Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 11

Jilid 11

SERENTAK belasan orang orang gelandangan itu pada menyerang; mengepung perempuan sinting yang mereka anggap sedang mengamuk. dan perempuan sinting  itu  lagi lagi tertawa mengikik. sekarang seperti suara ringkik kuda betina lalu tubuhnya bergerak cepat seperti daun kering ditiup angin badai sedangkan tangannya yang memegang tongkatnya. bergerak kian kemari seperti 'sun go kong memukul langit ketujuh". lalu beberapa detik kemudian dia berdiri diam sebab semua lawannya tidak ada lagi yang menyerang dia. sebab belasan orang orang gelandangan itu sudah pada rebah bergelimpangan tidak bergerak. entah  sudah pada mampus atau cuma berlagak mampus. supaya jangan kena dipentung lagi !

Masih ada tiga orang pengemis yang sejak tadi tidak ikut bertempur. Mereka berdiri bagaikan patung mengawasi perempuan sinting itu yang juga jadi mengawasi mereka bertiga.

Salah seorang dari ketiga pengemis itu bernama Lo Teng Sun. adik kandung Lo Peng Bun yang jadi pem impin Kay pang cabang kota Tung nam.

Lo Teng sun mahir ilmu silatnya. juga  kedua  temannya yang berdiri disisinya. Mereka tidak menetap didalam kota Kun beng. sebab mereka hanya kebenaran sedang lewat hendak kekota Tung nam. mereka ikut rombongan Liok ko sebab mereka mendengar ada seorang  perempuan  gelandangan yang masih muda. namun yang katanya memiliki ilmu silat tinggi. Setelah sekarang mereka menyaksikan sendiri. maka ketiganya yakin tak akan sanggup mengalahkan perempuan gelandangan itu sehingga mereka lalu lari terbirit birit waktu perempuan gelandangan itu bergerak seperti hendak menyerang ! Si bocah botak kepalanya merangkak lagi; buat dia mendekati sang sumoay.

"Celaka celaka! keadaan menjadi semakin keruh” kata si bocah sambil menengadah; mengawasi sang sumoay yang terpaksa harus menunduk buat ikut mengawas i.

“Kau seperti anjing buduk....” kata sang sumoay yang kemudian tertawa mengikik membikin semua bulu bulu si bocah jadi bangun berdiri; seperti duri dari seekor binatang landak.

Sejenak kedua terdiam. Si bocah sekarang terduduk di lantai. Juga perempuan sinting itu ikut duduk seenaknya tanpa dia menghiraukan banyaknya mayat mayat orang orang gelandangan yang bergelimpangan.

“Hayaaa! kita perlu cepat cepat pergi dari kota ini” s i bocah bersuara seperti baru tersadar

”Siapa kesudian berdiam lama lama dikota ini... ?” sahut perempuan sinting itu.

Si bocah terdiam lagi tidak mengucap apa apa lalu dia teringat sesuatu dan cepat cepat dia merangkak mendekati mayat mayat orang orang gelandangan yang rebah bergelimpangan dan si bocah merogoh setiap saku para pengemis itu. yang dia ambil isinya;  sehingga  disaat berikutnya dia berhasil mengumpulkan sejumlah  uang ditambah dengan sisa sisa makanan kering yang lalu dia bagikan kepada sang sumoay buat dimakan.

“Sekarang kita tidak perlu mencuri lagi..." kata si bocah. selagi dia mengunyah penganan kering.

"Ya. kita tidak perlu  mencuri lagi...:" sahut perempuan sinting itu yang mengulangi perkataan sang suheng;  juga sambil dia mengunyah penganan kering.

“Kita sudah punya uang cukup buat kita pergi...” bocah botak berkata lagi. “Ya. kita sudah punya cukup uang...“ sahut perempuan sinting itu tetap sambil dia mengunyah penganan kering.

00:> )'( dwkzOhend ):( 00<>

KOTA HWIE KIANG tidak sebesar dan tidak  seramai kota Kun beng akan tetapi di kota Hwie kiang ini terdapat rumah  judi ’hok-kie' yang banyak dikunjungi orang; baik orang orang setempat maupun para pendatang dari kota lain yang sengaja hendak mengadu nasib.

Rumah judi ini cukup besar dan luas  bangunannya.  ada lima puluh orang karyawannya; diantara mereka sudah tentu ada yang pandai ilmu silat. ditugaskan buat menjaga  keamanan sebab tidak sedikit orang orang  yang  menjadi nekad kalau kalah berjudi. yang seringkali sengaja membikin keributan.

Hok Tay Kzie adalah  nama si pemilik rumah judi itu. Umurnya sudah mendekati lima puluh tahun. akan tetapi tidak beristri sebab katanya dia ogah mempunyai bini sehingga ada yang menuduh dia banci akan tetapi dia tidak perduli sebab yang penting dia hendak mengejar keuntungan  memupuk kekayaan. meskipun dalam hal ini dia harus menempuh cara yang tidak halal melakukan berbagai macam kecurangan.

Para pengunjung  seringkali menangkap basah; pihak penyelenggara bermain  curang akan tetapi mereka tidak berdaya menentang karena banyaknya kauwsu atau tukang pukul dan mereka tidak pula mampu mengadukan kepada pihak alat negara sebab pejabat pemerintah setempat sudah kena didekati oleh Hok Tay Kie.

Orang orang yang merasa sehat pikirannya tentu merasa heran mengapa para pengunjung masih tetap setia berjudi meskipun mereka mengetahui bahwa mereka ditipu. Mereka bahkan tidak segan segan meminjam uang pada pihak penyelenggara padahal mereka tahu bahwa mereka diperas harus membayar bunga pinjaman diatas kemampuan mereka sehingga seringkali mereka kena digebuk setengah mati dan segala miliknya hilang dirampas tidak perduli yang berupa kerbau atau sapi. anak ataupun bini. Jadi. orang orang yang masih tetap datang berjudi itu adalah orang sinting yang akan marah kalau mereka dibilang sinting !

Poei Sie Bok adalah seorang laki laki gagah yang usianya sedikit lebih tua daripada Hok Tay Kie. dan Poei Sie Bok  ini juga merupakan penghuni lama dikota Hwie kiang; tapi orang tua ini seringkali melakukan pekerjaan berkelana. meskipun dirumahnya membuka perguruan ilmu silat dengan  murid murid yang cukup banyak dari kalangan pemuda setempat.

Dahulu waktu terjadi peristiwa pengganyangan terhadap markas Han bie kauwcu yang merajalela dengan persekutuan Thian tok bun; Poei Sie Bok sempat ikut  menjadi sa lah seorang peserta. sebab secara kebetulan dia sedang berkelana dan bertemu dengan It tin hong Khouw Cie Ya.

Dengan demikian nama Poei Sie Bok dapat digolongkan sebagian orang orang gagah atau pendekar penegak keadilan. akan tetapi herannya dia tidak menghiraukan urusan yang menyangkut dengan rumah perjudian hokkie sehingga secara tidak disengaja dia seolah olah membiarkan murid muridnya ada yang menentang dan ada juga yang bahkan ikut menjadi karyawan dari rumah penjudian itu.

Lauw Kiam Seng adalah murid kesayargan Poei Sie Bok. Umurnya masih muda. baru dua puluh satu tahun. akan tetapi Lauw Kiam Seng satu satunya murid yang sudah menguasai semua ilmu sang guru. sebab dia rajin belajar sejak dia masih kecil bahkan dia sudah dianggap seperti anak. sebab pemuda itu memang merupakan anak yatim.

Pada suatu hari dirumah Poei Sie Bok kedatangan  dua orang tamu laki laki yang seorang berpakaian sederhana dari bahan kain katun. tubuhnya agak kurus akan tetapi lincah; umurnya kira kira sudah empat puluh tahun atau lebih sedikit dan yang seorang lagi lebih muda usianya. agak gemuk dan membekal pedang yang digantung dibagian pinggangnya. Kedua tamu itu sebenarnya merupakan orang orang  kenamaan di kalangan rimba persilatan. yang kurus dan yang lebih tua usianya adalah si tukang tahu' Tan Si. sedangkan temannya adalah In tay kiamkhek Suma Eng jago pedang dari kota In tay.

