Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 24

Jilid 24

“SEMUA bajingan disini, baik dari kelompok orang orang gelandangan maupun bajingan bajingan berkedok jadi pengusaha dan sebagainya pada saling cakar hendak merebut kekuasaan Ouw Beng Tek yang sudah mampus. Dan saling cakar itu ini, sekarang sudah menjadi saling berkelahi bahkan saling bertempur secara berkelompok..!"

“Akan tetapi ternyata bukan kejadian itu  yang menyebabkan mereka berduka cita..." kata tamu laki laki itu sebab dilihatnya perempuan itu tidak meneruskan perkataannya.

"Memang bukan itu, akan tetapi aku ingin minta m inum lagi,.." Laki laki pendatang baru itu menambah isi mangkok perempuan itu dari poci arak yang ada d atas meja dan perempuan itu lalu berkata lagi, setelah lebih dulu dia meng- habiskan isi mangkoknya.

“Yang membikin mereka jadi berduka cita, adalah sebab mereka takut dengan Lim Tiong Houw..!”

Sejenak laki laki itu menatap tajam; akan tetapi bagaikan  tak acuh perempuan itu mejelaskan perkataannya.

" ... kau kenal siapa Lim Tiong Houw itu...?”

"Sui Hwa ..!” lagi lagi s i pemilik kedai berteriak melarang. "Tutup mulutmu ... !" tamu  laki laki itu ikut berteriak

merasa habis sabar, sambil dia mengawasi ketempat pemilik kedai itu duduk.

“Akh ! suara kau memaki, benar benar suara seorang laki laki jantan...!" perempuan itu memuji sambil bersenyum, lalu dia menambahkan lagi perkataannya.

“,.,dulu Lim Tiong Houw juga memiliki suara seperti kau; suara seorang laki laki jantan, sebab dia memang benar benar seorang laki laki jantan, sehingga dia lebih ditakuti daripada Ouw Beng Tek..,"

"Antara Lim Tiong Houw dan Beng Tek, siapa yang lebih berkuasa…?” tanya laki laki pendatang baru itu dengan penuh perhatian selagi perempuan itu menunda bicara.

"Tentu Lim Tiong Houw ! dia lebih galak, lebih jahat dari Ouw Beng Tek. Dia pandai me lepas piao yang berarti maut bagi orang-orang yang coba menentang dia; akan tetapi dia akrab sekali dengan Ouw Beng Tek, melebihi dari saudara sekandung sehingga dia pasti akan kembali kalau dia mengetahui Ouw Beng Tek sudah mampus,,,"

“Apa benar,,?” laki laki pendatang baru itu menanya seperti ingin menegaskan.

"Benar ! dari itu sebagian bajingan bajingan itu jadi pada ketakutan, pada berduka cita, tidak perduli kelompok orang orang gelandangan atau apa saja, sebab mereka semua mengetahui betapa akrabnya Lim Thong Houw dengan Ouw Beng Tek. Sejak kecil mereka selalu berdua, mereka telah mengucap sumpah setia. Kalau ada yang seorang kena celaka, yang lain pasti akan membela ... !"

"Akan tetapi mengapa dulu Lim Tiong Houw pergi ...?" laki laki pendatang baru itu menanya lagi.

"Ha ha ha ... !" perempuan itu tertawa, sebelum dia memberikan penjelasannya, setelah itu baru dia berkata:

"... Lim Tiong Houw adalah seorang laki laki jantan yang berjiwa besar. Dia menganggap tidak ada gunanya menguasai sebuah perahu kecil harus berdua, dari itu dia pergi hendak menguasai kota yang lain ..."

"Ternyata kau banyak mengetahui tentang dia ..." laki laki itu berkata lagi, sementara nada suaranya terdengar berobah agak perlahan lunak. Perempuan itu menengadah dan mengawasi sinar sepasang matanya yang redup; sekilas kelihatan menyala seperti menyimpan dendam lama.

"Lim Tiong Houw adalah seorang bajingan, dia  tetap bajingan meskipun dia memiliki jiwa besar dan sikap jantan. Aku benci dia melebihi kebencianku terhadap Ouw Beng Tek. Kalau Lim Tiong Houw ada yang bunuh mati, akan aku ludahi mayatnya, seperti aku meludahi mayatnya Ouw Beng Tek ..."

“Siao moay ..."

Terkejut perempuan itu yang sedang bicara marah marah, ketika didengarnya laki laki itu bersuara memakai istilah 'siao moy' atau 'adik kecil', akan tetapi selekas itu juga dia berkata lagi, dengan suara yang berobah agak lunak.

"Jangan panggil aku dengan istilah itu, aku benci sebab  dulu Lim Tiong Houw juga memakai istilah itu .. ,”

"Akan tetapi; aku senang memakai istilah itu siao moay .." kata tamu laki laki  itu menegaskan, dan mengulang  lagi memakai istilah ‘siao moay'.

“Kau...!” sekali lagi perempuan itu mengawasi, akan tetapi dengan sepasang mata membelalak, lalu semakin bertambah perlahan ketika dia menyambung bicara,

“... siapakah kau.. ?”

“Lim Tiong Houw ..." sahut laki laki itu dan  perlihatkan sedikit senyumnya.

Kian redup sinar sepasang mata perempuan itu, lalu dia menempatkan kepalanya diatas meja makan,  beralas sepasang telapak tangannya dan dia  pulas tertidur lupa daratan, karena terlalu banyaknya dia minum arak.

Sementara itu, si pemilik kedai juga sempat ikut mendengarkan pengakuan laki laki pendatang baru itu, yang mengatakan dia bernama Lim Tiong Houw. Tubuhnya sampai gemetar dan bertambah gemetar waktu dilihatnya Lim Tiong Houw me langkah mendekati tempat duduknya,  sehingga cepat cepat dia bangun berdiri buat memberi hormat.

Lim Tiong Houw membayar harga minuman yang dipesan tadi, suatu kebiasaan yang menyimpang dengan kebiasaannya dulu sebab sepuluh tahun yang lalu; dimana saja dia datang makan atau minum, tidak pernah dia membayar sebaliknya orang orang yang berusaha pada membayar uang iuran kepadanya, sebab dia adalah dedengkot orang orang gelandangan yang menguasai keamanan kota Hie ciang dengan pengaruh kekuasaan yang melebihi  pejabat Pemerintah setempat.

Sebelum meninggalkan kedai arak itu Lim Tiong Houw memerlukan menanya alamat si perempuan lacur adalah yang bernama Sui Hwa, atau yang sedang mabok itu, dan si pemilik kedai cepat cepat memberitahukan sambil dia berulangkali mengucap terima kasih; sebab Lim Tiong Houw  tidak merugikan usaha kedai itu yang sudah hampir bangkrut!

Saat itu hujan sudah tidak turun lagi, akan tetapi jalan jalan raya dikota Hie ciang banyak yang digenangi oleh air hujan sehingga Lim Tiong Houw lalu pulang ketempat dia menginap. Didalam kamarnya, Lim Tiong Houw masih  memikirkan  tentang pembicaraan dengan perempuan lacur yang bernama Sui Hwa tadi, dan dia terkenang dengan masa lalu, waktu dia masih sama sama memegang kekuasaan dengan Ouw Beng Tek.

Kembalinya dia  ke kota Hie ciang setelah sedemikian lamanya dia menghilang, memang akan mendatangkan berbagai tanggapan dari orang orang atau golongan golongan yang sedang terpecah belah.

Sebagian orang orang tentu akan ada yang menduga atau menuduh dia yang melakukan pembunuhan terhadap diri Ouw Beng Tek, sebab dengan tewasnya Ouw beng Tek; maka kedudukan sebagai pimpinan orang orang gelandangan dikota Hie ciang akan kembali ke tangannya dan sekaligus dia bakal memiliki segala harta yang dipupuk dan disimpan oleh Ouw Beng Tek sebab tempat penyimpanan harta itu hanya dia berdua Ouw Beng Tek yang mengetahui.

