Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 03

Jilid 03

SEMENTARA itu, bunyi suara cambuk terdengar menggetar di udara waktu cambuk itu sudah dikuasai sepenuhnya  oleh laki laki bekas orang hukuman itu dan cambuk itu bergerak bebas bagaikan seekor naga yang sedang menari.

('Louw jieko, kau lihatlah aku gunakan ilmu kebanggaanmu.,..!) laki laki bekas orang hukuman itu berkata didalam hatinya sambil dia mempermainkan cambuknya yang menderu bersuara bagaikan aum seekor naga sakti.

Tepat pada saat itu, Cie Tong Hee datang menyerang memakai pedang. Gerak serangan Cie Tong Hee bukan menikam akan tetapi membacok sebagai layaknya sebatang golok yang dipakai menyerang. Itulah serangan golok palsu, atau pedang bukan pedang akan tetapi dipakai sebagai golok.

Laki laki bekas orang hukuman itu sudah mempunyai pengalaman waktu tempo dulu, dari itu dia  tidak  mau kena tipu musuh. Dia cepat bergerak sebelum Cie Tong Hee merobah cara penyerangan menjadi pedang yang benar benar pedang. Cambuk ditangannya berputar menderu deru dan secara tiba tiba menghantam  kebagian  belakang  bukan kepada Cie Tong Hee yang sedang menyerang dan ternyata dibagian belakang itu justeru sedang bergegas Lo Tong Soen menyerang dengan menikam memakai goloknya.

Cambuk itu bergerak pesat bagai seekor naga sakti melibat tiang, berhasil melibat golok dan berbareng  dengan  itu  laki laki bekas orang hukuman itu bergerak pesat menghindar dari bacokan pedangnya Cie Tong Hee,  sambil dia  menarik memakai tenaga, mengakibatkan tubuh Lo Tong Soen ikut tertarik dan menggantikan keadaan tempatnya berdiri tadi, sehingga waktu Cie Tong Hee merobah cara menyerang, menikam memakai pedangnya, maka tanpa ampun lagi tubuh Lo Tong Soen yang kena ditikam ! Cie Tong Hee berteriak haru waktu  mengetahui dia mencapai sasaran yang salah.Untung bagi dia bahwa dia t idak sempat diserang lagi oleh cambuk musuh, sebab laki  laki  bekas orang hukuman itu sedang dihadapi oleh  Hek  houw Thio Leng yang memakai sebatang tombak panjang.

Cepat cepat Cie Tong Hee melepaskan pegangannya pada pedangnya yang ujungnya masih membenam ditubuh Lo Tong Soen, dan tanpa menghiraukan suatu apa lagi dia memutar tubuh hendak lari meninggallan tempat pertempuran itu.

Gerak laki laki bekas orang hukuman itu menjadi tertunda sebab dia diserang secara mendadak oleh Hek houw  Thio Leng memakai sebatang tombak panjang akan tetapi tidak sukar baginya untuk berkelit menghindar dari tusukan tombak, sedangkan untuk menghadapi gerak berikutnya tangan kirinya berhasil memegang bagian lain pada tombak yang sedang dipegang oleh si macan hitam;  lalu cambuk ditangan  kanannya bergerak bagaikan seekor naga sakti me lepas api, mengakibatkan rambut rambut dari Hek houw Thio Leng lepas dari kepalanya, dan si macan hitam berteriak  kesakitan melepas pegangannya pada tombaknya dan cepat  cepat  dia lari kabur dengan membekap kepalanya yang kena dicukur gundul.

' Kunyuk ! Kau mau lari kemana . . - . ?" bentak laki laki bekas orang hukuman itu, lalu dia me lontarkan tombak yang sedang dipegang pada tangan kirinya dan tombak  itu melayang mencapai sasaran pada betis kanan Cie Tong Hee, tembus dari bagian belakang kebagian depan. Jadi bukan si macan hitam yang diarahnya !

Sekali lagi Cie Tong Hee berteriak, akan tetapi dia tetap lari dengan kedua kakinya yang pincang, tidak lari cepat sebab tombak panjang yang masih  membenam. Namun  demikian laki laki bekas orang hukuman itu tak rnengejar, sebaliknya cambuknya menderu deru sambil dia mendekati para pemuda yang masih sedang mengepung Yo Bun Lian. Para pemuda itu menjadi sangat ketakutan, mereka kabur karena melihat pemimpin mereka sudah mendahulukan.

Yo Bun Lian ingin mengejar, akan tetapi laki laki bekas orang hukuman itu mencegah.

"Akan tetapi, musuh musuhku belum tewas, aku harus membalas dendam . . !" kata Yo Bun Lian yang hendak membantah.

"Sia sia kau mengejar. Si 'kait baja' Cie Tong Hee dan Hek houw Thio Leng tidak akan mungkin singgah ditempat Cung lien hui. Mereka pasti menghilang dan Cung lien hui  juga segera akan dibubarkan oleh Liem Biauw Kie dan Liem Toan Ceng.. .”

"Akan tetapi, aku harus membalas dendam.. .!” ulang Yo Bun Lian yang masih berusaha membantah, ingin melakukan pengejaran terhadap musuh musuhnya.

Laki laki bekas orang hukuman itu lalu berkata lagi: "Kau memang wajib membalas dendam dan sudah tentu kau harus lakukan dengan kedua tanganmu sendiri . . . !'

"Maksudmu, kau tidak mau membantuku lagi . . . ?” tanya Yo Bun Lian, dan selekas itu juga dia  mengalirkan   air  matanya.

"Bukan aku tidak mau membantu, akan tetapi aku katakan kau wajib melakukan dengan tanganmu sendiri ...." sahut laki laki itu yang mengulang perkataannya.

"Akan tetapi, ilmu kepandaianku . . .” tak mampu Yo Bun Lian melengkapi perkataannya, kepalanya  menunduk dan semakin banyak berlinangkan air matanya,

"Justru itulah sebabnya, aku sengaja membiarkan kedua musuhmu itu hidup untuk sementara. Kau masih muda akan tetapi kau sekarang menjadi anak yatim piatu. Kalau kau mau mengikuti saranku, sebaiknya kau belajar lagi, cukup lagi lima tahun dan kau pasti akan berhasil membalas dendam tanpa bantuan lain orang . . .”

"Aku . ., aku ... apakah kau mau menerima aku menjadi muridmu. . ?” tanya Yo Bun Lian, namun tetap dengan kepala menunduk. Laki laki bekas orang hukuman itu tertawa tawa wajar karena merasa lucu, bukan tawa  menghina  atau mengejek, lalu dia berkata:

"Aku bukan tidak mau mempunyai murid, sebab aku masih mempunyai urusan lain, akan tetapi ada seorang tayhiap yang menjadi sahabatku, namanya Wie Beng Yam. Dia menetap diatas gunung 0ey san bersama  isterinya  seorang  liehiap. Kalau kau mau, akan aku tulis surat supaya mereka menerima kau sebagai murid..,”

Nama tayhiap Wie Beng Yam memang sudah pernah didengar oleh Yo Bun Lian dari almarhum ayahnya, dari itu sudah tentu dia menjadi sangat girang kalau dapat diterima menjadi murid pasangan suami isteri yang terkenal gagah perkasa itu.

Didalam kuil tua itu tidak ada kertas buat menulis  surat, akan tetapi bagaikan orang yang teringat dengan sesuatu maka laki laki bekas orang hukuman itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu benda yang lalu dia  berikan pada Yo Bun Lian, sambil dia berkata :

"Kau bawa saja ini dan kau katakan bahwa aku yang menghendaki kau belajar pada mereka ..."

Yo Bun Lian menyambuti dan meneliti benda itu, yang ternyata adalah sebuah lencana yang dibuat dari bahan perak, tanpa ada huruf kecuali gambar seekor macan terbang.

Dara yang sudah menjadi anak yatim piatu itu percaya, bahwa lencana yang dia pegang itu akan menjadi semacam pengenal bagi tayhiap Wie Beng Yam, dari itu dia mengucap terima kasih sambil berlutut, mengakibatkan lelaki  bekas orang hukuman itu menjadi kelabakan. Dengan demikian meskipun berat rasa hatinya, namun Yo Bun Lian melepas juga kepergian  lelaki yang  telah  menolong dia itu yang katanya masih mempunyai urusan lain  namun yang agaknya tidak mau dia memberitahukan.

