MKLP Jilid 07. Misteri Kapal Layar Pancawarna

 
Jilid 07. Misteri Kapal Layar Pancawarna

Wajah Ci-ih-hou yang pucat dan tenang itu pun timbul semacam cahaya yang aneh dan menambah daya tariknya yang misterius.

Jari tangan Pui Po-ji pun gemetar, meski ia tidak suka ilmu silat, tapi melihat pertempuran yang mahadahsyat segera akan berlangsung, betapa pun ia ikut tegang dan penuh semangat, dirasakan tangan Cui Thian-ki yang memegangnya itu juga berubah dingin.

Ketegangan para kesatria yang berkerumun di tepi pantai sana juga jauh di atas Po-ji dan Thian-ki, sebab mereka sudah melihat si baju putih, tokoh misterius pujaan dunia Kangouw kini pun sudah mendekat pantai bersama Oh Put-jiu.

Sorakan gemuruh yang memekak telinga bahkan menenggelamkan suara gemuruh ombak yang mendebur.

Namun sorak gemuruh itu tidak membuat air muka si baju putih yang dingin itu berubah sedikit pun, ia tatap panji pancawarna kapal layar dengan termenung.

Sementara itu Siu Thian-ce membawa keempat pembantu utamanya telah memburu tiba untuk menyambut tamu agung. Tapi salah seorang pembantunya yang berewok seketika gemetar dengan wajah pucat demi melihat tokoh misterius berbaju putih ini serupa melihat setan saja, kaki pun tidak mau turut perintah lagi, sukar bergerak dan bergemetar.

Dengan sendirinya si baju putih juga melihatnya, sinar matanya berkelebat dan mendadak berubah arah, langsung ia mendekati Siu Thian-ce berlima.

Tentu saja si lelaki berewok kebat-kebit, ngeri juga Siu Thian-ce dan ketiga orang lain melihat sorot mata orang yang tajam.

"Eng ... engkau belum lagi mati " si lelaki berewok itu berucap dengan
gemetar.

Si baju putih mencibir, sorot matanya yang tajam dingin itu menampilkan rasa menghina, ucapnya sekata demi sekata, "Kau tidak setimpal membuat kuturun tangan padamu."

Ia putar haluan dan langsung menuju ke pantai.

Lelaki berewok itu menghela napas lega, mendadak ia jatuh duduk terkulai dengan mandi keringat.

"Sesungguhnya apa yang terjadi?" dengan heran Siu Thian-ce coba tanya pembantunya itu.
 
"Orang ini menumpang kapal dan datang dari kepulauan Tong-eng (kepulauan Okinawa)," tutur lelaki berewok. "Di teluk Losan, anak buah hamba menemukan barang muatan pada kapalnya tidaklah ringan, seperti sebangsa emas perak.
Maka dikirim penyelam untuk membobol kapalnya sehingga tenggelam. Tampaknya orang ini pun ikut karam ke dalam laut, jarak tempat kapal karam dengan pantai lebih satu li jauhnya, semua orang yakin dia pasti akan terkubur di dasar laut, siapa tahu ... siapa tahu dia ternyata tidak mati."

Ia tidak tahu Lwekang si baju putih ini sudah mencapai tingkatan paling sempurna, sehingga sanggup tahan napas sekian lamanya, sesudah ikut tenggelam ke dasar laut, dengan ilmu membuat berat badan sendiri, ia berjalan dari dasar laut menuju ke pantai, karena munculnya si baju putih dari dasar laut tidak sempat dilihatnya, maka ia sangka orang sudah terkubur di dasar laut, sama sekali tak terpikir olehnya tokoh baju putih yang sedang ditunggu orang banyak inilah tokoh misterius itu.

"Ada berapa penumpang di kapalnya itu?" tanya Siu Thian-ce dengan suara tertahan.

"Cuma ... cuma satu orang," tutur lelaki berewok itu. "Melihat dia mengarungi lautan luas hanya sendirian saja, segera hamba tahu dia pasti orang yang luar biasa. Malahan lebih dari itu, hamba hanya pernah dilihatnya sekilas saja, ternyata sampai sekarang dia masih ingat padaku. Siapa pun tidak menyangka bahwa barang yang termuat pada kapalnya itu ternyata bukan barang mestika segala melainkan sebangsa besi yang beratus ton beratnya untuk menahan kapalnya agar tidak terbalik oleh damparan ombak samudra."

"Dan sekarang dia justru mengampunimu," ucap Siu Thian-ce dengan gusar. "Ya, dia tidak menuntut balas kepada hamba, sungguh di luar dugaan "
"Dia dapat mengampunimu, akulah yang tidak dapat memberi ampun padamu," bentak Siu Thian-ce dengan gusar. "Kau ternyata tidak mengindahkan moral dan etika pelayaran laut dan merampok terhadap penumpang yang sendirian, apa dosamu tentu kau tahu sendiri?"

Pucat muka si berewok, ucapnya gemetar, "Ya, hamba tahu tahu dosa."

"Jika tahu, harus kau bereskan diri sendiri," kata Siu Thian-ce dengan bengis. Habis berkata, tanpa memandangnya lagi ia melangkah ke sana, menyusul si baju putih.

Si berewok menengadah dan menghela napas panjang, ratapnya, "O, nasib "

Mendadak ia berlutut kepada ketiga lelaki kawannya, ucapnya pedih, "Mohon ketiga saudara sudi mengingat hubungan baik yang lalu dan suka menjaga anak istriku "

Dengan wajah sedih ketiga orang itu menjawab, "Jangan khawatir "

Hanya sekian saja mereka sanggup bicara, mereka lantas berpaling, seperti tidak tega memandangnya lagi.

Si berewok menyembah beberapa kali dan mengucapkan terima kasih. Segera ia melolos sebilah belati dari sepatu kulitnya yang berlaras panjang itu, langsung ia menikam dada sendiri. Terdengar suara raungan dengan darah segera muncrat, tubuhnya roboh terkulai perlahan dan putus nyawanya.
 

Ketiga lelaki itu mengangkat mayat kawannya dan menyusul juga ke arah si baju putih.

Ketika mendengar raungan tadi, si baju putih sempat menoleh sekejap.

Siu Thian-ce sudah menyusul sampai di belakangnya, katanya sambil menghormat, "Bawahanku bertindak kurang pantas, namun hukum laut tidak boleh dilanggar "

Si baju putih seperti tahu si berewok pasti akan membunuh diri dan tahu orang akan membawa mayat kepadanya, tanpa menoleh ia membentak, "Bawa pergi!"

Ketiga lelaki tadi mengiakan.

Lalu Siu Thian-ce berkata pula, "Meski orang yang bersalah sudah mendapatkan hukuman setimpal, namun orang she Siu masih wajib mengganti rugi kapal Anda. Setengah jam lagi akan datang sebuah kapal layar baru."

Hanya sekejap si baju putih menatapnya dan tidak bicara lagi, dengan langkah lebar ia menuju ke tepi pantai. Angin agak mereda, ombak masih mendebur meratakan bekas kaki yang memenuhi pesisir.

Terdengar suara halus berkumandang dari kapal layar jauh di laut sana, "Ilmu pedang Anda tidak ada bandingannya dan pantas disebut pendekar pedang tanpa bandingan, apakah Anda sudi bertempur denganku di tengah laut?!"

Suaranya halus lembut, namun sekata demi sekata terdengar dengan jelas serupa orang yang bicara di tepi telinga.

Semua orang sama melengak dan mengakui betapa kuat Lwekang orang.

Namun si baju putih tetap bersikap dingin, ucapnya perlahan, "Cara bagaimana harus bertempur di tengah laut?"

Suaranya juga perlahan, datar dan berkumandang jauh ke laut sana menembus debur ombak dan deru angin.

Cui Thian-ki, Pui Po-ji dan para gadis jelita yang berada di atas kapal juga sama terkejut dan diam-diam berkhawatir bagi Ci-ih-hou.

"Apakah Anda ingin penjelasan?" terdengar Ci-ih-hou menanggapi. "Kukira tidak perlu lagi," jawab si baju putih setelah termenung sejenak.
"Kita menumpang kapal bersama dan bertemu di tengah laut, setuju," kata Ci-ih- hou pula.

"Baik," jawab si baju putih. Meski jarak kedua orang sekian jauhnya, namun cara bicara mereka serupa berhadapan dekat, meski keduanya tahu pertarungan ini akan menentukan mati-hidup masing-masing, tapi cara bicara mereka tetap tenang saja.

Akan tetapi setiap orang yang berada di tepi pantai, di atas kapal, dan mendengar percakapan mereka itu, semua merasa tegang sekali.

Ketika Siu Thian-ce memberi tanda, segera sebuah sampan meluncur tiba. Si
 
baju putih memandang Oh Put-jiu sekejap, katanya, "Kau mau menjadi tukang sampan bagiku?"

"Tentu saja!" jawab Oh Put-jiu tanpa ragu.

Segera Oh Put-jiu menyuruh tukang sampan melompat turun, ia sendiri menggantikannya memegang pendayung. Si baju putih melompat ke haluan sampan dan sampan pun meluncur dengan cepat ke depan.

Di sana Ci-ih-hou juga sudah keluar dan anjungan kapalnya, dengan tersenyum ia berkata kepada orang yang sedang melapor dengan sampan tadi, "Pertarungan ini sangat berbahaya, apakah kau suka menjadi tukang perahuku?"

Tentu saja orang itu merasa mendapat kehormatan besar, dengan semangat ia menjawab, "Hamba ... hamba merasa sangat bangga " suaranya tersendat
dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Ci-ih-hou menoleh dan memandang Siaukongcu sekejap seperti ingin bicara, tapi tiada sepatah pun yang terucap dan segera ia melompat ke atas perahu.

Semua penumpang kapal layar pancawarna sama berlinang air mata, ingin bicara tapi sukar bersuara. Siaukongcu menggigit bibir, air mata hampir menitik, meski ia gigit bibir dan bertahan sekuatnya hingga bibir pun pecah, tidak urung air mata pun menetes akhirnya dengan derasnya.

Beratus, bahkan beribu pasang mata sama memandang ke tengah laut sana. Sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja gemilang menyinari permukaan laut dan memantulkan cahaya berwarna-warni. Kedua sampan semakin mendekat.

Ci-ih-hou mengangkat pedangnya dengan kedua tangan dan berucap, "Silakan!" Si baju putih juga angkat pedang dan menjawab, "Silakan!"
Serentak terdengar suara pekikan serupa naga meringkik, di bawah cahaya senja mendadak bertambah dua jalur cahaya pedang yang menyilaukan mata.

Oh Put-jiu masih terus mendayung, tangan pun penuh keringat karena tegangnya. Ia coba memandang ke depan, terlihat si baju putih yang berada di haluan perahu berdiri tegak lurus dengan ujung pedang lurus miring ke depan.

Ci-ih-hou di haluan perahu depan sana juga berdiri tenang dengan pedang terhunus, meski sampan bergoyang-goyang, namun ujung pedangnya tampak mantap.

Jarak kedua perahu semakin dekat, sinar mata kedua orang sama menatap tajam pihak lawan tanpa menghiraukan lain lagi. Muka Ci-ih-hou tambah pucat, sorot mata si baju putih yang penuh semangat semakin membara.

Sekonyong-konyong kedua sampan lewat bersimpang, pedang Ci-ih-hou menebas lurus ke depan.

Jurus serangan ini tiada sesuatu yang istimewa, hanya ujung pedang kelihatan gemerdep, dalam sekejap saja bergetar berpuluh kali sehingga berpuluh Hiat-to di tubuh si baju putih terkurung di bawah sinar pedangnya. Akan tetapi gerak pedang tidak diteruskan, jelas gerak serangan, ternyata sesungguhnya adalah jurus bertahan yang paling menakjubkan di dunia ini.
 

Pergelangan tangan si baju putih berputar, pedang pun sekaligus berubah puluhan tempat, akan tetapi juga tidak berani melancarkan serangan di bawah jurus pedang Ci-ih-hou itu.

Tiba-tiba ombak mendampar, kedua sampan terpencar.

Setelah bergebrak satu jurus itu, Ci-ih-hou dan si baju putih kembali pada sikap tenang semula. Ketegangan para penonton pun ikut terempas lega.

Oh Put-jiu paling beruntung, karena dapat menyaksikan pertarungan itu dari dekat. Ia merasa jurus serangan Ci-ih-hou itu meliputi intisari berbagai Kungfu perguruan ternama, semuanya merupakan jurus serangan yang paling ampuh. Bahwa dalam satu jurus saja Ci-ih-hou dapat mengembangkan inti berbagai jurus serangan lihai itu, sungguh sukar dimengerti cara bagaimana dia menciptakannya.

Ketika ombak mendampar lagi, kedua perahu berpapasan pula. Sekali ini pedang Ci-ih-hou terangkat tinggi tanpa bergerak. Gaya ini jelas gaya bertahan belaka. Tapi sikap si baju putih lebih prihatin daripada tadi, ia pun angkat pedang ke atas, ia tahu gaya lawan yang kelihatan bertahan itu sebenarnya mengandung gaya serang susulan yang sukar diraba.

Angin menderu, ombak mendebur, sampan bergoyang, namun si baju putih sedikit pun tidak bergerak. Sebab ia menyadari, sedikit salah gerak dan memperlihatkan peluang tentu sukar lagi lolos di bawah pedang Ci-ih-hou.

Jadi keduanya tetap berdiri tegak serupa patung di atas sampan masing-masing. Oh Put-jiu sampai melongo dan menahan napas saking tegangnya, sukar lagi baginya untuk mendayung, sedikit merandek sampan lantas terhanyut mundur sehingga jarak Ci-ih-hou dan si baju putih terpisah beberapa tombak jauhnya.

Setelah dua gebrakan ini, Oh Put-jiu merasa hasil pertarungan ini sangat besar kemungkinannya dimenangkan Ci-ih-hou, sebab ilmu pedangnya jelas sudah sangat sempurna, jika ada ilmu pedang lain yang dapat mengalahkan dia, maka hal ini sukar untuk dipercaya.

Diam-diam Oh Put-jiu merasa lega, juga merasa pedih. Meski si baju putih ini dirasakan sebagai musuh bersama setiap orang persilatan, namun jiwa dan perilaku orang ini pun pantas dipuji dan dihormati.

Karena termenung sejenak, ia lupa mendayung. Begitu juga lelaki yang menjadi tukang perahu Ci-ih-hou pun melongo dan lupa mendayung sampannya. Waktu ombak mendampar lagi, jarak kedua sampan tambah jauh.

Ci-ih-hou dan si baju putih masih tetap berdiri dengan gaya semula tanpa bergerak. Sungguh Oh Put-jiu ingin kedua sampan ini terhanyut terpisah untuk selamanya dan tidak kembali lagi, agar pertarungan kedua tokoh misterius itu selamanya tidak diketahui kalah dan menang. Sebab siapa yang kalah atau menang tetap merupakan pukulan baginya.

Mendadak terdengar suara "brak" disertai guncangan sampan. Ternyata sampannya telah patah menjadi dua, haluan sampan tempat berdiri si baju putih telah berpisah dengan badan sampan.

Rupanya si baju putih menjadi tidak sabar menunggu, diam-diam ia mengerahkan Lwekang untuk menggetar patah sampan itu.
 

Tampaknya Ci-ih-hou juga berpikir sama, sampan yang ditumpanginya juga kelihatan patah menjadi dua.

Oh Put-jiu dan lelaki itu tidak sanggup menahan keseimbangan sampannya lagi, ketika ombak mendampar, mereka sama tercebur ke dalam laut.

Kejadian ini membuat gempar para penonton.

Sementara itu keadaan bertambah tegang, Ci-ih-hou dan si baju putih sama- sama membawa sebagian haluan sampan yang patah itu dan terapung di atas ombak, jarak keduanya semakin dekat.

Mendadak berkelebat pula cahaya perak di tengah gemilapan cahaya senja, hanya dalam sekejap saja pedang Ci-ih-hou dan si baju putih sudah saling serang berpuluh kali.

Para penonton hanya melihat sinar pedang berkelebat dan sukar membedakan serangan siapa. Sekonyong-konyong terdengar lengking nyaring menggema angkasa.

Di tengah lengking nyaring itu bayangan Ci-ih-hou tampak bergoyang-goyang terus terjungkal ke dalam laut. Sebaliknya si baju putih mengangkat pedangnya tanpa bergerak lagi.

Dada semua penonton serasa sesak karena menahan napas, mulut melongo tanpa suara.

Sampai sekian lama suasana sunyi senyap di tepi pantai, lalu suara jerit kaget dan khawatir meledak serentak. Sebagian besar kawanan gadis jelita di atas kapal layar pancawarna sama jatuh terkulai dan menangis sedih. Siaukongcu pun jatuh pingsan. Pui Po-ji juga melongo dan terbelalak seperti orang linglung.

Melihat tubuh si baju putih yang kaku serupa patung itu mengapung ke tepi pantai, meninggalkan cahaya senja yang kemilauan di tengah debur ombak laut.

Suara jerit kaget dan khawatir tadi mereda, semua orang sama menunduk sedih
....

Dalam keadaan mencekam itulah, tiba-tiba di tengah gelombang ombak laut itu muncul sesosok bayangan orang, meski sekujur badan basah kuyup, namun sikapnya tetap agung berwibawa serupa malaikat yang baru muncul dari laut.
Siapa lagi dia kalau bukan Ci-ih-hou.

Sungguh kejut dan girang para penonton tak terkatakan, kejadian tak terduga ini sungguh membuat mereka melongo tidak habis mengerti.

Si baju putih akhirnya mencapai pantai, sedangkan Ci-ih-hou lantas melompat kembali ke atas kapal layar pancawarna.

Air muka si baju putih tidak menampilkan sesuatu perasaan, namun sinar matanya tambah dingin, mendadak ia berucap dengan suara berat, "Di mana kapalnya?"

Si naga jenggot merah alias Siu Thian-ce melengak, baru saja ia menyadari pertanyaan itu ditujukan kepadanya, tiba-tiba dari kerumunan orang banyak seorang berkata, "Di sana!"
 

Selaku kepala bajak, dengan sendirinya ia harus pegang janji. Ia sudah menyatakan akan ganti rugi sebuah kapal kepada si baju putih, maka tidak peduli mati atau hidup, kalah atau menang, sejak tadi kapal itu sudah disiapkan untuk si baju putih.

Waktu si baju putih memandang ke arah yang ditunjuk, benar juga terlihat sebuah kapal baru berlabuh belasan tombak di sebelah sana. Ia cuma memandang sekejap, lalu berpaling dan berucap terhadap kapal layar pancawarna, "Ilmu pedang Anda memang benar tiada bandingannya di dunia ini."

Ci-ih-hou masih berdiri di haluan kapalnya, dengan sikap khidmat ia menjawab, "Sikap kesatria Anda sungguh pantas menjadi teladan segenap orang persilatan di dunia ini, sungguh aku sangat kagum dan hormat."

"Menang tidak takabur, kalah tidak perlu patah semangat!" ucap si baju putih. "Dan ke mana Anda akan pergi sekarang?" tanya Ci-ih-hou.
"Ke tempat jauh yang tak dapat kusebutkan," jawab si baju putih. "Jika begitu kuucapkan selamat jalan!"
"Terima kasih!"

