-->

Lembah Patah Hati Lembah Beracun Jilid 01

 
Jilid 01

SUATU MALAM........

Itu merupakan suatu malam yang seram, kesunyian meliputi seluruh jagad. Kilat dan guntur saling meyusul memecahkan suasana sunyi malam itu.

Keadaan pada saat itu sungguh menakutkan.

Pada suatu gunung yang tinggi dengan jurangnya yang curam dan berhutan belukar tidak kelihatan barang seekor binatang buas sekalipun. seolah2 disitu sudah tidak ada penghuninya.

Sesosok bayangan manusia yang pendek kecil, dapat kelihatan bergerak atau lebih mirip kalau dikatakan tengah merayap keatas gunung yang seram sunyi itu.

Bayangan itu sebentar jatuh sebentar bangun, terus merayap keatas gunung, gerakannya seperti juga gerakan binatang liar yang sedang melarikan diri dari kurungannya dan hendak kembali ke hutan.

Pakaiannya compang camping, pada badannya disana sini kedapatan banyak luka dan berlumuran darah......

Tetapi ia seperti didorong oleh suatu pengaruh gaib, ia masih dapat bertahan terus atas semua penderitaan.

Kilat yang menyambar nyambar menyeramkan, disusul oleh suara geledek yang mengelegar2 membuat gunung tersebut rasanya seakan2 hendak ambruk, tetapi hujan turun dengan sangat lebatnyaa.

Bayangan kecil itu kelihatan berhenti dibawah sebuah pohon yang besar yang rindang, rupanya hendak meneduh sejenak untuk beberapa saat disitu. Sesaat kemudian, ia mendongakan kepalanya mengawasi langit yang gelap gulita. "Oh Ayah... ayah.........." terdengar ia mengeluh perlahan.

Ia ternyata seorang anak tanggung yang usianya kira2 baru tiga belas atau empat belas tahun. Sehelai kain yang menutupi badannya kelihatan sudah mesum dan compang camping, kini sudah menjadi basah kuyup karena kehujanan.

Air hujan yang menerpa wajahnya yag kecil cakap, telah membuat penglihatannya menjadi guram. Dengan perasaan sedih, ia memesut air hujan dimatanya dengan lengan bajunya.

Apakah itu air mata atau air hujan, ia sendiri juga tidak dapat membedakannya lagi.

Keletihan dan kedukaan dengan tajam telah menggilas gilas jiwa bocah yang masih belum dewasa ini.

Ia melanjutkan perjalanannya, tidndakan kakinya makin lama makin berat.

Sebentar2 ia menoleh kebelakang sambil menghela napas panjang. ia ingin secepat mungkin dapat memasuki rimba guna mencari tempat untuk meneduh dari serangan air hujan.

Sayang sebelum maksudnya tercapai, ia telah rubuh karena amat lelah dan lapar.

Ia kertak gigi, berkata pada dirinya sendiri:

"Ho kie, Ho Kie, kau tidak boleh mati, kau pasti akan dapat bertahan sampai melewati bukit Pek-Kat Nia didunia ini! Kau harus secepatnya mencapai puncak gunung Sin hong untuk mencari itu orang aneh berkepandaian tinggi yang sedang menyembunyikan diri disana. " Apa mau, ketika ia mementang matanya, didepan hanya kelihatan deretan gunung yang menjulang tinggi yang pada saat itu tengah disirim air dari langit.

"Akh! Dimana adanya puncak gunung Sin hong? Dimana adanya temapt untuk mencari orang aneh yang berkepandaian tinggi itu?" kembali ia berkata2 sendirian.

Ia coba berbangkit, hendak meneruskan perjalanannya. Kakinya    semakin    lama    semakin    berat    bertindak.

Tenaganya  yang  terakhir  sudah  hampir  digunakan habis.

Tetapi ia kuatkan hati dan paksa berjalan terus.

Mendadak telinganya mendengar suara seorang yang tertawa dingin. Dalam suasana yang menyeramkan, suara tertawa itu membuat bulu roma pada berdiri.

Dengan bergemetaran, ia menghentikan tindakaannya. Ia memasang telinganya, kemudian berpikir dengan perasaan takut..Aaaa, apakah mereka mengejar aku?

Perasaan takut membikin ia tidak perdulikan lagi adanya geledek dan hujan, dengan sisa tenaganya yang masih ada, ia terus lari keatas gunung.

Dijalanan pergunungan itu penuh dengan lumpur. Belum berapa jauh ia lari kakinya terpeleset, badannya yang kecil itu tergelincir kedalam lumpur.

Tetapi ia terus keraskan hatinya. ia bangkit kembali dan lari lagi. Sebentar saja ia sudah berhasil mencapai jarak sepuluh tombak lebih.

Mendadak dilihatnya disebelah depan ada bayangan hitam yang sedang mendatangi dan menghampiri dirinya.

Ia niat menyingkir, tetapi bajunya kena kecandak. Ia menjerit kaget, lal berbalik dan tangannya yang kecil menyerang. Apa maum tangannya kontan dirasakan sakit. Ketika ditegasinya rombongan bayangan hitam itu ternyata cuma pohon yang banyak durinya, yang dikiranya orang yang menghampirinya, padahal ia sendiri yang lari menghampiri pohon2 itu.

Bajunya robek dan badannya berdarah, napasnya tersengal2. Dalam keletihannya ia coba melongok lagi kebawah gunung.

Gelap gulita, tak tampak bayangan seorang manusia pun disana.

Ia sesali dirinya sendiri. Nyalinya terlalu kecil. Meskipun gerakan mereka lebih cepat, tetapi untuk mencapai jenazah ayaj, setidak2nya harus makan waktu satu jam lebih. tidak mungkin mereka dapat mengejar kemari.

Tetapi belum lenyap pikirannya itu, mendadak didengarnya suara orang berkata:

"Be Tongcu, jangan kasih lolos anjing kecil itu, sebag dibadan bangsat tua tiu tidak kita dapati barang yang dicari."

Bocah itu ketakutan setengah mati. Sepasang matanya berjelilatan didalam kegelapan.

Badannya gemearan, diam2 ia mendoa: "Ayah, mohon kau melindungi Kie-jie supaya bisa lolos dari cengkraman mereka. "

Pada saat itu, kilat telah menerangi jalanan gunung yang kecil. dari penerangn itu kelihatan beberapa bayangan  hitam yang sedang lari dengan cepat ke atas gunung.

Si bocah tidak dapat melihat tegas wajah mereka, ia hanya dapat melihat bergemerlapannya sinar golok yang terkena sinar kilat. Sudah terang, bahwa orang2 itu sedang mengejar kearahnya dan hendak mengambil jiwanya. Untuk sesaat lamanya, ia berdiri dengan wajah ketakutan, tetapi dalam hatinya masih terus berkata : Aku tidak boleh mati! Keturunan keluarga Ho cuma tinggal aku seorang. Kalau aku mati, siapa yang akan menuntut balas untuk kematian ayah yang menggenaskanitu? Lagi pula sebelum ayah menutup mata, beliau telah suruh aku lekas menyingkirkan diri, malah beliau mengatakan bahwa atas diriku ada sangkut pautnya tentang mati hidup sembilan partai besar dalam rimba persilatan......benarkah aku ada sangkut pautnya dengan nasib seluruh rimba persilatan? Benarkah kedudukanku sedemikian pentingnya?

Rupa2 pertanyaan, kekuatiran dan rasa ketakutan yang tercampur aduk dalam otaknya.

