Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 26 (Tamat)

Jilid 26

SEBELAH tangan kirinya bergerak memainkan ilmu kuntao bango atau ho kun, tepat dia  menghajar lengan seorang musuh yang sedang melakukan penyerangan sehingga musuh itu lompat mundur sambil dia  berteriak kesakitan,  sebab lengan kanannya itu patah kena pukulan kuntao bango. Sementara gerak kepelan tangan kanan Lim Tiong Houw yang agak melengkung, memukul seorang musuh  lain memakai jurus pukulan kuntao macan kumbang, atau Pa kun, mengakibatkan musuh itu bolong batang lehernya, dan tewas seketika!

Kelima musuh yang menghadang Lim Tiong Houw itu, sebenarnya bukan merupakan sembarang orang orang yang lemah. Mereka mahir ilmu s ilatnya yang sudah mencapai batas kemampuan mereka, akan tetapi gerak yang serba cepat dari Lim Tiong Houw yang sudah membikin dua musuh itu kena serangan Lim Tiong Houw dan tiga  musuh  yang  lainnya segera mengerahkan tenaga dalam mereka, bersiap hendak menyerang dengan menggunakan ilmu Tay lek kim kong Cu yang terkenal dahsyat!

Sejenak Lim Tiong Houw kelihatan terkejut, karena  dia  tidak menduga, akan tetapi dia pantang mundur dan dia segera ikut menambah tenaganya siap buat tangan kirinya memainkan ilmu Liong kun atau kuntao naga dan  tangan kanan memainkan Houw kun atau kuntao harimau.

Tiga orang musuh itu perdengarkan suara mereka secara serentak, lalu mereka melakukan penyerangan secara sekaligus!

Dua musuh terpental balik akibat kalah mengadu tenaga dengan Lim Tiong Houw; bahkan mereka tidak sanggup bangun, sebab mulut mereka telah mengeluarkan darah kental sedangkan musuh yang ketiga berhasil  membenamkan kepelan tangan kirinya pada perut Lim Tiong Houw, akan tetapi perut itu sangat lunak bagaikan kapas, bahkan dapat menyedot kepelan tangan itu sampai tak mungkin  ditarik secara tiba tiba perut itu mendorong, dan tubuh si penyerang terpental mundur sampai dia menghajar tembok, kuil dan dia tewas setelah susah payah dia hendak bangun berdiri.

Sementara itu beberapa senjata rahasia datang menyambar ke arah Lim Tiong Houw dan jenis senjata rahasia itu adalah paku paku naga beracun,  sehingga  sambil  berkelit menghindar, Lim Tiong Houw sudah dapat menduga siapa gerangan si penyerang gelap itu, yakni Lo Heng, sisa Siam say jie lo bekas orang Thian tok bun!

Dari arah datangnya serangan Lim Tiong Houw dapat menduga duga tempatnya Lo Heng yang belum dia  lihat kehadirannya, lalu dengan bergulingan Lim Tiong Houw mendekati sambil berusaha menghindar dari hujan paku paku naga beracun sampai secara tiba tiba Lim Tiong Houw lompat bangun dengan sepasang tangan penuh gumpalan tanah yang lalu dia hamburkan dan kena mukanya Lo Heng sampai orang tua yang licik itu menjadi kelabakan tidak dapat  melihat bahkan mulutnya ikut penuh terisi dengan tanah!

Menyusul gerakannya tadi, sepasang kepalan Lim Tiong Houw langsung menghantam dada Lo Heng sampai Lo Heng rubuh celentang dengan mulut mengeluarkan darah dan dia tewas seketika.

Pihak musuh mulai berkecil hati, sebab berturut2 mereka melihat pihaknya sudah kena dibinasakan oleh  Lim  Tiong Houw. Mereka yang tadinya terpencar mencari cari peta harta, sejenak berdiri ragu ragu, akan tetapi si kura kura botak Kongsun Bouw cepat berteriak memerintahkan mereka menyerang dan mengepung Lim Tiong Houw!

Kemudian dengan langkah kaki lompat seperti seekor kura kura yang botak kepalanya, maka Kongsun Bouw kian mendekati Lim Tiong Houw. Dan waktu  Lim Tiong Houw melihat bekas bekas jejak langkah kaki Kongsun Bouw, maka Lim Tiong Houw menjadi sangat terkejut, sebab tempat bekas jejak langkah kaki itu kelihatan melesak sebagian dalam menandakan si kura kura botak Kongsun Bouw sedang mengerahkan ilmu tenaga seribu kati dan dia menjadi lebih terkejut lagi, sebab ditangan Kongsun Bouw kelihatan dia memegang sebatang cambuk istimewa yang berduri runcing serta dibagian ujungnya terdapat kepala seekor ular dengan mulut terbuka, kelihatan ada gigi gigi dan ada lidahnya yang keluar ! Hebat adalah gerak s i kura kura botak Kongsun Bouw yang berikutnya, sebab selagi Lim Tiong Houw kelihatan terkejut, maka si kura kura botak Kongsun Bouw sudah mulai menyerang menghantam memakai cambuk yang mengarah bagian muka Lim Tiong Houw!

Lim Tiong Houw menyadari bahwa cambuk yang  istimewa itu mengandung bisa racun maut. Tidak mau dia sembarang menangkap memakai tangannya, dari itu dia  perlihatkan kelincahan tubuhnya, berkelit menyamping kesebelah kanan.

Kalau tadi langkah kaki si kura kura botak Kongsun Bouw kelihatan lambat dan berat maka sekarang dia  ternyata memiliki kelincahan tubuh yang luar biasa bahkan geraknya bagaikan sudah memperhitungkan kearah mana kira  kira musuhnya bakal berkelit menghindar sehingga waktu  sekali lagi dia menghajar memakai cambuknya maka  secarik  baju Lim Tiong Houw kena disamber pecah padahal Lim  Tiong Houw sudah buru buru lompat mundur buat menghindar lagi!

Si kura kura botak Kongsun Bouw semakin jadi bertambah geram sampai dia  memaki tidak jelas, sambil dia  tidak berhenti melakukan penyerangan secara bertubi tubi sehingga setengah tobat Lim Tiong Houw yang harus berkelit menghindar, kagak berani menangkap cambuk yang banyak durinya dan yang mengandung bisa racun maut,  kagak  bisa dia menangkis sebab dia tidak bersenjata, dan kagak bisa dia balas menyerang, sebab tidak mendapat kesempatan sampai tahu tahu dia mendengar ada seseorang yang berteriak. “Lie heng, disini ada golok ..”

Itulah suara Lim Thong Bu yang berdiri di suatu sudut terpisah dari musuh sambil sebelah tangan kanannya mengacungkan sebatang golok miliknya akan tetapi tidak berani dia me lontarkan buat Lim Tiong Houw, khawatir kesergap oleh cambuknya si kura kura botak Kongsun Bouw.

Lim Tiong Houw lompat tinggi dan jauh, mencapai tempat Lim Thong Bu berdiri, disusul oleh si kura kura botak Kongsun Bouw yang juga ikut lompat melayang dengan tubuhnya yang kelihatan ringan sekali, meskipun tubuh itu  gemuk  pendek. Lim Tiong Houw berhasil meraih golok yang diberikan oleh Lim Thong Bu, disusul dengan cambuk si kura kura Kongsun Bouw yang menghantam akan tetapi kalah cepat, sebab Lim Tiong Houw berdua Lim Thong Bu sudah saling lompat terpencar kedua sisi yang terpisah sehingga cambuk si kura kura Kongsun Bouw hanya menghantam bekas tempat Lim Thong Bu tadi berdiri !

“Hm ! siapapun kau, memang sudah aku duga; kau bukannya Lim Tiong Houw ,...!" maki Kongsun Bouw yang menunda serangan, sambil dia mengawasi Lim Tiong Houw yang berdiri s iap dengan golok ditangan.

Sementara itu pemuda Lim Thong Bu sudah bertempur melawan sejumlah musuh yang langsung  mengepung  dia, akan tetapi Lim Thong Bu cepat berhasil merebut sebatang tombak pendek dari seorang lawan, sehingga pemuda itu mengamuk bagaikan seekor harimau yang bertambah sayap !

Kedatangan Lim Thong Bu adalah berdua dengan pemuda Ma Kian Sun. Akan tetapi waktu  Lim Thong Bu melihat  keadaan Lim Tiong Houw yang tidak bersenjata, maka dia membiarkan Ma Kian Sun berkelahi dikepung musuh. Sebaliknya Lim Thong Bu mencari tempat yang terpisah buat dia memberikan goloknya kepada Lim Tiong Houw, setelah itu baru dia  membantu Ma Kian Sun, sambil dia merebut sebatang tombak pendek dari seorang musuh. Di pihak Lim Tiong Houw, dia  perlihatkan  senyum mengejek waktu dia mendengar tuduhan si kura kura botak Kongsun Bouw lalu dia berkata.

