Legenda Kematian Bab 08 : Tamu aneh yang meminta nyawa

Bab 08 : Tamu aneh yang meminta nyawa

Di belakang Tai Hang Shuang Lao  terdengar tawa seseorang. Perempuan itu tertawa dan berkata, "Tidak disangka anak ini mempunyai ilmu sebagus ini, membuat Tai Hang Shuang Lao tidak bisa mencengkram, ini benar- benar bagus."

Karena Guan Ning sudah mengeluarkan tenaga besar, sekarang dia merasa darah di dalam tubuhnya terus bergejolak. Dia beristirahat sebentar, setelah itu baru membuka matanya, terlihat wajah kedua pak tua itu sangat marah. Tapi perempuan itu tertawa sambil lewat dari sisi pak tua itu dia melihat Guan Ning lalu berkata, "Hei! Anak muda, mengapa kau membuat kedua orang ini menyerangmu?"

Dia bertanya kepada Guan Ning, tapi sebenarnya menertawakan Tai Hang Shuang Lao, dengan kedudukan seperti Tai Hang Shuang Lao tidak ada alasan mereka untuk bisa menyerang pemuda lemah ini, jika kabar ini tersebar ke dunia persilatan, muka mereka akan ditaruh di mana.

Guan Ning sangat pintar, dia mengerti apa maksud perkataan perempuan itu, diam-diam dia merasa sangat berterima kasih kepadanya. Tadi dia tidak suka dengan kekejamannya, sekarang perasaan itu sudah berkurang. Betul saja, Tai Hang Shuang Lao benar- benar merasa marah, sorot mata mereka menjadi tajam seperti pisau pada saat melihat perempuan ini tetapi perempuan itu hanya tertawa dan berkata lagi kepada Guari Ning, "Mengapa kau tidak bicara sama sekali? Aku tahu kau sudah bersalah kepada kedua pak tua ini! Anak  muda, mengapa kau begitu kasar? Cepat minta maaf kepada kedua orang tua ini!"

Wajah Tai Hang Shuang Lao tampak bertambah pucat. Api yang terlihat di mata mereka seakan- akan siap keluar dari tempatnya. Guan Ning terkejut, "Mengapa kedua pak tua ini seperti membenci perempuan ini? Mengapa mereka tidak menjawab dan juga tidak berani menyerang perempuan ini?"

Terlihat kedua pak tua itu dengan sorot mata benci melihat perempuan ini. Akhirnya mereka berkata, "Kami sudah tua sedangkan kau masih muda, jika kau berbuat seperti ini, pada saat pelindungmu roboh, kau. apakah kau tidak takut

kalau orang dunia persilatan  akan membunuhmu?"

Karena marah perkataan pak tua itu tidak begitu lancar, perempuan ini segera terdiam dan tawanya seperti ditarik kembali, dari sudut matanya terlihat hawa membunuh.

Dengan pelan perempuan itu berkata. "Aku lihat kau sudah tidak muda, maka aku menyebutmu dengan pak tua, seharusnya  kau tahu diri, apa itu yang disebut pelindung, apakah aku Shen San Niang harus terus mengandalkan dia?"

Wajah Tai Hang Shuang Lao terlihat lebih marah lagi, dari pantulan cahaya lilin yang dipegang pelayan itu, terlihat kedua wajah pak tua itu  sangat pucat. Kemudian pak tua yang bernama Le Shan berlari keluar, dalam sekilas dia sudah menghilang di dalam kegelapan yang tanahnya dipenuhi dengan salju. Perempuan itu berbalik dan melihat Guan Ning lalu berkata, "Anak muda, jangan terus berdiri di bawah salju."

Suaranya penuh dengan kelembutan tidak ada seorangpun yang menyangka kalau perempuan itu mempunyai kemampuan membuat Tai Hang Shuang Lao pergi dari sini.

Wajah Guan Ning menjadi merah. Dia maju sedikit dan berkata, "Terima kasih karena Nyonya sudah membantuku."

Sekarang baru terlihat dipergelangan tangannya ternyata ada bekas telapak tangan berwarna ungu. Bekas itu belum menghilang sampai sekarang. Guan Ning berpikir, "Tenaga telapak Pak Tua Le Shui benar-benar hebat."

Guan Ning tidak tahu jika dia tidak berlatih tenaga seperti yang diajarkan dalam saputangan, mungkin sekarang pergelangannya telah patah. Perempuan itu seperti tidak mendengar kata- kata Guan Ning pada saat mengucapkan terima kasih. Dia berkata sendiri, "Suasananya benar- benar membuat orang kesal."

Dia menolehkan kepalanya dan berkata, "Anak Hong, apakah kau tahu dari sini ke kota Bei Jing harus berapa jauh lagi? Apakah besok kita bisa sampai di sana? Kalau tidak bisa, kita benar-benar akan terlambat."

Kemudian dia mengeluarkan telapak kanannya untuk dilihat. Terlihat tangannya kecil dan terpasang sebuah cincin emas. Cincin itu berbentuk manusia karena sinar lampu redup, maka Guan Ning tidak bisa melihat dengan jelas. Guan Ning ingin bertanya kepada perempuan itu, tapi tiba-tiba terdengar ada suara dingin yang berkata, "Walaupun hari ini nyonya bisa sampai ke sana, tapi tetap terlambat."

Suaranya dingin dan tidak berperasaan. Nada bicaranya seperti mengejek, wajah perempuan itu berubah, mata yang tadinya terlihat ramah dan lembut tiba-tiba berubah menjadi dingin  dan tajam, dengan dingin diapun bertanya, "Apa yang kau maksudkan?"

Wajah Shou E (Shou=kurus, E=semacam sebutan) Tan Qing terlihat sinis. Dia membereskan kumisnya sambil melihat salju yang masih terus turun, "Walaupun Nyonya berangkat hari ini, aku sangsi—heehhl" Guan Ning sudah berada di luar, setelah mendengar kata-kata mereka, hatinya tergerak. Tapi karena dia berjalan semakin menjauh dari tempat itu, kata-kata mereka berikutnya tidak terdengar jelas.

Guan Ning merasa sangat kacau, malam ini semua orang yang ditemuinya di penginapan itu mempunyai identitas yang sangat misterius. Semua ini tidak ada hubungan dengannya, hanya saja hubungan antara kedua orang pak tua itu dengan Wu Bu Yun membuatnya merasa aneh. Mengapa Wu Bu Yun pergi tanpa pamit? Dan mengapa dia pergi begitu tergesa-gesa, benar-benar membuat Guan Ning bingung.

Begitu dia melewati kamar sepanjang penginapan, ternyata kamar-kamar itu tidak berpenghuni. Dia ingin tertawa, perampok seperti Tie Jin Gang benar-benar bernasib buruk. Pilih punya pilih, sasarannya ternyata pesilat-pesilat tangguh.

Di pekarangan depan, keretanya dan kereta Wu Bu Yun masih ada di sana. Kedua kudanya sudah seharian berlari, ditambah lagi sekarang sudah malam dan udara terasa dingin. Tapi  kuda- kudanya masih tampak sangat bersemangat, sama sekali tidak terlihat lelah. Dibandingkan dengan kuda-kuda lain jelas terlihat berbeda. Guan Ning adalah anak dari orang kaya, kali ini dia berkelana pergi ke tempat jauh, pasti dia akan memilih kuda yang bagus, tapi kuda milik Wu Bu Yun  juga bukan kuda biasa.