Ketiak ia tersadar dari pikirannya yang mleayang, ia dapatkan bahwa orang2 yang mengejar padanya sudah terpisah kira2 1 tombak jauhnya.

Bukan kepalang kaget dan takutnya dia, buru2 ia angkat kaki dan mabur lagi....

Air hujan terus seperti dituang dari langit. Gunung itu seolah2 seekor binatang yang hendak menelan bocah yang belum apa2 itu.

Mendadak ia dengar pula suara orang yang bicara dengan nada yang menyeramkan.

"Anjing kecil, ajalmu sudah didepan mata, kau masih mau kabur kemana?"

Suara itu kedengarannya sangat nyata. terang pengejar sudah berdada dekat dibelakang dirinya.

Bocah itu nyalinya hampir copot, dengan kekuatan yang masih ada, dia terus lari sambil berseru "Tolong....tolong "

Tetapi suara permintaan tolongnya itu telah ditelan oleh sang malam yang gelap, oleh air hujan dan guntur yang bersambung tak henti2nya.

Dipergunungan yang sepi, siapa yang bisa dengar seruannya? Dan andai kata ada yang mendengar, siapakah yang mau mencampuri urusan2 orang lain?

Saat itu kembali terdengar pula suara yang seram itu. "Tongcu, anjing kecil itu sudah dekat dipuncak gunung!

Kita harus lekas turun tangan, sekalian jangan biarkan dia lolos dari tangan kita. !"

Sibocah thau bahwa orang yang bicara tadi tentunya adalah kauwcu dari Hian kui kauw yang mempunyai gelar Cian Tok Cian Mo atau Manusia Iblis Sangat Jahat, yang sedang menggunakan ilmunya menyampaikan suara sampai ribuan lie, untuk memberi perintah pada orang2nya supaya segera menangkap atau membinasakan diriny sibocah yang bernasib malang itu.

Ayahnya sibocah sudah binasa ditangan merea!

Mereka itu sungguh kejam. sesudah membinasakan ayahnya sekarang mereka masih hendak menumpas keturunannya. Mereka anggap hidupnya bocah itu seperti juga menanam bibit bencana bagi mereka dikemudian hari.

Dari suaranya kauwcu yang memberi komand itu, sibocah sekarang sudah tahu bahwa dirinya sudah berada diujung paling tinggi dari bukit Pek-Kut nia. Jadi puncak gunung Sin hong tempat kediaman orang aneh ang berkepandaian tinggi itu sudha tidak jauh lagi dari situ.

Ini ada merupakan suatu titik sinar pengharapan bagi jiwanya Ho Kie yang terancam bahaya maut itu. Maka, ia lari terus sambil berteriak-teriak minta tolong."Cianpwe, tolong. !"

Tetapi pada saat itu terdengar suara guntur. hingga suara permintaan tolongnya ditelan oleh bunyi guntur.

Apakah itu sudah kemauan takdir, Ho Kie harus binasa digunung yang sepi itu dalam usianya yang masih begitu muda?

Suara seram tadi terdengar pula:

"Anjing kecil, sekalipun kau berteriak sampai pecah tenggorokanmu, siapa yang akan mendengar? Perintah kauwcu sudah keluar. sebaiknya kau menyerah saja. Kami tongcu mungkin masih memandang usiamu yang masih begitu muda, dapat memberi kelonggaran membinasakan kkau dalam keadaan tubuhmu utuh."

Pada saat waktu suara itu berhenti. orangnya sudah dibelakang Ho Kie.

si bocah ketika menoleh kebelakang, melihat tidak jauh darinya ada beridir seorang tua yang berbadan tegap dan wajahnya keren sambil menyoren golok.

Dibawah sinar kilat. Ho Kie melihat wajah yang sudah serem. ketika tertawa lebih menyeramkan lagi tampaknya.

Wajah itu masih teringat betul dalam otaknya Ho Kie, peristiwa berdarah yang masih belum lama terjadi kembali terlintas dalam otakknya.

Belum lama berselang, ketika sang malam baru tiba, orang ituah yang memimpin sekawanan manusia buas berkepandaian tinggi, mengejar dan membunuh ayahya.

Dan sekarang ia kembali muncul didepan matanya, sudah tentu bermaksud hendak membinasakannya sekalian.

Ho Kie ketakutan, ia berteriak dan lari ke luar lagi.... Mendadak terdengar pula suara perintah kauwcu:

"Bo tongcu, lekas turun tangan, jangan biarkan bocah itu sampai menginjak tanah telarang sisetan tua Cit Cie Sijari Tujuh.!"

Orang tua itu tertawa dingin, lalu gerakan badannya, secepat kilat sudah memburu ke arah sibocah tadi.

Ho Kie tiba diatas gunung, mendadak didepan matanya tampak semua kosong. Ia hentikan larinya dan apa yang terlihat, membikin semangatnya terbang seketika.

Ternyata ia sudah tiba ditepi sebuah jurang yang sangat dalam.

Keadaan jurang itu sangat berbahanya, di kanan dan dikiri tebing jurang tampak menjulang tinggi, kecuali itu jalanan kecil yang barusan dilalui, sudah tidak ada jalan keduanya lagi.

Ho Kie berpaling ke belakang dengan penuh ketakutan, dimana orang tua berwajah seram itu sudah berada dekat sekali dibelakangnya, seolah2 terus dia dibuntuti, seperti kucing mempermainkan tikus.

Ho kie sekarang menghadapi jalan buntu.Didepan ada jurang, dibelakang sudah tidak ada jalan untuk mundur.....

Kecuali terjun kedalam jurang, jalan mundur berarti mengantarkan jiwanya kedalam tangannya orang tua yang kejam itu.

Ho Kie gemetaran bdannya menekankan rasa takut dan ngeri, tanpa sadar ia mundur dua tindak, terpisah dengan jurang cuma tinggal 1 tombak saja.

"Anjing kecil, aku ingin tahu kau masih bisa lari kemana?" demikian orang tua berwajah seram itu berseru. Menganggap sudah tidak ada harapan untuk hidup, Ho Kie jadi nekad. Dengan mata mendelik lebih dulu ia memaki orang tua itu.

"Bangsat tua! Kejam benar kau. Ayahku ada permusuhan apa dengan kau? mengapa kau bunuh dia? Aku seorang anak kecil saja kau masih tidak mau lepaskan, apa kau bermaksud hendak menumpas habis seluruh keluarga Ho?"

"Ayahmu si anjing tua itu, sejak menjadi anggota Hian Kui kauw. kauwcu dengan kami semua perlakukan padanya dengang baik, siapa nyana dia telah menghianati perkumpulan dan hendak mabur. Selain daripada itu, dia juga mencuri sebuah. " belum habis ucapan orang tua itu,

kembali terdengar suara kauwcu yang amat dingin.

"Be tongcu, lekas turun tangan! Jangan sampai si setan tua Cit-Cie Lo kui nanti dapat dengar perkataannya dan memberi pertolongan kepadanya.!"

Orang tua yang dipanggil Bo Tongcu itu lantas menjawab sambil bungkukkan badan,

"Bo Pin menjunjung tinggi perintah kauwcu!"

Orang she Bo itu lantas angkat kepalanya, matanya memancarkan sorot beringas.

