Legenda Kematian Bab 10 : Rahasia di bawah kereta

Bab 10 : Rahasia di bawah kereta

Dari balik semak-semak tetap tidak terdengar suara apapun. Shen San Niang mengerutkan dahinya, matanya mengandung nafsu membunuh. Guan Ning merasa takut.

"Biasanya dia sering tertawa, tapi begitu sedang marah tampak begitu menakutkan."

Baru saja dia akan bergerak ternyata dari balik semak-semak muncul dua sosok manusia, mereka adalah Le Shui dan Le Shan.

Guan Ning dan Ling Ying saling berpandangan, mereka merasa malu sekaligus kagum, terdengar Shen San Niang berkata dengan dingin, "Aku kira siapa, ternyata kalian, tidak disangka kalian yang biasanya dihormati orang, ternyata juga pandai menguntit dari belakang. ”

Kata-katanya baru habis, Shen San Niang sudah meloncat tinggi dan melayang setinggi beberapa meter, dia melayang ke arah lain dan sambil membentak, "Hei tunggu, jangan pergi dulu!"

Hanya beberapa kali bergerak turun dan naik, dia sudah menjauh dari sana, ilmu meringankan tubuhnya benar-benar hebat. Kedua pak tua itu saling berpandangan, seakan hati mereka seperti berkata, "Untung kami tidak kabur."

Guan Ning sangat kagum melihat nyonya itu, biasanya Jue Wang Fu Ren terlihat seperti orang lemah, ternyata dia memiliki keahlian yang begitu tinggi, diam-diam dia merasa aneh, "Siapakah orang yang satu itu?"

Kedua pak tua yang bersembunyi di balik semak-semak sampai ketahuan, itu tidak aneh karena Guan Ning juga mengetahui kalau mereka pasti akan terus mengikutinya. Karena mereka ingin mencari pemuda yang bernama Wu Bu Yun. Jadi begitu mereka tidak bisa mengejar orang itu maka mereka pasti akan segera kembali lagi. Begitu melihat Guan Ning sedang bersama dengan Jue Wang Fu Ren, mereka tidak berani keluar dan terpaksa bersembunyi. Tapi ternyata masih ada orang lain lagi yang bersembunyi, kedua pak tua itu ternyata juga tidak mengetahuinya.

"Apakah mereka adalah 2 laki-laki berbaju hitam tadi?" Guan Ning berpikir kembali, "Kalau ternyata orang-orang itu adalah mereka, keadaan mungkin lebih baik, aku bisa tahu siapa mereka. Kalau begitu. ”

Baru saja dia berpikir seperti itu, pak tua Le Shui tertawa dingin, "Apakah kata-kata tadi akan kau laksanakan?" Guan Ning mengerutkan dahi dan berkata, "Aku tidak pernah berbohong, kalian tenang saja, besok sebelum jam 12, aku akan mempertemukan kalian dengan Wu Bu Yun."

Dari kejauhan terdengar suara Jue Wang Fu Ren, tampaknya dia sedang bertarung. Ling Ying mengerutkan dahinya dan berkata, "Aku akan ke sana untuk melihat." Dengan cepat Ling Ying berlari ke arah sana.

Kedua pak tua itu saling memandang. Tiba-tiba pak tua Le Shui mendekati kereta dan melihat ke dalam, dia berteriak, "Benar ternyata memang dia, dia benar-benar sedang terluka." Alis pak tua Le Shan bergerak-gerak, dia bergerak mendekati kereta, terdengar dari dalam kereta ada suara wanita yang membentak mereka, "Pergi!"

Kemudian terlihat banyak titik terang dilepaskan dari dalam kereta, kedua pak tua itu terkejut, mereka menggerakan lengan baju mereka sambil dengan cepat mundur dari sana. Le Shan membentak, "Mengapa perempuan itu begitu kejam?"

Dari dalam kereta terdengar suara, "Kalau aku kejam memangnya ada urusan apa dengan kalian?"

Terlihat Hong Er dengan cepat keluar dari dalam kereta dan dia berkacak pinggang.

"Kalau ternyata memang dia kenapa? dia sedang terluka memangnya kenapa? kalian mau apa?" Kedua wajah pak tua itu tampak berubah- ubah, di bawah cahaya bulan, mereka melihat lengan baju mereka penuh dengan bintang- bintang berwarna perak, hati mereka menjadi dingin, jika tadi tidak ditahan dengan lengan bajunya, walaupun mereka mundur dengan cepat sepertinya mereka tetap akan terkena senjata rahasia ini.

Tadi mereka bersembunyi di tempat gelap, dari kata-kata Guan Ning tadi pada saat sedang mengobrol dengan kedua perempuan itu, mereka hanya bisa menduga bahwa orang yang ada di dalam kereta itu mungkin Xi Men Yi Bai, sekarang setelah mereka melihat, ternyata dugaan mereka benar. Orang-orang dunia persilatan menganggap Xi Men Yi Bai sebagai musuh, begitu pula untuk kedua pak tua ini, tampak mata Le Shui berputar- putar kemudian pelan-pelan berkata, "Kalau begitu, apakah besok kami bisa bertemu dengannya?"

Pada saat seperti sekarang ini, tiba-tiba saja dia berkata demikian, benar-benar tidak menyambung dengan kondisi yang sedang terjadi. Guan  Ning bengong mendengar perkataan mereka, dia tertawa dingin dan membalikkan badannya, tangannya dengan menyerang ke arah Hong Er dan segera berlari ke arah kereta.

Yang perlu diketahui, kedudukan Xi Men Yi Bai di dunia persilatan sangat tinggi, siapa saja yang bisa membunuhnya, walaupun orang itu bukan orang terkenal, kelak dia pasti akan menjadi terkenal di mana-mana.

Begitu pak tua Le Shui melihat Xi Men Yi Bai yang sedang terluka parah dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, segera muncul keinginannya untuk membunuh Xi Men Yi Bai. Dia berpikir, "Shen San Niang sedang tidak ada di sini, jika aku bisa membunuh Xi Men Yi Bai dalam sekejap mata, lalu menculik pemuda ini, walaupun gadis itu mempunyai senjata rahasia yang beracun, tapi dia tidak akan bisa menahan seranganku, begitu Shen San Niang kembali, aku sudah pergi. Walaupun dia bisa mengejar kami, tapi bila kami bertarung langsung dengannya belum tentu kami akan kalah."

Pikiran seperti itu muncul, dia menemukan sebuah ide, dia mengajak Guan Ning bicara untuk menutupi keinginan hatinya, tapi diam-diam dia bersiap-siap untuk melancarkan serangan.

Dengan cepat dia berlari dari sana, angin yang dihasilkan dari telapak tangan seperti menggali gunung. Hong Er  terkejut, dia sudah bersiap menerima serangan pak tua ini, hati Guan Ning bergetar, dia ingin melarang gerakan mereka tapi tidak sempat. Pak tua Le Shan adalah orang yang lebih baik dan jujur, sebenarnya dia juga  membenci Xi Men Yi Bai, tapi diapun tidak melarang saudaranya melakukan apa yang ingin dia lakukan pada saat tegang seperti ini.... Tiba-tiba lengan baju Guan Ning dikibaskan kemudian dengan sekuat tenaga dia  menepuk kuda yang menarik kereta itu, walaupun ilmu melepaskan senjata rahasia Guan Ning tidak terlalu tinggi, untuk memukul orangpun tidak seberapa bisa tapi untuk menepuk kuda supaya kaget dia masih sanggup melakukannya.

Terdengar senjata rahasia yang dilepaskan, tampak kuda itu terjatuh. Ternyata yang dilemparkan adalah kotak obat Xu Ming Shen Gao, karena kuda itu telah terkena lemparannya, maka kuda itu tampak kaget dan meringkik, kemudian dengan cepat kuda itu berlari ke depan.

Dua orang laki-laki yang tiba-tiba muncul, membuat Guan Ning menjadi kaget, dia segera menyimpan kotak obat itu di dalam lengan bajunya, pada saat bertarung, kotak obat itu selalu bergerak-gerak di dalam lengan bajunya. Guan Ning benar-benar merasa tidak nyaman, beberapa kali kotak itu hampir terjatuh, untungnya Guan Ning jarang bertarung tapi dalam hati dia  tetap saja mengomel. Kotak obat itu benar-benar sangat mengganggu, Tapi tidak disangka benda yang dianggapnya sangat mengganggu sekarang malah berguna.

