Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 21

Jilid 21

SEJAK CHENG HWA liehiap Liu Giok Ing datang mengacau dan membinasakan ciangkun Cia Tong Gok sampai kemudian Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing 'dititipkan' oleh Kwee Su Liang dan menghilang lagi, maka istana Pangeran Gin Lun selalu dijaga ketat. Sedangkan perwira muda yang  gagah perkasa  itu, sebenarnya adalah seorang dara yang menyamar menjadi seorang pemuda, dan dia adalah Liu Gwat Go, adik kandung Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing atau yang  menjadi  teman akrab dari Kanglam liehiap Soh Sim Lan !

Malam itu dengan mengambil jalan lewat genteng rumah, kelebatan ada dua bayangan hitam yang mendatangi istana pangeran Gin Lun. Berkat mahirnya ilmu ringan tubuh mereka maka kedua bayangan hitam itu dapat memasuki  bagian  dalam dari istana itu tanpa diketahui oleh pihak tentara yang melakukan penjagaan.

Kedua bayangan hitam itu adalah Lie Cong Han berdua adiknya, Lie Cong Liang.  Mereka sudah memasuki bagian ruangan didalam istana itu, akan tetapi mereka belum memperoleh batu hitam ouw liong ta yang mereka   cari. Mereka sudah mencari terlalu lama sedangkan waktu berjalan terus membikin kedua bersaudara itu menjadi gugup, khawatir sang fajar akan datang dan sukar buat mereka kembali pada malam berikutnya,  sebab setelah diketahui istana didatangi seseorang maka penjagaan pasti akan diperkuat.

Dengan cara bekerja yang gugup,  kedua pemuda itu justeru telah membikin kesalahan, menjatuhkan  sesuatu benda kelantai sehingga mendatangkan bunyi suara, lalu beberapa orang tentara penjaga mendatangi dan melihat kedua pemuda itu.

Segera para petugas itu berteriak teriak, membikin suasana menjadi ribut dan mengakibatkan lebih banyak lagi tentara penjaga yang mendatangi ruangan tempat kedua pemuda itu berada, lalu mereka mengepung dan menyerang dengan maksud menangkap kedua pemuda itu.

Terpaksa kedua pemuda Lie Cong Han dan Lie Cong Liang melakukan perlawanan, berusaha menerobos  kepungan hendak melarikan diri, akan tetapi sangat sukar buat mereka lakukan, sebab pihak tentara justeru semakin banyak yang datang, siap menjaga segala kemungkinan buat  kedua  pemuda itu melarikan diri.

Pangeran Gin Lun yarg mengetahui kejadian itu, segera datang dengan dikawal oleh empat orang wiesu yang gagah perkasa, serta Liu Gwat Go memakai pakaian seragam sebagai seorang perwira muda. Baik Pangeran Gin Lun maupun  Liu Gwat Go sudah tentu mereka merupakan orang orang yg menghargai para pendekar atau orang gagah, akan tetapi paling membenci orang dari golongan hitam yang biasa merampok atau mencuri.

Melihat kegagahan kedua pemuda yang sedang dikepung oleh pihak tentara itu maka Pangeran Gin Lun memerintahkan ke 4 orang para wiesu yang melakukan  perlawanan,  sedangkan pasukan tentara diperintahkan membikin  suatu lingkaran, siap siaga buat mencegah kedua pemuda itu melarikan diri.

Kedua pemuda itu sekarang tidak lagi bertempur secara serabutan didalam kepungan pihak tentara, sebaliknya dengan punggung menempel dengan punggung, mereka siap buat menghadapi ke 4 orang wiesu yang juga sudah siap buat melakukan penyerangan.

Setelah para wiesu itu mulai  melakukan  penyerangan, maka terjadi Lie Cong Han mendapat lawan dua orang wiesu, dan Lie Cong Liang juga harus menghadapi dua orang lawan yang kuat, sebab para wiesu itu memainkan ilmu silat  golok  dari Mongolia yang belum dikenal oleh kedua pemuda itu. Mula pertama Lie Cong Liang me lakukan pertahanan dan pembelaan diri dengan mengutamakan kelincahan atau kegesitan tubuhnya, sampai kemudian dilihatnya beberapa bagian kelemahan dari pihak kedua lawannya,  sehingga dengan menggunakan kecerdasannya, dia sengaja mendesak seorang wiesu tanpa dia menghiraukan wiesu yang  seorang lagi, membikin wiesu yang tidak dihiraukan itu sempat melakukan berbagai serangan dan  lupa  dengan pertahanannya, sampai tahu tahu wiesu itu  kena  tendangan Lie Cong Liang, sehingga dia rubuh terguling dengan tulang betis patah.

"Bagus...!" seru pangeran Gin  Lun  yang  memberikan pujian; bukan marah marah, juga Liu Gwat Go ikut bersuara memuji, dan Liu Gwat Go ini bahkan ikut memasuki kancah pertempuran, tanpa dia memakai Senjata, menyerang Lie Cong Liang yang waktu itu hampir berhasil mengalahkan sisa seorang lawannya.

Pemuda Lie Cong Liang menjadi terkejut, waktu  dia diserang oleh si perwira muda yang tidak menggunakan senjata, dan dia menjadi lebih terkejut lagi, waktu mengetahui bahwa si perwira muda itu sedang menggunakan jurus  jurus dari ilmu merebut senjata memakai sepasang tangannya !

Tanpa ragu ragu, kemudian Lie Cong  Liang  balas melakukan penyerangan memakai pedangnya sebab dia yakin bahwa dia sedang menghadapi seorang musuh yang lihay. Pedangnya itu bergerak  memainkan  jurus  'geledek menyamber pohon jati'. Pedang itu pada mulanya menikam mengarah bagian ulu hati, akan tetapi waktu tangan si perwira muda bergerak hendak merampas pedang maka pedang itu berobah dengan amat pesatnya bagaikan petir yang menyambar menebas pinggang si perwira muda !

Liu Gwat Go yang memakai pakaian seragam sebagai si perwira muda sekali lagi bersuara  memuji,  sementara tubuhnya yang lincah dan ringan telah melompat tinggi, nyaris dari serangan Lie Cong Liang. Dan tubuhnya itu lalu hinggap didekat Lie Cong Han, yang waktu itu hampir berhasil melukai seorang wiesu lawannya, akan tetapi tiba tiba Lie Cong Han kena tendangannya Liu Gwat Go dalam pakaian sebagai seorang perwira muda sampai Lie Cong Han rubuh terguling didekat sejumlah tentara yang sedang siap siaga mengawasi jalannya pertempuran.

"Tangkap dan ikat dia...!" perintah s i perwira muda kepada pihak tentara, sementara dia telah bertempur lagi melawan Lie Cong Liang, karena pemuda itu menjadi gusar waktu melihat kakaknya kena dibokong dengan suatu tendangan.

Tiga sisa para wiesu kemudian ikut mengepung Lie Cong Liang, membikin pemuda itu benar benar menjadi sangat sibuk, sampai secara tiba tiba dia kena disikut oleh si perwira muda sehingga tubuhnya terjerumus menyamping disusul kemudian dengan suatu tendangan dari si perwira muda, mengakibatkan Cong Liang mengalami nasib yang sama seperti kakaknya !

( oogoO dwkz-Xhend-XBBSC- O0000 )

KEDUA pemuda Lie Cong Han dan Lie Cong Liang kemudian dihadapkan kepada Pangeran Gin Lun,  yang sudah duduk diruang pemeriksaan, oleh karena Pangeran itu hendak segera melakukan pemeriksaan terhadap kedua pemuda tawanannya, yang dianggap terlalu berani mendatangi  istana  kekuasaannya, dan yang ia ragukan sebagai orang orang dari golongan hitam.

"Sebutkan nama kalian dan katakan apa maksud kalian..” demikian Pangeran Gin Lun mulai dengan pemeriksaannya, sementara nada suaranya terdengar sangat berwibawa.

Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang yang berdiri dengan tangan tangan terikat kebagian belakang, menjadi terkejut waktu pandangan mata mereka terbentur dengan sinar mata Pangeran Gin Lun yang sangat berpengaruh, sementara suara ramah Pangeran itu terdengar penuh wibawa, sehingga bagaikan tanpa terasa, kedua pemuda itu menjatuhkan diri berlutut, dan Lie Cong Han yang mendahulukan berkata :

"Kami berdua saudara bernama Lie Cong Han dan Lie Cong Liang..” demikian kata Lie Cong Han sekaligus mewakilkan adiknya.

“Hm...!” terdengar Pangeran Gin Lun bersuara, padahal didalam hati dia menjadi senang melihat laku kedua pemuda tawanannya. Sepasang matanya kemudian ganti  mengawasi Liu Gwat Go yang masih memakai pakaian seragam sebagai perwira muda, sambil Pangeran Gin Lun perlihatkan senyumnya, membikin Liu Gwat Go ikut  jadi bersenyum menandakan mereka berdua sepaham.

“..., kalian belum menjawab pertanyaan tentang maksud kalian datang di istana ini.."  kata lagi Pangeran Giu Lun kepada pemuda tawanannya.

"Maafkan kami, Ong ya, maksud kedatangan kami sebenarnya hendak meminjam sebutir batu hitam Ouw liong ta,..." sahut Cong Liang dengan kepala menunduk, bagaikan tidak ada keberaniannya buat mengawasi muka pangeran Gin Lun.

"Ouw liong ta ? untuk apa kalian perlukan batu  itu...?” tanya Pangeran Gin Lun yang jadi merasa heran; karena sesungguhnya Pangeran Gin Lun tidak mengetahui tentang khasiat batu ouw liong ta, yang menjadi barang pusaka peninggalan kerajaan Cina !

"Seorang adik kami, menderita penyakit  lumpuh pada sepasang kakinya, kami perlukan batu itu untuk menahan hawa dingin di atas gunung Tiang  pek san,  karena ditempat itu kami mengharap dapat menyembuhkan penyakit  adik kami...” ganti Lie Cong Han yang bicara. “Apakah kalian hanya datang berdua.. ,?” tanya lagi Pangeran Gin Lun,  yang kelihatannya  sedang memikirkan perkataan Lie Cong Han tadi.

"Benar, kami hanya datang berdua.. !” sahut Lie Cong Han, hampir berbareng dengan Lie Cong Liang, akan tetapi suara seseorang lain telah memutus perkataan mereka :

"Tidak! kami datang bertiga..”

Semua yang hadir menjadi terkejut. Terlebih Pangeran Gin Lun yang waktu itu jadi mengawasi terpesona kearah datangnya seorang dara muda yang cacad sepasang kakinya; berjalan perlahan dengan bantuan sepasang tongkat, sementara langkahnya kelihatan tenang, tidak gentar melewati barisan tentara penjaga yang siap dengan berbagai macam senjata terhunus.

Pangeran Gin Lun juga menjadi terkejut berbareng merasa kagum, oleh karena dia mengetahui bahwa diluar istana, maupun dibagian depan dari ruang sidang pemeriksaan itu dijaga ketat oleh sejumlah tentara, akan tetapi dara yang  cacad sepasang kakinya itu dapat masuk tanpa ada seorang tentara yang lebih dulu melapor, menandakan semua tentara itu tidak mengetahui masuknya dara yang cacad sepasang kakinya itu !

Sementara itu, Tang Lan Hua sudah berdiri didekat  Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang menghadapi Pangeran Gin  Lun dan si perwira muda. Dara yang cacad  sepasang kakinya itu tidak mungkin berlutut buat memberi hormat, akan tetapi dia menjura memberi hormat dengan membungkukkan badan, setelah itu baru dia berkata lagi :

“....benar seperti kata kakak Lie Cong Han, bahwa kedatangan kami adalah untuk meminjam batu 'ouw liong ta’ buat berusaha menyembuhkan sepasang kakiku yang Iumpuh. Kalau Ong ya menganggap kami telah bersa lah; maka hukum lah aku, akan tetapi kedua kakak Han dan kakak Liang mohon supaya dibebaskan. "

Pangeran Gin Lun kelihatan masih terpesona mengawasi dara yang cacad sepasang kakinya itu, sehingga  untuk sesaat dia bagaikan tak mampu mengucap apa apa.  Juga Liu  Gwat Go ikut terdiam; meskipun dia  yakin  dara yang cacad sepasang kakinya itu memiliki kepandaian ilmu  silat  yang mahir, bahkan melebihi kedua pemuda yang dikatakan kakaknya; sebab cara Tang Lan Hua berjalan dengan bantuan sepasang tongkatnya tidak dapat menutup mata Liu Gwat Go yang gagah perkasa itu.

Sekilas Liu Gwat Go mengawasi Pangeran Gin Lun, tepat disaat pangeran itu juga sedang mengawasi dia. Sekali lagi Liu Gwat Go perlihatkan senyumnya, juga Pangeran. Liu Gwat Go ikut bersenyum setelah itu Liu Gwat Go yang berkata kepada Tang Lan Hua.

"Kalian bertiga sudah bersalah, karena memasuki istana ini  di waktu malam tanpa idzin, untuk itu kalian bertiga patut dihukum. Akan tetapi, aku pun mengingat bahwa kalian - bertiga adalah orang orang kang rimba persilatan yang gagah perkasa, maka kami kz dengan senang hati akan mempertimbangkan kesalahan kalian dengan tata cara kaum rimba persilatan. Kalian akan kami bebaskan, bahkan kalian diperbolehkan meminjam batu ouw liong ta, kalau sa lah seorang dari kalian bertiga  dapat  mengalahkan  aku. Sebaliknya kalian yang kalah, maka kami akan menghukum kalian didalam penjara ,..!” demikian kata Liu Gwat Go dalam pakaian sebagai seorang perwira muda, penuh wibawa nada suaranya, akan tetapi tidak bernada menghina.

Kedua pemuda Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang kelihatan menjadi terkejut waktu mereka  mendengar perkataan itu, keduanya sudah cukup mengetahui tentang kegagahan perwira muda itu sehingga mereka merasa yakin bahwa tidak mungkin  mereka dapat mengalahkan perwira muda yang gagah perkasa itu. Akan tetapi dengan  tenang Tang Lan Hua lalu berkata:

"Maafkan kami, akan tetapi kami tidak berani  berlaku kurang hormat terhadap ciangkun dan Ong ya... "

"Ha ha ha...!" tawa Pangeran Gin Lun yang ikut mendengarkan, tawa gembira dan dia lalu berkata:

"... kalian tadi bahkan telah bertempur antara hidup dan mati. Sekarang kalian hanya mengadu kepandaian, atau yang kalian biasa namakan pie bu. Aku bataskan penentuan pada suatu sentuhan ditubuh kalian, tanpa kalian  melukai  satu sama lain, apalagi saling bunuh. Setuju...?”

“Kalau begitu, aku bersedia memenuhi kehendak ciangkun..." sahut Tang Lan Hua tanpa ragu.

Dipihak si perwira muda atau Liu Gwat Go waktu dia mengucapkan tantangannya tadi, memang dia tujukan kepada Tang Lan Hua. Akan tetapi, dia merasa tidak berlaku sebagai seorang pendekar, kalau dia  menantang secara langsung, sebab keadaan Tang Lan Hua yang cacad sepasang kakinya. Oleh karena itu, sengaja dia memakai istilah 'salah satu dari kalian bertiga’ dan alangkah girangnya, ketika kemudian Tang Lan Hua bersedia menguji ilmu kepandaian, karena tepat seperti dugaannya bahwa Lan Hua pasti memiliki ilmu yang tinggi !