Sebagian lagi orang orang tentunya memang ada yang merasa khawatir dengan kembalinya Lim Tiong Houw, dan orang orang atau golongan yang merasa khawatir itu, justeru adalah orang orang atau golongan golongan yang sedang mempunyai harapan buat merebut kekuasaan.  Mereka khawatir kekuasaan itu akan kembali kepada Lim Tiong Houw, sesuai seperti perjanjian yang dulu Lim Tiong Houw lakukan bersama Ouw Beng Tek dan orang orang atau golongan golongan yang merasa khawatir  kehilangan kesempatan berkuasa itu, sudah pasti akan berusaha mengenyahkan Lim Tiong Houw, dengan cara dan daya apapun juga !

Sementara itu malam pun menjadi semakin larut, dan Lim Tiong Houw masih tetap memikirkan masa lampau maupun dengan hari hari yang bakal dia hadapi.

Sepasang telinganya yang tajam dan terlatih, kemudian mendengar adanya suara yang tidak wajar diatas genteng, tempat dibagian atas kamar yang dia sewa di rumah penginapan itu. Lim Tiong Houw lalu memusatkan semua perhatiannya, sampai dia yakin bahwa ada dua orang yang sedang berada diatas genteng kamarnya, lalu kemudian dia mengetahui juga bahwa kedua orang itu telah lompat turun dari genteng, untuk mereka mengintai dekat  jendela kamarnya.

Lim Tiong Hauw tetap diam rebah diatas tempat tidurnya, akan tetapi dia bersikap waspada menunggu, akan tetapi kenyataannya kedua orang yang berada d luar jendela kamar itu tidak melakukan sesuatu, sampai mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

O)hend(dwkz)bbsc(O HO SUN PIN bekerja di kantor pejabat  pemerintah setempat sebagai calon perwira muda. Dia terkenal rajin sejak dia masih merupakan bocah yang ingusan,  dan pada  waktu dia berus ia empat belas tahun, dia  sudah mulai bekerja, karena ayahnya adalah seorang pemabuk yang tidak mau membeayai anaknya sekolah, sedangkan ibunya hanya pandai merajut yang tidak banyak penghasilannya.

Sebagai seorang yang bertugas sebagai alat negara,  Ho Sun Pin tidak menyukai dengan keadaan didalam kota  Hie ciang, akan tetapi dia tak berdaya menghadapi  atasannya yang biasa menerima uang suap, menutup mata dan telinga menghadapi berbagai perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang orang atau kelompok orang orang yang banyak hu- bungannya dikalangan pejabat pemerintah.

Oleh karena itu, Ho Sun  Pin menyimpan rasa benci terhadap atasannya, juga terhadap rekan rekan sejawatnya, bahkan dendam kepada kota Hie ciang yang kian hari menjadi bertambah gila keadaannya.

Pagi itu Ho Sun Pin sedang tugas luar, sehingga dia sempat singgah di kedainya Wong Lay Kun untuk dia menikmati bubur ayam kegemarannya.

Umur Wong Lay Kun sudah enampuluh tahun lebih, akan tetapi tubuhnya masih kuat dan dia sudah  lama mengusahakan kedainya, yang banyak dikunjungi orang orang yang menjadi langganannya, seperti pagi itu kelihatan penuh sesak sampai tidak ada lagi tempat yang kosong.

Lim Tiong Houw datang dan melihat tidak ada lagi tempat buat dia  duduk. Hanya ada sebuah kursi yang kelihatan kosong akan tetapi kursi itu adalah tempat duduknya Wong  Lay Kun yang kebetulan sedang bantu melayani tamu. Tanpa menghiraukan sesuatu, dengan seenaknya  Lim Tiong Houw mengangkat kursi itu yang dia bawa  kedekat meja tempat Ho Sun Pin duduk makan seorang diri.

Wong Lay Kun hendak marah karena melihat tempat duduknya ada yang angkut, akan tetapi selekas itu juga batal dia marah; karena mendadak dia teringat dengan muka orang yang memindahkan kursinya itu dan dia berdiri diam bagaikan patung yang tidak bergerak.

“Kau! bajingan tengik ... !" Ho Sun Pin memaki waktu Lim Tiong Houw sudah duduk didekatnya.

Lim Tiong Houw bersenyum nyengir. Barangkali, dikota Hie Ciang itu hanya Ho Sun  Pin  satu  orang yang berani memaki dia secara berhadapan sebab dulu Ho Sun Pin punya adik perempuan yang saling memadu kasih dengan Lim  Tiong Houw.

“Kau masih dendam kepadaku ... ?” tanya Lim Tiong Houw yang paksakan diri buat bersenyum.

“Mengapa tidak ... !” sahut Ho Sun Pin tegas. "Sebab Siu Lan .. ,?" Lim Tiong Houw menanya lagi,

"Bajingan ! sekali lagi kau sebut namanya kau akan mati

....!”

“Hm! apakah sebab sekarang dia sudah menikah…?” masih Lim Tiong Houw menanya, tetap terdengar lunak suaranya, meski pun dia agak menyindir.

“Aku tidak perduli, dia sudah menikah atau dia  belum menikah,.." sahut Ho Sun Pin tetap kelihatan marah.

"Kalau begitu, kau masih tetap menyintai  dia,..."

“Kau gila! Dia adalah adikku...” agak lunak terdengar nada suara Ho Sun Pin, meskipun masih bernada marah. “Adik tiri, sebab kau hanya diakui sebagai anak oleh kedua orang tuanya Siu Lan...” Lim Tiong Houw berkata lagi.

“Bajingan sungguh bajingan kau ..” dan Ho Sun  Pin mengangkat tangan kanannya, buat menyeka hidungnya yang keluar air dan waktu dilihatnya Lim Tiong Houw diam bersenyum, maka dia yang bicara lagi:

"..aku tahu apa sebabnya kau kembali dan memang sudah aku duga kau bakal muncul ”

"Tentu sebab kau kenal aku dan kau tahu betapa akrabnya hubunganku dengan Ouw Beng Tek. ” sahut Lim Tiong Houw.

"Bukan itu yang pikirkan .. , ."

“Maksudmu ... ?” tanya Lim Tiong Houw yang kelihatan merasa heran.

"Kau inginkan kekuasaan Ouw Beng Tek, kau hendak memiliki kekayaan Ouw Beng Tek, itu sebabnya kau muncul ..

!"

“Benar ...!" sahut Lim Tiong Houw s ingkat.

"Akan tetapi kau jangan lupa, kau harus  berlaku  lebih kejam daripada dulu sebelum kau pergi, sekarang kau menghadapi banyak saingan…”

"Dan terhadap orang yang sudah membunuh Ouw Beng Tek, aku harus bertindak lebih kejam lagi. , .!”  Lim  Tiong Houw menambahkan.

Sejenak Ho Sun Pin mengawasi Lim Tiong Houw dengan sepasang sinar mata menyala, menyimpan rasa benci.

"Dihadapanku, kau tidak perlu lagi  bersandiwara….” Akhirnya kata Ho Sun  Pin  perlahan dengan nada suara mengejek.

"Maksudmu ..?” “Kau yang membunuh Ouw Beng Tek, atau setidaknya kau yang telah memerintahkan seseorang buat membunuh Ouw Beng Tek, lalu sekarang kau berlagak hendak menjadi seorang pahlawan, berlagak hendak melakukan balas dendam,. !"

“Tutup mulutmu, ..” bentak Lim Tiong Houw marah, membikin Ho Sun Pin benar benar jadi terdiam.

“...akan aku buktikan kepadamu, kepada semua orang orang didalam kota ini, akan aku gantung sipembunuh  itu, hidup ataupun mati.. !” Lim Tiong Houw yang berkata lagi.