“Kongsun Bouw, ajalmu sudah hampir tiba. Jelas bagiku bahwa urusan dengan kau adalah yang menyangkut urusan peta harta…"

"Dan kau adalah yang membunuh Ouw Beng Tek dan merampok peta harta itu .. !" si kura kura Kongsun Bouw memutus perkataan Lim Tiong Houw, akan tetapi Lim Tiong Houw menggelengkan kepala, lalu dia berkata lagi;

“Bukan aku yang membunuh Ouw Beng Tek tapi lain orang yang sedang menunggu giliran..,."

“Giliran apa .,.?” sekali  lagi Kongsun Bouw memutus perkataan Lim Tiong Houw.

“Giliran mampus ditanganku..” sahut Lim Tiong Houw geram.

“Kurang ajar .." dan si kura kura botak Kongsun Bouw menyerang lagi memakai cambuknya; menggunakan  jurus atau gerak tipu ular hijau melepas bisa racun.

Lim Tiong Houw berkelit lalu dia balas menyerang sebab sekarang dia sudah bersenjata dan dia bahkan  memainkan ilmu ngo heng to an bun to di tangan kanan yang memegang golok, sedang tangan kirinya yang tidak mau diam menganggur, ikut bergerak memainkan ilmu lo han ngo heng kun. Dua macam ilmu istimewa dari golongan Siao lim.

Setelah lewat sesaat; mendadak si kura kura  botak Kongsun Bouw lompat mundur mencari kesempatan buat dia mengatur napas, dan buat dia bicara.

“Tunggu ! kulihat kau pandai ilmu golongan Siao lim.

Pernah apa kau dengan Peng hweeshio..?” Sekali lagi Lim Tiong Houw perlihatkan senyum mengejek. Pheng hweeshio yang ditanyakan adalah rekan seperjuangan dari Ci siu lojin dan Pit Leng Hee, tiga tokoh yang ikut mendukung gerakan Tio Su Seng waktu menentang kaum penjajah bangsa Mongolia.

"Pheng hweeshio adalah rekannya Pit Leng Hee, si biang pengemis dan aku adalah temannya Ouw Beng Tek, biang orang orang gelandangan. Adakah bedanya buat kau .,?”

“Kurang ajar..” maki si kura kura botak yang hendak menyerang lagi, akan tetapi mendadak dia menunda, sebab ada suara tawa seseorang yang belum dia kenal.

“Ha ha ha ! dia mengaku jadi temannya Ouw Beng Tek, yang dia sebut sebagai biang orang orang gelandangan, padahal justeru kami adalah si biang  orang  orang gelandangan ..!"

Si kura kura botak Kongsun Bouw memerlukan melihat orang yang tertawa dan bicara itu, yang ternyata adalah dua bersaudara orang orang gelandangan yang bernama Gwa  Teng Kie dan Gwa Teng Sin; yang benar benar merupakan biang orang orang gelandangan, yang entah sejak  kapan sudah berada di kota Hie ciang, bahkan sudah pula berada di dalam kuil tua itu, bahkan juga sudah  ikut   bertempur mengusir semua orang orang yang membantu si kura kura botak Kongsun Bouw, sehingga Kongsun Bouw menjadi sangat terkejut sekali, karena sejak tadi dia  tidak mengetahui berhubung perhatiannya dia curahkan terhadap Lim Tiong Houw. Oleh karena keadaannya yang  sudah  sangat  terjepit itu, maka secara mendadak si kura-kura botak Kongsun Bouw lalu menyerang Iagi Lim Tiong Houw, dan dia  bahkan melakukan penyerangan secara membabi buta,  sehingga untuk sesaat dia berhasil membikin Lim Tiong Houw jatuh bangun setengah tobat sampai tiba tiba Lim Tiong Houw me- nerkam dan berhasil mencakar muka si kura kura  botak Kongsun Bouw, mencakar menggunakan ilmu cakar harimau, sampai copot kulit muka Kongsun Bouw yang kena  dicakar dan dia rubuh tewas dengan berlumuran darah!

“O mie to hud .. . " Cie in suthay bersuara memuji dan datang mendekati, akan tetapi Lim Tiong Houw justeru mendekati Lim Thong Bu buat dia  mengembalikan golok pemuda itu, dengan tidak lupa dia mengucap terima kasih.

Kemudian Lim Tiong Houw membersihkan telapak tangan kirinya yang kena noda darah si kura kura botak Kongsun Bouw, setelah itu baru dia meraih bagian mukanya, membuka selaput kulit luar sampai kemudian  dia  berobah menjadi seorang pemuda yang tampan, yang ternyata adalah si macan terbang Lie Hui Houw! Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin, dua dedengkot orang orang gelandangan  perdengarkan  suara  tidak jelas karena merasa heran, sebaliknya Cie in suthay kelihatan bersenyum manis, sedangkan pemuda Lim Thong Bu yang juga telah ikut mendekati, segera memperkenalkan  Lie Hui Houw kepada Gwa Teng Kie berdua Gwa Teng Sin sebaliknya Gwa Teng Sin jadi tertawa dan berkata kepada Lie Hui Houw :

“Bagus sekali cara penyamaran Lie ciangkun, kami benar benar bagaikan melihat Lim Tiong Houw  hidup  lagi…” demikian Gwa Teng Sin memuji sambil tak bosan bosan dia mengawasi muka Lie Hui Houw, sedangkan Cie in suthay yang justeru kelihatan berobah merah mukanya, dan Lim Thong Bu menjadi heran sehingga pemuda itu menanya kepada Gwa Teng Sin.

“Eh, mengapa kau sebut dia Lie ciangkun…?” (Lie c iangkun perwira Lie )

Gwa Teng Sin berdua Gwa Teng Kie tertawa lagi sedangkan

si macan terbang Lie Hui Houw kelihatan bersenyum, sampai kemudian Gwa Teng Sin menjelaskan bahwa dahulu Lie Hui Houw merupakan panglima kesayangan Thio Su Seng almarhum. “Akh! kalau begitu kalian  sudah saling mengenal ..." akhirnya Lim Thong Bu berkata seperti dia menggerutu.

“Kami bahkan pernah bahu membahu mengganyang iblis muka hitam dengan lentera mautnya…" kata Gwa Teng Sin yang menambahkan keterangannya.

Sementara itu terdengar Cie In suthay berkata seperti mengejek.

“Hm ! memang bagus cara dia menyamar, akan tetapi cara dan lagaknya memainkan peranan kalah tangkas dan kalah jantan dengan Lim Tiong Houw yang sebenarnya. "

“Maksud suthay ....?” tany Gwa Teng Kie yang ingin mengetahui, juga yang lain ingin mengetahui apa sebab Cie in suthay berkata begitu.

Sementara itu Cie in suthay lalu berkata lagi:

“Dia terlalu lambat menentukan siapa sebenarnya yang sudah membunuh Ouw Beng Tek, dia terlalu ragu ragu. "

"Akan tetapi aku sudah mengetahui ..." kata Lie Hui Houw seperti membela diri.

"Siapa ?” Gwa Teng Kie yang menanya berbareng dengan

Gwa Tek Sin yang adiknya.

"Ho Sun Pin,” sahut Lie Hui Houw yang hanya menyebut nama.

"Ho Sun Pin? apa sebab dia membunuh Ouw Beng Tek? apakah juga urusan peta harta. ?”

"Tidak ada sangkutannya dengan urusan peta harta, sebaliknya sebab cinta,” sahut Lie Hui Houw, sekilas sempat melirik Cie in suthay yang kelihatan sedang bersenyum sambil menundukkan kepala.

“Cinta ? siapa  yang dia  cintai .. .?” tanya  lagi dua dedengkot orang orang gelandangan  itu, sementara Lim Thong Bu dan Ma Kian Sun ikut perlihatkan senyum mereka, sedangkan wajah muka Cie in suthay kelihatan jadi berubah merah.

Sementara itu, terdengar Lie Hui Houw memberikan jawaban atas pertanyaan dua dedengkot orang orang gelandangan itu.

"Tio Siu Lan .. ." lagi lagi Lie Hui Houw hanya menyebut nama.

“Tio Siu Lan adalah bininya Cee Giok Tong dan menjadi adiknya Ho Sun Pin; bagaimana mungkin terjadi ?” kedua

biang orang orang gelandangan itu berkata  lagi  dan bertambah merasa heran, sedangkan Lie  Hui  Houw mengawasi Cie in suthay, sambil dia menyertai senyum hampa yang mirip seperti senyum mengejek setelah itu baru dia ber- kata.

