Lembah Patah Hati Lembah Beracun Jilid 02

 
Jilid 02

SELANJUTNYA ia lantas membebaskan dirinya Ho Kie dari totokan tadi.

Ho Kie mula2 pernapasannya kelihatan memburu, tetapi sebentar kemudian keadaan telah berobah menjadi sabar dan kemudian tertidur nyenyak pula. Diwajahnya terlintas senyumannya yang manis, badannya dirasakan sangat nyaman.

Toan-theng lojin memandang Ho kie sejenak, lantas angguk2kan kepalnya dan berkata kepada dirinya sendiri.

"Sudah empat puluh tahun, sekarang aku kembali menciptakan suatu kemukjijatan dalam rimba persilatan, tapi entah kali ini akan memusingkan kepalaku atau tidak?"

Ucapan itu seolah2 mengandung banyak arti. Sayang Ho kie tengah tidur nyenyak sekali, hingga tidak mungkin  dapat mendengar atau melihat sikap orang aneh itu.

Kalau ia tahu, barang kali ia tidak akan dapat melupakan untuk selamanya.

Toan theng lojin duduk disampingnya Ho kie, agaknya seluruh perhatiannya tengah dicurahkan melulu untuk sibocah yang sedang tidur nyenyak tersebut. sebagai suatu kewajiban tetap, setiap 2 jam sekali, ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam diri bocah itu.

Ho kie dalam tidurnya nampak seperti tersenyum, wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi merah.

Sepuluh hari lamanya ia berada dalam keadaan demikian.

Toan-theng lojin selama itu tidak makan, tidak minum, tanpa tidur, tanpa ngaso, sorot matanya main lama makin sayu.

Seperti pelita yang hampir kehabisan bahan pembakarnya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya telah disalurkan ke dalam badan Ho Kie.

Wajah Bocah itu perlahan-lahan kelihatan menjadi merah, hingga nampaknya sangat segar dan tambah cakap kalau dilihat. Orang tua itu ketawa bangga. Wajahnya tertutup rapat, tapi dari sorot matanya kelihatan jelas kebanggaannya.

Ia tahu bahwa tindakannya hari itu akna membuat bocah ini nanti akan menjadi seorang kuat yang sukuar dicari tandingannya didalam dunia rimba persilatan.

Sepuluh hari kemudian, ia sudah kehabisan tenaga, ia duduk numprah, napasnya tersengal-sengal.

Ho Kie perlahan-lahan membuka matanya. Sekarang sudah sangat berlainan keadaannya dengan Ho Kie pada 10 hari berselang.

Dalam matanya yang jernih, nampak memancarkan sinar terang tajam, jidatnya samar2 ada sinarnya, setiap gerakannya menunjukkan kegesitannya.

Tapi, perubahan besar itu ia sendiri agaknya masih belum tahu.

Apa yang ia dapat rasakan ialah badannya seperti sangat ringan dan lincah, didalam badannya seperti mempunyai semacam kekuatan yang tidak kelihatan.

Ketika ia melihat orang tua Patah Hati itu duduk numprah, diam2 merasa kaget, maka lalu bertanya:

"Locianpwe, apa kau merasa kurang enak badan?"

Orang tua itu gelengkan kepalanya, menjawab dengan perlahan"

"Setan kecil, otot dan urat2 nadi mu sudah kusaluri dengan kekuatan tenaga dalam yang dinamakan Giok liong Cao Khie! Dengan kekuatan tenaga dalam yang kau miliki sekarang. meskipun belum dapat menandingin kekuatan Cian tok Lo mo, tapi sudah cukup untuk menjagoi dunia rimba persilatan..." ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula:"Setan kecil, sekarang kita tidak boleh membuang tempa lagi. WAktu sangat berharga, satu bulan sudah kita gunakan sepuluh hari, tinggal 20 hari lagi. Aku harus memberikan pelajaran kepadamu dengan ilmu silat yang terdapat dalam ktiba Hian kui Pit kip jilid ke tiga, kau harus memperhatikan baik-baik"

Ho kie duduk bersila ditanah.

Orang tua itu setelah mengheningkan cipta sejenak, dengan perlahan dan jelas sekali ia menerangkan dan mengajarkan semua pelajaran ilmu silat yang terdapat dalam kitab ilmu silat Hian kui Pit kip jilid ketiga kepada Ho Kie.

Tiga hari berlalu cepat.

Selama tiga hari itu, Toan theng lojin tanpa kenal lelah memberikan pelajarannya yang ia miliki kepada Ho Kie, bocah itu karena kemauannya yang keras, ditambah lagi dengan kecerdasan otakknya yang luar biasa, maka dalam waktu sesingkat itu telah dapat mengingat semua pelajaran dengan baik.

Tiga hari kemudian, orang tua itu berkata kepada Ho kie dengan bersungguh-sungguh:

"SEmua kepandaian ilmu silat yang ada pada dirimu, sudah aku wariskan semua kepadamu. Kalau kau bisa ingat dan gunakan dengan baik-baik, dalam tempo singat kau akan menjadi seorang kuat kelas satu dalam rimba persilatan. Tapi pelajaran-pelajaran yang agak sulit seperti tipu silat Hoa ing sie sek dan Hu kut hien kang, serta tipu serangan untuk menundukan musuh yang luar biasa hebatnya. Hian kui Cap she sek Kin na khiu harus kau pelajari lebih teliti. SEdangkan ilmu silat Giok liong Hoa khie masih kudu memakan tempo yang agak lama, pelajaran ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang sangat singat. Tapi kalau kau sudha mahir tiga tipu silat itu, sudah cukup untuk kau melindungi dirimu tidak samapi dapat dikalahkan oleh musuhmu. Selain dari pada itu, selama 40 tahun aku berdiam disini, aku telah menciptakan serupa ilmu silat yang kunamakan Tay Iet Kim kong ciang hoat, meski cuma tiga jurus, tapi sudah cukup untuk melayani musuh yang bagaimanapun tangguhnya. Semua ini kau harus ingat baik2 dan melatih dengan rajin."

Ho kie terima baik pesan orang tua itu dengan perasan terharu.

Toan theng lojin anggukkan kepala dan berkata pula : "Sejak hari ini, kau harus bertekun dalam pelajaranmu

didalam lembah yang sukar diinjak oleh manusia ini, kau harus baik2 meyakinkan semua pelajaran yang sudah kuturunkan padamu. Waktuku cuma msaih ada setengah bulan, sekarang kekuatan tenaga dalamku sudah dihamburkan terlalu banyak, maka aku harus menutup diri untuk 10 hari lamanya guna memulihkan kekuatanku. Setelah satu bulan cukup, aku nanti akan menguji kau lagi..."

Demikianlah, selanjutnya Ho Kie dengan tekun setiap hari melatih ilmu silatnya dari pelajaran Taon theng Lojin.

Karena ia tidak memperhatikan lewatnya waktu, maka ia tidak mengetahui sudah berapa lama ia belajar sendiri secara demikian.

Didalam goa itu kadang2 ada banyak nyamuk dan lalat yang sering menggangu Ho kie pada waktu ia melatih ilmunya.

Semula ia dibikin jengkel oleh adanya gangguan binatang-binatang kecil itu. Lama-kelamaan mendadak ia dapatkan suatu pemikiran. Mengapa aku tidak menggunakan binatan terbang ini untuk melatih ilmu Kin na khiu dan Hu kut Hian kang?

Didalam goa sinarnya tidak cukup terang, tetapi mata Ho kie sekarang sudah menjadi terang. Ia sudah mulai dapat mengenal barang yang bagaimana halusnya sekalipun dalam keadaan remang-remang. Ia menggunakan binatang terbang itu sebagai musuh dirinya melancarkan ilmu Kin- na0khiu-nya, sebentar ia menangkap dan sebentar kemudian ia melepaskannya lagi. Perbuatan demikian itu agaknya menggembirakan hatinya.

Tidak antara lama, dengan mudah ia dapat menangkap binatang nyamuk yang halus, gerakannya itu belum pernah gagal.