Mereka singgah dirumah Poei Sie Bok secara tergesa gesa. Mereka tidak sempat menginap meskipun Poei Sie Bok memaksa supaya kedua tamunya beristirahat sebab mereka katanya harus cepat cepat menuju kekota Tung  nam. menyusul kawan kawan mereka yang berangkat secara terpisah.

Hasrat hati sebenarnya Poei Sie Bok ingin menyertai kepergian kedua sahabatnya itu. akan tetapi pada waktu dia merasa kesehatannya agak terganggu. sehingga dia membiar- kan kepergian kedua sahabatnya. sambil dia  tidak lupa mengucap terima kasih untuk berita yang dia terima  dari  kedua sahabatnya itu.

Berita itu mengatakan bahwa dikalangan rimba persilatan sedang merajalela seseorang yang menamakan diri sebagai si biang hantu tertawa (kui mo ong); dan si biang hantu ini katanya khusus memusuhi orang-orang yang pernah ikut mengganyang markas si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu. terbukti dengan sudah tewasnya It tin hong Khouw  Cie Ya. bekas piauwsu tua Ma Heng Kong; Kanglam hiap Ong Tiong Kun dan beberapa orang tokoh lainnya.

Didekat tubuh mereka yang tewas sebagai korban pembunuhan gelap itu;  selalu ditemukan sebuah lencana bergambar biang hantu yang sedang tertawa; dengan tulisan tiga hurup 'kui mo ong'.

Masih ada satu berita lain yang dibawa oleh kedua sahabatnya Poei Sie Bok itu. yakni tentang pihak pemerintah kerajaan Beng sedang berusaha menangkap semua orang orang yang pernah mendukung gerakan Thio Su Seng almarhum; berikut semua anak keluarga mereka dan untuk maksud ini pihak pemerintah kerajaan Beng telah membentuk suatu regu penyelidik  yang mereka namakan tiga belas malaikat maut atau Tay lwee sip sam-ciu!

Para pendekar penegak keadilan yang pernah ikut mengganyang markas besar si iblis penyebar maut alias Han  bie kauwcu; justru kebanyakan merupakan orang orang yang pernah mendukung gerakan Thio Su Seng. sehingga mereka sedang menghadapi ancaman dari dua pihak musuh; yakni pihak s i biang hantu dan pihak Tay lwee sip sam ciu alias tiga belas malaikat maut yang tentunya dibantu sepenuhnya oleh pihak alat negara. di mana saja mereka melakukan tugas mereka !

Meskipun Poei Sie Bok seorang yang gagah perkasa. akan tetapi dia menjadi gelisah waktu menerima berita  itu.  orang tua ini tidak gentar untuk menghadapi maut; akan  tetapi orang tua ini gelisah memikirkan nasib isteri dan seorang anak perempuannya. yang tidak pandai ilmu silat karena memang tidak berbakat dan tidak mempunyai keinginan untuk belajar ilmu s ilat.

Berkat adanya berita yang dia terima dari kedua temannya. maka Poei Sie Bok lalu memutuskan hendak mengungsikan anak dan isterinya kerumah seorang sanak yang menetap jauh terpisah dari kota Hwie kiang. untuk maksud ini dia mengerahkan duabelas orang muridnya. yang dia m inta kesediaannya buat mengawal setelah itu dia memanggil Lauw Kiam Seng. murid kesayangannya.

'Muridku. kau tentu heran melihat aku mengungsikan isteri dan anakku..” demikian Poei Sie Bok mulai bicara dihadapan muridnya. tanpa ada lain orang yang turut hadir dan mendengarkan.

Sang murid duduk diam. perlihatkan sikap yang patuh dan hormat. "... kau adalah satu satunya muridku yang mempunyai bakat baik. Aku tidak rela meninggalkan kau sebelum aku menyerahkan suatu ilmu yang masih aku rahasiakan..”

"Suhu. apakah suhu juga akan pergi ?” tanya sang murid

memutus perkataan gurunya.

Sejenak Poei Sie Bok terdiam seperti berpikir. dia terlepas bicara diwaktu memakai istilah  'meninggalkan'  sang  murid tadi; dan akhirnya dia merasa sebaiknya dia berterus terang dihadapan murid itu :

'Muridku. kau dengarkan baik baik perkataan gurumu” Poei Sie Bok berhenti bicara. karena dia terbatuk batuk:

".. adalah menjadi suatu kebiasaan di kalangan rimba persilatan. bahwa kalau kau melukai seseorang  maka  kau akan dilukai juga. atau kalau kau membunuh seseorang. maka kau akan dicari untuk dibunuh juga..” sekali lagi Poei Sie Bok hentikan perkataannya. karena derita penyakit batuk.

“Jadi. ada musuh yang sedang mencari suhu ?” tanya Lauw Kiam Seng; selagi gurunya menunda bicara.

Poei Sie Bok masih terbatuk batuk; akan tetapi dia manggut membenarkan. dan Lauw Kiam Seng yang berkata lagi :

“... dan suhu hendak menghadapi musuh itu. dan suhu hendak tempur?”

“Tentu !” sahut Poei Sie Bok singkat dan gagah sikapnya. ”Aku siap mendampingi dan membantu suhu.”

Sang guru menggelengkan kepala melarang dan berkata:

"Justeru ini aku tidak menghendaki. Aku hanya ingin kau benar benar menguasai semua yang aku miliki..”

Lauw Kiam Seng dapat mengerti sikap ksatrya  dari gurunya. Seseorang yang berani berbuat harus berani bertanggung jawab. dari itu dia diam tidak mengucap apa apa. sampai kemudian guru itu mengajak dia berIatih. dan  sang guru menurunkan sesuatu ilmu yang katanya masih dirahasiakan.

Esok harinya Lauw Kiam Seng berada diantara keramaian orang orang didalam kota Hwie kiang sampai kemudian dia berada didekat tempat perjudian hokkie tepat disaat adanya seorang laki laki tua yang terpental keluar dari pintu tempat perjudian itu disusul kemudian munculnya 6 orang  kauwsu atau tukang pukul yang langsung menghajar laki laki tua itu:

'Ampun tayya. ' laki laki tua itu meratap dengan muka dan tubuh penuh luka luka. akan tetapi para kauwsu itu tidak menghiraukan. memukul dan memukul lagi memakai pentungan mereka. sampai laki laki tua itu mampus tanpa ada orang yang berani menolong padahal banyak orang orang yang melihat peristiwa itu.

Lauw Kiam Seng memang pernah dilarang oleh gurunya untuk dia mencampuri urusan ditempat perjudian hokkie akan tetapi peristiwa laki laki tua itu dianiaya sampai mampus; sungguh sungguh tidak dapat membendung semangat untuk dia membela keadilan. Dari itu dia  lupa dengan  pesan gurunya. dan dia  lompat menerkam salah seorang  kauwsu yang masih menginjak mayat laki laki tua tadi. dan kauwsu itu kemudian kena kepelan Lauw Kiam Seng sampat dia rubuh terjatuh dengan mulut mengeluarkan darah.

Semua kaudwsu yang lain ikut menjadi marah karena melihat adanya seseorang yang berani mencampuri urusan mereka. sementara Lauw Kiam Seng tidak jadi gentar meskipun para kauwsu itu mengurung dan mengepung dia.

Pemuda itu kemudian  dilibat dalam suatu perkelahian. sementara semua orang pada bubar ketakutan; dan  Lauw Kiam Seng yang mendadak teringat dengan pesan gurunya; cepat cepat dia mencari kesempatan buat kabur. Akan tetapi. pihak para kauwsu itu tidak mau membiarkan pemuda itu kabur; mereka langsung mengejar. kemana saja pemuda itu kabur.

Lauw K iam Seng tidak berani lari pulang kerumah gurunya. dia lari kearah bukit gunung Hie san; dan ditempat yang sunyi ini dia lakukan perlawanan. karena dia marah sebab para kauwsu itu sangat mendesak.

“Kalian sangat keji. kalian telah memaksa aku... !” teriak Lauw Kiam Seng bagaikan dia kemasukan hantu ditengah kepungan lima orang kauwsu yang mengepung.