“Suthay melarang aku datang di tempatnya Cee Giok Tong buat menemui T io Siu Lan, akan tetapi aku sudah mengetahui bahwa Ho Sun Pin me lulu dianggap anak oleh kedua orang tuanya Tio Siu Lan. "

Lie Hui Houw menunda perkataannya, karena sekali lagi dia memerlukan mengawasi Cie in suthay, sedangkan biarawati yang muda usia itu kelihatan bersenyum tenang, membiarkan Lie Hui Houw meneruskan perkataannya,

“Ho Sun Pin mencintai T io Siu Lan dan menyimpan dendam terhadap Lim Tiong Houw, sebab Lim Tiong Houw adalah pacarnya Tio Siu Lan (sampai disini diam diam Cie in suthay tertawa didalam hati), Kemudian Lim Tiong Houw menghilang dan Ho Sun Pin  mempunyai harapan lagi, akan tetapi kenyataannya Tio Siu Lan dilamar oleh Cee Giok Tong dan Ho Sun Pin buru buru menemui Ouw Beng Tek, menghasut supaya Ouw Beng Tek merintangi pernikahan itu, sebab kata- nya Tio Siu Lan adalah pacarnya Lim Tiong Houw, akan tetapi ternyata Ouw Beng Tek tidak menghiraukan dan membiarkan Cee Giok Tong menikah dengan T io Siu Lan, sehingga Ho Sun Pin jadi menyimpan dendam terhadap Ouw Beng Tek, juga terhadap Cee Giok Tong .. .”

“.. . Ho Sun Pin mengetahui kuil tua ini dijadikan tempat menyimpan barang barang milik pribadi Ouw Beng Tek, dan secara kebenaran Ho Sun Pin menemukan beberapa batang piao miliknya Lim Tiong houw yang lalu dia ambil, sampai kemudian dia mendapat kesempatan menyerang Ouw Beng Tek, pada waktu Ouw Beng Tek sedang memerintahkan Ong Sin Mo membeli arak sehingga Ouw Beng Tek membuka pintu, karena menduga Ong Sin Mo yang kembali membawa arak ..

.”

“. akan tetapi Ouw Beng Tek tidak mati walau  sudah terkena serangan piao itu, sehingga Ho Sun Pin lari ketakutan dengan dikejar oleh Ouw Beng Tek yang sudah terluka sampai kemudian Ouw Beng Tek rubuh tewas sebab piao itu ternyata sudah diberikan larutan bisa racun oleh Ho Sun Pin ”

“ ... . Ho Sun Pin yang lari sampai dirumahnya, tetap  merasa gelisah, sampai kemudian dia balik lagi dan menyeret mayat Ouw Beng Tek yang dia bawa masuk kerumah Ouw Beng Tek, sehingga orang orang menduga Ouw Beng Tek tewas didalam rumah; padahal ada dua orang yang sudah melihat mayat Ouw Beng Tek waktu menggeletak ditengah jalan. Dan orang orang itu adalah  Siu Hwa, seorang perempuan lacur yang katanya sudah meludahi mayat Ouw Beng Tek dan Siao Cu Leng, seorang gelandangan yang sempat mengambil isi saku Ouw Beng Tek yang telah menjadi mayat "

"Mengapa Ho Sun Pin tidak membunuh Cee Giok Tong ?”

Gwa Teng Sin menanya lagi.

"Dia belum mendapat kesempatan, sebab Lim Tiong Houw keburu datang " Sekarang giliran Lim Thong Bu yang tertawa, memutus perkataan Lie Hui Houw, sedangkan Ma Kian Sun menyusul tertawa belakangan, dan Cie in suthay menambah senyumnya membikin kedua dedengkot orang orang gelandangan   itu saling mengawasi tidak mengerti dan Gwa Teng Kie yang kemudian menanya kepada Lim Thong Bu berdua  Ma  Kian Sun.

"Mengapa kalian tertawa ..?”

“Bukankah tadi kau dengar bahwa dia mengatakan Lim Tiong Houw keburu datang..." sahut Lim Thong Bu sambil dia menunjuk Lie Hui Houw dan tertawa lagi, sehingga kedua dedengkot orang orang gelandangan itu menjadi ikut tertawa, bahkan tak mau berhenti mereka tertawa!

O) hend(dwkz)bbsc (O

SETELAH mengembalikan Lie Hui Houw yang dipinjamnya kepada Cin Siao  Yan, maka seorang  diri Cie in suthay melakukan perjalanan hendak kembali ke kuil Cui gwat am menemui gurunya. Akan tetapi ditengah perjalanan itu dia teringat dengan salah  seorang sahabatnya, sehingga  dia singgah di gunung  Ngo tay san dan bertemu  dengan sahabatnya itu yang bernama Hui cu suthay.

Kedatangan Cie in suthay ini ternyata bertepatan  dengan Hui cu suthay justeru hendak melakukan perjalanan oleh karena katanya Hui cu suthay bermaksud mengunjungi muridnya yang bernama Cu Sian Ing yang menetap di dusun  Lo an Cung, sehingga  terjadi mereka berdua melakukan perjalanan bersama-sama, dan sempat Cie in suthay ikut singgah di dusun itu sehingga kembali dia dihadapkan dengan masalah si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu,  yang benar benar membikin dia menjadi pusing kepala.

Waktu Koay lo jinkee alias si iblis penyebar maut menderita penyakit demam disebuah kuil tua, waktu itu dia bertemu dengan seorang pemuda yang telah memberikan dia m inum air hangat berikut penganan kering, dan setelah dia  sembuh dari penyakit demam itu, maka dia te lah memberikan sekedar tambah ilmu kepada si pemuda yang telah menolong tanpa disengaja itu, sampai kemudian mereka berpisah lagi.

Setelah berpisah dari s i kakek yang aneh dan yang dia tidak ketahui siapa namanya, maka pemuda  itu meneruskan perjalanannya seorang diri; dan tengah harinya dia singgah di suatu kedai arak yang terdapat disisi jalan sunyi, dekat sebuah dusun yang dia tidak diketahui apa namanya.

Dia memesan semangkok arak berikut dua bakpao, dan dia juga membeli sebungkus penganan kering karena perbekalannya sudah habis.

Kedai itu terletak disisi jalan yang sunyi, sehingga para pembelinya sudah tentu melulu terdiri dari orang orang yang sedang melakukan perjalanan. Waktu pemuda  itu  datang kedai arak itu sunyi tidak ada lain tamu, akan tetapi lewat sesaat, datang dua tamu laki laki yang memilih tempat duduk disudut sebelah kanan dari si pemuda yang dengan lahap sedang makan bakpao.

Dua orang tamu lelaki yang baru datang itu, yang seorang berusia kira kira  empatpuluh tahun, bertubuh gagah dan memiliki wajah muka garang dengan kumis hitam yang tebal, sedangkan kawan seperjalanannya merupakan seorang pemuda bermuka hitam dengan mata sedikit juling.

Waktu si pemilik kedai mengantarkan arak yang mereka pesan, terdengar yang lebih tua menanyakan tentang letak dusun Lo an cung dan dijawab oleh si pemilik kedai, bahwa dusun itu sudah tidak jauh lagi terpisah dari tempat mereka berada.

Kedua tamu itu kelihatan tergesa gesa sebab mereka cepat bergegas pergi, mendahulukan si pemuda yang masih menghadapi mangkok araknya. "Heran, hari ini sudah lebih dari sepuluh orang gagah dari rimba persilatan, yang hendak mengunjungi dusun Lo an cung..” si pemilik kedai itu berkata menggerutu seperti pada dirinya sendiri, selagi dia mengawasi mangkok mangkok arak bekas kedua tamunya tadi.

“Orang orang rimba persilatan ? mengapa mereka kesana ..

.?” tanya si pemuda bagaikan tak sadar, karena perhatiannya agaknya tertarik dengan perkataannya si pemilik kedai tadi.

“Memang, akan tetapi aku sendiri tidak mengerti .. ..” sahut si pemilik kedai yang sengaja mendekati si pemuda, lalu dia menambahkan perkataannya.

“, .. sejak beberapa hari ini, seringkali dusun Lo an cung kedatangan kaum pandai silat, dan sejak itu pula  didusun Lo- an cung seringkali terjadi pertempuran dan pembunuhan .. , .”

“Bagaimana kau mengetahui, sedangkan kau bukan bertempat tinggal didusun itu…?” tanya lagi si pemuda, rupanya dia bertambah tertarik perhatiannya.

“Aku memang tidak menetap didusun itu, tetapi aku mempunyai seorang keponakan yang seringkali datang membawa kabar. Bahkan dikatakan bahwa awal peristiwa itu disebabkan terbunuhnya seorang pemuka dusun itu ..” sahut  si pemilik kedai arak.

“Siapa pemuka dusun itu...?” masih si pemuda menanya, dan dia bahkan mengawasi muka si pemilik kedai arak.

"Dia adalah Pek bin houw Cu Siang Kie, si macan alis putih yang menjadi ketua kampung. Seorang berbudi luhur akan tetapi terlalu tegas dalam mengambil keputusan...”

“Hmmm.. !" pemuda itu bersuara dan menyudahi pembicaraan itu. Akan tetapi diluar  kesadarannya langkah kakinya justeru mengajak dia buat mengunjungi dusun Lo an cung ! Seperti yang dikatakan oleh si pemilik kedai arak tadi, letak dusun Lo an cung memang sudah tidak terlalu jauh lagi. Mendekati waktu magrib, pemuda itu sudah memasuki dusun Lo an cung, yang ternyata adalah suatu dusun yang cukup indah dengan berbagai pemandangan  alam,  serta kelihatannya merupakan suatu dusun yang cukup  makmur,  dan cukup banyak penduduknya.

