Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 15

Jilid 15

UNTUK maksudnya itu, maka mereka melakukan perjalanan sekaligus dalam satu rombongan yang terdiri dari pemuda Lee Kuo Cen, Ang ie liehiap Lee Su Nio (adik kandung Lee  Kuo Cen), Soan siucay Cie Poan Ciang (kekasihnya Lee Su Nio), si Lutung sakti Tek Kun Eng, It hong Khouw Cie Ya dan pemuda Bun Siu Gie.

Disepanjang perjalanan mereka itu asyik membicarakan kisah pengalaman mereka, terutama pengalaman waktu mereka berhadapan dan mengepung Gan Hong Bie alias Thian tok cuncu alias si iblis penyebar maut, sampai mereka berhasil membinasakan si iblis yang hancur lebur terkena berbagai macam senjata tajam karena sangat meluapnya kemarahan para pendekar penegak keadilan waktu itu.

Dan diluar tahu mereka, perjalanan mereka  itu  diikuti oleh si iblis penyebar maut yang berujut seorang kakek bongkok. Pihak rombongan Lee Kuo Cen bahkan tidak menghiraukan waktu berapa kali mereka menoleh dan melihat adanya  si kakek bongkok yang jalan seenaknya cukup jauh terpisah dari rombongan Lee Kuo Cen, sampai kemudian sikakek bongkok menghilang tak tahu kapan dan tak tahu dimana dia memisah diri.

Kemudian ketika rombongan Lee Kuo Cen ini sedang menyusuri suatu jalan daerah pegunungan, tiba tiba jauh di hadapan mereka, dilihat  oleh mereka adanya  seseorang seperti Ciu Tong yang sedang berjalan seorang  diri  mendahului mereka.

Ciu Tong adalah salah satu dari 5 tokoh golongan Bu tong; Umurnya sudah mencapai 50 tahun lebih, bertubuh sehat dan mahir ilmu silatnya. Kebiasaan Ciu Tong adalah memakai pakaian seperti seorang petani yang hidup di dusun. Rombongan Lee Kuo Cen merasa heran, oleh karena mereka mengetahui bahwa Ciu Tong saat itu seharusnya melakukan perjalanan bersama sama teman akrabnya, yakni Hui beng siansu atau yang dahulu dikenal dengan nama Tan Hui Beng dan mereka berdua seharusnya sedang menuju kebagian utara; akan tetapi waktu itu mereka melihat  Ciu Tong berjalan seorang diri.

“Ciu susiok; tunggu!” teriak Soan siucay Cie Poan Ciang dan pemuda ini mendahului rombongannya buat berusaha menyusul Ciu Tong. Akan tetapi mereka jadi bertambah heran, karena tiba tiba mereka melihat Ciu Tong justeru lompat melesat memasuki daerah belukar disisi jalan sebelah kanan dan menghilang dari pandangan mereka.

"Agaknya kambuh lagi penyakit Ciu susiok, yang gemar berlaku jenaka ..." kata Soan siucay Cie Poan Ciang membikin yang lain jadi tertawa dan mereka langsung mengikuti Soan siucay Cie Poan Ciang karena pemuda itu sudah langsung mendahului memasuki daerah belukar bekas tempat Ciu Tong tadi menghilang.

It tin hong Khouw Cie Ya berjalan paling belakang. Sebagai seorang yang usianya sudah lewat empatpuluh tahun, dia merasa tidak perlu tergesa gesa dan biasa bertindak dengan perhitungan:

Disuatu saat It tin hong Khouw Cie Ya mendengar bunyi suatu suara bagaikan langkah kaki seseorang. Dia hentikan langkahnya untuk mendapatkan kepastian, membiarkan rekan rekan seperjalanannya yang sudah jauh meninggalkan  dia seorang diri.

Mau tak mau, It tin hong Khouw Cie Ya menjadi tertawa didalam hati. Lain orang sengaja mengejar tokoh Bu-tong pay yang gemar bergurau itu, tahu tahu Cie Tong malah duduk seenaknya. It tin hong Khouw Cie Ya sengaja melangkah perlahan dan ringan, supaya tidak perdengarkan bunyi suara. Agaknya ingin juga dia bergurau dengan jago dari Bu tong pay itu !

Akan tetapi, ketika It tin hong Khong Cie Ya sudah kian mendekati, maka secara tiba-tiba Ciu Tong bangun berdiri, memutar tubuh dan mengawasi It-tin hong Khouw Cie Ya.

It-tin hong Khouw Cie Ya menjadi sangat terkejut bagaikan dia melihat hantu disiang hari,  oleh karena ujut muka  Ciu Tong yang berdiri dihadapannya, ternyata berujut muka Gan Hong Bie atau si iblis penyebar maut yang dianggap sudah  mati.

'Ha ha ha !' tawa si manusia muka seribu bagaikan tawa

iblis yang siap menyebar maut, sementara itu It tin  hong Khouw Cie Ya masih berdiri terpesona dengan muka pucat karena kaget.

"Kau... !” kata It tin hong Khouw Cie Ya seperti memaksakan diri; akan tetapi hanya itu saja yang dapat dia ucapkan karena selagi dia masih gugup, sempat dilihatnya tangan kanan si manusia muka seribu bergerak dan sebatang belati terbang me lesat dan membenam dibagian dada Khouw Cie Ya.

Segera pandangan mata It tin hong Khouw Cie Ya menjadi hambar. Sekali lagi didengarnya suara tawa yang khas dari Si iblis penyebar maut, setelah itu si iblis  penyebar maut melangkahkan kakinya mendekati Khouw Cie Ya dengan sebelah tangan membawa pisau 'coan yo shin jie', siap hendak membedah !

It tin-hong Khouw Cie Ya berteriak sekeras  yang  dia mampu lakukan, maksudnya untuk memanggil kawan kawan yang lain sementara belati maut itu kemudian  merobek perutnya, sampai ususnya ikut tertarik keluar.

Pemuda Lee Kuo Cen mendengar teriak suara It tin hong Khouw Cie Ya, juga rekan rekan yang lain ikut mendengar. Mereka serentak menghentikan langkah kaki mereka yang sedang mencari Ciu Tong. Mereka memang sedang merasa heran, oleh karena sejak tadi mereka t idak melihat It tin hong Khouw Cie Ya yang memisah diri dari kelompok mereka: T iba tiba mereka serentak merasa cemas.

Si Lutung sakti Tek Kun Eng bergerak cepat hendak mengejar kearah terdengarnya teriak suara Khouw Cie Ya tadi, akan tetapi dia disusul oleh Ang ie liehiap Lee Su Nio yang melesat dalam bentuk suatu bayangan merah.

Dara yang perkasa dan yang berbaju merah itu berhenti tepat dekat tubuh It tin hong Khouw Cie Ya, yang sudah rebah tewas secara sangat mengerikan.

Ang ie liehiap Lee Su Nio kemudian memungut sesuatu benda dekat mayat Khouw Cie Ya, lalu secepat kilat tangan kirinya bergerak dan sebatang kim Cie piao dia  lepaskan mengarah semak semak belukar disamping kirinya. Seseorang berteriak mengaduh, dan seseorang lompat keluar dari semak semak belukar, sementara Ang ie liehiap Lee  Su  Nio  sudah siap dengan pedang ditangannya, akan tetapi dia t idak segera menyerang, sebab dilihatnya seseorang itu adalah seorang kakek bongkok yang bertubuh kurus dan yang tidak dia kenal; sementara dimulut si kakek bongkok  kelihatan  masih menggigit sebatang kim cie piao milik Lee Su Nio !

Sementara itu, Lee Kuo Cen dengan teman temannya juga sudah tiba ditempat itu, dan sempat menyaksikan kejadian itu.

Si kakek bongkok mengambil kim cie piao dari mulutnya, lalu dengan menyertai senyum licik dia berkata :

'Liehiap, kau hampir melukai aku si orang tua... “

'Kui mo ong ...” Ang ie liehiap Lee Su Nio bersuara menggerutu.

Si kakek bongkok atau si iblis penyebar maut menjadi sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa secepat itu Ang ie liehiap Lee Su Nio mengetahui penyamarannya. Secara tiba tiba dia me lontarkan kim cie piao yang sedang dia pegang kearah dara perkasa berbaju merah itu.

