Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 06

Jilid 06

LAKI LAKI bekas orang hukuman itu tidak mau Cin Siao Yan mengetahui tujuannya ke kota raja, dan dia tidak mau pula si naga sakti ikut bersama dia, oleh karena katanya dia akan berusaha untuk tidak me lakukan pertempuran sebaliknya dia akan menemui bekas pangcu itu secara diam diam diwaktu malam.

Setelah sekarang dia mengetahui bahwa  gambarnya banyak disebar dikalangan alat negara; maka laki laki bekas orang hukuman itu lebih  banyak  melakukan  perjalanan diwaktu ma lam, sedangkan siang harinya dia gunakan buat beristirahat mencari tempat di kuil tua atau pada  bangunan tua yang sudah tak ada penghuninya, sehingga dia bebas dari segala rintangan.

Dia tiba ditempat tujuan, bertepatan dengan di kota raja sedang berlangsung ujian pemilihan  'bu cong goan' untuk dijadikan perwira muda, melalui suatu lomba  mengadu  ilmu dan kecerdasan. Dengan demikian di kota raja sedang banyak berkumpul orang orang gagah dari segala macam  kalangan dan golongan, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu merasa agak bebas bergerak tanpa khawatir dicurigai, dan dia lalu mendatangi sebuah rumah penginapan yang kebanyakan tamunya terdiri dari orang orang rimba persilatan.

Adalah menjadi kehendak laki laki bekas  orang  hukuman itu, bahwa hari itu dia ingin tidur enak dan makan enak, sebab malam harinya dia  hendak mendatangi tempat kediaman bekas sang pangcu atau ayahnya si burung Hong yang sekarang sudah menjadi seorang jenderal.

Meskipun laki laki  bekas orang hukuman itu sudah merencanakan bahwa dia hendak mendatangi bekas sang pangcu itu secara diam diam, akan tetapi dia yakin bahwa tempat seorang jenderal pasti dijaga ketat, sehingga besar kemungkinan kedatangannya akan tetap diketahui dan suatu pertempuran sukar buat dia hindarkan. Dia  sudah  bersedia dan rela mati asal saja dia sudah menunaikan tugasnya, dan sebelum dia mati, ingin dia menikmati makan enak dan tidur enak.

Lewat magrib laki laki bekas orang hukuman itu keluar dari kamarnya, mendatangi ruang makan buat dia  memesan beberapa macam makanan yang terkenal lezat.

Ruang makan itu sudah banyak tamunya, baik yang menghuni rumah penginapan itu ataupun tamu tamu yang bukan menginap ditempat itu. Akan tetapi, masih ada beberapa tempat yang kosong dan laki laki bekas orang hukuman itu lalu memilih tempat agak disudut sebelah timur, cukup jauh terpisah dari pintu rumah penginapan itu, namun dia dapat mengawasi orang orang yang keluar ataupun  masuk. Lelaki bekas orang hukuman itu sedang menikmati santapannya, ketika mendadak dia menjadi sangat terkejut, sampai dia berdiri dengan mangkok masih menutup dibagian mulutnya sebab dia  melihat masuknya seorang  biarawati muda usia dan biarawati muda usia itu justru adalah Cie in suthay !

Cepat cepat lelaki bekas orang hukuman itu menunda mangkoknya dan meletakkan di atas meja, karena dia bermaksud mendekati Cie in suthay. Akan tetapi secepat itu juga dia membatalkan niatnya, sebab sempat dia   melihat suatu aba aba dari biarawati yang muda usia itu yang menghendaki dia tetap duduk ditempatnya.

Cie in suthay memilih tempat duduk di dekat pengurus rumah penginapan yang sekaligus merupakan rumah makan. Sikap biarawati muda usia itu kemudian menjadi acuh, seolah olah dia tak kenal dengan lelaki bekas orang hukuman  itu, yang duduk terpisah beberapa meja dari tempatnya.

Laki laki bekas orang hukuman itu kemudian meneruskan santapannya, akan tetapi dengan pikiran tak menentu, sehingga tidak mungkin dia dapat menikmati lezatnya yang dia makan, terlebih karena cara dia makan yang sangat tergesa- gesa bagaikan orang yang dikejar hantu dan hal ini terjadi melulu sebab dia melihat kehadirannya Cie in suthay !

Setelah menghabiskan semua makanan yang dipesannya; maka laki laki bekas orang hukuman itu  mengambil tempat arak yang langsung dia m inum isinya. Lagaknya tetap seperti orang yang gugup, tidak berani dia mengawasi tempat Cie in suthay duduk, suatu sikap yang dia sendiri tidak mengerti, entah apa sebabnya padahal dia pernah mengharap dapat bertemu lagi dengan biarawati yang muda usia dan  yang cantik jelita itu.

Sekali lagi laki laki bekas orang hukuman itu menuang isi araknya yang hendak dia minum, akan tetapi waktu mangkok arak sudah dia angkat mendadak sebatang sumpit melayang dan memasuki mangkok arak itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi sangat terkejut. Meskipun mangkok arak tidak sampai lepas dari pegangannya, namun dia merasakan suatu getaran yang berat waktu sumpit tadi menyentuh mangkok itu menandakan orang yang melontarkan telah menyalurkan tenaga dalamnya yang sempurna.

Sepasang mata laki laki bekas orang hukuman itu langsung melirik ketempat Cie in suthay duduk, dan sempat dia melihat biarawati yang muda usia itu bersenyum. Suatu senyum manis yang tak akan mudah buat dia lupakan, namun dia  yakin bahwa arti senyum itu adalah untuk melarang dia m inum terlalu banyak.

Laki laki bekas orang hukuman itu menurut, batal m inum dan menempatkan lagi mangkok araknya diatas meja. Suatu perbuatan yang menyimpang dari kebiasaannya yang keras kepala seperti besi.

Sekali lagi sepasang mata laki laki bekas orang hukuman itu melirik ketempat Cie in suthay duduk akan terapi saat itu biarawati yang muda usia itu sedang mengawasi arah pintu masuk; memang pada waktu laki laki bekas  orang hukuman  itu ikut melihatnya; maka diketahui olehnya akan datangnya belasan orang tentara, yang langsung mendekati tempat dia duduk.

“Itu orangnya, lekas tangkap ... !” demikian seru tentara itu dengan senjata siap ditangan mereka.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi sangat terkejut. Dia tidak menduga bahwa pihak tentara secepat itu  mengetahui kehadirannya di kota raja atau tepatnya di rumah penginapan itu. Mungkinkah ada lagi orang telah menghianati dia ? Mungkinkah biarawati yang muda usia itu ?

Biarawati yang muda usia itu memang mengetahui niat dia yang hendak mengunjungi kota raja, oleh karena melalui biarawati itu dia dim inta mendatangi ayahnya si burung Hong, dan biarawati yang muda usia itu ikut hadir di kota raja, bahkan di rumah penginapan itu !

Akan tetapi keadaan yang sudah gawat memaksa laki laki bekas orang hukuman itu tidak dapat berpikir lama. Dengan segera dia angkat meja sampai meja itu terbalik dan tumpah berantakan isinya, lalu dia meraih kursi bekas tempat dia duduk, dan mulai dia melakukan perlawanan, menghantam setiap serangan yang mengarah pada dirinya.

Belasan lagi alat negara yang memasuki ruang makan itu. Mereka yang baru datang bahkan merupakan perwira perwira muda yang tangkas sedangkan diluar rumah penginapan sudah berkumpul lebih dari 100 orang tentara.

Laki laki bekas orang hukuman itu merasa bagaikan mimpi menghadapi kenyataan yang dia lihat, oleh karena betapa cepatnya gerak pasukan yang hendak menyergap dia.