Ho Sun Pin tetap diam tidak bersuara, sampai Lim Tiong Houw menyudahi perkataannya, setelah itu dia   bangun hendak pergi tanpa dia mengucap apa apa.

“Tunggu..” Lim  Tiong  Houw mencegah.

“Apalagi yang kau inginkan dari aku ? apakah kau menghendaki aku membantu kau mencari si pembunuh...?” tanya Ho Sun Pin dengan suara mengejek.

“Tidak ! aku hanya ingin mengetahui, bagaimana caranya Ouw Beng Tek terbunuh atau dibunuh.”

“Hmm! aku kira kau sudah cukup mengetahui. Dia kena sebatang piao yang dilepaskan dari jarak dekat,. "

“Sebatang piao yang mengandung bisa racun...!" Lim Tiong Houw menambahkan.

"Merendam piao dengan larutan bisa-racun dapat dilakukan oleh setiap orang akan tetapi me lepas piao dari jarak dekat, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang sudah dikenal benar oleh Ouw Beng Tek..."

“Tepat ! sebab orang orang yang tidak dikenal benar oleh Ouw Beng Tek, tidak akan mendapat kesempatan buat membokong dengan cara itu..” Lim Tiong Houw yang menambahkan lagi. Ho Sun Pin tersenyum mengejek : “Bagus kalau kau sudah mengetahui, sekarang tidak perlu  lagi kau dengan aku tentunya ..”

“Tunggu! dimana Ong Sin Mo waktu peristiwa itu terjadi

,.,?" Lim Tiong Houw menanya lagi, sebab dia teringat dengan Ong Sin Mo yang selalu mendampingi Ouw Beng Tek seolah olah seorang pengawal pribadi.

“Dia sedang pergi, Ouw Beng Tek yang memerintahkan…”

Sejenak Lim Tiong Houw terdiam berpikir dan Ho Sun Pin yang terdengar berkata lagi dengan nada suara bertambah mengejek.

“Bagaimana sekarang, tay ya. apa sudah boleh aku pergi...?"

( tay ya tuan besar )

Lim Tiong Houw tetap terdiam, meskipun Ho Sun Pin sudah menghilang ditengah keramaian orang banyak.

Panas pagi makin terasa waktu Lim Tiong Houw meninggalkan kedai Wong Lay Kun. Di suatu lorong  yang sunyi, Lim Tiong Houw membuka pakaian luarnya, dan pada lapisan bagian dalam ternyata dia sudah memakai pakaian seorang gelandangan yang banyak tambalannya namun tidak menyimpan bau penyakit, sebab sekarang dia telah kembali menjadi seorang biang gelandangan didalam kota Hie ciang!

Setelah ganti pakaian menjadi seorang gelandangan, maka Lim Tiong Houw meneruskan langkah  kakinya,  menuju kesuatu tempat yang dahulu sudah biasa dia datang, yakni kalau dia hendak memimpin sesuatu pertemuan dikalangan orang orang gelandangan setempat.

Tempat yang biasa dipakai buat orang orang  gelandangan di kota Hie ciang berkumpul atau yang dapat  dikatakan sebagai markas besar mereka, adalah  merupakan suatu bangunan bekas kuil tua yang letaknya didekat  perbatasan kota sebelah timur.

Seorang pengemis muda kelihatan berdiri bersandar pada tembok kuil dekat pintu halaman. Dia mengawasi waktu Lim Tiong Houw datang mendekat dan dia lebih meneliti  waktu  Lim Tiong Houw berhenti dihadapannya.

Pengemis muda ini agaknya belum kenal dengan Lim Tiong Houw, sebab dia baru jadi orang gelandangan di  kota  Hie ciang waktu Lim Tiong Houw menghilang.

Semua orang-orang gelandangan yang hadir pada pertemuan hari itu, pada memiliki secarik kain hitam yang dicantumkan dekat pundak sebelah kiri, akan tetapi Lim Tiong Houw tidak memiliki secarik kain warna hitam itu; dan dia menyodorkan lengan kirinya yang pernah dicacah memakai sebatang pisau belati tajam, suatu tanda khusus buat orang orang gelandangan di kota Hie  ciang,  sebelum  Lim  Tiong Houw pergi menghilang.

Pengemis muda itu berdiri terpesona mengawasi! Tanda pengenal memakai cacah hanya dimiliki oleh para dedengkot orang orang gelandangan, maka dari itu dia  cepat cepat memberi hormat dan membuka pintu halaman kuil tua  itu, buat mempersilahkan Lim Tiong Houw masuk.

Sudah ada lebih dari duapuluh orang orang gelandangan yang sedang menghadiri pertemuan dihari itu; dan mereka merupakan tokoh tokoh lama atau yang mempunyai kedudukan didalam anggota pengurus Kay pang cabang kota Hie ciang, serta hadir juga beberapa orang pengusaha dan orang orang hartawan yang menjadi pendukung serta penyumbang tetap.

Ada seorang laki laki gemuk yang sedang angkat bicara. Mukanya bunder, usianya kira kira sudah empatpuluh tahun lebih sedikit, dan namanya Nio Teng Hie. Didekat dia berdiri dan bicara; ada lagi seorang laki laki kurus yang ikut berdiam, namanya Tio Kang Lok, lagaknya seperti seorang pengawal pribadi yang sudah kehabisan tenaga.

Lim Tiong Houw memasuki ruang pertemuan itu, dan dia berdiri disisi seorang pengemis kurus yang bernama Tee Seng Hok, si kucing hitam.

"Toa ya. kau „kau,," tiba tiba kata  si kucing  hitam,  waktu dia melirik Lim Tiong Houw.

(Toa ya majikan pertama)

“Hmm ! apa acara pertemuan hari ini,,?" Lim Tiong Houw bersuara menanya dekat Tee Seng Hok.

“Menentukan ketua setempat, sudah hampir selesai,” sahut si kucing hitam.

“Sejak kapan dia mengambil alih pimpinan..,?” Lim Tiong Houw menanya lagi dengan dia' dimaksud Nie Teng Hie yang sedang angkat bicara.

“Setelah Ouw jie ya binasa, tao ya tentu tahu bahwa kita tidak boleh kehilangan pimpinan,,,” sahut si kucing hitam; tetap perlahan suaranya.

Lim Tiong Houw terdiam menunda pembicaraannya dengan Tee Seng Hok; sebab perhatiannya dia tujukan kepada  Nio Teng Hie yang sedang menjual aksi; merasa akan segera menjadi biang orang orang gelandangan di kota Hie c iang itu, sebab tidak ada lain lagi ca lon yang menjadi saingannya.

“sekiranya sudah tidak ada lagi lain pertanyaan, aku bermaksud menyudahi pertemuan ini ....'' demikian terdengar kata NioTeng Hie.

"Nio Teng Hie, aku ada pertanyaan..!" tiba tiba Lim Tiong Houw berseru sambil dia me langkah mendekati, mengakibatkan banyak orang orang terus jadi  pada mengawasi, dan beberapa orang diantaranya segera teringat dengan Liong Houw yang sudah lama menghilang dari  kota  Hie C iang.

Sementara itu Nio Teng Hie kelihatan tidak puas, karena adanya seseorang yang seenaknya saja menyebut namanya, dari itu dia cepat menegur setelah orang  itu  datang mendekati. "Siapa kau .. "

“Lihat yang benar; sampai kau kenali siapa aku ...!" sahut Lim Tiong Houw kelihatan gusar.

Nio Teng Hie tambah meneliti sampai dia  mendengar adanya orang orang yang menyebut nama Lim Tiong Houw, sehingga dia diam berdiri bagaikan terpesona, sedangkan Lim Tiong Houw lalu berkata lagi.