Pak tua Le Shui menyerang dengan telapak tangannya dan Hong Er menggerakan tangannya untuk menyambut. Pak tua itu marah dan berteriak, "Cari mati!" segera dia menggetarkan telapaknya. Hong Er berteriak dan jatuh terduduk di bawah. Untung pak tua Le Shui masih ingat kalau Hong Er hanya seorang gadis kecil, jadi dia tidak bermaksud membunuh Hong Er.

Tapi Hong Er yang terjatuh merasakan pantatnya sakit dan tulang lengannya seperti patah. Tiba-tiba Hong Er berpikir, "Mengapa aku bisa terjatuh ke tanah, bukankah di sisinya adalah sebuah kereta?"

Ternyata kuda dan kereta yang tadi berada disisinya sudah pergi jauh.

Setelah Pak tua Le Shui berhasil membuat Hong Er terjatuh, dia bersiap-siap akan membunuh Xi Men Yi Bai, tapi sekarang kuda dan kereta sudah lari, dia merasa sangat marah, kakinya berputar, dia langsung lari mengejar kereta itu. Walaupun kuda itu sudah berlari, tapi hanya sebentar dan berhasil disusul oleh pak tua Le Shui.

Pak tua Le Shui tertawa dingin, "Xi Men Yi Bai, kali ini kau pasti akan mati di tanganku."

Dia bersiap-siap akan menghentikan kereta tiba- tiba dia melihat ada bayangan seseorang di depan.

Seseorang yang mencoba menghalanginya, dengan dingin berkata, "Kau mau apa?"

Begitu melihat dengan jelas, ternyata Jue Wang Fu Ren sudah berdiri di depannya.

Terpaksa Le Shui berkata, "Kuda ini tiba- tiba saja kabur, aku sedang mencoba menghentikannya." Jue Wang Fu Ren tertawa dingin, "Tuan tidak perlu khawatir."

Tubuhnya berputar, Jue Wang Fu Ren dengan ringan meloncat ke atas kereta, kuda itu meringkik sebentar kemudian diam.

Pak tua Le Shui kaget, berdiri salah, mundurpun salah. Terdengar Le Shan berteriak, "Adik, anak Yong ada di sini."

Hatinya bergetar, dengan cepat dia segera berlari ke sana, terlihat Hong Er baru berdiri, dengan wajah pucat dia berdiri di sisi kereta, tangannya memegang tali kekang kuda dengan erat, seperti takut kalau kuda itu akan kabur lagi, perempuan berbaju hijau yang ikut dengan Jue Wang Fu Ren sekarang sudah kembali, wajahnya menjadi merah. Kedua tangannya berkacak pinggang dan dia berdiri di sisi Guan Ning. Guan Ning menggosok pergelangan tangan orang yang roboh itu. Pak tua Le Shan berada di sisi orang itu dan melihat Le Shui yang baru datang, dengan gembira dia berkata, "Adik! Lihat, Yong Er ada di sini!"

Ternyata orang yang terjatuh tadi adalah putra Tai Hang Zi Xue, yang bernama Wu Bu Yun—atau Gong Sun Yong.

Pelan-pelan Jue Wang Fu Ren membawa keretanya ke tempat mereka, dengan dingin dia berkata, "Ternyata kalian sudah saling mengenal."

Tadi Jue Wang Fu Ren melihat ada sesosok bayangan yang sedang bersembunyi di tempat gelap, begitu kedua pak tua mengetahui tampat persembunyiannya, orang itu segera melarikan diri. Jue Wang Fu Ren mengejarnya tapi ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi. Setelah beberapa lama baru bisa terkejar, orang itu segera membalikkan badan dan memukul.

Walaupun pukulan ini sangat kencang tapi ilmu Shen San Niang sangat tinggi, dia tidak begitu saja mudah terkena pukulannya, dengan cepat Jue Wang Fu Ren telah menotok nadi orang itu, saat  itu Ling Ying sudah sampai di sana, begitu melihat orang itu, Ling Ying segera berteriak, "Bukankah kau adalah orang yang datang bersama dengan Xiao Guan?"

Maka mereka membawa orang ini kembali ke tempat tadi, tapi baru saja mereka berjalan sebentar, Shen San Niang melihat ada kereta kuda yang sedang berlari dengan sangat kencang. Dia meninggalkan Ling Ying dan pemuda itu, dengan cepat berlari menghampiri kereta itu dan menghentikan pak tua Le Shui yang berniat akan membunuh Tetua Xi Men.

Sekarang Jue Wang Fu Ren tampak tertawa dingin, segera Guan Ning berkata, "Orang ini datang bersamaku, harap Nyonya masih mau melihat mukaku, bukalah totokannya!"

Guan Ning tahu ilmu silat Jue Wang Fu Ren sangat tinggi, otomatis totokannya berbeda dengan orang lain, bahkan pak tua Le Shan juga tidak dapat membuka totokan ini. Seharusnya dia datang bersama dengan kedua pak tua, mengapa dia mengatakan datang dengan Guan Ning. Tapi Jue Wang Fu Ren akhirnya membuka juga totokan Wu Bu Yun.... urat Gong Sun Yong.

Tiba-tiba pinggang Jue Wang Fu Ren melipat, telapak tangannya menyerang, dengan cepat dia melayangkan tangannya dan menampar pak tua Le Shui yang ada di sisinya.

Tadinya Le Shui melihat Jue Wang Fu Ren yang sedang membuka totokan Gong Sun Yong, tidak disangka kalau Jue Wang Fu Ren akan menampar Le Shui, telapak tangan dilayangkan begitu cepat membuat Le Shui tidak bisa menghindar saat itu, dia langsung terkena tamparan.

Kedudukannya di dunia persilatan sangat tinggi, tidak pernah dia mengalami penghinaan seperti  ini? Segera kemarahaannya meledak, dia sudah siap untuk bertarung.

Jue Wang Fu Ren tampak sudah marah dan berkata, "Kurang ajar kenapa kepalamu memukul tanganku?"

Le Shui menjadi terpaku, dalam hidupnya belum pernah dia mendengar kata-kata seperti itu. Terdengar Hong Er  dan Ling Ying tertawa, dia tampak berpikir sebentar kemudian dia marah sambil membentak, dia berkata "Kau mau mempermainkanku, mengapa kau berkata ” Kata-katanya belum habis, Shen San Niang sudah menyela, "Kalau tadi kau berusaha menarik kereta itu, kepalamu sekarang pasti tidak memukul tanganku."

Pak tua Le Shui masih dalam keadaan terpaku, dia merasa marah tapi kemarahannya tidak bisa dikeluarkan. Dalam hati dia berpikir, "Perempuan ini benar-benar sulit diajak kompromi, tampaknya dia tahu kalau tadi aku ingin membunuh Xi Men Yi Bai, pukulannya tadi termasuk ringan, jika gadis itu mengatakan sesuatu, dia pasti akan segera membunuhku."

Karena dia selalu merasa dirinya pintar, dia tidak pernah mau dirugikan oleh orang lain. Dia tahu ilmu silat Jue Wang Fu Ren sangat tinggi, dia tidak akan bisa menang dari perempuan ini, selain itu usianya sudah tua, kalau dia harus mati di sini, itu benar-benar sangat memalukan terpaksa sekarang dia berusaha menahan diri, melihat nadi Gong Sun Yong sudah dibuka, segera dia berdiri dan berkata, "Mari Kak, Anak Yong, kita pergi dari sini."

Pak tua Le Shan melihat saudaranya telah dipukul seseorang, hatinya merasa sedih. Dia membentak, "Anak Yong, ayahmu mencarimu ke mana-mana, kalau ada perselisihan yang bagaimana juga, pulanglah dulu untuk membereskan semuanya, marilah kita pulang sekarang!" Shen San Niang berpikir, "Ternyata mereka datang tidak bersama-sama, kata- katanya sangat aneh, pemuda itu adalah putra Tai Hang Zi Xue, kenapa dia melarikan diri dan menyamar seperti itu?"