Dipihak laki  laki bekas orang hukuman itu se lekas dia meninggalkan kuil tua itu, maka dia  memerlukan singgah dirumah Liem Toan Ceng yang dapat dia temui, namun Liem Biauw Lie sudah menghilang entah kemana juga Hek  houw Thio Leng dan si 'kait baja' Cie Tong Hee sudah menghilang,

Laki laki bekas orang hukuman itu berhasil  mengancam Liem Toan Ceng, sampai dia yakin bahwa hartawan itu tidak akan mengganggu dara Yo Bun Lian, dan dari hartawan itu juga; laki laki bekas orang hukuman itu berhasil 'memeras' sejumlah uang buat bekal dia  meneruskan perjalanannya, menuju gunung Ceng liong san !

Sementara itu, ada dusun Liong bun yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dari atas gunung Ceng liong san.  Dusun itu keadaannya aman dan tenang, bebas dari kekacauan atau kerusuhan, mungkin  karena letaknya yang terpisah  tidak terlalu jauh dengan gunung Ceng liong san sehingga pihak yang merasa biasa mengacau menjadi agak jeri  terhadap orang orang Ceng liong pang, sedangkan pihak Ceng liong pang sendiri agaknya memang tidak mau mengganggu ketenangan kampung itu.

Seorang laki laki yang usianya lebih dari lima puluh tahun, mengusahakan sebuah kedai nasi yang lumayan besarnya, akan tetapi hanya dibantu oleh anak perempuannya, Mulan; dan menantunya yang bernama Pek Tiong Ho.

Laki laki pengusaha kedai nasi itu agak kurus dan agak tinggi bentuk tubuhnya, kelihatannya dia adalah seorang laki  laki yang sudah biasa bekerja keras, memperjuangkan hidup demi memupuk keluarga. Akan tetapi sayang isterinya sudah mendahulukan dia sehingga dia hidup menjadi duda tidak mau kawin lagi karena setia dengan janji waktu dia mengawini isterinya dulu.

Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa tempo dulu selagi dia belum mempunyai anak bini, laki laki itu pernah ikut menjadi anggota persekutuan Ceng liong pang, punya kedudukan yang cukup lumayan berkat ilmu silatnya cukup mahir, sampai banyak orang mengenal dia sebagai K im to Hua Beng Yao, si golok emas; sebab dia  memang bersenjata sebatang golok yang mengeluarkan sinar kuning seperti emas.

Sekarang Hua Beng Yao hidup sederhana sebagai seorang pengusaha kedai nasi, dia  sudah berusaha dan berhasil melupakan masa lalu yang hampir se lalu menempuh bahaya, akan tetapi dalam suasana gelak dan tawa mengikuti gelora semangat muda yang membara, sekarang goloknya sudah dia buang, jauh ke dasar jurang  Ceng liong san selagi dia bertekad hendak meninggalkan gunung yang sudah  cukup lama menjadi tempat dia bernaung, mendampingi 'Sam ceecu' yang gagah perkasa, yang dia sangat kagumi dan hormati, meskipun usia 'sam ceecu" itu lebih muda dari usianya sendiri.

Tekad Hua Beng Yao meninggalkan gunung Ceng liong san adalah ketika dia mendengar bahwa 'sam ceecu' sudah tewas didalam rumah penjara pihak pemerintah bangsa asing. Dia sangat menyesal bahwa dulu 'Jie ceecu' dan si burung Hong' yang menjadi kekasihnya 'sam ceecu' tidak berhasil menolong membebaskan sam ceecu Itu, sedangkan dia sendiri, kedudukannya didalam 'pang' atau persekutuan tidak memungkinkan buat dia  ikut  orang orang yang sedang berusaha hendak memberikan pertolongan terhadap sam- ceecu, disamping kepandaiannya memang tidak memadai buat dia menerjang tembok pertahanan rumah penjara tempat sam ceecu itu ditahan.

'adiknya dw yang nakal” istilah itu kadang-kadang Kim to Hua Beng Yao gunakan terhadap sam ceecu yang sudah dia anggap sebagai adikz kandungnya, sebab meskipun si golok emas ini menjadi anak buahnya sam-ceecu, akan tetapi sang pimpinan itu senang bergaul dan senang bergurau terhadap semua bawahannya sedangkan terhadap si golok emas yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya, sam ceecu itu selalu menggoda memakai 'istilah kakak yang Jenaka'. 'Kakak yang jenaka', Padahal Kim to Hua Beng Yao tidak semestinya dia digolongkan sebagai seorang yang gemar melawak atau berkelakar, Adik yang nakal' itu menganggap bahwa  sang kakak jenaka sebab Kim-to Hua Beng Yao seringkali bersikap sebagai 'orang tua yang cerewet' atau 'bawel', sering memberikan nasehat nasehat terhadap kenakalan sang adik, sebab 'adiknya yanp nakal" itu kadang kadang bersikap "berandalan". Tetapi, karena sikapnya yang berandal itu, justeru sang 'adik yang nakal'  itu  berhasil merebut cinta  kasih si burung Hong yang cantik dan perkasa puteri  tunggal pangcu Ceng liong pang yang menjadi idaman dan rebutan orang orang muda yang perkasa !

Akhir akhir ini sete lah sekian lama Kim to Hua Beng Yao mengusahakan kedai nasinya mendadak saja dia seringkali memimpikan sang adik yang nakal itu datang menemui dia. Muka adik yang nakal itu cerah dan  tetap  kebiasaannya berlaku nakal, sehingga mimpi itu amat berkesan bagi Kim to Hua Beng Yao; namun yang berakhir dengan suatu kesedihan apabila dia telah tersadar dari tidurnya sehingga lagi-lagi si golok emas itu harus mengalirkan air matanya, mengenang- kan nasib adik yang nakal itu.

Pagi itu seperti biasanya dia bergegas membuka kedai nasinya bersama menantunya; sedangkan Hua Mu lan masih sibuk didapur menyiapkan beberapa macam makanan.

Kim to Hua Beng Yao masih teringat dengan mimpinya semalam, bahwasanya lagi lagi dia te lah kedatangan sang adik yang nakal, akan tetapi kenyataannya yang segera datang adalah 6 orang lelaki muda yang lagaknya sangat garang dan kedatangan mereka ini bahkan langsung sudah menyerang dan mengepung menantunya, Pek Tiong Ho tanpa sesuatu sebab yang diketahuinya.

Pek Tiong Ho tidak mengerti ilmu silat dan Kim to Hua Beng Yao tidak pernah menduga bahwa menantunya bakal diserang bahkan dikepung. Dari itu tidak sempat si golok mas Hua Beng Yao menolong menantunya yang rebah terluka parah, akan tetapi belum sampai menemui ajalnya, sebab Kim to Hua-Beng Yao lompat menerkam dan menendang sekaligus 2 orang pemuda yang sedang berusaha hendak membinasakan menantunya itu.

“Anjing anjing geladak! apa sebab kalian datang melakukan pengacauan..,?' tanya Kim to Hua Beng Yao membendung rasa marah dan sempat melirik ke arah Hua Mu lan yang datang sambil berlari dan menangis,  merangkul suaminya yang rebah terluka parah.

Empat pemuda yang berdiri dengan sikap mengurung Kim to Hua Beng Yao saling mengawasi dan sempat pula mereka melirik ke arah kedua rekannya yang sedang  merayap bangun, bekas kena tendangan tadi.

Para pemuda itu agaknya datang dengan membawa tekad dan kata sepakat. Mereka tentunya memang sudah merencanakan hendak membunuh Pek Tiong Ho dan sudah pula memperhitungkan adanya Kim to Hua Beng Yao  yang pasti akan merintangi niat mereka.

Dengan suatu tanda yang mereka berikan keempat pemuda yang bersikap mengurung itu  menyiapkan  senjata  mereka yang rata rata memakai golok, sementara kedua pemuda yang kena ditendang  tadi juga ikut menyiapkan golok mereka namun keduanya tetap berdiri waspada diluar garis pengurungan.

