Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 13

Jilid 13

"TOAKO, sumoay sudah bangun.” kata sibotak yang masuk seenaknya; tidak peduli perbuatannya  telah  mengakibatkan Cia It Hok jadi berhenti bicara secara tiba-tiba.

"Bagus," kata Lauw Kiam Seng yang maksudnya ingin memperkenalkan perempuan sinting itu kepada Cia It  Hok; akan tetapi si botak memutus dan menyambung bicara:

"Akan tetapi sumoay mengatakan dia tidak mau diganggu. Dia bahkan memesan aku cepat-cepat kembali  menemani dia."

"Aneh ... " terdengar Cia It Hok menggerutu.

'Dia memang aneh...! " sahut Lauw Kiam Seng, bagaikan tidak menyadari.

"Siapa namanya., ?” Cia It Hok menanya lagi.

"Eh, akh! aku lihat semalam kau memakai sarung tangan yang istimewa, tidak mempan kena pedang yang tajam ..."

“Oh, oh sarung tangan itu bukan milikku; hanya barang pinjaman ..." sahut Cia It Hok, padahal didalam  hati dia memaki bahwa dia te lah bertemu dengan seorang orang aneh atau orang sinting, yang tidak mau  memperkenalkan  namanya; padahal dia sudah perkenal dirinya dan perbuatan Lauw Kiam Seng itu; sudah tentu mengakibatkan Cia It  Hok jadi ogah lama lama berada di kamar itu dan pemuda yang perkasa ini lalu berdiri buat pamitan ;

“Hari masih pagi; kenapa heng tiang tergesa gesa mau meneruskan perjalanan,.?” tanya Lauw Kiam Seng sekedar  basa basi.

"Benar; akan tetapi aku perlu menyusul seseorang.. eh, menyusul malaikat maut.!” 'Heran dia jadi seperti orang sinting. !" Lauw Kiam Seng menggerutu, setelah Cia It Hok pergi.

"Siapa yang sinting.. ?” tanya si botak yang masuk tiba tiba dan sempat mendengar Lauw Kiam Seng menggerutu sendirian.

“Pemuda gagah yang mengaku bernama Cia It Hok tadi. Pada mulanya dia  ribut mengenai iblis penyebar maut, kemudian dia bilang mau mengejar malaikat maut.. “

“Cia It Hok., ?” tiba tiba ulang si perempuan sinting, yang datangnya diluar tahu Lauw Kiam Seng.

"Kau kenal dia., .?” tanya Lauw Kiam Seng yang menjadi heran.

Sukar buat perempuan sinting itu menggunakan pikirannya, meskipun kelihatannya dia seperti orang yang sedang berpikir.

Pertama kali dia mendatangi kamar Lauw Kiam Seng adalah pada waktu ketiga laki laki itu sedang berkumpul dan bicara.

Perempuan sinting itu cepat cepat menghindar dan umpatkan diri dibalik pintu, takut kelihatan oleh orang orang yang berada di dalam kamar. Perbuatannya itu adalah sebab dia terkejut melihat muka Cia It Hok.

Apakah perempuan sinting ini kenal dengan Cia It Hok ?

Sukar rasanya perempuan sinting itu mengajak  dirinya  untuk berpikir akan tetapi perlahan lahan dia memasuki kamarnya; tanpa ketiga orang orang itu mengetahui tentang kehadirannya.

Di dalam kamarnya perempuan sinting  itu  duduk termenung dengan sepasang mata yang tetap  bersinar hampa. Wajah muka Cia It Hok mengingatkan dia  pada seseorang dan pada suatu peristiwa, akan tetapi, seseorang siapakah? dan peristiwa apakah ? Andaikata semalam Cia It Hok sempat melihat wajah muka perempuan sinting itu; maka besar kemungkinan  pemuda  yang perkasa itu mengetahui siapa gerangan perempuan sinting itu atau siapa nama perempuan sinting itu !

Hanya sekilas Cia It Hok melihat waktu perempuan itu baru datang bersama sama Lauw Kiam Seng dan si bocah yang botak kepalanya; akan tetapi saat itu si perempuan sinting sedang memakai pakaian seperti seorang pemuda, sehingga tidak dikenal oleh pemuda yang perkasa itu, karena tidak menduga bahwa yang dilihatnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi seorang pemuda.

Waktu si bocah botak kemudian memasuki kamarnya ada hasrat perempuan sinting itu hendak menanyakan nama Cia It Hok, tetapi tak kuasa dia mengharap kata kata sebaliknya dia melarang si botak menemani orang-orang yang sedang bicara itu. Sementara itu Lauw K iam Seng masih menunggu jawaban, akan tetapi perempuan sinting itu diam tidak mengucap apa apa sehingga pemuda itu jadi kecewa  namun dia  tidak berdaya sebab dia tahu temannya itu adalah seorang perempuan sinting. Sampai mereka meningggalkan  rumah penginapan itu;  masih perempuan sinting itu tidak mau mengucap apa apa; bahkan pandangan matanya jadi bertambah hampa tidak mau lagi dia mengawasi seseorang pemuda atau laki laki muda yang mereka temui ditengah perjalanan seperti yang biasanya dia lakukan.

Akan tetapi tanpa setahu mereka justeru ada dua orang yang berdiri terpesona waktu  berpapasan dengan mereka bertiga !

Dua orang yang berdiri terpesona itu, adalah  seorang laki laki muda yang berpakaian serba putih; tangkas dan lincah potongan tubuhnya, serta memiliki wajah muka yang tampan sedangkan temannya merupakan seorang biarawati muda us ia yang tidak berhasil umpatkan kecantikan wajahnya. Laki laki muda itu adalah Lie Hui Houw, si macan terbang dan bhiksuni muda usia itu adalah Cie in  suthay  dua  insan yang sedang melakukan perjalanan menuju kota Hong yang, habis dari kota raja !

Si 'macan terbang' Lie Hui Houw ikut jadi terpesona sebab dia melihat ada seorang pemuda yang dia tidak kenal yang mernbawa pedang Ceng  liong  kiam  ditangannya.  Akan tetapi si 'macan terbang” Lie Hui Houw tak tahu  apakah  pedang Ceng liong kiam itu pedang yang laki laki atau pedang yang perempuan !

Dahulu; sepasang pedang Ceng liong kiam dijadikan barang pusaka oleh kaum Ceng liong pang; dan di dalam persekutuan naga hijau itu; ada sepasang insan  remaja  yang  saling memadu kasih. Yang perempuan cantik, dan gagah perkasa bagaikan seekor burung Hong, sedang yang laki laki tangkas dan tampan seperti seekor macan terbang.

Si "burung Hong' adalah anak kesayangan pangcu atau ketua Ceng liong pang, dari itu kepada si burung Hong diserahkan sebatang pedang Ceng liong kiam  yang perempuan, sedangkan si 'macan terbang' dalam persekutuan Ceng liong pang menjadi sam ceecu atau panglima ketiga; dan kepada si 'macan terbang ini diserahkan pedang Ceng liong kiam yang laki laki. Ada suatu peristiwa yang terjadi kira kira dua puluh tahun yang lampau. Waktu itu negeri Cina masih dijajah oleh orang orang Mongolia. Peristiwa itu  adalah  tentang ditangkapnya si macan terbang oleh pihak pemerintah penjajah sampai simacan terbang mati waktu menjalankan hukuman kerja paksa; dan pedang Ceng liong kiam yang lelaki menjadi hilang tak diketahui berada dimana dan pada siapa.

Peristiwa ditangkapnya si macan terbang adalah  akibat penghianatan seseorang dan hal ini membikin  gurunya si macan terbang menjadi penasaran sebab sang guru itu adalah seorang penganut agama Buddha yang sudah bertobat dan pantang menyimpan dendam. Akan tetapi takdir telah menentukan dan sang guru itu bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang kebenaran mempunyai seorang murid bernama Lie Hui Houw (Hui houw macan terbang).

Lie Hui Houw masih muda usianya  akan tetapi dia mendapat tugas membalas dendam Sam cecu dari Ceng liong pang dan untuk itu dia telah disulap menjadi seorang laki laki bermuka agak hitam bekas kena  teriknya  matahari,  berusia kira kira  40 tahun lebih, dan penyamarannya itu adalah dengan memakai topeng yang dibikin dari bahan pelastik semacam kulit manusia.

