Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 17

Jilid 17

DlSAAT Ong Su Gie hendak kembali kedalam kamarnya, secara mendadak dia mendengar pekik suara seorang perempuan, dan pekik itu datangnya justeru dari dalam ka- marnya The Lian Cu.

Karena kegesitannya, maka dalam sekejap Ong  Su  Gie telah berada didekat jendela kamar The Lian Cu selagi lain lain orang belum berada ditempat itu.

Untuk sesaat Ong Su Gie berdiri ragu ragu, karena dia takut sembarang bertindak, apa lagi untuk memasuki  kamar seorang anak perawan, selagi dia  sedang dituduh  pernah mengintai kamar anak perawan itu !

Dengan telinganya yang tajam, Ong Su Gie sempat mendengar bunyi suara bagaikan tubuh seseorang yang terbentur dengan tembok disusul kemudian  terdengarnya pekik suara seorang perempuan yang berteriak mengaduh, setelah itu secara mendadak daun jendela  kamar  anak perawan itu terbentang dan seseorang telah lompat keluar sedangkan seseorang itu adalah Can Houw Liang !

Karena menduga telah terjadi sesuatu didalam kamarnya The siocia; maka Ong Su Gie membentak dan merintang :

"Binatang! kau jangan lari !"

Can Houw Liang membatalkan niatnya yang hendak lompat keatas genteng rumah. Dia mengawasi perintangnya dengan sepasang mata bersinar nyala, lalu dia tertawa-tawa menyeramkan bagaikan iblis yang sedang tertawa; sambil dia menyiapkan senjata 'kim-sie joan pian", atau cambuk lemas yang melibat dibagian pinggangnya.

(Untuk jelas, perlu diketahui perihal peristiwa yang terjadi didalam kamar The Lian Cu.) Pada malam terjadinya peristiwa pembunuhan atas dirinya Tio Tiong Cun, maka Can Houw Liang atau si iblis penyebar maut tidak sempat menemui The Lian Cu membikin ma lam itu merupakan suatu malam yang sunyi dan kosong bagi  dara jelita yang sedang haus cinta itu.

Adalah pada malam berikutnya dara yang jelita itu berkesempatan melepas rasa rindu didalam rangkulan sang kekasih, memadu kasih dan bermain cinta sampai kekasihnya rebah terkulai didalam rangkulannya, sementara dara yang belum tertidur itu, lagi lagi telah memainkan daun telinga kekasihnya, sampai tiba tiba dia meraba sejenis selaput kulit muka buatan, dan kulit muka itu sedikit demi sedikit dia tarik, sehingga kemudian secara tiba tiba dia berteriak kaget, karena menemukan dua macam wajah muka kekasihnya.  Lain dibagian atas, dan lain dibagian bawah.  Dalam kagetnya karena dia tersentak dengan teriak suara The Lian Cu, maka Can Houw Liang alias si iblis penyebar maut Ioncat  bangun; dan terburu buru memakai celananya.

Bagaikan orang yang kemasukan hantu, The Lian Cu turun dari ranjang, tanpa dia  menghiraukan baju dalamnya  yang tidak menutup seluruh tubuhnya.

Dara yang sudah cemar itu kemudian menerkam laki laki yang dia sangka kekasihnya, memegang baju laki laki  itu, memukul mukul sambil dia menangis dan berteriak,

"Siapa kau ? Lekas katakan. Siapa kau !"

Can Houw Liang alias si iblis penyebar maut yang masih sempat merapikan selaput kulit mukanya, menjadi tertawa, akan tetapi dia menghalau tangan The Lian Cu yang waktu itu sedang berusaha hendak membuka tutup mukanya.

Dara yang telah cemar itu kemudian semakin memaksa hendak meraih muka Can Houw Liang, bahkan sambil dia berteriak dan menangis.  Can Houw Liang jadi gelisah dan cemas, kalau kalau banyak orang akan mendatangi kamar itu. Dengan menggunakan sedikit tenaganya, kemudian Can Houw Liang mendorong tubuh The Lian Cu dan dara yang sudah cemar itu terpental membentur dinding tembok, sambil dia perdengarkan teriak kesakitan.

Can Houw Liang menjadi terkejut, menganggap  The Lian Cu telah tewas, karena kepalanya terbentur dengan dinding tembok. Dia membuka daun jendela kamar dengan maksud hendak melarikan diri akan tetapi dia dihadang oleh Ong Su Gie.

Dipihak Ong Su Gie, dia te lah bertempur dengan heran dan ragu ragu sebab yang menjadi lawannya ternyata Can Houw Liang yang diketahui menjadi calon menantu hartawan The. Akan tetapi Ong Su Gie menjadi penasaran, sebab pemuda itu justeru melancarkan berbagai serangan maut yang tidak boleh dianggap remeh.

Waktu itu beberapa orang kauwsu yang  meronda  juga telah berada didekat tempat pertempuran. Akan tetapi mereka menjadi ragu ragu membantu sebab yang mereka  lihat  Ong Su Gie sedang bertempur melawan sang calon baba mantu, yang dikabarkan sudah menghilang dari rumah penjara Po- teng.

Disaat para kauwsu itu sedang  ragu  ragu  mendadak mereka mendengar pekik teriak Can Houw Liang.

'Lekas tangkap dia! dia telah membunuh The siocia.. ,!'

Tentu saja Ong Su Gie menjadi sangat terkejut waktu dia mendengar teriak itu, sementara para kauwsu yang juga terkejut serentak mereka lalu bergerak dan mengepung Ong Su Gie !

Dipihak Can Houw Liang waktu dilihatnya para kauwsu itu bergerak mengepung Ong Su Gie maka dia buru buru kabur menghilang kegelapan malam. Tanpa diketahui oleh orarg orang yang sedang bertempur waktu itu hartawan The juga ikut menyaksikan, sejak Ong Su Gie sedang bertempur melawan calon mantunya.

Disaat hartawan  The hendak berteriak menghentikan pertempuran itu maka dia  ikut mendengar perkataan Can Houw Liang tentang anak daranya yang katanya sudah  dibunuh sehingga buru buru orang tua itu memasuki kamar  The Lian Cu dan dilihatnya beberapa orang  pelayan perempuan sedang berusaha menolong anak daranya yang baru sadar dari pingsannya.

Dara yang sudah cemar itu menangis, dan mengatakan kepada ayahnya bahwa orang yang disangka Can Houw Liang sebenarnya adalah seseorang yang menyamar dengan memakai topeng yang mirip dengan wajah mukanya Can  Houw Liang !

Sudah tentu hartawan The menjadi sangat terkejut  dan buru buru dia meninggalkan kamar anaknya, tanpa menghiraukan sampai tiga kali dia  menerjang atau kena diterjang orang orang yang sedang sibuk simpang siur dan waktu itu tiba ditempat pertempuran, ternyata orang orang yang menyamar menjadi Can Houw Liang sudah menghilang sebaliknya yang sedang bertempur adalah  Ong Su Gie melawan empat orang tukang pukulnya.

'Berhenti ! kalian jangan bertempur karena si penjahat yang menyamar sebagai Can Houw Liang sudah kabur... !" demikian teriak hartawan The.

Semua yang lagi bertempur lalu memisah diri  dan mendekati hartawan The  sedangkan hartawan  The  lalu menambahkan keterangannya seperti yang dia ketahui dari anaknya, sehingga orang orang yang tadi bertempur; kemudian sama sama mengejar kearah si penjahat tadi kabur.

Ong Su Gie yang mahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat berhasil mendahului semua para kauwsu yang ikut mengejar; akan tetapi dia menyadari bahwa tidak mudah buat  mengejar si penjahat, oleh karena si penjahat sudah kabur cukup lama. Yang dia t idak ketahui adalah tentang si penjahat, entah siapa gerangan yang telah menyamar sebagai Can Houw Liang.

Adalah ketika Ong Su Gie telah berada di perbatasan luar kota Po teng, maka disuatu sudut jalan vang  sunyi;  dia berhasil menemui tubuhnya Can Houw Liang yang ternyata telah rebah tidak berdaya sebab pemuda itu telah binasa kena beberapa tikaman pisau belati dan Ong Su Gie yang meneliti jadi memikirkan entah siapa yang telah memberikan bantuan dan membinasakan si penjahat yang menyamar sebagai Can Houw Liang itu.