Malam semakin larut, angin dan salju sudah berhenti. Guan Ning membereskan letak bajunya, dengan langkah besar dia berjalan ke arah keretanya. Tiba-tiba terdengar suara rintihan.

Guan Ning terkejut, segera dia berlari ke arah keretanya untuk melihat—ternyata pintu kereta kuda Guan Ning setengah terbuka. Di dekat pintu terlihat ada seorang laki-laki tegap terbaring di bawah, di sisi laki-laki itu terlihat ada pelayan yang membuka pintu untuk mereka tadi, mereka terbaring di sana, mereka terus merintih.

Guan Ning sangat terkejut, dia melihat dengan bantuan sinar bulan, Laki-laki yang mengenakan baju putih yang terbuat dari kulit kambing sudah dipenuhi dengan darah. Orang yang tadi menyamar sebagai pelayan, punggungnya penuh dengan darah, di sisi tempat mereka berbaring ada tulisan yang terukir dengan pedang.

"Berbuat ceroboh, harus dihukum!"

Salju yang baru turun menutupi ukiran huruf tersebut. Guan Ning melihat huruf yang tertulis di bawah, dia merasa malu dan menyesal, dia hanya bisa bengong sambil berdiri.

Guan Ning tahu kalau kedua orang itu pada waktu dia dan Wu Bu Yun masuk ke ruangan itu, diam-diam mereka keluar dan melihat isi kereta, mereka ingin tahu barang apa yang dibawa Guan Ning, begitu mereka melihat hanya ada seorang pasien yang sedang terluka pasti mereka sangat kecewa, mungkin mereka tadinya berniat membunuh orang yang ada di dalam kereta. Waktu itu tentu ada seseorang di belakang  mereka, karena mereka terluka di bagian punggung, membuktikan bahwa mereka dilukai dari belakang.

Orang yang diam-diam telah menolong Gong Sun Zuo Zu dan pelajar berbaju putih ini pasti tidak suka dengan kecerobohan Guan Ning dan Wu Bu Yun, karenanya tulisan yang terukir di tanah dipenuhi dengan salju, memberi peringatan kepada mereka.

"Siapakah orang itu?"

Guan Ning berdiri dengan terpaku di bawah tiupan angin dingin. Diam-diam dia bertanya pada dirinya sendiri. Dia teringat 3 hari yang lalu di perpustakaannya, tiba-tiba melayang dua pedang satu golok ke dalam perpustakaan, dan kemarin pagi di atas meja ada kiriman telinga manusia yang terbungkus kertas. Diam- diam dia berpikir, "Semua tentu dilakukan oleh satu orang, dia melindungiku, tapi mengapa tidak mau bertemu muka denganku?"

Guan Ning terus berpikir, tidak terpikir olehnya siapa kenalan yang mempunyai ilmu silat tinggi dan terus berada di belakangnya, dan orang itu selalu melakukan hal-hal misterius. "Ling Ying—" Dia berkata sendiri, "Apakah ini adalah perbuatan Ling Ying? Kau.... kau....

mengapa kau tidak mau bertemu denganku?" Kuda terlonjak kaget lalu meringkik.

Segera Guan Ning tersadar, dengan cepat dia membuka pintu kereta. Pelajar berbaju putih itu masih tertidur tidak sadarkan diri. Gong Sun Zuo Zu pun masih tertidur nyenyak. Guan Ning merasa pesilat tangguh yang sedang terluka parah ini masih bisa tertidur, mereka benar- benar bernasib baik.

Dia tidak tahu bahwa Gong Sun Zuo Zu bisa tertidur lelap karena sudah ditotok oleh Wu Bu Yun pada nadi tidurnya.

Guan Ning melihat kedua pesilat tangguh itu dalam keadaan aman dan tidak terganggu,  baru dia berani menarik nafas lega. Tiba-tiba dia merasa bumi dan langit begitu sepi. Suara ringkikan kuda dan suara rintihan sudah berhenti, kecuali suara angin, tidak terdengar suara lainnya.

Malam musim dingin begitu dingin dan malam begitu sepi, tiba-tiba dia merasa rasa sepi adalah suatu hal yang menakutkan.

Sekelilingnya terasa begitu sepi, sewaktu menuntun kereta kedua, tampak bayangan seseorang berwarna hijau terbang dengan lincah dan duduk ke depan kereta. Kemudian bayangan kedua berlari ke arahnya. Bayangan kedua datang lebih cepat dari bayangan pertama.

Guan Ning masih bengong karena takut melihat bayangan pertama, telinganya hanya mendengar suara ring yang berbunyi. Kereta berhenti di halaman dan keluar dari penginapan. Terdengar suara manja setengah berteriak, "Aku pinjam keretamu sebentar. ”

Kata-kata berikutnya tertutup oleh suara ringkikan kuda dan suara roda yang berderit.

Perubahan tiba-tiba dari awal sampai akhir terjadi begitu cepat.

Guan Ning yang berada dalam keadaan terkejut tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia merasa agak tenang, baru dia berteriak, "Jangan pergi!"

Begitu dia keluar dari pintu penginapan, ternyata kereta sudah menjauh, hanya terlihat bayangan kereta yang samar-samar, sekarang dia belum bisa memikirkan apa-apa. Dia tahu orang yang membawa kereta adalah perempuan itu dan pelayannya, jangankan membawa satu kereta, 10 kereta dibawapun Guan Ning tidak akan sakit hati.

Tapi—dia teringat pasien yang ada di dalam kereta, dia mulai merasa semua berbahaya, karena itu dia merasa kakinya mulai lemas, jika seseorang pernah merasakan hantaman yang tiba-tiba terjadi, pasti tahu bagaimana perasaan yang dialami Guan Ning. Karena tidak bisa mengungkapkan ataupun melukiskannya.

Bumi dan langit berubah.

Dengan cepat Guan Ning berlari ke kereta satu lagi. Dia membuka pintu, pelajar berbaju putih tampak dengan tenang tertidur dan ditutupi oleh selimut mewah. Guan Ning menarik nafas panjang. Tapi....

Nafasnya belum stabil, nafasnya seperti membeku.

Karena dia teringat kepada Gong Sun Zuo Zu yang sedang terluka parah, dia dibawa ke sini dengan tujuan mencari tabib dan mengobati lukanya.

Segera dia berlari ke depan tapi bayangan kuda dan kereta sudah tidak terlihat.

Malam begitu gelap, angin terasa begitu dingin, suasana gelap seperti batu yang terus menimpa kepalanya. Guan Ning sudah tidak kuat menahan hantaman ini. Badannya oleng, dengan lemas dia menyandar ke pintu kereta. Malam menghilang, anginpun menghilang. Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Bumi dan langit seperti kosong.