Menurut kata gurunya sam cecu atau si macan terbang ada tiga orang yang dicurigai menjadi si penghianat;  mereka adalah si tangan beracun Yang Ceng Loei yang saat itu masih coba coba meneruskan memimpin persekutuan Ceng liong pang. Yang kedua adalah toa cecu Poei Sie Ban, si tenaga empat puluh ribu kati ! Sedangkan yang ketiga adalah jie cecu Louw Sin Liong si naga sakti.

Pada persekutuan Ceng liong pang, kedudukan si tangan beracun Yang Ceng Loei adalah  cong tauwbak, kepala pasukan keamanan gunung Ceng liong san, sehingga ilmu silatnya Yang Ceng Loei sangat lihai dan dia memakai sarung tangan dari kulit yang menutup sebelah tangan kirinya, karena tangan kirinya itu khusus dia gunakan buat melancarkan ilmu pukulan "tok see ciang", atau tangan pasir beracun !

Jie ceecu Louw Sin Liong bersenjata cambuk panjang yang sangat berbahaya. Cambuk itu dapat berbunyi bagaikan aum seekor naga sakti sambil menari nari diatas angkasa sehingga suaranya saja sudah cukup membikin setan setan pada lari simpang siur, apalagi si naga sakti sangat mahir   tenaga dalam, sehingga  dia dapat menyalurkan tenaganya pada cambuknya, membikin cambuk yang panjang itu menjadi tegang atau kaku tak ubahnya seperti sebatang tombak yang panjang, yang dapat dipakai untuk menikam musuh! Lain keistimewaan dari naga sakti Louw Sin  Liong,  adalah dia pandai ilmu Long jiaw kang' atau tenaga cakar naga yang dahsyat, sebab angin pukulannya saja sudah sanggup menghajar batu batu gunung pada hancur berantakan, sedangkan jari jari tangannya sanggup meraih tembok sampai bolong !

Toa ceecu Poei Sie Ban lain lagi keistimewaannya  sebab Poei toako atau saudara seperguruan yang tertua ini memiliki ilmu tiat pao san atau baja besi; sehingga tubuhnya bagaikan kebal tak mempan senjata tajam sedangkan tenaganya sangat besar seperti bertenaga empat puluh ribu kati !

Jadi untuk melakukan tugasnya itu Lie Hui Houw harus mengetahui segala tingkah  laku dan kebiasaan si macan terbang khusus untuk ilmu silat yang dim iliki oleh si macan terbang yakni ilmu silat houw jiauw kang atau ilmu cakar harimau seperti ilmu liong jiauw Kang yang dim iliki oleh Louw Sin Liong dan ilmu eng jiauw kang  atau  cakar  elang  yang dim iliki oleh pangcu Ceng liong pang juga ilmu ngo heng kun yang khas dari golongan Siao lim !

Ilmu cakar macan dapat mengalahkan ilmu tenaga dalam si naga sakti akan tetapi harus digunakan tanpa si naga sakti sempat bersiaga; sebab yang harus dia serang adalah tepat pada bagian paru-paru.

Kalau meleset dan kena pada bagian yang lain maka akan sia sia sebab tenaga dalam si "naga sakti" sudah  mencapai pada tarap kemampuannya dapat digunakan secara “lembek" dan “keras" (im dan yang), artinya lembek atau lunak waktu menerima pukulan, keras waktu me lancarkan pukulan, demikian Lie Hui Houw mendapat penjelasan dari gurunya si 'macan terbang' yang menjadi sam ceecu pada Ceng liong pang, dan penjelasan itu kemudian ditambahkan lagi :

“..Ngo heng kun adalah ilmu pukulan  yang  menirukan gerak "panca hewan', yakni "houw kun", “pa kun”, coa kun" dan “liong-kun". IImu "ngo-heng kun' yang bakal kau peroleh adalah murni berdasarkan "lohan ngo-heng kun'.dari golongan Siao lim, dan kau boleh gunakan buat melawan ilmu tiat  pou san milik toa ceecu Poei Sie Ban, sebab kau harus membikin  dia bingung dengan panca benda" serangan yang kau lancarkan; dan disaat dia lengah, gunakan 'ho kun' ( kuntao bango ) kau hajar barangnya yang ada diantara sepasang pahanya; sebab hanya disitu letak  kelemahan  ilmu  tiat  pou san atau ilmu baju besi. jadi kalau kau serang selagi dia s iaga; maka sudah tentu dia akan melindungi barangnya yang istimewa itu, bahkan bisa  dia  simpan  masuk  kedalam tubuhnya sampai hilang tidak dapat diraba sebab ilmu  yang  dia miliki sudah mencapai batas kemampuannya .!

“. kalah atau menang kau berkelahi melawan mereka terletak pada ketangkasan dan nasibmu sendiri, aku hanya memberikan apa yang menjadi kemampuanku akan tetapi aku pesan pada kau; jangan kau turun tangan sebelum kau mengetahui dengan pasti; siapa si penghianat itu.. "

oooo ) dw:0 kz) : hnd-oooo(

DEMIKIAN kisah Lie Hui Houw yang harus melakukan petualangan buat membalas dendam si macan terbang yang menjadi sam ceecu pada Ceng liong pang. Akan tetapi seperti kata pepatah 'apa yang harus terjadi, pasti akan terjadi', maka ternyata orang yang telah menghianati si 'macan terbang” adalah orang yang tidak diduga duga; namun tidak sia  sia  jerih payah Lie Hui Houw yang harus membiasakan  diri menjadi laki laki bekas orang hukuman.

Dipihak Cie in suthay atau biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu, dia hanya terpesona melihat pedang 'ceng-liong kiam” yang sedang dibawa oleh seorang pemuda yang dia tidak kenal, sebab dia tahu benar oleh siapa pedang pusaka itu seharusnya berada. Biarawati yang muda usia itu tidak perduli dengan urusan persekutuan Ceng liong pang, sebab urusan ini sudah lewat puluhan tahun lamanya; akan tetapi mengenai pedang pusaka itu, dia teringat dengan seseorang yang bernama Lie  Hong Giok, anak perempuannya si tangan geledek Lie Thian Pa. Jadi Lie Hong Giok adalah seorang anak dara dan yang sedang dia lihat membawa pedang itu adalah sa lah  seorang  pekerja. Maka terpikir oleh biarawati yang cantik jelita itu bahwasanya mungkin pedang Ceng liong kiam itu dicuri atau dirampas dari tangan dara Lie Hong Giok sebab jelas pedang  Ceng  liong kiam yang sedang dibawa bawa itu adalah pedang  laki  laki yang seharusnya berada pada Lie Hong Giok !

"Kita ikuti mereka ..." ajak biarawati yang biasanya memiliki otak cerdas bahkan tangkas dan tinggi  ilmunya itu, lalu mereka memutar arah perjalanan mereka buat mengikuti  Lauw K iam Seng bertiga yang sudah cukup jauh terpisah.

Pada kesempatan berikutnya, Lauw Kiam Seng sedang duduk minum arak seorang diri waktu dia diawas i oleh Lie Hui Houw berdua Cie in suthay; yang sengaja memilih tempat duduk agak terpisah jauh.

Waktu itu mereka sedang berada di ruang makan pada sebuah rumah penginapan di dalam kota Pao kee tin, suatu kota kecil yang bersih dan cukup ramai.

Muka Lauw Kiam Seng kelihatan kusam karena perempuan sinting itu tidak mau makan di ruang makan, bahkan perempuan sinting itu memerintahkan Lauw Kiam Seng membiarkan dia bersama si bocah yang botak kepalanya.

Mendadak Lauw Kiam Seng melihat ada seorang pemuda mendekati dia. Pemuda itu tangkas dan gagah kelihatannya akan tetapi dia cengar cengir seperti monyet kena terasi padahal Lauw Kiam Seng tidak merasa kenal dengan pemuda yang sedang mendekati itu dan dia ogah berkenalan dengan orang orang selagi dia dalam keadaan kesal. Akan tetapi pemuda yang cengar cengir itu justeru menyapa dia sehingga dalam hati Lauw Kiam Seng menganggap bahwa pemuda itu adalah orang sinting yang tidak perlu dilayani.