Langkah kaki pemuda itu kemudian menuntun dia mencari sebuah tempat penginapan, dan di saat berikutnya dia memasuki suatu rumah makan, yang kebenaran sedang banyak pengunjungnya, sedangkan di rumah makan itu memang tersedia kamar kamar untuk disewakan bagi  para tamu yang hendak menginap.

Pemuda itu memasuki dan melihat banyaknya para tamu. Pada setiap meja kedapatan empat atau lima tamu, bahkan  ada yang diisi oleh delapan orang, dan pemuda itu langsung mendekati tempat pengurus rumah makan untuk  dia memesan sebuah kamar.

Si pengurus rumah makan itu mencatat nama si pemuda. ‘Gouw Pa Thian’ lalu memerintahkan seorang pelayan buat mengantarkan pemuda itu kekamar yang dipesannya.

Kamar itu cukup baik dan cukup bersih,  sehingga   si pemuda yang mengaku bernama Gouw Pa Thian itu kelihatan merasa puas. Akan tetapi disaat si pelayan hendak meninggalkan dia, maka secara mendadak jendela kamar membentang lebar, lalu tiga batang senjata piao meluncur kearah si pemuda.

Dengan geraknya yang sukar dilihat, Gouw Pa Thian menyambuti tiga batang piao itu memakai sebelah tangannya, lalu dia menyambit kearah keluar kamar, lewat daun jendela yang membentang terbuka.

“Kabur .. ." terdengar seru seseorang di luar kamar, lalu pada saat berikutnya suasana kembali menjadi sunyi, menandakan si penyerang gelap itu sudah jauh menghilang, dibiarkan oleh Gouw Pa Thian yang tidak bermaksud mengejar.

Tubuh si pelayan menjadi gemetar, waktu Gouw Pa Thian mengawasi dengan bengis.

“Apakah memang menjadi kebiasaan disini, menyerang setiap tamu secara membokong .. .?” Gouw Pa Thian berkata dengan suara mengejek.

“Tidak .. ..tidak, siangkong. Baru sekali ini terjadi. Apakah bukan musuh s iangkong yang sengaja mengintai ...?” sahut si pelayan yang perlihatkan muka ketakutan.

“Musuhku..?” si pemuda berkata seperti menggerutu, akan tetapi dia menyudahi pembicaraan itu dan memerintahkan si pelayan mengambilkan a ir teh.

Malam harinya cuaca berobah menjadi suram, di langit penuh awan hitam, kemudian  turun hujan dengan amat lebatnya.

Diruang makan hanya ada sebuah meja yang masih diisi  oleh empat orang tamu laki laki; dan pemuda Gouw Pa Thian yang sengaja keluar dari kamarnya,  lalu  memilih  tempat duduk didekat tempat si pengurus rumah makan.

"Aku dengar ada seorang yang te lah menyerang siangkong secara membokong,” kata si pengurus rumah makan yang sengaja datang mendekati.

“Dua orang “ sahut Gouw Pa Thian singkat tetapi tegas suaranya, lalu dia menunda pembicaraan itu, buat dia memesan makanan pada seorang pelayan. “... aku hanya merasa heran apakah menjadi kebiasaan penduduk disini, melakukan penyerangan secara membokong setelah itu kabur seperti pengecut..” Gouw Pa Thian menambahkan perkataannya kepada si pengurus rumah makan, setelah pelayan tadi pergi untuk menyediakan makanan yang dipesannya.

Sejenak si pengurus rumah makan kelihatan terpesona, dan tidak berani dia mengawasi tamunya yang sedang mengawasi dia, terlebih oleh karena dia menganggap tamu itu seorang pemarah. Akan tetapi dengan suara ramah kemudian  dia berkata.

"Congsu; aku sangat menyesal dengan terjadinya peristiwa tadi. Memang, biasanya di tempatku ini tidak pernah terjadi kekacauan atau keributan apapun juga, akan tetapi sete lah terjadinya ketua kampung kita dibunuh tanpa  diketahui siapa si pembunuhnya, maka suasana dikampung kami berobah dan seringkali terjadi keributan. Apa lagi belakangan ini muncul seorang pendekar pedang yang memakai tutup muka dengan secarik kain  warna hitam yang mengacau dusun ini dan memusuhi orang orang yang menjadi pembantu pejabat ketua kampung yang baru... ,”

"Siapa nama ketua kampung yang sekarang...?" Gouw Pa Thian menanya!

"Ketua kampung yang sekarang sebenarnya belum resmi, masih merupakan pejabat sementara, dan orang itu adalah bekas pembantu utama ketua kampung yang lama. Namanya Thio Bun Hok "

Tepat pada saat itu diluar rumah makan terdengar ada  suara keributan, menyusul kemudian sesosok tubuh manusia penuh lumpur terlempar masuk kedalam ruangan rumah makan, lalu terjatuh dilantai dengan mendatangkan suara berisik.

Menyusul kemudian dipintu rumah makan itu telah berdiri seseorang yang mengenakan pakaian serba ringkas warna hitam. Kepalanya dibungkus dengan secarik kain hitam dan bagian mukanya juga ditutup dengan sehelai kain yang sama warnanya, sehingga wajah mukanya tidak terlihat orang. Dia lompat dari kepekatan malam dan curahan hujan, dengan pedang siap ditangan !

Pendekar berbaju hitam itu hendak menghabiskan nyawa mangsanya yang sudah tidak berdaya, akan tetapi pada saat itu sebuah mangkok arak melayang, memukul  pedangnya yang hendak menikam, membikin pendekar berbaju hitam itu terkejut karena dia merasakan suara benturan keras, menandakan si pelempar mangkok itu mahir tenaga  dalamnya.

Pada detik berikutnya si pendekar berbaju hitam itu sempat melihat adanya sesosok tubuh yang sedang melayang hendak menyerang dia dengan sebatang pedang yang sudah siap ditangan.

Si pendekar berbaju hitam itu lalu menimpuk memakai sebatang piao, akan tetapi piao itu dapat ditangkis oleh Gouw Pa Thian dengan pedangnya, sementara tubuhnya meluncur terus, dan dia menikam memakai gerak tipu “burung elang menerkam mangsa", suatu jurus dari ilmu ‘eng jiauw  hoat' yang dia peroleh dari Koay lo jinkee atau si kakek  bongkok yang aneh !

Dengan gerak tipu 'macan betina pulang ke kandang', pendekar berbaju hitam itu sempat lompat menghindar dari serangan Gouw Pa Thian, akan tetapi Gouw Pa Thian mendesak lawannya dengan serangkaian  serangan secara berturut turut, membikin  si pendekar berbaju hitam itu kelihatan menjadi repot sampai dia lompat keluar dari rumah makan itu dengan tujuh kali lompatan secara jungkir balik !

"Bagus .. .!” Gouw Pa Thian bersuara memuji, akan tetapi selekas itu juga dia lompat menyusul, tanpa dia menghiraukan hujan masih turun rintik rintik. Setelah itu lagi  lagi  dia menikam memakai gerak tipu 'burung elang menerkam mangsa', akan tetapi sebuah tendangan pada betisnya membikin dia jatuh terguling, dan berbalik dia yang diserang secara bertubi tubi,  dengan delapan belas kali bacokan memakai  gerak  tipu  'cap  pe  lo   han sin  kiam', suatu  jurus I

istimewa yang dimiliki oleh si pendekar berbaju hitam.

Dengan bergerak bagaikan keledai malas mandi dipasir; Gouw Pa Thian harus bergulingan untuk dia menolong diri dari ancaman maut lalu pada suatu kesempatan dia bergerak bagaikan seekor ikan gabus meletik, sementara  kakinya sempat menendang pantat si pendekar berbaju hitam itu; membuat lawan itu terpental jauh; akan tetapi tidak sampai terjatuh, hanya sebelah tangannya yang tanpa sadar telah meraba raba bagian pantatnya yang kena ditendang, sehingga dia menjadi geram.

“Kurang ajar ...!" dia memaki. Akan tetapi menggunakan kesempatan selagi keadaan mereka terpisah cukup jauh, maka si pendekar berbaju hitam itu lalu menghilang dikegelapan malam.

Gouw Pa Thian membiarkan lawannya  menghilang. Dia mengibaskan pakaiannya yang penuh lumpur, karena tadi dia telah bergulingan di tanah yang becek. Waktu dia hendak memasuki rumah makan, maka orang yang hampir menjadi mangsa si pendekar berbaju hitam tadi mendekati dan mengucapkan terima kasih:

“Terima kasih; congsu, untung ada kau yang menolong ..." “Musuhmu itu tinggi ilmunya .. ." kata Gouw Pa Thian yang

tidak menghiraukan ucapan terima kasih orang itu.