Ho Kie terkejut, Ia pernah mengikuti ayanya yang menjadi anggota perkumpulan Hian Kui kauw hingga ia tahu benar sifat2 orang she Bo yang bergelar Pai Lui Khiu atau sitangan geledek ini. Orang ini ada memangku jabatan sebagai kepala badan hukum dari perkumpulan Huan kui kauw, boleh dibilang mirip seorang tukang pukul.

pada waktu biasa, sukar sekali untuk mengetahui wajah orang she Bo ini. Oleh karena ayahnya terbinasa justru oleh orang she Bo ini, maka timbul niatnya Ho Kie untuk mengawasi dulu dengan sepuas hati ia mencongor pembunuh ayahnya itu sebelum ia menemui ajahnya.

Apa mau, pada saat itu sinar kilat sudah tidak kelihatan lagi, malam juga semakin gelap. Kecuali cambang dan alisnya yang putih yang nyata sekali kelihatan, wajah orang she Bo itu tidak dapat dilihat dengan tegas.

Ho Kie sambil mengertek gigi, berkata gentas:

"Orang she Bo, Aku ingat benar bagimana raut muka cecongormu ini. Sekalipun aku menjadi setan dialam baka, aku juga akan menangkap kau untuk menuntut balas dendam sakit hati ayahku..."

Perkataan Ho Kie belum keluar habis, Bo Pin sudah keluarkan bentakan keras sambil menyerang dan menjambret pundak kirinya.

Ho Kie kegusarannya sudah meluap.

"Bangsat tua, aku akan adu jiwa dengan kau..!" bentaknya nyaring.

Dengan cepat tangannya menghajar perut Bo Pin.

Ho Kie tau kekuatannya sendiri, yang tentu saja tidak sebanding dengan kekuatan Bo Pin. tetapi ia tidak mau mandah menerima kemaitan dengan begitu saja.

Serangan itu telah dilancarkan dengan menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya.

Sebagai tukang pukul, ilmu silat Bo Pin sudha tentu diatas kepandaian kawan2nya, maka dengan cara bagaimana sibocah dapat menjamah tubuhnya? Bo Pin hanya ganda ketawa atas serangan Ho Kie, lalu menangkis dengan seenaknya. Ho Kie mundur terhuyung2 dan jatuh ditanah.

Ingin mempertahankan jiwanya, Ho Kie telah melupakan keadaan dirinya sendiir. Baru saja terjatuh ia sudha lompat bangun lagi, dan kali ini ia telah menggunakan kakinya menendang bagian bawah tubuh Bo Pin.

Ho Kie cuma mengerti ia tidak mau mati begitu saja, maka kepandaian ilmu silatnya yang serba sedikit sudah dikeluarkan semua untuk menyerang musuhnya.

Bo Pin sungguh tidak menyangka bahwa bocah sekecil itu juga berani turun tangan terhadap dirinya.

Dalam gusarnya, setelah menghindaran satu serangan dari Ho Kie, ia menyerang kepala bocah tersebut.

Siapa sangka, sibocah sudah berlaku nekad benar2. Ketika satu tendangan Bo Pin sudah meluncur keluar, bukannya mundur, sebaliknya malah maju menerjang.

Ia mementang kedua tangannya, maksudnya hendak merangkul kaki lawannya dan hendak digigitnya sekuat tenaga.

"Anjing kecil, serahkan jiwamu!" Bo Pin membentak sangat gusar.

Ho Kie terkejut, ternayta tubrukannya tadi telah mengenai tempat kosong. Mendadak ia merasakan gegernya disambar oleh angin yang sangat kuat.

Ho Kie memang sudah mengerti, bahwa kalau cuma mengandal pada kepandaiannya yang tidak berarti, suka untuk ia dapat melawan Bo Pin. Tetapi ia mempunyai kemauan yang keras, ia tidak mau mandah binasa begitu saja.

Pada saat2 demikian itu, telinganya seperti mendengar pesan ayanya pula waktu hendak menutup mata.

"Kie-jie, kau tdak boleh mati! Kau harus lekas lari! Awas dirimu bukan saja ada menyangkut keluarga Ho, tapi juga kau mempunyai hubungan erat dengan bangun atau jatuhnya sembilna partai besar dalam rimba persilatan."

Semua perkataan itu sepatah demi sepatah seperti jarum yang menusuk ulu hatinya.....

Dengan tabah ia kuatkan diri. Karena ia ditugaskan untuk hidup, sekali2 ia tidak boleh binasa.

Selagi berpikir demikian, serangan Bo Pin yang hebat tiba2 menggempur belakang dirinya.

Entah dari mana datangnya kekuatan tenaganya, mendadak semangatnya bangun untuk melawan musuhnya.

Tetapi serangan itu seperti juga telur menghantam batu. Terdengar     suara     Beleduk.     Matanya    berkunang2,

mulutnya berteriak2 ketakutan. Ia hanya merasakan bahwa tubuhnya telah terlempar ketengah udara, sementara mulutnya   sudah   menyemburkan   darah   segar. Matanya

makin gelap, dan badannya melayang masuk kedalam jurang.

Dalam keadaan separuh sdara lapat2 Ho Kie ingat, dirinya seperti sudah meninggalkan dunia yang fana ini, badannya seperti kosong, melayang ditengah udara. Diantaranya kosong, tidak ada apa2 yang dapat dijambret untuk menolong dirinya. Ia terus meluncur turun kebawah. Dalam keadaan demikian hatinya malah menjadi tenang. Air muka orang yang dikenal betuh oelhnya dengan tegas terbayang didalam otaknya.

Siapa dia? itu adalah ayahnya sendiri yang berlepotan darah, sepasang matanya yang sayu memandang padanya dengan penuh kasih sayang.

Sang ayah mengharapkan sangat agar anaknya bisa meloloskan diri dari cengkraman kawanan manusia iblis itu, karena perlu untuk menyambung turunan keluarga Ho dan penting artinya buat jatuh bangunnya sembilan partai besar dalam dunia rimba persilatan.

Tetapi akhirnya ia tidak terlepas dari kemauan takdir. Sesudah dekat berada dipuncak gunung Sin hong, sehingga terjerumus masuk kedalam jurang.

Kesemuanya itu telah terbayang dalam otaknya yang makin lama makin tidak nyata, dan akhirnya perlahan2 kehilangan perasaannya sendiri..

-oo0dw0oo-

MALAM, tanpa dirasakan lagi telah berlalu perlahan.

Hujan angin, kilat dan geledek telah berhenti dengan sendirinya. suasana mulai terang kembali.

Entah berapa lama sang waktu telah berlalu. Ho Kie si

bocah itu, perlahan2 telah tersadar dari impiannya yang buruk.

Ia mengucak2 matanya dan mengawasi keadaan disekitarnya.

Ia melihat bahwa tempat tersebut ternyata adalah suatu tempat yang amat sunyi. Tak ada hujan, tidak ada angin, tidak ada kilat ataupun geledek, juga tidak lagi terdengar suara Pun-Lui khiu yang amat menyeramkan.... Tempat apakah ini?

Itu seolah2 suatu tempat yang tenang tentram, bebas dari segala gangguan dunia, juga seperti suatu kuburan kuno yang luas. Gelap dan sunyi.

Ia mendadak terkejut, hatinya berdebaran, maka lantas bertanya2 kepada dirinya sendiri: "Ah.. apa aku sudah mati? atau mungkinkah aku sedang mimpi...?""

Benar! tapi ia pernah dikejar2 oleh Bo Pin, terdesak sampai ditepi jurang dari bukit Pek Kut-nia, dan kemudian diserang oleh orang she Bo itu.

semua kejadian yang sudah lalu kembali berlintasan didalam otaknya. Apakah dirinya berada didalam akherat...?

