Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 01

Jilid 01

ORANG BILANG, hidup didalam  rumah  penjara  adalah suatu penderitaan, harus melakukan kerja-paksa dan tidak boleh bertemu dengan 'orang luar', kalau bukan pada waktu- waktu yang sudah ditentukan.

("akan tetapi, hidup didalam biara, barang kali lebih menderita...” ) kata Cie in suthay didalam  hati; Karena  agaknya dia sedang membandingkan derita orang yang hidup didalam rumah penjara, dengan orang orang yang hidup didalam biara seperti dia.

Cie in suthay adalah seorang biarawati yang muda usia, memiliki ilmu yang perkasa akan tetapi pernah mengalami siksa asmara; sehingga dia  memilih hidup didalam  biara, mendekati sang Budha buat menjauhi dewi asmara atau cinta.

Akan tetapi, mungkin karena usianya yang masih  muda, atau mungkin pula karena bakatnya yang memang tidak ada; maka Cie in suthay sering sering memaki setan setan yang menggoda, membakar semangatnya, atau menyimpan rasa dendam, atau ingin mengembara membasmi setan setan yang merajalela.

Dahulu nama Cie in suthay adalah Liong Cie In. Sejak kecil dia sudah belajar ilmu silat pada Thian jie sengjin yang sakti ilmunya, terutama dalam hal kelincahan tubuh dan ilmu lari cepat 'Leng pou hui pu' atau terbang diatas air.

Dalam masa perjuangan tentara rakyat  yang hendak menggulingkan pemerintah penjajah bangsa Mongolia, Liong Cie In membantu gerakan yang dipimpin oleh almarhum Thio Su Seng, dan pada kesempatan itu Liong Cie In mendapat tambahan ilmu dari seorang pendeta sakti, yakni Cit Siu tojin yang menjadi pembantu utama dari almarhum.

Kemudian dara yang perkasa  itu terlibat  dalam  kasih asmara dengan seorang laki laki muda yang perkasa, yakni si pendekar tanpa bayangan Tan Sun Hian, namun akhirnya diketahui oleh dara yang perkasa itu, bahwa Tan Sun Hian sebenarnya sudah beristeri dan sudah mempunyai seorang anak, sehingga Liong Cie In hampir saja membunuh diri, sekiranya dia tidak bertemu dengan Bok-lan siancu seorang bhiksu sakti yang hanya memiliki sebelah tangan kanan, sebab lengan kirinya putus sebatas pundak.

Dan sejak saat itu Liong Cie In menjadi murid dari bikshuni tua yang sakti itu, belajar agama dan mendapat tambahan pelajaran ilmu silat, serta mengganti nama menjadi Cie  in suthay karena dia bertekad hendak menjadi  seorang biarawati, supaya jauh dari goda dan jauh dari pengaruh c inta asmara. Sementara itu sudah tiga bulan lamanya Cie in-suthay ditinggal pergi oleh gurunya dan sudah tiga bulan pula biarawati yang muda usia itu merawat Lie Hong Giok yang terkena penyakit jiwa, menjadi seorang perempuan sinting sebab diganggu oleh si iblis penyebar maut atau Toat beng sim'.

Perkenalan Cie in suthay dengan dara Lie Hong Giok adalah sejak mereka bahu membahu ikut gerakan penentang pemerintah penjajah bangsa asing, sampai kemudian mereka ikut menggabungkan diri dalam kelompok pendekar penegak keadilan, melakukan aksi pengganyangan terhadap markas pusat persekutuan Thian tok bun, suatu persekutuan penyebar racun maut sebagai kegiatan dari s i iblis penyebar maut. 

Kemudian ketika pada suatu kesempatan Cie in suthay sedang melakukan perjalanan bersama sama si  macan terbang Lie Hui Houw. maka secara tidak disengaja biarawati yang muda usia itu bertemu dengan Lie Hong Giok yang sedang menderita, sebagai seorang perempuan  sinting, sebagai korban perbuatan biadab dari si iblis penyebar maut.

Ada kemajuan yang dicapai oleh Lie Hong Giok, berkat rawatan Cie in suthay yang cermat dan teliti, memakai obat obat dan cara cara seperti yang diberitahukan oleh Bok lan siancu, gurunya Cie in suthay.

Secara berangsur angsur kesehatan Lie Hong Giok menjadi pulih lagi, akan tetapi nyala-api dimatanya dara yang bernasib malang itu bagaikan sudah padam, seperti dia merasa  tidak ada lagi gunanya dia hidup didalam dunia ini,  sebab perawannya sudah hilang bahkan pernah dia melahirkan bayi didalam sebuah kuil tua, tanpa ada dukun atau  seseorang yang membantu dia !

Konon waktu Bok lan siancu pulang dari  perjalanan musibah, bhiksuni yang sudah tua dan sakti ilmunya itu membawa berita baru yang dia ceritakan dihadapan Cie in suthay :

" - - dikota Hie ciang, orang orang Kay pang atau orang orang gelandangan sedang pecah menjadi dua  golongan.“ demikian Bok lan siancu memulai dengan bertanya yang baru itu dan meneruskan lagi.

“...dahulu orang orang gelandangan didalam kota Hie c iang dipimpin oleh seorang laki laki yang bernama Lim Tiong Houw. Akan tetapi sejak kepergiannya sepuluh tahun yang lalu, pimpinan diganti oleh seorang laki laki yang bernama Ouw Beng Tek dan baru baru ini Ouw Beng Tek itu mati dibunuh seseorang sehingga terjadilah orang orang gelandangan didalam kota Hie ciang saling berebut hendak menjadi pemimpin.”

“persoalan mereka yang saling berebut kedudukan  itu, tentunya dengau mudah dapat dibereskan oleh Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin, dua kakak beradik yang menjadi pejabat ketua umum persekutuan Kay pang...” kata Cie in suthay yang memutus perkataan gurunya.

"Dua bocah bocah itu, mengurus diri saja mereka  tidak mampu bagaimana mungkin sanggup mengatasi urusan perkumpulan Kay pang yang sudah sangat meluas itu ..?" sahut Bok lan siancu yang sebenarnya sudah tidak mau mencampuri urusan orang orang yang sedang berselisihan; namun bhiksuni tua yang sakti ilmunya itu menyimpan sesuatu maksud terhadap muridnya yang sedang dia ajak bicara.

"... pertentangan antara sesama orang-orang gelandangan didalam kota Hie ciang itu kemudian ditunggangi oleh seseorang atau sekelompok orang orang yang sengaja hendak menambah kekeruhan. Dua bocah yang kau sebut namanya tadi, sudah tiga kali mengirim utusan buat mengambil alih pimpinan Kay pang di dalam kota itu akan tetapi dua orang yang menjadi utusan itu sudah binasa pada sebelum mereka memasuki kota Hie ciang; dan yang seorang lagi atau yang ketika mampus waktu dia baru semalaman tiba . .”

Perhatian Cie in suthay menjadi tertarik dan dia memperhatikan setiap kata kata yang diucapkan o!eh gurunya yang meneruskan menceritakan tentang peristiwa  yang sedang terjadi didalam kota Hie c iang; bahkan sering kali Cie- in suthay menanya kalau ada sesuatu yang dia rasa  belum jelas terlebih mengenai sebab sebab Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie Ciang; Ouw Beng Tek dibunuh orang  dan sebagainya sampai Bok lan siancu berulangkali perlihatkan tanda kepingin tidur, sebab malam semakin bertambah larut namun Cie in suthay belum merasa cukup mengajukan pertanyaan sampai kepada persoalan yang sekecil kecilnya.

Waktu sudah berada seorang diri didalam kamarnya, dw-kz biarawati yang muda usia itu masih duduk berpikir; sampai mendadak dia teringat dengan si macan terbang Lie  Hui Houw.

