Lembah Patah Hati Lembah Beracun Jilid 05

 
Jilid 05

LIM KHENG selebar wajahnya menjadi merah seketika, ia berseru kaget lalu menutupi kedua dadanya dengan kedua tangannya dan mundur dengan cepat.

Ketika laki-laki itu mengetahui bahwa pemuda itu sebenarnya adalah kaum hawa yang sedang menyari, buru- buru ia melepaskan tangannya dan berkata sambil nyengir:

"Huh! kiranya kau seorang perempuan!"

Lim Kheng merasa malu dan gusar, lalu memutar tubuhnya dan lari kedalam rimba.

Ho kie coba mencegah sambil katanya:

"Kau... kau kenapa?"

Tetapi Lim kheng lantas menyambuti dengan serangan tangannya sehingga Ho kie harus mundur dua langkah, Lim kheng menggunakan kesempatan itu lantas kabur lagi. Ho kie jadi bingung, lalu berseru:

"Kau hendak kemana?"

Dengan tidak menoleh lagi,Lim kheng menyahut:

"Kau ini bagaimana sih! orang toh harus tukar pakaian."

Ho kie baru sadar: "kalau begitu, kau lekas-lekas kembali."

"Biar bagaimana, kau harus tahan manusia dogol ini, jangan sampai dia kabur."

Ho kie terima baik permintaan Lim kheng.

Laki-laki itu rupanya merasa tidak enak sendiri, maka lantas maju menghampiri HO kie dan berkata sambil tertawa: "Aku sungguh tidak mengetahui kalau dia adalah istrimu. Kalau aku tahu, sungguh mati aku tidak berani menyobek bajunya."

Ho kie hanya mengawasi padanya sambil menutup mulutnya membisu.

"Aku Gouw Toaya, benar-benar tidak takut segala apa juga, aku hanya takut kaum wanita yang bercampuran dengan kaum pria. Kali ini aku benar-benar sial. Lain kali, kalau kau bawa nyonyamu berpergian jauh, sebaiknya suruh dia berpakaian wanita dan suruh dia duduk didalam tandu..."

Sebab berkata demikian, ia lantas hendak berlalu. "Jangan pergi dulu!" Tiba-tiba Ho kie membentak.

Laki-laki itu tercengan, "kenapa? aku toh cuma membikin robek sepotong bajunya, apa kau mau suruh kau mengganti?"

"Enak benar kau bicara. Kau sudah berbuat salah, mana boleh hendak berlalu begitu saja."

Laki-laki itu mendelikkan matanya. "Apa kau kata? Kau tadi sudah memukul aku dan dia bahkan sudah menyerang aku dengan gagang kipasnya berulang-ulang. Sekarang aku sudah ampuni kau. Apa kau masih belum mau terima?"

Ho kie yang melihat lagak dan bicaranya orang laki-laki itu. memang benar adalah seorang dogol, merasa tidak enak terlalu menyalahkan padanya, maka lantas berakat:

"Kau jangan pergi dulu. Aku hendak minta sedikit keterangan dari kau."

"Kau jangan coba-coba gunakan perkataan manis untuk menipu aku. Jangan-jangan dia nanti kembali lagi hendak membikin perhitungan dengan kau. Aku memberitahukan padamu, aku si orang she Gouw, benar tidak takut mati! kalau mau ajak aku berkelahi, mari kita berkelahi."

"Dia adalah seorang nona. Bukan apa-apaku. kalau kau terus ribut begini kau harus hati-hati dia nanti benar-benar tidak mau mengerti."

"Mana aku tahu dia ada apamu. BAgaimanapun juga, kalian wanita dan pria yang berjalan bersama-sama, sedikit banyak tentu ada apa-apa yang tidak beres."

Ho kie hanya ganda ketawa, ia coba alihkan pembicaraan ke lain soal.

"Sahabat, aku lihat ilmu kebalmu sungguh hebat sekali.

Siapakah namamu?"

"Namaku Gouw ya Pa. Didunia kangouw tidak boleh diganggu. Siapa saja yang berani mengganggu aku biarpun sampai sepuluh atau seratus tahun, aku tidak mau sudah."

Ho kie tercengang."Apa? Namamu Ya Pa?"

"Kau tidak tahu, Ibuku pernah melahirkan sebelas anak, tetapi lahir satu mati satu. Tidak ada yang hidup.  Kemudian ketika ibu mengandung aku, ayah ingin sekali mendapatkan anak perempuan dulu supaya anak selanjutnya ada yang bantu mengurus. Siapa tahu ibu telah melahirkan aku. Ketika bidan memberi tahukan dan memberi selamat kepada ayah, ayah yang mendengar kembali lahir satu anak laki-laki lantas menghela napas sambil mengeluh, :"Ah Ya Pa! (artinya: Yah Sudahlah). Maka selanjutnya ayah memberi nama padaku Ya Pa.

Ho kie yang mendengarkan keterangan itu lantas ketawa: "Dan mengapa kau bisa hidup sampai dewasa?" tanya

Ho kie.

Gouw Ya Pa lalu menyahut sambil gelengkan kepala. "Aii, au mana tahu. Ayahku karena menganggap aku tidak bisa dipelihara sampai besar, maka aku diberikan kepada seorang hweesio yang kemudian menjadi suhuku. Selama masih kanak-kanak, aku sudah banyak mengalami penderitaan."

"Hweeshio dari kelenteng mana?"

"Tidak perlu kusebut, rasanya kau juga tahu. Itu adalah kelenteng Siao lim sie di bukit Siong-san yang sudah banyak orang-orang yang mengetahuinya.

Ho kie yang mendengar disebutnya Siao-lim sie hatinya lantas bergetar. Sebab didalam rimba persilatan, meskipun banyak terdapat partai persilatan dan tidak sedikit jumlahnya orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi, tetapi diantara sembilan partai terbesar dalam dunia persilatan, Siao lim pay adalah merupakan pemimpin dari berbagai partai itu. Siao lim sie banyak mempunyai murid- murid dari golongan orang biasa. sedangkan padri-padrinya yang berada didalam gereja hampir semuanya mempunyai kepandaian yang luar biasa. Didalam duni kang ouw, banyak orang merasa kagum dan jeri terhadap murid-murid siao-lim sie. Diam-diam ia lalau berpikir : Pantas ilmu kebalnya sudah mahir betul. Tidak nyana kalau dia adalah anak murid Siao lim sie.

Berpikir demikian, ia lantas berkata sambil tertawa: "Nama  Siao  lim  pay  sangat  terkenal  diseluruh  jagad.

Didalam  rimba  persilatan  juga  sangat  dijunjung  tinggi.

Tetapi entah saudara Gouw ini ada muridnya siapa?"

"Apa kau kenal hweesio-hweesio didalam gereja itu?" tanya Gouw Ya Pa heran.

"Meskipun aku belum pernah kebukit Siong-san. tetapi aku tahu Ciangbunjin dari Siao lim pay itu adalah Tay Goan Taysu. Beberapa padri angkatan tua yagn menjabat sebagai pelindung hukum dibagian Tat mo ie siapa bukan jago-jago yang terkenal didalam rimba persilatan, sedikit banyak aku pernah mendengar."

"Tetapi suhuku itu pasti kau tidak mengenalnya." "Siapa dia?"

"Dia bukan ketua, juga bukan golongan tetua dari Tat- mo-ie tetapi ketua dari golonga tertua dari Tat mo ie serta hweesio lainnya. semuanya harus mengandalkan dia untuk makanan mereka."

Ho kie terkejut. "Aaaa, entah dia siapa? Apakah hweesio tertua yang sudah mengundurkan diri?"