Para tamu banyak yang lari menambah kekacauan didalam ruang makan itu akan tetapi suatu keanehan telah terjadi diantara keadaan yang kacau balau itu sebab para tamu yang lari justeru bukan sembarang lari. Mereka menyikut dan memukul perwira perwira muda yang baru datang  itu, sehingga para perwira itu jadi berteriak :

"Berontak, berontak ! tangkap pemberontak . ;. "

Secara mendadak kemudian  ada sesuatu yang datang menyambar muka laki laki bekas orang hukuman  itu.  Dia  cepat menangkap memakai sebelah tangannya, akan tetapi benda yang ditangkapnya itu adalah segumpal kertas yang sengaja dikumal dan waktu laki laki itu sempat membuka, ternyata dia melihat adanya tulisan tangan ;

“Disebelah selatan ada kuil tua…”

Laki laki bekas orang hukuman itu melirik rnencari Cie in suthay, karena dibawah hurup hurup itu terdapat gambar seutas kalung biji bunga bunga tasbih.

Biarawati yang muda usia itu ikut  mengawasi dan memberikan tanda supaya laki laki bekas orang hukuman itu segera pergi, dan sekali lagi laki laki bekas orang hukuman itu jadi patuh menurut, mengamuk mencari jalan keluar ditengah orang orang yang sudah menggantikan dia  bertempur melawan pihak alat negara! Sepanjang dia lari menuju arah sebelah seIatan, tidak sudahnya dia memikirkan  peristiwa yang sedang dia  hadapi yakni tentang perbuatan  Cie  in suthay, dan siapakah gerangan tamu tamu yang ikut mengganyang alat negara itu ?

Letak kuil tua yang dimaksud ternyata di tempat  yang sunyi, jauh terpisah dari orang orang berhuni serta gelap keadaannya, akan tetapi laki laki bekas orang hukuman itu tidak menghiraukan. Dia masuk dan segera dia duduk dilantai yang kotor penuh debu, beristirahat dan memusatkan lagi segala kemampuannya untuk berpikir.

Hilang lenyap  dugaannya terhadap Cie in suthay yang semula dia tuduh telah menghianati dia. Akan tetapi dia tak berdaya pergunakan pikirannya untuk memecahkan masalah para tamu yang sudah membantu dia. Siapakah mereka?

Betapapun halnya; dia harus bertemu lagi dengan Cie in suthay. Hanya kepada biarawati yang muda usia itu dia dapat menanyakan keterangan. Akan tetapi, di mana gerangan tempat Cie in suthay? akan datangkah biarawati yang muda usia itu?

Laki laki bekas orang hukuman itu berusaha sabarkan diri buat dia menunggu kedatangan biarawati yang muda us ia itu, akan tetapi yang ditunggu tunggu tak kunjung datang; sedangkan malam menjadi semakin larut, sehingga laki laki itu kemudian bergegas pergi, sebab dia merasa perlu mendatangi tempat kediaman bekas pangcu Ceng liong pang, atau ayahnya si burung Hong.

Tempat kediaman jenderal Cong ternyata sangat besar, megah dan agung bagaikan istana tempat kediaman seorang raja muda atau pangeran.

Dihalaman luar yang lebar dan luas, saat itu bagaikan  sedang mandi cahaya karena banyaknya obor  yang dinyalakan, dijaga ketat bahkan kelihatan adanya kesibukan yang luar biasa dikalangan alat negara yang sedang bertugas.

Laki laki bekas orang hukuman itu berdiri heran disudut tempat yang agak gelap. Dia yakin kesibukan  yang semacam itu tidak biasa terjadi terlebih dimalam yang larut seperti saat itu.

Untuk sesaat laki laki bekas orang hukuman itu meneliti kesekitar tempat itu, sampai dia melihat adanya tanda tanda bekas terjadinya pertempuran sehingga dia  menduga para tamu dirumah penginapan tadi, yang sengaja telah membikin keributan didepan tempat kediaman jenderal Cong.

Suatu perbuatan yang sangat berani, yang jelas telah dilakukan untuk maksud memudahkan dia memasuki tempat tinggalnya jenderal Cong. Akan tetapi siapakah gerangan mereka itu yang telah melakukan pengacauan di kota raja ?

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak mau sia-siakan maksud baik orang orang yang telah membantu dia. Tidak boleh dia gentar untuk melaksanakan niatnya buat menemui ayahnya si burung Hong, dari itu dia lalu mengerahkan ilmu ringan tubuh, melesat melewati tembok halaman yang cukup tinggi dengan gerak 'yan cu coan in* atau burung walet menembus angkasa. Setelah dia berada dibagian halaman dalam maka dia menggulingkan tubuhnya buat mencari tem- pat yang agak terlindung supaya pihak  petugas  tak mengetahui kedatangannya.

Akan tetapi segala usahanya itu ternyata sia sia belaka, sebab para petugas sudah siap sedangkan diantara mereka banyak yang tinggi ilmunya, meskipun pada saat itu sebenarnya sebagian besar yang bertugas sedang melakukan pengejaran terhadap orang orang yang telah mengacau ditempat itu.

Segera lelaki bekas orang hukuman itu kena sergap selagi tubuhnya masih bergulingan, sehingga dia harus bergulingan terus buat menghindar dari berbagai macam senjata tajam; sedangkan sepasang kakinya tak hentinya 'menyapu' setiap musuh yang berada di dekatnya.

Lelaki bekas orang hukuman itu tidak mau menghambur waktu dan tenaga menghadapi para petugas yang sedang menyergap itu. Maksud kedatangannya adalah untuk menemui ayahnya si burung Hong, dari itu sedapat mungkin dia selalu hendak menghindar dari sesuatu pertumpahan darah.

Dengan suatu Iompatan yang indah, lelaki bekas orang hukuman itu mencelat tinggi dan jauh. Semua yang bertugas berteriak dan melakukan pengejaran, akan tetapi lelaki bekas orang hukuman itu cepat cepat naik ke atas genteng yang tinggi yang tak mungkin dicapai oleh pasukan tentara negri. Akan tetapi diluar dugaannya, diatas genteng itu dia disambut oleh tikaman dua batang pedang waktu  dia  baru saja tiba oleh karena yang bertugas menjaga memang sudan tersebar disetiap sudut dan tempat.

Lincah dan gesit lelaki bekas orang hukuman itu bergerak menghindar dari tikaman pedang tadi, bahkan sempat dia melihat kedua penyerang yang memakai pakaian seragam perwira tingkat menengah, setelah itu cepai cepat dia  lari kesebelah utara dengan dikejar oleh kedua perwira itu.

Dua perwira lain tiba-tiba memegat,  sedangkan  dari sebelah belakang masih tetap lelaki itu dikejar oleh kedua perwira menengah tadi, membikin lelaki bekas orang hukuman itu mengganti arah lagi, menuju kesebelah timur, sebab dia tetap hendak menghindar dari setiap pertempuran.

Akan tetapi, dibagian timur ini juga dia kena dipegat oleh 4 orang petugas, yang bahkan telah menyergap dia secara tiba tiba, sehingga dalam keadaan yang seperti itu dia terpaksa harus menghadapi 4 orang petugas itu, namun dia cepat cepat menerobos sedemikian lekas dia mendapat kesempatan.

Laki laki bekas orang hukuman itu kemudian lompat turun lagi, dan sampai beberapa kali terulang dia harus menerobos para petugas yang memegat atau menyergap dia, sampai akhirnya dia  berhasil berada diruangan dalam dari istana jenderal Congkz !

Ditempat ini laki laki bekas orang hukuman itu lagi  lagi harus melakukan pertempuran buat dia berusaha menerobos penjagaan yang sungguh sungguh sangat ketat dan  kuat. Akan tetapi kali ini dia tidak mudah dapat menerobos, sebab diantara petugas yang mengepung itu, terdapat delapan orang sie-wie atau pengawal istana kerajaan yang agaknya sengaja telah dim inta bantuannya.

Delapan orang sie wie itu mengepung dan menyerang tamu yang tak diundang itu sedangkan sejumlah tentara mengurung membikin suatu lingkaran yang cukup luas buat mereka yang sedang bertempur.

'Tunggu ...!’ teriak lelaki bekas orang hukuman  itu,  ketika dia habis menghindar dari  suatu serangan,  dan cepat  cepat dia menambahkan perkataannya :

“...aku datang bukan hendak mengacau, akan tetapi aku ingin bertemu dengan jendral Cong . . . !”