Apa yang terjadi selanjutnya, dia tidak berani memikirkannya lagi juga tidak bisa menggantikan apa yang telah berlalu, dia mengepal tangannya dan memukul dadanya, dia merasa sangat marah, marah dan marah, mengapa dia bisa berbuat begitu bodoh? Dia tidak tahu mengapa kedua kereta itu dikeluarkan, kalau saja  dia menggendong Gong Sun Zuo Zu dan memasukkannya ke dalam kereta yang sama dengan pelajar berbaju putih, pasti tidak akan terjadi apa-apa?

Kedua kereta dikeluarkan, apakah mungkin dia bisa membawa kedua kereta itu berbarengan?

Dia memukul lagi dadanya.

Sewaktu dia sedang merasa menyesal dan marah kepada dirinya sendiri, dari dalam kegelapan muncul bayangan seseorang. Dia sedang tertawa dingin kepadanya, tawanya terdengar oleh Guan Ning. Guan Ning mencari- cari sumber suara itu, terlihat Shou E Tan Qing berada di sisinya.

Walaupun Guan Ning sudah melihat ada bayangan orang tapi hatinya terasa kosong. Shou E Tan Qing dengan pandangan aneh melihatnya. Pesilat pedang yang dari Zhong Nan itu tahu bahwa kakak-kakak seperguruannya yaitu Wu Yi Du Xing terbunuh di Wisma Si Ming. Maka diapun segera berangkat ke utara, dia pergi ke kota Bei Jing untuk mengunjungi pemuda kaya yang membawa pulang pembunuh itu. Tapi dia tidak tahu bahwa pemuda yang berada di depannya adalah orang yang dicarinya selama ini.

Tidak sengaja dia bertemu dengan musuh yang beberapa tahun lalu hampir membuatnya mati di Huang He karena dia tidak bisa berenang dan dia membalaskan dendamnya yang sudah lama tersimpan. Dengan segala macam perkataan sinis dia berhasil membuat perempuan itu pergi walaupun masih turun salju. Dalam waktu satu malam dia berhasil melakukan perbuatan yang dianggapnya menyenangkan. Karena itu  dia merasa hatinya sangat gembira, dia ingin mencari seseorang untuk berbagi kesenangannya.

Dia berhenti di depan Guan Ning dan berkata, "Orang hidup di dunia hanya beberapa tahun, sewaktu kita lahir kita tidak membawa apa-apa, matipun tidak membawa apa-apa. Kau hanya kehilangan satu kereta kuda, tidak perlu sedih sampai seperti itu."

Dia melihat pemuda ini masih terus melihatnya, seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya tadi. Dia mengerutkan dahi dan berkata, "Anak muda, apakah kau mendengar kata-kataku tadi?"

Guan Ning menundukkan kepala dan berkata dengan suara kecil, "Sekarang aku harus bagaimana?" Dia benar-benar bingung. Dia ingat besok dia berjanji dengan Wu Bu Yun. Saat itu bagaimana harus berkata pada Wu Bu Yun? Dia tidak mendengar Shou E Tan Qing bicara apa kepadanya. Guan Ning terus berkata pada dirinya sendiri, "Aku pantas mati, pantas mati. ”

Shou E Tang Qing mengerutkan dahi kemudian tertawa, dari balik baju bagian dada, dia mengeluarkan uang emas yang tadinya diambil oleh Tie Jin Gang lalu berkata, "Aku tidak menyangka kau masih begitu muda tapi begitu tidak bisa berpikir dengan luas, ambillah ini! Sekeping uang emas cukup untuk membeli sebuah kereta kuda lagi." Suara tawanya membuat Guan Ning sadar.

Dia melihat Shou E Tan Qing kemudian menggoyang kepalanya dan berkata, "Aku tidak kenal Tuan, mengapa Tuan memberiku uang?"

Shou E Tan Qing tertawa terbahak-bahak. "Memang  betul aku tidak kenal denganmu.  Aku

juga tidak mencuri kereta kudamu, tapi uang emas

ini kau ambil saja!" Dia tertawa lagi dan berkata, "Kalau bukan karena aku telah membuat Shen San Niang pergi dari sini, dia tidak akan pergi begitu terburu-buru. Apakah kau tahu semua karena apa?—ha, ha, ha! Dia takut dia akan terlambat tiba di sana dan orang itu akan terbunuh! Ha, ha, ha!— "

Dia sengaja menghembus nafas, "Salju turun begitu lebat, seorang perempuan bila berjalan di malam hari,, benar-benar akan sulit."

Guan Ning melihatnya. Guan Ning  tidak mengerti apa yang dibicarakan orang itu. Dia bertanya, "Apa yang tuan maksud? Aku sangat bodoh, tidak mengerti sama sekali, apalagi dengan uang emas ini, aku tidak boleh mengambilnya begitu saja. ”

Tawa Shou E Tan Qing berhenti. Dia memotong kata-kata Guan Ning dan berkata, "Ambil saja uang ini. Kereta kudamu dibawa pergi oleh perempuan itu, walau bagaimanapun tidak bisa diambil kembali."

Guan Ning dengan terkejut bertanya, "Apakah benar?"

Shou E Tan Qing mengangguk, "Mengapa aku harus berbohong kepadamu?" Dengan senang dia berkata, "Apakah kau tahu siapa perempuan yang telah mengambil keretamu?"

Guan Ning menggelengkan kepalanya. Shou E Tan Qing berkata lagi, "Perempuan itu dijuluki Jue Wang Fu Ren (Nyonya putus harapan), Shen San Niang! Di dunia persilatan ini jika bertemu dengan orang lain mungkin masih ada sedikit harapan. Tapi jika bertemu dengan dia—Hei, hei, hei! Semua harus mendengarkan aturannya, kita tidak mempunyai tenaga untuk melawannya karena itu orang- orang dunia persilatan memberi julukan Nyonya Putus Harapan kepadanya."

"Putus harapan....” Guan Ning berpikir dengan seksama. Dia gemetar, persoalan yang paling ditakuti adalah putus harapan.

Perempuan anggun dan lembut itu bernama Nyonya Putus Harapan. Namanya sangat dingin. Shou E Tan Qing tertawa lagi dan berkata, "Ilmu silat dan ilmu rahasia Shen San Niang lebih tinggi dari siapapun, dia sangat pintar dan lincah. Yang membuat orang terkejut adalah apa yang sedang kau pikirkan, dia hampir bisa menebak semuanya dengan tepat, apa yang ingin kau katakan dia bisa membantumu mengungkapkannya, dia mempunyai seorang pelindung kuat. Orang itu bernama Xi Men Yi Bai. Dia adalah orang yang paling sadis dan paling dingin di dunia persilatan."

Begitu mendengar nama Xi Men Yi Bai, Guan Ning terpaku, dia seperti pernah mendengar nama ini tapi juga seperti tidak mengenalnya. Shou  E Tan Qing berkata lagi, "Selama beberapa tahun tidak pernah ada seorangpun yang bisa mengambil keuntungan dari Jue Wang FU Ren. Hei, hei— dengan beberapa kata aku berhasil membuatnya terkejut hingga wajahnya pucat hingga dia tega merampok kereta milik orang lain."

Dia tertawa senang mengakhiri percakapannya dengan Guan Ning dan uang emas itupun diberikannya kepada Guan Ning. Sewaktu seseorang sedang merasa sangat gembira, dia pasti ingin membagikan kegembiraannya dengan orang lagin. Pak tua sombong itupun melakukan hal seperti itu.