Setelah ia mahir betul mempelajari ilmunya itu, nyamuk- nyamuk atau lalat-lalat sudah tidak berdaya untuk mengganggu dirinya lagi.

Ada kalanya kalau ia sedang bergembiri, ia lantas bergerak kesana dan kemari diantara gerombolan nyamuk- nyamuk, tetapi tidak memberikan kesempatan pada nyamuk-nyamuk itu menyenggol badannya.

Didalam goa yang tidak ada isinya apapun, kala itu dimata Ho kie sedikitpun tidak merasakan kekosongan. Ia telah mendapatkan kawan berupa nyamuk, lalat dan binatang-binatang kecil lainnya sebagai teman karib selama ia melatih ilmu silatnya.

Pada suatu hari, selagi Ho kie sedang asyik melatih ilmu silatnya dengan cara yang luar biasa itu, tiba-tiba dibelakang dirinya terdengar oarang yang memberikan pujian kepadanya:

"Tidak nyana kau sisetan kecil ini telah mendapatkan pikiran untuk melatih dengan cara demikian" Ho kie berpaling. Dilihatnya Toan-theng lojin sudah berdiri dimulut goa. Ia buru-buru menghampiri dan berlutut dihadannya sembari berkata:

"Locianpwe, coba locianpwe uji aku. Selama beberapa hari ini apakah aku telah mendapatkan kemajuan?"

"Aku sudah lama mencuri lijat, caramu melatih ini memang cukup baik, tidak perlu ku uji lagi. Tetapi cara melatih serupa ini hanya dapat menambah kelincahan gerakan tubuh, sedangkan ilmu pukulan yang dapat membuat lawan mundur kau rupanya tidak memperhatikannya."

"Aku hanya mengetahui kalau aku menggunakan binatang nyamuk dan lalat ini untuk melatih ilmu Kin na khiu dan Hin Kut hian kang. tipu serangan, meskipun ku

latih dengan tidka berhenti-hentinya, tetapi aku masih belum mengetahui ilmuku ini apakah telah mendapat kemajuan atau tidak.

"Ini mudah saja! Asal kau dapat menangkap binatang itu satu demi satu kemudain kau hajar dengan kekuatan telapakan tangan mu, kalau kau mampu menghajar sampai binatang-binatang itu terpental keluar dari dalam goa ini, maka kekuatan tangan mu itu sudah tidak perlu disangsikan lagi."

"Berapa si kekuatan binatang-binatang seperti nyamuk- nyamuk itu? Aku akan segera mencobanya."

Orang itu hanya kedengaran suara ketawanya tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah kantung kecil dan menyuruh Ho kie melancarkan ilmu Kin-na-khiu-nya untuk menangkapi binatang-binatang nyamuk kemudian diletakkan di dalam kantong tersebut. Dengan sangat mudah sekali Ho kie sudah berhasil menangkap tiga-empat puluh ekor nyamuk yang kecil-kecil itu.

"Bagus! Sekarang kau lepaskan lagi satu demi satu. Kalau kau sudha melepaskan seekor, kau boleh terus menghajar dengan telapakan tanganmu. Apa kau mampu membikin terpental binatang itu atau tidak?"

Ia lalu mengajak ho kie berdiri disuatu temapt terpisah kira-kira 10 tombak dari mulut goa untuk sebagai temapt latihan. Dengan penuh keyakinannya Ho kie melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tua itu.

Ketika ia mengeluarkan serangannya yang pertama, memang betul hebat sekali serangan dari telapakan tangannya itu. Dinding-dinding batu yang berdekatan dalam lingkaran satu tombak lebih sampai pada hancur berantakan, tetapi ketika ia melihat nyamuk tadi, ia lantas merasakan kaget dan terheran-heran.

Kiranya binatang kecil itu meskipun kecil badannya dan juga enteng, karena dapat berterbangan ditengah udara, maka serangan Ho kie yang pertama kali itu walaupun cukup keras, tetapi ternyata masih belum mampu membuat nyamuk itu terpental sampai sejarak lima kaki. Bukan saja tidak mati, malah nyamuk itu berterbangan berputar-putar tidak henti-hentinya.

ORang tua itu lantas tertawa bergelak-gelak.

"Gedung besar mudah dirubuhkan, tapi selembar bulu susah dicabut!" katanya " Kau jangan pandang enteng binatang kecil ini. Dengan kekuatan tenaga yang kau miliki sekarang ini, untuk dapat membikin terpental binatang keicl itu sampai sepuluh tombak jauhnya, rasanya masih harus berlatih beberapa tahun lagi." Ho kie merasa agak malu, ia mencoba sekali lagi dengan melepaskan sepuluh lebih nyamuk-nyamuk itu. Tetapi meskipun kali ini kekuatannya sudha ditambah lagi, tetap ia tidak berhasil membuat nyamuk-nyamuk tersebut terpental keluar ke mulut goa.

"Kekuatan dengan kekerasan mudah dilatih, tetapi kalau mau memusatkan kekuatan pada satu tempat, pada satu tangan atau satu jari misalnya, sungguh tidak mudah. Apa kau mengerti sebabnya teori ini?" kata siorang tua Patah Hati.

Ho kie meskipun mau menerima pelajaran itu smabil membungkukkan badannya, tetapi dalam hatinya masih merasa penasaran. Sebagai satu bocah, ia tidak terluput dari sifatnya yang tidak mau mengalah mentah-mentah. Mendadak ia mengerahkan kepandaiannya, sebentar saja ia sudah berhasil menangkapi kembali beberapa puluh nyamuk itu dan dibinasakan semuanya...

Toan-theng lojin yang menyaksikan perbuatan Ho kie dalam hatinya bercekat. Dengan mata tidak berkedip ia menatap wajah Ho kie, sedangkan mulutnya mendumel:

"Bocah, Napsu membunuhmu sungguh keterlaluan. Ini agak menakutkan."

Mendengar perkataan itu HO kie buru-buru berlutut seraya berkata:

"Locianpwe, aku hanya membunuh beberapa ekor nyamuk ini saja, apakah itu bisa dibilang keterlaluan?"

"Seekor nyamuk atau semut sekalipun, juga ada mempunyai jiwa. Kau telah mempelajari ilmu silat, kalau ilmu silatmu digunakan untuk membasmi kejahatan atau untuk menuntut balas sakit hati ayahmu itu memang tidak dapat disalahkan. Tetapi kalau kepandaianmu itu kau pergunakan hanya untuk mengambil jiwa yang tidak berdosa, itu terang sudah melanggar hukum Tuhan."

"Locianpwe, sekarang aku telah mengerti akan kesalahanku. Lain kali aku tidak berani berbuat kesalahan semacam itu lagi." Ho kie mengakui kekeliruannya.

"Sekarang batas waktu satu bulan sudah cukup, aku harus segera turun gunung untuk menyelidiki itu persoalan yang menyangkut nasibnya sembilan partai besar dalam rimba persilatan. Baik-baiklah kau melatih diri didalam goa ini. Sampai pada waktu kau sudah bisa membikin terpental nyamuk sehingga sepuluh tombak jauhnya, itulah tandanya bahwa latihanmu sudah cukup sempurna dan pada waktu itu lah kau baru boleh turun gunung."

"Locianpwe, kapan kau akan kembali?"

"Selambat-lambatnya ya setengah tahun, secepat- cepatnya tiga bulan. Tetapi kalau lewat batas waktu yang kutetapkan itu aku masih belum kembali. kau juga tidak perlu menantikan aku lagi. kau boleh pergi turun gunung. Tetapi ada satu hal yang harus kau ingat betul-betul. Sebelum kau dapatkan kitab pelajaran ilmu silat Hian-Kui pit-kip jilid pertama, sekali-kali kau jangan coba-coba melanggar dirinya Cian-tok lo mo di lembah Kui-kok! mengerti kau maksudku?"

"Locianpwe, Aku pasti akan menunggu kau. Harap kau supaya lekas kembali."