Disaat berikutnya empat orang kauwsu yang ikut mengejar juga telah sampai ditempat itu sehingga mereka menganggap bahwa Ong Su Gie yang sudah membinasakan Can  Houw Liang.

Meskipun benar para kauwsu itu  telah  mendapat keterangan singkat dari hartawan The, bahwa si  penjahat telah menyamar menjadi Can Houw Liang, akan tetapi waktu mereka meneliti wajah muka Can Houw Liang yang telah menjadi mayat itu mereka tidak menemukan tanda tanda yang menandakan bahwa yang sudah tewas itu adalah benar benar Can Houw Liang.

Diantara ke empat orang kauwsu itu, terdapat kauwsu Ang Cin Bu yang pernah bertengkar dengan Ong Su Gie, dan kauwsu ini lalu berkata:

“Sekiranya mayat ini bukan mayat si penjahat, tetapi sungguh sungguh mayatnya Can kongcu, maka kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ... !"

"Akan tetapi bukan aku yang bunuh dia. Kalian lihat, tidak ada noda darah pada pedangku ini ...!” Ong Su Gie membantah sambil dia perlihatkan pedangnya. "Tentu saja tidak ada tanda bekas darah pada pedangmu sebab Can kongcu bukan dibunuh memakai pedang, akan tetapi memakai pisau belati dan pisau belati itu tentunya  sudah kau buang l' kata lagi kauwsu Ang Cin Bu dengan nada suara mengejek.

Ong Su Gie menjadi sangat gusar mendengar perkataan kauwsu itu akan tetapi dia t idak menghiraukan dan sebaliknya lalu diangkatnya mayat Can Houw Liang untuk dibawa lari menuju ke rumah keluarga hartawan The.

“Kau tahu hiantit ,” kata Ong Su Gie yang merambahkan keterangannya pada tamunya yang mengaku  bernama  Tan Hui Beng dan dia menambahkan lagi perkataannya.

“.. berbagai peristiwa te lah terjadi saling susul. Pertama kali adalah urusan pencurian barang bingkisan, dan orang orang melihat bahkan ada yang ikut bertempur dengan si pencuri yang mereka anggap adalah Can Houw Liang, sampai Can Houw Liang ditangkap. Kemudian Can Houw Liang hilang dari rumah penjara kota Po teng dan ayahnya mati dibunuh orang, tanpa orang berhasil menemukan si pembunuh. Padahal pada mayat Can Hok Liang waktu itu ditemukan adanya paku naga beracun “tok liong teng" akan tetapi paku maut itu disimpan oleh pihak pejabat pemerintah buat dijadikan barang bukti, tanpa dia perlihatkan kepada orang orang yang pernah mengetahui atau mendengar perihal keganasan si iblis penyebar maut .. .”

”… peristiwa berikutnya adalah datangnya mayat Tio T iong Cun ke rumah hartawan The dan aku mulai curiga sebagai perbuatan si iblis penyebar maut, sebab perut Tio Tiong Cun robek seperti dibedah memakai pisau belati, dan aku pernah mendengar bahwa si iblis juga sangat mahir menggunakan pisau belati penembus tenggorokan..!”

" ., kemudian menurut keterangan hartawan The yang dia peroleh dari a lmarhum puterinya cara penyamaran si penjahat adalah memakai topeng yang dibuat dari bahan lembut yang mirip dengan kulit manusia dan keterangan ini tambah meyakinkan aku dengan si lblis penyebar maut sebab si iblis memang sangat pandai menyamar, sehingga ada orang orang yang menamakan dia sebagai si manusia muka seribu atau Koan bin jin-yoa..”

“Tunggu dulu susiok tadi mengatakan tentang almarhum The siocia, apakah puterinya hartawan The juga telah binasa

..,, ?” tanya Tan Hui Beng yang kelihatannya memperhatikan benar kisah yang diceritakan oleh Ong Su Gie.

"Kisah yang aku ceritakan memang belum selesai,  kau sabarlah hiantit,” sahut Ong Su Gie sambil dia  mengajak tamunya minum teh yang sudah disediakan.

".. . kejadian berikutnya adalah tentang tewasnya Can  Houw Liang, sebab mayat yang aku bawa ternyata benar  benar mayatnya Can Houw Liang, artinya bukan mayat si penjahat yang katanya menyamar sebagai Can Houw Liang.”

".. pada tubuh mayat itu yang pada mulanya kami anggap hanya terkena tikaman pisau  belati,  ternyata  ketika pakaiannya sudah kami buka maka kami mengetahui bahwa perutnya Can Houw Liang juga sudah robek tidak berbeda seperti yang sudah dilakukan terhadap Tio Tiong  Cun sehingga kami jadi mengetahui telah dilakukan oleh sipembunuh yang sama dan sekaligus menghapus kecurigaan orang orang terhadap diriku, sedangkan perihal tewasnya T he Siocia, adalah karena dia telah melakukan bunuh diri sehabis dia menceritakan suatu rahasia kepada ayahnya "

'Rahasia apakah itu.. .  ?" tanya Tan Hui Beng, sebab Ong Su Gie t idak melengkapi keterangannya.

“Tentang rahasia pribadi mereka, sebaiknya aku tidak mengatakan kepada hiantit..” sahut Ong Su Gie sambil dia paksakan diri buat bersenyum sebab dari balik  meja dia sedang menekan perutnya, yang mendadak terasa mual. “Berdasarkan kisah yang susiok ceritakan,, jelas  bahwa 'koan bin jin yao dan 'toat beng sim’ terdiri dari satu orang yang sama..” kata lagi Tan Hui Beng yang ikut minum air teh yang telah disediakan,

"Memang, mereka terdiri dari satu orang. Manusia muka seribu itu adalah si iblis penyebar maut,  dan  nama  itu adalah. “

Ong Su Gie tak kuasa menyelesaikan perkataannya, sebab tubuhnya mendadak kelihatan mengejang, sepasang matanya mendelik lalu dia rubuh terjatuh dari tempat duduknya.

Tan Hui Beng berdua Ong In Thian menjadi terkejut dan mendekati, akan tetapi mereka berdua mendapati Ong Su Gie sudah tewas dengan mulut mengeluarkan busa putih; menandakan dia kena bisa racun maut !

Dari dalam kantong bajunya, kemudian Tan Hui Beng rnengeluarkan sesuatu benda; dan benda itu adalah sebatang tusuk sanggul yang dibuat dari bahan perak. Pemuda ini lalu merendam tusuk sanggul itu kedalam air  teh  bekas  sisa minum Ong Su Gie sehingga jelas bagi pemuda itu bahwa  air teh itu benar benar mengandung bisa racun.

Setelah Tan Hui Beng mengeringkan tusuk sanggul itu serta membersihkan dari noda noda racun, maka dia rendam pada sisa air teh yang dia  minum  akan tetapi diketahuinya  bahwa  air teh itu tidak mengandung bisa racun. “Heran..”  kata pemuda ini bagaikan pada dirinya sendiri, lalu dia berkata lagi:

“jelas bahwa susiok sendiri yang menuang air teh itu dari poci yang sama akan tetapi hanya yang dia m inum yang kedapatan bisa racun "

Dan selekas pemuda ini selesai  bicara,  maka  dia mengawasi kearah daun jendela yang masih tertutup, dan ternyata pada kertas penutup daun jendela itu terdapat liang. “Kurang ajar! disiang hari begini berani mengintai dan melepas racun.. . !" kata Tan Hui Beng yang lalu membuka daun jendela itu, akan tetapi tidak ada seseorang yang dilihatnya, sampai jauh dia mengawasi keluar jendela yang merupakan halaman samping rumah dan dia melihat ibunya Ong In Thian atau isterinya Ong Su Gie, yang saat itu sedang bicara dengan seorang pelayan perempuan.

Sementara itu meskipun dalam keadaan  kaget  dan bingung, akan tetapi Ong In Thian sudah memindahkan mayat ayahnya keatas dipan, lalu dia  mengikuti tamunya yang sedang mendekati ibunya.