Tapi dia tidak tahu hati Guan Ning tidak akan ikut senang karena diberi uang emas itu.

Pemuda ini merasa kesal dan menyesal, hatinya terasa sangat kacau, dia tampak berpikir sebentar, tiba-tiba dia teringat pada nama Xi Men Yi Bai, yang tidak lain adalah nama pelajar berbaju putih itu, kecuali namanya, Guan Ning tidak mengetahui identitasnya yang lain. Dia teringat setiap orang yang Guan Ning temui di dunia persilatan selalu mengatakan kalau Xi Men Yi Bai adalah orang yang dingin, kejam, juga tidak berperasaan.

Sekarang dia bisa menebak, kepergian Jue Wang Fu Ren Shen San Niang begitu tergesa- gesa ke Bei Jing karena dia mengkhawatirkan keselamatan Xi Men Yi Bai, dia juga takut Xi Men Yi Bai akan dicelakai oleh musuh-musuhnya. Guan Ning teringat pada 2 pedang 1 golok, dan dua telinga manusia.

"Apakah semua ini adalah perbuatan musuh yang ingin membunuh Xi Men Yi Bai?"

Dia bertanya pada dirinya, "Siapa yang mengusir mereka?"

Sekarang jika dengan kepala dingin dia bisa  tepat melihat masalah, dia akan disebut pintar oleh orang lain.

Tapi Guan Ning sekarang mempunyai masalah yang sangat banyak, walaupun dia orang pintar tapi sekarang dia bingung.

Dia melihat tangannya yang sedang memegang satu tail uang emas, entah sejak kapan Shou E Tan Qing memasukkan uang itu ke dalam tangannya, dia tidak tahu.

Sekarang dia tidak mendengar tawa seperti orang gila lagi, semua tampak sepi dan sunyi. Pesilat pedang Zhong Nan yang kurus itu entah sudah pergi ke mana.

Salju mulai turun. Pundak Guan Ning dipenuhi dengan salju yang baru saja turun. Tapi Guan Ning tidak berniat untuk membersihkannya, siapa yang bisa tahu bagaimana perasaan Guan Ning sekarang.

Shou E Ta Qing sudah terkenal selama puluhan tahun di dunia persilatan, dia hanya pernah gagal satu kali, kejadiannya adalah ketika di suatu tempat di dekat Huang He dan karena dia tidak bisa berenang, bertahun-tahun dia selalu teringat pada penghinaan ini, dia tidak pernah melupakannya walau hanya sehari.

Hari ini dia berhasil membalaskan dendamnya, apalagi dia juga telah menertawakan Nyonya Putus Harapan yang sedang sial, hatinya merasa gembira, setelah memberikan uang kepada Guan Ning, diapun langsung pergi.

Kota Wang Pin Gou walaupun letaknya dekat dengan kota Bei Jing, tapi tidak banyak orang yang lewat ke kota itu, karena itu kota ini tidak begitu makmur, apalagi sekarang sudah malam, di jalanan tidak tampak seorangpun, lampu sudah dipadamkan. Penginapan itu terletak di ujung jalan, Shou E Ta Qing keluar dari pintu utama dan terus berjalan keluar kota itu.

Di malam musim dingin, dijalan yang sepi, jika bukan karena dia sudah terbiasa berkelana di dunia persilatan dan tidak mempunyai ilmu silat tinggi, siapapun tidak akan ada yang berani berjalan sendiri di tempat terpencil seperti ini.

Diam-diam dia tertawa sendiri kemudian dengan langkah besar dia berjalan. Walaupun tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi kecepatan larinya bisa mengagetkan orang. Apalagi sekarang hatinya mulai merasa senang dan tenang, langkahnya seperti berjalan di atas awan.

Hanya dalam waktu sekejap dia sudah berjalan sejauh 1 kilometer lebih, tapi langkahnya semakin melambat, walaupun dia seorang pesilat tangguh, tapi berjalan di malam hari seperti itu bukan hal yang mudah.

"Aku berjalan begini tergesa-gesa, untuk apa aku berjalan seperti itu?"

Diam-diam dia menertawakan dirinya sendiri, karena itu langkahnya mulai melambat. Tiba-tiba dia melihat ada sebuah rumah di kejauhan setelah dia melihat kedua tangannya digerakkan, dia secepat kilat berlari ke arah rumah itu.

Setelah beberapa kali dia berjalan turun dan naik, dia sudah masuk ke dalam hutan, rumah itu tidak begitu besar tapi terlihat cukup mewah dan indah.

Shou E Ta Qing tertawa, dia berpikir, "Perkiraanku tidak meleset, ternyata sebuah kuil." Karena itu dia tidak berpikir panjang lagi dia segera meloncat masuk dari tembok yang sudah ambruk, dia juga mengeluarkan sebatang korek api dan kemudian terlihat cahaya redup.

Tapi....

Terlihat ada sedikit cahaya lain dari sudut dinding terdengar 2 suara orang yang mendatanginya, terdengar suara orang tua mengikuti suara langkah, dengan nada malas- malasan dia berkata, "Sudah jam 2 dini hari, mengapa langit tampak masih gelap, Heehh— malam musim dingin, langit terang selalu lama!"

(Oo-dwkz-lav-oO)

Guan Ning yang masih memegang uang dan terpaku melihat salju yang terus turun, tiba- tiba terdengar suara gembreng penjaga malam, mendengar suara itu dia merasa terkejut, dia ingin bersembunyi ke dalam ruangan tadi tapi dia sudah mendengar penjaga malam membentak, "Siapa? Mengapa malam-malam berdiri di tempat seperti ini?"

Guan Ning menghela nafas. Dia tahu dia akan menemui masalah lagi. Dia takut penjaga malam akan melihat ada 2 mayat di keretanya. Perlu diketahui bahwa Guan Ning lahir dari keluarga kaya, dia tidak berani melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Walaupun bukan dia yang membunuh kedua orang itu, tapi dia takut dia akan dicurigai. Perasannya memang berbeda dengan orang-orang dunia persilatan, jika Guan Ning adalah Tie Jin Gang, mungkin penjaga malam itu sudah dibunuhnya.

Begitu ada orang yang menyahut dan keluar, dia mengerutkan badannya dia mengenakan mantel tebal dan sudah usang, tangannya memegang lampion, dia adalah seorang penjaga malam yang sudah tua, dengan mata tuanya dia melihat Guan Ning lalu bertanya, "Anak muda, malam-malam begini kau sedang melakukan apa? Kau sudah berjanji dengan siapa? Heehh—kelakuan anak muda memang seperti kucing malam. Apakah kau sama seperti diriku takut tidak bisa hidup lama sehingga pada malam hari tidak berani tidur?"

Kata-kata orang tua itu terdengar hangat dan sikapnya tampak bersahabat, Guan Ning merasa ada orang yang begitu baik dan bersahabat kepada orang lain. Melihat dia yang bersikap seperti itu, Guan Ning menjadi tidak curiga pada orang tua itu. Dia tertawa seakan- akan berterimakasih, dia segera teringat sesuatu dan diapun bertanya, "Pak tua, ada seorang teman yang tiba-tiba mendapatkan penyakit, dia ingin pergi ke Miao Feng Shan untuk berobat. Apakah Anda tahu jalan mana yang harus ditempuh menuju Miao Feng Shan?"