Beberapa orang sie wie terdengar bersuara seperti menggerutu, sedangkan salah seorang lalu berkata :

'Kalau benar niatmu hendak menghadap kepada Cong goanswee, kenapa kau tak datang pada siang hari?  Kau jangan coba coba menipu, sebab kami tahu kau adalah sam ceecu dari Ceng liong pang, yang sengaja datang hendak mengacau . . . !"

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi terkejut. Jelas bahwa orang orang yang bertugas pada jenderal Cong sudah mengetahui tentang dia, sehingga bukan  tidak  mungkin bahwa sang jenderal alias sang pangcu juga  sudah mengetahui. Akan tetapi saat itu dia  tidak dapat banyak berpikir, sebab dia  harus memusatkan semua  perhatiannya buat menghadapi orang orang yang sudah mengepung lagi.

Seorang sie wie menikam dia dengan ilm u 'ular belang melepas bisa', dan laki laki bekas orang hukuman itu dapat menghindar dengan miringkan tubuhnya, bahkan dia berhasil memegang lengan sie wie yang sedang menyerang itu bahkan karena kerasnya dia memegang, maka sie wie sampai melepaskan pedangnya, dan disaat berikutnya  tubuh sie  wie  itu kena diangkat dan diputar, digunakan sebagai senjata istimewa buat laki laki bekas orang hukuman itu menghadapi kepungan pihak lawan.

Sudah tentu para pengepungnya menjadi kelabakan, tidak berani sembarangan melakukan penyerangan karena kemungkinan akan mengakibatkan rekan mereka yang celaka. Disaat laki laki bekas orang hukuman  itu  sedang menggunakan senjatanya yang istimewa, maka mendadak terdengar suara seseorang yang berseru.

"Semua berhenti.,!”

Itulah suara Cong goanswee yang berwibawa! itulah suara bekas pangcu Ceng liong-pang yang dipatuhi oleh segenap anggota persekutuannya.

Semua yang sedang bertempur menghentikan gerak mereka, sedangkan orang orang yang mengurung membuat lingkaran segera menyisi sehingga laki  laki bekas orang hukuman itu dapat melihat dengan tegas bekas pemimpinnya atau ayahnya si burung Hong.

“Goanswee..!" seru semua alat negara yang memberi hormat.

"Pangcu...!' kata lelaki bekas orang hukuman itu namun tak sempat dia meneruskan berkata sebab sudah langsung kena dimaki: 'Kucing belang! aku adalah Cong goanswee!'

(kucing belang . . . ?) ulang laki laki bekas orang hukuman itu didalam  hati dan dia teringat dengan kebiasaan sang pangcu yang selalu memaki dia dengan istilah 'kucing belang".

“Goanswee, aku datang hendak memberitahukan tentang Hong moay . . . “

"Tunggu.. . !" sekali lagi jenderal Cong berseru memutus perkataan laki laki bekas orang hukuman itu.

Tua usia bekas pangcu Ceng liong pang itu, akan tetapi masih kelihatan gagah dan tetap memiliki wibawa, terlebih dengan pakaian seorang jenderal.

Sepasang matanya yang bersinar terang dan berwibawa, mengawasi lurus laki laki bekas orang hukuman  itu;  sampai laki laki itu kalah pengaruh dan tunduk  sebagai layaknya tempo dulu dalam kedudukan sebagai panglima ketiga dari Ceng liong pang.

Dengan memberikan tanda dengan memakai sebelah tangannya, kemudian jenderal Cong memerintahkan semua pasukannya mengundurkan diri, hingga tinggal dia berdua dan laki laki bekas orang hukuman itu, atau yang dulu menjadi panglima ketiga dalam persekutuan Ceng liong pang.

”Jadi kau sudah bertemu dengan dia .;?" tanya jenderal Cong setelah mereka berada hanya berdua.

Laki laki bekas orang hukuman  itu  tidak  segera memberikan jawaban. Dia  menatap sehingga  sempat dia melihat sepasang mata jenderal Cong yang jadi bersinar redup karena teringat dengan anak daranya yang keras hati.

Kenangan lama segera membayang lagi dihadapan  mata laki laki bekas orang hukuman itu. Kenangan waktu  dia memberanikan diri menghadap pada Cong pangcu buat menyatakan rasa cintanya kepada si burung Hong yang menjadi anak dara dari pemimpin persekutuan itu.

Akan tetapi yang sekarang dia harus laporkan atau beritahukan justeru adalah tentang peristiwa si burung Hong yang sudah bunuh diri sehabis memberikan pengakuannya.

“Jadi, dia mengakui bahwa dia yang telah menghianati kau

. . . ?” tanya jenderal Cong dengan sepasang mata membelalak, akan tetapi mata itu sudah  langsung  berlinang air.

Laki laki bekas orang hukuman itu manggut membenarkan dan menceritakan semuanya. yaa, semuanya  dimulai dengan dia lepas dari rumah penjara; sampai  dia melakukan perjalanan mencari orang yang menghianati dia.

"Dan akhirnya dia mengakui bahwa dia  yang telah menghianati kau.., . ha ha ha ..." jenderal Cong akhirnya berkata dan menyertai tawa. Tawa yang tak wajar, tawa yang disertai dengan air mata !

Laki laki bekas orang hukuman itu ganti terbelalak sepasang matanya. Heran dan tak mengerti. Namun demikian tidak ada kesempatan buat dia bertanya, sebab jenderal Cong sudah mendahulukan berkata :

"Anak itu benar benar keras hatinya. Dia tahan menderita, dan dia mau berkorban. Semuanya adalah untuk cinta kasih. Demi cintanya kepada kau. Ha ha ha. I"

"Pangcu.. ?”

"Tunggu ! aku belum selesai bicara ..!"

Sekali lagi laki  laki bekas orang hukuman itu menjadi terkenang dengan tempo dulu. Suatu kebiasaan dari Cong pangcu yang tidak mau lain orang mengucapkan perkataan, selagi Cong pangcu merasa belum selesai bicara.

"Dia telah mati penasaran. Kau harus membalas  dendam dia. Kau harus membunuh penghianat itu.,.?” demikian Cong goanswee menyambung perkataannya.

"Tahukah pangcu s iapa si penghianat itu...?" tanya laki laki bekas orang hukuman itu, menyimpang dari kebiasaannya selagi dia masih menjabat kedudukan sebagai  panglima ketiga; sementara sepasang matanya ikut basah dengan air mata, sama keadaannya dengan jenderal Cong !

Sementara itu jenderal Cong manggut, dan berkata dengan suara yang lebih perlahan “Aku tahu siapa si penghianat itu. Pada waktu subuh nanti, aku perintahkan kau datang di Pit mo gam ..."

"Pangcu, apakah secepat itu kau dapat menghubungi si penghianat itu . . . ?”

"Kucing belang, aku belum selesai bicara, apakah kau ragukan kemampuanku . . ?” Sekali lagi laki laki bekas orang hukuman itu jadi menundukkan kepala dan sekali lagi dia jadi terkenang dengan kebiasaan sang pangcu.

"Mana pedangmu, pedang Ceng liong kiam  ... ?" tanya jenderal Cong, se lagi laki laki bekas orang hukuman itu diam menunduk.

"Pedang itu hilang sejak aku kena ditangkap..” sahut laki  laki bekas orang hukuman itu.

"Hm ! Si penghianat yang akan kau hadapi sangat tinggi ilmunya. Dia  bahkan mempunyai sebatang pedang pusaka yang tak kalah dengan pedang Ceng liong kiam,„,"

Jenderal Cong menunda perkataannya untuk dia berpikir, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu tidak berani mengucap sesuatu sesuai dengan kebiasaan lama selagi dia menjadi panglima ketiga pada persekutuan Ceng liong pang.

”... hanya ada satu kesempatan buat kau mengalahkan si penghianat itu. Sedemikian  lekas kalian  sudah  berhadapan, kau harus serang dia dengan pukulan houw jiauw kang', sebelum dia sempat mengeluarkan pedangnya..."

Sekali lagi bekas pangcu Ceng liong pang itu menunda perkataannya dan dia mengawasi bekas Sam ceecu bagaikan menghendaki persetujuan dan laki laki bekas orang hukuman itu manggut, sehingga jenderal Cong lalu berkata lagi.

