Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 19

Jilid 19

DENGAN gesit Tang Han Cin lompat menyamping sehingga bandering itu menghajar batu cadas didekat tempat tadi dia berdiri lalu Tang Han Cin mengirim sebuah tikaman memakai gerak tipu macan betina merebut mangsa, dan tikamannya itu mengarah bagian dada Kwee Tian Peng.

“Toako dan ngo tee, bersabarlah dan mari kita bicara lagi...!" seru Lie Bok Seng yang masin berusaha hendak mendamaikan.

Akan tetapi, waktu Tang Han Cin melihat goloknya hendak ditangkis memakai bandering, maka golok yang menikam itu betul meneruskan penyerangannya, sebaliknya golok yang lain yang menabas batang leher Kwee Tian Peng.

Dalam kagetnya, tidak sempat Kwee Tian  Peng  berkelit atau pun menangkis. Cukup gesit buat dia  menundukkan kepala, sehingga nyaris kepalanya itu putus, akan tetapi ikat rambutnya putus menjadi mangsa golok.

Pucat mukanya Kwee Tian Peng yang hampir kehilangan kepala, dan dia menjadi lebih pucat lagi waktu golok di tangan yang lain dari Tang Han Cin sedang meluncur hendak menikam, sehingga dia harus lompat mundur dengan rambut terurai lepas dari ikatannya.

“Jie ko, jangan....!” terdengar lagi teriak suara Lie Bok Seng, yang sekaligus telah memperingatkan Tang Han Cin dari suatu serangan bokongan yang sedang dilakukan oleh Nio  Hoan Eng.

Melihat keadaan gawat dan membahayakan bagi Kwee Tian Peng, ternyata Nio Hoan Eng  telah menyerang secara membokong memakai tiga batang pisau terbang yang dilakukan secara beruntun. Tang Han Cin menduga pada  suatu serangan gelap, waktu dia mendengar teriak suara Lie  Bok Seng. Dia sempat berkelit dari pisau pertama yang mengarah bagian punggung, lalu menangkis pisau kedua memakai goloknya, akan tetapi pisau ketiga mendahulukan gerakannya, sehingga berhasil membenam di dada  sebelah kiri!

Tang Han Cin sangat marah dengan perbuatan Nio Hoan Eng, sampai dia perdengarkan suara mengejek. Kedua tangannya memegang sepasang goloknya, dan dia tidak sempat mencabut pisau terbang yang membenam didadanya, sebab waktu itu Kwee Tian Peng sudah melakukan serangan lagi.

Kwee Tian Peng sempat melihat bahwa Tang  Han  Cin sudah terkena serangan pisaunya Nio Hoan Eng, dan dia tahu benar bahwa pisau itu mengandung bisa racun yang dapat melumpuhkan anggota badan. Dari itu dia sengaja melakukan penyerangan cepat cepat, supaya Tang Han Cin tidak mempunyai kesempatan buat mencabut pisau itu agar bisa racun dapat terus memasuki tubuhnya. Dengan gerak tipu macan hitam mengibas ekor, maka Tang Han Cin menangkis serangan Kwee  Tian Peng yang datangnya dari bagian belakangnya, lalu tubuhnya melesat mendekati Nio Hoan Eng yang dia serang dengan suatu tikaman.

Nio Hoan Eng tertawa menghina. Dia tahu  benar  bahwa bisa racun dari pisaunya akan segera perlihatkan hasil kerjanya. Dia bersenjata sepasang ruyung besi, dan dengan senjata ditangan kanannya, dia menangkis goloknya Tang Han Cin, akan tetapi diluar dugaannya tenaga Tang Han Cin sangat besar, mengakibatkan dia terjerumus beberapa langkah ke belakang, dan dia akan tewas sekiranya Tang Han Cin sempat menyerang dia untuk kedua kalinya.

Memang waktu itu Tang Han Cin sudah harus menghindar lagi dari serangannya Kwee Tian Peng, yang sengaja hendak menolong Nio Hoan Eng. Dan sehabis berkelit menghindar dari serangan Kwee Tian Peng, maka Tang Han Cin sudah mendekati Nio Hoan Eng  lagi yang langsung  dia serang dengan sebuah tikaman sambil dia lompat menerkam! Nio Hoan Eng masih gugup, dan tangannya masih terasa sakit, bekas dia menangkis serangan Tang Han Cin tadi, dari itu kali ini dia tidak berani menangkis, akan tetapi dia lompat mundur untuk menghindar, hanya serangan Tang Han Cin itu merupakan serangan beruntun, dan tikaman  goloknya bagaikan terus membayangi tubuh Nio Hoan Eng, sampai akhirnya pundak kiri Nio Hoan Eng terkena tikaman  golok, yang untungnya tidak membahayakan  nyawa,  sebab  Tang Han Cin harus lagi lagi menghindar dari serangan Kwee Tian Peng, yang datang menolong tepat pada waktunya.

Setelah berkelit dari serangan Kwee Tian Peng, maka Tang Han Cin melakukan serangan balasan, dan dia bahkan menyerang dengan hebat, mengirim tiga serangan secara beruntun dan ganti berganti golok, membikin Kwee Tian Peng harus mundur beberapa langkah kebelakang, sampai Nio Hoan Eng menyerang secara terpaksa, buat menolong sang toako dan serangan berikutnya dari Tang Han Cin kemudian beralih kepada orang yarg sudah melukai dia dengan sebatang pisau yang mengandung bisa racun.

'Ngo tee ! hentikan perlawananmu” teriak lagi  Lie  Bok Seng, yang sekarang kelihatan menjadi gugup.

“Sam tee apakah kau tidak mau membantu kami .. ?" Kwee Tian Peng ikut berteriak, sambil dia mengepung Tang Han Cin dalam pertempuran yang serba cepat itu.

Dipihak Tang Han Cin, dia  sekarang kelihatan menjadi gugup, oleh karena bisa racun yang sudah perlihatkan hasil kerjanya, disamping dia masih ragukan entah berapa lama lagi Lie Bok Seng dapat berpeluk tangan.  Dan  kalau  sampai Lie Bok Seng ikut  mengepung, maka benar benar tidak ada harapan lagi buat dia memenangkan pertempuran itu.

Akhirnya apa yang ditakuti oleh Tang Han Cin itu benar benar terjadi. Lie Bok Seng lompat  memasuki kancah pertempuran dengan pedang siap ditangan. Dia bentur golok Tang Han Cin yang sedang mengarah Nio Hoan Eng, dan kakinya pun ikut bekerja menendang lengan kiri Tang Han Cin, sehingga golok yang dipegangnya menjadi terlepas.

"Bodoh! seharusnya sudah sejak tadi kau lakukan ...!” kata Lie Bok Seng memperingatkan akan tetapi cukup perlahan suaranya, maksudnya kalau sejak tadi Tang Han Cin melepaskan salah satu goloknya, maka sebelah tangannya menjadi bebas buat mencabut pisau terbang yang membenam didadanya sehingga bisa racun tidak terlalu banyak yang memasuki tubuh Tang Han Cin.

Seperti orang yang baru menyadari, maka cepat  cepat Tang Han Cin mencabut pisau terbang yang membenam dibagian dadanya, dan selekas itu juga pisau itu dia lontarkan kearah Nio Hoan Eng, berhasil membenam di bagian perut Nio Hoan Eng.

Akan tetapi tepat disaat Nio Han Eng berhasil mencabut pisau yang membenam diperutnya maka saat itu pula tubuh Tang Han Cin terguling jatuh didekatnya, karena terkena libatan senjata bandering Kwee Tian Peng.

Meskipun dia sudah terjatuh, akan tetapi Tang Han Cin masih berusaha hendak membacok sepasang kaki Nio Hoan Eng sehingga Nio Hoan Eng harus lompat tinggi tinggi untuk menghindar; sedangkan pada waktu  itu sebuah bandering Kwee Tian Peng berhasil menghajar kepala Tang Han Cin yang belum sempat lompat bangun; sehingga mata bandering itu membenam dikepalanya dengan darah dan otak berhamburan keluar.

“Mari kita serbu rumahnya, dan kita cari pedang 'ceng liong kiam’ .. !” kata Kwee Tian Peng tanpa dia menghiraukan luka Nio Hoan Eng yang sudah mengalirkan darah.