Mendadak ia angkat tangannya, dengan sekuat tenagan ditepokkan keatas batok kepalanya sendiri....

"Plak.." terdengar suara nyaring, kepalanya dirasakan sakit

Ia tertawa, sebab dengan rasa sakit itu membuktikan bahwa ia belum mati, juga bukan sedang mimpi, melainkan sadar sesadar2nya. Ia masih berada didalam dunia.

Kembali ia pentang lebar kedua matanya, ia dapatkan dirinya berada didalam sebuah goa yang dingin hawanya.

Disekitar goa itu berdinding batu hijau terang, diatas ada sebuah pelita yang memancarkan sinar hijau.

Dalam goa itu dipenuhi oleh sinar hijau, angin dingin meniup sepoi2, orang yang berada didalam goa seperti berada didalam air laut....

Disitu tidak kelihatan bayangan seorangpun juga, sesungguhnya amat sunyi, barang perabotan rumah tangga seperti meja atau kursi juga tidak terdapat sama sekali. Dengan perasaan heran ia berduduk, lalu menanya kepada dirinya sendiri: "Ah! ini tempat apa?"

"Ini adalah Lembah Patah Hati."

Jawaban yang tidak terduga2 itu terdengar dibelakang Ho Kie.

Dalam kagetnya ia lantas berpaling. Dan apa yang disaksikan, membuat ia hampir saja menjerit.

Dibelakang dirinya kira2 berjaram enam kaki jauhnya, ada berdiri satu orang yang aneh bentuknya.

Orang aneh itu dari ujung kepala sampai kakinya dibungkus oleh kain berwarna putih dan hitam, kecuali sepasang amtanya yang memancarkan sinart tajam, rambutnya juga terbungkus rapat.

Nampaknya ia tengah mengawasi Ho Kie dengan heran, sorot matanya yang tajam terus menatap wajah Ho Kie, sementara mulutnya terus mengeluarkan suara tertawa yang sangat aneh.

Ho Kie dengan hati berdebaran mulai memikir, mana boleh jadi didalam dunia ada makhluk yang aneh seperti ini? Apakah itu bukan setan atau dedemit yang biasanya terdapat didalam akherat?

Berputarlah rupa2 pertanyaan dalam otaknya pada saat itu.

Kalau mau dikatakan akherat, mengapa pula orang itu menyebut tempat ini sebagai Lembah Patah Hati? Apakah diakherat ini ada lembahnya yang dinamakan Lembah Patah Hati?

Ia lalu besarkan nyalinya dan coba2 bertanya: "Hai, kau ini manusia atau setan?" Makhluk itu kembali perdengarkan suaranya yang aneh seram, sampai bulu romanya Ho Kie pada berdiri semua dan badannya terasa mengigil.

Mendadak makhluk itu menghentikan ketawanya dan berkata perlahan:

"Kalau aku setang, siang2 sudah aku bawa kau keneraka. Tapi malah sebaliknya, aku sudah bisa narik kembali  dirimu dari ancaman bahaya maut.!"

Suaranya kedengaran sangat dining, sedikitpun tidak seperti orang yang mempunyai perasaan welas asih.

Ho Kie adalah seorang anak yang cerdik. Dari keterangan itu segera ia mengerti bahwa jiwanya tentu sudah ditolong dari ancaman bahaya maut oleh siorang aneh.

Apakah orang ini adalah orang aneh yang berkepandaian tinggi yang pernah disebut oleh ayahnya ketika masih hidup?

Ia sebenarnya hendak menanyakan nama orang aneh itu. tetapi perasaannya telah dibikin takut oleh sorot mata orang tersebut yang bercahaya begitu bengis dan kejam, sehingga akhirnya dia tidak berani membuka mulut, sampaipun ucapan terima kasih tidak berani di keluarkan dari mulutnya.

Kiranya orang aneh itu bukan hanya tajam penglihatannya, dikedua matanya juga seperti memancarkan sinar biru seperti binatang buas diwaktu malam hari. Kalau dilihat dari sini, mana dia mirip dengan manusia? Adalah elbih mirip kalau mau dikatakan sebagai makhluk jejadian atau setan. Karena perasaan takut yang menghingapi dirinya, sesaat lamanya ia seperti orang kesima. Orang aneh itu mendadak tertawa serta berkata:

"Setan cilik! kau takut apa? aku toh tidak akan menelan kau? Apa kau sekarang sudah merasa sedikit enakan?"

Meskipun pertanyaan itu mengandung maksud perhatian yang ditujukan si anak kecil itu, tetapi karena pada logat suaranya itu agak ketus dan dingin, maka orang yang mendengarkan bisa menjadi merasa kurang enak.

Dalam hati Ho Kie merasa agak mendongkol dan timbul dalam pikirannya dugaan begini: Orang ini pasti bukan yang disebuh ayah dulu, karena dari suaranya yang ketus, kelihatannya seperti orang yang tidak mempunyai perasaan terhadap sesama manusia. Maka ia juga lantas menjawab dengan suara dingin:

"Atas perbuatanmu yang sudah menolong selembar jiwaku itu, disini aku Ho Kie mengucapkan banyak2 terima kasih. Tetapi kalau kau anggap adanya aku disini akan mengganggu ketentramanmu, mengapa tidak kau antarkan aku kelembah Muikok lagi supaya aku dibunuh oleh kauwcu Hian Kui-kauw?"

Orang aneh itu tertawa terbahak2, kemudian berkata: "Kau   mau   mati?   Tidak   begitu   gampang.   Sekarang

kematianmu  sudha  lewat.  Sekalipun  kau  ingin  mati, raja

akherat belum tentu mau menerima kau. Hai setan kecil, siapa namamu?"

"Namaku Ho Kie"

Orang aneh itu tiba2 ketawa pula bergelak2.. Dengan tangannya ia menuding Ho Kie seraya berkata: "Ho Kie.. Ho Kie.. Nama ini boleh juga! Mo ciok wie kie (apa yang perlu diherankan) Cuma satu bocah cilik yang tiada berarti. Apa yang perlu dibuat heran?"

Ho Kie yang digoda demikian, hatinya semakin mendongkol. Ia pikir ia hendak berlalu dari depan orang aneh iut. Tetapi baru saja bergerak. kepalanya mendadak dirasakan puyeng, badannya dirasakan tidak lagi bertenaga, maka akhirnya ia terjatuh numprah lagi ditanah.

"Setan kecil, kau mau apa?" tanya orang aneh itu dengan suaranya yang dingin ketus.

"aku mau perti dari sini!"

"Aku disini mempunyai satu aturan, orang hidup yang datang kemari berarti mencari kematian, tetapi kalau orang yang mau mati masuk kemari, itu berarti akan terbuka jalan hidup baginya. Kalau ada salah satu orang yang mau mati dapat ku pungut dilembah Patah Hati ini, maka selanjutnya orang itu cuma bisa mengikuti aku melewati penghidupan antara mati tidak, hiduppun tidak. Kau mau pergi? Tidak begitu mudah! lebih baik kau berdiam disini dengan tenang."

"Itu toh kau sendiri yang suka menolong aku bukan?

Pada saat itu aku sendan dikejar dan dipukul orang"

"Jikalau kau tidak bermaksud mencari aku, mana bisa kau lari ke Lembah Patah Hati yang jarang didatangi oleh manusia ini."

"Ngaco! Maksudku hendak mencari orang aneh berkepandaian tinggi yang berdiam dipuncak gunung Sin hong. Aku sendiri tidak mengetahui kau ini setan atau manusia, mana bisa lantas kau kata aku mencari kau?"