"Subo, apakah tadi ada seseorang yang memasuki halaman ini.. . ? " tanya Tan Hui Beng pada ibunya Ong In Thian.

Ibunya Ong In Thian manggut membenarkan, lalu dia berkata :

“Tadi ada seorang pemuda pelajar berbaju putih  dia menanyakan ayahnya In Thian dan aku menduga dia adalah temannya hiantit.”

“Celaka! dia adalah koan bin jin yao atau si iblis penyebar maut. Kearah mana dia pergi..” tanya Tan Hui Beng yang kelihatan gugup.

Ibunya In Thian memberitahukan dan Tan Hui Beng mengajak Ong In Thian memasuki ruangan dalam, sementara ibunya Ong In Thian juga ikut masuk sebab melihat keadaan yang gugup dari kedua pemuda itu.

Akan tetapi diruangan dalam Tan Hui Beng berdua Ong In Thian tidak berhasil menemukan si pelajar berbaju putih sebaliknya mereka menemukan selembar surat.

".. Ong Su Gie terlalu banyak mengetahui dan terlalu banyak bicara. Maut adalah menjadi bagiannya.”

Dan pada akhir surat itu terlihat adanya tanda dari ‘toat beng sim' atau si iblis penyebar maut! Selama sepuluh tahun lamanya Tan Hui Beng mengikuti gurunya belajar ilmu silat diatas gunung Thian tay san, akan tetapi hari itu seseorang telah melepaskan bubuk racun yang membinasakan Ong Su Gie tanpa dia  mengetahui atau mendengar gerak suara orang itu, peristiwa ini benar benar membikin Tan Hui Beng menjadi sangat penasaran.

Keterangan yang Tan Hui Beng peroleh dari Ong Su Gie mengatakan bahwa si manusia muka seribu dan si iblis penyebar maut, merupakan dua gelar dari satu orang yang kejam dan ganas, yang saat itu sedang merajalela !

Kemudian berdasarkan hasil penyelidikan yang Tan Hui Beng berdua Ong In Thian lakukan, maka diketahui bahwa ke empat mayat mayat yang pertama kali diketemukan oleh Tan Hui Beng, ternyata merupakan mayat dari orang orang yang bekerja pada keluarga Cong Keng Hok seorang penduduk terkemuka yang mengusahakan ladang didesa itu.

Tan Hui Beng berdua Ong In Thian lalu memerlukan singgah dirumah keluarga Cong Keng Hok dan Cong Keng Hok ini ternyata sudah berusia sedikit lebih tua dari Ong Su Gie.

"Sun Goan dan Sui Hin dulu pernah bekerja menjadi pengawal kereta piauw pada Tin wan piauwkiok akan tetapi tentang Cong Hay dan Cin Hong ..." demikian hartawan Cong Keng Hok mulai memberi keterangan atas pertanyaan kedua pemuda tamunya, tentang mayat mayat yang ditemukan oleh Tan Hui Beng, akan tetapi Cong Keng Hok menunda perkataannya, karena datangnya seorang pelayan laki  laki muda yang membawakan air teh untuk kedua tamunya.

“. .mungkin A Liong mengetahui tentang Cin Hong berdua Cong Hay.. ' kata lagi hartawan Cong Keng Hok sambil dia mengawas i sang pelayan.

A Liong adalah nama pelayan laki laki muda itu yang  sedang menyediakan air teh. Umurnya kira kira baru 17 tahun dan mulai bekerja di rumah keluarga Cong sejak sebulan yang lalu.

A Liong kelihatan lincah dan gemar bicara. Dia erat bergaul dengan Cong Hay dan Cin Hong, sehingga  dia banyak mengetahui tentang kedua orang yang sudah tewas itu.

“Dua tahun yang lalu, Lie susiok dan Bu susiok pernah bekerja disuatu kuil sebagai pembantu penerima tamu," demikian A Liong mulai memberitahukan sementara yang dimaksud dengan Lie susiok adalah Cin Hong dan Bu susiok adalah Cong Hay.

“Kuil apakah namanya dan dimana letaknya?" tanya  Tan Hui Beng yang menggunakan kesempatan selagi  A  Liong belum meneruskan perkataannya.

A Liong perlihatkan senyumnya dan mengawasi muka tamu majikannya, setelah itu dia menyambung bicara;

“Sayang, nama dan tempat kuil itu tidak diberitahukan kepada siao jin, akan tetapi menurut kata kedua susiok itu kuil yang dimaksudkan katanya dipimpin oleh seorang  pendeta dari suku bangsa Biauw.. "

'Tidak diberitahukan tentang nama pendeta itu.. ?" Tan Hui Beng menanya lagi; memutus perkataan A Liong.

"Tidak ..." sahut A Liong singkat. Pada nada suaranya terdengar dia merasa tidak senang, karena perkataannya telah diputus, akan tetapi dia menyambung bicara lagi,

".. pendeta suku bangsa Biauw itu kabarnya sudah lima tahun lebih mengasuh kuil itu, mendapat sumbangan tertentu dari penduduk setempat yang memang hidupnya aman dan makmur, sampai kemudian pendeta itu kedatangan seorang tamu yang katanya adalah adik seperguruan  dari  pendeta suku bangsa Biauw itu, dan tamu itu..”

'Tidak dikatakan siapa nama tamu itu..?* tanya lagi Tan Hui Beng kembali dengan memutus perkataan A Liong. “Mengapa Tan siangkong gemar memutus perkataan seseorang ,, ?" balik tanya A Liong, yang benar benar merasa tidak senang dengan kelakuan Tan Hui Beng. "A Liong ,.. !” bentak Cong Keng Hok yang melihat pelayannya berlaku tidak sopan terhadap tamunya.

“Cong pekhu, aku memang bersalah. Biarkanlah A Liong meneruskan keterangannya,” kata Tan Hui Beng, sementara A Liong kelihatan mengawasi dengan muka bersungut.

'Menurut kata kedua susiok itu tamu yang datang dan yang menjadi adik seperguruan dari pendeta bangsa Biauw itu, ternyata adalah Toat beng sim atau si iblis penyebar maut, yang terkenal ganas dan kejam.. .”

(Cong Keng Hok berdua Ong In Thian kelihatan kaget, waktu mendengar A Liong menyebut tentang si iblis penyebar maut, sedangkan Tan Hui Beng diam diam sedang memikirkan sesuatu)

“....dikatakan pula, bahwa pernah terjadi sipendeta suku bangsa Biauw itu memberikan nas ihat atau peringatan kepada Toat beng sim, akan tetapi segala nasihat baik itu tak dihiraukan, sampai kemudian Toat beng sim katanya jadi menggabungkan diri dengan pihak berandal diatas gunung yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dengan kuil itu, sehingga Lie susiok berdua Bu susiok yang  banyak mengetahui tentang si iblis penyebar maut maka pada suatu hari mereka mendatangi rumah seorang pejabat kepolisian yang katanya bernama Yap Seng Lim..”

A Liong berhenti sebentar. Sepasang matanya yang sejak tadi mengawasi Tan Hui Beng, sekarang dia perlihatkan gaya seperti mengejek akan tetapi Tan Hui Beng berlaku tenang tidak menghiraukan.

“Pejabat polisi Yap Seng Lim sebenarnya adalah seorang Purnawirawan dikalangan rimba persilatan, yang  luas hubungan dan banyak kenalannya.  Dia memang sedang mendapat tugas dari pejabat pemerintah setempat, untuk menyelidik dan mencari jejak sekawanan berandal  yang pernah merampas barang kiriman pejabat pemerintah itu, sehingga keterangan yang diberikan oleh Lie susiok berdua Bu susiok tentang si iblis penyebar maut yang katanya sudah bergabung dengan kawanan berandal, sesungguhnya merupakan suatu keterangan yang sangat berharga,  karena Yap seng Lim yakin bahwa pihak berandal yang  dimaksud adalah pihak berandal yang telah merampas harta atasannya..

,”

'..akan tetapi agaknya Yap Seng Lim ini merasa gentar dengan si iblis penyebar maut, yang katanya ganas  kejam serta mahir ilmu silatnya, sehingga untuk mendatangi atau menyerang pihak berandal, Yap Seng Lim merasa yakin tidak akan berhasil kalau hanya mengerahkan tentara negeri,  dan dia lalu memutuskan hendak meminta bantuan tenaga dari pihak pendekar yang pernah dikenalnya.”

