-->

Lembah Patah Hati Lembah Beracun Jilid 09

 
Jilid 09

TIO GO mundur kepinggir pintu sambil menyiapkan senjata talinya.

Setelah berada didalam kamar, tanpa banyak rewel lagi Ho Kie dengan kedua lengannya menyerang Bo Pin dan Tio Go. Karena ia sudah berlaku nekad, serangannya itu telah dilancarkannya dengan sepenuh tenaganya,

Bo Pin dan Tio Go yang tidak pernah menyangka dalam tempat penting itu juga ada orang yang berani masuk, dalam kagetnya mereka hanya bisa mengelakan seranganya Ho Kie.

Apa mau serangannya Ho Kie yang hebat itu telah nyelonong menggempur dua orang laki-laki yang sedang menjalankan tugasnya memasang api, sehingga keduanya lantas pada rubuh binasa seketika itu juga.

Orang2 yang lainnya coba mengurung Ho Kie, tapi Ho Kie yang sudah kalap benar, sudah menyerang semua yang dihadapannya dengan hebat sekali, sehingga sebentar saja ada lima atau enam orang yang terbinasa di-bawah tangannya. Segera ia sudah menyerbu kepinggir kuali hendak menolong dirinya Toan-theng Lojin,

Mendadak didengarnya suara bentakan: "Bangsat cilik, kau mencari mampus?"

Bentakan itu dibarengi dengan berkeredepnya sinar kuning didepan matanya Ho Kie. Itu adalah senjata talinya si orang she Tio.

Tio Go adalah seorang yang namanya sudah terkenal dalam kalangan hitam. senjata talinya yang dinamakan Tali Terbang itu entah sudah berapa banyak meminta korban jiwa manusia, sehingga menarik hatinya kaucu dan pada hari terakhir ini ia telah ditarik menjadi anggota Hian kui- kauw.

Karena ia ingin membuat pahala, lagi pula melihat Ho Kie yang masih muda belia, maka agaknya tidak dipandang sama sekali. "Bangsat kecil!! Kau tidak lekas2 menyerah? Nanti Tio Go-ya mu suruh kau. "

Siapa tahu, perkataan kau baru saja keluar dari mulutnya, Ho Kie sudah lenyap dari pandangannya.

Tio Go terperanjat. Pada saat itu suatu kekuatan yang maha dahsyat telah menerjang dari belakang dirinya.

Tio Go yang masih belum mengenal ilmu silat Hong eng sie sek, seketika itu terjadi kelabakan. Cepat2 ia menyabet balik dengan talinya,

Meskipun gerakannya itu dilakukan dengan cepat, tetapi tidak urung pundaknya telah terkena serangan Ho Kie dengan telak.

Ho Kie yang sudah merasa gemas sekali terhadap orang tua itu, telah melancarkan serangannya dengan kekuatan penuh, sehingga Tio Go ter-huyung2 dan mulutnya menyemburkan darah segar,.....

Bo Pin sangat kaget, ia lantas memburu pada Ho Kie, Sambil lintangkan goloknya, ia menegur dengan bengis ;

"Bangsat cilik, kau siapa begitu berani bikin onar dalam goa harimau ?"

Dengan mata merah, beringas Ho Kie menjawab sambil ketawa dingin ;

"Bo Pin, apa kau sudah tidak kenali Siao-yamu? Ha, ha ! Siaoyamu hendak menagih atas serangan tanganmu tempo hari diatas lembah Patah Hati!"

"Kau....apa kau. " Bo Pin berseru tidak

lampias,

"Rasakan dulu seranganku. Nanti kau mengetahui siapa adanya Siaoyamu ini" kata Ho Kie yang segera menggunakan ilmu "Tey lek kim kong cian"nya menggempur dadanya Bo Pin.

Bo Pin sudah lama melupakan peristiwa diatas lembah Patah Hati, maka ketika itu ia tidak dapat menduga siapa adanya pemuda dihadapannya ini Tapi melihat pemuda itu dengan hanya sekali pukul saja sudah dapat merubuhkan Tio Go sampai terluka parah, segera ia mengerti bahwa bocah dihadapannya ini bukannya bocah sembarangan.

Maka ia tidak berani memandang ringan lawannya, setelah mengelakkan serangannya Ho Kie. dengan kecepatan bagaikan kilat yang nyambar mukanya sianak muda.

Bo Pin yang mempunyai gelar Pun lui khiu (tangan kilat), terang ia mahir dalam pertempuran kilat, Sekali ini ia menyambar pundak Ho Kie yang dibarengi dengan kekuatan Iweekang Liong jiauw kang, bukan main hebatnya. Tetapi malam itu Ho Kie bukan lagi merupakan Ho Kie yang masih anak anak pada dua tahun berselang!

Ho Kie yang sudah bertekad bulat hendak menuntut balas, sedikitpun tidak mempunyai rasa jeri atas serangan Bo Pin.

Ketika diserang secara demikian, ia kelit secara gesit sekali dan kemudian menggunakan Ilmu Hu kut hian kang- nya, sehingga sebentar saja ia sudah berada dibelakang Bo pin,

Bukan main kagetnya Bo Pin. Untung ia tidak memandang ringan pada musuh mudanya itu. Melihat Ho Kie menghilang dari pandangan matanya. dengan tidak menoleh lagi, goloknya lantas menyambar kebelakang dirinya sedangkan mulutnya bersamaan dengan itu lantas bar-kaok2 mendamprat orangnya ; "Manusia goblok!! Mengapa tidak lekas bunyikan kentongan ?"

Beberapa orang yang masih hidup, saat itu pada berdiri melongo tidak berani berbuat apa2. Ketika mendengar bentakan Bo Pin, mereka baru sadar, maka cepat2 mereka lari keluar kamar.

Ho Kie mengetahui, jika mereka berhasil membunyikan kentongan, tidak lama kemudian kamar itu tentu akan berada dalam kepungan dan saat itu lebih sulit lagi baginya untuk meloloskan diri. Oleh karena itu, maka ia segera meninggalkan Bo Pin dan lompat ke-depan pintu sambil menyerang seorang yang sudah berada dipintu. Tidak ampun lagi sikorban lantas binasa disitu juga.

Bo Pin yang menyaksikan kejadian itu, amarahnya memuncak segera ia menyerang Ho Kie dengan goloknya.

Dengan kekuatan Bo Pin pada kala itu, Sebetulnya Ho Kie belum merupakan tandingannya yang setimpal, tetapi Ho Kie sudah mata merah ( kesetanan ). Dengan tangan kosong ia mencegat didepan pintu, tidak membiarkan seorangpun bisa keluar dari dalam kamar,

Dua di antara orang2 yang masih hidup telah menggunakan kesempatan selagi Ho Kie sedang bertempur dengan Bo Pin, telah molos dari lubang angin.

Ho Kie yang harus melawan Bo Pin dengan sekuat tenaga, hanya dapat menyaksikan keluarnya kedua orang itu dengan hati gelisah dan mata mendelik.

Tepi heran, orang2 yang keluar dari lubang tadi, bukannya lekas membunyikan kentongan untuk meminta pertolongan, sebaliknya malah tidak ada kabar ceritanya. Bo Pin jadi gelisah hatinya. Mendadak pada saat itu kelihatan sesosok bayangan molos dari jendela, kemudian disusul pula oleh bayangan yang lain.

Kedua bayangan itu ternyata adalah kedua orang yang baru keluar tadi yang kini sudah balik kembali dalam keadaan sudah menjadi mayat.

Bukan saja Bo Pin, Ho Kie sendiri juga merasa heran karenanya.

"Bangsat cilik, kau datang dengan berapa kawan?, Mengapa kau tidak suruh mereka menempur aku sendiri?" kata Bo Pin dengan suara gusar.

Sudah tentu Ho Kie tidak bisa menjawab karena ia datang hanya seorang diri saja.

Siapakah gerangan orang dimuka itu? Apakah mungkin dia ada nona Jie Peng? sebab yang mengetahui Ho Kie menyerbu kekamar hukuman itu, kecuali Jie Peng, tidak ada orang keduanya lagi.