"ha..Ha...! Apa orang yang ingin kau cari itu bukannya orang berjari tujuh si tua bangka Cit cie?" "Aku tidak mengetahui nama orang tua itu, tapi ayah menyuruh aku. "

"Apa kau kira ia lebih kuat dari pada aku? Kita bertiga adalah : Sin hong, Kui kok, dan Toan Theng Gay (Lembah Patah Hati). kekuatannya ada berimbang. Siapapun tidak ada yang lemah dari yang lainnya. Lebih baik kau mengikuti aku, mungkin ada lebih baik dari pada mencari dia.."

Ho Kie merasa sedikit heran, maka lalu bertanya lagi: "Tempat ini mengapa sampai bisa dinamakn Lembah

Patah Hati?"

Siapa tahu, dengan dikeluarkannya pertanyaan itu si orang aneh badannya kelihatan gemetaran dengan beruntun ia mundur dua langkah dan lantas membentak dengan suara tertahan:

"Aku melarang kau menanyakan soal ini lagi!"

Ho Kie tambah tidak mengerti, maka lalu bertanya pula: "kalau begitu, siapa namamu?"

Orang aneh itu kelihatan terperanjat, dengan terhuyung2 ia mundur lagi tiga tindak. sinar matanya yang biru kelihatan bertambah menakutkan. Dengan perasaan aneh Ho Kie kembali bertanya:

"Kau telah menolong selembar jiwaku, apakah terhadap nama saja kau berkeberatan memberitahukan padaku?"

Mendadak orang aneh itu bergerak badannya, dengan cepat sudah berada disampingnya Ho Kie. Tangannya sudah mencekal pundak Ho Kie, Lantas ia membentak dengan suaranya yang keras:

"Aku tidak ijinkan kau bertanya. " Ho Kie yang merasa pundaknya dicekal merasakan tulang pundaknya seolah2 telah hancur.

Ia tidak mengerti, apa kesalahan dari pada pertanyaan tadi. Apakah menanyakan anma saja juga tidak boleh sehingga telah membuat orang itu gusar sedemikian rupa?

Apakah ia mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang kedua?

Kalau benar demikian halnya, orang itu benar2 merupakan orang aneh nomor satu dalam dunia.

Pertanyaan itu telah berputaran didalam otaknya, tetapi selalu tidak mendapatkna jawaban yang tepat. Rasa sakit dipundaknya itu telah menambah penderitaan pada dirinya sehingga keringat dingin membasahi sekujur badannya. Tetapi kemudian ia balik berpikir: Jikalau telah ditolong olehnya, kalau ia tidak suka ditanya, buat apa aku mesti menanyakan terus? Begitulah maka terpaksa ia menahan rasa sakit dipundaknya itu.

Sambil menunjukkan ketawa getir, lalu berkata dengan perlahan,

"Baiklah kalau kau tidak sudi mengatakan padaku, aku akan ingat2 saja pakaianmu yang akan kuukir selamanya dalam hatiku. Aku tidak akan melupakan budimu yang telah menolong jiwaku, begitu saja rasanya sudah cukup."

Mendadak badan orang aneh itu menggetar, ia melepaskan tangannya dan mundur tiga tindak. Karena wajah orang aneh ini terbungkus oleh kain hitam dan putih, maka siapapun jadi tidak dapat melihat perubahan apa sebenarnya yang terjadi diwajahnya itu.

Hanya, dari sinar mata orang tersebut yang dari bringas telah berubah menjadi guram, dapat diduga rupanya hati orang ini sedang mengalami penderitaan hebat. Ho Kie sambil memijit2 pundaknya yang kembali terasa sakit, lalu berkata sambil tertawa getir:

"Kau... kau pasti pernah mengalami penderitaan hidup pada masa yang lalu, menyesal karena aku ingin dapat membalas budimu, sehingga pertanyaanku tadi agak menusuk persaanmu. Locianpwe, sudkah kau tidak sesalkan perbuatanku tadi?"

Orang aneh itu mendadak menghela napas panjang, dikelopak matanya telah mengembang air matanya.

Ho Kie terperanjat, dalam hatinya diam2 ia berpikir: "Benar saja, dugaan ku ternyata tidak keliru, ia psati pernah. "

Selagi Ho Kie berpikir demikian, tiba2 ia mendengar orang aneh itu berkata sambil menghela napas:

"ah, sudah beberapa puluh tahun lamanya tidak pernah ada orang yang menanyakan namamku, sampai aku sendiri rasanya sudah melupakan namaku."

"Locianpwe, akalu kau sudah tidak ingat namau, ya sudahlah. Jangan locianpwe terlalu memikirkan hal itu lagi." kata Ho Kie sambil ketawa getir.

Meskipun dimulutnya Ho Kie mengatakan demikian, tetapi dalam hatinya tidak mau percaya bahwa dalam dunia ini ada orang yang melupakan namanya sendiri.

Tetapi orang aneh itu setelah mendengar perkataan Ho Kie, sebaliknya malah berkata sambil menganggukan kepala.

"Kalau kau kepingin tahu juga namaku dan siapa aku ini, Panggil saja aku Toan-theng lojin"

Toan-theng Lojin sama artinya dengan Orang tua yang patah hati. Alangkah menyedihkan sebutan nama itu. Bagaimana ia bisa menggunakan nama sebutan yang kejam ini? Soal apakah sebetulnya yang telah membuat ia sampai patah hati?

Ho Kie benar2 tidak habis mengerti, karena ia masih kecil, sudah tentu ia tidak mengerti banyak urusan dalam dunia.

Toan-theng lojin kembali berkata:

"Disini ada berdiam seorang tua yang berhati duka karena pengalaman hidupnya menyedihkan. Hampir segala penderitaan hidup dalam dunia telah menimpa diri orang tua yang bercelaka itu. Akh... Habis nama apalagi yang akan kupakai. kalau tidak menyebut begitu? Dan bagaimana pula kalau aku tidak menyebut tempat kediamanku sebagai Lembah Patah Hati?"

Perkataan yang diucapkan dengan nada menyedihkan, segala penderitaan hidup yang menyedihannya, seolah2 telah terbayang kembali didepan matanya.

Meskipun Ho Kie masih merupakan seorang anak kecil dan belum mengerti seluk beluknya penghidupan orang dewasa, namun hatinya merasa sedih juga mendengar penuturan orang tua itu, sehingga terhadap orang aneh tersebut mendadak telah bersemu dihatinya semacam perasaan simpati.

Hening sejenak, orang aneh itu lantas berkata pula : "Enam  puluh  tahun  lamanya,  pengalaman  hidup  ku

boleh  dikatakan  sangat  tidak  beruntung.  Hampir  semua

perkara membuat aku patah hati... Akh. aku barangkali merupakan satu-satunya manusia yang paling tidak beruntung didalam dunia ini..."

Ho Kie mengangguk2kan kepalanya, lama sekali barulah ia dapat menjawab sambil tertawa getir "Locianpwe, dunia ini memang selalu kejam.."

Ia sebetulnya masih ingin mengeluarkan beberapa patah lagi untuk menghiburi orang tua itu. tetapi ia tidak mengerti perkataan apa yang rasanya paling tepat untuk menghibur hati orang tua tersebut.