Setelah berpisah habis bahu membahu menolong Lie Hong Giok, maka Cie in suthay tidak pernah bertemu lagi dengan macan terbang Lie Hui Houw; padahal pemuda itu pernah datang kuil Cui gwat am bersama kekasihnya, Cin Siao  Yan; dan kedatangan pemuda itu yang hendak menyambangi Cie in ternyata sia sia belaka sebab kuil Cui gwat am tidak boleh menerima kunjungan tamu laki laki.

Malam itu, karena adanya urusan dikota Hie  ciang,  maka Cie in suthay menjadi teringat dengan si macan  terbang Lie  Hui Houw.

Biarawati yang muda usia dan cantik rupawan ini tak mengetahui apakah si macan terbang Lie Hui Houw masih menumpang dirumah si naga sakti Louw Sin Liong, ataukah sudah pergi membawa kekasihnya ke te luk Hek liu ouw sebab sesuai dengan rencananya pemuda itu hendak mengajak kekasihnya menemui si jeriji sakti Phang Bun Liong, datuk dari para pendekar penegak keadilan.

('akan kususul dia, kemanapun dia pergi...') biarawati yang muda usia itu memutuskan di dalam hatinya;  sebab  untuk yang kesekian kalinya ternyata dia tidak  berhasil  mengatasi diri dari "gangguan" setan setan, dan dia bertekad hendak mencampuri urusan orang orang gelandangan yang katanya sedang saling gontok didalam kota Hie ciang.

Setelah menetapkan tekadnya maka biarawati yang muda usia itu sempat tidur se lama dua jam; dan pada pagi harinya dia menghilang dari kuil Cui gwat am, dengan meninggalkan sepucuk surat buat gurunya, sebagai ganti pamit buat dia menjernihkan urusan didalam kota Hie ciang !

Bok lan siancu tertawa didalam  hati waktu  dia  habis membaca surat muridnya. Bhiksuni tua yang sakti ilmunya ini memang sudah mengetahui, bahwa usia muda dan semangat yang masih membara belum memungkinkan buat muridnya itu mendekati sang Budha, sehingga Bok lan siancu membiarkan sang murid itu mengamalkan darma baktinya didunia yang bebas, yang masih banyak setan setan yang berkeliaran.

)o(dw)(X)(kz)0( Sepanjang melakukan perjalanan hendak mencari si macan terbang Lie Hui Houw, maka Cie in suthay menjadi ingat masa perkenalannya dengan si macan terbang itu yang kadang kadang bisa membikin dia tersenyum seorang diri, menganggap lucu oleh karena pada waktu itu dia menghadapi DUA 'macan terbang", bukannya cuma SATU macan terbang.

Waktu itu maharaja Beng tay couw merupakan raja Beng yang pertama setelah berhasil mengusir kaum  penjajah bangsa Mongolia. Adalah merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa dan negara yang berhasil merebut kemerdekaan setelah sedemikian lamanya dijajah oleh bangsa as ing. Kemerdekaan antara lain merupakan suatu kebebasan dari penindasan kaum penjajah. Akan tetapi rakyat negri Cina yang mengharapkan suatu kehidupan yang aman dan tentram, ternyata telah dihadapkan oleh suatu kekecewaan oleh karena keamanan negara ternyata belum tercapai, meskipun yang memerintah sudah merupakan bangsa sendiri.

Cu Juan Csang yang mengangkat diri menjadi maharaja Beng yang pertama, merasa perlu untuk memerintah memakai tangan besi, istimewa terhadap orang orang yang pernah mendukung atau pernah memihak  dengan Thio Su Seng seorang tokoh yang dianggap sebagai sa ingan oleh Cu Juan Csan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri Cina. Meskipun tokoh Thio Su Seng sudah binasa dan segala kesatuannya sudah dibubarkan, namun maharaja  Beng  merasa curiga bahwa antek anteknya Thio Su Seng masih hendak berusaha merebut pemerintahan melalui suatu pemberontakan.

Beng tay couw atau maharaja Beng yang agung itu kemudian mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati bagi antek-anteknya Thio Su Seng berikut semua keluarga mereka; dan pihak istana mengetahui adanya suatu "daftar nama” dari seratus delapan orang orang yang pernah menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng, dan maharaja Beng tay couw lalu memerintahkan mencari dan merebut daftar nama itu. Untuk tugas ini telah dibentuk suatu kesatuan "dinas rahasia" yang terdiri dari tiga belas orang jago istana atau Tay lwee sip sam ciu; alias tiga  belas  malaikat maut.

Tay Iwee sip sam ciu dipimpin oleh seorang  pangeran muda, salah seorang keponakan maharaja Beng yang mahir ilmu silatnya, dan merupakaj sesuatu hal yang  istimewa baginya pada kesatuan dinas rahasia  ini, bahwa mereka memiliki pakaian seragam yang lengkap dengan se lubung penutup kepala sehingga wajah muka mereka tidak kelihatan dan tidak saling mengenal diantara sesama rekan mereka. Tanda pengenal mereka adalah nomor urut dalam lingkaran gambar seekor naga yang terdapat dibagian dada sebelah kiri pada seragam mereka, serta sebuah lencana khusus yang berupa cincin.

Pakaian seragam dari ke tiga belas malaikat maut  itu, masing masing saling berbeda warna. Misa lnya warna kuning emas bagi Tay lwee siap sam ciu yang pertama sebagai pemimpin, warna hitam bagi Tay lwee sip sam ciu nomor dua warna hijau untuk nomor delapan dan lain sebagainya.

Sepak terjang ke tiga belas malaikat itu yang melakukan tugas penyelidikan  dikalangan masyarakat, dalam  sekejap telah menghebohkan berkat kekejaman tindakan  mereka. Rakyat jelata hidup dalam suasana penuh rasa  takut  dan saling curiga, setiap saat nyawa mereka akan hilang tanpa dapat diramal,bila kiranya mereka kena  tuduhan   menjadi antek anteknya gerakan Thio Su Seng, atau ikut mengetahui tentang adanya "daftar nama" keseratus delapan orang orang menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng itu. Suasana gelisah dan rasa curiga ini tidak melulu terjadi dikalangan rakyat jelata, akan tetapi juga dikalangan rimba persilatan ikut menjadi heboh; sebab sepak terjang ke tiga belas malaikat maut itu justeru dipusatkan pada kelompok orang orang gagah.

Sementara itu, seorang lelaki bermuka hitam bekas kena terbakar oleh teriknya sinar matahari bertubuh agak kurus tapi berotot, dikawal oleh sejumlah alat negara untuk menerima kebebasannya dari rumah penjara dekat Tembok besar Ban lie tang shia.

Hampir duapuluh tahun lamanya dia  menjadi penghuni rumah penjara itu. menjalani derita dan  siksa,  melakukan  kerja paksa tanpa menghiraukan  panasnya  terik  sinar matahari atau musim dingin yang penuh dengan salju.

Dahulu lelaki ini merupakan seorang pemuda yang tampan dan tangkas, sekarang dia bermuka hitam dan kelihatan lebih tua dari usia yang baru mendekati empat puluh tahun.

Seharusnya dia mengalami hukuman seumur hidup sebagai orang tahanan pihak pemerintah penjajah, sebab dia  ikut perjuangan yang menentang kaum penjajah bangsa Mongolia. Akan tetapi berkat kemerdekaan bangsa dan negaranya, maka hari itu dia menerima kebebasannya.

Lelaki itu tertawa tak sudahnya waktu dia sudah berada diluar tembok penjara. Dia telah merdeka, seperti juga bangsa dan negaranya yang sudah bebas dari belenggu  kaum penjajah. Dia sekarang sudah bebas dan mempunyai kesempatan buat melepas dendam terhadap orang atau orang orang telah mcnghianati dia, mengakibatkan  dia kena ditangkap dan harus mengalami derita  didalam  rumah penjara, melakukan kerja paksa yang tidak mengenal perikemanusiaan !