Pemuda itu mengamuk bagaikan orang sinting. tanpa dia menghiraukan bahwa dia tidak bersenjata; sedangkan pihak kauwsu itu semuanya membawa pentungan dari besi.

Para kauwsu itu mengepung sambil mereka memaki sebab diantara mereka ada yang mengenali Lauw Kiam Seng sebagai muridnya Poei Sie Bok.

Lauw Kiam Seng tambah marah; terlebih waktu  dia mendengar nama gurunya ikut kena dimaki oleh para kauwsu itu; dan hal ini mengakibatkan pemuda itu merobah cara berkelahi. melancarkan berbagai pukulan maut karena tak kuasa dia membendung kemarahan.

Pada akhir pertempuran itu; ada tiga orang kauwsu yang rebah tewas; sedangkan yang dua orang  lagi kabur  terbirit birit dengan langkah kaki pincang. sementara Lauw Kiam Seng berdiri seorang diri. merenung sambil dia mengawasi mayat mayat korban tangannya.

"Aku telah membunuh mereka. sudah pasti suhu akan marah...” dia menggerutu seorang diri. bagaikan seorang sinting. dan sesudah itu dia lari bagaikan orang yang dikejar hantu. lari dan terus lari mendaki gunung Hie san tak berani pulang menemui gurunya tanpa dia  menghiraukan hari kemudian menjadi gelap dan dia belum makan  sejak  siang tadi. Hujanpun kemudian turun dengan amat lebatnya disertai bunyi suara petir dan kilat yang menyebar memberikan  sekedar alat penerang buat Lauw Kiam Seng yang sia sia mencari perlindungan dibawah pohon yang lebat karena air hujan terus menerobos membasahi semua pakaiannya.

Pemuda Lauw Kiam Seng kemudian lari lagi  tambah mendaki gunung Hie san; sebab dia teringat adanya suatu bangunan kuil tua yang sudah tak dipakai lagi yang dahulu pernah dia datangi selagi dia masih merupakan seorang bocah yang nakal.

Dia girang waktu kemudian dia melihat kuil tua itu tetap masih berdiri. Keadaannya gelap gulita tetapi kadang kadang ada sinar kilat yang membantu dia buat menemukan  letak pintu kuil.

Pemuda Lauw K iam Seng kemudian memasuki kuil tua. Dia berhati tabah dan tidak percaya adanya hantu didalam dunia ini. Dia hanya bersiaga dari adanya seseorang yang akan menyergap dia. sebab ia merasa bahwa sekarang  dia merupakan seorang pelarian yang baru saja melakukan pembunuhan.

Tiba tiba pemuda ini mendengar suara tawa yang mengikik bagaikan ada kuntilanak yang bertemu mangsa laki  laki. seperti dalam cerita kakek Lie yang seringkali dia dengar;  sebab kakek Lie yang menjadi tetangganya; dan terkenal tukang ngecap di kedai arak si A Kong.

Akan tetapi. Lauw Kiam Seng tidak percaya adanya kuntianak. seperti dia tidak percaya adanya hantu. hanya suara tawa itu terdengar dan terasa terlalu dekat dari kangzusi.com tempat dia berdiri didalam  suatu  ruangan  kuil tua itu.

Pemuda ini memaksakan pandangan sepasang matanya menerobos kegelapan mengikuti arah suara tawa  kuntilanak tadi terdengar. lalu tiba tiba ada sinar kilat yang menyambar tepat selagi kuku  kuku runcing  dari sepasang tangan sikuntilanak itu hendak mencekik lehernya !

Lauw Kiam Seng berteriak sekeras yang  dia   mampu lakukan sambil dia bergerak memutar tubuh; lari terbirit birit secepat yang dia mampu lakukan buat dia  meninggalkan ruangan kuil tua itu menuju kebagian luar.

Dengan bantuan sinar kilat tadi Lauw Kiam Seng sempat melihat sang kuntilanak yang rambutnya lepas terurai tidak teratur; mukanya nyengir kaya kuda  betina yang marah- marah perlihatkan dua baris gigi giginya yang kuning tak pernah dicuci; dan kuntilanak itu masih muda usianya kelihatan tubuhnya yang putih sebab kutilanak itu hanya memakai baju dalam !

Sekali lagi kilat menyambar dan sekali lagi Lauw K iam Seng sempat melihat adanya setan kecil yang botak kepalanya dan yang menghadang dia dengan sepasang lengan merentang; menghadang tidak memperbolehkan Lauw Kiam Seng lari keluar dari dalam kuil tua itu. Lauw Kiam Seng tambah terkejut. Dibagian belakangnya ada kuntilanak setengah telanjang yang mengejar. di bagian depannya sekarang menghadang setan cilik berkepala botak yang  bahkan tubuhnya telanjang sampai kelihatan semua bagian tubuhnya yang ada.

Mau tak mau Lauw Kiam Seng harus berlaku nekad. Dia lompat cukup tinggi dan melesat lewat bagian kepala yang botak milik setan cilik itu dan pemuda ini berhasil lewat lalu cepat cepat dia meninggalkan kuil tua itu tanpa menghiraukan hujan masih turun dengan amat derasnya. sementara didalam hati dia mengucap syukur dengan berkata seorang diri :

'untung setan cilik itu tidak bisa terbang mengejar aku... !'

Dilain pihak. sebenarnya hari sudah lewat magrib waktu perempuan sinting itu memasuki kota Hwie kiang sambil dituntun oleh si bocah gelandangan yang botak kepalanya. Di kota yang cukup besar dan ramai  itu  siperempuan  sinting tidak mau sembarang memilih tempat istirahat  padahal katanya dia merasakan perutnya sangat mual entah sakit apa; katanya.

Si bocah yang botak kepalanya terpaksa bertanya tanya kepada sesama orang orang gelandangan tentang kemungkinan adanya sebuah kuil tua didalam kota itu dan mereka mendapat jawaban ada sebuah kuil tua yang letaknya diatas gunung Hie san.

Kemudian menyusuri jalan jalan didalam kota Hwe kiang itu tanpa ada orang orang yang memperhatikan mereka sebab masyarakat sudah terbiasa dengan adanya kaum gelandangan ataupun orang orang sinting; apa lagi di jaman edan seperti waktu itu. banyak orang orang sehat yang mendadak jadi sinting dan banyak orang orang sinting yang mengaku sehat otaknya !

Si bocah yang botak kepalanya mengeluh karena tidak menduga jalan menuju ke kuil tua itu sangat jauh  dan mendaki gunung yang tinggi menjulang ke angkasa; akan tetapi perempuan sinting itu memaksa karena katanya hanya mau beristirahat di sebuah kuil tua atau set idaknya disebuah bangunan yang sudah tidak dihuni orang orang s inting

Hujan kemudian turun dengan amat derasnya akan tetapi perempuan sinting itu memaksa untuk terus berjalan; sebab katanya perutnya bertambah mual.

Si bocah yang botak kepalanya sekarang bukan lagi menuntun sang sumoay. sebaliknya sang sumoay yang menuntun dia; bahkan bagaikan menyeret. sebab si botak sudah kehabisan tenaga buat dia  mengangkat sepasang kakinya.

Syukur buat si botak. sebab mereka akhirnya berhasil mencapai letak kuil tua itu berada. Tidak kuat lagi si botak buat melangkahkan kakinya. maka dia terduduk seenaknya tanpa peduli di sudut atau bagian mana dia berada. sementara sang sumoay mencari suatu ruangan terpisah; sempat melarang si botak  memasuki ruangan itu. sebab dia hendak membuka bajunya yang basah. untuk dikeringkan.

Si bocah yang botak kepalanya cepat pulas tertidur; karena sangat letihnya keadaannya. dan si botak tidak perduli dia harus tidur telanjang. sebab pakaiannya juga basah. yang dia buka dan gelar dilantai untuk dikeringkan.

Di dalam ruangan yang dipilihnya. perempuan sinting  itu juga membuka baju luarnya yang basah. lalu dia  rebah beristirahat sambil dia merasakan bagian perutnya yang terasa mual. sampai tiba tiba dia terkejut karena adanya seseorang yang memasuki ruangan tempat dia rebah beristirahat.

