

"Baiklah, coba perhatikan."

perlahan ia menarik pedang, lalu mengulang tusukan tadi dengan enteng, yang ditusuk tetap tiga dim di depan kaki Po-giok. Tusukan macam ini memang tidak mungkin melukai Po-giok meski cuma seujung rambut saja.

Tapi begitu tusukan itu diulang, mendadak sinar mata Po-giok seperti mencorong tajam, tubuhnya juga mendadak bersalto mundur dua kali di udara, lalu meluncur turun dua tombak ke belakang, wajahnya tampak kaget dan bingung.

Dingin suara gadis sari hitam, "Apa benar jurus seranganku ini tidak perlu dilawan? Kenapa engkau berkelit dan menyingkir?"

"Hebat, sungguh hebat," puji Po-giok dengan jantung berdebar, "Kini baru kutahu kelihaian jurus ciptaanmu ini."

"Apa benar sudah melihat jelas?"

"Kalau aku bersikap tak acuh dan tidak memedulikan jurus serangan ini, maka jurus ini akan menusuk terbalik dari posisi di depan kakiku, jurus serangan pedang yang dilancarkan dari posisi ini, betul-betul aku tidak tahu cara bagaimana harus melawannya?"

"Apa kau tahu sebab apa tidak bisa melawan?" "Aku ... belum bisa kupikir, tapi " mendadak ia keplok sambil berteriak, "Aha, sudah aku

temukan jawabnya, karena posisi itu merupakan sudut kematian manusia."

Gadis itu mengawasinya lekat, suaranya tetap kalem, "Betul, telapak kaki siapa pun merupakan sudut kematiannya. Jurus serangan yang dilancarkan dari sudut mematikan ini, jelas belum pernah dan tidak ada dalam ilmu silat aliran yang ada di dunia, oleh karena itu jurus ini juga tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Makna murni dan jurus ini adalah menempatkan dirinya pada sudut mematikan lebih dulu "

"Pada sudut kematian berjuang untuk hidup, itulah siasat perang yang paling utama," demikian teriak Po-giok, "Kini aku baru tahu, kungfu berbeda dengan siasat perang, namun satu dengan lain bisa manunggal "

"Ya, memang demikian, akhirnya kamu mengerti,"

"Jurus ciptaanmu ini memang tidak ada dalam semua aliran silat di dunia ini, karena tidak ada orang pernah berpikir cara bagaimana melancarkan serangan lihai dari sudut kematiannya sendiri," setelah menghela napas Po-giok berkata pula "Tapi kalau bukan seorang jenius luar biasa, siapa pula yang mampu dan dapat menciptakan jurus silat yang luar biasa ini."

Tawar dan dingin suara gadis baju hitam, "Kalau demikian penilaianmu, berarti jurus ciptaanku itu memang tidak dapat dilawan."

"Kukira belum tentu." "O, kenapa?"

"Karena ada beberapa hal kau lupakan." "Coba jelaskan."

"Satu hal yang terpenting adalah, pada saat yang sama waktu melancarkan jurus mematikan itu, lawanmu juga akan melancarkan serangan padamu. Karena dalam waktu sedetik kau lancarkan serangan itu, kau sendiri tidak punya tenaga untuk mempertahankan diri. Kecuali selagi latihan atau bertanding dengan seseorang, kalau menghadapi musuh tangguh, memangnya lawanmu mau memberi kesempatan padamu untuk membunuhnya?"

Mendadak gadis bersari hitam menunduk diam.

"Tatkala kau lancarkan tusukanmu, kalau kau pun berpikir cara bagaimana aku harus siaga melindungi awak sendiri, umpama jurus ini belum mencapai jurus lihai yang tidak bisa dilawan, paling sedikit cukup untuk bekal malang melintang di dunia persilatan."

Pandangan gadis sari hitam menatap ke arah jauh melamun, dan mengigau, "Ya, aku tidak bisa."

"Engkau memang tidak bisa, karena dalam detik itu juga, kau tempatkan dirimu pada posisi yang mematikan di situlah letak intisari jurus ciptaanmu, tapi juga merupakan titik kelemahan

jurus ciptaanmu itu."

Setelah menghela napas Po-giok menambahkan, oleh karena itu meski jurus ini dapat menyapu dunia, tapi tak berguna sama sekali."

Lama sekali gadis sari hitam ini tepekur, setelah menarik napas panjang, akhirnya ia menyingkir ke pinggir katanya, "Pergilah kau !"

Gadis sari hitam melangkah pergi, dia tidak memberi kesempatan pada Po-giok untuk bicara lagi.

Tapi Po-giok tetap berdiri di tempatnya, tidak pergi seperti yang dianjurkan orang. Po-giok sedang memeras otak.

Dalam jangka setengah hari ini, dia bertemu dengan tiga orang yang serba aneh. Orang pertama menyergapnya dengan serangan lihai, namun menaruh belas kasihan.

Orang kedua juga melancarkan serangan mematikan, namun juga tidak sungguh-sungguh dan yang lebih mengherankan lagi, jurus mematikan yang dilancarkan orang ini ternyata mirip dengan jurus kepandaian Pek-ih~jin dari Tang-hai itu.

"Orang ketiga adalah satu-satunya orang yang dia bisa bertatap muka, walau perempuan yang satu ini bersikap kaku dingin, tapi secara lahir batin Po-giok merasakan adanya suatu ikatan entah dalam hubungan apa antara dirinya dengan gadis itu.

Di luar tahunya, orang ketiga ini juga melancarkan serangan dengan jurus lihai, bukan saja tidak bermaksud jahat, pada hakikatnya dia tidak melancarkan serangan terhadap dirinya.

Kenapa ketiga orang ini sama-sama melancarkan serangan mematikan padanya, namun ketiganya tidak bermaksud merengut nyawanya walau lihai dan mematikan serangan mereka.

Padahal tiga jurus serangan lihai yang dilancarkan pada dirinya itu merupakan tiga jurus paling sakti, tiga jurus paling ganas yang pernah ada di dunia ini. Jika mereka tidak bermaksud merengut jiwa Po-giok, kenapa harus melancarkan jurus selihai dan seaneh itu?

Berkelebat pikiran Po-giok, mendadak ia teringat sesuatu.

"Apakah tujuan mereka hendak memberi petunjuk permainan silat tingkat tinggi padaku?" "Mungkinkah mereka mempunyai ikatan batin atau hubungan luar biasa dengan aku?"

"Tapi orang-orang dari Pek-cui-kiong ini mana mungkin ada hubungan dengan diriku? Sungguh sukar dicerna dengan akal sehat bahwa ada tiga orang misterius yang punya sangkut-paut dengan dirinya."

Persoalan itu satu dengan lain saling berkaitan, namun satu dengan yang lain juga bertentangan. Sampai pening po-giok memikirkan persoalan ini, ingin memecahkan teka-teki ini, namun sukar memperoleh jawaban yang memuaskan.

Akhirnya ia berkeputusan untuk tidak memusingkan persoalan ini. perlahan Po-giok melangkah ke dalam sana.

Po-giok yakin Pek-cui-Kiong-cu akhirnya pasti akan memberikan jawaban yang dia inginkan ..."

******

Begitu jari Ban-lo-hu-jin menyentuh hiat-to sendiri, tangan Cui-Thian-ki juga sudah meraih paha ayam, waktu Ban-lo-hu-jin jatuh tersungkur, Cui-Thian-ki pun sudah memapah Oh-Put- jiu.

perlahan Cui-Thian-ki menyobek paha ayam dan menyuapi Oh-Put-jiu sedikit demi sedikit. Ban-lo-hu-jin berkata, "Rahasia itu menyangkut hubungan Cui-Nio-nio dengan Pui-Po-giok."

Bergetar badan Cui-Thian-kl, hampir saja paha ayam yang dipegangnya jatuh, teriaknya kaget, "Ada rahasia apa antara ibuku dengan Pui-Po-giok?"

"Ah, masa engkau tidak tahu?" tanya Ban-lo-hu-jin.

Cui-Thian-ki gusar, "Memangnya perlu aku berdusta padamu!"

"Nona meninggalkan Pek-cui-kiong memang sudah ada tujuh delapan tahun, tapi kejadian tujuh tahun yang lalu; kukira nona masih mengingatnya."

"Selamanya aku tidak berani tanya urusan ibu, beliau juga melarang aku bertanya. Sejak kecil jarang aku masuk ke kamar tidur beliau."

Walau Cui-Thian-ki berusaha bicara dengan nada wajar, namun mimik wajahnya menampakkan rasa rawan dan sedih, bagi anak yang punya ibu kandung demikian, biarpun ia bisa memperoleh barang yang tidak bisa dimiliki orang lain, tapi barang yang setiap anak perempuan lain bisa mendapatkan dia justru tidak pernah mengenyamnya, dan itu merupakan suatu hal yang paling berharga dan paling mahal di dunia.

Cui-Thian-ki tidak pernah memperoleh kasih sayang ibunya. Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Urusan yang menyangkut Cui-nio-nio sudah tentu siapa pun tidak bisa mencampurinya, tapi tak pernah terbayang olehku bahwa putri kandungnya sendiri juga tidak terkecuali. Hanya saja ... enam belas tahun yang lalu ... ah tidak, peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu di Pek-cui-kiong, apa pun kukira engkau dapat mengingatkan."

Bertaut alis Cui-Thian-ki, "Tujuh belas tahun yang, lalu ..." mulutnya mendesis ragu, "Apa yang pernah terjadi dalam Pek-Cui-kiong pada tujuh belas tahun yang lalu?"

"Tujuh belas tahun yang lalu, ada dua orang laki laki perempuan meluruk ke Pek-cui-kiong. Selama empat puluh tahun hanya kedua orang ini yang dapat menerobos ke tempat kediaman Cui-Nio-nio, mereka pula yang menimbulkan kegemparan dan kepanikan pihak Pek-cui-kiong."