“Eh, Lauw heng: kau hendak kemana.,.?” demikian Lie Hui Houw menyapa, sambil dia mengangsurkan sepasang tangannya buat memberi salam; nama Lauw kiam  Seng diketahui oleh Lie Hui Houw yang sengaja menanya pada pengurus rumah penginapan.

Lauw Kiam Seng merasa terpaksa bangun berdiri, terpaksa menerima atau membiarkan sepasang tangannya dijabat dan dipegang erat erat.

"Aku lagi duduk; dan tidak mau kemana-mana.,.” sahut Lauw Kiam Seng ogah bicara sebab dia sedang murung,  dan dia benar benar menganggap pemuda yang menyapa adalah seorang orang sinting terbukti sepasang lengannya  masih dipegang erat erat (“sedetik lagi kau masih memegang akan kupukul perutmu..!)

Dipihak Lie Hui Houw dia terpesona mendengar jawaban pemuda yang sedang dia hadapi dan sengaja dia ajak bicara, terlebih waktu melihat lagak yang acuh dari Lauw Kiam Seng sehingga terpikir oleh Lie Hui Houw kalau kalau dia sedang berhadapan dengan seorang orang sinting !

'Aku tahu kau lagi duduk makan, eh lagi duduk  minum sebab kagak ada makanan diatas mejamu akan  tetapi bukankah kau datang dari kota lain “ Lie Hui Houw yang berkata lagi. (Akh, dia benar benar orang s inting. .) pikir Lauw Kiam Seng didalam hati, akan tetapi dia menjawab:

'Dari mana coba kau katakan ,.” Lie Hui Houw menunduk merasa bingung. Mukanya tambah cengar cengir meringis, sedangkan didalam hati dia memaki: hebat juga orang sinting ini..,!

(nah nah nah ! orang sinting ini datang penyakitnya. Dia bahkan menganggap aku yang sinting..) pikir Lauw K iam Seng didalam hati seperti dia dapat menduga yang sedang dipikirkan oleh Lie Hui Houw akan tetapi untungnya pada saat itu Lie Hui Houw sudah me lemaskan pegangannya sehingga batal Lauw Kiam Seng memukul dan Lie Hui Houw bahkan ngeloyor pergi tanpa pamit dan tanpa mengucap apa apa; kepingin buru buru memberikan laporannya kepada teman seperjalanannya, yang diam diam sejak tadi sedang memperhatikan sesuatu sering melirik bahkan sering  tersenyum seorang diri bagaikan sedang tergila gila terhadap dua lelaki muda yang sedang bicara sambil berdiri.

"Kau lihat ada bhiksuni genit" kata seorang tamu pada teman makannya; perlahan suaranya sehingga sudah tentu tidak didengar oleh Cie in suthay.

Teman yang diajak bicara itu ikut mengawasi Cie in suthay. Sejak tadi secara diam diam dia memang sudah mengincar biarawati yang cantik jelita itu. Dia penasaran sebab ternyata temannya juga ikut  memperhatikan sehingga dia  sengaja menggertak :

"Barang kali dia bukan bhiksuni akan  tetapi  setan kuntilanak yang sedang menyamar,'

Dan temannya yang memang terkenal penakut menjadi terbatuk batuk selagi dia minum araknya; dan arak itu ikut berhamburan keluar bahkan ada sedikit yang memancur kena muka temannya.

“Siapa namanya.. ?” tanya Cie in suthay, sehabis  dia menerima laporan dari Lie Hui Houw yang mengatakan bahwa Lauw K iam Seng ternyata orang sinting.

'Mana kutahu, didalam buku tamu tercantum dua nama, Lauw Kiam Seng dan Lauw Kiam Hok; entah yang mana namanya dan yang mana temannya ...' sahut Lie Hui Houw yang kelihatan murung.

'Hanya ada dua nama ? kenapa bukan tiga nama ?' tanya lagi biarawati yang muda usia itu; yang biasanya terkenal cerdas ; dan saat itu sedang menguji otaknya, sebab sejak mereka mengikuti, mereka lihat rombongan Lauw Kiam Seng terdiri dari tiga orang yang memasuki rumah penginapan itu dan tak ada kelihatan salah satu dari mereka yang keluar atau memisah diri:

Lie Hui Houw juga jadi merasa heran sebab baru sekarang dia teringat. Akan tetapi Cie in suthay sudah berdiri buat mendatangi meja rumah penginapan itu, tepat disaat  tamu tadi sedang terbatuk batuk sambil memancurkan araknya: dan tamu itu sekarang jadi gemetar sebab menduga sang kuntilanak sedang marah-marah dan mendatangi dia.

Dipihak Lauw K iam Seng diam-diam dia jadi ikut perhatikan pemuda sinting yang mendekati meja tempat bhiksuni muda yang lagi duduk sendirian.

(“Wah pemuda sinting itu ternyata punya  teman perempuan yang menyamar jadi bhiksuni.., ') pikir Lauw K iam Seng di dalam hati; dan di dalam hati juga dia jadi tertawa teringat agak mirip seperti dia  yang mempunyai teman perempuan yang sedang menyamar jadi seorang pemuda. Cuma bedanya dia mempunyai teman perempuan yang sinting sebaliknya pemuda itu yang  sinting  bukan  temannya. Alangkah baiknya kalau mereka saIing tukar teman. (akan tetapi bagaimana kalau perempuan yang menyamar jadi bhiksuni itu juga orang sinting. ?')

Dan Lauw Kiam Seng terpaksa harus menunda pikirannya yang sedang melamun sebab dia terkejut waktu melihat Cie in suthay bergerak bagaikan  sedang mendekati tempat dia duduk; sehingga jantung Lauw Kiam Seng  jadi berbunyi dak dik duk dan buru buru dia mendahulukan bangun dari tempat duduknya, dan buru buru dia 'ngacir'  masuk  kedalam kamarnya sebab dia  benar benar sudah tobat,  meskipun hanya mempunyai satu teman perempuan yang sinting; jadi, bagaimana kalau sampai ditambah menjadi dua teman perempuan sinting ? Biarawati yang muda usia itu melihat dan memperhatikan sikap Lauw Kiam Seng, yang benar benar seperti orang sinting; akan tetapi bhiksuni yang muda usia ini memiliki kecerdasan sehingga dia  mendekati dan menanya kepada pengurus rumah penginapan,  dan dia  mengetahui bahwa Lauw Kiam Seng berdua Lauw Kiam Hok, dan yang satu lagi atas nama Lauw Kiam Sui.

"Dan Lauw Kiam Sui ini tentu adalah seorang perempuan, yang sengaja menyamar ...” kata bhiksuni yang cerdas itu, waktu dia sudah mendekati Lie Hui Houw.

Lie Hui Houw ikut menjadi senang, karena melihat wajah muka biarawati yang muda usia itu sedang dihias i dengan seberkas senyum puas. Akan tetapi; pada detik berikutnya pemuda ini melihat perubahan muka biarawati teman jalannya itu yang agaknya sedang berpikir keras :

"Mungkinkah dia.. !” kata bhiksuni yang muda usia itu, seperti dia menggerutu pada dirinya sendiri.

'Dia s iapa maksud suthay.. .?" tanya Lie Hui Houw.

'Lie Hong Giok; anaknya Poen lui cui Lie Thian Pa. Mari kita lihat..."

Untuk menentukan dugaannya, Cie in suthay menjadi ragu ragu, sebab dia teringat bahwa Lie Hong Giok se lalu berjalan berdua dengan pacarnya yang bernama Cin Bian Hui. Dari itu dia merasa perlu mendapat ketegasan.

Sementara itu, Lie Hui Houw bergegas mengikuti biarawati yang cantik jelita itu yang sudah mendahului; dan bhiksuni itu juga yang mengetok pintu kamar yang dihuni oleh orang yang katanya bernama Lauw Kiam Sui.

Didalam kamar itu ada si bocah botak dan sang sumoay yang sudah buka topinya membiarkan rambutnya lepas terurai panjang sehingga jelas kelihatan dia adalah seorang perempuan meskipun dia masih memakai pakaian lelaki. Si bocah yang botak kepalanya menganggap yang mengetok pintu kamar adalah  Lauw Kiam Seng seperti biasanya kalau sang toa ko itu datang kekamar sang sumoay. Dari itu tanpa ragu ragu sibotak membuka pintu  kamar  dan dia menjadi terpesona ketika melihat orang orang yang  dia tidak kenal.