Dengan wajah muka kelihatan bersenyum puas maka Liu Gwat Go memberi hormat kepada Pangeran Gin Lun yang menjadi atasannya; dan setelah Pangeran Gin Lun mempersilahkan sebagai tanda memberikan iz in, maka dengan langkah kaki yang tenang tetapi gagah, dan  menyiapkan ruang sidang itu menjadi  semacam  arena  tempat pertandingan dengan memerintahkan para tentara mundur membikin suatu lingkaran yang cukup luas; sedangkan terhadap pemuda Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang telah diberikan kebebasannya, dilepaskan dari tali tali  yang mengikat sepasang tangan mereka.

Setelah se lesai memberikan perintahnya maka Liu Gwat Go menyiapkan pedang, sebatang pedang yang sangat istimewa, sebab pedang itu tidak panjang lurus seperti biasanya, akan tetapi panjang bergelombang bagaikan seekor ular melingkar panjang, dan pedang itu memang merupakan  hasil karya seorang ahli pedang dari suku bangsa Biauw yang beragama Islam, khusus dibikin buat menghormati arwah  perdana menteri Kut Gwan yang setia dan yang mati membunuh diri sedangkan pedang itu diberi nama Ceng beng-kiam !

Liu Gwat Go memiliki pedang Ceng beng kiam  dari pemberian Pangeran Gin Lun; dan pedang itu pada mulanya diambil dari dalam istana tempat penyimpanan benda benda kuno.

Sementara itu, kepada Tang Lan Hua maka Liu Gwat Go berkata :

"Kouwnio, pedangku ini adalah  sebatang pedang  Ceng beng kiam yang ampuh, dapat memutuskan segala macam benda logam. Sebaiknya kepada kouwnio akan kami pinjam- kan sebatang pedang yang juga ampuh...” Sehabis berkata begitu; maka Liu Gwat Go hendak memerintahkan seorang wiesu buat mengambilkan sebatang pedang pusaka,  akan tetapi Tang Lan Hua mencegah dan berkata.

“Tidak perlu. Kebenaran aku juga memiliki pedang yang baik....” demikian kata Tang Lan Hua lalu sebelah tangan kanannya bergerak melontarkan 'sarung' tongkatnya yang istimewa kearah pemuda Lie Cong Liang, dan sebagai ganti yang dipegang ditangan kanan Tang Lan Hua adalah sebatang pedang yang mengeluarkan sinar hijau, kena pantulan alat penerang diruangan itu. Sekali lagi Pangeran Gin Lun terpesona heran, sampai dia mengeluarkan suara tanpa dia kehendaki, sedangkan Liu Gwat Go juga perdengarkan suara pujiannya.

"Sungguh pedang yang bagus...!” demikian Liu Gwat Go memuji, akan tetapi dia tidak mengetahui bahwa sepasang pedang Ceng liong kiam pada mulanya  disimpan  ditempat yang sama dengan pedang Ceng beng kiam, akan tetapi sempat dicuri oleh Pangeran Kim Lun sebelum istana tempat penyimpanan benda benda kuno diserahkan di bawah kekuasaan atau Perlindungan pangeran Gin Lun.

Sementara itu; setelah Tang Lan Hua siap dengan sebatang pedangnya, maka perwira muda itu atau Liu Gwat Go memberikan aba aba bahwa dia akan segera mulai melakukan penyerangan, setelah itu tubuhnya melesat menikam dengan pedangnya yang istimewa, bergerak seperti  memakai  jurus ular betina keluar dari liang, yang memang dikenal oleh Tang Lan Hua, dan dara yang cacad sepasang kakinya itu bergerak cepat, melesat menghilang dari tempat yang menjadi sasaran lawannya.

Dengan bantuan suara desiran angin, maka perwira muda itu atau Liu Gwat Go yang lihai, segera mengetahui kearah mana lawannya menghilang. Dari itu dengan cepat dia sudah memutar tubuh, lalu secepat itu juga dia menyerang lagi, akan tetapi Tang Lan Hua berhasil menghilang lagi, membikin Liu Gwat Go jadi tertawa dan berkata dengan nada suara memuji:

“Kouwnio, sungguh hebat gerakanmu, agak mirip dengan ilmu ‘lo han ngo heng kun’ dari golongan Siao lim, pada jurus Pakun, tetapi aku yakin bahwa kau bukan dari golongan Siao lim pay. "

Tang Lan Hua hanya bersenyum, suatu senyuman yang manis, akan tetapi dia tidak sempat memberikan jawaban, karena perwira muda itu juga tidak memerlukan jawaban dan perwira muda yang gagah itu bahkan sudah menyerang lagi dengan merobah siasat supaya dara lawannya  tidak lagi sempat menghilang.

Kelihatannya gerak serangan perwira muda itu adalah menikam seperti memakai jurus 'ular betina keluar dari liang’, maka perwira muda itu merobah geraknya, memakai jurus seperti 'garuda mementang sayap', karena pedangnya bukan lagi menikam, akan tetapi malahan sebaliknya  dia lantas "menyapu" mencegah arah menghilangnya dara Tang Lan Hua.

Suatu suara benturan kedua pedang-pedang itu terdengar nyata, sampai mengeluarkan banyak lelatu anak api, sebab Tang Lan Hua sudah menangkis serangan Liu Gwat Go tadi dengan akibat dara cacad itu terdorong mundur sampai tiga langkah kebelakang, juga Lie Gwat Go ikut tergempur mundur tiga langkah kebelakang!

Memang, setelah dua kali serangannya gagal, maka  Liu Gwat Go menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang lawan yang sangat mahir ilmu ringan tubuh. Terlebih lawan itu berupa seorang dara yang cacad sepasang kakinya, sehingga jelas pula baginya bahwa Tang Lan Hua pasti memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Oleh karena itu pada serangan yang ketiga kali, dia tidak ragu ragu mengerahkan tenaganya.

Sejenak Liu Gwat Go memeriksa pedangnya, juga Tang Lan Hua kelihatan melakukan hal yang sama. Setelah itu Liu Gwat Go kembali membuka serangan, bahkan dia lakukan secara bertubi tubi atau secara berantai, akan tetapi Tang Lan Hua menutup diri dengan ilmu ‘sin liong kiam hoat' atau ilmu silat pedang naga sakti suatu pecahan dari ilmu 'siang liong kiam hoat' atau ilmu silat pedang sepasang naga, khusus diciptakan oleh Liauw Pek Y im buat muridnya yang cacad sepasang kakinya itu, akan tetapi menggunakan sepasang pedang 'naga hijau'. Gerak yang cepat dari sepasang insan yang sedang bertempur atau sedang pie bu itu, amat sukar dilihat  nyata oleh mereka yang sedang menyaksikan,  bahkan  kedua pemuda Lie Cong Han dan Lie Cong Liang sampai menahan napas mereka, khawatir kalau kalau Tang Lan Hua  akan cedera, meskipun benar sudah ditetapkan oleh Pangeran  Gin Lun bahwa batas pie bu hanya sentuhan belaka.

Disuatu saat kedua pemuda itu sampai mengeluarkan suara seruan kaget, sebab melihat tiba tiba dara yang cacad sepasang kakinya itu terjatuh. Hampir saja kedua pemuda itu bergerak hendak memberikan  pertolongan, akan  tetapi mereka lekas menyadari bahwa t idak dibenarkan kalau mereka turun tangan ikut membantu.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu terjatuh, akan tetapi tongkat yang ditangan kirinya dia tidak lepaskan, begitu juga dengan pedang yang ditangan kanannya. Dia tetap diserang secara bergelombang oleh si 'perwira muda', yang belum berhasil menyentuh tubuh dara cacad itu sebagai tanda kemenangannya.

Tubuh Tang Lan Hua bergulingan dilantai, akan tetapi perwira muda itu mengetahui bahwa dara cacad  itu  bukan mati daya, sebaliknya dara yang cacad sepasang kakinya itu sedang bergerak menggunakan ilmu seperti 'kun tee  tong' yang memang terkenal di daerah utara sehingga dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak me lulu dapat  menghindar dari berbagai serangan, bahkan dia sempat balas melakukan berbagai penyerangan, sampai tiba tiba dara yang cacad sepasang kakinya itu bergerak dengan tipu 'lee hie ta  teng', dan dia berdiri lagi, tetap dengan sebelah tongkat ditangan kiri yang menahan tubuhnya, dan ditangan kanan dengan memegang pedangnya!