Sejenak Lie Bok Seng berdiri ragu ragu di  dekat  mayat Tang Han Cin, lalu dia teringat dengan si bocah Tang Lan Hua yang ingin dia selamatkan, dari itu cepat cepat dia menyusul Kwee Tian Peng dan Nio Hoan Eng yang sudah lebih dulu menyusuri gunung Couw lay san.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa apa yang harus terjadi, pasti akan terjadi. Sekiranya Tang Lan Hua tidak bertemu dengan Lie Bok Seng, sudah tentu Tang Han  Cin pasti tidak terbinasa, atau sekiranya Wie Keng Siang berdua Liauw Pek Jin berhasil bertemu dengan Kwee Tian Peng bertiga yang sedang mendaki gunung Couw lay san, maka segala peristiwa akan menjadi berlainan.

Memang tidak bosan bosan Wie Keng Siang mencari jejak sisa sisa pemimpin berandal dari gunung Cin san.  Terkadang dia berkelana seorang diri; terkadang ia ditemani oleh  Liauw Pek Jin sahabatnya.

Demikian hari itu mereka melakukan perjalanan  berdua,  dan Liauw Pek Jin melihat rombongan Kwee Tian Peng yang mendaki gunung Couw lay san; akan tetapi mereka tidak berhasil menemukan rombongan Kwee-kang Tian Peng, yang sedang bertempur dilembah Couw-kz lay san yang memang jarang didatangi orang.

'Apakah Liauw heng tidak salah lihat...?" tanya Wie Keng Siang, karena hampir setengah harian mereka mencari cari diatas gunung Couw lay san yang tinggi dan luas itu. “Pasti tidak,..” sahut Liauw Pek Jin, akan tetapi keduanya lalu beristirahat, duduk mengawasi kesekitar tempat itu, sambil mereka makan bekal mereka yang berupa penganan kering.

“Bagian sana yang kita belum periksa.." akhirnya kata  Liauw Pek Jin, sambil dia menunjuk ke arah bagian selatan ditempat yang kelihatan banyak batu batu cadas yang besar besar,

Wie Keng Siang membuka tutup airnya dan dim inumnya isinya, sementara sepasang matanya ikut  mengawasi arah yang ditunjuk oleh sahabatnya, sampai kemudian mereka melangkahkan kaki mereka, setelah  merasa  cukup beristirahat.

Itulah lembah gunung Couw lay san,  tempat berlangsungnya pertempuran tadi, akan tetapi saat itu sudah sunyi tidak terdengar lagi bunyi suara sesuatu, hanya mayat Tan Han Cin yang masih membujur yang mereka temui.

"Inilah mayat ngo liong tauw Tang Han Cin .. " kata Wie Keng Siang, setelah dengan susah payah dia meneliti, sebab muka Tang Han Cin penuh darah bercampur otak yang pecah berhamburan.

“Kalau begitu, Kwee  Tian Peng bertiga telah berhasil menemui dia, entah dimana mereka sekarang ..." kata Liauw Pek Jin, yang teringat dengan pengakuan su liong tauw Cia Keng Jie dirumahnya si ular kepala dua Coa Kim Hin.

"Tentunya pedang 'ceng liong kiam’ sekarang berada pada mereka bertiga ..." kata lagi W ie Keng Siang dengan dugaannya.

"Marilah kita cari mereka, mudah mudahan mereka mengumpat diatas gunung ini ..” kata lagi Liauw Pek Jin yang mengajak temannya.

Keduanya lalu mengitari lagi lembah Couw lay san sampai kemudian mereka menemukan seorang anak perempuan kecil berdiri pingsan dengan sepasang kaki terendam didalam air selokan, dan sepasang tangan merangkul gili gili, akan tetapi sepasang kepalanya yang kecil masih memegang sepasang pedang Ceng liong Kiam!

"Dia pingsan terlalu lama menahan hawa dingin...” kata  Liauw Pek Jin yang sudah mengangkat dan merebahkan Tang Lan Hua yang bahkan dia berikan sebutir obat pil merah lalu dia berkata lagi: “Mungkin nyawanya dapat  kita selamatkan akan tetapi sepasang kakinya sudah lumpuh, karena darah dan daging yang membeku.”

”Inilah pedang Ceng liong kiam.” seru Wie Keng Siang terkejut, karena dia telah mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.

Sekilas Liauw Pek Jin memandang terpesona dengan sinar hijau yang keluar memantul kena cahaya sinar matahari, kemudian teruskan usahanya menolong Tang Lan Hua  yang dia rebahkan tengkurap lalu tangan kanan Liauw Pek Jin mengusap kebagian punggung karena dengan menyalurkan tenaga dalam, dia hendak memberikan hawa panas bagi Tang Lan Hua.

Lewat beberapa saat kemudian kelihatan Tang Lan Hua siuman dan membuka sepasang matanya. Hawa dingin masih dia rasakan didalam tubuhnya, meskipun waktu itu dia sudah berpeluh akibat disa lurkannya hawa panas kedalam tubuhnya oleh Liauw Pek Jin.

Bocah itu kemudian mampu membalik tubuhnya, bahkan mampu dia berduduk. Dia  terpesona berbareng terkejut melihat kehadiran dua orang laki laki yang sedang memegang sepasang pedang ceng liong kiam.

“Berikan kembali pedangku,,..!” seru Tang Lan Hua, sambil dia berusaha hendak bangun  berdiri dan hendak merebut sepasang pedang Ceng liong kiam  dari tangan Wie  Keng Siang, akan tetapi dia  tidak mampu melakukan niatnya, karena sepasang kakinya yang sudah lumpuh sebatas paha.

Dengan suara yang lemah lembut, Liauw Pek Jin membujuk dan merangkul, akan tetapi Tang Lan Hua meronta ronta hendak melepaskan diri, dan dia baru menjadi tenang setelah Wie Keng Siang menyarungkan lagi pedang Ceng liong kiam, dan pedang itu diserahkan kepada Tang Lan Hua. Tang Lan Hua merangkul erat erat sepasang pedang Ceng liong kiam, takut dia untuk terIepas lagi dari pegangannya, akan tetapi mau dia menjawab pertanyaan Liauw Pek Jin tentang nama dan tentang ayahnya.

Dua bersahabat Liauw  Pek Jin dan Wie Keng Siang kelihatan terkejut, ketika mereka mengetahui bahwa mereka sedang berhadapan dengan anaknya bekas ngo liong tauw Tang Han Cin. Hampir saja Wie Keng Siang bermaksud hendak membunuh Tang Lan Hua, karena menganggap semua keluarganya sudah binasa akibat perbuatan Tang  Han  Cin, akan tetapi dia sempat berpikir lebih panjang, sehingga tidak terjadi dia membinasakan Tang Lan Hua.

Sementara itu Liauw Pek Jin kemudian menggendong Tang Lan Hua dan mengajak sahabatnya buat kembali ketempat mayat Tang Han Cin yang masih rebah membujur dan sekali lagi Tang Lan Hua menjadi pingsan, karena tak hentinya dia menangis sambil dia merangkul tubuh ayahnya yang sudah kaku sedangkan Wie Keng Siang berdua  Liauw Pek Jin bersusah payah membikin makam buat Tang Han Cin.

Setelah memakamkan bekas ngo liong tauw Tang Han Cin, maka dengan menggendong Tang Lan Hua, kedua bersahabat itu mendatangi rumah almarhum Tang Han Cin, oleh karena Wie Keng Siang berpendapat bahwa mereka boleh mengambil semua harta benda milik Tang Han Cin, buat mereka gunakan untuk menolong rakyat jelata yang waktu itu  banyak menderita, dan didalam perjalanan itu Tang Lan Hua menceritakan awal kisah yang mengakibatkan ayahnya terbunuh yakni dimulai dengan datangnya si kelana yang dia kenal namanya sebagai paman Lie, sampai kemudian ayahnya mengajak dia mendatangi lembah Couw lay san dan dia diumpatkan didalam selokan  yang mengalirkan  air gunung sangat dingin, sehingga  mengakibatkan sepasang kakinya menjadi lumpuh. Adalah setelah mereka tiba ditempat yang mereka tuju, maka ketiga insan itu menjadi sangat terkejut, karena yang mereka temui adalah sisa rumah Tang Han Cin yang sudah dibakar habis, dengan beberapa tempat masih kelihatan asap yang mengepul disertai dengan sisa sisa api yang membara.