“Moay moay !" seru Cie in suthay selekas dia  melihat perempuan sinting itu; tidak menyadari bahwa perempuan itu adalah seorang yang sinting sebaliknya tanpa ragu ragu Cie in suthay masuk lalu hendak merangkul.

Perempuan sinting itu mundur tiga langkah ke belakang, tidak membiarkan tubuhnya dijamah; apalagi dirangkul.

Cie in suthay menjadi heran, sampai dia  diam tidak bersuara. Dia lihat benar dan yakin benar bahwa perempuan yang sedang menyamar itu adalah Lie Hong Giok akan tetapi mengapa dara itu tidak mengenali dia ? dan pada sepasang mata dara itu. akh! itulah sinar mata hampa; sinar mata  liar  dari seseorang yang tidak sadar pada dirinya sendiri !

Secara tiba tiba tangan kanan Cie-in suthay bergerak. Dua jari tangannya merentang sebab dia ingin menohok  jalan darah Lie Hong Giok; supaya dara itu tidak dapat bergerak, sebab dia menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang teman yang perlu ditolong.

Meskipun otaknya tidak sehat, akan tetapi perempuan sinting itu mengetahui bahwa dirinya hendak diserang; gerak tubuhnya sangat lincah waktu dia  berkelit menghindar dan berkelit lagi waktu Cie in suthay mengulang perbuatannya.

Biarawati yang muda usia dan yang tinggi ilmunya itu menjadi penasaran. Sudah tiga kali percobaannya sia sia, padahal dia memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Lie Hong Giok yang dia kenal cukup lama. Sekali lagi Cie in suthay hendak mengulang perbuatannya, akan tetapi  mendadak  dia terpesona melihat sikap dan gaya Lie Hong Giok. 'Awas itulah cakar e lang.!' teriak Lie Hui Houw yang berdiri diluar kamar sebab sejak tadi dia memang tidak mau ikut memasuki kamar seorang anak dara. Akan tetapi waktu terjadi ribut ribut si botak menerobos lari hendak memanggil Lauw Kiam Seng namun kena dipegang oleh Lie Hui Houw.

Lauw Kiam Seng datang tanpa dipanggil oleh si  botak sebab dia sudah dengar suara ribut ribut di dalam kamar perempuan sinting teman seperjalanannya dan dia menjadi marah waktu melihat yang mengacau itu adalah si pemuda sinting bersama si bhiksuni sinting.

Tanpa mengucap sesuatu Lauw Kiam Seng menyerang memakai pukulan tangan kanan, akan tetapi pemuda yang dia anggap sinting itu dengan mudah dapat menghindar, bahkan pada gerak berikutnya tangan kanan Lauw Kiam Seng dapat dipegang erat erat.

Lie Hui Houw ingat bahwa Cie in suthay kenal dengan perempuan yang aneh tingkah lakunya itu, maka Lie Hui Houw tidak mau sembarang melukai Lauw Kiam Seng. Akan tetapi waktu dia sudah berhasil memegang sebelah tangan Lauw Kiam Seng. maka lagi lagi pemuda itu memukul memakai kepelan tangan kiri, tepat kena dibagian perut Lie Hui Houw.

Syukur bagi Lie Hui Houw; bahwa dia memiliki ilmu tenaga dalam yang sudah mencapai batas kemampuannya, sehingga waktu kepelan tangan kiri Lauw Kiam Seng hinggap diperutnya, maka Lauw Kiam Seng merasa seolah olah dia memukul benda lunak yang dapat  menyedot  membikin kepelan tangannya menetap dibagian perut Lie Hui Houw, dan waktu benda lunak itu mendorong, maka tubuh Lauw  Kiam Seng terdorong sampai dia jatuh duduk !

Andaikata waktu itu Lie Hui Houw berhadapan dengan seorang musuh maka Lauw Kiam Seng pasti akan rubuh terguling dengan mulut mengeluarkan darah; sebab tenaga yang mendorong itu dapat dikendalikan. "Lauw heng, maafkan aku; akan tetapi kita berada diantara orang sendiri." kata Lie Hui Houw selagi dia membantu Lauw Kiam Seng bangun berdiri.

Lauw K iam Seng menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar muda yang perkasa. Lagipula dia mulai percaya dengan perkataan yang kelihatan dengan setulus hati diucapkan oleh Lie Hui Houw dari itu dia jadi patuh menurut.

Sementara itu Cie in suthay memang sedang terpesona waktu dia  melihat gaya persiapan Lie Hong Giok; jadi sebenarnya tidak perlu lagi teriak peringatan dari Lie  Hui Houw. Sebaliknya yang dia herankan, entah sejak kapan dan siapa yang telah mengajarkan Lie Hong Giok ilmu 'eng jiauw kang itu! Mula pertama Cie in suthay belajar ilmu silat pada Thian jie san jin seorang petapa sakti yang menetap jauh di puncak Thian jie hong yang tinggi menjulang keangkasa. Dan petapa yang sakti itu mengutamakan ilmu ringan tubuh kelincahan yang sesuai dengan bakat Cie in suthay  yang  waktu itu masih bernama Liong Cie In.

Kemudian Cie in suthay mengalami patah hati akibat kegagalan cinta terhadap si pendekar tanpa  bayangan  Tan Sun Hian dan Cie in suthay menjadi biarawati muda usia dibawah asuhan Tok pinnie Bok lan siancu  seorang bhiksuni tua yang sakti sehingga Cie in suthay berhasil menambah ilmu termasuk ilmu menotok jalan darah yang  dapat  digunakan buat menolong orang sakit akan tetapi juga dapat digunakan buat membunuh sesama manusia !

Pada serangan pertama yang dilakukan oleh perempuan sinting itu Cie in suthay berkelit dengan  menggunakan  ilmu 'Ieng pou hui pu” yang lincah gesit seolah olah seperti seekor capung bermain main di atas air sehingga daun pintu yang menjadi cacad kena cakar jari jari tangan perempuan sinting itu.

Serangan perempuan sinting itu yang kedua, berhasil membikin tiang jendela ikut  menjadi cacad, dan serangan yang ketiga berhasil merobek sedikit lengan baju Cie in suthay yang lebar dan panjang.

Kejadian itu cukup mengejutkan orang orang yang melihat; yakni Lie Hui Houw dan Lauw K iam Seng yang sudah berhenti berkelahi; menonton dengan sikap waspada di dekat pintu kamar itu.

Ruang untuk kedua orang yang sedang bertempur itu memang tidak mencukupi, sehingga keadaan jadi merugikan pihak Cie in suthay yang harus berkelit kian kemari, terlebih bhiksuni yang muda usia itu tidak mau melukai  lawannya, yang sebenarnya merupakan teman akrabnya.

Pada serangan yang berikutnya, tubuh Cie in suthay hilang dari hadapan perempuan sinting itu, dan tahu tahu dari  sebelah belakang Cie in suthay menendang.  Atau tetapi bagaikan bagian belakang perempuan sinting itu ada matanya, maka sempat dia menghindar menyamping dan  sekali  ini Cie in suthay tidak memberi kesempatan buat perempuan sinting itu mengerahkan tenaga 'eng jiauw kang' sebab Cie in suthay sudah mendahulukan memukul dada yang sebelah kiri, akan tetapi di luar dugaan biarawati yang muda usia itu, si perempuan sinting berani  mengangkat  sebelah  lengannya buat mengadu tenaga.

Dengan geraknya yang gesit dan pesat, Cie in suthay dapat membatalkan niatnya yang hendak memukul bagian dada perempuan sinting itu, sebaliknya kaki kanannya berhasil menyapu kaki perempuan sinting itu; dan lawan yang tidak menduga ini menjadi rubuh terguling, akan tetapi dia bergulingan terus meskipun Cie in suthay tidak menyusul, dan tahu tahu perempuan sinting itu berhasil meraih pedang Ceng liong kiam, yang langsung dia cabut keluar !

Cie in suthay terkejut. Terlebih kedua pemuda yang berdiri menonton didekat pintu kamar. Sebaliknya perempuan sinting itu tertawa; dengan suara seperti kuntianak  kehilangan lakinya, lalu secara mendadak perempuan sinting itu mengibas; dan rontok daun-daun jendela menjadi empat potong setelah itu dia  lompat menghilang  di kegelapan malam.