Liu Gwat Go ingin meneruskan gerak serangannya, akan tetapi dia taat dengan perintah tiba tiba dari atasannya. "Cukup, Liu ciangkun! kau harus tahu bahwa kau sudah kalah. Lihat pakaianmu pada bagian pundak  kanan. ,.!” demikian seru Pangeran Gin Lun, sambil dia   berdiri  dari tempat duduknya, dan pada mukanya kelihatan seberkas senyum. Suatu senyum puas, bukan marah atau mengejek!

Liu Gwat Go yang sesungguhnya tidak menyadari, melihat pada baju yang dipakainya, tepat pada bagian yang  disebutkan oleh Pangeran Gin Lun. Baju itu robek kecil, akan tetapi cukup jelas kelihatan, meskipun dari jarak yang cukup jauh; dan robek itu adalah sebagai hasil kerja  pedangnya Tang Lan Hua. Merah wajah muka Liu Gwat Go, akan tetapi sebelum dia mengucap apa apa, maka Tang Lan Hua telah mendahulukan, mendekati sambil memberi hormat dan berkata:

“Maafkan aku, ciangkun, benar benar aku menyerah pada ciangkun yang banyak mengalah terhadap aku.. “

Sesungguhnya bahwa Tang Lan Hua telah  mengucapkan dua hal yang benar benar terjadi. Dalam pie bu tadi, beberapa kali hampir terjadi serangan serangan Liu Gwat Go mencapai sasaran, akan tetapi si perwira muda itu selalu ragu ragu, khawatir atau merasa iba kalau terjadi dia melukai dara yang cacad sepasang kakinya itu akan tetapi yang mahir ilmu silatnya. Inilah hal yang pertama yang benar  benar  telah terjadi dan diketahui oleh Tang Lan Hua, dan dapat mempertahankan kehormatan si perwira muda karena adanya pengakuan yang setulus hati yang telah diucapkan oleh Tang Lan Hua. Dan hal kedua yang juga benar benar telah terjadi tadi, adalah Tang Lan Hua yang justeru berkali kali menggunakan tipu memperlihatkan bagian bagian kelemahannya untuk diserang oleh si "perwira muda” itu. Sekiranya si 'perwira muda' itu berhati kejam dan menggunakan kesempatan itu buat melakukan penyerangan maka saat itu juga kemungkinan perwira muda itu yang benar benar dikalahkan, oleh karena dia kena  perangkap  dengan tipu yang digunakan oleh Tang Lan Hua.

Sementara itu Liu Gwat Go kelihatan  bersenyum  puas, waktu dia mendengar perkataan atau pengakuan  dari Tang Lan Hua. Dia balas memberi hormat dan menyatakan kekagumannya pada ilmu yang dim iliki oleh dara yang cacad sepasang kakinya itu, kemudian  dengan persetujuan dari pangeran Gin Lun, maka Liu Gwat Go memerintahkan seorang wiesu buat mengambilkan batu hitam 'ouw liong ta' yang lalu diserahkan kepada Tang Lan Hua.

Liu Gwat Go yang masih memakai pakaian seragam sebagai perwira muda, memerlukan mengantarkan ketiga muda mudi itu sampai diluar pintu istana, setelah ketiga muda mudi itu pamitan dari Pangeran Gin Lun dan berjanji akan mengembalikan batu ouw liong ta setelah selesai mereka gunakan.

“Tang kouwnio sampai jumpa lagi..” kata Liu Gwat Go yang melepas ketiga muda-mudi itu, lalu di luar  tahu  mereka bertiga, maka Liu Gwat Go memerlukan  pula  mengikuti mereka bertiga sampai ketempat mereka menginap.

Esok paginya Tang Lan Hua bertiga sudah  berkemas hendak meninggalkan tempat penginapan,  ketika seorang pelayan memberitahukan tentang adanya beberapa tentara negeri yang mencari mereka.

Tang Lan Hua bertiga kaget dan heran, tetapi  mereka keluar untuk mencari pihak yang mencari mereka. Yang datang itu ternyata adalah seorang wiesu dengan dikawal oleh empat orang tentara pengawal. Mereka datang sebagai utusan si'perwira muda', untuk menyerahkan tiga buah  bungkusan, dan waktu bungkusan bungkusan itu dibuka, ternyata masirg masing berisi seperangkat baju dingin buatan Mongolia, masing masing buat Tang Lan Hua, Lie Cong Han dan  Lie Cong Liang. Melalui wiesu yang menjadi utusan itu, maka Tang Lan Hua bertiga mengucapkan terimakasih kepada si 'perwira muda’ yang gagah perkasa dan gemar bersahabat.

Setelah wiesu dan pengawalnya itu pergi, maka Tang Lan Hua bertiga meninggalkan tempat penginapan, setelah lebih dahulu mereka membayar uang sewa kamar.

Dilain pihak, kepergian Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang yang meninggalkan rumahnya, sesungguhnya telah mengakibatkan terjadinya heboh di dalam pihak Tian Peng, terlebih Kwee In Hong menganggap tunangannya telah menghianati dia, karena lebih tertarik dengan Tang Lan Hua yang lebih cantik, meskipun cacad sepasang kakinya.

Dara yang biasa berlaku manja itu beranggapan bahwa Lie Cong Han meninggalkan dia buat berusaha hendak menyembuhkan penyakitnya Tang Lan Hua, dari itu dia memaksa ayahnya untuk melakukan pengejaran.

Dipihak Kwee Peng, orang tua ini merasa yakin bahwa Lie Cong Han berdua Lie Cong Liang pergi untuk mengantarkan Tang Lan Hua menuju kota San hay koan untuk kemudian langsung menuju gunung T iang Pek san buat mencari sumber air panas untuk menyembuhkan sepasang kakinya Tang Lan Hua. Hal ini diketahui oleh Kwee Tiang Peng berdasarkan laporan dari Nio Hoan Hauw yang ikut mendengarkan seluruh pembicaraan Lie Bok Seng, bahkan ikut memperhatikan waktu Lie Cong Liang menyatakan hasratnya hendak menolong Tang Lan Hua. Dengan demikian telah terjadi pertikaian  antara Kwee Tian Peng dan Lie Bok Seng, yang hampir  saja mengakibatkan terjadinya suatu pertempuran, sekiranya dara manja Kwee In Hong tidak  memperlihatkan  watak kebiasaannya yang pemarah dan selalu hendak dituruti segala keinginannya, yakni dia menghendaki lebih dahulu  mengejar Lie Cong Han bertiga.

“Baik, lebih dulu aku akan menyelesaikan urusan anak anak kita, sesudah itu aku akan hadapi dia. !" demikian kata Kwee Tian Peng yang lalu mengajak semua rombongannya untuk melakukan pengejaran terhadap Lie Cong Han bertiga.

Rombongan Kwee Tian Peng ini semuanya berjumlah lebih dari tigapuluh orang. Mereka memecah diri menjadi tiga kelompok, yakni Kwee In Hong dan Nio Hoan Houw masing- masing membawa sepuluh orang, sedangkan sisanya bersama Kwee Tian Peng.

Kim An dan Kim Sui ikut dalam kelompok rombongan dara manja Kwee In Hong kedua tukang pukul ini justru yang pernah berhasil menemukan rombongan Lie Cong Han bertiga, yakni waktu Kim An berdua Kim Sui sedang memeriksa kuda yang dipakai oleh rombongan Tang Lan Hua, sebelum mereka sempat melaporkan kepada Kwee In Hong. Sudah tentu dara manja Kwee In Hong jadi semakin marah marah, waktu dia mengetahui tentang kekalahan Kim An berdua  Kim Sui terhadap dara cacad yang dia anggap menjadi sa ingannya; dan sebagai akibat kemarahannya  yang meluap,  maka Kwee In Hong telah membinasakan Kim An berdua Kim Sui memakai pedangnya, setelah itu dia mengajak sisa rombongannya buat melakukan pengejaran, sampai mereka mencapai kota  San hay koan.