"Kau sebagai orang baru yang menempatkan kakimu diantara orang orang gelandangan disini, seharusnya kau mengenal dengan peraturan yang berlaku,  Sekarang kau  pergi, sebab aku yang mengambil alih pimpinan..”

Nio Teng Hie paksakan diri untuk berlaku tenang  dan tabah, lalu dia berkata.

"Kau jangan berlagak jadi jagoan, kau yang justeru harus dicurigai... "

''Bagus perlihatkan sikap jantanmu, kalau kau mau jadi kepala disini ... !" kata Lim Tiong Houw yang memutus perkataan Nio Teng Hie sambil dia  melangkah tambah mendekati, membikin suasana menjadi semakin bertambah tegang.

Setelah berdiri berhadapan, Lim Tiong Houw mengangkat sebelah tangannya, memukul muka Nio Teng Hie memakai bagian belakang dari te lapak tangannya.

Gerak tangan Lim Tiong Houw cukup lambat,  dapat ditangkis maupun dikelit oleh Nio Teng Hie akan tetapi  Nio Teng Hie justeru berdiri diam sampai mulutnya keluar darah kena pukulan itu, sebab sesungguhnya dia tidak berani buat melawan Lim Tiong Houw.

Tio Kang Lok yang menjadi pengawal pribadi Nio Teng Hie kelihatan pucat mukanya. Sebelah  tangannya  bergerak meraba pisau belati yang ada disisi pinggangnya akan tetapi buru buru dia bata lkan niatnya, waktu Lim Tiong Houw melirik dia dengan menyertai senyum mengejek:

"Kau juga kemari ....!" kata Lim Tiong Houw  bersikap bengis, memaksa Tio Kang Lok berkelahi.

Dengan nekad Tio Kang Lok  lompat menyerbu dan menikam memakai pisau belatinya, akan tetapi dengan sekali menangkis, Lim Tiong Houw berhasil membikin pisau belati itu terpental jatuh, sedangkan Tio Kang Lok meringis sambil membekap sebelah lengannya yang patah !

Orang orang yang hadir menjadi pada gaduh semuanya. Mereka yang terdiri dari orang orang gelandangan, maupun mereka yang jadi pendukung sambil memperalat orang orang gelandangan, semuanya menjadi yakin bahwa kekuasaan cara lama berlaku lagi, yakni siapa kuat dia menang, dan yang menang akan menjadi pemimpin.

Seorang laki laki gemuk berpakaian mentereng lalu bicara: “Lim Tiong Houw, apakah kau kembali untuk seterusnya

hendak jadi pemimpin,,,,?”

“Seterusnya. Dan jika ada yang belum  merasa  puas. silahkan maju ......,” sahut Lim Tiong Houw sambil dia mementang dada.

Laki laki gemuk itu diam menelan ludah dan yang  lain semua ikut menjadi terdiam. Sebagian dari yang hadir merasa girang, karena Lim Tiong Houw kembali akan memegang pimpinan; sedangkan sebagian lagi merasa terpaksa  atau dipaksa untuk menerima keadaan itu. Pertemuan itu kemudian ditutup oleh Lim  Tiong  Houw,  yang berdiri meneliti setiap peserta yang sedang bergegas meninggalkan ruangan itu, sampai kemudian si kucing hitam Tee Seng Hok datang mendekati dia.

“Toa ya, aku sangat girang kau mau jadi pimpinan lagi... " demikian kata Tee Seng Hok sambil dia terbatuk batuk, suatu penyakit yang agaknya sudah lama dia derita.

“Aku datang tidak me lulu buat menjadi pimpinan; aku bahkan hendak mencari pembunuh yang membinasakan Ouw Beng Tek..!” sahut Lim Tiong Houw.

“Bagus, toa ya, dan apa tugasku..?” si kucing hitam berkata lagi sambil dia bersenyum.

“Seperti dulu, memanjat dan melompat ke atas rumah. ”

“Akan tetapi, aku sekarang sudah tidak seperti dulu, kesehatanku batuk lagi.”

“Akan kuberikan obat untukmu,. ”

“Sudah seribu macam obat; akan tetapi penyakitku tak mau hilang..” masih Tee Seng Hok terbatuk batuk, selagi dia berusaha hendak bersenyum.

Lim Tiong Houw menepuk bagian pundak Tee Seng Hok sambil diam bersenyum, setelah itu dia berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh.

“Aku heran, mengapa tadi tidak ada orang-orang yang menentang aku ”

"Kau bertindak terlalu cepat, toa ya.  Mereka  sekarang bukan seperti dulu. Mereka sudah tidak terbiasa lagi dengan bertindak buru-buru, sebaliknya mereka biasa menggunakan otak yang kadang-kadang memerlukan  waktu  sampai beberapa hari. Bagaimanapun halnya, kita harus waspada " “Kau takut...?" Lim Tiong Houw menanya, akan tetapi didalam hati sempat dia  berpikir mengenai perkataan  Tee Seng Hok.

Sementara itu Tee Seng Hok menyeringai dan berkata : "Sudah menjadi tekadku, hendak mendampingi kau,

meskipun waktu yang tidak lama sebab aku memang  bakal mati oleh penyakitku.”

“Bukan mati karena dibunuh mereka... ?” Lim Tiong Houw menggoda dan sambil perlihatkan senyumnya.

“Buat aku tidak ada bedanya. Dua jalan menuju ketempat yang sama, yakni neraka....!" sahut Tee Seng Hok ikut berkelakar. Lim Tiong Houw tertawa, juga Tee Seng Hok ikut jadi tertawa, sampai sesaat kemudian Lim Tiong Houw berkata lagi.

"Masih kau ingat dengan seorang gelandangan  yang bernama Siao Cu Leng?"

Tee Seng Hok diam terpikir sebentar, setelah itu baru dia berkata.

“Akh, dia si pemabuk yang malas ..."

“Benar. Kau cari dia dan kau bawa ketempat aku menginap

..." kata lagi Lim Tiong Houw dan dia memberitahukan tempat dia menginap kepada Tee Seng Hok.

Siang harinya Lim Tiong Houw makan di ruangan tamu di hotel tempat dia menginap, sambil dia menantikan kedatangannya Tee Seng Hok yang sedang dia tugaskan.  Akan tetapi, sampai Lim Tiong Houw se lesai makan yang ditunggu ternyata belum kunjung tiba.

Lim Tiong Houw kemudian memesan arak, buat dia m inum perlahan lahan, sambil dia tetap menunggu  kedatangannya Tee Seng Hok dan selama itu perhatiannya  dia curahkan kepada setiap tamu yang sedang makan ataupun minum sampai disatu saat pandangan sepasang matanya bertemu dengan dua orang laki laki muda, tepat disaat kedua laki laki muda itu sedang mengawasi dia.

Kedua laki laki muda itu memakai pakaian semacam orang orang desa menandakan mereka bukan penghuni kota Hie ciang. Entah mereka memang menginap di rumah penginapan itu atau mungkin pula mereka hanya sekedar singgah untuk makan siang.

Sesaat kemudian kedua laki  laki muda itu memanggil seorang pelayan, karena mereka hendak membayar santapan mereka, lalu mereka bergegas hendak meninggalkan tempat makan itu.

Waktu kedua laki laki muda itu hendak me lewati meja tempat Lim Tiong Houw, mereka berhenti sejenak dan yang seorang kelihatan menyerahkan segumpal kertas buat Lim Tiong Houw. Lim Tiong Houw menerima dan menyimpan segumpal kertas itu kedalam saku bajunya,  tanpa dia mengucap apa apa, bahkan dia tetap duduk tenang ditempatnya, sampai kedua laki laki muda itu meninggalkan dia, juga tanpa mereka mengucap sesuatu perkataan.

Adalah setelah terjadi serah terima itu, maka datang Tee Seng Hok bersama seorang Iaki laki berkum is jarang dengan pakaian orang gelandangan yang bau keringat dan juga bau sampah.