Orang tua itu berdiri sekian lama, agaknya mereka sangat terharu akan perpisahan itu. Tangannya mengelus kepala Ho kie, ia berkata sambil menghela napas:

"Akh.. Bocah! Sudah cukup aku mengalami berbagai kedukaan, apakah sebelum meninggalkan tempat ini kau hendak menyuruh au menjumpai kedukaan orang yang akan berpisahan lagi?"

Sehabis berkata demikian mata orang tua itu mengembang air.

Ho kie lebih terharu lagi, ia sudha menangis tersengguk- senguk..

"Locianpwe" katanya" kau tidak mau menerima aku sebagai muridmu, setidak-tidaknya kau harus memberitahukan kepadaku kemana kau hendak pergi. Supaya kalau aku nanti sudah berhasil dengan latihanku, aku bisa mencari padamu."

Toan-theng lojin mendadak mengertak gigi, ia mengibaskan tangannya dan mundur beberapa tombak jauhnya, lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Satu laki-laki dimana saja dapat mendirikan rumah tangganya. Kau boleh pergi dengan urusanmu sendiri, aku akan melakukan tugasku pula. Taruh kata kau dapat menemukan aku, apa yang akan kau perbuat? Lebih baik kau melatih ilmu silatmu dengan rajin. Perlu apa mengambil sikap seperti anak perempuan?"

Sehabis mengucapkan perkataannya yang terakhir itu ia lantas menggerakkan kakinya, sebentar kemudian ia sudah menghilang dari mulut goa.

Dengan hati sedih, Ho kie terus berlutut ditanah, dengan hormat sekali lagi ia mengangguk-anggukan kepalanya sampai tiga kali....

Satu tahun berlalu dengan pesatnya.

Orang tua yang patah hati itu telah pergi meninggalkan Ho kie seorang diri, sedikitpun tidak ada lagi kabar beritanya. Hari berganti hari, bulan bertemu bulan. Setahun kembali sudah dilewatkan lagi oleh Ho kie didalam goa itu, tetapi kekuatan tangan Ho kie hanya mendapat kemajuan sedikit, cuma dapat membikin nyamuk terpental lima tombak saja jauhnya.

Sering kali ia berdiri bingung dimulut goa, memandang gunung-gunung dan bagai tiada bertepi, ia memandang segala perubahan alam, karena bergantinya musim demi musim. Ia sendiri hampor-hampir tidak mengetahui sudah berapa lama ia telah melewatkan penghidupannya didalan goa yang sesunyi itu.

Mengingat akan kematian ayahnya dan mengingat dirinya siorang tau Patah Hati yang sudah lama meninggalkan dirinya, rasa duka didalam hatinya sungguh sukar untuk dapat ditindasnya, maka kadang-kadang ia tidak dapat lagi menahan perasaan dukanya.

Ia percaya bahwa orang tua Patah Hati itu tentunya sudah mengalami nasib buruk. Sebab kalau tidak demikian, tidak nantinya sampai sudah begitu lamanya belum kembali.

"Akh! kalau sampai terjadi apa-apa atas diri orang tua itu, bukankah itu berarti akulah yang telah mencelakai dirinya?" Ho kie ngedumel sendiri.

Sebab jika ia tidak datang ke lembah patah hati itu,  sudah dengan sendirinya orang tua itu tidak akan mengetahui duduk persoalan yang menyangkut sembilan partai besar dalam dunia persilatan dan dengan sendirinya pula orang tua itu juga tidak akan dengan secara mendadak meninggalkan goa-nya yang sudah didiami empat puluh tahun lamanya.

Ia menyesalkan dirinya sendiri, ia menyesal tidak terhingga. Ditahun ketiga ia sudah mampu membikin terpental binatang nyamuk sampai lewat lebih dari tujuh tombak jauhnya. Ia sudah tidak sabaran buat menantikan lebih lama lagi, maka ia lantas mengambil keputusan untuk keluar dari Lembah Patah Hati.

Sejak ia mendapatkan kepandaian ilmu dari siorang tua, ditambah lagi dengan latihannya yang rajin tanpa mengenal lelah, badan dan tulang seta otot-ototnya telah mengalami banyak perubahan.

Ketika ia terjerumus di Lembah Patah Hati, ia masih merupakan satu bocah yang belum cukup empat belas tahun, tetapi sekarang ia sudah merupakan jejaka yang sudah hampir tujuh belas tahun usianya.

Parasnya cakap dan badannya tegap kekar. IA sudah seperti seorang pemuda cakap, ganteng yang sudah berusia dua puluh tahunan.

Dengan perasaan duka ia memandang semua keadaan didalam goa itu meskipun dalam goa itu tidak ada apa- apanya, tetapi setelah hendak ditinggalkan, hatinya merasa berat. Disatu sudut ia menemukan satu bungkusan kecil. Tatkala dibukanya, isinya ternyata adalah satu stel pakaian dan sedikit uang. Karena ia sedang membutuhkan pakaian dan uang untuk bekal dalam perjalanannya, maka ia lantas mengambil bungkusan tersebut.

Dengan Hati berat ia meninggalkan goa Pek-Giok-Kiong di dalam Lembah Patah HAti itu yang sudah didiami hampir tiga tahun lamanya.

Dalam perjalanan satu hari ia baru tiba disebuah kota kecil.

Dengan tindakan perlahan ia memasuki sebuah rumah makan dan memesan beberapa rupa hidangan. Seorang diri juga ia makan dan minum hidanganannya. Selagi enak- enaknya makan telinganya tiba-tiba menangkap suatu suara yang kedengarannya sangat menyenangkan.

"Hei pelayam! hitung uangnya!"

Ho kie terperanjat oleh suara tadi, Ketika ia memperhatikan dengan seksama, disatu meja yang terletak didekat jendela, ada duduk seorang diri pemuda yang berdandan seperit anak sekolah dalam pakaian seragam putih. Pemuda itu juga usianya paling-paling juga baru delapan belas tahun.

Wajahnya yang putih bersih bersemu dadu serta dikedua pipinya ada sebuah sunyen dengan bibirnya yang merah. ada lebih mirip dengan seorang wanita. Anak muda itu dengan tenang mengipas-ngipas dirinya dengan kipasnya yang indah.

Baik parasnya, maupun sikapnya kelihatan sangat menarik hati bagi siapa saja yang menghadapinya.

Ho Kie seumur hidupnya belum pernah melihat pemuda secakap demikian, dengan tidak sadar mulutnya lantas memberikan pujiannya:

"Aaaa, sungguh cakap pemuda itu!"

Meskipun suaranya itu diucapkan perlaha, siapa sangka anak sekolah berbaju putih itu mempunyai pendengaran yang sangat tajam. Dengan mendadak ia lantas melipat kipasnya lalu menegur:

"Dari mana datangnya manusia liar yang begitu kasar? sungguh menjemukan!"

Ho kie yang mendengar teguran yang serupa itu, parasnya merah seketika, pada pikirnya: "Aku toh memuji dirimu dan bukan bermaksud menjeleki! kenapa sebaliknya kau malah memaki-maki tidak keruan?"

Ia juga tidak mau mengalah mentah-mentah, dengan suara dihidung ia berkata:

"Dasar dogol, Anak tidak tahu adat!!"

Pemuda berbaju putih berdiri alisnya, mendadak ia lompat bangun. sambil menuding dengan kipasnya pada Ho kie ia membentak.

"hei manusia liar, kau memaki siapa?"

Ho kie mendongkol, lantas menjawab dengan suara agak heran:

"Aku suka memaki siap saja, perduli apa dengan kau?" Pemuda berbaju putih itu agaknya sudah gusar benar-

benar:

"Kalau tidak karena didepan umum ini ada rasa kurang pantas, hari ini tentu aku sudah memberi sedikit hajaran pada kau si manusia liar yang tidak mengenal aturan!"

"Apa kalau tidak dihadapan umum kau kira aku takut padamu?"

"Kalau kau mempunyai kepandaian sebentar malam jam tiga kau boleh datang di Cit-Lie kang!"