"Juga bukan. Dia adalah hweesio yang pangkatnya sebagai Tukang masa. Namanya Laytao Hweesio"

Ho kie masih mengira bahwa orang dogol ini sedang bergurau, maka ia merasa tidak senang. Tidak nyana, Gouw Ya Pa berkata pula dengan suara sungguh-sungguh.

"Dia sebetulnya memang bukan hweesio dari Siao lim sie menurut keterangannya. Dia datang dari See hek (Daerah barat) yang berpesiar ke bukit Siong san. Karena disini sangat ramai baginya, maka dia lantas berdiam di Siao lim sie. Didalam mata suhuku, kepandaian silat Siao lim sie benar-benar tidak merupakan apa-apa."

Selagi mereka lagi asyik mengobrol itu, terbawa tiupan angin tiba-tiba terdengar suara berkereseknya orang berjalan. Ho kie terperanjat, lalu bertanya:

"saudara Gouw, apa kau masih ada kawan lain?" "Cuma aku sendiri" jawab Gouw ya pa heran.

Ho kie buru-buru menoleh kearah rimba. ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya Lim kheng lagi.

"Dia pasti sudah pergi sendiri" kata Ho kie cemas. "Siapa? siapa yang sudha pergi? mari kita tengok!" Gouw

ya pa bertanya dengan heran.

Ho kie sudha tidak mempunyai napsu untuk meladeni Gouw ya pa, maka ia lantas lompat melesat menuju kebelakang rimba.

Benar saja disitu hanya kedapatan baju Lim kheng yang sudah robek, tetapi Lim kheng sendiri sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya.

Dengan pikiran bimbang, Ho kie berdiri menjublek.

Gouw Ya Pa yang menyusul dan tiba disitu, lantas bertanya dengan suara heran.:

"Ei! Mengapa nyonyamu tidak kelihatan?"

Ho kie tidak menjawab, sebaliknya lantas lompat melesat untuk mencari Lim kheng.

"Hei, Tunggu sebentar! Aku hendak ikut mencari bersama-sama.!" kata Gouw ya pa.

Tetapi Ho kie sudah berada pada jarak sepuluh tombak lebih jauhnya,

Kala itu pikiran Ho kie sangat kalut: Toan theng lojin entah masih hidup atau sudah mati dan dimana adanya dia sekarang, sedangkan Auw yang khia sudah kabur meninggalkannya sambil membawa benda pusakanya, Kalajengking Emas, dan sekarang Lim kheng juga meninggalkan padanya tanpa pamitan....

Semua kejadian yang tidak menyenangkannya itu sangat menindih perasaannya dan ketenangannya. Seperti orang yang sudah kalap, ia kabur tidak melihat arah. Dia cuma mempunyai satu maksud: Biar apa yang akan terjadi, ia harus mencarai dimana adanya Lim kheng.

Ia sudah merasa seperti kehilangan apa2, meskipun antara ia dan Lim kheng belum mengadakan suatu perjanjian yang tegas.

Dengan larinya yang tidak melihat arah itu. entah sudah berapa jauh yang sudah dilaluinya, ia cuma lari terus seolah2 sudah melupakan lapar, haus dan letih. Dalam otaknya, hanya ada satu suara ialah suara orang yang berjalan kaki perlahan sekali. SEbetulnya suara itu sudah tidak ada, sudah lenyapp entah kemana. Dalam keadaan demikian, Ho kie mendadak berpapasan dan dicegat oleh tiga orang tua yang mengenakan pakaian imam dengna wajah yang seram.

Dalam uring2annya, Ho kie segera menegur dengan suara ketus:

"Kalian hendak berbuat apa?"

Kiranya diantara ketiga orang imam itu, satu adalah It Tim tojin, salah satu dari Hoa-san-Sam kiam.

Sambil ketawa dingin, It Tim tojin berkata kepada kedua imam yang disisinya

"Jiwi susiok, Ini adalah bocah she Ho yang didalam Ngo kui khio sudah membunuh Lo sute, merampas kalajengking emas dan kemudian melukai It Siu dan It Beng sute. Semua adalah perbuatan dia seorang."

Kedua imam yang dipanggil susiok itu mengangguk2an kepalanya, dengan sorot mata tajam mereka menatapi wajah Ho kie. Sedikitpun Ho kie tidak merasa takut, sebaliknya malah ketawa dingin kemudian berkata:

"Dari mana kau dapat begitu banyak cerita? Kalau kau kenal gelagat, lekas minggir. Kalau tidak, jangan kau sesalkan aku siorang she Ho akan berindak dengan tidak mengenal kasihan lagi."

Seorang imam yang berambut putih berkata sambil mengangguk2an kepalanya:

"Benar saja, ada satu bocah yang sangat jumawa. It Tim sutit, menurut perintah Ciang bun jin kita harus menggunakan ilmu perguruan kita, keliningan emas yang membikin kabur semangat untuk menangkap padanya."

It Tim Tojdin menyahut sambil membungkukkan badannya.

"Baik. It Tim menerima titah susiok."

Sehabis berkata, ia lalu mencabut pedangnya, tangannya yang lain lalu mengeluarkan sebuah benda yang mengeluarkan sinar gemerlapan dari dalam sakunya. Dengan menggengam benda tersebut, ia maju setindak dan membentak dengan suara keras:

"Bocah she Ho, kau bukannya lekas menyerah!"

HO kie yang melihat sikapnya si tojin yang nampaknya tidak kuatir sama sekali, tidak dapat menduga benda apa yang digengam dalam tangannya itu dan apa gunanya.

Tetapi, pada saat itu pikirannya sedang dicurahkan ke suatu tujuan saja, ialah:

Lekas2 mencari Lim kheng kembali. Ia tidak memperdulikan musuh kuat yang berdiri didepannya.

Dengan tidak banyak bicara lagi, ia lantas bergerak dan maju menyerang. Kedua imam rambut putih itu masing2 kebutkan jubahnya, mundur beberapa tindak.

It Tim tojin segera putar pedangnya, mengarah tenggorokan Ho kie.

Ho kie dengan ilmu silatnya Hoan-sing-sie sak yang aneh luar biasa, sekejap saja sudah berada disamping It Tim.

Ia sudah bertekad hendak mempercepat jalannya pertempuran, tidak mau mengulur waktu, maka setelah mengerahan seluruh kekuatannya dilengan kanan, ia lantas menyerang punggung It Tim tojin.

It Tim tojin buru2 tarik kembali pedangnnya dan badannya memutar dengan cepat, siapa nyana bahwa serangan Ho ie itu dilakukan dengan kekuatan sepenuhnya, sekalipun It Tim tojin sudah berkelit dengan cepat, tidak urung pundaknya tersapu. It Tim tojin lantas keluarkan seruan tertahan, badannya mundur sempoyongan beberapa tindak.

Ho kie terus membayangi, sebentar saja tangan kanannya sudah bergerak hendak menghajar batok kepalanya.

Mendadak terdengar seruan bentakan keras: "Bocah!! kau mencari mampus!!"

Kemudian disusul datangnya sambaran angin yang amat dahsyat, menyerang sisi perut Ho kie, siapa terpaksa tarik kembali serangannya, dengan memutar tubuh ia menyambuti serangan tersebut.

Mendadak telapakan tangan Ho kie dirasakan kesemutan, seolah2 ketusuk barang tajam.

Dalam kagetnya, Ho kie lantas lompat mundur. Setelah memeriksa tangannya, ia lihat ditengah2 telapakan tangannya ada terdapat titik hitam yang ekcil sekali. "Kau sudah kena senjata pinto yang dinamakan Toan- beng-coa-hoan, Hari ini jangan harap kau bisa lolos." berkata siimam tua sambil ketawa dingin.