Ke 4 pemuda yang sudah menyiapkan golok golok itu tidak langsung me lakukan penyerangan terhadap Kim to Hua Beng Yao, mereka bergerak dalam lingkaran  dengan  langkah langkah kaki dan sikap “pat kwa”.

Pada mulanya Kim to Hua Beng Yao perlihatkan  muka geram dan sikap mengejek, sebab melihat para pemuda itu menyiapkan senjata golok suatu senjata yang biasa menjadi permainannya. Akan tetapi pada detik detik berikutnya dia menjadi bercekat sebab mengenali segala gerak para pemuda itu, sehingga dia  menjadi bertambah heran, entah apa sebabnya menantunya bermusuhan dengan para pemuda dari golongan Pat kwa bun, suatu golongan yang sangat dikenal dengan ilmu silat golok Pat kwa !

Betapapun halnya, waktu itu Kim-to Hua Beng Yao tidak mempunyai kesempatan buat berpikir lama. Orang-orang yang mengurung dia adalah orang orang muda yang tidak menghiraukan kesopanan kaum rimba persilatan oleh karena mereka segera lakukan penyerangan meskipun Hua Beng Yao tidak bersenjata.

Didalam hati Kim to Hua Beng Yao jadi mengeluh, akan tetapi gerak tubuhnya masih cukup lincah buat dia menghindarkan diri dari serangan dua  orang pemuda dan sesuai dengan perhitungannya, selagi dia berkelit dan melompat mundur, dia  pasti bakal diserang lagi oleh dua orang pemuda yang lain. Agak nekad kelihatannya, waktu Kim to Hua Beng Yao berusaha hendak merebut golok seorang pemuda yang sedang membacok, sementara sebelah kakinya menendang seorang pemuda yang lainnya.

Dua gerak berlainan yang dilakukan sekaligus oleh Kim to Hua Beng Yao, dan si golok mas ini  berhasil  menangkap lengan kanan musuh yang sedang memegang golok,  akan tetapi tendangannya nyaris karena lawannya dapat melompat menghindar dan berbareng pada saat itu dua pemuda lainnya datang menerkam, yang seorang membacok kakinya dan yang seorang lagi hendak menikam iganya Hua Beng Yao ! Kim to Hua Beng Yao harus menolong diri dari ancaman orang orang yang sedang menyerang itu, sehingga  terpaksa dia harus melepaskan pegangannya, batal hendak merebut golok musuh, sebaliknya dia  harus melompat jauh buat menghindar namun dia disambut oleh dua  orang pemuda  yang pernah dia tendang tadi.

Kedua pemuda yang sejak tadi berdiri dengan siap siaga, dapat menduga dengan tepat arah Hua Beng Yao lompat menghindar, dari itu mereka segera menyapu dengan golok golok mereka selagi Hua Beng Yao baru saja menginjak lantai.

Sekali lagi Kim to Hua Beng Yao harus lompat tinggi buat menghindar. Dia menyesal bahwa pada saat itu dia tidak bersenjata sehingga tidak dapat dia menangkis senjata musuh dan menghadapi mereka.

Keadaan si golok mas Hua Beng Yao tetapi dalam gawat karena selagi dia lompat tinggi keatas; dibawah sudah siap menunggu musuh musuh yang akan menyerang dia lagi. Dari itu waktu dia lompat tadi, sudah dia perhitungkan dan kedua telapak tangannya dia gunakan buat mendorong atap rumah, sehingga waktu tubuhnya meluncur turun, maka menjadi menyimpang namun dia tetap dikejar oleh pemuda lain yang menerkam hendak membelah tubuhnya memakai golok mereka.

Berkat cara dia melesat turun tadi maka sempat Kim to Hua Beng Yao meraih sebuah bangku  panjang se lagi kedua pemuda lawannya hendak membelah dia.

Dengan bangku panjang itu Hua Beng Yao menangkis sepasang golok kedua lawannya, sehingga golok golok itu membenam tidak segera dapat dicabut oleh si pemiliknya, sedangkan Hua Beng Yao menggunakan kesempatan itu buat memandang salah seorang pemuda yang paling berdekatan dengan dia sehingga pemuda itu kena sabetan pedang terlempar jauh, akan tetapi temannya sudah  berhasil mencabut goloknya yang membenam dibangku panjang, akan tetapi dia tak perlu mengulang serangannya, sebab dua te- mannya sudah mewakilkan dia buat menyerang Hua Beng Yao.

Berat perjuangan Kim to Hua Beng Yao yang harus melakukan perlawanan terhadap enam orang pemuda yang bersenjata golok, sedangkan dia sendiri hanya memakai bangku panjang yang dia  gunakan buat menangkis atau memukul.

Bangku kayu yang panjang itu cukup kuat  akan tetapi lambat laun banyak yang rusak terkena bacokan  golok, sementara napas Hua Beng Yao kian memburu karena dia harus mempergunakan tenaga yang besar memakai senjata bangku panjang yang cukup berat itu.

Kim to Hua Beng Yao sangat cemas, terlebih karena menantunya dilihatnya tetap rebah dan Hua Mu lan masih menangis ketakutan, menandakan luka menantunya itu pasti sangat parah.

Tidak ada kesempatan buat Hua Beng Yao mendekati dan melihat keadaan menantunya. Dia harus bertempur bagaikan seekor banteng yang mengamuk. Dua orang pemuda sempat dia hajar pada tulang iga mereka, akan tetapi empat pemuda lainnya tetap mengepung dia  dengan langkah dan gerak patkwa, mengakibatkan Hua Beng Yao bagaikan terkurung di dalam rimba golok.

Disaat keadaan Kim to Hua Beng Yao menjadi semakin gawat, tiba-tiba seorang pemuda lain memasuki pintu  kedai nasi itu. Pemuda ini memiliki tubuh kurus dengan muka pucat seperti hantu kurang darah; dia mengawasi keadaan pertempuran, lalu secepat kilat sepasang tangannya bergerak dan tahu tahu dua batang pisau belati terbang kearah Kim to Hua Beng Yao yang sedang bertempur, dan tepat mencapai sasarannya pada sepasang mata si golok mas ! Kim to Hua Beng Yao meraung karena rasa sakit pada sepasang matanya, dan karena gusar dengan perbuatan pengecut dari pemuda itu, maka  bangku  yang  dipegangnya dia lontarkan dan menimpa seorang pemuda lawannya membikin pemuda itu remuk kepalanya sebab Hua Beng Yao telah mengerahkan sisa tenaganya; setelah itu sepasang tangannya meraba dan mencabut sepasang pisau belati yang membenam di matanya, dan pisau belati itu dia lontarkan ke arah pintu, akan tetapi pemuda yang menyerang tadi sudah pindah tempat.

Si golok mas Hua Beng Yao sudah buta sepasang matanya yang terus mengeluarkan  darah. Akan tetapi dia masih berusaha melawan sisa lawannya yang mengepung dia, dengan mengerahkan alat pendengarannya meskipun dia sekarang tak bersenjata lagi, sebab bangku panjang tadi sudah dia lontarkan.

Beberapa kali Hua Beng Yao masih sempat membebaskan diri dari serangan para pengepungnya, akan tetapi disaat berikutnya sebatang golok membenam dibagian perutnya.

Dengan mengerahkan sisa tenaganya, Hua Beng Yao memukul memakai kepalan tangannya, sehingga si penyerang yang belum sempat mencabut goloknya yang membenam di perut Hua Beng Yao, kena pukulan pada mukanya dan dia rubuh binasa, sementara Hua Beng Yao sempat mencabut golok musuh dari perutnya yang segera memancurkan darah segar !