"Baik! aku nanti tepati janjimu!"

Pada saat itu pelayan rumah makan sudah berdiri dekat pemuda berbaju putih itu untuk menantikan bayaran.

Pemuda berbaju putih itu juga tidak berkata apa-apa lagi, ia memberikan sedikit uang pada pelayan rumah makan, kemudian lantas berlalu. Selagi melewati Ho kie, mendadak ia menghentikan tindakan kakinya dan berkata dengan suara dingin: "Pertempuran antara mati dah hidup! kalau tidak mendapatkan keputusan, aku tidak mau sudah."

Setelah mengucapkan perkataannya itu, ia lantas berlalu dengan langkah lebar.

Ho kie jadi ketawa geli, diam-diam berpikir: "Bocah ini sungguh sombong. Entah orang golongan apa?"

Karena hatinya sedang mendongkol, maka napsu makannya juga berkurang. Dengan cepat ia membayar rekening dan kembali kerumah penginapannya.

Entah sudah berapa lama ia rebahkan dirinya dipembaringan. secara begitu, tetapi tidak juga tidur pulas. Hatinya selalu memikirkan itu pemuda sekolah berbaju putih. Kalau dilihat dari paras dan sikapnya, kelihatannya ia bukan orang jahat. Tetapi kenapa ia begitu jumawa? Apakah ia mempunyai kepandaian yang luar biasa?

Berpikir sampai disitu, ia merasa geli sendiri, ia menganggap bahwa pemuda itu hanya mempunyai pengertian sedikit tentang ilmu silat yang tidak mungkin dibandingkan dengan kepandaian yang dimilikinya.

Baru pertama kali ia keluar lembah sudah lantas diajak bertanding, maka dalam hatinya merasa sangat gembira, karena itu adalah merupakan suatu kesempatan untuk menguji kepandaiannya. Oleh karena itu juga ia tidak dapat tidur pulas.

Kentongan baru berbunyi sekali, ia sudah turun dari pembaringannya lalu membuka jendela dan lompat keatas genteng. Menurut jurusan yang ditunjul oleh pelayan rumah makan ia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya lari ke Cit-lie kung.

Malam itu ada malaman terang bulan. Keadaan diluar kota sangat terang benderang. Ho Kie yang sedang berlari- larian menuju ketempat yang telah dijanjikan, dalam hati merasa sangat gembira, tetapi juga merasa agak kuatir.

Bukan disebabkan karena tidak mengetahui dimana tingginya kepandaian ilmu silat pemuda baju putih itu, tetapi karena sejak ia mendapatkan pelajaran ilmu silatnya dari si orang tua Patah Hati, serta sudah memahami ilmunya yang terdapat dalam kitab Hian kui Pit-kip, boleh dikatakan ia masih belum mendapat kesempatan untuk digunakna dalam menghadapi lawan dalam arti kata pertempuran yang sebenarnya. Maka malam itu dapatlah diartikan sebagai suatu ujian untuk menjajal kepandaiannya yang telah dipelajari dengan rajin selama hampir tiga tahun itu, maka diam-diam ia mengharapkan supaya kepandaian pemuda itu ada lebih tinggi sedikit daripada kepandaian dirinya sendiri, sebab kalau kepandaian pemuda itu berselisih terlalu banyak dengan kepandaian yang dimilikinya, juga tidak akan ada artinya.

Tidak antara lama kemudian ia sudah sampai pada sebuah rimba yang lebat. Rimba itulah yang dinamakan Cit- Lie kang!

Tiba-tiba ia mendengar orang menegur dengan suara merdu, yang kedengarannya keluar dari dalam rimba:

"Siapa?"

Pertanyaan itu lalu disusul oleh munculnya satu bayangan putih yang bergerak dengan gesit, menghadang didepan mata Ho kie. Ketika mendengar suara itu, Ho kie sudah lantas menghentikan gerakan kakinya. Ternyata orang yang sedang berdiri didepan matanya itu adalah seorang pemuda berbaju putih seperti anak sekolah yang tadi siang dijumpai dirumah makan.

"Kau datang terlalu pagi sahabat!" Ho kie ketawa dingin.

Anak sekolah berbaju putih itu menunjukkan sikap yang terperanjat, lantas menyahut dengan suara dingin:

"Kedatanganku cepat atau lambat, ada hubungan apa dengan kau?"

"Mengapa tidak ada hubungannya? Aku justru datang kesini hendak menepati janjimu"

Anak sekolah berbaju putih itu kembali tercengang. "Menepati janji? Dengan siapa kau berjanji?"

Mendengar ucapan yang ketus dingin yang seolah-olah tidak memandang dirinya sama sekali, hati Ho kie merasa mendongkol.

"Anak dogol yang jumawa!" katanya gemas,"Apa kau sudah hitung pasti bahwa kepandaiannya ada diatas kepandaianku?"

Anak sekoah itu kelihatannya seperti benar-benar heran. "Sama-sanam anak sekolahan, dengan alasan apa kau

memaki aku anak dogol?" tanyanya.

"Alasan apa? Itulah karena sikapmu yang terlalu jumawa yang telah kau unjukkan dirumah makan tadi siang, rasanya tidak cukup dengan hanya memaki kau saja, andaikan aku hajar kau sampai pingsan juga sudah sepantasnya..." Anak sekolahan berbaju putih itu berpikir sejenak, ia lalu ketawa sehingga kelihatan kedua baris giginya yang putih berkilat.

"apa kau ingin berkelahi? Coba saja kau turun tangan". "Itulah yang dijanjikan, aku datang kemari. Apa kau

hendak mangkir?"

Anak sekolah berbaju putih itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kapan aku janji kepadamu? Dengan caramu gerabk gerubuk seperti ini, apa kau kira aku suka janjikan kau?"

"Anak dogol, kau mau berpura-pura?"

"Hai! kita sama-sama orang sekolahan, sebaiknya kau jangan membuka mulut sembarangan. Kalau aku anak dogol, lalu kau sendiri anak apa?"

Ho kie sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia berseru:

"Bocah yang mengingkari janji! kita tidak usah banyak mulut lagi. Mari kita adu kekuatan!" Berbareng Ho kie menyerang.

Serangan itu adalah tipu serangan Tay-Lek kin kong ciptaan Toan-theng lojin yang diyakinkan si orang tua selama empat puluh tahun lamanya. Tidak heran kalau serangannya itu sangat hebat, sehingga tujuh atau delapan batang pohon telah tersapu rubuh oleh kekuatan angin serangan itu.

Ho Kie tidak menyangka bahwa kekuatan serangannya itu ada begitu hebat, maka ia sendiri juga lantas kesima. Dalam hatinya agak menyesali dirinya, pada pikirannya "Ah, kalau aku mengetahui seranganku bakal begitu heba, aku tidak akan turun tangan sembarangan. Aku dengan dia tidak mempunyai permusuhan apa-apa. kalau aku sampai memukul mati padanya, apakah itu bukan keterlaluan?"

Siapa sangka, belum lenyap peikirannya itu, disampingnya terdengar suara anak sekolah berbaju putih itu:

"Aaaa, dengan mengandalkan kepandaian yang begini saa, kau lantas hendak menyombongkan dirimu untuk mengadu kekuatan? he.. he... masih belum cukup bung!"

Bukan main kagetnya Ho kie, dengan lekas ia memutar tubuhnya, Ia meliaht anak sekolah itu sedikitpun tidak terluka. Ia sedang berdiri dengan tenang sambil goyang- goyangkan kipasnya dan memandang Ho kie sambil tertawa.

Karena terkejut oleh kepandaian yang aneh dari si pemuda itu, dalam hatinya Ho Kie merasa terheran-heran.

"Aku masih mempunyai urusan penting!" kata pemuda baju putih ketawa.

Aku tidak mempunyai waktu untuk melayani segala orang kasar seperti kau ini, Melihat sikapmu yang begitu galak, benar-benar telah membuat orang tiga hari tidak enak makan. Ingatlah lain kali kau jangan terlalu gegabah menunjukkan kepandaianmu dihadapan orang lain."