Ho kie tau bahwa tangannya sudah terkena senjata beracun. Ia buru2 menutup jalan darahnya. Sambil membentak keras ia maju menyerang lagi.

Selagi bergerak, dadanya mendadak dirasakan sesak, kekuatan tenaga dalamnya yang baru dipusatkan telah lenyap secara tiba2.

Bukan kepalang kagetnya Ho kie, selagi belum mendapat kesempatan mundur, mendadak dengan ketawa It Tim tojin kemudian menyerang dengan beberapa buah benda yang mengeluarkan sinar berkerdepan....

-oo0dw0oo-

KEPALA Ho Kie sudah kleyengan, badannya sempoyongan, dilihatnya kliningan emas pada berterbangan diudara, ia tahu rupanya sukar untuk meloloskan diri, maka ucma bisa menghela napas dan pejamkan matanya.

Beberapa puluh kliningan Ie-han Kim-lang saling beradu, menimbulkan suara ting-ting, tang-tang, yang sangat riuh, sebentar saja sudah berada diatas kepala Ho kie.

Tapi dengan tiba2 suara kliningan itu mendadak berhenti.

Selagi Ho kie berada dalam keheran2an mendadak bau harum telah menusu hidungnya, kemudian lantas rubuh tidak ingat orang.

It Tim tojin lantas maju menghampiri dengan pedang terhunus, tapi seorang imam tua yang berambut putih telah mencegah sambil membentak: "Sutit, jangan kau ganggu jiwanya, kita tangkap saja dan bawa pulang kegunung Hoa-san, biarlah ciangbunjin yang mengambil keputusan."

It Tim tojin yang benci sekali terhadap Ho kie terpaksa tidak bisa berbuat apa2, ia lantas kempit dirinya Ho kie dibawah ketiaknya.

Tiga imam itu selagi hendak berlalu, mendadak mendengar orang membentak dengan suara yang seperti geledek.

"Hai kawanan kurcaci, tengah hari bolong kalian berani melakukan perampokan, sungguh besar nyali kalian."

Tiga imam itu terkejut, lalu hentikan tindakannya. Ketika berpaling, mereka lihat seorang muda berbadan kekar dah berwajah hitam, matanya melotot memandang mereka sambil menggengam dengan senjata pecutnya Kiu Ciat Pian.

Pemuda hitam itu adalah Gouw Ya Pa.

Dengan sangat murka Gouw Ya Pa membentak lagi sambil menuding kawanan imam itu.:

"Manusia keparat, lekas tinggalkan orang itu."

It Tim tojin mundur 2 tindak, sambil menghunus pedangnya ia bertanya dengan suara dingin:

"Kau siapa?"

"Kau tidak usah perdulikan siapa tuanmi ini! Aku suruh kau tinggalkan orang, kau harus segera menurut. Kalau kau bermain2 banyak bicara, tunamu nanti akan menghajar kau dulu sampai mampus!"

It Tim tojin sangat mendongkol, ia mengawasi susioknya, agaknya hendak bertanya apakah ia boleh turun tangan atau tidak? Imam yang menggunakan senjata Toat-beng Coa hoat mempunyai nama gelasr Tee Tian, Dengan Jin Hian Totiang dan Cangbinjin dari Hoa san pay ada dewasa ini Thian Hian totiang merupakan tiga serangkai dari golongan tetua yang masih hidup. Ketiga orang imam itu didunia Kang ouw disebuat sebagai Sam Hian tojin.

Diantara ketiga Hian itu, adalah Tee Hian totiang yang meyakinkan ilmu silat dari golongan keras(Gwa kang). Adatnya paling berangaasan. Melihat sikap Gouw Ya Pa yang sangat kasar, maka lantas ia berkata dengan suara dingin:

"Sutit, letakkan dulu bocah She Ho itu. Hajarlah manusia goblok ini."

It Tim tojin sangat girang mendengar perkataan susioknya, segera Ho kie diletakkan diatas tanah dan lantas lompat menghampiri Gouw Ya pa.

Gouw Ya Pa mendengar dirinya dimaki sebagai manusia goblok, bukan main gusarnya.

"Manusia kepara! Siapa yang kau katakan goblok?" It Tim tojin menyahuti:

"Manusia sekasar kau ini, kalau bukannya manusia goblok habis apa?"

"Fui!! Apa tenggorokanmu itu cakap. kamu cuma merupakan imam busik yang dimulutnya saja membaca doa, tetapi dalam hatinya yang dipikiri selalu kaum wanita."

"Manusia goblok mulut kotor, lihat pedang ini. Aku nanti cincang dirimu!"

Setelah memaki demikian, It Tim tojin dengan pedangnya lalu menusuk kedada Gouw Ya Pa. Pedang It Tim tojin itu tidak dipandang sama sekali oleh Gouw Ya Pa, bahkan ia menyerang leher dan kaki It Tim dengan sepasang pecutnya.

It Tim tojin agak kesima atas keberanian pemuda itu, dengan cepat ia mengelakkan dirinya dan sudah berada dikiri Gouw Ya Pa.

Gerakan badan Gouw Ya Pa memang agak kurang gesit, bahkan kelihatannya sangat kaku.

Sebelum ia keburu memutar tubuhnya, pedang It Tim tojin sudah membacok pinggangnya.

It Tim tojin tidak menghendaki jiwanya Gouw Ya Pa, maka untuk serangan itu hanya menggunakan tiga bagian kekuatan saja.

Siapa tahu, serangan pedang itu cuma membikin robek baju Gouw Ya Pa saja, sedangkan kulitnya tidak apa2.

"Hai, Imam keparat! Rupanya kau tukang jahit kampungan, dengan sengaja kau membikin robek bajuku!" kata Gouw Ya Pa sambil ketawa bergelak2.

Bukan kepalang kagetnya It Tim tojin, dengan cepat ia memburu, sambil memutar kedua pecutnya ia mengarah batok kepala It Tim tojin.

Tee Hian dan Jin-hian, kedua imam tua yang menyaksikan kejadian itu, wajah mereka keduanya lantas berubah, mereka lalu berseru:

"Sutit, hati2!"

It Tim tojin menyambuti serangan pecut Gouw Ya Pa dengan pedangnya, ketika kedua senjata beradu, ia merasakan kesemutan dan pedangnya terlepas dari tangannya. Gouw Ya Pa tidak mau memberi hati lagi, kaki kanannya digeser maju kedepan, pecut ditangan kirinya kembali telha menyabet pinggang It Tim tojin.

Selagi It Tim tojin berada dalam bahaya, tiba2 kelihatan sinar putih berkeredepan yang datang mengancam wajah Gouw Ya Pa.

Meskipun mempunyai ilmu kebal, yaitu badannya tidak mempan akan segala macam senjata tajam, tetapi untuk panca inderanya, ancaman itu tidak boleh dibuat main2.

Oleh karena pada kedua tangannya membawa dua pecut, maka pecutnya yang berada ditangan kanannya masih tetap mengarah It Tim tojin, sedang pecut yang ada ditangan kirinya dipergunakan untuk menyampok senjata yang mengancam mukanya.

It Tim tojin berseru tertahan, gegernya dengan telak telah terkena pecutan Gouw Ya Pa, matanya berkunang-kunang, badannya jatuh ngusruk kedua langkah mulutnya telah mengeluarkan darah segar.

Bersamaan dengan itu, pecut ditangan kiri Gouw Ya Pa telah kebentrok dengan bendan yang lunak. Benda itu adalah seutas benang yang terbuat dari pada emas muri, diujungnya ada serupa senjata baja yang berbentuk kepala ular, besarnya kira2 tiga dim. Lidah ular kelihatan berwarna hitam. Benang dilain ujung berada ditangan Tee hian Tojin.