Tetapi kalau betul Jie Peng mengapa membantu dirinya dan membinasaksa orang2nya sendiri?.

Ho Kie juga sudah tidak ragu2 lagi akan pertolongan orang kedua, semangatnya lantas berkobar, serangannya diperhebat dan dapat mendesak mundur Bo Pin,

"Orang she Bo!!" bentaknya dengan suara dingin, "Sekarang dalam kamar ini hanya tinggal aku dan kau berdua! Kalau aku membunuh kau, sudah tentu tidak ada orang lain yang mengetahuinya."

"Apa kau kira aku takuti kau? Hmm!! Mari kita adu kekuatan" Bo Pin lemparkan goloknya

"Kau tidak usah berteriak! sekalipun tenggorokannya pecah, juga tidak ada yang bisa dengar. Malam ini hanya kematian saja akan menjadi bagianmu. Sebelum kau mati, biarlah kau ketahui dulu siapa adanya aku ini, Apakah kau masih ingat itu bocah kecil yang kau kejar2 pada dua tahun berselang ?"

Bo Pin terperanjat, ia sekarang lapat2 mulai ingat kembali, maka lantas lompat mundur sambil berseru:

"Aaii ! Kau adalah anaknya Ho In Bo."

"Benar! Kalau begitu ingatanmu masih terang. Masih ingatkah kau peristiwa berdarah itu?"

"Apa kau kira dengan kepandaianmu sekarang ini kau dapat menggunakannya untuk menuntut balas kepada Hian-kui-kiauw? Setan cilik. Kau sudah salah hitung !!"

"Belum tentu! Malam ini seolah2 ada kekuatan gaib yang membimbing aku, telah mempertemukan kita berdua didalam kamar ini. Orang she Bo, Perbuatanmu yang sudah membinasakan ayahku, malam ini harus kau ganti dengan jiwamu."

Bo Pin menoleh kepada Tio Go yang terluka dan kemudian mengawasi Toan-theng Lojin yang berada didalam kuali serta orangnya yang sudah pada rubuh binasa.

Memang bebar, malam itu seperti ia berada berdua hanya dengan pemuda itu. Dengan tidak dirasa, hatinya mulai keder. Ia yang mempunyai kekuatan masih diatasnya kekuatan Ho Kie, tetapi karena ia mengetahui bahwa dirinya pernah berbuat salah, mau tidak mau hatinya merasa gentar juga.

Tiba2 ia lantas membentak dengan suara keras, disusul dengan serangannya yang hebat.

Ho Kie ketawa dingin, dengan berani ia, menyambuti serangan lawannya itu. Setelah kekuatan kedua orang itu beradu, kedua pihak terpental mundur masing2 dua tindak-.

Bo Pin menggeram hebat, dengan mata beringas ia menyerang lagi,

Ho Kie pusatkan kekuatannya dikedua tangannya, untuk kedua kalinya ia hendak menyambuti serangannya Bo Pin. Tetapi kali ini serangaannya Bo Pin ada lebih hebat, Ho Kie merasakan dadanya bergolak .....

Bo Pin sendiri juga pucat wajahnya, matanya mengawasi Ho Kie sambil kerutkan alisnya.

Terang ia sendiri, setelah mengadu kekuatan, telah terluka parah didalamnya. Kedua pihak hanya saling pandang sambil mengatur pernapasan masing2, siapapun tidak berani bergerak, sehingga keadaan menjadi lebih- sunyi.

Mendadak Ho Kie mendengar suara elahan napas panjang, kemudian ada suara yang memanggil padanya.

"Anak, apakah kau. ?"

Ho Kie terperanjat, sampai kekuatannya yang sudah akan pulih kembali hampir buyar semuanya. Ia lihat mata Toan theng lojin sedang mengawasi padanya.

Dengan badan bergemetaran Ho Kie berkata perlahan : "Locianpwe, memanglah aku.....Dengan susah payah

aku mencari dirimu. "

Tian theng Lojin kembali menghela napas panjang. "Kau.....Kau!! Mengapa tidak mau dengar perkataanku?

Dan mencari aku kemari?"

Ho Kie merasa sangat pilu, air mata mengalir keluar, tetapi ia masih bisa menjawab dengan suara mantap. "Aku hendak menolong kau keluar dari sini. Locianpwe, aku hendak membunuh semua orang2 yang menyiksa dirimu "

"Anak bodoh, dengan kepandaianmu yang dimiliki sekarang, apa kau kira bisa menolong aku? Kau tidak mau dengar pesanku, dengan sembrono berani menerjang kemari. Itu berarti antarkan jiwa dengan cuma2."

"Sekalipun harus binasa, aku juga akan binasa dengan kau bersama2."

Pada saat itu mendadak Bo Pin membuka matanya dengan per-lahan2, kemudian dengan meringis berkata :

"Kecuali binasa bersama2m memang kalian tidak mempunyai jalan keduanya... "

"Tutap mulut!" Ho Kie membentak, segera melancarkan serangannya.

Bo Pin menyambuti dengan kertak gigi, setelah terdengar suara benturan dari beradunya kedua kekuatan, keduanya terpental mundur untuk kedua kalinya dan jatuh duduk bersama2 ditanah.

Bo Pin kemudian jatuh pingsan karena benturan kekuatan yang hebat tadi.

Ho Kie merasakan dadanya bergolak hebat, tetapi ia masih tidak mau melupakan Toan-theng Lojin, Ia tidak perdulikan lukanya sendiri, sambil memandang dengan matanya yang layu ia berkata kepada Toan theng Lojin.

"Locianpwe, aku,.....aku barangkali....... benar2 tidak mampu.... menolong dirimu.... keluar dari sini. "

"Aih ! ya sudahlah, kau anggap saja aku tidak pernah menolong kau. Dua tahun berselang kau sudah binasa dilembah Patah Hati. " Toan theng Lojin mengeluh. Ho Kie yang mendadak dengar perkataan itu, hatinya tergetar dan ia melompat berdiri sempoyongan, matanya berkunang-kunang.

Tetapi ia paksakan berdiri. Dengan suara nyaring ia berkata :

"Tidak! Kita tidak boleh mati disini......Aku pasti dapat menolong kau keluar, dari sini .....Locianpwee, apa kau masih bisa bergerak ?"

Toab-theng Lojin gelengkan kepalanya dan menjawab : "Kau lenyapkan saja pikiranmu itu, badanku sudah kena

racun Thian tok Cin mo. Kedua pahaku sudah bercacat, jalan darahku sudah ditotok, kepandaianku sudah musnah semua. Sekarang kembali disiksa oleh Tio Go dengan Pek- tok Kong-sim, Aku rasa, ajalku sudah hampir tiba. Sekalipun kau bisa menolong aku keluar dari sini percuma saja jiwaku tidak bisa tertolong."

Ho Kie tidak mau pencaya, dengan berjalan sempoyongan ia mau menubruk Toan-theng Lojin,

Tak disangka, tiba2 ia dengar Toan theng Lojin membentak :

"Diam !"

Ho Kie terkejut, terpaksa urungkan maksudnya. "Locianpwe," ia meratap," Harap supaya kau suka turut

aku sekali ini saja,"

Toan theng Lojin dongakkan kepala lalu berkata dengan suara sungguh2:

"Lekas berlutut !" Ho Kie tidak mengerti apa maksudnya, tetapi ia menurut saja. Hatinya berdebaran, entah kenapa orang tua itu demikian gusar.

Pada saat itu. Tio Go yang rebah dilain sudut perlahan lahan membuka matanya.

Toan theng Lojin berkata pada Ho Kie dengan suara perlahan:

"Kau dengar aku meskipun mempunyai hubungan seperti murid dengan guru, tetapi namanya masih belum menjadi muridku benar-benar. Sekarang, kalau aku binasa masih ada dua soal yang masih belum kuselesaikan. Inilah yang membikin aku mati tidak meram. Anak, asal kau bisa keluar dari Kui-kok. dengan selamat, apakah dua soal ini mau kau selesaikan ?"