Begitulah kedua orang itu bercakap dari jauh, sejenak kemudian, si baju putih menambahkan pula, "Kekalahanku ini takkan kulupakan selama hidup, tujuh tahun kemudian aku akan datang kembali untuk membersihkan noda kekalahan ini."

Begitu selesai berucap, sekali berkelebat, secepat terbang ia melayang ke atas kapal baru yang disiapkan untuk dia itu.

Baru sekarang semua penonton tahu jelas bahwa pertandingan tadi telah dimenangkan oleh Ci-ih-hou. Maka tak tertahan lagi sorak-sorai gegap gempita.

Wajah setiap orang sama berseri gembira oleh kemenangan gemilang ini, sementara penonton yang bersorak-sorai terus menumpang sampan dan didayung mendekati kapal layar pancawarna, banyak yang tidak kebagian sampan sama kecebur ke laut dan akhirnya sampan pun terbalik.

Menyaksikan kejadian yang mengharukan itu Pui Po-ji pun berjingkrak kegirangan sambil merangkul Cui Thian-ki dan berteriak, "Hidup Ci-ih-hou!"

Dikecupnya sekali Po-ji oleh Cui Thian-ki sambil berucap dengan tertawa, "O, sayang!"

Nyata suasana gembira ini meliputi segenap lapisan dunia persilatan itu, semuanya ikut merasakan kemenangan itu dan merasa bangga.

Kawanan gadis di atas kapal layar pancawarna terlebih gembira serupa orang gila, mereka saling rangkul dan berjingkrak serta berpesta pora.

Thi Kim-to yang berjubel di tengah orang banyak berteriak, "Kan sudah kukatakan, ilmu pedang Houya kita tidak ada bandingannya di kolong langit ini, mana bisa beliau dikalahkan makhluk aneh itu."
 
"Hehe, lucu juga makhluk aneh itu belum lagi rela, ia bilang tujuh tahun kemudian akan datang lagi," kata seorang lain.

"Biarpun dia datang lagi tujuh tahun kemudian bisa berbuat apa," teriak Thi Kim- to dengan terbahak. "Haha, paling-paling ia akan kabur lagi dengan mencawat ekor."

"Haha, ucapan kawan Thi memang betul " Serentak semua orang tertawa
gemuruh.

Oh Put-jiu telah merangkak ke atas kapal dari laut, melihat suasana gembira itu, ia pun sangat senang, tapi juga terasa agak kesal dan sedih. Ia lihat Ci-ih-hou berdiri tegak di haluan kapal, mukanya yang pucat tidak kelihatan semangat orang yang baru mendapat kemenangan, air mukanya yang kelam tampaknya terlebih kesal daripada Oh Put-jiu, hanya di tengah sorak gembira orang banyak, siapa pun tidak memerhatikan sikapnya yang luar biasa itu.

Entah siapa mendadak berteriak, "Mohon Houya memberi petuah sekata dua patah "

Serentak orang bersorak menyambutnya, "Benar, mohon Houya memberi beberapa patah kata sambutan."

Perlahan Ci-ih-hou berpaling dan mengangkat kedua tangannya.

"Harap semua orang diam, supaya Houya dapat bicara dengan jelas," teriak Ling- ji.

Setelah berulang ia berseru lagi barulah semua orang mulai diam.

Setelah memandang sekelilingnya, akhirnya Ci-ih-hou bersuara, "Maksud baik hadirin sungguh kuterima dengan bangga, cuma "

Siapa tahu, baru bicara sampai di sini, mendadak darah segar tersembur dari mulutnya, perawakannya yang tegap itu pun tidak tegak lagi berdirinya dan agak sempoyongan.

Ling-ji dan Cu-ji sama menjerit kaget, beramai mereka memburu maju untuk memegangi sang majikan. Semua orang juga terkejut.

"Ada apa, Houya?" tanya kawanan gadis jelita itu setelah berkerumun.

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Ci-ih-hou, ucapnya sekata demi sekata, "Berulang kuganti berpuluh jurus serangan, akhirnya kugunakan satu jurus Hok-mo-kiam-hoat (ilmu pedang penakluk iblis) yang sudah lama lenyap dari dunia persilatan, dan beruntung dapatlah kuatasi dia, walaupun begitu tetap tidak dapat kulukai dia, namun "

Sampai di sini suaranya sudah sangat lemah, napas pun terengah dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Ling-ji dan Cu-ji merasa cemas dan khawatir, perlahan mereka memijat dan mengurut dada dan punggung sang majikan.

Semua orang pun saling pandang dengan khawatir, angin mendesir, suasana berubah sunyi pula.
 
Setelah berhenti sejenak, sekuatnya Ci-ih-hou bertutur lagi, "Tapi setelah kuserang berpuluh jurus, tenagaku sudah terkuras terlampau banyak, meski beruntung dapat mengatasi dia, akan tetapi urat nadi jantungku pun tergetar luka Dia memang lelaki sejati, meski ia tahu keadaanku sangat payah, dia
tetap mengaku aku menang setengah jurus, kalau tidak ai, asalkan dia tidak
kenal malu dia melancarkan serangan lagi, mungkin saat ini aku sudah sudah
terkubur di dasar laut."

Mendadak Thi Kim-to berteriak, "Orang baik tentu mendapatkan ganjaran baik. Dengan kemenangan Houya ini, selanjutnya pasti bertambah jaya dan panjang umur!"

"Betul, hidup Houya kita!" teriak orang banyak.

Kembali Ci-ih-hou menampilkan senyuman pedih, ucapnya dengan sedih, "Terima kasih atas doa hadirin cuma kutahu keadaanku yang tak dapat bertahan lagi sampai besok pagi. Maka ai, biarlah di sini juga kita berpisah!"

Ia berputar dan masuk kembali ke anjungan diikuti Ling-ji dan lain-lain. Mereka sudah sekian tahun meladeni sang majikan, baru sekarang untuk pertama kalinya terdengar orang tua itu menghela napas. Mau tak mau mereka sama terharu.

Semua orang ikut sedih memandangi bayangan Ci-ih-hou yang menghilang ke dalam anjungan, siapa pun tidak menyangka kemenangan ini ternyata membawa pengorbanan sebesar ini. Setelah sorak gembira, kini harus menahan sedih.

Tidak ada lagi yang bersuara, semuanya lesu dan kembali ke tepi pantai. Tapi semuanya tetap merasa berat meninggalkan pantai yang mendatangkan rangsangan gembira dan juga kesedihan ini.

Entah siapa yang mulai duduk dulu di tepi pantai dan yang lain pun ikut duduk di situ. Seketika pesisir penuh berjubel orang duduk, sebagian masih basah kuyup tanpa menghiraukan angin laut yang menggigilkan, semuanya duduk termenung memandang kapal layar pancawarna itu.

Cahaya mulai lenyap, ombak laut berubah menjadi kelam, kapal pancawarna pun kehilangan cahayanya yang gemilang.

Kapal layar yang ditumpangi jago pedang baju putih itu sejak tadi sudah menghilang entah ke mana, tapi tiada seorang pun sangsi apakah tujuh tahun kemudian dia akan datang atau tidak?

Dalam hati setiap orang sama berpikir, "Ci-ih-hou sudah meninggal, tujuh tahun kemudian bilamana benar si jago pedang baju putih datang lagi, lalu siapakah yang mampu menandingi dia?!"


*****


Anjungan kapal yang dulu semarak dengan segala kemewahan, sekarang diliputi awan mendung kesedihan.

Kawanan gadis jelita mengerumuni Ci-ih-hou, Siaukongcu berlutut di bawah kaki sang ayah. Pui Po-ji, Cui Thian-ki, Oh Put-jiu dan lain-lain berdiri agak jauh di
 
samping. Siu Thian-ce berdiri di luar anjungan, tidak berani masuk tanpa disuruh. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar suara isak tangis perlahan.
Kedua mata Ci-ih-hou terpejam, wajah pucat dan sedih, berulang ia bergumam, "Tujuh tahun kemudian ... tujuh tahun kemudian, bilamana dia datang lagi ... ai
...."

Dengan air mata berlinang Ling-ji berkata, "Harap Houya istirahat dengan tenang, bisa jadi kesehatan Houya akan sembuh, kenapa mesti sedih mengenai urusan tujuh tahun lagi?"

Mendadak Ci-ih-hou membuka matanya, katanya dengan bengis, "Mengenai mati-hidupku kenapa mesti disayangkan? Tapi mana boleh kutinggalkan kawan dunia persilatan ini tanpa peduli?"

Po-ji terharu melihat kesatria yang menghadapi ajal ini tetap tidak melupakan bencana yang bakal menimpa orang persilatan pada tujuh tahun kemudian tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, jiwa luhur ini sungguh harus dipuji.

Seketika darah panas bergolak dalam dada Po-ji, pikirnya, "Inilah kesatria sejati, seorang pahlawan besar. Kelak kalau aku sudah dewasa, harus kutiru dia, supaya hidupku ini tidak sia-sia!"

Ling-ji menunduk, ucapnya dengan menangis perlahan, "Mungkin sekarang jarang ada yang sanggup melawannya, tapi tujuh tahun kemudian, bukan mustahil sudah banyak orang kosen yang dapat mengungguli dia, janganlah Houya "

"Ai, menurut penilaianku, biarpun tokoh Bu-lim terkemuka saat ini berlatih lagi tujuh tahun juga tiada seorang pun mampu mengalahkan dia, apalagi, dia keranjingan ilmu silat, jika ia pun berlatih tujuh tahun pula, jelas kemajuannya sukar dibayangkan. Sungguh sayang Toako, dia "

Sampai di sini Ci-ih-hou menghela napas panjang dan tidak meneruskan lagi, kening tampak bekernyit seperti sedang merenungkan sesuatu yang sukar dipecahkan.

Semua orang tidak berani mengganggunya, hanya Pui Po-ji saja yang bersemangat seperti terangsang oleh ucapan orang gagah itu.

"Ah, betul!" seru Ci-ih-hou mendadak.

Tergetar perasaan semua orang, disangkanya Ci-ih-hou berhasil memikirkan sesuatu cara untuk mengalahkan tokoh si baju putih.

Tak terduga Ci-ih-hou lantas memandang sekejap dan berucap pula, "Siapa mahir main catur?"

Ling-ji dan lain-lain sama melengak, akhirnya ia menjawab, "Hamba sama bisa
...."

Ci-ih-hou tersenyum, katanya, "Cara bermain catur kalian sudah kukenal seluruhnya, tanpa melihat papan catur pun dapat kulayani permainan kalian. Kalian tidak dapat kuterima."

"Cayhe juga dapat main," sela Oh Put-jiu.
 

"Baik, boleh coba kau main satu babak denganku," kata Ci-ih-hou.

Semua orang tidak mengerti dalam keadaan demikian Ci-ih-hou berhasrat main catur segala. Tapi karena dia kelihatan sangat bergairah, semua orang tidak berani bertanya.

Ci-ih-hou duduk miring di atas pembaringan, kelihatan sangat bergairah, biji caturnya ditaruh dengan cepat.

Dengan sikap hormat Oh Put-jiu berdiri di depan ranjang, ia pun menaruh biji catur dengan sama cepatnya. Agaknya ia dapat menduga sebabnya Ci-ih-hou mengajaknya main catur pasti mempunyai maksud tertentu, padahal mengenai seni main catur dia memang cukup mahir, maka hanya dalam waktu singkat biji catur kedua pihak hampir memenuhi papan catur.

Wajah Ci-ih-hou kelihatan berubah-ubah, sebentar tersenyum, lain saat kening bekernyit, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak terpecahkan, seperti juga sudah memahaminya, air mukanya sekarang persis seperti waktu dia melihat ranting kayu yang tertebas pedang tempo hari.

Namun air mukanya sekarang tambah pucat, sorot matanya juga semakin buram, ketika biji catur ke-49 ditaruh, ia seperti menghadapi jalan buntu dan terpaksa berpikir agak lama, napas pun semakin memburu, mendadak tubuh tersuruk ke depan sehingga papan catur tertumbuk dan biji catur berjatuhan ke lantai.

"Wah, sayang, sayang, bagaimana baiknya sekarang?!" ucap Ci-ih-hou dengan agak gugup.

"Tidak menjadi soal," ucap Oh Put-jiu, segera ia memunguti semua biji catur yang jatuh, satu per satu dikembalikan kepada posisi semula, dan setiap biji catur itu ternyata dapat menempati posisi semula dengan tepat.

Heran juga kawanan gadis, sukar dimengerti pemuda yang tidak menarik ini ternyata memiliki daya ingat sekuat ini.

Meski tertampil juga sorot mata Ci-ih-hou yang heran dan memuji, tapi ia cuma memandangnya sekejap, lalu mencurahkan perhatian pula terhadap papan catur, biji catur yang dipegangnya sampai sekian lama sukar ditaruh lagi di tempat yang tepat.

Diam-diam Oh Put-jiu merasa heran, ia merasakan langkah catur orang ini sebenarnya sangat sederhana, sukar dimengerti mengapa jago catur serupa Ci- ih-hou bisa ragu menaruh biji caturnya.

Tiba-tiba Ci-ih-hou menghela napas panjang, seluruh biji catur diubrak-abriknya, katanya, "Setelah kuperas otak, kurasakan ilmu pedang si baju putih memang ada bagian yang selaras dengan seni main catur, maka maksudku ingin memecahkan rahasia ilmu pedangnya melalui permainan catur ini. Ai, bilamana aku dapat tahan hidup sebulan-dua bulan lagi sangat mungkin dapat kupecahkan rahasia ilmu pedangnya, tapi sekarang hanya dalam waktu beberapa jam saja ingin kupecahkan rahasianya, rasanya pasti tidak mungkin tercapai."

Diam-diam Po-ji membatin, "Thian sungguh tidak adil, kenapa membuat orang jahat hidup di dunia dan orang baik harus mati. Ai, jika aku dapat menggantikan dia mati tentu segalanya akan menjadi baik."
 

Selang sejenak, Ci-ih-hou berkata pula perlahan sambil memandang Oh Put-jiu, "Tapi permainan catur barusan bukannya sama sekali tidak berguna, paling tidak aku menjadi tahu kau ternyata mempunyai daya ingatan yang luar biasa.
Bakatmu ini mana boleh terbenam begini saja."

Segera ia mengeluarkan sebuah anak kunci yang berbentuk aneh, ucapnya pula, "Di kamar tulisku tersimpan kitab yang berisi rahasia intisari 193 aliran persilatan, hanya dengan anak kunci ini saja kamar tulisku itu dapat dibuka. Nah, boleh kau ambil."

"Wah mana ... mana hamba berani?" ucap Oh Put-jiu ragu.

"Kunci ini adalah benda yang diimpi-impikan setiap orang persilatan, sekarang kuberikannya kepadamu, hanya kau saja mungkin dapat mengingat seluruh catatan dalam kitab pusaka itu," kata Ci-ih-hou.

Kejut dan girang Oh Put-jiu, ia tidak tahu apa yang harus diucapkan, ia hanya berlutut dan menyembah, diterimanya anak kunci yang kecil itu, akan tetapi dirasakan berbobot sebesar gunung.

Ci-ih-hou menengadah dan berucap pula dengan sedih, "Tapi, biarpun segenap ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu dapat kau pelajari, kau tetap bukan tandingan si baju putih."

Mendadak Pui Po-ji menimbrung, "Jika orang lain sama bukan tandingannya, biarlah aku saja yang melawan dia. Tujuh tahun kemudian bila dia datang lagi, akan kuhantam lari dia!"

Ci-ih-hou tercengang dan rada geli juga, katanya, "Memangnya kau mahir ilmu silat?"

"Tidak," jawab Po-ji.

"Lantas cara bagaimana akan kau tandingi dia?" tanya Ci-ih-hou dengan sinar mata berkelip.

Po-ji membusungkan dadanya yang kecil dan berseru, "Meski aku tidak paham ilmu silat dan juga tidak ingin belajar, tapi karena urusan ini tidak dapat dilaksanakan orang lain, dengan sendirinya hanya aku saja yang dapat melakukannya."

Ia bicara dengan lantang tanpa ragu, meski wajahnya kelihatan kekanak- kanakan, namun sikapnya gagah perkasa dan berjiwa kesatria.

Sejenak Ci-ih-hou memandangnya, katanya kemudian, "Beribu kesatria di dunia ini tidak sanggup melaksanakan tugas ini, berdasarkan apa kau mampu mengerjakannya?"

"Asalkan ada kemauan, segala apa pun pasti akan tercapai," jawab Po-ji tegas. "Kan si baju putih juga manusia, aku pun manusia, kenapa aku pasti tidak dapat menandingi dia?"

"Hm, anak ingusan semacam dirimu sudah berani membual," ucap Ci-ih-hou dengan bengis, mendadak sebelah tangannya menampar.

Meski ia kurang sehat, namun tamparannya mana dapat dihindarkan Po-ji,
 
kontan anak itu terpukul jatuh.

Semua orang memandangnya dengan rasa kasihan dan juga terkejut. Betapa pun mereka suka kepada anak kecil yang menyenangkan seperti Po-ji ini, terutama Oh Put-jiu yang ada hubungan erat dengan dia, namun sekarang ia justru tidak memperlihatkan rasa kaget atau khawatir, sebaliknya malah timbul rasa girang.

Semula Cui Thian-ki juga khawatir, setelah memandang Oh Put-jiu sekejap, akhirnya air mukanya berubah girang.

Dilihatnya Pui Po-ji melompat bangun tanpa memperlihatkan rasa takut. "Sengaja kupukulmu, apakah kau penasaran?" tanya Ci-ih-hou.
"Tentu saja penasaran," jawab Po-ji tegas.

"Lantas apa yang akan kau lakukan? Ingin balas memukulku, tapi tidak berani, begitu bukan?" tanya Ci-ih-hou.

"Bukan tidak berani balas memukulmu, melainkan tidak tega memukulmu," jawab Pui Po-ji. "Soalnya usiamu sudah lanjut, pula seorang kesatria pujaan orang banyak, adalah layak aku pun menghormati dirimu, ditambah lagi saat ini engkau sedang sakit dan aku harus mengalah. Maka pukulanmu ini meski membuatku penasaran, terpaksa kuterima saja."

Ia bicara tanpa gentar, sikapnya yang berani itu membuat Cu-ji dan gadis lain sama terkesima, sebab sudah sekian lama mereka ikut Ci-ih-hou dan belum pernah melihat siapa pun berani bicara sekasar ini terhadap sang majikan.

Dengan muka kelam Ci-ih-hou berkata, "Semua itu cuma alasanmu saja, yang benar kau selain tidak sanggup, juga bukannya tidak tega, lebih tepat kau tidak berani."

Mendadak Po-ji tertawa, katanya, "Hihi, ucapanmu juga ada yang tidak betul. Selain aku memang tidak sanggup, juga bukan karena tidak tega, soalnya aku memang tidak mau."

"Huh, kata macam apa?" jengek Ci-ih-hou.

"Sebab kutahu, walaupun wajahmu bengis, namun sorot matamu tidak kejam, caramu memukulku tadi pasti tidak sungguh hati bermaksud memukulku melainkan cuma ingin menguji diriku saja," ujar Po-ji dengan tertawa.