"Betul," seru Cui-Thian-ki, "kini aku ingat kedua orang itu, mereka adalah suami istri, kungfu mereka memang amat tinggi, cerdik pandai lagi tapi akhirnya mereka terkalahkan juga oleh ibuku"

"Tapi Cui-nio-nio tidak membunuh mereka" demikian tutur Ban-lo-hu-jin lebih lanjut, "Mereka adalah dua orang yang pernah selamat setelah meluruk ke Pek-cui-kiong ... Bukan saja mereka tidak mati, mereka malah diam dan menetap di sana."

Cui-Thian-ki bergumam, "Sebelum bertarung dengan ibuku, mereka sudah bertaruh, kalau mereka menang, ibuku harus menyerahkan Pek-cui-kiong sebagai tempat peristirahatan mereka, kalau mereka kalah, selama hidup mereka tidak akan meninggalkan Pek-cui-kiong." 

Sambil bicara, tangannya tetap menyuapi Oh-Put-jiu.

Oh-Put-jiu asyik mendengarkan, diam-diam ia membatin, "Kedua suami istri itu memiliki kungfu sehebat itu, gigih perwira dan ksatria entah tokoh macam apa mereka?"

Didengarnya Ban-lo-hu-jin berkata pula "Padahal Cui-Nio-nio tidak pernah memberi ampun pada orang-orang yang membuat kegaduhan di istananya, kenapa dia justru bertaruh dengan mereka, nona apakah engkau tahu seluk-beluk persoalan ini?"

"Waktu itu walau usiaku masih kecil, dalam hati aku pun merasa heran, pernah kutanya pada ibu bila ibu sudah mengalahkan mereka, kenapa tidak membunuh mereka, dan kenapa harus bertaruh segala?"

"Apakah Cui-nio-nio memberi penjelasan?" tanya Ban-lo-hu-jin. "Apa pun aku ini adalah anak kandungnya"

"Jadi beliau menjelaskan padamu?"

Cui-Thian-ki termenung sejenak, "Mungkinkah kejadian itu ada sangkut-pautnya dengan rahasia itu?"

"Bukan saja ada hubungan, sangkut-paut justru amat besar ... Nona, kalau tidak kau jelaskan apa yang kau ketahui, susah aku menyambung ceritaku"

Cui-Thian-ki termenung beberapa saat lagi lalu mendadak mengulap tangan, "Kalian enyah semua. Urusan ini tiada sangkut-paut dengan kalian."

Sebetulnya kawanan bajak itu juga ingin mendengar kisah rahasia orang-orang persilatan, tapi Cui-Thian-ki memerintahkan mereka menyingkir, siapa lagi berani membandel di hadapannya?

Setelah kawanan bajak itu pergi semua baru Cui-Thian-ki melanjutkan dengan perlahan, "Sebetulnya ibuku tidak mau bicara, kalau waktu itu aku sudah dewasa, mungkin dia tidak mau bicara, tapi waktu itu aku masih terlalu kecil, ibu juga ingin melimpahkan perasaan hatinya terhadap seseorang."

Ia menghela napas, lalu melanjutkan, "Maka beliau menepuk-nepuk kepalaku dan memberi tahu padaku, katanya kecuali ayah kandungku yang sudah meninggal itu, laki-laki itu adalah orang yang paling dia senangi, laki-laki idaman hatiku selama hidup ini. Maka apa pun yang terjadi ibu tidak dapat membiarkan dia mati." "Ya, memang demikian," ujar Ban-lo-hu-jin sambil menghela napas.

"Karena mendapat hati, aku bertanya pula bila ibu menyukainya, kenapa istrinya tidak dibunuh saja? Ibu menjelaskan, bila ibu membunuh perempuan itu, laki-laki itu tentu takkan mengampuninya, tidak akan memaafkannya, maka itu berarti selama hidup ia tidak akan memperoleh cinta kasihnya. Untuk menarik simpati laki-laki itu ibu terpaksa membiarkan mereka hidup, entah kapan akan datang saatnya cita-citanya akan terkabul. "Ai, sejak waktu itu, aku lantas tahu betapa murni, betapa agung apa yang dinamakan cinta itu."

Waktu mengakhiri kata katanya, pandangan Cui-Thian-ki melekat tajam pada wajah Oh-Put-ju. Oh-Put-jiu juga mengawasinya, "Lalu bagaimana?" tanyanya perlahan.

Mendengar suara orang sudah bertenaga, lega hati Cui-Thian-ki, katanya dengan tertawa, "Lalu ibu memberikan sebidang tanah dalam istana untuk tempat tinggal mereka, siapa pun kecuali mendapat izinnya dilarang masuk ke daerah itu dan mengganggu mereka suami istri."

Oh-Put-jiu menghela napas, "Ternyata ibumu juga seorang romantis."

Cui-Thian-ki tertawa manis, "Aku masih ingat daerah tempat tinggal mereka itu dinamakan Pondok Bintang Kecil. Dari kejauhan aku sering melihat tapi tidak berani mendekat apalagi masuk ke sana. Hingga pada suatu hari ... waktu yang perempuan meninggal dunia."

Kenapa istrinya meninggal? Apakah karena " Oh-Put-jiu menjerit kuatir.

"Jangan salah duga," tukas Cui-Thian-ki, Ibu pernah berjanji tidak akan membunuhnya maka dia hidup berkecukupan kecuali jatuh sakit yang parah dan tak tertolong lagi jiwanya. Ibuku memang bukan orang baik, tapi setiap ucapannya dapat dipercaya."

"Ya, akulah yang salah ... tadi perempuan itu "

"Ketika tinggal di Pondok Bintang Kecil, perempuan itu sudah bunting sebelum datang, enam bulan sejak mereka tinggal di Pek-cui-kiong, perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan yang mungil, dan karena kelahiran anaknya itu akhirnya ia meninggal."

Oh-Put jiu menghela napas, "Kini anak perempuan itu tentu sudah besar?"

"Untuk merawat dan mengasuhnya sampai besar, ibu terpaksa keluar dari istana dan mengundang seorang ibu inang untuknya. Waktu aku meninggalkan istana, anak perempuan itu sudah berusia tujuh atau delapan tahun, meski masih kecil namun sudah tampak rupawan, hanya sayang sejak kecil ia berwatak pendiam, nyentrik dan kaku, segala permainan anak-anak tidak ada yang disukai. Dari pagi hingga petang kerjanya duduk melamun entah apa saja yang dipikir olehnya?"

"Lalu, bagaimana ayahnya "

"Ayahnya memang seorang laki-laki sejati, apa yang pernah diucapkan tidak pernah diingkari, selama beberapa tahun tidak pernah ia bicara tentang pulang atau keluar dari istana. Setiap hari ibu menemaninya main catur, membaca, memetik kecapi dan hiburan lainnya, setelah berkumpul sekian lamanya, lama-kelamaan timbul juga asmara diantara mereka. Tapi berani aku memastikan, sampai aku meninggalkan istana, hubungan mereka masih sopan dan tidak melanggar tata susila."

Oh-Put-jiu menghela napas panjang, "laki-laki itu memang ksatria sejati, laki-laki baja yang patut dipuji. Demikian pula ibumu juga seorang perempuan cendekia yang tiada bandingannya, tapi ah, sebetulnya dalam keadaan seperti itu, andaikan laki perempuan yang memiliki serba

keanehan itu menikah dan menjadi suami istri juga jamak dan masuk akal."

Cui-Thian-ki tertawa lebar, "Sungguh tak terduga bahwa jiwamu lapang dan pikiranmu juga terbuka."

Oh-Put-jiu tersenyum karena pujian itu, "Umpama aku masih kolot, urusan itu tentu juga tidak salah atau keliru. Hanya saja kalau pasangan suami istri ini termasuk orang aneh, setelah mereka lenyap dari kalangan kang-ouw, kenapa tidak pernah terdengar berita kegemparan mereka di Bu-lim?"

Ban-lo-hu-jin menimbrung, "Karena suami istri itu adalah pendekar kelana, hidup mereka melanglang buana, memangnya jarang kaum persilatan yang tahu jejak mereka, demikian pula ayah mereka juga tidak tahu ke mana dan di mana mereka berada."

"Suami istri yang masih muda, dengan masa depan yang cemerlang berkelana bersama ke mana mereka senang tinggal, ke mana mereka mau pergi, tiada orang dapat mengendalikannya, empat lautan adalah rumah mereka. Betapa bebas dan leluasa mereka berkelana, yang pasti banyak orang merasa iri dan juga memuji mereka."

"Sebetulnya orang lain pun dapat meniru mereka ..." "Tapi apa kau tahu siapa mereka?" tanya Ban-lo-hu-jin.

Cui-Thian-ki melengong, "Ya, aku tidak tahu nama mereka, belum pernah timbul pikiranku untuk tanya siapa mereka, ibuku juga tidak menerangkan ... Dalam Pek-cui-kiong, kecuali ibuku, mungkin tiada orang kedua yang tahu asal-usul mereka."

"Nah, di situlah letak rahasianya, rahasia besar, dan aku tahu rahasia ini," ucap Ban-lo-hu-jin penuh keyakinan.

"Siapa mereka?" tanya Cui-Thian-ki.

perlahan tapi tegas dan tandas perkataan Ban-lo-hu-jin, "Mereka adalah ayah dan ibu Pui-Po- giok."

Tanpa terkendali Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu menjerit kaget.

"Cui-Nio-nio tahu bila mana berita ini bocor, Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-kong pasti akan mengerahkan seluruh kaum persilatan meluruk ke Pek-cui-kiong untuk menuntut anak dan menantunya dibebaskan. Oleh karena itu beliau merahasiakan asal usul dan nama mereka."

Jadi ...Pui-toa-ko ku itu ...apakah sampai sekarang masih tinggal di Pek-cui-kiong?" "Ya, sampai sekarang dia masih tinggal di sana."

"Kalau demikian, anak perempuan yang tinggal di Pondok Bintang Kecil itu adalah adik kandung Pui-Po-giok."

"Ya, memang betul adik kandungnya, gadis jelita itu bernama Pui-Lin-giok."

"Po-ji berangkat ke Pek-cui-kiong, apakah lantaran dia tahu rahasia ini?" tanya Oh-Put-jiu. "Sedikit pun dia tidak tahu tentang rahasia ini," tegas jawaban Ban-lo-hu-jin.