Penjaga malam tua itu menyahut, "Oh!" Dia menyinari kereta dengan lampionnya, hati Guan Ning berdebar-debar, dia takut sinar lampion itu akan menyinari kedua mayat yang ada di bawah kereta.

Guan Ning tidak tahu kalau mata orang tua ini sudah tidak bisa melihat jauh lagi. Di malam hari yang begitu gelap, menyuruhnya melihat sejauh 2- 3 meter, ditambah dengan 2-3 lampion juga belum tentu dia bisa melihat ke dalam kereta kuda yang gelap.

Terlihat pak tua ini terus menyinari lampionnya ke dalam kandang kereta kuda kemudian dia berkata, "Apakah di dalam sana ada sebuah kereta kuda? Hehhh—Kudanya masih terpasang di kereta, ternyata malam- malam begini kau masih ingin pergi ke Miao Feng Shan. Miao Feng Shan sudah tidak jaUh dari sini, keluarlah dari kota ini lalu ambil jalan ke sebelah barat, kira-kira sejauh 1 kilometer dari sana kau harus berbalik ke utara. Sebelum pagi tiba kau pasti sudah sampai di Miao Feng Shan. Tapi. mengapa aku tidak pernah tahu

kalau di Miao Feng Shan ada seorang tabib?"

Kemudian gembreng itu dipukulnya lagi. Pak tua itu tampak menggelengkan kepala, dengan terseok- seok dia pergi dari sana. Sambil menggelengkan kepala dia mengeluh, "Masih muda tubuh pastinya lebih sehat dariku, meskipun malam dan gelap, dia masih berniat akan pergi ”

Guan Ning melihat bayangan pak tua yang pergi dari sana, dia melihat kehidupan pak tua yang begitu biasa, dia merasa kasihan. Tapi dia berpikir lagi, walaupun kehidupan pak tua itu sangat biasa tapi dia merasa senang dan mantap melangkahkan kakinya, dia tidak membenci orang-orang juga tidak merasa malu kepada Tuhan, karena dia merasa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

"Tapi, sekarang aku harus bagaimana?, dia menunduk dan berjalan ke halaman, dia berjalan ke arah keretanya, sekarang dia  lebih menginginkan kalau perempuan tadi yang membawa kereta ini, sekarang dia mulai merasa bersalah kepada orang-orang yang ada di dunia ini.

Dia naik ke atas kereta, pecut dibunyikan. Kuda meringkik, rodapun mulai berputar....

Kereta berjalan dengan cepat, dia keluar  dari kuil itu dan memasuki jalan yang tampak gelap, suara roda berputar memecah kesunyian malam.

Guan Ning menegakkan dadanya, menarik nafas panjang, angin dan salju berjatuhan menimpa wajahnya, rasa dingin yang menusuk mengembalikan pikirannya yang  sempat tenggelam, karena itu keretapun berjalan lebih kencang.

Dia terus memperhatikan jalanan di sana, tangan kirinya memegang tali kekang kuda, tangan kanan memegang pecut, dengan tangannya dia menahan terpaan salju yang terus turun, karena salju-salju itu menghalangi penglihatannya, malam begitu gelap ingin mengenali arah jalan adalah hal yang sulit. Tiba-tiba.... ada bayangan dengan tergesa- gesa keluar dari jalan itu, tangannya melambai, sepertinya dia ingin menghentikan kereta itu.

Kedua alis Guan Ning tampak bertaut sedikit ragu, keretanya berjalan melewati orang itu dia merasa ragu apakah dia berhenti atau meneruskan keretanya, akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan kereta, begitu kereta berhenti terdengar orang itu terus merintih.

Guan Ning membalikkan badannya untuk melihat, orang itu berusaha berjalan tapi akhirnya roboh, di dalam kegelapan Guan Ning sempat melihat bentuk orang itu. Dia benar- benar terkejut—orang itu terluka parah dan tak lain adalah pak tua kurus tadi, Shou E Tan Qing.

Dengan kaget Guan Ning segera turun dari kudanya, mereka bukan teman, tapi sifat Guan Ning memang seperti itu, begitu melihat ada orang yang terkena musibah, walaupun mereka tidak saling kenal, tapi dia pasti akan segera menolong orang itu. Apakah dia akan mengalami  bahaya atau tidak, Guan Ning tidak pernah mau berpikir jauh.

Shou E Tan Qing merintih kemudian dia berusaha mengangkat kepalanya, sekarang terlihat dengan jelas orang yang berdiri di hadapannya adalah pemuda yang terus bengong tadi. Guan Ning sudah memapah pak tua itu. Dengan cemas dia bertanya, "Tetua, Anda terluka! Dimana Anda terluka di mana?"

Shou E Tan Qing menghembus nafas panjang, dia bersandar di tubuh Guan Ning. Apa yang Guan Ning tanyakan, dia hanya menjawab dengan gelengan lemah, sampai sekarang Guan  Ning belum tahu tetua itu terluka karena apa?

Guan Ning terpaksa menggendongnya masuk ke dalam kereta dan meletakkannya di sisi Xi Men Yi Bai, jika mata Shou E Tan Qing masih bisa melihat dengan jernih dan otak masih bisa berpikir dengan jelas, dia pasti bisa mengenali wajah orang yang ada di sisinya, malah mungkin akan meloncat bangun.

Tapi sekarang dia merasa tubuhnya sudah lemas dan rasa itu terus menyerang ke arah jantungnya, nasib orang memang seperti itu, aneh dan kejam, nasib bisa membuatmu mencari orang yang ingin kau cari, tapi dia juga membuatmu bertemu dengan orang yang tidak ingin kau temui.

Dari luar kereta itu terlihat sangat biasa, tapi di dalam sangat bagus, empat sudut kereta terpasang lampu kecil, Karena Guan Ning merasa bingung maka lampu belum sempat dinyalakan.

Kali ini dia keluar rumah, bertekad akan berkelana di dunia persilatan, maka dia mempersiapkan segala keperluannya dengan sangat sempurna, sekarang dia mengeluarkan sebatang korek api, menyalakan keempat lampu kecil yang terletak di sudut kereta, kereta terlihat sangat terang.

Karena sinar terang membuat Shou E Tan Qing yang matanya masih terbuka sedikit langsung dipejamkan.

Guan Ning melihat baju orang tua ini masih rapi, tidak ada bekas darah, hanya saja wajahnya terlihat pucat, nafasnya terdengar lemah, hatinya bergejolak, "Apakah diapun sudah terkena racun?"

Dia melihat wajah pak tua ini seperti keram, kemudian wajahnya yang pucat berubah menjadi hijau, sinar lampu yang redup menyinari wajahnya yang terlihat begitu menakutkan. Hati Guan Ning menjadi dingin, terdengar pak tua itu berteriak kesakitan. Tiba-tiba dia menepuk dadanya kemudian mencengkram mantelnya. Kedua tangannya tampak melayang, terdengar suara CES, dia merobek mantel kulitnya menjadi 2 bagian.