Dahulu lelaki itu adalah seorang panglima  ketiga dari persekutuan 'naga hijau’ ataa Ceng liong pang, suatu persekutuan orang-orang gagah yang menentang penjajah bangsa Mongolia. Kemudian dia  mendapat perintah dari pangcu atau ketua persekutuan buat dia membunuh pejabat pemerintah kota Hang ciu, sebab pejabat  pemerintah   itu adalah seorang penghianat bangsa yang kesudian mengabdi pada bangsa asing.

Dikota Hang ciu yang besar dan ramai, sengaja lelaki itu tidak memilih sebuah rumah penginapan buat dia memondok, sesuai dengan saran salah seorang rekan seperjuangannya, dan dia menginap  didalam  sebuah kuil tua yang letaknya dekat perbatasan luar kota. Akan tetapi, segala  persiapan  yang cermat dan teliti itu ternyata sia s ia belaka, karena pihak pejabat pemerintah setempat segera mengetahui  tentang tugas dan kedatangannya dikota Hang ciu, bahkan pihak pejabat pemerintah itu telah mengetahui  tempat memondoknya yang istimewa, dan menyergap  lalu  menangkap dia memakai suatu muslihat.

Sebagai seorang ksatrya yang tangkas dan memiliki semangat baja, sudah pasti dia pantang menyerah dan akan melakukan sampai pada akhir hayatnya, akan tetapi waktu itu dia kena perangkap yakin seyakin yakinnya, bahwa seseorang telah menghianati dia, dan seseorang itu pasti adalah rekan seperjuangan yang menyarankan dia memilih tempat mondok didalam sebuah kuil tua. Dengan demikian, segala derita selama dia dihukum melakukan kerja paksa didalam rumah penjara, terasa lebih menyakitkan adalah derita membendung dendam yang membara !

Sekarang setelah dia memperoleh kebebasannya maka kesempatan pertama yang hendak dia  pergunakan adalah untuk melakukan balas dendam terhadap orang yang sudah menghianati dia.

Langkah kakinya tidak mengenal lelah buat dia menempuh jarak perjalanan yang jauh menuju keatas gunung Ceng liong san, tempat markas pusat persekutuan Ceng liong  pang dahulu, dua puluh tahun yang lalu !

Setelah hampir dua puluh tahun lamanya dia menjadi orang hukuman, sekarang laki-laki itu bagaikan sudah lupa dengan kebiasaannya dahulu,  selagi dia menjadi seorang pemuda tampan yang selalu berpakaian bersih dan rapih.

Pakaiannya sekarang dari bahan katun bagaikan pakaian seorang desa. Bekalnya sangat terbatas, dari itu dia tidak pernah masuk ke sebuah rumah makan buat dia  mengisi perut, sedangkan untuk tidur dia memilih kuil kuil tua yang sudah tidak ada penghuninya atau bercampur dengan orang orang gelandangan.

Didalam hati, sebenarnya laki laki bekas orang hukuman itu merasa heran; mengapa bukan Thio Su Seng yang menjadi raja ? Mengapa justeru Cu Juan Tsyang ?

Laki laki bekas orang hukuman itu teringat dengan masa lalu selagi dia masih menjadi panglima ketiga pada perkumpulan Ceng liong pang. Dia lebih condong dengan gerakan yang dipimpin oleh Thio Su Seng; sebaliknya pangcu Ceng liong pang kelihatannya memihak  dengan gerakan "Pelangi merah" yang dipimpin oleh Cu Juan Tsyang. Dan sekarang ternyata pangcu itu yang 'menang’.

Maka didalam hati dia menjadi tersenyum. Namun sekarang dia tidak perduli siapa saja yang menjadi raja. Yang penting negara sudah merdeka tidak lagi dijajah oleh bangsa as ing, seperti cita cita dan perjuangannya. Dan yang  lebih penting lagi dia sekarang ikut jadi merdeka, tidak lagi menjadi orang hukuman yang hidup didalam rumah penjara !

Akan tetapi, selama dia  melakukan  perjalanan  itu, dilihatnya rakyat jelata hidup dalam keadaan gelisah, takut bicara dengan orang-orang yang mereka tidak kenal, terhadap seseorang pendatang seperti dia, sehingga sangat berbeda dengan janji-janji selama masa perjuangan masih berlangsung bahwa rakyat jelata akan hidup amat tentram kalau negara sudah merdeka !

Namun demikian, dendam yang membara di dalam tubuhnya, telah menjadikan laki laki bekas orang hukuman itu bersikap 'masa bodo’, tidak mau dia mencampuri urusan lain orang. Dia  sekarang justru se lalu menghindar dan bicara hanya seperlunya jauh berbeda kalau dibanding dengan waktu dia masih muda.

Akan tetapi ketika pada suatu hari dia memasuki kota Lu liang thang, jiwa ksatrya yang tetap dia miliki,  memaksa  laki laki bekas orang hukuman itu jadi menunda perjalanannya.

Di dalam kota Lu liang thang ini, adalah menjadi tempat tinggalnya seorang pendekar muda bernama Lee Kuo  Cen serta adik perempuannya yang bernama Lee Su Nio, sipendekar perempuan berbaju merah atau Ang ie liehiap.

Baik Lee Ku Cen maupun adiknya, mereka berdua hampir selalu tidak pernah berada dirumah. Keduanya seringkali merantau menunaikan bhakti sebagai semua para pendekar penegak keadilan, seperti baru-baru ini mereka ikut  didalam aksi pengganyangan terhadap markas besar si iblis penyebar maut yang melakukan kegiatan sebagai pemimpin dari persekutuan Thian tok bun, atau persekutuan penyebar racun maut.

Kedua pendekar ini,  Lee Kuo Cen dan Lee Su Nio, merupakan orang orang yang namanya justeru dicantum didalam daftar nama ke 108 orang orang yang mendukung gerakan Thio Su Seng, lagipula segala sepak terjang kedua pendekar muda itu sudah banyak diketahui orang, sehingga tidak sukar buat pihak alat negara mencari alamat mereka, terlebih bagi kesatuan dinas rahasia yang menamakan diri sebagai Tay lwee sip-sam ciu atau tigabelas malaikat maut.

Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh berhasil memperoleh keterangan tentang kegiatan yang pernah dilakukan oleh Lee Kuo Cen berdua adik perempuannya. Dinas rahasia itu mendatangi pihak pejabat pemerintah setempat, yang bermaksud untuk meminta bantuan tenaga pasukan tentara buat menangkap kedua pendekar muda itu, yang dia  yakin akan melakukan perlawanan dan tak mudah untuk ditangkap, meskipun anggota dinas rahasia yang ke tujuh  itu  memiliki ilmu yang tinggi.

Kedatangan rombongan pasukan  tentara itu dibawah pimpinan seorang perwira muda serta didampingi oleh  Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh akan tetapi ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka hanya berhasil menemui Ang-ie liehiap Lee Su Nio berikut suami isteri yang menjadi pembantu rumah tangga, sedangkan pemuda Lee Kuo Cen sedang melakukan perjalanan mengembara.

Dara perkasa berbaju merah itu justeru baru dua  hari berada dirumah, bermaksud hendak menemui kakaknya sebab dia te lah mendengar berita tentang sepak terjang Tay lwee sip sam ciu yang mendapat tugas langsung dari istana kerajaan Beng. Akan tetapi dara yang perkasa itu belum berhasil bertemu dengan kakaknya, sebaliknya  pihak alat negara justeru telah datang hendak menangkap dia berikut kakaknya. Ang ie liehiap Lee Su Nio melakukan perlawanan tanpa menghiraukan banyak pihak a lat negara yang mengepung dia, akan tetapi, dara perkasa berbaju merah itu tak mau menyebar maut dikalangan bangsa sendiri. Dalam usahanya hendak melarikan diri pedangnya lebih banyak  dipakai  buat dia melindungi dirinya, atau buat mengancam Tay  lwee  sip sam ciu yang ketujuh serta si perwira muda yang ikut melakukan pengepungan.