Lee Kuo Cen beramai menjadi sangat terkejut melihat  gerak yang sangat cepat dan sangat lincah dari si kakek bongkok. Suatu kejadian yang benar benar diluar dugaan mereka dan mereka tidak sempat mencegah.

Mereka perdengarkan teriak suara mereka akan tetapi dengan sangat lincah Lee Su Nio lompat berkelit, sehingga kim cie piao yang mengarah dia nyaris mendapat mangsa dan membenam disuatu pohon,  yang cepat diambil oleh Soan siucay Cie Poan Ciang.

("sayang ...”) bisik si kakek bongkok didalam  hati. Sekiranya piao tadi berhasil melukai Lee Su Nio, maka besar kemungkinan dara perkasa berbaju merah itu akan binasa, sebab adalah suatu muslihat belaka apabila piao itu berada dimulutnya karena sebenarnya piao itu dia tangkap memakai tangannya, dan cepat cepat dia  telah berikan larutan  bisa racun maut.

Sementara itu si kakek bongkok alias si iblis penyebar maut telah menyerang lagi; memakai kipas baja sedemikian lekas dilihatnya Ang ie liehiap Lee Su Nio berhasil menghindar dari serangan piao tadi.

di pihak Ang ie liehiap Lee Su Nio, dara perkasa berbaju merah ini tidak menjadi gentar menghadapi lawan yang datangnya secara bertubi tubi. Dara perkasa ini sebaliknya merasa heran, karena dia tidak kenal dengan si  kakek bongkok yang ternyata dapat bergerak gerak gesit .dan lincah, disamping berbagai serangannya merupakan serangan maut yang tidak boleh dianggap remeh!

Sementara itu, Soan siucay Cio Poan Ciang yang sempat mendengar suara kekasihnya yang menggerutu tadi,  atau yang menyebut perkataan ’kui mo ong" atau biang hantu jejadian sejenak kelihatan ragu ragu. Akan tetapi tak sempat dia berpikir lama, sebab pada saat berikutnya dia  lompat memasuki arena pertempuran buat dia membantu kekasihnya.

Dalam sengitnya Koay lo jinkee atau sikakek bongkok yang aneh kelakuannya melakukan berbagai serangan yang hebat terhadap sepasang lawannya. Dia sedang bergerak memakai jurus jurus dari burung elang mencari mangsa ketika dia sempat melihat gerak pemuda Bun Siu Gie yang hendak membokong dia memakai sesuatu senjata rahasia.

Dengan suatu gerak tipu burung elang menembus angkasa maka Koay lo jinkee atau si kakek bongkok yang aneh melakukan suatu lompatan tinggi buat dia berkelit dari serangan sepasang lawannya dan selagi tubuhnya berada di udara si kakek bongkok itu sempat menangkis sebatang panah kecil yang terpental kena benturan kipasnya yang istimewa !

Menyusul berbagai gerakannya itu Koay lo jinkee menekan suatu alat rahas ia pada kipasnya lalu meluncur beberapa batang jarum maut hek tok ciam yang berhasil melukai Bun  Siu Gie akan tetapi sebelum pemuda itu rubuh pingsan masih sempat pemuda itu melepaskan sebatang panah lagi dan  panah kecil itu berhasil membenam dibagian pundak sebelah kiri dari Koay loo jinkee.

Si kakek bongkok yang aneh alias si iblis penyebar maut menjadi terkejut. Darah telah keluar dari lukanya yang terkena panah itu. Dia  khawatir kalau kalau senjata musuh itu menggunakan bisa racun seperti jarum maut hek tok ciam yang menjadi senjatanya. Oleh karena itu  selagi  tubuhnya baru saja bebas dari kepungan sepasang musuhnya; maka cepat cepat dia lari menyingkir dari arena pertempuran.

Untung bagi si iblis penyebar maut bahwa pihak lawannya tidak ada yang mengejar; sebab Soan siucay Cie Poan Ciang beramai lebih mementingkan berusaha hendak menolong Bun Siu Gie akan tetapi luka yang diderita oleh pemuda itu justru adalah pada bagian sepasang matanya yang terkena jarum maut hek tok ciam disamping ada beperapa batang lagi yang membenam didalam tubuhnya.

Andaikata Bun Siu Gie dapat ditolong nyawanya namun pemuda itu pasti akan menjadi seorang tunanetra. Lagipula pada saat itu tidak ada diantara mereka yang membekal obat anti bisa racun yang khas dari si iblis penyebar maut, sehingga dalam waktu yang singkat pemuda itu tewas dengan mulut mengeluarkan busa berwarna hitam agak kebiru biruan juga kulit mukanya berobah menjadi biru.

Dengan demikian It tin hong Khouw Cie Ya sudah tewas dibedah memakai belati 'yoan yo shin-jie dan pemuda Bun Siu Gie tewas terkena jarum hek-tok ciam. Dua macam senjata yang tidak asing lagi menjadi milik si iblis  penyebar  maut. Akan tetapi siapakah sebenarnya si kakek bongkok  yang tangkas itu ? Sukar rasanya untuk diduga oleh rombongannya Lee Kuo Cen.

Tidak seorang pun diantara rombongan Lee Kuo Cen yang dapat memastikan bahwa si kakek bongkok  adalah ujut penyamaran Gan Hong B ie alias si iblis penyebar maut, sebab setahu mereka Gan Hong Bie itu sudah  mereka  binasakan; dan siapakah kui mo ong seperti yang pernah  disebut  oleh Ang ie liehiap Lee Su Nio?

Dara perkasa berbaju merah itu menjawab pertanyaan semua rekannya dengan mengatakan bahwa tadi sebenarnya dia sedang membaca sebuah lencana  yang dia  temukan didekat mayatnya Khouw Cie Ya dan lencana itu lalu dia perlihatkan kepada semua temannya.

— oodwkz)X(hendoo—

SEBAGAI akibat dari pertemuan dan pertempuran rombongan Lee Kuo Cen dengan si kakek bongkok yang aneh itu maka dikemudian hari menjadi gempar lagi orang orang di kalangan rimba persilatan, terlebih setelah mereka mengetahui tentang tewasnya Cin Bian Hui,  bekas  piauwsu tua Ma Heng Kong dan banyak lagi rekan rekan mereka yang menamakan diri sebagai kelompok para pendekar penegak keadilan sehingga terjadi pertentangan pendapat diantara meraka; sebab ada yang mengatakan bahwa si kakek bongkok yang aneh maupun seseorang yang menamakan  diri sebagai kui mo ong adalah ujut penyamaran murid murid si iblis penyebar maut. Dan yang membikin orang orang menjadi pusing kepala adalah pendapat kelompok lain yang menduga bahwa s i iblis penyebar maut masih belum mati atau mungkin hidup lagi.

Betapapun halnya orang orang gagah yang menamakan diri sebagai pendekar penegak keadilan semuanya berpendapat bahwa si kakek bongkok ataupun kui mo ong atau siapa saja yang menjadi sisa sisa orang Thian tok bun harus dibasmi  atau dibinasakan sebelum mereka sendiri yang bakal dibinasakan !

Dilain pihak Koay lo jinkee atau sikakek bongkok yang aneh berhasil menyelamatkan diri dari kepungan rombongannya Lee Kou Cen.

Si iblis penyebar maut dalam ujut penyamaran sebagai sikakek bongkok yang aneh itu, dia merasa yakin bahwa pihak musuh akan melakukan pengejaran sebab Lie Su Nio, oleh karena dia terus lari menjauhi tempat itu dan disepanjang pelariannya itu tak sudahnya dia memikirkan betapa rahasia penyamarannya sebagai kui mo ong cepat diketahui oleh Ang  ie liehiap Lee Su Nio. Si iblis tidak menduga  bahwa  saat  itu Lee Su Nio sebenarnya sedang membaca lencana kui mo ong yang ditemukan didekat mayat It tin hong Khouw Cie Ya; jadi bukan sebab Lee Su Nio mengetahui bahwa s i kakek bongkok itu adalah 'Kui mo ong'.