“Memang benar kalau congsu mengatakan dia sakti. Tadi kami beramai mengepung dia, akan tetapi  tiga  kawanku tewas, dan ..."

"Tunggu! coba kau lihat, ada orang orang yang sedang mendatangi. Apakah mereka kawan kawan kau .. ,?” Gouw Pa Thian memutus perkataan orang itu.

"Benar, mereka adalah teman temanku.....?” sahut  orang itu, waktu disaat berikutnya sudah lebih dari dua belas orang yang memasuki rumah makan itu, merobah suasana menjadi ramai dengan obrolan mereka.

Orang yang memimpin rombongan yang baru datang itu mengaku bernama Go Siang Tek. Umurnya sudah mendekati lima puluh tahun bertubuh kurus akan tetapi kuat dan lincah. Dengan bangga dia mengaku pernah menjadi kepala kawanan perampok di atas gunung Lo san, yang letaknya diperbatasan antara propinsi An hui dan Kangsay sebelah barat laut.

"Dan mengapa kau tinggalkan gerombolanmu, lalu kau berada disini ..?" tanya Gouw Pa Thian dengan suara mengejek.

"Sebab rombonganku sedang bubar ..” sahut Go Siang Tek yang kelihatan meringis, seperti merasa malu.

"Sudah dibubarkan atau sudah dibasmi...?” masih Gouw Pa Thian menanya, tetap dengan nada suara mengejek.

"Sahabat, kau terlalu menghina" geram Go Siang Tek membikin semua temannya jadi merasa cemas,  karena mereka mengetahui bahwa Gouw Pa Thian justeru baru saja menolong salah seorang teman mereka.

"Siapa sahabatmu ... ?” gumam Gouw Pa Thian yang tetap perlihatkan muka menghina,  sedangkan sikapnya sangat tenang. Go Siang Tek jadi bertambah geram. Dia bahkan telah menghunus goloknya yang hendak dia gunakan buat menyerang Gouw Pa Thian, akan tetapi secara tiba tiba seorang teman mereka berteriak, lalu rubuh dengan muka membenam sebatang piao.

Semua yang berada didalam rumah makan itu menjadi terkejut. Juga Gouw Pa Thian ikut menjadi kaget; sebab perhatiannya sedang dia curahkan kepada Go Siang Tek, yang telah mendatangkan rasa bencinya. Pada saat berikutnya,  dari luar rumah makan itu telah menerobos belasan orang laki laki, yang semuanya sudah siap dengan senjata mereka.

"Mari kita bunuh semua orang orang terkutuk itu, jangan biarkan seorang pun yang melarikan diri,..” teriak seseorang yang rupanya menjadi pemimpin pihak yang datang menyerang. Suatu pertempuran yang secara kacau segera terjadi di dalam rumah makan itu. Meja dan kursi kursi pada terbalik atau sengaja ditendang kesisi, sehingga membentang suatu arena yang cukup luas untuk mereka bertempur, sementara suara pekik orang orang yang membikin tambah ramai suasana yang gaduh itu.

Gouw Pa Thian ikut terlibat didalam pertempuran yang serba kacau itu, karena dia telah diserang oleh salah seorang rombongan dari pihak yang baru datang.

Dengan tubuhnya yang lincah, Gouw Pa Thian dapat menghindar dari serangan orang itu, lalu sambil tubuhnya masih bergerak miring, dia menikam dan orang itu berteriak karena pedangnya Gouw Pa Thian membenam dibagian dadanya.

Pemimpin rombongan yang datang menyerang itu berteriak marah. Dengan suatu terkaman dia lompat dan membacok memakai goloknya.

Gouw Pa Thian cabut pedangnya yang  membenam dibagian dada lawannya tadi. Darah segar menyambar keluar dan orang itu rubuh tewas, sementara dengan pedangnya itu Gouw Pa Thian menangkis serangan golok yang sedang mengarah dirinya sehingga terdengar bunyi suara nyaring dari kedua benda logam yang saling bentur, sampai mengeluarkan lelatu anak api.

Si pemimpin rombongan yang menyerang itu menjadi terkejut. Tidak dia sangka bahwa pemuda yang dia serang memiliki tenaga besar, mengakibatkan tangannya terasa pedih dan goloknya hampir terlepas jatuh. Akan tetapi dia tidak menghentikan geraknya karena dia terus menyerang dengan serangkaian bacokan maut, sangat mirip dengan cara penyerangan yang pernah dilakukan oleh si pendekar berbaju hitam tadi, yakni dengan delapan belas kali bacokan, sesuai dengan jurus dari cap pe lo han sin kiam.

Sejenak Gouw Pa Thian menjadi ragu ragu merasa kalau kalau si pemimpin rombongan ini adalah si pendekar yang berbaju hitam tadi meskipun sekarang lawan itu menggunakan senjata golok. Oleh karenanya dia mengawasi dengan penuh perhatian, sampai tiba tiba dia menjadi terkejut,  oleh  karena dia teringat bahwa lawannya itu justeru adalah si pemilik kedai arak yang sore tadi dia singgah sebelum dia memasuki dusun Lo an cung.

Justeru oleh karena Gouw Pa Thian sedang terpesona maka dia kena tendangan dan tubuhnya terlempar cukup jauh akan tetapi tidak sampai dia terguling jatuh, sebab selagi diudara, tubuhnya telah jungkir balik menggunakan ilmu burung elang terbang menukik, suatu ilmu yang dia peroleh dari Koay  lo jinkee dan disaat berikutnya sepasang kakinya sudah menginjak lantai ditempat yang bekas musuhnya berdiri, akan tetapi selekas itu juga tiga batang piao telah meluncur ke arahnya.

Dengan menggunakan pedangnya, Gouw Pa Thian menangkis ketiga batang piao itu, kemudian dengan jurus dari ilmu angin topan meniup daun daun kering', yang khas dari golongan Tiang pek pay, untuk kemudian dia harus menyambuti serangan berikutnya dari lawannya; yang lagi lagi telah menikam dan membacok dengan serangkaian serangan yang bertubi tubi.

“Kalau tidak sa lah, kau adalah si pemilik kedai arak yang tadi aku singgah . , .” kata Gouw Pa Thian, sesaat selagi dia sempat berhadapan muka dengan lawannya. "Bagus, kalau kau tidak lupa. Sebaiknya  jangan  kau campuri urusan kami ini" sahut lawannya,  akan  tetapi kelihatan jelas dia merasa penasaran, karena belum dapat dia mengalahkan pemuda lawannya, padahal dia  yang sudah berusia empat puluh tahun lebih sudah  banyak  pengalamannya didalam menghadapi berbagai macam lawan!

Gouw Pa Thian perdengarkan suara gumam yang tidak jelas, akan tetapi dia  harus cepat cepat bergerak buat melayani lagi.

Sementara itu di ruangan rumah makan sudah banyak tubuh orang orang yang bergelimpangan jatuh, baik  karena luka luka dan ada pula yang sudah binasa.

Pada suatu kesempatan menangkis, maka Gouw Pa Thian membarengi menyerang dengan gerak tipu 'burung elang mengibas sayap' dan ujung pedangnya berhasil melukai jidat lawannya, bahkan berhasil memutus ikat rambut lawan itu, yang menjadi gugup dan hampir kehilangan nyawa terkena serangan berikutnya kalau Gouw Pa Thian tidak harus menghindar dari serangan tiga batang piao yang dilepaskan seseorang, dan seseorang itu ternyata adalah si pendekar berbaju hitam, yang muncul secara mendadak dan menolong temannya disaat yang tepat.

"Kurang ajar! Kau menyerang seperti seorang perempuan ..

.!" Gouw Pa Thian memaki dan dia harus lompat sungsang sumbal; karena dia t idak s iaga sebab perhatiannya sedang dia curahkan terhadap lawan yang berupa si pemilik kedai arak.

Si pendekar berbaju hitam kedengaran tertawa. Akan tetapi waktu Gouw Pa Thian lompat menerkam hendak menyerang, maka dia lompat jauh untuk menghindar dan disaat berikutnya dia kabur, menyusul si pemilik kedai yang sudah mendahulukan.

Pertempuran didalam ruangan rumah makan itu telah terhenti semuanya. Pihak penyerang telah melarikan diri, meninggalkan banyak korban yang luka atau binasa, dan di pihak yang diserang juga terdapat beberapa orang yang binasa atau terluka, termasuk Go Siang Tek yang kelihatan cukup parah lukanya, sehingga dia tidak mampu mendekati Gouw Pa Thian, sebaliknya orang yang pernah ditolong nyawanya oleh pemuda itu te lah mendekati dan sekali lagi dia mengucap terima kasih :

“Syukur ada congsu yang membantu pihak kami, sehingga dalam pertempuran tadi kami memperoleh kemenangan. Akan tetapi, sayang congsu tidak berhasil menangkap .. .”