Akibat cara dia bertempur itu, justeru jadi merugikan dara perkasa berbaju merah itu, sebab pihak tentara  menjadi  berani mengurung dan mengepung dia secara ketat, bahkan Lee Su Nio menjadi tidak berdaya memberikan pertolongan waktu suami-isteri pembantu rumah tangganya kena ditangkap dan digiring ke kantor pejabat pemerintah. Di lain pihak Tay lwee sip-sam  ciu yang ke tujuh menghadapi kenyataan bahwa memang tidak mudah buat dia menangkap Ang-ie liehiap Lee Su Nio, apalagi kalau pada saat itu Lee Kuo Cen ikut mendampingi adiknya. Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh itu kemudian memerintahkan beberapa orang tentara buat membakar rumahnya Lee Su  Nio,  sementara pengepungan tetap dilakukan; namun sambil mereka bergerak keluar rumah.

Pedih hati Lee Su Nio waktu menyaksikan rumah dan harta bendanya dibakar habis Dara perkasa berbaju merah itu sebenarnya mempunyai kesempatan buat melarikan diri dari kepungan tentara yang sekarang terjadi di bagian luar rumah, di jalan raya, akan tetapi dara yang perkasa itu sekarang tidak dapat lagi membendung kemarahannya.

Mayat mayat dan orang orang yang terluka parah, mulai bergelimpangan di jalan raya terkena amukan pedang dara perkasa berbaju merah itu.

Biasanya, jalan raya tempat terjadinya pertempuran itu merupakan jalan yang ramai dengan arus lalu lintas. Akan tetapi karena adanya pihak alat alat negara yang hendak melakukan penangkapan atas diri Lee Su Nio, maka hilang lenyap orang-orang yang berlalu lintas, bahkan para tetangga pada berlomba menutup pintu rumah mereka.

Kemudian waktu terjadi pembakaran terhadap rumah Lee Su Nio, maka para tetangga berhamburan saling berlomba membuka pintu buat mengeluarkan harta benda mereka, sehingga dalam sekejab keadaan menjadi bertambah kacau balau, banyak terdengar pekik suara perempuan dan kanak kanak, bercampur dengan suara tatis dan suara dari orang- orang yang sedang mengepung Lee Su Nio.

Pihak pejabat yang menerima laporan kilat mengenai pertempuran itu, cepat cepat mengirimkan bala bantuan yang beberapa kali lebih banyak jumlahnya, ditambah dengan seorang perwira menengah bernama Yo Sun  Kong, yang pernah menjadi pembantu dari ciangkun Lie Kim  Liang, perwira tinggi, yang menjabat pangkat  sebagai  kepala pasukan gerak cepat di istana kerajaan Beng.

Keadaan Lee Su Nio sekarang menjadi gawat, dikepung dalam suatu lingkaran pasukan tentara yang hampir 100 orang banyaknya serta tay lwee siap sam ciu yang ke 7 dan rekan rekannya yang secara silih berganti ikut melakukan pengepungan terhadap dara perkasa berbaju merah itu.

Betapapun halnya keadaan yang hiruk pikuk itu telah menarik perhatiannya laki laki bekas orang hukuman itu, yang baru saja memasuki kota Lu liang thang.

Sejenak laki laki bekas hukuman itu bagaikan lupa dengan perjalanannya yang hendak mendaki gunung Ceng liong san buat mencari seorang orang yang telah menghianati dia. Dia bergerak lincah dan ringan waktu dia  lompat  naik keatas sebuah pohon untuk dia duduk seenaknya pada sebuah dahan di mana dia menggoyang goyang kepala waktu melihat hanya seorang perempuan muda yang harus dikepung  oleh sedemikian banyaknya kaum laki laki.

Akan tetapi, perempuan muda yang berbaju merah sangat cantik dan sangat perkasa sehingga secara mendadak laki-laki bekas orang hukuman itu menjadi terkenang dengan  masa lalu, karena dia teringat dengan seorang dara yang pernah dia kenal dan pernah menjadi tambatan hatinya. Kelincahan dan kegagahan dara berbaju merah itu, tidak ubahnya seperti dara yang pernah menjadi tambatan hatinya.

Secara begitu mendadak, secara begitu tiba tiba, didalam hati laki laki bekas seorang hukuman itu jadi mengeluh:

(Hong Moay, mengapa bisa terjadi seperti ini? mengapa nasib sekejam itu memisah kita ...?!)

Dan, secara begitu tiba-tiba juga sepasang laki-laki itu menjadi basah dengan air mata! Mungkin karena adanya kenangan lama itu maka laki laki bekas orang hukuman itu bagaikan  lupa  dengan  sikapnya yang sudah tidak mau mencampuri urusan  yang  lainnya  orang. Dia berteriak perdengarkan suaranya yang bagaikan aum seekor harimau jantan, seperti kebiasaan dulu lalu tubuhnya melesat bagaikan  seekor macan yang sedang terbang !

Dua kepala tentara dia injak menjadi landasan buat dia lompat sekali lagi, sampai dia  berhasil mendekati Ang  ie liehiap Lee Su Nio!

Sebelah telapak tangannya kemudian memukul lengan Yo Sun Kong yang sedang menyerang Lee Sun Nio memakai sebatang ruyung besi,  sementara sikutnya ikut  bekerja mencari sasaran pada seorang tentara yang hendak menikam Lee Sun Nio memakai sebatang tombak panjang.

Si perwira Yo Sun Kong adalah seorang jago yarg sudah cukup lama meraja lela, tapi dia tidak kuasa menghindar dari pukulan yang datangnya sangat cepat serta diluar dugaannya. Tulang lengannya remuk tak dapat dia gunakan lagi, senjata lantas saja terlepas dan dia hampir hampir tewas karena kena tikaman pedang Lee Su Nio sekiranya dia tidak lekas lekas ditolong oleh Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh.

Seorang tentara yang kena sikut tadi, terlempar jatuh tak dapat bangun lagi, sementara dua tentara yang  kepalanya kena injak menjadi landasan, tewas seketika karena batok kepalanya itu menjadi remuk !

Tay lwee sip sam ciu yang ke 7 dilibat dengan pertempuran melawan Lee Su Nio, dan keadaan menjadi kacau balau karena datangnya laki laki bekas orang hukuman itu, yang sekarang sedang dihadang oleh si perwira muda, namun si perwira muda itu cepat terkulai tidak berdaya kena tendangan geledek pada bagian dadanya. Tay sip sam ciu yang ke 7 menjadi sangat terkejut karena dia sempat melirik dan melihat si perwira muda yang kena ditendang. Cepat cepat dia bersiaga  waktu  laki tidak  dikenal itu mendekati, dan dengan gerakannya yang cepat pula Tay lwee sip ciu sam ke-7 itu bahkan mendahului menyerang, menikam memakai pedangnya dengan jurus maut ular belang melepas bisa.

Sekali lagi terdengar laki laki bekas orang hukuman itu terpekik bagaikan aum seekor harimau yang sedang marah, sementara tangan kirinya bergerak bagaikan nekad hendak menangkis pedang lawan yang tajam namun gerak tangannya cepat berobah dan tahu-tahu dia berhasil memegang lengan lawannya yang memegang pedang, lalu lengan itu dia putar sedangkan telapak tangan kanannya menyambar dengan amat pesatnya, langsung merenggut muka Tay Lee sip sam ciu ke 7 yang memakai selubung penutup  kepala,  sampai  kain selubung itu robek dan muka itu penuh berlumuran darah !

Tay lwee sip sam ciu yang ke 7 tewas tanpa dia mampu bersuara dan pihak tentara menjadi tambah kacau ketakutan, karena mereka kehilangan pemimpin, akan tetapi  Ang  ie liehiap Lee Su Nio cepat cepat mengajak penolongnya itu lari menyingkir, karena tak mau dara ini membiarkan laki-laki perkasa itu menyebar maut lagi.

)o(dw)(X)(hend)o(

ANGIN sepoi sepoi meniup mengurangi teriknya sinar matahari disiang hari itu.

