Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 18

Jilid 18

TlO SIN HOK, seorang wakil dari Ciam kauw sinkay  Ciam Sun Ho, menyambut kedatangan kedua  tamunya.  Sikap  Tio Sin Hok kelihatan sangat memandang hina waktu W ie Keng Siang perkenalkan diri dan nama sahabatnya. Hampir terjadi pertempuran, kalau tidak Liauw Pek Jin bersikap sabar, sampai kemudian mereka mengetahui bahwa Ciam-kauw sinkay Ciam Sun Ho sedang bepergian kedusun Boe kee cung.

Dua bersahabat ini kemudian menyusul si biang pengemis Ciam Sun Ho, sementara di sepanjang perjalanan itu, tak sudahnya D-Wie Keng Siang memaki Tio Sin Hok, yang dia anggap sangat memandang hina, bersikap sebagai seorang pengemis yang sangat sombong. Sebaliknya Liauw Pek Jin hanya tertawa dan mengatakan bahwa dengan perlihatkan sikapnya itu, Tio Sin Hok justeru seolah olah sudah mengakui bahwa pihak Hek kin kay pang yang melakukan penjegalan terhadap kereta piauw, akan tetapi pihak ketiga yang berhasil merampasnya, sehingga semua anggota Hek kin kay pang  justru sedang merasa penasaran dan marah marah dengan urusan perampasan kereta piauw itu.

“Apakah mungkin pihak Boe kee cung itu yang telah bertindak sebagai pihak ketiga, sehingga Ciam kauw sinkay Ciam Sun Ho mengunjungi dusun itu …?" tanya Wie  Keng Siang.

"Kita lihat nanti …” sahut Liauw Pek Jin dan keduanya lalu meneruskan perjalanan mereka menuju ke dusun Boe kee cung, dan didusun itu diketahui oleh mereka tentang adanya tokoh kaum rimba persilatan yang bernama Coa Kim  Hin,  si ular kepala dua.

Dengan istilah ular kepala dua  dengan mudah orang mendapat kesan bahwa Coa Kim Hin berhati belang dan bermuka dua. Artinya Coa Kim Hin itu adalah manusia yang sukar dipercaya dan pandai menjilat atau "mengekor” demi mencari keuntungan buat diri sendiri.

Akan tetapi meskipun banyak orang yang mengetahui bahwa Coa Kim Hin ini bagaikan ular kepala dua namun orang orang sangat banyak yang kesudian mengikat tali persahabatan dengan dia, disamping dia disegani karena memiliki ilmu kepandaian yang tinggi,  tidak  mudah terkalahkan.

Didusun Boe kee cung, Coa Kim Hin  bertindak  selaku kepala kampung yang sangat ditakuti dan dihormati, dirumah yang besar tersedia banyak kamar yang khusus digunakan untuk para tamu yang datang menginap sehingga rumah itu selalu ramai dengan para tamu, ditambah dengan keluarganya yang besar, serta belasan orang kauwsu atau tukang pukul bayaran.

Usia Coa Kim Hin pada waktu itu sudah mendekati 50 tahun, dia bertubuh agak gemuk tetapi penuh otot. Mukanya putih agak bundar, penuh senyum yang sukar diketahui maknanya.

Pada pada waktu usianya  masih muda Coa Kim Hin merupakan pemimpin gerombolan rampok yang  berkeliaran  tak tentu tempatnya. Dimana saja dia  berada selalu dia melakukan perampokan, tanpa menghiraukan kalau ditempat itu dikuasai oleh sesuatu gerombolan  perampok sehingga sering kali terjadi dia bersama rombongannya terlibat dalam suatu pertempuran melawan gerombolan perampok lain yang merasa daerah operasinya telah diganggu.

Akan tetapi pada setiap pertempuran atau pertentangan yang terjadi, selalu Coa Kim Hin  memperoleh  kemenangan baik karena memang ilmu silatnya yang lebih mahir atau pun karena siasat dan akal muslihatnya yang dapat mengakibatkan pihak lawan berubah menjadi kawan ! Dengan demikian dikalangan para perampok nama Coa Kim Hin juga dima lui dan disegani.

Pada suatu hari, didusun Boe kee cung itu kedatangan seorang pengemis, dan pengemis ini langsung  telah mendatangi rumahnya Coa Kim Hin.

Para kauwsu yang menjaga keamanan  dirumah  Coa  Kim Hin merasa yakin bahwa mereka sedang berhadapan bukan dengan sembarangan pengemis, dari itu mereka memberikan laporan kepada majikan mereka, tentang kehendakan si pengemis yang ingin bertemu.

Si ular kepala dua Coa Kim Hin keluar dan menemui si pengemis itu yang lalu memperkenalkan diri sebagai Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, ketua persekutuan pengemis selendang hitam atau Hek kin kay pang.

Coa Kim Hin tertawa dan mengajak pengemis itu memasuki ruang dalam. Memang sudah dia dengar nama Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho dan persekutuan Hek kin kay pang, yang sedang berkembang cepat.

Setelah menyuguhkan tamunya yang istimewa itu, maka Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho lalu menceritakan tentang maksud kedatangannya, yakni bertalian dengan urusan piauw yang dirampas pihak perampok yang belum dia ketahui dari mana dan siapa nama mereka, dan sipengemis itu justeru memberitahukan tentang isi kereta piauw yang berupa uang emas yang tak ternilai harganya, serta sepasang pedang pusaka ceng liong kiam.

"... jelasnya barang barang itu adalah milik istana kerajaan yang hendak dikirim ke utara; akan tetapi di luar dugaan telah dirampok.... “ kata Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho yang menambahkan keterangannya  untuk  kemudian  dia bentangkan maksud kedatangannya, adalah  untuk bekerja sama dengan si ular kepala dua Coa Kim Hin. "... uang mas itu sangat besar jumlah dan nilainya. Cukup untuk digunakan sebagai pembiayaan gerakan menggulingkan pemerintah penjajah, selagi ditempat lain juga sudah ada gerakan yang serupa, sementara segenap anggota  Hek  kin kay pang sudah siap untuk dijadikan panglima dan pasukan perang; sedangkan dengan sepasang pedang pusaka ceng liong kiam yang memang berasal dari istana kerajaan, tepat dipegang Coa toako selaku sri baginda raja yang berkuasa dinegeri kita ini.. .”

“Ha ha ha....!” terdengar si ular kepala dua Coa Kim Hin tertawa. Memang hebat cara si pengemis itu berpikir dan memang tepat siasatnya. Dengan harta yang sedemikian banyaknya sudah tentu dapat mereka membeli tenaga manusia buat digunakan untuk menggulingkan pemerintah penjajah, dan alangkah jayanya dia kalau dia menjadi seorang maharaja yang agung !

"...sudah tentu aku mau menjadi seorang raja yang didukung oleh para pengemis, akan tetapi aku tidak mau kalau dijadikan seorang raja pengemis.." akhirnya kata Coa Kim Hin.

Si biang pengemis Ciam Sun Ho ikut tertawa, meskipun didalam hati dia  mendongkol mendengar perkataan "raja pengemis"; sebab pada saat itu kedudukan Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho justeru adalah sebagai ketua persekutuan kaum pengemis, atau dalam arti-kata, dapat dianggap sebagai 'raja pengemis*.

“...kalau nanti aku menjadi raja, maka kau akan aku  jadikan perdana menteri yang berjasa..” kata lagi Coa Kim Hin yang lalu disambungnya dengan suara tertawa.

Demikian dan sejak hari itu Ciam kauw sin kay Ciam  Sun  Ho jadi menginap dirumahnya Coa Kim Hin dan  mereka berdua secara rahasia telah merundingkan siasat  dan  cara cara mereka bekerja untuk menggulingkan  pemerintah penjajah bangsa Mongolia dan menyusun pula siasat serta rencana kalau kelak Coa Kim Hin sudah menjadi raja. Keduanya kemudian sependapat hendak  merobah anggaran hukum negara dan menyusun suatu pemerintahan yang kuat, agar tidak mudah diserang oleh pihak bangsa asing maupun oleh pihak bangsa sendiri yang bermaksud merebut lagi pemerintah yang mereka kuasai. Untuk ini mereka pun telah menyusun suatu daftar nama kawan kawan mereka yang kelak akan mereka berikan jabatan jabatan yang penting.