Gong Sun Yong berdiri, dari tadi dia selalu menundukkan kepalanya, diapun tidak mau melihat kedua pak tua itu, ketika mereka mengajaknya pergi, tampaknya dia juga tidak mendengarnya.

Shen San Niang tertawa dingin, "Kalau  orang lain tidak mau pergi, jangan dipaksa."

Guan Ning juga merasa aneh, pemuda bermarga Wu.... Gong Sun Yong yang sudah berjanji akan bertemu di Miao Feng Shan Mao Jia Xiao Dian, kenapa tiba-tiba dia bisa datang ke sini. Begitu mendengar kata-kata Jue Wang Fu Ren, Guan Ning ikut berkata, "Betul! Betul! Kalau Kakak Wu tidak mau pergi.... Hei, hei, Kakak Gong Sun tidak mau pergi, tidak ada orang yang boleh memaksanya pergi."

Pak tua Le Shui tampak marah dan tidak ada tempat untuk melampiaskannya. Mendengar kata- kata Guan Ning, dia membentak, "Ini adalah urusan keluarga kami, kalian tahu apa, anak kecil jangan banyak ikut campur!"

Ling Ying juga marah, dia ingin memarahi pak tua itu. Shen San Niang sudah membentak, "Kata- katamu harus jelas, siapa yang kau maksud anak kecil? Jika umurnya sudah tua bagaimana?"

Ling Ying menyambung, "Betul, betul, jika umurnya sudah tua bagaimana? Ada orang yang sudah tua tapi tidak mati. Ini yang disebut....

disebut. ”

Tidak tahu apa terusan dari kalimat ini, Hong Er dengan cepat menyambung, "Sudah tua tidak mati tapi menjadi perampok. Ha, ha, ha.... tua tidak mati malah akan menjadi perampok." Hong Er merasa dendam karena tadi sudah dipukul sehingga mengatakan kalimat itu.

Sekarang pelindungnya sudah berada di sisinya, dia tahu kalau kedua pak tua itu tidak akan berani memukulnya lagi maka dia berani bertepuk tangan sambil tertawa.

Ketiga perempuan itu, satu persatu memarahi Le Shui, membuatnya tidak bisa berkutik. Guan Ning ingin tertawa dan berpikir, "Menurut kata-kata orang-orang jika 3 orang perempuan sudah berkumpul maka mereka akan menjadi sebuah kereta usang. Rubah tua itu begitu pintar, sekarang harus bertengkar dengan perempuan. Bukankah ini sama dengan mencari paku untuk diinjak?"

Gong Sun Yong masih menundukkan kepalanya, tapi tiba-tiba menarik nafas panjang. Dia berkata, "Aku harap kedua kakek guru bisa mengatakan kepada ayahku, tolong beritahu ayah kalau aku.... kalau aku tidak akan kembali ke rumah dulu, kecuali. ”

Pak tua Le Shan walaupun tidak terkena pukulan juga tidak terkena amarah para perempuan itu, tapi dalam hati dia merasa tidak enak. Setelah mendengar kata-kata Gong Sun Yong, dia berkata, "Anak Yong, kau benar-benar bodoh! Walaupun kau mempunyai alasan supaya kami mengatakannya kepada ayahmu, tapi di sini bukan tempat yang tepat untuk mengatakan, lebih baik ikut. ”

Kata-katanya belum habis, Shen San Niang sudah berkata, "Ada apapun bisa dibicarakan di sini. Apakah kata-katanya tidak boleh didengar orang lain?" Dia membalikkan badan dan berkata kepada Gong Sun Yong, "Anak muda, kau ingin menyampaikan apa, katakan saja sekarang, jangan takut!"

Tapi Gong Sun Yong hanya berdiri, tidak ingin bicara lebih lanjut. Pak tua Le Shan berkata lagi, "Anak Yong, semenjak kau turun gunung, kami terus mencarimu ke mana-mana.

Semua orang di Tai Hang Shan pergi mencarimu, yang pergi ke ibukota ada dua orang  dan berbentuk satu grup, ada beberapa grup lainnya, jika kali ini jika kau tidak pulang, maka kau akan menyia-nyiakan kebaikan semua orang."

Guan Ning baru teringat, kemarin malam  dia dan Gong Sun Yong melihat ada 6 orang memakai baju ketat dan wajah penuh dengan jambang menunggang kuda, dia baru tahu ternyata orang- orang itu datang mencari Gong Sun Yong, tapi Guan Ning tetap merasa aneh.

"Kelihatannya orang-orang itu tidak bermaksud jahat kepadanya, mengapa dia tidak mau pulang?"

Gong Sun Yong tidak bergerak, siapapun yang berkata seakan-akan dia tidak perduli. Pak tua Le Shui tidak tahan lagi. Dia berkata, "Benar-benar anak  durhaka,  ayahmu  begitu  sayang kepadamu. ”

Perkataannya belum selesai, Gong Sun Yong sudah mengangkat kepala. Dengan tegas dia berkata, "Aku selalu menghormati Kakek Guru,  jika Kakek Guru terus memaksa, jangan salahkan aku. ”

Pak tua Le Shui marah, "Kau mau apa, aku tidak percaya kau berani mencoreng hubungan ayah dan anak, jika kau berani melakukannya, siapa yang mau membela orang yang tidak tahu aturan seperti kau??"

Shen San Niang sangat pintar, dia seperti sudah tahu inti permasalahnya, tapi dia juga merasa Gong Sun Yong bersalah, dengan sudut matanya dia melirik Guan Ning, seperti sedang bertanya, "Ada apa dengan temanmu?"

Tapi wajah Guan Ning seperti kebingungan, dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Gong Sun Yong. Shen San Niang berpikir, "Jika pemuda ini bersalah, apakah aku boleh membelanya?"

Dia ingin menarik diri dari masalah ini, tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada yang berteriak, "Kebakaran.... kebakaran. ”

Suara teriakan itu semakin dekat, suara ribut- ribut semakin kacau, ternyata kuil itu sedang terbakar, apinya sangat besar, walaupun di sana adalah tempat terpencil, malam-malam seperti ini tidak ada orang yang datang ke sana, sekarang sudah hampir dini hari, orang-orang desa sudah bangun, mereka melihat ada kebakaran dari kejauhan dan mereka datang untuk membantu memadamkan api itu.

Shen San Niang berkata, "Sudah ada orang yang datang memadamkan api, kita harus segera meninggalkan tempat ini kalau tidak orang-orang itu pasti akan mengira kita yang telah membakar kuil itu. Adik, kau dan.... kau dan Xiao Guan satu kereta. Aku dan Hong Er satu kereta. Mari kita pergi dari sini!"

Dia sudah membagi-bagi tempa, nama Gong Sun Yong tidak disebut, berarti dia tidak ingin mengurusi hal itu lagi.

Guan Ning menghembuskan nafas, dia berjalan ke sisi Gong Sun Yong, "Wu— Gong Sun Yong aku pergi dulu, kau harus. ” Gong Sun Yong berdiri dengan lesu. Dia berkata, "Baiklah, kau pergi dulu saja, aku titip orang yang ada di dalam kereta itu kepadamu."

Guan Ning melihat dia yang tampak tidak bersemangat, dia merasa sedih dan berkata, "kau tenang saja!"

"Aku berikan kereta itu kepadamu."

Tiba-tiba dia berbisik, "Di bawah kereta. ”

Kemudian dia berkata, "Selama gunung hijau, sungai yang terus mengalir, kita pasti akan bertemu lagi."

Dia membalikkan badan dan berkata kepada kedua pak tua itu, "Aku akan ikut kalian pulang."

Kedua pak tua itu saling pandang, dengan senang mereka berkata, "Itu baru anak baik!"

Suara orang-orang semakin mendekat  dan masih terdengar langkah orang berlari. Shen San Niang dengan cepat naik ke atas kereta dan berteriak, "Cepat pergi dari sini!"