Kembali Ci-ih-hou memandangnya sejenak, mendadak ia bergelak tertawa keras dan berseru, "Haha, anak baik ... anak "

Karena lukanya memang cukup parah, maka belum lanjut ucapannya ia lantas terbatuk-batuk, setelah batuk berhenti barulah ia menyambung, "Kau pandai membedakan antara yang benar dan salah dan tidak mau sembarang bertindak, kau terhitung cerdik. Kau bisa bersabar dan mengalah, hormat kepada yang tua dan kasihan kepada yang lemah, kau terhitung bijaksana. Menghadapi bahaya kau tidak gentar dan siap menghadapi segala kesukaran, kau terhitung berani. Anak yang cerdik, bijaksana dan juga berani serupa dirimu, selama hidupku baru kulihat seorang dirimu saja."

Diam-diam Po-ji membatin, "Engkau sepanjang tahun hidup di lautan, dengan sendirinya tidak pernah melihat."
 

Waktu orang memaki dia, dengan membusung dada ia hadapi tanpa gentar, sekarang orang memujinya, ia berbalik kikuk sehingga muka merah dan tidak dapat bicara.

Oh Put-jiu dan Cui Thian-ki saling pandang sekejap, diam-diam kedua orang sama merasa senang karena Po-ji dipuji Ci-ih-hou.

Selang sejenak, perlahan Ci-ih-hou berkata pula, "Karena sepanjang tahun hidupku berlayar di lautan lepas, orang lain sama menyangka aku sudah bosan kehidupan di dunia ramai. Padahal dunia ramai banyak hal-hal yang mengesankan, sebabnya aku berlayar adalah karena dahulu aku pernah dikalahkan oleh pedang seorang, maka selama hidup aku tidak mau menginjak daratan lagi."

Ada sementara orang sudah pernah mendengar ceritanya tentang kekalahannya atas seorang jago pedang, tapi waktu itu orang tidak menaruh perhatian, sekarang keterangan ini membuat mereka bergirang. Sebab kalau orang itu sanggup mengalahkan Ci-ih-hou, dengan sendirinya juga pasti dapat mengalahkan tokoh si baju putih.

Terdengar Ci-ih-hou menyambung, "Orang itu tak-lain-tak-bukan adalah Suhengku sendiri. Waktu kecilnya kami belajar bersama satu perguruan, orang lain sama menyangka ilmu pedangku tidak ada bandingan, padahal ilmu pedang Suhengku yang benar nomor satu di dunia."

Meski pada dasarnya pendiam, tidak urung sekarang Oh Put-jiu ikut menimbrung, "Meski hamba tidak tahu apa-apa, tapi mengingat ilmu pedang Houya sudah mencakup intisari segenap ilmu pedang aliran mana pun dan sudah mencapai tingkatan paling sempurna, sampai jago pedang baju putih yang sudah tergembleng sehebat itu paling-paling juga Lwekangnya saja mampu melawan Houya, tapi kalau bicara tentang ilmu pedang jelas dia ketinggalan."

"Betul," kata Ci-ih-hou gegetun, "kalau bicara tentang intisari segala macam ilmu pedang di dunia ini, memang seluruhnya sudah kupelajari dan kupahami dengan baik. Tapi kemampuan Suhengku itu justru setingkat lagi di atasku."

"Maaf, hamba ingin tanya, entah cara bagaimana dia bisa melebihi Houya?" tanya Oh Put-jiu heran.

"Soalnya meski aku dapat memahami segenap ilmu pedang di dunia ini, tapi Suhengku juga dapat mengingatnya tanpa kurang setitik pun, lalu melupakannya pula sama sekali, sebaliknya aku tidak dapat. Biar pun aku sudah berdaya sebisanya tetap sukar melupakan sebagian saja di antaranya."

Semua orang saling pandang dengan bingung, sampai Oh Put-jiu juga melenggong, tapi segera ia tersenyum seperti memahaminya.

Rupanya ia tahu bilamana orang hendak mengingat sesuatu hal bukanlah pekerjaan sulit, tapi jika ingin melupakan segala sesuatu yang pernah diingatnya, inilah yang mahasulit.

Misalnya ada sementara urusan mestinya tidak suka kau ingat-ingat dan juga tidak perlu diingat, tapi urusan-urusan itu justru menggoda pikiranmu. Ada sementara urusan yang mestinya sudah lama dapat kau lupakan, tapi justru sukar untuk dikesampingkan, bahkan dalam mimpi pun selalu teringat.
 
Falsafah kehidupan yang sukar dipahami itu tentu saja belum dapat diselami oleh kaum gadis, mereka cuma merasa heran, "Jika dia sudah melupakan seluruh ilmu pedang yang dipelajarinya, cara bagaimana pula dia dapat menang dengan ilmu pedang?"

Terdengar Ci-ih-hou bertutur lagi, "Setelah Suhengku melupakan segenap ilmu pedangnya barulah beliau menyadari arti ilmu pedang itu sendiri, ia berhasil melebur segenap jiwa raganya ke dalam pedang sehingga dapatlah ia menguasai pedangnya sesuka hati tanpa sesuatu jurus tertentu, tapi setiap gerakan yang dikehendakinya selalu merupakan jurus yang ampuh dan sukar ditahan. Meski aku mahir memainkan segala macam ilmu pedang di dunia ini, tapi yang kukuasai tidak lebih hanya bentuknya saja, sebaliknya yang dikuasai Suheng adalah jiwa ilmu pedangnya. Biarpun ilmu pedangku terkenal tidak ada tandingannya, kalau dibandingkan Suheng sungguh sama sekali tidak ada artinya."

Uraian ini membuat semua orang sama melongo dan tidak dapat bicara.

Selang agak lama barulah Oh Put-jiu menghela napas panjang, pikirannya berkecamuk tak keruan demi mendengar ceramah ilmu pedang yang sukar dipahami ini, seperti banyak yang ingin ditanyakan, tapi sukar berucap.

"Jika begitu sakti kepandaian Suhengmu, kenapa tidak mohon beliau menempur si baju putih saja?" kata Po-ji tiba-tiba.

"Hidup Suhengku itu suka aman tenteram, selamanya tidak mau berurusan dengan orang, belasan tahun yang lalu dengan segala daya upaya kupaksa dia coba menempurku, karena tiada jalan lain barulah dia bertanding dan aku telah dikalahkan sehingga aku tidak dapat menggodanya lagi. Tapi dia tetap khawatir aku akan terluka, maka dia tidak mengerahkan segenap tenaganya. Tapi, ai ... dasar watakku memang suka menang, meski sudah kalah satu jurus aku masih coba menjaga pamor, pada saat lengah, dapatlah Suheng kulukai. Tapi beliau memang berjiwa besar, ia khawatir aku berduka dan sengaja bertahan sekuatnya serta tinggal pergi dengan tersenyum "

Agaknya kisah ini pernah menyakitkan hatinya, maka bertutur sampai di sini, wajah kelihatan pucat dan air mata berlinang, bicaranya pun tersendat.

Oh Put-jiu tahu bilamana sebelum mangkat orang dapat membeberkan segala persoalan yang pernah membuatnya malu, tentu kepergiannya akan merasa tenteram. Maka dengan hormat ia tanya. "Kemudian bagaimana?"

"Kemudian dalam perjalanan pulang, di luar dugaan Suhengku kepergok
musuh bebuyutan, dalam keadaan terluka, dengan sendirinya beliau bukan tandingan musuh, sekuatnya dia bertahan dan berhasil menggertak mundur musuh dengan ilmu pedangnya yang tiada taranya, tapi ia sendiri juga terserang oleh senjata rahasia musuh, Suheng sempat berlari beberapa li jauhnya, sekuatnya beliau berusaha menawarkan racun senjata rahasia musuh sehingga dapatlah jiwa dipertahankan, namun sejak itu ilmu silatnya pun punah, ilmu pedangnya yang tidak ada bandingannya seterusnya sukar dimainkan lagi."

Kisah ini boleh dikatakan sangat umum, mungkin sering terjadi peristiwa serupa di dunia Kangouw, tapi sekarang cerita ini terurai dari mulut tokoh misterius serupa Ci-ih-hou, dengan sendirinya penuh daya tarik dan terlebih misterius.

Perasaan semua orang sama tertekan, semuanya ingin menangis rasanya, mendadak Siaukongcu berkata, "Eh, orang yang diceritakan ayah itu adalah
 
paman yang mengajar seni merangkai bunga kepadaku itu?"

Ci-ih-hou mengangguk, katanya, "Betul, meski dia cedera akibat perbuatanku, namun dia tidak pernah benci dan dendam padaku. Ketika melihat kepintaranmu, ia justru bermaksud mengajarkan ilmu pedangnya padamu, praktiknya dia mengajar seni merangkai bunga padamu, sesungguhnya dia membaurkan ilmu pedangnya ke dalam seni merangkai bunga. Ketahuilah, baik seni sastra, seni bunga, seni catur dan sebagainya, semua itu adalah saripati kecerdasan leluhur kita. Akhir-akhir ini terbetik kabar di kepulauan timur sana juga ada orang mempelajari seni pedang ini, tapi kuyakin sukar membandingi bangsa kita."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung, "Setelah Kungfu Suheng punah, terpaksa beliau hidup mengasingkan diri untuk mencari ketenangan, di situlah dia menemukan ilmu sejati daripada seni bunga dan catur yang tidak banyak berbeda daripada seni pedang, sebab itulah dia berharap kau juga dapat memahami ilmu pedangnya. Ai, ternyata kau memang pintar, namun terlampau suka menang, betapa pun kau bukan orangnya untuk mempelajari seni pedangnya, karena itulah paman tinggal pergi dengan kecewa."

Siaukongcu diam saja dengan mendongkol, akhirnya ia berkata juga, "Sesuatu yang tidak dapat kupelajari, kukira tiada orang lain lagi di dunia ini yang mampu menguasainya."

Ci-ih-hou hanya tersenyum saja tanpa bersuara, sorot matanya beralih ke arah Pui Po-ji.

Siaukongcu terbelalak, katanya, "Ayah, apakah engkau maksudkan dia?" "Ehm," Ci-ih-hou mengangguk.
"Apa yang tidak dapat kupelajari masakah dia sanggup?" tanya Siaukongcu. "Memangnya kau sangka dirimu lebih pintar daripada orang lain?" kata Ci-ih-hou. "Tentu saja," kata Siaukongcu. "Dengan sendirinya aku lebih pintar daripada dia."
"Kau tahu apa bedanya pintar dan cerdik?" tanya Ci-ih-hou dengan tersenyum. "Kau memang pintar, tapi Po-ji terlebih cerdik, apa yang dia dapat belajar tidak dapat kau lakukan. Nah, paham sekarang?"

Siaukongcu melengak dan melototi Po-ji sekian lama, mendadak ia berteriak, "Huh, tidak perlu kau sok gagah, pada suatu hari kelak tentu aku lebih hebat daripadamu, ingat saja!"

Ia mengentak kaki dan berlari ke pojok sana, bahu tampak bergerak-gerak, tapi tidak ada suara tangis.

Po-ji juga melenggong, ucapnya tergegap, "Buat ... buat apa menangis? Engkau memang, memang lebih hebat daripadaku."

Ia hendak mendekati anak dara itu, tapi urung. "Jangan urus dia," kata Ci-ih-hou. "Coba kemari." Dengan kepala tertunduk Po-ji mendekati Ci-ih-hou.
Sambil membelai rambut Po-ji, dengan suara lembut Ci-ih-hou berkata, "Bila
 
urusan di sini selesai, harus secepatnya kau pergi mencari Suhengku, tahu?" Po-ji mengiakan.
Lalu Ci-ih-hou mengeluarkan sebuah kantong sulam kecil, katanya pula, "Inilah barang tinggalan Suhengku, di dalam kantong ini tertulis tempat tirakatnya.
Selama sekian tahun ini dia menghindari musuh sehingga tempat pengasingannya sama sekali tidak diberitahukan kepada siapa pun. Meski dia meninggalkan kantong ini, tapi aku dipesan hanya pada saat paling genting baru boleh mengirim seorang untuk mencarinya. Berulang ia menegaskan hanya boleh menyuruh seorang, sebab itulah aku sendiri pun tidak pernah membaca apa yang tertulis dalam pesannya ini."

Po-ji menerima kantong kecil itu tanpa bicara.

"Sifat Suhengku sangat aneh," tutur Ci-ih-hou. "Maka kantong sulam ini tentu juga ada sesuatu yang aneh. Ai ... apakah dapat kau temukan dia juga belum kuketahui."

Mendadak Po-ji menengadah dan berseru, "Sekali sudah kukatakan akan kulakukan tentu akan kulaksanakan, di mana pun dia berada pasti juga akan kutemukan dia."

"Tempat kediamannya itu bisa jadi jauh di ujung langit sana, tapi kau harus pergi ke sana sendirian, padahal usiamu sekecil ini, juga tidak mahir ilmu silat, perjalanan sejauh ini, apakah kau tidak takut?" tanya Ci-ih-hou.

Dengan tegas Po-ji menjawab, "Biarpun takut juga tetap kupergi ke sana. Selama hidupku ini entah berapa kali menghadapi urusan yang menakutkan, namun aku tidak pernah gentar."

Ci-ih-hou tersenyum, "Bagus, anak bagus, ini namanya kesatria sejati. Hanya orang dungu, orang dogol saja yang tidak kenal apa artinya takut dan tidak dapat terhitung kesatria sejati."

Ucapan ini kedengaran sukar dipahami, padahal mengandung dalil yang luas, Oh Put-jiu coba menyelami maknanya berulang sehingga serupa orang linglung.

Tiba-tiba Ci-ih-hou menghela napas, katanya, "Segala urusan sudah ada penyelesaiannya, biarpun mati juga dapatlah kupergi dengan lega "

Mendadak ia membentak, "Ambilkan arak, biar kuberangkat ke neraka dengan mabuk, ingin kukatakan kepada kawanan setan di sana bahwa di dunia ini penuh lelaki yang tidak gentar mati, setan pun harus tunduk bila berhadapan dengan mereka."

Terpaksa kawanan gadis mengambilkan arak dan melayani dengan air mata berlinang.

Ci-ih-hou menuang arak dan minum sendiri, setelah menghabiskan beberapa cawan, mukanya yang pucat perlahan bersemu merah, mendadak ia terbahak dan bersenandung membawakan lagu mengharukan ....

Di tengah gelak tertawa keras ia meronta bangun dan berlari ke kamar rahasia sana dengan langkah sempoyongan. Ling-ji, Cu-ji dan lain-lain sama menyusul ke sana hendak memayangnya.
 
Namun Ci-ih-hou mengebaskan lengan baju sambil membentak, "Jangan mendekat, aku dapat datang dan pergi sendiri ... hahahaha "

Segera ia berlari pula masuk ke dalam ruangan belakang, "blang", pintu ditutup dan tidak terbuka lagi.

Terdengar suara gelak tertawa latah di dalam ruangan, semula sangat keras, lambat laun makin perlahan dan akhirnya tidak terdengar lagi. Pendekar zaman yang kosen ini telah pergi begitu saja ....

Sementara itu ufuk timur sudah mulai terang, lautan timbul lagi cahaya gemilang, namun di dalam anjungan kapal itu suasana diliputi kekelaman dan kepedihan.

Ketika angin meniup, keleningan pada anting-anting Ling-ji berbunyi mengejutkan orang banyak yang termenung. Entah berapa lama lagi, mendadak Ling-ji menuju ke haluan kapal dan memandang jauh ke pantai sana.

Para kesatria yang masih berkerumun di pantai itu juga ikut duka menyaksikan datangnya fajar, angin laut meniup dengan santernya membuat tubuh mereka sama menggigil.

Ketika mendadak terlihat Ling-ji muncul di haluan, para kesatria sama tidak berani memandangnya, mereka dapat merasakan firasat yang tidak enak.

Setelah memandang sekejap orang banyak yang berkerumun di pantai itu, dari jauh Ling-ji berseru sekata demi sekata, "Houya sudah mangkat!"

Habis berucap, baru saja tangan meraba rambutnya yang terurai, tahu-tahu ia roboh terkulai.

Semua orang tergetar kesima oleh ucapan Ling-ji itu sehingga robohnya nona itu tidak diperhatikan orang.

Entah siapa yang mulai lebih dulu berlutut, serentak orang banyak sama berlutut di tepi pantai. Terdengar seorang bersenandung, membawakan kidung yang mengharukan. Muncul seorang lelaki bertelanjang kaki dengan rambut semrawut dan menuju tepi laut. Dia ternyata Ong Poan-hiap adanya.

Ombak mendebur menimbulkan buih putih laksana bunga perak, sang surya yang baru terbit segera terbenam pula oleh awan mendung tebal, suasana terasa suram kelam.

Dengan terharu Ong Poan-hiap menengadah dan memanjatkan doa bagi kepergian Ci-ih-hou.

Mendadak seorang mendekat dan mencengkeram lengan Ong Poan-hiap dengan erat, begitu keras cengkeramannya sehingga tulang lengan Ong Poan-hiap seakan remuk.

Waktu Ong Poan-hiap melirik dengan kening bekernyit, dilihatnya seorang padri kelilingan bercaping lebar dan berkasa warna kelabu berdiri di sampingnya.

Karena caping sangat lebar dan ditarik turun ke depan sehingga hampir seluruh wajah si padri tertutup, namun dari warna muka orang yang kecokelatan dengan tulang pipi yang menonjol serta mulutnya yang terkancing rapat, tidak perlu diperiksa lagi segera ia tahu orang adalah Bok-long-kun.
 

Terdengar Bok-long-kun bertanya dengan suara tertahan, "Janji memintakan obat masa sudah kau lupakan?"

"Tidak," jawab Ong Poan-hiap.

"Mana obatnya?" tanya Bok-long-kun pula. "Tidak ada," kata Ong Poan-hiap. "Memangnya kau sengaja ingkar janji?"
"Ci-ih-hou sudah meninggal, kepada siapa dapat kuminta obatnya?"

"Sebelum mati Ci-ih-hou telah menyerahkan segalanya kepada Ling-ji dan Cu-ji, lekas kau tanya kedua genduk itu dan minta obat padanya, kalau tidak "

"Kalau tidak mau apa?" potong Ong Poan-hiap ketus. "Aku cuma berjanji padamu akan mintakan obat kepada Ci-ih-hou, memangnya pernah kujanjikan akan minta obat pada Ling-ji?"

"Tapi ... tapi " Bok-long-kun melenggong dan tidak dapat bicara lagi.

"Jika Ci-ih-hou sudah mati, dengan sendirinya aku tidak dapat lagi minta obat padanya. Kalau aku tidak pernah berjanji akan minta obat kepada Ling-ji, dengan sendirinya pula aku tidak perlu minta obat padanya."

Gelisah dan juga gusar Bok-long-kun, tapi toh tidak berdaya, seketika ia berdiri melongo seperti patung.


*****


Sudah sekian lamanya keadaan di atas kapal layar pancawarna itu masih sunyi. Hanya suara tangis orang terdengar di sana-sini.