ORang aneh itu mengangguk2kan kepalanya seraya berkata lagi:

"Aku lihat, diwajahmu nampak gelap. Rupa-rupanya dalam keluargamu pernaht erjadi sesuatu pembunuhan yang sangat hebat. Kalau aku mau menduga, kau tentunya pernah mengalami penderitaan yang sangat hebat dalam penghidupanmu. Tetapi kalau kau merasa susah hati, lebih baik jangan kita bicara soal ini.:

Mendadak hati Ho Kie tergerak :

"Tidak!! Aku pasti akan memberitahukan kepadamu. Meskipun peristiwa itu sangat menggenaskan, tetapi aku tidak akan terlalu sedih kalau cuma menuturkan saja. "

Sekalipun mulutnya mudah mengatakan perkatan demikian, tetapi air matanya telah mengalir bercucuran.

Toan-theng lojin angguk2an kepalanya, ia menghampiri Ho Kie, lalu mengulurkan tangan kanannya, dengan perlahan tangan itu diletakkan diatas jalan darah Kiu bwee hiat dibadan Ho Kie.

"Kalau begitu, kau jangan terlalu bersedih. Kau boleh beritahukan padaku secara perlahan2 saja. Bagaimana kau bisa menaruh permusuhan dengan Hian-kui kauw? Dan perlu apa kau hendak pergi kepuncak gunung Sin hong untuk mencari Cit-cie siorang tua?"

Dari telapak tangan orang aneh itu, Ho Kie telah merasakan hawa hangat yang mengalir ke dalam dirinya, Hawa hangat tersebut telah membuat badannya terasa lebih segar. Sebentar saja hawa hangat itu telah menyusuri sekujur badannya. Kelihatannya Ho Kie sekarang bersemangat, ekduaan yang menggetarkan hatinya tadi kini juga sudah lenyap sebagian, maka ia dapat menuturkan kejadian2 yang dialaminya dengan tenang.

"Dalam usia tujuhtahun aku telah ditinggal mati oleh ibuku. Oleh karena kami adalah keluarga miskin, maka untuk mengubur jenazah ibuku, ayahku telah menjual semua harta bendanya. sejak aku berusia sepulu tahun, aku lantas mengikuti ayah merantau didunia kangouw. "

"siapa nama ayahmu?" orang tua aneh itu mendadak memotong.

"Ayahku bernama In Bo. dulu beliau pernah belajar silat dari seorang padri, beliau mengajak aku merantau didunia Kang ouw setengah tahun lamanya, kemudian karena bujukan orang lain, beliau telah masuk ke dalam perkumpulan Hian-kui kauw."

"Aaaa.. ia tidak seharusnya berbuat demikian.." nyeletuk Toan-theng lojin.

"Ayah dan aku berdiam di lembah Kui kiok, empat tahun lamanya. Ayah menjabat kedudukan sebagai Hiacu dari bagian tata hukum Hian kui kauw. Kemudian ayah dapat melihat bahwa Hian kui kauw mengandung maksud jahat untuk menjagoi rimba persilatan, dimana pengaruh Hian-kui kauw juga sudah mulai meluas dan akhirnya pasti akan menimbulkan bencana bagi orang2 dalam rimba persilatan. Meskipun ayah mengetahu hal itu, tetapi beliau tidak mampu membebaskan dirinya."

"Kemudian bagaimana mendadak bisa tertanam permusuhan dengan Hian kui kauw?" tanya Toan-Theng lojin. "Tentang hal ini, aku juga tidak mengetahui dengan jelas apa maksudnya, Aku hanya mengetahui bahwa pada suatu malam, mendadak ayah mengajak aku pergi. Beliau mengatakan bahwa kami tidak bisa berdiam lama2 dilembah Kui kiok. Kami harus segera meninggalkan tempat tersebut. Tidak disangka, ditengah perjalanan kami telah dikejar oleh utusan Kauwcu kami. Kasihan, ayah telah binasa ditangan Bo Pin, kepala dari bagian tata hukum yang mempunyai gelar, Si Tangan Geledek..." bicara sampai disitu, peristiwa berdarah yang sangat menggenaskan diatas gunung pada malam yang sangat menggenaskan itu, kembali terbayang dipelupuk matanya....

Wajah yang menyedihkan dari ayahnya ketika mendekati ajalnya setelah terkena serangan tangan Bo Pin membuat Ho Kie tidak mampu lagi mengendalikan perasaan dukanya. Air mata kembali menitik keluar, terus membasahi pipinya.

Dengan perlahan orang aneh itu mengusap kepala Ho Kie dan kemudian ia berkata dengan suara lemah lembut.

"ayahmu setelah mengetahui tidak bisa tinggal lama2 dibawah pengaruhnya Hian-kui kauw, tentu ada banyak tempat yang dapat dikunjungi olehnya. Tapi mengapa ia lari justru menuju keatas gunung belukar ini?"

"Menurut kata ayah, kami datang kegunung belukar ini maksudnya ialah hendak mencari seorang aneh yang mengasingkan diri diatas puncak gunung ini, ayah mengatakan pula bahwa ada satu persoalan penting yang menyangkut mati hidupnya sembilan partai besar dalam rimba persilatan."

Mendadak orang aneh itu terkejut.

"Akh..Ada kejadian begitu janggal? Apa kau mengetahui urusan apa itu. yang ada begitu penting?" "Tentang hal ini sebelum ayah binasa tidak keburu beritahukan kepadaku, ia hanya menyuruh aku lari untuk menyelamatkan diri. kalau jiwaku masih hidup, soal itu nanti pasti akan kuketahui sendiri, katanya."

"Tidak apa. Aku nanti akan turun gunung sebentar, sudah tentu akan dapat tahu persoalannya. Hanya... Ayahmu telah terbunuh oleh Bo Pin, orangnya Cian tok Lo Mo, sakit hatimu ini barangkali suliat untuk kau tuntut."

Ho Kie terperanjat. "Ini apa sebabnya?"

"Kau tidak mengetahui kelihayan Cian tok La Mo. Kepandaian ilmu silatnya iblis tua itu mungkin berimbang dengan si orang tua Cit cie yang berdiam dipuncak gunung Sin hong ini. sekalipun aku yang turun tangan sendiri, belum bisa diramalkan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah."

"Locianpwe apa ucapanmu ini benar?"

"Perlu apa aku membohongi kau? Mengenai kepandaian ilmu silat kami bertiga, sebetulnya berasal dari satu cabang. Semuanya berasal dari kitab ilmu silat Hian ku pit kip. Iblis tua itu mempelajari ilmunya dari jilid kedua dan aku dari jilid ketiga, sedangkan jilid pertama jatuh ditangan si orang tua Cit-cie yang berdiam diatas puncak gunung Sin hong. Pelajaran-pelajaran yang terdapat dalam ketiga jilid kitab itu, sebetulnya masing-masing sama hebatnya. Siapapun tidak dapat memenangkan yang lainnya. Jilid pertama mengutamakan gerak tipu yang aneh2, yang penting untuk gerak melindungi diri. Jilid kedua merupakan pelajaran gerak tipu serangan yang diutamakan untuk menyerang musuh, sedangkan jilid ke tiga yang aku dapatkan ada mengutamakan pelajaran ilmu Iweekang. kalau dibandingkan yang satu dengan yang lainnya, meskipun ada beberapa bagian yang melebihi dari jilid yang berlainan, tetapi dalam hal ilmu menyerang, tidak sehebat dari pelajaran yang terdapat dalam jilid kedua dan pertama. Kau pikir saja, Taruh kata kau berhasil mempelajari ilmu silat dari aku, bagimana kau dapat mempergunakannya untuk menuntut balas?"