"... akan tetapi sebagai langkah pertama adalah kita harus merebut kembali kereta piauw yang  dirampas  orang..” akhirnya kata si biang pengemis Ciam Kauw s in kay Ciam Sun Ho, sementara mukanya sudah mulai merah dan kepalanya terasa   pusing,   karena   banyaknya   arak    yang    sudah dim inumnya.

“Ya, lebih dulu kita harus merebut kereta piauw..."  sahut Coa Kim Hin yang lalu tertidur pulas dengan kepala berada diatas meja karena tidak kuasa menahan rasa mabok dan rasa mengantuk, sebab diluar kesadaran mereka, hari sudah berubah mendekati waktu subuh, dan mereka masih terus berunding menyusun siasat dan menyusun anggaran dasar negara yang mereka sedang khayalkan.

Esok harinya penduduk dusun Boe kee cung menyaksikan suatu kesibukan dirumahnya Coa Kim Hin  karena  berturut turut telah berangkat belasan penunggang kuda yang meninggalkan dusun Boe kee cung dan mereka semuanya adalah para kauwsu yang membawa  surat  surat  undangan dari Coa Kim Hin yang ditujukan untuk para tokoh rimba persilatan dan pemimpin  kawanan  perampok di berbagai tempat yang semuanya sudah dikenal oleh si Ular kepala dua Coa Kim Hin yang bermaksud hendak menjadi raja.

Dengan dikirimkannya surat surat undangan itu, maka pada hari yang sudah ditentukan dusun Boe kee cung menjadi ramai, penuh dengan orang orang kaum rimba persilatan yang kebanyakan terdiri dari golongan hitam. Mereka datang memenuhi undangan Coa Kim Hin, meskipun mereka tidak mengetahui maksud undangan itu, termasuk su liong tauw Cia Keng Jie dari  bukit pegunungan Cin nia, yang ikut menerima surat undangan.

Su liong tauw Cia Keng Jie datang dengan dikawal oleh dua orang pembantunya. Mereka tiba didusun Boe kee cung, dimana mereka disambut oleh para kauwsu yang bersikap ramah tamah dan mengantar para tamu memasuki  taman yang luas yang letaknya di bagian belakang  dari  rumahnya Coa Kim Hin, dimana sudah berkumpul tidak kurang dari lima puluh orang orang tokoh kaum rimba persilatan.

Su liong tauw Cia Keng Jie dengan kedua orang pembantunya mendapat tempat duduk dibagian se latan dari taman yang luas itu sedangkan dibagian tengah taman itu terdapat suatu arena tempat orang berlatih ilmu silat lengkap dengan persediaan berbagi macam senjata yang ditempatkan pada suatu rak.

Dari tempat duduknya itu su liong tauw Cia Keng Jie mengawasi kesekitar taman yang sudah penuh dengan para tamu, dan dia kelihatan agak terkejut ketika diantara  yang hadir dia melihat banyak terdapat kaum pengemis dari Hek kin kay pang sesuai dengan tanda selendang hitam yang terdapat melingkar dibagian pundak mereka.

Betapapun halnya, su liong tauw Cia Keng jie menyadari bahwa pihaknya telah mengikat tali permusuhan dengan pihak Hek kin kay pang, sebab seperti yang dia ketahui ngo liong tauw Tang Han Cin telah melakukan perampasan kereta piauw dari tangan pihak Hek kin kay pang, dan ngo liong tauw Tang Han Cin telah membunuh banyak orang orang Hek kin kay pang, oleh karena itu su liong tauw Cia Keng Jie menjadi agak terkejut, sebab didusun Boe kee cung im dilihatnya banyak orang orang Hek kin kay pang yang juga menjadi tamu undangannya Coa Kim Hin. Didalam hati su liong tauw Cia Keng Jie bertanya-tanya, apakah mungkin pihak Hek kin kay pang sudah mengetahui bahwa pihaknya yang telah melakukan perampasan kereta piauw ? atau apakah pertemuan didusun Boe kee cung itu ada hubungannya dengan urusan kereta piauw yang telah dirampas oleh ngo liong tauw Tang Han Cin ?

Sementara itu, para pelayan telah membawakan hidangan makan malam yang lengkap ditempatkan pada tiap tiap meja para undangan. Setelah itu orang orang melihat Coa Kim Hin berdiri dari tempat duduknya, lalu dia berjalan perlahan lahan menuju kebagian tengah dari taman itu sementara pada mukanya kelihatan cerah penuh senyum.

Ditengah tengah taman itu, Coa Kim  Hin  berdiri menghadapi semua para tamunya. Dia memberi hormat  lalu dia mulai angkat bicara dengan kata sambutannya.

Mula pertama Coa Kim Hin mengucap terima kasih kepada para tamunya yang sudi datang memenuhi undangannya, setelah itu secara singkat dia menceritakan riwayat hidupnya bahwa diwaktu muda dia  seringkali melakukan pekerjaan merampok dikangzusi berbagai tempat, sampai seringkali terjadi pertentangan antara dia dengan berbagai rombongan kaum perampok lainnya.

Diakuinya bahwa kesalahan berada dipihaknya, oleh karena dia telah mengganggu wilayah atau daerah kekuasaan lain orang, akan tetapi dahulu katanya dia masih muda berdarah panas sehingga dia tak menyadari akan kesalahan itu.

Hal hal yang semacam dia lakukan dulu, sekarang tidak boleh berulang lagi, baik pada dirinya  sendiri  maupun  pada diri lain orang. Oleh karenanya pada kesempatan  pertemuan itu, dia bermaksud akan mencalonkan diri menjadi ketua kaum perampok, yang tugasnya mendamaikan kalau terjadi sesuatu pertentangan didalam kalangan kaum perampok,  dan mengatur batas batas pembagian daerah kekuasaan masing masing. Setelah mengetahui dan mendengar urusan pihak tuan rumah, maka didalam hati su liong tauw Cia Keng Jie menjadi agak tenang sebab jelas bagi dia bahwa maksud undangan pertemuan itu bukan dalam rangkaian urusan yang bertalian dengan kereta piauw yang dirampas oleh pihaknya akan tetapi adalah untuk pemilihan seorang ketua kaum perampok, atau dengan kata lain Coa Kim Hin ingin menjadi raja  dari segala raja perampok.

Di antara yang hadir, sudah tentu ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, untuk menentukan atau memilih Coa  Kim Hin menjadi ketua atau raja dari segala raja perampok. Kalau memang hendak mengangkat seorang ketua, mengapa tidak dilakukan dengar cara pemilihan yang bebas ?

Akan tetapi orang orang yang merasa setuju ternyata lebih banyak daripada yang tidak setuju, lagipula diantara mereka yang tidak setuju tidak ada yang bersuara, sebaliknya yang memberikan persetujuan telah mengacungkan tangan mereka tinggi tinggi, sambil mereka berteriak menyatakan persetujuan mereka sehingga mengakibatkan sebagian dari orang orang yang pada mulanya merasa tidak setuju, telah ikut ikutan mengangkat tangan dan memberikan tanda persetujuan mereka !

Si ular kepala dua Coa Kim Hin menjadi sangat girang melihat sambutan dari tamunya. Dia mengucap  terima kasihnya dan mulai saat itu dia menghendaki orang orang menyebut dia sebagai kauwcu atau ketua.

Kemudian Coa Kim Hin meneruskan lagi angkat bicara dan dia menekan bahwa dia tidak menghendaki adanya sesuatu pihak yang melakukan pekerjaan merampok didaerah kekuasaan pihak lain seperti yang baru baru ini terjadi serombongan perampok telah melakukan pekerjaan diwilayah kekuasaan orang orang Hek kin kay pang. “,..rombongan itu bahkan telah melakukan cara yang  sangat keji.. !" kata Coa Kim Hin yang menambahkan keterangannya dan meneruskan perkataannya.

"..mereka bukan saja melakukan pekerjaan didaerah kekuasaan kaum Hek kin kay pang, akan tetapi mereka malahan merampas barang barang yang sudah dirampas dan dikuasai oleh pihak Hek kin kay pang, lalu dengan keji mereka telah membunuh mati semua orang orang kay pang yang sedang melakukan pekerjaannya.”