Hua Mu lan berteriak waktu dia melihat keadaan ayahnya, akan tetapi Hua Beng Yao masih dapat mengamuk dengan sebatang golok ditangannya dan dia bahkan dapat mem- binasakan dua pemuda lagi, untuk kemudian dia  rubuh kehabisan tenaga dan kehabisan darah, apalagi lukanya bertambah dengan beberapa tikaman dan bacokan golok lawannya. Sekali lagi Hua Mu lan berteriak, dan dia  bahkan melepaskan rangkulannya pada suaminya dan lari mendekati tempat ayahnya yang rebah tewas akan tetapi secara tiba tiba dia ditarik oleh pemuda yang bermuka seperti hantu kurang darah, yang tadi membokong ayahnya memakai sepasang pisau belati. Pemuda bermuka pucat itu menarik sebelah tangan Hua Mu lan, sampai Hua Mu lan terkulai didalam rangkulan pemuda itu, dan kedua muka mereka  menjadi saling berdekatan; lalu secara tiba tiba Hua Mu lan  berteriak lagi:

"Kau… kau. ..!" Agaknya Hua Mu lan kenal dengan pemuda itu,dia tak kuasa menyebut namanya, sebab pemuda itu sebenarnya adalah Go Cay Sim, yang sudah lebih dari lima tahun tidak pernah dilihatnya lagi.

"Ha ha ha . .!" terdengar Go Cay Sim tertawa  bagaikan hantu yang sedang tertawa.

Lima tahun Go Cay Sim harus menghilang dari dusun itu dengan membawa hati yang luka karena Hua Mu lan menolak cintanya.

Kemudian Hua Mu lan menikah dengan Pek Tiong Ho, sehingga Go Cay Sim  jadi menyimpan dendam terhadap pasangan suami-isteri itu, yang sudah dia kenal sejak mereka masih sama sama kecil.

"Kau. .. kau sangat kejam membunuh ayahku ... ' kata Hua Mu lan dengan isak tangisnya, namun dia  meneruskan perkataannya:” . . sekarang aku tahu bahwa kau yang telah mengajak kawan kawanmu karena kau menyimpan dendam

..."

Sambil mengucapkan perkataannya, Hua-Mu lan pun meronta, akan tetapi Go Cay Sim perketat rangkulannya memakai sebelah tangan kanannya.

"Siapa yang kejam. Lan moay.. ? kata Go Cay Sim dengan suara lemah, menandakan rasa kasihnya belum padam dan tetap menyebut adik kepada perempuan yang sudah menjadi bini Pek Tiong Ho itu dan Go Cay Sim  menyambung perkataannya:

" ... siapa yang kejam, Lan moay? kau atau aku. Kau mau bergaul dengan aku, dan kau berikan harapan padaku, akan tetapi waktu datang lamaranku kau tolak dan kau katakan bahwa ..."

Tak kuasa Go Cay Sim meneruskan perkataannya. terasa amat pedih hatinya kalau harus teringat lagi dengan kata kata yang dahulu pernah dikenang dan diucapkan oleh Mu lan akan tetapi sesaat kemudian Go Cay Sim berkata lagi :

" - - akan tetapi, aku tetap menyintai kau, meskipun perlakuan kau itu aku anggap sangat kejam sekali - - -." terdengar perlahan dia mengucapkan perkataannya itu, juga sikapnya kelihatan berobah menjadi lunak, dan dia menyambung lagi perkataannya sehabis sejenak dia menunda

:

" - -bagiku, tak ada bedanya kau dulu dan kau sekarang. Aku tetap menyintai kau dan aku tetap merindukan kau - - - “

Go Cay Sim kemudian berusaha hendak mencium  muka Hua Mu lan yang masih berada didalam rangkulannya.

Hua Mu lan meronta menghindar, dan dia berkata : "Aku… aku sekarang sudah menjadi isterinya - -“

"Aku tidak perduli ! kau adalah milikku, aku tidak rela tubuhmu disentuh oleh laki-laki lain. Aku tidak rela, aku benar benar tidak rela - - - I'

Wajah muka Go Cay Sim kembali jadi berobah. Sekarang berobah bagaikan manusia kemasukan iblis, yang tak kuasa mengekang nafsu dan dia bahkan berkata lagi : "... katakan kepadaku, apa kelebihan dia sehingga kau mau menyerahkan tubuhmu buat dia, tetapi kau menolak c intaku ? Katakan.!''

Agaknya Go Cay Sim benar benar sudah kembali menjadi buas. Pakaian Hua Mu lan kemudian dirobeknya, sehingga bagian dadanya yang terlindung baju dalam yang terbuat dari kain warna merah menjadi kelihatan jelas.

Hua Mu lan merintih ketakutan sementara Pek Tiong Ho yang sebenarnya belum binasa, tidak berdaya memberikan pertolongan. Hanya dia perdengarkan suara yang tidak jelas.

Sementara itu, Hua Mu lan merintih terus dan  tubuhnya yang lemah terkulai bahkan menjadi terjatuh rebah dilantai, namun Go Cay Sim tetap merangkul dan berkata lagi : 'Kau telah menyiksa aku. Lebih dari lima tahun lamanya  aku terpaksa menjauhi kau buat mencari ilmu, akan tetapi kau tetap terbayang dan aku tidak sanggup menghapus kau dari lubuk hatiku . ."

"Aduh, aduh, jangan…” rintih Hua Mu lan yang tak kuasa menahan tubuh pemuda itu yang menindihkan  dia  dan memaksa hendak membuka pakaiannya.

Disaat Go Cay Sim  hampir berhasil mencari niatnya, mendadak datang dua orang laki laki dan perempuan usia pertengahan. Yang laki laki menjamah punggung Go Cay Sim yang lalu dia lontarkan, sedangkan yang perempuan karena  tak kuasa menahan marah melihat perbuatan laknat yang hendak dilakukan oleh Go Cay Sim, maka dengan suatu  tikaman pedang nyawanya pemuda itu melayang sebelum dia sempat melihat orang yang membunuh dia !

)c(dw kz)< X)(hend)o(

ORANG yang menolong Hua Mu lan itu adalah Cin Yan Hui berdua isterinya, Lee Shiang Yan; yang di kalangan rimba persilatan terkenal sebagai yan siang  hui atau sepasang pendekar si burung walet.

Suami isteri yang usianya mendekati 40 tahun itu masih tetap gemar mengamalkan ilmu menegakkan keadilan. Mereka datang tepat menolong Hua mu lan dan suaminya serta membinasakan Go Cay Sim akan tetapi mereka telah berlaku lengah dengan membiarkan sisa dua pemuda  temannya  Go Cay Sim melarikan diri padahal mereka adalah  anggota persekutuan Ceng liong pang diatas gunung Ceng liong san.

Sebagai akibat dari perbuatan mereka itu maka 'yan siang hui’ jadi bermusuhan dengan pihak Ceng liong pang, terutama dengan kedua kakaknya Go Cay Sim yang bernama Go  Cay Bun dan Go Cay Bu.

Tiga bersaudara Go itu diatas gunung Ceng liong san  dikenal sebagai Liong in sam koay atau tiga manusia jejadian dari lembah naga, setelah terjadinya peristiwa Go Cay Sim dibinasakan maka dua bersaudara Go menjadi Liong  in  jie koay atau sepasang manusia  memedi lembah naga.  Liong-in jie koay yang menerima laporan dari sisa anak buah adik mereka yang bungsu merasa sadar bahwa 'yang siang hui' bukan merupakan musuh yang lemah; sehingga bukan pekerjaan yang mudah buat mereka melakukan  balas  dendam. Akan tetapi, seperti kata seseorang bahwa di a lam ini memang penuh hantu, maka Liong in jie koay go Cay Bu berhasil membinasakan pasangan suami isteri yang siang hui dengan memakai muslihat yang keji.

'Yang siang hui mempunyai seorang anak dara yang baru enam belas tahun umurnya. Dara manis lincah dan manja terhadap kakeknya (ayahnya Cin Yan Hui).

Kakek Cin mahir ilmu silatnya, juga dara Cin  Siao  Yan pandai ilmu silat sebagai hasil didikan ayahnya dan ibunya.

Kakek Cin tahu bahwa anak dan menantunya tewas di tangan Liong in jie koay Go Cay Bun dan berdua Go Cay Bu, akan tetapi kakek Cin berpendapat tak ada guna permusuhan dan balas dendam berlangsung.

Jadi tidak ada niat sikakek untuk membalas dendam atau menganjurkan cucunya membalas dendam, sebaliknya  kakek Cin justeru ingin menghindar dengan mengajak cucunya mengungsi dari tempat kediaman mereka.