Sehabis berakata begitu, ia lalu berkelebat menghilang ke dalam rimba.

"Jangan pergi" bentak Ho kie.

Tetapi sang lawan sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sekalipun.

Ia telah dibikin mendongkol oleh ucapan anak sekolah baju putih yang terakhir itu. Ia coba mengerahkan seluruh kepandaian yang dimilikinya untuk mengejar anak sekolah itu.

Mengejar orang didalam rimba sesungguhnya tidak mudah, apa lagi pemuda baju putih itu kelihatannya mempunyai kepandaian yang sangat luar biasa.

Dengan perasaan mendongkol Ho Kie berputaran didalam rimba, tetapi ia tdiak dapat menemukan anak sekolah tersebut. maka mulutnya lantas mulai memaki-maki tidak berhentinya. KArena tidak berhasil menemukan orang yang sedang dicarinya, terpaksa ia pulang ke rumah penginapannya dengan perasaan gemas serta masgul..

Keesokan harinya, pagi-pagi seklai hawa udaranya sejuk.

Pagi-pagi itu juga Ho kie sudah melanjutkan perjalannya.

Ketika ia melewati sebuah rimba, tiba-tiba ia mendengar orang berakat:

"Manusia tidak tahu malu! kalau merasa takut, jangan terima baik perjanjian orang. Mengapa kau mengingkari janji seenaknya saja? Apa itu juga perbuatannya satu laki- laki?"

Ho kie terkejut. mana kala ia menegasi siapa orangnya yang bicara itu, bukan main gusarnya.

Kiranya orang itu sedang berdiri menggendong tangan. Ia adalah sianak sekolah berbaju putih yang telah menjanjikan padanya untuk bertanding di Cit-lie kang.

Mengingat semua kejadian tadi malam, hati Ho kie semakin gusar. Maka dengan cepat ia menghampiri anak sekolah itu, mulutnya memaki dan membentak:

"Anak dogol, tadi malam hitung-hitung kau tahu gelagat sudah kabur dengan cepat. Sekarang kita bertemu lagi, aku harus memberikan hajaran padamu sepuas-puasnya." Sehabis berkata demikian, ia lantas hendak menyerang.

Pemuda berbaju puth itu menggeser kakinya dan minggir kesamping dua tindak, kemudian berkata:

"Hmmn, tadi malam kenapa kau tidak berani menepati janji untuk datang ke Cit lie kang?"

"Ngaco! adalah kau sendiri yang telah kabur lebih dulu.

Kau hendak menyuruh aku mencari kemana?"

"Tadi malam, sejak jam tiga aku menantikan kau sampai jam empat. Sam sekali aku tidak pernah melihat batang hidungmu. Dan toh kau sekarang berani gede bacot lagi. Sungguh tidak tahu malu.!"

Ho kie terkejut, seketika lamanya ia berdiri melongo. "Mana bisa?!" katanya "Kau sendirilah yang ngaco belo! Lama aku mencari, kemudian aku pikir barang kali kau takut sehingga kau tidak berani menepati janjimu, aku lalu mencari kau diseluruh rumah penginapan dalma kita, sampai pagi aku tidak bisa menemukan tempat persembunyianmu. Coba kau jelaskan dimana kau sembunyi tadi malam? Kalau berani mengoceh lagi tidak keruan aku tidak mau gampang-gampang mengampuni kau"

Ho kie kelihatan semakin gusar, alisnya berdiri, kemudian ia membentak:

"Terang kau sendiri yang memutar balik dudukan perkara. sebaliknya menuduh orang mengoceh tidak keruan. Kita tidak perlu banyak rewel, biar ku hajar dulu kau buat melampiaskan kemendongkolanku!"

Dengan cepat HO kie lantas mementang kelima jari tangannya menyambar pundak kiri si anak sekolahan berbaju putih. Menyaksikan tipu serangan Ho kie yang aneh itu, sianak sekolahan agaknya terkejut. Ia tidak berani berlaku ayal lagi, dengan cepat ia sudah menggeser tubuhnya sampai lima tindak untuk menghindarkan sambaran tangan Ho kie. Sepasang matanya yang jernih dengan keheran-heranan menatap wajah Ho kie dengan tidak berkedip.

Ternyata begitu turun tangan Ho kie lantas menggunakan tipu serangan Hian-kui cap sha sek na khiu, karena menurut keterangan Toan-theng lojin, serangan itu sangat luar biasa, dengan serangan mana sudah cukup untuk menjagoi dirimba persilatan. Siapa sangka, untuk pertama kalinya ia mengunakan serangan itu untuk menghadapi musuh, ternyata telah mengalami kegagalan.

Ia heran, apakah anak sekolahan itu kegesitannya melampaui binatang nyamuk atau serangannya sendiri yang kurang tepat.

Ia lantas mengerahkan seluruh kekuatannya dengan secepat kilat ia maju menyerang lagi. Kali ini tangan kanannya mengarah jalan darak Ciok tie hiat. Sebentar saja sudah menekan sikut kiri anak sekolah berbaju putih itu. Dalam pikirannya kali ini pasti berhasil.

ooo0dw0ooo

SIAPA NYANA, kesudahannya adalah diluar dugaannya. Kelima jarinya baru saja tiba, sang lawang badannya tiba-tiba berkelit kekiri, sebentar saja seperti sudah berubah menjadi tiga bayangan putih...

Ho kie terperanjat. Dalam kagetnya ia sudah kehilangan jejaknya si pemuda berbaju putih.

"Tahan dulu!" bentak sibaju putih.

"Kenapa kau suruh aku hentikan serangan? apa kau takut akan aku gebuk?" "Hmnn,apa kau kira aku takut kepadamu?"

"Dan mengapa kau suruh aku menghentikan seranganku?"

"Aku merasa gerak tipu silatmu ini mirip dengan salah seorang yang berkepandaian tinggi, maka aku ingin menanyakan dulu siapa nama suhumu?"

"Kau tidak berhak menanyakan apapun dalam hal ini.

Aku justru hendak menanya kau".

"Kalau begitu, kau harus bisa memenangkan kau dulu, baru kau boleh bertanya."

"Hmmn, bocah yang terlalu jumawa!"

"Kau jangan mengiri bahwa kepandaianmu lebih hebat daripada kepandaianku. Kalau dalam tiga jurus aku tidak mampu menundukkan kau, aku segera angkat kau menjadi guru. Bagaimana?"

Ho kie pikir, bocah dihadapannya ini terlalu tidak memandang mata kepadanya, maka lantas menjawab sambil tertawa dingin:

"Sekarang kita tetapkan seperti katamu tadi. Kalau dalam tiga jurus, kau tidak bisa menangkan kau, kau harus berlutut dihadapanku untuk manggut-manggut sampai tiga kali. Maukah kau berjanji?"

"Ehm.. jangan kata cuma tiga kali, tiga puluh kali juga tidak akan ku pungkiri."

"Kalau begitu, siap sedialah!"

Sehabis berkata demikian, kembali Ho kie pentang kelima jari tangannya untuk mengarah jalan darah Kian kie hiat. Mulutnya berkaok "Awas! ini adalah jurus pertama" Siapa nyana, jarinya hampir saja mengenai pundak pemuda berbaju putih itu, mendadak terdengar suaranya yang nyaring, pemuda itu dengan caranya yang sama seperti pertama sudah berhasil mengelakkan serangannya.

Ho kie celingukan, kali ini ia tidak berhasil menemukan kemana perginya anak mudah sekolahan berbaju putih tadi.

Keadan disekitar tempat mereka bertempur amat sunyi. Pemuda berbaju putih itu seolah-olah setan yang bisa menghilang dengan mendadak.

Dia tiba-tiba bergidik. Mulutnya lantas berseru: "Anak dogol itu manusia atau setan?" Mendadak didengarnya suara orang ketawa: "Nah! Aku ada disini!"