Ho Kie yang mendengar keterangan yang panjang lebar itu, hatinya jadi sangat berduka, Air matanya lantas mengalir dengan deras, lalu berkata dengan terisak2.

"Kalau begitu, kematian ayah tentu akan sangat kecewa dan musuh ini untuk selamanya tidak dapat kubunuh."

Toan-theng lojin lantas berkata sambil menepok2 pundak Ho Kie:

"Kau juga tidak perlu terlalu bersusah hati. Untuk menuntut balas, bukan tertutup jalannya sama sekali, itu harus dilihat pada kegiatan dan keberuntungan sendiri bagaimana.

Hati Ho Kie agak tergerak, lalu berlutut ditanah sambil meratap

"Locianpwe, harap kau suka menerima aku, bocah yang bernasib malang ini, aku hendak angkat kau sebagai guru untuk belajar ilmu silat yang nanti akan kugunakan untuk menuntut balas sakit hati ayahku"

Orang aneh itu mendadak mundur dua tindak. Dengan perlahan dia kebutkan lengan bajunya, angin kuta yang tidak kelihatan dapat menahan dirinya Ho Kie. Dengan suara besar orang aneh ini selanjutnya berkata:

"Aku belum memikirkan untuk memungut murid. Urusanku sangat menyedihkan, sudah lama pikiranku seperti telah terpendam. Sekalipun kau anggukkan kepalamu sampai pecah juga tidak akan ada gunanya." "Locianpwe, kalau kau tidak mau menerima kau, aku akan berlutut disini untuk selama-lamanya."

"Kalau begitu, kau boleh berlutut terus! Aku akan keluar untuk mengadakan penyelidikan, barang kali tiga hari kemudian baru bisa pulang." kata siorang aneh itu.

Tanpa menanti jawaban Ho Kie lagi ia sudah menghilang dari situ.

Dengan seorang diri Ho Kie berlutut dalam goa itu. Mengingat apa yang telah terjadi barusan, ia seperti berada dalam mimpi.

Dengan perasaan murung ia mengawasi dinding tembok, tempat yang penuh rahasia itu telah membuat dalam pikirannya timbul semacam perasaan yang sukar dikatakan.

Semuanya dengan sebisa-bisanya ia ingin supaya dapat menggunakan ketulusan hatinya untuk menggerakkan hati orang aneh yang sangat kukoay itu.

Tetapi hatinya mendadak bergolak. ia tidak dapat menenangkan pikirannya lagi. Semua kejadian yang menggenaskan telah terbayang2 begitu nyata didepan kelopak matanya, kesemua itu seperti juga gambar hidup yang terpeta jelas sekali didepan matanya. Jiwanya yang masih muda bergelora terpengaruh oleh adanya kejadian buruk yang menimpa dirinya itum dengan mendadak ia berteriak:

"Ayah! Ayah! Tolong!!Tolong!" tetapi ia tidak mendapatkan jawaban dan apa yang terbayang didepan matanya sudha lenyap semuanya.

Ia masih tetap berlutut didalam goa yang disekitarnya dikelilingi oleh dinding biru, dibawahnya ada batu keras dingin, sedangkan diatasnya ada tergantung sebuah pelita kecil yang memancarkan sinarnya yang biru pula.. Keringat sudah mulai turun bermanik2, kedua lututnya dirasakan sakit sekali, perutnya sudah mulai keroncongan.

Pada saat itu, kalau dia diberikan kesempatan untuk melonjorkan kakinya atau makan barang sejenak atau minum seteguk air alangkah segarnya.

Tetapi. ia tidak mau berbuat demikian.

Sebab, jika ia tidak bisa berlutut sampai tiga hari, tidak nanti ia akan dapat menggerakkan hati orang kukoay itu, juga akan berarti tidak dapatkan pelajaran yang tinggi sebagai bekal untuk menuntut balas sakit hati ayahnya.

Ia bertekad bahwa ia harus dapat bertahan dan harus sanggup menerima penderitaan, harus tahan berlutut dengna hati sujut.....

Berlutut terus sampai tiga hari. Ya, sampai tiga hari, yaitu sampai orang tua Patah hati itu kembali.

Pinggangnya dirasakan sudah mulai sakit, tetapi ia kertak gigi, ia bertahan terus tanpa bergerak.

Sehari lewat sehari, hari telah berlalu dengan tenang. Hanya detakan ulu hatinya yang seolah2 masih memberitahukan padanya bahwa ia pada saat itu masih hidup.

Kesengsaraan badan sudah membuat matinya perasaan Ho Kie. Kelaparan sudah melampaui batas. Kecuali ulu hatinya yang masih tetap berdenyut, semuanya seperti dirasakan sudah kaku.

Didalam goa itu tidak kelihatan muncul dan terbenam matahari. Berapa lama sebenarnya ia sudha berlutut itu, ia sendiri juga tidak lagi mengetahuinya.apa yang diketahuinya adalah si orang tua Patah Hati itu masih belum juga kembali. Dengan kemauannnya yang keras seperti baja, ia tidak mau melepaskan janjinya sendiri. Ia tetap berlutut dengan kedua lututnya diatas batu yang keras dan dingin.

Akhirnya, matanya dirasakan berkunang2, badannya rubuh tersungkur....

Tepat pada saat itu, satu bayangan orang berkelebat. Si orang tua Patah HAti kembali muncul didepan matanya.

Ho Kie seolah2 masih mempunyai sedikit ingatannya. Dengan susah payah ia dongakkan kepalanya, sambil berkata hambar:

"Locianpwe, Locianpwe, akhirnya aku dapat menantikan kau kembali."

Orang tua yang aneh itu menatap wajah Ho Kie dengan pandangan matanya yang sayu lalu menganggukkan kepalanya, kemudian berkata sambil menghela napas:

"Benar saja ada satu anak yang berkemauan keras. Tapi mengapa kau berbuat begitu bodoh sekali, mau terus berlutut terus tujuh hari lamanya?"

"sudah lewat tujuh hari?" Ho Kie lompat bangun bahna kagetnya. Locianpwe apa sejak kau pergi dilu sampai sekarang ini sudah ada tujuh hari?"

"Benar.Aku telah menyerapi rahasia yang dikatakan ayahmu ada menyangkut mati hidupnya sembilan partai besar didunia rimba persilatan. Didekat pusat perkumpulan Hian Kui-kauw, di lembah Kui kiok, aku sudah bersembunyi tujuh hari lamanya... akh.. aku sungguh tidak menyangka bahwa kau sibocah goblok ini sudah berlutut terus selama tujuh hari itu."

"Apakah locianpwe sudah mendapatkan keterangan jelas?" "aku mencoba mencari keterangan dari berbagai pihak, mengetahui bahwa Hian kui kauw pernah mendapatkan sebuah benda yang berharga sekali yang telah dibawa kabur oleh ayahmu, sehingga mereka lantas..."

"Aaaa.... tidak! Locianpwe kau jangan dengar ucapan merak yang mengaco belo! ayahku tidak pernah mau mencuri barang sesuatu apapun milik mereka." menyela Ho Kie.

"Cian tok Lo Mo juga merasa bersangsi sebab benda itu dibawa kabur oleh ayahmu, sebab dibadan ayahmu mereka tidak dapat menemukan benda yang dicari itu. tepapi benda itu memang betul sangat berharga. Kalau tidak dapat diketemukan, benar2 memang akan menyangkut nasibnya sembilan partai besar dalam kalangan persilatan."

"Benda apakah itu?"