"Lalu ...untuk apa dia ke sana?" tanya Oh-Put jiu heran.

"Bagian depan cerita ini tadi sudah dikisahkan oleh nona Cui, maka sambungan ceritanya biar aku nenek tua ini yang melanjutkan. Untuk itu perlu aku memberitahukan dua hal pada kalian."

"Cekak aos saja, jangan bertele-tele," sela Oh-Put-jiu.

"Pertama, sekarang Pui-Lin-giok sudah tumbuh dewasa, namun wataknya semakin nyentrik, dalam dua-tiga hari terkadang tidak bicara sepatah kata pun, kerjanya hanya duduk dan tepekur."

Cui-Thian-ki menghela napas, "Hal ini sudah aku bayangkan, aku mengerti. Hal kedua?"

"Sembilan tahun setelah istrinya meninggal akhirnya Pui-tai-hiap menikah dengan Cui-Nio-nio." tutur Ban-lo-hu-jin.

"Hah, dia ...dia benar-benar ..." Oh-Put-jiu gelagapan.

Ban-lo-hu-jin berkata, "Tadi kau bilang kejadian ini kan masuk akal."

"Betul, bukan aku menyalahkan dia ...siapa pun tak boleh menyalahkan dia."

"Memang dia tidak salah, Cui-Nio-nio adalah istri yang paling setia, telaten, lembut dan prihatin, kalau Pui-tai-hiap mau bicara, apa pun keinginannya pasti dituruti. Tapi sering kali Pui-tai-hiap justru bermuram durja, untuk menyenangkan hatinya, tidak jarang Cui-Nio-nio menganjurkan dia keluar istana menghibur diri."

"O? Lalu dia ... "

"Tapi dia tidak mau mengingkari janji dan melanggar sumpah, kalau dia sudah bilang selama hidup tidak akan keluar istana, umpama mati juga tidak mau keluar meski hanya selangkah pun."

Oh-Put-jiu menarik napas, "Pui-toa-ko memang laki-laki sejati."

"Cui-Nio-nio bukan hanya baik dan cinta terhadap suaminya terhadap Pui-Lin-giok dia pun melimpahkan kasih sayangnya seperti terhadap anak kandung sendiri, untuk menghibur dan menyenangkan hatinya, pernah sengaja beliau membiarkan seorang pemuda menerobos ke dalam istana, lari ke daerah Pondok Bintang Kecil, beliau pura-pura tidak tahu dan tidak mengusut perkara ini. Karena ia tahu pemuda itu adalah laki-laki tampan, ksatria muda yang punya masa depan."

"Lalu ... bagaimana mereka?" tanya Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin menghela napas, "Akhirnya nona Pui melepas pemuda itu pergi seorang diri."

Cui-Thian-ki diam sejenak lalu berkata sendu, "Ayah kandungnya terpaksa harus menyekap diri selama hidup di-Pek-cui-kiong, sudah tentu nona itu tidak ingin mengalami nasib sejelek ayahnya ... ai, lahirnya dia kelihatan kaku dingin, padahal hatinya lemah dan panas membara."

"Belakangan diketahui oleh Cui Nio-nio sebab musabab kemuraman dan kemurungan ayah dan anak itu, yaitu lantaran Pui-tai-hiap merindukan putranya, ingin melihat bagaimana rupa putranya setelah tumbuh dewasa. Nona Pui juga ingin sekali melihat dan bertemu dengan kakak kandungnya yang belum pernah dilihatnya sejak lahir."

"Setelah menghela napas Ban-lo-hu-jin meneruskan, "Mereka ingin melihat dan bertemu dengan Pui-Po-giok."

"Bila mereka menyampaikan rahasia ini kepada Pui-Po-giok, umpama Po-giok terlibat urusan besar dan penting sekali pun tentu juga akan menyingkirkan kepentingan lain untuk memburu ke Pek-cui-kiong," demikian komentar Oh-Put-jiu.

"Betul, sudah tujuh belas tahun rahasia ini tertutup rapat, mereka tidak ingin dan segan membicarakannya," Ban-lo-hu-jin menghela napas.

"Jadi terhadap Po-ji juga tidak dijelasksn?" tanya Oh-Put-jiu terbeliak.

"Terhadap orang lain mungkin boleh, tapi terhadap Pui-Po-giok mutlak tidak boleh," sahut Ban- lo-hu-jin.

"Ken ...kenapa?" tanya Oh-Put-jiu bingung. "Masa tidak dapat kau pikir"

Cui-Thian-ki yang bicara, "Meski kematian ibu kandung Po-ji tidak langsung oleh tangan ibuku, tapi kalau mereka tidak terkurung dalam istana air, mungkin dia tidak akan mati karena kesulitan melahirkan. Mau tidak mau hal ini pasti menimbulkan rasa dendam Po-ji terhadap ibuku."

Oh-Put-jiu mengangguk, "Tapi ibumu sekarang sudah menjadi ibunya juga ...ibumu sudah menjadi bini ayahnya, memangnya apa yang akan dia lakukan setelah tahu rahasia ini? Apakah Pui-toa-ko tega melukai hati putranya?"

"Apalagi Po-ji tengah memikul beban yang amat berat, nasib seluruh kaum persilatan terletak pada pundaknya, mana boleh sanubarinya memikul beban yang berat pula? Kalau selama hidup ia tidak tahu tentang rahasia ini, bukankah dia akan hidup tentram dan bahagia?" demikian komentar Cui-Thian-ki.

"Tapi Pui-toa-ko melihat putra kandung yang dirindukan sudah berada di depan mata, namun tidak bisa mengakuinya sebagai anak, bukankah berat dan menyedihkan penderitaannya," Oh- Put-jiu bicara dengan nada iba. "Sebagai seorang ayah," demikian ucap Cui-Thian-ki, "Lebih senang diri sendiri menderita daripada membuat anaknya sedih ...Setiap orang tua di dunia ini pasti akan berbuat demikian, rela berkorban demi anaknya," dengan tertawa pedih lalu ia melanjutkan, "Cinta kasih yang murni adalah pengorbanan dan bukan monopoli ... demi cinta perlu mengorbankan diri sendiri, demi kekasihnya, meski dia kehilangan tapi hatinya akan tentram, akan bahagia."

Oh-Put-jiu mengawasinya lekat, cukup lama ia tidak bisa bicara.

perlahan Cui-Thian-ki mengalihkan pandangannya, menoleh ke arah Ban-lo-hu-jin, "Apa benar tujuan mereka hanya ingin melihat Po-giok saja?"

"Ya itulah sebab utama, namun bukan sebab keseluruhannya." "Jadi masih ada sebab lain?"

"Selama tujuh belas tahun ini, otak mereka yang brilyan berhasil menciptakan banyak jurus- jurus ilmu silat yang lihai tiada taranya, mereka tidak punya ambisi untuk berkuasa dan merebut nama di Bu-lim, hanya satu harapan mereka, yaitu semoga hasil ciptaan mereka yang telah banyak keringat itu dapat diwaris pada generasi mendatang."

"Betul," Cui-Thian-ki menyokong, "ahli waris yang mereka pilih sudah tentu adalah Pui-Po-giok."

"Ya," ucap Ban-lo-hu-jin, "setelah memperoleh warisan kungfu ciptaan kedua orang tuanya, akan menambah bekalnya untuk berduel dengan Pek-ih-jin, keyakinan dan keteguhan hatinya dalam menghadapi duel itu akan memberi dorongan semangat yang kuat demi mencapai kemenangan. Oleh karena itu, menjelang duel dimulai mereka harus menggembleng Po-giok sewaktu mereka bertemu di Pek-Cui-kiong, itulah salah satu kenapa Po-giok harus pergi ke Pek- cui-kiong, itulah jerih payah orang tuanya."

"Tapi waktu yang dijanjikan untuk duel dengan Pek-ih-jin sudah di ambang mata, umpama Po- giok memiliki otak jenius juga tak mungkin dapat mempelajari ilmu silat tinggi yang ruwet dalam waktu yang singkat" nada Cui-Thian-ki amat kuatir.

"Untuk menghadapi masalah yang luar biasa, sudah tentu harus dikerjakan dengan cara yang luar biasa pula. Mereka pasti akan membuat Po-giok mengalami penderitaan, mungkin juga harus mengalami bahaya yang mengancam jiwanya, dengan cara itu baru akan memaksa dia menggunakan otaknya yang brilyan untuk mengatasi dan menghadapi semua hambatan, siapa saja dalam keadaan seperti itu tentu akan lebih cepat menyerap pelajaran itu lebih cepat." demikian komentar Ban-lo-hu-jin.

"Betul," ucap Cui-Thian-ki. "Tiga tahun berlatih setiap hari, belum tentu lebih matang dibanding perkelahian yang mempertaruhkan jiwa raga dalam waktu sekejap, sesuatu yang kita peroleh di kala menghadapi mara bahaya, tiada persoalan atau benda apa pun yang bisa menyamainya."

"Ya, memang demikian," kata Oh-Put-jiu, "kalau mereka ingin menggembleng Po-ji dan memaksa untuk menyerap pelajaran intisari ilmu pedang, mereka pasti akan menyudutkan Po-ji pada posisi yang paling sulit, dalam duel yang mempertaruhkan jiwa umpamanya, mereka akan memaksa Po-ji menyelami secara dekat dan mendalam makna dari jurus pedang yang dilihatnya. Satu hal yang lebih penting adalah, ilmu yang dia pelajari dalam keadaan seperti itu akan lebih merasuk dalam sanubarinya, selama hidup takkan bisa dilupakan."

"Ya memang demikian." ucap Ban-lo-hu-jin.

"Tapi ada juga yang tidak kau ketahui." kata Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin tersenyum, "Apa benar ada sesuatu yang tidak diketahui oleh nenek tua seperti aku?"

"Tahukah kau bahwa kakek luar Pui-Po-giok sekarang sudah meluruk ke Pek-cui-kiong?" tanya Cui-Thian-ki.

Chapter 33. Misteri Kapal Layar Pancawarna TAMAT

Jing-ping-kiam-khek Pek Sam-khong maksudmu? " seru Ban-lo-hu-jin kaget, "kalau

demikian, keberangkatan Pui-Po-giok ke Pek-cui-kiong berarti akan mempertemukan tiga generasi mereka dari kakek anak dan cucu."