"Kau harus ingat dengan pesanku ini. Jangan kau ragu ragu menyerang supaya tidak sia sia pengorbanan adik Hongmu ..."

Bekas pangcu Ceng liong pang itu kemudian memberikan tanda memakai sebelah tangannya memerintahkan laki laki bekas orang hukuman itu untuk meninggalkan dia  karena pembicaraan rupanya dianggap sudah selesai!

Laki laki bekas orang hukuman itu menurut.  Taat seperti  dia masih menjabat kedudukan sebagai panglima ketiga; akan tetapi… “Tunggu,,,!" perintah jenderal Cong yang membikin laki laki bekas orang hukuman itu menunda langkah kakinya.

Jenderal Cong kemudian melangkah mendekati dan diluar dugaan dia lalu merangkul. Erat dia merangkul sambil dia mengalirkan air mata yang begitu derasnya !

Laki laki bekas orang hukuman itu ikut merangkul. Ikut dia mengeluarkan air mata.

Jenderal Cong lalu mengantarkan laki-laki bekas orang hukuman itu sampai keluar istana  tempat tinggalnya, dan jenderal Cong melepas kepergian laki laki itu sampai hilang ditelan kegelapan malam.

Laki laki bekas orang hukuman itu kembali ke kuil tua hendak menemui Cie in suthay yang ternyata benar benar sudah menunggu kedatangannya. Akan tetapi laki laki bekas orang hukuman itu sudah kehilangan niatnya yang hendak menanyakan tentang orang orang yang sudah membantu dia melakukan pengacauan dikota raja dan laki laki itu hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan jenderal Cong.

“Pit mo gam itu adalah jurang hantu, suatu tempat yang terpencil diatas gunung See san. Disitu ada sebuah batu besar yang mirip patung hantu dan dibawah patung hantu itulah terdapat sebuah jurang yang dalam ...' kata Cie in suthay memberikan penjelasan,

'Akan tetapi aku tidak menghendaki suthay ikut datang. Dalam hal ini aku tidak mau dibantu… " tukas laki laki bekas orang hukuman itu.

Cie in suthay bersenyum.  Senyum manis yang  dapat memikat selusin perjaka.

'Kau benar benar keras kepala. Apakah kau menghendaki kita berpisah sampai disini ?”

Lelaki bekas orang hukuman itu jadi terdiam tak mampu mengucap apa-apa. Berat rasa hatinya buat dia melakukan perpisahan dengan biarawati yang muda us ia dan yang cantik jelita itu;  dan biarawati yang muda usia itu bagaikan mengetahui isi hatinya, sehingga dia berkata lagi :

" . . nah kalau kau masih menghendaki kita tak berpisah sekarang, maka aku akan ikut kau ke Pit mo gam. Bukan buat membantu kau akan tetapi aku ingin melakukan sesuatu supaya suci hilang penasarannya ..."

Letak Pit mo gam adalah diatas gunung See san, sebelah barat kota raja.

Sesuai dengan namanya, jurang hantu itu benar benar merupakan tempat yang menyeramkan yang tak sembarang orang berani mendatangi apalagi dalam keadaan gelap guI ita selagi hari menjelang waktu subuh.

Akan tetapi lelaki bekas orang hukuman itu serta Cie in suthay; bukanlah merupakan orang-orang yang  berhati penakut. Mereka merupakan orang orang yang sudah biasa menerobos dewi maut. Berkat ilmu ringan tubuh mereka yang benar benar sudah mencapai pada batas kemampuan, maka laki laki bekas orang hukuman itu serta Cie in suthay  tidak sukar mencapai tempat tujuan, sampai kemudian Cie in suthay memisah diri dan laki laki bekas orang hukuman  itu mendatangi tempat yang dimaksud oleh jenderal Congkz.

Tepat pada waktunya, laki Iaki bekas orang hukuman itu melihat datangnya seseorang dan seseorang itu nampak bertubuh tinggi besar, tidak mirip dengan bentuk sang Poei toako seperti yang menjadi dugaan laki laki bekas orang hukuman itu.

Seseorang itu bahkan memakai pakaian serba biru, lengkap dengan selubung penutup kepala, sehingga laki laki  bekas orang hukuman itu menganggap bahwa si  penghianat sekarang sudah menjadi seorang anggota dinas rahasia, atau Tay Iwee sip sam ciu ! Ada sebatang pedang ditangan kiri si penghianat, akan tetapi pedang itu masih berada didalam sarungnya, dan pada waktu jarak terpisahnya mereka sudah tepat seperti yang diperhitungkan maka laki  laki bekas orang hukuman itu perdengarkan pekik suaranya yang bagaikan aum seekor harimau jantan, lalu dia lompat menerkam dengan sepasang tangan siap memukul dengan ilmu 'houw jiauw kang..

Ada sedikit rasa heran yang menyelinap  ke  dalam  lubuk hati laki laki bekas orang hukuman itu. Mengapa si penghianat tidak bergegas melakukan perlawanan atau setidaknya berusaha untuk menghindar ? Akan tetapi, semuanya telah berlangsung terlalu cepat. Terlalu pesat dan dahsyat gerak serangan laki laki bekas orang hukuman itu.

Hanya terdengar sedikit suara t idak jelas dari s i penghianat yang rupanya sedang menahan rasa sakit, setelah itu  dia rubuh terjatuh terlempar !

Segera terdengar lagi pekik suara yang bagaikan aum seekor harimau yang berhasil melepas dendam, setelah itu sunyi lagi keadaan ditempat yang menyeramkan itu. Cie in suthay keluar dari tempat dia umpatkan diri. Biarawati yang muda usia ini me langkah mendekati laki laki bekas orang hukuman itu yang masih berdiri diam bagaikan  patung, menghadapi tubuh si penghianat yang sudah rebah dekat sepasang kakinya.

Biarawati yang muda usia dan yang cantik jelita itu  kemudian menatap sepasang mata laki laki  bekas orang hukuman itu, yang kelihatan masih  menyala  menghabiskan sisa rasa dendam. Setelah itu Cie in suthay ganti mengawasi tubuh si penghianat.

Perlahan gerak laki laki bekas orang hukuman  itu,  waktu dia mendekati bagian kepala si penghianat, dan dengan sebelah tangannya, kemudian dia membuka kain se lubung penutup kepala dan muka si penghianat, sampai dilain saat suatu wajah muka yang sudah tidak asing lagi membentang di hadapan laki laki bekas orang hukuman itu.

"Pangcu,,.!" laki laki bekas orang hukuman itu bersuara kaget.

Masih ada sedikit sisa napas jenderal Cong atau bekas pangcu Ceng Liong pang itu. Dia belum mati dan dia kelihatan bersenyum. Senyum puas!

Ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh jenderal Cong atau bekas pangcu Ceng liong pang itu akan tetapi dia tak kuasa melakukannya karena hebatnya dia kena gempur tenaga cakar macan !

'Pangcu !' laki  laki bekas orang hukuman itu berkata setengah berteriak, sementara air matanya segera mengalir keluar sampai kemudian dia menangis keras.

(dia benar benar menangis..,..') kata Cie in suthay dalam hati,

Jenderal Cong berusaha dan berhasil memegang tangan kanan laki laki bekas orang hukuman itu. Bekas pangcu itu berusaha tetap bersenyum meskipun mulutnya basah penuh darah sampai kemudian ia mati tanpa dia sanggup mengucap apa apa.

Biarawati yang muda us ia itu kemudian mengambil pedang yang masih dipegang erat erat ditangan  kiri  jenderal Cong, dan pada waktu biarawati yang masih muda usia itu menarik pedang itu dari sarungnya maka ternyata pedang itu adalah pedang buntung bahkan hanya ada gagangnya saja !

"Jelas dia menyadari kesalahannya dan merelakan tewas ditangan kau... . " kata Cie In suthay perlahan; dan didalam  hati sekali Iagi dia menyebut 'o mi to hud .

“Akan tetapi mengapa . ?" tanya lelaki bekas orang hukuman itu yang merasa tidak mengerti dengan perkataan  Cie in suthay. "Sebab memang dia yang telah menghianati kau ... " “Jadi suthay sudah mengetahui … ?"