Dikota San hay koan mereka t idak berhasil mencari tempat menginapnya rombongan Lie Cong Han bertiga. Lalu pada malam harinya Kwee  In Hong mengajak rombongannya melakukan penyelidikan di istana tempat kediaman Pangeran  Gin Lun,  dan kedatangan mereka ternyata telah disambut dengan hangat oleh Liu Gwat Go berikut pasukan tentaranya, sehingga hanya nasib baik yang telah menyelamatkan dara manja Kwee In Hong bersama seorang pengawalnya yang bermata juling; sementara yang lainnya  habis  dibinasakan atau ditangkap hidup hidup.

Dara manja Kwee In Hong pantang mundur meskipun sisa rombongannya hanya simata juling. Dia terus melakukan penyerangan mengambil arah ke gunung Tiang pek san, akan tetapi sebelum dia  berhasil menemukan rombongan yang dikejarnya, maka sebaliknya dia justeru dilihat oleh tunangannya, Lie Cong Han.

Waktu itu Lie Cong Han bertiga  sedang  beristirahat ditempat pemondokan disuatu dusun yang kecil. Secara tidak disengaja dia melihat dara manja Kwee In Hong yang juga mengambil tempat mondok yang sama.

"Adik Liang, kupikir sebaiknya kalian berdua segera berangkat meninggalkan dusun ini. Aku perlu menahan Hong moay yang juga berada ditempat ini.... " demikian  kata  Lie Cong Han yang menemui adiknya bersama Tang Lan Hua.

“Mengapa kita harus takut dengan dia...?" tanya Tang Lan Hua. Dengan dia, sudah tentu yang dimaksud dara  manja Kwee In Hong akan tetapi cepat sekali dara yang cacad sepasang kakinya itu menyadari waktu pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Lie Cong Han yang mengawasi dengan pandangan hampa !

Dara yang cacad sepasang kakinya itu menyadari kesalahannya, sebab bagaimanapun juga Lie Cong Han dan Kwee In Hong sudah ditunangkan. Bagaimana kalau sampai terjadi pertempuran antara dia dengan dara manja yang pemarah itu ? apakah Lie Cong Han harus terus berpeluk tangan ? Oleh karenanya, dara yang cacad sepasang kakinya  itu segera menurut, bersama Lie Cong Liang mereka berdua menghilang sebelum dilihat oleh dara manja Kwee In Hong.

Semalam suntuk sepasang insan muda mudi itu masih meneruskan melarikan kuda mereka. Keduanya hanya beristirahat pada waktu makan, setelah  itu  mereka meneruskan lagi perjalanan mereka.

Waktu mereka melewati gunung Couw lay san, maka Tang Lan Hua memerlukan mengajak Lie Cong Liang untuk mendaki dan menyambangi makam almarhum ayahnya. “Disinilah dulu terjadi pertempuran, sebelum ayah menemukan ajalnya....” kata dara yang cacad sepasang kakinya itu kepada pemuda yang mendampinginya, sementara air mata lagi lagi telah membasahi mukanya.

Lie Cong Liang ikut menjadi terharu dan memperhatikan letak sekitar tempat itu.

"Dan waktu itu, kau diumpatkan dimana?” tanya  pemuda  itu lembut mesra terdengar suaranya. Dara yang cacad sepasang kakinya itu memaksa diri buat bersenyum. Sebuah senyum penuh kenangan lama yang menyedihkan.

Dengan langkah kaki yang dibantu dengan sepasang tongkatnya kemudian Tang Lan Hua mengajak pemuda Lie Cong Liang, mendatangi selokan air gunung tempat dulu dia diumpatkan oleh ayahnya.

“Disini dulu aku berdiri, terendam dalam air  sebatas paha.,.” kata dara cacad itu perlahan, lalu dengan tangan kanannya dia mengambil air selokan yang sangat dingin itu dia gunakan buat membasahi mukanya.

Lie Cong Liang ikut mengambil air se lokan itu, akan tetapi dia tersentak kaget, karena terasa amat dinginnya air itu, lalu didalam hati dia berkata seorang diri.

('andaikata dulu Tang susiok memegang dan mengetahui betapa dinginnya air se lokan ini dan ini pun sudah pasti Tang susiok tidak menempatkan adik Lan disini….’).

(‘... adik Lan...?’) bisik hati kecilnya, sejak kapan dia menyebut adik Lan? sebab sampai saat itu, dia  masih menggunakan istilah 'Tang kouwnio' terhadap Tang Lan Hua.

"Dari tempat ini, aku dapat melihat mereka yang sedang bertempur, sebaliknya mereka tidak dapat melihat aku., „  " kata lagi Tang Lan Hua yang membayangkan peristiwa tempo dulu. Sejenak Lie Cong Liang ikut memperhatikan, setelah itu dia berkata.

“Jadi, kau mengetahui bahwa ayahku tidak ikut membinasakan Tang susiok...?”

Tang Lan Hua bersenyum. Sebuah senyum yang sukar diketahui arti maksudnya.

“Akan tetapi, kulihat ayahmu menendang ayahku, dan...” dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak melengkapi perkataannya, dalam pandangan matanya kembali dia membayangkan peristiwa belasan tahun yang telah lalu, yang tak sanggup dia lukiskan dengan kata kata.

“Tang kouwnio, mari kita teruskan perjalanan kita.. " akhirnya Liu Cong Liang mengajak, karena melihat air mata telah lagi membasahi muka dara tambatan hatinya,

“Kalau kau setuju malam ini aku ingin menginap ditempat ini, menemani makam ayah meskipun hanya satu  malam..” kata dara yang cacad sepasang kakinya itu; lembut perlahan suaranya, lalu dia  bersenyum puas waktu Lie Cong Liang menyetujui niatnya dan pemuda itu malah telah memindahkan tambatan kuda mereka, serta menurunkan bungkusan bawaan mereka.

Malam itu mereka membikin api unggun  dari  ranting ranting kayu kering yang sudah dikumpulkan oleh Lie Cong Liang. Mereka makan panganan kering bekal mereka, akan tetapi pada malam itu mereka memperoleh ketenangan jiwa yang belum pernah mereka peroleh sejak mereka  melihat dunia.

Suasana sunyi ditambah hawa pegunungan yang dingin menambah mesra hubungan sepasang insan muda itu.

Pemuda Lie Cong Liang menyelimuti sepasang kaki dan bagian tubuh Tang Lan Hua yang sudah memakai baju dingin pemberian perwira muda yang mereka tidak ketahui namanya, setelah itu Lie Cong Liang juga memakai baju dingin yang diberikan untuk dia.

"Apakah tidak memalukan bagimu, mempunyai seorang teman yang cacad sepasang kakinya,..?” tanya Tang Lan Hua dengan suara yang perlahan, akan tetapi pandangan matanya jauh mengawasi kesudut lain, tanpa dia ketahui apa yang dilihatnya.

"Mengapa harus malu? aku bahkan bangga kalau dapat berusaha menyembuhkan..” sahut Lie Cong Liang yang mukanya berseri-seri, sambil dia memanaskan telapak tangannya dekat api unggun yang menyala.

"Kalau ternyata cacad kakiku tidak dapat sembuh...?” Tang Lan Hua menanya lagi bertambah perlahan suaranya, seperti dia sedang bicara pada dirinya sendiri.

"Aku akan tetap mendampingi kau...” Sejenak Tang Lan Hua terdiam tidak mengucap apa apa, akan tetapi sepasang matanya mengawasi Lie Cong Liang yang duduk dekat api unggun, terpisah tidak terlalu jauh dari tempat dia  rebahkan diri.