"Locianpwe, kalau kau tidak mau ikut dengan aku pergi bersama sama, aku juga tidak mau pergi dari sini. "

Toan theng Lojin segera memotong :

"Ngaco ! Aku memberikan pelajaran ilmu silat padamu, apakah pesan teakhirku ini juga tidak mau kau dengar ?"

"Aku suka turut pesan Locianpwe......" jawab Ho Kie, gemetar suaranya ,

Toan theng Lojin tersenyum, dan anggukkan kepala. "Kau dengar baik2 dua soal penting yang kukatakan

tadi," katanya.

Ho Kie berlutut ditanah untuk mendengarkan pesannya si orang tua, pada saat itu Tio Go yang sudah sembuh dari luka2nya ia sudah menggeser tubuhnya dengan perlahan dan hendak berdiri.

Toan-theng Lojin agak berpikir sejenak, lalu berkata : "Pertama, setelah aku binasa kau harus meloloskan diri. Sebelum kepandaianmu sempurna betul, aku larang kau menyatroni lembah Kui kok ini- Selama kau mempertinggi ilmu mu itu, kau harus pergi ke Lam hay pho tho mencari seorang Nikow tua yang bergelar hian sim. Beritahukan padanya tentang kematianku ini. "

Ho Kie terperanjat, ia bertanya sambil mengalirkan air mata ;

"Hanya untuk memberi kabar sajA, apakah tidak ada soal lainnya?"

Toan theng Lojin geleng2kan kepalanya, air mata mengalir turun, ia berkata pula dengan suara parau :

"Kau katakan saja bahwa sebelum aku meninggal dunia, aku telah hidup menyendiri beberapa puluh tahun lamanya dan merasa sangat menyesal terhadap semua kesalahan dimasa lampau yang sudah tinggal sudah, harap saja di lain penitisan kita membalas untuk menebus dosaku !"

"Dan soal yang kedua?" Ho Kie bertanya. Toan theng Lojin menghela napas panjang, matanya tiba2 memancarkan sinar aneh,

"Kalau kau tiba di Pho tho" jawabnya "Dia pasti akan perlakukan kau dengan sikap yang dingin, tetapi kau harus bersabar. Kalau dia menanyakan kau pernah apa dengan aku, kau......." Baru saja berkata sampai disitu. mendadak sepasang matanya jadi

beringas, kedua tangannya menekan pinggiran kuali, badannya melesat tinggi dan menubruk belakang Ho Kie.

Ho Kie terperanjat, ia tidak mengetahui apa sebabnya, maka ia merasa serba salah Dalam keadaan demikian tiba2 terdengar suara jeritan ngeri. Tatkala Ho Kie menoleh dilihatnya Toan-theng Lojin sudah jatuh ditanah, tangannya menggenggam erat seutas tali emas, mulutnya tersungging senyuman puas,

suara jeritan itu datangnya dari luar kamar dan lama tidak berhenti. Tatkala Ho Kie mengawasi keadaan disekitar kamar itu. ternyata sudah tidak kelihatan bayangan Tio Go,

ia lalu mengerti apa yang telah terjadi, maka cepat2 menubruk dan memeluk dirinya Toan-theng Lojin seraya berkata ;

"Locianpwee, Locianpwee."

Napasnya Toan-theng Lojin memburu, tetapi masih bisa tersenyum bangga. Dengan susah payah ia berkata :

"Tidak sangka, selagi mendekati ajalku, aku masih bisa memberi hajaran kepada Tio Go yang ganas itu...,!"

"Locianpwe, aku benar-benar seorang yang tidak berguna," kata Ho Kie dengan suara terharu,

Toan-theng Lojin mendadak berkata dengan suara keren

:

"Panggil aku suhu! Dengar tidak ?"

Ho Kie tercengang, tetapi lantas saja merasa girang. "Suhu!! Suhu, kau. " serunya.

Toan theng Lojin anggukkan kepalanya dengan puas.

"Kalau dia tanya kau ada mempunyai hubungan apa

dengan aku. katakan saja bahwa kau adalah murid satu2nya dari aku." orang tua itu berkata puas.

"Suhu, suhu boleh legakan hati. Muridmu sudah mengerti," Sinar matanya Toan theng Lojin makin lama makin guram, ia menyuruh Ho Kie mendekatkan telinganya, kemudian berkata dengan suara terputus putus ;

"Suhumu masih ada hal lain yang hendak dikatakan padamu. Kau harus ingat, kau ...... harus ingat baik2!" Ia

terhenti sebentar untuk bernapas, sebentar kemudian baru ia berkata pula ;

"Mereka siang hari malam mendesak aku mengeluarkan Kian kui-pit kip jilid ketiga, tetapi semua kepandaian yang terdapat dalam kitab itu sudah kuberikan padamu. Kitab itu sudah lama kubakar, coba pikirkan, bukankah mereka itu bodoh sekali?"

Ho Kie tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka hanya anggukkan kepala saja.

"Aku membakar sejilid kitab yang mati, tetapi mendapatkan kitab yang hidup berupa dirimu. Sekalipun aku binasa, akupun akan merasa puas...... " Toan theng Lojin tersenyum.

Ho Kie sangat pilu hatinya. "Suhu, aku gendong kau keluar dari sini." demikian ia bersuara sekali lagi memohon. Sebelum sang suhu menjawab, dari jauh mendadak terdengar suara terompet dan kentongan yang kemudian disusul oleh suara ramainya orang2 berjalan kaki semakin mendekati.

Toan-theng lojin berubah wajahnya, lantas berkata sambil ulapkan tangannya :

"Jejakmu sudah diketahui. Lekaslah pergi ! Nanti tidak keburu lagi."

Ho Kie tidak mau meninggalkan suhunya begitu saja, ia coba pondong dirinya orang tua yang bernasib malang itu. Tapi, karena lukanya sendiri sangat parah, ia tidak bisa berdiri dengan tegak, sudah tentu tidak dapat memondong dirinya Toan-theng Lojin. Maka baru saja hendak berjalan, ia sudah rubuh lagi

Toan theng Lojin tersenyum puas, lantas bisik2 ditelinganya :

"Giok Sie seng Jie Peng dari Hian kui-kauw, meskipun berada dalam lumpur tapi tidak kena kotoran, orang demikian jarang didapatkan. Maka kau harus baik2 perlakukan padanya!"

Setelah itu, mendadak angkat tangan kanannya, menepok diatas jalan darah Khun-sim hiat Ho Kie sambil berseru "Pergilah!!"

Ho Kie terkejut, tiba2 badannya gemetar, tapi segera perasaannya tenang kembali, luka2 dalam badannya seketika lantas lenyap sebadan!

Dengan cepat ia lompat bangun dan hendak pondong dirinya Toan theng Lojin lagi, Tapi orang tua itu ternyata sudah tidak bernyawa,

Dengan memondong tubuhnya Toan theng Lojin yang sudah dingin, Ho Kie berdiri kesima........

Diluar kamar suara orang yang datang hendak menangkap padanya. tapi ia masih tetap berdiri seperti orang linglung.

Orang2 Hian kui kauw lantas menyerbu masuk. mereka dipimpin oleh Hui tun Thian-cun Tie Kong Han . Dibelakangnya ada 7-8 hiocu yang pada membawa golok dan pedang terhunus.

Tapi ketika melihat Ho Kie, tampaknya hanya pemuda biasa saja mereka terheran heran. "Bangsat kecil!! Kau mau kabur?" bentaknya Cek Kong Han.

Ho Kie tidak ambil pusing, ia pondong Toan theng Lojin diikat dengan sobekan pakaiannya sendiri.

Cek Kong Han yang tidak digubris sama sekali oleh Ho Kie, lantas menjadi gusar, lalu perintahkan para hiocu lantas turun tangan.