Perempuan sinting itu bersuara marah. menduga si bocah membantah larangan tadi: akan tetapi dia  ikut  menjadi terkejut waktu adanya sinar kilat yang berkilauan; memperhatikan suatu wajah seorang laki laki muda yang dia tidak kenal yang hampir dia cekik mampus.

Perempuan sinting itu kemudian tidak menghiraukan lagi waktu laki laki muda itu kabur ketakutan dan dia kembali merebahkan dirinya sambil meraba bagian perutnya yang kian membusung.

Esok paginya Lauw Kiam Seng sudah cukup jauh terpisah dari letak kuil tua yang ada kuntilanaknya. Kuntilanak nyengir kayak kuda betina ketemu pacar.

Pemuda ini masih tetap berada diatas gunung Hie san akan tetapi dibagian tempat orang orang biasa mencari dan mengambil batu batu gunung buat dijadikan bahan bangunan dan sebagainya. Lauw Kiam Seng sengaja mendatangi bagian itu sebab dia hendak menemui salah seorang saudara seperguruannya Lie Kim Sui. yang bekerja pada perusahaan pembuat batu nisan.

Pemuda Lie Kim Sui menjadi terkejut. waktu dia sedang mendorong sebuah gerobak kecil yang beroda tunggal buat mengangkut batu; dan mendengar ada suara sang suheng yang memanggil dia.

Lie Kim Sui menunda gerobaknya. dan melihat sang suheng yang berada dibalik sebuah batu besar; menghindar dari penglihatan lain orang.

'Suheng. kau s inting... “ kata Lie K im Sui se lekas dia sudah mendekati Lauw Kiam Seng. dan dia menyambung bicara sebelum Lauw Kiam Seng sempat bersuara apa apa.

“...kau sedang dicari oleh orang orang. sebab alat negara hendak menangkap kau yang dituduh menjadi pengacau dan pembunuh sebenarnya apa yang sudah terjadi.. ?”

Lauw Kiam Seng merasa penasaran. akan tetapi dia tidak berdaya; sebab dia tahu pihak alat negara sudah terima uang suap dari pihak rumah judi hok kie'. Kepada adik seperguruannya itu. diceritakannya  tentang  terjadinya peristiwa kemarin:”... sutee. tolong kau beritahu suhu; aku membunuh mereka sebab mereka sangat sewenang wenang. Aku terpaksa umpatkan diri. dan aku hendak pergi meninggalkan kota maksiat ini.”

"Baik. Kau berhati hatilah." sahut Lie Kim Sui yang terpaksa harus cepat-cepat melakukan tugasnya; karena adanya seorang rekannya yang sudah memanggil dia.

Waktu kemudian Lie K im Sui tiba ditempat dia kerja dengan mengangkut sebuah batu yang besar buat dijadikan  batu nisan; maka dia melihat majikannya sedang bicara  dengan  dua orang tamu yang agaknya hendak memesan sebuah batu nisan. ". jie wie tay ya hendak memilih batu yang mana buat dia jadikan batu nisan pesanan jie wie ?" terdengar  antara  lain kata si majikan sambil mempersilahkan kedua tamunya memilih.

Kedua tamu itu perlihatkan lagak sombong mengawasi ke berbagai sudut tempat batu batu yang belum atau yang sedang disiapkan untuk dijadikan batu nisan; lalu kedua tamu itu mengawasi pemuda Lie Kim Sui yang masih memegang gerobak berisi batu.

"Yang itu saja..." kata salah seorang dari kedua tamu itu sambil dia menunjuk memakai alat pentungan dari besi yang khas dari orang orang yang bertugas di rumah judi 'hok kie”.

Majikan pengusaha batu nisan itu menjadi girang. Dia senang melihat Lie Kim Sui. salah  seorang petugasnya memperoleh batu yang bakal cepat menjadi duit.

"Baik. silahkan jie wie berikan contoh yang  perlu  ditulis pada batu nisan itu...”

Dua tamu itu saling mengawasi diantara mereka. sambil mereka perlihatkan muka dan lagak menghina. Salah seorang dari mereka kemudian mengeluarkan secarik kertas yang sudah ada tulisannya:

'Makam Poei Sie Bok ”

Majikan itu terkejut waktu dia membaca kalimat yang buat ditulis pada batu nisan yang dipesan. sepasang tangannya gemetar seolah olah tak kuat dia memegang kertas yang baru dia baca itu.

'Jie.. wie.. tentu.. sedang bergurau.” dan berkata terbata bata.

'Kenapa kami harus bergurau.. ?" sahut salah seorang dari kedua tamu itu. yang mukanya ada sedikit tanda bekas luka kena benda tajam. 'Bukankah. Poei suhu. masih hidup.?' Lie Kim Sui ikut terkejut waktu mendengar perkataan majikannya itu. Juga seorang rekannya yang sedang memahat sebuah batu.

”Ha ha ha.. !' tamu yang ada cacad luka pada mukanya itu tertawa. dan dia meneruskan berkata :

".. dia bakal mati. tidak lama lagi.. l' “Tetapi...”

“Tetapi apa.. ?'

“Kami tidak berani menerima pesanan..”

“Kurang ajar.. !' dan laki  laki itu memukul memakai pentungan besi; kena punggung pengusaha itu yang jadi tersungkur jatuh dengan mulut mengeluarkan darah. Lie Kim Sui jadi tambah terkejut. sampai dia melepaskan gerobaknya. lalu dia menerkam hendak mencegah laki laki itu  mengulang lagi pukulannya terhadap majikannya. akan tetapi pemuda ini yang justru kena dipukul pada lengan kanannya.

Pemuda itu marah sampai dia  lupa rasa sakit pada lengannya; sebaliknya kepalan tangan kirinya berhasil  memukul dada laki laki itu sampai laki laki itu perlihatkan rupa menahan rasa sakit.

Akan tetapi Lie Kim Sui tidak dapat mengulang serangannya. sebab dari bagian belakang dia dipukul oleh  tamu yang lainnya. sehingga punggungnva kena pentungan besi. dan dia tersungkur. lalu sekali lagi dia hendak diserang.

Sebelah kaki Lie Kim Sui bergerak menendang kebelakang cukup tepat dia mencapai sasaran. akan tetapi pemuda ini sudah diserang oleh laki laki yang ada tanda cacad di bagian mukanya.

Sementara itu majikan Lie Kim Sui berteriak teriak supaya jangan terjadi perkelahian; akan tetapi teriaknya itu sia sia belaka. sebab Lie Kim Sui cepat rebah terkulai tak berdaya. dan disaat teman sejawatnya hendak menolong. maka temannya itu pun kena pentungan besi sampai dia pingsan. akan tetapi masih terus dipukul sampai dia mampus seperti Lie Kim Sui yang sudah mampus duluan.

"Lagi tiga hari. kalau pesanan tadi belum selesai. kau ikut mampus seperti mereka..” kata laki laki yang ada tanda cacad luka pada mukanya; mengakibatkan si pengusaha jadi tambah ketakutan; namun tak berani dia mengucap apa apa. dan dia tetap gemetar meskipun kedua tamunya yang ganas sudah lama pergi sedangkan ditempatnya sudah banyak berkumpul para tetangganya. yang tadi menghilang umpatkan diri.

Kedua laki laki yang telah melakukan pembunuhan tadi; dengan perlihatkan lagak garang mereka  langsung  mendatangi rumah Poei Sie Bok; bahkan langsung mengakui perbuatan mereka yang telah membunuh Lie Kim Sui.

”Hai! kalian adalah orang-orang dari rumah jadi hok kie." kata Poei Sie Bok sambil dia mengawasi pentungan besi yang dipegangi oleh kedua tamu yang tak diundang itu.

"Tidak ! kedatangan kami tak ada hubungannya dengan tempat judi itu; meskipun kami adalah karyawan dari mereka.” sahut orang yang cacad pada bagian mukanya.

“Jadi ?” tanya Poei Sie Bok yang menahan rasa marah. “Kami adalah sisa sisa orang Thian tok bun diatas gunung

Kauw it san yang pernah kau ikut ganyang !”