Ho kie buru-buru berpaling, wajahnya berubah seketika, kiranya pemuda berbaju putih tadi sudah berdiri diatas ranting sebuah pohon kira-kira satu tombak jauhnya dari situ. Dengan sikapnya yang tenang sekali pemuda tersebut mengawasi Ho kie sambil tersenyum. Ho kie gusar bukan kepalang, mendadak ia lompat maju, tangannya mengeluarkan serangan yang sangat hebat ditujukan keatas pohon sambil berseru :

"Baik! kau sambutlah serangan ku yang kedua ini."

Serangan itu ternyata hebat sekali. ranting-ranting dan daun-daun pohon yang ditempati pemuda berbaju putih  tadi sampai pada putus terkena sambaran angin serangan- nya, tetapi si pemuda berbaju putih ternyata telah menghilang lagi entah kemana.

Sekali lagi Ho kie mencari keatas pohon lainnya, tidak disangka pemuda itu sudah berada dibelakang dirinya, siapa telah berkata kepadanya sambil tertawa dingin: "Anak sombong, Perlu apa kau menghajar segala batang- batang pohon yang tidak bisa apa-apa untuk mengumbar amarahmu?"

Ho kie benar-benar telah dibikin tidak berdaya oleh kegesitan anak muda tadi, dalam keadaan apa boleh buat ia ingin mencoba sekali lagi. Dengan gesit sekali ia telah memutar tubuhnya.

Pemuda baju putih itu kelihatannya sangat tenang, ia berdiri disitu sambil mengipas dan ketawa-ketawa mengawasi pada Ho kie.

Karena sudah dua kali serangannya gagal selalu, sekarang Ho kia tidak berani sembarangan turun tangan lagi. Sambil memikirkan bagaimana caranya yang baik untuk menjatuhkan lawannya, ia berkara:

"Dalam tiga jurus, dua jurus seranganku sudah lewat. Kalau kau masih menggunakan cara berlompat-lompatan seperti caranya monyet, setelah tiga jurus ini lewat, kau dihitung kalah. Kau berhati-hatilah."

Pemuda berbaju putih tersebut, mendadak ketawa cekikikan..

"Aku liaht, kau hanya satu bocah yang baru turun dari atas gunung. Tiga jurus itu cuma boleh dihitung aku sengaja membiarkan kau menyerang. Setelah cukup tiga jurus, aku nanti baru turun tangan, supaya kau tahu bahwa diatas langit masih ada langit lagi, diatas manusia, masih ada manusia yang lebih tinggi lagi."

"Ooo.. jadinya kau hendak mengingkari janjimu yang tadi?"

"Bagaimana aku pungkir janji? Tadi sudah kita tentukan, bahwa dalam tiga jurus aku akan tundukkan kau. Yang ku maksudkan, sudah tentu mesti aku yang turun tangan sampai tiga jurus, bukannya kau yang menyerang untuk tiga jurus."

Ho kie lalu berpikir, Apakah bocah ini hendak mencari tahu asal usul ilmu silatku kemudian mencari akal pula hedak memperdayaiku?

Berpikir sampai disitu, ia lalu menjawab sambil ketawa dingin,

"Sekarang kau harus berhati-hati benar! Jurus ketiga ini namanya Malaikat menangkap setan, makanya kau harus waspada."

Pemuda berbaju putih dongakkan kepalanya dan ketawa terkekeh-kekeh.

"Kau boleh turun tangan sepuas hatimu. Sebentar lagi kita lantas bisa dapat tahu...!" jawabnya.

Ho kie ternyata sangat nakal. selagi pemdua berbaju putih itu masih mendongak dan ketawa, tiba-tiba ia sudah menggerakkan kedua tangannya untuk meyerang pada tujuh tempat bagian jalan darah dibadan pemuda berbaju putih tersebut.

Serangan secara demikian itu benar-benar diluar dugaan si pemuda berbaju putih.

Ketika ia tersadar kalau dirinya sudah diakali, Ho kie sudah berada dekat sekali didepan matanya. Kedua tangan lawannya itu sudah menghantam bagian-bagian yang berbahaya pada badannya.

Dalam keadaan demikian, ia sudah tidak mampu lagi mengeluarkan gerak badannya yang gesit tadi, terpaksa ia berlaku nekad dan merangsek Ho kie.

Tangan kanannya bergerak menyerang dada Ho kie, sedangkan ia sendiri menggunakan kesempatan selagi mengirim serangannya , badannya sudah melompat mundur.

Ho kie ketawa dingin. Tiba-tiba ia memutar tangan kirinya, kakinya digeser maju, denganmudah saja dapat mengelakkan serangan pemuda berbaju putih itu.

Bersamaan dengan itu, ia mengulurkan tangan kanannya menotok jalan darah Ciang Tay hiat didada kiri lawannya.

Selagi jari tangannya itu menempel pada dada kiri pemuda berbaju putih itu, mendadak dirasakan seperti ada apa-apa yang tidak wajar, sebab jarinya seperti menyentuh barang lunak yang agak melembung.

Semacam barang yang seperti balon melembung, bentuknya sebesar kepalan tangan.

Tadinya ia ingin menjambret, tetapi suatu pikiran mendadak terkilas dalam otaknya.

Ia terperanjat hampir lompat dan buru-buru tarik kembali serangannya. Telinganya mendengar suara bentakan pemuda itu:

"Kau mau mampus!" kemudian Ho kie merasa matanya berkunang-kunang karena pipinya kean tamparan dengan telak. Cepat ia mundur tiga tindak sambil mengusap-usap pipinya, dengan bingung ia mengawasi pemuda berbaju putih itu.

Sipemuda berbaju putih tampaknya selembar wajahnya berubah merah, ia tundukkan kepalanya, agaknya merasa sangat malu...

Tetapi sebentar saja ia kelihatannya sudah mulai tenang kembali. Setelah merapikan pakaiannnya lantas berkata:

Sekarang tiga jurus sudah berlalu, tibalah gilirannya untuk menghajar kau!" Setelah dengan susah payah Ho kie menenangkan pikirannya kembali, lantas menjawab dengan perasaan  tidak puas.

"Dalam jurus ketiga tadi kau sudah berhasil menepuk jalan darahmu. Kau sudah kalah, bagimana masih punya muka untuk bertanding lagi?"

"Ngaco! kapan aku terkena totokanmu? Bukankah kau lihat sendiri aku masih berdiri disini dalam keadaan segar bugar?"

"Kau ini juga ada sedikit keterlaluan. Kau mau menang sendiri saja, sudah kalah masih tidak mau ngaku. Barusan terang-terangan aku sudah berhasil menotok jalan daran Ciang tay hiat didadamu. Kaalu bukan karena didadamu ada menyimpan suatu benda, niscaya siang-siang aku sudah. "

Pemuda berbaju putih itu tidak menunggu sampai Ho kie bicara habis, dengan wajah kemerah-merahan ia membentak.

"anak sombong! lihat seranganku!"

Badannya benar saja telah bergerak melancarkan satu serangan.

Saat itu ia sudah seperti melupakan perjanjian bahwa siapa yang menang dalam tiga jurus, yang kalah harus berlutut dan manggut-manggut tiga kali dihadapan yang menang.

Anak muda itu terus melancarkan serangannya yang bertubi-tubi.

Sebentar saja tujuh atau delapan jurus sudah dilalui, saat itu cuma kelihatan bayangan putih yang berkelebatan serta sambarang anginnya yang hebat. Ho kie tidak berlaku ayal, dengan menggunakna ilmu silat Hoan eng-sie-sek-nya, semacam ilmu yang memerlukan kelincahan gerak badan, terus ia menghindarkan setiap serangan pemuda berbaju putih itu.

"Tahan dulu!" tiba-tiba Ho kie berkata dan lompat mundur..

"Perlu apa berhenti? Kalau belum ada keputusannya, jangan harap kau bisa lari!"

kata sang lawan, gemas kelihatannya.

"Kita tadi sudah berjanji hanya boleh bertempur dalam tiga jurus, sekarang kau sudah melancarkan serangan sampai delapan jurus dan toh masih belum mampu menundukkan aku, kenapa kau tidak lekas-lekas berlutut dihadapanku?"