"Benda itu benda apa. aku sendiri juga tidak tahu dengan jelas, Kabarnya adalah suatu peristiwa yang terjadi pada seratustahun berselang. Bit cie dari daerah See hek telah menyerbu Tionggoan, sembilan partai besar yang terkenal kuta pada masa itu karena bermaksud hendak secara bersama2 melwana musuh dari luar itu, bersama2 telah membuat semacam benda. Siapa yang membawa benda itu dapat memberikan perintah apapun yang ia mau pada siapapun orang2 sembilan partai besar itu, tidak peduli hidup atau mati, harus ditaati benar. Kau pikir sendiri, apa bila benda itu benar2 berada dalam Hian kui Kauw, itu berarti runtuhnya kita."

Ho Kie terperanjat. Seketika itu ia lantas melupakan keletihan dalam dirinya.

"Kiranya benda itu ada begitu penting. Tetapi mengapa ayah cuma menyuruh aku supaya dapat melepaskan diri dari cengkraman mereka? Dan apakah hubungannya urusan itu dengan diriku?"

"Barang kali ia inginkan kau menyampaikan berita ini kepada Cit-cie si orang tua itu, tetapi sudah tidak keburu menjelaskan lagi."

"Kalau begitu, kematian ayah lebih tidak jelas lagi sebabnya. Locianpwe, aku mohon kau supaya sudi menerima aku sebagai muridmu."

Orang tua itu berpikir sejenak lalu berkata sambil tertawa:

"Mengingat akan ketulusan hatimu, menyimpang dari kebiasaan ku, aku bersedia hendak memberikan beberapa rupa pelajaran ilmu silat untuk kau. Ini mungkin sudah jodohnya. tetapi hanya sekedar sebagai peringatan atas pertemuan kita ini. Kau tidak usah anggap aku sebagai gurumu"

Ho Kie merasa sangat girang, dengan perasaan yang sangat terharu, ia berkata:

"Locianpwe, kau telah melepas begitu banyak budi kepadaku, sebaliknya tidak memberikan sedikit kesempatanpun kepadaku supaya aku dapat membalas budimu."

"Maksudmu toh cuma ingin bisa menuntut balas sakit hati atas kematian ayahmu bukan? Apa perlunya kau harus merecoki segala soal tentang ilmu silatku ini kau dapatkan dari mencuri atau memungut? Aku juga tidak menghendaki kau untuk membalas budi, satu sama lain tidak ada sangkutan apa2, bukankah ada lebih baik? cuma kalau kau hendak menuntut balas untuk ayahmu, dengan hanya menganadalkan kepandaiaan yang kau dapatkan dari aku si orang tua, sebetulnya tidak cukup untuk memenangkan Cian-tok lo mo. Sebaiknya kau belajar lagi dari Cit-cie si orang tua itu. Kalau kau sudah dapatkan kepandaian orang tua itu, itu berarti juga bahwa kau dua lawan satu dan harapan untuk menang ada lebih besar."

Ho Kie yang pada saat itu sudah terlalu lelah keadaannya, sesudah mendengarkan keterangan si orang tua, hatinya mulai lega dan rasa ngantuknya lantas menghebat dan akhirnya tertidur pulas sekali.

Toan-theng lojin menyaksikan Ho Kie tidur pulas, lalu berkata seorang diri sambil menghela napas:

"Ah, Bocah! Kau tidak mengetahui bahwa paling lama aku cuma bisa mengajar kau satu bulan saja. Sekalipun aku berikan pelajaran padamu siang malam tanpa berhenti2. tetap saja tidak cukup waktunya untuk menurunkan pelajaranku semuanya. Dan sekarang kau telah tertidur, apa ini bukan berarti menelantarkan pelajaranmu. "

Dalam tidurnya itu Ho Kie lapat2 seperti mendengar perkatan orang tua aneh itu. Tiba2 hatinya terkejut lalu bertanya sambil membuka matanya:

"Locianpwe, kau tadi kata apa?"

Toan-theng lojin mengambil sebutir pil dan diberikan kepada Ho Kie.

"Obat ini boleh kau makan." katanya. Selambat- lambatnya satu bulan, aku akan muncul di dunia kangouw lagi. Sekarang waktunya itdak banyak lagi. Selama satu bulan ini aku akan memberitahukan padamu semua isi pelajaran dalam kitabku Hian kui Pit kip, jilid ketiga. Tetapi sampai dimana kau dapat memahaminya, itu semuanya tergantung atas kecerdasan otakmu. WAktunya sudah terlalu mendesak. Kita tidak perlu banyak bicara lagi, supaya kau bisa berhasil dengan cepat, aku sudah berkeputusan dengan tidak menyayangi kekuatan tenaga gdalamku, telbih dulu aku akan membuka otot2 dan urat2 nadimu supaya dapat menyalurkan kekuatan tenaga dalamku."

Ho Kie yang mendengar itu, bukan kepalang rasa girangnya, maka ia lantas makan obat berbentuk pil itu. ia hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, sebab kalau urat nadinya sudah terbuka dan dapat menerima saluran kekuatan tenaga dalam, itu artinya bahwa dia sudah mendapatkan dasar ilmu kepandaian yang tinggi.

Sedangkan tokoh2 rimba persilatan yang tinggi kepandaian ilmu silatnya setingkat dengan itu, sungguh sedikit sekali jumlahnya.

Ia seperti bersangsi atas dirinya sendiri, semnetara Toan- theng lojin sudah berkata lagi sambil anggukkan kepalanya:

"Setan kecil, keu kemari!"

Pada saat itu, Ho Kie sudah merasakan bahwa panggilan Setan kecil itu tidak terlalu menusuk hatinya lagi.

Sebaliknya sebutan itu dianggapnya lebih meriah dan lebih sedap didengarnya, maka ia lantas menghampiri orang tua anhe itu sambil ketawa berseri2.

Toang-theng lojin dengan cepat mengerakkan jari2 tangannya, sebentar saja sudah dapat menguasai tiga ratus enam puluh tempat jalan darah dibadan Ho kie.

Darah disekujur badan Ho kie seolah2 berhenti mengalir dengan mendadak. Stelah berdiri kaku sejenak, badannya lantas rubuh dalam pelukan siorang tua. Toan-theng lojin lantasi mulai memale. Sebentar kemudian, dari telapakan tangannya telah mengeluarkan hawa putih semcam kabut tebal. Kabut itu hanya mengurung kepalanya Ho Kie dan telapakan tangan si orang tua. Sebentar kelihatan tebal, sebentar kemudian tipis. KemudiaN masuk ke jalan darah Pek-Hwee hiat. Orang tua itu tidak bergerak barang sedikitkpun juga. sorot matanya yang hijau kelihatan semakin mencorong.

Mulutnya terkancing, kadang2 mengeluarkan suara keretekan.

Keadaan demikian itu berlangsung sesaat lamanya, diwajah orang aneh yang terbungkus kain hitam dan putih itu kelihatannya sudah basah dengan air keringat.

Ho Kie berdiri sambil pejamkan matanya seolah2 tengah tidur nyenyak.

Lewat lagi sejenak, orang tua itu perlahan-lahan menggeserkan telapakan tangan kanannya. ia dapat melepaskan napas lega. Sinar matanya yang Tajam sudah mulai berkurang. Mata itu bahkan kelihatannya mengembang air. Ia meletakkan dirinya Ho Kie di atas tanah dengan sangat hati2. Kembali dari sakunya ia mengeluarkan tiga butir pil yang seperti tadi, lantas dimasukkan kedalam mulutnya Ho Kie.

-oo0dw0ooo-