"Liang ko…." terdengar Tang Lan Hua berkata perlahan, terdengar mesra ditelinga Lie Cong Liang.

Pemuda Lie Cong Liang mengangkat kepalanya yang tadi menunduk, dia mengawasi dara tambatan hatinya   yang sedang mengawasi dia dengan menyertai seberkas senyum manis.

"Tang kouwnio..." sahut pemuda itu akan tetapi dia tersentak, sebab sepasang tangannya yang masih berada didekat api unggun terasa panas terbakar! Tang Lan Hua tertawa. Tawa ria, lupa derita, sementara pemuda Lie Cong Liang kelihatan meringis. "Namaku Lan Hua.....” akhirnya Tang Lan Hua yang berkata lagi, tetap dengan menyertai senyumnya, yang terasa begitu memikat hati Lie Cong Liang.

"Lan moay..." untuk pertama kalinya pemuda itu menyebut atau menggunakan istilah "adik Lan” dan dia lalu merangkak mendekati, memberikan sebelah tangannya untuk  dipegang oleh dara tambatan hatinya  sedangkan sebelah tangannya yang lain, dia memegang muka dan memainkan anak rambut Tang Lan Hua didekat daun telinga.

"Liang ko..." bisik Tang Lang Hua, dan dia mengangkat kepalanya, yang lalu dia tempatkan diatas pangkuan pemuda itu.

“Lan moay...” ulang Lie Cong Liang begitu lembut, begitu mesra terdengar nada suaranya. Dan dia membelai rambut dara tambatan hatinya yang  ikal panjang, sampai kemudian  dia ikut merebahkan tubuhnya di sisi dara tambatan hatinya sehingga muka mereka saling berdekatan, dan napas mereka saling terasa.

"Liang ko, aku takut kehilangan kau..” bisik lagi Tang Lan Hua, sementara sebelah lengannya mulai merangkul pemuda yang disisinya, sehingga pemuda itu juga ikut merangkul.

Esok paginya mereka menyusuri gunung Couw lay san, untuk terus menuju kearah gunung Tiang Pek san, dimana mereka menerobos daerah yang selalu dilimpahkan  salju sehingga pemuda Lie Cong Liang merasa sangat dingin, meskipun dia sudah memakai baju tebal. Sebaliknya Tang Lan Hua tidak terlalu menderita kedinginan, oleh karena di dalam kantongnya dia  membawa batu 'ouw liang ta’ yang sudah memperlihatkan khas iatnya !

Diluar tahu kedua insan muda itu, dibelakang  mereka sedang menyusul rombongannya dara manja Kwee In Hong yang telah menyatukan diri dengan rombongan Nio Hoan Houw, sedangkan dibelakang rombongan mereka, masih menyusul rombongannya Kwee Tian Peng.

Pemuda Lie Cong Han yang berusaha merintangi rombongannya Kwee In Hong, telah bertempur dan menderita luka luka, akan tetapi pemuda itu kemudian buru buru pulang ke Bok kee tin, dan memaksa ayahnya untuk bantu melindungi Tang Lan Hua sehingga Lie Bok Seng jadi ikut  menyusul dengan membawa rombongannya,  melakukan  perjalanan cepat tanpa mengenal waktu siang maupun malam.

Sepasang insan muda Lie Cong Liang dan Tang Lan Hua berhasil mendaki bagian puncak tertinggi dari gunung Tiang Pek san yang tidak mengenal waktu atau musim, sebab selalu berkejatuhan hujan salju membikin keadaan disekitar  tempat  itu se luruhnya kelihatan putih, sehingga amat tepat dengan nama gunung Tiang Pek san atau gunung penunjang langit berwarna putih.

Kemudian sepasang insan muda mudi itu berhasil pula melewati danau Tian tie, yang jernih airnya akan tetapi dinginnya merupakan dingin air es, jauh melebihi dinginnya air gunung Couw lay san yang sudag  melumpuhkan  sepasang kaki Tang Lan Hua.

Untuk menempuh perjalanan diatas gunung itu sudah tentu mereka tidak lagi menggunakan kuda tunggangan  mereka, dan tubuh Lie Cong Liang menggigil kedinginan, akan tetapi mereka meneruskan perjalanan mereka menerobos  hujan  salju yang tak kenal berhenti.

Bagi dara yang cacad sepasang kakinya itu, hawa dingin itu bagaikan tak terasakan olehnya; sebab ditubuhnya tersimpan batu ‘ouw liong ta’ yang telah memperlihatkan  khasiatnya. Dara yang cacad sepasang kakinya itu bagaikan sedang melakukan perjalanan di bawah terik sinar matahari, karena kelihatan peluh membasahi muka dan tubuhnya. Setelah mengetahui dan membuktikan khasiatnya batu hitam "ouw liong ta” maka secara silih berganti mereka saling memegang batu hitam yang mujizat itu, sampai kemudian mereka berhasil mencapai ruang sa lju beku  atau  ruang dinding es dimana mereka memasuki dan melihat bahwa didalam ruang dinding es itu, masih terdapat sebuah ruangan lain yang lebih kecil, dan di lain ruangan itu yang tidak mungkin dimasuki oleh seseorang yang terdapat  sebuah danau kecil atau kolam  dengan sumber air panas yang mengandung belirang membikin didalam ruang kecil itu penuh diliputi oleh asap atau uap.

Sepasang insan muda mudi itu beristirahat  sebentar didalam ruangan dinding es, sementara  pemuda  Lie  Cong Liang yang sudah tidak memegang batu 'ouw liong ta', tidak dapat berdiri diam karena untuk melawan hawa dingin, tubuhnya harus bergerak terus, bahkan dia berlompat lompat bagaikan seekor kera yang sedang menari.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu menjadi merasa iba dengan derita pemuda kekasihnya  yang setia mengantar, sebaliknya Lie Cong Liang mendesak supaya dara tambatan hatinya cepat cepat memasuki ruang sumber air panas itu, untuk segera merendam sepasang kakinya; agar dalam waktu enam jam dara tambatan hatinya itu menjadi sembuh dari penyakitnya.

“Liang ko, kau pakailah baju dingin ini..." kata dara yang cacad sepasang kakinya itu, sambil dia me lepaskan baju luar pemberian si perwira muda yang dia pakai, buat pemuda Lie Cong Liang yang sekaligus memakai dua lapis baju tebal.

Setelah pemuda Lie Cong Liang memakai tambahan baju tebal pemberian dara tambatan hatinya, maka dia mengawasi dara kekasihnya itu yang sedang memasuki ruang tempat sumber air panas. Genangan air panas pada kolam kecil itu, ternyata sedalam batas paha Tang Lan Hua, oleh karena itu Tang Lan Hua lalu turun kedalam kolam dan merendam sepasang kakinya.

Tidak ada rasa panas pada sepasang kakinya  yang direndam didalam air panas itu, sebab sepasang kakinya itu memang sedang menderita penyakit  lumpuh. Lalu sebelah tangan Tang Lan Hua memegang air panas itu, akan tetapi tetap dia tidak merasakan terlalu panas, sebab pengaruh khasiat batu hitam 'ouw liong ta’ yang memang ampuh terhadap air maupun api!

"Liang ko, apakah kau masih merasa kedinginan ?” tanya

Tang Lan Hua yang berteriak dari dalam kolam air panas itu.

"Sudah tidak terlalu dingin,... , !” sahut pemuda Lie Cong Liang, juga sambil berteriak, akan tetapi dia masih meneruskan 'tariannya' buat mengurangi rasa dingin.

"Liang ko, kau lucu sekali..;,!” teriak lagi Tang Lan Hua  yang sengaja berlaku jenaka, supaya dapat mengurangi derita pemuda kekasihnya.

“Apanya yang lucu.?” tanya Lie Cong Liang tetap berteriak dan tetap sambil dia menari.