Yakin Liauw Pek Jin berdua Wie Keng Siang, bahwa semua kejadian ini adalah sebagai hasil perbuatan Lie Bok  Siang bertiga dengan Kwee Tian Peng dan Nio Hoan  Eng.  Akan tetapi apa daya yang mereka harus lakukan ? Ketika bekas pemimpin berandal dari gunung Cin san itu sudah tidak kelihatan bayangannya, dan dua bersahabat itu tidak mengetahui dimana tempat menetap Lie Bok Siang bertiga, juga Tang Lan Hua tidak mengetahui.

Akhirnya dua bersahabat itu meninggalkan bekas rumah almarhum Tang Han Cin, dan Liauw Pek Jin  tetap menggendong Tang Lan Hua, sedangkan sepasang pedang "ceng liong kiam” dibungkus rapi, supaya tidak terlihat orang disepanjang perjalanan; akan tetapi tetap dipegang oleh Tang Lan Hua yang tidak mau terpisah dengan  sepasang  pedang itu, yang dianggapnya sebagai benda peninggalan  dari ayahnya!

( ooooO dwkzXhend Ooooo )

SEJAK hari itu Tang Lan Hua menetap dirumahnya Liauw Pek Jin, belajar jalan memakai sepasang tongkat, sampai kemudian sanggup Tang Lan Hua belajar ilmu silat di bawah asuhan Liauw Pek Jin.

Ternyata Tang Lan Hua tumbuh menjadi seorang anak dara yang berhati keras bagaikan baja, pantang mundur dalam menghadapi berbagai kesukaran dalam menerima pelajaran, bahkan tak mau menerima bantuan dari lain orang, termasuk lima murid murid Liauw Pek Jin yang lainnya, dan dia lebih senang berada seorang diri. Adalah berkat semangat yang membara ditambah bakatnya yang istimewa, maka Tang Lan Hua berhasil memiliki ilmu s ilat yang mahir, serta ilmu ringan tubuh yang mencapai batas kemampuannya !

Selama mengikuti gurunya; tak sedikitpun juga Tan  Lan Hua melupakan dendamnya terhadap musuh musuh  yang telah membinasakan ayahnya, terutama terhadap si  'paman Lie' yang sangat dibencinya.

Adalah setelah dara yang cacad sepasang kakinya itu mendapat perkenan dari gurunya, maka dia melakukan perjalanan seorang diri, mencari musuh musuh yang sudah membinasakan ayahnya.

Air mata membasahi muka dara yang cacad sepasang kakinya itu, pada waktu dia hendak berpisah dengan gurunya. Didalam hati dia berjanji bahwa dia akan kembali sete lah tugasnya selesai, dan dia akan terus mendampingi gurunya, hidup menyendiri di lembah pasir putih.

Dara cacad yang sepasang kakinya lumpuh itu, mulai berkelana seorang diri. Dia berjalan memakai  bantuan sepasang tongkat yang bukan sembarang tongkat. Sepasang tongkatnya itu kelihatannya seperti dibikin dari bahan kayu yang mirip seperti dahan atau cabang pohon berukuran sebatas bagian bawah pundak  untuk menahan  tubuhnya. Akan tetapi, sepasang tongkat yang  kelihatannya  dari  kayu itu; sebenarnya dibikin dari bahan logam yang ampuh dan tahan uji, tidak mudah rusak meskipun kena benturan dengan senjata tajam, dan tongkat dari bahan logam itu sebenarnya merupakan sarung sarung pedang 'ceng liong kiam”.

Dengan demikian, secara sepintas lalu orang orang tidak akan menduga, bahwa dara cacad yang sepasang kakinya itu membekal senjata, bahkan tidak menduga bahwa dara yang cacad itu memiliki ilm u silat yang mahir. Dengan caranya yang sangat terlatih untuk menggunakan pedangnya itu dara Tang Lan Hua dapat melontarkan sarungnya keatas  udara, dan selagi sarung pedang itu melayang diudara bebas, maka pedang Ceng liong Kiam siap mencari mangsa, setelah itu sarung pedang akan jatuh tepat pada pedang yang tetap dipegang oleh Tang Lan Hua, sehingga pada detik berikutnya pedang pusaka itu akan berobah menjadi tongkat penolong dara cacad itu berjalan.

Baik kepada gurunya maupun kepada Wie Keng Siang yang dia sebut 'paman Wie', tak pernah Tang Lan Hua mengatakan bahwa waktu dia  masih kecil, pernah terjadi percakapan antara dia dengan si kelana paman Lie; dan secara tidak terpikir oleh Lie Bok Seng, waktu itu Lie Bok Seng memberitahukan alamatnya, disuatu kota kecil yang  disebut Bok kee tin, yang jauh terpisah dari letak lembah Pasir putih.

Untuk mencapai kota kecil itu, jelas suatu perjalanan jarak jauh yang harus ditempuh dengan jalan kaki  oleh  seorang dara yang bahkan cacad sepasang kakinya. Namun demikian Tang Lan Hua melakukannya dengan semangat yang membara.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu, masih muda usianya dan cantik mukanya, sehingga betapapun halnya, sudah tentu dia bakal banyak menemukan rintangan, bahkan hinaan yang sewaktu waktu dapat mematahkan semangatnya atau membikin dia menjadi rendah diri. Untuk pertama kalinya dia memasuki daerah rimba persilatan,  maka  kemarahannya sudah seringkali terjadi, melulu kalau orang mengejek  dia yang sepasang kakinya cacad, atau kemarahannya itu jadi meluap, karena ternyata dikalangan rimba persilatan  masih saja terdapat orang orang yang tidak bosan bosan mencari sepasang pedang Ceng liong kiam, bahkan masih ada orang orang yang menyelidiki atau mencari jejak Tang Han Cin, almarhum ayahnya Tang Lan Hua karena belum banyak yang mengetahui bahwa Tang Han Cin sudah binasa!

Langkah kaki dara Tang Lan Hua menuntun dia untuk lebih dahulu mendaki gunung Couw lay san. Dan dengan ilmu ringan tubuh yang sudah mencapai batas kemampuannya, dengan mudah Tang Lan Hua lompat dari satu tebing  ke tebing lain, untuk dia mencapai lembah Couw lay  san,  dan dara yang cacad sepasang kakinya itu lompat, adalah dengan menekan sepasang tongkatnya, lalu tubuhnya  melesat bagaikan terbang dan dia hinggap dengan tongkatnya yang siap untuk menahan tubuhnya !

Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa sukarnya dara yang cacad sepasang kakinya itu belajar dan me latih diri, dibawah asuhannya Tiauw Pek Jin yang memiliki  kesabaran tak terbatas!

Air mata dara yang cacad sepasang kakinya kembali membasahi mukanya dengan sangat derasnya, waktu berlutut didekat makam ayahnya, dan terbayang lagi olehnya betapa dahulu dia digendong oleh ayahnya waktu melintasi tebing tebing itu, dan dia tertawa bangga dengan kemampuan sang ayah, yang dia tak sangka hari itu maut telah merenggut nyawa ayahnya.

Dise lokan atau tempat saluran air mengalir, tempat dahulu dia umpatkan diri (atau diumpatkan), yang membawa akibat sepasang kakinya menjadi lumpuh, dia berhenti lalu dengan sebelah tangannya dia memegang air selokan itu yang tetap terasa sangat dingin sedingin belasan tahun yang lalu waktu tubuhnya terendam sebatas paha, dan yang tanpa  setahu sang ayah sebab keadaan sang ayah yang waktu itu sangat gugup.

Air se lokan yang dingin itu kemudian diusapkan pada mukanya, dan sejenak dia  berpikir,”kalau tidak terjadi dia diumpatkan didalam selokan itu, sudah tentu musuh musuh ayahnya akan menemukan dia, dan pedang Ceng liong kiam pasti sudah dirampas bahkan nyawanya tidak mungkin dapat dilindungi lagi, sebab pada waktu itu sudah pasti  dia  tidak akan rela atau membiarkan ayahnya dibinasakan orang, meskipun pada waktu itu dia masih merupakan seorang bocah yang tidak berdaya!"