Siaukongcu memburu ke sana dan mendekap pintu ruangan rahasia itu sambil meratap, "Oo ayah, betapa engkau tega men ... meninggalkan anak "

Po-ji tidak berani memandang anak dara itu, Cui Thian-ki memegangi pundak anak itu dengan tangan agak gemetar dan mencucurkan air mata.

Sekonyong-konyong berkumandang suara orang yang seram dari pantai sana, "Oh Put-jiu ... Oh Put-jiu " suaranya serupa setan merintih.

"Suara siapa itu?" tanya Cui Thian-ki.

"Untuk apa tanya lagi jika sudah kau kenali?" kata Oh Put-jiu. "Ada urusan apa Bok-long-kun memanggilmu?"
"Dia ingin menagih janji padaku." "Kau berjanji apa padanya?"
 

"Aku berjanji padanya akan meracun mati dirimu," tutur Oh Put-jiu. Tergetar hati Cui Thian-ki, ia terbelalak dan tidak dapat bicara lagi.
Suara Bok-long-kun yang seram itu bergema pula, "Oh Put-jiu ... malam nanti ... tengah malam "

"Kau dengar," Oh Put-jiu, "ia suruh kuracunimu tengah malam nanti." "Memangnya dapat kau laksanakan?" kata Cui Thian-ki dengan tertawa. "Pada waktu kau lengah, apa susahnya jika hendak meracunimu?"
"Tapi sekarang kutahu kau akan meracuniku, masa aku tidak berjaga-jaga. Bukan mustahil aku akan mencari akal untuk membunuhmu dulu agar tidak mati diracun."

"Betul, turun tangan dulu lebih menguntungkan, memang harus begitu," kata Oh Put-jiu dengan tersenyum.

Kedua orang saling pandang, biji mata berputar dan entah apa yang sedang dirancang mereka.

Kedua orang ini sama cerdik dan licin, untuk menerka pikiran orang bukanlah pekerjaan sulit, sebaliknya apa yang mereka pikir sangat sulit diketahui orang lain.

Sementara itu awan mendung semakin tebal, akhirnya hujan pun turun.

Makin lebat hujan yang turun, para kesatria yang masih berjubel di tepi laut kembali basah kuyup, namun tetap tiada seorang pun yang menyingkir untuk mencari tempat berteduh, semuanya tetap memandangi kapal layar pancawarna dengan termenung.

Kapal layar pancawarna ini pernah mewakili semacam kekuasaan yang sukar dilawan, sumber kekuasaan itu, Ci-ih-hou, kini sudah meninggal, namun kedudukan kapal layar itu dalam pandangan semua orang justru semakin berjaya.

Melihat sikap Oh Put-jiu dan Cui Thian-ki itu, Po-ji merasa khawatir juga. Perlahan Ling-ji tanya dia, "Apa yang kau khawatirkan?"
"Coba lihat mereka berdua, aku khawatir "

"Anak bodoh," ujar Ling-ji. "Jika benar Oh Put-jiu hendak meracun mati dia, mana mungkin ia katakan terus terang padanya?"

"Meski sederhana dalil ini dan dapat diraba setiap orang, tapi untuk digunakan atas diri paman kepala besar dan dia, jelas tidak laku, mereka sama-sama orang aneh "

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berseru di luar anjungan, "Lokyang Pang Jing ingin menyampaikan sesuatu."

Cepat Ling-ji mengusap air mata dan memapak keluar, "Ada urusan apa?"
 

Di bawah hujan tampak sebuah sampan meluncur tiba, Pang Jing berdiri di haluan perahu dan berseru, "Atas wafatnya Ci-ih-hou, setiap kawan Kangouw sama menyatakan berdukacita dan sampai saat ini mereka masih berada di pantai untuk membuktikan kepedihan mereka. Jika mereka masih terus berada di situ, kukhawatir akan terjadi sesuatu. Kubicara terus terang tentang ini, harap nona jangan marah."

"Bahkan maksudmu demi kebaikan orang banyak, mana kumarah padamu," kata Ling-ji dengan menyesal. "Cuma beradanya kawan Kangouw di sana adalah kehendak mereka sendiri, cara bagaimana dapat kusuruh mereka pergi?"

"Jika kapal nona ini berlayar keluar teluk ini dan berlabuh lagi di tempat lain, kukira para tokoh Kangouw itu pasti akan bubar, usulku yang bodoh ini entah dapat diterima nona atau tidak?"

"Ehm, boleh juga cara ini " ucap Ling-ji setelah berpikir sejenak.

"Tidak jauh di sebelah utara sana ada sebuah muara kecil dan cukup baik untuk berlabuh," tutur Pang Jing.

"Pang-tayhiap sungguh berbudi dan selalu memikirkan kepentingan orang banyak, sungguh hamba sangat berterima kasih," kata Ling-ji sambil menghormat.

Pang Jing melambaikan tangan dan segera putar sampan ke arah pantai.

Meski berdiri di tepi pantai, tapi pergi datangnya sampan ini tidak diperhatikan oleh Ong Poan-hiap, ia menatap Bok-long-kun dan berkata, "Tidak lekas lepaskan tanganmu?"

Bok-long-kun mendelik dengan gemas, akhirnya ia lepaskan cengkeramannya atas lengan orang, katanya bengis, "Jangan kau kira kutakut padamu, hanya lantaran perkataan yang sudah telanjur terucap sehingga aku tidak berdaya padamu."

"Hm, mendingan kau pun bisa pegang pada ucapanmu," ujar Ong Poan-hiap. "Maka perlu kuberi nasihat sekalian, lebih baik janganlah banyak urusan, tengah malam nanti hendaknya jangan sembarangan bertindak. Kalau tidak, hanya beberapa nona di atas kapal itu sudah cukup untuk melemparkanmu ke laut."
"Huh, kentut!" jengek Bok-long-kun sambil melangkah pergi. Memandangi bayangan orang, Ong Poan-hiap hanya menggeleng kepala.
Mendadak beberapa anggota Kay-pang yang menyandang beberapa buah karung
muncul dari jubelan orang banyak dengan langkah tergesa-gesa dan kelihatan gugup.

Seorang di antaranya mendekati Ong Poan-hiap, memberi hormat dan berkata, "Pangcu mengalami musibah, semalam " ia bicara dengan suara lirih sehingga
sukar terdengar apa yang dikatakan.

Terlihat air muka Ong Poan-hiap berubah hebat, ia pandang layar yang berwarna- warni itu, lalu menunduk dan termenung sejenak, akhirnya mengentak kaki dan ikut berlalu bersama anak murid Kay-pang.

Dalam pada itu badan kapal layar pancawarna yang besar itu mulai bergerak,
 
meluncur ke arah utara.

Maka terjadi kegemparan di antara orang-orang yang berkerumun di pantai itu, ada yang mengomel, ada yang gegetun. Bok-long-kun berdiri jauh di bawah hujan sana sambil memandangi bayangan kapal layar ini, gumamnya gemas, "Hm, akan ke mana kau pergi "


*****


Ternyata cocok dengan perhitungan Pang Jing, begitu kapal layar pancawarna berlayar, segera kawanan orang Kangouw itu pun sama bubar. Menjelang malam suasana pantai sudah bersih dan sunyi, tersisa bekas kaki memenuhi pesisir, suatu tanda di sini belum lama berselang baru terjadi sesuatu yang luar biasa.
Tapi bekas kaki itu akhirnya rata juga tersapu oleh air ombak. Belasan li lebih ke utara memang benar ada sebuah muara kecil.
Ombak mendampar pantai, hujan belum berhenti, malam tambah kelam, kapal layar pancawarna yang besar itu hanya diterangi beberapa lampu yang tampak kelap-kelip dari kejauhan sehingga menambah seramnya kegelapan malam.

Ketika angin malam meniup lewat, mendadak sesosok bayangan muncul serupa hantu, terdengar suara gumamnya, "Kau takkan bisa lolos "

Suaranya kaku parau, siapa lagi kalau bukan Bok-long-kun.

Ia sudah berganti pakaian ringkas warna hitam mulus sehingga perawakannya tambah jangkung, ia terjun ke laut dan berenang ke arah kapal, sekali menyelam ia menghilang dalam kegelapan.

Keadaan di atas kapal layar pancawarna itu masih tetap tenang dan kelam.

Bok-long-kun muncul dari dalam laut dan merambat ke atas kapal dengan gesit tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Siapa tahu, baru saja ia berdiri tegak, tiba-tiba dari dalam anjungan suara seorang menegurnya, "Kau sudah datang?"

Meski lirih suaranya, tapi di tengah malam gelap dan hujan itu cukup membuatnya terperanjat. Serentak Bok-long-kun berpaling.

Terlihat sebuah kepala melongok keluar dari dalam anjungan, seorang lagi menggapai perlahan padanya.

Waktu Bok-long-kun memerhatikan, kiranya orang ini adalah Oh Put-jiu. Legalah hatinya dan cepat melompat ke sana, dengan suara tertahan ia tanya, "Bagaimana, sudah selesaikan tugasmu?"

"Ssst, ikut kemari," desis Oh Put-jiu sembari menarik kepalanya ke dalam.

Bok-long-kun ragu sejenak, tapi segera ia menyelinap ke sana dengan siaga penuh. Dilihatnya ruang anjungan seluas itu sunyi senyap hanya diterangi sebuah lentera.
 

Angin laut meniup dari jendela sehingga cahaya lentera bergoyang-goyang. Di bawah cahaya lentera yang redup itu, di atas dipan terbujur sesosok tubuh dibalut kain kafan putih.

Terlihat rambut panjang orang ini terurai, tubuh kaku dan tiada tanda bernapas, jelas sudah mati cukup lama.

Biarpun tabah, tidak urung timbul juga rasa seram Bok-long-kun. Ia coba beranikan diri dan melangkah ke sana bersama Oh Put-jiu. Setelah melihat lebih jelas, ia merasa girang.

Kiranya yang terbujur di atas dipan itu tak-lain-tak-bukan ialah Cui Thian-ki, kedua mata terpejam, di bawah cahaya lentera yang guram wajahnya yang pucat kelihatan menakutkan.

Bok-long-kun menyeringai, jengeknya, "Hm, perempuan hina, mampus juga akhirnya kau "

Kedua tangannya yang kurus kering serupa kayu itu terjulur terus mencekik leher Cui Thian-ki. Nyata bencinya terhadap perempuan itu sudah merasuk tulang, meski orang kelihatan sudah menjadi mayat tetap tak diampuninya.

Mendadak Oh Put-jiu menarik tangannya dan mendesis, "Ssst, nanti dulu!" "Ada apa?" tanya Bok-long-kun kurang senang.
"Obat yang kau serahkan padaku itu sudah kuberi minum seluruhnya kepadanya," tutur Put-jiu.

"Kutahu "

"Jadi selanjutnya urusanmu dengan dia tiada sangkut paut lagi denganku." "Sangkut paut apa? Memangnya kau tiada sangkut paut apa pun."
"Baik," kata Put-jiu, segera ia berpaling dan melangkah pergi.

Memandangi bayangan punggung Oh Put-jiu, Bok-long-kun bergumam, "Gila, bocah ini memang orang gila."

Sembari berteriak seram kedua tangannya lantas mencengkeram lagi ke leher Cui Thian-ki.

Tampaknya Cui Thian-ki sudah mati sehingga tidak bergerak lama sekali. Siapa tahu, mendadak perempuan yang kelihatan kaku itu menjulurkan tangan dan secepat kilat pergelangan tangan Bok-long-kun terpencet olehnya.

Keruan Bok-long-kun kaget setengah mati, ingin mengelak pun tidak keburu lagi, terdengar suara "krak-krek" dua kali, ruas tulang lengan dan bahu terpuntir patah.

"Hehe, hanya sedikit obat racunmu itu dapat membunuh diriku?" jengek Cui Thian-ki dengan terkekeh. "Nah, lekas pulang saja, supaya tidak membuatku marah."

Kejut, gemas dan juga gusar Bok-long-kun, tapi ia pun tahu bukan tandingan Cui
 
Thian-ki dengan sebelah tangan, sambil berteriak aneh cepat ia kabur.

Terdengar suara debur air di luar, agaknya ia terjun ke laut untuk menyelamatkan diri, lalu tidak terdengar apa-apa lagi selain desir angin laut.

Diam-diam Oh Put-jiu muncul dari tempat sembunyinya, katanya dengan tertawa, "Bagaimana?"

"Meski tidak parah, sedikitnya dapat membuat dia menderita beberapa bulan," ujar Cui Thian-ki dengan tertawa. "Boleh juga akalmu ini, terima kasih."

"Semua itu kan demi kebaikanmu," kata Put-jiu.

"Jangan lupa, aku kan bini besar keponakanmu, jangan omong yang tidak-tidak," kata Thian-ki.

Muka Put-jiu menjadi merah dan tidak bicara lagi.

"Haha, kiranya kau pun bisa malu, tadinya kusangka kulit mukamu setebal tembok," ejek Cui Thian-ki.

Put-jiu berdehem kikuk dan mengeluyur pergi.

Pada saat itulah, dari permukaan laut yang kelam tanpa suara muncul 20-an sosok bayangan, semuanya memakai baju hitam ringkas. Agaknya likuran orang ini sangat mahir berenang sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara ketika bergerak di dalam air.

Semuanya memakai kain kedok hitam, hanya kelihatan sinar matanya yang gemerdep, ketika melihat suasana di atas kapal sunyi senyap, serentak mereka merunduk maju mendekati anjungan dengan gerakan enteng dan gesit.

Terdengar Cui Thian-ki lagi tertawa senang di dalam, Ling-ji, Cu-ji dan kawanan gadis muncul bersama Siaukongcu, Pui Po-ji dan Oh Put-jiu, semuanya sudah berganti baju.

"Bok-long-kun tadi " belum lanjut Po-ji bicara, mendadak Cui Thian-ki menjerit
dan menubruk di atas tubuhnya, keduanya lantas jatuh tersungkur.

Pada saat yang sama terdengar suara mendesir, sebuah senjata rahasia menyambar masuk menyerempet lewat di atas kepala Cui Thian-ki dan menancap pada tiang, kiranya sebatang anak panah kecil.

"Siapa itu?" bentak Ling-ji.

"Di sini kawanan ke-24 siluman pemburu nyawa, jika kalian ingin nyawa hendaknya serahkan harta!" seru seorang di luar.

"Blang", jendela dijebol sehingga kelihatan puluhan orang berseragam hitam ringkas dan berkedok.

Dengan bertolak pinggang dan mendelik Siaukongcu membentak, "Bandit keparat, kau tahu tempat apakah ini, berani main gila kemari!"

Si baju hitam yang menjadi kepala rombongan tertawa seram, jawabnya, "Tuan besar hanya tahu harta mestika, peduli tempat apakah ini. Kalau ingin selamat hendaknya berdiri tegak dan angkat tangan, kalau tidak "
 

"Kalau tidak mau apa?" bentak Ling-ji gusar.

Puluhan orang berseragam hitam sama terkekeh-kekeh, seorang mendadak menghantam ambang jendela sehingga bubuk kayu berhamburan.

Sama sekali Ling-ji tidak mengira kawanan bajak ini memiliki tenaga sehebat ini, nyata semuanya jago silat kelas tinggi. Ia coba menimbang kekuatan pihak sendiri. Bagi diri sendiri dan Cu-ji serta Cui Thian-ki mungkin tidak perlu gentar, tapi kepandaian yang lain jelas sukar melawan musuh sebanyak itu.

Diam-diam ia merasa khawatir, ia coba menggertak, "Kalian berani main gila di sini, apakah kalian ini anak buah si naga jenggot merah?"

"Si naga jenggot merah? Huh, kutu macam apa dia si naga jenggot merah?" jengek orang itu.

"Tidak peduli siapa kalian, yang jelas ayahku telah berkorban bagi dunia persilatan umumnya, beliau baru saja gugur dan segera kalian datang main gila, memangnya kalian tidak punya perasaan?" damprat Siaukongcu.

Orang berbaju hitam itu menengadah dan terbahak-bahak, "Haha, perasaan? Bilakah tuanmu pakai perasaan?"

Sekali ia memberi tanda, serentak likuran orang itu menerobos masuk. Ling-ji dan Cu-ji terkejut, cepat mereka mengadang ke depan.
Tiba-tiba Cui Thian-ki berseru, "Haha, semula kuheran tokoh macam apakah ke 24 siluman penyambar nyawa itu, baru sekarang kutahu duduknya perkara."

"Kau tahu perkara apa?" bentak orang tadi.

Cui Thian-ki tidak peduli padanya, ia pandang Oh Put-jiu dan menyambung, "Apakah kau paham maksudku?"

"Paham," Put-jiu mengangguk perlahan. "Sesungguhnya siapakah mereka?" tanya Ling-ji heran.
Dengan perlahan Oh Put-jiu berucap tegas, "Ti-sing-jiu Pang Jing!"

Semua orang terperanjat, orang berbaju hitam yang menjadi pemimpin rombongan itu pun menyurut mundur dua tindak.

"Bagus, kiranya kau," seru Ling-ji. "Jadi sengaja kau minta kami menyingkir ke sini, rupanya sudah kalian rencanakan untuk berbuat cara pengecut agar tidak diketahui orang banyak. Huh, biasanya kau kelihatan seorang kesatria sejati, tak tahunya cuma manusia yang berhati binatang."

"Binatang apa? Pada hakikatnya lebih rendah daripada binatang," kata Siaukongcu.

Mendadak orang yang menjadi pemimpin itu menanggalkan kedoknya sehingga kelihatan wajah aslinya. Nyata dia memang betul Ti-sing-jiu Pang Jing adanya.

Dengan menyeringai Pang Jing berkata, "Tak tersangka kalian pun cerdik
 
sehingga dapat menerka asal usul tuanmu. Sebenarnya mengingat Ci-ih-hou jiwa kalian hendak kuampuni, tapi sekarang, hm, terpaksa kalian harus kami sikat habis."

Sembari menyeringai selangkah demi selangkah ia mendesak maju.

Meski kawanan bajak ini datang dengan siap siaga, tapi menghadapi kawanan dayang di atas kapal Ci-ih-hou, mau tak mau mereka harus berpikir dua kali sebelum bertindak, sebab itulah mereka mendesak maju dengan perlahan hati- hati.

Dari imbangan kekuatan kedua pihak Oh Put-jiu dapat menilai pihak sendiri pasti bukan tandingan kawanan bajak itu setelah berpikir lagi, diam-diam ia mengeluarkan anak kunci emas pemberian Ci-ih-hou dan disisipkan pada gelung rambutnya.

Tiba-tiba terdengar Pang Jing membentak perlahan, serentak likuran orang menerjang maju sekaligus.

"Jaga Siaukongcu, Cu-ji!" seru Ling-ji.

"Aku tidak perlu dijaga orang," teriak Siaukongcu malah.
Dalam pada itu salah seorang lelaki jangkung berseragam hitam lantas menubruk ke arah Siaukongcu. Tentunya karena anak dara itu kelihatan lemah dan hendak ditawannya hidup-hidup, maka tidak menggunakan senjata melainkan hendak memegangnya dengan tangan.

Dengan mendelik Po-ji berteriak, "Huh, tidak tahu malu, orang tua hanya pandai menganiaya anak kecil."