"Adalah merupakan hal yang kebenaran bahwa  diantara para pembantunya Yap Seng Lim terdapat dua orang bekas pegawai T in wan piauwkiok, mereka adalah Lok Sun Goen dan Sim Sui Hin dan atas saran kedua pembantunya ini, maka Yap Seng Lim memerintahkan mereka berdua mengundang twa to Go Bun Heng, si golok maut dari See gak hun   kunbun golongan huruf Heng, Pui lui cui Lie Thian Pa,  sitangan geledek; dan Kwan Teng Liok dari Kwan kok pay.. ."

"Tiga jago muda kenamaan dikalangan rimba persilatan ,” Tan Hui Beng berkata seperti menggerutu.

“Benar ! kata orang orang mereka adalah tiga jago muda kenamaan di kalangan rimba persilatan..; .” sahut A Liong dengan nada suara mengejek.

'Dan mereka pasti dapat mengalahkan si iblis penyebar maut..” kata Ong In Thian yang ikut bicara, akan tetapi cepat cepat diputus oleh A Liong : 'Si iblis penyebar maut tidak terkalahkan oleh siapapun  juga. Sayangnya pada waktu itu si iblis tidak berkesempatan menghadapi ketiga orang orang yang dikatakan menjadi jago muda kenamaan itu, sebab waktu mereka datang melakukan penyerangan ke markas kawanan berandal, mereka tidak menemukan Toat beng sim, yang kebenaran sedang mem- punyai urusan lain ”

'Urusan apakah itu.. !” tanya Tan Hui Beng yang diam diam sedang merangkaikan cerita A Liong dengan cerita yang dia dengarkan dari a lmarhum Ong Su Gie;

"Urusan dengan pihak hartawan The di kota Po teng !” sahut A Liong, seperti orang lepas bicara, karena terlalu cepat memberikan jawaban itu, tanpa dia pikir lagi,

"Dan mengapa kau katakan si iblis penyebar maut tidak terkalahkan?" Tan Hui Beng menanya lagi nada suaranya seperti orang yang mendesak.

'Sebab Toat beng Sim justeru sedang mencari jejak ketiga orang orang yang dikatakan menjadi jago jago muda kenamaan itu,” sahut A Liong tetap seperti tadi,  terlalu cepat dia memberikan jawaban seperti dia sedang membendung hawa marah.

"Dan kau belum berhasil menemukan mereka?' desak Tan Hui Beng yang sekarang telah bangun berdiri menghadapi A Liong,

Sejenak si pelayan yang mengaku bernama A Liong berdiri terpesona. Dia terkejut waktu mendengar perkataan Tan Hui Beng, dan tepat pada saat itu dia melihat kesebelah tangan kanan Tan Hui Beng sedang bergerak hendak menjambak mukanya !

Dengan suatu gerak yang gesit  dan lincah A Liong melangkah mundur. Akan tetapi waktu dilihatnya tangan Tan Hui Beng terus membayangi mukanya sebab pemuda itu bergerak memakai ilmu 'daun Liu mengikuti tiupan angin' maka A Liong lompat kesamping kanan dengan gerak tipu ikan gabus meletik, membikin tangan Tan Hui Beng tidak mencapai hasil !

"Tan siangkong kau telah menghina seorang kacung.. " teriak A Liong dengan nada suara mengejek.

'Aku tidak menghina seorang kacung akan tetapi aku menghina si iblis penyebar maut yang sedang menyamar sebagai seorang kacung..!” sahut Tan  Hui Beng yang menyudahi perkataannya dengan suatu serangan bu siong pa houw atau Bu siong memukul macan.

Dengan gerak tipu hong hong tam tiauw atau burung hong manggut, maka dengan menundukkan kepalanya, A Liong berhasil menghindar dari suatu pukulan tadi, lalu dengan gerak 'poan-liong jiauw-po' atau naga bertindak,  maka sekali lagi dia lompat menyamping sambil dia mengirim serangan mengarah perut, dan dia sambil memaki.

"Tan siangkong! kau telah menuduh dan memfitnah seseorang.. . !"

Segala yang terjadi itu berlangsung dengan  sangat cepatnya, sehingga tidak mungkin dapat dicegah oleh Cong Keng Hok sementara Ong In Thian kelihatan berdiri terpesona.

Dan segala gerak serangan yang dilakukan oleh A Liong; telah menambah keyakinan Tan Hui Beng, bahwa dia sedang berhadapan dengan si iblis penyebar maut atau si manusia muka seribu, yang saat itu sedang menyamar sebagai si pelayan yang bernama A Liong.

Adalah pada saat terdengar teriak suara Cong Keng Hok yang bermaksud mencegah terjadinya perkelahian, sehingga sejenak Tan Hui Beng menjadi ragu ragu dengan cegahan pihak tuan rumah dan mengakibatkan A Liong sempat mengeluarkan dua senjata rahasia yang dia lontarkan kearah Ong In Thian berdua Cong Keng Hok. Pemuda Ong In Thian sempat berkelit menghindar, akan tetapi Cong Keng Hok yang sudah tua usianya serta tidak mengerti ilmu silat, telah menjadi sasaran terkena senjata rahasia itu yang membenam dibagian dada sebelah kiri mengakibatkan dia merasa gelap mata dan rubuh pingsan.

Ong In Thian berdua Tan Hui Beng mendekati orang tua itu, sedangkan A Liong Iompat menghilang.

'Hiantee, kau berikan  obat ini pada Cong pakhu, aku hendak mengejar si iblis itu ...!' kata Tan Hui Beng sambil dia memberikan sebotol kecil obat bubuk, setelah itu dia menghilang mengejar A Liong atau si iblis penyebar maut.

Waktu Tan Hui Beng kembali tanpa hasil, maka dilihatnya Cong Keng Hok telah sadarkan diri, dan lukanya sudah dibalut sementara orang tua itu sedang memberitahukan kepada Ong ln Thian, bahwa sesungguhnya dia tidak pernah menduga tentang A Liong yang pandai ilmu silat, terlebih  tentang  A Liong adalah ujut penyamaran si iblis penyebar maut,  dan yang telah melakukan pembunuhan terhadap empat orang pegawainya, bahkan juga Ong Su Gie ikut menjadi korban !

Disaat Ong In Thian sedang mencuci senjata rahasia Tok liong teng (paku naga beracun) yang  hampir  merenggut nyawa Cong Keng Hok; maka pada saat itu mereka dikejutkan dengan adanya seorang pelayan yang masuk dengan tergesa gesa, membawa berita bahwa rumahnya Ong In Thian sedang terjadi kebakaran.

Tanpa sempat pamitan Ong In Thian berdua Tan Hui Beng keluar meninggalkan rumah Cong Keng Hok. Akan  tetapi waktu mereka tiba, mereka mendapatkan api sudah berhasil dipadamkan oleh para tetangga, akan tetapi ibunya Ong In Thian tewas terkena paku naga beracun, sedangkan jenazah Ong Su Gie yang belum dimakamkan, hangus kena terbakar !

Ong In Thian menangis sampai lupa diri dia  bersumpah akan membalas dendam, sehingga sete lah selesai mengurus makam ibunya berikut  sisa tulang tulang ayahnya  yang berhasil dia kumpulkan, maka Ong In Thian mengikuti Tan Hui Beng berkelana, mencari jejak musuh sambil dia tidak lupa membawa dua batang paku naga beracun (tok liong  teng) yang sengaja dia kalungkan di lehernya.

Demikian sejak saat itu Tan Hui Beng berdua Ong In Thian tidak bosan bosan mencari jejak si iblis penyebar maut dan  Tan Hui Beng masih meneruskan usahanya itu, meskipun dikemudian hari Ong In Thian tewas ditangan si iblis penyebar maut dan Tan Hui Beng menjadi seorang pendeta dengan nama Hui beng siansu, bahkan pernah bertemu serta bahu membahu dengan Lie Hui Houw, untuk mengganyang si iblis penyebar maut.