Dua hiocu lantas maju menyerang dengan goloknya, mereka mengira Ho Kie bersedia menyerahkan diri maka bermaksud hendak di tangkap hidup2. Siapa nyana saja bergerak, Ho Kie sudah melancarkan serangannya yang hebat!!

Meskipun dirinya masih terluka. hingga kekuatannya agak berkurang, tapi sudah cukup untuk bikin lawannya sungsang sumbel.

Ketika menampak kedua kawannya dibikin rubuh, yang lainnya segera maju mengurung. Ho Kie tidak berani berlaku ayal, ia sekarang mengerti keadaannya sendiri sangat berbahaya, maka ia berkelahi seperti kerbau gila. Sekejap saja sudah melancarkan serangannya yang sangat hebat.

Dengan sisa tenaga yang masih ada. Ho Kie melawan musuh2nya yang berjumlah lebih banyak. Karena ia berkelahi secara nekad, sebentar saja sudah berhasil merubuhkan 3 atau 4 musuh.

Cek Kong Han lalu turun tangan sendiri.

Ho Kie tahu bahwa musuh ini bukan orang sembarangan, ia tidak berani bertindak dengan kekerasan, dan kini memikirkan caranya untuk meloloskan diri. Dengan cepat ia menggunakan ilmunya Hoan in Sie sak, hingga sebentar saja sudah memutari sekitar kamar, 10 lebih obor lampu telah dibikin padam, hingga keadaan dalam kamar hukuman itu menjadi gelap gulita.

"Bangsat kau ingin kabur!" demikian bentak Cek Kong Han yang segera menyerang dengan senjatanya.

Secara gesit sekali Ho Kie mengelakan serangan tersebut, kemudian lompat melesat melalui lobang angin.

Cek Kong Han ketika mengetahui bahwa Ho Kie sudah lolos dari lobang angin, ia segera msngejar.

Ho Kie setelah berada diluar, ketika mendongak kelangit, keadaannya ternyata gelap gulita, tidak ada satu bintangpun juga. Karena lukanya belum sembuh sama sekali, lagi pula harus menggendong diri Toan-theng Lojin, sudah tentu tidak bisa menyingkir jauh2. Tapi tempat itu sekitarnya adalah merupakan sarang Hian kui kauw, kemana ia harus menyembunyikan diri?

Selagi masih bingung memikirkan untuk sembunyikan diri, Cekc Kong Han sudah menyusul dibelakangnya. Terpaksa ia lari terus sambil kertak gigi !

Karena sudah tidak mengenali jurusan, Ho Kie lari sekena kenanya, sedang Cek Kong Han yang mengejar nampaknya makin lama makin dekat.

Ketika menampak didepannya ada sebuah rumah yang menghalangi, dengan tanpa ragu2 Ho Kie lantas lompat melesat keatas genteng !

Apa mau, baru saja menginjak genteng, dari samping tiba tiba muncul satu bayangan hitam, sebentar saja sudah berada di depan matanya........

-oo0dw0oo- BAYANGAN hitam itu bergerak cepat sekali, sebentar saja sudah berada didepan matanya.

Ho Kie tidak mendapat kesempatan untuk menegaskan wajahnya orang itu, sambil kertak gigi ia hendak menyerang.

Tapi tiba-tiba bayangan itu berkata dengan suara perlahan.

"Ho Siaohiap, mari ikut aku!"

Ko Kie dengar suara orang itu seperti bukan suara Jie Peng, buru2 bertanya sambil urungkan menyerang !

"Kau siapa?"

Bayangan hitam itu menjelinap ketempat gelap. "Sekarang jangan tanya dulu, mari ikut aku !" ia berkata

sambil gapaikan tangannya.

Karena orang itu agaknya tidak mengandung maksud jahat, Ho Kie lantas mengangguk. Dibelakangnya kembali terdengar suara bentakan Hui tun Thian cun yang kemudian loncat naik keatas genteng.

Bayangan hitam itu tidak berkata apa2, ia hanya ayun tangan kirinya sambil membentak dengan suara perlahan ; "Mampus kau !"

Sinar merah lantas meluncur, menyerang Hui-tun Thian- cin yang masih menginjak genteng.

Hui tun Thian cun ada membawa perisai yang berat, maka ia tidak takuti senjata rahasia tersebut.

Siapa nyana sinar merah itu bukan senjata rahasia biasa, begitu membentur perisai lantas meledak dan apinya berkobar hebat ! Hui tun Thian cun terperanjat, ia buru2 mundur, apa mau terpelanting jatuh kebawah!

Bayangan hitam itu kembali menggapai, dengan cepat lari kebelakang lembah !

Ho Kie terus mengikuti, tapi ketika menampak bayangan hitam itu lari menuju ketempat kediamannya Cian tok Jin mo- lantas berhenti sembari bertanya :

"Sahabat, kau sebenarnya siapa ?"

Bayangan hitam itu nampak sangat gelisah, selagi hendak menjawab, tiba2 terdengar suara orang ketawa aneh dan menyeramkan, Kemudian disusul dengan munculnya sesosok bayangan putih.

Ho Kie angkat kepala, ia lihat bayangan putih itu ternyata adalah seorang aneh tinggi kurus dengan pakaiannya serba putih sambil memegang ruyung orang mati.

Orang itu wajahnya sangat seram, kepalanya terikat sepotong kain putih seperti seorang sedang kematian orang tuanya, matanya mendelong, mirip dengan malaikat penunggu kelenteng......

Ho Kie mengawasi wajah orang itu seperti setan, hatinya agak ragu2, dengan tanpa terasa ia mundur setengah tindak.

"Kamu berdua benar2 bernyali besar. Kenal kah kamu aku siorang she Siang yang tidak berguna ini?" katanya orang aneh itu dengan suara dingin,

Dari caranya orang itu mengunjukan diri, Ho Kie segera mengerti bahwa orang yang seperti setan itu mempunyai kepandaian tinggi. Dan oleh karena ia sendiri belum sembuh benar dari lukanya, apa lagi sedang menggendong jenazah suhunya, kalau harus bertempur padanya, rasanya sulit dapat menyingkirkan diri.

Dalam keadaan demikian terpaksa ia cuma bisa kerahkan seluruh tenaganya dikedua tangannya, apa bila perlu ia akan gempur manusia seperti setan itu dengan secara nekad.

Tapi orang berbaju hitam yang membawa Ho Kie kemari itu lantas menghadang didepannya, dengan tenang ia berkata kepada si-orang she Siang.

"Sahabat, kau menyebutkan dirimu orang she Siang, apakah kau adalah Siang Seng-seorang kejam dan ganas yang bergelar Im San Tiauw khek itu ?"

"Tepat ! Kau tokh kenal baik tabiatku, kenapa bukan lekas menyerah ?" jawabnya orang aneh itu.

Tapi sibaju hitam tidak menjawab, sebaiknya lantas bergerak dengan cepat, tangannya menghajar jalan darah Ciang thay hiat di dada orang itu.

Setelah melakukan serangannya, lantas berkata kepada Ho Kie.

"Ho Siaohiap, harap segera menerjang ke luar, biarlah aku yang melayani orang ini. "

Siang Seng berkelit, dengan cepat lantas balas menyerang, kemudian berkata :

"Satupun jangan harap bisa lolos. Aku si orang she Siang selamanya tidak suka kasih lolos korbannya yang sudah berada ditangannya!!"

Tapi si baju hitam itu terus mendesak dalam waktu sekejapan saja mereka sudah bertempur sengit. Ho Kie menampak sibaju hitam ternyata bisa menahan Siang Seng, untuk sementara barangkali tidak sampai kalah, maka ia segera kabur.

Siapa nyana baru saja bertindak, ia rasakan ada angin menyambar dengan hebat dan ia hampir saja terjungkal.

Saat itu dengan suaranya Siang Seng :

"Sahabat kecil, kau juga harus rasakan pentungan loyamu !"

Ho Kie terkejut, buru2 mengeluarkan ilmunya Hoan ing sie sek , dengan secara gesit sekali dapat menghindarkan serangannya orang she Siang itu.