Lee Siang Yan, ibunya Cin Siao  Yan; mempunyai dua keponakan di kota Lu liang thang. Mereka adalah Lee Kuo Cen dan Lee Su Nio sehingga kakek Cin bermaksud hendak mengajak cucunya mengungsi ke kota Lu liang thang.

Akan tetapi agaknya memang sudah menjadi kehendak takdir bahwa kakek dan cucu itu harus melintas gunung Ceng liong san, dan bertemu dengan Liong in jie koay yang justru sedang bertugas meronda bersama sekelompok  anak  buahnya.

"Liong in jie koay . .. " kata si kakek dengan cemas waktu dihadang, dan dia menyambung perkataannya :

"... kalian telah membunuh anak dan menantuku, apakah masih belum cukup buat kalian biarkan kami lewat - - ?"

“Ha ha ha ! permusuhan akan tak sudahnya  balas membalas akan terus berlangsung kalau aku tidak menghabiskan kalian sampai ke akarnya . “sahut Go Cay Bun yang menyertai tawa menyeramkan.

"Ya ya. mari kita tempur mereka. Lebih baik kita mati dari pada dihina. " kata Cin Siao Yan kepada kakeknya.

“Siao Yan, lekas kau lari dan aku rintangi mereka ini "

kata kakek Cin yang menyadari bahwa suatu  pertempuran akan terjadi.

Dara manja itu tidak rela membiarkan kakeknya yang bertempur dia siap hendak menghadapi musuh akan tetapi sang kakek tetap menghendaki cucunya kabur. Sementara itu Go Cay Bun menjadi tertawa menghina dan berkata.

“Tidak seorang dari kalian yang bakal lolos, ha-ha-ha . . . !"

Go Cay Bun menyudahi perkataannya itu dengan suatu bacokan golok mengarah si kakek tua, sementara si kakek menangkis memakai pedangnya, sambil dia berteriak supaya cucunya melarikan diri.

Cin Siao Yan merasa sangat penasaran, akan tetapi dia terpaksa bergegas hendak lari; namun Go Cay Bu tertawa dan mengejar sambil dia mengeluarkan senjatanya yang berupa pecut panjang.

Pecut panjang itu dikibaskan diudara sampai perdengarkan bunyi suara menderu, lalu pecut itu menyerang Cin Siao Yan mengarah bagian betis kakinya.

Meskipun dia  sedang lari, akan tetapi Cin Siao  Yan mengetahui datangnya serangan. Dara manja ini lompat tinggi dan terhindar dari serangan tadi dia pun telah mengeluarkan pedangnya, sehingga waktu  Go Cay Bu datang mendekati maka dara manja itu mendahulukan menyerang, menikam memakai gerak tipu 'burung walet menembus daun  jendela. Go Cay Bu tertawa, dia berkelit sementara pecutnya lagi lagi telah menderu, menghajar dengan gerak tipu 'naga hijau melibat tiang*. Cin Siao Yan cukup mahir ilmu silatnya, akan tetapi dia belum pernah melakukan pertempuran, apalagi menghadapi lawan bengis seperti Go Cay Bu, yang mukanya hitam seperti hantu dari lobang dapur.

Dara yang biasa berlaku manja itu menjadi cemas dan gentar, sehingga datang rasa takutnya. Syukur bagi dia bahwa dalam gugupnya dia  masih dapat menghindar dari pecut lawannya.

Sekali lagi pecut Go Cay Bu menyerang dan sekali lagi Cin Siao Yan bergegas menghindar. Dara yang biasa berlaku manja  itu  mengandalkan kelincahan tubuhnya dan menggunakan gerak tipu 'lee hie-ta teng" (ikan gabus meletik), dengan dem ikian sampai berulang kali dia dapat menghindar, akan tetapi tidak sempat dia balas melakukan penyerangan.

Sekali terdapat juga kesempatan buat Cin Siao Yan balas menyerang, akan tetapi dara manja itu tidak menggunakan kesempatan itu buat melakukan penyerangan, melainkan dia buru buru melarikan diri.

Sekali lagi Go Cay Bu menjadi tertawa, lalu dengan lima kali lompatan secara beruntun dia mengejar Cin Siao Yan, untuk kemudian pecutnya bergerak dan berhasil melibat betis kaki dara manja itu.

Dengan suatu gerakan, Cin Siao Yan  terjatuh  celentang. Dia berusaha hendak bangun berdiri, akan tetapi sekali lagi Go Cay Bu menarik dan sekali lagi dara manja itu jatuh celentang.

Cin Siao Yan meramkan sepasang matanya, siap menunggu maut ! Akan tetapi Go Cay Bu malah tertawa sambil dia melangkah mendekati, sedangkan pecutnya beberapa kali perdengarkan suara menderu sebab agaknya dia  sengaja mengancam, bukan untuk melukai Cin Siao Yan.

Dara yang biasanya berlaku manja itu menjadi  heran, karena maut belum merengut nyawanya, dia memberanikan diri membuka sepasang matanya buat melihat akan tetapi selekas itu juga dia  buru buru menutup lagi sepasang  matanya, bahkan dibantu dengan sepasang  telapak  tangannya, sebab dilihatnya musuh itu sedang membuka celana.

"Mengapa kau tidak bunuh aku . .  . .?"'tanya  dara manja itu, tetap meram dan menutup bagian mukanya memakai sepasang telapak tangannya, sebab dia  tidak mengetahui bahwa musuh justru hendak memperkosa dia. "Ha ha ha ha ! Dara manis seperti kau, akan sia sia kalau mati muda. Akan kuajak kau kesatu jalan menuju sorga "

sahut Go Cay Bu yang lagi lagi menyertai tawa  yang menyeramkan.

Cin Siao Yan tetap meramkan sepasang matanya, akan tetapi tiba tiba dia menjadi terkejut waktu dia merasakan tubuhnya dirangkul.

Dia meronta, apalagi waktu musuh yang hitam mukanya itu berusaha hendak mencium dan membuka pakaiannya.

Dara manja itu berteriak. Berteriak sekerasnya.

Sementara itu laki laki bekas orang hukuman yang telah melakukan perjalanan sedemikian jauhnya hari itu justru sedang menyusuri jalan daerah pegunungan Ceng liong san dengan semangat membara membawa dendam.

Akan tetapi, mendadak dia menjadi terpesona waktu didengarnya ada pekik teriak seorang wanita yang meminta tolong.

Dihentikannya langkah kakinya, telinganya mencari arah suara yang didengarnya tadi setelah itu dia  lompat  melesat dan hinggap didekat tempat Cin Siao  Yan yang sedang menghadapi bencana hendak diperkosa. "Laki laki laknat ., !" laki laki  bekas orang hukuman itu memaki karena tak tertahankan marahnya menghadapi percobaan perbuatan laknat itu.

Go Cay Bu lompat bangun. Sempat dia meraih pecutnya, akan tetapi lupa dia memakai celananya. Karena marahnya, maka dihajarnya laki laki yang merintang niatnya yang hendak memperkosa Cin Siao Yan. Laki laki bekas orang hukuman itu menggunakan tangan kirinya buat dia menyambuti pecut yang sedang mengarah mukanya, dan waktu dia menarik, maka Go Cay Bu ikut terperosok mendekati, dan sebelum si muka hitam itu siaga, maka dadanya telah dihajar membikin dada itu menjadi bolong bertanda tapak lima jari tangan! Itulah pukulan memakai tenaga 'houw jiauw kang' atau tenaga 'cakar macan'; sehingga mati seketika.

Cin Siao  Yan pun  telah bangun  berdiri. Dia  sedang memancingkan bajunya dan dia terpesona menyaksikan dahsyatnya tenaga laki laki yang telah menolong dia.

"Kouwnio, tidak seharusnya kau berada ditempat yang menjadi daerah kekuasaannya si 'tangan beracun' Yang Cong Loei. . .* kata laki laki bekas orang hukuman itu; setelah dia mendekati Cin Siao Yan.

"Aku.. Aku justeru hendak menyingkir  dari tempat ini bersama yaya. Eh.  . . yaya sedang bertempur melawan rombongan mereka, lekas kau bantu yaya. .”  sahut  dara manja itu yang tiba tiba menjadi gugup  karena  teringat dengan kakeknya.