Sekarang dan selagi bahu membahu menghadapi kepungan pihak tentara negeri, maka Le Hui Houw merasa kagum dengan sikap tenang dari seorang pendeta ini yang bahkan tetap kelihatan tenang meskipun  mengetahui kereta yang berisi Lie Hong Giok sedang dibawa kabur, sambil dikejar oleh Cie in suthay.

"Mari kita susul mereka . !” ajak Hui beng s iansu sambil dia mendampingi Lie Hui Houw, lalu keduanya mengerahkan ilmu lari cepat buat menyusul kereta yang dibawa kabur.

Ada kesempatan buat Lie Hui Houw menguji ilmu lari cepat pendeta yang selalu diagungkan oleh Cie in suthay itu, dan pemuda ini mulai percepat larinya, juga Hui beng siansu ikut menambah kecepatan larinya, buat dia tetap mendampingi Lie Hui Houw.

Sekali lagi Lie Hui Houw menambah kecepatan larinya juga pendeta Hui beng siansu menambah dan menambah lagi memakai ilmu Liok tee hui beng, sehingga Lie Hui Houw benar benar bagaikan terbang diatas rumput akan tetapi Hui beng siansu selalu berada disisi pemuda itu sehingga diam diam Lie Hui Houw merasa sia sia belaka dia mengambil alih gelar si "macan terbang”. Ada sekelompok tentara yang bergegas hendak menghadang kedua orang yang sedang "terbang  itu.  Kelompok tentara ini adalah orang orang yang tadi mengejar Cie in suthay; akan tetapi mereka tidak sanggup mencapai maksud mereka; sebab Cie in suthay lari dengan kecepatan maksimal.

Kelompok tentara itu kemudian saling menyisih terpencar, waktu Lie Hui Houw berdua Hui beng siansu bagaikan hendak menerjang mereka. Dan kedua orang yang sedang berlomba lari tidak ada lagi yang berani merintang atau menghadang; sampai mereka berhasil mengejar kereta bertenda itu akan tetapi Lie Hui Houw tidak melihat adanya Cie in suthay, sedangkan kereta berkuda itu dikendalikan oleh seorang setengah tua berpakaian seperti orang petani.

Lie Hui Houw lompat ketempat sais dengan lagak hendak memukul; akan tetapi Hui beng siansu yang ikut lompat disisinya mencegah dan berkata :

'Sabar, Lie ciangkun, sais itu adalah kawan kita .”

Lie Hui Houw batal memukul dan terduduk disisi sa is itu, sedangkan disisi sebelah Lie Hui Houw ikut duduk Hui beng siansu, sehingga bertiga mereka duduk ditempat sais saling berhimpit sikap bergerak dengan Lie Hui Houw yang duduk disebelah tengah.

'Mana Cie in suthay.. ?" akhirnya tanya Lie Hui Houw bagaikan pada dirinya sendiri dan Hui beng siansu menjawab seenaknya seperti dia sudah mengetahui.

"Cie in suthay duduk didalam kereta menemani Lie kouwnio dan teman kita yang jadi sais ini adalah Ciu Tong.. "

“Ciu Tong? bukankah dia adalah si iblis penyebar maut..  ?' Lie Hui Houw memutus perkataan Hui beng siansu sambil mengawasi muka Ciu Tong dan Ciu Tong ikut mengawasi dia dengan muka tegang karena merasa marah. “Enak saja kau menuduh orang,.. !” Ciu Tong berkata akan tetapi sepasang tangannya tetap memegang kendali kuda kereta.

"Akan tetapi si iblis justeru menyamar sebagai ujut kau ,, ' sahut Lie Hui Houw juga seenaknya dia bicara.

Ciu Tong mencelat tinggi ke angkasa melepas tali kendali membiarkan kereta meluncur dibagian bawah tubuhnya,  lalu dia hinggap dan masuk kedalam kereta lewat bagian belakang dengan meraih tenda kereta.

Lie Hui Houw cepat cepat meraih tali kendali menggantikan Ciu Tong menjadi sais  sedangkan Hui beng siansu  lalu berkata: "Sebenarnya apa yang sudah terjadi .”

Lie Hui Houw ceritakan pengalamannya dan mengatakan si iblis penyebar maut yang juga telah menyamar sebagai Ciu Tong.

"Akh! sudah dua kali si iblis menyamar sebagai Ciu hiantee, yang pertama kali bahkan si iblis telah membunuh It tin hong Khouw Cie Ya, akan tetapi kejadian itu cepat  diketahui oleh Ang ie liehiap Lee Su Nio serta rombongannya, yang sebenarnya sedang melakukan perjalanan bersama sama,  akan tetapi semuanya kena ditipu oleh si iblis penyebar maut.”

Ciu Tong sebenarnya adalah  salah seorang dari lima dedengkot partai Boe tong, akan tetapi Ciu Tong "ogah" jadi pendeta; dia lebih senang hidup sebagai petani yang bukan sembarang petani, sebab dia memang  tidak  pernah memegang pacul dan tidak pernah mengolah ladang, sebaliknya dia habiskan waktunya untuk berkelahi dan minum arak kalau sedang menganggur.

Banyak teman teman Ciu Tong yang memberikan nasihat supaya Ciu Tong jangan terlalu banyak minum arak  akan tetapi Ciu Tong tidak dapat mengurangi kebiasaannya itu, sebab dia menganggap arak justeru menjadi obat buat dia melupakan kenangan lama, suatu pengalaman pahit yang dia alami bersama sama rekannya; orang orang Boe tong pay.

Sehabis ikut dalam aksi mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut, maka Hui beng siansu berpisah dari sahabatnya; akan tetapi pada suatu hari Ciu Tong datang menemui dia, berkata dengan marah marah sebab si iblis penyebar maut sudah meuyamar menjadi si petani gadungan itu bahkan sudah membunuh it tin hong Khouw Cie Ya.

"Aku bisa konyol, sebab teman teman bisa menuduh aku orang sinting yang sudah membunuh temannya sendiri. ."kata Ciu Tong yang menyudahi laporannya  kepada  Hui  beng siansu.

"Akan tetapi, bukankah s i iblis sudah mati ? tangan hiantee sendiri ikut membinasakan dia..” sahut Hui beng siansu sambil dia berpikir.

'Memang, akan tetapi waktu itu kau tidak ikut turun tangan, jadi si iblis sekarang hidup lagi' sahut Ciu Tong  seenaknya, tidak dengan nada bergurau.

'Bukan itu soalnya, akan tetapi kita pasti sudah kena  tipu  dia lagi. Dia sempat lari sambil menyamar, tetapi waktu kita mengganyang markas kegiatannya, dan menempatkan seseorang lain buat menggantikan ujutnya;  sehingga seseorang itu yang kita binasakan ..." sahut Hui Beng siansu.

“Persetan dengan tipu muslihatnya. Yang penting sekarang kita harus cari dia ...!" kata Ciu  Tong dengan hati membara dan berhasil dia mengajak Hui beng siansu ngebelangsak lagi mencari jejak si iblis penyebar maut yang mereka ketahui sedang menyamar sebagai koay lo jinkee; atau si kakek bongkok yang aneh.

Sebagai hasil dari perjalanan mereka berdua, banyak bukti bukti yang mereka dapatkan tentang keganasan si iblis penyebar maut dalam penyamarannya sebagai ujut si kakek yang aneh dan menamakan diri sebagai Kui-mo ong  atau biang hantu jejadian.

Bukti bukti yang diperoleh kedua tokoh kesamaan  ini,  antara lain bahkan merupakan sebungkusan pakaian milik pemuda Cin Bian Hui, yang mereka peroleh dari pengurus ru- mah penginapan bekas Cin Bian Hui berdua Lie Hong Giok menginap, dan pengurus rumah penginapan itu memberikan keterangan, bahwa mereka menemukan mayat Cin Bian Hui membusuk didalan lubang sumur, serta mereka menemukan sebuah lencana bergambar Kui mo ong, didekat mayat itu. Padahal tiga hari sebelumnya pemuda itu datang bersama seorang dara cantik yang bernama Lie Hong Giok yang kemudian pergi seorang diri tanpa diketahui kemana tujuannya.

"Kini jelas sudah urusannya, Lie Hong Giok..' kata Cie in suthay, ketika mereka beristirahat dan membahas persoalan itu.