Pemuda berbaju putih itu melongo, tetapi kemudian ia lantas menjawab sambil ketawa dingin:

"Siapa kata aku kalah, dalam setiap jurus seranganku mengandung enam belas rupa perubahan. Delapan jurus tadi cuma bisa dihitung delapan rupa, sebetulnya satu juruspun belum ada."

"Apa ucapanmu semula boleh dipercaya?"

"Mengapa tidak? kalau benar-benar kau mempunyai kepandaian, sambuti serangan-seranganku yang tiga jurus ini sampai habis dulu."

"karena kau tetap hendak mengingkari janji, biarlah kita adu tenaga sampai ada keputusan."

"Kau sendiri yang tidak tahu malu msaih berani memaki orang lagi."

Karena tidak ada yang mau mengalah, maka keduanya lantas saling menyerang lagi. Lewat lagi sepuluh jurus, Ho kie diam-diam terkejut, sebab kepandaian ilmu silat pemuda berbaju putih itu memang benar masih berada diatas kepandaiannya sendiri. Dan apa yang mengherankan, ialah semua gerak tipu silatnya mirip dengan ilmu silatnya sendiri, maka sangat sukar untuk ia menjatuhkan lawannya yang tangguh itu.

Dalam jengkelnya, ia mencoba mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Beberapa kali ia sudah mengganti cara bersilatnya supaya dapat menundukkan lawannya.

Siapa tahu, pemuda berbaju putih itu sangat licin. Setiap kali serangan Ho kie hampir mengenakan dirinya, selalu dapat dielakkan dengan cara yang enak sekali.

Pada suatu ketika, anak muda berbaju putih itu mendadak telah lompat mundur beberapa tindak sembari bertanya:

"Apakah kau anak murid golongan Hian kui kauw?"

Ho kie tercengang. Ia lantas menghentikan serangannya, menjawab:

"Mungkin kau sendiri ada muridnya Hian kui kauw. Apakah lantaran tidak mampu merebut kemangan, kau lantas hendak mencari alasan untuk kabur?"

"Kalau kau bukan anak murid Hian kui kauw, bagimana kau dapat menggunakan tipu serangan Kin-na-khiu hoat dalam kitab pelajaran Hian kui pit kip, dengan baik?"

Hati Ho kie curiga, diam-diam ia berpikir:

Bocah ini tinggi sekali ilmu silatnya, bahkan dalam setiap serangan dia selalu mencoba mengatasi seranganku. Apakah dia sendiri anak murid golongan Hian kui kauw?" Begitu mengingat Hian kui kauw, ia lantas ingat kematian ayahnya, maka rasa gemasnya lantas timbul seketika itu. Dengan suara keras ia lantas menjawab:

"Aku dengan Hian kui kauw mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Kalau kau murid Hian kui kauw, hari ini aku akan membunuhmu terlebih dahulu!"

Pemuda berbaju putih itu tidak marah, sebaliknya malah menunjukkan roman girang.

"Kalau kau bukannya anak murid Hian kui kauw," katanya. "Kenapa ilmu silatmu mirip seperti ilmu silat dari kitab pelajaran Hian kui Pit kip? Kau tentunya mempunyai hubungan dengan Toan-theng lojin di Lembah Patah Hati."

Ho kie terperanjat. "Kau siapa? Bagaimana kau mengetahui nama Toan-theng Lojin?"

"Bukan cuma mengetahui saja, aku malah bertetangga dengan dia, dan tidak cuma sekali saja aku melihat padanya yang mengenakan pakaiannya yang aneh itu yang kadang- kadang berlari-lari diatas bukit Pek-kut nia..."

Mendadak ia menghela napas perlahan:

"Tetapi.. ia agaknya ketimpa oleh nasib malang, seperti seorang yang sedang dirundung kedukaan hebat. Kadang- kadang ia menangis seorang diri, bahkan tidak mau menemui orang, juga tidak mau bicara..."

HO kie semakin heran, sebab kepandaian ilmu silat Toan-theng lojin itu sangat luar biasa hebatnya. Adatnya juga sangat aneh. Menurut keterangan Toan-theng lojin sendiri, ia sembunyi dibukit Pek-kut-nia sudah lebih dari empat puluh tahun lamanya, sedang anak sekolah berbaju putih ini, usianya masih belum cukup dua puluh tahun. Bagaimana ia bisa berada dibukit Pek-kut nia dan cara bagaimana ia bisa melihat Toan-theng lojin serta dapat mengetahui semua sifat-sifatnya begitu jelas? Hatinya mulai tergerak, maka lantas ia menanyakan dengan suara terputus-putus:

"kau... kau siapa?"

"Aku sejak masih kecil sudah berdiam di bukit Pek-kut nia, terpisah tidak jauh dari tempat tinggalnya Toan-theng lojin. kau boleh menerka aku ini siapa?"

"Ouw... sekarang kau tahu. Kau pasti murid Cit-cie Sin hong locianpwe di puncak gunung Sin hong."

Pemuda berbaju putih itu tertawa dan mengangguk- anggukan kepalanya.

"Benar saja! Dengan demikian, juga berarti kau telah mengakui bahwa kau adalah muridnya Toan-theng locianpwe."

"Pantas ilmu silatmu hampir setiap jurus dapat merebut kesempatan lebih dahulu. Gerak tipu silatmu sangat aneh. Aku benar-benar sangat tolol, sudah melupakan pada Cit- cie Sin hong Locianpwe.."

Ho kie lalu angkat tangan memberi hormat, kemudian berkata pula:

"Orang yang tidak mengetahui, tidak boleh dianggap bersalah. Aku ingin numpang tanya, siapakah nama saudara yang mulia?"

"Aku orang she Lim, namaku Kheng" Jawab sianak muda. "Sejak aku masih kecil telah belajar ilmu silat di puncak gunung Sin Hoa. tentang diri Toan theng locianpwe, meskipun sudah lama aku mengenalnya, tetapi aku belum pernah medengar kalau dia ada menerima murid." Ho kie lalu memberitahukan namanya sendiri, kemudian sambil menghela napas berkata:

"Ilmu silat ku meskipun dapat pelajaran darinya, tetapi aku belum mengangkat guru padanya. Aku berdiam disana dengan dia hanya satu bulan saja..."

"Aku benar-benar telah kesalahan mengira kau murid golongan Hian-kui kauw. Sekarang sudah terang, sebetulnya kita masih terhitung orang-orang sendiir. Tetapi entah apa sebabnya saudara Ho meninggalkan lembah seorang diri? Ada urusan penting apa yang hendak dilakukan?"

Ho kie lalu menceritakan hal ikhwalya Toan-theng lojin, yang kin telah muncul lagi didunia kang ouw. dan sudah 3 tahun belum kembali. Karena ia merasa kuatir atas dirinya, maka lantas keluar lembah untuk menyelidiki dimana adanya orang tua yang bernasib malang itu.

Lim Kheng lalu berkata:

"Sekarang Hian-kui kauw sangat menonjol didunia rimba persilatan." kata Lim Kheng.

"Mereka ingin menjagoi dunia persilatan. Toan-theng lojin karena urusan Hian kui kauw telah meninggalkan lembah, mengapa saudara Ho tidak langsung menuju kesarangnya Hian kui kauw untuk mencari kabar?"

"Aku sebenarnya juga ada itu maksud. tapi karena Toanotheng lojin waktuk pergi telah meninggalkan pesan, sebelum pelajaran ilmu silatku mahir, tidak boleh sembarangan masuk kesarangnya Hian-kui kauw untuk mencari setori, maka sehinggal saat ini aku masih merasa bimbang."

"Apasih kepandaian Hian kui kauw yang bisa dibanggakan? Kalau saudara Ho tidak keberatan, aku mesipun seorang yang tidak berguna, juga ingin memberi sedikit bantuan tenaga kepada saudara Ho untuk mengadakan penyelidikan."