Tanpa terasa, tubuh su liong tauw Cia Keng Jie menjadi gemetar waktu dia mendengar perkataan Coa Kim Hin yang baru saja ditetapkan menjadi kauwcu atau ketua. Juga kedua pembantunya ikut gemetar, bahkan muka mereka kelihatan pucat ketakutan, sebab mereka mengetahui persoalan itu cukup jelas.

Sementara itu, diantara para undangan yang hadir, mereka telah perdengarkan suara mereka yang berisik.

Diantara mereka memang sudah ada yang mendengar sedikit berita mengenai peristiwa itu. Akan tetapi mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, terlebih yang menjadi korban adalah  kaum Hek kin kay pang, yang waktu itu sebenarnya sudah cukup besar pengaruhnya dan cukup  ditakuti oleh berbagai kalangan.

“.. iringan kereta piauw yang dirampas itu, berisi sejumlah besar uang emas dan sepasang pedang pusaka 'Ceng liong kiam'... " demikian terdengar kata lagi Coa Kim Hin akan tetapi tak dapat dia meneruskan perkataannya, oleh karena suara yang hadir menjadi semakin berisik oleh karena mereka benar benar menjadi sangat terkejut, dengan di sebutnya nama pedang pusaka yang sudah sangat terkenal itu.

"... cu wie diharap tenang sebentar.. !” teriak Coa Kim Hin dan setelah semua orang orang terdiam mendengarkan, maka dia meneruskan lagi pembicaraannya: "Aku tahu bahwa pihak yang bersangkutan sekarang ini hadir diantara cuwie. Sebagai kauwcu, aku tidak mau mengambil tindakan keras; masih ada cara untuk menyelesaikan secara damai. Aku menghendaki pihak yang bersangkutan mengembalikan barang barang rampasan itu kepada pihak Hek kin kay pang yang ketuanya yakni  Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho juga ikut  hadir  pada pertemuan kita ini dan mengenai urusan mereka yang sudah dibinasakan, akan dianggap selesai ,, ,”

Sehabis dia berkata begitu, maka Coa Kim Hin memanggil Ciam kauw sin kay Ciam Sun  Ho, untuk diperkenalkan dihadapan orang banyak.

(odwkz-hen-o)

SEMUA yang terjadi dan semua perkataan yang diucapkan oleh Coa Kim Hin telah dihadapi dan didengar oleh Wie Keng Siang berdua Liauw Pek Jin.

Dua bersahabat ini ikut hadir pada pertemuan itu, oleh karena mereka datang di dusun Boe kee cung dengan maksud hendak menemui Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho, dan secara kebenaran waktu itu sedang diadakan  pertemuan  dari berbagai kalangan dan rombongan para perampok, atas undangan si ular kepala dua Coa Kim Hin.

Waktu mendengar perkataan Coa Kim Hin yang menghendaki kereta piauw dikembalikan kepada pihak Hek kin kay pang, sebenarnya Wie Keng Siang hendak berdiri dari tempat duduknya dan hendak mengatakan mengapa bukan dikembalikan kepada pihak piauw kiok, akan tetapi pada saat itu Liauw Pek jin menekan sebelah lengan sahabatnya, me- larang sahabatnya itu bicara yang sekaligus berarti memperkenalkan diri sebagai orang dari pihak perusahaan pengangkutan yang berkepentingan. Dilain pihak, su liong tauw Cia Keng jie benar benar sudah tak bisa menahan rasa gugupnya. Tanpa terasa dia   telah berdiri dari tempat duduknya, lalu dengan suara keras dia berkata ;

"Akan tetapi, waktu  itu belum ditentukan pembatasan daerah atau wilayah kerja, dan belum ada  kauwcu...  “ demikian kata Cia Keng jie, akan tetapi selekas dia   suara, maka dia menyadari bahwa dia  sudah melakukan suatu kesalahan yang besar.

Akan sia sia meskipun su liong tauw Cia Keng jie hendak duduk lagi di tempatnya sebab semua mata sudah ditujukan kepadanya, terutama sinar mata Ciam kauw sinkay Ciam Sun  Ho yang bagaikan mengeluarkan api karena menahan rasa marah,

"Kemari kau... !” seru Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho dengan suaranya yang seperti guntur, sementara tidak kurang dari dua belas orang orang Hek kin kay pang sudah berdiri didekat tempat duduk Cia Keng Jie bersama kedua pembantunya dan sikap orang orang Hek kin kay pang itu bagaikan sudah mengurung !

Dengan paksakan diri untuk berlaku tenang, maka su liong tauw Cia Keng Jie mendatangi dan mendekati tempat Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho berdua Coa Kim Hin,

“Harap kaujelaskan, kau dari rombongan mana... ,”  kata Coa Kim Hin ketika Cia Keng Jie sudah berdiri dekat.

“Siao tee adalah su liong tauw Cia Keng Jie dari gunung Cin san.. “

"Su liong tauw ! mengapa bukan toa liong tauw  yang datang memenuhi undanganku.. ?" tanya Coa Kim  Hin kelihatan dia seperti tersinggung.

Toa  liong  tauw sedang bepergian  mencari ngo  liang tauw .

,”  sahut  Cia  Keng  jie  namun selekas  itu  juga  dia menyadari tentang kesalahannya yang lagi lagi telah terlepas bicara, melulu oleh karena dia tak mampu mengatasi rasa gugupnya.

“Mencari ngo liong tauw ? Coba katakan yang lebih jelas

,..!" kata lagi Coa Kim Hin yang kelihatan berobah menjadi bengis.

“Kauwcu, apakah kau perlakukan  aku sebagai orang tertuduh... ?" tanya Cia Keng Jie yang kelihatan mulai marah, akan tetapi belum habis rasa gugupnya.

“Hmm ... !” geram Ciam kauw sin kay Ciam Sun  Ho mukanya bertambah bengis dan kedua matanya bertambah besar membentang, sebaliknya  Coa Kim Hin tertawa dan berkata lagi :

“Kau tidak mau diperlakukan sebagai seorang  yang tertuduh, baik, akan tetapi sekali lagi aku menanya, siapa diantara kalian yang melakukan penjegalan itu ?”

"Ngo liong "

Cia Keng Jie tidak sempat meneruskan  kalimat perkataannya, sebab Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho sudah tidak sanggup membendung menahan rasa marahnya. Dia berdiri didekat Cia Keng Jie  dan secara tiba tiba kepelan tangan kanannya bergerak memukul bagian dada!

Sudah tentu keadaan Cia Keng Jie sedang tidak siaga, terlebih karena gugupnya memang belum hilang. Dadanya terkena pukulan itu, tubuhnya terdorong beberapa langkah kebelakang, sedangkan dari mulutnya dia mengeluarkan darah kental. Sebelum Cia Keng Jie sempat melakulan perlawanan atau bicara, maka empat orang laki laki sudah menerkam dia dan memegang sepasang tangannya erat erat.

Dua orang pembantunya Cia Keng Jie juga mendapat nasib yang serupa, oleh karena mereka telah dikepung  dan ditangkap oleh orang orang Hek kin kay pang. Suasana orang banyak menjadi bertambah ramai. Semua yang terjadi telah berlangsung begitu cepatnya dan diluar dugaan mereka semua.

Sementara itu sekali lagi Coa Kim Hin berteriak memerintahkan semua orang berlaku tenang :

“Cuwie diharap tenang semuanya dan dengarkan perkataanku,”demikian kata Coa Kim Hin yang sejenak menunggu, setelah para hadirin diam  tidak  bersuara,  maka dia menyambung perkataannya :

"..kita terpaksa menyudahi pertemuan kita hari ini, akan tetapi aku perintahkan kalian semua berangkat ke gunung Cin san. Kurung markas Cin san ngo liong dan jangan biarkan ada yang melarikan diri. Aku akan segera menyusul setelah selesai memeriksa Cia Keng Jie... !"

Sementara itu berulangkali Liauw Pek Jin harus mencegah kawannya yang tidak dapat menahan sabar karena Wie Keng Siang sudah yakin bahwa pihak Cin san ngo  liong yang merampas kereta piauw yang menjadi tanggung jawabnya.

Waktu para undangan pada bubar dan bersiap s iap hendak berangkat ke atas gunung Cin san, maka secara diluar tahu orang orang itu, Liauw Pek jin mengajak sahabatnya untuk cepat cepat mendahulukan berangkat ke atas gunung Cin san.