“Kau seperti Sun go kong yang lagi menari.,!” sahut Tang Lan Hua yang menyertai tawa.

oo^dwkz OhendObbsc ^oo

“HA HA ha.,!" Lie Cong Liang ikut tertawa, tanpa dia menambahkan dengan kata kata.

Masih beberapa jam lagi diperlukan buat menyembuhkan sepasang kaki Tang Lan Hua yang waktu  itu sedang merendam ditelaga sumber air panas. Untuk girangnya, dara yang bernasib ma lang itu mulai merasakan adanya semacam aliran hangat pada sepasang kakinya. Dia yakin darah sedang usaha mendesak atau menerobos otot otot pada sepasang kakinya yang sudah lama  membeku. Segera dia berteriak memberitahukan pemuda kesayangannya dan pemuda  Lie Cong Liang ikut jadi kegirangan, sampai dia menambah gerak tariannya. Akan tetapi, rasa girang sepasang insan muda mudi itu tidak berlangsung lama; sebab  mendadak  saja  dibagian luar dinding es terdengar suara dari banyak orang orang yang sedang mendatangi!

Itulah rombongannya dara manja Kwee In Hong dan Nio Hoan Houw, yang berhasil mengikuti jejak sepasang buronan mereka.

Pemuda Lie Cong Liang cepat cepat lompat keluar  dari dalam ruangan dinding es dan merintang, sehingga terjadi pertengkaran antara dia dengan dara manja Kwee In Hong.

"... Kwee kouwnio, harap kau bersikap jantan untuk menunggu sampai Tang kouwnio sembuh dari penyakitnya, setelah itu terserah kalau kalian hendak bertempur..." antara lain terdengar kata pemuda Lie Cong Liang, yang berusaha merintangi niat dara manja Kwee  In Hong yang hendak menerobos mengajak rombongannya memasuki ruangan dinding es.

“Ha ha ha, aku justeru bukan jantan buat apa aku harus bersikap jantan...!” sahut Kwee In Hong yang menyertai tawa mengejek, dan dia bahkan langsung  menyerang Lie Cong Liang yang tetap berusaha merintang.

Pemuda Lie Cong Liang siapkan pedangnya dan menangkis, sementara kesempatan itu te lah dipergunakan oleh dua orang pengawalnya yang menerobos masuk, bahkan hendak langsung memasuki ruangan tempat Tang Lan Hua yang masih merendam ditelaga air panas akan tetapi secepat  itu pula pemuda Lie Cong Liang berteriak:

“Kalian akan mati beku, kalau kalian  berani memasuki ruangan itu..,!” demikian teriak Lie Cong Liang itu yang berhasil membatalkan niat kedua orang orang itu dan kedua orang orang itu kemudian ikut mengepung Lie  Cong  Liang atas perintah Kwee In Hong bahkan Nio Hoan Houw ikut mengepung dengan mengajak rombongannya.

Didalam telaga tempat sumber air panas; Tang Lan Hua menjadi gelisah dan berteriak teriak.

“Hey! kalian jangan bertempur, aku berada disini. Kalian boleh masuk menangkap aku..!" demikian teriak Tang  Lan Hua, akan tetapi tidak ada orang yang menghiraukan teriak suaranya, sebab mereka memang sudah mengetahui bahwa tempat itu tidak mungkin mereka masuki tanpa memegang batu hitam 'ouw liong ta'.

Pemuda Lie Cong Liang mengetahui bahwa dara tambatan hatinya sedang merasa gelisah dan cemas, karena melihat dia dikepung oleh sekian banyaknya lawan, dari itu dia balas berteriak, supaya kekasihnya berlaku tenang.

“Lan moay! harap kau tenang dan jangan kau tinggalkan tempatmu. Sebentar lagi kau pasti akan sembuh dan sementara ini kau saksikan aku mengusir mereka...!"

Sudah tentu dara manja Kwee In Hong jadi bertambah marah waktu dia mendengar perkataan pemuda itu, atau yang sebenarnya sudah menjadi adik iparnya. Dara manja ini juga merasa iri hati karena nada suara Lie Cong Liang terdengar sangat mesra; penuh rasa kasih sayang terhadap Tang  Lan Hua !

“Penghianat ! kau sudah membela  seorang musuh.,...!" teriak dara manja itu dan dia mengulang serangannya dengan gerak 'burung hong menangkap cacing', akan tetapi sia sia serangannya, karena pemuda Lie Cong Liang  terlalu  lincah, dan sambil berkelit menghindar pemuda itu bahkan berhasil melukai seorang pengikutnya Nio Hoan Houw.

Di kota tempat kediamannya,  Nio Hoan Houw dikenal sebagai si 'macan galak' yang sangat ditakuti. Dia marah karena merasa tidak berdaya mengalahkan si pemuda yang pada mulanya dia anggap sebagai keponakannya, akan tetapi sekarang dia anggap sebagai seorang musuh, sebab pemuda itu telah memihak kepada orang yang sudah membunuh puteranya ! Segera si macan galak Nio Hoan Houw merobah siasat bertempurnya, dia teriak memerintahkan semua orang orangnya mundur membikin suatu lingkaran maksudnya supaya berdua dengan dara manja Kwee In Hong, akan dia kepung pemuda itu dan dia lalu membuka serangan memakai gerak tipu macan galak menerkam anak kelinci, sebuah gerak tipu yang tidak ada bedanya dengan gerak tipu yang dilakukan oleh Kwee In Hong  tadi.  Perbedaannya  adalah  serangannya itu memiliki tenaga yang lebih besar yang sudah tentu tidak berani ditangkis oleh Lie Cong Liang, akan tetapi ketika baru saja pemuda itu lompat  menghindar, maka gerak tipu  Nio Hoan Houw berobah memakai jurus macan galak menangkap anak kambing.

“Awas...,” teriak Nio Hoan Houw yang mendadak menjadi terkejut sampai mukanya pucat sebab waktu dia lakukan perobahan pada serangannya maka dara manja Kwee In Hong juga ikut menerjang Lie Cong Liang dan gerak serangan dara manja Kwee In Hong itu justeru merintangi serangan  Nio Hoan Houw yang mengakibatkan serangan itu menjadi tertuju pada tubuh Kwee In Hong.

Dara manja Kwee ln Hong ikut menjadi terkejut waktu dia mendengar teriak suara Nio Hoan Houw. Dia  melihat datangnya serangan yang cepat dan meluncur mengarah dirinya, akan tetapi tak kuasa dia  melompat menghindar, sebab dia justeru baru lompat hendak menerjang Lie Cong Liang.

Terpaksa dara manja itu menangkis goloknya Nio  Hoan Houw memakai pedangnya, dan untungnya Nio Hoan Houw sempat mengurangi tenaga serangannya, akan tetapi Kwee In Hong merasakan tangannya jadi tergetar keras waktu kedua senjata itu beradu.

“Kurang ajar! kau malah menyerang aku..!" maki dara manja Kwee In Hong yang menjadi marah terhadap Nio Hoan Houw, lalu tanpa ragu ragu dia serang Nio Hoan Houw dengan serangkaian serangan bergelombang!

“Kwee kouwnio tahan..,!” teriak Nio Hoan Houw yang beberapa kali harus lompat menghindar, tidak berani dia menangkis sebab dapat mengakibatkan pedang dara manja itu jadi terlempar, dan bahkan bisa menggempur bagian dalam tubuh dara manja yang menjadi keponakannya itu, namun galaknya bukan main!

Dipihak dara manja Kwee  In Hong, dia  justeru jadi bertambah marah, sebab dia penasaran dengan serangkaian serangannya yang belum mencapai hasil. Tekatnya tidak akan berhenti menyerang sebelum dia dapat melukai  lawannya, tidak perduli s iapa saja yang menjadi lawannya !