Sudah tentu Ho kie tidak keberatan atas tawaran tersebut. Saat itu ia mendadak ingat kejadian aneh yang tadi malam telah dialami di Cit-lie kang, dimana ada seorang pemuda lain yang mengenakan pakaian serupa dengan Lim Kheng.

Lim Kheng yang diberitahukan hal itu lantas menjadi gusar.

"Manusia siapa yang tidak tahu malu begitu rupa, berani- berani menyaru pakaian lain orang? mari kita pergi cari lagi dimana adanya bocah itu sekarang?"

"Aku lihat pemuda itu ilmu silatnya sangat luar biasa. kepandaiannya tidak dibawah aku dan kau, apakah dia mungkin..."Ho kie berkata.

"Tidak perlu kita menduga-duga, mari kita lekas cari, jangan sampai dia kabur" memotong Lim Kheng, yang lantas gerakkan kakinya dan sebentar saja sudah berada kira-kira tiga tombak jauhnya.

Ho kie terpaksa mengikuti, hingga dua orang itu berlari- larian dijalanan yang sunyi itu. Sebentar saja mereka sudha meninggalkan bukit.

Sedang enak-enaknya mereka berlari-larian, tiba-tida mendengar suara beradunya senjata tajam.

Lim Kheng lalu hentikan tindakannya, ia berpaling dan berkata kepada kawannya:

"Saudara Ho, disana ada orang mari kita pergi lihat!" "Baiklah..!" Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, Lim Kheng sudah lompat melesat keatas bukit.

Dari atas bukit kecil itu mereka dapat lihat seorang taoto dengan wajahnya yang keren, sedang memutar senjata Siantung(tongkat) bertempur dengan seorang laki-laki tua yang kurus kering.

Taoto itu badannya tinggi besar, dandannya cukup mewah. Di pinggangnya maish ada membawa sebilah golok Kayto yang sangat berat tampaknya. Putaran tongkatnya itu mengeluarkan sambaran angin yang sangat hebat mengurung dirinya siorang tua, mulutnya tidak berhenti- hentinya membentak-bentak.:

"Anjing, apakah kau sudah buat? berani menggerayangi kanto aku?"

Laki-laki kurus kering itu juga tidak mau mengalah mentah-mentah. ia balas memaki:

"Kaulah yang buat. Toaya mu disini banyak uang, dirumah ada mempunyai 4 orang istri, masakan memerlukan uang segala kurcaci seperti kau ini?"

"Anjing tua, kau masih berani mungkir?" bentak pula si taoto sambil ayun tongkatnya yang berat menyerang lawannya.

Orang tua itu mengerakan badannya, seolah-olah belut nyelusup dari bawah ketiaknya Taoto, kemudian dengan sebat sekali tangannya menyambar gagang golok si Taoto yang menyelip dipingganya. Sebenar saja golok itu sudah berada ditangannya si orang tua.

Taoto itu terperanjat, sambil mundur beberapa tindak ia lantas berkata: "tidak nyana aku Sam Ciok To oh solah mata, Anjing tua, beritahukan namamu."

Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang seperti jenggot kambing, sambil ketawa cengar dengir menjawab,

"aku adalah cukongmu, perlu apa harus memberitahukan nama?"

Taoto itu semakin mendongkol, "Aku tahu kau tentunya orang yang diminta bantuan tenaga oleh orang Hoa-san- pay. kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh pergi ke Ngo-ku cio. Orang tua seperti kau yang bisanya cuma melakukan perbuatan mencuri, merampas, apa kau tidak takut membikin rusak nama Hoa-san pay salah satu partai terbesar dari 9 partai besar dirimba persilatan?"

"Kalau Hoa-san pay medapat malu ada hubungan apa dengan aku si orang tua?"

Taoto itu merasa dirinya digoda, kegusarannya semakin memuncak, maka ia lantas menyerang dengan cepat sambil membentak keras:

"Anjing tua! Kau cari mampus?"

Kali ini orang tua itu tidak menyingkir atau berkelit, sebaliknya malah menyambut serangan lawannya dengan goloknya:

Setelah terdengar suara beradunya senjata. masing- masing lantas mundur tiga tindak. Orang tua itu memeriksa senjatanya, ternyat pada senjatanya itu telah kedapatan sedikit kerusakan, maka wajahnya lantas berubah seketika. Ia lantas melemparkan goloknya sambil mendumel: "Aku kira golok pusaka, tak tahunya golok rongsokan."

Taoto itu yang melihat goloknya rusak, hatinya merasa duka, sambil kertak gigi, ia memaki-maki. "akau aku tidak mampu membikin hancur kepalamu, benar-benar aku tidak puas."

Kembali ia memutar tongkatnya menyerang orang tua itu.

Si orang tua melompat tinggi mundur satu tombak lebih, kemudian lari kabur keatas bukit, sambil sebentar-sebentar menolej dan mengejek taoto.

"Hai taoto, kalau berani, kau boleh naik kemari."

Si taoto memungut goloknya sambil berseru keras ia mengejar keatas bukit.

Ho kie yang menyaksiakn kejadian itu sudah ingin bertindakk, tetapi telah dicegah oleh Lim Kheng.

Orang tua itu dengan cepat telah berada dibelakang Ho kie, dengan perlahan ia mendorong tubuh anak muda itu sambil berkata:

"Saudara kecil, tolong bantu aku. Taoto itu bukan orang baik-baik."

Ho kie belum menjawab, orang tua itu sudah melesat kebelakang Lim Kheng dan berkata dengan suara cemas.

"Kongcuya, Hweesio itu hendak membunuh orang. Apa kalian tidak mau menolong aku?"

Lim Kheng agaknya merasa kurang senang. selagi ia hendak menjawab orang tua itu tiba-tiba ketawa dan lantas mundur tiga tindak.

Gerakannya geist sekali, sebentar saja ia sudah melesat sejauh sepuluh tombak lebih. Lapat-lapat masih terdengar suara ketawanya dan nyanyiannya. "Ngo-kui-Khio, Ngo-kui-Khio segalamacam orang berkumpul disitu, masing-masing saling berebut, tetapi apa yang didapat? semua hampa belaka..."

Suaranya itu kedengarannya makin lama semakin jauh, dan perkataannya yang terakhir itu kedengarannya sudah tidak nyata lagi.

Ho kie karena melihat si taoto itu terus mengejar, maka setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata:

"Lim heng, ditempat yang disebut Ngo-Kui-Khio itu tentu akan terjadi apa-apa, mari kita juga pergi kesana, kau pikir bagaimana?"

"Tidak! kita cari dulu itu manusia yang tidak tahu malu..!"

Tetapi pikirannya mendadak tergerak, buru-buru ia merogoh sakunya. Sebentar wajahnya berubah dan lantas berseru:

"Aaa... benar-benar dia!"

"Lim-heng, kau katakan siapa?"

"Jalan..! mari kita ke Ngo kui Khio. Bangsat tua itu sungguh jahat. "

"Siapa? siapa yang kau maksudkan dengan Bangsat tua?" "Coba kau raba sakumu, Apa barangmu masih ada?"

Ho kie meraba-raba sakunya, seketika ia lantas melongo, "Celaka !! uangku sudah tidak ada lagi."

"Demikian juga dengan kau. Sudah dicuri oleh sibangsat tua tadi."

"Apakah itu perbuatannya orang tua tadi?" "Mengapa tidak? Dia adalah sicopet sakti yang terkenal dikalangan golongan hitam. si taoto tadi sudah memaki- maki dengan nyata, dan toh sekarang kita masih kena diingusi."

"kalau begitu, kita jangan buang-buang tempo lagi, mark lekas kejar."

"Tidak apa! Dia pasti ke Ngo-kui-khio! kita juga kesana saja."

Keduanya lalu meninggalkan bukit itu dengan mengikuti jejak orang tua tadi mereka dengan cepat mengejar.

Setelah berjalan kira-kira enam atau tujuh lie jauhnya, jalanan sudah sepi, tidak kelihatan bayangan seorang pun juga.

-oo0dw0oo-