Namun Ho Kie sudah keluarkan keringat dingin, ia sungguh tidak menduga kepandaian orang itu ada demikian tingginya, selagi masih bertempur dengan si baju hitam itu, ia masih bisa menggunakan kesempatan menyerang padanya.

Ho Kie meski berhasil menyingkirkan serangannya orang she Siang itu. tapi nampak kepandaian orang she Siang itu masih diatasnya sibaju hitam hingga buat bisa kabur dengan selamat, rasanya tidak mudah. Maka-diam2 ia mengeluh.

Siapa nyana dalam keadaan putus asa, mendadak terdengar suara bentakan nyaring. kemudian disusul dengan suara jeritan. Ternyata Siang Seng badannya sudah sempoyongan, sedang sibaju hitam itu nampak lengan kirinya sudah diturunkan, agaknya juga sudah terluka. Namun ia masih bisa ulapkan tangan kanannya sambil berkata kepada Ho Kie :

"Ho Siaohiap, lekas pergi. "

"Sahabat apa kau terluka. ?" tanya Ho Kie kaget, Tapi pada saat itu mendadak terdengar suara dan beberapa bayangan orang datang menyerbu kesitu.

Si baju hitam lompat menghampiri Ho Kie dan berkata dengan suara perlahan:

"Dari sini jalan kebelakang lembah, dibawah sebuah loteng dilamping gunung itu, ada sebuah goa tersembunyi, kau lekas sembunyikan diri disana "

Karena mereka berdua berdiri dekat, Ho Kie segera mengenali wajah orang itu maka lantas berseru :

"Aaaa! Kau bukankah Auw yang. "

Tapi orang itu segera ulapkan tangannya. "Jangan berisik! Lekas pergi!" katanya.

Ho Kie sudah mengenali bahwa sibaju hitam itu adalah Auw-yang Khiu yang membawa kabur kalajengking emasnya.

Dalam keadaan kepepet ia mendapat pertolongan, malah perbuatannya dilakukan nekad untuk membela padanya, dalam hati merasa tidak enak atas anggapannya dulu terhadap diri siorang tua itu. Maka ia marasa tidak tega hati meninggalkan orang tua itu untuk menghadapi bahaya sendiri......

"Locianpwe kau......" demikian ia berkata dengan suara gemetar.

Tapi Auw yang Khiu tidak memberi kesempatan untuk ia banyak rewel, maka Ho Kie terpaksa meninggalkan orang tua itu untuk lari ketempat yang ditunjuk.

Saat itu ia lantas teringat akan beberapa kawannya yang pada membela dirinya begitu nekad. Pertama ia ingat dirinya Gouw Ya Pa. sitolol yang hampir binasa karena diirinya, kemudian Jie Peng yang tidak segan menghianati peRguruannya sendiri dan Auw-yang Khia yang bersedia pertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkan dirinya....

Dibelakangnya lapat2 terdengar suara orang bertempur, ini membuat ia merasa sedih dan malu terhadap dirinya sendiri,..

Ia tidak tahu apakah Auw-yang Khia mampu menghadapi semua musuhnya? Apakah Auw yang Khia mempunyai akal yang sempurna untuk menyingkirkan diri dari kepungan musuh-musuhnya?,

Beberapa kali ia ingin balik untuk memberi bantuan kepada Auw-yang Khia, tapi bila mengingat jenazah suhunya, terpaksa ia menghela napas dan melanjutkan perjalanannya.

Mendadak dibelakang dirinya kelihatan sinar merah, suara bentakan terdengar saling susul..

Sinar merah itu ternyata adalah api yang dilepas oleh Auw-yang Khia. mungkin itu adalah senjata rahasia si orang tua untuk menolong dirinya lolos dari musuh- musuhnya.

Ho kie terkejut, selagi ia menghentikan  kakinya, ternyata ia sedang lari menuju kebawah sebuah kamar bertingkat.

Taida ia lari tanpa tujuan, sehingga sudah lupa, rumah bertingkat mana yang ditunjuk oleh Auw-yang Khia.

Loteng didepan matanya itu ternyata tingginya setumbak lebih, disekitarnya ada taman bunga yang menawan hati. Disisinya tidak ada rumah2 lain.

Ho kie mengetahui bahwa dirinya sekarang berada dalam pusatnya perkumpulan Hian Kui Kauw, jika kuran ghati2 sedikit saja, setiap saat jiwanya bisa melayang. Ia berdiri diam dibawah loteng, sama skelai tidak berani bergerak karena ia harus memperhatikan keadaan loteng itu terlebih dahulu.

Ternyata loteng itu tidak mempunyai penerangan lampu, keadaan didalamnya gelap gulita. Disebelah kanan kira-kira sepuluh tombak jauhnya terdapat sebarisan rumah-rumah yang pendek2 bangunannya, sedangkan disebelah kirinya terdapat sebuah rimba pohon bambu serta gunung- gunungan buatan manusia.

Taman bunga didekat rumah bertingkat itu ditanami bunga2 beraneka warna. Dalam taman itu ada sebuah jalanan kecil berliku liku yang menuju ke sebuah empang.

Melihat taman yang terhias sangat indah itu dapat diduga bahwa orang yang bertempat tinggal diatas loteng itu pasti salah satu orang terpenting dari Hian Kui Kauw. Kemungkinan besar adalah tempat berdiamnya Cian Tok Jin mo sendiri.

Pikiran Ho kie mulai bimbang. Ia memandang kearah rimbunan pohon bamgu, pikirnya ia hendak menyembunyikan diri disitu dahulu. Tetapi beru saja kakinya bergerak, tiba-tiba didengarnya orang bicara dengan sangat perlahan,

"Ho siao hiap..."

Ho kie terperanjat, dengan cepat ia membalikan tubuhnya.

Segera diketahuinya bahwa disebuah pohon yang tidak berjauhan dengan tempatnya berdiri itu kelihatan seorang wanita berbaju putih. Meskipun ia tidak dapat melihat parasnya dengan tegas, tetapi dari bentuk badan serta suaranya, dapat diduga bahwa wanita itu pasti cantik. Ho kie merasa heran, mengapa wanita itu bisa mengetahui namanya dan bagaimana pula ia bisa berada didekat dirinya tanpa diketahuinya?

Ia lalu menjawab dengan sopan,

"Nona siapa? Mengapa mengetaui namaku yang rendah?"

Wanita itu ketawa halus, dengan perlahan ia berjalan menghampiri Ho kie

"Ho siao hiap, apa kau sudah tidak mengenali aku?" tanyanya merdu.

Ho kie terpesona, Ia kini kenali wanita itu siapa, matanya terbelalak

"Aaaa., kau adalah Jie. "

Ucapan "Peng" belum keluar dari mulutnya, wanita baju putih itu kelihatan bergerak pundaknya, secepat kilat ia sudah berada di dekatnya Ho kie dan dengan jari telunjuknya ia mendekap mulut Ho kie.

"Jangan ribut2/. Hati2 nanti kedengaran oleh orang luar." katanya dengan suara perlahan.

Ho kie tercengang, tetap disamping itu ia juga merasa girang, takut dan malu.

Dengan seorang yang mempunyai kepandaian seperti Ho kie pada saat itu, sebetulnya tidak mudah untuk mendekati dirinya. siapa tahu Jie Peng dalam sekejap mata saja sudah bisa berada di depannya, bahkan dengan sekali bergerak jari si nona sudah berhasil mendekap mulunya. Ini benar2 merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa.

"Kiranya adalah nona Jie Peng. Aku yang rendah sangat menyesal dengan perbuatanku yang kurang hormat tadi." Demikianlah ia berkata kepada si nona. Jie Peng yang berdandan sebagai wanita kelihatannya bersikap malu, dengan tangannya ia menepok kepalanya sendiri, sambil ketawa berkata perlahan:

"Ouw, aku sungguh keterlaluan. Bagaimana aku telah melupakan kau masih belum sembuh dari lukamu dan lantas berlaku kasar terhadap kau. Ho siao hiap, kau toh tidak begitu kaget bukan?"