Oh-Put-jiu menghela napas, "Sayang sekali meski mereka bertemu, satu dengan yang lain justru tidak boleh saling kenal, Po-ji belum tahu siapa orang yang dilihat dan dihadapinya. "

Mendadak kawanan bajak yang ada di luar berteriak-teriak ribut, "He, apa itu? ...itu? "

Maka Cui-Thian-ki memapah Oh-Put-jiu yang masih lemah keluar, tampak di tengah laut terapung sebuah bungkusan besar, bungkusan pancawarna, itulah buntalan berisi Bu-kang-pit- kip warisan Ci-ih hou yang dia bungkus dengan layar pancawarna. Seseorang tampak memeluk erat buntalan besar itu, mukanya tampak membengkak dan mulai rusak, tapi dari bentuk dan perawakannya masih dapat dikenal adalah Ka-sing Tai-su.

Oh-Put-jiu menghela napas panjang, "Akhirnya ia memperoleh juga apa yang diharapkannya." "Ya, tapi dia sudah mati. Memperoleh apa yang diharapkan setelah mati."

"Seorang kaku bisa memperoleh sesuatu yang diharapkan pada waktu hidupnya, meski hanya sekejap saja, walau harus segera mati, berarti dia sudah memperolehnya dengan abadi, mati pun tidak perlu menyesal."

*****

Po-giok terus menyelusuri lorong panjang yang berliku-liku, akhirnya ia tiba juga di kediaman Cui-nio-nio. Betapa megah dan indah istana di air ini, sungguh sukar dilukiskan.

Seorang tampak duduk di tengah aula yang besar badannya seperti dibalut kain sari yang halus dan lembut, wajahnya juga tertutup cadar dari sutera.

Walau di sini tiada angin namun kain sari tampak melambai-lambai, padahal orang itu bercokol di tempatnya tanpa bergerak, namun selintas pandang orang seperti melihat bidadari yang melayang naik surga. Tampaknya perempuan ini memang mirip sukma di tengah kabut, dewi. Tapi. Tapi. Tapi dalam halimun.

Meski orang ini tidak bergerak, Po-giok juga tidak melihat wajahnya, namun secara langsung ia sudah merasakan betapa agung dan suci, betapa elok dan ayunya.

Tanpa terasa Po-giok berdiri terpesona, berdiri linglung seperti tersedot sukmanya, mulut pun tak kuasa bicara.

"Bagus sekali, akhirnya kau datang," itulah suara lembut, merdu dan nyaring, namun bernada dingin yang diucapkan dari balik cadar.

Po-giok meluruskan kedua tangan, menunduk dan membungkuk badan, "Pui-Po-giok menyampaikan salam hormat kepada Cui-Kiong-cu."

"kau berani menempuh bahaya, jerih payah bergelut dengan marabahaya, tujuannya sudah tentu ingin berduel denganku untuk menentukan kalah menang, sebagai lawan atau musuh, kenapa kau bilang menyampaikan salam hormat padaku?"

Po-giok melengak, "Ini karena "

Karena apa, Po-giok tidak bisa menjelaskan.

"Setelah kau masuk ke istanaku," demikian kata Pek-cui-kiong-cu, "Sudah kau hadapi tiga ujian berat yang hampir merengut nyawamu, apa kamu tidak membenciku?"

Kembali Po-giok melengak, jawabnya gelagapan, "Ini ...aku "

Tertawa tawar berkumandang dari balik cadar sutera, "Lalu apa maksud tujuanmu menerobos ke dalam istanaku ini?" Berat nada suara Po-giok, "Untuk memenuhi janji maka kudatang ke sini, harap Kiong-cu "

"Baiklah tidak perlu kau jelaskan," tukas Pek-cui-Kiong-cu, "anggaplah kamu sudah menunaikan tugas dengan baik, dan aku meluluskan permintaanmu."

Po-giok melengong, sungguh ia tidak habis pikir bahwa urusan dapat diselesaikan semudah ini, segera ia bersoja, "Terima kasih Kiong-cu."

"Apa tiada urusan lain lagi?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.

"Masih ada sedikit persoalan, kumohon penjelasan, apa yang kualami tadi "

"Hubungan antara manusia dengan manusia memang amat sensitif, kalau tidak tahu, kenapa kau tanya persoalan itu?"

Sesaat Po-giok tepekur, "Kalau Kiong-cu tidak mau menjelaskan, Cai-he juga tidak ingin mendesak, hanya saja akan datang suatu hari, Pasti aku kembali lagi ke Pek-cui-kiong untuk

membongkar rahasia ini."

"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.

"Sekarang Cai-he masih mengemban tugas berat, tidak berani mempertaruhkan mati hidupku sekarang."

"Bagus, kau dapat membedakan mana yang penting dan mana yang sepele, sebagai ksatria muda, memang kamu harus tegas membedakan antara yang baik dan yang buruk."

"Bahwasanya Cai-he sudah menunaikan tugas dengan baik, kalau Kiong-cu mengizinkan, Cai-he ingin mohon diri sekarang juga."

"Kamu berjuang sekuatnya untuk masuk ke sini, tentu dengan mudah pula dapat keluar, tapi setelah bertemu denganku, kenapa kau hanya tanya persoalan yang menyangkut kehidupan

manusia dan tidak tanya tentang kungfu?"

Terkesiap darah Po-giok, serunya."Apa aku boleh tanya tentang kungfu?"

"Kenapa tidak boleh, tapi tapi kalau kau ingin tanya padaku, aku anjurkan lebih baik kau

tanya pada dirimu sendiri."

"Tanya pada diriku sendiri?" Po-giok menegas dengan bingung.

"Sekarang kau adalah orang pertama dalam Bu-lim, semua persoalan yang kau curigai dan mengganjel dalam sanubarimu, hanya kau sendiri saja yang dapat menjawabnya, kalau kau dapat membersihkan hati menenangkan pikiran serta tanya pada dirimu sendiri, maka tidak sedikit manfaat yang akan kau peroleh."

Lama Po-giok termenung, lalu membungkuk badan, "Mendengar petuah Kiong-cu, Po-giok seperti botol kosong yang diisi penuh air, semua persoalan segera aku sadari dan aku maklumi. Dari pada tanya orang lebih baik tanya diri sendiri, walau pengertian ini amat sederhana, tapi sebelum ini belum pernah Po-giok memikirkannya.

"Nah, sekarang boleh kau mulai tanya pada dirimu sendiri, dalam sehari ini sejak kau masuk istana ini, apakah kungfumu memperoleh kemajuan?"

Po-giok termenung pula beberapa saat, lalu menjawab dengan serius, "Ya, memang ada kemajuan."

"Lebih lanjut boleh kau tanya kenapa kungfumu memperoleh kemajuan?"

Setelah berpikir sejenak Po-giok menjawab, "Karena sejak Po-giok masuk istana, beruntun tiga kali menghadapi musuh jago pedang memiliki taraf kepandaian luar biasa, tiga jurus ilmu pedang itu telah mengoyak-koyak bayangan gelap dalam benak Po-giok yang menyesatkan "

"Dari situ dapat kau bertanya lebih lanjut, dari tiga jurus ilmu pedang yang mematikan itu, di mana letak persamaannya?" Kepala Po-giok tertunduk rendah, sepenuh hati ia merenungkan pertanyaan ini.

Kali ini hampir tiga jam Po-giok memeras otak, semula ia berdiri, kini bersimpuh di lantai, semula keadaan sekelilingnya kosong, entah kapan kini di depannya menggeletak piring mangkok dan sumpit serta cangkir dan poci, bersama hidangan yang selama ini belum pernah dirasakan. Po-giok seperti tidak sadar sejak kapan ia sudah menghabiskan hidangan sebanyak itu, padahal hidangan itu jarang ada dan mahal meski di restoran kelas satu di kota raja namun sukar Po-giok membedakan rasanya.

Pek-cui-Kiong-cu tetap bercokol di tempatnya, diam dan tenang tanpa bersuara, menunggu dan mengawasinya.

Mendadak Po-giok lompat berdiri dan berkata keras, "Jurus pertama dan jurus kedua dilancarkan secara terbalik, yang satu maju yang lain berbalik mundur, maju adalah mundur dan mundur juga maju, kedua jurus ini merupakan tipu serangan yang terampuh di dunia ini, namun letak kekuatan yang paling hebat dari kedua jurus ini justru terletak pada titik terlemah dari jurus ketiga, kedua jurus itu dilancarkan secara tajam dan ganas, sekali tusuk dapat menamatkan jiwa lawan, tapi bila jurus ketiga dilancarkan justru menempatkan diri sendiri pada posisi yang mematikan. Soalnya kedua jurus yang terdahulu terlampau kuat, sekali serang dan berhasil, maka urusan tiada kelanjutannya, merupakan titik tolak dari hidup menuju ke kematian. Tapi jurus ketiga adalah merupakan tipu yang paling lemah dan paling fatal yang pernah ada di dunia ini, entah jurus serangan apa saja sudah cukup membuat beres persoalan, maka kelanjutannya justru bisa berkepanjangan, jadi dari sudut kematian harus berjuang untuk mempertahankan hidup."

Sepanjang itu Po-giok berbicara penuh gairah matanya memancarkan sinar terang, wajahnya juga kelihatan cerah, lalu ia menambahkan dengan nada yang lebih lunak, "Dari sini dapat disimpulkan bahwa kuat adalah lemah, dan lemah juga kuat, ada kelebihan tapi tidak mencukupi, cukup tapi tidak berlebihan, kelihatannya satu dengan yang lain berbeda dan tidak sama padahal satu dengan yang lain mempunyai ikatan yang erat ikatan yang tidak boleh dipisahkan."

Terdengar kikik tawa dari balik cadar sutera, perlahan Pek-cui-Kiong-cu berkata, "Betul, itulah teori paling tinggi dari ilmu silat yang tiada taranya, di seluruh kolong langit, kecuali dirimu, memangnya siapa lagi yang dapat menjelaskan persoalan rumit ini."