'Kasihan Lie kouwnio yang kena gangguan penyakit jiwa...’ Ciu Tong ikut  bicara sedangkan didalam hati dia tambah memaki si iblis penyebar maut yang sudah menodai Lie Hong Giok dan memaki lagi sebab untuk yang kedua kalinya si iblis sudah menyamar meminjam ujut mukanya !

"Suthay hendak membawa Lie kouwnio ke  kuil  Cui gwat am, aku yakin gurumu dapat menyembuhkan penyakitnya dan kalau suthay tidak keberatan kami ingin menyertai suthay sebab aku kepingin sekali bertemu dengan gurumu..;”  kata Hui beng s iansu kepada Cie in suthay.

Bhiksuni yang muda usia itu bersenyum manis, lalu dia berkata,

“Sudah tentu pin nie tidak keberatan, akan  tetapi hendaklah jie wie ketahui kuil Cui gwat am tidak menerima kunjungan kaum laki laki..”

Hui beng s iansu ikut bersenyum lalu dia berkata lagi : "Akan kita Iihat  nanti semoga suthay  tidak mendapat teguran karena membawa kami menghadap kepada gurumu..”

Sekali lagi Cie in suthay bersenyum dan mereka lalu meneruskan perjalanan mereka.

Dikota Hong yang; Lie Hui Houw memisah diri hendak menemui Cin Siao Yan yang menunggu di rumah si naga sakti Louw Sin Liong sedangkan rombongan Cie in suthay yang tiba di kuil Cui gwat am, ternyata sudah ditunggu oleh Tok pin nie Bok lan siancu diluar pintu kuil itu, sedangkan pintu kuil kelihatan ditutup rapat.

Biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu berlutut memberi hormat, juga Hui beng siansu dan Ciu Tong ikut memberi hormat kepada bhiksuni tua yang sakti ilmunya itu, sementara Bok lan siancu lalu memerintahkan muridnya memberikan sebutir obat pulung buat Lie Hong Giok, yang maksudnya mencegah supaya Lie Hong Giok jangan jadi hamil lagi sete lah itu baru perempuan sinting itu dibolehkan dibawa masuk ke dalam kuil oleh Cie in suthay, sedangkan Bok lan siancu mengajak Hui beng siansu berdua Ciu Tong bukan memasuki kuil Cui gwat am, akan tetapi justeru meninggalkan kuil itu.

Cie in suthay yakin bahwa gurunya mempunyai sesuatu urusan dengan Hui beng siansu, dan biarawati yang muda usia ini memang mengetahui bahwa gurunya memiliki ilmu yang dapat mengetahui kejadian kejadian yang bakal datang seperti kepergian Cie-in  suthay ke kota raja, memang  sudah direncanakan buat membantu Lie Hui Houw yang sedang menunaikan tugas dari gurunya.

Teringat dengan pengalamannya yang  mendampingi pemuda perkasa itu, maka Cie in suthay jadi teringat juga dengan dara manja Cin Siao Yan.

Biarawati yang masih muda usia itu mengetahui bahwa Cin Siao Yan jatuh cinta terhadap si "macan terbang", tanpa menghiraukan beda usia, sebab waktu  itu Lie Hui Houw sedang menyamar menjadi laki laki bekas orang hukuman yang usianya sudah lebih dari empat puluh tahun.

Kini Lie Hui Houw kembali sebagai seorang pemuda tampan dan gagah, bagaimana gerangan sambutan Cin Siao  Yan terhadap orang yang dia cintai itu ?

(Cintanya pasti tambah menggelora.. . ') Cie in suthay memberikan jawaban didalam hati, akan tetapi mengapa  Lie Hui Houw justeru lari dan menjauhi diri? apakah pemuda itu tidak mencintai dara yang menyintai dirinya itu ?

('kurang ajar pemuda itu ....') maki Cie in suthay dalam hati dan dia cepat cepat menyusul kepergian pemuda tampan yang perkasa itu yang hendak dia paksa supaya kawin dengan Cin Siao Yan yang sengaja dia ajak mengejar Lie Hui Houw.

“Suthay, mengapa kau paksa aku mengawini dia.. .  ?” tanya Lie Hui Houw waktu berhasil mereka kejar.

“Dia mencintai kau setengah mati, sebaliknya kau tidak menghiraukan dia, apakah kau mau menjadikan dia seorang perempuan sinting yang kehilangan cinta.. ?” sahut Cie in suthay yang ngomel ngomel.

Lie Hui Houw kelihatan tidak senang dengan perkataan biarawati yang muda usia itu dan dia berkata lagi :

'Suthay, tahukah kau dengan arti c inta.’

"Mengapa tidak....?!" sahut Cie in suthay dengan suara tegas, akan tetapi dia  cepat berubah merah mukanya, sedangkan di dalam hatinya buru buru dia menyebut “o-mie to hud".

Sementara itu Lie Hui Houw jadi ngomel ngomel waktu dia berkata lagi.

“Nah, cintaku tidak bisa dijual.. . !" “Siapa kesudian membeli cintamu.. ?" Cie in suthay masih membangkang, akan tetapi se lekas itu juga dia  harus menyebut lagi 'o mie to hud’ didalam hati,

“Cintaku sudah kuberikan kepada lain orang.. . !” makin sengit Lie Hui Houw jadinya.

“Aku tidak perduli! kalau perlu akan kubunuh orang yang mengambil cintamu itu. . !” sekali lagi Cie in suthay harus menyebut “o mie to hud", tetap cuma didalam hati.

“Akan tetapi, aku justeru cinta padamu...!” Tiga kali lagi Cie in suthay harus menyebut 'o mie to hud' didalam hati; sete lah itu dia jatuh seperti orang pingsan. Biarawati yang  masih muda usia dan yang cantik jelita itu jatuh kedalam kolam kembang teratai, tanpa ada Lie Hui Houw berdua  Cin  Siao Yan, sebab dia cuma melamun seorang diri!

000  O-dwkz-hend- ooo

DILUAR TAHU Cie in suthay, urusan yang membikin Bok lan siancu meninggalkan kuil Cui gwat am bersama Hui  Beng siansu dan Ciu Tong justeru adalah urusan yang mengenai pedang ceng liong kiam.

Dahulu kala, pedang itu dijadikan semacam barang pusaka oleh persekutuan Ceng liong pang sedangkan pedang itu ada sepasang yang kemudian digunakan oleh si macan  terbang dan oleh si burung Hong akan tetapi ketika si macan terbang dijadikan orang tawanan oleh pihak kaum penjajah bangsa Mongolia, maka pedang yang  berada pada si macan terbang  itu telah disita dan dikirim  ke istana  kerajaan  bangsa Mongolia, juga pedang yang berada di tangan si burung Hong, dengan lain cara dapat 'disita' oleh pihak pemerintah penjajah, sehingga sepasang pedang itu berkumpul lagi  dan  disimpan lagi didalam istana kerajaan bangsa Mongolia. Akan tetapi menjelang saat saat keruntuhan pemerintah penjajah, waktu itu rakyat jelata merasa sangat tertindas ; sering kali terjadi wabah lapar karena tekanan tekanan dari pihak pemerintah penjajah, baik didalam melaksanakan berbagai macam peraturan yang sebenarnya simpang siur, maupun dengan cara memungut pajak yang  diluar kemampuan rakyat.

Di beberapa tempat terdapat kota kota yang mati, sepi dari perdagangan dan beberapa desa yang tandus,  tidak ada tumbuhan atau tanaman. Yang banyak terdapat adalah kawanan perampok yang melakukan keganasan menambah penderitaan rakyat yang lemah.

Kawanan perampok yang merajalela waktu itu, sebenarnya dapat dipisahkan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah kaum perampok yang benar benar merupakan perampok yang ganas, merampok dan membunuh, tidak perduli rakyat jelata yang hidupnya sudah penuh derita. Dan golongan kedua adalah kaum perampok berbudi. Mereka ini hanya merampok orang orang kaya yang kejam  atau pembesar negeri; lalu hasil mereka merampok tak sayang sayang mereka gunakan buat menolong rakyat jelata yang sedang menderita.