“Kejar ! K ita harus tangkap dia.. .!” ajak Cie in suthay yang mendahului lompat keluar mengikuti jejak perempuan sinting menghilang tadi.

Sia sia Cie in suthay menjadi muridnya Thian jie san jin, kalau dia tidak dapat menyusul perempuan sinting itu. Dulu bhiksuni yang muda usia ini pernah saling menguji ilmu ringan tubuh dengan Tan Sun Hian yang gesit  dan pesat gerak tubuhnya bagaikan tanpa bayangan; oleh karena pendekar tanpa bayangan itu mempunyai ilmu pat pou kan sian atau delapan langkah pengejar dewa.

Bagaikan seekor capung yang bermain  di air, dengan beberapa kali lompatan Cie in suthay telah berhasil menghadang perempuan sinting itu akan tetapi perempuan sinting itu menikam memakai pedang Ceng liong Kiam sambil dia mendengarkan suara tawanya melengking memecah kesunyian malam membikin  anjing anjing geladak ikut menyalak ketakutan.

"Moay moay! Inilah aku Cie in.!” seru Cie in suthay selagi berulangkali dia harus berkelit dari serangan maut memakai pedang Ceng liong kiam.

Sejenak perempuan sinting itu  diam  menunda  diri membikin Cie in suthay mulai girang; karena menganggap Lie Hong Giok sudah mulai ingat daratan. Akan tetapi waktu Cie in suthay hendak mengucap perkataan lain maka saat  itu  pula dia diserang lagi, diserang dengan tenaga eng jiauw kang dari jarak jauh sehingga biksuni yang muda usia itu harus lompat tinggi dan tanah bekas dia berdiri menjadi gempur berhamburan.

"Hey kalian bantu tangkap dia! tetapi awas jangan sampai dia luka. .!" teriak Cie in suthay seperti badannya merasa akan tobat akan tetapi tetap dia berlaku waspada; karena waktu itu pedang Ceng liong kiam siap hendak membelah tubuhnya.

Lauw Kiam Seng menjadi ragu ragu; terlebih sebab dia hanya memiliki sebatang pisau belati yang tidak  mungkin dapat dia gunakan buat menangkis pedang Ceng liong kiam yang tajam luar biasa. Akan tetapi waktu dia melihat Lie Hui Houw sudah mendahului dia, maka dia  teringat hendak menangkap sepasang kaki perempuan sinting itu.

Segera Lauw kiam Seng lompat menerkam bagaikan seekor burung gagak menerkam anak ayam, dia mengarah sepasang kaki perempuan sinting itu disaat perempuan sinting itu baru lompat menghindar dari serangan Lie Hui Houw.

Perempuan sinting itu melihat adanya seseorang lain yang ikut mengepung dia. Jadi tiga orang telah  mengepung  dia; dan hal ini menambah kemarahan. Hampir saja dia   belah tubuh Lauw Kiam Seng yang sedang lompat menerkam akan tetapi cepat cepat dia membatalkan  maksudnya,  sebaliknya dia menendang membikin tubuh Lauw Kiam Seng terpental balik dan rubuh terguling.

Perempuan sinting itu terpesona, sebab tidak menduga teman seperjalanannya ikut berhianat, dia sampai berdiri diam mengawasi Lauw Kiam Seng yang sedang meringis kesakitan dan dia mengawasi dengan sepasang sinar mata menyala akan tetapi ada butir butir air mata kelihatan keluar, membasahi mukanya.

Lie Hui Houw mendapat kesempatan dan menerkam dari sebelah belakang. Menerkam untuk memegang kedua lengan perempuan sinting itu bagaikan dia hendak merangkul dan pemuda ini berhasil mencapai niatnya.

Perempuan sinting itu meronta bagaikan seekor banteng betina yang gila; akan tetapi teriak suaranya melengking lebih mirip seperti kuntilanak marah karena buah dadanya kena disentuh oleh sepasang lengan Lie Hui Houw yang  berotot baja.

Perempuan sinting itu menendang nendang memakai sepasang kaki dan lututnya; membikin Lie Hui Houw meringis kesakitan seperti kena ditendang oleh seekor kuda betina !

Hampir tak sanggup Lie Hui Houw mempertahankan rangkulannya. Dia  mulai percaya dengan perkataan orang orang bahwa orang sinting memiliki tenaga dahsyat !

Untung bagi pemuda ini, bahwa Cie in suthay dapat bergerak cepat. Jari jari tangan bhiksuni yang perkasa  ini mulai bekerja. Mula pertama pedang Ceng liong kiam lepas jatuh ditanah berikut sarungnya, karena sepasang tangan perempuan sinting itu hilang tenaganya seperti lumpuh, lalu pada detik berikutnya iga kirinya kena ditotok  dan  habis semua tenaga perlawanannya akan tetapi mulutnya masih sanggup perdengarkan teriak suara melengking seperti kuntilanak yang kena ditangkap memaksa sekali lagi jari tangan Cie in suthay menotok bagian  leher  sebelah  kanan; dan hilang suara perempuan sinting itu, yang bahkan terkulai lemah didalam rangkulan Lie Hui Houw.

"Gendong dan bawa dia ke hotel ...” kata Cie in suthay singkat.

Sejenak Lie Hui Houw terpesona mengawasi biarawati yang muda usia itu akan tetapi dia segera tersadar bahwa saat itu sudah banyak orang orang yang menonton kejadian itu sambil mereka membawa obor sebagai alat  penerang  dan kedatangan mereka tadi tidak sempat diperhatikan  oleh  Lie Hui Houw yang perhatiannya sedang dia  curahkan buat menangkap perempuan sinting itu.

Dengan langkah kaki yang pincang bekas kena tendangan Lauw Kiam Seng buru buru ikut  jalan menuju ketempat mereka menginap, dan orang orang yang menonton kejadian tadi ikut bubar dengan menyertai ocehan mereka yang tak hentinya; bahwa ada pendeta perempuan yang berhasil menangkap setan kuntilanak !

Semalaman suntuk Cie in suthay tidak  tidur;  menemani dara Lie Hong Giok yang rebah tidak berdaya, kena ilmu menotok jalan darah. Cie in suthay heran tak mengerti, apa yang menyebabkan Lie Hong Giok kena penyakit jiwa dan kemana gerangan pemuda Cin Bian Hui yang menjadi suheng merangkap kekasih Lie Hong Giok.

Air mata Cie in suthay kelihatan titik berlinang waktu dia mendengarkan kisah dari pemuda Lauw Kiam Seng dan si bocah yang botak kepalanya. Biarawati yang muda usia ini membayangkan betapa penderitaan Lie Hong Giok yang harus berkelana seorang diri dalam keadaan jiwanya terganggu sampai dara yang perkasa itu hidup sebagai seorang perempuan gelandangan mengganyang sisa sisa makanan yang ada ditempat sampah yang sudah tak mau lagi dimakan meskipun oleh anjing anjing geladak.

“Aku .. aku tidak sangka kau adalah seorang pemuda yang asalnya seorang pengemis gelandangan.., " kata Cie in suthay di tengah Lauw Kiam Seng menceritakan kisah pertemuannya dengan Lie Hong Giok;

"Eh, aku bukan seorang pengemis; bukan seorang gelandangan.. ..” Lauw Kiam Seng membela diri sedangkan didalam hati dia memaki bhiksuni muda us ia itu sebagai orang sinting yang sembarangan menuduh !

Dalam keadaan yang sangat menyedihkan  itu  Lie  Hong Giok bahkan hamil sampai bayi yang dilahirkannya tewas, tak tahan ikut banyak menderita kena goncangan  dalam perjalanan maupun dalam pertempuran yang terpaksa harus dilakukan oleh Lie Hong Giok sehingga bayi  yang  masih berada didalam kandungan itu berulangkali kena tendangan orang orang. Lie Hong Giok hamil dan melahirkan ! perbuatan siapakah atau anak siapakah bayi itu? siapa bapaknya ?

Cie in suthay ikut menjadi dendam dan marah marah terhadap pemuda Cin Bian Hui yang dia anggap sebagai orang muda yang tidak bertanggung jawab; habis melalap anak perawan terus kabur menghilang!