"Memang Po-giok yang menjawab pertanyaan rumit dalam teori tinggi ini, namun kalau Kiong- cu tidak memberi tuntunan, memberi spirit dan memetik hikmahnya, mana mampu aku pecahkan persoalan ini."

"Jangan kau berterima kasih padaku. Coba kau tanya lagi pada dirimu sendiri, bahwa tiga jurus ilmu pedang itu memiliki kaitan yang mendalam, ikatan antara sebab dan musabab, ada hubungan yang kesinambungan, kalau ketiganya itu kau gabung dan dimanunggalkan, bagaimana pula hasilnya?"

"Kalau tiga unsur silat yang tiada taranya itu dapat dimanunggalkan menjadi satu, pasti tiada tandingannya di seluruh jagat."

"Nah, coba kutanya apakah ketiga jurus silat itu dapat manunggal?" Tanpa pikir Po-giok menjawab tegas, "Tentu dapat"

Maka coba kau tanya pada dirimu, cara bagaimana untuk membuat ketiga unsur silat itu manunggal?"

Habis bicara mendadak Pek-cui-Kiong-cu melayang pergi. Tinggal Po-giok melamun sendiri di tempatnya. Pek-cui-Kiong-cu telah meninggalkan persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan oleh Po-giok.

Kali ini lebih lama lagi Po-giok mengasah otak.

Entah kapan Pek-cui-Kiong-cu sudah kembali duduk di singgasananya, duduk diam tanpa bersuara, mengawasi Po-giok dengan penuh perhatian.

Akhirnya Po-giok angkat kepala dan membusungkan dada, katanya dengan nada lesu, "Aku salah." "Bagaimana kamu bisa salah?"

"Jurus pertama dan jurus kedua walau dapat digabung menjadi satu, tapi ketiga jurus tak mungkin manunggal kecuali begitu bergebrak dapat melancarkan jurus pertama dan kedua dari sudut mematikan dalam jurus ketiga itu ..."

"Apakah kau mau bilang pada saat bergebrak jurus pertama dan kedua dilancarkan dari sudut mematikan dan tidak perlu menggunakan titik kelemahan dari jurus ketiga, maka lawan takkan memperoleh kesempatan untuk merebut kemenangan."

"Betul," kata Po-giok, "karena pada waktu jurus pertama dan kedua dilancarkan, dalam sekejap itu, siapa saja takkan mungkin bisa balas menyerang, padahal kalau kedua jurus itu dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, siapa pun, meski dia seorang tokoh silat yang memiliki kepandaian setinggi langit juga takkan mampu melawan atau menangkisnya. Kalau lawan tidak mampu berkelit atau melawan, bukankah dia akan kalah?"

"Ah, kalau demikian, bukankah ketiga jurus itu dapat manunggal?"

"Tidak bisa! Karena jurus pertama dan kedua bagaimana pun tak mungkin dilancarkan dari sudut yang mematikan itu."

Apa yang diuraikan Po-giok memang masuk akal, memangnya manusia mana di dunia ini yang mampu melancarkan serangan dari depan kaki lawannya.

Tapi Pek-cui-Kiong-cu justru berkata, "Tiada sesuatu persoalan yang mutlak tidak bisa di dunia ini. Bila kau mau berpikir dan berpikir lagi, kau pasti dapat menemukan jalan keluarnya. Kalau tidak dapat menemukan jawabannya, maka aku anjurkan kamu jangan keluar dari sini."

Bergetar badan Po-giok, teriaknya, "Kenapa?"

Dingin suara Pek-cui-Kiong-cu, "Karena kalau kamu tidak mampu menjawab, untuk selamanya kamu tidak akan mampu keluar dari sini."

"Kiong-cu!" pekik Po-giok lantang, "kau ..."

Belum habis ucapannya, bayangan Pek-cui-Kiong-cu mendadak berkelebat dan tak kelihatan lagi ke mana ia pergi.

Kali ini Po-giok harus berpikir selama dua hari dua malam.

Waktu pertama kali Pek-cui-Kiong-cu muncul kembali ke tempat duduknya ia bertanya, "Sudah dapat jawabannya?"

Po-giok menjawab, "Kejadian itu tidak mungkin "

"Baiklah silakan istirahat "

Waktu Pek-cui-Kiong-cu kembali lagi untuk kedua kalinya, tanya jawab mereka tidak berbeda dengan yang pertama kali.

Tatkala ketiga kalinya Pek-cui-Kiong-cu duduk kembali di singgasananya, Po-giok masih tidur di atas kasur yang digelar di lantai, meski ia tidur telentang di lantai, tapi kedua matanya terbelalak lebar.

"Dengan langkah lembut seperti melayang Pek-cui-Kiong-cu mendekati, "Belum berhasil kau dapatkan jawabnya?"

Po-giok mengawasi kaki orang, katanya setelah menghela napas, "Aku belum "

Mendadak ia berjingkrak sembari bersorak gembira, "Aha, kini sudah aku temukan jawabnya

...sudah aku temukan jawabnya "

Seperti orang putus lotre ia lari berputar satu lingkaran lalu memburu ke depan Pek-cui-Kiong- cu katanya dengan napas tersengal-sengal, "kau benar, jurus pertama dan kedua memang dapat dilancarkan dari sudut yang mematikan itu, asal gaya dan gerakanmu serasi dan tepat, dari sudut dan arah mana pun dapat melontarkan serangan mematikan." "Apa betul?" ganti Pek-cui-Kiong-cu yang memekik tertahan.

"Urusan ini amat penting dan besar artinya, masa aku omong kosong."

Pek-cui-Kiong-cu termenung sebentar, lalu mengangguk dan mendesis perlahan "Bagus sekali

...bagus sekali ...bagus sekali ..."

Beruntun ia mengucap 'bagus' tujuh-delapan kali, mendadak ia berkata lantang, "Dengan berhasil menyatu padukan ketiga jurus ini, berarti kamu sudah tiada tandingan di kolong langit. Bahwa kamu sudah menjadi jago tanpa tandingan, maka tiada orang dapat menahanmu, lalu untuk apa masih berada di sini?"

Po-giok mengiakan, begitu berputar badan lantas melangkah pergi.

Pek-cui-Kiong-cu memang tidak merintanginya, namun seperti menghela napas perlahan.

Tak nyana hanya beberapa langkah Po-giok beranjak, mendadak ia putar balik dan berkata keras, "Aku belum boleh pergi."

"Kamu masih ada urusan? Kan sudah kukatakan pertanyaan yang kau ajukan sekarang belum bisa kuberi jawabannya. Mungkin kelak bila kau datang lagi ke sini, aku bisa dan akan ..."

"Bukan soal itu," tukas Po-giok tegas

"Aku ...bukan seorang diri kudatang ke sini, maka tidak boleh seorang diri pula aku pergi."

Bergetar cadar sutera di muka Pek-cui-Kiong-cu, entah karena menghela napas atau karena tertawa, namun suaranya berubah lembut, "Maksudmu kau ingin menunggu Siau-kong-cu?"

"Ya, aku mencarinya,"

"Dia tidak akan keluar, kalau kau ingin menunggunya, mungkin harus lama menunggu." "Umpama harus menunggu seumur hidup juga akan kulakukan."

"Apa benar kau dapat menunggunya seumur hidup?"

Po-giok melengong perlahan ia menunduk, katanya rawan, "Betul, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di luar sana. Duel dengan Pek-ih jin adalah tugas utama, aku tidak boleh lari dari kenyataan, aku ...tidak boleh membuat kecewa orang banyak yang memberi harapan padaku."

Mendadak ia menegakkan kepala dan membusungkan dada, serunya pula "Tapi kalau tanpa dia, adakah harapanku bisa menang?" suaranya menjadi serak dan tersendat.

"Kenapa kamu tak bisa menang?" tanya Pek-cui-Kiong-cu.

"Hidupku ini aku pertahankan untuk dua orang, pertama adalah Pek-ih-jin, aku harus hidup dan mengalahkan dia. Seorang lagi adalah Siau-kong-cu, kalau selama hidup ini aku memperoleh anugrah, mendapat nama dan sukses, semua adalah demi dirinya, kalau dia tidak berada di sampingku, aku ..."

Mendadak air matanya bercucuran, meski serak namun suaranya tetap lantang, "Kalau tidak ada Pek-ih-jin, kungfuku sekarang takkan mencapai taraf yang aku capai sekarang, tapi kalau tiada Siau-kong-cu, aku ...mungkin aku takkan bisa hidup sampai sekarang."

Beberapa kejap Pek-cui-Kiong-cu membungkam, lalu berkata perlahan, "Ternyata Pui-Po-giok juga begini romantis, siapa pun takkan menduganya, namun ...kenapa tidak langsung kau bicara saja terhadapnya?"

Po-giok menunduk, "Dia anak perempuan yang berhati keras, kukuh dan tegas, dia mengira aku belajar dan meyakinkan kungfu hanya untuk mengalahkan dia, di luar tahunya bahwa aku berjuang dan menggembleng diri hanya untuk menghadapi Pek-ih-jin, tak pernah terbetik dalam pikiranku untuk mengalahkan dia, membuatnya malu, aku ...sebetulnya aku rela dikalahkan dia, dalam segala persoalan mengalah dan dikalahkan olehnya ...apakah bisa aku menjelaskan isi hatiku ini kepadanya?" "Kalau aku menjadi dia ..." demikian ucap Pek-cui-Kiong-cu menghela napas, "aku akan percaya kalau aku menjadi dia, menghadapi cinta sejati, maksud yang tulus dan iklas seperti ini pasti tidak aku abaikan, aku justru lebih menyayangi dan mencintainya, cuma sayang dia ..."

Dari balik gordin sutera di sebelah sana mendadak seorang berteriak, "Aku juga mempercayainya sekarang aku mempercayainya "

Seorang mendadak menerobos keluar, seperti terbang menubruk ke dalam pelukan Po-giok, rambutnya yang panjang terurai agak kacau, wajahnya yang jelita kelihatan agak kuyu, dia bukan lain adalah Siau-kong-cu.