Angin masuk melalui celah pintu kereta dan meniup kapas yang keluar dari mantel. Kulit rubah berwarna krem, di dadanya yang kurus terlihat ada 5 titik bekas darah yang tidak begitu jelas.

Guan Ning merasa kaget, dia melihat kelima titik noda darah yang tidak begitu jelas itu, muncul 5 titik jarum berwarna hitam, ujung jarum yang sangat tajam. Jarum sangat kecil, lebih kecil dari jarum sulam, tapi jarum sekecil itu bisa menembus mantel dan menancap di permukaan kulit. Benar- benar membuat Guan Ning tidak mengerti.

Guan Ning dengan bengong melihat kelima titik itu, dia teringat sewaktu di jembatan Si Ming, senjata rahasia yang dilihat pada saat menyerangnya, dia teringat pada kata-kata Pendeta Wu Dang berbaju biru, ".... menurut tebakan pendeta berbaju biru, pada saat di jembatan Si Ming ada senjata rahasia yang menyerangnya dan itu adalah senjata rahasia terkenal milik E Mei Bao Nang. Di dalam kantong milik E Mei Bao Nang terdapat 7 senjata rahasia yang paling ganas racunnya, dan salah satunya adalah Luo Hou Shen Zhen. ”

Guan Ning berteriak, "Apakah semua ini karena Luo Hou Shen Zhen?"

Tubuh Shou E Tan Qing bergetar, entah datang tenaga dari mana, tiba-tiba dia memberontak bangun dan dengan kaget berkata, "Benar aku adalah Shou E Tan Qing.... aku tidak menyangka  di dalam kuil ada 2 orang bersaudara itu. ”

Dia mengerutkan dahinya dan berkata, "Aneh, mdngapa 2 bersaudara itu bisa datang ke sini dan bersembunyi di dalam kuil. ”

Kata-katanya berhenti, sorot matanya mengeluarkan sedikit cahaya berkilau.

Guan Ning bertanya, "Di mana Tetua telah bertemu dengan mereka? Mengapa Tetua bisa terkena senjata rahasia mereka?" Karena Guan Ning selalu menganggap orang yang patut dicurigai dalam persitiwa di Wisma Si Ming adalah 2 bersaudara E Mei Bao Nang maka begitu mendengar nama mereka, dia terus bertanya.

Shou E Tan Qing berbaring lagi dan berkata, "Aku tidak tahu itu mereka, mungkin mereka juga tidak tahu kalau yang datang ke kuil itu adalah aku. ”

Ternyata....

Baru saja dia masuk melalui dinding yang ambruk itu dan menyalakan sebatang korek api. Di dalam kuil yang gelap terdengar ada yang tertawa dingin. Walaupun Shou E Tan Qing sudah lama berkelana di dunia persilatan, tapi begitu mendengar suara tawa itu dia bergidik karena kaget lalu berhenti melangkah.

Tawa itu berhenti. Tapi di dalam deru angin masih terdengar sisa tawa seram itu.

Pergelangan Shou E Tan Qing bergetar.  Korek api langsung dilemparnya, korek api jatuh melewati jendela kuil dan masuk ke dalam kuil itu.

Tubuhnya yang kurus ikut masuk ke dalam.

Tiba-tiba di dalam ruangan terdengar suara dingin seseorang yang berkata, "Teman, jangan khawatir, aku tidak akan mati."

Shou E Tan Qing masuk melalui jendela, dia mengumpulkan semua tenaga dalamnya. Waktu itu dari dalam kegelapan muncul benda tajam tapi lembut yang terbawa oleh suara angin. Shou E Tan Qing membentak, sebelah tangannya memegang kusen jendela, lalu dia mundur ke dekat jendela, gerak refleksnya sangat cepat.

Begitu kakinya menapak tanah, dia merasa dadanya dingin dan ada sesuatu yang lain, dia mundur lagi untuk mengambil nafas, ternyata dadanya mulai terasa kaku.

Dia membentak, "Aku tidak ada dendam denganmu, mengapa kau melukaiku dengan senjata rahasia?"

Karena marah dan tergesa-gesa, suaranya terdengar serak, dari dalam kegelapan terdengar ada yang berkata lagi, "Apa? Senjata  rahasia hingga melukaimu.... Aku ingin kau merasakan bagaimana dengan cara licik kau dilukai orang."

Shou E Tan Qing tahu ini merupakan sebuah kesalah-pahaman, dia merasa aneh mengapa orang yang membokongnya tidak mau menampakkan diri, maka dia keluar lagi melalui jendela, baru saja dia bergerak, dia langsung mundur karena sewaktu dia sedang mencoba mengambil nafas, dia merasa dadanya kaku, hanya dalam waktu sekejap rasa itu sudah menyebar ke seluruh badannya.

Sudah lama dia berkelana di dunia persilatan, senjata rahasia yang begitu ganas baru pertama kali dilihatnya, karena itu perasaannya menjadi dingin, dia takut orang itu akan terus mengikutinya dari belakang. Semenjak nama Shou E Tan Qing terkenal, ini adalah pertama kalinya dia kalah dengan begitu menyedihkan, sampai-sampai bayangan orang itu tidak bisa dilihatnya, bahkan dia tidak tahu apa alasan orang itu melepaskan senjata rahasia kepadanya.

Di tempat begitu gelap dia telah bertemu dengan musuh yang sosoknya seperti setan, dia terkena senjata rahasia yang belum pernah didengar dan dilihatnya, walaupun selama ini dia sangat sombong, tapi sekarang dia hanya merasa hatinya dingin, dia hanya bisa berharap sebelum racun itu menyebar, dia bisa mendapatkan cara untuk menyelamatkan dirinya.

Begitu sampai di sisi jalan, ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sudah tidak bisa dia kerahkan lagi.

Dengan terengah-engah dia mencoba duduk, dia marah juga kaget, dia ingin orang yang bersembunyi di dalam kuil keluar, supaya dia bisa melihat siapa orang yang telah melukainya dan menanyakan kepadanya secara langsung mengapa orang itu tanpa sebab menyerangnya dengan senjata rahasia, walaupun dia akan mati, tapi dia tidak akan mati penasaran.

Waktu itu Guan Ning sedang lewat di sana, karena mendengar ada suara kereta, timbul harapan hidup dalam hatinya, karena itu dengan sekuat tenaga dia berusaha meloncat keluar untuk menghentikan kereta, sekarang setelah melihat luka di dadanya, harapan hidupnya lebih besar lagi.

Perkumpulan Zhong Nan dan Si Zhuan  Tang Men tidak mempunyai dendam apapun dengannya, malah hubungan mereka cukup baik, karena itu dia yakin semua ini pasti telah terjadi kesalah- pahaman. "Jika dua bersaudara itu tahu bahwa aku adalah Shou E Tan Qing mungkin mereka akan memberikan obat penawarnya."

Karena itu dia menghembus nafas berusaha untuk duduk dan berkata, "Di sisi jalan sana ada sebuah kuil, harap Saudara bisa mengantarkanku ke sana—Maaf, aku merepotkan Saudara, ini benar-benar terpaksa kulakukan, harap Saudara bisa membantuku, kelak aku pasti akan membalas budi Saudara."