Gouw Ya Pa kibaskan tangannya, senjata berupa kepala ular lantas melibat pecutnya Gouw Ya Pa dan telah mengenakan lengan kirinya.

Gouw Ya Pa lompat mundur sambil berseru: "Eiii, bisa mengigit orang." Karena ia mempunyai ilmu kebal yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, maka jarum berbisa yang berada di ujung lidah senjata itu ketika mengenakan lengannya, ia hanya merasakan seperti ditusuk paku saja dan hanya meninggalkan bekas bintik putih kecil pada lengannya itu.

Gouw Ya PA memutar lagi pecutnya, sekarang ia hendak melibat benang emasnya Tee Hian totiang.

Imam tua itu ketawa dingin, ia menarik kembali senjata Toat Beng Coa hoannya kemudian menggeser maju kakinya, tangannya menghajar batok kepala Gouw Ya Pa.

Meskipun badan Gouw Ya Pa tidak mempan dengan senjata tajam, tetapi serangan Tee-hian tojin yang disertai kekuatan tenaga dalam dan diarahkan kepada jalan darah Thian leng hiat, dibagian batok kepala Gouw ya Pa, jika serangan itu mengenakan dengan tepat, ilmu kebal Gouw Ya pa akan buyar seketika dan orangnya juga tentu binasa.

Gouw Ya Pa yang merupakan seorang kasar dan bodoh, sudah tentu ia tidak mengenal akna serangan imam tua itu.

Sedikitpun ia tidak mau mengambil perhatian atas ancaman lawannya, sebaliknya malah maju merangsek dan kedua senjatanya mengarah kaki Tee hian lojin, sedangkan mulutnya lantas mengeluarkan bentakan:

"Imam keparat! rasakan pecut Toayamu!"

Tee hian Tojin ganda ketawa dingin dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang batok kepala Gouw Ya Pa....

Dalam saat yang sangat berbahaya bagi dirinya Gouw Ya Pa, mendadak kedengaran suara bentakan halus yang kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan putih dan disertai oleh sambaran angin yang sangat dahsyat. Kekuatan Lweekang Tee hian Tojin ketika saling bentur dengan sambaran angin tadi, seketika telah terpental balik, bersamaan dengan itu, ditengah udara lantas penuh dengan hawa busuk.

Tee hian Tojin berubah wajahnya, buru2 ia mundur sejauh mungkin.

Ketika ia membuka lebar- matanya, lantas melihat seorang pemuda berdandan seperti anak sekolah sedang berdiri didepan Gouw Ya Pa, sambil tersenyum meng- goyang2kan kipasnya.

Tee hian Tojin diam2 menyedot napasnya. ia merasakan bahwa jalan pernapasannya telah terhalang, maka  wajahnya lantas pucat seketika, buru2 ia berkata kepada suteenya:

"Cilaka!! Bocah ini mempunyai ilmuu Hu-sie hiat kut cang lek. Pasti dia adalah orang Hian kui kauw."

Belum selesai perkataannya, badannya dirasakan sempoyongan, maka buru-buru ia mengambil obat dari dalam sakunya dan segera di telannya.

Jin hian Tojin terperanjat, dengan cepat ia menghunus pedangnya.

Pemuda sekolahan itu lantas berkata sambil ketawa ; "Tidak perlu begitu tergesa gesa. Kaiau aku mau

mengambil jiwanya, dapat kulakukan dalam tempo sekejapan saja, Seranganku tadi hanya memakai empat bagian dari kekuatan tenagaku dan sudah cukup untuk dia mengaso beberapa bulan lamanya."

Gouw Ya Pa yang melihat pemuda seperti anak sekolah itu ternyata Lim kheng adanya, wajahnya lantas berubah marah karena malunya, kemudian ia berkata sambil nyengir:

"Nona, kau pergi tukar baju kenapa begitu lama?"

Pemuda itu mendadak berubah wajahnya dan membentak dengan suara keras ;

"Apa kau kata?"

"Baiklah!! Aku tidak akan berkata apa2 lagi. Aku nanti panggil kau Kongcuya. Kau bukanlah satu nona, akulah baru yang harus disebut nona. "

Pemuda itu selembar wajahnya menjadi merah padam, lalu membentak :

"Jangan kau ngaco belo! Lekas gendong dia dan ikut aku."

Gouw Ya Pa lalu menghampiri Ho Kie dan menggendongnya.

Jin hian Tojin lintangkan pedangnya dan berkata sambil tertawa dingin :

"Sicu! Orang kau boleh bawa, tetapi kau harus tinggalkan nama supaya pinto setelah kembali kegunung bisa memberi laporan kepada Ciang bun-jin."

"Kalian sudah tahu nama ilmu serangan tanganku tadi, apa kalian tidak dapat menduga siapa adanya aku ini?" jawab anak muda seperti anak sekolah itu sambil ketawa hambar.

"Kalau begitu, Sicu benar2 adalah murid dari Hian-kui kauw yang disebut oleh orang2 sebagai Giok-sie-seng Jie le Peng." berkata Jin-hoan Tojin dengan suara berat.

"begitulah kiranya" Anak muda itu mengangguk. Jin-hian lojin ketika mendengar jawaban itu, matanya lantas beringas, badannya lantas gemetaran, berulang ulang ia tertawa dingin kemudian berkata :

"Baik! Hoa-san-pay dengan Kian kui kauw tidak mempunyai permusuhan apa2, tapi kalian telah menyerbu Ngo-kui khio dan merampas kalajengking emas dari perguruan kami serta sudah membunuh banyak sekali orang2 kami, dan sekarang kembali dengan mengandalkan,

....."

"Urusan itu tidak ada hubungannya dengan aku." Pemuda itu memotong ucapan Jin hian Tojin sambil tertawa. "Kalau kalian mempunyai kepandaian, datang saja ke Kui-kok untuk membikin perhitungan."

"Apa kau sudah pastikan bahwa kami Hoa san pay tidak berani menyerbu Kui-kok?"

"Aku tokh tidak bilang demikian. Setiap waktu kalian boleh datang."

"Kalau begitu persoalan hari ini nanti kami akan bereskan di Kui kok sekalian."

Sehabis berkata, Jin hian Tojin lalu membimbing Tee hian Tojin dari It Tim Tojin yang terluka segera berlalu dengan perasaan mendongkol.

Pemuda itu hanya melihat mereka sambil ketawa dingin, kemudian mengawasi Gouw Ya Pa. Pemuda tolol itu ternyata sedang mengawasinya dengan melongo dan mulut ternganga.

Pemuda itu wajahnya merah seketika lalu membentak dengan suara perlahan:

"Kau lihat apa? Lekas jalan.." Gouw Ya Pa sebetulnya sedang mengagumi wajah dan kulitnya pemuda itu yang cakap putih dan bersih laksana salju. Hatinya merasakan tidak keruan, entah apa yang dipikirkan. Ketika mendengar bentakan si anak muda, ia tersadar dari lamunannya dan buru buru angkat kaki,

Ketika menyaksikan keadaan Gouw Ya Pa seperti seorang linglung, diam2 pemuda itu ketawa geli, kemudian bertanya kepadanya:

"Kau hendak kemana?"

"Tadi, bukankah kau yang suruh aku jalan."

Sambil berkata demikian. Gouw Ya Pa melongo dan buru2 menghentikan tindakannya.

"Aku suruh kau berjalan kemari, siapa suruh kau mengikuti kawanan imam tadi."

Gouw Ya Pa seperti baru tersadar dari mimpinya, sambil memondong Ho Kie ia mengikuti pemuda seperti anak sekolah itu, menuju kearah rimba lebat.