Ling Ying dengan cepat naik ke atas kereta, tapi Guan Ning masih bengong melihat Gong Sun Yong. Ling Ying berteriak, "Xiao Guan, cepat naik!"

Gong Sun Yong melambaikan tangan, "Pergilah Kakak Guan!"

Dia terus melihat ke bawah, "Aku. sebenarnya

aku juga ingin pergi." Dengan langkah besar dia menghampiri kedua pak tua lalu pergi bersama mereka.

Shen San Niang dengan dingin berkata, "Dasar tua bangka, jika aku berniat mengurus masalah keluargamu, hari ini kalian tidak akan lolos dari tanganku."

Dia sudah menarik tali kekang kuda dan berlalu dari sana.

Setelah bayangan Gong Sun Yong tidak ' terlihat, Guan Ning baru naik ke atas kereta. Dia merasa tidak enak dan merasa bersalah kepada Gong Sun Yong. Dia masih belum tahu kalau kereta sudah berjalan. Dalam hati dia berpikir, "Orang seperti Gong Sun Yong bukan orang yang tidak tahu hubungan keluarga."Persoalan apa yang telah terjadi padanya, Guan Ning tidak bisa menebak.

Satu tangan memegang tali kuda, satu tangan memegang pecut. Ling Ying duduk bersama dengan Guan Ning. Yang pasti dia merasa sangat senang dan tertawa, "Walaupun aku merasa marah dan pergi dari sisimu, tapi terakhir aku sadar bahwa pikiranku tidak benar, aku bersembunyi di taman rumahmu, pagi-pagi aku sembunyi di sebuah gudang, malam-malam menjaga rumahmu, untung rumahmu besar, begitu lapar aku bisa ke dapur dan mencuri makanan di sana dan tidak ada yang tahu. Kemudian aku melihatmu pergi, akupun menyewa sebuah kereta dan menguntitmu dari belakang, melihatmu menyamar menjadi seorang kusir, aku ingin tertawa melihatnya. Benar-benar tidak disangka kelakuanmu. Ha, ha, ha!. Tidak

disangka, sekarang akupun menjadi kusir."

Kereta berbelok ke sisi jalan, sebelah tangannya memegang tali kuda, dia melihat ke arah jalan. Dia tertawa lagi, "Kau jarang berkelana, karena itu kau bertindak ceroboh, di dalam kereta ada orang tapi kalian malah meninggalkan mereka dan pergi begitu saja, kalau bukan karena aku. ”

Ling Ying berhenti, dia melihat Guan Ning dan bertanya, "Xiao Guan, kenapa kau tidak bicara sepatah katapun?"

Melihat wajah Guan Ning, Ling Ying mulai merasa marah, "Baiklah, ternyata kau tidak mendengar kata-kataku, kau sedang memikirkan apa?".

Guan Ning menenangkan hatinya dan mencoba tertawa, "Aku berpikir tentang siapa pemilik telinga itu? Mengapa kau memotong telinganya?" Sebenarnya dia mendengar kata- kata Ling Ying, hanya tidak terlalu jelas.

Tapi jawabannya masih ada kaitannya. Ling Ying dengan senang berkata, "Aku akan memberitahumu, dua pedang dan satu golok adalah milik Luo Yang San Xiong, pemilik telinga itu, aku hanya kenal yang bernama Zhui Feng Shou, mereka adalah orang yang terkenal. Sedangkan yang satu lagi aku tidak kenal."

Begitu Guan Ning mendengar penjelasan Ling Ying, dia sangat terkejut. Karena yang bernama Luo Yang San Xiong, namanya sering diceritakan oleh gurunya, Si Tu Wen. Mereka adalah pesilat tangguh di bagian utara. Guan Ning kaget dia berkata, "Luo Yang San Xiong memiliki ilmu silat sangat tinggi, apakah kemampuan silatmu lebih tinggi dari mereka? Apakah merekapun mempunyai dendam kepada Xi Men Yi Bai?"

Ling Ying melihat ke sekeliling, dengan suara kecil dia menjawab, "Jujur bicara, nama Xi Men Yi Bai di dunia persilatan sangat buruk. Guruku juga mengatakan kalau dia bukan orang baik, tapi setelah mendengar ceritamu, aku tahu kali ini dia sudah terkena getahnya."

Dengan senang Ling Ying tertawa, "Ilmu silat Luo Yang San Xiong memang lihai. Tapi yang bernama Zhui Feng Shou ilmu silatnya lebih tinggi lagi, mereka pernah dikalahkan dan bahkan pernah dipermainkan oleh Xi Men Yi Bai.

Entah dari mana mereka bisa tahu kalau Xi Men Yi Bai ada di rumahmu dan sedang diobati, karena itu mereka datang untuk membalas dendam. Untung saja. ”

Dia tertawa, "Untung aku ada di sana."

Guan Ning tertawa, "Sejak awal aku sudah tahu semua ini pasti kau yang melakukannya."

"Apakah benar?"

"Kecuali kau, siapa yang mau membantuku?" Wajah Ling Ying menjadi merah, "Kau benar- benar sangat pandai bicara."

Dia merasa sangat senang.

"Untung selama beberapa hari itu, yang datang bukan pesilat tangguh, kalau yang datang adalah Kun Lun Huang Guan, aku pasti tidak bisa berbuat apa-apa.... Wei! Apakah kau tahu di depan pintumu ada beberapa pendeta yang datang dari Kun Lun Pai, aku takut mereka akan menyelinap ke rumahmu pada malam hari, kalau tidak bagaimana cara menyuruh mereka pergi?"

Guan Ning mengangguk, dia  benar-benar kagum, "Murid-murid Kun Lun datang dari perkumpulan terkenal. Mereka bertindak secara terang-terangan dan disiplinnya sangat tinggi."

Pemimpin Kun Lun Pai, yaitu Pendeta Huang Guan sifatnya sangat keras dan sangat disiplin, perlakuannya kepada murid-murid Kun Lun Pai sangat ketat. Bila ada yang berani melanggar aturannya, dia tidak segan-segan menghukum murid itu. Karena itu walaupun Pendeta Xian Tian menaruh curiga, tapi mereka juga tidak berani melanggar aturan Kun Lun Pai yaitu malam-malam menyelinap ke rumah penduduk."

Roda kereta terus berputar, kereta berjalan sangat cepat. Ucapan mereka hanya beberapa kalimat, kereta sudah berjalan cukup jauh, kebakaran di hutan itu sudah tidak terlihat, yang terlihat sekarang ini hanya langit terang di ufuk timur. Hari mulai terang, sekarang musim dingin, udara terasa dingin dan cuaca di sekitar sana masih gelap. Selama sehari tidak terlihat matahari karena itu sekarang langit tampak sangat gelap. Guan Ning berkata, "Malam di musim dingin benar-benar sangat panjang!"

Dia melihat kereta yang ada di depan mereka berbelok ke kanan, mereka berjalan ke arah barat, belok ke kanan adalah perjalanan menuju arah utara. Guan Ning tahu mereka menuju ke jalan Miao Feng Shan.

Udara terasa semakin dingin.

Ling Ying menyerahkan pecut dan tali kekang kuda kepada Guan Ning lalu dia tertawa, "Hari sudah terang, aku tidak mau menjadi kusir lagi, kau saja yang menjadi kusir sekarang." Dia tertawa dan berkata lagi, "Udara terasa sangat dingin, tanganku sudah membeku."

Dia menyandar ke tubuh Guan Ning.

"Aku sangat beruntung mempunyai kusir cantik dan baik hati."

Tiba-tiba dia bertanya, "Aku heran di mana kau bisa bertemu dengan Shen San Niang dan bisa membawanya kembali?"

"Kau tidak perlu merasa aneh, kau berterima kasih kepadaku saja itu sudah cukup. Kau dan pemuda itu meninggalkan kereta dan masuk begitu saja ke dalam penginapan. Aku sendiri kedinginan sambil menjaga kereta kalian. Kemudian ada dua orang yang keluar dari penginapan, mereka ingin mencuri barang- barang kalian, begitu melihat ada orang di dalam kereta, mereka sangat terkejut. Salah satu dari mereka malah berkata, 'Kita bunuh mereka dulu.' Aku kaget ketika melihat mereka sudah bersiap-siap dan mengambil pisau belati, aku segera meloncat dari belakang dan menusuk mereka dengan pedangku."