Kemudian sekali lagi dara yang cacad sepasang kakinya itu mendatangi makam ayahnya, dan untuk yang kesekian kalinya dia menangis dan meratap, sambil dia merangkul gundukan tanah yang sudah hampir merata; lalu diambilnya segumpal tanah makam itu, yang dia bungkus dan anggap sebagai abu jenazah ayahnya dan bungkusan tanah itu dia simpan hati hati dibalik bajunya setelah itu baru dia pamitan dengan meninggalkan janji bahwa dia  akan membalas dendam ayahnya!

Pada suatu hari yang cerah Tang Lan Hua tiba disuatu kota kecil yang dinamakan Lan kwan, dan dikota yang kecil itu dia mencari sebuah rumah penginapan buat dia beristirahat dan bermalam.

Pada waktu makan diruang  tamu, dara yang cacad sepasang kakinya itu mendengar percakapan  sekelompok orang orang, dan sepintas lalu Tang Lan Hua mendengar, bahwa orang orang itu menyebut tentang sepasang pedang Ceng liong kiam.

Mereka yang sedang bercakap cakap itu terdiri dari tiga orang laki laki. Yang dua sudah cukup tua, sedangkan yang seorang lagi berupa seorang pemuda dengan muka penuh tanda bekas jerawat, dan mata pemuda itu justeru seringkali mencuri lihat kearah Tang Lan Hua yang duduk seorang diri, sementara pada wajah mukanya yang bopeng, terlihat suatu senyum bagaikan sedang mengejek.

Dari keterangan yang dia peroleh melalui seorang pelayan, maka Tang Lan Hua mengetahui bahwa kedua orang laki laki yang sudah cukup tua umurnya itu; memang menginap di rumah penginapan itu, sedangkan si  pemuda  katanya memang merupakan warga kota Lan kwan, akan tetapi tidak diketahui namanya oleh si pelayan itu. “Aku juga tidak perlu mengetahui siapa namanya.. ,!” kata Tang Lan Hua dengan muka bengis, membikin si pelayan itu terpesona heran dan gentar, padahal dia menyangka dara itu tertarik dengan si pemuda muka bopeng, karena pakaian pemuda itu kelihatan mewah dari bahan yang mahal, menandakan dia anak seorang yang berduit.

('biar jelek orangnya; asal duitnya banyak...') pelayan itu menggerutu di dalam hati, selagi dia pergi menjauhi tempat Tang Lan Hua, yang dianggap sebagai dara pemarah, padahal sepasang kakinya cacad.

Sehabis waktu makan, maka Tang Lan Hua tidak bosan bosan memperhatikan kedua laki laki yang sudah cukup tua umurnya itu, yang dia yakin pasti memiliki  kepandaian  ilmu silat yang mahir, sedangkan letak kamar mereka, sudah pasti pula diketahui oleh Tang Lan Hua.

Malam harinya, sepasang telinga Tang Lan Hua yang sudah terlatih baik, mendengar bunyi suara yang tidak wajar diatas genteng.

Dengan cepat Tang Lan Hua sudah berdiri didekat jendela kamarnya, dengan sepasang tongkatnya yang istimewa. Lalu dilain detik dia sudah berada di luar kamar, dan dia umpatkan diri dibagian tempat yang gelap sambil pandangan matanya yang tajam meneliti keadaan tempat disekitar dia  berada, sampai kemudian sempat dia melihat adanya dua bayangan orang yang sedang berlari diatas genteng rumah; menjauhi dari rumah penginapan itu.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu kemudian menekan ujung sebelah tongkatnya yang istimewa;  lalu tubuhnya melesat bagaikan terbang diudara, dan dia hinggap jauh  di atas genteng rumah seseorang, lalu sebelah tongkatnya yang lain menekan ringan diatas genteng rumah itu, dan tubuhnya melayang lagi sehingga dalam beberapa kali lompatan dia sudah berada tidak terpisah jauh dari kedua bayangan itu, akan tetapi dia sengaja berada tidak terlalu dekat, membiarkan kedua bayangan itu meneruskan lari mereka, ka- rena Tang Lan Hau bermaksud hendak terus membayangi.

Dua bayangan orang itu, ternyata adalah dua orang laki laki yang umurnya sudah cukup tua, yang memang sedang diperhatikan oleh Tang Lan Hua.

Mereka berlari lari tanpa mereka mengetahui adanya seseorang yang mengikuti mereka dengan  cara  yang istimewa, sampai dilain saat mereka berhenti didepan sebuah rumah yang besar dan luas. Sejenak mereka memperhatikan keadaan disekitar rumah itu, lalu mereka masuk dengan melompati tembok halaman yang cukup tinggi; dengan dibayangi terus oleh Tang Lan Hua.

Kedua orang orang itu kemudian berhenti didekat sebuah jendela kamar yang terbesar dari rumah itu, lalu yang seorang kelihatan memasuki sesuatu benda kedalam  kamar  melalui sela sela daun jendela yang mereka buka memakai ujung  golok, dan daun jendela itu mereka tutup lagi, setelah orang tadi memasuki sesuatu benda kebagian dalam kamar.

Dari tempat dia umpatkan diri dan dari tiupan angin malam, dara yang sepasang kakinya cacad itu sempat merasakan sesuatu bau yang cukup harum, membikin dia teringat dengan asap membikin orang pulas tertidur, yang  biasa  digunakan oleh maling maling kecil, atau 'bajingan bajingan tengik’ dalam melakukan kejahatannya, seperti yang gurunya pernah ceritakan.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak terpengaruh dengan bau asap penidur itu, sebab dia berada diudara yang terbuka. Demikian pula dengan kedua orang laki laki itu yang berdiri menunggu sejenak, dengan sikapnya yang waspada khawatir kalau ada orang yang  mengetahui  perbuatan mereka.

Setelah menunggu sesaat lamanya, maka dilihat oleh dara yang cacad sepasang kakinya itu, bahwa kedua orang2 itu memasuki kamar, sehingga Tang Lan Hua  lalu  mendekati daun jendela dan mengintai, dimana dilihatnya kedua orang laki laki itu sedang membungkus sejumlah uang perak dan perhiasan, setelah itu mereka bergegas hendak keluar lagi.

Kembali Tang Lan Hua umpatkan dirinya, akan tetapi dia segera mengejar waktu kedua laki laki itu lari, dan anehnya mereka lari tidak menuju ketempat mereka menginap, sebaliknya mereka mengambil arah keluar kota.

Oleh karena merasa heran, maka Tang Lan Hua terus membayangi kedua orang laki laki itu sampai mereka tiba diperbatasan kota, dan mereka lalu memasuki sebuah kuil.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu menjadi semakin merasa heran bagaimana mungkin kedua pencuri  itu  memasuki sebuah kuil, suatu tempat yang biasanya  dihuni oleh orang orang suci ? apakah para imam disitu merupakan komplotan si pencuri ?

Malam itu sinar bulan agak suram, sedangkan angin malam meniup perlahan, membikin pohon pohon didekat  kuil itu perdengarkan bunyi suara daun daun yang tertiup angin.

Disaat Tang Lan Hua ingin ikut  memasuki kuil  itu, mendadak telinganya yang tajam mendengar adanya suara orang sedang mendatangi, sehingga cepat cepat dia umpatkan dirinya lagi sampai kemudian dilihatnya yang sedang mendatangi itu adalah dua orang laki laki lain.

Kedua orang laki laki yang baru datang itu, juga merupakan orang orang yang aneh. Sebab yang seorang kelihatan berpakaian mewah seperti seorang hartawan, dan  dia berteman jalan dengan seorang pengemis. Keduanya merupakan orang orang yang sudah cukup tua usianya.

Kedua orang laki laki  yang baru datang itu hendak langsung memasuki kuil itu akan tetapi dari dalam kuil mendadak lompat keluar dua orang laki laki yang ternyata adalah kedua orang laki laki pencuri tadi. 'Coa kauwcu, mengapa kau terlalu mendesak kami...?" terdengar kata salah seorang dari kedua pencuri itu, kepada orang yang baru datang, yang sebenarnya adalah  si  ular kepala dua Coa Kim Hin, bersama rekannya yang setia  mengikuti dia, yakni Ciam kauw Ciam Sun Ho, si biang pengemis dari persekutuan Hek kin kay pang yang sudah berantakan.