Dengan erat Po-giok memeluknya, seperti memeluk jiwa raga sendiri, entah berapa lama kemudian, perlahan Po-giok mengangkat dagunya, ribuan patah kata ingin dia ucapkan, namun mulutnya hanya berkata lirih, "kau jadi kurus."

Siau-kong-cu tersenyum sendu, mata terpejam dan kepala tertunduk, katanya malu-malu, "Karena merindukan engkau ."

Meski hanya beberapa patah kata mereka bicara, namun jauh lebih jelas dan gamblang dibanding rangkaian ribuan kata.

Dari balik gordin sutera sana kembali terdengar dua kali helaan napas berat ....

Di tengah helaan napas sudah tentu juga tercampur tertawa lega dan gembira, sayang Po-giok tidak mendengar, mereka tenggelam dalam buaian asmara.

Tapi Pek-cui-Kiong-cu mendengar jelas, sekilas ia menoleh ke arah sana, lalu berkata lembut, "Semoga Tuhan mengabulkan perjodohan mereka yang dimabuk cinta "

******

Pesisir laut itu tidak banyak beda dengan keadaan tujuh tahun yang lalu, waktu Ci-ih-hou berduel dengan Pek-ih-jin di tempat itu, air laut tetap berwarna biru sinar surya juga tetap cemerlang.

Pek-ih-jin yang tegak di pesisir juga mirip keadaannya tujuh tahun yang lalu. Dia tetap mengenakan pakaian serba putih. Pakaian putihnya itu di bawah terik matahari kelihatan terang dan menyolok mata, rambut panjangnya yang awut-awutan juga kelihatan legam dan mengkilap. Tubuhnya yang tegak laksana tonggak masih memancarkan hawa yang memancarkan nyali orang. Kalau dia kelihatan berubah tidak lain hanyalah sorot matanya yang bertambah tajam dan mencorong wajahnya kelihatan lebih tabah dan mantap, demikian pula pedangnya pedang panjang yang merengut sukma orang itu, dalam pandangan orang banyak

juga lebih menyilaukan, lebih besar daya sedotnya. Darah yang menetes pada ujung pedang juga bertambah banyak dan deras.

Tiga hari, telah tiga hari berlangsung pertarungan berdarah.

Orang-orang gagah, para ksatria di seluruh jagat berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru dunia, seolah-olah mereka sengaja datang untuk menyaksikan betapa hebat satu jurus tusukan pedang yang dapat mencabut nyawa itu. Entah berapa banyak manusia yang terbunuh oleh pedang itu cahaya cemerlang yang menyilaukan pada batang pedang itu lantaran selalu dicuci dengan darah manusia yang segar.

Pek-ih-jin berdiri di sana sambil memegang pedang panjang ia berdiri membelakangi lautan teduh nan luas tak kelihatan ujung pangkalnya, menghadapi orang seluruh dunia yang hari itu tumplek di pesisir laut timur itu.

Di tengah alunan ombak laut nan besar dan luas, kehadirannya di sana seperti amat terpencil kesepian dan sebatang kara. Sorot matanya menyapu pandang orang-orang di sekelilingnya lalu berkata dingin, "Tujuh tahun kungfu kaum Bu-lim di Tiong-toh selama tujuh tahun ini, kenapa

selain tiada kemajuan, justru lebih mundur malah. Setelah Ci-ih-hou mati, memangnya tiada generasi baru yang meneruskan kedudukannya?"

Perkataannya yang dingin tapi kaku dan ketus berkumandang di sepanjang pesisir yang dipagari manusia orang-orang gagah yang memadati pesisir lautan timur, namun tiada satu pun yang berani memberi jawaban. Walau darah dalam rongga dada mereka sudah mendidih, banyak yang ingin nekat menantang duel padanya. Tapi selama tiga hari ini, mayat demi mayat yang mati menjadi korban keganasan pedang orang berbaju putih ini sudah membuat ciut nyali mereka yang berdarah panas. Mereka yang berani tampil ke tengah gelanggang ternyata tiada satu pun memperoleh ampun, semua mati dan gugur, pantas juga kalau nyali orang banyak menjadi pecah, tiada jago yang berani menampilkan diri lagi.

Dari tengah orang banyak mendadak seorang berteriak lantang, "Kong-sun Put-ti, di mana kamu bersembunyi? Pui-Po-giok jelas belum kunjung tiba ... atau mungkin dia tidak berani datang? Nah, lekas kau tampil menggantikan dia. Memangnya murid didik perguruan Jing-ping semuanya setan pengecut yang bernyali kecil?"

Suara ini melengking tajam, kedengarannya mirip suara orang perempuan.

Maka terjadi keributan di tengah kerumunan orang banyak, yang pasti teriakan lantang ini memperoleh reaksi yang gegap, "Betul, Pui-Po-giok tidak berani datang, maka pantas kalau Kong-sun Put-ti menggantikan dia. Memangnya kalian tega melihat orang lain gugur satu persatu demi "

Teriakan demi teriakan semakin keras dan banyak.

Mendadak tampak seorang memburu keluar dari tengah orang banyak, sambil berlari mulutnya menggembor keras, "Kong-sun Put-ti dan Bok Put-kut sedang pergi mencari Pui-Po-giok, kalau kalian memaksa mereka menyerahkan jiwa, biar aku Kim Co-liu mewakili mereka mempertaruhkan jiwaku ini!"

Sambil menenteng tombaknya, seperti kesetanan saja Kim Co-lim menerjang ke arah Pek-ih- jin.

Pek-ih-jin berdiri kaku, mengawasinya dengan dingin, membiarkan orang menerjang dekat di depannya tubuhnya mendadak berkelebat, tanpa kuasa Kim Co-lin tersungkur ke sana dan langsung terjerumus ke laut.

Pek-ih-jin menyeringai dingin, "Aku datang demi menegakkan kebesaran ilmu silat, bukan untuk menyempurnakan arwah orang-orang yang gegabah dan bodoh, siapa pula di antara kalian yang ingin mampus, boleh silakan cari cara lain untuk menyerahkan nyawa, kalian tidak setimpal untuk kubunuh."

Kim Co-lin berdiri seperti patung di dalam air, nyalinya pecah dan tak berani main terjang lagi. Hadirin saling pandang, mereka juga takut dan menunduk tanpa berani banyak omong lagi.

perlahan Pek-ih-jin mendongak lalu menghela napas panjang, "Mayapada seluas ini, ternyata memang tidak ada lawan tangguh yang setimpal bergebrak dengan aku Umpama aku dapat

mengubah air laut menjadi merah dengan darah orang-orang itu, apa manfaatnya bagiku?"

perlahan pula ia menurunkan pedang panjang di tangannya, lalu melambaikan tangan "Pergilah, pergilah semua ... kuampuni jiwa kalian "

Betapa sedih dan malu orang banyak mendengar ocehan Pek-ih-jin rasa malu ini lebih terasa daripada jiwa mereka melayang karena terbunuh di medan laga.

Air mata membasahi wajah Kim Co lin mendadak ia berlutut di dalam air laut, sambil mendongak ia meratap pilu, "O Tuhan! Kecuali Pui-Po-giok apa benar tiada manusia lain di dunia ini setimpal melawannya? Apakah Pui-Po-giok saja manusia dan kita semua ini binatang? Kalau Pui-Po-giok tidak datang, memangnya kita harus mandeh dihina dan dicercah orang ini?

..."

Ratapannya yang memilukan, laksana cemeti menghunjam sanubari hadirin.

Dari ribuan penonton yang berjejal di pesisir hanya sedikit yang mukanya masih kering, saat- saat menyedihkan seperti ini merupakan detik yang paling memalukan, penghinaan yang terbesar selama hidup, sayang sekali, terpaksa mereka hanya bisa menghela napas menyesal dan menahan sabar.

Akhirnya ada juga orang yang penasaran, tidak kuat menahan sabar, tidak mau di hina. Di tengah keheningan yang mencekam itu, mendadak berkumandang tertawa dingin seorang, "Pui-Po-giok apa? Pui-Po-giok terhitung barang apa? Kalau berhadapan dengan aku, sepuluh Pui-Po-giok juga akan tamat di tanganku. Jika sejak tadi aku hanya berpeluk tangan, tidak mau turun gelanggang, itu karena aku ingin melihat manusia-manusia goblok berotak udang seperti kalian ini masih berapa banyak yang berani mati, bila sudah jatuh banyak korban dan tinggal sedikit saja baru aku orang tua akan turun gelanggang dan mengganyangnya."

Suara yang melengking tajam, ini jelas adalah suara orang perempuan yang bicara tadi. Hadirin gempar, tapi tiada orang tahu siapa gerangan perempuan yang bicara besar ini.

Terdengar suara itu berkata pula, "He, kenapa melamun saja? Hayo lekas beri jalan dan menyingkir yang jauh, biar aku orang tua menyaksikan orang macam apa sebetulnya bocah berpakaian putih itu, apa benar memiliki permainan yang mengejutkan."

Berubah juga air muka Pek-ih-jin, bola matanya lantas memancarkan cahaya yang gemerdep. Hadirin menjadi ribut, beramai-ramai mereka menyingkir memberi jalan. Maka tertampaklah empat gadis yang cantik rupawan dengan dandanan yang merangsang muncul sambil memikul sebuah tandu kecil.

Di atas tandu terbuka itu duduk setengah tiduran seorang perempuan setengah baya, walau wajahnya mulai berkeriput, namun sepasang matanya masih melirik-lirik memiliki daya tarik yang dapat menjatuhkan iman laki-laki mata keranjang. Perempuan ini menyanggul rambutnya dengan dandanan mirip keluarga keraton, berbagai macam perhiasan dengan aneka ragam warna melekat di kepala dan dadanya, pakaiannya terbuat dari sutera kualitas paling bagus sepasang kakinya ditutup dengan selembar kain sutera pula yang bersulam naga dan burung hong (phoenix).

Lebih menyolok lagi adalah pada tubuhnya menyelip delapan bilah pedang panjang yang berjajar, kedelapan pedang telanjang tanpa sarung yang sudah siap pakai, sinar yang terpantul dari batang pedang menyilaukan mata, seolah-olah tubuh orang perempuan ini yang memancarkan cahaya saja.