"Kau benar-benar kejam."

Ling Ying marah dan berkata, "Tidak disangka kau ternyata seorang tuan yang begitu baik, kalau kau tidak membunuh, maka orang lain yang akan membunuhmu. Hei! Kau benar- benar tidak tahu berterima kasih!"

Dia tertawa karena Guan Ning sudah mengulurkan tangannya dan memegang pundaknya.

Kemarahan segera berubah menjadi tawa, dia menyandar lagi ke tubuh Guan Ning dan lebih mendekat lagi kepada Guan Ning.

"Setelah aku membunuh mereka. Dengan ujung pedang aku menggores 2 kalimat. Apakah kau sudah membacanya?"

Guan Ning mengangguk kemudian tertawa, dengan ringan dia memukul pundaknya. Hati Ling Ying benar-benar terasa hangat walaupun saat itu udara terasa sangat dingin. Tapi dia tidak merasakannya. Sambil tertawa dia berkata, "Setelah selesai menggores kalimat itu, aku mendengar ada orang yang keluar dan ternyata gerakan tubuh orang itu sangat ringan. Lalu aku bersembunyi di balik dinding dan melihat semuanya, ternyata dia adalah temanmu yang bernama Wu Bu Yun, dia lari ke dalam kereta, lalu dia melihat ada 2 orang monyet yang tergeletak di bawah, dia sepertinya sangat kaget, kemudian dia melihat ke sekeliling. Aku takut dia melihatku. Karena itu dengan cepat aku bersembunyi lagi, tidak lama kemudian, ketika aku melihatnya lagi dia sudah menghilang."

"Apa? Menghilang?"

"Betul, dia menghilang, karena di sekeliling sana tidak terlihat bayangannya sama sekali, seperti hilang ditelan bumi, waktu itu aku berpikir ilmu meringankan tubuh orang itu benar-benar lihai."

"Kenapa dia bisa menghilang, apakah dia bersembunyi di dekat sana dan tidak jadi pergi?" tanya Guan Ning.

"Waktu itu akupun berpikiran seperti itu, dan aku tidak berani keluar untuk melihat. ”

Tiba-tiba Guan Ning bertanya, "Pisau belati yang digunakan oleh perampok itu untuk membunuh, apakah kau yang mengambilnya?"

"Tidak, apakah kau tidak melihatnya?" tanya Ling Ying. "Aku tidak melihat pisau belati itu, kalau begitu pasti sudah diambil oleh Gong Sun Yong," kata Guan Ning.

Dengan aneh Ling Ying berkata lagi, "Waktu itu aku baru memasukkan untuk disembunyikan, hanya dalam waktu singkat dia sudah memungut pisau belati itu kemudian pergi, setelah itu tidak terlihat bayangannya.... Ilmu Shen San Niang benar-benar sangat tinggi."

Ling Ying memuji ilmu Shen San Niang yang tinggi, karena Shen San Niang berhasil menangkap Gong Sun Yong, bukankah ilmu Shen San Niang lebih tinggi!

"Tidak disangka di dunia persilatan ada perempuan yang ilmu silatnya begitu lihai dan masih muda pula."

Guan Ning bertanya lagi, "Setelah itu kau melihatku keluar, kau bahkan tidak mau keluar menemuiku. ”

Ling Ying tertawa, "Waktu itu aku benar- benar tidak ingin bertemu denganmu, karena. karena

kau jahat."

Guan Ning ingin bertanya, apakah dia telah bertemu dengan Nona Du, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya. Terdengar Ling Ying berkata lagi, "Aku melihat kau hanya berdiri terpaku, aku ingin tertawa kemudian aku melihatmu membawa kereta juga melihat kudamu direbut oleh Shen San Niang, aku melihatmu berteriak-teriak sambil mengejarnya, aku berpikir, walaupun kau sudah jahat kepadaku, tapi aku tetap harus berbuat baik kepadamu karena itu aku membantumu mengejar, aku mengejar melalui jalan pintas, aku sudah tiba terlebih dahulu di jalan yang akan dilewati kereta itu dan akupun naik ke atas kereta itu, aku mengira gerakanku sangat ringan, tidak akan mengeluarkan suara sedikitpun,. ”

Dia tertawa.

"Tapi baru saja tanganku memegang badan kereta, terdengar suara perempuan dari atas kereta yang membentak, 'Siapa! Mau apa?' Aku menjawab, 'Aku seorang polisi yang ingin menangkap orang yang telah mencuri kereta.' Kata- kataku belum selesai, orang yang ada di  atas kereta itu kuda membalikkan badannya dan memecutku, aku melihat kusir kereta itu ternyata seorang gadis, pecutannya tidak keras dan aku menyambut pecut itu dengan tangan. Walaupun gadis itu masih muda, tapi ilmu silatnya tidak kalah dariku, aku tidak berani memandang enteng kepadanya, hampir saja aku tertipu."

Sambil mendengar, tampak Guan Ning mengerutkan dahinya, dia diam, dia hanya mendengar cerita Ling Ying, tidak ada waktu untuk berpikir hal lainnya.

Ling Ying berkata, "Begitu aku menyambut pecut itu, pergelangan tanganku terasa bergetar. Hampir saja aku terjatuh, segera dengan sekuat tenaga aku menarik pecut itu dan mencoba bertahan dengan posisi itu. Gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan berat tubuhku, tubuhnya tampak bergoyang, aku melihat dia akan segera terlempar ke bawah, aku tidak tega melihatnya maka akupun memutuskan untuk menjepitnya. Gadis itupun melihatku yang ternyata seorang perempuan, dia tertawa kepadaku.... Tawanya Terlihat sangat manis, siku hanya bisa bengong!" Dia seperti masih mengenang tawa manis gadis itu.

"Kau mengatakan orang lain bila tertawa akan manis, bagaimana dengan dirimu?" tanya Guan Ning.

"Kau jahat, tawaku jelek, jangan lihat," Ling Ying menutup mulut dengan tangannya.

Tapi dia merasa senang, dia menurunkan tangannya, Ling Ying berkata, "Sewaktu  aku sedang bengong, di sisi gadis itu tampak seorang perempuan cantik. Dia tertawa melihatku. 'Gadis kecil, kau mau apa?'

Sebenarnya aku ingin bertarung dengan mereka saat itu, tapi begitu melihat mereka, aku sudah tidak berniat melakukannya. Terdengar dia berkata lagi, 'Aku harus cepat tiba di ibukota. Aku meminjam kereta kuda ini, apakah boleh?' Suaranya sangat enak didengar. Pada saat dia bergerak atau diam, gerakan tubuhnya sangat indah. Aku terpaku kemudian berkata, "Aku akan memberi pinjam kereta ini kepadamu tapi pasien yang ada di dalam kereta itu sedang sakit parah, dia adalah temanku, aku bersusah payah membawanya dari Wisma Si Ming

Orang itu sangat dikasihani, siapa dia akupun tidak tahu dan dia sudah terkena racun pula, walaupun aku tidak kenal dengannya tapi aku melihat dia bukan orang biasa, baju putihnya tidak seperti yang biasa dipakai orang-orang, waktu itu aku tidak tahu kalau pasien yang ada di dalam kereta itu adalah Xi Men Yi Bai, karena pada dasarnya aku merasa tidak bermusuhan dengannya, maka akupun tidak berniat membohongi mereka."

Guan Ning tertawa memuji sikap Ling Ying, dia merasa sangat puas terhadap kejujuran Ling Ying.

Ling Ying berkata lagi, "Awalnya aku bicara, dan dia mendengar dengan seksama, tapi begitu aku selesai bercerita, wajahnya tampak berubah dan bertanya, 'Apa yang kau katakan tadi?'