Dua bersahabat ini te lah me lakukan perjalanan yang cepat, dan disepanjang perjalanan mereka menyusun siasat buat menghadapi pihak berandal diatas gunung Cin san sebelum rombongan Coa Kim Hin tiba.

Akan tetapi begitu mereka tiba ditempat tujuan mereka menjadi sangat terkejut, karena mereka  melihat  sangat banyaknya tentara negeri yang sedang berjaga jaga disekitar kaki gunung Cin san.

Dari keterangan yang mereka peroleh, maka diketahui oleh dua bersahabat ini, bahwa dari pihak tentara telah melakukan penyerangan dan sudah menguasai gunung Cin san, menangkap semua berandal, kecuali para pemimpin mereka yang katanya sudah berhasil melarikan diri.

Adanya pihak tentara negeri menyerang ke  atas  gunung Cin san, sebenarnya adalah akibat  dari  perbuatannya  ngo liong tauw Tang Han Cin !

Waktu sudah memperoleh sepasang pedang ceng liong  kiam dan menyisihkan sejumlah uang emas, maka dengan kejam Tang Han Cin telah membinasakan dua orang pembantunya yang menjaga dia  karena menganggap  dia benar benar sedang sakit.

Dengan membawa uang emas dan sepasang pedang ceng liong kiam, maka ngo liong-tauw Tang Han Cin berangkat secara tergesa gesa, akan tetapi tanpa tujuan yang menentu, oleh karena dia  hendak mencapai tempat yang sejauh mungkin untuk menghindar dari rekan rekannya  diatas gunung Cin san.

Disepanjang perjalanan itu, ngo liong tauw Tang Han Cin berlaku sangat hati hati. Karena dia  menyadari bahwa musuhnya tidak melulu berupa para  pengemis  dari Hek  kin kay pang, akan tetapi juga pihak Cin san, pihak piauwkiok dan pihak pemerintah penjajah, sehingga dia  harus berusaha menghindari dari semua musuh musuh itu.

Pada suatu hari Tang Han Cin tiba di dalam kota Hie c iang, sebuah kota penghubung yang ramai dengan arus lalu lintas yang menuju ke propinsi Hoo lam.

Waktu itu hari sudah mendekati magrib, akan tetapi Tang Han Cin yang hendak menghindar dari suatu tempat yang ramai, sengaja dia telah meneruskan perjalanan,  tidak bermalam di dalam kota Hie ciang.

Akibat tindakan yang sangat berhati hati itu, maka  Tang Han Cin harus berjalan terus, meskipun hari sudah menjadi malam, sedangkan dia belum mencapai tempat buat dia beristirahat dan bermalam. Kemudian hujan pun turun dengan sangat derasnya, akan tetapi Tang Han Cin masih harus meneruskan perjalanannya, oleh karena tiada tempat buat dia numpang meneduh, sehingga pakaiannya menjadi basah.

Akhirnya Tang Han Cin terpaksa harus menggunakan ilm u Iari cepat, menerobos hujan dan melawan  hawa  dingin; sampai kemudian dia menemukan sebuah dusun kecil yang tidak terlalu banyak penduduknya, bahkan letak perumahan mereka saling terpisah jauh.

Didusun itu Tang Han Cin tidak berhasil  menemukan  sebuah rumah penginapan, sehingga terpaksa dia mendatangi rumah suatu keluarga dengan niat numpang bermalam. Akan tetapi, sudah tiga rumah dia datangi, ternyata tidak ada yang mau membuka pintu ditengah ma lam, sedangkan hujan masih turun dengan sangat derasnya. Adalah disuatu rumah yang kecil dari suatu keluarga yang sangat miskin, Tang Han Cin berhasil mendapat persetujuan untuk menumpang inap.

Keluarga yang bersedia  menerima  Tang Han Cin itu, mengaku bernama Ong Hok Sin. Karena usianya yang sudah tua, maka di dusun itu dia dikenal dengan nama Ong lopek. Ong Hok Sin atau Ong lopek hanya menetap berdua dengan anak perempuannya, Ong Sin  Lan yang waktu itu sudah berumur dua puluh tahun sementara ibunya Sin Lan sudah  lama meninggalkan dunia.

Hidup mereka sangat miskin, sehingga hanya dapat menghidangkan teh panas bagi Tang Han Cin, akan tetapi saat yang seperti itu secangkir air teh panas terasa sangat ber- harga bagi Tang Han Cin, yang waktu itu sedang merasakan sangat kedinginan, akibat dia  terkena hujan dan harus mengeluarkan banyak tenaga selagi menempuh perjalanan itu.

Diluar dugaan dan diluar keinginannya; esok paginya Tang Han Cin terserang penyakit demam, sehingga  tidak  sanggup dia meneruskan perjalanannya. Dilain pihak, Ong Hok Sin kelihatan menjadi bingung karena tamunya yang mendadak sakit. Mereka tidak mempunyai uang buat membelikan obat, bahkan buat menyediakan makanan mereka tidak mampu. Sementara itu, Ong Sin  Lan sudah mematangkan semangkok bubur, yang lalu dia bawa kedalam kamar, dimana Tang Han Cin sedang rebah merintih kedinginan.

Ong Sin Lan tak sampai hati waktu melihat keadaan sang tamu yang tidak mungkin dapat makan sendiri. Dara ini kemudian duduk ditepi ranjang dengan susah payah dia merangkul tubuh Tang Han Cin yang berat untuk merobah letak sehingga Tang Han Cin rebah bersandar, setelah itu dia memberikan bubur  buat Tang Han Cin,  sesendok demi sesendok.

Selama hidup menjadi rampok diatas gunung Cin san, yang dilihat dan dihadapi oleh Tang Han Cin adalah segala sifat kekerasan, bahkan buas dan kejam. Sekarang dia menghadapi sikap lembut yang terasa mesra, sehingga mau tak mau Tang Han Cin menjadi terharu dan berterima kasih terhadap Ong  Sin Lan berdua ayahnya.

Setelah selesai memberikan bubur, Ong Sin Lan hendak keluar meninggalkan tamunya, akan tetapi dengan paksakan diri maka Tang Han Cin berkata :

"Lan moay, terima kasih atas kesediaanmu  menolong aku..." dia berhenti sebentar dau berusaha perlihatkan senyumnya, juga Ong Sin Lan kelihatan tersenyum, selagi dia menunda niatnya yang hendak meninggalkan tamunya.

"Lan moay. Kau tolong ambilkan bungkusanku .  ,"  Tang Han Cin berkata lagi sambil dia menunjuk ketempat bungkusannya, dan menyambung perkataannya ;

“..„ tolong kau buka dan ambil sepotong uang perak. Kau berikan pada lopek buat dibelikan makanan buat kita semuanya ... ,” Ong Sin Lan menurut akan tetapi sejenak dia  menjadi sangat terkejut, oleh karena waktu itu dia sudah membuka bungkusan itu; ternyata isinya sangat banyak  dengan potongan uang emas, sedang uang perak hanya sisa dua potong.

Diambilnya sepotong uang perak seharga duapuluh tail, sesudah itu dengan tangan gemetar dia mengikat lagi bungkusan tamunya, yang lalu dia tempatkan didekat kaki Tang Han Cin, sesudah itu dia keluar guna menemui ayahnya, tetapi dia tidak beritahukan kepada sang ayah tentang tamunya yang memiliki  begitu banyak uang emas dan perhiasan.

Ong Hok Sin menjadi sangat girang  waktu  anaknya memberikan uang dari tamunya; dia memang sedang bingung karena tak mempunyai uang buat membeli bahan pangan.

Setelah menerima uang itu maka Ong Hok Sin pergi  ke pasar dan pada waktu pulangnya, dia  membawa seorang thabib buat memeriksa dan mengobati penyakitnya Tang Han Cin.

Tanpa diduga dan dirasa, sudah lima hari Tang Han Cin berada dirumah Ong Hok Sin, akan tetapi penyakitnya belum menjadi sembuh bahkan semakin memburuk keadaannya.

Dua potong uang perak seharga empat puluh tail sudah habis digunakan, buat membeli bahan pangan dan ongkos berobat, oleh karena itu maka Tang Han Cin menyerahkan sepotong uang emas buat ditukarkan oleh Ong Hok Sin.