Agaknya tidak sedikit hadirin yang kenal siapa perempuan setengah baya ini, maka di sana-sini terdengar teriakan kaget orang."He, bukankah perempuan ini yang dijuluki Li-mo-than Ong-toa- nio yang belakangan ini menggemparkan dunia kang-ouw?"

"Benar, memang Ong-toa-nio. Konon Kong-sun Ang si jago pentung yang lihai itu juga dikalahkan olehnya. Mungkin hanya dia seorang yang mampu menghadapi Pek-ih-jin."

Ucapan terakhir ini kembali membangkitkan semangat hadirin. Siapa saja, tanpa pandang bulu, orang jahat atau pendekar, kawan atau lawan, bila dia dapat menandingi Pek-ih-jin, maka dia patut didukung, dibela dan dipuji, orang ini adalah ksatria di mata umum.

Bisik-bisik terdengar di sana-sini menjadikan paduan suara yang menggemparkan. Dengan kabar Ong-toa-nio menyapukan pandangannya ke empat penjuru, senyum bangga terkulum di ujung mulutnya.

Pek-ih-jin hanya mengawasinya dingin dengan mata setengah terpicing, "Ternyata seorang perempuan," ucapnya.

Ong-toa-nio menyeringai dingin, "Memangnya kenapa kalau perempuan? Biar perempuan aku mampu mencabut nyawamu."

"Lebih baik kau pergi dan pulang saja, selama ini belum pernah aku bergebrak dengan kaum hawa"

"Terserah kau mau turun tangan atau tidak, yang penting terimalah seranganku." perlahan tangan Ong-toa-nio bergerak, dua jalur sinar terang melesat lurus ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Serangan dua pedang ini hanya untuk memancing reaksi lawan, bila Pek-ih-jin bergerak, Ong- toa-nio akan menyusuli dengan serangan Cu-bo-tui-hun-toh-jiu-kiam.

Tubuh Pek-ih-jin justru tidak bergerak, hanya pedang di tangannya yang diobat-abitkan, di mana sinar pedangnya berkelebat, terdengar suara merantang yang memekak telinga, kedua batang pedang yang meluncur laksana samberan kilat itu seketika patah menjadi empat potong dan mencelat jatuh ke pasir.

Tapi dalam kejap yang sama, dua batang pedang lain tahu-tahu meluncur tiba pula.

Pedang di tengah Pek-ih-jin sedang bergerak keluar, terpaksa tubuhnya harus mendoyong sedikit. Tapi pedang kelima ternyata sudah menutup gerak tubuhnya.

Melotot mata Pek-ih-jin, di tengah gelak tawa yang panjang ia berkata, "Bagus, seranganmu memang lumayan."

Belum lenyap gelak tawanya, tubuhnya mendadak menyusut mundur, tapi pedang keenam yang ditimpukkan Ong-toa-nio tahu-tahu sudah meluncur tiba tanpa mengeluarkan suara, setelah dekat dan tinggal beberapa belas senti di depan mukanya mendadak bergerak terlebih cepat.

Hadirin melihat sinar pedang berkilauan, bagi pandangan mereka Pek-ih-jin sudah tidak ada jalan mundur untuk menyelamatkan diri, berkelit juga susah, maka pecahlah sorak-sorai orang banyak."

Di luar dugaan, gerak tubuh Pek-ih-jin yang kelihatan tak mungkin selamat oleh samberan pedang panjang itu, mendadak mencelat ke udara. Berubah hebat air muka Ong-toa-nio, tapi masih ada dua batang pedang ditangannya.

"Sambutlah yang terakhir ini, di tengah gemas suaranya mendadak tubuhnya juga meloncat dan pikulan tandu dan menyongsong ke arah Pek-ih-jin.

Tampak sinar pedang gemerdep mirip dua ekor naga yang saling gubat, berkelebat di udara yang cerah, kelihatan amat menyolok. Sementara pakaian putih Pek-ih-jin berkibar tertiup angin, gayanya mirip dewa yang turun dari kahyangan.

Tahu-tahu tubuh Ong-toa-nio melorot jatuh lurus di atas pasir jatuh telentang dengan suara keras. Pedang yang tersisa dua itu masih kencang terpegang di tangannya, sebuah luka tusukan tepat menghias di tengah kedua alisnya. Selama hidup Ong-toa-nio tidak sedikit kejahatan yang dilakukannya, namun hari ini dia gugur di medan laga demi membela kaum persilatan di Tiong-toh, tatkala hidup sepak terjangnya dicela dan dimaki orang, namun kematiannya hari ini memperoleh pujian orang banyak Ong-toa-nio dapat mati dengan tentram.

Hiruk-pikuk seketika sirap, hadirin menunduk kepala merasa malu dan gegetun, menghela napas dengan perasaan tak keruan.

Pek-ih-jin mengawasi noda darah di ujung pedangnya, katanya dengan bergumam, "Perempuan

...Sungguh tak nyana di antara kaum hawa juga ada tokoh selihai ini..."

Seperti orang kerasukan setan mendadak Kim Co-lin berjingkrak-jingkrak dalam air, sambil menuding ke sana ia berkaok gembira, "He, kalian lihat, apa itu ... apa itu ..."

Cepat Pek-ih-jin menoleh, air mukanya berubah untuk kedua kalinya.

Agak jauh di tengah laut, meski masih samar-samar, tapi sudah tampak sebuah layar kapal, berkembang. Itulah layar pancawarna yang gilang gemilang dahulu.

Sorak-sorai kembali bergema gegap gempita suaranya yang gemuruh bagai gugur gunung memekak telinga membumbung ke angkasa.

Cui-Thian-ki dan Oh-Put-jiu yang masih jauh di atas kapal juga mendengar suara gemuruh yang menggetar bumi dan menggoncang langit itu.

Memandang lepas dari jendela, pesisir laut luas sepanjang itu berjubel banyak orang, dipandang dari kejauhan mereka seperti puluhan ribu ikan dan udang berlompatan di dalam laut.

Dalam keadaan seperti ini mereka seperti lupa bahwa Ci-ih-hou sudah lama mati, mereka sudah melupakan segalanya, dalam pandangan mereka hanya tampak pancaran layar pancawarna yang berkembang cemerlang, demikian pula dalam sanubari mereka hanya teringat layar pancawarna yang melambangkan kebenaran. Mengawasi orang-orang yang menyambut kedatangannya, air mata Oh-Put-jiu berlinang.

Sebaliknya dalam pandangan Cui-Thian-ki saat itu tetap hanya ada Oh-Put-jiu seorang. Cui-Thian-ki mengawasi wajah Oh-Put-jiu, katanya dengan suara kuatir, "Kalau mereka tidak melihat Ci-ih-hou, entah bagaimana perasaan mereka? Mungkin kecewa?"

"Tidak," tegas jawaban Oh-Put-jiu, "Mereka tidak akan kecewa."

Mendadak ia menoleh menghadapi Cui-Thian-ki, selebar mukanya berubah menjadi merah legam laksana baja, dengan tandas ia berkata, "Aku tidak akan membuat mereka kecewa."

Cui-Thian-ki menunduk pedih suaranya rawan, "Jadi ... kau sudah berkeputusan menghadapinya?"

"Ya, aku tidak punya pilihan lain," tegas suara Oh-Put-jiu.

Cui-Thian-ki masih menunduk, diam sampai sekian lamanya. Sorak-sorai orang banyak yang menyambut kedatangan kapal layar pancawarna terasa makin keras, tambah gempita dan makin dekat. Suara gemuruh itu kecuali terasa amat senang tapi juga penuh harapan.

Entah berapa lama kemudian, akhirnya Cui-Thian-ki berkata perlahan, "Betul, memang pilihan lain ... pergilah ... aku merelakanmu ..."

Dengan erat Oh-Put-jiu pegang tangannya, air mata menetes di punggung tangannya, begitu dingin dan meresap air mata itu.

Katanya dengan mengertak gigi? "Engkau harus menjaga dirimu sendiri, aku ...aku mungkin takkan melihatmu lagi."

Cui-Thian-ki angkat kepalanya dengan kaget tanyanya gemetar, "Apa apa kamu?"

Oh-Put-jiu memejamkan mata sekejap, "Sudah lama kupikir, setiap jurus, setiap tipu pertarungan Ci-ih-hou melawan Pek-ih-jin tujuh tahun yang lalu telah aku cerna dengan teliti dan seksama, setelah kupikir pikir lagi akhirnya kudapatkan bahwa dengan bekal yang sudah aku miliki sekarang, aku masih bukan tandingan Pek ih jin. Umpama selama tujuh tahun ini, taraf kepandaian Pek-ih-jin mandek dan tidak memperoleh kemajuan, rasanya aku juga takkan bisa mengalahkan dia."

Bercucuran air mata Cui-Thian-ki, katanya dengan terisak, "Lalu kenapa engkau justru ingin menghadapinya Kenapa?"

Pedih tawa Oh-Put-jiu, "Walau aku tidak punya bekal silat untuk mengalahkan dia, tapi aku memiliki tipu mematikan untuk gugur bersama dia. Walau aku harus mati namun aku yakin dan punya pegangan dapat membuatnya luka parah yang pasti aku tidak akan membuat orang-

orang gagah di kolong langit ini kecewa."

Lalu Oh-Put-jiu membusungkan dada, katanya lantang, "Kalau aku sudah pasti akan mati, biarlah mati dengan imbalan setimpal, gugur demi membela kepentingan orang banyak, tidak perlu kecewa bila aku mati."

Bergetar tubuh Cui-Thian-ki, mendadak ia mendorongnya, "Betul! Nah, pergilah lekas."

Waktu Oh-Put-jiu melangkah keluar dari kabin. Cui-Thian-ki tergerung-gerung mendekam di geladak kapal.

Orang banyak memang tidak kecewa, melihat yang muncul di atas kapal meski bukan Ci-ih- hou, tapi sikap gaya dan wibawa orang ini jelas tidak lebih asor dibandingkan Ci-ih-hou dulu.

Mendadak sorak-sorai yang gempita itu sirap serentak. Suasana gembira berganti rasa tegang mencekam.