“Kwan Hok dan Kwan  Seng ! aku perintahkan kalian mencari pedang Ceng liong kiam, akan tetapi rupanya kalian tidak menghiraukan perintahku, sebaliknya kalian merajalela melakukan pencurian dibeberapa kota, akan tetapi kalian tidak pernah membayar upeti! Apakah tidak wajib aku menghukum kalian.... ?" demikian terdengar perkataan si ular kepala dua Coa Kim Hin.

“Coa Kim Hin; aku sudah bosan dengan lagak kau ! lain orang boleh mengakui kau sebagai ketua, akan tetapi  aku tidak sudi...!” seru Kwan Hok, sedangkan yang bicara pertama kali tadi adalah Kwan Seng.

“Hmmm..." geram siular kepala dua Coa Kim Hin  yang sudah sangat marah, karena berbareng dengan itu dia telah mengeluarkan senjatanya yang sangat istimewa, yakni yang berupa alat penghitung  atau shui poa. Ukurannya cukup panjang karena terdiri dari 14 baris, dan setiap baris terisi 7 butir biji shui poa, sehingga alat penghitung itu mempunyai 98 butir biji shui poa, yang semuanya dibuat dari bahan logam yang tahan uji!

Waktu si ular kepala dua Coa Kim Hin mengguncangkan tangannya, maka terdengar bunyi suara biji biji shui poa itu yang saling bentur, akan tetapi Kwan Hok dan Kwan Seng rupanya sudah tidak gentar lagi dengan ketua dari kawanan perampok dan pencuri itu bahkan Kwan Hok sudah  menyiapkan goloknya, dan langsung menyerang dengan gerak tipu macan kumbang menerkam kijang. Si ular kepala dua Coa Kim Hin perdengarkan suara tawa mengejek, lalu dia bergerak dengan tipu 'jip mui hoan tiauw’ atau memasuki pintu sambil berlompat, yakni berbareng dengan lompatannya yang menyamping, maka senjatanya yang istimewa ikut bergerak menyerang kearah tiga bagian tubuh Kwan  Hok yang waktu  itu sedang lompat menerkam.

Kwan Hok sangat terkejut, waktu melihat adanya tiga sinar dari biji biji logam yang mengarah dia, akan tetapi dia tak kuasa menangkis ataupun berkelit, sehingga tiga biji biji shui poa itu membenam dibagian kepala,  tenggorokan  dan lehernya. Hanya pekik mengerikan yang sempat Kwan Hok perdengarkan, lalu tubuhnya rubuh binasa!

Kwan Seng menjadi sangat terkejut dan gentar, sebab dalam waktu sejurus saja kakaknya sudah rubuh binasa. Dia menjadi bingung dan gugup, apakah harus dia  menolong kakaknya, atau harus melakukan penyerangan terhadap si ular kepala dua Coa K im Hin. Akan tetapi, pada saat itu dari dalam kuil sudah lompat keluar lagi seorang laki laki lain,  yang ternyata adalah si pemuda muka bopeng, yang petang tadi berada ditempat penginapan waktu bersantap.

“Ha ha ha ! rupanya hari ini aku berjodoh dapat bertemu dengan kauwcu Coa Kim Hin, ..!” kata si pemuda  muka bopeng itu dengan nada suara mengejek.

"Hm ! lagakmu sangat menyebalkan, anak muda ...” kata si ular kepala dua Coa K im Hin, yang tidak senang melihat lagak dari s i pemuda muka bopeng itu.

“Coa Kim Hin ! kau telah membinasakan seorang pembantuku, untuk itu tiada maaf bagimu...!" seru si pemuda muka bopeng yang juga menjadi gusar, dan dia  bahkan langsung menikam memakai pedangnya.

Sekali lagi si ular kepala dua Coa Kim Hin berkelit, seperti yang dia lakukan terhadap serangan Kwan Hok tadi, dan meluncurlah tiga butir  biji biji shui poa  mencari sasaran pada si pemuda muka bopeng, akan tetapi kali ini Coa Kim Hin menjadi kecewa dan terkejut; sebab gerak menyerang si pemuda tadi hanya merupakan gerak menipu belaka sedangkan gerak yang sesungguhnya adalah  justeru menerkam kearah tempat Coa Kim Hin lompat berkelit!

Jelas bahwa perbuatan si pemuda muka bopeng itu adalah perbuatan seorang yang curang, sebab pada waktu si ular kepala dua Coa Kim Hin diserang oleh Kwan Hok tadi,  diam diam si pemuda muka bopeng itu mengintai dari dalam kuil, sehingga dia sudah mengira ngira arah Coa Kim Hin bakal lompat berkelit.

Dalam kagetnya, si ular kepala dua Coa Kim Hin tidak sempat lagi lompat berkelit; akan tetapi sempat dia menangkis memakai senjatanya yang istimewa membikin pedang dan alat shui poa beradu dengan mengeluarkan lelatu anak api sedang sipemuda muka bopeng yang tidak takut bahwa pedangnya akan cacad, bahkan telah melakukan penyerangan secara bergelombang sampai 18 kali serangan yang semuanya harus ditangkis oleh Coa Kim Hin memakai senjatanya yang istimewa yang selalu perdengarkan bunyi suara gemercik dari biji biji shui poa yang saling terbentur, disamping bunyi suara kedua senjata mereka yang saling beradu itu.

Dilain pihak, Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho sampai perdengarkan suara pujian karena gerak tubuh yang sangat gesit dan serangan serangan yang berbahaya, yang dilakukan oleh pemuda muka bopeng itu. Dia masih mengawasi terpesona waktu tiba tiba dilihatnya Kwan Seng hendak membokong dengan serangan senjata piao.

Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho membentak dengan suara menyeramkan; membikin Kwan Seng batal  menyerang  Coa Kim Hin, sebaliknya tiga batang piao yang sudah dia gunakan buat menyerang si biang pengemis !

Adanya si ular kepala dua Coa Kim Hin dan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho di kota Lan kwan, adalah dalam rangka perjalanan mereka yang tetap hendak menemukan pedang Ceng liong kiam.

Sejak mereka tidak berhasil merampas harta dari pihak berandal diatas gunung Cin san, karena telah  didahulukan oleh pihak tentara penjajah, maka usaha mereka dialihkan untuk mencari sepasang pedang Ceng liong kiam.

Sebagai kauwcu atau ketua dari kawanan perampok atau kaum rimba persilatan  golongan hitam, maka disamping melakukan perjalanan bersama Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho; telah pula Coa Kim Hin memerintahkan para anggotanya untuk bantu mencari sepasang pedang pusaka itu, sehingga semakin ramai orang orang rimba persilatan yang membicarakan persoalan sepasang pedang pusaka itu.

Diantara mereka yang menerima perintah itu, terdapat pula dua bersaudara Kwan Hok dan Kwan Seng. Kedua bersaudara ini terkenal sebagai maling maling tunggal yang selalu bekerja berdua, tanpa memiliki anak buah, dan kedua bersaudara ini justeru yang sering bertemu dengan si ular kepala  dua  Coa Kim Hin, sehingga dua bersaudara ini yang paling sering mendapat teguran sehingga mereka merasa sangat didesak, sampai mereka mencari bantuan pada si pemuda muka bopeng yang bahkan mereka anggap sebagai atasan mereka, yang selalu membagi hasil barang barang yang mereka curi.

Pemuda muka bopeng itu ternyata sangat lihay  ilmu silatnya, karena dia adalah sa lah seorang muridnya Leng hoat taysu dari puncak gunung Hong san, dan nama pemuda itu adalah Nio Beng Hui, putera tunggal dari Nio Hoan Houw yang menjadi adik kandung dari Nio Hoan Eng; bekas jie liong tauw diatas gunung Cin san!