Sekali lagi telinga laki laki bekas orang hukuman itu  'bekerja' mencari arah bunyi suara senjata beradu, setelah itu dia lari dengan meraih sebelah tangan Cin Siao Yan.

"Tunggu.. .:" seru Cin Siao  Yan, dan dara manja itu memungut pedangnya dan bungkusannya yang terjatuh tadi, setelah itu dia mendekati laki laki penolongnya, sambil dia mcnyertai seberkas senyuman yang manis dan mengulurkan sebelah tangannya untuk dibiarkannya laki laki itu menuntun dia.

Sementara itu kakek Cin hanya dapat bertahan menghadapi serangan serangan lawannya, sedangkan  pundak  kirinya sudah terluka, akan tetapi dia terus berkelahi dan pikirannya lebih dia curahkan kepada Cin Siao Yan yang dia risaukan.

Sekali terjadi pedang si kakek terlempar lepas dari tangannya, kena sampokan golok Go Cay Bun yang berat,

"Ha. ha ha... " tawa Go Cay  Bun yang merintang  waktu anak buahnya hendak membunuh si kakek, karena agaknya Go Cay Bun bermaksud hendak menguliti pecundangnya supaya mati tersiksa.

Si kakek diam menerima nasib dibawah ancaman beberapa senjata tajam dekat tubuhnya. Tak mau orang tua ini memohon ampun hanya didalam hati dia berdoa agar cucunya dapat menyelamatkan diri.

“Hem ! beginikah caranya laki laki menghina seorang tua yang tidak berdaya …?” terdengar tiba tiba kata seseorang yang mengejek.

"Siapa kau yang berani mengejek tuan besar ?"  kata  Go Cay Bun sambil dia mengawasi laki laki  yang datang menuntun Cin Siao Yan.

"Kau menjadi tuan besar atau kau menjadi kacungnya si tangan beracun Yang Cong Loei... . ?” balik tanya laki laki bekas orang hukuman itu, dan nada suaranya semakin bertambah mengejek.

'Bedebah ! Kau berani menyebut nama ketua kami . . !* Go Cay Bun memaki, dan menyudahi perkataannya dengan melakukan penyerangan, membacok memakai  goloknya dengan gerak tipu san ap teng' atau gunung tay san menindih karena agaknya dia ingin membelah tubuh laki laki yang berulang kali te lah mengejek dia.

Laki laki bekas orang hukuman itu mendorong Cin Siao Yan kesisi kiri sambil sebelah kakinya menendang lengan Go Cay- Bun, membikin Go Cay Bun berteriak kesakitan dan golokrya terlempar lepas dari pegangannya.

Gerak berikutnya dari laki laki bekas orang hukuman itu adalah tangan kanannya yang menghajar dada Go Cay Bun, membikin tubuh Go Cay Bun terpental dengan mulut muntahkan darah segar dan mati seketika !

Maka lari kabur semua anak buahnya Liong in jie koay membawa berita buat ketua mereka, si tangan beracun' Yang Cong-Loei ! Sementara itu Cin Siao Yan mengejar orang orang yang sedang melarikan diri sambil dara manja itu berteriak mengancam dan mengangkat pedangnya tinggi tinggi sambil mendadak dia terjatuh karena sebelah kakinya tergelincir menginjak batu dan karena jatuhnya itu, maka berantakan isi bungkusan pakaian yang dibawanya.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi tertawa karena melihat lagak manja Cin Siao Yan yang dia anggap lucu, dan baru hari itu dapat tertawa ria sejak dia kena di penjara !

Dara yang biasa berlaku manja itu menunda niatnya yang hendak memungut pakaiannya yang berantakan. Dia menengadah mengawasi laki laki itu dengan sepasang mata mendelik karena mendongkol, sampai  kemudian  dara  manja itu mengeluarkan lidahnya, balas mengejek laki laki yang menertawakan dia.

Sekali lagi laki  laki bekas orang hukuman itu menjadi tertawa. Tertawa girang  yang sejenak dapat melupakan kepedihan didalam hatinya, serta dendam  yang  sekian lamanya membara didalam hatinya.

Sementara itu kakek Cin sudah mendekati laki laki penolongnya, dia mengucapkan terima kasih dan berkata :

"Cong su, kau telah menanam bibit permusuhan dengan si tangan beracun Yang Cong Loei, dan si kepala besi Cee  Kay Bu, seorang pendeta gadungan yang terkenal ganas dan  laknat ,.. !”

Tiat tauw ciang Cee Kay Bu . .” ulang laki laki bekas orang hukuman itu,

“Benar, sebab kedua bersaudara Go Cay Bun dan  Go  Cay Bu adalah murid muridnya si kepala besi atau si pendeta gadungan itu" sahut si kakek yang kemudian secara singkat memberitahukan tentang awal kisahnya pertempuran dia melawan orang orang Ceng liong pang, namun dia tidak menyebutkan perihal anak dan menantunya yang pernah menolong Hua Mu lan.

Laki laki bekas orang hukuman itu diam mendengarkan sambil dia berpikir, setelah si kakek se lesai bicara; maka dia berkata:

"Lo jin kee, belum lama aku pernah bertemu dengan liehiap Lee Su Nio, dia t idak lagi menetap dikota Lu liang thang . . . “ demikian kata lelaki bekas orang hukuman itu yang kemudian menceritakan kisah pertemuannya dengan Ang ie liehiap Lee  Su Nio, untuk kemudian dia menambahkan perkataannya :

" . . . kalau lo jinkee bermaksud hendak menemui liehiap Lee Su Nio, sebaiknya menyusul ke teluk Hek liu ouw . . . '

"Sangat jauh untuk menempuh perjalanan ke wilayah utara itu - - -" kata kakek Cin dengan muka muram.

"Aku masih mempunyai urusan dengan si 'tangan beracun' Yang Cong Loei, dari itu maafkan aku tak dapat menemani kalian."

Lelaki bekas orang hukuman itu menyudahi perkataannya dengan memberi hormat dan minta diri, karena dia hendak melaksanakan niatnya membalas dendam.

Akan tetapi secara tiba tiba Cin Siao Yan ikut bicara:

"Tunggu! ayahku pernah berkata bahwa seorang ksatria tidak akan menolong setengah jalan ... '

Laki laki bekas orang hukuman itu batal  meninggalkan kakek Cin berdua cucunya. Dia diam termenung karena harga dirinya kena disentuh oleh perkataan dara yang biasa berlaku manja itu dan sesaat kemudian dia berkata,

'Akan tetapi sudah aku katakan bahwa aku masih mempunyai urusan dengan s i tangan beracun Yang Cong Loei

.." "Urusan kau adalah urusan kami juga. Kedua orang tuaku tewas oleh orang orang Ceng liong pang, dan kami baru saja diperhina oleh mereka. Kami hendak ikut kau untuk melepas dendam” kata Cin Siao Yan penuh semangat sehingga sekilas sepasang matanya kelihatan seperti menyala.

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak  daoat mengucapkan apa apapun. Dia yakin bahwa dia tidak kuasa untuk mencegah niat dara manja yang hendak membalas dendam kedua orang tuanya. Dia lalu mengawasi kakek Cin setelah sejenak dia diam berpikir.

Kakek Cin ikut menatap laki Iaki yang sudah menolong dia dan cucunya. Orang tua ini kemudian menarik napas dan berkata :

"Aku sudah tua, tidak ada gunanya lagi dan tidak mungkin lagi aku kuat bertempur. Silahkan kalian pergi berdua dan aku akan menunggu didekat perbatasan dusun Liong bun."

Cin Siao Yan kelihatan bersenyum, lalu dia menyerahkan bungkusan pakaiannya kepada kakeknya, sambil dia berkata :

' Ya-ya. kau tolong bawakan bungkusan ini."

Sesudah dia menyerahkan bungkusan pakaiannya, maka dengan muka tetap berseri seri, lalu dara manja itu mengulurkan sebelah tangan kirinya, bukan  buat  dituntun akan tetapi dia yang menuntun sebelah tangan laki laki bekas orang hukuman itu, untuk diajak mendaki gunung Ceng liong san !