Untuk menukar uang emas itu sudah tentu tidak dapat dilakukan didusun yang sepi dan penduduknya kebanyakan terdiri dari orang orang m iskin, dari itu Ong Hok Sin harus berangkat ke kota Hie ciang yang bagi Ong Hok Sin harus memerlukan waktu seharian suntuk. Akhirnya lebih dari dua bulan Tang Han Cin harus menetap dirumahnya Ong Hok Sin dan selama itu sudah tiga kali Ong Hok Sin berangkat ke kota Hie ciang, buat dia menukarkan uang emas pemberian Tang Han Cin dan untuk menukarkan uang emas itu, Ong Hok Sin selalu berhubungan dengan rumah gadai milik negara di kota Hie ciang.

Dan selama dua bulan itu, Tang Han Cin mendapat pelayanan istimewa dari Ong Sin Lan yang bukan saja sudah berlaku sebagai seorang ibu yang penuh perhatian, bahkan juga sebagai seorang isteri yang sangat menyintai sampai kemudian diketahui bahwa Ong Sin Lan sudah hamil.

Oleh karena itu setelah Tang Han Cin sembuh dari penyakitnya, maka mereka bergegas mengadakan persiapan untuk merayakan hari pernikahan antara Tang Han Cin de- ngan Ong Sin Lan.

Sekali lagi Ong Hok Sin harus ke kota Hie ciang buat menukarkan uang emas sebab mereka perlu membeli banyak bahan persiapan pernikahan, termasuk bahan pakaian dan sebagainya.

Dua orang tukang masak dari kota Hie-ciang bahkan telah diundang oleh Ong Hok Sin, buat keperluan  memasak hidangan istimewa pada perayaan pesta pernikahan itu.

Hampir semua penduduk dusun telah diundang pada hari pesta pernikahan Tang Han Cin dengan Ong Sin Lan, bahkan sanak keluarga dari jauh telah diundang,  dan  menghadiri pesta yang meriah itu.

Acara yang menarik perhatian adalah pada saat upacara sembahyang "sam kay” sepasang mempelai. Saat itu semua mata memandang terpesona dan penuh rasa iri hati terhadap Ong Hok Sin yang hidupnya penuh derita kemiskinan, akan tetapi mendadak mendapat menantu orang berduit.

Disaat upacara sembahyang "sam kay" itu  masih berlangsung maka dirumah Ong Hok Sin menjadi bertambah ramai dengan kedatangan tentara negeri yang tiba tiba mengurung atau mengepung, sedang beberapa orang perwira kelihatan memasuki rumah mencari Ong Hok Sin !

Sebagai ekor dirampasnya kereta piauw, memang sangat menghebohkan kalangan beberapa pihak, yakni pihak Tay wie piauw kiok yang harus bertanggung jawab  kemudian  pihak Hek kin kay pang dan pihak berandal diatas gunung Cin san yang telah dise lomoti oleh Tang Han Cin, ditambah kemudian dengan pihak si ular kepala dua Coa Kim Hin yang hendak menjadi raja. Disamping itu,  yang tidak  boleh  dilupakan adalah pihak pemerintah penjajah, atau si pangeran yang barang barangnya dirampas !

Seperti yang sudah dibentangkan bahwa  saat  itu  negeri cina sedang kacau, sedang pihak pemerintah juga sedang terjadi saling gontok terutama akibat dari para sri baginda raja yang sudah lanjut usianya. Para pangeran  yang sedang berlomba ini, bahkan ada yang mempunyai maksud hendak melakukan pemberontakan, diantaranya adalah Pangeran Kim Lun.

Untuk maksud gerakan tersebut,  Pangeran  Kim  Lun memilih siasat mendekati orang orang rimba persilatan dari golongan hitam, akan tetapi untuk maksud ini sudah tentu Pangeran Kim Lun membutuhkan banyak keuangan buat membeayai gerakannya. Dengan cara menyelundup dan berangsur angsur, Pangeran Kim Lun mengirim harta berupa uang emas dan permata dari istana, untuk diteruskan kepada orang orang yang mendukung niat Pangeran itu melakukan pemberontakan.

Untuk pengiriman itu telah disewa  perusahaan pengangkutan Tay wie piauw kiok yang  dipimpin  oleb  Wie Keng Siang, sehingga terjadi perampasan sedangkan didalam pengiriman itu bahkan terdapat pula sepasang pedang 'ceng liong kiam', sebagai pedang pusaka yang sangat berharga.

Baik peristiwa perampasan maupun peristiwa adanya pengiriman itu sudah tentu tidak boleh disiarkan secara meluas sebaliknya Pangeran Kim Lun memerintahkan orang orang kepercayaannya buat melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan hasil pemeriksaan terhadap sisa orang orang yang mengantarkan kereta piauw, maka pangeran Kim Lun mengetahui bahwa mula pertama iringan kereta piauw dihadang dan dirampas oleh para pengemis, dengan demikian maka pihak pangeran Kim Lun secara diam diam telah melakukan penangkapan terhadap sekian banyaknya orang orang gelandangan, tanpa menghiraukan apakah para pengemis itu tergabung dalam persekutuan kay pang ataupun Hek kin kay  pang,  bahkan yang tidak memasuki salah satu dari persekutuan itu pun telah ditangkap.

Akan tetapi pihak pangeran Kim Lun belum memperoleh hasil yang mereka harapkan, sampai kemudian pihak pejabat pemerintah kota Hie ciang mencurigai seseorang yang menukarkan uang emas, sebab berdasarkan tanda tanda yang diperoleh uang uang emas itu berasal dari milik istana!

Kuan cinjin atau pejabat pemerintah kota Hie ciang adalah kaki tangannya pangeran Kim Lun, dari itu laporan mengenai adanya uang uang emas itu beredar di kota Hie ciang, telah dilaporkan langsung kepada pangeran Kim Lun dan Pangeran Kim Lun lalu mengirim empat belas orang utusan yang akan melakukan penangkapan dan pemeriksaan terhadap orang yang menukarkan uang uang emas itu.

Pihak rumah gadai negara di kota Hie-ciang memang mencatat nama dan alamat dari setiap orang orang yang berhubungan dengan rumah gadai itu, maka tidak sukar untuk diketahui nama dan alamat Ong Hok Sin, sebagai orang yang menukarkan uang uang emas milik istana.

Ke empat belas orang utusan dari Pangeran Kim Lun itu terdiri dari seorang perwira muda, Lian ciangkun, serta tiga belas orang para wie su yang asalnya terdiri dari orang orang rimba persilatan yang mahir ilmu s ilatnya, mereka mendatangi rumah Ong Hok Sin dengan diantar oleh Kuan tay jin serta  lima puluh orang tentara negeri.

Rumah Ong Hok Sin yang sedang penuh dengan para tamu karena sedang diadakan pernikahan, langsung dikurung oleh pihak tentara negeri yang tidak membolehkan siapa pun meninggalkan tempat itu sedangkan Lian ciangkun  dengan diantar oleh Kuan tayjin dan empat orang wie su telah mema- suki rumah itu dan menangkap Ong Hok Sin yang  tidak berdaya melakukan perlawanan,

Diantara kegaduhan yang sedang terjadi, bekas ngo liong tauw Tang Han Cin mengempit tubuh  isterinya  dan memberikan perlawanan. Benda apa saja yang  ditemukan, telah digunakan sebagai senjata oleh Tang Han  Cin  yang masih memakai pakaian mempelai.

"Itulah ngo liong tauw Tang Han Cin dari gunung Cin san...

!" terdengar teriak seorang wie su yang luas hubungannya; terlebih karena dia memang bekas seorang penjahat. Ke empat orang wie su itu lalu mengepung Tang Han Cin, sementara Kuan tayjin berlindung didekat Ong Hok Sin yang dipegang erat erat oleh dua orang tentara, dan Lian ciangkun bersiap siaga menjaga kemungkinan Tang Han Cin melarikan diri.

Pihak yang mengurung rumah Ong Hok Sin juga  bersiap  siap menunggu perintah dari Lian ciangkun, akan tetapi waktu itu Tang Han Cin berhasil menerobos kepungan dan dia lari memasuki kamarnya mengambil bungkusan dan pedang 'ceng liong kiam.

Pintu dan jendela lalu ditutup oleh Tang  Han  Cin, sementara Ong Sin Lan sudah pingsan didalam kempitan Tang Han Cin.