Anak ini memang berjiwa luhur, melihat orang terancam bahaya, ia pun lupa akan diri sendiri yang tak mahir ilmu silat, tapi terus mengadang di depan anak dara itu, bahkan mendahului menjotos lelaki jangkung itu.

Namun lelaki jangkung itu juga tokoh persilatan terkenal, mana pukulan Po-ji ini mampu mengenai sasarannya.

"Awas Po-ji " seru Cui Thian-ki khawatir.

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Po-ji sudah diangkat orang dan dilemparkan jauh ke sana, "blang", tubuh anak itu membentur dek kapal dan tidak bergerak lagi.

Pucat wajah Siaukongcu, serunya, "Po-ji "

"Eh, mestika sayang, jangan urus dia " ucap si jangkung sambil menyeringai,
ia pentang kedua tangannya yang lebar terus hendak meraih tubuh Siaukongcu yang kecil mungil itu.

Namun Siaukongcu sempat berputar cepat dan menyelinap lewat di bawah tangkapan orang.

"Hehe, boleh juga Ginkangmu, mestika sayang," ejek si jangkung dengan terkekeh, kembali ia pentang kedua tangan dan meraih kian kemari.

Namun Ginkang Siaukongcu memang hebat, cuma Kungfu lain memang agak kurang. Tapi karena orangnya kecil dan langkahnya pendek, ia lari dua-tiga
 
tindak, lawan cukup sekali melangkah saja sudah menyusul sampai di belakangnya.

Ling-ji dan Cu-ji bermaksud membantunya, tapi mereka sendiri kerepotan menghadapi lawan yang lebih banyak.

Tiba-tiba terdengar Siaukongcu menjerit kaget diselingi tertawa mengakak si jangkung, tahu-tahu Siaukongcu sudah terpegang olehnya.

Sementara itu kawanan gadis di atas kapal sudah ada sebagian tak bisa berkutik lagi karena Hiat-to tertutuk musuh. Oh Put-jiu juga mandi keringat, akhirnya tidak tahan dan roboh terkulai.

Hanya Cui Thian-ki saja yang gesit masih sanggup berputar kian kemari di bawah kerubutan musuh, akan tetapi juga lebih banyak bertahan daripada balas menyerang, melihat gelagatnya, dalam waktu tidak lama ia pun akan kecundang.

Meski Kungfu Ling-ji dan Cu-ji cukup tinggi, tapi kebanyakan cuma teori saja dan kurang pengalaman tempur, tenaga pun kalah kuat. Maka hanya sebentar saja mereka sudah mandi keringat.

"Nona Cui, lekas kau lari saja, tidak perlu urus kami lagi," seru Cu-ji. "Tidak, aku tidak dapat pergi," kata Cui Thian-ki tegas.
Cu-ji sangat terima kasih, dengan suara gemetar ia berkata pula, "Nona Cui, jangan "

"Jangan salah paham," ucap Cui Thian-ki dengan tersenyum, "Bukan maksudku hendak mengorbankan jiwa percuma bagi orang lain. Soalnya kapalmu jauh dari pantai, aku sendiri tidak mahir berenang."

Dalam keadaan bahaya ia masih dapat bicara dan tertawa, sengaja bergurau dan setengah mengejek.

Bagi pendengaran Ling-ji dan Cu-ji, ucapan Cui Thian-ki itu membuat mereka rada runyam.

Mendadak seorang lelaki menubruk maju, tapi sekali bergebrak kontan Ling-ji dapat menutuknya. Gerak tutukan Ling-ji ini sungguh sangat aneh dan sukar diduga, biarpun tenaganya sudah mulai lemah, namun kepandaiannya menutuk Hiat-to yang lihai ini membuat lawan tidak berani sembarangan mendekat.

"Pang-toako," teriak seorang lelaki pendek kecil dengan suara serak, "beberapa perempuan ini cukup tangguh, apakah perlu kugunakan cara istimewa?"

"Coba saja," jawab Pang Jing tertawa.

"Baik," kata si pendek kecil, berbareng ia melompat ke samping seorang gadis yang tertutuk dan tak bisa berkutik.

Belasan gads yang tertutuk telah digusur ke pojok dinding kapal sana.

Meski Hiat-to mereka sama tertutuk, namun mereka masih sadar, semuanya tampak pucat ketakutan.

Si pendek kecil menyeringai dan mencolek pipi seorang gadis, katanya dengan
 
terkekeh, "Hehe, mestika sayang, wah, putih dan halus juga!"

Melihat kelakuan orang, Ling-ji berseru khawatir, "Keparat, akan ... akan kau apakan dia?"

Orang itu tertawa dan mengejek, "Coba katakan, akan kuapakan dia?"

Mendadak tangannya meraih sehingga baju gadis tadi terobek dan tertampaklah kulit badannya yang putih halus.

"Kau bin ... binatang!" teriak Ling-ji gemetar.

"Ya, aku memang binatang," kata si pendek. "Hehe jika kau tidak menurut, sebentar akan terjadi lagi yang lebih hebat."

Sambil bicara tangan pun bekerja, dirabanya pinggang si gadis terus ke bawah hingga pinggul yang padat, dengan cengar-cengir pula.

Keruan gadis itu ketakutan, sorot matanya menampilkan rasa mohon kasihan serupa anak domba yang akan disembelih. Tubuhnya yang putih mulus itu kelihatan gemetar.

Sembari bertempur, Ling-ji dan Cu-ji juga memerhatikan apa yang terjadi di sebelah sini, dengan sendirinya mereka pun khawatir.

Lelaki jangkung yang lain juga telah mengangkat tinggi Siaukongcu, katanya sambil menyeringai, "Hah, budak cilik ini pun tidak kecil lagi, apakah kau ingin melihatnya "

"Lepaskan dia, lepaskan " teriak Ling-ji parau.

"Jangan menyerah," seru Cui Thian-ki. "Ingat, jika kita sama jatuh ke dalam cengkeraman kawanan binatang ini, akibatnya sukar dibayangkan."

"Tapi ... tapi " teriak Ling-ji setengah meratap.
Pada saat itulah mendadak lentera yang menyala semua padam sekaligus. Meski di luar ada cahaya bintang, namun karena cahaya lampu padam serentak,
pandangan semua orang seketika kabur dan tidak melihat apa pun. Hanya hidung semua orang segera mencium semacam bau harum yang aneh.

Menyusul dari luar anjungan tiba-tiba melayang masuk lagi puluhan bayangan emas serupa hantu dan seperti badan halus, tapi juga serupa binatang aneh.

Komplotan Pang Jing itu kebanyakan adalah tokoh Kangouw yang biasa membunuh orang tanpa kenal ampun, tapi sekarang mereka pun merasa ngeri menyaksikan puluhan bayangan emas serupa hantu itu, tanpa terasa mereka sama menyurut mundur dan berjubel menjadi satu.

Ling-ji, Cu-ji dan Cui Thian-ki juga lantas menyingkir ke pojok sana dengan tangan berpegang tangan.

Kini semua orang sudah dapat melihat bahwa bayangan emas itu bukan setan iblis atau badan halus, tapi mirip bayangan manusia, dan bau harum tadi pun tersiar dari tubuh orang-orang ini.
 
Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya, berpuluh garis cahaya kuat memancar ke arah tubuh bayangan manusia warna emas itu sehingga membuat pandangan semua orang sama silau.

Sejenak kemudian barulah semua orang dapat melihat jelas bayangan emas itu terdiri dari kawanan gadis yang berpotongan tubuh ramping dengan rambut panjang tersampir di pundak, tubuh kawanan gadis jelita itu rata-rata sangat montok menggiurkan, seperti tidak mengenakan sepotong kain pun, namun penuh dilumuri bubuk emas yang sangat aneh dan memancarkan cahaya emas di bawah cahaya yang terang.

Melihat tubuh yang penuh daya tarik, terlebih bau harumnya yang aneh itu, barang siapa mengendus bau harum itu seketika akan timbul semacam perasaan syur yang sukar dilukiskan.

Pada saat perasaan semua orang terombang-ambing itulah sekonyong-konyong kawanan gadis warna emas sama pentang tangan dan tertawa genit menubruk ke arah orang-orang berseragam hitam.

Meski kawanan orang berseragam itu sudah berpengalaman tempur, tapi dalam keadaan demikian menghadapi lawan aneh begini, seketika mereka menjadi gugup. Sementara itu kawanan gadis warna emas sudah menerjang tiba dan mereka masih berdiri melongo, tidak mengelak juga tidak menangkis. Maklumlah, tubuh yang montok dengan bau harum yang menggiurkan itu membuat mereka lupa daratan.

Dan ketika mereka terkejut sadar, ingin menghindar pun sudah kasip.

Lebih 20 anak gadis berwarna emas itu tahu-tahu sudah menubruk ke atas tubuh kawanan orang berseragam hitam, kedua tangan mereka menyusup ke belakang dan merangkul bahu dengan erat, kedua kaki mereka yang panjang juga mencawat ke belakang tubuh lawan, ujung kaki tepat mengait bagian lutut.

Sepintas pandang serupa pasangan muda-mudi yang sedang pacaran dengan mesranya, sama sekali tidak ada tanda orang yang sedang bertempur atau saling bunuh.

Semua orang sudah sering menyaksikan adegan pertempuran sengit, tapi mimpi pun tidak pernah melihat cara bertempur yang aneh itu. Keruan semua orang sama melenggong.

Kawanan orang berseragam hitam selain kejut dan heran, terasa pangkuan masing-masing terangkul juga sesosok tubuh yang panas serupa api, pikiran mereka terguncang dan pandangan kabur, kaki tangan pun tidak bertenaga, mana lagi sanggup bertempur.

"Kita orang apa?" terdengar salah seorang gadis warna emas itu berteriak. Serentak kawanan gadis emas yang lain menjawab lantang, "Wi-kim-mo-li!"
Di tengah suara nyaring itu terdengarlah suara "krak-krek" beruntun-runtun disusul suara jeritan ngeri, lalu suara tertawa genit menggiurkan kawanan gadis warna emas.

Waktu kawanan gadis emas itu melompat turun dari tubuh lawan, serentak kawanan orang berseragam hitam sama roboh dengan merintih tanpa bergerak lagi.
 

Rupanya kawanan gadis emas yang menamakan dirinya "Wi-kim-mo-li" atau gadis iblis emas murni ini dalam sekejap saja telah membuat remuk ruas tulang bahu dan lutut kawanan orang berseragam hitam itu.

Keruan orang-orang lain yang menyaksikan itu sama melongo pucat, hanya Cui Thian-ki saja yang tetap tenang, sama sekali tidak gugup, sebaliknya kelihatan senang.

Pang Jing tampak mandi keringat, ucapnya dengan gemetar. "Jadi kalian Wi-kim- mo-li dari barat "

Tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara melengking tajam, "Betul, ternyata luas juga pengetahuanmu!"
Suaranya nyaring serupa benda logam yang bergesek dan mengilukan. Tambah takut Pang Jing, ucapnya gemetar, "Kim Kim-locianpwe, selamanya
tiada permusuhan apa pun antara kita, ken ... kenapa engkau "

"Kentut!" bentak orang di luar anjungan itu. "Biarpun Ci-ih-hou bukan manusia baik, tapi kawanan dayangnya masakah boleh sembarangan disentuh oleh kawanan anjing seperti kalian ini?"

Lebih dulu ia memaki Ci-ih-hou bukan manusia baik, rasanya ia pun menaruh hormat kepada tokoh misterius itu, maka sukar diketahui sesungguhnya dia kawan atau lawan Ci-ih-hou.

Kawanan gadis merasa kejut dan girang. Bilamana orang ini adalah kawan Ci-ih- hou, maka musibah hari ini tentu akan berubah menjadi selamat. Sebaliknya kalau orang ini bukan kawan Ci-ih-hou, maka urusan pasti akan runyam.

Cui Thian-ki masih kelihatan tenang-tenang saja, agaknya ia sudah dapat meraba asal usul dan siapa pendatang ini.

Orang lain sama memandang keluar anjungan, sebab pendatang ini apakah baik atau busuk, kawan atau lawan, betapa pun pasti seorang tokoh yang terkemuka dan berharga untuk ditonton.

Mendadak cahaya emas berkilauan, sepotong lonjoran emas sepanjang tiga kaki terlempar masuk dengan cepat, dan begitu lonjoran emas jatuh ke lantai baru terlihat jelas lonjoran emas ini adalah manusia.

Perawakan orang ini tidak lebih dari satu meter, sekujur badan gemerdep warna emas, baju yang dipakainya entah terbuat dari bahan apa, kepala memakai kopiah raja emas berbentuk aneh, namun jelas sangat berat, jika terpakai di atas kepala orang lain bisa jadi tulang leher akan tertindih patah.

Yang paling aneh adalah jenggotnya yang panjang melebihi tubuhnya itu terseret menyentuh lantai, warna jenggotnya juga kuning emas sehingga kelihatan aneh dan lucu.

Bentuk orang ini jelas sangat lucu, tapi demi melihat dia, semua orang tiada lagi yang merasa geli, malahan lebih banyak yang gemetar ketakutan.

Serentak kawanan gadis warna emas tadi sama menyembah, tubuh mereka yang menggiurkan serupa patung bidadari emas yang memesona.
 

Kakek berjenggot emas itu terbahak-bahak, serunya, "Haha, bagus, bagus, mendingan kalian tidak membikin malu padaku."

Memangnya suaranya terasa mengilukan, sekarang suara tertawanya tambah membuat telinga orang mendengung. Siapa pun sukar membayangkan bahwa orang tua yang bertubuh kerdil ini bisa mengeluarkan suara sekeras ini.

Mendadak suara tertawa si kakek berjenggot emas terhenti, sorot matanya beralih ke tubuh Cui Thian-ki.

Bukan saja seluruh tubuhnya berwarna emas, sampai sorot matanya juga memancarkan cahaya keemasan, asalkan beradu pandang dengan dia tanpa terasa akan timbul rasa ngeri.

Namun wajah Cui Thian-ki justru menampilkan senyuman genit dan menggiurkan.

Kim-si-lojin alias si kakek berjenggot emas tertawa, serunya, "Aha, bagus, tak tersangka si budak Cui juga berada di sini."

"Bagus, bagus, tak terduga Kim-ho-ong akan hadir kemari!" Cui Thian-ki menanggapi dengan tertawa.

Cara bicaranya sengaja menirukan lagak lagu si kakek yang disebut Kim-ho-ong (Raja Sungai Emas) itu, dan caranya menirukan ternyata sangat persis sekali.

Sampai kawanan gadis berwarna emas tadi juga terbelalak heran.

Ling-ji dan lain-lain terkejut dan bergirang, pikir mereka, "Ah, syukurlah nona Cui kenal dia, agaknya kita akan tertolong. Selain bentuknya aneh, nama orang tua ini juga lucu, entah mengapa disebut Kim-ho-ong?"

Betapa pun mereka orang muda, begitu hilang rasa takutnya lantas mulai memikirkan hal-hal yang lucu.

Kim-ho-ong tertawa keras, katanya, "Budak kurang ajar, berani kau tirukan suara paman Kim?"

Biji matanya yang berwarna keemasan berputar, lalu berucap pula dengan menyesal, "Tapi budak Cui, sering kau omong besar betapa tinggi kepandaianmu, setelah kusaksikan sendiri tadi, sungguh aku sangat kecewa."

"Oo? " Cui Thian-ki tertawa.

"Jika kau berada di sini, mengapa kau biarkan kawanan dayang Ci-ih-hou dan putrinya dianiaya kawanan binatang ini, sungguh aku pun kehilangan muka atas ketidakbecusanmu," omel Kim-ho-ong sambil menggeleng kepala.

Agaknya dia sangat mendongkol sehingga jenggotnya yang panjang ikut bertebaran tertiup angin sehingga sekilas pandang serupa arus air sungai yang berwarna emas.

Baru sekarang kawanan ini tahu arti nama orang tua itu, rupanya karena jenggotnya yang bergerak seperti arus itu.

"Kawanan binatang ini memang menggemaskan," kata Cui Thian-ki kemudian.
 
"Entah cara bagaimana engkau akan membereskan mereka?"

"Mengingat di antara mereka ada juga yang kenal asal usulku, bolehlah mereka diampuni " ucap Kim-ho-ong.

Pang Jing dan begundalnya menjadi girang, sebaliknya kawanan gadis merasa penasaran.

Tak terduga Kim-ho-ong lantas menambahkan, "Dan bolehlah kematian mereka diberi keringanan, biar mereka mati dengan tubuh sempurna."

Ucapan ini selain membuat kawanan orang berseragam hitam merasa ngeri, para gadis juga terperanjat. Siapa pun tidak menyangka si kakek emas bisa bertindak sekeji ini, katanya hendak mengampuni orang, namun nyawa orang tetap harus dilenyapkan.

Dengan suara parau Pang Jing berteriak, "Wi-kim-kiong "

Belum lanjut ucapannya dua gadis emas sudah menarik tubuhnya terus dilemparkan keluar, kontan tubuh Pang Jing menerobos jendela dan jatuh di tengah laut.

Menyusul lantas terdengar suara "plang-plung" berulang, dalam sekejap saja likuran orang berseragam hitam itu sudah dilempar semua ke laut.

Orang-orang berseragam hitam itu sudah cacat badan, dengan dilempar ke laut, jelas nyawa mereka pasti amblas.

Kim-ho-ong terbahak-bahak sambil meraba jenggotnya yang panjang, katanya, "Nah, baru sekarang beres seluruhnya. Kawanan lelaki yang bertubuh sempurna itu paling membuatku benci."

Waktu ia berpaling, mendadak ia menuding Oh Put-jiu dan membentak, "Kenapa masih tersisa satu, lemparkan sekalian!"

Keruan Cu-ji dan Ling-ji terkejut. Terlihat kawanan gadis emas sudah mulai mengangkat tubuh Oh Put-jiu.

Tadi Ling-ji dan Cu-ji sudah menyaksikan Kungfu kawanan gadis emas yang hebat dan aneh itu, mereka sadar melulu tenaga sendiri sukar menyelamatkan Oh Put-jiu, tapi apa pun juga mereka tidak dapat menyaksikan si kepala besar dilempar ke laut begitu saja. Serentak mereka lantas melompat maju menghalangi daun jendela.

"Dia dia bukan komplotan kawanan orang berseragam, juga tiada permusuhan
apa pun dengan kalian, mengapa kalian hendak membunuhnya?" teriak Ling-ji.

"Setiap lelaki di dunia ini pantas mampus semua, tahu tidak?" ucap Kim-ho-ong. "Nah, lekas minggir?!"

Kejut dan gusar juga Ling-ji, teriaknya, "Jika begitu, memangnya setiap lelaki di dunia ini harus kau binasakan seluruhnya dan tersisa engkau sendiri saja baru puas, begitu?

"Ya, memang begitu, sebab "

Belum lanjut ucapan Kim-ho-ong, mendadak Cui Thian-ki menukas, "Sebab
 
setelah setiap lelaki di dunia ini mati ludes, maka tiada orang yang merasakan dia terlebih cebol daripada lelaki lain."