Ang ie liehiap Lee Su Nio menyingkap anak rambut yang menutupi sebelah daun telinganya kena tiupan angin  tadi. Dara perkasa berbaju merah itu duduk diatas sebuah batu besar ditepi jalan, dekat perbatasan kota Lu liang thang, sedangkan laki laki bekas orang hukuman itu berdiri disisi dara yang perkasa cantik jelita itu.

"... tayhiap. kita belum berkenalan, Namaku Lee Su Nio . . .  " terdengar antara kata dara perkasa berbaju merah  itu, setelah lebih dahulu dia mengucap terima kasih atas bantuan laki laki yang belum dikenalnya itu. "Lee Su Nio  .  .  ?” ulang  laki laki bekas orang hukuman itu, perlahan suaranya, lebih mirip dia berkata pada dirinya sendiri, dan agaknya dia segan memperkenalkan namanya, bahkan kelihatannya dia bersikap acuh. Hanya didalam hatinya, untuk yang sekian kalinya dia menjadi teringat dengan dara tambatan hatinya.

Sementara itu, Lee Su Nio yang menunggu sia sia dan laki laki tidak meneruskan perkataannya, maka ganti dia yang bicara lagi.

"Dan siapa nama tayhiap ..?” demikian tanyanya.

"Akh ! Apa arti sebuah nama . . . ?" sahut laki laki bekas orang hukuman itu, sementara pandangan matanya jauh tertuju ke suatu arah, kelihatan hampa.

('Hong moay dimana kau sekarang berada? Apakah sudah mendahului aku meninggalkan dunia yang fana ini . . . ?”) laki laki bekas orang hukuman itu mengeluh didalam hati yang sudah terlalu sering dia lakukan.

Ang ie liehiap Lee Su Nio adalah seorang dara perkasa yang sudah biasa berkenalan dan seringkali menghadapi berbagai macam keanehan dari orang-orang rimba persilatan, sehingga dia tidak merasa heran kalau laki-laki perkasa itu tidak mau memperkenalkan namanya.

"Mengapa mereka hendak menangkap kau?” tiba tiba laki laki bekas orang hukuman itu menanya, setelah keduanya sama sama hening sejenak.

"Suatu kejadian yang sudah aku duga . .” sahut Lee Su Nio yang lalu menambahkan perkataannya selagi laki-laki yang belum dikenalnya itu menatap dengan  sepasang  sinar matanya yang tajam :

"Saat ini dikalangan khalayak ramai sedang banyak diperbincangkan tentang sepak terjangnya Tay-lwee sip sam ciu.

'Tiga belas jago istana ?" laki laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Lee Su Nio. "Benar. Mereka  bahkan banyak dikenal sebagai tiga belas malaikat maut. Mereka mendapat tugas langsung dari istana  kerajaan  buat menyelidiki dan mencari daftar nama seratus delapan orang orang yang pernah menjadi pendukung dari gerakan Thio Su Seng almarhum ..."

"Tunggu ! Mengapa kau bilang Thio Su Seng a lmarhum. "

sekali lagi laki-laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Lee Su Nio, dan sepasang matanya semakin tajam mengawasi muka Lee Su Nio.

Ang ie liehiap Lee Su Nio terbelalak terpesona, sehingga sejenak dia ikut mengawasi muka laki laki  yang  sedang  dia ajak bicara itu. Apakah benar-benar laki laki yang tak mau dikenal namanya itu tidak mengetahui bahwa Thio Su Seng sudah binasa? Ataukah laki laki itu orang sinting . . ? Sebab, tewasnya Thio Su Seng sebagai seorang tokoh perjuangan, diketahui oleh hampir setiap orang.

"Thio pek hu sudah tewas dan hal ini sudah diketahui oleh semua orang ..." akhirnya kata Lee Su Nio; dengan nada suara yang menyatakan dia merasa tidak puas.

Akan tetapi, lelaki bekas orang hukuman Itu bagaikan tidak menghiraukan perasaan Lee Su Nio. Tidak dilihat oleh Lee Su Nio tentang adanya perobahan pada muka lelaki itu,  yang entah merasa kaget atau merasa heran karena mendengar Thio Su Seng sudah binasa; sebaliknya lelaki itu terdengar menanya lagi :

"Apa sebabnya Thio Su Seng binasa. !?" Terbelalak sepasang mata Ang ie-liehiap Lee Su Nio ketika mendengar pertanyaan itu. Apakah lelakiini benar benar merupakan seorang sinting ? Ataukah lelaki itu sedang memperolok dia? Akan tetapi, nada suara lelaki itu kedengaran wajar waktu dia mengajukan pertanyaannya.

"Thio pek hu tewas sebagai seorang ksatrya pejuang bangsa dan dalam suatu pertempuran yang dapat menentukan....” akhirnya Lee Su Nio memberikan jawaban tetap dengan perdengarkan nada suara seperti dia merasa tersinggung.

'Oh . . !” hanya itu yang diucapkan oleh  laki  laki bekas orang hukuman itu. Pada mukanya tidak kelihatan dia merasa ikut berduka cita, juga pada sepasang matanya tidak kelihatan seperti dia ikut bersedih hati. sikapnya kelihatan begitu acuh seperti tidak berperasaan, ini menurut penilaian Ang ie-liehiap Lee Su Nio pada waktu  itu sehingga untuk yang kesekian kalinya, Lee Su Nio jadi menatap muka laki laki  yang sedang dia ajak bicara Suatu wajah muka yang belum pernah  dia kenal, namun ilmu yang dim iliki oleh laki  laki  itu sangat dahsyat agak mirip dengan jurus jurus ilmu silat golongan Siao lim, namun cara penggunakannya terlalu keras terutama pada saat laki laki itu membinasakan Tay lwee sip sam cui yang ke tujuh. Cakaran tangannya bagaikan  menggunakan  ilmu pukulan Lohan ngo heng kun pada jurus pukulan 'macan’ ( 'houw kun' ).

“. .dalam menunaikan tugas mencari daftar nama itu, ternyata Tay lwee sip sam ciu telah bertindak sangat  ganas dan kejam, sehingga masyarakat menjadi sangat gelisah dan takut, karena setiap saat mereka dapat ditindak sebagai antek antek kaum pemberontak yang diancam  dengan hukuman mati..” dara perkasa berbaju merah itu berkata lagi yang kembali pada pokok pembicaraannya dan dia bahkan meneruskan perkataannya selagi laki laki bekas orang hukuman itu diam mendengarkan: “ . . namaku dan nama kakak tercantum didalam daftar nama itu, karena sesungguhnya kami pernah ikut menbantu perjuangan Thio pek hu, . ."

"Siapakah yang menyusun daftar nama itu. ..?” laki laki bekas orang hukuman itu menanya, selagi Lee Su Nio  menunda bicara.

"Bo im kiamhiap Tan  Sun Hian, sipendekar  tanpa bayangan. . . " sahut Lee Su Nio, "Pendekar tanpa bayangan ? ha ha ha ? benarkah ilmu yang dimilikinya sesuai dengan gelar yang dia pakai ...?'" tanya laki laki bekas orang hukuman itu, yang bahkan menyertai tawa yang seperti mengejek.

Akan tetapi, sekarang Ang ie liehiap  Lee Su Nio tidak menghiraukan lagi, meskipun perkataan laki laki itu bernada mengejek. Didalam hati, dara yang perkasa dan yang berbaju merah ini sedang memikirkan sesuatu mengenai laki laki yang tidak mau memberitahukan namanya itu.

"Bo-im kiamhiap Tan Sun Hian menyusun daftar nama itu atas perintah Cit siu tojin, akan tetapi Cit siu tojin juga sudah wafat sehingga tidak diketahui pada siapa gerangan daftar nama itu dipegang . .” Lee Su Nio menambahkan keterangannya.

"Akh ! jadi Cit siu tojin juga sudah binasa ...?” gumam laki laki bekas orang hukuman itu akan tetapi nada suaranya wajar dan sangat mengesankan, sehingga Lee Su Nio mulai percaya bahwa laki laki itu tidak mengetahui perihal Cit siu tojin yang sudah binasa.