Biarawati yang muda usia itu manggut  membenarkan, tanpa dia menyertai senyumnya, dan dia lalu menceritakan tentang siburung Hong yang memang sudah memberitahukan kepada dia.

"Akan tetapi mengapa pangcu harus melakukan penghianatan ? dia dapat menghukum aku kalau dia hendak membinasakan aku . ... . .  ...  “ lelaki bekas  orang hukuman itu berkata lagi, tetap dia merasa heran tidak mengerti.

"Akan hilang wibawanya kalau dia menghukum kau tanpa kesalahan yang kau lakukan.. .” sahut Cie in suthay.

“Oh, pangcu. Melulu karena aku menyintai Hong moay, kau… kau rela melakukan."

“Bukan melulu karena urusan cinta…” Cie in  suthay memutus dan menambahkan perkataannya.

“. . .dalam gerakan perjuangan melawan kaum penjajah, si macan terbang memihak pada Thio Su Seng; sedangkan dia memihak pada Cu Juan Tsyang. Tepat seperti yang dikatakan oleh Cu Juan Tsyang sebelum dia menjadi maharaja Beng bahwa sebuah perahu tidak dapat dikemudikan  oleh  dua orang atau didalam dunia ini tidak mungkin ada dua matahari, oleh karena itu si macan terbang harus mati dan dalam hal ini bekas pangcu itu telah berhasil.”

'Suthay . . .!" laki laki bekas orang hukuman itu bersuara seperti membantah, akan tetapi Cie in suthay perlihatkan senyumnya. Tetap berupa senyum manis yang dapat menawan hati se lusin perjaka; sete lah itu baru dia berkata lagi;

"Lain orang bisa kau tipu, akan tetapi aku tahu bahwa kau bukan si macan terbang.” "Suthay. "

“Hm ! kau tak mau melepas kedok yang kau pakai ? kau ingin aku yang membukanya?'

Laki laki bekas orang hukuman itu bergegas mundur. Akan tetapi dia kecewa  sebab dilihatnya Cie in suthay tetap bersenyum. Tidak melakukan sesuatu gerak  dan  biarawati yang muda usia itu bahkan berkata lagi.

"Kau menyamar menjadi s i macan terbang. Memang bagus penyamaran kau. Memang hebat gaya kau  bersandiwara.  Akan tetapi kau lupa orang yang seusia dengan si macan terbang, setidaknya sudah memiliki uban atau rambut putih, terlebih bagi seseorang yang banyak  menderita. Kenyataannya, kepala kau memang keras seperti  besi, sehingga selembar uban pun tak dapat tumbuh dikepalamu!”

Lelaki yang selalu menamakan diri sebagai bekas orang hukuman itu menjadi lemas dan terduduk dekat  mayat jenderal Cong.

Setelah lewat sesaat maka dia menengadah dan melihat biarawati yang muda usia itu masih tetap bersenyum sambil mengawasi sehingga perlahan-lahan sebelah  tangannya meraba bagian mukanya dimulai pada dekat daun telinga, dan dia membeset kulit mukanya, sehingga pada detik berikutnya terbentang wajah muka seorang pemuda tampan berkulit putih, bukan berkulit hitam seperti muka simacan  terbang yang kena terik sinar matahari.

( ooO XdX wX Ooo )

ADA SELAT Ho low kok disebelah utara gunung See  san yang tinggi menjulang keangkasa, sedangkan di sebelah barat laut dari gunung yang tinggi itu kelihatan jelas tembok besar Ban lie tang shia yang berliku liku memanjang  bagaikan seekor naga raksasa yang sedang tidur. Sepasang insan anak manusia sedang saling menukar kata, sambil duduk bersentuh bahu diatas sebuah batu besar tanpa menghiraukan dinginnya angin pagi diwaktu subuh.

Sepasang insan anak manusia itu terdiri dari seorang anak laki laki muda yang tampan dan gagah perkasa, sedangkan yang seorang lagi merupakan seorang perempuan muda yang cantik jelita dan perkasa akan tetapi yang berpakaian sebagai seorang biarawati atau pendeta perempuan, yang ternyata adalah Cie-in suthay dari kuil Cui gwat am.

“ jadi nama kau adalah  Lie  Hui  Houw  ?"  terdengar antara lain Cie in suthay berkata kepada teman bicaranya, laki-laki muda yang tampan dan gagah perkasa, yang tadinya melakukan penyamaran sebagai laki laki bekas orang hukuman, atau si 'macan terbang', bekas sam ceecu atau panglima ketiga dari persekutuan Ceng liong pang di atas gunung Ceng liong san.

Sementara itu kelihatan Lie Hui Houw manggut membenarkan, tetapi sepasang matanya masih menatap jauh kearah letak tembok besar Ban-lie tang shia.

Ada satu peristiwa yang terjadi kira kira dua puluh tahun yang lalu. Waktu itu negeri cina masih dijajah oleh orang- orang MongoIia. Peristiwa  itu  adalah  mengenai ditangkapnya si macan terbang oleh pihak pemerintah penjajah, sampai si macan terbang mati waktu menjalankan hukuman kerja paksa.

Peristiwa ditangkapnya si "macan-terbang” adalah akibat penghianatan seseorang, dan hal ini membikin gurunya  si macan-terbang menjadi penasaran, akan tetapi sang guru itu adalah seorang penganut agama Budha yang sudah bertobat dan pantang menyimpan dendam melulu karena takdir yang telah menentukan, maka sang guru itu bertemu dengan salah seorang sahabatnya, yang kebetulan  mempunyai seorang murid laki laki yang bernama Lie Hui Houw (Hui houw macan terbang). Lie Hui Houw masih muda usianya, akau tetapi dia  mendapat tugas melakukan balas dendam si 'macan terbang” yang pernah menjabat kedudukan sebagai panglima ketiga; atau sam ceecu pada persekutuan Ceng liong pang; dan untuk tugasnya itu Lie Hui Houw telah disulap menjadi seorang laki laki bermuka agak hitam bekas kena teriknya sinar matahari, berusia kira-kira sudah empat puluh tahun lebih; dan penyamarannya itu adalah  dengan memakai topeng yang dibikin dari bahan yang elast ik semacam kulit manusia, dan sejak hari itu Lie Hui Houw merantau sebagai laki laki bekas orang hukuman, sampai akhirnya dia  berhasil menemui si penghianat, akan tetapi rahasia penyamarannya  telah diketahui oleh Cie in suthay, biarawati muda usia yang cantik jelita.

"... akan tetapi, bagaimana mungkin suthay bisa mengetahui penyamaranku. ?” terdengar Lie Hui Houw balik menanya.

"Seperti yang sudah aku katakan, sebab tidak ada selembar uban yang tumbuh dlatas kepalamu yang keras seperti besi..," sahut Cie In suthay sambil menyertai seberkas senyum yang dapat memikat hati selusin perjaka.

Lie Hui Houw ikut bersenyum padahal hatinya sedang berdebar keras karena pengaruh senyum manis dan pengaruh mengadu bahu karena mereka duduk rapat berdampingan.

*Eh, aku sekarang sudah tahu tentang nama kau, akan tetapi coba kau ceritakan tentang... ya, tentang  apa saja misalnya tentang tempat kelahiranmu…” dan setelah sejenak sama sama terdiam tidak bersuara .

Lie Hui Houw menatap muka biarawati yang muda usia itu; tepat disaat Cie in suthay juga sedang mengawasi tanpa lupa menyertai senyumnya akan tetapi keduanya cepat cepat mengganti arah pandangan; mengawasi lurus kearah tembok besar Ban lie tang shia, dan seperti kata orang orang tua, dengan mengawasi tembok besar Ban lie thang shia maka semua kenangan lama akan teringat lagi sehingga Lie Hui Houw kemudian mulai menceritakan tentang dirinya dan tentang tempat kelahirannya.

Disebuah jalan silang dekat perbatasan propinsi propinsi An hwie; Ouw pak dan Ouw lam, terdapat sebuah gunung yang tinggi menjulang ke angkasa.