Orang gelandangan berkum is jarang itu ternyata  adalah Siao Cu Leng, dia kelihatan gugup atau ketakutan, karena digiring secara paksa oleh Tee Seng Hok yang berlaku bengis, dan dia menjadi bertambah ketakutan waktu dia dihadapkan kepada Lim Tiong Houw.

“Kau yang bernama Siao Cu Leng...?” tanya Lim  Tiong Houw untuk menegaskan.

Laki laki orang gelandangan itu hanya manggut membenarkan. "Kau mau minum ..?” Lim Tiong Houw sengaja menanya  dan mendorong sebuah kursi.

"Tidak..” sahut Siao Cu Leng yang kelihatan jadi bertambah gugup, akan tetapi dia menjilat bibir.

“Uang. ?”

“Tidak. Aku tidak mau apa apa, mengapa aku dibawa kesini...” gemetar kelihatannya tubuh Siao Cu Leng.

“Duduk dulu, „?"

"Tidak…” Siao Cu Leng membangkang.

Lim Tiong Houw mengangkat kaki kanannya, mendorong bagian betis Siao Cu Leng memaksa duduk, dan Tee Seng Hok ikut duduk bersikap tenang supaya tamu tamu  lain tidak curiga.

“Nah, sekarang kau bicara " kata lagi Tiong Houw, nada suaranya berobah menjadi bengis.

“Aku ... aku harus bicara apa ?” tanya Siao Cu Leng yang

jadi meringis merasa sakit pada betisnya yang kena tekanan sebelah kaki Lim Tiong Houw tadi.

“Aku ingin mengetahui bagaimana caranya kau temui Ouw Beng Tek, waktu dia terbunuh.”

Sepasang mata Siao Cu Leng melirik kearah pintu keluar, akan tetapi dia menjadi ngeri waktu melihat sepasang mata Lim Tiong Houw yang menyala terang, sehingga batal dia hendak lari.

"Aku,,,, aku tidak membunuh dia.,,," terputus putus Siao Cu Leng bicara.

"Aku tahu,,,," sahut Lim Tiong Houw, tetap nada  bengis, dan membiarkan Siao Cu Leng meneruskan bicara.

"Aku.,., tidak membunuhnya. Dia.. dia sudah rebah tewas waktu aku temui dia,,.,!" ..” Lim  Tiong  Houw manggut  manggut dan berkata,"Teruskan

“Ada sebatang piao  membenam  disini ,.” dan Siao  Cu Leng menunjuk dibagian lehernya,  lalu dia  menambahkan lagi perkataannya ”,,. aku ambil isi kantongnya, ada uang dan seutas kalung tasbih."

“Hm...!” Lim Tiong Houw bersuara seperti menggerutu, lalu dia berkata kepada Siao Cu Leng. “.. sekarang  kau  boleh pergi, . ,!”

Siao Cu Leng mengawasi terpesona. Dia tidak menyangka bahwa dia bakal dilepas tanpa ada pemukulan, padahal dia sudah membayangkan dia bakal mati dihadapkan pada dedengkot orang orang gelandangan yang terkenal kejam dan galak itu.

Sementara itu Tee Seng Hok juga sedang merasa  heran. Dia menunggu sampai Siao  Cu Leng sudah menghilang, setelah itu baru dia menanya dengan suara perlahan.

"Toa ya. Ouw jie ya kedapatan mati didalam rumahnya. Bagaimana mungkin Siao Cu Leng bisa mengambil isi kantong Ouw jie-ya , . ,?"

"Itu bukan yang pertama kali dia ditemukan„." sahut Lim Tiong Houw juga perlahan suaranya.

“Bagaimana kau   bisa mengetahui..?”  Tee Seng Hok menanya lagi, tetap merasa heran.

“Hanya ada satu orang didalam dunia ini yang dapat menyerang Ouw Beng Tek memakai piao dari jarak dekat,,,”

“Siapa ?” tanya Tee Seng Hok ingin mengetahui.

"Aku, sebab biasanya Ouw Beng Tek selalu curiga terhadap orang orang yang mendekati atau berada didekat dia.” “Memang ada orang orang yang menduga begitu, tetapi  aku tidak percaya ...” sahut Tee Seng Hok masih merasa heran.

Lim Tiong Houw bersenyum. Dia yakin Tee Seng Hok berkata secara jujur, sehingga dia berkata lagi.

“Aku sedang berada jauh terpisah ribuan lie waktu terjadi peristiwa Ouw Beng Tek dibunuh orang .. “

"Itu sebabnya aku menjadi heran toa ya bisa mengetahui .. " Tee Seng Hok berkata lagi, se lagi Lim Tiong Houw menunda bicara dan dia tetap kelihatan masih merasa tidak mengerti.

“Kalung bunga tasbih itu yang mengabarkan aku bahwa Ouw Beng Tek sudah binasa. Kalung bunga tasbih itu aku ketahui berada pada seseorang lain padahal kalung bunga tasbih itu dulu aku yang curi dari seorang biarawati tua yang sakti ilmunya. Waktu aku hendak pergi, aku serahkan kalung itu kepada Ouw Beng Tek dengan pesan supaya kalung bunga tasbih itu jangan terpisah dari tubuhnya, kecuali dia mati ”

“Bagaimana caranya kalung bunga tasbih itu bisa diperoleh seseorang itu ?” Tee Seng Hok menanya lagi.

"Seseorang itu secara kebetulan melihat  kalung  bunga tasbih itu berada pada Siao Cu Leng; lalu dia membelinya bahkan dia memerlukan menanyakan nama Siao Cu Leng. "

“Siapakah seseorang itu...?” semakin heran Tee Seng Hok menanya,

“Seseorang itu adalah si biarawati tua yang sakti ilmunya, pemilik kalung bunga tasbih itu yang dulu aku curi…”

“Jadi, toa ya kenal dengan biarawati tua yang sakti ilmunya itu. ?”

“Lebih dari kenal. Itu pula sebabnya aku diperlihatkan kalung bunga tasbih yang sudah kembali berada ditangannya . “ sahut Lim Tiong Houw sambil dia bersenyum. Akan tetapi senyum Lim Tiong Houw cepat menghilang, karena dia melihat sepasang mata Tee Seng Hok yang membelalak kearah sebelah belakang punggungnya sehingga secepat itu juga Lim Tiong Houw sengaja menjatuhkan dirinya dari tempat dia duduk.

Sepasang gada besi yang dilipat menjadi  satu, menghantam kursi tempat duduk Lim Tiong Houw,  sampai  kursi itu hancur berantakan, sebagai ganti kepala Lim Tiong Houw yang hampir jadi hancur !

Orang yang menyerang memakai sepasang gada besi yang dapat dilipat menjadi satu itu memiliki tubuh yang lincah dan gesit, sebab waktu pukulannya yang pertama tidak mencapai hasil, maka dia lompat  menerkam sambil sekali lagi dia menghantam bagaikan gunung tay san menindih.

Keadaan di ruang makan itu serentak menjadi kacau balau, oleh karena para tamu pada lari menyingkir,  bahkan  ada orang orang yang berteriak ketakutan.

Dengan tabah Lim Tiong Houw menunggu datangnya serangan yang kedua itu lalu secepat kilat sebelah tangannya dia angkat, dan berhasil dia menarik  lengan musuh yang bersenjata sepasang gada besi itu yang bahkan  ikut terjerumus hampir jatuh.

Musuh yang bersenjata sepasang gada besi itu pasti akan cedera, kalau Lim Tiong Houw sempat ganti menyerang, akan tetapi saat itu datang serangan lain yang berupa pecut panjang, yang dapat bersuara nyaring seperti petir.