('o mi to hud….') Cie in suthay memuji sang  Dewata didalam hati. Sebab tadi dia ikut  mengutuk dan ikut menyimpan dendam suatu perbuatan yang tidak boleh dia lakukan sebagai seorang rahib.

Penyakit sinting Lie Hong Giok sudah sangat parah tidak sanggup Cie  in  suthay  menyembuhkan  dengan  ilmu  yang dim iliki. Akan tetapi bhiksuni yang muda usia ini merasa yakin; bahwa gurunya Tok pin nie Bok lan siancu akan sanggup menolong Lie Hong Giok; sehingga dia  memutuskan dia hendak membawa Lie Hong Giok ke kuil Cui gwat am  dan kalau Lie Hong Giok sudah sembuh sekalian  dara  yang bernasib ma lang itu boleh ikut dia menjadi seorang biarawati muda usia yang cantik mukanya.

Akan tetapi apakah dendam Lie Hong Giok harus dibiarkan?

('enak saja laki laki laknat itu,. !) maki c ie in suthay didalam hati akan tetapi akhirnya dia teringat bahwa Lie Hong Giok masih mempunyai ayah yakni si tangan geledek Lie Thian Pa; orang tua itu harus diberi tahu; dan Lauw K iam seng bersama sibotak yang diperintahkan buat membawa berita itu, supaya Poen lui c iu Lie Thian Pa yang nanti menyembelih pemuda Cin Bian Hui, membuang isi perutnya yang busuk !

('eh, mengapa aku masih membenci kaum laki laki? o m ie  to hud.. ') sekali lagi bhiksuni yang muda usia itu memuji sang dewata didalam hati; dan dia mengawasi lie Hong Giok; yang rebah akan tetapi dengan sepasang mata melotot, ikut mengawasi seperti kuntilanak yang hendak menelan mangsa ! Untuk mengangkut Lie Hong Giok kekuil Cui gwat  am, maka Cie in suthay memerlukan menyewa sebuah kereta kuda berikut saisnya pada suatu perusahaan pengangkutan atau piauwkiok; sedangkan buat pemuda Lauw Kiam Seng berdua Lie Hui Houw akan dibeli dua ekor kuda, sementara Cie in su- thay dan si botak duduk didalam kereta menemani Lie Hong Giok.

Rencana Cie in suthay ternyata disetujui buat membawa Lie Hong Giok ke kuil Cui gwat am, dan pemuda Lauw K iam Seng akan memisah diri di kota Hong yang buat membawa berita untuk si tangan geledek Lie Thian Pa.

Perjalanan menuju kota Hong yang yang harus ditempuh oleh rombongan Cie in suthay, akan memerlukan waktu beberapa hari dan se lama itu bhiksuni yang muda usia ini menghadapi kesukaran kalau harus memberi makan buat Lie Hong Giok sebab perempuan sinting itu pasti memaki maki kalau dia sedang dibebaskan dari pengaruh  ilm u  menotok jalan darah, sedangkan kalau mereka perlu istirahat dan bermalam di sebuah rumah penginapan maka Lie Hong Giok harus digotong memakai alat yang sengaja mereka bawa sehingga banyak menarik perhatian orang orang yang melihat; yang menduga rombongan Cie in suthay ini sedang membawa seorang sakit parah.

Seorang kakek yang kurus dan bongkok tubuhnya, menjadi sangat terkejut waktu untuk pertama kalinya dia melihat Cie in suthay, disaat rombongan biarawati yang muda  usia  itu sedang memasuki rumah penginapan.

Si kakek bongkok cepat cepat berlindung dibalik tubuh  orang orang yang ikut menyaksikan rombongan biarawati itu yang sedang membawa orang sakit, lalu si kakek bongkok menghilang sebelum dia terlihat atau dilihat oleh Cie in suthay yang memang sudah tidak asing lagi baginya !

Seribu kali orang berusaha hendak memusnahkan dan seribu kali orang menganggap dia sudah dibinasakan; namun dilain saat orang menemukan lagi dia dalam ujut dan muka seribu. Dia adalah si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu.

Dahulu dia adalah seorang pengemis kecil yang hidupnya penuh derita sengsara dan seringkali dihina orang. Kemudian dia bertemu dengan seorang tua sakti yang mendidik dia dalam pelajaran ilmu silat, dan dia bahkan berhasil belajar tentang ilmu pengetahuan berbagai macam bisa racun, serta membikin semacam topeng dari bahan yang elast ik yang mirip kulit manusia, sehingga dia dapat mengganti ujut dan muka seribu. Setelah itu dia merajalela menyebar maut terutama di dalam menyebar dan menggunakan bisa racun sehingga orang orang menamakan dia sebagai si iblis penyebar maut; sedangkan untuk kepandaian mengganti ujut muka; orang orang menamakan dia sebagai si muka seribu, atau koan  bin jin yao.

Pada setiap pengganyangan yang dilakukan oleh sekelompok orang orang yang menamakan diri sebagai pendekar penegak keadilan; orang orang menganggap si iblis sudah berhasil dibinasakan dan segala kegiatannya dilumpuhkan. Akan tetapi kenyataannya si iblis muncul  lagi dan mengganas lagi menyebar maut dan melakukan kegiatan.

Terakhir si iblis penyebar maut alias Han bie  kauwcu diganyang selagi me lakukan kegiatan persekutuan Thian tok bun, atau persekutuan penyebar racun maut dan peristiwa pengganyangan itu si iblis penyebar maut yang  berujut sebagai Thian tok cuncu atau ketua persekutuan Thian tok bun, telah diganyang oleh tak kurang dari 100 orang orang gagah yang menamakan diri kelompok pendekar penegak keadilan, sehingga hancur luluh  tubuh dan muka si iblis penyebar maut (kisah lengkapnya baca: 'Iblis penyebar maut” atau Toat beng siam “).

Dengan demikian kelompok para pendekar  penegak keadilan merasa yakin bahwa si iblis penyebar maut alias Han- bie kauwcu sudah binasa, tidak mungkin berkeliaran lagi. Akan tetapi, pada kenyataannya si iblis  penyebar maut tetap hidup; dan tetap merajalela bahkan melakukan balas dendam kepada setiap orang orang yang menentang dia.

Disaat selagi maut mengintai dirinya; maka si iblis penyebar maut dalam ujut muka Thian tok cuncu, telah mengganti ujut penyamaran menjadi seorang kakek tua yang bongkok, sementara seorang anggota Thian tok bun dia sulap menjadi Thian-tok cuncu, memakai pakaian seragam serba hijau yang lengkap dengan kain selubung penutup kepala. Dengan demikian Thian tok cuncu yang dibinasakan sudah pasti bukan si iblis penyebar maut, yang bahkan tertawa menyaksikan kebodohan orang orang gagah yang menamakan diri sebagai kelompok para pendekar penegak keadilan. Dia  tertawa dengan menyimpan dendam yang membara, yang disatu saat akan dia lakukan pembalasan.

Waktu itu, asap api yang mengepul diatas gunung tempat markas si iblis melakukan kegiatannya, baru saja hilang lenyap bertepatan dengan habisnya bangunan markas besar persekutuan Thian tok bun yang dibasmi dan dibakar oleh kelompok para pendekar penegak keadilan.

Malam kembali pada asalnya menjadi gelap gulita, bahkan bertambah gelap karena awan mendung yang menggumpal hitam disekitar tempat markas kegiatan si iblis  melakukan kegiatannya, sementara suara aum berbagai macam binatang alas yang saling berebut bangkai bangkai manusia yang bergelimpangan; hilang lenyap  ditelan suara guntur  yang menggelegar, dibarengi dengan sinar kilat yang berkilauan, memantul diantara sisa sisa mayat mayat manusia yang mati karena kesakitan ataupun penasaran.

Meskipun suara guntur saling susul memekak telinga akan tetapi tak setetes air hujan yang turun membasahi bumi. Sebaliknya kilauan sinar kilat itu membantu seorang tua yang kurus dan bertubuh bongkok, yang dengan geram mengawasi arah tempat perkumpulannya para pendekar penegak keadilan; yang waktu itu sedang merayakan kemenangan mereka dalam suasana gelak dan tawa.

Si kakek yang bertubuh bongkok adalah ujut penyamaran si iblis penyebar maut yang sempat berganti ujut dan muka, sesaat selagi bahaya mengancam dirinya.