Gunung itu adalah gunung Kauw it san yang banyak mendapat perhatian dari kaum pelancong, terutama dengan mereka yang sedang melakukan perjalanan dari dan ke sa lah satu propinsi An hwie Ouw pak dan Ouw lam, oleh  karena diatas gunung Kauw it san terdapat banyak  pemandangan yang indah dan dari atas gunung itu pula orang bisa melihat jalur jalur jalan raya yang menuju ke tiga arah propinsi yang berlainan namun yang sukar diketahui sebab berliku  liku bagaikan menuju pada arah yang sama.

Akan tetapi sayangnya belakangan ini orang orang menjadi ragu ragu bahkan merasa cemas untuk naik keatas gunung Kauw it san apalagi diwaktu malam hari yang biasanya orang gemar menemani cemerlangnya sinar bulan sambil mengawasi kelap kelip  lampu lampu rumah penduduk setempat; yang meskipun tidak banyak jum lahnya akan tetapi sedap dipandang karena banyak beterbangan binatang  kunang- kunang.

Konon menurut cerita orang diatas gunung Kauw it san sekarang telah dihuni oleh suatu hantu jejadian,  bermuka hitam (Hek mo) dengan sepasang mata melotot  bersinar merah seperti lentera merah ( Ang teng ), serta memiliki rambut yang panjang tidak terurus, dibiarkan lepas terurai kebagian belakang bagaikan rambut seekor binatang Barong (semacam binatang purba).

Kemudian ada lagi cerita lain orang yang menambahkan, bahwa munculnya hantu jejadian yang berujut  semacam kepala Barong itu, biasanya didahulukan dengan terdapatnya lentera merah ( Ang teng ) yang menyala bergantungan diatas dahan pohon, lalu pada siang berikutnya pasti kedapatan mayat atau mayat mayat manusia yang bergelimpangan disemak semak dibiarkan membusuk dan menjadi makanan hewan hewan liar, sampai tinggal s isa tulang tulang yang kian hari kian banyak berserakan; mengakibatkan ada orang yang menambahkan cerita seram itu dengan mengatakan bahwa lembah yang terdapat di atas gunung itu, menjadi lembah Pek kut yao; atau lembah tulang tulang putih !

Petang itu, dua orang laki laki tua nampak sedang asyik bercakap cakap sambil menghadapi dua mangkok arak, di suatu kedai nasi yang terdapat di sisi jalan yang menuju ke propinsi An hwie atau dengan kata lain tak terlalu  jauh  terpisah dari kaki gunung Kauw it san.

Yang seorang dari kedua laki laki tua itu, bertubuh agak kurus dan agak tinggi, bermuka putih tidak berkumis dan tidak pula berjenggot; berpakaian semacam penduduk desa  sebab dia adalah si pemilik kedai, yang biasa disebut dengan Ouw lopek atau kakek Ouw.

Yang seorang lagi adalah tamu yang menginap dikedai itu, bertubuh tidak gemuk seperti kakek Ouw, akan tetapi sedikit lebih pendek, bermuka bundar memelihara kumis dan jenggot putih terawat rapih, dan dia mengenakan pakaian semacam seorang sastrawan, mengaku bernama Lie lopek, atau kakek  Lie. Sebenarnya bukan maksud kakek Lie buat menginap dikedainya kakek Ouw yang kecil dan terletak ditempat sunyi; apalagi kedainya kakek Ouw memang tidak biasa menerima tamu yang menginap. Akan tetapi waktu dia singgah hendak melepas lelah dalam melakukan perjalanannya,  ternyata  kedua laki laki tua itu mempunyai kebiasaan dan kegemaran yang sama, yakni gemar bicara, gemar minum arak dan gemar bermain catur.

Maka terjadilah mereka sama sama bicara, sama sama minum arak sambil menghadap permainan catur, sampai mereka lupa waktu, lupa tugas, sehingga kakek  Lie memutuskan menginap dan kakek Ouw buru buru membersihkan gudang tempat penyimpanan beras dan  lain lain, buat dijadikan tempat tamunya menginap, setelah itu dia buru buru menemani kakek  Lie,  untuk  meneruskan percakapan dan permainan mereka, tanpa perduli sudah beberapa kati arak yang masuk kedalam perut mereka !

“…mengenai lentera merah yang menyala kalau maut akan menyebar, bukankah sengaja digantung oleh seseorang ...?* terdengar antara lain tanya kakek Lie pada teman bicaranya.

"Sudah tentu perbuatan seseorang, akan tetapi belum pernah ada orang yang melihat, baik pada waktu  lentera merah itu dinyalakan, maupun pada waktu digantung; sebab orang sudah takut naik keatas gunung Kauw it san kalau hari sudah mulai galap. Adapun mayat mayat dari orang orang yang terbunuh atau dibunuh oleh hantu jejadian itu sebe- narnya kebanyakan adalah orang orang yang datang dengan maksud mengintai si pemasang lentera merah, akan  tetapi tahu tahu mereka tewas dan mayatnya mereka  dijadikan makanan binatang binatang liar .." sahut kakek Ouw tanpa dia mengawasi muka tamunya, sebab perhatiannya sedang ditujukan kepada biji biji catur.

'Bagaimana Ouw heng tahu bahwa mereka yang tewas itu adalah orang orang yang sengaja datang untuk mengintai . . .

. ?” tanya kakek Lie heran dan saking herannya dia sampai menunda permainannya buat dia  mengawasi muka teman bicaranya.

"Aku bicara tentu berdasarkan  keyakinan.  Bukan sembarang keyakinan melainkan ada dasar-dasar yang meyakinkan aku- - " sahut kakek Ouw yang ikut mengawasi kakek Lie, lalu dia  minum araknya, dan mempersilahkan tamunya ikut minum setelah itu kakek Ouw yang meneruskan bicara :

' . seperti baru ini ada datang tiga orang lelaki yang kelihatannya gagah perkasa. Yang seorang kira kira 40 tahun katanya bernama Ong Sam Goan berasal dari kota Lam ciang, sedangkan yang kedua orang lagi merupakan pemuda yang menjadi murid muridnya Ong-Sam Goan . . .”

Sepasang mata kakek Lie kelihatan seperti menyipit menandakan dia berpikir waktu dia  mendengar disebutnya nama Ong Sam Goan; akan tetapi teman bicaranya tak melihat, sebab kakek Ouw sedang mengatur langkah biji caturnya sambil dia meneruskan bicara : “ mereka bertiga

katanya sengaja datang dari jauh hendak menyelidiki gunung Kauw it san dengan lentera merahnya. Mereka  singgah ditempatku dan aku memberikan sekedar keterangan  yang aku ketahui, lalu mereka pergi dan seseorang menemukan mayat mayat mereka pada esok harinya. "

"Seseorang menemukan mayat mayat mereka " gumam kakek Lie bagaikan pada dirinya sendiri, akan  tetapi cukup jelas didengar oleh teman bicaranya, sementara tangan kanan kakek Lie membikin langkah menyimpang, dari salah satu biji caturnya, sambil berkata tegas tegas.

"Siapakah seseorang itu - -“

“Seorang penduduk dusun yang kadang-kadang suka datang ditempat itu dan pada hari Ong Sam Goan bertiga singgah kebetulan dia juga berada disini” sahut kakek Ouw sambil dia memikirkan letak biji biji caturnya.

"Hm ! " gumam kakek Lie, lalu dim inumnya araknya diikuti oleh kakek Ouw sampai kemudian datang giliran si kakek Lie untuk menceritakan kisah perjalanannya :

"Tidak jauh terpisah dari gunung Hin san terdapat sebuah rumah gubuk sederhana dengan penghuninya yang terdiri dari tiga orang. Seorang laki laki dan dengan anak perempuannya yang bernama Lie Kim Nio, dan menantunya bernama  Ong Koen Bie ..”