Lim Tiong Houw berkelit dari pecut yang datang menyambar, dan waktu sekali lagi pecut itu bergerak hendak mengulang serangan, maka Lim Tiong Houw mendahului lompat tinggi sambil sebelah tangannya bergerak melepas sebatang piao yang tepat membenam dibagian lengan kanan musuh yang memegang pecut itu. “Lari ...!” teriak musuh yang sudah terluka itu mengajak kawannya.

“Aku tahu siapa mereka , .” kata Tee Seng Hok waktu Lim Tiong Houw hinggap didekatnya, dan Lim Tiong Houw batal mengejar sebab memang belum waktunya buat dia melakukan pembunuhan, sebaliknya dia  merasa masih perlu mengumpulkan bahan bahan buat dia menemukan jejak si pembunuh yang sudah membinasakan Ouw Beng Tek.

“Mari, kita juga pergi ...” akhirnya ajak Lim  Tiong  Houw yang hendak menghindar dari suasana kekacauan di ruang makan itu akan tetapi ditengah tengah perjalanan  itu  Tee Seng Hok memberitahukan tentang kedua orang orang yang melakukan penyerangan tadi. 

“Mereka adalah orang orang yang bekerja pada Cee Giok Tong, seorang pengusaha rumah judi yang besar  pengaruh dan kekuasaannya didalam kota Hie ciang.”

Dahulu, sebelum Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie c iang, dia sudah pernah berselisih dengan Cee Giok Tong, sampai paha kanannya Cee Giok Tong kena dilukai memakai sebatang piao oleh Lim Tiong Houw. Kemudian setelah  Lim Tiong Houw lama menghilang, maka terjadi Cee Giok Tong menikah dengan pacarnya Lim Tiong Houw, yakni Tio Siu Lan yang menjadi adik tiri dari Ho Sun Pin.

Dengan adanya penyerangan yang dilakukan oleh orang orang yang bekerja pada Cee Giok Tong, maka Lim  Tiong Houw menduga bahwa Cee Giok Tong sudah mendahulukan bertindak, sebelum Lim Tiong Houw sempat mendatangi buat urusan pacarnya yang sudah direbut! Sementara itu, Lim Tong Houw mengajak Tee Seng Hok mendatangi rumah almarhum Ouw Beng Tek dan waktu Tee Seng Hok mengatakan bahwa rumah itu dikunci sebab tidak ada orang yang menempati, maka Lim Tiong Houw memerintahkan supaya Tee Seng Hok mengambil kunci pintu rumah itu, yang katanya dipegang oleh Su Teng Hok, salah seorang pengurus Kaypang setempat yang kedudukannya setingkat diatas Tee Seng Hok.

Selama menunggu datangnya Tee Seng Hok yang mengambil kunci rumah maka Lim Tiong Houw  mengawasi dan meneliti letak bangunan rumah almarhum Ouw Beng Tek yang besar dan luas. Rumah yang dulu menjadi milik mereka berdua sebelum Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie ciang.

Waktu Tee Seng Hok datang sejenak dia biarkan Lim Tiong Houw yang sedang tenggelam dalam lamunannya,  sampai kemudian mereka memasuki rumah itu.

Sesaat Lim Tiong Houw jadi terpesona mendapati berbagai perabot mewah yang ada didalam rumah itu. Memang aneh buat seorang gelandangan memiliki perabot perabot mewah yang biasanya dimiliki oleh kaum pejabat  pemerintah  yang tidak jujur, akan tetapi Ouw Beng Tek bukan  sembarang orang gelandangan. Dia menjadi biang orang orang gelandangan di dalam kota Hie ciang merangkap menjadi jagoan yang ditakuti oleh berbagai lapisan masyarakat setempat. Ouw Beng Tek adalah raja tanpa mahkota, yang dapat mengambil apa saja tanpa ada orang yang berani menghalangi, dan kekuasaan semacam itu sudah dirintis sejak Lim Tiong Houw belum meninggalkan kota Hie ciang.

Rumah yang besar itu memiliki beberapa kamar tidur, akan tetapi Ouw Beng Tek hanya menempati seorang diri, melulu seorang pengawal pribadi yang selalu siap mengurus keperluannya, serta dua orang pelayan bisu untuk memelihara kebersihan rumah itu.

“Dimana kedua pelayan itu sekarang..” tanya Lim Tiong Houw kepada Tee Seng Hok.

"Mereka sudah diberhentikan, setelah Ouw jie ya binasa. Mereka tidak dapat memberikan keterangan apa apa, sebab mereka orang orang yang bisu .,” sahut Tee Seng Hok. “Dan Oey Sin Mo yang jadi pengawal pribadi..."Lim Tiong Houw menanya lagi.

“Dia sakit dan pulang ke desa  bersama  isterinya.  Dia sedang diperintah mengambil pesanan arak waktu terjadi peristiwa pembunuhan itu, dia t idak dapat dicurigai, sebab ada seorang rekan yang kebetulan mendampingi  dia  pula  waktu itu. Kemudian waktu kembali dengan membawa arak, dia menemukan Ouw jie ya sudah binasa ...!”

“Dimana Oey Sin Mo menemukan mayatnya Ouw Beng Tek

...?”

"Di sini ...” sahut Tee Seng Hok yang mengajak Lim Tiong Houw mendatangi ruang tamu, lalu dia memberitahukan letak tempat mayat Ouw Beng Tek ditemukan oleh Oey Sin Mo.

“Dia bukan diserang disini; akan tetapi di dekat pintu masuk,” tiba tiba kata Lim Tiong Houw, sambil dia  menunjuk ke arah pintu, membikin  Tee Seng Hok berdiri  terpaku, mengawasi tanpa dapat mengucap apa apa sebab dia sedang memusatkan segala pemikirannya  kepada  peristiwa dibunuhnya Ouw Beng Tek.

Menurut pengakuan Siao Cu Leng, gelandangan itu katanya menemukan mayat Ouw Beng Tek membujur di jalan raya, sehingga Siao Cu Leng sempat mengambil isi saku mayat yang sudah tidak bernyawa. Sekarang Lim Tiong Houw mengatakan bahwa Ouw Beng Tek diserang bukan di ruang tamu, akan tetapi tepat di dekat pintu masuk, kejadian itu, padahal Lim Tiong Houw berada jauh terpisah dari kota Hie ciang waktu peristiwa pembunuhan itu terjadi !

“Tao ya .." akhirnya Tee Seng Hok bersuara, bermaksud hendak mengajukan pertanyaan kepada Lim Tiong Houw.

"Aku tahu. Disuatu saat nanti akan jelas olehmu. Yang sekarang sedang aku pikirkan, siapa gerangan orangnya yang sudah melakukan pembunuhan itu..” sahut Lim Tiong Houw yang kelihatan berlaku tenang. “Terlalu banyak orang orang yang harus dicurigai, sebab terlalu banyak orang orang yang menghendaki Ouw jie  ya mati .. “ Tee Seng Hok berkata seperti menggerutu, sehingga memaksa Lim Tiong Houw jadi tersenyum.

“Memang, orang orang yang hidup jadi bajingan  seperti kita, lebih banyak mempunyai musuh daripada kawan. Dan orang orang yang merasa jadi kepala, lebih parah lagi keadaannya, sebab orang yang berkuasa tidak pernah disenangi orang .. “

“Waktu pertama kali kami menemui Ouw jie ya yang sudah binasa, dibeberapa tempat, terlebih  didalam  kamar  tidur  jie ya, terdapat tanda tanda dikacau  orang yang mencari sesuatu.." Tee Seng Hok yang berkata lagi.

“Mencari sesuatu ..” ulang Lim Tiong Houw dan Tee Seng Hok manggut membenarkan.

"Keadaan kamar tidur Ouw jie ya seperti diobrak abrik, juga ranjangnya ,.. " Tee Seng Hok menambahkan perkataannya.