Kim-ho-ong tertawa keras, "Ya, betul, tahu juga kau."

Watak kakek kerdil ini sungguh sangat aneh dan jarang ada bandingannya, pada waktu tidak perlu marah, ia justru marah. Sekarang ia disindir oleh Cui Thian-ki, ia berbalik tidak memperlihatkan rasa gusar.

Maka Cui Thian-ki berkata pula, "Tapi bila kau bunuh orang ini, ibuku pasti tidak suka, tatkala mana bila ibu tidak gubris lagi padamu, tentu bisa runyam bagimu."

"Oo, apa betul?" tampak Kim-ho-ong melenggong. "Siapa yang berani menipumu?"
Kembali Kim-ho-ong melenggong, mendadak ia mengentak kaki dan memukuli dada sendiri, papan geladak sampai berbunyi keras.

Melihat kegusaran kakek itu, kawanan gadis sama melengak, disangkanya sekali ini Oh Put-jiu pasti akan terbunuh.

Tak tersangka setelah berjingkrak sejenak, Kim-ho-ong lantas berteriak lagi, "Lepaskan bocah buruk itu, lempar ke belakang dan jangan sampai kulihat dia lagi."

Dan sekali lempar, kawanan gadis emas itu lantas melemparkan Oh Put-jiu ke belakang anjungan.

Selang sejenak, setelah Ling-ji tenang kembali, perlahan ia tampil ke muka dan memberi hormat, katanya, "Cianpwe telah membebaskan kami dari kesukaran, entah cara bagaimana kami harus membalas budi pertolongan ini."

"Betul, aku sudah menyelamatkan nyawa kalian," seru Kim-ho-ong, "kalian memang pantas membalas kebaikanku ini. Cara bagaimana kalian akan membalas budi, boleh kau katakan sendiri saja."

Ling-ji berpikir sejenak, ucapnya kemudian, "Ada juga Houya meninggalkan sedikit harta benda "

Kim-ho-ong tergelak, "Haha, harta benda? Siapa yang menghendaki harta bendamu? Setiap orang tahu Wi-kim-kiong kaya raya tiada tandingan, memangnya kedatanganku ini ingin mencari harta?"

Ling-ji melengak, ia coba melirik kawanan gadis emas, ucapnya dengan gugup, "Habis Cianpwe ingin ingin apa?"

"Kau pun tidak perlu khawatir akan kubawa pergi kalian," kata Kim-ho-ong pula. "Meski aku pun penggemar perempuan cantik, tapi pelayan orang lain rasanya tidak sudi kugaet."

Baru sekarang Ling-ji mengembus napas lega, ucapnya hampa, "Entah Cianpwe ingin memberi pesan apa?"

Mendadak Kim-ho-ong berhenti tertawa, katanya dengan menarik muka, "Kedatanganku ini hanya ingin mencari berita satu orang. Permusuhanku dengan orang ini sedalam lautan dan tidak mungkin hidup bersama. Jika tidak kutemukan
 
jejaknya dan membunuhnya, selama hidupku ini takkan tenteram."

Ia bicara dengan penuh rasa dendam kesumat sehingga membuat ngeri orang yang mendengarkan.

"Entah ... entah siapakah orang ini?" tanya Ling-ji dengan rada gemetar.

Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, katanya. "Dia bukan lain Suheng Ci- ih-hou yang busuk itu, ia ketakutan padaku sehingga bersembunyi seperti kura- kura. Di seluruh jagat ini hanya Ci-ih-hou saja yang tahu jejaknya."

"Tapi ... tapi agak terlambat kedatangan Cianpwe, sebab Houya kami sudah ... sudah wafat," ucap Ling-ji.

"Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu dia sudah mampus," kata Kim-ho-ong dengan terkekeh. "Justru lantaran dia sudah mati, maka kudatang kemari.
Mungkin kalian tidak tahu sudah belasan tahun kutunggu kematiannya dan selama itu belum terjadi. Ketika kudengar kabar dia akan bertanding pedang dengan orang, segera juga kususul kemari, ingin kulihat dia mampus di bawah pedang orang "

"Tapi dengan wafatnya Houya, kan tiada orang lain lagi yang tahu jejak "

"Haha, memangnya orang macam apa diriku ini sehingga dapat kau bohongi?" Kim-ho-ong tertawa aneh pula. "Hubungan Ci-ih-hou dengan Suhengnya lain daripada yang lain, bila Ci-ih-hou mati, mustahil dia tidak meninggalkan pesan apa-apa padamu? Terlebih si tokoh berbaju putih itu menyatakan tujuh tahun kemudian akan datang lagi, masakah Ci-ih-hou tidak menunjuk seseorang agar datang kepada Suhengnya untuk minta belajar?"

Air muka Ling-ji berubah, ucapnya tergegap, "Tapi ... tapi "

"Tapi apa?!" bentak Kim-ho-ong. "Ayo, lekas kalian mengaku terus terang di mana dia tinggal, kalau tidak, jangan menyesal jika terpaksa aku bertindak kasar padamu."

Meski biasanya Ling-ji pintar omong dan pandai putar lidah, tidak urung sekarang ia menjadi gelagapan.

Kim-ho-ong menarik sebuah kursi, ia melompat ke atas kursi dan duduk bersila di situ, katanya sambil memberi tanda kepada kawanan gadis emas, "Ayo lekas menyanyi, bawakan lagu yang enak didengar!"

Kawanan gadis emas itu mengiakan, segera mereka menyanyi. Meski suara mereka cukup merdu, namun kaku dan dingin, sedikit pun tidak enak didengar.

"Sehabis mereka bernyanyi dan kalian belum juga memberi keterangan, segera akan kuhajar adat padamu," ucap Kim-ho-ong, lalu ia pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.

Ternyata lagu yang dibawakan gadis emas itu kemudian berubah menjadi merdu merayu dengan lirik yang porno sehingga membuat para pendengar terkesima dan akhirnya tidak tahan.

Mendadak Cui Thian-ki berseru, "Sudahlah, jangan nyanyi lagi!" "Siapa itu yang bilang?" bentak Kim-ho-ong sambil membuka mata.
 

"Ai, seumpama mereka menyanyi tiga hari tiga malam dan orang tetap tidak mau bicara sekata pun, lain bisa apa?" ujar Cui Thian-ki.

Serentak Kim-ho-ong melompat turun, dampratnya sambil menuding Cui Thian- ki, "Budak busuk, jelas kau sendiri anggota keluarga Ngo-heng-sin-kiong kita, mengapa kau bicara membela orang lain?"

"Aku tidak bermaksud membela orang luar," sahut Cui Thian-ki dengan tertawa. "Aku hanya bicara menurut fakta saja, memangnya engkau lebih suka aku dusta padamu."

Kim-ho-ong memberi tanda sehingga suara nyanyi segera berhenti, dengan gemas ia melototi Ling-ji dan Cu-ji hingga sekian lama, mendadak ia membentak, "Kalian mau mengaku atau tidak?"

Namun Cu-ji dan Ling-ji tetap bungkam tanpa bersuara.

"Nah, apa kataku, betul tidak?" ujar Cui Thian-ki dengan tertawa.

Kim-ho-ong berjingkrak murka, tapi semakin garang ia mencaci maki, semakin rapat pula Ling-ji dan Cu-ji membungkam.

Cui Thian-ki berdiri bersandar dinding dengan santai, ucapnya perlahan, "Jika engkau percaya dan mau menurut, hendaknya engkau pulang saja supaya tidak bikin rusak kesehatanmu sendiri jika terus marah-marah di sini."

Kim-ho-ong termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia tertawa keras lagi, katanya, "Haha, bagus, ingin kulihat apakah kalian mau mengaku atau tidak?"

Segera ia mengeluarkan segulung kawat emas.

Panjang kawat emas ini tampaknya ada beberapa tombak, halus serupa benang, mirip benang sulam yang biasa dipakai orang perempuan, siapa pun tidak tahu apa gunanya kawat emas lembut ini bagi Kim-ho-ong.

Hanya Cui Thian-ki saja yang tahu apa gunanya kawat emas itu, mendadak air mukanya berubah.

Dalam pada itu Kim-ho-ong telah mengayun tangannya sehingga gulungan kawat emas itu terjulur panjang ke depan dan tertarik hingga lurus.

"Hehe, coba, kau mengaku atau tidak?" dengan terkekeh Kim-ho-ong lantas menyabetkan kawat emas itu ke tubuh kawanan gadis.

Kawat emas itu beberapa tombak panjangnya sehingga setiap anak gadis itu rata-rata tersabet oleh kawat itu. Orang mungkin menyangka kawat emas selembut itu takkan menimbulkan rasa sakit meski tersabet. Ternyata tidak demikian halnya, begitu sabetan menyentuh badan, kontan baju kawanan gadis itu sama robek berkeping-keping sehingga kelihatan kulit badan yang putih bersih dan babak belur.

Karena Hiat-to mereka tertutuk sehingga tidak dapat bergerak, ingin menjerit pun tidak bisa, hanya wajah mereka kelihatan ketakutan dan menahan rasa sakit.

Ling-ji dan Cu-ji berteriak terus menubruk maju, segera mereka bermaksud menarik kawat emas. Siapa tahu kawat emas lembut itu ternyata bergerak
 
serupa ular hidup, sekali berputar dan melingkar balik, kontan Ling-ji berdua juga tersabet.

Tergetar tubuh Ling-ji dan Cu-ji, sabetan kawat emas itu serupa besi panas yang menyengat tubuh, sakitnya sukar dilukiskan.

"Nah, mengaku tidak?" bentak Kim-ho-ong pula dengan terkekeh. Melihat orang lain tersiksa, tampaknya dia sangat senang, tangan bergerak dan kawat emas segera hendak menyabet pula.

Ling-ji dan Cu-ji menjadi nekat dan bermaksud menerjang musuh untuk melabraknya.

Mendadak terdengar seorang berteriak, "Berhenti dulu, akan kukatakan!"

"Haha, bagus, akhirnya ada juga yang mengaku!" seru Kim-ho-ong dengan tertawa, sekali sendal, kawat emas panjang itu melingkar balik dan tergulung menjadi satu.

Maka terlihatlah seorang anak lelaki dengan mata besar dan hidung mancung muncul dari pojok ruang sana. Siapa lagi dia kalau bukan Pui Po-ji. Entah sejak kapan dia sudah siuman.

"Huh, setan cilik macam dirimu ini tahu apa?" omel Kim-ho-ong dengan kening bekernyit.

Berbareng Ling-ji dan Cu-ji lantas berteriak juga, "Po-ji, tidak boleh kau katakan."

Semula Kim-ho-ong tidak percaya anak sekecil itu tahu sesuatu, demi mendengar ucapan Ling-ji dan Cu-ji, ia menjadi girang, sebab kalau benar anak bocah ini tidak tahu apa-apa, tentu Ling-ji berdua tidak perlu khawatir.

Sekali lompat segera Kim-ho-ong mendekati Po-ji, ucapnya dengan tertawa, "Anak sayang, lekas katakan apa yang kau ketahui, sebentar kakek memberikan permen untukmu."

Ia menjulurkan tangan dan bermaksud membelai kepala Po-ji, sayang ia terlampau kerdil, lebih pendek satu kepala daripada Po-ji, dengan sendirinya sukar meraba kepala anak itu.

Mendadak Po-ji mendelik dan menjawab, "Engkau kakek siapa?"

Kim-ho-ong melenggong, lalu tergelak dan berkata, "Haha, bagus, bagus! Aku kakek orang lain!"

Po-ji tertawa, katanya, "Bagus, adik cilik berjenggot panjang, beginilah baru kakak sayang padamu, sebentar kakak membelikan permen untukmu."

Kembali Kim-ho-ong melenggong, seperti mau marah, tapi urung sehingga sikapnya kelihatan kikuk, hanya meraba jenggot terus-menerus.

Bilamana tidak lagi tertekan perasaannya, tentu Ling-ji dan Cu-ji sudah tertawa geli.

Segera Po-ji bertutur, "Setelah Ci-ih-hou wafat, pernah dia tinggalkan sepucuk surat wasiat, pada sampul surat tertulis alamat Suhengnya. Surat wasiat itu
 
sekarang berada pada siapa, hal ini tentu sangat ingin kau ketahui bukan?" "Ya, betul, lekas berkata," seru Kim-ho-ong girang.
"He, bicara dengan Toako, mana boleh sekasar ini?!" omel Po-ji.

Kim-ho-ong berdehem kikuk, diam-diam ia memaki di dalam hati, "Binatang cilik, sebentar bila sudah kau katakan, bisa kurobek tubuhmu."

Tapi sebelum Po-ji bertutur, andaikan dia disuruh memanggil anak itu sebagai kakek mungkin juga akan dilakukannya.

Terpaksa ia terkekeh dan menjawab, "Oya, Toako, mohon lekas menjelaskan."

Cui Thian-ki tertawa mengikik geli, serunya, "Hihihi, lucu bin aneh, lelucon setiap tahun terjadi, baru ini terlebih lucu. Kakek jenggot panjang justru memanggil Toako kepada seorang anak kecil!"

Ling-ji dan Cu-ji tidak tahan lagi rasa gelinya, mereka mengikik tawa. Tapi demi teringat kepada persoalan rumit yang belum terpecahkan, air mata mereka hampir menitik lagi.

Terdengar Po-ji berkata, "Jika kau minta Toako bicara, mudah saja. Cuma anak gadis ini sama sekali tiada permusuhan denganmu, lebih baik kau bebaskan mereka pergi saja."

Gemertuk gigi Kim-ho-ong saking geregetan, tapi di mulut terpaksa menjawab, "Ah, gampang, gampang "

Lalu ia memberi tanda, "Buka Hiat-to mereka dan bebaskan mereka pergi!"

Hendaknya maklum, dengan susah payah ia berusaha mencari tahu tempat pengasingan Suheng Ci-ih-hou, segala urusan lain dapat dikesampingkannya. Kalau tidak, masakah dengan kedudukannya yang diagungkan sudi menyebut "Toako" kepada Pui Po-ji?

Maka dengan gerak cepat kawanan gadis emas tadi lantas bekerja, hanya sekejap saja kawanan gadis lantas dapat bergerak bebas.

Keadaan kawanan gadis itu agak mengenaskan, baju robek dan muka pucat, badan babak belur pula, berdiri saja tampak lemas, dan tangan mereka berusaha menutupi bagian badan yang terbuka, dengan wajah memelas mereka memandang Ling-ji dan Cu-ji.

Namun Ling-ji dan Cu-ji sendiri juga berlinang air mata, mereka menunduk dan berucap lemah, "Kalian lekas pergi saja "

Po-ji tidak tega memandang mereka, ia cuma berseru, "Peti yang terletak di pojok sana itu memang bagian mereka, bagaimana kalau diberikan juga kepada mereka."

"Oya, boleh, boleh saja " kata Kim-ho-ong sambil memberi tanda.

Hanya sekejap saja kawanan gadis emas sudah mengangkat puluhan peti harta itu ke depan kawanan gadis jelita.

Terpaksa kawanan gadis itu angkat kaki dengan menerima pesangon itu. Biarpun
 
mereka tidak mau pergi, terpaksa mereka pergi dengan perasaan berat. Betapa pun mereka adalah anak perempuan yang tidak tahan siksa dan hinaan lagi.

"Budak busuk!" bentak Kim-ho-ong. "Tidak lekas enyah, mau tunggu apa lagi? Apa minta kuhajar pula?"

Dengan gemetar kawanan gadis itu sama berlutut di depan Ling-ji dan Cu-ji sambil meratap, "Maaf, kami ... kami menyesal "

"Tidak, Houya pasti tidak menyalahkan kalian," ujar Ling-ji. "Sekarang lekas kalian pergi saja."

"Betul, Houya memang juga menyuruh kalian lekas pergi, maka lekaslah berangkat, bila terlambat lagi mungkin menjadi kasip seterusnya," tukas Cui Thian-ki sambil membagikan peti harta benda itu.

Berulang Kim-ho-ong mengentak kaki dan membentak agar kawanan gadis itu lekas enyah.

Akhirnya kawanan gadis itu melangkah pergi, sebelum keluar anjungan, tanpa terasa mereka sama menoleh memandang sekejap kepada Po-ji, meski cuma sekilas pandang saja, namun sorot mata mereka yang pedih dan terima kasih itu cukup membuat Po-ji takkan lupa selamanya.

Malam bertambah larut, kabut tambah tebal sehingga cahaya bintang pun guram.

Terlihat belasan sosok bayangan emas kecil menjinjing lentera, ada yang duduk dan ada yang berdiri sama berpegangan pada tambang layar di sekitar anjungan, cahaya lentera menembus ke dalam anjungan melalui jendela yang terbuka.
Bayangan emas kecil itu tampaknya serupa benar dengan Kim-ho-ong, tapi bila diawasi baru ketahuan "mereka" tidak lain adalah belasan ekor kera berbulu emas yang sudah terlatih sehingga paham benar kehendak sang majikan.

Di samping kapal layar terdapat belasan rakit kulit yang ringan, mungkin rakit yang digunakan Kim-ho-ong dan rombongannya. Rakit kulit yang enteng dan gesit sehingga tidak menimbulkan suara ketika meluncur di permukaan air.

Kawanan gadis menurunkan sampan, lalu berangkat dengan menahan isak tangis.

Kim-ho-ong sudah tidak sabar menunggu lagi, segera ia terkekeh dan menegur Pui Po-ji, "Nah, mereka sudah pergi. Sekarang tentunya dapat kau katakan siapa yang memegang surat wasiat tinggalan Ci-ih-hou,"

"Ya, berada padaku sendiri," jawab Po-ji.

"Oo, berada berada padamu?!" Kim-ho-ong menegas. "Wah, bagus sekali.
Nah, serahkan padaku."

Tapi Po-ji hanya menatapnya dengan pandangan tajam, sorot matanya menampilkan sikap yang aneh, seperti mengejek, serupa juga senang, "Kau tidak dapat mengambilnya."

"Binatang cilik," Kim-ho-ong menyeringai. "Apakah kau pun ingin tahu rasa?"

Mendadak Po-ji tertawa, ejeknya, "Huh, kau monyet emas tua bangka, kenapa tidak kau bunuh diriku dan makan diriku atau bakar diriku, yang jelas surat
 
wasiat itu takkan dapat kau ambil, sebab surat wasiat itu sudah kumakan di dalam perut."

Kejut dan girang Ling-ji dan Cu-ji, akhirnya terharu juga dan mencucurkan air mata pula, mencucurkan air mata bagi Pui Po-ji. Siapa pun tidak menyangka anak sekecil ini sedemikian berani dan sedemikian cerdik.

Kim-ho-ong seperti disambar petir dan termangu-mangu, mendadak ia membentak murka, "Binatang cilik, akan kubedah perutmu!"

Habis bicara serentak ia menubruk maju dan mencengkeram serupa hantu. Meski perawakannya lebih kecil, sekali cengkeram Po-ji kena diangkatnya ke atas.

Po-ji sudah bertekad untuk mati, maka sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa takut, sebaliknya ia malah tersenyum, hanya dalam hati terasa agak pedih.