Seorang anak buahnya sudah dia robah ujut dan mukanya menggantikan dia sementara dia menghilang dan berganti ujut menjadi seorang kakek bertubuh bongkok, dan  berhasil melepas diri dari perhatian orang orang yang mengepung dan mengganyang habis kegiatan si iblis penyebar maut.

Esok paginya si iblis penyebar maut dalam ujut si kakek bongkok, mengikuti perjalanan seorang tua bekas piauwsu T in wan piauwkiok yang bernama Ma Heng Kong, yang waktu itu sedang berjalan bersama Ong sie hengtee Ong Kiam Kiat berdua Ong Kiam Eng.

Ketiga orang itu me lakukan perjalanan pulang habis ikut mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut dan disepanjang jalan mereka bercakap cakap sambil dise ling oleh suara tawa mereka; membicarakan pengalaman mereka baru saja hadapi membikin si kakek bongkok alias si iblis penyebar maut menjadi bertambah geram; namun dia dapat menguasai diri untuk berlaku sabar; menunggu kesempatan yang terbaik buat dia melepas dendam.

Kemudian dilihatnya ketiga orang tua  itu  saling  memisah diri yakni pihak Ong sie hengtee mengambil arah jalan yang menuju keutara, sedangkan piauwsu Ma Heng Kong memilih arah bagian barat.

Si kakek bongkok memutuskan untuk mengikuti perjalanan piauwsu Ma Heng Kong, dan waktu tiba disuatu tempat yang cukup sunyi, maka si kakek bongkok mempercepat langkah kakinya, sehingga dia berhasil mendekati piauwsu Ma Heng Kong untuk kemudian dia berteriak menyapa : "Ma hiantee, tunggu ..!” Bekas piauwsu Ma Heng Kong menghentikan langkah kakinya, memutar tubuh dan menunggu sambil dia mengawasi orang yang menyapa; dan setelah saling berhadapan, piauwsu Ma Heng Kong merasa heran, karena tidak kenal dengan si kakek bongkok.

"Maaf.“ kata piauwsu Ma Heng Kong; yang lalu menambahkan perkataannya, ketika keduanya telah berdiri berhadapan :

'.. mungkin aku lupa, akan tetapi bolehkah aku mengetahui nama lao heng.. ?'

Si kakek yang bongkok tertawa. Tawa bagaikan iblis yang siap menyebar maut, setelah itu baru dia berkata :

"Mungkin benar Ma hiantee sudah lupa padaku, akan tetapi mungkin juga tidak. Ha ha ha.. !"

Melihat si kakek bongkok tertawa, maka bekas piauwsu tua Ma Heng Kong memaksakan diri buat turut tertawa,  sehingga  si kakek bongkok yang menyambung bicara :

“Eh ! Mengapa kau tertawa...?” demikian tanya si kakek bongkok dengan mata melotot; perlihatkan lagak marah.

Bekas piauwsu tua Ma Heng Kong menjadi heran dan penasaran, karena menganggap tingkah laku s i kakek bongkok sangat aneh, dan hal ini mengakibatkan Ma Heng Kong tak kuasa mengucap apa apa.

"... akan tetapi, ada baiknya juga  kau tertawa.,." terdergar si kakek bongkok yang bicara lagi sambil dia mengawasi dengan mata 'juling' dan menyambung lagi perkataannya :

"... silahkan kau tertawa, sebab mungkin kau merasa aku siorang tua adalah orang yang aneh.. “

"Koay lo jinkee..?' kata Ma Heng Kong  bagaikan  pada dirinya sendiri, karena dia benar benar merasa heran dengan tingkah laku si kakek bongkok; dan menganggap memang tepat si kakek bongkok itu dinamakan Koay-lo jinkee atau kakek yang aneh.

"Akh ! jangan kau merasa heran sebab merasa belum kenal dengan aku. Kau boleh merasa heran kalau kau sudah kenal aku " si kakek bongkok yang berkata lagi.

“He he he ! kau memang aneh; lao heng....” kata piauwsu tua Ma Heng Kong yang bahkan menyertai lagi tawa tiga kali ‘he’. Tawa sebab benar benar dia  menganggap si kakek bongkok itu aneh dan lucu.

"Nah ! kau boleh terus tertawa, supaya kau mati puas ,. ,!"

“Maksud lao heng.. ?” tanya Ma Heng Kong; mulai merasa tersinggung,

"Kau kenal Gan Hong Bie ?”

“Hm ! dia sudah mati..!" sahut Ma Heng Kong dengan nada suara mengejek, teringat nama Gan Hong Bie  adalah  nama dari Han bie kauwcu alias si lblis penyebar maut.

“Sebabnya...?” si kakek bongkok menanya lagi, membikin Ma Heng Kong jadi kheki.

Sejenak Ma Heng Kong diam mengawasi si kake bongkok, dan si kakek bongkok itu raba bagian mukanya, lalu disaat berikutnya ketika si kakek bongkok berobah  menjadi  muka Gan Hong Bie yang cukup dikenal oleh Ma Heng Kong, dan yang dianggap sudah mati !

“Nah sekarang kau boleh merasa heran sebab kau sudah kenal aku; bukan,” si kakek bongkok berkata dengan nada suara yang mengejek.

Dalam keadaan kaget dan heran, piauwsu Ma Heng Kong sempat melihat di sepasang tangan si iblis penyebar maut tergenggam sepasang pisau belati yang terkenal dengan nama coan yo shin jie atau belati penembus tenggorokan dari itu cepat cepat piauwsu Ma Heng Kong menyiapkan senjatanya sebatang golok yang cukup berat dan Ma Heng Kong yang bahkan mendahulukan menyerang.

Si kakek bongkok dengan ujut muka Gan Hong Bie tertawa sambil dia berkelit mundur lalu tangan kirinya bergerak dan sebatang pisau belati terbang melesat membenam dibagian dada sebelah kiri Ma Heng Kong.

Tubuh piauwsu Ma Heng Kong bergerak limbung,  senjatanya lepas dari tangannya akibat bisa racun bekerja sangat cepat. Sebelum piauwsu Ma Heng Kong pingsan; masih sempat dilihatnya si kakek bongkok dengan ujut muka Gan Hong Bie melangkah mendekati dengan menyertai seberkas senyum. Senyum iblis yang siap menyebar maut!

Belati Coan yo shin jie ditangan kanan si kakek bongkok dengan ujut muka Gan Hong Bie bergerak menikam perut Ma Heng Kong, lalu belati itu bergerak kebagian atas, membedah perut piauwsu Ma Heng Kong; mengakibatkan perut itu robek menghamburkan banyak darah !

Sekali lagi terdengar gema suara tawa.  Suara  tawa bagaikan biang hantu yang tertawa. Setelah  itu si kakek bongkok dengan ujut muka Gan Hong Bie melontarkan sebuah lencana ke dekat tubuh piauwsu Ma Heng Kong yang sudah menjadi mayat; dan lencana itu bergambar biang hantu yang sedang tertawa; dengan tiga hurup 'kui mo  ong'.  Sementara itu hari berobah menjadi siang, dan s inar matahari bertambah terik. Jalan yang semula sunyi, kini menjadi ramai sehingga mayat piauwsu Ma Heng Kong dilihat oleh beberapa  orang yang sedang lewat lalu dalam sekejap ditempat itu menjadi ramai dengan orang orang yang ikut menyaksikan sambil ramai saling membicarakan.

Dua orang laki laki muda perkasa ikut mendekati, sampai kemudian mereka ikut melihat dan menjadi terkejut, waktu mereka mengetahui yang tewas itu adalah piauwsu Ma Heng Kong. Kedua laki laki muda itu adalah Sin tiauw Koan Siok Hu, yang sedang melakukan perjalanan bersama  sama  pemuda Lim Thong Bu, dan Lim Thong bu pernah pula bekerja pada  'Tin wan' piauwkiok, sehingga  kedua laki laki muda itu memutuskan berpisah sebab Lim Thong Bu bermaksud mengantarkan jenazah Ma Heng Kong, sedangkan Koan Siok Hu pulang ke dusun Tongkiong tin yang berlainan arah.