Sementara itu pemuda Lie Cong Liang yang sudah bebas dari pertempuran, kelihatan duduk seenaknya diatas sebuah batu yang penuh dilapis dengan salju. Dia menonton pertempuran yang sedang terjadi antara dara galak Kwee In Hong melawan si macan galak Nio Hoan Houw sambil dia perlihatkan senyumnya terlebih waktu dia melirik kearah dara tambatan hatinya yang ikut jadi bersenyum kelihatan tenang merendam sepasang kakinya.

“Kwee kouwnio; aku menyerah kalah. Mari kita bekuk si monyet yang sedang cengar cengir itu..." kata lagi  Hoan Houw, yang masih tetap tidak berani melakukan perlawanan sebab yang dia takuti sebenarnya adalah ayahnya Kwee In Hong yang pasti bakal mengamuk kalau anaknya kena cedera ditangannya!

Sebaliknya dara manja Kwee  In Hong menjadi girang, ketika mendengar si macan galak berteriak menyerah kalah. Kemudian dia ikut mengawasi pemuda Lie Cong Liang yang katanya lagi cengar cengir seperti monyet dan hatinya menjadi panas sebab waktu itu dia melihat Lie Cong Liang  sedang melirik dan bersenyum kepada dara tambatan hatinya!

"Kurang ajar..!” bentak Kwee In Hong yang lalu menerkam memakai gerak tipu 'burung Hong mementang sayap'.

Pemuda Lie Cong Liang masih bersenyum waktu dia harus lompat menghindar dan batu yang berlapis sa lju bekas dia duduk menjadi mangsa pedang dara yang manja  dan  galak itu, lalu senyum pemuda itu mendadak hilang waktu  secara tiba tiba dia diserang oleh Nio Hoan Houw yang  memakai  gerak itu "macan galak mengibas ekor”.

Golok si macan galak Nio Hoan Houw menabas agak menyamping, tidak memberikan kesempatan buat pemuda lawannya berkelit menghindar menyamping, akan tetapi diluar dugaannya, pemuda itu justeru berkelit dengan lompat tinggi; sehingga tidak perlu pemuda itu menangkis serangan tadi.

Nio Hoan Houw menjadi penasaran, sekali lagi dia hendak menyerang, akan tetapi cepat cepat dia batalkan niatnya, sebab kali ini dia sempat melihat gerak dara manja Kwee In Hong yang hendak menyerang Lie Cong Liang. Sekiranya dia ikut menyerang lagi, maka dia khawatir  akan  terulang  lagi dara manja itu akan berbalik menyerang dia.

Pemuda LieCong Liang masih berkelit serangan dara manja Kwee In Hong akan tetapi sekarang dia tidak me lulu berkelit untuk menghindar, sebaliknya dia berkelit sambil dia balas menyerang menikam bagian dada Kwee In Hong. Akan tetapi waktu dilihatnya dara manja itu tidak sempat berkelit atau menangkis, maka dengan terkejut dia itu buru buru menyampingkan arah sasarannya dengan  maksud  supaya tidak membinasakan, bahkan tidak melukai calon kakak  ipar itu. Sebagai akibat perbuatannya itu, maka pedangnya  Lie Cong Liang memapas sebutir kancing baju Kwee In Hong, tepat dibagian dada sehingga kelihatan sedikit baju dalamnya yang berwarna merah tua!

“Laki laki ceriwis, kau berani berlaku kurang ajar terhadap twasomu, akan kuberitahukan ayahku supaya kau disembelih....!” maki maki Kwee In Hong sambil dia membanting kaki dan hampir menangis, akan tetapi masih ingat dia untuk menutup bagian dadanya memakai sebelah tangannya!

Dipihak Lie Cong Liang, pemuda ini juga menjadi terkejut waktu melihat hasil kerjanya yang dia lakukan secara tidak disengaja. Akan tetapi dia tidak sempat menjawab perkataan Kwee In Hong, sebab dara manja itu sudah menyerang lagi bahkan Nio Hoan Houw selalu merintang ditempat dia akan berkelit dari serangan dara manja yang galak dan yang bakal menjadi kakak iparnya!

Dengan demikian pertempuran yang mereka lakukan itu bagaikan bukan merupakan suatu pertempuran maut, sebab meskipun benar Kwee In Hong selalu melancarkan serangan maut, akan tetapi dia bukan tandingan pemuda LieCong Liang sebaliknya pemuda itu tidak berani melancarkan serangan maut.

Pada mulanya pemuda Lie Cong Liang se lalu berkelit menghindar dari serangan Kwee  In Hong; akan tetapi belakangan Nio Hoan Houw se lalu merintang arah tempat ia berkelit, sedangkan serangan yang dilakukan oleh Nio Hoan Houw justeru merupakan serangan serangan maut !

Pemuda Lie Cong Liang tidak berani melawan Nio Hoan Houw yang dia anggap sebagai paman, disamping sang paman itu memang bukan merupakan lawan ringan bagi Lie Cong Liang. Dengan demikian pemuda Lie Cong  Liang melayani Kwee In Hong dan dia mulai melakukan penangkisan, supaya dia jangan berkelit dan mendekati Nio Hoan Houw. Untuk ini sengaja Lie Cong Liang tidak menggunakan tenaga besar dan dia menyerang tanpa dia bermaksud melukai calon kakak iparnya; sedangkan Nio Hoan Houw tidak berani mencelakai, kalau sepasang muda mudi itu sedang bertempur secara rapat, takut kesalahan tangan kena menyentuh pedangnya Kwee In Hong yang dapat mengakibatkan dara manja itu ngambek, bahkan bertempur lagi. Jadi yang masih bertempur atau lebih tepat dianggap sedang berlatih, adalah pemuda Lie Cong  Liang  melawan Kwee In Hong, ditonton oleh Nio Hoan Houw yang merasa penasaran sampai tubuhnya jadi menggigil menahan rasa dingin dan menahan rasa marah.

Sementara itu waktu berjalan terus dan Tang Lan Hua semakin merasakan sepasang kakinya kian menjadi hangat, menandakan dia telah hampir sembuh dari penyakitnya.

"Hey! apakah kalian sedang bertempur atau bercanda...?” teriak dara yang sedang merendam sepasang kakinya  itu; sebab mau tak mau dia merasa lucu dengan cara pertempuran yang sempat dia lihat.

“Lan moay, bagaimana kau rasakan dengan sepasang kakimu…?” balik tanya pemuda Lie Cong Liang, sambil dia 'menempel' pedang Kwee In Hong dengan pedangnya, membikin dua kepala mereka saling berdekatan, akan tetapi pandangan mata pemuda Lie Cong Liang ditujukan kepada dara tambatan hatinya.

“Sudah hampir sembuh...!" sahut dara yang sedang merendam didalam air panas.

"Kurang ajar..!” geram dara manja Kwee In Hong dan dia mengerahkan tenaganya, mendorong pemuda Lie Cong Liang; akan tetapi sia-sia usahanya karena tidak bergerak tubuh pemuda yang didorongnya sampai akhirnya pemuda Lie Cong Liang yang lompat mundur, melepas pedangnya yang tadi 'menempel’ pedangnya Kwee In Hong.

Di lain pihak Nio Hoan Houw kelihatan menjadi bingung bercampur cemas, oleh karena dengan lewatnya sang waktu akan memungkinkan Tang Lan Hua menjadi sembuh  dan kalau dara yang cacad itu sudah sembuh, maka akan membahayakan pihaknya; karena Tang Lan Hua pasti akan  ikut bertempur.

Namun demikian; buat memasuki tempat sumber air panas itu, sudah tentu dia tidak berani lakukan. Dari itu segera dia berseru kepada Kwee In Hong:

“Kwee kouwnio, harap kau mundur, biar aku yang membinasakan penghianat itu...!"

"Apakah kau anggap aku tidak sanggup melawan dia..,?" sahut Kwee In Hong yang kelihatan  menjadi marah atau tersinggung terhadap sang paman yang dia anggap terlalu memandang dia ringan.

Nio Hoan Houw jadi bertambah bingung dan cemas. Dia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang memakai topi bulu penahan hawa dingin.