Ho kie bertambah merasa tidak enak sendiri, maka ia juga ketawa seraya berkata:

"Tidak apa, aku telah lari sampai disini, Tidak nyana nona juga berada didekat sini."

Jie Peng memandang padanya sejenak, tiba2 ia mengerutkan alisnya.

"Ah!! Aku hampir saja lupa. Dari rumah penjara kan kau menolong Toan theng lojin, mereka pasti akan mencari kau kemana2. Lekas!! mari ikut aku sembunyi."

Ia mengajak Ho kie jalan melalui taman bunga menuju ke loteng.

Ho kie yang terus mengikuti dibelakang dirinya si nona, seolah-olah terpengaruh oleh kekuatan gaib. Ketika berada dibawah loteng mendadak seperti baru tersadar, maka ia bertanya:

"Nona, apakah loteng ini. "

"Loteng ini adalah tempat kediamanku, tidak akan berani sembarangan masuk kemari. Kau boleh legakan dirimu, tidak nanti mereka bisa menemui kau."

Ho kie mengangguk, ia mengikuti si nona naik ke loteng.

Dalam loteng itu hana terdapat dua kamar, satu kamar buku dan satu lagi kamar tidur. Ho kie lalu meletakan jenazah Toan theng lojin diatas kursi dalam kamar buku. Matanya mengawasi keadaaan disekitarnya, ternyata bersih dan rapi sekali.

Saat itu Jie Peng sudah menghampiri sambil membawa lampu lilin. Dengan sikap sopan sekali ia tanya Ho kie :

"Ho siao hiap, apa lukamu berat?" "Barangkali tidak seberapa..."

Tetapi sebelum ucapannya itu habis, mendadak dirasakannya puyeng, sehingga hampir saja ia jatuh dan cepat-cepat duduk diatas sebuah kursi.

"Aaaa... lukanya tidak ringan, Parasmu sampai berubah." seru Jie Peng

"Didalam rumah penjara aku telah bertempur dengan Bo Pin. Barang kali karena menggunakan tenaga terlalu banyak, badanku terluka..."

"Pantas. Bo Pin terkenal dengan juluka Tangan Geledek. Kekuatan lweekangnya sangat hebat. Baru2 ini ia kembali telah mendapatkan kepercayaan Kaucu, ia mulai melatih ilmu serangan Hu sie Hiat kut ciang lik. KAu telah oleh serangan tangannya. Kalau tidak lekas diobati, akibatnya akan hebat sekali."

Si nona lalu masuk kamar dan mengambil sebuah botol kecil, lalu mengeluarkan tiga butir pil dari dalamnya dan diberikan kepada Ho kie, kemudian menyuruh Ho kie rebahkan diri diatas kursi.

Dalam hati Ho kie merasa bersyukur terhadap nona ini, ia lantas berkata sambil menyoja:

"Meskipun nona berada dalam Hian Kui Kauw, tetapi tidak ketularan oleh perbuatan kotor dan jahat. Aku yang rendan telah beberapa kali mendapatkan bantuanmu, entah bagaimana aku dapat membalas budimu ini."

Wajah Jie Peng segera memerah, lalu menjawab sambil ketawa:

"Kau dengna kau meskipun belum lama berkenalan, tetapi aku sudah mengetahui bahwa kau merupakan orang gagah dijaman ini. Bisa berkenalan dengan kau saja aku merasa bangga. "

"Bagaimana nona bisa berkata begitu? Sebelum suhu menarik napas yang penghabisan, ia masih memuji diri nona. Nona juga merupakan penolongku, maka selama hidupku tidak nanti aku melupakan kau."

Jie Peng kelihatan terperanjat, matanya terbuka lebar2, ia bertanya dengan suara cemas:

"Apa? Kau kata Toan-theng lojin. "

"Ah, suhu sudah menderita sangat hebat? waktu aku datang, sudah tidak keburu menolong jiwanya,"

Jie Peng seolah- terpukul hebat, mendadak ia lompat dari kursinya dan berseru .

"Haaa, apa dia siorang tua sudah,. "

"Suhu sudah menderita seumur hidupnya." Ho Kie menjawab dengan sedih. "Waktu, dekat pada ajalnya, kembali dia harus menerima siksaan yang sangat hebat. Kalau diingat penderitaan siorang tua, sungguh membikin, orang punya kegusaran meluap dAn ingin membikin habis orang2 Hian kui kauw. "

bicara sampai disini, mendadak ia ingat bahwa Jie Peng juga termasuk orang dari Hian kui kauw, maka ia segera menutup mulus dan tidak berani melanjutkan perkataannya, tetapi sebaliknya Jie Peng lantas menyahut sambil ketawa getir.

"Jangan kau keliru, karena aku juga orannnya Hian kui kauw, lantas kau juga membenci diriku!"

"Nona Jie, kau sudah mengetahui bahwa Hian kui kauw merupakan bencana besar bagi dunia dan banyak kejahatan2 yang sudah dilakukan oleh mereka mengapa kau masih. "

"Dalam hal ini, aku mempunyai kesulitanku sendiri!" Jie Peng tiba2 memotong. "Sebaiknya kita jangan bicarakan soal itu. Lukamu tidak ringan. Sungguh tidak kusangka kau bisa lolos dari tangan Bo Pin. Aku sekarang hendak pergi sebentar. kau baik2 mengaso disini."

"Aku mempunyai seorang sahabat," kata Ho Kie. "Oleh karena dia hendak menolong aku bisa meloloskan diri. sekarang ini dia telah kena dikurung oleh orang2nya Hian- kui-kauw. Kepergian nona ini jika mempunyai sedikit kesempatan, tolong berikan bantuan nona kepadanya atau tolong dengar kabar apakah dia sudah lolos dari kepungan."

Jie Peng anggukkan kepala.....

Setelah Jie Peng berlalu, dengan seorang diri Ho Kie menunggui jenazah Toan theng Lojin. Mengingat akan nasibnya, air mata telah mengalir turun tanpa terasa.

Sekujur badan dirasakan sangat lelah, keringat mengucur deras, ia tahu bahwa itu adalah reaksi dari bekerjanya obat, Maka ia lantas merebahkan diri diatas kursi, sebentar kemudian lama2 tidur pulas.

Entah berapa lama telah berlalu, mendadak ia dengar suara tindakan kaki, hingga tersadar. Tindakan kaki itu saagat perlahan, tidak berapa lama sudah berada didepan pintu kamar

Ho Kie mengira Jie Peng yang kembali, buru2 berduduk ia sudah kepingin tahu kabar tentang Auw-yang Khia.

Siapa nyana ketika pintu terbuka, yang melangkah masuk ternyata ada satu nona tanggung.....

Nona itu berusia kira kira baru 14 atau 15 tahun, parasnya sangat cantik.

Ho Kie terperanjat, entah dari mana datangnya kekuatan, seketika itu lantas lompat turun dari kursinya.

Nona kecil itu rupanya juga tidak menduga dalam kamar itu ada orang laki-laki, maka seketika itu juga terkejut, kemudian keluarkan suara bentakan ;

"Siapa ? Sungguh berani mati! Ini tempat apa, kau berani masuk semborangan?"

Ho Kie takut nona itu nanti akan membuat gaduh, sehingga ia susah terlolos, maka secepat kilat lantas menjual pergelangannya. supaya nona itu jangan sampai membikin ribut.

"Siapa nyaua nona kecil itu ternyata mempunyai kepandaian cukup berarti, dengan secara bagus sekali  ia bisa menghindarkan cekalannya Ho Kie, kemudian ia membentak pula :

"Manusia liar dari mana? Kau bsnar2 hendak mencari mampus ?"

Ho Kie tercengang, ia juga tidak menjawab, hanya ulur tangan kanannya, kembali menyambar jalan darah Ciok tie- hiat si nona. Nona kecil itu alisnya berdiri, sekali lagi ia berhasil mengelakan sambaran tangan Ho Kie.. kemudian ulur tangannya dan menyerang dada Ho Kie.