Letak rumah keluarga Ma Heng Kong adalah  jauh di propinsi Siamsay. Untuk mengangkut jenazah bekas piauwsu tua itu, maka Lim Thong Bu menyewa kereta kuda, sehingga dapat dia melakukan perjalanan yang cepat.

Selama dalam perjalanan itu, tak sudahnya Lim Thong Bu memikirkan perihal lencana Kui Mo ong, yang ditemukan di dekat mayat Ma Heng Kong.

Dilihat dari perut jenazah yang bagaikan dibelah; serta darah yang berwarna kebiru- biruan sebenarnya Lim Thong Bu sudah tak asing lagi dengan korban yang menjadi mangsa bisa racun yang khas dari orang orang Thian Tok bun. Akan tetapi siapakah gerangan “kui mo ong' atau si biang hantu jejadian itu ?

Dugaan Lim Thong Bu adalah perbuatan sisa orang Thian Tok bun yang masih merajalela sedangkan semula disangka bahwa pihak Thian tok bun sudah lumpuh, karena pusat markas mereka sudah dibasmi; sementara ketua  Thian  tok bun atau Gan Hong Bie alias si iblis penyebar maut sudah dibinasakan.

Pemuda Lim Thong Bu adalah salah seorang murid See gak hun kunbun golongan huruf “seng'. Kedua saudara seperguruannya, Lim Thong Hok ( kakak kandung Lim Thong Bu ) dan Oey Lan Ing ( yang kemudian menikah dengan Lim Thong Hok ). Lim Thong Bu melakukan perjalanan mencari pencuri kitab See gak hun 'seng' pitkip; dan si pencuri itu adalah Ouw bin liong Kwee Ong bersama gurunya, Hui ho Pouw Kong Jin.

Dalam perjalanannya itu Lim Thong  Bu  bertemu  dan bersatu padu dengan para pendekar penegak keadilan, yang sedang mengganyang si iblis penyebar maut dengan persekutuannya. Akan tetapi, sampai mereka selesai mengganyang markas Thian tok bun, ternyata Lim Thong Bu belum berhasil menemukan jejak Ouw bin liong Kwee Ong berdua Hui ho Pouw jin, sebaliknya dalam perjalanannya bersama Koan Siok Hu, mereka berdua menemukan piauwsu tua Ma Heng Kong yang tewas tanpa diketahui siapa pembunuhnya.

Kedatangan Lim Thong Bu dengan membawa jenazah Ma Heng Kong sudah tentu disambut dengan suasana duka cita oleh keluarga Ma Heng Kong.

Ma Kian Sun putra Ma Heng Kong yang sudah berusia 20 tahun dan baru kembali dari kuil Siao lim bertekad hendak melakukan balas dendam terhadap musuh yang membunuh ayahnya. Pemuda ini bersumpah akan mengikis habis semua sisa orang orang Thian Tok bun dan mencari si pembunuh yang menamakan diri sebagai kui mo ong.

Mengingat bahwa Lim Thong Bu masih akan melakukan perjalanan mencari si pencuri kitab See gak hun seng pit kip, maka selanjutnya Ma Kian Sun melakukan perjalanan bersama sama Lim Thong Bu.

oooo :(dwkz0hnd): oooo)

SEPASANG insan remaja laki laki dan perempuan dengan bergandengan tangan memasuki sebuah rumah penginapan. Yang laki laki merupakan seorang pemuda bermuka tampan dan bertubuh gagah, sementara yang perempuan cantik jelita dengan sebatang pedang kelihatan ditangan kirinya. Wajah muka sepasang insan remaja itu kelihatan cerah penuh tawa yang ria; dan keduanya mendekati meja pengurus rumah penginapan buat memesan dua kamar, oleh karena mereka bermaksud menginap.

'Mengapa dua kamar..?' tanya  pengurus rumah penginapan, pada mukanya terlihat suatu senyum ramah.

"Ya; dua kamar.. !" sahut dara jelita yang perkasa itu, dengan nada suara yang terdengar tegas.

"Akan tetapi, hanya ada sebuah kamar yang masih kosong. Kamar kamar lain sudah terisi semua." kata lagi si pengurus rumah penginapan, tetap dengan menyertai senyumnya yang ramah.

'Suheng, kita cari lain rumah penginapan,” ajak dara jelita yang berkata itu; tanpa dia menghiraukan si pengurus rumah penginapan sementara sang suheng atau pemuda  tampan yang menjadi teman seperjalanannya dara jelita itu bergegas hendak mengikuti kehendak sang adik seperguruan namun si pengurus rumah penginapan itu berkata lagi:

'Sia sia jiewie  cari ditempat lain.. " demikian kata si pengurus rumah penginapan yang ramah tamah itu dan dia menambahkan perkataannya.

“.. dilain tempat bahkan sudah tidak ada kamar yang kosong lagi, sebab malam ini  akan  ada  keramaian menggotong patekong sehingga  banyak pengunjung yang memerlukan datang dari kota lain.. "

"Sumoay, kalau memang sudah tidak ada; biarlah  kita menyewa sebuah kamar., .” kata si pemuda itu  pada  dara jelita yang menjadi teman seperjalanannya.

"Akan tetapi, suheng ...!” sahut dara jelita yang perkasa itu dengan muka merah, serta dengan nada suara tidak puas, akan tetapi pemuda teman seperjalanannya cepat  cepat berkata lagi. “Sumoay tidur didalam kamar, aku menumpang tidur di ruang pengurus penginapan ini,  diatas  bangku  pun jadi aku tidur.“ demikian kata pemuda itu yang lalu menyertai tawa.

Si pengurus rumah penginapan yang ramah tamah itu ikut tertawa; dan dara jelita yang perkasa itu akhirnya ikut jadi tertawa, meskipun pada mukanya kelihatan merah menahan rasa malu.

Pemuda yang tampan dan gagah itu kemudian menuliskan nama mereka pada buku tamu :

'Cin Bian Hui dan Lie Hong Giok'.

Pemuda yang mengaku bernama Cin Bian Hui itu ternyata adalah muridnya Poen lui ciu Lie Thian Pa si 'tangan geledek” yang menjadi ayahnya dara Lie Hong Giok.

Sepasang insan remaja itu me lakukan perjalanan habis ikut dalam aksi pengganyangan markas besar Thian tok bun; dimana telah gugur kakaknya Lie Hong Giok yang bernama Lie Hong Ke dan telah dimakamkan pada suatu makam dan dinamakan 'makam pahlawan', suatu makam yang dibikin oleh para pendekar penegak keadilan, bagi rekan rekan mereka yang gugur dalam aksi pengganyangan yang mereka lakukan.

Pertama kali sepasang insan remaja itu turut  bahu membahu dengan kelompok para pendekar penegak keadilan; adalah ketika mereka melakukan perjalanan kekota Tong kiong-shia, buat mewakili si 'tangan geledek” Lie Thian Pa, menghadiri upacara ulangtahun Sie Cwan, seorang  tokoh kaum rimba persilatan yang bersahabat dengan Lie Thian Pa.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan rombongan Sin tiauw Koan Siok Hu dan Liauw Cong In, yang sedang mengawal suatu kiriman buat gerakan perjuangan Ciu Kong  Bie sampai kemudian mereka membantu pihak Koan Siok Hu yang sedang dihadang oleh sepasukan orang orang Thian Tok bun yang sedang bekerja sama dengan  pihak  tentara penjajah, sampai akhirnya si 'tangan geledek' Lie Thian Pa mengeluarkan pedang 'ceng liong kiam” yang telah dia simpan sedemikian lamanya; oleh karena pernah dia bersumpah tidak akan menggunakan pedang lagi, sejak kekalahannya dalam suatu 'pie bu’  atau perlombaan mengadu ketangkasan, melawan Ong Tiong Kun waktu hendak merebut gelar  Kang lam hiap.

Setelah terjadi peristiwa mereka membantu Sin tiauw Koan Siok Hu itu maka Cin Bian Hui bertiga dengan Lie Hong  Kie  dan Lie Hong Giok menjadi erat hubungannya dengan pihak para pendekar penegak keadilan, sehingga waktu mereka menerima surat undangan dari Cie in suthay; maka mereka telah ikut serta didalam aksi pengganyangan markas si iblis penyebar maut, yang mengakibatkan tewasnya Lie Hong Kie diwaktu menunaikan tugas itu.