”Siapa bilang aku membantu pihak kalian..?” kata Gouw Pa Thian yang memutus perkataan orang itu, sedangkan perkataannya sudah tentu menjadikan orang itu menjadi terpesona dengan sepasang mata membelalak.

Sementara itu Gouw Pa  Thian  menambahkan perkataannya.

“ . , . kalau tadi aku ikut bertempur, melulu oleh karena aku telah diserang orang dan waktu aku menolong  kau dari ancaman maut, waktu itu aku merasa wajib membantu pihak yang lemah. Akan tetapi kemudian aku melihat kalian semua adalah manusia kerdil yang berlagak jadi jagoan tengik...!”

Pucat muka orang itu waktu dia  mendengar perkataan Gouw Pa Thian, akan tetapi tidak berani dia mengawasi sepasang mata Gouw Pa Thian yang sedang menatap dia dengan geram. Lalu sambiI tunduk dia menjauhkan diri, dan mengajak semua temannya meninggalkan rumah makan itu, dengan mengangkut juga yang luka luka maupun yang binasa, termasuk orang orang dari pihak yang menyerang mereka; yang mereka jadikan orang tawanan.

Hanya ada satu orang yang tertawa menyaksikan lagak dan mendengarkan perkataan Gouw Pa Thian. Dia masih tertawa waktu melihat Gouw Pa Thian meninggalkan ruang tamu atau ruang makan itu. Orang yang tertawa itu adalah si pengurus rumah makan, yang tidak menghiraukan kerugian  yang dia derita akibat terjadinya pertempuran tadi, sebaliknya dia  merasa puas karena telah mengetahui pendirian Gouw Pa Thian.

Esok paginya Gouw Pa Thian terbangun dari tidurnya dan dia menjadi terkejut seperti digigit ular, sebab didalam kamarnya ada dua orang yang sedang duduk tenang tenang; dan kedua orang itu justeru adalah  si pemilik kedai arak berdua si pendekar berbaju hitam. Kedua orang orang yang pernah dia tempur !

Baik si pendekar berbaju hitam maupun si pemilik kedai arak, keduanya sedang mengawasi Gouw Pa Thian yang masih rebah diatas tempat tidurnya. Dan si pemilik  kedai  arak bahkan perlihatkan senyumnya, suatu senyum ramah penuh suasana persahabatan dan Gouw Pa Thian merasa yakin bahkan dibalik kain  hitam yang menutupi wajahnya, si pendekar berbaju hitam itu tentu sedang bersenyum juga.

Gouw Pa Thian bangun dan duduk. Tangannya meraba pedangnya akan tetapi si pemilik kedai arak lalu berkata.

“Tenang, sahabat. Kami datang bukan sebagai musuh, akan tetapi sebagai teman..”

Gouw Pa Thian tidak mengucap apa apa sebaliknya sepasang matanya liar mengawasi kearah jendela yang masih tertutup dan terkunci dari bagian dalam. Juga pintu kamar masih tertutup, lengkap dengan palang kayu yang semalam sengaja dia tempatkan.

"Kami masuk dari balik dinding itu ..." kata si pendekar berbaju hitam sambil jari tangannya menunjuk kesuatu sudut kamar.

“Hm ....” desis Gouw Pa Thian. “Maafkanlah, kalau telah terjadi salah paham antara pihak kami karena semalam kami menganggap siangkong sebagai orang yang berpihak kepada lawan kami . ,.”

“Akan tetapi aku juga bukan berpihak kepada kalian ..."

Si pemilik kedai arak bersenyum lagi, lalu dia menyambung perkataannya.

“Aku bernama Oey Goan Ciang, dan ini adalah Cu Sian Ing kouwnio, puteri tunggal almarhum Cu Sian Kie..."

"Kouwnio...?” ulang Gouw Pa Thian bagaikan dia tidak percaya dengan perkataan si pemilik kedai arak yang mengaku bernama Oey Goan Ciang.

Si pendekar berbaju hitam tertawa. Nada suaranya sangat berbeda, menjadi suara tawa yang merdu halus, dan dia membuka tutup kepala berikut tutup mukanya  maka  dilain detik terbentang suatu wajah muka perempuan muda yang cantik jelita, dengan sekuntung rambut ikal panjang terurai!

Sementara itu bagaikan  tidak sadar Gouw Pa Thian menambahkan perkataannya yang dia  tujukan kepada si pendekar berbaju hitam itu.

“Jadi kau memang perempuan ..."

"Apakah kau anggap aku banci ...” balik tanya Cu Sian Ing, sambil lagi lagi dia menyertai tawanya yang merdu.

“Cu kouwnio, sebaiknya kau jangan bergurau, sebaiknya marilah kita jelaskan mengenai persoalan kita kepada Gouw tayhiap ..” kata si pemilik kedai arak atau Oey Goan Ciang dan dia meneruskan perkataannya yang ditujukan  kepada  Gouw Pa Thian.

“.. Gouw tayhiap tentunya belum mengetahui tentang pertikaian yang sedang terjadi di dusun ini.  Pernah aku katakan bahwa dulu ketua kampung kami adalah Pek  bin houw Cu Siang Kie, atau ayahnya Cu kouwnio“ “ ... sebelum menjadi ketua dusun ini, Pek bin houw  Cu Siang Kie sering berkelana dikalangan  rimba persilatan; sehingga tidak mengherankan kalau dia  mempunyai  kawan dan juga mempunyai musuh. Kemudian dia menjadi ketua dusun ini, dan pada suatu hari kedatangan seorang teman yang bernama T io Bun Hok yang kemudian ikut menetap dan menjadi pembantu dalam kesibukan menjadi ketua dusun ini..

.”

“.. . diluar dugaan, Tio Bun Hok ini mempunyai maksud hendak merebut kekuasaan dan jabatan ketua kampung  dan dia berhasil menghasut beberapa warga setempat untuk memihak kepada dia. Lalu pada suatu kesempatan dia berhasil membinasakan Cu Siang Kie dengan suatu muslihat yang keji, dan secara sepihak Tio Bun Hok menentukan dirinya menjadi pengganti ketua kampung Lo an cung, sedangkan orang orang yang menentang, terutama  orang orang yang masih setia dengan almarhum Cu Siang Kie, telah ditindak secara  kejam dan sewenang wenang, sehingga terjadilah suatu perpecahan antara kelompok orang orang yang berpihak kepada Thio Bun Hok dan kelompok orang orang yang tetap setia dengan almarhum Cu Siang Lie, yang semula tidak ada yang pimpin, sampai kemudian Cu Sian lng datang habis mengikuti gurunya berkelana di kalangan rimba persilatan.. .”

"Selama terjadi perpecahan ini, maka hampir set iap hari terjadi pertempuran antara kedua kelompok orang orang yang saling bertentangan, sedangkan Cu Sian Ing yang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan penutup muka ikut pula melakukan berbagai perbuatan yang merugikan pihak Tio Bun Hok, sampai Tio Bun Hok mengundang banyak rekannya dari kalangan rimba persilatan untuk membantu kelompoknya dengan menjanjikan upah yang besar untuk menangkap si pendekar berbaju hitam, yang dia tidak ketahui adalah Cu Sian Ing.” Demikian Oey Goan Ciang membentangkan persoalan pertentangan yang terjadi di dusun Lo an cung, dan sementara itu Gouw Pa Thian sudah menyuguhkan  tiga cangkir air teh dingin buat tamunya yang dia tidak undang,  dan tidak harapkan kedatangannya.

“Lalu apa maksud kalian datang dan menceritakan hal ini kepadaku...?” akhirnya tanya Gouw Pa Thian waktu Oey Goan Ciang menyudahi kisahnya.

“Siaomoay bermaksud mengharapkan bantuan Gouw ko,. ,” tiba tiba Cu Sian  Ing yang ikut bicara, mengakibatkan sepasang mata Gouw Pa Thian jadi membelalak mengawasi.

“Siao moay.. ?” ulang pemuda itu.

"Siao moay..” sahut Cu Sian Ing  dengan  menyertai seberkas senyum, suatu senyum manis mengandung seribu arti.

O) hen(dwkz)bbsc (O

GOUW PA THIAN menjadi terpesona waktu dia mendengar kata ulang Cu Sian Ing, dara yang berpakaian serba hitam dan yang kelihatannya gemar bergurau, orangnya mudah senyum dan murah tawa, senyum manis dan tawa  yang merdu merangsang.

Pemuda itu masih terpesona, waktu  tiba tiba pintu kamarnya digedor orang, disertai dengan suara gugup dari si pengurus rumah makan dan waktu Oey Goan Ciang membuka pintu, maka dengan suara yang terputus putus si pengurus rumah makan berkata.

"Cu kouwnio, celaka, tempat ini sudah dikurung oleh pihak musuh ... !" "Akh .. , !” desis  Cu Sian Ing bagaikan tak mampu mengucap kata kata lain, akan tetapi dia segera lompat keluar diikuti oleh Oey Goan Ciang dan si pengurus rumah makan.