Sekarang selagi dia menyamar untuk yang kedua kalinya sebagai Ciu Tong, ternyata lagi lagi seorang perempuan telah mengetahui tentang penyamarannya itu dan perempuan itu justeru adalah Cie in suthay, salah seorang musuhnya yang paling dia benci dan yang paling dia ketahui mempunyai ilmu tinggi.

Kemarahan si iblis penyebar maut jadi meluap kemudian seraup paku paku "tok liong teng’ atau paku paku naga  beracun dilontarkan kearah biarawati yang cerdas dan perkasa itu, akan tetapi dengan tangkas Cie in suthay menangkis memakai sepasang pisau belati yang dia pegang pada kedua tangannya, dan dia benar benar sangat tangkas serta gesit; sebab semua paku paku naga beracun itu kena ditangkis terpental tidak ada yang kena dia dan tidak ada juga yang berhasil menerobos melukai Lie Hong Giok yang sengaja dia lindungi.

Si iblis penyebar maut dalam ujut muka Ciu Tong lalu bersiap siap hendak menyerang memakai ilmu eng  jiauw kang.

"Tunggu ....!” teriak Cie in suthay yang melarang dan memberikan tanda memakai sepasang tangannya lalu dia menambahkan perkataannya :

“... kalau aku berkelit dari seranganmu, maka harus kau pikirkan yang bakal menjadi korban  adalah Lie kouwnio padahal susah susah kau culik dia buat kau jadikan sebagai pengganti binimu, dan untuk itu kau bahkan telah membunuh suhengnya yang sekaligus menjadi kekasihnya ,.,”  Cie  in suthay menunda perkataannya buat dia membaca  isi hati si iblis penyebar maut melalui sinar matanya, setelah itu dia menyambung lagi.

”.... sebaliknya, kalau aku menangkis buat menentang serangan kau memakai ilmu pek kong ciang (pukulan udara kosong): maka kau tentu tahu akibatnya, seumur hidup kau bakal tidak bisa kawin, meskipun kau berhasil membikin aku mampus!" Si iblis penyebar maut dalam ujut penyamaran sebagai Ciu Tong membanting sebelah kakinya tanda dia  tobat menghadapi biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu.

“Akh !" dia bersuara seperti merasa putus asa lalu cepat cepat dia memutar tubuh hendak meninggalkan ruangan itu.

“Eeh ! enak saja kau mau pergi tanpa pam it !" tegur Cie in suthay sambil kedua tangannya bergerak melepas sepasang pisau belati yang dipegangnya mengarah si iblis penyebar maut.

Si iblis mengetahui datangnya serangan itu. Dia  lompat tinggi akan tetapi sepasang pisau belati itu berhasil membenam dibagian pundaknya yang sebelah  kiri  sehingga dia rubuh terguling akan tetapi secepat itu juga seraup paku paku tok liong teng telah berhamburan kearah Cie in  suthay dan bhiksuni yang muda usia itu sampai harus membuka kain penutup kepalanya untuk dijadikan semacam selendang putih yang bergerak seperti ular yang melibat semua paku  paku naga beracun yang dilepaskan oleh si iblis  penyebar  maut yang waktu itu sudah cepat cepat lompat kabur, selagi Cie in suthay sibuk perlihatkan tari se lendang putih yang bergerak indah.

Lie Hui Houw masuk mendahulukan Lauw K iam Seng selagi Cie in suthay sedang meneliti paku paku tok liong teng yang sudah dia kumpulkan:

Sejak awal perkenalannya dengan biarawati yang  muda usia itu baru sekali ini Lie Hui Houw sempat melihat rambut indah dan panjang lepas terurai; sampai dia berdiri terpesona dan menjadi terkejut waktu Lauw Kiam Seng menyentuh sebelah pundaknya.

“Hmm ! enak kalian  berpesta ya ...” Cie-in suthay mendahulukan menyapa. "Eh ! bagaimana suthay mengetahui ?” tanya Lauw Kiam Seng yang merasa heran; sedangkan diam diam dia  ikut mengagumi kecantikan muka yang ayu dari sang dewi itu.

"Bau arak yang memenuhi ruangan ini “ sahut Cie in suthay kemudian dia  menceritakan tentang kedatangan si iblis penyebar maut tadi yang menyamar sebagai Ciu Tong dan menyamar sebagai si malaikat maut yang ke delapan.

"Iblis penyebar maut yang menyamar jadi malaikat maut kedelapan dan menyamar jadi...." Lauw Kiam  Seng menggerutu akan tetapi tidak sempat meneruskan perkataannya itu; sebab sudah diputus oleh Lie Hui Houw :

"Akan tetapi aku sudah bunuh dia !"

"Bunuh siapa?" tanya Cie in suthay dan mengawasi.

'Si malaikat maut ke 8. Jadi tidak mungkin si iblis yang menyamar.”

"Kau sudah pernah melihat muka si iblis  penyebar maut  dan muka si malaikat maut?" tanya lagi Cie in suthay.

'Dia seorang tua kerempeng yang ..”

'Yang apa?" tanya Cie in suthay sebab Lie Hui Houw tidak melengkapi perkataannya,

'Yang tidak pandai ilmu silat..” sahut Lie Hui Houw  yang baru teringat bahwa waktu dia menyerang tadi, si  malaikat maut ke 8 kelihatan ketakutan; dan tidak bersiap siap buat melakukan perlawanan berlainan dengan lagak seorang yang pandai ilmu silat.

“O mi to hud! kau sudah salah membunuh orang,” kata Cie in suthay yang melihat keragu raguan Lie Hui Houw, sesudah itu Cie in suthay menceritakan tentang pengalaman beberapa orang rekannya yang sudah beberapa kali kena ditipu oleh si iblis penyebar maut bahkan Lie Hui Houw berdua Kanglam hiap Ong tiong Kun sudah pernah kena ditipu oleh si iblis penyebar maut itu.

Waktu tadi dikejar dan menghilang dirumah seseorang penduduk setempat, si iblis penyebar maut dalam ujut sebagai si ma laikat maut yang ke delapan, berhasil menemukan seseorang yang dia tidak kenal yang cepat cepat dia ganti pakaiannya, memakai seragam si ma laikat maut yang ke delapan; lengkap dengan selubung penutup kepala lalu disaat dia mengetahui Lie Hui Houw datang menyusul, maka si iblis mendorong seseorang itu, yang lalu diserang dan dibinasakan oleh Lie Hui Houw sedangkan si iblis  kemudian  menghilang dan muncul di kuil tua dalam ujut penyamaran sebagai Ciu Tong!

Sementara itu Lie Hui Houw yang menjadi sangat penasaran, malam itu dia jadi bergadang lagi memikirkan kebodohannya yang sudah dua kali kena ditipu oleh si iblis penyebar maut, sebaliknya Cie in suthay ternyata tidak kena ditipu oleh si iblis itu.

Suatu hal yang tidak diketahui oleh Lie Hui Houw adalah mengenai Kanglam hiap Ong Tiong Kun yang untuk kesekian kalinya kena ditipu oleh si iblis penyebar maut dan yang  terakhir Ong Tiong Kun bahkan sampai menemui ajalnya ditangan si iblis penyebar maut itu !

Peristiwa itu terjadi sete lah si iblis penyebar maut bertempur melawan rombongannya Lee Kuo Cen. Waktu itu dan sesudah merasa cukup jauh terpisah dari tempat bekas terjadinya pertempuran maka si iblis penyebar  maut  dalam ujut si kakek bongkok telah memasuki sebuah kuil tua untuk dia beristirahat sambil mengobati lukanya yang bekas kena anak panah kecil yang dilepaskan oleh Bun Siu Gie.

Keadaan si kakek bongkok kelihatan amat letih habis melarikan diri sedemikian jauhnya, bahkan dia  melupakan lukanya yang sudah mengeluarkan banyak darah, sehingga sesudah dia membalut lukanya, maka dia tertidur pulas. Ketika dia mendusin pada malam harinya, maka tubuhnya menggigil kedinginan, sebab diluar kehendaknya, dia terkena serangan penyakit demam yang hebat.