Sebatang pedang "ceng liong kiam” dikeluarkan  dari sarungnya, dan siap ditangan kanan Tang Han Cin, kemudian dengan suatu lompatan dan dua kali tabasan, maka pedang 'ceng liong kiam' berhasil membobolkan atap rumah, sehingga disaat berikutnya Tang Han Cin sudah berdiri diatas genteng, selagi pihak pengurung tidak  menduga  kemungkinan terjadinya hal itu.

Adalah orang orang yang mengurung dibagian luar rumah, yang sempat melihat Tang Han Cin berada  diatas  genteng, dan sedang bergegas hendak melarikan diri.

Empat orang wie su kemudian  lompat melesat keatas genteng dan melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka disambut dengan empat senjata rahasia yang mengeluarkan sinar kuning terkena pantulan s inar matahari. Diantara mereka ada yang berkelit menghindar, ada yang menangkis memakai senjata mereka, dan ada seorang yang dengan tabah telah menyambuti senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tang Han Cin.

"Inilah uang mas....!" teriak sang wie su sambil dia melihat benda yang berada di tangannya.

Ketiga rekannya menunda gerak mereka yang hendak mengejar Tang Han Cin. Mereka mendekati sang rekan yang sedang memegang uang mas bekas  dilontarkan  oleh  Tang Han Cin, dan mereka jadi terpesona sambil berpikir apakah mereka harus memungut sisa uang mas  bekas  dilontarkan oleh Tang Han Cin tadi, atau mereka mengejar terus membiarkan uang uang mas yang mahal harganya itu berserakan. Dan kalau sudah mereka temukan, apakah ada kemungkinan buat mereka kantongi dan memiliki tanpa diketahui oleh pihak Lian ciangkun ?

Dua diantara ke empat wie su itu kemudian mencari uang mas yang berserakan, sedangkan yang dua  orang lagi melakukan pengejaran terhadap Tang Han Cin, yang waktu itu bahkan sedang dikejar oleh para wie su yang lain. Tang Han Cin terus me larikan diri. Geraknya sangat sukar sebab dia harus membawa Ong Sin Lan dan bungkusannya yang cukup berat.

Beberapa kali Tang Han Cin hampir kena dikejar,  akan tetapi beberapa kali itu dia berhasil membikin para wie  su repot dan penuh ragu ragu, sebab mereka telah diserang memakai uang uang mas, yang sudah tentu sangat disayangkan kalau dibiarkan hilang berserakan.

Dengan caranya itu, Tang Han Cin berhasil menjauhkan diri dari para pengejarnya, sampai kemudian dia memilih daerah pegunungan dan berhasil menghilang.

Dalam marahnya, pangeran Kim Lun telah  menghukum  mati Ong Hok Sin, kemudian pangeran ini memimpin lebih dari seribu orang tentara negeri, dan membasmi kawanan berandal diatas gunung Cing san akan tetapi jie liong tauw Nio Han dan sam liong tauw Lie Bok Seng berhasil menyelamatkan diri, meskipun harta benda diatas gunung ludas disita pihak tentara Pangeran Kim Lun.

Lima tahun lamanya bekas ngo liong tauw Tang Han Cin berhasil menghilang dari kejaran berbagai pihak.

Su liong tauw Cia Keng Jie tewas ditangan  Si ular kepala  dua Coa Kim Hin, yang sangat marah sebab tak tercapai niatnya yang mau jadi seorang raja, sedang persekutuan Hek kin kay pang hancur lebur dibasmi pihak tentara Pangeran Kim Lun, setelah diperoleh kepastian bahwa orang orang Hek kin kay pang yang justeru menjadi biang bencana.

Toa liong tauw Kwee Tian Peng berhasil menemui jie liong tauw Nio Hoan Eng dan sam liong tauw Lie Bok Seng. Dia sangat gusar dan penasaran karena sarang mereka sudah dibasmi pihak tentara Pangeran Kim Lun melulu akibat dari perbuatan hianat ngo liong tauw Tang  Han  Cin.  Dia bersumpah akan terus mencari bekas rekan seperjuangan itu, yang sekarang dia anggap sudah menjadi musuhnya. Jadi orang orang yang masih terus mencari Tang Han Cin adalah tiga sisa naga dari gunung Cin san, si ular kepala dua Coa Kim Hin dan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, yang meskipun persekutuannya sudah bubar,  akan tetapi masih tetap penasaran dan menghendaki sepasang pedang "ceng liong kiam" buat pribadinya kemudian bekas  piauwtauw Tay wie piauwkiok Wie Keng Siang yang semua anggota keluarganya habis dibunuh oleh pihak pemerintah  penjajah, lalu ditambah lagi dengan segenap lapisan orang orang rimba persilatan yang hendak memiliki sepasang pedang 'ceng liong kiam'.

Kemudian tibalah saatnya permulaan musim rontok, disaat sawah sawah didaerah pedalaman penuh dengan  tanaman padi yang sudah menguning; menandakan musim panen akan segera tiba.

Waktu itu bekas ngo liong tauw Tang Han Cin menetap dan merahasiakan tentang dirinya, disuatu dusun yang letaknya didekat pegunungan Couw lay san. Rumahnya  cukup  besar dan mewah untuk tingkat kehidupan dipedalaman, hidupnya serba cukup ditambah hasil tanaman dari sawah dan ladang miliknya tetapi wajah  mukanya kelihatan terlalu tua bila dibandingkan dengan umurnya karena rasa takut bertemu dengan seseorang selalu menghantui dirinya, disamping dia merasa sedih sebab ditinggal mati oleh Ong Sin Lan isterinya; sejak usia anak mereka memasuki umur dua tahun.

Sebagai seorang anak yang hanya satu satunya dan sudah tidak mempunyai ibu, maka Tang Lan Hua  anak perempuannya Tang Han Cin sangat dimanja, selain dipenuhi apa saja yang dikehendakinya. Waktu sudah memasuki usia lima tahun, Tang Lan Hua mendapat didikan dasar ilmu silat dari ayahnya.

Demikian di permulaan musim rontok itu  kelihatan  Tang Lan Hua sedang berjalan jalan bersama seorang pelayan perempuan sampai jauh mereka meninggalkan rumah dan keduanya kemudian beristirahat dibawah suatu pohon yang besar, disisi jalan yang sunyi tidak banyak orang orang yang berlalu lintas. Ditempat itu Tang Lan hua dudut bersila sambi1 dia mulai mengatur jalan pernapasannya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh ayahnya.

Perbuatan Tang Lan Hua ini ternyata telah mendapat perhatian khusus dari seseorang dan seseorang itu adalah seorang kelana yang memerlukan menunda langkah kakinya lalu dia mendekati tempat Tang Lan Hua duduk bersila dengan sepasang mata dimeramkan.

"Seorang anak yang memiliki bakat sangat baik....” kata si kelana bagaikan dia bicara pada dirinya sendiri, akan tetapi cukup didengar oleh Tang Lan Hua, yang diam-diam menjadi girang, dan menganggap si kelana adalah seorang ahli ilmu silat.

Sementara itu si pelayan perempuan pengasuh Tang Lan Hua justeru merasa agak takut karena melihat mukanya si kelana yang begitu hitam dan memiara sedikit jenggot, kelihatan menyeramkan meskipun waktu itu si kelana sedang bersenyum dan bicara dengan suara yang ramah. Si pelayan perempuan itu lalu menyentuh tubuh Tang Lan Hua membikin Tang Lan Hua membuka sepasang matanya dan ikut mengawasi si kelana yang sedang berdiri didekat dia.

"Anak, siapa nama kau..?” si kelana menyapa dengan suara ramah, juga dengan perlihatkan senyumnya.

"Tang Lan Hua.. ,” sahut Tang Lan hua tanpa dia merasa takut sedikitpun juga. sebaliknya dia girang waktu melihat dipunggung si kelana terselip sebatang pedang, menandakan dugaannya tidak keliru, bahwa si kelana pintar ilmu silat dan karena girangnya itu maka kelihatan dia ikut bersenyum.

"Apakah kau pernah belajar ilmu silat,. ,?" tanya lagi si kelana, agaknya dia sempat memperhatikan pandangan mata Tang Lan Hua, yang tertuju pada pedangnya. Tang Lan Hua menggelengkan kepalanya. Dia  bergeser sedikit membiarkan si kelana ikut duduk didekat dia, dibawah pohon yang terlindung dari s inar matahari.