Dibukit pegunungan Cin nia waktu itu dikuasai oleh 5 orang orang gagah yang menyusun suatu barisan perampok yang sangat ditakuti orang. Kelima orang orang gagah itu dikenal dengan nama Cin san ngo liong atau  lima  naga  dan gunung Cin san. Mereka terdiri dari Toa liong  tauw Kwee  Tian  Peng, jie liong tauw Ngo Hoan Eng: sam liong tauw Lie Bok Seng, su liong tauw Cia Keng Jie dan ngo liong tauw Tang Han Cin,

Kian hari kesatuan mereka kian bertambah anggotanya, karena banyaknya rakyat  jelata yang tidak mempunyai pencarian, akhirnya memilih pekerjaan sebagai perampok.

Orang orang yang biasa melintasi daerah pegunungan Cin san sudah tidak banyak lagi sebab mereka telah mendengar perihal adanya gerombolan perampok yang sangat ditakuti itu. Rombongan para pengusaha pengangkutan selalu harus membayar semacam upeti atau iuran, kalau hendak melintasi daerah pegunungan Cin san, sedangkan para piauwsu bahkan tidak ragu ragu meminta bayaran dari orang orang yang sengaja hendak jalan berbareng dalam satu rombongan dengan para piauwsu itu.

Oleh karena keadaan lalu lintas semakin hari menjadi semakin sepi, maka pendapatan para perampok diatas gunung Cin san menjadi kian  berkurang, sedangkan biaya  yang mereka perlukan untuk perbekalan pangan dsb, justeru kian bertambah, maka Cin san ngo  liong kemudian menyusun rencana kerja merampok ditempat yang jauh terpisah dari gunung Cin san, dan pekerjaan itu mereka atur secara bergilir dan terdiri dari lima rombongan.

Pada suatu hari adalah menjadi giliran rombongan  ngo liong tauw Tang Han Cin untuk melakukan perampokan. Rombongan yang terdiri dari duapuluh orang itu telah melakukan perjalanan se lama tiga hari, akan tetapi mereka belum memperoleh hasil sampai kemudian mereka menemukan suatu peristiwa percobaan perampokan yang sedang dilakukan oleh serombongan para pengemis terhadap suatu iringan kereta piauw yang dipimpin  oleh seorang piauwsu tua, akan tetapi kelihatannya lihay ilmu s ilatnya.

Dikalangan para pengemis yang sedang berusaha merampok itu, kelihatan sudah banyak yang menjadi korban tewas atau luka, demikian juga terhadap korban dari rombongan para pengawal kereta piauw. Akan tetapi pertempuran masih terus berlangsung dan piauwsu tua itu kelihatan dikepung oleh lima orang pengemis yang juga mahir ilmu s ilatnya.

Cin san ngo liong tauw Tang Han Cin segera menyusun siasat. Diperintahkannya anak buahnya umpatkan diri untuk menunggu tanda perintahnya, sedangkan dia  sendiri lalu memacu kudanya dan dengan lagak seorang pendekar, langsung dia memberikan bantuan bagi pihak para pengemis itu: mengepung si piauwsu tua, sampai si piauwsu tua itu tewas terkena golok ngo-liong tauw Tang-Han Cin, yang bahkan terus mengamuk dikalangan para pengawal kereta piauw dibantu oleh para  pengemis,  meskipun  mereka kelihatan agak tidak setuju, sampai habis semua para pengantar kereta piauw terbinasa atau terluka parah.

Merasa telah mendapat bantuan dari ngo liong tauw Tang Han Cin yang mereka tidak kenal, maka pihak para pengemis mengucap terima kasih dan menanyakan nama Tang Han Cin akan tetapi pemimpin kelima dari gerombolan   perampok diatas gunung Cin san itu hanya tertawa; dan tidak mau memberitahukan.

Pihak para pengemis itu tidak memaksa, mereka beranggapan bahwa mereka telah bertemu dengan seorang pendekar aneh yang tidak mau diketahui namanya. Sekali lagi mereka mengucap terima kasih, setelah itu mereka mulai mengangkut kereta piauw rampasan dengan sisa tenaga yang ada, sementara yang luka luka telah mereka angkut juga.

Para pengemis  itu belum pergi jauh, ketika mereka mendengar pekik suara C in san-ngo liong tauw Tang Han Cin, lalu serentak mereka disergap oleh rombongan berandal dari gunung Cin san, sementara Tang Han Cin sekali lagi perlihatkan kegagahannya, dan kali ini yang menjadi korban adalah di pihak para pengemis yang benar benar merasa tidak mengerti dengan sepak terjang penolongnya !

Hanya terdapat beberapa orang saja dipihak para pengemis yang berhasil kabur menyelamatkan diri, yang lain semuanya tewas, termasuk orang orang yang sudah terluka parah akibat pertempuran melawan para rombongan piauwsu tadi.

Dengan demikian kereta piauw itu telah diangkut oleh kawanan berandal dari gunung  Cin san, untuk dibawa kemarkas mereka. Ditengah perjalanan itu, sempat Tang  Han Cin  memeriksa isi kereta yang ternyata adalah miliknya salah  seorang pangeran dari pemerintah bangsa Mongolia, isinya banyak terdapat uang emas dan sepasang pedangCeng liong kiam. Suatu hasil kerja yang sangat gemilang, yang benar benar sangat diluar dugaan ngo liong tauw Tang Han Cin sehingga mendatangkan suatu pemikiran yang tidak baik pada diri pemimpin ke lima dari kawanan berandal itu, yang hendak memiliki sepasang pedang Ceng liong kiam buat pribadinya sendiri.

Demikian waktu ma lam harinya rombongan ini beristirahat disuatu tempat yang belukar, maka ngo liong tauw Tang Han Cin telah menyisihkan sejumlah besar uang mas berikut sepasang pedang Ceng liong kiam, yang  kemudian  dia pendam didekat sebuah pohon.

Esok paginya rombongan perampok itu menemukan pemimpin mereka sedang rebah dengan tubuh gemetar dan tubuhnya terasa panas, menandakan ngo liong tauw Tang Han Cin sedang menderita penyakit demam yang parah.

Hal ini sebenarnya adalah menjadi s iasatnya Tang Han Cin. Dengan mengerahkan ilmu tenaga dalam, dia berhasil membikin tubuhnya gemetar seperti orang yang menggigil sementara peluh membasahi muka dan tubuhnya, sehingga terasa panas bagi orang yang memegangnya.

Kemudian kepada rombongannya itu; Tang Han Cin mengatakan bahwa pada pertempuran  melawan  para pengemis dia terkena suatu serangan tenaga dalam, dan dia memerintahkan untuk semua rombongannya meneruskan perjalanan mereka menuju keatas gunung Cin san, untuk mengabarkan kepada ke empat pemimpin mereka.

Dua anggota gerombolan yang  hendak  perlihatkan kesetiaan mereka, mengatakan hendak menunggu dan merawat ngo liong tauw-Tan Han Cin, sedangkan yang lain lalu meneruskan perjalanan mengangkut kereta piauw menuju keatas gunung Cin san.

Setelah lewat beberapa hari, maka ditempat  belukar  itu telah datang jie liong tauw Nio Hoan Eng  dan su  liong  tauw Cia Keng Jie, dengan diantar oleh dua orang anggota berandal yang menjadi anak buahnya Tang Han Cin.

Akan tetapi, ditempat itu mereka hanya menemukan sisa mayat dari kedua orang yang menemani Tang Han Cin; sementara ngo liong tauw Tang Han Cin hilang tidak diketahui jejaknya sehingga pihak yang mencari telah menduga bahwa ngo liong tauw Tang Han Cin telah ditangkap,  entah  oleh pihak pemerintah penjajah atau oleh pihak para piauwsu atau oleh pihak para pengemis yang merasa dirugikan.

Setelah lewat beberapa waktu setelah terjadinya  peristiwa itu, maka tersiar suatu berita tentang isi kereta piauw yang dirampas, yang katanya terdapat sepasang pedang ceng liong kiam, disamping adanya barang barang permata dan uang  emas yang tidak ternilai harganya !

Keempat naga yang menjadi pemimpin perampok diatas gunung Cin san menjadi sangat terkejut. Tidak pernah mereka melihat adanya pedang ceng liong kiam pada kereta  piauw yang mereka terima, sebagai hasil kerja ngo liong tauw Tang Han Cin.