Koay lo jinkee sangat menderita, sampai dia tidak dapat mengetahui entah sudah beberapa malam dia berada didalam kuil tua itu, tanpa makan,  tanpa minum, akibat peiyakit demamnya yang memaksa dia tidak dapat meneruskan perjalanannya; bahkan sampai beberapa kali  dia  harus pingsan lupa diri.

Selama hidupnya, barangkali baru sekali itu dia mengenal rasa takut. Takut maut menyudahi hidup dan petualangannya, padahal dia merasa perlu untuk dapat hidup terus buat dia melakukan balas dendam terhadap semua musuh musuhnya.

Teringat dengan semua musuh musuhnya atau orang orang yang memusuhi dia, maka si iblis  penyebar maut jadi mengeluh, membayangkan sedemikian banyaknya  musuh yang harus dia hadapi.

Dengan caranya dia menyamar sebagai si kakek bongkok yang aneh dan membinasakan musuh musuhnya seorang  demi seorang si iblis penyebar maut menganggap  pekerjaan itu terlalu memakan banyak waktu bahkan terlalu mempertaruhkan keselamatan nvawanya sendiri. Dari itu meskipun dia sedang menderita penyakit demam yang parah akan tetapi s i iblis penyebar maut memikirkan daya yang lebih sempurna buat dia menghadapi dan menghabiskan semua orang orang yang memusuhi dia.

Kemudian terpikir oleh si iblis penyebar maut, bahwa alangkah baiknya kalau dia  bisa memakai siasat  'melepas seribu iblis dalam ujut dan muka seribu'; sehingga  pihak musuh akan benar benar menjadi tobat menghadapi sedemikian banyaknya iblis iblis yang menyebar maut.

Dan malam itu, disaat si iblis  penyebar maut sedang memikirkan daya hendak melepas seribu iblis dalam ujut dan muka seribu; maka tiba tiba dia mendengar ada suara langkah kaki seseorang yang sedang memasuki kuil tua itu.

Langkah kaki seseorang itu kemudian  kian  mendekati tempat koay lo jinkee yang sedang rebah meringkuk mengigil kedinginan dalam keadaan gelap gulita tanpa ada sedikit s inar yang menerangi ruangan tempat dia meringkuk.

Meskipun sedang menderita penyakit demam yang hebat akan tetapi si kakek bongkok alias si iblis penyebar maut menyadari bahwa dia dalam keadaan berbahaya, sekiranya yang sedang mendekati itu adalah pihak musuhnya. Oleh karena itu meskipun dengan gerak yang lemah dia berusaha mempersiapkan senjata kipasnya yang istimewa,  yang siap buat dia  meluncurkan jarum jarum maut hek tok ciam; andaikata seseorang itu tambah mendekati.

Akan tetapi suara menggigil koay lo jinkee yang sedang menderita demam agaknya telah menghentikan langkah kaki seseorang itu. Dia  berhenti bagaikan sedang memusatkan pendengarannya.

Di luar dugaan koay lo jinkee, seseorang itu kemudian memutar tubuh dan melangkah keluar lagi dari dalam sebuah kuil tua itu dan koay lo jinkee menarik napas lega. Akan tetapi lewat sesaat langkah kaki seseorang itu terdengar lagi dan mendekati lagi membikin koay-lo jinkee merasa tegang dan mempersiapkan lagi senjatanya yang istimewa.

Seseorang itu agaknya keluar untuk mencari ranting atau dahan dahan kayu kering, karena kemudian dia membikin suatu api unggun di dekat tubuh koay lo jinkee yang sedang meringkuk kedinginan.

Api yang menyala itu benar benar merupakan suatu api kehidupan bagi koay lo jinkee yang sudah hampir padam.

Dengan bantuan sinar api unggun itu sekarang koay  lo jinkee sempat melihat  wajah  muka seseorang itu yang ternyata adalah berupa seorang pemuda berumur kira kira sudah duapuluh tahun. Bertubuh tegap dan tampan serta berwatak keras, pandai ilmu silat karena dia  membekal sebatang pedang didalam sarung yang dia pegang ditangan kiri:

Sekilas pemuda itu mengawasi koay lo jinkee dan sekilas pandangan mata mereka saling bertemu. Akan tetapi pemuda itu tidak bersuara menyapa dan tidak juga dia bersenyum, hanya sejenak dia mengawasi koay lo jinkee yang sedang meringkuk kedinginan setelah itu dia memasak air dengan bantuan api unggun yang sedang menyala.

Pemuda itu yang kemudian tidak perduli apakah air yang dimasaknya itu sudah masak atau baru setengah  matang, yang penting dia tahu bahwa air itu sudah cukup panas.  Lalu dia menuang kedalam satu kaleng kecil yang entah bekas apa dan air itu dia berikan buat koay lo jinkee minum.

Koay lo jinkee  mengangkat sebelah tangannya hendak menyambuti air itu akan tetapi rasa demam membikin dia tak kuasa memegang kaleng itu; dan si pemuda lalu menolong sedikit mengangkat kepala koay jinkee dan  meminum  air panas itu.

Pemuda itu kemudian mengeluarkan bungkusan penganan kering yang dia beli. Diberikannya beberapa potong buat koay lo jinkee dan koay lo jinkee sudah sanggup menerima karena pengaruh air panas yang diminumnya. Akan tetapi si kakek tak langsung memakan penganan kering itu. Dia  menunggu sampai si pemuda mendahulukan setelah itu baru dia  ikut makan.

Agaknya pemuda itu mengetahui bahwa si kakek merasa curiga takut diracuni; akan tetapi pemuda itu bersikap acuh dan dia bahkan tidak bersenyum.

Lewat beberapa saat Koay lo jinkee sudah sanggup duduk dan makan dengan lahapnya. “Terima kasih,” Kata Koay lo jinkee;  perlahan suaranya sementara mulutnya masih mengunyah penganan kering pemberian pemuda itu.

"Hmm !” pemuda itu bersuara seperti menggerutu :

Sejenak koay lo jinkee mengawasi pemuda itu akan tetapi kemudian dia mengunyah lagi dan bicara lagi :

'Siapa namamu?' demikian tanyanya sikakek yang bongkok itu, suaranya terdengar ramah.

Pemuda itu tiba tiba menunda tangan kanannya yang hendak menambah air minumnya. Dia mengawasi si kakek bongkok dengan sinar  mata menyala;  sementara tangan kirinya meraih pedangnya yang dia pegang erat erat. Akan tetapi akhirnya pemuda itu menunduk dan menggerutu, 'Sayang “

"Kenapa sayang .....?" tanya koay lo jinkee, mulai merasa heran akan tetapi mulutnya masih mengunyah terus.

"Sayang kau sudah tua dan sedang sakit ,”

“Kalau aku masih muda dan sedang  sehat.?”  kakek bongkok menanya lagi.

“Akan kutempur kau dan akan kubunuh kau. !”

"Sebabnya ... ?” masih si kakek menanya, bertambah heran akan tetapi mulutnya mengunyah terus.

"Sebab kau menanyakan namaku . !"

Sepasang mata koay lo jinkee jadi membelalak. Penganan kering dalam mulutnya hampir menerobos keluar tanpa dia kehendaki.

“Heran, ." akhirnya koay lo jinkee bersuara menggerutu. “Kenapa heran .. ?” tanya pemuda itu akan tetapi dia

meraih dan meminum airnya. "Orang menamakan koay lo jinkee, atau orang tua yang aneh, tetapi ternyata kau juga merupakan seorang pemuda yang aneh. Kalau tidak ..."

"KaIau tidak kenapa ?”  pemuda itu  menanya lagi.

"Kalau tidak akan kutempur kau sebab kau telah menghina aku, dan akan kubuntungkan lenganmu seperti ”

Koay lo jinkee menyudahi perkataanya dengan melontarkan penganan dari dalam mulutnya kesuatu sudut dimana terdapat suatu patung keramik yang sudah rusak dan penganan itu tepat menghantam bagian lengan dari patung itu, yang lalu putus dan jatuh hancur dilantai.