"Oh ! jadi kalian adalah bekas anak buahnya si iblis penyebar maut alias Han bie  kauwcu yang sudah masuk neraka?” Poei Sie Bok menanya lagi dengan suara mengejek dan sekaligus untuk menegaskan.

"Persetan dengan perkataanmu itu. Sekarang kami tantang kau akan tetapi kita jangan lakukan pertempuran disini. kita lakukan saja diatas gunung Hie san. supaya tidak ada orang yang melihat dan merintang; sampai diantara kita ada yang mampus.. !"

"Bagus. suatu tantangan yang baik.... !” sahut Poei Sie Bok tidak gentar dan dia lalu mengikuti kedua tamunya yang sudah mendahulukan dia.

Mereka bertiga melakukan perjalanan secara wajar. tanpa menghiraukan adanya orang-orang yang memperhatikan mereka. karena masyarakat kota Hwie Kiang memang sudah banyak yang mengetahui perihal peristiwa Lauw Kiam Seng yang sudah membikin kekacauan. membunuh beberapa orang karyawan rumah judi 'hok kie”. sehingga  masyarakat merasa iba melihat Poei Sie Bok yang harus mempertanggungjawab perbuatan muridnya itu.

Udara cukup cerah waktu mereka bertiga telah mencapai tempat tujuan mereka. dan kedua laki laki yang mengaku sisa orang orang Thian tok bun itu segera melakukan penyerangan setelah Poei Sie Bok menyatakan siap menghadapi mereka.

Sementara itu didalam hati Poei Sie Bok sebenarnya masih ada beberapa hal yang sedang dia pikirkan.

Pertama adalah mengenai murid kesayangannya. Lauw Kiam Seng. yang katanya telah membunuh  beberapa  karyawan rumah judi ”hok kie" sehingga murid itu dicari oleh pihak alat negara; hendak ditangkap dan dihukum sebagai seorang pembunuh.

Orang tua ini yakin bahwa Lauw Kiam Seng tidak gentar dengan pihak tentara negeri juga tak gentar terhadap orang orang dari rumah judi 'hok kie”. sebaliknya murid itu rupanya takut menemui gurunya. takut kena dimarahi. dari itu Lauw Kiam Seng menghilang umpatkan diri.  Akan tetapi orang  tua ini yakin bahwa disuatu saat sang murid  akan  pulang menemui dia.

Mengenai pihak rumah judi ”hok kie" memang benar Poei Sie Bok melarang murid muridnya menentang dan mencampuri urusan orang orang dari rumah judi itu. sebab sipemilik yang bernama Hok Tay Kie pernah menemui dan mengaku pernah jadi tauwbak persekutuan Ceng liong pang sebagai pembantu dari toa ceecu Poei Sie Ban kakak kandung Poei Sie Bok yang usianya setahun lebih tua.

Jadi Poei Sie Bok tidak mau menentang orang orang dari rumah judi hok kie sebab dia masih menghormati kakak kandungnya saat itu entah berada dimana tak lagi menjadi toa ceecu di Ceng liong pang dan tak lagi diketahui berada dimana akan tetapi Poei Sie Bok yakin bahwa sang kakak masih hidup.

Sekarang mengenai kedua orang yang mengaku sebagai sisa orang orang Thian tok bun. Yang seorang mengaku bernama Kwee Thian Peng yang mukanya cacad; dan temannya mengaku bernama Can Sun Kian.

Kedua orang yang sedang mengepung dia ini boleh saja mengaku bahwa kedatangan mereka tak ada hubungannya dengan urusan rumah judi hok kie; dan hal ini ada  baiknya juga bagi Poei Sie Bok buat dia tidak ragu ragu turun tangan. Akan tetapi sekilas terpikir oleh orang tua ini kalau kalau pihak Hok Tay Kie juga sengaja memakai dua orang bekas sisa orang orang Thian tok bun buat menyingkirkan dia  yang dianggap sudah mulai menentang berhubung dengan perbuatan Lauw Kiam Seng yang menjadi muridnya.

Sebagai seorang jago kawakan yang sudah banyak pengalamannya Poei Sie Bok tidak gentar dikepung oleh dua orang musuh yang tinggi ilmunya itu. Jago tua ini  hanya berhati hati dan waspada oleh karena sebagai orang orang yang menjadi sisa kaum Thian tok bun maka kedua lawannya itu pasti memiliki senjata yang mengandung bisa racun seperti kebiasaan mereka pada waktu Thian tok bun  merajalela menyebar maut!

Poei Sie Bok sengaja tidak memakai senjata tajam buat menghadapi kedua lawannya. sebab jago tua ini tetap merasa khawatir dengan senjata lawan yang mengandung bisa racun sebaliknya kedua lawannya ternyata  tidak  menghiraukan bahwa Poei Sie Bok tidak bersenjata sebab mereka tetap memakai pentungan mereka yang dibikin dari bahan besi. khusus karyawan yang menjaga keamanan rumah judi “hok kie'.

Jago tua ini perlihatkan kelincahan tubuhnya  menghindar dari setiap pukulan pentungan besi; akan tetapi disaat yang perlu dia bersedia  menangkis memakai lengannya  yang ternyata cukup kuat buat dia menahan  pukulan  pentungan besi itu sementara sepasang kepelannya  juga cukup keras seperti palu besi.

Berulangkali Kwee  Thian Peng kena gebuk dan kena ditendang; sampai laki laki yang cacad  mukanya  itu tersungkur jatuh; demikian pula keadaannya  dengan  temannya yang bernama Can Sun Kian; yang kena dihajar jatuh bangun akan tetapi keduanya bersemangat banteng dan tahan kena gebuk. terus melakukan perlawanan  bahkan pentungan besi mereka berhasil pula memukul jago tua itu; akan tetapi sayangnya tidak kena pada  bagian  yang berbahaya seperti pada bagian kepala yang gesit seperti bisa pindah tempat !

Makin lama mereka berkelahi; makin jelas kelihatan bahwa Kwee Thian Peng berdua temannya kalah tenaga; juga kalah napas dan kalah ilmu; sehingga mereka lebih banyak kena digebuk akan tetapi untungnya mereka menang banyak. sehingga tidak mudah mereka dibikin semaput !

Baik Kwee Thian Peng maupun Can Sun Kian. segera menyadari segi keuntungan mereka yang menang banyak sehingga tenaga mereka seolah olah berlipat dua. dan  alangkah baiknya jika mereka dapat bekerja sama dan menggabung tenaga mereka. buat sekaligus menghadapi tenaga lawan.

Sebagai akibat dari hasil kerja sama mereka yang baik. maka kemudian mereka berhasil membikin Poei Sie Bok jatuh bangun setengah mampus; sampai orang tua itu seperti tidak percaya dengan kenyataan yang sedang dia hadapi dan dia  lalu mengerahkan sisa tenaganya buat mengadu tenaga  dengan lawannya.

Cukup hebat keadaan kesudahan dari usaha jago tua ini. sebab tubuh mereka bertiga saling terpental jatuh. saling meringis menahan rasa sakit.

Adalah pada saat itu selagi Poei Sie Bok terjatuh duduk dan sedang mengurut bagian dadanya yang kena dipukul; maka mendadak melayang sebatang pisau belati yang lalu membenam dibagian dada jago tua itu didekat telapak tangannya yang sedang dia gunakan untuk mengurut.

"Coan yo shin jie..” Jago tua ini bersuara mengeluh. cukup didengar oleh Kwee Thian Peng dan Can Sun Kian; yang juga sedang terduduk menahan rasa sakit. Dan jago tua itu menyadari bahwa dia bakal cepat mampus. sebab Coan  yo shin jie atau belati penembus tenggorokan adalah   senjata yang khas dari orang orang Thian tok bun yang mengandung bisa racun maut !

Seseorang segera mendekati Poei Sie Bok.  dengan didahului oleh suara tawanya. bagaikan tawa hantu kesiangan. Dan seseorang itu adalah seorang laki laki yang usianya  kira kira tigapuluh tahun lebih. bermuka pucat. Dia melangkah mendekati sambil sebelah tangan kanannya  memegang sebilah pisau belati yang tajam mengkilat!