Pemuda itu menyuruh Gouw Ya Pa meletakkan Ho Kie, kemudian ia mengangkat mukanya Ko Kie dan diperiksanya dengan teliti, kemudian ia berkata pada diri sendiri : "Tidak nyana imam tua keparat itu juga satu akhli racun. Masih untung ia ketemu dengan aku, Kalau tidak sungguh sukar di obati."

Gouw Ya Pa tidak mengerti apa yang dikatakan sipemuda, lalu bertanya :

"Kecuali kau siapa lagi yang harus mengobati?"

Pemuda itu tidak msmpedulikan padanya lagi. dari dalam sakunya lalu mengeluarkan dua buah botol berisi obat. Ia melongok mengawasi keadaan disekitarnya sejenak, tiba2 berkata kepada Gouw Ya Pa dengan suara dingin;

"Pergilah cari sedikit air!!"

Siapa njana dua kali ia menyuruh, Gouw Ya Pa masih tetap tidak bergerak.

Pemuda itu merasa jengkel, maka lantas membentak; "Hai tolol! Aku suruh kau pergi cari air. Dengar tidak!" "Cari air sih gampang, mengapa kau bilang aku tolol ?" "Kau tidak tolol!! Lekas pergi cari air. Kalau kau tidak

mau, jangan sesalkan aku nanti berlaku tidak sungkan2  lagi

padamu."

Gouw Ya Pa dalam hati sangat mendongkol, Ia menggerutu sendiri. "Aku siorang she Gouw apapun tidak takut, sayang aku hanya takuti seorang perempuan yang bercampur dengan orang laki"........

Anak muda itu mempunyai pendengaran yang sangat tajam. ia telah mendengar semua apa yang diucapkan oleh Gouw Ya Pa tadi, maka ia segera membentak :

"Diam! Siapa yang kau katakan orang perempuan."

Gouw Ya Pa juga sudah mulai gusar, maka lantas menjawab dengan kasar.

"Kecuali kau siapa lagi? Ehh, aku beritahukan padamu, aku bukannya takut kepadamu, cuma aku merasa menyesal telah merobek bajumu dan kedua karena aku memandang muka Ho Toako. Kau jangan berlagak main perintah kepada Gouw Toayamu seperti terhadap seorang budak, barangkali pecut ini akan mampir dibadanmu untuk membikin patah. " Sebetulnya ia ingin mengucapkan membikin patah tulangmu yang rendah, Tapi untungnya mendadak ia bisa berpikir dan bisa kendalikan amarahnya, Baru saja sampai ditenggorokkannya, perkataan itu sudah dapat ditelan kembali.

Matanya sipemuda kelihatan berputaran, ia tidak gusar, sebaliknya malah ketawa. "Aaaaa Kau pasti salah lihat orang,"

Dalam hati Gouw Ya Pa berpikir. Salah? sekalipun kau dibakar sampai hangus juga masih tetap dapat kukenali.

Meskipun dalam hatinya ia berpikir demikian, tetapi dimulutnya berkata :

"Taruh kata aku salah lihat orang, apa kau sendiri juga bisa salah lihat orang? Kalau kau tidak kenal, apa perlunya mencari Ho Toako.,. "

Pemuda seperti anak sekolah itu tidak mau memberikan penjelasan, ia hanya berkata sambil ulapkan tangannya ;

"Jangan banyak mulut, lekas pergi cari air. Kita perlu menolong orang "

Gouw Ya Pa pergi mencari air, setelah mendapatkan yang dicari, lekas2 ia balik kembali.

Tetapi baru saja ia sampai dipinggjr rimba, ia lantas berdiri kesima.

Kiranya ia telah dapat melihat pemuda seperti anak sekolah itu sedang mengangkat wajah Ho Kie sambil dekatkan mulutnya kepada mulut pemuda itu......

Meskipun betul Gouw Ya Pa itu seorang yang tolol, tetapi juga mengerti tentang urusan percintaan, maka dalam hati lantas berkata sendiri. Bagus, Apa kau masih hendak mungkir ? Sekarang aku lihat dengan mata kepala sendiri. Ia lantas membuang airnya, dengan tindakan indap2 ia berjalan menghampiri mereka.

Pemuda anak sekolah iiu rupanya sedang terbenam dalam pikirannya sendiri. Sambil memeluk Ho Kie, ia menciumi ber-ulang2. Meskipun ia adalah seorang berkepandaian tinggi, tetapi saat itu ia tidak merasa ketika Gouw Ya Pa sudah berada didekatnya.

Gouw Ya Pa menyaksikan kelakuan pemuda itu dengan hati berdebaran tidak keruan.

Sebentar kemudian, ia mendengar pemuda seperti anak sekolah itu berkata seorang diri. "Ah! Akhirnya aku dapat kesempatan yang baik juga. Kemesraan dalam waktu sesingkat ini, sekalipun aku mati juga sudah merasa puas."

Gouw Ya Pa terperanjat!! dalam hati dia berpikir "Eh!!

Orang tidak apa apa mengapa pikirkan mati?"

Pemuda itu dengan mata guram mengawasi Ho Kie, kembali berkata seorang diri ; "Dalam dunia, banyak orang laki laki mengapa aku cuma cintai dirimu seorang. Aiii, cinta semacam ini sesungguhnya amat menyulitkan diriku, tetapi aku rela menerima, aku tidak menyesal."

Mendadak wajahnya kelihatan seperti orang gusar, lalu mendorong Ho Kie yang tidak tahu apa apa, mulutnya berkata sendiri lagi : "Hmm, kau masih anggap aku sebagai musuh saja, Sudah tentu kau ada dia yang mengawani. Bagaimana bisa ingat diriku, siperempuan yang bernasib malang ini?"

Gouw Ya Pa diam diam merasa geli sendiri karena pemuda seperti anak sekolah itu sudah mengaku sendiri sebagai seorang wanita. Pemuda itu berkata pula dengan suara gemas. "Aku benar2 ingin membunuh kau, supaya kau benar2 tidak bisa bersama sama dengan dia "

Gouw Ya Pa terperanjat, ia mengertak gigi. Dalam hatinya menyumpahi. "Sungguh kejam hati kaum wanita. Kalau kau benar2 membunuh dia. aku Gouw Toaya akan adu jiwa denganmu.

Sebentar kemudian, pemuda seperti anak sekolah itu kembali memeluk diri Ho Kie dan berkata pula dengan suara terharu. "Aaaa bagaimana aku bisa berlaku kejam terhadapmu?? Sejak malam itu kita bertemu didalam rimba Cit jie kang, aku sudah merasa bahwa aku jatuh cinta padamu, tetapi kau sedikit pun tidak ambil tahu."

Pada saat itu, ketika orang itu berlainan keadaannya. Ho Kie berada dalam keadann pingsan, sudah tentu tidak mengetahui apa yang telah terjadi, sedangkan pemuda saperti anak sekolah tu sudah seperti orang mabuk, mulutnya mengoceh sendiri ia telah tenggelam dalam arusnya gelombang asmara. Hanya Gouw Ya Pa yang keadaannya sangat tidak enak. Ia yang menyaksikan adegan demikian, sebentar merasa girang sendiri, sebentar merasa kuatir dan sebentar lagi merasa gusar.

Ia sudah lupa kalau ia disuruh ambil air, dan pemuda seperti anak sekolah itu agaknya juga sudah lupa pada air yang dimintanya itu......

Mendadak pemuda itu tersadar, ia ingat akan airnya, maka lalu mendorong tubuh Ho Kie dari berkata seorang diri pula. "He!!!Mana airnya ?"