“Hmm ... . !" pemuda itu bersuara seperti mengejek dan tidak menghiraukan perbuatan koay lo jinkee  yang sudah perlihatkan kemahiran ilmu tenaga  dalam,  dia  bahkan rebahkan dirinya dilantai, memakai bungkusannya yang dijadikan bantal, dan dia cepat pulas tertidur.

Esok paginya pemuda itu bangun dari tidurnya karena dia mendengar bunyi suara yang ribut dibagian belakang kuil. Dia tak melihat si kakek yang semalam meringkuk kedinginan lalu dengan langkah kaki yang tenang dia menuju kebagian belakang, karena bunyi suara yang ribut masih dia dengar.

Dihalaman belakang kuil yang cukup luas  dilihatnya  si kakek bongkok sedang asyik melatih ilmu silatnya dalam berbagai gerak memukul dan melontarkan pisau  pisau terbang; dan pisau pisau terbang itu berhasil memapas putus dahan pohon atau ranting pohon, dan akibat dari itu membikin dihalaman kuil tua itu jadi bertebaran dengan dahan dahan berikut daun daun pohon, sampai kemudian sikakek bongkok memasang kuda kuda membentangkan sepasang lengan dan mengerahkan tenaga dalam, lalu dia mengibas dan sebatang dahan pohon yang cukup besar menjadi patah dan jatuh terkena angin pukulan itu. "He he he ! bagaimana kau lihat tenaga eng jiauw kang yang aku kerahkan tadi hebat bukan?” kata si kakek bongkok yang menyudahi latihannya dan mendekati si pemuda.

“Hmm ! cukup bagus" kata si pemuda dengan nada suara yang seperti mengejek; sehingga telah mengecewakan hati koay lo jinkee.

"Hmm! kau jangan sombong.” kata sikakek bongkok alias si iblis penyebar maut yang lalu menambahkan perkataannya "... coba aku lihat kau berlatih.” Suatu hal yang cukup mengherankan telah terjadi, sebab si pemuda yang beradat aneh itu mau menurut dengan perintah koay lo jinkee dan dia segera mulai melatih diri dengan suatu ilmu s ilat pedang yang tambah lama tambah hebat dan cepat gerakannya.

Dimata koay lo jinkee alias si iblis penyebar maut  yang cukup berpengalaman, maka dia melihat bahwa pemuda itu sedang memainkan jurus jurus dari ilmu  silat  pedang  Tiang pek kiam hoat, yang khas dari golongan Tiang pek pay. Akan tetapi pada jurus jurus berikutnya dilihatnya menjadi kacau balau bercampur dengan jurus jurus ilmu pedang  golongan lain, sehingga didalam hati koay lo jinkee jadi heran, entah siapa gurunya pemuda itu.

Betapapun halnya si kakek bongkok alias si iblis penyebar maut itu merasa yakin, bahwa akan sia sia belaka kalau ia menanya kepada si pemuda, tentang siapa dan dari golongan mana gurunya; oleh karena waktu  ditanyakan  namanya sendiri, pemuda itu sudah menjadi tersinggung.

Akan tetapi bagaikan nas ib sudah mempertemukan mereka, maka ternyata kedua manusia aneh itu sudah dapat saling menyelami adat dan kebiasaan masing masing, sehingga keduanya menjadi akrab dan si kakek bongkok tidak segan segan memberikan beberapa macam ilmu kepada si pemuda, antara lain ilmu tenaga dalam 'eng jiauw kang’, ilmu melepas pisau terbang "coan yo shin-jie", serta cara mengolah larutan bisa racun buat pisau maut itu, berikut cara mengobatinya. Dengan demikian ada kira kira sebulan  lamanya kedua manusia aneh itu menjadi penghuni kuil tua  yang  mereka tidak perlu apa namanya dan dimana  letaknya, sampai kemudian si kakek bongkok menghilang tanpa pamit  dan tanpa meninggalkan pesan, dan si pemuda masih berdiam beberapa hari buat dia melatih diri dengan rajin, setelah itu ju- ga dia berkemas dan meninggalkan kuil tua itu.

Setelah berpisah dari si pemuda aneh yang dia tidak tahu siapa namanya, maka koay lo jinkee atau si kakek bongkok yang aneh alias si iblis penyebar maut meneruskan langkah kakinya menuju ke kota Tung nam sebab dia hendak menemui seorang taki laki yang bernama Lo Peng Bun.

Akan tetapi ketika kakinya baru saja memasuki kota Tung nam; secara kebenaran dia melihat rombongannya  Hek  kok tay hiap Tan Su yang baru saja tiba di kota itu.

Saat itu rombongan Hek kok tayhiap Tan Su disertai oleh Intay kiamkek Suma Eng dan Kanglam hiap Ong Tiong  Kun. Jadi ketiga orang orang itu merupakan musuh musuh bebuyutan si iblis penyebar maut, terlebih Kanglam hiap Ong Tiong Kun.

Oleh karena menyadari bahwa dia  menghadapi musuh musuh yang tinggi  ilmunya, maka si iblis  penyebar maut dalam ujut si kakek bongkok terus mengikuti rombongan si tukang tahu Tan Su sambil dia  memikirkan suatu siasat supaya jangan gagal dia melakukan balas dendam.

Selama mengikuti langkah kaki ketiga orang musuh musuhnya itu si kakek bongkok sempat melihat   bahwa sebelah kaki Ong Tiong Kun sedang menderita luka akibat pertempuran diwaktu mengganyang markas si iblis penyebar maut, sehingga pada waktu  itu Ong Tiong Kun berjalan dengan memakai sebatang tongkat kayu.

Dengan kesabarannya yang luar biasa si iblis penyebar  maut dalam ujut sikakek bongkok terus mengikuti musuh musuhnya bahkan sampai mereka memasuki kota Boe ouw; dan di kota itu dilihatnya rombongan Hie kok tayhiap Tan Su memasuki sebuah rumah penginapan.

Si iblis penyebar maut masih memikirkan suatu muslihat buat dia menghadapi musuh musuhnya; ketika disaat berikutnya dilihatnya Hiekok tayhiap Tan Su berdua Intay kiamkek Suma Eng keluar dan meninggalkan rumah penginapan tanpa membawa bungkusan  pakaian mereka menandakan mereka akan pergi mengurus sesuatu keperluan di kota itu.

Oleh karena yakin bahwa Kanglam  hiap Ong Tiong Kun berada seorang diri didalam kamar maka si kakek bongkok lalu memasuki rumah penginapan dan dengan bantuan s ipengurus rumah penginapan maka dia mengetahui letak  kamar  yang dise wa oleh musuhnya.

Waktu itu Kanglam hiap Ong T iong Kun sedang beristirahat ketika tiba tiba pintu kamar yang memang  tak  dikunci kelihatan dibuka orang tanpa lebih dahulu menyapa. Akan tetapi waktu diketahuinya yang datang adalah seorang kakek bongkok yang berlaku ramah tamah maka Ong Tiong Kun mempersilahkan si kakek itu duduk.

“Aku lihat Ong heng datang bertiga kemanakah  kawan kawan Ong heng yang dua orang ?” tanya sikakek bongkok ramah akan tetapi cukup mengherankan bagi Ong Tiong Kun karena dia tak menduga sikakek mengetahui namanya.

“Mereka sedang keluar menyambangi seorang  sahabat akan tetapi bolehkah aku mengetahui nama lo jinkee ?' sahut Ong Tiong Kun yang balik menanya.

"Hmm ! aku yang sudah tua sebenarnya sudah lupa dengan namaku," sahut si kakek bongkok  yang sekarang nada suaranya berobah seperti mengejek sedangkan sepasang matanya liar mengawasi kesekitar ruangan kamar lalu dia berkata lagi. "... akan tetapi banyak orang orang yang menyebut aku sebagai koay lo jinkee ,”

Diam-diam Ong Tiong Kun jadi terkejut. Dia teringat bahwa dulu dia pernah bertemu dengan seorang orang kakek tua (Ouw lopek) yang kemudian diketahui adalah  ujut  penyamaran si iblis penyebar maut. Akan tetapi si kakek tua yang sekarang dia hadapi adalah seorang kakek bongkok yang bahkan usianya lebih tua sedangkan si iblis penyebar maut sekali ini sudah benar benar dibinasakan, bahkan sampai hancur lebur tubuhnya sehingga tidak mungkin si kakek bongkok ini adalah ujut penyamaran si iblis penyebar maut!