Hanya sekejap Poei Sie Bok sempat melihat kehadiran laki laki bermuka pucat itu. sebab Poei Sie Bok saat itu segera semaput tidak sanggup menahan pengaruh bisa racun yang menjalar didalam tubuhnya.

Laki laki bermuka pucat itu tertawa lagi. Tawa seperti hantu kegirangan karena mangsanya sudah mampus akan tetapi dia masih tetap melangkah mendekati kemudian tangannya bergerak dan perut Poei Sie Bok robek seperti dibedah ususnya keluar didahulukan oleh darah hitam yang menerobos keluar !

Sekali lagi laki laki itu tertawa seperti hantu mandi darah sebab pisau belati dan telapak tangannya penuh noda darah; lalu dengan tangan kirinya dia meraba mukanya menarik selaput kulit luar sehingga pada lain detik dia berganti ujut menjadi seorang orang tua dan ternyata dia adalah  Hok Tay Kie si pemilik rumah judi hok kie.

ooo ):( dwkzOhend ).( coo

ADALAH pada saat itu muncul Lauw K iam Seng dan sempat pemuda ini melihat keadaan gurunya yang sudah tewas mandi darah dengan perut robek seperti dibedah !

Pemuda ini baru saja menderita kelaparan. Dia bagaikan sudah putus asa dan hendak pulang ketempat gurunya. akan tetapi rasa tidak percaya adanya hantu didalam dunia ini membikin dia jadi kembali ke kuil tua yang dia yakin ada penghuninya. dan kalau ada orang yang menghuni. tentu ada makanan. sehingga kalau kalau ada makanan dia boleh minta. kalau tidak diberi dia akan memaksa atau akan dia curi !

Si bocah yang botak kepalanya  sudah pulang  habis membeli makanan sedangkan sang sumoay tidak ikut pergi sebab merasakan perutnya yang mual.

Lauw Kiam Seng memasuki kuil tua itu di saat  si  bocah baru saja kebelakang. kepingin kencing. Alangkah senang hati Lauw Kiam Seng yang melihat adanya beberapa bungkusan makanan. yang lalu dia samber dan dia makan. lupa bahwa makanan itu milik lain orang; atau milik si kuntilanak dan si setan cilik yang botak kepalanya yang semalam membikin dia lari terbirit birit menerobos hujan lebat! Si bocah yang botak kepalanva ngomel panjang lebar; waktu dia menemui makanannya sedang diserobot oleh seorang pemuda gelandangan yang semalam datang mengganggu. 'Setan ! kau berani mencuri makananku. !'

Lauw Kiam Seng menjadi sangat terkejut. Si setan botak muncul dan memaki dia sebagai setan pencuri.

Pemuda ini lari terbirit birit. tetap membawa bungkusan makanan dan mulutnya pun masih tetap mengunyah.

Si bocah botak mengejar; disusul oleh sang sumoay. dan perempuan sinting itu mungkin  akan berhasil  menangkap Lauw Kiam Seng. karena dia sudah cepat melewati si botak akan tetapi si botak mendadak jatuh terguling guling dan berteriak teriak minta tolong. membikin perempuan s inting itu balik dan menolong si botak berdiri; setelah itu baru dia mengejar lagi sebab dia marah ada orang sinting mencuri makanannya.

Lauw Kiam Seng mahir ilmu ringan tubuhnya.  akan tetapi dia terheran heran karena si kuntilanak ternyata dapat lari lebih cepat lagi. seperti terbang dengan pakaiannya yang kotor berkibaran melawan tiupan angin gunung Hie san.

Didalam hati Lauw Kiam Seng berteriak. dia  yakin  bahwa dia bakal kena dipegang oleh kuntilanak itu. Dia  takut bahwa dia bakal dipaksa menjadi lakinya kuntilanak itu. seperti cerita yang sering kali dia dengar.

Untung bagi pemuda ini dia hafal dengan letak dan jalan jalan diatas gunung Hie san itu. sehingga dia sengaja memilih jalan jalan yang sukar dan berhasil dia menyesatkan sang kuntilanak itu sampai kemudian Lauw Kiam Seng menemui keadaan gurunya bahkan sempat dia melihat perbuatan Hok Tay Kie yang sedang mengganti ujut mukanya.

"Manusia biadab! kau lebih ganas dari segala macam hantu..” maki Lauw Kiam Seng sambil  dia  menyerang memakai sepasang kepelan tangannya:

Hok Tay Kie sempat tertawa. akan tetapi tak sempat dia mengucap apa apa; dia angkat sebelah tangannya yang masih memegang pisau belati. membabat sepasang kepelan pemuda yang sedang menyerang itu.

Lauw Kiam Seng sempat melihat. Berbahaya  kalau sepasang kepelannya kena disapu oleh pisau belati yang tajam itu. sehingga kaki kanannya yang mendahulukan dia gunakan buat menendang; dan Hok Tay Kie kena ditendang sampai dia terpental akan tetapi dia cepat dibantu oleh Kwee Thian Peng berdua Can Sun Kian; yang menyerang memakai pentungan besi. membikin Lauw Kiam Seng tidak berkesempatan meneruskan serangannya kepada Hok Tay Kie.

Kwee Thian Peng berdua Can Sun Kian sudah mendapat pengalaman tadi waktu mereka melawan Poei Sie Bok. dari itu mereka berdua cepat cepat mengambil siasat bersatu padu; dan siasat mereka berhasil mengimbangi tenaga Lauw Kiam Seng yang masih utuh.

Dipihak Lauw Kiam Seng dia juga mengganti siasat. tidak mau memberikan kesempatan bagi kedua musuh itu berada saling berdekatan. Dia bergerak gesit seperti seekor kera. lompat kian kemari kadang kadang pindah  menyerang  Hok Tay Kie yang sudah ikut bertempur. dan kadang kadang dia pindah menyerang Kwee Thian Peng;  atau secara mendadak dia beralih kepada Can Sun Kian sehingga siasat pemuda ini berhasil mengacaukan siasat Kwee Thian Peng berdua  Can Sun Kian bahkan Hok Tay Kie tidak berdaya padahal orang tua yang licik ini hendak menimpuk  memakai pisau belati bekas dia membedah perutnya Poei Sie Bok.

Betapapun halnya. orang orang yang sedang ditempur oleh pemuda Lauw Kiam Seng merupakan tokoh tokoh kawakan dikalangan rimba persilatan. terlebih Hok Tay  Kie yang sebenarnya adalah bekas kauwsu atau ketua setempat dari Thian tok bun cabang kota Hong bun. 

Tenaga Lauw Kiam Seng lambat laun menjadi berkurang. karena dia menghadapi lawan yang ulet; sedangkan dia merupakan seorang pemuda yang tidak banyak mendapat pengalaman bertempur sehingga  beberapa kali dia  kena pukulan pentungan besi dari Kwee Thian Peng maupun Can Sun Kian; bahkan baju pemuda itu sudah ada yang robek kena pisau belati Hok Tay Kie.

Disaat Lauw K iam Seng berada dalam keadaan yang gawat. maka tiba tiba pemuda ini melihat datangnya si  kuntilanak yang berlari lari seperti terbang sambil ditangannya dia memegang tongkatnya yang panjang !

('celaka ! mati aku sekali ini.. !') Lauw K iam Seng berteriak didalam hati akan tetapi tidak ada maksudnya buat melarikan diri. karena dia bertekad hendak melakukan balas  dendam atas kematian gurunya.

Akan tetapi diluar dugaannya perempuan sinting itu justeru membantu Lauw Kiam Seng yang dia lihat sedang dikepung oleh tiga orang musuh.

Tongkat perempuan sinting itu yang kira  kira  berukuran satu meter panjangnya. dan ternyata merupakan tongkat yang istimewa. Lauw Kiam Seng menduga tongkat itu dibuat dari bahan kayu; juga ketiga lawan bertempurnya menduga demikian. Akan tetapi; di saat tongkat itu kena bentur dengan pentungan besi maka terdengar bunyi suara benda-benda logam yang saling bentur. menandakan tongkat itu dibikin dari bahan logam!