“Akan tetapi, siapa yang mengajarkan kau duduk...?” tanya lagi si kelana dan pertanyaan itu mengakibatkan Tang  Lan Hua menjadi tertawa geli.

'Lopek, kau ini lucu sekali. Seorang anak meskipun tidak diajar duduk, akan tetapi pada waktunya dia akan bisa duduk sendiri. Hi hi hi.. .!’

Sejenak si kelana menjadi terpesona melihat lagak dan mendengarkan perkataan Tang Lan Hua,  akan tetapi akhirnya ia ikut bersenyum. Senyum puas.

'Akan tetapi anak, cara kau duduk berlainan dengan duduk orang orang biasa. Kau sedang mengatur pernapasan sebagai dasar ilmu tenaga dalam...'

"Hi hi hi ! kau hebat lopek....' sahut Tang Lan Hua yang sekarang memuji karena si kelana mengetahui bahwa dia sedang mengatur pernapasannya, dan dia lalu menambahkan perkataannya :

"... ayah yang mengajarkan aku..” "Siapa nama ayahmu... ?”

"Tang Han Cin .."

Tidak terkirakan si kelana menjadi kaget waktu  dia mendengar nama Tang Han Cin. Akan tetapi untung bisa berhadapan dengan seorang bocah dan dia berusaha tenangkan diri.

“Tentunya ayahmu pandai ilmu silat..,” demikian si kelana berkata lagi tak lupa dengan menyertai senyumnya yang ramah meskipun sebenarnya merupakan suatu senyum yang sukar diketahui maknanya. Sementara itu, Tang Lan Hua manggut, lalu dia menambahkan keterangannya.

'Ayah bahkan memiliki sepasang pedang yang tajam katanya buat aku, kalau aku sudah besar nanti .."

Si kelana bersenyum lagi. Tetapi merupakan suatu senyum yang sukar diketahui maknanya, akan tetapi jelas terlihat berupa senyum girang, waktu  Tang Lan Hua menyebut adanya sepasang pedang yang tajam.

("pasti pedang ceng liong kiam...” ) dia berkata  didalam hati, sedangkan kepada Tang Lan Hua dia berkata.

"Apakah kau pernah melihat ayahmu berlatih ilmu silat melawan seseorang . ? "

Tang Lan Hua menggelengkan kepala,  karena sesungguhnya dia tidak pernah melihat  ayahnya latihan bertempur, kecuali bersilat seorang diri.

"Nah, kau antarkan aku pada ayahmu, kemudian akan kau saksikan suatu latihan bertempur antara ayahmu  melawan aku. Suatu tontonan yang pasti akan memikat hati.”

"Benarkah ,..?" tanya Tang Lan Hua yang sekilas kelihatan girang, akan tetapi dilain saat dia perlihatkan wajah muka muram.

"Kenapa? apakah kau takut ayahmu akan cedera atau terluka? Jangan takut kita hanya akan berlatih..," si kelana berkata lagi karena dia dapat mengerti dengan perobahan muka Tang Lan Hua, akan tetapi kemudian didengarnya Tang Lan Hua berkata:"Bukan begitu, laopek, aku justeru khawatir kau yang akan terluka, atau setidaknya pedangmu akan putus, karena sepasang pedang ayah amat tajam .,,,!”

Sebenarnya Tang Lan Hua tidak mengetahui  bahwa ayahnya menyimpan pedang Ceng liong kiam. Akan  tetapi pada suatu malam dia melihat ayahnya sedang mengawasi seperti terpesona dengan pedang yang sedang dipegangnya, dan sepasang pedang itu mengeluarkan sinar hijau cemerlang terkena sinar api pelita.

"Ayah, pedang apakah itu ... ?” tanya Tang Lan Hua waktu itu dan dia  menerobos memasuki kamar ayahnya secara mendadak.

Tang Han Cin kelihatan sangat terkejut.  Wajah mukanya tiba tiba berobah pucat untung anaknya tidak memperhatikan atau memang tidak mengerti, sehingga kemudian sang ayah tersenyum, akan tetapi dia t idak mengucap apa apa, sehingga Tang Lan Hua yang menanya lagi :

'Tajamkah pedang itu, ayah..?' dan Tang Lan Hua perlihatkan lagak manja, seperti biasa.

Sang ayah tetap tidak menjawab dan tetap perlihatkan senyumnya. Lalu sang ayah itu mengambil sepotong besi Iinggis dan pedang yang tajam itu berhasil memutuskan besi linggis itu menjadi dua  sehingga Tang Lan Hua bersorak kegirangan.

Sementara itu si kelana sekarang yang jadi tertawa, setelah itu dia berkata :

"Anak baik, sudah tentu aku akan menjaga  diri,  supaya tidak terluka, dan menjaga pedangku,  supaya  tidak diputuskan. '

“Benarkah..?” tanya Tang Lan Hua kelihatan girang, akan tetapi dilain saat dia kelihatan ragu ragu.

Sementara itu si kelana kelihatan manggut dan bersenyum, dan Tang Lan Hua lalu menarik sebelah tangan si kelana, mengajak singgah dirumahnya, dan dimintanya kelana duduk menunggu diruang tamu, selagi dia  berlari dan mencari ayahnya. Sudah tentu Tang Han Cin menjadi sangat terkejut, waktu dia menemui si kelana yang duduk  diruang tamu, sebaliknya si kelana itu tetap perlihatkan senyumnya yang ramah. 'Kau...’ kata Tang Han Cin yang masih berdiri terpesona, dengan muka pucat bagaikan dia bertemu dengan hantu disiang hari.

"Apa khabar, ngo tee... ?" tanya si kelana tetap dengan menyertai seberkas senyum yang menghias dimukanya senyum bangga disamping senyum pelepas  rindu sete lah sedemikian lamanya mereka tidak pernah saling bertemu. Lalu sepasang matanya sekilas melirik kearah Tang Lan Hua yang ikut berada di ruang tamu itu, karena agaknya si bocah ingin menyaksikan latihan ilm u silat, seperti yang dijanjikan oleh si kelana.

"Anak Lan, kau masuklah, sebab aku hendak bicara dengan tamu kita..." kata Tang Han Cin yang berusaha tenangkan diri. Dan waktu Tang Lan Hua sudah masuk dengan perlihatkan muka bersungut, maka Tang Han Cin mengawasi  tamunya dan meneruskan percakapan mereka.

Sejak hidupnya berobah haluan, tidak  lagi  menjadi berandal, akan tetapi hidup tenang memupuk keluarga, maka watak sam liong tauw Lie Bok Seng banyak berobah menjadi seorang yang penyabar dan ramah tamah terhadap  sesamanya.

Dalam menghadapi bekas ngo-liong tauw Tang Han Cin, maka Lie Bok Seng kelihatan banyak bersenyum, meskipun sebenarnya dahulu dia sangat membenci, sangat menyimpan dendam, karena akibat perbuatan Tang Han Cin,  maka  su liong tauw Cia Keng Jie jadi binasa dan sarang mereka habis berantakan.

Dengan kata kata yang lemah lembut,  Lie Bok Seng menyarankan supaya Tang Han Cin mau menemui toa liong tauw Kwee Tian-Peng dan jie liong tauw Nio Hoan Eng, untuk mengakui semua kesalahan kesalahan yang  telah diperbuatnya, serta menyerahkan sisa hasil rampasan berikut sepasang pedang ceng liong kiam kepada toa liong tauw Kwee Thian Peng untuk dipertimbangkan lebih lanjut. Pada mulanya Tang Han Cin membangkang mengatakan tidak bersedia mengikuti sarannya Lie Bok Seng. akan tetapi akhirnya ia menjanjikan syarat, bersedia  bertemu  dengan Kwee Thian Peng dan Nio Hoan Eng akan tetapi tempatnya dia tentukan dilembah gunung Couw lay san; yang Ietaknya tidak terpisah jauh dari rumahnya, dan waktunya  lagi sebulan setelah pertemuan dengan Lie Bok Seng itu.