Dipihak Kwan Seng, sudah tentu dia bukan merupakan lawan yang kuat buat C iam Kauw s in kay Ciam Sun Ho dan si biang pengemis ini langsung me lakukan serangan balasan, setelah dia berhasil menghindar dari serangan tiga  batang piao tadi. Hanya dalam beberapa jurus saja, si maling Kwan Seng dapat bertahan dari serangan yang dilakukan oleh si biang pengemis Ciam Sun Ho, lalu punggungnya kena hantaman, sampai dia rubuh dengan mulut muntahkan darah hidup.

Si biang pengemis Ciam Sun Ho jadi tertawa  mengejek, akan tetapi mendadak dia menjadi terkejut, sebab melihat kauwcu Coa Kim Hin didesak oleh lawannya dan terancam nyawanya.

Sekali lagi si biang pengemis Ciam Sun Ho perdengarkan suara yang menyeramkan, lalu tubuhnya lompat memasuki kancah pertempuran, dan pentungannya menghantam  kepala si muka bopeng, dengan gerak tipu 'tay san ap teng' atau gunung Tay san menindih.

Dari Kwan Hok berdua Kwan  Seng, memang sudah diketahui oleh Nio Beng Hui, bahwa si pengemis ini bukan merupakan sembarang pengemis, akan tetapi dia adalah si biang pengemis Ciam Sun Ho yang terkenal lihay memiliki tenaga besar dan berwatak bengis kejam!

Kemudian sempat juga Nio Beng Hui menyaksikan bahwa s i biang pengem is Ciam Sun Ho dalam waktu yang singkat sudah dapat mengalahkan Kwan Seng, sehingga pemuda ini sengaja mendesak lawannya, supaya cepat cepat dia dapat mengalahkan Coa Kim Hin, sebab kalau  dia   tidak  bekerja cepat maka akan terjadi dia bakal dikepung oleh dua lawan yang kuat!

Akan tetapi ternyata tidak mudah buat pemuda Nio Beng Hui lekas lekas mengalahkan si ular kepala dua Coa Kim Hin, yang juga mahir ilmu silatnya, dan si  biang  pengemis  Ciam Sun Ho benar benar sudah menyerang seperti yang dia  khawatirkan.

Sengaja pemuda Nio Beng Hui tidak mau  menangkis tongkat si biang pengemis Ciam Sun Ho, yang dia ketahui bertenaga besar. Dia berkelit menghindar dan sekaligus tubuhnya  terpisah dari kedua lawannya  akan tetapi kesempatan ini justru digunakan oleh si ular kepala dua  Coa Kim Hin  buat  dia melepas tiga butir biji biji shui poa yang meluncur dengan pesat; membikin sekali lagi Nio Beng Hui harus lompat berkelit dengan tubuh jungkir balik diatas udara bebas, dan tubuhnya itu terus mendekati si biang pengemis Ciam Sun Ho, yang dia serang dengan suatu tabasan memakai pedangnya.

Si biang pengemis Ciam Sun Ho tertawa mengejek, lalu dia mengangkat pentungannya buat dia  menangkis  pedangnya Nio Beng Hui, sedangkan pemuda itu tidak  berdaya menghindar dari benturan senjata mereka, sehingga  pemuda itu buru buru mengerahkan tenaga dalamnya, buat dia bertahan dan menggempur.

Suatu benturan yang berat segera terjadi pada senjata mereka itu. Tubuh Nio Beng Hui yang masih berada di udara bebas terlempar balik, sedangkan tubuh si biang pengemis Ciam Sun Ho sempoyongan terjerumus menyamping, akan tetapi tidak sampai dia terjatuh.

Pemuda Nio Beng Hui tiba di bumi, dan berhasil dia mempertahankan diri buat t idak terjatuh, akan tetapi dia telah diserang lagi oleh si ular kepala dua Coa Kim Hin memakai tiga butir biji biji shui pao.

Pemuda Nio Beng Hui tidak sempat lompat menghindar dari serangan senjata istimewa itu, oleh karenanya dia  putar pedangnya, memainkan jurus dari 'angin utara meniup daun  Liu’ mengakibatkan biji biji shui poa  itu  terpental menyeleweng, lalu dia terkam si ular kepala dua Coa Kim Hin dengan geraknya seperti yang pertama kali dia serang musuh itu, sehingga sia-sia Coa Kim Hin lompat menyamping, dan sia-sia juga tiga butir biji biji shui poa yang dia lepaskan lagi waktu dia diterkam dengan gerak tipuan, sebaliknya lagi  lagi  dia harus menghadapi Nio Beng Hui dalam suatu pertempuran yang rapat. Sekali lagi si biang pengemis  Ciam Sun  Ho hendak membantu kawannya, akan tetapi secara mendadak dia batalkan niatnya sedangkan pandangan matanya terpesona mengawasi kesuatu arah.

Juga orang orang yang sedang bertempur, secara  mendadak telah saling memisah diri, dan  ikut  mengawasi heran kearah yang dilihat oleh si biang pengemis Ciam  Sun Ho. karena diarah itu mereka melihat  datangnya seorang perempuan muda yang sepasang kakinya lumpuh,  yang bergerak mendatangi dengan perlahan  memakai bantuan sepasang tongkatnya. Sekiranya mereka menemukan seorang dara cacad yang berjalan diwaktu siang hari, dan  ditempat yang ramai, sudah tentu mereka tidak akan terpesona heran, akan tetapi apa gerangan maksud dara cacad ini yang sengaja mendekati tempat pertempuran yang sedang terjadi ditengah malam dan ditempat yang sunyi?

Dipihak si pemuda Nio Beng Hui dia justeru lebih merasa heran, karena dia mengetahui bahwa dara cacad itu menginap di tempat penginapan didalam kota Lan kwan, ditempat yang sama dengan Kwan Hok dan Kwan Seng menginap,  akan tetapi mengapa di tengah malam buta dara  cacad itu berada di tempat sunyi yang jauhnya lebih dari 5 lie terpisah dari tempat penginapan.

Akhirnya terdengar suara tawa si ular kepala dua Coa Kim Hin. Dia melihat dengan pandangan mata mengejek terhadap dara yang cacad sepasang kakinya itu akan tetapi  dia terpesona dengan wajah muka yang cantik menarik, mendatangkan niatnya yang tidak baik.

Dilain pihak pandangan mata Tang Lan Hua merah membara waktu melihat lagak si ular kepala dua Coa Kim Hin. Dia hentikan langkah kakinya waktu dia merasa sudah cukup dekat berada diantara ketiga orang laki laki itu, lalu dengan suara dingin dia berkata: “Mengapa dia cekcok diantara kalian sendiri? bukankah kalian sedang mencari ini...?”

Sengaja dara yang cacad sepasang kakinya ini tidak menunggu jawaban dari ketiga orang laki laki itu dan sebelah tangannya bergerak sangat cepat, lalu sebelah tongkatnya melayang tinggi keangkasa, akan tetapi tongkatnya yang istimewa itu, bagaikan  merupakan sarung tongkat  yang terbang keatas udara, dan sebagai  gantinya  ditangan kanannya dia memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar hijau terkena pantulan sinar bulan yang buram.

"ltulah pedang Ceng liong kiam...!” seru si ular kepala dua Coa Kim Hin, berbareng dengan suara si biang pengem is Ciam Sun Ho, yang kemudian disusul oleh suara pemuda Nio Beng Hui, akan tetapi secepat itu juga sarung tongkat yang terbang tadi, telah kembali ketempatnya, dan sepasang tangan Tang Lan Hua kelihatan seolah olah dia  memegang sepasang tongkat seperti semula dia datang.

Itulah hasil suatu latihan yang cermat dan cukup memakan waktu dan kesabaran; sehingga Tang Lan Hua enak saja meluncurkan sarung tongkatnya, atau lebih tepat disebut sarung pedangnya, untuk kemudian sarung pedang itu meluncur balik dan kembali ketempatnya, sedangkan soal jangka waktu yang diperlukan buat mengeluarkan sarung pedang itu dapat dikendalikan dengan tinggi atau rendahnya sarung pedang itu dilontarkan ke atas udara, dan dapat pula dilakukan dengan seenaknya, ke bagian atau  kearah  mana saja sarung pedang itu hendak dia lontarkan, akan tetapi akan tetap kembaIi pada tempatnya,  semacam  senjata 'boomerang'.