Gouw Ya Pa juga terperanjat, ia mengeluh "Celaka, airnya tadi sudah kubuang." Dengan cepat ia lari kepinggir kali untuk mengambil air, ia balik lagi kepada pemuda seperti anak sekolah tadi.

Setelah menyambuti air, mendadak wajah pemuda itu berubah merah dan bertanya dengan suara perlahan:

"Mengapa kau pergi bwgitu lama?"

"Perjalanan sangat jauh. Aku harus lari dua kali, baru kembali." jawab Gouw Ya Pa membohong.

Pemuda itu lalu mengeluarkan tiga butir obat berbentuk pil yang segera dimasukan ke dalam mulut Ho Kie. Ia lalu berbangkit dan memberi pesanan kepada Gouw Ya Pa :

"Kira2 setengah jam nanti, ia pasti akan berak2. Kau harus siap ssdia, setelah racunnya keluar semua, suruh ia beristirahat dulu, jangan melanjutkan perjalananya."

"Kalau begitu, kau sendiri?" tanya Gouw Ya Pa dengan heran.

"Aku hendak pergi!"

"Dengan susah payah baru bisa ketemu lagi! biar bagaimana kau tidak bisa tinggalkan dia."

"Kau hendak menahan aku? Kalau nanti dia sudah siuman, pasti akan sesalkan kau."

"Aku tidak perduli, Biar bagaimana kau jangan pergi lagi."

"Tidak! Lebih baik aku pergi"

Gouw Ya Pa lantas gusar. sambil lintangkan pecutnya ia berkata :

"Kalau kau memaksa mau pergi juga, terpaksa aku mau menahan dengan kekerasan."

"Apa kau mampu?" tanya pemuda itu sambil ketawa geli. "Tidak mampu juga harus kutahan sebisanya-." "Kalau begitu, kau boleh coba saja "

Setelah menyelesaikan perkataannya pemuda itu lantas melesat beberapa kaki jauhnya.

Kembali Gouw Ya Pa melintangkan pecutnya seraya berkata :

"Aku tidak ingin turun tangan terhadap kau, Kau. "

Siapa nyana, belum selesai ucapannya Gouw Ya Pa, pemuda seperti anak sekolah itu sudah menggerakan badannya dan mlayang melalui samping dirinya.

Gouw Ya Pa sangat gelisah, ia lantas mengejar sambil menggenggam pecutnya.

Tetapi baru saja ia berjalan beberapa tindak mendadak didengarnya suara Ho Kie muntah2 mengeluarkan air kuning dari dalam mulutnya.

Gouw Ya Pa lantas berpaling, tetapi pemuda seperti  anak sekolah tadi sudah lantas menghilang. Gouw Ya Pa lalu memaki-maki dalam hati. "Benar2 satu perempuan yang tidak tahu diri. Dibelakang orang berlaku begitu mesra, tetapi didepan orang berlagak alim." 

Ia menghela napas, terpaksa ia kembali, karena hendak menolong Ho Kie yang muntah2 dan berak2.

Setelah keluar semua racun dan tubuhnya per-lahan2 Ho Kie membuka matanya. Menyaksikan keadaan sendiri, ia merasa agak heran, lantas bertanya kepada Gouw Ya Pa :

"Hei! Di mana itu semua kawanan imam ?"

Gouw Ya Pa yang rupanya sedang mendongkol, lalu menjawab dengan suara dingin : "Imam? Imam tokh adanya didalam kuil!! Buat apa kemari, apa mau minta makan ?"

Ho Kie melongo. Ia seperti ingat tatkala dirinya kena racun, maka lantas berduduk dan berkata pula :

"Kiranya saudara Gouw yang menolong aku. "

"Sudah!! Sudah! Aku sendiri hampir cilaka. Siapa sih yang mempunyai kepandaian menolong dirimu?"

"Aku masih ingat betul, bahwa aku ini telah dilukai oleh senjata rahasianya imam itu. Siapa sebetulnya yang telah menolong aku?"

"Siapa lagi kalau bukannya nyonyamu itu."

Ho Kie terperanjat, "Kau maksudkan Lim Kheng ?" "Sudah  tentu  dia,  kecuali  dia,  siapa  lagi  yang  masih

mempunyai   kepandaian   begitu   yang   tinggi?   Dia  telah

melukai dua orang imam dari Hoa san pay dan satunya lagi lari terbirit birit,"

Bukan main kagetnya Ho Kie, ia lantas lompat bangun tetapi segera dicegah oleh Gouw Ya Pa.

"Jangan bergerak! Nyonyamu tadi sudah memesan supaya kau banyak mengaso dulu, jangan sembarangan bergerak." demikian kata sitolol,

"Dia, dia. dia sekarang ada di mana ?"

"Kau tanya aku, dan aku harus bertanya kepada siapa?" "Gouw Toako, tadi bukankah kau yang mengatakan....

Adakah dia yang datang menolong aku??. "

"Siapa kata bukan."

"Kalau begitu, sekarang kemana orangnya?" "Orangnya sudah pergi," "Mengapa kau biarkan dia pergi?" Ho kie mulai cemas lagi,

"Apa kau sesalkan aku? Siapa tahu hubungan apa yang ada diantara kau berdua. Satu hendak pergi, satunya lagi mengejar. Bukankah baik kalau tinggal bersama2. didepan orang pura2 malu, tetapi dibelakang orang berlagak begitu mesra. Mengapa sekarang kau sesalkan aku? Tadi kalau bukan karena melihat kau banyak muntah dan berak , siang2 aku sudah menghajar nyonyamu itu dengan pecutku itu!!" jawab Gouw Ya Pa yang sudah mendongkol, maka ucapannya juga kasar.

Karena sudah tahu kalau Gouw Ya Pa ini seorang yang tolol, maka Ho Kie tidak mau banyak ribut dengan dia, ia hanya merasa sedikit cemas, mengapa Lim Kheng yang sudah kembali lagi, entah apa sebabnya pergi lagi. Karena hatinya sangat gelisah maka ia hendak lompat bangun lagi,

Gouw Ya Pa lalu berkata dengan suara keras : "Aku suruh kau rebah, kau dengar atau tidak?"

"Lekas kita kejar padanya! Biar bagaimana aku harus dapat mengejar dia."

"Orang perempuan begituan, apa perlunya di-kejar?, Sudahlah!! Kau jangan pikirkan saja dia. Kalau kau malan tidak bisa tidur karena tidak ada kawan perempuan, aku nanti carikan yang lebih cantik"

Ho Kie tidak mau ambil pusing akan perkataannya. ia balikkan badan hendak lompat bangun. Tetapi baru saja ia berdiri, kepalanya dirasakan puyeng, matanya ber-kunang2 hampir saja jatuh lagi.

Gouw Ya Pa mulai jengkel, ia lantas menghantam perut Ho Kie. Karena badan Ho Kie masih lemas maka seketika lantas jatuh lagi. "Kau sungguh bandel!! Orang suruh kau rebah, mau keluyuran saja. Sekarang rebahlah dulu baik2. Aku nanti carikan air untukmu-"

demikian kata Gouw Ya Pa yang lalu meninggalkan Ho Kie seorang diri.

Kasihan keadaannya Ho Kie yang badannya sudah lemas, kembali harus kena hajaran si tolol, maka ia hanya dapat rebah telentang, dengan hati yang sangat gelisah. Ia tidak habis mengerti memikirkan dirinya Lim Kheng, sebab dalam hubungan mereka, ia belum pernah berlaku salah terhadap Lim Kheng, tetapi mengapa karena bajunya terobek oleh Gouw Ya Pa sehingga terbuka rahasianya, lantas kabur tidak mau balik lagi padanya.