Sementara itu sikakek bongkok telah  mendekati  pintu kamar yang kemudian dia tutup, bahkan dia  palang dari bagian dalam. Setelah itu dia  mendekati dinding tempat pedang Ong Tiong Kun digantung.

"Pedang yang bagus,” kata si kakek bongkok memberikan pujian secara wajar sambil dia mengeluarkan pedang itu dari dalam sarungnya dan dia melangkah mendekati Kang lam hiap Ong Tiong Kun yang masih tetap duduk ditempatnya.

“Memang pedang yang bagus, akan tetapi sudah tiada gunanya lagi,” sahut Ong Tiong Kun yang perlihatkan muka muram, karena teringat dengan luka pada kakinya yang harus dibuntungkan untuk mencegah bisa racun menjalar didalam tubuhnya. "Mengapa Ong heng berkata begitu?”  si kakek bongkok menanya sambil dia mengawasi Ong Tiong Kun.

Kanglam hiap Ong Tiong Kun kelihatan bertambah muram akan tetapi dia berkata:

"Lo jinkee lihat, sebelah kakiku sudah buntung, bagaimana mungkin aku dapat menggunakan pedang itu lagi.. . ?"  dan Ong Tiong Kun menarik sebelah kaki celananya, dan ternyata sebelah kakinya memang sudah dibuntungkan.

Si kakek bongkok perlihatkan senyumnya. Suatu senyum yang tidak sedap dipandang. “Aku kenal dengan seseorang yang kedua kakinya sudah putus akan tetapi dia tetap mahir menggunakan pedang..."

Dan si kakek bongkok menyudahi perkataannya itu sambil tangannya yang memegang pedang ikut bergerak menabas putus sebelah lengan Ong Tiong Kun!

Kanglam hiap Ong Tiong Kun berteriak. Tidak pernah dia bermimpi akan terjadi peristiwa yang semacam itu. Dia lompat berdiri dengan sebelah kaki dan sebelah tangan. Darah segar pun mengucur keluar dengan derasnya dari sebelah lengannya yang sudah ikut menjadi putus. i

"Kau ....!” kata Kanglam hiap Ong Tiong Kun sambil dia menuding si kakek bongkok dengan sisa sebelah tangannya, akan tetapi dilihatnya si kakek bongkok tertawa dan berkata.

“Dan aku mempunyai seorang sahabat yang sebelah kaki dan sebelah lengannya sudah buntung; namanya Pit Leng  Hong !"

Kanglam hiap Ong Tiong  Kun tak menghiraukan perkataan si kakek bongkok. Rasa sakit pada lengannya mulai terasa. Dia hendak lompat menerkam, akan tetapi tiba tiba dia menjadi terpesona, karena saat itu dilihatnya si kakek bongkok sedang melepaskan kulit mukanya, untuk dilain saat si kakek bongkok berobah menjadi Gan Hong Bie yang dia anggap  sudah binasa!

"Kau ?”

“Ya; aku Gan Hong Bie yang kau anggap sudah binasa. !”

kata simanusia muka seribu yang lalu perdengarkan suara  tawa yang bagaikan hantu; sementara dengan pedang yang masih berlumuran darah secara tiba tiba ia  menikam  Ong Tiong Kun.

Dengan sisa sebelah kaki dan sebelah tangan yang masih ada, sudah tentu sangat sukar bagi Ong Tiong Kun menghadapi musuhnya yang buas dan ganas. Dia berhasil lompat menyingkir dari tikaman pedang tersebut; akan tetapi tubuhnya terperosok dan dia terjatuh di lantai tidak berdaya.

"Dahulu aku pernah bersumpah. Bersumpah akan membuntungkan sepasang lengan dan sepasang kakimu. Ha  ha ha ... !"

Dan tawa si iblis penyebar maut itu benar benar iblis yang siap menyebar maut; sebab pedang ditangannya  telah bergerak lagi, menabas putus sisa lengan Ong  Tiong  Kun tanpa musuhnya itu dapat menghindar  atau melakukan perlawanannya !

Ruang didalam kamar yang tidak  terlalu  besar menyebabkan meja dan kursi pada terbalik dilanda tubuh Ong Tiong Kun yang lalu bergulingan hendak berusaha keluar dari dalam kamar. Akan tetapi sekali lagi si iblis penyebar maut menebas kaki kanan Ong Tiong Kun sehingga Ong Tiong Kun benar benar tidak lagi memiliki tangan sebatas pundak dan tidak lagi memiliki kaki sebatas lutut !

Sungguh sangat menyedihkan keadaan Kang lam hiap Ong Tiong Kun waktu itu. Dia adalah seorang jago pedang utama untuk daerah Kanglam. Akan tetapi pada saat itu dia tidak berdaya dan dia rebah lupa diri tidak lagi mengetahui bahwa musuhnya menertawakan dia. Dan gema tawa itu benar benar tawa iblis yang sedang merasa gembira karena telah berhasil melepas dendam terhadap salah seorang musuh bebuyutannya !

Dan si iblis penyebar maut kemudian mengganti ujut muka lagi kembali menjadi s i kakek bongkok lalu dia mendekati dan meneliti tubuh Ong T iong Kun sebab dia merasa belum semua sumpahnya dia tunaikan yakni untuk memotong  lidah  jago dari Kanglam itu. Setelah itu dia tinggalkan kamar Ong Tiong Kun dengan tidak lupa meninggalkan sebuah lencana kui mo ong. Sebelum meninggalkan kamar itu si iblis penyebar maut masih memerlukan memberikan bubuk racun Cian lian lo  hap sie pada tempat air teh dengan harapan Hie kok tayhiap Tan Su dan  Intay  kiamkek  Suma  Eng   menjadi  tewas  kalau dim inumnya air teh itu.

Tidak jauh terpisah dari rumah penginapan itu terdapat suatu kedai arak yang kelihatan sudah banyak tamunya dan si iblis penyebar maut dalam ujut muka  sebagai  si  kakek bongkok hendak memasuki kedai arak itu, sebab dia bermaksud supaya dapat mengawasi kembalinya Hie kok tayhiap Tan Su berdua Intay kiamkek Suma Eng, akan tetapi mendadak dia membatalkan niatnya, sebab diantara  tamu tamu yang sedang duduk minum, dilihatnya ada kelompok anggota pasukan gerak cepat yang dipimpin oleh Ang Peng Sim.

Si kakek bongkok alias si iblis penyebar maut mengetahui bahwa Ang Peng Sim merupakan salah seorang kepercayaannya ciangkun Lie Kim Liang,  yang waktu itu menjabat sebagai kepala pasukan gerak cepat. Dia  ingin mendengar kabar perihal Liang ciangkun, dari itu dia merasa perlu menemui Ang Peng Sim. Akan tetapi kalau saat itu dia mendatangi tempat Ang Peng Sim sebagai si kakek bongkok, sudah tentu Ang Peng Sim tidak mengenali dia, sebab yang dikenal Ang Peng Sim adalah ujut dia sebagai Gan Hong Bie. Sebaliknya kalau saat itu dia perlihatkan ujut muka Gan Hong Bie, maka kemungkinan akan terlihat oleh pihak Hie  kok tayhiap Tan Su berdua Intay kiamkek Suma Eng, sehingga memungkinkan rahasianya ketahuan bahwa Gan Hong Bie belum binasa.

Oleh karena memikir begitu; maka si kakek bongkok alias Gan Hong Bie memikir suatu daya, setelah itu dia masuk kedalam kedai arak, langsung mendekati tempat pemilik buat dia menulis secarik surat s ingkat dan surat itu dia perintahkan seorang pelayan untuk diberikan kepada Ang Peng Sim.

Pelayan itu sempat membaca nama Gan Hong Bie yang tertera pada surat yang singkat itu, akan tetapi dia tidak mengetahui apa apa dan dia serahkan surat kepada Ang Peng Sim.