Perhatian perempuan sinting kemudian lebih banyak dia alihkan kepada Hok Tay Kie yang bersenjata pisau belati. Dan dia membiarkan waktu  Lauw Kiam Seng memilih lawan KweeThian Peng berdua Can Sun Kian. dia mendesak Hok Tay Kie sampai mereka terpisah dari tempat Lauw K iam Seng ber- tempur lalu disuatu saat Hok Tay Kie berteriak menyeramkan. dan dia rubuh tewas  dengan leher hampir putus bagaikan terkena senjata tajam !

Semua yang mendengar teriakan suara Hok Tay Kie itu menjadi kaget; dan sejenak mereka mengawasi. melihat keadaan Hok Tay Kie yang rebah tewas dengan leher hampir putus. Segera Can Sun Kian menjadi ketakutan setengah mati waktu mendadak dilihatnya kuntilanak  itu mendekati dia. Cepat cepat dia bergerak lari. akan tetapi secepat itu juga dia dihadang oleh kuntilanak itu yang  memegang   tongkatnya yang istimewa sehingga Can Sun Kian menjadi nekad. dan terpaksa harus bertempur melawan kuntilanak yang  pakaiannya kotor seperti pakaian orang orang gelandangan.

Dilain pihak Kwee Thian Peng juga mau lari akan tetapi dia kena ditendang  oleh Lauw Kiam Seng; sehingga  mereka berdua jadi bertempur lagi namun tidak banyak susah lagi  buat Lauw Kiam Seng mengalahkan  lawannya.  yang bahkan dia binasakan dengan memutar kepala Kwee  Thian Peng. sampai kedengaran bunyi suara tulang tulang leher  yang patah!

Bertepatan pada saat itu Lauw K iam Seng melihat Can Sun Kian juga sudah binasa dengan kepala remuk. kena dihajar tongkat si kuntilanak yang istimewa.

Sejenak Lauw Kiam Seng berdiri mengawas i.  dan pemuda ini masih mengawasi waktu kuntilanak itu juga mengawasi dia akan tetapi tidak lama sebab kuntilanak itu cepat cepat menunduk seperti anak perawan yang malu malu kucing.

(dia tentu bukan kuntianak. dia orang s inting..”) pikir Lauw Kiam Seng didalam hati dan pemuda ini batal  mengucap terima kasih karena menganggap perempuan sinting itu tentu tidak akan mengerti dengan maksudnya dan kalau dia mendekati kemungkinan perempuan sinting itu salah paham. dan dia akan dihajar mampus memakai tongkat yang istimewa itu.

Tanpa dia mengucap apa apa terhadap siperempuan gelandangan itu. maka Lauw K iam Seng lalu mendekati mayat gurunya dan pemuda ini lalu menangis sedih didekat mayat sang guru. yang rebah dengan perut pecah bagaikan kena dibedah. Cukup lama Lauw Kiam Seng menangis. dan cukup lama perempuan sinting mengawasi sambil dia berdiri diam ditempatnya yang tadi.

Sekali lagi Lauw Kiam Seng mengawasi dan sekali lagi pandang mata mereka berdua jadi bertemu. lalu sekali lagi perempuan sinting itu menunduk sehingga Lauw Kiam Seng kemudian menggali liang buat dia mengubur jenazah gurunya.

Setelah selesai mengubur jenazah gurunya  maka Lauw Kiam Seng terduduk seenaknya diatas tanah dekat makam gurunya. dan sekali lagi dia menangis sambil dia beristirahat melepas lelah.

Waktu kemudian pemuda ini menengadah.  maka  dia melihat perempuan s inting itu masih berdiri ditempatnya yang semula masih mengawasi dengan sepasang sinar mata yang hampa akan tetapi waktu pemuda itu menengadah dan mengawasi maka perempuan sinting itu cepat  cepat  menunduk lagi membawa lagak seperti anak perawan yang malu malu kucing.

Adalah pada saat itu Lauw Kiam Seng melihat dan mendengar kedatangannya si bocah botak. yang muncul sambil dia berteriak teriak.

“Sumoay ! Sumoay...!”

('wah. dia bukan setan cilik. Dia tentu manusia kerdil..  !') kata Lauw Kiam Seng didalam hati.

Perempuan sinting itu ikut mendengar teriak suara si bocah botak. dia mengawasi ke arah si botak yang lagi lari mendatangi; kemudian dia  ganti mengawasi  si pemuda yang ia anggap cengeng lalu secara mendadak dia tertawa ngikik seperti kuntilanak ketemu laki: dan sepasang tangannya dia angkat. memperlihatkan kuku kuku yang runcing  kotor sambil ia melangkah mendekati pemuda yang cengeng itu ! (“mati aku dicekik....!”) teriak pemuda Lauw Kiam Seng didalam hati dan cepat cepat dia lompat berdiri buat kabur meninggalkan tempat itu akan tetapi dia dikejar perempuan sinting itu yang ikut  lari dengan sepasang tangan tetap merentang.

Lauw Kiam Seng lari dan terus lari ketakutan. Dia yakin perempuan sinting itu kambuh penyakit gilanya dan dia akan mati dipentung atau dicekik kalau dia t idak lekas lekas lari.

Perempuan sinting itu terus mengejar; bahkan sambil perdengarkan suara meringkik seperti ringkik seekor kuda betina yang mengejar lakinya sementara tongkatnya dia selipkan dibagian punggung. seperti lagak jagoan perempuan membawa sebatang pedang !

Untung bagi Lauw Kiam Seng; sebab waktu dia menengok dilihatnya perempuan sinting itu sedang berhenti mengejar. sebab dia harus menunggu si bocah botak yang turut lari menyusul; sambil tak hentinya si botak memanggil manggil sang sumoay.

Meskipun demikian; Lauw Kiam Seng terus lari menyusuri gunung Heng san. Pikirannya  sedang  teringat dengan kematian gurunya. akibat perbuatan dia  yang  menentang orang orang dari rumah judi ”hok kie" dan sekarang pemuda ini hendak mengganyang tempat maksiat  itu;  buat  dia melepas dendamnya setelah itu dia akan menghilang dari kota Hwie kiang.

Masyarakat setempat banyak yang melihat lewatnya Lauw Kiam Seng yang tergesa gesa menyusuri keramaian di jalan raya. mereka merasa heran melihat keadaan pemuda ini yang pakaiannya kotor bahkan ada yang koyak. juga muka dan kaki tangan pemuda itu kelihatan kotor; sebab dia habis berkelahi. habis jatuh bangun dan habis menggali lobang kubur buat jenazah gurunya. 'Kasihan. dia sekarang jadi orang sinting." kata seseorang pada yang lain.

“Dia jadi pemuda gelandangan; sebentar lagi dia jadi orang hukuman..” kata yang lain. karena teringat pemuda itu sedang dicari pihak alat negara sebab sudah membunuh orang.

Demikian masyarakat kota Hwie kiang saling membicarakan pemuda itu; sampai kemudian mereka jadi tambah  terkejut dan lari ketakutan sebab katanya pemuda sinting itu sedang mengamuk dirumah judi 'hok kie'. bahkan sudah membunuh lagi beberapa orang karyawan tempat perjudian itu.

Sebagian masyarakat setempat kemudian  lari kekantor pejabat pemerintah; membawa laporan tentang si pemuda sinting yang baru mengamuk. membikin pejabat  pemerintah itu lalu mengirim sepasukan tentara buat melakukan penangkapan.

Masyarakat mulai merasa lega hati. sebagian ada yang berbelas kasihan kalau sampai Lauw Kiam Seng  kena ditangkap dan dihukum mati.

Mereka tinggalkan kantor pejabat pemerintah; ada yang pulang kerumah mereka ada pula yang mendekati rumah judi hok kie.  untuk melihat perkembangan selanjutnya. dan ditengah perjalanan mereka itu. sejenak perhatian mereka pindah kepada seorang perempuan sinting yang sedang berjalan tergesa gesa sambil menarik sebelah tangan seorang bocah gelandangan yang botak kepalanya.