“Tayhiap kenal dengan Cit siu tojin. .  .?"  sengaja Lee Su Nio menanya.

'Dia merupakan pembantu utama dalam pasukan Thio Su Seng, bersama Pheng hweshio dan si biang pengemis Pit Leng Hee...” 'Oh. . . !” Lee Su Nio bersuara bagaikan  tanpa  terasa; sebab diluar dugaannya, laki-laki itu  mengetahui  tentang ketiga tokoh yang disebutnya tadi, bahkan dengan seenaknya dia menyebut nama Pit Leng Hee yang dikatakan sebagai si biang pengemis, dan seenaknya juga menyebut  Pheng Hweeshio yang menjadi guru dari Thio Su-Seng, sekaligus menjadi guru dari Cu Juan Tsyang yang saat itu menjadi maharaja Beng!

('. . . siapakah sebenarnya laki laki yang perkasa ini. . .?' tanya Lee Su Nio didalam hati.

Laki laki yang perkasa itu dapat digolongkan sebagai seorang pendekar yang aneh (koay hiap) sebab dia t idak mau memperkenalkan namanya seolah olah dia  memang tidak memiliki nama (Boe beng), dan lebih aneh lagi  laki  laki  itu tidak mengetahui bahwa Thio Su Seng dan Cit siu tojin telah binasa padahal laki laki itu kenal dengan nama nama ketiga tokoh yang menjadi pembantu utama dari almarhum Thio-Su Seng. Jelas bahwa laki  laki yang perkasa itu pernah mengasingkan diri untuk sekian tahun lamanya, sehingga dia tidak mengetahui segala perkembangan  dan  berbagai peristiwa yang telah terjadi.

Konon selagi Lee Su Nio terbenam dalam  alam pemikirannya, maka dari arah dalam kota Lu liang  thang kelihatan debu mengepul tinggi, menandakan datangnya serombongan orang orang yang menunggang kuda, yang dilarikan dengan amat pesatnya.

Dara perkasa yang berbaju merah itu menduga bahwa  pihak tentara sudah tentu diperintahkan untuk melakukan pengejaran, sedangkan dia merasa enggan untuk bertempur lagi melawan tentara negeri :

'.Tayhiap, rupanya kita dikejar . . ." Lee Su Nio berkata, selagi sepasang matanya mengawasi kearah tentara negeri yang tengah mendatangi dengan naik kuda. "Kita ganyang mereka . . . !" sahut lelaki bekas orang hukuman itu dengan seenaknya

"Jangan. Kita tidak perlu menyebar maut  dikalangan  bangsa sendiri. Marilah kita pergi . . ." sahut Lee Su Nio.

"Kemana tujuan kau....?" tanya lelaki bekas orang hukuman itu, sete lah sejenak dia diam seperti ragu-ragu; sedangkan lagak dan nada suaranya seperti orang yang merasa berat berpisah dengan dara perkasa berbaju merah itu yang mampu membikin dia  menjadi terkenang dengan dara tambatan hatinya.

Sementara itu didengarnya Lee Su  Nio  menberikan jawaban: 'Aku hendak mencari kakak yang mungkin sudah berada diteluk Hek liu ouw ditempat Phang lo cianpwee..”

"'Si jeriji sakti dari Hek liong pang. Kau sampaikan salamku kepadanya sebab aku masih mempunyai urusan ditempat lain...”

Sekali lagi dara perkasa berbaju merah itu menjadi terpesona dan kagum karena agaknya laki laki itu pun sudah kenal dengan It ci sian Phang Bun Liong seorang tokoh kenamaan yang bahkan sudah dianggap menjadi seorang datuk bagi kelompok para pendekar penegak keadilan!

'Bagaimana mungkin aku menyampaikan salam itu, sedang nama tayhiap tidak aku kenal .,.?” sahut Lee Su Nio, sambil untuk pertama kalinya dia  perlihatkan senyumnya, dan senyumnya itu justeru telah membangkitkan lagi  kenangan lama bagi laki laki bekas orang hukuman itu, oleh  karena sekali lagi dia jadi terkenang dengan senyum manis  dara tambatan hatinya.

"Katakan padanya bahwa di goa naga ada seekor macan dan macan itu menyampaikan salam  hangat buat dia.. ,” akhirnya sahut laki laki bekas orang hukuman itu. 'Di goa naga ada seekor macan . . “ ulang Ang ie liehiap  Lee Su Nio; akan tetapi dara yang perkasa ini sekali lagi menjadi terpesona dengan lagak aneh dari laki laki yang tidak dia ketahui namanya itu; sebab secara mendadak laki laki itu telah berlari lari pesat meninggalkan dia, bagaikan orang yang sedang dikejar hantu !

Ang ie liehiap Lee Su Nio tersenyum dan membiarkan laki laki yang perkasa itu kabur dengan amat pesatnya, dan dara perkasa berbaju merah itu lalu mengambil aran lain, hendak menuju ke teluk Hek liu ouw yang letaknya didekat kota Intay.

Setelah terpisah cukup jauh dari kota Lu liang thang, maka laki laki bekas orang hukuman itu perlambat langkah kakinya, menyusuri jalan pegunungan yang bertebing itu sunyi sambil dia mengenangkan pertemuannya dengan Ang ie liehiap Lee  Su Nio yang dia anggap begitu mengesankan, dan sekali lagi dia menjadi terkenang dengan dara tambatan hatinya, yang saat itu dia  tidak ketahui entah berada dimana, dan dia  bahkan tidak mengetahui entah dara tambatan hatinya itu sudah binasa atau masih hidup.

('Hong moay, dimana kau sekarang berada.. . ?') sekali lagi dia mengeluh didalam hatinya; dan selekas itu juga sepasang matanya kembali basah dengan sisa air matanya.

Waktu hari sudah mendekati magrib, laki laki bekas orang hukuman itu tiba didekat sebuah desa yang bernama Ang sie cung; dan kebenaran dia melihat adanya seorang pedagang nasi memakai bangunan gubuk kecil di sisi jalan. Laki laki bekas orang hukuman itu memesan makanan dengan sedikit arak buat dia  menghilangkan rasa dahaga dan dia belum selesai makan waktu kemudian datang lagi dua  orang  Iaki Iaki yang ikut memesan makanan dan duduk didekat dia.

Kedua orang laki laki yang baru datang itu perlihatkan sikap dan lagak sebagai orang orang yang mengerti ilmu s ilat, akan tetapi lagak dan perkataan kedua laki laki itu tidak dihiraukan oleh laki laki bekas orang hukuman yang bahkan kelihatannya seperti sedang terbenam didalam lamunan mengenangkan berbagai kejadian lama, selagi dahulu hampir  selalu dia didampingi oleh dara tambatan hatinya, sampai  seseorang telah menghianati dia.

Dilain saat kedua orang laki laki itu selesai bersantap, dan mereka mendahului meneruskan perjalanan memasuki desa Ang sie cung.

"Agaknya hari ini desa Ang sie cung banyak kedatangan orang orang gagah,,.” gumam pedagang nasi itu se lagi dia mengemasi mangkok mangkok bekas kedua orang laki  laki tadi makan, dan dia bicara bagaikan kepada dirinya sendiri, maka dari itu tanpa dia mengawasi kearah tempat laki-laki bekas orang hukuman itu duduk.

“Orang orang gagah ? mengapa kau risaukan kalau mereka datang ke desa itu?” tanya laki laki bekas orang hukuman itu, meskipun dia perlihatkan sikap acuh.

Pedagang nasi itu menunda pekerjaannya mengawasi kearah tamunya dan memberikan jawaban :

'Siapa yang tidak menjadi risau kalau kedatangan mereka hanya untuk mengacau. Biasanya aku  berdagang  didalam desa itu yang ramai, akan tetapi sekarang aku terpaksa mengungsi ke tempat yang sunyi ini ..."