Kakek Lie berhenti sebentar buat dia minum araknya akan tetapi sepasang matanya diam diam melirik teman bicaranya yang sedang melangkahkan biji caturnya, “ ... Ong Koen Bie dan Lie Kim Nio sudah lama  menikah, akan tetapi mereka belum mendapat anak; mungkin sebab Ong Koen Bie seringkali melakukan perjalanan meninggalkan isterinya dirumah sebab pekerjaan Ong Koen Bie adalah sebagai tabib keliling, dan kepergiannya kadang kadang memerlukan waktu lebih dari sebulan. Akibatnya sepasang suami isteri ini seringkali bertengkar, saling mengucap perkataan yang menuduh seperti Ong Koen Bie mengatakan isterinya mandul sedangkan sang isteri menuduh suaminya yang mandul atau sering melacur selagi berada di tempat lain

- "

"Pertikaian biasa yang memang  seringkali  terjadi dikalangan suami isteri muda " kata kakek Ouw sambil dia bersenyum, memaksa kakek Lie ikut bersenyum, dan meneruskan lagi bercerita :

“- - pada suatu hari Ong Koen Bie  pulang dari  bepergian,  di saat hari sudah cukup malam. Sejenak dia berdiri diam batal memasuki rumah karena terlihat olehnya adanya seorang laki laki yang tidak dikenalnya yang sedang berdiri didekat jendela kamar isterinya. Ong Koen Bie menjadi curiga atau cemburu lalu dia menggedor pintu rumah, membikin mertuanya jadi terkejut akan tetapi Ong Koen B ie memasuki rumah tanpa dia menghiraukan mertuanya yang membuka pintu dan dia menendang pintu kamar isterinya...”

"Dia tentu curiga isterinya main gila ,. ,?” kakek Ouw memutus perkataan kakek Lie.

"Tentu ..." sahut kakek Lie yang lalu meneruskan lagi.

" .. . dia curiga, terjadilah pertengkaran malam hari itu, sampai kemudian Ong Koen Bie pergi tanpa pamit, meninggalkan isterinya yang jadi menangis, sampai kemudian Lie Kim Nio pergi dengan maksud hendak menyusul dan membujuk suaminya pulang sebab dia tahu suaminya tidak pergi jauh, karena bungkusan pakaian dan alat alat pengobatan, tidak dibawa…“ Lie Lopek atau kakek Lie terpaksa menunda  bercerita, sebab tiba tiba kakek Ouw tertawa girang akibat kakek Lie membikin langkah salah pada biji caturnya, mengakibatkan pertahanan kakek Lie jadi berbalik lemah, padahal sebelumnya terjadi kesalahan langkah itu, pertahanan yang disusun oleh kakek Lie amat kuat, tidak mungkin dapat diterobos oleh penyerangan kakek Ouw.

Dipihak kakek Ouw, dia seolah olah tidak mau memberikan kesempatan buat kakek Lie memperbaiki susunan pertahanannya; dia bahkan tidak perduli kakek Lie tidak sempat meneruskan pembicaraannya, dan dia  juga tidak memberikan kesempatan buat kakek Lie minum araknya. Dia mendesak dan mendesak terus, mematikan beberapa biji catur lawannya, sampai kakek Lie t idak sanggup lagi.

"Malam ini aku menyerah, akan tetapi besok pasti akan balas. !" akhirnya kata kakek Lie sambil dia perlihatkan tanda ingin tidur.

"Baik, malam ini aku beri ampun sebab Lie heng tentu lelah habis melakukan perjalanan jauh, akan tetapi besok, berhati hatilah…!” ancam kakek Ouw yang lalu tertawa girang, memaksa kakek Lie ikut tertawa, meskipun tawa pahit karena menderita kekalahan.

Kamar buat kakek Lie tidur adalah sebuah gedung yang sengaja dibersihkan. Ukurannya tidak besar bahkan tidak ada daun jendela, jadi terasa panas buat kakek  Lie,  sehingga harus membuka baju membiarkan darahnya dihisap  oleh nyamuk nyamuk yang berpesta.

("Kasihan dia.,.” kata Cie in suthay sambil  bersenyum manis, memaksa Lie hui Houw menunda cerita dan ikut jadi tersenyum.

Sementara itu matahari pagi mulai perlihatkan diri dan Cie in suthay berdiri dari tempat duduknya mengajak Lie Hui Houw menyusuri gunung See san, akan tetapi tetap dia m inta Lie Hui Houw meneruskan bercerita:)

Secara samar samar, pada waktu tengah malam kakek Lie mendengar pintu kedai kakek Ouw dibuka orang. Dia merasa heran, mengapa kakek Ouw belum tidur?  ataukah ada seseorang yang datang? Akan tetapi kakek Lie  tidak mendengar adanya suara seseorang yang bicara juga tidak didengarnya suara kakek Ouw.

Pada mulanya kakek Lie ingin keluar untuk melihat akan tetapi dia rasa kantuknya mengakibatkan dia membatalkan niatnya. Mungkin sebab perjalanannya siang tadi, maka tak kuasa dia menahan rasa kantuknya itu.

Esok paginya kakek Lie bangun sesudah matahari cukup lama bersinar. Dia  menemui kakek Ouw yang sudah sibuk melayani beberapa orang tamu yang sedang minum arak atau makan bubur.

Didekatinya kakek Ouw sambil dia perlihatkan senyumnya, dan berkata perlahan di dekat telinga kakek Ouw :

"Biar aku bantu masak nasi - - “

'Jangan“ kakek Ouw mencegah, lalu menambahkan perkataannya :

“itu bukan pekerjaan seorang tamu."

'Aku akan pergi kalau kau anggap aku tamu..,..* sahut kakek Lie mengancam.

'Hayaa ! kalau begitu kau sarapan dulu makan bubur.., ,” kakek Ouw menyerah perlihatkan lagak penasaran.

Kakek Lie juga menurut. Dia menyambuti semangkok bubur yang diberikan oleh kakek Ouw, lalu dibawanya kesalah satu meja yang masih kosong dan dimakannya cepat cepat, sebab dia ingin membantu pekerjaan kakek Ouw yang harus masak sambil melayani para tamu seorang diri, tanpa ada orang yang membantu pekerjaannya.

Sekilas si kakek Lie sempat melihat para tamu yang sedang makan atau minum arak! Tidak ada waktu  buat dia memperhatikan padahal ada dua orang laki-laki yang berpakaian sebagai layaknya orang orang yang pandai  ilmu silat dan kedua tamu laki laki itu sejenak mengawasi serta memperhatikan kakek Lie yang sedang makan bubur.

Sehabis makan bubur, kakek Lie cepat-cepat mencuci beras dan memasak nasi. Setelah itu baru dia sempat menemani kakek Ouw bermain catur sambil minum arak dan melayani para tamu, sehingga permainan mereka harus sering tertunda.

Kedua tamu laki-laki tadi sudah lama pergi meneruskan perjalanan mereka. Tamu tamu yang sekarang ada hanya berupa dua orang petani penduduk dusun sekitar tempat itu; dan seorang tamu laki laki lain yang kelihatannya sudah berusia empat puluh tahun lebih berpakaian semacam orang desa akan tetapi membawa bungkusan pakaian menandakan orang itu sedang melakukan perjalanan…!

Tamu laki-laki itu singgah buat dia  beristirahat  sambil makan siang. Dia tidak kelihatan tergesa pesa, dari itu dia sempat mendengarkan pembicaraan yang  dilakukan  oleh kedua kakek yang sedang bermain catur, dan pembicaraan kedua kakek itu kadang kadang dise ling dengan kelakar dan tawa, serta sambil m inum arak.

"... Ouw heng, tadi malam aku mendengar kau membuka pintu kedai, apakah kau pergi atau ada tamu yang datang ditengah ma lam buta .,.?”  terdengar antara lain kakek Lie menanya, akan tetapi mukanya menunduk mengawasi biji biji catur.

"Aku hanya sekedar mencari angin ....” sahut kakek Ouw seenaknya, padahal sebelumnya mengawasi dulu teman mainnya. "Ini satu aku berikan sebagai hadiah ...!” kata si kakek Lie dengan menyertai senyumnya, selagi dia melangkahkan biji caturnya.

"Aku tidak mau . . ." sahut kakek Ouw setelah dia berpikir, sambil dia pun ikut mengawasi papan catur.