“Aku merasa aneh melihatnya dan aku menceritakan semua yang sudah terjadi dengan singkat, maksudku melakukan semua ini tak lain karena aku berharap dia akan mengembalikan kereta itu kepadamu, supaya kau bisa merasa tenang—Tapi begitu aku selesai bercerita, dia malah meneteskan air mata dan membalikkan kereta menuju arah di mana dia datang tadi, ternyata dia adalah Jue Wang Fu Ren, Shen San Niang. Dia melakukan perjalanan ke Bei Jing dengan maksud mencari Xi Men Yi Bai. ” "Karena itu aku merasa kaget, aku baru tahu kalau pelajar berbaju putih itu adalah Xi Men Yi Bai, kami kembali ke penginapan itu, tapi kau sudah pergi dari sana, untung masih terlihat jejak roda keretamu, karena semalaman telah turun salju dan tidak ada orang yang lewat di sana, secara otomatis jejak roda kereta terlihat sangat jelas."

"Kalian benar-benar sangat teliti," puji Guan Ning.

"Ini bukan disebut teliti. Jika kau sering berkelana, kaupun pasti akan segera mengetahuinya," jelas Ling Ying sambil tertawa.

"Karena itu kalian mengikut jejak rodaku dan kalian bisa menemukanku, untung saat itu turun salju jika musim panas kalian akan celaka," Guan Ning tertawa.

"Bila musim panas, kami juga tetap bisa mencarimu, hanya saja mingkin gerakan kami lebih lambat."

"Kalau terlalu lambat, selamanya kau tidak akan bisa bertemu denganku," Guan Ning tertawa kecut.

"Selamanya   tidak   bisa   bertemu  denganmu....

selamanya tidak bisa bertemu. Aku harus bagaimana? Begitu aku melihat Shen San Niang yang telah bertemu dengan Xi Men Yi Bai, aku benar-benar merasa sedih juga senang, tapi sebenarnya....   hehh!   Sewaktu   aku   melihatmu, kalau dilihat oleh orang lainpun akan k ah sama seperti itu?"

Hati Guan Ning dipenuhi dengan kehangatan, sepertinya tenggorokan tercekat, dia diam tidak bisa berbicara, tangan yang masih berada di pundak Ling Ying terasa mengencang, seperti ingin membuktikan kalau Ling Ying masih ada  di sisinya.

Ling Ying memejamkan mata menikmati kehangatan cinta Guan Ning.

Angin berhembus sangat kencang, kereta bergoyang-goyang, tapi Ling Ying merasakan kalau tempat ini adalah tempat yang paling membahagiakan. Lama dan lama!

Dengan puas Ling Ying menghembuskan nafas, "Apa yang telah terjadi terakhir ini kau pasti sudah tahu, tapi masih ada satu hal di mana aku tetap merasa aneh."

"Tentang apa?" tanya Guan Ning.

"Laki-laki berbaju hitam dan bertubuh pendek itu sangat mengetahui jurus pedangku, dia sangat hafal dengan gerakanku, saat ini aku mengeluarkan jurus ini, berikutnya dia sudah tahu aku akan menggunakan jurus apa. Aku. aku

tidak berbohong, walaupun ilmu pedangku bukan yang tertinggi di dunia persilatan tapi jarang ada orang yang tahu."

"Ada berapa orang yang tahu?" tanya Guan Ning. Ling Ying memejamkan mata untuk berpikir. Dia menghitung, "Aku hanya tahu sekitar 2-3 orang, kecuali aku sendiri dan guruku, masih ada orang yang seperguruan dengan guruku. Tapi orang itu sudah pindah ke luar negeri dan tinggal di sebuah pulau terpencil, masih ada 2 teman baik guruku, tapi mereka tidak tahu terlalu banyak. ”

Guan Ning bertanya lagi, "Apakah masih ada yang lainnya?"

"Yang lainnya adalah Nyonya Yu Ru Yi dan satu lagi di mana aku ingin bertarung dengannya, yaitu Nyonya Si Ming Hong Pao, tapi dia sudah mati bukan?"

Guan Ning sekali lagi tenggelam dalam pikiran lamanya, otaknya kadang bisa berpikir sangat jernih tapi terkadang sangat keruh. Ling Ying melihat sikap Guan Ning berubah. Dia menundukkan kepalanya, dia meletakkan kepalanya di bahu Guan Ning yang kokoh,  dia tidak ingin memikirkan hal lainnya lagi.

Akhirnya hari benar-benar terang.

Tapi gunung tidak  terlihat tenang, sepertinya akan turun salju lagi.

Jalan yang sudah dipenuhi salju sangat jarang dilewati orang, kereta ini hampir tiba di kaki gunung Miao Feng Shan.

"Pisau belati itu hilang, apakah karena diambil oleh Gong Sun Yong?" "Mengapa dia juga bisa tiba-tiba menghilang, kemudian muncul di luar kuil itu?"

"Kata-katanya tidak jelas, apa maksud semuanya ini? Siapa Yu Ru Yi? Nyonya Hong Pao? Siapa laki-laki berbaju hitam itu?" Guan Ning terus memikirkan semua pertanyaan itu.

Dia terpaku karena merasa Ling Ying telah tertidur dalam pelukannya. Kuda berjalan dengan cepat dan tiba-tiba kereta terasa bergoyang, di kedua sisi jalan itu adalah parit. Walaupun di dalam parit tidak ada airnya, tapi begitu roda kereta masuk ke dalam parit tetap terdengar suara bergetar.

Guan Ning kaget, tiba-tiba dia  merasakan tempat duduknya seperti dipukul dengan benda berat. Kudanya terus meringkik, kereta pun dihentikannya segera.

Dengan bingung Ling Ying membuka kelopak matanya, masih tersisa mimpinya yang manis, tapi dia melihat Guan Ning yang sedang melompat dari tempat duduknya. Wajahnya terlihat gembira, seperti menemukan tambang emas di bawah tempat duduknya.

Guan Ning teringat pada kata-kata Gong Sun Yong yang sangat sederhana.

"Di bawah kereta. ”

Sepanjang jalan dia selalu teringat arti ketiga kata itu. Sampai sekarang dia baru tahu kalau  ketiga kata itu tersimpan sebuah rahasia besar.

Ling Ying mengerutkan dahinya heran, "Xiao Guan, ada apa?"

Tapi Guan Ning tidak mendengar kata- katanya, begitu kakinya menginjak tanah dengan benar, dia langsung menarik Ling Ying turun dari kereta, tangannya memegang badan kereta dan mulai mengangkat....

Tempat duduk itupun terangkat. Guan Ning berteriak.

"Benar, ternyata ada!"

Ling Ying melotot dan merasa aneh. Dia bertanya, "Apa yang terjadi? Ada apa?"

Ling Ying melihat semua yang terjadi, kabut pagi hampir menghilang, matahari pagi mulai terbit. Di bawah sinar matahari di bawah tempat duduk kosong, di dalam tempat itu terlihat ada sesuatu yang berkilau, setelah dilihat dengan teliti ternyata benda itu adalah pisau belati yang mereka cari.

Hati Ling Ying bergetar, "Apa benar ini adalah pisau belati yang kita cari?"

Ling Ying teringat pada kata-kata dia tanyakan tadi. Dia berteriak, "Kau jahat!"

Guan Ning mengambil pisau belati itu, begitu mendengar teriakan manja Ling Ying, dia bisa merasakan percintaan hangatnya bisa menghilangkan berbagai macam kesulitan.

Begitu dua pasang mata itu beradu pandang, Guan Ning melihat ada cahaya di mata Ling Ying, sepertinya mata itu tampak lebih terang dari pisau belati itu. Dia memegang erat tangan Ling Ying dan berkata, "Apa benar aku telah berbuat jahat?"

Ling Ying menghitung lagi, "Kau sangat jahat. Kejahatanmu tidak terhitung. Pertama, kau....

kedua, kau.... ketiga, kau. ”

Ling Ying menutup mulutnya untuk menahan tawa senangnya, sekalipun kau telah melakukan kesalahan beribu-ribu kali, tapi di mata orang yang kau cintai kesalahan itu bisa dimaafkan, apalagi Guan Ning tidak terlihat kekurangannya.

Empat pertanyaan terus dipikirkan Guan Ning. Mengapa pisau belati itu bisa hilang? Apakah Gong Sun Yong yang mengambilnya?

Mengapa Gong Sun Yong bisa menghilang?

Mengapa dia bisa muncul di kuil itu?