Ang Peng Sim kelihatan terkejut waktu dia menerima surat itu. Dia terkejut oleh karena dia sudah menerima berita bahwa Gan Hong Bie sudah binasa, sekarang dia menerima surat dari seseorang yang mengaku bernama Gan Hong Bie. Namun demikian dia memenuhi perm intaan yang tertera pada surat yang singkat itu yang menghendaki dia  memasuki bagian belakang dari kedai arak itu.

“Eh; kau benar benar masih hidup...?” Ang Peng Sim menyapa waktu didalam dia benar benar menemukan Gan  Hong Bie yang sedang bersenyum.

"Ang hiantee, sebaiknya kau  rahasiakan  tentang keadaanku, dan biarkan orang orang menganggap dan mengatakan bahwa Gan Hong Bie sudah binasa. Aku bertekad akan membalas dendam terhadap setiap  musuhku...” demikian sahut Gan Hong Bie yang kemudian menambahkan perkataannya :

" ... aku ingin mendengar kabar perihal Lie c iangkun ..."

Wajah muka Ang Peng Sim kelihatan girang setelah itu dia baru berkata :

"Sekiranya Lie ciangkun  mengetahui bahwa kau  masih hidup ... ." dia berhenti sejenak dan Gan  Hong  Bie meneruskan dia bicara :

“, . Lie Ciangkun sebenarnya mendapat perintah dari sri baginda raja untuk mencari seseorang yang katanya menyimpan suatu daftar nama dari para pendukung gerakan Thio Su Seng dulu, akan tetapi Lie ciangkun yang baru menerima berita tentang kekalahan dan tewasnya kau,  maka dia merasa kekurangan tenaga, sehingga tugas itu kabarnya diambil alih oleh pangeran Po Heng. Sekiranya perintah itu diterima oleh Lie ciangkun dan kemudian berhasil diperoleh daftar nama itu tentunya juga merupakan musuh dari pihak Thian-tok bun meskipun benar diantara mereka  ada  yang  tidak ikut serta pada waktu dilakukan penyerangan ke markas kegiatan kau..”

"Hiantee, kau benar juga ..." kata Gan Hong Bie yang mengerti dengan maksud perkataan sahabatnya itu dan dia lalu menambahkan perkataannya :

"... sekarang dimanakah Lie ciangkun berada ...”

“Dia sekarang berada di kota raja, ditempai biasa dia beristirahat sambil menunggu tugas . “

“Baik, aku akan segera menemui dia.” Dan Gan Hong Bie atau si iblis penyebar maut batal menunggu dan mengawasi  Hie kok tayhiap Tan Su berdua Intay kiamkek Suma  Eng;  sebab dia segera meninggalkan kota Boe ouw,  hendak langsung ke kota raja.

Itulah merupakan saat terjadinya peristiwa Ong Tiong Kun dibinasakan oleh si iblis penyebar maut yang diketahui oleh Ong Tiong Kun.

Sementara itu esok paginya Cie in suthay mencari dan menemui Lie Hui Houw yang ternyata sedang duduk melamun dibawah pohon jambu.

Biarawati yang muda usia itu dan yang cerdas itu kemudian mengatakan niatnya yang tetap hendak membawa Lie Hong Giok ke kuil Cui gwat am serta tentang gagasan yang dia  susun dalam menghadapi peristiwa yang dialami oleh anaknya si tangan geledek Lie Thian Pa yang bernasib malang itu.

"sehabis ikut  dalam aksi mengganyang markas si iblis penyebar maut, maka Lie Hong Giok berdua suhengnya, Cin Bian  Hui melakukan perjalanan  pulang kerumah  orang tuanya

..."  demikian   Cie   in   suthay mulai  menguraikan  sambil  dia

membikin suatu coretan diatas tanah, mengikuti perjalanan Lie Hong Giok berdua suhengnya yang sekaligus  menjadi pacarnya. "..disuatu tempat antara letak markas si  iblis  penyebar maut dan kampung halamannya, perjalanan  mereka  dilihat oleh si iblis penyebar maut yang waktu itu mungkin sedang menyamar sebagai seorang kakek bongkok yang aneh kelakuannya sesuai seperti berita yang tersiar. Entah dengan akal atau cara bagaimana si iblis  penyebar maut berhasil membinasakan Cin Bian Hui lalu si iblis menyamar sebagai pemuda yang bernasib malang itu dan dia memperkosa Lie Hong Giok selagi dia dalam penyamaran sebagai  Cin  Bian Hui," Cie in suthay berhenti sebentar, menelan ludah dan mukanya kelihatan agak merah waktu pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Lie Hui Houw yang sedang mengawasi sebab pemuda itu benar benar sedang merasa kagum dengan kecerdasan biarawati yang muda usia itu yang sekarang sudah memakai lagi kerudung putih penutup kepalanya.

Sementara itu Cie in suthay lalu meneruskan perkataannya:

' ... si iblis penyebar maut yang menyamar sebagai Cin Bian Hui kemudian menghilang, sedangkan Lie Hong Giok yang dinodai menganggap sebagai perbuatan suhengnya; sehingga dia dendam dan mencari sang suheng, sampai jiwanya terganggu dan dia lupa diri, akan tetapi dia tidak pernah melupakan ujut muka sang suheng yang dia terus cari sebab hendak dia bunuh sesuai dengan ocehannya dan lagaknya yang selalu meneliti setiap pemuda yang dia temui ... "

Lauw Kiam Seng yang waktu itu sudah mendekati dan ikut mendengarkan lalu membenarkan dugaan yang diuraikan oleh Cie in Suthay, sambil dia menceritakan tentang lagak Lie Hong Giok se lama mereka melakukan perjalanan sebelum mereka bertemu dengan Cie in suthay berdua Lie Hui Houw.

“Oleh karena itu pinnie hendak m inta bantuan siecu ..  “ kata Cie in suthay sehabis dia mendengarkan perkataan yang diucapkan Lauw Kiam Seng dan Cie in suthay meneruskan perkataannya : “...pinnie menghendaki Lauw sie cu mendatangi bekas tempat markas si iblis penyebar maut yang sudah diganyang, lalu sie cu membuat perjalanan  seperti yang pin nie gambarkan,” Cie in suthay menunjukkan  coretan  yang  dia bikin diatas tanah. “…dan pada rumah penginapan yang sie cu temui, tanyakanlah pada mereka kalau kalau mereka pernah kedatangan Lie Hong Giok berdua Cin Bian Hui atau  kalau perlu sie cu memeriksa buku tamu. Dengan cara ini pin nie yakin sie cu akan berhasil menemukan orang orang yang akan memberitahukan pada sie cu tentang peristiwa tewasnya pemuda Cin Bian Hui,  bahkan mungkin sie cu bakal memperoleh bukti bukti yang nyata buat kita memecahkan rahasia peristiwa malang yang sudah dialami oleh  Lie  Hong Giok berdua C in Bian Hui dan setelah itu s ie cu tolong mampir di rumah Poen lui ciu Lie Thian Pa buat mengabarkan kejadian ini dan bersama si tangan geledek itu pin nie nantikan kedatangan kalian di kuil Cui gwat am.”

Lauw Kiam Seng yang ikut merasa iba dengan  peristiwa yang dialam i oleh Lie Hong Giok yang semula dia hanya kenal sebagai seorang perempuan sinting; segera menyanggupi tugas yang telah diserahkan kepadanya itu; sedangkan  si  botak yang menyatakan kesediaannya mengikuti dia sehingga mereka kemudian berpisah, sebab Cie in suthay dan Lie Hui Houw akan membawa Lie Hong Giok ke kuil Ciu gwat am, memakai kereta kuda yang ditinggalkan oleh si iblis penyebar maut.

Debu jalan raya mengepul tinggi berhamburan waktu  Lie Hui Houw yang menjadi sa is kereta memacu kudanya, akan tetapi belum jauh mereka keluar kota, dibagian belakang  sudah mengejar serombongan tentara yang memakai kuda.