Ia juga merasa heran, kalau seandainya benar Lim Kheng meninggalkan padanya, mengapa ia menolong dirinya dari kekuasaan orang2 Hoa san pay .

Tetapi setelah berhasil menolong dirinya mengapa harus berlalu lagi?

Pikir punya pikir, ia tidak dapat menduga duga hati Lim Kheng,

Gouw Ya Pa yang sedang mencari air, setelah ia sendiri sudah minum sepuas puasnya. dengan hati2 sekali ia menyenduk air sedikit untuk diberikan kepada Ho kie.

Selagi dalam perjalanan kembali melalui rimba itu, mendadak didengarnya suara seram, didepan matanya seperti ada berkelebat bayangan orang.

Gouw Ya Pa hentikan tindakan kakinya, coba pasang mata dan telinganya, tetapi disitu ternyata sunyi sepi tidak kelihatan bayangan seorang manusiapun juga. "Kurang ajar!! Apa dalam rimba ada setannya?" demikian sitolol itu menggerutu seorang diri, lalu melanjutkan perjalanannya.

Mendadak suara tadi itu terdengar pula dan kali ini dapat dilihatnya dengan tegas satu bayangan orang yang sedang melesat lari disampingnya, kira2 setumbak lebih dan melayang turun kedalam gerombolan rumput alang alang.

Gouw Ya Pa lantas menegur, ia lalu mengejar kedalam gerombolan rumput itu.

Rumput alang2 luas. Ketika Gouw Ya Pa tiba disini, ia melihat bayangan orang tadi sedang mendekam didalam gerombolan rumput dengan tidak bergerak.

Dengan tidak banyak pikir ia lantas menyerang punggung orang itu sambil memaki maki ;

"Kurang ajar kau masih mau berlagak?"

Katika serangan itu mengenakan sasarannya, orang itu kelihatan terpental, tetapi tidak menunjukkan reaksi apa- apa.

Gouw Ya Pa heran, ketika ia pergi memeriksa, hampir saja ia lompat mundur kiranya orang itu adalah It Tim Tojin dari hoa san pay, yang entah sudah dibinasakan oleh siapa dan meringkuk disitu sebagai mayat.

Ia merasa sangat heran, karena ia sudah tahu sendiri bahwa imam itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, entah siapa orangnya yang kepandaiannya melebihi dari si imam dan membinasakan padanya demikian rupa?

Ia melihat keadaan disekitarnya, dari rimba yang jauhnya kira2 beberapa tumbak, Ia dengar suara orang ketawa perlahan. Gouw Ya Pa buru2 memutar tubuhnya dan membentak dengan suara keras;

"Manusia keparat dari mana yang main gila didepan Toayamu?"

Ketika mendengar bentakan Gouw Ya Pa, suara ketawa itu lantas berhenti, sebagai gantinya sebuah benda  melayang menyambar batok kepala Gouw Ya Pa,

Dengan cepat Gouw Ya Pa tundukkan kepalanya tangannya lantas menyambar benda tersebut. dan ternyata itu cuma selembar daun saja.

Bukan kepalang kagetnya Gouw Ya Pa, ia menduga orang itu pasti adalah pembunuh si imam, karena dengan kepandaiannya yang sudah mampu menyambit dengan daun enteng seperti batu yang berat, sudah tentu kepandaiannya pun lebih tinggi dari pada imam itu.

"Manusia dari mana yang main sembunyi2an!! Keluar Gouw Ya Pa-mu ingin menguji kepandaianmu"

Tapi tantangannya itu cuma dijawab dengan suara ketawa dingin, tidak kelihatan ada orang muncul.

Mendadak ia ingat diri Ho Kie, karena lukanya masih belum sembuh, jika dapat dilihat oleh orang itu, bukankah runyam? Maka dengan cepat ia lantas larit keluar rimba!

Baru saja bergerak, dibelakangnya tiba2 mendengar suara orang ketawa geli, kemudian disusul oleh perkataannya:

"Eh, tolol, apa kau hendak mencari kawanmu itu?"

Suara itu ternyata adalah suara seorang perempuan, yang sangat merdu kedengarannya, maka Gouw Ya Pa lantas berhenti dengan mendadak, Benar saja tidak lama lantas muncul seorang wanita yang berjalan dengan perlahan dari dalam rimba.

Wanita itu memakai pakaian warna merah, rambutnya terurai kepunggungnya diikat dengan seutas tali sutera. Mukanya tertutup oleh kain sutera tebal, Hingga orang tidak bisa lihat tegas paras mukanya, Hanya dari gerakan dan tindak tanduknya, bisa diduga bahwa wanita itu masih muda usianya.

Ketika ia muncul dari dalam rimba, gerakan badannya yang sangat menggairahkan membuat Gouw Ya Pa kesima.

"Tolol, apa namamu?" tanya wanita itu sambil ketawa. Kalau pertanyaan itu keluar dari mulut orang lain, Gouw

Ya Pa pasti berjingkrak tidak mau mengerti, tapi karena keluar dari mulutnya seorang wanita muda dan kedengarannya begitu merdu, Gouw Ya Pa hatinya lemas berdebaran. setelah keluarkan ketawanya ia menjawab agak gelagapan ;

"Aku..,.,. aku she Gouw!"

"Dan namamu?" "Namaku Ya Pa!"

"Benar? Koko lucu!!! Ada juga baik, tidak adapun sudah, bukan begitu artinya?"

Gouw Ya Pa mengangguk. Mendadak ia ingat sesuatu, maka lantas berkata ;

"Apakah imam itu kau yang membunuhnya?"

"Tidak salah!!" jawab si wanita sambil anggukkan kepala dan kemudian keluar dan rimba dengan tindakan perlahan, Gouw Ya Pa terperanjat, karena seorang wanita yang begitu lemah gemulai dan cantik pula kira2nya, mengapa hatinya begitu ganas dan kejam?

"Tahukah kau, bahwa imam ini adalah orang dari Hoa san-pay...?" tanya Gouw Ya Pa sambil memburu,

"Aku tahu dia adalah It Tim Tojin dari Hoa san pay, kenapa kalau dia Hoa-san-pay? Apa kau kira aku takut pada mereka? Kepandaian orang2 dari partay persilatan terbesar tokh cuma sepele saja. Tolol, tahukah kau siapa aku ini?"

"Ini aku tidak tahu." jawabnya gugup.

"Kalau aku sebutkan, kau pasti lompat kaget." "Ah, yang benar?? coba sebutkan siapa kau?" "Aku she Siu. "

Wanita baju merah itu cuma mengatakan she Siu saja lantas tutup mulutnya, sepasang matanya memandang dingin kepada Gouw Ya Pa.

"Aku lihat kepandaian ilmu silatnya mirip dengan kaucu dari Hian kui kauw, kalau sahabatmu she Ho itu berkepandaian serupa dengan dia, apakah kalian orang2 dari Hian kui kauw?"

Ya Pa, kemudian bertanya dengan suara ketus: "Gouw Ya Pa, pemuda disana itu apamu?" "Dia she Ho bernama Kie, sahabat karib ku!"

"Dan siapakah itu pemuda baju putih yang berdandan seperti anak sekolah?"

Gouw Ya Pa kira yang ditanyakan itu adalah Lim Kheng, maka lantas menjawab dengan hati mendongkol: "Nona Siu, kau tak usah sebut2 dia, pemuda itu bukan seorang laki2, tetapi seorang wanita muda yang menyaru, namun ada seorang wanita yang tidak tahu malu. "

Mendadak ingat bahwa nona baju merah ini juga adalah seorang wanita, kerena kuatir menyinggung perasaannya, tiba2 ia tutup mulutnya.