Sinar matahari menerobos daun daun pohon di  atas gunung Ceng liong san. Segala yang dilihatnya oleh laki laki bekas orang hukuman itu  sangat  mengesankan, mendatangkan kenangan lama, waktu dia  sedang memadu kasih dengan dara tambatan hatinya, berjalan berdua dua saling merangkul atau saling berpegang tangan, mirip seperti yang sedang dia lakukan bersama Cin Siao Yan yang saat itu mendampingi dia mendaki gunung itu. Kenangan lama yang sangat merangsang laki laki bekas orang hukuman itu; mengakibatkan kadang kadang dia lupa bahwa tangan yang sedang dia tuntun atau pegang itu adalah tangan dara manja Cin Siao Yan. Dia  merasa seolah olah sedang menuntun dara tambatan hatinya, sehingga beberapa kali dia mempererat pegangannya dengan cara yang penuh rasa kasih dan sayang. Segala laku laki laki bekas orang hukuman itu, culup dirasakan oleh dara manja Cin Siao  Yan dan dia yang memang biasa berlaku manja, membiarkan bahkan merasa bangga dan senang hatinya, karena dia dapat mendampingi seorang laki laki perkasa yang memang menjadi idaman dan impiannya, sehingga dia lupa dengan beda umur antara mereka berdua !

( persetan dengan umur . ! ) Cin Siao Yan berkata didalam hati, dan keduanya meneruskan langkah kaki mereka tanpa mengucap apa apa, hanya keduanya terbawa  hanyut oleh alam pemikiran masing masing, sampai tiba tiba mereka dihadang oleh sekelompok orang orang Ceng liong pang, yang dipimpin oleh seorang laki laki bermuka menyeramkan.

“Siapa kalian dan apa yang menyebabkan kalian mengacau tempat kami . .?” tanya orang yang menjadi  pimpinan  itu, yang tentunya sudah menerima laporan dari  sisa  anak buahnya Liong in jie koay Go Cay Bun berdua Go Cay Bu.

"Ha ha ha ! rupanya Touw tauwbak masih tetap membawa lagak garang ... " laki-laki bekas hukuman orang  berkata sambil dia menyertai suara tawa.

Pemimpin rombongan orang orang Ceng Liong pang itu kelihatan terkejut. Dia  tidak kenal dengan laki laki yang sedang berdiri dihadapannya, yang dikatakan sudah  mengacau ditempat itu, sebaliknya  laki  laki itu ternyata mengetahui nama dan kedudukannya.

'Siapa kau dan mengapa kau mengetahui pangkatku pada dua puluh tahun yang lampau.., . " demikian pemimpin itu menanya. 'Ha ha ha ! Touw tauwbak, masihkah kau ingat dengan sapta marga persekutuan kau?'' laki laki bekas orang hukuman itu menanya lagi; tetap dengan menyertai tawa namun tidak secara dia mengejek.

"Mengapa tidak . .!" sahut pemimpin rombongan itu yang sesungguhnya bernama Touw liong Kie.

"Hukuman apakah yang berlaku bagi anggota yang menghina seorang tua tidak bersenjata dan hukuman apakah yang berlaku bagi anggota yang hendak memperkosa anak perawan . . ?”

Touw Liong Kie berdiri diam terpesona, sehingga untuk sejenak dia tidak mengucap apa apa, sebaliknya laki laki bekas orang hukuman itu yang menyambung perkataannya:

"'Nah. aku sudah mewakilkan si 'tangan beracun' Yang Cong Loei menghukum Liong-in jie-koay Go Cay Bun dan Go Cay Bu, oleh karena mereka  sudah melanggar peraturan persekutuan, dari itu mengapa kau katakan aku mengacau . .

?"

Tak tertahankan lagi kemarahan Touw Liong Kie, juga semua anggota pasukannya sebab adalah suatu kejadian yang aib buat mereka mendengar nama ketua mereka diucapkan seenaknya oleh 'orang luar' itu.

Mereka serentak berteriak dan menyerang, akan tetapi sekali berkelebat maka laki laki bekas orang hukuman itu  sudah terbang menghilang, dengan meraih pinggang Cin Siao Yan yang ramping, sambil dia perdengarkan suara tawa mengejek.

Dara manja Cin Siao Yan membiarkan pinggangnya diraih bahkan dia sengaja meringankan tubuhnya yang diajak lompat bagaikan terbang, padahal dara manja ini sudah menyiapkan pedangnya karena menduga bakal ikut berpesta menghadapi rombongan orang-orang Ceng liong pang itu. Dilain pihak; Touw Liong Kie dan  rombongannya mengawasi kearah suara tawa tadi lalu dilihatnya lelaki bekas orang hukuman itu sedang berlari menuju markas mereka dengan sebelah tangan menarik tangan Cin Siao Yan.

Serentak mereka mengejar meskipun mereka sudah tertinggal cukup jauh, sampai kemudian  mereka menemui orang yang mereka kejar sedang dihadang oleh rekan rekan mereka di halaman dari bangunan markas mereka."

Dalam marahnya, Touw Liong Kie langsung menyerang memakai senjata bandering dari besi, diikuti oleh segenap pasukannya yang segera mengepung. Akan tetapi dengan mu- dah laki laki bekas orang hukuman itu menghindar sambil menghalau beberapa senjata yang ditujukan terhadap dara manja Cin Siao  Yan bahkan sepasang kakinya sempat menendang rubuh beberapa orang Ceng liong pang.

"Tahan . . . !' tiba tiba teriak seseorang, yang ternyata adalah si 'tangan beracun' Yang Cong Loei.

Serentak orang orang yang sedang mengepung menjadi memisah diri, membikin laki laki bekas orang hukuman  itu bebas mendekati si "tangan beracun" Yang Cong Loei, tetap sambil dia menuntun sebelah tangan Cin Siao Yan, sementara sepasang matanya bersinar menyala menatap sarung tangan dari kulit rusa yang membungkus tangan kiri Yang Cong Loei.

'Tetamu siapakah yang telah datang ditempatku, Tok see ciang Yang Cong Loei . . .?* tanya si "tangan beracun" Yang Cong Loei dengan suara ramah tetapi agung sikap dan nada suaranya.

“Ha ha ha! Yang Cong Loei, rupanya masa 20 tahun cukup lama sehingga kau tidak mengenali aku lagi..." sahut laki laki bekas orang hukuman itu sambil dia  menyertai tawa mengejek. Yang Cong Loei mengawasi dan meneliti lalu tiba tiba dia teringat dengan seseorang. Seseorang yang diketahui sudah binasa didalam rumah penjara.

Tanpa rasa tubuhnya menjadi gemetar, karena menyimpan terasa terharu.

"Kau . kau.! sam ceecu ! bukankah kau sudah binasa didalam penjara kaum penjajah .. ?" demikian Yang Cong Loei berkata dengan terbata bata.

"Ha ha ha! Agaknya kau si penghianat benar benar menghendaki aku mati .,.!" sahut laki laki bekas orang hukuman itu, tetap dengan suara mengejek bahkan menghina, sedangkan sepasang matanya menjadi kian menyala !

"Tetapi .,, tetapi..."

Sehingga laki  laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Yang Cong Loei yang masih kelihatan gugup:

“Tetapi aku sekarang justeru datang buat membalas dendam..” demikian dia berkata karena tak kuasa menahan rasa dendam yang sudah begitu lama dibendungnya.

Tanpa ada orang yang melihat sebelah tangannya sudah melepaskan pegangannya pada dara manja Cin Siao Yan, lalu bagaikan seekor macan terbang dia  lompat  menerkam si tangan beracun Yang Cong Loei sedangkan tangan kirinya siap hendak memukul dengan mengerahkan tenaga hauw hauw kang akan tetapi waktu sempat Yang Cong Loei menghindar, maka kakinya yang menendang membikin tubuh Yang Cong Loei terpental jatuh,

Laki laki bekas orang hukuman itu lompat sekali lagi buat menyusul ketempat Yang Cong Loei terjatuh, dia bergerak hendak memukul lagi.