"Kita dikejar tentara ... . !” Lie Hui Houw berteriak kepada Cie in suthay yang berada didalam kereta bertutup tenda, menemani Lie Hong Giok yang masih kena pengaruh ilmu menotok jalan darah. Biarawati yang muda usia itu nongol kepalanya dibagian belakang kereta yang memakai tenda itu dan melihat adanya serombongan tentara yang mengejar memakai kuda, sehingga biarawati ini segera menduga dengan perbuatannya si iblis penyebar maut.

“Kita lari terus ..!” Cie in suthay ikut berteriak sambil dia menengadah kearah Lie Hui Houw yang menjadi sais,

— oo)dwkzXhend(oo~

WAKTU itu menjelang subuh dengan seenaknya saja seorang laki laki muda lompat memasuki rumah seseorang yang tidak dia kenal.

Diantara cela cela sinar yang redup, kelihatan muka laki laki muda itu yang pucat seperti hantu kurang darah, dan dia memasuki rumah itu untuk mengambil mayat si malaikat maut ke delapan, yang dia tutup lagi bagian  kepalanya  memakai kain selubung penutup kepala yang memang menjadi milik si malaikat maut ke delapan.

Laki laki muda itu kemudian  meraih bagian punggung mayat yang sudah beku kaku itu dan seenaknya juga dia ajak lompat lewat tembok halaman, tanpa ada seseorang lain yang melihat atau mengetahui perbuatannya. Setelah tiba di jalan raya maka dia seret- seret mayat itu sampai menarik perhatian orang orang yang kebenaran berpapasan dengan dia.

“Eh, mayat siapa itu ?” tanya seorang orang lain yang juga ikut mengawal secara tidak disengaja.

"Mayat tay lwee sip sam ciu,” sahut lelaki muda itu dengan suara mengejek.

“Mau dibawa kemana ?” tanya seorang-orang lain lagi yang juga ikut mengawal secara tidak disengaja. ''Mau dibawa kekantor pejabat pemerintah ” sahut lelaki muda itu sambil terus dia  menyeret nyeret bawaannya; sedangkan yang mengawal sekarang menjadi semakin banyak semuanya ikut menuju ke kantor pejabat pemerintah setempat bahkan sudah ada yang sengaja mendahulukan sambil ramai ramai membicarakan tentang adanya mayat Tay lwee sip sam ciu yang sedang diseret seret!

Kantor pejabat pemerintah setempat tentunya  belum dibuka, belum mau kerja kalau belum lewat jam kantor, meskipun untuk urusan apapun juga; akan tetapi waktu disebut sebut tentang Tay lwee sip sam ciu; maka pejabat pemerintah itu buru buru memberikan perintah  membuka  pintu lebar lebar, sebab dari kota raja memang sudah ada instruksi buat selalu siap siaga membantu anggota kegiatan anggota dinas rahasia itu.

Laki laki muda bermuka pucat seperti hantu kurang darah itu lalu membikin laporan mengatakan  dia  melihat  Tay  lwee sip sam-ciu berkelahi dan dikepung oleh dua orang pemuda dan seorang biarawati gadungan, sebab mereka bertiga sebenarnya adalah tokoh tokoh pemberontak yang hendak ditangkap oleh Tay lwee sip sam ciu, akan tetapi karena dikepung bertiga, akhirnya Tay lwee sip sam ciu kena dibinasakan.

"Lhaaa, kenapa kau tidak bantu menangkap para pemberontak itu ... ...?" tegur si pejabat pemerintah dengan nada suara penuh wibawa.

"Tayjin, aku orang lemah, penyakitan; kurang darah, bagaimana mungkin aku disuruh berkelahi ... ?” sahut laki laki muda yang pucat mukanya itu.

Pejabat pemerintah itu mengawasi dengan teliti, dilihatnya muka laki laki itu memang pucat seperti hantu kurang darah.

“Hmm ! dimana sekarang para pemberontak yang sudah melakuan pembunuhan itu...?" "Disebuah kuil tua . ;” sahut laki laki muda itu yang kemudian menambahkan dengan memberikan tentang ciri ciri Cie in suthay bertiga, sehingga pejabat pemerintah itu lalu mengerahkan pasukan tentara buat menangkap sedangkan  laki laki muda itu diam-diam menghilang tanpa  ada  orang yang melihat dan mengetahui, bila laki laki muda  itu sebenarnya ujut penyamaran si iblis penyebar maut.

Si iblis penyebar maut sengaja menghendaki pihak alat negara yang mengejar Cie-in suthay dan semua teman temannya. Syukur kalau musuh musuh itu  dapat  ditangkap dan dibinasakan dan si iblis sengaja membawa mayat  Tay lwee sip sam ciu yang palsu, supaya dilaporkan ke istana, mengenai si malaikat maut yang ke delapan sudah binasa, sehingga dengan demikian dia menjadi bebas tugas, sebab dia mau bertapa dilembah  biang hantu membawa luka  hati menanggung rindu, akan tetapi belum mengaku kalah  sebab  itu akan mempersiapkan barisan tiga belas hantu jejadian buat kelak merajalela membalas dendam kepada semua musuhnya, bagaikan hantu hantu jejadian yang mengamuk dibanyak tempat secara terpisah. Jadi seribu kali orang orang boleh tertawa menganggap si iblis sudah kalah atau sudah binasa, akan tetapi di suatu saat nanti akan ada seribu iblis penyebar maut dengan ujut muka yang berlainan !

Dan si pejabat pemerintah setempat ternyata memerlukan waktu cukup lama buat dia mempersiapkan tentaranya, yang kebanyakan sedang tertidur dibuai m impi bertemu si iblis atau mimpi bertemu orang orang sinting, bahkan ada yang menginap disarang kuntilanak  yang pandai merayu. Jadi mereka datang kesiangan, akan tetapi masih sempat melihat adanya kereta bertenda yang dikendalikan oleh Lie Hui Houw, sehingga buru buru menyiapkan kuda dan buru buru melakukan pengejaran ke arah kereta itu menghilang.

Kereta bertenda yang dikendalikan oleh lie Hui Houw ternyata bukan kereta yang dapat dipakai buat berlomba; roda roda kereta bisa lepas kalau dipaksa lari cepat, lagi pula 2 ekor kuda yang menarik kereta itu juga merupakan kuda kuda yang membandel tidak mau menurut, bahkan waktu  dipecut  oleh Lie Hui Houw, kuda kuda itu ngambek tidak mau lari  dan  waktu dipecut sekali lagi maka dari bagian belakang keluar ‘gituan' sampai dua kali banyaknya.

"Suthay, kau lindungi kereta; aku hadang mereka." akhirnya kata Lie Hui Houw yang lompat turun dari tempatnya sebagai sais kereta.

"Tidak bisa! kalau kau yang bertempur, kau akan menyebar maut dikalangan orang-orang yang tidak berdosa; lebih baik aku yang megat, kau yang melindungi kereta dan isinya !"

sahut Cie in suthay yang juga sudah lompat keluar, bahkan dengan tangan siap memegang pedang 'ceng liong kiam" yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, memperlihatkan s inar hijau kena sinar matahari yang memantul.

Lie Hui Houw manggut tersenyum; sedangkan didalam hati dia membayangkan betapa enaknya Cie in suthay membabat rumput memakai pedang yang sakti itu.

Cie in suthay sengaja menghadang ditempat yang  cukup jauh terpisah dari letak kereta, dan dia mulai membabat waktu pihak tentara sudah mendekati sehingga banyak senjata tajam yang putus menjadi dua juga topi topi baja, juga  perisai  perisa i dari besi, juga buntut buntut kuda sampai pasukan tentara itu lari kocar kacir saling menjauhi diri akan tetapi ada seorang perwira yang berani melawan Cie in  suthay bertempur, diatas kuda maupun diatas tanah, dan ada lagi 4 orang sie wie dari istana kerajaan yang  kebenaran  sedang jalan jalan menjadi tamu kehormatan pejabat pemerintah setempat dan yang ikut mengejar para pemberontak sebab ingin memberikan jasa.

Keempat orang sie wie dari istana kerajaan itu merupakan orang orang yang menjadi pembantu ciangkun Lie Kim Liang, bekas kepala pasukan gerak cepat yang sekarang sudah jadi jenderal penuh menggantikan almarhum jenderal Cong menjadi menteri hankam.