Ho Kie tidak menduga nona kecil itu mempunyai kepandaian begitu tinggi karena sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa menyambuti serangan si nona !

Kalau pada waktu biasanya, nona kecil itu sudah tentu bukan tandingan Ho Kie, tapi saat itu Ho Kie yang masih belum sembuh betul dari lukanya, setelah kedua tangan beradu, lantas mundur dua tindak dan duduk lagi dikursi.

Nona kecil itu juga mundur setindak, ia nampaknya terkejut, tapi dengan cepat sudah maju hendak menyerang lagi.

Tiba2 terdengar suara bentakan :

"Ah Bwee, kau mau apa ?"

Nona kecil itu buru2 menarik kembali serangannya dan lompat mundur.

"Nona, kau. " ia berkata dengan suara gugup

"Kau tidak boleh banyak mulut, Ho Siao-hiap ini adalah sahabatku, bukan kau lekas minta maaf padanja?" berkata orang yang di panggil nona, yang ternyata adalah Jie Peng

Nona kecil itu menatap nonanya dan Ho Kie dengan bergantian, lalu ketawa sambil menekap mulutnya, selagi hendak bertanya, Jie Peng sudah membentak lagi.

"Ah Bwee, kau dengar perkataanku tadi atau tidak?"

Nona kecil itu benar saja lantas memberi hormat dan minta maaf kepada Ho Kie.

"Nona Jie, nona ini adalah. " bertanya Ho Kie. "ia adalah pelayanku yang aku boleh andalkan, tapi dia agak berandalan, tidak tahu adat, harap Ho Siaohiap suka memaafkan padanya !" jawab Jie Peng.

Ho Kie melongo, ia tidak nyana pelayannya saja sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi.

Jie Peng perintahkan Ah Bwee mengambil barang hidangan, ia sendiri lantas duduk di sampingnya Ho Kie, kemudian bertanya dengan suara lembut :

"Badanmu terluka, lagi pula tidak mendapat waktu cukup untuk merawat diri sudah itu harus melakukan pertempuran pula, bukankah itu tambah berat lukanya? Kau baik2 beristirahat dalam kamarku ini dua hari. kalau sudah sembuh betul, nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya!"

"Nona tadi keluar, apakah sudah dengar kabar tentang sahabatku itu ?" tanya Ho Kie tidak sabaran.

"Sahabatmu itu bukankah Auw yang Khia, si pencuri sakti yang terkenal digolongan hitam?"

"Sedikitpun tidak salah, entah bagaimana nasibnya dia dikepung oleh orang Hian-kui kauw? Apakah bisa meloloskan diri. ?"

"Sahabatmu itu benar licin. entah dari mana dia dapat mencuri senjata rahasia Ong kee-po yang mengandung api, bukan saja sudah berhasil meloloskan diri dari kepungan 4- 3 orang kuat dari Hian kui kauw, bahkan sudah melukai Hui tun Thian cun dan lain2nya, serta sudah membakar habis dua buah rumah. Sekarang seluruh lembah sudah terjaga keras, segala orang dilarang keluar masuk, pemeriksaan dilakukan dengan teliti!!"

Hati Ho Kie baru merasa lega ketika mendengar keterangan itu, ia lantas berkata sambil menghela napas : "Kalau begitu syukurlah! Aku terus merasa kuatir memikirkan nasibnya, karena jika ada terjadi apa2 atas dirinya, sekalipun aku sendiri bisa terlolos dari bahaya, hatiku juga merasa tidak enak !"

Jie Peng bantu Ho Kie membungkus jenazahnya Toan theng Lojin dengan kain putih setelah itu mengawasi Ho Kie mengobrol, sikapnya sangat open sekali.

Hari2 yang penuh kemesraan itu telah dilewati dengan sangat cepat sekali rasanya, Ho Kie yang berada diloteng kecil itu tahu2 sudah dua hari. Sekarang lukanya sudah mulai berangsur2 sembuh seperti sedia kala.

Hari itu, selagi Jie Peng dan Ho Kie asyik mengobrol,  Ah Bwee tiba- datang tergopoh2. Dengan suara gugup ia berkata kepada Ho Kie.

"Ho Siaohiap,  lekas  sembunyi.  Lebih  cepat  lebih  baik. "

Jie Peng lantas lompat bangun.

"Ah Bwee apa yang telah terjadi ? Tidak perlu ribut2 " katanya.

"Celaka, kaucu segera akan datang sendiri kesini." jawab Ah Bwee.

Bukan main kagetnya Ho Kie mendengar keterangan itu, ia lantas lompat bangun dan hendak menggendong jenazahnya Toan-theng Lojin dibawa keluar.

Jie Peng mencegah seraya berkata :

"Tunggu dulu!!" Kemudian ia berpaling dan menanya kepada Ah Bwee :

"Dari mana kau dapat kabar ini ? Bicaralah dengan tenang!!" "Kaucu sudah dua hari tidak melihat kau menengoki dia, maka dia kuatir kau tidak enak badan. Barusan dia sudah keluarkan perintah, dia segera hendak datang kemari dengan membawa tabib. "

Jie Peng berubah wajahnya seketika.

"Apa benar?" tanyanya dengan suara perlahan.

"Siapa yang main2 dengan nona. Ho Siao-hiap, lekas kau sembunyi. Sebentar lagi barangkali kaucu akan tiba!!"

Ho Kie lantas memberi hormat kepada Jie Peng.

"Terima kasih atas kebaikan nona yang sudah memberikan tempat untuk aku merawat diri. Budimu ini tidak akan kulupakan. Sekarang aku hendak pergi. Aku tidak bisa membiarkan nona kerembet rembet oleh karena urusanku!" Sehabis berkata, kembali ia hendak berlalu.

Jie Peng dengan erat sekali memegang baju Ho Kie, setelah berpikir sejenak ia lalu berkata :

"Tengah hari bolong seperti ini, dirimu mudah dapat diketahui orang. Apalagi selama dua hari ini penjagaan dilembah dilakukan sangat keras, bagaimana kau mampu menerjang keluar? Lebih baik kau sembunyi dalam kamarku, mungkin lebih selamat."

"Meskipun itu ada benarnya, tetapi jika sampai diketahui oleh Thian tok Jin mo, bukankah akan menyusahkan diri nona. ?"

"Tidak apa. Sudah tentu aku bisa menghadapinya sendiri."

Dengan cepat Jie Peng bersama Ah Bwee mengajak masuk Ho Kie kekamar tidurnya. Lebih dulu ia meletakkan jenazahnya Toan theng Lojin dibawah pembaringan, kemudian membuka lemari pakaian yang besar dan menyuruh Ho Kie sembunyi didalamnya.

Ketika menutup pintunya, Jie Peng memesan supaya Ho Kie menahan napas, jangan sampai kedengaran suaranya.

Jie Peng berkata pula dengan sungguh2:

"Aku tahu bahwa kau mempunyai permusuhan yang sangat dalam dengan dia. tetapi sekarang kau hanya seorang diri saja. Kepandaianmu diduga masih belum bisa menandingi kepandaiannya. Aku minta supaya bisa bersabar sedikit, jangan mengadakan gerakan apa2, apa kau suka terima permintaanku ini?"

Sekalipun aku dengan dia mempunyai permusuhan yang sangat dalam, tetapi sekali kali aku tidak mau berbuat untuk menjerumuskan diri nona kedalam bahaya kecelakaan maka sudah barang tentu aku bisa bersabar."

Jie Feng ketawa puas, ia lantas mengulap tangannya, dengan perlahan ia menepok pundaknya Ho Kie dan berkata dengan suara yang lemah lembut sambil unjukan ketawanya yang manis :

"Benar, Itulah baru namanya orang yang bisa dengar kata. "

Sebentar kemudian pintu lemari ditutup, keadaan didalamnya menjadi gelap.