Kata-katanya sederhana sehingga tidak jelas, di bawah tempat duduk kereta.... apa arti perkataannya?

Yu Ru Yi, nyonya berbaju merah? Siapa laki-laki berbaju hitam itu?

Sekarang      dia      sudah      mendapatkan      3

jawabannya, dia memegang pergelangan Ling Ying dan  berkata dengan  pelan, "Di  depan penginapan itu, sewaktu kau bersembunyi di tempat gelap. Gong Sun Yong memungut pisau belati itu dan menyembunyikan di bawah tempat duduk. Kita mencarinya sampai mengelilingi tempat itu tapi tidak berhasil menemukannya. Kita mengira dia sudah pergi jauh, sebenarnya dia tidak pernah meninggalkan kereta ini, maka begitu tiba di kuil, tiba-tiba dia muncul dan memberitahukan rahasia ini."

"Temanmu itu benar-benar sangat pintar, jika bukan dia sendiri yang mengatakan rahasia ini, dan secara tidak sengaja kau mengetahuinya, hal ini membuat orang lain tidak habis berpikir, banyak penjahat yang telah melakukan kejahatan mereka dikejar-kejar orang, mereka akan memanfaatkan kelemahan manusia, bersembunyi di tempat paling terbuka dan tempat yang paling tidak diperhatikan orang lain, membiarkan orang berputar-putar dan menghabiskan banyak tenaga, dan mengejar orang itu sampai berpuluh kilometer, tidak disangka ternyata dia bersembunyi di keretanya di balik pintu!"

Guan Ning mendengar semuanya dan berkata pada dirinya sendiri, "Hal yang paling mudah, tapi yang paling sulit ditemukan. ”

Tiba-tiba dia mengangkat kepala. "Kau pikir siapa kedua laki-laki berbaju hitam itu? Siapa yang membunuh para pendekar di Wisma Si Ming? Apakah sebenarnya ini juga adalah hal sederhana? Tapi membuat kita harus berputar- putar mencari pembunuhnya, dan kita tidak bisa menebak siapa pelakunya."

"Biasanya yang berlaku seperti itu, tapi tidak semua persoalan di dunia ini bisa disamakan seperti itu!"

Guan Ning menundukkan kepala. Dia berpikir lagi.... Begitu dia melihat, kereta yang ada di depan mereka sudah menjauh.

Dia segera berlari ke keretanya sambil memegang pisau belati itu, di bawah sinar matahari, pisau itu tampak berkilauan, banyak masalah bisa diselesaikan dengan ditemukannya pisau belati ini.

Kereta mulai berjalan lagi.

Ling Ying berkata, "Akupun meyimpan satu pertanyaan, semua masalah ini bila dilihat sepertinya hanya hal mudah, tapi setelah lama dipikir, aku tetap tidak menemukan jawabannya."

"Soal apa?" tanya Guan Ning.

"Temanmu, Gong Sun Yong, dalam keadaan begitu tergesa-gesa, mengapa dia masih sempat memungut pisau belati itu Kemudian bersembunyi di tempat rahasia itu? Sebenarnya ini tidak begitu penting, aku hanya iseng bertanya."

"Tempat rahasia, pisau belati adalah senjata untuk menjaga diri, dia takut kalau tempat persembunyiannya diketahui orang maka diapun memungut pisau belati untuk menjaga diri. ,"

jelas Guan Ning.

"Hal ini sudah pernah kupikirkan, alasan ini bisa dipakai semua orang, tapi bila dikemukakan Gong Sun Yong tampaknya sangat tidak cocok karena dia mempunyai ilmu silat tinggi. Pisau belati seperti ini di tangan pesilat tangguh atau tidak, itu sama saja, tidak akan berbeda jauh. Kalau tidak ada alasan yang jelas, dia tidak akan memungut pisau itu, kecuali....” ucap Ling Ying.

Guan Ning mengerutkan dahi dan bertanya, "Kecuali untuk menjaga diri, masih bisa digunakan untuk apa?"

Dia menarik nafas dan memungut pisau itu, "Ternyata bisa digunakan untuk mengukir kata di sini!"

Segera tangan Guan Ning membawa kudanya memutar arah, sinar matahari terlihat dari ufuk timur dan bisa menyinari tempat duduk kereta serta huruf-huruf yang terukir di papan itu.

Tulisannya diukir dengan bentuk bengkok dan tidak teratur. Jika tidak teliti melihat, tidak akan bisa terlihat dengan jelas.

Guan Ning dan Ling Ying bersama-sama membaca huruf-huruf itu. Di atas papan terukir kata-kata demikian.

"Kata-kataku ini tidak boleh dikatakan kepada siapapun, aku mengukir ini hanya untuk membuang kekesalanku, jika ada orang yang tidak sengaja membacanya. ”

Huruf berikutnya tidak begitu jelas.

Guan Ning dan Ling Ying saling memandang. Mereka tidak bisa menebak arti keempat kalimat itu. Mereka membaca sekali lagi  tulisan berikutnya.

"Ayahku bersifat keras, sering melakukan perbuatan keras. Ada yang baik juga ada yang jahat, benar-benar sulit dibedakan. Beberapa waktu lalu dia telah melakukan suatu hal. Aku tidak ingin melihatnya, jika ada yang marah atau mengatakan kalau aku berdosa, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya saja hatiku tidak tenang. ”

Berikutnya terlihat ada beberapa kata tapi kemudian terlihat huruf itu dihapus dengan dicorat-coret. Tapi huruf itu terlihat lebih jelas dibandingkan dengan keempat kalimat tadi.

Ling Ying membaca lagi, "Beberapa puluh tahun lalu, ayahku dan Si Ming Hong Pao adalah teman baik. Begitu mereka terkenal, mereka jarang keluar dari tempat mereka,tapi hubungan mereka tetap terjalin sangat erat, hanya saja orang-orang dunia persilatan tidak ada yang mengetahuinya. ”

Membaca sampai di sini, Ling Ying berhenti membaca dan membacakannya lagi, "Si Ming Hong Pao dan Tai Hang Zi Xue, sama-sama terkenal dan mempunyai kedudukan yang sama, mereka seperti tidak mempunyai masalah. Tapi menurut Gong Sun Yong sepertinya ada rahasia yang tersimpan. Rahasia apa sebenarnya?"

Guan Ning mengerutkan alis dan berpikir. Pelan- pelan dia menarik nafas. Terdengar Ling Ying berkata, "Sewaktu mereka masih muda mungkin mereka telah melakukan kejahatan, setelah masing-masing terkenal, mereka takut kalau  hal ini akan diketahui oleh orang-orang, maka. ”

Guan Ning menghentikan kata-kata Ling Ying, dia terus menghembus nafas tapi tetap tidak mengatakan apapun. Sebenarnya Guan Ningpun sempat berpikir seperti itu, hanya karena sifatnya jujur dan berteman dengan Gong Sun Yong, maka dia tidak ingin mengatakan apa yang menjadi pikirannya. Tapi mulut Ling Ying bergerak lebih cepat, dia dengan cepat mengatakan semuanya.

Huruf-huruf berikutnya mungkin karena hati orang itu sedang kacau atau karena kereta terus bergoyang, maka goresannya lebih tidak jelas. Di sana tertulis :

"Si Ming Hong Pao benar-benar sangat berbakat. Ilmu silat mereka tinggi, senjata rahasia, racun, keterampilam mengubah wajah, dapat mereka lakukan dengan sangat mahir!"

Ling Ying terkejut, "Ternyata kalangan persilatan tidak tahu tentang kemahiran mereka, Akupun tidak tahu, ini sangat aneh. ” Guan Ning mengerutkan alisnya. Dia membaca lagi kalimat berikutnya, kata-kata berikutnya digores dengan huruf agak besar dan goresannya agak dalam, tampaknya setelah berpikir lama dia baru berani menggores lagi.