“Hm. " laki laki bekas orang hukuman itu bersuara; namun

sikapnya kembali seperti tidak ingin menghiraukan atau tidak ingin mencampuri urusan lain orang, berlainan dengan wataknya di waktu dia  masih muda, karena semangatnya selalu membara buat membela keadilan.

Akan tetapi s i pedagang nasi itu yang justeru menyambung perkataannya; memperlihatkan lagak bahwa dia  memang gemar bicara :

'Sebelum Thio cuncu binasa, desa kamt selalu dalam keadaan aman, bebas dari segala kekacauan " "Siapakah Thio cuncu itu ?" tanya laki-laki bekas orang hukuman itu, tetap perlihatkan sikap acuh; akan tetapi dalam hati dia bertanya-tanya, oleh karena dia bagaikan teringat dengan seseorang, setelah dia mendengar disebut nama "Thio cuncu”.

“Thio liang Hok..dia menjadi ketua desa kami yang disukai oleh segenap lapisan penduduk setempat ..."

"Thio liang Hok ?” laki laki bekas orang hukuman itu mengulang menyebut nama, memutus perkataan si pedagang nasi. oleh karena dia mulai teringat dengan kejadian Iama dan merasa kenal dengan nama 'Thio Liang Hok’ yang disebutkan itu, sementara si pedagang nasi lalu memberikan penjelasan.

”Thio cuncu memang banyak dikenal orang dan banyak bersahabat dengan tokoh orang orang rimba persilatan. Dia tewas waktu  melakukan perlawanan terhadap pihak alat negara yang hendak menangkap dia. Sekarang rumah tangganya berantakan dan banyak sanak keluarganya yang kena ditangkap, sedangkan kedudukan ketua desa diambil alih oleh Ma Kok Sun. seorang penghuni yang sebenarnya belum cukup lama berdiam di desa Ang sie cung, namun mempunyai hubungan yang luas dengan pihak alat negara, juga dengan pejabat pemerintah dikota Lu Liang thang”.

Sesungguhnya si pedagang nasi itu tidak perlu meneruskan perkataannya, oleh karena laki laki bekas orang hukuman itu sudah teringat dengan nama Thio Liang Hok, seorang laki laki yang masih ada hubungan keluarga dengan almarhum Thio Su Seng yang pernah dia kenal, oleh karena dahulu laki laki bekas orang hukuman itu pernah menerima tugas dari Thio Su Seng buat dia menemui Thio Liang Hok, yang pada saat itu sedang mengusahakan dana bagi pembeayaan gerakan perjuangan yang dipimpin oleh almarhum Thio Su Seng.

Lelaki bekas orang hukuman itu menjadi teringat  lagi dengan saat saat waktu dia bertemu dengan Thio Liang Hok, dan dia pun teringat juga dengan perkataan Thio Liang-Hok tentang dana dana sumbangan yang  diperoleh  dari masyarakat desa Ang sie thung.

Sekarang Thio Liang Hok sudah binasa dan desa Ang sie thung sedang dilanda kekacauan, maka semangatnya bangkit untuk membela; sehingga dia lalu memasuki desa Ang sie thung tanpa menunggu si pedagang nasi menyelesaikan perkataannya. Akan tetapi,  diluar tahu lelaki bekas orang hukuman itu si pedagang nasi justru jadi bersenyum selagi dia membiarkan lelaki bekas orang hukuman itu bergegas memasuki desa Ang sie thung.

Suasana didalam desa yang didatangi itu kelihatan tenang, bahkan terlalu tenang sebab keadaannya sangat sunyi tidak banyak orang orang yang berlalu lintas dan  kebanyakan  rumah rumah penduduk pada menutup pintunya. Untuk pertama kalinya sejak dia keluar dari rumah penjara, lelaki bekas hukuman itu merasa perlu untuk memasuki sebuah rumah penginapan yang sekaligus merupakan rumah makan untuk umum, oleh karena hanya di tempat itu dia melihat berkumpulnya banyak orang orang yang sedang makan dan minum, dan kebanyakan dari mereka itu justru merupakan orang orang dari kalangan rimba persilatan.

Lelaki bekas orang hukuman itu masuk dan mengatur langkah kakinya tanpa dia menghiraukan banyaknya pandangan mata yang mengawasi dia, dan dia  langsung mendekati tempat pengurus rumah penginapan yang saat itu sedang menghitung uang pembayaran  melalui  seorang pelayan yarg masih muda usianya.

Baik si pelayan maupun si pengurus rumah penginapan itu, kelihatan ragu ragu waktu mengetahui  maksud kedatangannya laki laki bekas orang hukuman itu  yang hendak menyewa sebuah kamar sampai laki laki bekas orang hukuman itu mengeluarkan sisa uangnya buat dia melunaskan sewa kamar yang dipesannya. "Akh eh...' kata si pengurus  rumah penginapan yang kelihatan gugup dan memaksa diri untuk bersenyum, sementara sebelah tangannya menyodorkan sebuah buku  tamu sambil dia memerintahkan seorang pelayan buat mengantarkan tamu itu kedalam kamar yang disewa oleh tamunya yang pada mulanya dia  anggap sebagai seorang gelandangan alias pengemis.

Pengurus rumah peiginapan itu kemudian mengawasi buku tamu yang sudah diisi tadi se lagi si pelayan mengantarkan tamu yang istimewa itu dan dia menjadi  terpesona  oleh karena tamunya itu hanya menulis dua kata "boe beng" atau tanpa nama. Dilain pihak laki laki bekas orang hukuman itu  baru saja tiba didekat pintu kamar ketika telinganya yang terlatih mendengar suara angin yang tidak wajar yang menyambar kearahnya.

Dengan geraknya yang lincah dan tangkas laki laki bekas orang hukuman itu memutar tubuh sambil  sepasang tangannya bergerak menangkap dua batang pisau belati yang terbang mengarah dia; lalu memukul dua batang pisau lainnya sampai terpental kearah asal mencari sasaran pada dua orang laki laki yang telah melakukan penyerangan gelap itu.

Kedua penyerang gelap itu setengah mati menghindar dari pisau pisau yang berbalik mengancam mereka, dan mereka langsung lari lari ketakutan bagaikan yang orang bertemu dengan hantu ! Juga si pelayan yang mengantarkan, ikut ketakutan sampai tubuhnya gemetar, namun laki laki bekas orang hukuman itu hanya memperdengarkan suaranya yang mengejek itu dan membiarkan si pelayan yang cepat cepat meninggalkan dia.

Waktu malam sudah bertambah larut, hujan gerim is pun mulai turun rincik-rincik membasahi bumi.

Laki laki bekas orang hukuman itu rebah seorang diri menikmati empuknya kasur tempat dia tidur  yang sudah sekian tahun lamanya tidak pernah dia rasakan lagi. Dia tidak cepat tertidur pulas karena pikirannya kembali mengenangkan masa lalu, dan masa pertemuannya dengan Thio Liang Hok.

Kemudian waktu genteng diatas kamar tidurnya terdengar berbunyi perlahan, maka dia segera mengetahui adanya seseorang di atas genteng itu, namun ia sengaja tidak menghiraukan bahkan dia sengaja meramkan sepasang matanya, berlaku bagaikan dia sudah pulas tertidur. Suara langkah kaki dari seseorang yang berada diatas genteng itu, meyakinkan laki laki bekas hukuman itu bahwa seseorang itu pasti mahir akan kepandaiannya dalam ilmu ringan tubuh dan suara itu lalu berpindah untuk kemudian  lompat  turun, mendekati daun jendela kamar yang ditutup rapat.

Laki laki bekas orang hukuman itu masih tetap rebah dengan sepasang mata rapat dia tutup. Agaknya dia sengaja hendak membiarkan seseorang itu memasuki kamarnya, untuk kemudian hendak dia tangkap dan memaksa memberikan keterangan tentang keadaan didesa Ang sie cung  yang katanya dalam keadaan gawat itu.