Lim Tiong Houw lalu mengajak Tee Seng Hok membuka pintu kamar tidur yang dikunci dari bagian luar, dan waktu mereka sudah masuk maka Tee Seng Hok bersuara kaget, karena melihat keadaan jendela kamar sudah terbuka, dan keadaan kamar tidur itu kacau balau!

"Kurang ajar kamar ini sudah dimasuki seseorang…” demikian kata Tee Seng Hok yang sangat terkejut.

“Perbuatan ini bukan dilakukan oleh satu orang ....” Lim Tiong Houw ikut bicara, setelah dia meneliti keadaan didalam kamar itu.

Keadaan yang dihadapi oleh Lim Tiong Houw,  mengakibatkan dia jadi terombang-ambing dengan berbagai macam dugaan mengenai orang atau orang orang yang sudah membunuh Ouw Beng Tek. Sebelum tiba dikota Hie ciang, dia menduga bahwa Ouw Beng Tek tewas karena perbuatan sekelompok orang orang yang sudah tersepakat hendak merebut kekuasaan,  akan tetapi waktu dia sudah mulai me lakukan penyelidikan,  maka dia berpendapat bahwa Ouw Beng Tek tewas karena perbuatan satu orang yang belum bisa dia tentukan, apakah sebab hendak merebut kekuasaan atau ada sebab sebab lain, seperti dendam dan sebagainya. sekarang dia  mendapat kenyataan lain bahwa kamar tidur Ouw Beng Tek telah didatangi oleh beberapa orang, dan orang orang ini jelas telah mencari sesuatu yang entah sudah diperoleh atau belum.

Benda apakah yang orang orang itu cari?

Yang jelas bukan berupa harta, sebab orang orang mengetahui bahwa Ouw Beng Tek tak mungkin menyimpan harta kekayaannya didalam kamar tidur,  apalagi  didalam kasur.

Ya, didalam kasur ! sebab kasur dan juga bantal  bantal habis dibedah orang atau orang orang !

“Menurut kau, barang apakah yang biasanya orang suka umpatkan didalam kasur...?” akhirnya Lim Tiong Houw menanyakan pendapatnya Tee Seng Hok.

Sejenak Tee Seng Hok terdiam berpikir, lalu dia berkata : “Barangkali surat, atau semacam benda dari kertas...”

“Ya. Surat atau apa saja yang berupa kertas. Harus kita ketahui, surat apa atau kertas apa yang mereka cari itu ,.. !” sahut Lim Tiong Houw; yang akhirnya memutuskan bahwa dia akan menempati rumah yang besar itu, dan dia memilih kamar tidur Ouw Beng Tek  buat dia  pakai tidur, sedangkan bungkusannya yang ada di rumah penginapan diperintahkan Tee Seng Hok yang mengambilkannya.

Setelah berada seorang diri di rumah yang besar itu, maka Lim Tiong Houw kembali memeriksa setiap sudut ruangan, sampai tiba tiba dia mendengar ada orang yang mengetuk daun pintu.

Lim Tiong Houw merasa heran, karena sebenarnya belum waktu buat Tee Seng Hok kembali, jadi siapakah gerangan yang datang?

Akan tetapi pada saat itu Lim Tiong Houw tidak sempat berpikir banyak dan dia langsung membuka pintu sehingga dia mengetahui bahwa yang datang adalah  Kwee Su Liang bersama dua orang tua yang dia belum kenal.

Kwee Su Liang adalah orang kepercayaan dari Kongsun Bouw, seorang pengusaha rumah pelacuran di dalam kota Hie ciang. Usaha maksiat itu mendapat kemajuan yang pesat, dan Kongsun Bouw selalu membayar iuran yang cukup besar buat Kay pang cabang setempat, sedangkan Nio Teng Hie merupakan orang yang didukung oleh Kongsun Bouw buat menjadi pimpinan orang orang gelandangan, setelah  Ouw Beng Tek ada yang dibinasakan.

Lim Tiong Houw mengajak ketiga orang tamu itu duduk di ruang tamu, sedangkan di dalam hati dia  yakin bahwa kedatangan mereka membawa maksud yang tidak baik sehubungan dengan tindakannya yang sudah menggeser Nio Teng Hie.

"Kau cepat mengetahui bahwa aku sudah berada dirumah ini...'" kata Lim Tiong Houw, setelah ketiga orang tamunya itu pada duduk.

"Kami mempunyai banyak orang buat selalu mengawasi kau...!” Sahut Kwee Su Liang dengan nada suara mengejek.

“Selalu mengawasi aku .. ?” ulang Lim Tiong Houw dengan perlihatkan sikap yang tenang.

"Ya, selalu ! sebab kami tidak menyukai kau berada  di dalam kota ini dan menghendaki kau cepat cepat pergi ... !" Lim Tiong Houw bergerak seperti orang yang hendak bangun dari tempat duduknya akan tetapi dia kalah cepat dengan kedua laki laki tua temannya Kwee Su Liang yang sudah mendahulukan dengan tangan tangan mereka siap meraba senjata mereka yang berada dibagian punggung.

Akan tetapi pada saat itu Lim Tiong Houw  tidak  jadi bangun, sebab dia memang bukan bermaksud hendak bangun dari tempat duduk sebaliknya dia bersenyum mengejek dan berkata;

“Aku tidak mengira si kura kura botak itu sekarang jadi banyak lagaknya ...”

Kwee Su Liang kelihatan marah, sebab  majikannya dikatakan si kura kura botak, dan hal itu memang biasa dilakukan oleh Lim Tiong Houw; selagi dulu dia belum pergi meninggalkan kota Hie ciang.

”Lim Tiong Houw! justeru kau yang sekarang tidak perlu berlagak jadi tuan besar. waktu buat kau sudah habis,  kau tidak lagi berarti apa apa, akan tetapi majikan  kami berbaik hati menawarkan kau sejumlah uang buat kau pergi ...!” akhirnya Kwee Su Liang berkata dengan menahan rasa marah. “Dan kalau aku tidak mau pergi .. ?”

Sekali lagi kedua laki laki tua itu meraba senjata mereka, sedangkan Kwee Su Liang melirik, lalu kembali mengawasi Lim Tiong Houw dan berkata.

“Kedua lo cianpwee ini adalah Siam say jie lo,  dua  orang  tua dari kota Siam  say yang tentunya sudah pernah  kau dengar nama mereka jadi jangan kau coba main main dengan mereka...”

Salah seorang dari Siam say jie lo segera ikut bicara.

“Kami sudah siap buat menghajar dia, kalau Kwee hiantee memberikan perintah..!” Dipihak Lim Tiong Houw, dia tetap duduk dengan sikap tenang, dan perlihatkan senyum mengejek, meskipun di dalam hati dia terkejut juga waktu diperkenalkan tentang  Siam  say jie lo itu.

“Perintahkanlah mereka .. !” akhirnya kata Lim Tiong menantang.

Kwee Su Liang jadi bertambah marah sampai dia mengepal sepasang tangannya.

“Kau cari mati, padahal majikan kami sudah memberikan jalan hidup bagimu . , .!”

“Kau juga akan ikut mati berikut sa lah seorang dari Sam say jie lo.. ” sahut Lim Tiong Houw yang tetap kelihatan bersikap tenang, sedangkan pada sepasang tangannya sekarang kelihatan dia sudah memegang dua batang piao  yang entah sejak kapan atau dari mana dia siapkan !

Muka Kwee Su Liang menjadi merah pucat dan bertambah dia menjadi pucat, waktu ada suara seseorang lain yang ikut bicara.

"Atau kalian semua yang tewas .., !"