"Juan Shan Shuang Can, Zhong Nan Wu Shan, mereka mengganggap orang-orang teratas adalah musuh. Shao Lin, Wu Dang Luo Fu dan lain-lain dianggap tidak akur dengan mereka.," huruf itu diubah menjadi, "Si Ming Hong Pao baru saja melakukan suatu hal. Aku mengira aku pasti akan mati....” hurufnya berhenti. Kata- kata berikutnya tidak menyambung, akhirnya tertulis, "Akal nomor satu di dunia.... nelayan yang  beruntung.    sangat

sempurna   dan   masuk   akal....   .jahat....  licik....

durhaka.... apakah durhaka itu?.... dari dulu memang hanya ada mati. ”

Di bawah sudah tidak terlihat ada huruf lainnya.

Guan Ning dan Ling Ying bersama-sama membacanya sampai habis, mereka saling memandang dan terdiam, mereka tahu di balik kata-kata yang tidak beraturan itu pasti mengandung arti yang sangat penting.

Apakah arti dari tulisan itu? Walaupun mereka adalah orang yang sangat teliti, tapi mereka tetap tidak bisa menebaknya.

Ling Ying menghembus nafas panjang. "Temanmu   ini   benar-benar   aneh,   dia   ingin

mengungkapkan  sebuah  rahasia  besar  tapi kata- kata yang diucapkan tidak jelas, sehingga orang hanya bisa menebak-nebak, bagaimana cara kita bisa menebaknya?"

Guan Ning masih terpaku dan pelan-pelan berkata, "Seorang putra tidak boleh menjelek- jelekan nama ayahnya sendiri, tapi karena keadilan dan rasa kebenaran di hatinya, membuat dia harus bicara seperti itu. Heehh.... kalau kau berada di posisinya, apa yang akan kau lakukan?"

Ling Ying bengong, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkannya.

Lama dan lama sekali dia baru berkata, "Apakah ayahnya yang bernama Tai Hang Zi Xue mempunyai hubungan dengan peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming?"

"Tampaknya memang begitu!" Guan Ning menjawab sambil menarik nafas, "Coba kita berpikir lebih teliti lagi. Huruf yang digoreskan, dibandingkan dengan tebakan dan perkiraan kita ini, mungkin bisa menebak apa yang dimaksud olehnya."

Ling Ying mengangguk. Dia naik ke atas kereta kemudian berteriak, "Hei! Kereta Shen San Niang sudah tidak terlihat, sekarang kita harus bagaimana?"

Kereta lebih dipacu untuk berlari lagi.

Jue Wang Fu Ren, Shen San Niang mengkhawtirkan luka suaminya, dengan cepat dia sudah berada di Miao Feng Shan.  Dia membalikkan kepalanya untuk melihat, ternyata kereta yang sejak tadi berada di belakang sekarang tidak terlihat bayangannya, walaupun di wajahnya dia tidak terlihat kecemasan, tapi di dalam hati dia merasa sangat cemas.

"Apakah telah terjadi sesuatu pada mereka?"

Dia menunggu tapi bayangan itu tidak terlihat, dengan tergesa-gesa dia makan nasi, dia merasa semakin cemas, matahari sudah terlihat siap terbenam lagi.

Dia membalikkan kereta menuju jalan pada saat dia datang tadi. Dia berharap di tengah perjalanan nanti dia bisa bertemu dengan Guan Ning dan kuda dipacu berlari lebih cepat, dalam waktu setengah jam masih tidak terlihat kereta Guan Ning, dia mulai merasa marah.

"Apakah mereka begitu kurang ajar, tidak tahu yang mana yang harus dipentingkan dulu? Dalam keadaan seperti ini mereka masih bisa berpacaran. Apakah mereka tidak takut terlambat sampai di Miao Feng Shan?" Tapi setelah mereda kemarahannya dia berpikir lagi. "Sifat mereka tidak seperti itu."

Karena itu sekarang dia bertambah cemas. "Apakah di perjalanan telah terjadi sesuatu?" Dia

melihat jalan yang ada di depannya, jalan yang lurus itu tidak terlihat ada debu yang beterbangan, tapi di  atas tanah  yang  berwarna kuning  tampak jejak roda kereta yang masih baru, dia tadi tidak melihatnya.

Di tanah berwanra kuning terlihat sebuah kereta yang sedang berjalan.

Di depan kereta duduk sepasang anak muda....

mereka tidak lain adalah Guan Ning dan Ling Ying. Kalimat yang kacau, arti yang sulit ditebak, dalam pikiran mereka teranyam menjadi sebuah ikatan yang teratur. Sesudah lama Guan Ning baru menghembus nafas dan berkata, "Kenapa kereta Shen San Niang sampai sekarang belum terlihat? Apakah dia sudah salah jalan?"

"Tidak mungkin dia bisa salah jalan!" sanggah Ling Ying.

"Apakah kaupun tidak tahu jalan menuju Miao Feng Shan?" tanya Guan Ning.

Ling Ying mengangguk.

"Kalau begitu kaupun tidak tahu di mana tabib sakt itu tinggal?" tanya Guan Ning.

Ling Ying mengangguk lagi.

"Tapi kau yang memberitahu tempat tinggal tabib sakti itu," kata Guan Ning.

"Aku hanya tahu kalau dia tinggal di sekitar  Miao Feng Shan, tapi untuk persisnya aku tidak tahu," jawab Ling Ying sambil tertawa.

"Aku tidak pernah mengatakan kalau tabib sakti itu tinggal persis di mana bukan?" Mata terlihat seperti air, nafasnya terasa seperti bunga.

Membuat Guan Ning hanya bisa terpaku melihatnya, walaupun dia merasa kesal tapi dia tidak bermaksud memarahi Ling Ying. Kereta berjalan dengan pelan, tiba-tiba di depan mereka tampak seekor kuda berlari cepat datang ke arah mereka. Guan Ning berpikir, "Lebih baik aku bertanya kepada orang itu jalan menuju Miao Feng Shan."

Guan Ning masih terlihat ragu, tapi kuda itu berlari secepat kilat ke arah mereka. Guan Ning merasa aneh.

"Apakah orang itu datang untuk mencariku?"

Orang ini berbaju biru muda, badannya kurus kecil tapi terlihat sangat lincah, teknik menunggang kudanya sangat tinggi tapi wajahnya kekuningan seperti baru sembuh dari sakit berat. Begitu kuda itu sampai di depan Guan Ning. Dia bertanya, "Apakah Tuan datang bersama nyonya?" Suaranya terdengar serak, walaupun berteriak tetapi nadanya sangat rendah.

Guan Ning menjawab, "Benar."

Orang yang di atas kuda itu seperti tertawa kepadanya. Dia berkata, "Untung aku bertemu dengan Tuan di sini, kalau tidak kami akan berputar-putar terus mencari Tuan." Kemudian dia mengangkat  pecutnya, gerakannya sangat lincah, giginya yang putih terlihat dari mulutnya yang bersih seperti giok.

"Kawan, apakah Anda adalah orang yang diperintahkan oleh Shen San Niang untuk mencari kami?" tanya Guan Ning.

"Benar, Nyonya Shen takut kalau kalian berdua tidak tahu jalan maka beliau menyuruhku menunggu kalian."

"Kalau begitu Kakak - pasti datang dari jauh untuk mencari kami. ”

"Namaku adalah Zhang Pin. Guruku di dunia persilatan terkenal dengan 'pengobatan' nya. Rumah kami ada di sana. Nyonya Shen sudah lama menunggu di sana," jelas pemuda itu.

Kereta sudah berjalan sejauh 30-40 meter. Guan Ning baru tahu kalau tempat tinggal tabib itu bukan berada di jalan besar. Zhang Pin berjalan di depan lalu berbelok ke kiri. Di persimpangan jalan, dia berjalan lagi sejauh puluhan meter kemudian berbelok lagi, belok, naik, turun, Zhang Pin merasa tidak enak berkata, "Jalan di pegunungan sangat sulit ditempuh. Kalau kalian merasa kereta kalian terlalu bergoyang, kalian bisa menjalankan kereta dengan perlahan."

"Tidak apa-apa!" Guan Ning menjawab.

"Orang-orang dunia persilatan tahu kalau gurumu tinggal di tempat yang sangat terpencil, di dalam benakku sudah terbayang sulitnya perjalanan ini,” kata Ling Ying.

(Oo-dwkz-lav-oO)