'Nah; perempuan sinting itu menarik narik seorang bocah gelandangan. Rupanya si botak suka menunggu perempuan sinting itu.” kata yang seorang pada yang lain.

"Mungkin perempuan sinting itu mengira si botak adalah lakinya..." kata yang lain sambil tertawa. diikuti oleh teman teman mereka yang tertawa tak hentinya. Lauw Kiam Seng setengah tobat menghadapi sedemikian banyaknya musuh yang mengepung dia. Untung pemuda ini membawa pisau belati bekas milik Hok Tay Kie; yang dia temukan menggeletak dekat mayat Hok Tay Kie; dan dengan adanya pisau belati itu. para karyawan yang memegang pentungan besi merasa takut juga untuk mendekati pemuda yang mereka anggap sudah menjadi orang sinting !

Akan tetapi oleh karena banyaknya orang yang mengepung dia maka Lauw Kiam Seng merasa perlu mengamuk memakai pisau belatinya. sehingga lagaknya seperti orang yang sudah benar benar gila bahkan bertambah gila. terlebih ketika beberapa orang karyawan sudah ada yang kena ditikam mampus. bahkan ada pula diantara mereka robek perutnya seperti dibedah sampai ususnya ikut keluar.

Melihat pemuda sinting itu jadi bertambah  ganas  maka para karyawan pada mengganti senjata mereka  memakai berbagai senjata tajam bahkan ada yang panjang berupa tonbak dan sebagainya.

Makin gawat keadaan Lauw Kiam Seng karena semua musuh yang mengepung sudah pada mengganti senjata.  Sekali dia lengah maut adalah menjadi bagian dia.

Adalah pada saat itu siperempuan sinting datang sambil sebelah tangan menuntun sibotak dan sebelah tangan lagi memegang tongkatnya.

Perempuan sinting itu melihat pemuda Lauw Kiam Seng yang sedang dalam keadaan gawat. Seorang karyawan rumah jadi tersungkur kedekat dia dan perempuan sinting itu menghantam memakai tongkatnya memaksa karyawan itu rubuh tengkurap dan terus mampus sebab kepalanya pecah kena pentung!

Si bocah yang botak kepalanya menjadi ketakutan waktu banyak musuh yang langsung mengurung mereka berdua akibat sang sumoay tadi sudah membunuh orang. Sia sia si botak mencari tempat berlindung. dan dia kena tendangan waktu musuh pada menyerang. sampai tubuh si botak mental tinggi lalu nyangkut diatas kaso yang melintang sehingga ditempat itu si botak merasa aman bahkan dapat dia menonton orang orang yang sedang mengamuk dan diamuk !

Lauw Kiam Seng sempat melihat perempuan sinting itu datang menolong dia lagi.

Pemuda ini jadi bertambah heran sebab sudah berulangkali dia diuber uber seperti mau ditelan. akan tetapi kalau sudah saling berhadapan. perempuan sinting itu diam dan tunduk malu malu kucing; seperti janda muda ketemu calon laki.

Tetapi semangat tempur Lauw Kiam Seng waktu itu jadi bangkit lagi; terlebih waktu dia melihat perempuan sinting itu sudah banyak memukul musuhnya bahkan ada yang terus mampus tidak bangun lagi.

Lauw Kiam Seng ngamuk lagi pisau belatinya bertambah ganas. membedah perut lawan dan membongkar isi perut sampai mendadak dia mendengar si botak berteriak teriak dari atas tiang kaso mengajak sang sumoay lari sebab datangnya sepasukan tentara negeri.

Perempuan sinting itu juga mendengar teriak  suara  si botak. Tubuhnya sangat ringan seperti seekor burung walet waktu dia lompat tinggi menyambar tubuh si botak yang dia ajak turun. dan pada detik berikutnya mereka sudah kabur meninggalkan rumah judi itu disusul oleh Lauw Kiam  Seng yang juga ikut kabur dan dia bahkan lari mengikuti arah kedua orang orang sinting itu lari. sehingga banyak orang melihat. adanya tiga orang orang gelandangan yang lari saling susul.

Ketiga orang orang sinting itu ternyata lari dan mendekati gunung Hie san. kembali ke kuil tua tempat kuntilanak itu bersarang bersama si setan kecil yang botak kepalanya.

Lauw Kiam Seng duduk bersandar pada tembok kuil tua yang kotor ada lumutnya. sedangkan dibagian dalam ada perempuan sinting itu bersama si bocah gelandangan yang botak kepalanya.

Pemuda Lauw Kiam Seng juga tidak mengerti. entah apa yang menyebabkan dia lari mengikuti arah yang diambil oleh kedua orang orang sinting itu; akan tetapi akhirnya dia merasa hanya di kuil tua itu dia aman umpatkan diri. akan tetapi dia tidak berani ikut masuk keruangan dalam. Dia hanya duduk bersandar dekat pintu. siap untuk lari kalau perempuan sinting itu hendak mencekik dia lagi.

Sang malam kemudian datang menggantikan siang hari dan perut Lauw Kiam Seng menjadi lapar lagi. padahal sudah beberapa kali dia isi dengan air kali yang terdapat dibagian belakang kuil tua itu.

Dua orang orang sinting yang berada di dalam  kuil.  mungkin masih marah. sebab Lauw Kiam Seng pernah mencuri makanan mereka sehingga pemuda itu tidak berani masuk buat dia minta makanan. meskipun dia tahu kedua orang orang sinting itu sedang mengisi perut mereka dengan bakpao.

Sekali lagi pemuda ini harus merasakan derita kelaparan. suatu hal yang tidak pernah terjadi selama dia berada didekat gurunya.

Teringat dengan gurunya itu maka sepasang mata Lauw Kiam Seng jadi basah dengan air mata. Dia tidak menduga bahwa akibat perbuatannya. maka gurunya jadi binasa secara penasaran. Pemuda ini menyesali dan memarahi dirinya; sampai dia memukul mukul tembok kuil sambil dia menangis membikin si botak keluar buat melihat; lalu si botak berpendapat bahwa pemuda itu ternyata adalah  seorang pemuda sinting; seperti sang sumoay seorang perempuan sinting yang suka menangis maupun tertawa sendirian !

Betapapun halnya; si bocah gelandangan yang botak kepalanya itu tidak sampai hati. Dia merasa ikut menjadi iba karena dia bisa mengetahui pemuda sinting itu  tentu  kelaparan sebab belum makan; dari itu dia lalu melemparkan sebuah bakpao yang masih utuh. dan si botak itu tidak menghiraukan bahwa perbuatannya itu  seperti  dia memberikan sisa makanan kepada seekor anjing geladak. sebab sesungguhnya dia takut mendekati pemuda sinting itu. Takut si pemuda mengamuk memakai pisau belati yang tajam. yang bisa membedah isi perutnya !

Lauw K iam Seng berhenti menangis waktu bakpao itu jatuh diatas pangkuannya. Dia menengadah dan sempat dia melihat si botak. Sebagai tanda terima kasih. pemuda ini  nyengir sambil dia manggut manggut; akan tetapi si botak cepat cepat ngepot masuk kedalam kuil. seperti dia ketakutan.

( heran. tetapi dasar bocah sinting..") pikir Lauw K iam Seng didalam hati. sebab dia  heran dengan perbuatan si  botak. yang memberikan makanannya tetapi ketakutan dan cepat cepat masuk; sebaliknya kalau makanannya  dicuri.  setan botak itu jadi marah marah sampai mengejar. Benar benar orang sinting! Dan Lauw Kiam Seng tidak perduli.   yang penting perutnya yang lagi lapar dapat diisi. dan sambil mulutnya mengunyah; mulai dia berpikir tentang perempuan sinting yang semula dia anggap kuntilanak penasaran.

Pemuda ini memikirkan tentang kegagahan perempuan sinting yang masih muda usianya itu. Kulit mukanya memang hitam. akan tetapi hitam kotor sebab banyak debu bercampur keringat yang sudah berkarat. Lauw Kiam Seng merasa yakin bahwa perempuan sinting itu berkulit putih; sebab dengan bantuan sinar kilat. dia pernah melihat bagian tubuh yang …