Toa liong tauw Kwee Thian Peng mulai merasa curiga terhadap hilangnya Tang Han Cin. Mungkin ngo liong tauw Tang Han Cin sengaja menghilang, karena hendak memiliki sepasang pedang pusaka itu untuk dirinya sendiri, demikian dengan sejumlah permata dan uang emas yang tidak terdapat didalam kereta rampasan itu.

Sam liong tauw Lie Bok Seng tidak sependapat dengan kecurigaan Toa liong tauw Kwee Thian Peng, akan tetapi dia kalah suara karena Jie liong tauw Nio Hoan Eng dan su-liong tauw Cia Keng Jie berada dipihak toa liong tauw Kwee Thian Peng. Akhirnya diambil keputusan untuk mereka, untuk melakukan penyelidikan tentang jejak ngo liong  tauw Tang Han Cin, disamping mereka tak  menghentikan  kegiatan mereka sebagai perampok diatas gunung Cin san. Maka sekali lagi mereka mengadakan pembagian tugas secara bergilir. Pertama kali yang akan mengadakan penyelidikan adalah toa liong tauw Kwee Thian Peng, untuk jangka waktu sebulan.

Untuk melakukan penyelidikan mencari jejak Tang Han Cin, maka toa liong tauw Kwee Tian Peng menyamar menjadi seorang hartawan, dan melakukan perjalanan dengan diantar oleh dua orang bekas anak buahnya Tang Han Cin. Masing masing bernama Ong Toa dan Ouw Sam.

Sekali lagi mereka mendatangi tempat belukar bekas terjadinya ngo liong tauw Tang Han Cin ditinggalkan, karena katanya sedang menderita sakit. Kemudian mereka mendatangi tempat bekas terjadinya peristiwa perampasan kereta piauw dan langkah penyelidikan itu menuntun toa liong tauw Kwee Thian Peng mengunjungi Tay wie piauwkiok perusahaan pengangkutan yang dahulu mendapat tugas mengirim kereta piauw yang berisi pedang 'ceng liong  kiam' itu. Tay wie piauwkiok berkedudukan dikota Tay  ciu,  akan tetapi perusahaan itu sudah ditutup oleh pihak pejabat pemerintah setempat yang bahkan telah menahan semua anggota keluarga pengurus Tay wie  piauwkiok  sebagai jaminan sampai pihak perusahaan itu mengganti nilai kiriman yang hilang dan mengembalikan pedang 'ceng liong kiam".

Satu satunya orang piauwkiok yang tidak ditahan adalah  Wie Keng Siang, bekas pemimpin perusahaan yang diharuskan bertanggung jawab atas kehilangan barang barang yang te lah dirampas oleh pihak penjahat.

Usia Wie Keng Siang waktu itu sudah mencapai empat  puluh tahun atau lebih sedikit. Dia adalah seorang ahli waris tunggal dari ilmu silat golok Marga Wie yang tidak pernah dikembangkan kepada pihak luar, akan tetapi W ie Keng Siang ini mempunyai sahabat yang bernama Liauw Pek Jin, dan Liauw Pek Jin ini sangat gemar mengumpulkan dan mencangkok berbagai macam ilmu silat golok, sampai kemudian Liauw Pek Jin  ini menamakan ilmu silat golok ciptaannya itu "See gak hua  kunbun”, atau  ilmu  silat gabungan dari Pas ir putih.

Dalam usahanya mencari pihak penjahat yang telah merampas kereta piauw yang menjadi tanggung jawabnya, maka Wie Keng Siang memerlukan mengunjungi desa Pek see cung, atau desa pasir putih yang letaknya di seberang sungai Tiang kang.

Ternyata desa pasir putih itu hanya merupakan suatu perkampungan kecil, yang penduduknya terdiri dari  dari belasan rumah, yang dibangun tidak  secara  berkelompok, akan tetapi saling terpisah cukup jauh.

Untuk mencapai rumah sahabatnya itu Wie Keng Siang harus melintasi jalan daerah pegunungan yang sunyi dan yang tidak mudah dicapai oleh setiap orang sampai kemudian dia sampai disebuah rumah dengan pekarangan yang  sangat besar dan luas, penuh dengan berbagai macam tanaman.

Dengan langkah kaki yang perlahan, Wie Keng Siang mendekati halaman rumah sahabatnya itu sampai kemudian  dia hentikan langkah kakinya, sebab didalam halaman itu dia melihat ada lima bocah yang sedang berlatih ilmu s ilat golok.

Disuatu saat Wie Keng Siang berdiri terpesona karena menyaksikan bocah bocah itu sedang memainkan jurus jurus ilmu silat golok Marga Wie. Ada beberapa bagian dari jurus jurus ilmu silat golok itu yang dilihat agak kacau, atau menyimpang dari ketentuan yang dia ketahui, dari itu  Wie Keng Siang tak kuasa menahan diri, dan dia muncul dengan perdengarkan suara tertawa, lalu dia berkata :

"Ha ha ha ! kalian telah membuat beberapa kesalahan.. !” Sebenarnya waktu itu W ie Keng Siang sedang berduka hati karena semua keluarganya sedang ditahan oleh pihak pejabat pemerintah setempat, akan tetapi dia dapat tertawa sebab melihat bocah bocah itu berlatih. Didalam hati dia memuji sahabatnya, Liauw Pek Jin, yang sekali melihat dan mendapat sedikit penjelasan, telah berhasil memiliki ilmu silat  golok Marga Wie, bahkan telah berhasil mengajarkan kepada murid muridnya, meskipun terdapat sedikit kesa lahan-kesalahan atau menyimpang dari ketentuan.

Sementara itu Liauw Pek Jin keluar ketika mengetahui kedatangan sahabatnya dan keduanya saling bicara sampai kemudian dengan muka duka W ie Keng Siang menceritakan perihal peristiwa malapetaka yang sedang menimpa perusahaan dan keluarganya.

'Memang sejak dahulu sudah aku anjurkan supaya hiantee hentikan pekerjaan yang penuh resiko itu, sebab keadaan sekarang penuh dengan kerusuhan, sedangkan negara sedang terancam..” demikian antara lain terdengar perkataan  Liauw Pek Jin yang lalu meneruskan; setelah mempersilahkan tamunya minum.

"... tentang para pengemis yang melakukan penjegalan seperti berita yang kau terima saat ini yang aku ketahui ada dua macam persekutuan para pengemis. Yang pertama adalah Hek kin kay pang atau persekutuan pengemis  dengan selendang hitam, yang dipimpin oleh seorang pengemis sakti yang mengaku bernama Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho, kedua adalah persekutuan Kay pang yang dipimpin oleh Oey Yok Su, yang mempunyai rencana atau hasrat  hendak mempersatukan semua kaum pengemis yang berada di negeri Cina ..."

“Entah persekutuan pengemis yang mana, yang telah melakukan penjegalan itu..” kata Wie Keng Siang yang  kelihatan menjadi semakin bertambah kesal. “Justeru hal ini yang harus menjadi langkah pertama dari penyelidikan kita,” sahut Liauw Pek jin yang lalu meneruskan perkataannya :

"... terlebih dahulu kita harus mendapat kepastian, persekutuan para pengemis yang mana yang telah melakukan penjegalan, lalu kita hubungi pemimpin mereka, supaya kita ketahui pihak berandal mana yang telah berhasil merampas kereta piauw itu, sebab setahu aku ditempat  terjadinya peristiwa perampasan, tidak terdapat kaum perampok seperti yang kau ceritakan..”

Wie Keng Siang agak terhibur, karena sahabatnya telah memberikan titik terang buat urusan yang sedang dia hadapi. Dan dia menjadi girang karena mengetahui kesediaan sahabatnya untuk ikut melakukan penyelidikan.

Demikian esok harinya dua bersahabat itu  meninggalkan Pek see cung. Mereka menyusuri sungai Tiang kang dengan menyewa sebuah perahu, sampai di hari ketiga baru mereka mendarat dan meneruskan perjalanan menuju dusun Ciam kauw tin yang diketahui menjadi pusat dari persekutuan kaum pengemis dengan selendang hitam, atau Hek kin kay pang.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).