Demi bertahan hidup, pak tua yang sombong dan dingin ini menganggap pemuda yang asing yang ada di depannya sebagai saudara dan mengeluarkan kata-kata memohon.

Mata Guan Ning terus menatap pak tua ini, barusan dia masih terlihat begitu cerita, sekarang dia hanya seorang tua yang hampir mati,  hati Guan Ning benar-benar sedih.

Hari belum terang, tapi sebentar lagi akan terlihat terang. Perjanjiannya dengan Wu Bu Yun untuk bertemu di Miao Feng Shan mengharuskan dia segera pergi ke Mao Jia Lao Dian, tapi dia tidak tega menolak permintaan orang tua ini. Apalagi. dia sebenarnya ingin bertemu dengan E Mei Bao Nang, karena itu dia segera mengangguk setuju dan berkata, Tetua, Anda tenang saja, aku bukan orang yang tidak akan menolong Tetua. Tapi—apakah E Mei Bao Nang bila telah melukai orang masih akan tetap berada di kuil itu?"

Shou E Tan Qing diam ,tidak bisa menjawab. Si Zhuan Tang Men sangat terkenal di dunia persilatan dengan andalan senjata rahasia mereka yang khusus, kecuali obat penawar yang diwariskan secara turun menurun tidak ada orang yang bisa menawarkan racun mereka, dalam waktu 1 jam racun itu akan menyebar ke seluruh tubuh dan akan segera mati.

Jika Shou E Tan Qing tidak bertemu dengan 2 bersaudara Tang di sana maka dia akan mati.

Dia diam kemudian menghembus nafas lalu berkata lagi, "Kita akan berusaha, apakah ini akan berhasi atau tidak, semua tergantung  pada  Tuhan. aku harus mengadu nasib."

Guan Ning dengan teliti memeriksa keadaan Shou E Tan Qing. Dia melihat ada sebuah jalan kecil untuk memasuki hutan itu dan j alam ini penuh dengan rumput liar.

Karena itu dengan pelan Guan Ning membawa keretanya, tidak lama terlihat ada sebuah rumah di depan. Diam-diam dia mengulangi kata-kata yang diajarkan Shou E Tan Qing. Kemudian dengan langkah besar dia berjalan menuju pintu yang terlihat akan runtuh itu. Dia berkata, "Tadi Zhong Nan Shou E Tan Qing tidak tahu bahwa kedua pendekar ada di sini karena itu dia langsung masuk dan langsung terkena Luo Hou Shen Zhen yang dmiliki kedua pendekar. Harap Anda bisa mengingat kembali hubungan kalian. Berikanlah obat penawarnya untuk menyelamatkan nyawa Tetua Shou E Tan Qing."

Karena dia sudah mempelajari tenaga dalam dan sudah berada pada tingkat lumayan maka suaranya bisa menembus hingga ke tempat jauh.

Tapi—di dalam kuil yang gelap itu tidak terdengar suara apapun. Guan Ning mengerutkan dahi. Dia berteriak, "Aku adalah teman Zhong Nan Shou E Tan Qing, harap kalian bisa memenuhi permintaanku. Sekarang Pendekar Tan terluka sangat parah, jika terpaksa, aku akan masuk."

Dengan langkah besar dia masuk ke dalam kuil itu, dia merasakan ada daun-daun dan ranting- ranting yang terinjak olehnya dan hanya terdengar suara salju yang turun menerpa atap kuil, setiap langkahnya membawa suara.

Suara injakan daun dan suara angin bercampur menjadi satu, membuat perasaan siapapun akan menjadi takut, tapi Guan Ning tetap menegakkan dadanya dan terus berjalan masuk, di tangga masuk ke sebuah ruangan, dia menyalakan korek api yang dibawanya lalu terlihat tirai dan papan nama jatuh tidak teratur dan keadaan di sana sangat kotor, usang, dan tidak terurus. Ada 2 buah patung Budha yang catnya sudah terkelupas.

Guan Ning merasa putus asa dan tanpa terasa dia menghembuskan nafas, ternyata Tang bersaudara telah pergi dari sini, diapun ingin segera meninggalkan tempat ini, dia siap membalikkan badan ingin pergi dari sana. Tiba- tiba....

Dari dalam ruangan terdengar suara seram dan dingin yang membentaknya, "Tetap berdiri di sana!"

Guaii Ning terkejut, dia merasa ada hawa dingin menusuk hingga ke tulang-tulang di seluruh tubuhnya, hanya dalam waktu singkat rasa itu sudah sampai di punggungnya, sekali lagi dia menolehkan kepala untuk melihat, dari balik tirai usang muncul seseorang dengan perlahan.

Orang itu sangat tinggi tapi kurus, badannya seperti tulang belulang. Rambutnya berantakan tapi dia memakai baju berwarna ungu  yang mewah. Pinggang terikat tali pinggang sutra, tapi di pinggang sebelah kiri terlihat ada bekas darah. Karena bajunya berwarna ungu jika tidak memperhatikan dengan seksama maka tidak akan terlihat jelas.

Di sini Guan Ning telah bertemu dengan orang yang terlihat begitu misterius. Jika dalam waktu setengah tahun dia tidak sering bertemu dengan berbagai macam orang yang selalu membuatnya kaget, mungkin sekarang ini dia akan lebih terkejut sehingga tidak bisa berjalan.

Guan Ning berdiri tidak bisa bergerak, tampak tangan orang itu memegang tirai usang, sedang tangan yang lainnya memegang pinggangnya yang terluka, dengan perlahan dia keluar dari sana, langkahnya begitu berat. Wajahnya pucat seputih kertas, hanya terlihat sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilau, tapi disinari oleh lampu redup membuat siapapun yang melihatnya akan merasa takut.

JDia melihat Guan Ning dari atas ke bawah. Dari kepala sampai ujung kaki, akhirnya pandangan mereka bertemu. Hati Guan Ning segera bergetar, karena dia seperti pernah melihat orang itu. Tapi setelah dilihat lebih teliti lagi sepertinya dia tidak kenal. Dia mencoba untuk mengingatnya, akhirnya terpikir juga olehnya, ternyata orang itu adalah mirip orang yang tiba-tiba keluar dari pondok yang ada di Wisma Si Ming dan orang yang telah membunuh Nang Er, dia sangat mirip dengan  orang aneh itu.

Dia masih terus berpikir. Orang aneh ini telah melihatnya dan berkata, "Masuklah!"

Guan Ning mengikuti perintahnya, terlihat sorot mata orang itu mengikuti gerakan Guan Ning, sorot matanya seperti mengandung hawa dingin yang membuat orang ketakutan, membuat orang tidak berani melihatnya secara langsung. Guan Ning sedang bertanya-tanya dalam hati, orang aneh ini pelan-pelan duduk, tirai usang dan tipis mengikuti gerakan tubuhnya menjadi tersobek dan terjatuh ke bawah.

Kemudian Guan Ning melihat di balik tirai di dekat meja sembahyang terlihat pak tua yang mengenakan baju berwarna ungu dan dia sedang duduk bersila. Tinggi badan mereka tidak jelas tapi orang yang duduk di bawah melihat dia lebih tinggi dari orang biasa, kira-kira lebih satu  kepala. Berarti dia adalah orang yang sangat tinggi. Segera Guan Ning menebak kalau mereka adalah E Mei Bao Nang.