Akan tetapi, harapan laki laki bekas orang hukuman itu menjadi sia sia belaka,  ketika mendadak menjadi suatu pertempuran diluar rumah penginapan, sedangkan seseorang yang semula berada didekat jendela kamarnya sekarang telah menjauhkan diri karena agaknya seseorang itu hendak menyatukan diri dengan kelompok orang orang yang sedang bertempur.

Laki laki bekas orang hukuman itu lalu bangun dari tempat tidurnya. Dia  mengencangkan tali celana yang mengikat dipinggangnya, setelah itu dia lompat keluar me lalui jendela kamar sampai dilain saat dia melihat adanya dua kelompok orang orang yang sedang bertempur, yang dia tidak ketahui masing masing dari golongan mana hingga tidak mau dia sembarangan memberi bantuannya.

Ada suatu hal yang menarik perhatian laki laki bekas orang hukuman itu, bahwa ditengah kelompok orang orang yang sedang bertempur itu, dilihatnya adanya seseorang yang berpakaian serba hitam, lengkap dengan penutup muka dan pembungkus kepala memakai dua  helai kain yang juga berwarna hitam pekat.

Segera terpikir oleh laki laki bekas orang hukuman itu, bahwa orang yang memakai pakaian serba hitam itu adalah  Tay lwee sip sam ciu seperti yang dia dengar melalui Ang in liehiap Lee Sun Nio, dan yang baru dia binasakan. Akan tetapi, tidak disadarinya bahwa seseorang itu bukan memakai selubung penutup kepala yang begitu rapih  dilihatnya melainkan berupa secarik kain yang menutupi bagian muka yakni pada bagian hidung dan mulutnya. Dan, suatu Keanehan lain yang dilihat oleh lelaki bekas orang hukuman itu diantara orang orang yang sedang bertempur itu, tak seorangpun ada yang berseragam tentara negeri. Mungkinkah mereka sengaja menyamar sebagai rakyat jelata ? pikir lelaki bekas orang hukuman itu didalam hati.

Sejenak lelaki bekas orang hukuman itu memperhatikan orang orang yang menjadi pihaknya seseorang yang memakai pakaian serba hitam itu, lalu seperti  yang  menjadi kebiasaannya segera dia  memperdengarkan pekik suaranya yang khas bagaikan aum seekor harimau jantan, sambil dia lompat memasuki arena pertempuran.

Lelaki bekas orang hukuman itu meraih tubuh dua orang yang bermaksud menghadang dia. Kedua  tubuh orang orang itu diangkatnya melalui bagian  dari  punggung mereka,  lalu dua dua kepala mereka diadunya satu dengan lain mengakibatkan kedua orang orang itu segera tewas dengan kepala pecah berlumuran darah !

Pada saat berikut, laki laki bekas orang hukuman itu sudan berdiri berhadapan dengan orang yang berpakaian serba  hitam itu, sehingga bertambah jelas dia melihat orang itu memegang sepasang pisau belati pada tangan yang kiri maupun pada tangan yang kanan sedangkan dikitar bagian pinggangnya yang ramping, bergantungan belasan pisau belati yang rapih memakai sarung.

'Hm.. . !" desis laki laki bekas orang hukuman itu yang perdengarkan suara mengejek, oleh karena dia teringat bahwa baru saja dia pernah dibokong memakai pisau pisau  belati yang seperti itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu bersiap perlihatkan lagak hendak melakukan sesuatu penyerangan, dan orang yang berpakaian serba hitam itu mendahului lompat mundur agak menyamping, bagaikan dia merasa gentar.

Melihat lagak dan gerak seseorang yang berpakaian serba hitam itu, maka lelaki bekas orang hukuman itu  menjadi tertawa lalu sebelah tangan kirinya memukul dengan  gerak tipu 'bangau putih menangkap ikan' dan pada waktu orang itu lagi lagi me lompat  menyamping buat menghindar,  maka sebelah kaki kanannya menyapu  bagaikan  geledek menyambar akar pohon. Orang yang berpakaian serba  hitam itu bersuara kaget, namun untung bagi diabahwa sempat melompat tinggi dan jauh sambil sepasang tangannya bergerak melepaskan dua batang pisau belati yang dipegangnya.

)o(dw)(X)(hend)o(

SEKALI LAGI lelaki bekas orang hukuman itu memperdengarkan suara tawa, sambil kedua tangannya menyambut pisau belati yang terbang kearahnya,  dan dia berkata secara jenaka :

”Kau dapat menghindar dari dua seranganku,  maka sekali ini aku biarkan engkau hidup.. .” demikian dia berkata seperti menggerutu, namun yang dia  tujukan kepada oiang yang memakai pakaian serba hitam itu sambil dia bergerak menghindar dari serangan beberapa orang yang hendak mengepung dia lalu memasang pisau belati yang ditangannya berhasil merobek perut dua orang yang mendekatinya, sehingga kedua orang itu tewas dengan perdengarkan pekik suara yang mengerikan.

Laki laki bekas orang hukuman itu ingin meneruskan menyebar maut, ketika secara mendadak didengarnya suara seseorang yang berteriak dan berkata :

"Sam ceecu tahan ! kau sudah menyerang orang-orang sendiri . . . l'

Itulah suatu suara seruan  dari seorang laki  laki yang sedang bertempur dan berusaha hendak mendekati laki laki bekas orang hukuman itu. Teriak suara itu cukup keras dan jelas di dengar oleh laki laki bekas orang hukuman itu Dan teriak suara itu agaknya sangat mempengaruhi jalan  pikiran laki laki bekas orang hukuman itu sehingga diam terpukau sambil dia mengawasi orang yang mengeluarkan teriak suara itu.

Lelaki bekas orang hukuman itu kemudian sempat mengenali bahwa lelaki yang berteriak itu adalah si pedagang nasi yang berdagang didekat perbatasan desa Ang sie cung tempat petang tadi dia singgah dan makan. Dan sebagai  akibat laki laki bekas orang hukuman itu dengan lengah, maka secara tiba tiba dia terkena sabetan ujung golok pada bagian pahanya, sehingga celananya robek dan  pahanya mengeluarkan darah.

Laki laki bekas orang hukuman itu berpekik bagaikan aum seekor harimau jantan yang kena luka. Sebatang pisau belati ditangan kanannya melesat dan membenam dibagian dada kanan seorang laki laki yang bersenjata golok itu membelalak sepasang matanya; sambil sebelah tangan kirinya berusaha hendak mencabut pisau belati tajam itu yang membenam di dadanya namun pada saat itu juga laki  laki.bekas orang hukuman itu sudah menerkam dan merobek muka orang yang melukai dia, sehingga  orang itu berpekik dan sekali lagi berpekik mengerikan.

"Bagus, sam ceecu ! kau sekarang berpihak pada orang orang yang tepat.. . !” terdengar lagi sipedagang nasi tadi berteriak, sementara dia pun berhasil me lukai sa lah seorang lawan yang sedang mengepung dia.

(’kurang ajar! siapakah dia itu ... ?') laki laki bekas orang hukuman itu berkata didalam hati, sementara dengan.langkah kaki pincang dan hanya bersenjata sebatang pisau belati, dia harus mengamuk didalam kepungan tiga orang laki-laki gagah yang melakukan penyerangan.

Sementara itu, orang yang memakai pakaian Serba hitam juga tidak tinggal diam. Dia  mengamuk dengan  sepasang pisau belati dikedua tangannya. Ilmu silatnya tinggi dan gerak tubuhnya lincah gesit,  sedangkan pisau belatinya  kadang kadang terbang melesat mencari sasaran pada pihak musuh, untuk secepat itu juga dia telah meraih lagi sebatang pisau belati lain dari bagian pinggangnya. Pihak lawan sangat tangguh dan lebih banyak jum lahnya, akan tetapi sekarang mereka menjadi jeri atau gentar karena orang  yang berpakaian serba hitam itu sangat gagah lagi pula sekarang dibantu oleh laki laki yang tetap perkasa meskipun sebelah pahanya sudah terluka.