Oh-Put-jiu sudah berhadapan dengan Pek-ih-jin.

Wajah Pek-ih-jin semula putih pucat, kini berubah merah seperti bara menyala, matanya memancarkan cahaya berkilauan mengawasi Oh-Put-jiu, perlahan ia berseru, "Bagus sekali bahwa Ci-ih-hou mempunyai seorang pewaris, akhirnya aku menghadapi lawan setimpal."

Oh-Put-jiu diam saja, ia tidak mau bicara, tiada yang perlu dia bicarakan, karena dalam keadaan dan waktu begini banyak bicara tidak berguna lagi. perlahan Oh-Put-jiu mengangkat pedang dan mengucap sepatah kata, "Silakan!"

Beberapa saat lagi Pek ih-jin berdiri diam, setelah rona merah di wajahnya mulai pudar, baru perlahan ia mengangkat pedang panjang, "Silakan!"

Sinar surya seperti mendadak menjadi guram kehilangan pamornya karena perpaduan pantulan sinar kedua pedang yang siap tempur ini.

Cui-Thian-ki yang berada di atas kapal diam-diam sudah menyiapkan sebilah badik yang ditujukan ke hulu hatinya. Pada saat Oh-Put jiu gugur di medan laga, pada detik itu pula ia akan menyusulnya ke alam baka.

Pedang panjang sudah mulai bergerak di bawah cahaya matahari, kaki juga mulai menggeser di permukaan pasir. Beberapa kejap lagi pasir laut yang semu kuning ini akan dikotori darah yang masih segar.

Sekonyong-konyong dari kejauhan seorang berteriak lantang, "Pek-ih jin adalah lawanku! Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia ....Siapa pun dilarang bergebrak dengan dia "

Penonton yang berada di garis belakang mendadak berjingkrak dan bersorak gembira. "Pui-Po-giok! Pui-Po-giok datang!"

Pedang panjang yang sedang bergerak mendadak berhenti di udara.

Sesosok bayangan orang mendadak meluncur tiba bagai seekor burung raksasa melayang lewat atas kepala orang banyak dan meluncur turun dari udara.

"Pui-Po-giok itu dia Pui-Po-giok,"

Kecuali ketiga huruf nama itu, seolah-olah tiada suara lain di mayapada ini.

Badik di tangan Cui-Thian-ki yang siap menusuk dada sendiri jatuh di geladak. Pedang panjang di tangan Oh-Put-jiu yang siap berduel di pesisir juga jatuh di atas pasir, mereka hanya mendengar suara gemuruh, "Pui-Po-giok ...Pui-Po-giok. "

Mau-tidak-mau mulut mereka ikut bersorak gembira, "Po-giok, akhirnya kau pun datang."

Mendadak Pek-ih-jin membalik badan, menghadapi pemuda yang baru datang itu, pemuda ini juga berpakaian serba putih, sekujur badan pemuda ini seperti memancarkan cahaya, orang tidak kuat mengawasinya lebih lama, sukar melihat wajahnya.

Dengan kalem pemuda ini melangkah maju, menjemput pedang Oh-Put jiu yang jatuh di pasir dengan enteng dia genggam sekejap tangan Oh-Put-jiu. Oh-Put-jiu manggut-manggut mereka tidak bicara.

Tenggorokan mereka serasa tersumbat, lidah juga kelu, tak mampu bicara sama sekali.

Maka pedang panjang yang akan menentukan nasib kaum persilatan di Tiong-goan kini berganti tuan, tanpa basa-basi secara langsung beralih dari tangan Oh-Put-jiu ke tangan Pui-Po-giok.

Oh-Put-jiu mendongak ke langit, mulutnya komat-kamit, entah senang atau sedih, susah melukiskan perasaan hatinya saat itu.

Pada saat itu ia merasakan tangan seorang telah menggenggam tangannya dari belakang, tangan yang gemetar tapi juga hangat, umpama beberapa saat ini ia pernah kehilangan sesuatu, tapi yang dia peroleh sebagai gantinya sekarang sudah melebihi batas.

Dari pucat dingin wajah Pek-ih-jin berubah merah membara pula, mulutnya bertanya dengan mendesis, "Pui-Po-giok jadi kamu ini Pui-Po-giok?"

"Betul, akulah Pui-Po-giok aku pasti dapat mengalahkan engkau ." "Apa kau mampu? Semoga kau mampu mengalahkan aku "

Tertawa yang kaku seperti membayangkan perasaan yang bosan dan kesal. Seolah-olah sudah terlalu sering dan banyak mendengar perkataan yang sama, juga seolah-olah karena terlalu banyak menang, tidak pernah kalah. Apa benar tidak pernah kalah juga merupakan penderitaan?

Po-giok tidak memikirkan soal ini, orang lain juga tidak diberi kesempatan untuk mencerna perkataan ini. Dia hanya mengucapkan "Silakan" dengan nada rendah.

Belum lenyap gema sepatah katanya, pedang panjang di tangannya pun bergerak.

Kejap yang menggetar sukma orang, kejap yang bakal menggemparkan orang banyak, kejap yang mungkin menggetar bumi menggoncang langit. Seperti udara yang semula mendung guram mendadak mega tersingkap dan muncul cahaya benderang.

Sinar pedang mirip dua ekor naga yang saling gubat dan berkelahi saling cakar dengan seru, dua bayangan putih berlompatan di tengah lingkaran cahaya pedang, sukar dibedakan mana Pui-Po-giok dan siapa Pek-ih-jin.

Tapi setelah terjadi benturan keras yang menimbulkan dencing suara yang ramai dari beradunya kedua pedang, sinar pedang yang menggugur gunung itu pun mendadak sirna, pedang di tangan mereka masih teracung di udara, ujung pedang beradu dan saling tindih.

Pek-ih-jin berhadapan dengan Pui-Po-giok, tapi mereka bukan lagi manusia melainkan lebih mirip dua bongkah batu es yang dingin! Tapi juga mirip dua gumpal bara yang menyala.

Mata mereka saling tatap, satu sama melotot pada yang lain, mata itu juga tidak mirip mata manusia, tapi lebih mirip mata binatang, mata serigala atau mata elang.

Dada hadirin seperti mendadak tersumbat, napas menjadi sesak, perasaan mereka tertekan dan rasanya hendak meledak.

Entah berapa lama kemudian, kaki Po-giok mendadak bergerak, mundur dan mundur terus, sebaliknya Pek-ih-jin mendesak maju dan terus maju, jarak mereka tetap ketat, pedang di tangan Po-giok sudah tertekan turun ke bawah.

Banyak lutut para hadirin mulai goyang, telapak tangan berkeringat, badan pun basah dan gemetar.

Mendadak secepat kilat Po-giok menyurut mundur empat langkah, mendadak pula tubuhnya ambruk ke depan dengan kaku, ambruk mencium pasir tepat di depan kaki Pek-ih-jin.

Kalau pedang Pek-ih-jin diturunkan, maka kepala Pui-Po-giok akan terpenggal putus dari badannya. Tapi perbuatan Po-giok seperti di luar dugaannya, sedetik pedang panjangnya merandek di udara. Karena dengan cara demikian, betapapun ia tidak mungkin menusuk mati Po-giok tepat di tengah kedua alisnya, karena bumi nan luas telah melindungi muka Po-giok.

Perasaan hadirin menjadi beku, hati mereka hancur luluh, tidak sedikit yang menjerit serak.

Tapi baru saja jeritan penonton keluar dari mulut, sebelum pedang Pek-ih-jin bergerak lebih lanjut.

Selarik sinar pedang mendadak berkelebat dari depan kaki Pek-ih-jin, disusul darah segar menyembur deras serempak dengan sinar pedang yang mencuat ke angkasa.

Tubuh Pek-ih-jin terhuyung beberapa langkah, lalu berdiri limbung, mendadak ia mendongak dan bergelak tawa. "Jurus pedang yang bagus ...sungguh menakjubkan dan tiada taranya di dunia."

Di tengah gelak tawanya ia roboh terjengkang ke belakang.

Suara mendadak sirap, deru angin laut dan gelombang ombak juga seperti mendadak berhenti, alam semesta menjadi sunyi senyap.

Entah apa yang terjadi, yang terang orang banyak menyaksikan Pek-ih-jin yang mereka pandang sebagai momok menakutkan itu akhirnya roboh dan takkan bangun lagi. Tapi tidak ada sorak-sorai, perasaan mereka seperti mendadak berubah berat dan prihatin.

Apa pun yang telah terjadi, walau Pek-ih-jin dipandang momok terbesar selama ini, namun orang banyak sama mengakui, momok ini adalah tokoh silat yang maha sakti boleh dianggap malaikat dalam kalangan persilatan. Seakan-akan orang ini hanya hidup dan dilahirkan sebagai insan persilatan, kini dia pun gugur karena membela dan menegakkan persilatan. Lalu baik atau jahatkah perbuatannya selama ini? Siapa bisa menjawab? Siapa berani menjawab?

Po-giok berjongkok mengawasinya, daripada dibilang hatinya gembira, lebih tepat kalau dikatakan hatinya kagum, sedih juga menyanjungnya. Orang yang kini menggeletak di depannya adalah orang yang menjadi tumpuan antara cita-cita dan tujuan hidupnya, orang yang menyebabkan dirinya "jadi manusia" sekarang. Dalam dunia seluas ini, memangnya berapa orang yang bisa mensukseskan harapan hidup dan cita-citanya secara menyeluruh?

Pek-ih-jin rebah tenang di atas pasir, dadanya turun naik, napasnya berat. Mendadak ia membuka mata, mengawasi Po-giok, ujung mulutnya mengulum senyum, ia bergumam lirih "Aku berterima kasih padamu ..."

Po-giok melengong, kepalanya menunduk lebih dalam, "Kenapa engkau berterima kasih padaku malah? Akulah yang membunuhmu."

Pek-ih-jin mengawasi gumpalan mega di angkasa raya katanya dengan nada memilukan, "Selamanya engkau takkan bisa menyelami perasaanku orang macam diriku hidup di dunia ini merasakan betapa sunyi ..."

TAMAT