Konon sehabis mengeluarkan suara mereka, maka ketiga orang laki laki itu bagaikan saling berlomba, serentak lompat menerkam Tang Lan Hua, hendak merebut sepasang pedang Ceng liong kiam, akan tetapi sebagai akibatnya mereka bertiga saling bentur, sedangkan Tang Lan Hua sudah  menghilang dari tempatnya.

“Bajingan tengik ! aku ada disini.. !" seru dara yang cacad sepasang kakinya itu, perlahan suaranya tetapi  terdengar tegas oleh ketiga orang laki laki itu yang serentak sudah memutar tubuh, untuk melihat tempat Tang Lan Hua berdiri.

Dalam keadaan yang tenang dan dapat menggunakan pikiran yang sehat, sudah tentu ketiga orang laki laki itu akan menyadari bahwa mereka sedang  berhadapan  dengan seorang dara yang tinggi  ilm unya akan tetapi waktu itu mereka sedang loba atau tamak hendak merebut  pedang Ceng liong kiam dan bagaikan berlomba sekali lagi mereka menerkam, akan tetapi sekali lagi mereka kehilangan  dara yang cacad sepasang kakinya itu, bahkan yang hebat, sambil melayang menghindar, dara yang sakti itu sempat memukul punggung s i ular kepala dua Coa Kim Hin memakai tongkatnya yang istimewa, sehingga si ular kepala dua  Coa Kim Hin tersungkur dan terjatuh dengan mulut mengeluarkan darah.

Baru sekarang pemuda Nio Beng Hui sadar bahwa mereka bukan berhadapan dengan sembarang dara cacad, sebab dalam pertempuran melawan Coa Kim Hin tadi, pemuda ini sudah mengetahui kemampuan lawannya, akan tetapi dengan mudah Coa Kim Hin itu kena dipukul hingga  jatuh  dan berdarah oleh seorang dara yang cacad sepasang kakinya. Kemudian pikiran yang jernih mengingatkan dia akan kata pamannya, yaitu Nio Hoan Eng, yang mengatakan  bahwa bekas ngo liong tauw Tang Han Cin mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Tang Lan Hua yang kalau ada, usianya sedikit lebih muda dari umur dia, sebab dahulu datangnya Tang Lan Hua hilang tidak ditemukan!

"Awas! dia adalah anaknya bekas ngo liong tauw Tang Han Cin .. !" akhirnya teriak pemuda muka bopeng itu dan dia berhasil membikin si biang pengemis Ciam Sun Ho dan Coa Kim Hin tersentak bagaikan diantup binatang serangga. Dipihak dara yang cacad sepasang kakinya itu, dia juga tersentak kaget waktu si pemuda muka bopeng itu mengetahui, bahwa dia adalah anaknya bekas ngo liong tauw Tang Han Cin. Kemarahannya meluap akan tetapi ingin benar dia mengetahui siapa gerangan si pemuda bermuka bopeng itu, dan darimana pemuda itu mengetahui tentang dia.

Akan tetapi waktu itu Tang Lan Hua tidak sempat berpikir lama, sebab dengan suatu tikaman pedang maka Nio Beng Hui sudah mendahulukan menyerang menggunakan  gerak tipu macan kumbang menerkam kijang.

Serangan Nio Beng Hui itu bukan lagi berupa serangan menipu seperti yang dia  lakukan terhadap Coa Kim Hin, sebaliknya dia menyerang sungguh sungguh bahkan dengan mengerahkan tenaga dalam sebab dia yakin dara cacad itu memiliki tenaga yang besar sebab dengan sekali pukul, dara cacad itu berhasil melukai atau membikin Coa  Kim  Hin terjatuh!

Tang Lan Hua perdengarkan suara mengejek waktu dia melihat serangan pemuda muka bopeng itu. Tubuhnya tidak bergerak, karena tidak ada maksudnya untuk berkelit menghindar sebaliknya dengan tongkatnya yang sebelah  kiri dia menangkis tikaman pedang Nio Beng Hui,  membikin pedang pemuda itu terlempar jauh; lepas dari pegangan, lalu dengan tongkat sebelah kanan, maka dara yang cacad sepasang kakinya itu memukul tepat pada iga pemuda mata bopeng itu, yang jadi terlempar jauh, sambil dari mulutnya mengeluarkan darah.

Gerak yang dilakukan  oleh dara yang cacad sepasang kakinya itu sangar cepat, sukar dilihat oleh pandangan mata seseorang, sehingga sia-sia Nio Beng Hui yang terkenal gesit dan lincah, karena tidak mampu dia  menghindar dari dua gerakan saling susul dari seorang insan yang cacad seperti Tang Lan Hua itu. Sementara itu Tang Lan Hua juga tidak menghentikan gerakannya, sebab si biang pengemis Ciam Sun Ho sudah ikut menyerang memakai tongkatnya yang dikenal sebagai tongkat komando buat mengusir anjing2 geladak dikalangan orang gelandangan atau Hek kin kay pang dulu.

Tenaga si biang pengem is Ciam Sun Ho itu sangat dahsyat, menyebabkan hampir saja tubuh Tang Lan Hua terlempar kalau dia tidak lekas lekas mengikuti arah tenaga pukulan si biang pengemis itu; sehingga dengan ringan tubuhnya melayang di angkasa dan masih sempat dia memukul punggung Ciam kay sin kay Ciam Sun Ho sampai si biang pengemis itu menggeram seperti seekor anjing yang kena dipentung, sedangkan tubuh Tang Lan Hua yang sedang melayang mendapat arah dekat pemuda Nio Beng Hui, yang waktu itu sedang berusaha hendak bangun berdiri atan tetapi sekali lagi pemuda muka bopeng itu terlempar jauh terkena pukulan tongkat dara yang cacad sepasang kakinya itu.

Dengan masih perdengarkan suara geram, si biang pengemis Ciam Sun Ho kembali lompat menyerang memakai tongkatnya, dan kali ini sebelah tangan kanan Tang Lan Hua bergerak keatas lalu meluncur pedang Ceng liong  kiam  yang dia gunakan untuk menangkis tongkat si biang pengem is Ciam Sun Ho membikin tongkat si biang pengemis itu putus jadi - dua, dan waktu sekali lagi tangan Tang Lan Hua bergerak, maka pedang Ceng liong kiam menabas tubuh Ciam Sun Ho mengakibatkan tubuh si biang pengem is itu putus menjadi dua pada bagian pinggangnya sedangkan pada detik lain Tang Lan Hua sudah berdiri dengan sepasang pedang Ceng liong kiam yang sudah berobah menjadi sepasang tongkatnya yang istimewa.

Sejenak si ular kepala dua  Coa Kim Hin meramkan sepasang matanya, waktu  dia melihat  dara yang cacad sepasang kakinya itu menabas putus tubuh rekan seperjalanannya atau si biang pengem is Ciam Sun Ho, setelah itu sebelah tangannya yang memegang senjatanya yang istimewa bergerak, dan meluncurlah semua sisa biji biji shui poa mencari sasaran akan tetapi tubuh Tang Lan Hua cepat 'menghilang' dan tahu tahu dia sudah berdiri  dibagian belakang si ular kepala dua Coa Kim Hin.

Si ular kepala dua Coa Kim Hin cepat cepat memutar tubuhnya, karena merasa lawannya berada dibagian belakangnya, dan geraknya itu bertepatan dengan gerak sebelah tangan Tang Lan Hua yang sedang melepas sarung pedang yang lalu sebatang pedang Ceng liong kiam itu membenam ditubuh si ular kepala dua Coa  Kim  Hin,  yang tewas seketika dengan mata mendelik !

Dengan langkah kaki yang memakai bantuan sepasang tongkatnya yang istimewa, maka Tang Lan Hua mendekati pemuda Nio Beng Hui, yang waktu itu sedang bersusah-payah hendak bangun berdiri dengan sepasang tangan masih meraba bumi, sehingga dengan caranya itu, seolah olah si pemuda muka bopeng itu sedang berlutut dihadapan Tang  Lan Hua dan dara yang cacad sepasang kakinya itu kemudian dengan suara bengis mengancam pemuda itu, sampai dia berhasil mengetahui pemuda itu bernama Nio Beng Hui, dan berhasil juga dia mengetahui nama dan alamatnya Nio Hoan Houw (ayahnya Nio Beng Hui) dan alamatnya Nio Beng Eng (pamannya Nio Beng Hui) atau bekas jie liong tauw diatas gunung Cin san.