Ho Kie duduk bersih bersemedi, sedikit pun tidak berani bernapas, karena Toan tok Jin-mo mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, jika kurang hati2 akibatnya bisa lenyap bagi dirinya,,

Mati? Ia tidak takut mati, tetapi kalau ia mati siapa yang akan menuntut balas sakit hati ayahnja? Siapa pula yang akan menuntut balas sakit hati suhunya? Apa lagi jika hal itu nanti akan merembet rembet dirinja Jie Peng, sekalipun ia mati, juga rasanya tidak akan bisa meram.

Setelah mempasrahkan dirinya Ho Kie, Jie Peng lalu membuka pakaiannya dan sengaja bikin kusut paras mukanya dan rambutnya, kemudian lompat naik keatas pembaringan, menutupi dirinya dengan selimut, seolah2 seorang yang tengah menderita sakit,

Tidak lama kemudian, dibawah loteng sudah kedengaran suara ramai.

Seorang kacung sudah naik Iebib dahulu untukc memberitahukan kedatangan Kaucunya.

Ah Bwee menyambut dengan sikapnya yang sangat hormat, ia berlutut dipinggir pintu.

Kedatangan Kaucu ini seperti raja saja, ia diapit oleh 4 anak laki2 kecil yang membawa pedang, kebutan, tetabuhan dan buli2 merah, Dibelakangnya sianak kecil itu  diikuti oleh si tangan geledek Bo Pin, Im-san Tiauw Khek Siang Seng dan seorang imam tua berambut dan berjenggot putih.

Orang2 itu pada masuk kekamar buku menunggu cukongnya.

Sebentar kemudian seorang tua berpakaian sangat perlente dengan jenggotnya yang panjang serta badannya yang tegap telah masuk dengan tindakan perlahan sambil menggendong tangannya.

Ah Bwee lantas mengangguk2kan kepalanya sembari berkata :

"Budakmu yang rendah disini Ah Bwee menyambut kedatangan Kaucu!!"

Orang tua itu ternyata adalah iblis dunia persilatan.

Hian-kui-kuw Kaucu, Thian-tok Jin-mo Ujie-Hui !" "Bangunlah, tidak perlu peradatan !" er kata Jie Hui sambil ulapkan tangannya.

Ah Bwee lantas berbangkit dan berdiri di samping dengan sikap sangat hormat.

Jie Hui duduk diatas sebuah kursi, dengan matanya yang tajam memandang Ah Bwee sembari bertanya;

"Beberapa hari ini tidak kelihatan nonamu, apa badannya kurang enak ?"

Ah Bwee buru2 menjawab :

"Tidak seberapa penyakitnya, cuma ada sedikit tidak enak badan saja, nona pesan hendak beristirahat dengan tenang kira2 dua hari saja "

Jie Hui anggukan kepalanya, diwajahnya yang sangat dingin nampaknya ada sangat perhatikan anaknya.

Si tangan geledek Bo Pin tiba2 berkata.

"Kaucu tidak usah kuatir, kiranya nona Peng cuma sedikit kurang enak badan, rasanya sudah cukup Leng-ho Cianpwe memberian resep dan obat untuk diminum, sakitnya tentu lekas sembuh."

"Baiklah mari kisa tengok keadaannya" jawab Thiam-tok Jin-mo sambil anggukkan kepala.

Jin Hui lalu ajak imam tua yang bernama Leng-Ho Ko itu masuk kedalam kamar Jie Peng, diikuti oleh anak kecil pengiringnya.

Jie Peng sudah dapat menangkap semua pembicaraan mereka, maka baru saja Thian tok Jin-mo melangkah masuk, lalu sengaja angkat dirinya sambil menunjang dengan tangannya, kemudian berkata sambil ketawa :

"Ayah, kau datang " Ucapan itu telah membikin terkejut Ho Kie yang sembunyi didalam lemari !

Karena saking kagetnya, dengan tidak disengaja hatinya telah tergetar sehingga badannya agak tergetar juga.......

Siapa nyana gelaran itu telah menimbulkan suara halus !

Bagi Cian tok Jin mo, seorang yang sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi, sedikit suara saja sudah cukup menimbulkan kecurigaannya, maka ia lantas berhenti sejenak, matanya memancarkan sinar tajam yang menakutkan. !

-oo0dw0oo-

JIE PENG juga terkejut, tapi ia sangat cerdik. Dengar cepat ia tepok2 pinggir tempat tidurnya sembari berkata dengan suara lemah lembut :

"Ayah.. Duduklah disini!!"

Cian tok Jin mo matanya berputaran sejenak, kemudian anggukkan kepalanya sembari ketawa, lalu duduk dipinggir pembaringan anaknya, ia bertanya :

"Sudah berapa hari tidak melihat kau, ada-apa yang kurang enak? Sekarang ayah membawa tabib kenamaan pada dewasa ini Lang ho Locianpwee untuk melihat penyakitmu!"

Jie Peng lalu memberi hormat kepada ho Kow dan berkata ;

"Sebetulnya tidak ada sakit apa2, bagaimana sampai membikin repot Leng-ho Locianpwee ?"

Leng ho Kow tertawa bergelak . "Ah Bwee ambilkan sebuah kursi untuk ia duduk.

Setelah memeriksa sejenak, tabib itu lantas berkata : "Keadaan nona ada baik, barangkali tidak mendapat gangguan apa2, nanti pinto berikan sedikit obat, sebentar pasti baik."

Cian tok Jin mo, menghela napas perlahan, kemudian berkata ;

"Lohu cuma mempunyai satu anak perempuan ini, ibunya meninggalkan ia terlalu pagi, sudah tentu agak aleman. Sianseng tidak perlu merendah terhadap anak2, kalau perlu diberi nasehat apa2, katakanlah saja terus terang, supaya dia bisa beujar baik !"

Jie Hui yang gelarnya saja Thian tok Jin mo ( manusia iblis beracun ), didalam rimba persilatan, orang yang baru saja mendengar namanya sudah merasa jeri. Tidak nyana begitu melihat anaknya, ternyata mempunyai perasaan welas asih seperti manusia umumnya-Perkataannya dan sikapnya yang begitu menyayang terhadap anaknya sesungguhnya membuat orang susah percaya kalau ia ada seorang manusia yang seperti iblis kejamnya.

Selagi tabib tua itu memeriksa nadinya Jie Peng, Cian tok Jin mo sudah pasang telinga dengan ilmunya Cian thong jie.

Tidak antara lama tabib tua itu selesai memeriksa nadinya Jie Peng, setelah menghibur sebentar, lain mundur kekamar buku untuk menulis resep obatnya.

Cian-tok Jin-mo membuka matanya, ia mengawasi anaknya, tiba2 berkata sambil ketawa :

"Peng-jie, kali ini kau pergi pesiar dengan Kao-him Lie- mo. apa selama beberapa hari itu tidak mendapatkan pengalaman yang agak aneh ? coba ceritakan kepada ayahmu !" Jie Peng bingung atas pertanyaan ayahnya itu, ia cuma bisa menjawab sambil gelengkan kepalanya :

"Tidak ada!! Bukankah aku begitu pulang lantas memberi tahukan kepada ayah?"

"Maksud ayah, dalam perjalananmu itu apakah tidak menemukan sahabat yang erat perhubungannya dengan kau

?"

"juga tidak!!" jawabnya Jie Peng agak tercengang.

"Dua hari berselang ada orang dengan berani mati masuk kelembah Kui-kok, ia memasuki penjara dan membawa kabur Toan-theng Lojin, apakah peristiwa ini kau ada dengar ?"

"Dengar sih dengar, tapi saat itu aku sedang tidak enak badan, tidak keluar kemana mana "

Siapa nyana belum habis ucapannya, Cian tok Jin-mo mendadak wajahnya berubah ia berkata dengan suara dingin :

"Peng jie, kau tidak seharusnya membohongi ayahmu. Malam itu, Cek siok siokmu telah melihat sendiri kau datang kedepan lembah, berdiri tidak jauh diatas-genteng rumah dengan rumah penjara itu, bagaimana kau mengatakan tidak keluar pintu ?"

-oo0dw0oo-