Tapi nona baju merah itu tidak gusar, sebaiknya malah ketawa sambil anggukkan kepalanya.

"Aku bukan orang2nya Hian kui kauw, engko Ho Kie juga bukan. Wanita itu dari golongan mana, aku juga tidak tahu. Dia mungkin adalah orang dari Hiau kui kauw!"

Wanita baju merah itu berdiam sekian lamanya, baru berkata pula sambil ketawa:

"Kalau begitu, aku beritahukan padamu juga tidak halangan. Aku she Siu, yaya-ku Thian sat Sin kua, Siu It Cu yang namanya menggetarkan dunia pada 50 tahun berselang. Cian tok Jin mo (manusia iblis berbisa ) Jie Hui, kaucu dari Hian kui kauw yang sekarang, adalah murid yaya yang telah murtad pada waktu itu. Apa kau pernah dengar?"

Gouw Ya Pa terperanjat. Meski ia belum pernah dengar nama Thian sat Sin kun, tapi tentang Thian tok Jin mo yang mendirikan perkumpulan Hian kui kauw hendak menjagoi dunia persilatan, hampir semua orang sudah tahu, Kalau keterangan wanita ini benar kepandaiannya wanita ini tentunya ada hebat.

Tapi ia aganya tidak mau percaya keterangan wanita itu.

Wanita she Siu rupanya dapat menebak jalan pikiran si tolol, ia diam sejenak, lalu bertanya ,

"Apa kau tidak percaya?" "Aku pernah dengar orang cerita, kaucu Hian kui kauw Cian tok Jin mo, kepandaiannya didapatkan dari kitab pelajaran ilmu silat, tidak ada seorang yang mengatakan dia punya guru."

"Itu semua bohong, Jin Hui sebelum mendapatkan Hian- kui pit-kip, sebagai murid yayaku, memang sudah mempunyai kepandaian luar biasa. Kemudian yaya dapatkan kitab Hian-kui-pit-kip jilid II. Jie Hiu timbul pikiran jahatnya, ia diam2 telah mencelakakan diri yaya, kemudian mencuri kitab Hian kui-pit-kip dan mendirikan perkumpulan Hian kui kauw..,. ,." ketika bicara sampai

disini, wanita itu nampaknya gemas, setelah mengertek gigi, lalu berkata pula:

"Kepandaian yaya yang luar biasa hebatnya sudah akan selesai, ada satu hari nanti akan bikin Cian tek Jin mo Jie Hui tidak dapat lolos dari pembalasannya. "

Dengan gusar ia lantas meninggalkan rimba itu untuk menghampiri Ho Kie rebah, sambil diikuti oleh Gouw Ya Pa.

Ho Kie saat itu masih tidur nyenyak, terang racunnya sudah habis dikuras keluar.

Wanita baju merah itu berhenti disisinya, ia mengawasi Ho Kie sejenak, tiba2 menghela napas, lalu berkata kepada Gouw Ya Pa :

"Gouw Ya Pa kau gendong dia!!"

"Apa perlunya menggendong dia?" tanya Gouw Ya Pa heran,

"Kau tak usah tanya, aku suruh kau gendong, gendong saja!" "Dia sudah bisa berjalan sendiri, suruh dia bangun!" ia lalu goyangkan tubuh Ho Kie

"Hai..Hai... bangun!! mengapa tidur seperti orang mati?"

Tidak nyana Ho Kie cuma balikkan badannya sebentar lantas tidur lagi. Menyaksikan keadaan demikian, Gouw Ya Pa merasa sangat heran.

-oo0dw0oo-

GOUW YA PA sudah tahu benar bahwa racun dalam diri Ho Kie sudah keluar semua, tapi mengapa sekarang kembali berada dalam keadaan seperti pingsan ?

Ia tidak mau mengerti berulang ulang ia goyang2kan badannya sembari memanggil-manggil.

"Hai, engko Ho, bangun !"

Wanita baju merah itu lalu berkata dengan suara dingin : "Tidak perlu dibangunkan, dia sudah kutotok jalan

darahnya, kalau aku tidak buka mana bisa mendusin?"

Gouw Ya Pa yang mendengar keterangan itu, lantas lompat bangun. Meski ia agak jeri terhadap wanita baju merah itu, tapi karena dengan Ho Kie, ia sudah mengikat tali persahabatan yang akrab, bagaimana ia mau mengerti sahabatnya diperlakukan begitu rupa?

Dengan nekad ia menyerang kepada wanita baju merah itu.

"Kau mencari mampus!" bentuk wanita baju merah itu. Lalu gerakkan pundaknya, dengan secara gesit sekali sudah bisa mengelakan serangan si tolol. Kemudian kebutkan lengan bajunya. menggulung pergelangan tangan Gouw Ya Pa. Lengan baju itu meski tidak cukup satu kaki panjangnya, tapi ketika diputar, ternyata dapat mengeluarkan angin yang amat dahsyat. Gouw Ya Pa ketika agak lalai, pergelangan tangan kirinya sudah kena digulung.

Gouw Ya Pa terperanjat, ia menarik sekuat tenaga, tapi ia merasakan bahwa lengan baju wanita itu seolah olah ular berbisa yang melibat tangannya, jalan darahnya segera dapat dikuasai, sebingga tidak bisa mengeluarkan tenaga.

Mendadak ia menggeram, tangan kanannya kembali menyerang dengan hebat.

Wanita baju merah itu ketawa, dengan lengan baju tangan kirinya kembali ia melibat tangan kanan Gouw Ya Pa.

Gouw Ya Pa seorang yang kasar dan sangat handal, karena mempunyai ilmu kebal, ia bisa bertempur secara membabi buta tanpa takuti senjata musuhnya. Kala itu meski kedua tangannya sudah terlibat, tapi ia masih melawan terus dengan kedua kakinya menendang perut lawannya.

Wanita baju merah itu nampaknya sudah sangat mendongkol, mendadak ia tarik kembali lengan kirinya, sedang tangan kanannya ia kebutkan. Dengan demikian, maka tubuhnya Gouw Ya Pa yang besar lantas terlempar sejauh tiga tumbak dan jatuh menggeletak ditanah.

"Gouw Ya Pa, kau menyerah apa tidak?" tanya wanita itu dingin.

Tapi Gouw Ya Pa pantang menyerah kepada musuh, kembali ia merangkak bangun, kemudian nyeruduk seperti banteng. Wanita baju merah itu sangat gusar, dengan cepat egoskan dirinya, sehingga Gouw Ya Pa kenjukejuk sampai kira2 1 tindak baru bisa tancap kakinya.

Wanita itu lalu kebutkan lengan bajunya dengan telak mengenakan pantatnya.

Serangannya itu ada hebat, bagi lain orang barangkali sudah tidak ampun lagi, pasti disaat itu juga melayang jiwanya. tapi bagi Gouw Ya Pa yang mempunyai ilmu kebal, cuma sempoyongan dan akhirnya jatuh ngusruk ditanah.

Tapi ia tidak mau sudah, kembali merangkak bangun nyeruduk lagi!

Untuk sementara wanita baju merah itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, sekalipun jungkir balik ber-ulang , si tolol itu tetap membandel tidak mau menyerah.

Wanita itu tiba2 mendapatkan suatu akal, setelah memancing lagi supaya Gouw Ya Pa menyeruduk, ia lalu menyambar tubuhnya dan melibat lehernya, setelah itu dengan kencang ia mencekik leher Gouw Ya Pa seraya berkata:

"Kau menyerah mau tidak? Kalau kau tidak mau menyerah, aku nanti jerat mampus padamu!!"

-oo0dw0oo-