Segenap pasukannya Yang Cong Loei bergerak hendak menolong tanpa menghiraukan Cin Siao Yan merintanginya. Akan tetapi si 'tangan beracun" Yang Cong Loei berteriak : "Tahan ... !"

Semua menunda gerakan mereka. Juga laki laki bekas  orang hukuman itu yang sebenarnya sudah siap hendak melakukan penyerangan, sementara Yang Cong Loei lalu pergunakan kesempatan itu buat dia bicara :

''Sam ceecu, kau tadi menuduh aku sebagai penghianat. Aku rela mati ditanganmu; tetapi aku menghendaki penjelasan tentang tuduhanmu itu.”

Laki laki bekas orang hukuman itu perdengarkan suara mengejek ;

"Hm ! Yang Cong Loei. Duapuluh tahun yang lalu kau bukan tandinganku dan kini pun kau tetap bukan tandinganku, dari itu kau berlaku pengecut dan menghianati aku. Hanya kau yang mengetahui tempat aku menginap karena yang menyarankan, akan tetapi kau melaporkan kepada pihak bangsa asing dan mereka menangkap aku dengan memakai cara yang sangat pengecut; dan cara pengecut itu kau yang sarankan pada siperwira yang kau ancam  waktu  malam- malam kau datangi tempat dia, dengan memakai kain penutup muka warna hitam. Kau menganggap perbuatanmu  licin bagaikan belut, akan tetapi kau lupa bahwa s i perwira sempat melihat sarung tangan dari kulit rusa yang biasa kau pakai ---

!"

'Fitnah ! itulah fitnah belaka dan seseorang  telah menjadikan aku sebagai si kambing hitam..,. " kata si tangan beracun Yang Cong Loei, namun selekas  itu  juga perkataannya telah diputus oleh lelaki  bekas  orang hukuman itu :

"Bedebah ! kau boleh ingkar dari perbuatanmu akan tetapi aku - - - "

Dan si 'tangan.beracun' Yang Cong Loei buru buru ganti memutus perkataan lelaki yang masih dia anggap sebagai si 'pemimpin ketiga' : *Sam ceecu. Sudah aku katakan bahwa rela menerima kematian ditangan kau, akan tetapi dengarkan dulu perkataanku, supaya di suatu saat kau dapat menghilangkan rasa penasaranku.., . "

'Penasaran ? huh . . !' kata laki laki bekas orang hukuman  itu akan tetapi dia menunda gerak tangannya yang sudah siap hendak merenggut nyawa si 'tangan beracun' Yang Cong Loei, dan membiarkan Yang Cong Loei berkata lagi :

"Tiga hari sete lah kau berangkat ke kota Hang ciu buat menunaikan tugasmu, maka pangcu memerintahkan aku melakukan perjalanan jauh ke bagian barat, ke perbatasan Thibet. Setelah tiga bulan lamanya, maka  aku  baru mengetahui bahwa kau telah ditangkap dan tewas didalam penjara.”

"Boleh saja kau mengarang ceritamu”, kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara mengejek, sedangkan sikapnya tetap kelihatan bengis.

'Akan tetapi aku mempunyai saksi . .”Yang Cong Loei membantah. "Siapa saksi itu . .?”

'Touw Liong Kie . “sahut Yang Cong Loei singkat. "Hm ! dia komplot kau..,..!"

"Dan jie ceecu mengetahui kepergianku, sebab dia pun

mengetahui perintah yang ditugaskan oleh pangcu kepadaku . " Yang Cong Loei berusaha membantah.

"Loei ji ko . . " Laki laki bekas orang hukuman itu bersuara seperti orang menggerutu, akan tetapi cukup didengar oleh Yang Cong Loei, dan laki laki itu lalu menyambung perkataannya.

" - . Louw jie ko juga hadir dan mengetahui waktu mendapat tugas ke kota Hang-ciu. Akan tetapi, tidak mungkin Louw jie ko itu menghianati aku…” “Orang lain yang hadir pada waktu itu  adalah  Toa-ceecu ." si tangan beracun Yang Cong loei berkata untuk mengingatkan sam-ceecu itu dengan kejadian lama, dan sam ceecu itu lalu berkata lagi :

“Poei twako juga tak mungkin menghianati aku. Lain orang lagi yang mengetahui tugasku itu adalah  pangcu, sebab pangcu justeru yang memberikan tugas itu, akan tetapi tak mungkin menghianati aku, sebab kalau memang pangcu menghendaki nyawaku cukup bagi dia untuk mengeluarkan sebuah 'cian pay* dan aku harus taat dengan peraturan yang berlaku bagi setiap anggota pcrsekutuan kita…”

Tiba tiba Touw Liong Kie ikut bicara sambil dia melangkah mendekati :

"Sam ceecu aku mempunyai sedikit keterangan yang barangkali - -"

"Keterangan apakah itu ? Lekas kau bicara- "kata laki laki bekas orang hukuman itu tak sabar.

"Hari itu, sebelum kau berangkat aku berpapasan  dengan jie ceecu ditaman belakang, dan jie ceecu sedang berjalan seorang diri; menunduk sambil dia menggerutu. Cepat cepat aku umpatkan diri sehingga sempat aku mendengar beberapa kalimat perkataannya:

" - Aku tidak sangka pangcu berpikiran dungu. Dia mengetahui hubungan Hong-moay dengan samtee, dan dia marah; akan tetapi waktu aku melamar Hong-moay, dengan tegas pangcu menolak - - “

Sam cee-cu, apakah ..." Touw Liong Kie tidak sempat menyudahi kalimat perkataannya, sebab sudah diputus  oleh laki laki bekas orang hukuman itu.

'Cukup. . . .!" katanya, sementara tiba tiba air matanya berlinang lagi membasahi mukanya dan sebelah tangannya turun lambat lambat, bekas dipakai untuk mengancam Yang Cong Loei.

Tidak pernah dia duga tidak pernah dia sangka bahwa karena cinta, maka kakaknya yang kedua rela menghianati dia

!

"Akh ! Louw jie ko… Louw jie ko . " dia berkata seperti mengeluh.

"Sam ceecu, marilah kau duduk beristirahat didalam . . . “ ajak si 'tangan beracun' Yang Cong Loei yang ikut menjadi terharu dan memegang erat sebelah tangan orang yang  hampir membunuh dia.

'Yong toako, maafkan sikapku yang telah menuduh kau…" kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara haru, dan dia cuma membiarkan dituntun untuk diajak masuk, bahkan dara manja Cin Siao  Yan ikut menuntun sebelah tangannya yang lain.

Dengan demikian laki laki  bekas orang hukuman itu melupakan dendamnya yang dia tujukan terhadap si tangan racun Yang Cong Loei, dan dendam itu sekarang dia alihkan kepada Louw jie ko atau sang kakak kedua dalam persekutuan Ceng liong pang.

Sementara itu, laki laki bekas orang hukuman itu dapat membujuk dara manja Cin Siao  Yan  buat menyudahi permusuhan terhadap orang orang Ceng liong pang itu, mengingat Liong in jie koay Go Cay Bun dan Go Cay Bu sudah dibinasakan dan Liong in jie koay ini justeru yang membinasakan pasangan suami isteri Yan siang hui, ayah dan ibunya dara Cin Siao Yan.

"Sebaliknya si tangan beracun Yang Cong Loei hendak menyerahkan kedudukan sebagai pangcu atau ketua,  maka laki laki bekas hukuman itu menolak, akan tetapi  dengan lapang hati dia menerima waktu diberikan beberapa potong pakaian dan sejumlah uang perak buat bekal dia  dalam perjalanan mencari Louw jie ko atau sang kakak yang kedua.

Si 'tangan beracun' Yang Cong Loei kemudian mengantarkan bekas sam ceecu itu, yang memaksa hendak segera meneruskan perjalanannya.

Dara manja Cin Siao Yan tetap mendampingi laki laki yang menjadi kebanggaannya itu, dan mereka menyusuri gunung Ceng liong san dengan dikawal bagaikan seorang  raja  dan ratu yang sedang melakukan perjalanan, sehingga banyak hal hal yang indah yang dipikirkan oleh.dara manja itu. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(