«Tapi mengapa pak tua yang pertama muncul, pinggangnya kosong tidak membawa apapun?"

Guan Ning teringat pada perkataan Kun Lun Huang Guan, Pendeta Qi Tian, segera dia terpikir, "Dua bersaudara E Mei Bao Nang pasti pernah pergi ke Wisma Si Ming, barang mereka hilang dan orang-orang yang datang ke pesta di Wisma Si Ming kehilangan nyawa, hanya mereka yang masih hidup, jika mereka bukan pembunuhnya, apa yang harus dijelaskan?"

Guan Ning terus berpikir, "Orang aneh yang tiba-tiba keluar dari pondol itu sekilas memang mirip dengan kedua orang ini. Tapi setelah melihat mereka dengan lebih teliti mereka tidak sama! Kalau begitu siapakah orang aneh itu?"

Kedua pertanyaan itu terus memutar dalam otak Guan Ning, tapi dia tidak bisa mendapatkan jawabannya. Orang tua yang sedang duduk bersila itu berkata, "Shou E Tan Qing, apakah benar dia telah terkena Luo Hou Shen Zhen dan sedang menunggu di luar?"

Guan Ning menjawab dengan serius, "Betul!"

Pak tua ini seperti menarik nafas kemudian dia membalikkan kepalanya untuk melihat saudaranya. Pelan-pelan dia berkata, "Lao Da, sekarang kita harus bagaimana? Shou E Tan Qing teman kita, kali ini kita sudah salah sasaran, sehingga membuatnya terluka. Apakah kita harus mengobatinya?"

Walaupun suaranya perlahan tapi tidak terputus. Guan Ning melihat dia sedang terluka parah tapi masih bisa bicara begitu lancar. Dia terkejut. Nama E Mei Bao Nang pantas disebut sebagai orang terkenal di dunia persilatan.

Pak tua yang dipanggil Lao Da itu terlihat lukanya lebih berat. Dia memejamkan mata. Lalu berkata, "Luka oleh senjata marga Tang bisa kita obati, sekarang kita terluka tapi siapa yang bisa mengobati kita?"

Suaranya benar-benar dingin, dia lebih kejam.

Guan Ning berpikir, "Pantas 2 bersaudara ini disebut Qi Hai Shuang Sha oleh kalangan persilatan jika dilihat lagi senjata rahasia mereka penuh dengan racun. Sifat merekapun seperti racun, dengan sifat mereka seperti itu, peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming hanya mereka yang tega melakukannya."

Karena itu Guan Ning merasa membenci mereka tapi Lao Da Tang Qi, E Mei Bao Nang  menarik nafas panjang dan berkata dengan perlahan, "Marga Tan tanpa sebab telah terkena jarum beracun kita. Jika dia mati, aku merasa tidak enak." Matanya terbuka secepat petir dan melihat kepada Guan Ning dan berkata, "Bawa dia kemari!"

Guan Ning diam-diam menghembuskan nafas supaya menetralkan hatinya yang merasa aneh tapi dia juga berpikir, "Kenapa kedua orang itu tiba-tiba bisa memiliki perasaan?"

Tapi karena sejak awal dia memang tidak menyukai kedua orang itu maka diapun tidak banyak berbuat sopan santun, segera dia mengangguk dan tanpa bicara Guan Ning segera berjalan keluar.

Dua bersaudara E Mei Bao Nang dengan bengong melihat Guan Ning yang menghilang sambil membawa lampu, ruangan itu kembali gelap. Lao Er Tang Gu tiba-tiba berkata, "Pemuda ini bertekad kuat, sewaktu dia melihat kita yang tidak mau mengobati Shou E Tan Qing, hatinya marah, tapi—hai! Dia tidak tahu kalau luka kita lebih parah dan kita tidak tahu mengapa kita bisa terluka."

Jawab Lao Da Tang Qi dengan dingin, "Itu yang disebut dengan karma. Mungkin tangan kita berlumuran darah dan selama ini kita tidak pernah terkena karma, hari ini bisa tiba-tiba muncul dua orang yang ingin membunuh kita— Lao Er, bagaimana perasaanmu sekarang? Aku— aku tahu aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi. Kalau kau masih bisa berjalan, kau pergilah sendiri!"

Tang Gu merasa marah dan berkata, "Lao Da, apa yang kau bicarakan? Kita adalah saudara, matipun harus bersama, apalagi kita hanya terluka ringan, belum tentu kita akan mati."

Dua bersaudara ini sedang membicarakan hidup dan mati, walaupun nada bicara mereka dingin tapi mereka tidak terlihat seperti orang  yang sedang terluka dan hampir mati.

Tang Gu menarik nafas panjang, dia memejamkan matanya lagi, walaupun mereka bersaudara tapi pada saat mengobrol, nada bicara merekapun masih terdengar sangat dingin, padahal hubungan mereka memang sangat erat.

Tang Gu mengatakan kalau mereka tidak akan mati, sebenarnya dia sadar bahwa diapun  tidak ada harapan lagi, mereka tetap mengobrol. Luka dua bersaudara ini tampak lukanya terkena tusukan pedang di pinggang, sedangkan yang satunya terluka di sisi perut. Kedua tempat ini adalah tempat fatal, jika bukan karena 2 bersaudara ini memiliki ilmu silat tinggi mungkin sejak tadi mereka sudah mati. Guan Ning memapah Shou E Tan Qing memasuki kuil, sebelah tangannya membawa lampu, yang lainnya memegang Shou E Tan Qing, dengan cepat mereka masuk ke dalam kuil. Tang Gu mendengar mereka masuk. Matanya tetap tidak dibuka. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan dilemparkan ke arah Guan Ning lalu berkata, "Separuh obat ini ditelan, dan separuhnya ditempel pada lukanya."

Botol kecil itu terbang ke arahnya. Guan Ning menyambutnya, pergelangan tangannya terasa bergetar karena tenaga dalam Tang Gu masih besar. Guan Ning merasa aneh, dia sudah terluka begitu parah, tapi masih mempunyai tenaga begitu besar.

Sambil berpikir dia meletakkan lampu di atas meja sembahyang yang ada di dekat Tang Gu. Shou E Tan Qing hampir tidak sadarkan diri, tapi dia masih berusaha bicara, "Aku Tan Qing bila masih bisa hidup tidak akan melupakan budi kalian. ”

Tang Gu tertawa dingin dan berkata, "Kau mau ingat atau melupakannya, itu tidak menjadi masalah bagi kami, karena kami juga tidak akan hidup lebih lama lagi, keculai kalau sekarang kami bisa mendapatkan obat dari Tai Hang Ci Xue, yang bernama Xu Ming Shen Gao (Obat sakti penyambung nyawa) mungkin kami masih bisa—"

Kata-katanya belum selesai di luar terdengar tawa ceria. Mereka secara bersama- sama menoleh, terlihat di luar pintu ada 2 orang pak tua berbaju mewah, begitu melihat sosok mereka, Guan Ning segera berteriak dengan suara kecil. Tapi wajah 2 bersaudara E Mei Bao Nang yang dingin terlihat senang.

(Oo-dwkz-lav-oO)