Dan menyertai suara tawa bernada dingin dan mengejek, maka Tang Lan Hua menyentik sebelah tongkatnya, memukul bagian bawah mulut pemuda Nio Beng Hui, membikin pemuda itu berteriak mengerikan; dan dia  rubuh telentang dengan mulut penuh mengeluarkan darah. 

( ooooo dwkzXhend ooooo ) BOK KEE TlN adalah sebuah kota kecil, akan tetapi cukup banyak penduduknya lagi pula ramai dengan arus lalu lintas!

Dikota kecil ini Lie Bok Seng, bekas sam liong tauw  kawanan perampok diatas gunung Cin san, tinggal menetap membina keluarganya, yang terdiri dari isterinya dan  dua orang anak laki laki, masing masing bernama Lie Cong  Han dan Lie Cong Liang.

Lie Bok Seng membuka rumah perguruan  ilmu  silat sehingga didalam rumahnya yang sangat besar dan  luas, setiap hari banyak para pemuda yang berlatih  ilmu  silat  dan Lie Bok Seng seringkali menerima kunjungan sahabat atau kenalannya, yang semuanya merupakan orang orang yang mahir ilmu silatnya. Dan puteranya Lie Bok Seng merupakan pemuda pemuda yang perkasa dan tampan.

Lie Cong Han, putera pertama sudah ditunangkan dengan Kwee In Hong, puteri tunggal dari Kwee Tiang Peng yang manja, cantik dan mahir iImu silatnya.

Pagi itu, Lie Cong Liang sedang keliling kota menghibur diri, padahal dirumahnya sedang banyak kedatangan  para  tamu dari jauh, yang sengaja datang dan menginap, menjelang hari jadi ayahnya yang memang tiap tahun dirayakan secara meriah.

Disuatu daerah perdagangan atau pertokoan, sejenak Lie Cong Liang memandang terpesona kepada seorang dara cacad yang lumpuh sepasang kakinya.

Dara cacad itu memiliki wajah muka yang cantik manis, dan Lie Cong Liang memandang iba, melihat  dara  cacad  itu berjalan perlahan dengan bantuan sepasang tongkatnya, padahal dari dandanan dara cacad itu Lie Cong Liang merasa yakin bahwa dara cacad itu te lah menempuh suatu perjalanan jarak jauh.

Waktu dara yang cacad sepasang kakinya itu hendak memasuki sebuah kedai nasi beberapa orang pemuda dengan sikap dan lagak kurang ajar telah mengejek dan hendak merintangi jalan dara yang cacad itu.

Sikap jantan pemuda Lie Cong Liang bangkit waktu dia menyaksikan kejadian itu. Segera dia mendekat dan memaki, sedangkan para pemuda itu yang memang sudah mengenal dengan Lie Cong Liang, segera mengucap kata kata maaf dan menjauhkan diri.

“Kouwnio, silahkan ..." kata Lie Cong Liang dengan suara lembut sopan, dan memberikan jalan buat dara cacad itu yang hendak memasuki kedai nasi.

Sejenak dara yang cacad sepasang kakinya itu mengawasi pemuda Lie Cong Liang dengan sinar matanya yang tajam, sementara Lie Cong Liang kelihatan bersenyum ramah.

Akan tetapi, dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak membalas senyum pemuda yang belum dikenalnya itu dan dia hanya sekedar mengucap kata kata terima kasih, setelah itu dengan langkah kaki perlahan Tang Lan Hua atau dara yang cacad sepasang kakinya itu memasuki kedai nasi itu.

Dipihak pemuda Lie Cong Liang, dia terus mengawasi Tang Lan Hua yang sudah memilih tempat duduk  dan sedang memesan makanan pada seorang pelayan.

Bagaikan ada sesuatu yang memerintahkan, maka pemuda Lie Cong Liang akhirnya melangkah ikut memasuki kedai nasi itu, dan dia mendekati meja tempat Tang Lan Hua:

"Kouwnio ...” pemuda ini bersuara menyapa, tetap dengan suara lembut sopan.

Dara yang cacad sepasang kakinya menunda niatnya yang hendak minum air teh.

Dia mengawasi dengan sinar matanya yang tajam, namun yang sekilas kelihatan bersinar hampa, dan dia tidak bersuara mengucap apa apa,  sehingga perbuatannya itu sejenak membikin pemuda Lie Cong Liang menjadi seperti gugup. “Kouwnio. apakah kau..” pemuda itu berusaha bicara lagi; akan tetapi rasa gugupnya membikin dia  tidak mampu menyelesaikan kalimat perkataannya.

"Aku,.. kenapa ...?” tanya dara yang cacad sepasang  kakinya itu perlahan suaranya akan tetapi terdengar merdu di telinga Lie Cong Liang, membikin pemuda itu  jadi  berbesar hati, dan dia berkata lagi:

“Apakah aku boleh duduk disini ...?”

Dara yang cacad sepasang kakinya itu tetap mengawasi pemuda yang belum dikenalnya. Permintaan pemuda itu agak mengherankan hatinya akan tetapi dia tidak mempunyai rasa curiga kalau Lie Cong Liang akan berlaku kurang ajar, sebab dilihat dari sikap dan dari pandangan mata pemuda itu kelihatannya dia bermaksud baik.

"Silahkan „ ,” akhirnya Tang Lan Hua berkata tanpa ragu ragu.

Pemuda Lie Cong Liang kelihatan girang.  Dia menarik sebuah kursi, lalu duduk menghadapi dara yang cacad sepasang kakinya itu sambil sebelah tangannya  menggeser atau memperbaiki letak sepasang tongkat Tang Lan Hua yang bersandar pada peti meja.

Hampir saja Tang Lan Hua memegang lengan pemuda itu, karena sekilas dia menduga Lie Cong Liang hendak menjauhi tongkatnya, akan tetapi akhirnya dia jadi tersenyum, karena merasa dugaannya salah. Suatu senyum buat dirinya sendiri, akan tetapi pemuda Lie Cong Liang justeru membalas senyumnya itu, karena menduga gadis itu bersenyum kepada dirinya.

Waktu kemudian seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesan oleh Tang Lan Hua, maka Lie Cong Liang memesan arak, sebab dia tidak bermaksud makan. “Kouwnio tentu bukan penduduk sini .. “ kata Lie  Cong Liang sehabis dia mengucap terima kasih waktu dara yang cacad sepasang kakinya itu menawarkan ikut makan, dan pemuda itu mempersilakan Tang Lan Hua makan sendirian.

“Bukan....” sahut Tang Lan Hua singkat, dan dia mulai menikmati santapannya.

“Kalau kouwnio tidak keberatan, aku mengundang kau datang kerumahku, kebenaran hari ini  banyak  tamu berkumpul, karena dua  hari lagi adalah hari ulang tahun ayahku.. " pemuda Lie Cong Liang berkata lagi, dan menyertai seberkas senyum yang memperlihatkan sikap bersahabat.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu  menunda  makan. Dia mengawasi lagi pemuda yang duduk dihadapannya; dan  dia merasa heran dengan undangan pemuda yang tidak atau belum dikenalnya itu, sementara dilihatnya pemuda itu tetap bersenyum. Tetapi merupakan senyum ramah, senyum yang menyatakan ingin bersahabat.

“Siapa nama ayahmu..?” akhirnya tanya dara yang cacad sepasang kakinya itu.

“Lie Bok Seng,.."

Tetap lembut perlahan Lie Cong Liang mengucapkan nama ayahnya, akan tetapi Tang Lan Hua kelihatan begitu terkejut, sehingga dia bahkan menempatkan mangkok nasinya diatas meja, sementara pandangan sinar matanya berobah menjadi seperti menyala, bagaikan memperlihatkan sinar mata permusuhan, padahal semula Tang Lan Hua sudah mulai menyukai pemuda Lie Cong Liang, yang dia anggap agak mirip dengan Coa Giok Seng, kakak seperguruannya yang banyak memberikan perhatian dan rasa kasih sayang  terhadap dirinya.