Dan sejak terjadinya pertemuan antara ayahnya dengan si kelana itu, maka setiap hari wajah  muka Tang Han  Cin kelihatan muram; bahkan dia  sering murung atau marah marah, sehingga Tang Lan Hua yang biasanya sering berlaku manja, menjadi tidak berani mendekati ayahnya  buat menanya, entah siapa gerangan si kelana dan apa sesungguhnya maksud kedatangan si kelana itu. Oleh karenanya, didalam hati Tang Lan Hua jadi membenci si kelana, dan terutama karena dia merasa dibohongi oleh si kelana, yang katanya hendak berlatih ilmu silat dengan ayahnya, dan yang dia anggap tidak pernah terjadi sampai si kelana itu menghilang lagi.

Di pihak Tang Han Cin, menjelang hari pertemuan yang sudah dijanjikan; maka setiap hari dia kelihatan  sibuk mengatur berbagai persiapan. Antaranya dia sengaja memendam harta kekayaannya dibagian belakang rumahnya, disuatu tempat yang tidak mudah diketahui orang  kecuali Tang Lan Hua yang ikut menyaksikan perbuatannya itu.

Kemudian terjadilah disuatu pagi hari, selagi hari itu masih gelap, Tang Lan Hua digendong dipunggung ayahnya yang berlari lari mendaki gunung Couw lay san sampai kemudian mereka memasuki suatu lembah yang jarang didatangi orang dan disuatu saat Tang Han Cin kelihatan sangat gugup; sedangkan sepasang matanya mengawasi bagian kaki gunung Couw lay san. Dalam gugupnya itu, Tang Han Cin mencari sesuatu dan ternyata dia mencari suatu tempat yang dia  anggap terlindung, buat dia meninggalkan Tang Lan Hua.

Di suatu selokan yang cukup tinggi tanggulnya, maka Tang Han Cin menurunkan Tang Lan Hua kedalam selokan itu,  lalu dia memesan bahwa apapun yang terjadi, Tang Lan Hua tidak boleh meninggalkan tempat itu; harus menunggu sampai sang ayah datang lagi.

Sebelum meninggalkan Tang Lan Hua, maka kepada anaknya itu Tang Han Cin menitipkan sepasang pedang 'ceng liong kiam' dengan pesan harus tetap dipegang oleh Tang Lan Hua. Setelah itu barulah Tang Han Cin meninggalkan anaknya, akan tetapi dia tidak pergi jauh, sebab dia menuju kesuatu tempat yang agak datar, yang mudah dilihat oleh Tang Lan Hua, akan tetapi yang tak mudah buat orang lain melihat Tang Lan Hua, apa lagi dari tempat yang datar itu.

Selokan atau tempat saluran air tempat Tang Lan Hua berdiri, ternyata berisi air yang mengalir sangat deras, menyusuri tebing gunung Couw lay san, dan air itu bahkan merendam Tang Lan Hua sebatas pahanya, sehingga dalam waktu yang singkat bocah itu jadi menggigil kedinginan,  karena amat dinginnya air gunung yang merendam kakinya.

Terasa tak kuasa Tang Lan Hua menahan hawa dingin yang merendam sepasang kakinya itu, dan hampir saja dia berteriak memanggil ayahnya, atau berusaha naik dari dalam saluran air akan tetapi dia teringat dengan pesan ayahnya, lagi pula tepat pada saat itu, dia melihat datangnya tiga orang laki laki yang bermuka garang, dan diantara ke tiga orang laki laki  itu terdapat si kelana yang dia sudah kenal dan yang dia benci!

Ke tiga orang laki laki itu dengan cepat telah melewati tempat Tang Lan Hua umpatkan diri; dan mereka terus mendatangi tempat Tang Han Cin yang rupanya memang sudah dijanjikan, sehingga dari tempatnya itu sempat Tang Lan Hua melihat pertemuan antara ayahnya dengan ke tiga orang laki laki itu.

Untuk sesaat kelihatan terjadi percakapan antara Tang Han Cin dengan ketiga orang Iaki laki yang baru datang itu, lalu menyusul terjadi pertempuran antara Tang Han Cin melawan seorang laki laki yang tidak dikenal oleh Tang Lan Hua. Pada mulanya Tang Lan Hua menganggap pertempuran itu adalah semacam latihan ilmu silat, seperti yang telah dijanjikan oleh sikelana, akan tetapi disaat berikutnya Tang Lan Hua melihat ayahnya dikepung oleh dua orang lawan,  namun dengan gagah ayahnya itu sanggup memberikan perlawanan sampai kemudian Tang Lan Hua menjadi tambah membenci si kelana, sebab dilihatnya si kelana itu ikut memasuki kancah pertempuran, dan terjadi ayahnya dikepung bertiga sampai kemudian ayahnya dibinasakan.

Tang Lan Hua berteriak, akan tetapi suaranya tidak terdengar bagaikan tersumbat, karena tepat pada saat itu dia pingsan. Dan Tang Lan Hua pingsan bukan diakibatkan dia melihat ayahnya yang dibinasakan, akan tetapi dia pingsan akibat tak tahan lagi dia merasa begitu dingin, sementara sepasang kakinya sudah membeku,  sehingga  sepasang  kaki itu untuk seterusnya menjadi lumpuh!

Di lain pihak dan seperti yang memang sudah diduga oleh Tang Han Cin bahwa adat pemarah dari bekas toa liong tauw Kwee Tian Peng sukar buat diajak berdamai. Dia menuntut bahwa kematian bekas su liong tauw Cia Keng  Jie   harus ditebus dengan kematian Tang Han Cin, disamping bekas ngo liong tauw itu diharuskan menyerahkan semua harta keka- yaannya berikut sepasang pedang 'ceng liong kiam’.

Bekas sam liong tauw Lie Bok Seng melihat keadaan gawat yang memungkinkan terjadinya suatu pertempuran. Dia berusaha sedapatnya untuk meredakan, akan tetapi dia tak kuasa mencegah, waktu tangannya Kwee Tian Peng meluncur menghantam pundak Tang Han Cin dengan suatu gerak yang amat cepat dan sangat diluar dugaan.

Sejak hidupnya sebagai seorang pelarian ternyata  tak bosan bosan Tang Han Cin me latih diri baik dalam hal ilmu silat, mau pun dalam hal ilmu tenaga dalam. Oleh karenanya sebagai seorang yang sudah mencapai batas kemampuannya, meskipun dia itu diserang se lagi tidak siaga sehingga tidak mungkin untuk dia menghindar, namun dia sempat mengerahkan tenaga dalam untuk menerima serangan Kwee Tian Peng.

Maka terdengar bunyi suara akibat  terkenanya  pundak Tang Han Cin oleh pukulan tangan Kwee Tian Peng.

Tubuh Tang Han Cin terdorong tiga langkah kebelakang, akan tetapi dia tidak terjatuh dan tidak menderita cedera, kecuali pundaknya itu terasa panas menandakan Kwee Tian Peng telah memukul dengan menggunakan tenaga  yang besar.

Dilain pihak tubuh Kwee Tian Peng juga terdorong mundur beberapa langkah kebelakang, ketempat semula dari  dia berdiri, sehingga dia  menjadi sangat terkejut  disamping tangan kanannya terasa sakit,

'Kurang ajar rupanya kau sudah berhasil menambah ilmu, sehingga kau jadi berani menentang aku....' teriak Kwee Tian Peng bertambah marah, lalu dia menyiapkan senjatanya, yakni sepasang bandering dengan bola  besi penuh duri tajam bagaikan bertaburan mata pisau.

Sejak dia memperoleh sepasang pedang pusaka ceng liong kiam, maka dalam latihan  ilmu silat selalu Tang Han Cin memakai dua batang pedang sebagai pengganti senjatanya yang semula berupa  sebatang golok. Sekarang sepasang pedang ceng liong kiam tidak mau dia bawa dan perlihatkan kepada Kwee Tian Peng bertiga dari itu sebagai pengganti dia memakai dua batang golok tipis. Waktu sebelah bandering datang menyerang maka Tang Han Cin telah menyiapkan sepasang goloknya yang istimewa  lalu golok yang dipegang di sebelah kiri dia  pakai buat membiarkan terlibat oleh senjata Kwee Tian Peng sedangkan golok di tangan kanan dia pakai buat menahan tangan Kwee Tian Peng yang memegang senjata bandering.

“Bagus.. !” seru Kwee Tian Peng yang cepat sekali berhasil melepaskan libatan rantai bandering pada golok  lawannya,  dan dia lompat mundur buat menghindar dari tebasan golok, kemudian dengan bandering ditangan lain, dia  memukul memakai gerak tipu naga buas melepas api. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(