"Apakah tadi malam ada mayat-mayat  yang bergelimpangan lagi diatas gunung Kauw it san …?” tiba tiba tanya kakek Lie; tetap tanpa mengawasi muka teman mainnya dan setelah sejenak dua-dua terdiam  memusatkan  pikiran pada permainan mereka.

Hening lagi, sebab kakek Ouw tidak segera memberi jawaban; sebaliknya pertanyaan kakek Lie itu sangat menarik perhatian tamu Ielaki yang sedang makan dimeja lain.

'Tidak ada ..." akhirnya sahut kakek Ouw yang lalu menyambung perkataannya:

" . . kalau ada yang mati atau ada yang menemukan mayat mayat tentu sudah ada yang datang membicarakan di kedaiku ini ...”

Suasana menjadi hening lagi, sebab kakek Lie dan kakek Ouw sedang memusatkan perhatian mereka pada biji biji catur, sampai ada seorang tamu yang selesai makan dan hendak membayar membikin kedua kakek itu menunda permainan mereka sebab kakek Ouw harus melayani tamu itu. Tamu yang membayar tadi, bukan merupakan tamu laki laki yang membawa bungkusan pakaian; dia masih tetap duduk ditempatnya, meskipun dia sudah selesai makan.

Kakek Lie yang menunggu kakek Ouw sempat melihat dan memperhatikan tamu lelaki itu; dan waktu pandangan mata mereka saling bertemu, maka laki  laki  itu buru buru mengalihkan pandangan matanya kearah lain  sedangkan kakek Lie berpikir didalam  hati, kalau kalau dia   pernah bertemu dengan tamu laki laki itu. Kemudian waktu kakek Ouw sudah datang dan sudah menghadapi lagi perma inan mereka maka terdengar kakek Ouw yang mulai bicara:

*Eh. bagaimana kelanjutan cerita kau kemarin ..?"

Kakek Lie tertawa. Nada tawanya tidak wajar, akan tetapi teman mainnya tidak mengerti atau mungkin tidak memperhatikan.

'Kau masih mau mendengarkan...?” sengaja kakek Lie menanya.

“Mengapa tidak. Aku justeru senang kau bercerita, supaya aku memenangkan lagi perma inan ini - - -“ sahut kakek Ouw dengan menyerta tawa yang wajar bernada jenaka,

'Kalau begitu kau curang, sengaja memecah  perhatian lawan - -“ kata kakek Lie, juga bernada jenaka.

"Ah ! tidak curang. Aku bahkan mengalah, menghadapi perlawanan kau sambil aku melayani para tamu; ha ha ha - - -

- " kakek Ouw membantah dan menyambung dengan tawa girang.

Kakek Lie ikut tertawa juga tawa girang.

" . .mendekati waktu subuh, Lie Kim  Nio  pulang seorang diri tanpa suaminya. Pakaiannya  banyak yang koyak  dan kotor, membikin ayahnya menduga telah terjadi suatu pergumulan antara Lie K im Nio dengan suaminya. Akan tetapi Lie Kim Nio menangis, menggerung gerung dan merangkul sepasang kaki ayahnya, mengatakan bahwa  dia kena diperkosa oleh seorang laki laki - -“

“… hampir Lie K im Nio kena ditendang oleh ayahnya, sebab sang ayah menduga bahwa tuduhan menantunya ternyata terbukti. Akan tetapi sambil menangis Lie K im Nio mengatakan bahwa dia diperkosa bukan waktu dia berada didalam rumah, sebaliknya baru saja terjadi waktu dia mencari suaminya . . .” "... . dikatakan selanjutnya oleh Lie K im Nio, bahwa setelah dia kepayahan mencari suaminya, maka dia  duduk  diatas sebuah batu besar diatas gunung Hin san lalu secara tiba tiba dan diluar dugaannya, ada seseorang yang membekap dia dari sebelah belakang. Pada mulanya  Lie Kim Nio menyangka sebagai perbuatan Ong Koen Bie, suaminya, yang sengaja menggoda sehingga dia  diam membiarkan. Akan tetapi, ternyata yang melakukan adalah seorang laki laki yang belum pernah dia kenal, dan dia segera pingsan sebab dia terkena obat bius waktu didekap tadi . . .”

“ . . dia tak mengetahui apa kejadian berikutnya,  akan tetapi waktu dia tersadar dari pingsannya; maka diketahui olehnya bahwa dia sudah diperkosa orang didalam sebuah goa yang terdapat diatas gunung itu.. ."

('Kurang ajar. . . !" maki Cie in suthay waktu seorang pemuda berusaha hendak membentur  dia  selagi mereka berpapasan ditengah jalan menuju ke pintu kota sebelah selatan kota raja. Akan tetapi, sehabis dia memaki, maka selekas itu juga biarawati yang muda usia dan  yang  cantik jelita itu menyambung dengan kata kata "o mi to hud ".

Dilain pihak Lie Hui Houw jadi menunda ceritanya dan menunda langkah kakinya mengawasi pemuda itu  yang ternyata berkawan sebanyak tiga orang,  dan ketiga pemuda itu ikut mengawasi sambil perlihatkan lagak mengejek dan menantang.

"Jangan hiraukan mereka” kata Cie in  suthay  yang mengajak meneruskan perjalanan mereka hendak meninggalkan kota raja.

Lie Hui Houw patuh menurut, menyambung  langkah kakinya buat mendampingi biarawati yang muda  usia  dan yang cantik jelita itu, sambil dia meneruskan lagi kisahnya mengenai kakek Lie berdua dengan si kakek Ouw yang sedang menceritakan peristiwa Lie Kim Nio kena diperkosa ); “....kasihan dia," terdengar kakek Ouw nyelak bicara selagi kakek Lie menunda bercerita  untuk menuang arak; dan didalam hati kakek Ouw, sebenarnya dia  merasa sangat berkesan dengan ceritera tentang diperkosanya Lie Kim Nio yang katanya terjadi di dalam sebuah goa diatas gunung Hin san. Serasa dia pernah mendengar gunung Hin san itu' pikir kakek Ouw didalam hati.

"Ya, kasihan dia," sahut kakek Lie. Dengan dia sudah tentu dimaksud sebagai kata ganti 'Lie Kim Nio', dan kakek Lie langsung menambahkan perkataannya :

"...dia telah menjadi korban  perbuatan laknat. Korban keganasan seorang iblis dan iblis itu adalah si iblis penyebar maut,,!"

( Cie in suthay menunda langkah kakinya menatap muka teman seperjalanan dan selekas itu juga dia  mengajukan pertanyaan:

“Siapa kau bilang…?”

Lie Hui Houw tidak segera memberi jawaban, perlihatkan lagak seperti tidak mengerti dengan pertanyaan  biarawati yang muda usia itu akan tetapi kemudian dia teringat, bahwa dia sedang bercerita tentang si kakek Lie dan si kakek Ouw sehingga dia jadi tersenyum dan berkata :  'Iblis  penyebar maut . . .* Sepasang mata Cie in suthay terbelalak, lalu dia menanya lagi :

'Benarkah perbuatan dia . . . ?”

'Suthay, kau mau mendengarkan aku bercerita, atau kau . .

.'

"Eeh ! dasar kepala besi,  kau ternyata gede ambek . . !” Cie

in suthay buru buru memutus perkataan Lie Hui Houw; namun sambil    dia    menyertai     seberkas     senyum     manis yang berhasil membikin Lie Hui Houw jadi batal ngambek; sebaliknya  ikut   dia   jadi  tersenyum   dan   menyambung lagi bercerita sambil meneruskan lagi langkah  kakinya sebab biarawati yang cantik jelita itu sudah mendahului):

“Suasana disekitar kedai nasi itu menjadi hening. Hening secara mendadak sebab kakek Lie mengucap kata kata iblis penyebar maut. Si kakek Ouw bahkan sampai menunda gerak langkah biji caturnya, sepasang matanya terbuka lebar mengawasi teman mainnya, disaat teman mainnya itu juga sedang mengawasi dia, keduanya jadi saling rnenatap, dengan sinar mata masing masing yang mengandung arti. Sinar mata kakek Ouw seperti orang yang kaget, heran dan entah bercampur dengan rasa apa lagi; sedangkan s inar mata kakek Lie mengandung arti menyelidik !