Bagaikan tanpa sadar, Gouw Pa Thian cepat cepat mengemasi bungkusannya, setelah itu dia  siapkan juga sejumlah pisau terbang 'coan yo shin cie’ atau  belati penembus tenggorokan yang khas dia bikin berdasarkan petunjuk dari si kakek bongkok yang aneh dan yang tidak dia kenal namanya juga berbagai macam senjata rahasia lainnya; setelah itu dengan menghunus pedangnya dia melesat keluar, dan disaat berikutnya dia telah melihat Cu Sian Ing bertiga sedang dikepung secara rapat oleh pihak musuh mereka.

Seraup jarum 'hek tok ciam' kemudian dilontarkan kearah pihak orang orang yang sedang mengepung Cu Sian Ing bertiga, lalu terdengar berbagai pekik suara dari orang orang yang terkena jarum jarum maut yang mengandung bisa racun, lalu disaat berikutnya mereka yang terkena jarum jarum maut itu menjadi tewas dengan kulit muka berobah biru sementara pada mulut mereka kelihatan keluar buih putih.

Sementara itu Gouw Pa Thian sudah memasuki kancah pertempuran dan dia mengamuk bagaikan seekor burung garuda yang buas dan lincah gerakannya, berbeda jauh dengan cara dia bertempur kemarin; sehingga dengan cepat  dia berhasil membobolkan pihak orang orang yang sedang mengepung, dan berhasil dia  mendekati Cu Sian Ing lalu dengan suatu kerjasama yang serasi, sepasang insan muda itu berhasil mendesak pihak orang orang yang mengepung, sampai mereka jadi bertempur dibagian luar rumah makan, akan tetapi pihak orang orang yang mengepung ternyata semakin bertambah jumlahnya karena datangnya Tio Bun Hok dengan para pembantunya yang terdiri dari orang orang kalangan rimba persilatan yang tinggi ilmunya.

Dengan punggung menempel pada punggung, Gouw Pa Thian berdua Cu Sian Ing me lakukan perlawanan terhadap semua pihak musuh yang mengepung mereka, dan  semua para pengepungnya itu terdiri dari tokoh tokoh kalangan rimba persilatan yang sengaja didatangkan oleh Tio Bun Hok.

Dilain pihak, Oey Goan Ciang berdua si pengurus rumah makan juga sudah dikepung oleh puluhan lawan, akan tetapi untung bagi mereka, karena pada saat berikutnya mereka mendapat bantuan dari sisa orang orang yang masih set ia pada almarhum Cu Siang K ie.

"Gouw ko, tikus tikus belang ini lumayan juga ilmu silatnya…” kata Cu Sian Ing yang masih sempat berkelakar, bahkan menyertai senyumnya yang manis, meskipun maut sedang mengintai.

"Hm ..!” cuma itu Gouw Pa Thian mampu bersuara, karena sekilas jiwanya terasa bagaikan bergetar; selesai dia melirik ke arah dara yang sedang mendampingi dia, setelah itu tangan kirinya bergerak dan dua batang pisau terbang  ‘coan-yo shin jie' mengenai sasaran terhadap dua orang yang hampir saja berhasil membinasakan Oey Gouw Ciang.

Dengan cepat tubuh Gouw Pa Thian hinggap  lagi didekat Cu Siang Ing, sehabis tadi dia lompat tinggi buat melepaskan pisau terbang, dan selagi tubuhnya masih melayang sebelah kakinya sempat menendang seorang musuh yang hendak membokong Cu Siang Ing, sedangkan pedangnya nyaris menikam seorang musuh lain.

“Tendangan Gouw ko cukup sakit sebab siau moay pernah merasakan,..." sekali lagi Cu Siang Ing berkata dengan berkelakar, dan tetap menyertai senyum yang memikat, akan tetapi agak merah mukanya, sebab teringat dengan pantatnya yang pernah kena ditendang oleh Gouw Pa Thian !

Sementara itu Gouw Pa Thian terpaksa ikut tersenyum, waktu dia mendengar perkataan Cu Sian Ing. Suatu senyum yang mungkin baru pertama kalinya menghias diwajahnya sejak dia dilahirkan, meskipun senyum itu berupa  suatu senyum yang hampa !

Dilain pihak, dua orang yang terkena serangan pisau belati tadi te lah tewas dan seseorang kemudian terdengar berteriak, sehabis dia memeriksa rekannya yang terkena pisau  terbang itu.

"Toako ! inilah pisau 'coan yo shin jie'. "

Sebutan toako rupanya ditujukan kepada Tio Bun Hok; karena kelihatan dia lompat mendekati orang yang berteriak  itu, yang masih memegang sebatang pisau terbang bekas digunakan oleh Gouw Pa Thian.

Tio Bun Hok menerima dan memeriksa pisau terbang  itu; lalu wajah mukanya kelihatan berubah pucat, membikin sejenak dia berdiri terpesona. Setelah itu secara tiba tiba dia lompat melesat mendekati Gouw Pa Thian yang sedang dikepung dan dia  menyerang memakai goloknya, dengan gerak tipu yang khas dari golongan Pat kwa bun. Beberapa orang orang yang sedang mengepung Gouw Pa Thian segera lompat mundur waktu mengetahui ketua mereka menghadapi si pemuda.

“Katakan, kau pernah apa dengan cuncu..” bentak Tio Bun Hok dengan mata melotot, akan tetapi nada suaranya terdengar agak gemetar.

"Hm! aku tidak tahu apa dan siapa cuncu itu....!” sahut Gouw Pa Thian geram karena waktu tadi dia menangkis serangan Tio Bun Hok, maka terasa tangannya tergempur karena dia t idak menduga datangnya serangan yang berat itu.

“Kurang ajar! kau akan menyesal kalau kau tidak mau menjelaskan .„,” kata lagi T io Bun Hok.

"Mengapa aku harus menyesal, dan apa arti menyesal itu

....?” sahut Gouw Pa Thian dengan nada suara mengejek. “Bagus kalau begitu, kau jaga serangan aku...” dan Tio Bun Hok menutup perkataannya dengan memasang kuda kuda buat dia menyaIurkan tenaga Pat kwa yu sin kang!

“Gouw ko, hati hati.. . " seru Cu Sian Ing yang sempat menyaksikan, meskipun dia sedang dikepung musuh.

Gouw Pa Thian sempat pula melihat lagak dan gaya lawan tangguh ini.  Dia pun menyaIurkan tenaga eng  jiauw  kang yang pernah dia belajar dari si kakek bongkok yang aneh dan waktu Tio Bun Hok menyerang dengan suatu bacokan memakai jurus gunung Tay san menindih, maka dengan tabah Gouw Pa Thian menangkis dengan jurus burung elang - mengibas sayap, dan saking kerasnya benturan senjata mereka, maka goloknya Tio Bun Hok putus menjadi dua, sedangkan pedangnya Gouw Pa Thian meluncur  terus, membabat bagian leher lawannya, sehingga dalam kagetnya, Tio Bun Hok berusaha melangkah mundur, akan tetapi dia kalah cepat; dan dadanya robek menyemburkan darah yang memancur keluar !

“Kau pernah apa dengan cuncu.,..?” masih Tio Bun Hok menanya dengan suara lemah, setelah itu dia rubuh terjungkal dan tewas seketika.

"Hmm.... !" gumam  Gouw Pa Thian dan dia tidak menghiraukan lawannya yang sudah binasa, sebaliknya dia mengamuk lagi, membikin pihak lawan kucar kacir kabur menyelamatkan diri.

Dua kali Tio Bun Hok menyebut istilah 'cuncu', dan seseorang telah berseru tentang adanya  pisau  terbang 'coan yo shin jie’ (belati penembus tenggorokan). Bagi seseorang yang mengetahui, sudah tentu tidak asing lagi dengan pisau maut dan istilah cuncu itu. demikian dengan orang orang undangan yang didatangkan  oleh Tio Bun Hok. Dari  itu  mereka segera melarikan diri setelah dilihatnya Tio Bun Hok telah dibinasakan. Semua orang orang yang mengaku sebagai tokoh kaum rimba persilatan  yang telah diundang oleh Tio Bun Hok, sebenarnya kebanyakan adalah sisa sisa anggota persekutuan Thian tok bun yang berkeliaran tidak menentu, setelah markas pusat kegiatan persekutuan itu dibasmi, sedangkan persekutuan Thian-tok bun adalah persekutuan yang dibina oleh si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, dan T io Bun Hok itu adalah bekas ketua Thian tok bun cabang kota Lam ciang di propinsi Kangsay.

Istilah cuncu adalah untuk panggilan bagi pemimpin besar Thian tok bun, atau lengkapnya Thian tok cuncu dan pisau terbang coan yo shin jie  merupakan senjata yang khas menjadi milik Thian tok cuncu alias si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu!