Ling-ji menjerit dengan gemetar, "Jangan takut Po-ji, jika engkau mati biar kutemanimu "

"Aku juga " sambung Cu-ji dengan menangis sehingga tidak dapat
meneruskan ucapannya.

"Lepaskan dia!" mendadak Cui Thian-ki membentak.

Dengan menyeringai Kim-ho-ong menjawab, "Sebentar setelah kubedah perutnya baru kulepaskan dia!"

"Akan kau bedah perutnya? Memangnya sengaja hendak kau bikin aku menjadi janda?" seru Cui Thian-ki.

Kim-ho-ong melenggong heran, "Apa apa katamu?"

Dengan santai Cui Thian-ki menjawab, "Dia sudah menjadi suamiku, aku telah menjadi istrinya. Sekarang dia adalah majikan cilik 'Seng-cui-sin-kiong' kami, memangnya berani kau bunuh dia?"

Setelah tertegun sejenak, mendadak Kim-ho-ong menengadah dan terbahak- bahak, "Hahaha, kau telah menjadi istrinya? Hahaha, binatang cilik ini suamimu? Haha ... omong kosong ... kentut belaka ... lelucon yang tidak lucu "

Suara tertawanya makin lama makin ewa, makin lemah, sampai akhirnya cuma keluar suara "ho-ho-ho" dan "he-he-he" dari kerongkongannya. Soalnya dari sikap Ling-ji dan Cu-ji serta ketenangan Cui Thian-ki, ia tahu apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu bukanlah kentut, juga bukan omong kosong, apalagi lelucon.

"Nah, tidak kau lepaskan dia sekarang?!" kata Cui Thian-ki pula dengan tersenyum.

Kim-ho-ong mengentak kaki berulang-ulang dengan menggertak gigi, tiba-tiba ia terkekeh dan berucap halus, "Hehe, nona yang baik, kumohon, kuminta dengan hormat, biarkan kubunuh bocah ini. Jika tidak kubunuh bocah ini, sungguh rasa gemasku tidak terlampiaskan. O, nona baik, biarkan kubunuh dia, selama hidupku takkan kulupakan kebaikanmu."

"Ai, kenapa engkau menjadi pikun begini?!" ujar Cui Thian-ki dengan tertawa genit. "Kan sudah kukatakan, dia sudah menjadi suamiku, mana kutega membiarkan dia dibunuh olehmu?"
 

"Oo, nonaku yang baik, selanjutnya, biarpun harus kupanggil bibi padamu pun jadi, ingin kusembah padamu pun boleh, asal saja "

"Tidak, betapa pun tidak bisa," potong Cui Thian-ki sambil menggeleng.

Mendadak Kim-ho-ong berteriak dan memaki, "Keparat, budak busuk, budak mampus, jangan kau lupa, berpuluh orang tua-muda atau besar-kecil penghuni Ngo-heng-kiong hanya Kungfuku yang paling tinggi, jika kubunuh dia begitu saja memangnya kau bisa berbuat apa padaku?"

Cui Thian-ki tertawa, katanya, "Betul, memang Kungfumu paling tinggi, tapi jika berhadapan dengan ibuku, sama sekali Kungfumu tidak ada gunanya lagi. Meski caramu bicara sekarang galak seperti setan, bila berhadapan dengan ibuku, kentut saja kau tidak berani."

Kepala Kim-ho-ong lantas menunduk, muka pun kelihatan merah, agaknya apa yang dikatakan Cui Thian-ki itu memang bukan omong kosong.

Kawanan gadis emas saling pandang dan sama menampilkan senyuman aneh. Meski orang luar tidak ada yang tahu kenapa Kim-ho-ong yang garang itu bisa sedemikian takut terhadap majikan perempuan "Seng-cui-sin-kiong", namun kawanan gadis emas itu tentu saja tahu dengan jelas hal tersebut.

Selang tak lama, tiba-tiba Kim-ho-ong mengangkat kepala, katanya dengan menyeringai, "Hm, bilamana kau pun kubunuh sekalian di sini, dari mana ibumu mendapat tahu siapa yang berbuat kejam padamu?"

"Memangnya kau berani?" tanya Cui Thian-ki dengan tertawa. "Kenapa tidak berani?" jawab Kim-ho-ong.
"Tidak, kau tidak berani," ujar Thian-ki dengan tertawa. "Jika berani tentu sejak tadi sudah kau lakukan. Sebab, apa pun juga kau tidak pernah lupa kepada Bu- cui-wi-hong-kiam (sengat tawon kuning tanpa cairan) Seng-cui-sin-kiong kami. Biarpun aku dapat kau bunuh juga sebelum mati akan kusengat dirimu satu kali, sengatan yang tidak dapat disembuhkan oleh siapa pun di dunia ini, sebab orang yang pernah merasakan sengatan demikian sudah lama sama pulang ke rumah nenek moyangnya alias modar, sebabnya selama ini Bok-long-kun tidak berani bergebrak denganku secara terbuka bukankah karena dia juga takut kugunakan jurus terakhir yang siap untuk gugur bersama ini?!"

Kembali Kim-ho-ong melenggong sampai sekian lama, mendadak ia lepaskan Pui Po-ji, bentaknya dengan geregetan, "Kurang ajar! Bisa mati aku saking gusar!"

Habis berucap, terus saja ia menerjang ke dinding anjungan. Betapa kuat dinding kapal itu, tapi sekali ditumbuk oleh kepalanya, langsung dinding kapal menjadi bolong, di tengah berhamburnya bubuk kayu ia terus menerobos keluar.

Melihat betapa hebat kekuatan orang tua kerdil itu, Ling-ji dan Cu-ji sama melongo kaget.

Selang sejenak, "blang", tahu-tahu dinding sebelah lain berlubang pula dan Kim- ho-ong melayang masuk lagi sambil terbahak-bahak.

Sementara itu Cui Thian-ki sudah membangunkan Pui Po-ji dan sedang meraba- raba tubuh anak itu sambil bertanya, "Sakit tidak?"
 

Lalu ia berpaling dan tanya Kim-ho-ong, "Nah, rasa gemasmu sudah terlampias?!"

"Haha, aku ini sungguh keledai tolol, keledai goblok!" ucap Kim-ho-ong dengan tertawa.

"Jadi baru sekarang kau tahu?" ujar Cui Thian-ki dengan terkikih geli.

Kim-ho-ong tidak menggubrisnya lagi, ia tetap terkekeh dan berkata pula, "Hehe, meski tidak dapat kubunuh kalian, memangnya tidak dapat kubekuk kalian, lalu kukurung di suatu tempat terpencil, akan kusiksa kalian dengan perlahan, akhirnya bocah ini masa tidak mengaku di mana alamat yang tertulis pada surat wasiat itu?"

Air muka Cui Thian-ki berubah, untuk pertama kalinya ia memperlihatkan rasa kejut dan khawatirnya.

"Hehe, biarpun tidak kutemukan mayat Ci-ih-hou, tapi kapal ini dapat kuhancurkan hingga berkeping-keping, sedikit-banyak akan terlampiaslah rasa dongkolku."

Ling-ji dan Cu-ji menjadi khawatir oleh ancaman kakek kerdil itu, soalnya bukan cuma mayat Ci-ih-hou memang masih berada di dalam kapal, Siaukongcu juga belum meninggalkan kapal. Sejak tadi mereka tidak berani memandang putri kecil itu justru lantaran khawatir asal usul Siaukongcu sebagai satu-satunya keturunan Ci-ih-hou akan diketahui musuh.

Sekarang dalam keadaan khawatir mereka tidak dapat berpikir panjang lagi, serentak mereka menubruk ke atas tubuh Siaukongcu, dengan mendelik mereka berkata, "Kau be ... berani?"

Kim-ho-ong menyeringai, "Hehe, kenapa tidak berani? Bukan saja kapal ini akan kuhancurkan, juga segenap penumpang di atas kapal ini akan kubunuhi seluruhnya. Hanya budak cilik ini "

Sampai di sini ia menuding Siaukongcu, tertawanya tambah riang, lalu menyambung, "Budak cilik ini tampaknya pasti keturunan Ci-ih-hou, maka akan kubesarkan dia dan kelak akan kujadikan dia sebagai selirku yang ke-199."

"Kau ... kau " saking cemas hingga Ling-ji tidak sanggup bicara.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar anjungan kapal layar pancawarna itu bergema suara orang menyebut Buddha, "Omitohud!"

Kata-kata yang sederhana itu diucapkan dengan sangat kaku, menyusul suara seorang yang dingin dan aneh berkata pula, "Siapa pun tidak boleh mengganggu sesuatu benda apa pun di kapal ini."

Waktu suaranya mulai bergema kedengaran sangat jauh, tapi pada kata terakhir diucapkan, tahu-tahu orangnya sudah berada di luar pintu.

Kejut dan gusar Kim-ho-ong, bentaknya, "Siapa itu, berani ikut campur urusanku?"

"Apakah kau kenal diriku?" jengek suara seorang di luar, lalu muncul seorang padri berkulit hitam dan berkaki telanjang dengan jubah kain belacu.
 

"Hah, apakah engkau ini Kah-sing Hoat-ong?" tanya Kim-ho-ong kaget.

Hendaknya maklum, nama Kah-sing Hoat-ong, padri fakir dari India ini sudah lama terkenal, meski Kim-ho-ong tidak pernah melihatnya, tapi dari dandanan dan bentuknya yang aneh yang sering dilukiskan dalam cerita orang Kangouw ini, sekali pandang saja dapatlah Kim-ho-ong menerka siapa dia.

Wajah Kah-sing Hoat-ong yang kurus kering itu menampilkan senyuman aneh, senyuman yang tidak senyum, hanya ujung mulut saja bergerak sedikit.

Ia merangkap kedua telapak tangan di depan dada, ucapnya perlahan, "Tidak tersangka Kim-kiong-mo-cu juga kenal diriku."

Dandanan Kim-ho-ong yang aneh dan perawakannya yang unik juga diketahui oleh setiap orang Kangouw, maka sekali pandang saja segera pula Kah-sing Hoat-ong tahu siapa dia.

"Hehe, sama-sama," ucap Kim-ho-ong. "Antara kita sebenarnya serupa air sungai tidak pernah melanggar air sumur, entah mengapa Taysu sengaja datang mencampuri urusanku?"

"Aku tidak ingin ikut campur urusanmu, apakah kau ingin hidup atau minta mati sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku," kata Kah-sing Hoat-ong. "Hanya mengenai kapal layar pancawarna ini, siapa pun tidak boleh mengganggunya."

Ketika melihat kedatangan penolong, semula Ling-ji dan Cu-ji merasa gembira, sekarang diketahui kedatangan padri fakir ini bermaksud jahat, tentu saja mereka sangat kecewa.

Diam-diam Cui Thian-ki mendekati mereka dan berkata, "Kalian tidak perlu kecewa, kalian harus tahu orang yang datang ke kapal ini semuanya serupa serigala yang menyampaikan selamat ulang tahun kepada ayam, tidak seorang pun yang berniat baik. Maka bila kita ingin menyelamatkan diri, kita sendiri yang harus mencari akal."

"Akal ... akal apa?" tanya Ling-ji.

Cui Thian-ki menghela napas, ucapnya, "Saat ini pun aku tidak tahu akal apa."

Dalam pada itu Kim-ho-ong sedang mendengus, "Hm, tak terduga orang beragama seperti Taysu juga punya pikiran tamak dan hendak merampas harta milik orang lain. Memangnya engkau tidak takut berdosa?"

"Aku cuma tidak sampai hati menyaksikan Kungfu sakti tinggalan Ci-ih-hou akan lenyap begitu saja, maka sengaja kudatang kemari untuk mengambil kitab pusaka ilmu silat tinggalannya untuk disebarluaskan, mengenai barang lain sama sekali tidak perlu kusentuh, inilah tujuanku yang baik, masakah kau bilang aku tamak?"

"Wah, jika begitu, jadi akulah yang salah omong, maaf," kata Kim-ho-ong. "Omitohud! Yang tidak tahu tidak salah," ucap Kah-sing Hoat-ong.
"Hahaha, sungguh padri bajik munafik," mendadak Kim-ho-ong tergelak. "Jika Kungfu tinggalan Ci-ih-hou harus disebarluaskan, itulah merupakan tugas anak
 
muridnya, masakah perlu minta jasamu?"

"Memangnya siapa anak muridnya?" tanya Kah-sing Hoat-ong dengan sinar mata gemerdep.

"Semua yang berada di anjungan ini," kata Kim-ho-ong.

Sorot mata Kah-sing Hoat-ong yang tajam menyapu pandang sekejap atas diri Pui Po-ji, Cui Thian-ki. Ling-ji, Cu-ji dan Siaukongcu, lalu katanya dingin, "Hm, bakat kelima orang ini kurang bagus, jika mereka mewarisi Kungfu Ci-ih-hou, hasilnya tentu akan memalukan perguruan Ci-ih-hou. Sudah lama aku bersahabat moril dengan Ci-ih-hou, aku tidak tega membiarkan namanya tercemar setelah meninggal, terpaksa hari ini aku harus bertindak baginya dan mengambil seluruh kitab pusaka ilmu silatnya."

"Huh, padri tua serupa dirimu ini jelas ingin mencuri ilmu silat orang lain, tapi sengaja bicara muluk-muluk, sungguh menggelikan," sindir Kim-ho-ong.

"Kau berani kasar terhadapku?" teriak Kah-sing Hoat-ong gusar.

"Hari ini paling-paling kita harus berkelahi, memangnya kasar atau halus apa bedanya?" sahut Kim-ho-ong. "Hm, orang lain takut padamu, masakah aku pun takut?"

"Hah, bagus!" seru Kah-sing Hoat-ong gusar. "Memangnya sudah lama ingin kulihat betapa hebat Kungfu istana emas. Ayo, silakan mulai!"

"Silakan kentut, boleh coba Hwesio mulai dulu," kata Kim-ho-ong dengan mencibir.

Keduanya saling melotot dan berdiri muka berhadapan muka. Meski Kah-sing Hoat-ong juga pendek kecil, ternyata Kim-ho-ong jauh lebih cebol daripada dia.

Angin meniup kencang sehingga menambah hawa dingin.

Melihat kedua tokoh kelas top ini segera akan bertempur mati-matian, semua orang ikut bersemangat dan ingin menonton peristiwa menarik ini. Maklumlah, keduanya sama-sama tokoh aneh, tentu Kungfu mereka pun lain daripada yang lain.

Selain tertarik untuk melihat Kungfu yang aneh, para penonton juga berbeda perasaan daripada menyaksikan pertarungan Ci-ih-hou dengan jago pedang baju putih itu. Semua orang ikut prihatin atas kalah atau menang pertandingan Ci-ih- hou, sebaliknya kalah atau menang akhir pertarungan kedua orang aneh ini tiada seorang pun yang peduli.

Maklumlah, siapa pun di antara mereka menang tiada sedikit pun bermanfaat bagi orang banyak. Jika kedua orang ini nanti sama-sama terkapar, itulah kejadian yang diharapkan.

Sementara itu Kah-sing Hoat-ong dan Kim-ho-ong masih berdiri saling melotot tanpa bergerak. Dengan sendirinya pandangan semua orang juga terpusat kepada mereka.

Sekonyong-konyong tangan Kim-ho-ong bergerak, kawat emas yang tergenggam itu mendadak menyambar ke depan membawa suara mendesir dan tepat mengenai tubuh Kah-sing Hoat-ong.
 

Biarpun kawat emas itu menyambar dengan cepat, namun semua orang memperkirakan padri fakir itu tentu dapat mengelak dengan gesit. Siapa tahu Kah-sing Hoat-ong sama sekali tidak mengelak dan menghindar melainkan membiarkan tubuh disabet oleh kawat emas itu.

Ling-ji dan Cu-ji sudah merasakan betapa sakit sabetan kawat emas, disangkanya Kah-sing Hoat-ong pasti juga sukar terhindar dari babak belur, siapa tahu padri fakir itu ternyata baik-baik saja, kulit badannya yang hitam tiada tanda lecet luka apa pun, juga wajahnya tidak memperlihatkan rasa sakit.

Kim-ho-ong masih terus ayun tangan, dalam sekejap saja sudah menyabet empat kali.

Kah-sing Hoat-ong seperti terkesima dan membiarkan diri dihujani cambukan tanpa bergerak.

Sambil menyeringai mendadak kawat emas Kim-ho-ong menyabet terlebih keras, lalu tidak ditarik kembali lagi melainkan terus melingkar, serupa ular saja kawat emas itu membelit tubuh Kah-sing Hoat-ong hingga belasan kali. Waku Kim-ho- ong menarik sekuatnya, ternyata gagal. Malahan Kah-sing Hoat-ong lantas pejamkan mata, siapa pun tidak mampu membuatnya bergerak.

Heran dan kejut semua orang, diam-diam Cu-ji berkata, "Meski Kungfu Kah-sing Hoat-ong sangat lihai, tapi caranya bertempur dengan orang tanpa bergerak, mana dapat ia mengalahkan lawannya?"

"Kukira dia mempunyai cara untuk mengalahkan lawannya, hanya entah "

Cui Thian-ki mendengus sebelum lanjut ucapan Ling-ji, "Peduli dia akan menang atau kalah, paling baik keduanya mampus sekaligus."

Mendadak Po-ji yang dipegangnya itu meronta lepas. "Hei, kau mau apa?" tanya Thian-ki.
"Paman kepala besar sedang memanggilku, biar kujenguk dia," desis Po-ji.

Sementara itu air muka Kim-ho-ong tampak prihatin, kawat emas yang dipegangnya terbetot lurus, namun benang sehalus itu ternyata tidak putus.

Kah-sing Hoat-ong tetap tidak bergerak. Rupanya ilmu yoga dari negeri Thian- tiok (India) memang sangat ajaib, yang diutamakan adalah "tahan" atau sabar. Seorang ahli yoga kelas top biasanya dibakar atau direndam pun takkan mati, bahkan dikubur selama berpuluh hari pun tetap hidup. Sesuatu hal yang orang lain tidak tahan justru dapat dilakukan mereka.

Pertarungan di antara dua orang, jika selisih Kungfu masing-masing tidak banyak, maka soal kesabaran dan ketahanan memegang peranan penting dan merupakan kunci kalah atau menang.

Kah-sing Hoat-ong terkenal sebagai jago nomor satu di negeri Thian-tiok, dengan sendirinya dalam hal "tahan" boleh dikatakan tidak ada taranya lagi.

Angin menderu di luar, kapal layar besar ini jadi rada goyang, namun perhatian semua orang sama terpusat pada pertarungan sengit ini sehingga tidak merasakan perubahan cuaca.
 

Kening Kim-ho-ong mulai keluar butiran keringat.

Perlahan Po-ji kembali mendekati Ling-ji dan mendesis, "Paman kepala besar tanya padamu, di mana tempat perpustakaan Ci-ih-hou?"

Ling-ji berjongkok sedikit dan membisiki telinga Po-ji, "Yaitu pada pintu yang dimasuki Houya tadi."

Po-ji mengangguk, diam-diam ia mengeluyur pergi lagi.

Pada saat itulah mendadak Kim-ho-ong membentak tertahan, "Menari!"

Serentak kawanan gadis emas mengiakan dan terjun ke arena dan mulai berlenggak-lenggok lagi.