Seseorang yang mengucapkan perkataan itu adalah Tee Seng Hok. Dia  berdiri dekat pintu ruang tamu dengan  sepasang tangan siap memegang dua batang pisau belati, dan kedatangannya tidak diketahui oleh ketiga tamu itu, yang membelakangi pintu ruang tamu.

ooo^Odwkz^hend^bbsc^ooo

SUDAH ADA dua pihak orang orang yang menentang bahkan hendak membunuh Lim Tiong Houw,  karena kembalinya dia di kota Hie ciang. Yang pertama adalah Cee Giok Tong, seorang pengusaha rumah perjudian yang besar pengaruh dan kekuasaannya; sesuai dengan kedudukannya sebagai dedengkot orang orang yang gemar main  judi, sedangkan yang kedua adalah Kongsun Bouw, si kura kura botak yang jadi pengusaha rumah pelacuran, juga yang besar pengaruh dan kekuasaannya sesuai dengan kedudukannya sebagai dedengkot orang orang yang gemar bermain cinta.

Dipihak Kongsun Bouw, sudah jelas menjadi kehendaknya supaya Nio Teng Hie yang terus jadi ketua orang orang gelandangan di kota Hie ciang, sebab Nio Teng Hie  merupakan salah seorang kaki tangannya, sehingga Kongsun Bouw bebas dari segala keharusan membayar uang iuran dan lain sebagainya, bahkan dapat dia memperalat orang-orang Kay pang buat urusan urusan lain.

Tentang Cee Giok Tong, belum jelas oleh Lim Tiong Houw tentang maksud tujuan si pengusaha rumah judi itu, entah yang mengenai urusan cinta, sebab Cee Giok Tong sudah menyerobot pacarnya Lim Tiong Houw yang dijadikan bininya.

Berdasarkan pengalaman pengalaman yang baru saja dia alami, Lim Tiong Houw berpendapat bahwa ada kemungkinan pihak Kongsun Bouw yang melakukan pembunuhan  atas dirinya Ouw Beng Tek untuk maksud merebut kekuasaan dan menempatkan Nio Teng Hie sebagai gantinya.

Sementara itu, hari sudah berubah menjadi malam dan Lim Tiong Houw masih terus memikirkan masalah yang sedang dia hadapi, sambil berulangkali dia membaca seberkas kertas  yang dia terima waktu dia makan siang tadi, dari kedua orang laki laki muda yang berpakaian semacam orang orang desa.

Lim Tiong Houw menunda pemikirannya, waktu Tee Seng Hok mengajak dia keluar mencari makanan.

Dua orang ini kemudian memasuki sebuah rumah makan yang sudah banyak dikunjungi oleh tamu dan ditempat itu secara tidak diduga Lim Tiong Houw melihat kehadirannya Ho Sun Pin yang sedang duduk makan seorang diri. Lim Tiong Houw lalu memerintahkan Tee  Seng Hok memesan makanan buat mereka berdua dan  selama menunggu makanan itu disiapkan,  maka Lim Tiong Houw mendatangi Ho Sun Pin dan langsung dia duduk  di hadapan laki laki itu.

"Rupanya kau mendapat gilir tugas malam.." Lim Tiong Houw bersuara menyapa, sebab waktu itu Ho Sun  Pin memang sedang memakai pakaian seragam.

"Bagiku tidak ada siang dan tidak ada malam aku gunakan waktu untuk bekerja; bukan seperti kau yang pergunakan waktu untuk mengemis atau memeras ... !” sahut Ho Sun Pin geram, membawa sikap tetap membenci Lim Tiong Houw.

“Aku tidak mengemis kepada orang orang yang tidak  punya, aku tidak memeras orang orang yang rajin bekerja .. ,” sahut Lim Tiong Houw yang menyertai senyum.

"Maksud kau ...?”

"Aku hanya memeras orang orang yang memupuk harta secara tidak halal, atau dari hasil kerja maksiat , ..  !”  sahut  Lim Tiong Houw.

"Bagiku tidak ada bedanya pemerasan  adalah suatu kejahatan. Sekiranya aku yang berkuasa, orang orang seperti kau sudah aku tangkap dan aku hukum ....” kata Ho Sun Pin bertambah geram,

"Sekiranya kau yang berkuasa, kau tentu akan serupa dengan atasanmu yang sekarang!”

"Kurang ajar , .” Ho Sun Pin memaki sambil dia mengepal sepasang tangannya, lalu dia menambahkan perkataannya:

“....sekali lagi kau menyebut atasanku, akan aku usir kau...”

“Kedatanganku memang bukan buat mencampuri urusan orang orang yang bekerja sebagai alat negara, aku justeru hendak memberikan keterangan perihal jejak si pembunuh..." "Jadi sudah kau ketahui siapa dia ...?” tanya Ho Sun Pin yang berobah kelihatan menjadi kaget.

Lim Tiong Houw perlihatkan senyum dingin dan dia berkata lagi.

“Aku belum mengetahui siapa dia, akan tetapi sudah aku ketahui bahwa Ouw Beng Tek bukan mati didalam rumahnya

..."

Sepasang mata dan mulut Ho Sun Pin membuka lebar, namun dia tidak mampu mengucap apa apa,  sampai  Lim Tiong Houw yang berkata lagi.

“…Ouw Beng Tek berada seorang diri waktu dia memerintahkan Ong Sin Mo membeli arak. Lalu ada seorang orang yang mengetuk pintu rumahnya, dan Ouw Beng Tek menganggap Ong Sin Mo sudah pulang, sehingga tanpa curiga dia membuka pintu, namun selekas itu juga dia  diserang dengan senjata piao yang direndam dalam larutan bisa racun. Ouw Beng Tek tidak segera mati, dia bahkan melihat tegas orang yang menyerang dia, dan si penyerang justeru yang menjadi ketakutan dan lari, dengan dikejar oleh  Ouw Beng Tek, sampai Ouw Beng Tek terjatuh dan tewas, karena banyaknya darah yang telah keluar serta bisa racun yang mengeram didalam tubuhnya...”

Lim Tiong Houw menunda bicara dan dia mengawasi muka Ho Sun Pin  seperti sedang meneliti selagi laki laki itu mendengarkan dengan sikap yang tegang.

"... si pembunuh melihat Ouw Beng Tek terjatuh, dan dia kembali untuk memasuki rumahnya Ouw Beng Tek buat dia mencari sesuatu, yang ternyata tidak dapat dia temui; sampai dia balik lagi ketempat Ouw Beng Tek terjatuh, memeriksa isi saku yang ternyata kosong hampa...”

“Kau...!” tiba tiba Ho Sun Pin memutus  perkataan  Lim  Tiong Houw. Lim Tiong Houw diam menunggu sambil dia  meneliti; namun dia kecewa  karena Ho Sun  Pin tidak meneruskan perkataannya, sehingga Lim Tiong Houw menanya.

"Mengapa kau diam ... ?”

“Aku heran, mengapa kau sampai mengetahui tentang memeriksa isi saku segala. Kau benar benar telah menambah kecurigaanku bahwa kau adalah yang telah membunuh Ouw Beng Tek .. , !”

“Sialan aku justeru bersusah payah mencari untuk memperoleh keterangan ini ... !” Lim  Tiong  Houw  membela diri.

“Dari siapa kau peroleh keterangan itu.,,” kini Ho Sun Pin yang menanya dan menyertai perhatian istimewa.

“Dari seorang pelacur kawakan, Sui Hwa, yang mengaku sudah meludahi mayatnya Ouw Beng Tek dan dari si pemabuk Siao Cu Leng yang sudah merampok isi saku Ouw Beng Tek

...!” sahut Lim Tiong Houw uring uringan.

Ho Sun Pin jadi terdiam, setelah dia mendengar jawaban dari Lim Tiong Houw dan Lim Tiong Houw lalu  kembali ketempat Tee Seng Hok, sebab makanan yang dipesan sudah disiapkan.

Selama menikmati santapannya, Lim Tiong  Houw memikirkan pembicaraannya tadi dengan Ho Sun Pin, sementara Ho Sun Pin dilihatnya sudah meninggalkan rumah makan itu.