Semua cabang Thian tok bun sudah habis berantakan  waktu diperoleh berita tentang dibasminya  markas  besar Thian tok bun, serta tewasnya Thian tok cuncu oleh karena itu Tio Bun Hok menjadi sangat terkejut waktu dia harus menghadapi seorang musuh yang memiliki  pisau  terbang 'coan yo shin jie', dan dia menjadi lebih terkejut lagi waktu lawan yang masih muda itu mengerahkan tenaga eng jiauw kang, padahal ilmu itu merupakan ilmu keistimewaan dari pemimpin besar mereka. Akan tetapi segala galanya sudah terlambat buat Tio Bun Hok menyelamatkan diri, sebab  kejadian itu berlangsung dengan cepat sekali!

Sementara itu pertempuran cepat menjadi selesai, karena Tio Bun Hok telah binasa, dan semua musuh musuh yang dianggap kuat sudah melarikan diri. Cu Sian Ing  dan  Oey Goan Ciang kelihatan sibuk mengurus kelompok orang orang yang menjadi pembantu mereka; sementara Gouw Pa Thian lalu memasuki kamarnya mengambil bungkusan pakaiannya, setelah itu dia meninggalkan sepotong uang perak diatas meja buat pembayar sewa kamar, lalu dia  hilang  meninggalkan dusun Lo an cung. Kemudian waktu Cu Sian Ing teringat dengan pemuda yang sudah membantu itu bahkan yang sudah menambat hatinya, maka cepat cepat dia mencari dan terus mencari sampai dia memasuki bekas kamar yang disewa oleh Gouw Pa Thian, untuk kemudian dia membanting kaki menyatakan penyesalannya, dan tanpa terasa air mata membasahi wajah mukanya yang cantik jelita.

Sementara itu Oey Goan Ciang kemudian diangkat menjadi ketua dusun Lo an cung sedangkan dara Cu Sian Ing  kehilangan senyum dan kehilangan  tawanya yang halus merdu, membikin ibunya menjadi gelisah, karena yakin anak dara itu sedang dilanda asmara.

Hampir sebulan lamanya Cu Sian Ing bagaikan hidup merana, sampai pada hari itu dia kedatangan gurunya, Hui cu suthay; yang didampingi oleh seorang biarawati muda usia yang cantik jelita, yang katanya bernama Cie in suthay.

Setelah mendengar kisah tentang peristiwa  yang telah terjadi di dusun Lo-an cung itu, maka Cie in suthay  lalu berkata.

"Dengan cuncu, sudah tentu dimaksud Thian tok cuncu, atau pemimpin besar persekutuan Thian tok bun, dan Thian tok cuncu justeru adalah si iblis penyebar maut atau yang juga dikenal sebagai Han bie kauwcu. Sekarang Cu kouwnio mengatakan tentang pemuda yang memiliki pisau terbang coan-yo shin jie itu bernama Gouw Pa Thian, sehingga pinnie meragukan kalau kalau dia adalah sa lah seorang muridnya si iblis penyebar maut itu…”

“Atau mungkin anaknya .." Hui cu suthay ikut bicara, padahal sudah lama dia hidup menyendiri diatas gunung Ngo tay, sehingga kurang  mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi dikalangan rimba persilatan.

“Tidak mungkin anaknya Gan Hong Bie atau si iblis penyebar maut, sebab pinnie mengetahui anaknya Gan Hong Bie ada tiga orang, yang sekarang dititipkan kepada seorang ulama yang sakti ilmunya. ”

“Akan terjadi suatu bencana lagi, kalau kelak anak anaknya si iblis penyebar maut itu ikut merajalela...” Hui cu  suthay yang berkata lagi, sementara Cu Sian Ing hanya diam mendengarkan.

"Harap saja ulama  itu berhati murni, sesuai dengan kedudukannya. Akan tetapi yang pasti sekarang ini kalangan rimba persilatan  menjadi terancam lagi. Pertama karena munculnya si kakek tua bongkok yang aneh atau Koay  lo  jin kee yang katanya sebagai ujut penyamaran si iblis penyebar maut dan yang kedua adalah dengan munculnya  seorang pemuda yang mengaku bernama Gouw Pa Thian..”

"Akan tetapi aku tidak percaya kalau Gouw ko berhati kejam, dan tidak mungkin dia segolongan dengan manusia biadab..." Cu Sian Ing ikut bicara dan membela pemuda yang telah menambat hatinya.

"Seorang iblis banyak akal muslihatnya..." kata Hui cu suthay, yang maksudnya hendak memperingatkan muridnya, sementara Cie in suthay lalu berkata lagi:

“Perihal watak seseorang dapat dilihat dari tindak perbuatannya. Banyak orang yang mengetahui betapa ganasnya bisa racun yang digunakan oleh si iblis penyebar maut, Misalnya saja pada jarum maut hek tok ciam.  Gejala yang menewaskan orang yang terkena bisa racun pada jarum maut itu, adalah warna kulit mukanya berobah biru, agak kehitam hitaman serta mulut mengeluarkan buih putih, tepat seperti yang dikatakan oleh Cu kouwnio, tentang korban yang kena serangan jarum jarum yang dilepaskan oleh Gouw Pa Thian. "

Cu Sian Ing ingin  membantah dan memutus  perkataan Cie in suthay, akan tetapi gurunya memberikan suatu tanda dan membiarkan Cie In suthay meneruskan perkataannya: “sekarang ini, atau setelah terjadinya  berbagai peristiwa yang sangat mengesankan maka timbul dugaanku bahwa si iblis penyebar maut benar benar yang justeru sedang merajalela lagi ...!”

"Akan tetapi, bukankah dia sudah dibinasakan digunung Kauw it san .. ?” tanya Hui cu suthay yang tidak mengerti.

"Memang. Aku bahkan ikut menyaksikan waktu Toat beng sim hancur tubuh dan mukanya, akibat meluapnya kemarahan para pendekar yang bersatu  padu mengganyang markas besarnya, akan tetapi baru baru ini aku telah bertemu lagi dengan dia yang bahkan telah menyamar sebagai Tay lwee sip sam ciu atau 13 malaikat maut istana kerajaan Beng...” dan seterusnya Cie in suthay ceritakan pengalamannya tentang dia berdua Lie Hui Houw bertemu dan menolong Lie Hong Giok anak perempuannya si tangan geledek Lie Thian Pa  yang hidup menjadi seorang sinting, sebagai korban keganasan si iblis penyebar maut!

"Akan tetapi, aku yakin bahwa Gouw ko bukanlah si iblis penyebar maut yang menyamar ..” Cu Sian Ing berkata lagi  dan tetap dia membela pemuda yang telah menambat hatinya itu; lalu dara yang merana ini menceritakan tentang Gouw Pa Thian yang justeru memusuhi pihak T io Bun Hok, yang justeru bekas ketua cabang Thian tok bun. Jadi, bagaimana mungkin Gouw Pa Thian membunuh anak buahnya sendiri, kalau benar Gouw Pa Thian adalah penyamaran si iblis penyebar maut.

“Sebelum dia berhadapan dengan Thio Bun Hok,  tahukah dia bahwa dia sedang memusuhi sisa sisa orang Thian  tok bun? atau yakinkah Cu kouwnio bahwa dia ikut bertempur karena dia memihak kepada kalian? bukan sebab dia telah terlibat dalam suatu pertempuran secara tidak  sengaja  ...?" Cie in Suthay menanya Iagi.

“Pada mulanya dia memang tidak bermaksud membantu pihak kami, dia  bahkan membantu pihak Tio Bun Hok, kemudian Ong susiok yang menjadi pengurus tempat dia menginap mendengar dia  berkata bahwa dia  bertempur karena seseorang telah menyerang dia terlebih dulu " sahut

Cu Sian Ing dengan suara perlahan, dan secara tidak sadar dia telah menghapus istilah Gouw ko sebagai ganti nama Gouw Pa Thian, yang dia ganti memakai istilah 'dia’.

“Untuk mengetahui sampai jelas tentang apakah dia adalah si iblis penyebar maut yang sedang menyamar, barangkali aku harus menunda keberangkatan ketempat suhu dan aku akan melakukan suatu penyelidikan untuk mengikuti jejak pemuda  itu ” akhirnya kata Cie in suthay.

"Suhu, bolehkah aku ikut dengan Cie in  suthay..  ?” tanya  Cu Sian Ing pada gurunya.

"Kau tanyakanlah pada suthay .„ "

Dan terjadi Cu Sian Ing berkelana hendak mencari pemuda idaman hatinya, mendampingi Cie in suthay yang merasa penasaran bahwa iblis iblis masih merajalela di dalam dunia, sehingga kelak Cie in suthay bahkan harus  meminta bantuannya Lie Hui Huow, yang terpaksa  dipinjam  meskipun Lie Hui Houw sudah menjadi suaminya Cin Siao Yan, sehingga sekali lagi si macan terbang Lie Hui Houw harus melakukan penyamaran, untuk dia menghadapi s i Pendekar Tanpa Kawan alias Gouw Pa Thian, yang kisah lengkapnya  dapat  diikuti dalam cerita Su Kiam Hiap In.

TAMAT