Di bawah cahaya lentera terlihat paha mereka yang jenjang dan dada yang montok dengan gaya menari yang menggiurkan serta desis perlahan yang menggetar sukma.

Biarpun Ling-ji dan Cu-ji juga sama orang perempuan, tidak urung mereka pun terkesima dan terangsang.

Air muka Kah-sing Hoat-ong yang semula tampak tenang tiba-tiba berubah prihatin, lambat laun dahinya yang hitam itu pun merembes keluar butiran keringat.

Sebaliknya sikap Kim-ho-ong kelihatan agak santai. Deru angin di luar juga mulai mereda.

Sekonyong-konyong angin meniup tanpa suara, "prak, blang", badan kapal berguncang keras disertai beberapa jeritan melengking, sebagian lentera sama padam. Rupanya tiang layar mendadak patah.

Berbareng Ling-ji dan Cu-ji berteriak kaget, "Liong-kui-hong (sejenis angin puyuh)!"

Belum lenyap suaranya, kembali angin menyambar lagi, terdengar jeritan di sana-sini, cahaya lentera padam seluruhnya. Mungkin kawanan kera emas yang memegang lentera itu sama terbawa angin dan tercemplung ke laut.

Seketika keadaan gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Angin meniup kencang, kapal menjadi oleng. Ling-ji saling pegang tangan dengan Cu-ji, Cui Thian-ki berteriak-teriak, "Po-ji ... Po-ji "

Namun tidak ada suara jawaban.

Angin tambah keras, kapal semakin guncang, kawanan gadis emas ikut menjerit juga.

Dengan erat Cui Thian-ki merangkul tiang layar, baru saja membuka mulut hendak berteriak, seketika angin dahsyat membuatnya gelagapan sehingga sukar bersuara. Terdengar angin menderu bagai harimau meraung di samping telinga.

Mendadak badan kapal miring ke samping disertai suara "blang-blung", di tengah serentetan suara keras itu terseling pula jeritan ngeri orang perempuan, entah
 
suara siapa.

Cepat Kim-ho-ong membentak, "Jangan "

Belum lanjut ucapannya lantas terputus, entah putus oleh deru angin yang dahsyat atau karena kena serangan Kah-sing Hoat-ong.

Maka tidak ada lagi suara orang. Di tengah angin dahsyat tiba-tiba terdapat pula suara hujan, dari kecil menjadi besar, dalam sekejap raja butiran air hujan laksana mutiara yang jatuh berhamburan.

Ombak bergemuruh dan hujan angin memekak telinga, bumi dan langit gelap gulita, dalam keadaan demikian, betapa pun tangkasnya seorang juga akan tunduk di bawah amukan alam.

Cui Thian-ki masih terus merangkul tiang dan tampak ketakutan, dalam keadaan demikian baru dirasakan betapa kecilnya manusia, tanpa kuasa ia memberosot dan berlutut.

Air ombak mendampar ke atas kapal sehingga Cui Thian-ki basah kuyup, daun jendela tergetar rontok dan ditelan ombak yang tidak kenal ampun.

Entah berselang berapa lama, lambat-laun Cui Thian-ki tidak sadarkan diri, yang teringat cuma merangkul tiang seeratnya dan tidak tahu urusan lain.

Mendadak sinar kilat berkelebat, suara guntur pun menggelegar.

Di bawah cahaya kilat dan bunyi guntur, terlihat seseorang menggelinding keluar dari pojok sana, siapa lagi dia kalau bukan Oh Put-jiu. Ia seperti sukar menyelamatkan diri dan segera akan terguling keluar anjungan dan segera pula bisa ditelan ombak.

Sekilas lihat, secara di bawah sadar Cui Thian-ki berteriak, "Selamatkan dia!" "Kenapa harus menyelamatkan dia?" jengek seorang dengan dingin.
"Sebab rahasia tempat sembunyi kitab tinggalan Ci-ih-hou hanya dia saja yang tahu," seru Cui Thian-ki dengan suara parau.

Baru lenyap suaranya, kembali sinar kilat berkelebat dan guntur berbunyi.

Sesosok bayangan orang segera melayang maju dan menubruk di atas tubuh Oh Put-jiu, kedua tangannya yang kuat serupa cakar baja menjuju, "crat", langsung kedua tangan menancap geladak kapal sehingga tubuh Oh Put-jiu serupa terbelenggu erat di atas geladak. 

Cui Thian-ki dapat melihat dengan jelas, orang yang menyelamatkan Oh Put-jiu itu bukan lain daripada Kah-sing Hoat-ong.

Hanya sekilas pandang saja, lalu Cui Thian-ki tidak ingat apa-apa lagi.

Guntur masih menggelegar disertai sinar kilat, angin menderu dan ombak mendampar.

Entah berselang berapa lama lagi, Cui Thian-ki mendusin seperti habis mimpi buruk, dalam keadaan samar-samar tubuh terasa berguncang, mata tidak melihat sesuatu, telinga juga tidak mendengar apa pun. Hanya deru angin dan
 
hujan sudah semakin jauh, suasana kosong, hampa ....


*****


Fajar sudah tiba, ombak akhirnya tenang. Terkadang ada tiang layar patah, sobekan layar serta meja kursi yang hancur dan papan terdampar ke pantai.

Hujan masih gerimis.

Sejauh mata memandang dari pantai hanya kilatan awan mendung menyelimuti permukaan laut, tidak terlihat lagi kapal layar pancawarna yang megah itu.

Namun betapa pun hujan badai tidak kenal ampun, tetap belum dapat membuat tenggelam kapal raksasa ini melainkan cuma menghanyutkannya jauh di tengah samudra sana dan merampas kejayaannya.

Waktu Cui Thian-ki benar-benar sadar, tatkala itu sudah pagi.

Ia coba mengamati keadaan sekitarnya, terlihat anjungan kapal yang mewah itu sudah tidak keruan rupa lagi terpukul angin badai, meja kursi dan perabot lain sudah sama hanyut terbawa ombak, hanya tersisa ruang anjungan yang luas dan rusak.

Di tengah ruang anjungan sekarang hanya tersisa dia sendiri dan tiada bayangan orang lain, sungguh seram rasanya berada di tengah kehampaan dan kesunyian ini.

Cui Thian-ki merasa ngeri, tubuh agak menggigil, gigi gemertuk, mendadak ia menjerit terus menerjang ke luar.

Di luar masih hujan deras, tidak terlihat pantai, juga tidak tampak sehelai bayangan layar pun.

Di kolong langit ini seakan-akan cuma tersisa Cui Thian-ki sendirian, perasaan ngeri dalam keadaan sendirian ini membuatnya hampir gila.

Dengan rambut panjang terurai ia berjalan dari haluan kapal menuju ke buritan sambil berteriak-teriak, "Po-ji ... Ling-ji ... Po-ji di mana kalian?!"

Mendadak teriakannya terhenti, sebab tiba-tiba dilihatnya di samping anjungan sana ada lagi sesosok bayangan manusia yang kurus kering, siapa lagi dia kalau bukan Kah-sing Hoat-ong.

Dalam keadaan dan di tempat begini, di atas "bangkai kapal" ini ternyata ada jejak manusia, sekalipun orang ini adalah Kah-sing Taysu yang aneh, mau tak mau membuatnya terkejut dan juga bergirang.

Waktu diperhatikan, terlihat di bawah tubuh padri fakir itu ternyata ada lagi sesosok tubuh lain, ternyata Oh Put-jiu yang belum lagi sadar itu.

Kah-sing Hoat-ong menoleh dan memandangnya sekejap, sekilas timbul juga rasa gembiranya, tapi hanya sekejap saja lantas lenyap dan berubah dingin lagi, lalu menunduk, dengan telapak tangannya yang hitam ia coba mengurut Hiat-to
 
Oh Put-jiu untuk mengeluarkan air yang memenuhi perut anak muda itu.

Setelah mengalami musibah begini dan tiba-tiba menemukan sesamanya, sungguh Cui Thian-ki sangat ingin bercengkerama dengan dia, tak terduga padri fakir itu hanya memandangnya sekejap dengan sikap dingin, keruan ia sangat kecewa, tapi ia coba mengajak bicara juga, "Sehabis ditimpa musibah dan tidak mengalami cedera apa pun, sungguh Taysu harus diberi selamat dan entah Taysu melihat orang lain tidak?"

Ia berharap dari jawaban padri itu dapat diketahui keadaan Po-ji dan lain-lain. Tahu-tahu Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja tidak menggubris.

Tentu saja Cui Thian-ki mendongkol, ucapnya ketus, "Sedemikian kaku sikap Taysu terhadap orang lain, tapi ternyata mau turun tangan menolong orang, sungguh peristiwa ajaib."

Namun Kah-sing Hoat-ong tetap diam saja. Sejenak kemudian, mendadak ia mendengus, "Hm, tujuanku menolong dia sama sekali tidak berniat baik, tidak perlu kau heran."

"Tidak bermaksud baik, kenapa kau tolong dia malah?" tanya Cui Thian-ki.

"Tujuanku hanya ingin kucari tahu di mana kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou. Kalau tidak, biarpun dia mati seribu kali juga tidak kupeduli."

Baru sekarang Cui Thian-ki ingat waktu dirinya dalam keadaan hampir kelengar tadi sempat mengatakan rahasia kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou hanya diketahui oleh Oh Put-jiu, pantas padri fakir ini mau menolong pemuda kepala besar itu.

Bola matanya berputar, mendadak ia tertawa dan berkata, "Hihi, kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou masakah mungkin diwariskan kepada bocah tolol ini?"

"Tapi kau sendiri yang bilang "

"Itu cuma ucapanku pada waktu kepepet agar engkau mau menolong dia, tak tersangka orang cerdik semacam dirimu juga mudah percaya begitu."

Air muka Kah-sing Hoat-ong agak berubah, ia termenung sejenak, tiba-tiba tersembul lagi senyuman dingin, ucapnya perlahan, "Betul, keterangan itu kau katakan pada saat kepepet, tapi justru ucapan pada waktu gawat itulah pengakuan yang jujur dan bukan karangan belaka. Sekali rahasia itu sudah telanjur kau bocorkan, memangnya sekarang dapat kau tarik kembali?"

Diam-diam Cui Thian-ki mengakui kelihaian pikiran orang, namun ia tetap tenang saja, jengeknya, "Hm, percaya atau tidak terserah padamu."

"Jika begitu, rasanya aku pun tidak perlu buang tenaga percuma, akan kulemparkan dia ke laut saja dan habis perkara," kata Kah-sing Hoat-ong, sekali cengkeram segera Oh Put-jiu diangkatnya.

Keruan Cui Thian-ki kaget, cepat serunya, "Nanti dulu!"

Kah-sing melototinya dan mendengus, "Memangnya bagaimana?" "Dia ... dia "
 
"Dia kenapa?" ejek Kah-sing.

Akhirnya Cui Thian-ki menghela napas, katanya, "Ya, rahasia tempat sembunyi kitab pusaka tinggalan Ci-ih-hou memang cuma dia saja yang tahu."

"Pengakuanmu ini betul atau dusta?" "Seratus persen benar."
"Hahaha, budak cilik ingusan juga ingin belajar menipu orang?" Kah-sing Hoat- ong terbahak-bahak. "Tapi untuk main gila denganku masih selisih sangat jauh."

Selama hidup Cui Thian-ki entah sudah berapa banyak sudah mempermainkan tokoh Kangouw yang lihai, sekarang ia benar-benar mati kutu, hati gemas, tapi tidak berdaya.

Tidak lama kemudian, akhirnya Oh Put-jiu siuman.

Dengan bengis Kah-sing Hoat-ong lantas membentak, "Di mana tempat simpanan kitab pusaka Ci-ih-hou, kau tahu bukan?"

Oh Put-jiu memandangnya sekejap, lalu memandang Cui Thian-ki pula, habis itu baru menjawab, "Tahu."

Kah-sing Hoat-ong berbalik melenggong karena jawaban tegas dan cepat anak muda itu, ia pandang Oh Put-jiu dan terbelalak dengan rasa sangsi.

"Jika aku sudah berada dalam cengkeramanmu, kecuali mati, lambat atau cepat toh harus kukatakan, dan karena aku tidak mau mati, tentunya lebih cepat kukatakan kan lebih baik," tutur Put-jiu.

Kah-sing Hoat-ong manggut-manggut, ucapnya dengan tertawa, "Ehm, pintar juga kau, pantas Ci-ih-hou mau mewariskan kitab pusakanya kepadamu. Nah, di mana kitab pusaka tinggalannya itu disimpan, lekas membawaku ke sana."

"Baik," jawab Put-jiu.

Bertiga orang lantas mendekati pintu ruangan rahasia tempat menyimpan kitab, mendadak Oh Put-jiu mendepak sekuatnya, tepat mengenai daun pintu, namun pintu tidak bergerak, sebaliknya ujung kaki kesakitan.

"Apa kau gila?" omel Kah-sing Hoat-ong dengan kening bekernyit.

Cui Thian-ki mendahului mendengus, "Orang ini memang sering berbuat gila- gilaan, buat apa kau peduli."

Dengan rasa terima kasih Oh Put-jiu memandang Cui Thian-ki sekejap, dilihatnya bola mata nona itu gemerdep, seperti dapat menerka maksud depakan Put-jiu tadi.

Hendaknya maklum, keduanya sama-sama cerdik, meski tindak tanduk Oh Put- jiu sukar diduga, tapi sedikit bola matanya berputar segera Cui Thian-ki dapat menerka apa yang sedang dipikir anak muda itu.

Sekarang kedua orang hanya saling pandang sekejap saja dan keduanya lantas ada kontak batin, Oh Put-jiu merasa bersyukur ada yang tahu isi hatinya, Cui Thian-ki juga yakin dugaan sendiri ternyata tidak salah.
 

Tapi sesungguhnya apa yang terpikir dan terduga oleh mereka justru sama sekali tidak diketahui oleh Kah-sing Hoat-ong, ia cuma mendengus, "Jika kitab pusaka Ci-ih-hou telah diwariskan padamu, tentu kau pegang kunci ini."

"Hehe, Taysu ternyata sangat pintar," kata Put-jiu dengan menyesal.

"Memangnya aku dapat kau tipu?" ujar Kah-sing Hoat-ong dengan tertawa bangga.

Dari gelung rambutnya Put-jiu mengeluarkan sebuah anak kunci dan disodorkan, "Silakan Taysu membukanya."

Kah-sing Hoat-ong menerima anak kunci itu, segera Put-jiu menyingkir jauh ke sana, Cui Thian-ki bahkan lari terlebih jauh.

Baru saja Kah-sing mendekati pintu, sekilas lirik melihat perbuatan kedua orang itu, seketika ia melompat mundur, sekali cengkeram ia pegang bahu Oh Put-jiu, anak kunci dikembalikan kepada anak muda itu dan membentak, "Kau buka sendiri."

"Ken ... kenapa Taysu tidak jadi membukanya sendiri?" tanya Put-jiu.

Kah-sing mendengus, "Hm, tentu ada sesuatu yang tidak beres pada pintu ini, memangnya kau kira aku tidak tahu. Haha, jangan kau harap akan menjebak diriku."

Oh Put-jiu berlagak terpaksa menerima kembali anak kunci, katanya, "Jika begitu, boleh Taysu tunggu di sini, biarkan kami berdua membuka pintu."

Ia memberi tanda lirikan kepada Cui Thian-ki, kedua orang lantas mendekati pintu.

Terdengar Kah-sing Hoat-ong mengejek, "Huh, ketika kau laksanakan permintaanku begitu saja memang sudah kuduga pasti ada sesuatu yang tidak beres "

Sampai di sini, mendadak Kah-sing Hoat-ong melompat maju lagi secepat terbang, Cui Thian-ki diseretnya mundur.
Keruan Thian-ki terkejut, tanyanya, "Memangnya apa maksud Taysu?" "Hm, untuk membuka pintu kan cukup satu orang saja, kau ikut berdiri
bersamaku di sini, jangan membantu setan cilik itu main gila padaku," jengek
Kah-sing.

Air muka Cui Thian-ki berubah cemberut, selang sejenak, tiba-tiba ia bergumam dengan tersenyum, "Ah, baik juga, biar sama-sama tenang dan bebas."

Tanpa menoleh Oh Put-jiu juga bergumam, "Jagalah diri dengan baik banyak
terima kasih atas bantuan terlaksananya urusan ini "

Kata-kata kedua orang itu membuat Kah-sing Hoat-ong merasa bingung, tapi juga curiga, mendadak ia membentak, "Huh, apakah kalian sudah gila? Kenapa
...."

Pada saat itulah tahu-tahu daun pintu sudah terbuka, dengan cepat Oh Put-jiu
 
lantas menyelinap ke balik pintu, menyusul lantas "brak", pintu ditutup rapat lagi.

Kejut dan gusar Kah-sing Hoat-ong, secepat terbang ia menubruk maju sambil membentak, "Hei, apa yang kau lakukan? Kau tutup dirimu di dalam, memangnya kau sangka aku tidak dapat masuk ke situ?"

Akan tetapi meski ia membentak dan berteriak berulang, pintu tetap tidak dibuka.

"Jika dapat masuk ke situ, kenapa tidak kau coba?" ucap Cui Thian-ki dengan sinis.

Kah-sing mundur dua-tiga tindak dan menyingsing lengan jubah, setelah menghimpun tenaga, mendadak ia ayun telapak tangan dan menghantam daun pintu sekuatnya.

"Blang", tergetar anak telinga Cui Thian-ki, geladak kapal pun berguncang, namun daun pintu baja itu tetap bergeming, jangankan hendak membobolnya.

Biarpun culas orangnya, wajah Kah-sing yang hitam kelam itu kini pun dibuat merah legam, dengan gemas ia berlari mengitari anjungan, tiada hentinya ia menghantam dan menendang sehingga berjangkit suara gemuruh, dinding anjungan dari bahan kayu sama ambrol dan bertebaran, namun ruang bagian tengah tempat menyimpan kitab itu ternyata dinding sekelilingnya terbuat dari pelat baja, biarpun Kah-sing Taysu mengerahkan segenap tenaganya tetap tak dapat membobolnya.

Cui Thian-ki menghela napas, ia duduk bersila di lantai, ucapnya perlahan, "Jika aku menjadi Taysu, pasti aku takkan buang tenaga sia-sia."

Kah-sing melompat ke depan Cui Thian-ki, bentaknya dengan parau, "Jadi ... jadi sebelumnya kau sudah tahu?"

"Dinding ruangan ini terbuat dari baja, kan sejak tadi sudah diketahui semua orang, depakan Oh Put-jiu tadi justru ingin mengujinya," tutur Cui Thian-ki dengan santai, lalu sambungnya dengan tertawa. "Waktu itu sudah kuduga dia akan meninggalkanmu di luar sini, sebabnya dia menyuruhmu membuka pintu hanya akal pancingan saja, sungguh lucu Taysu yang mengaku cerdik ternyata juga tertipu olehnya. Mestinya aku pun ingin ikut masuk ke sana bersama dia tapi karena diseret mundur olehmu, terpaksa aku pasrah adanya. Kami bergumam tadi justru membicarakan hal ini."
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).