Legenda Kematian Bab 06 : Taruhan

Bab 06 : Taruhan

Guan Ning berteriak, "Apakah ini adalah milik E Mei Bao Nang?"

Qi Tian tersenyum, "Betul, ini adalah tas milik Tang Gu dan Tang An. Kami menemukannya di pondok yang berada di belakang Wisma Si Ming, karena itu kami tahu kalau ternyata 2 bersaudara itupun telah terbunuh. Jika Tuan Muda menganggap mereka patut untuk dicurigai, itu benar-benar tidak masuk akal."

Pendeta Qi Tian berkata lagi, "Ada tas berarti pemiliknya ada, tas menghilang berarti pemiliknya mati. Murid-murid Tang Men selama ratusan tahun ini belum ada seorangpun yang melanggar peraturan ini. puluhan tahun yang lalu pesilat nomor satu di Tang Men Xiao Mian Zhui Hun, Tang Da Chen, karena bercanda dengan si Copet Sakti nomor satu di dunia persilatan, dia membuat si Copet Sakti ini menjadi marah dan dia mencopet Bao Nang (tas kulit cheetah) milik Tang Da Chen. Karena marah dan malu, membuat murid nomor satu di Tang Men itu bunuh diri dan juga membuat si Copet Sakti dikeroyok oleh 3 murid Tang Men. Tubuhnya terluka di 16 tempat karena senjata rahasia, peristiwa ini membuat dunia persilatan menjadi geger. Tuan Muda Guan, kau mencurigai 2 saudara Tang belum mati tampaknya kau salah besar." Walaupun nadanya sangat datar pada saat menceritakan hal-hal yang telah terjadi di dunia persilatan, tapi perkataannya tetap membuat Guan Ning yang mendengar dengan seksama menjadi hatinya bergetar.

"Jika tidak bertemu dengan musuh yang sangat kuat, 2 saudara Tang ini tidak akan meninggalkan tas mereka begitu saja. Tas kulit cheetah mereka bisa hilang, jika pemiliknya tidak mati, dia pasti akan mencarinya sampai dapat. Karena itu kami mengambil kesimpulan bahwa mereka telah mati terbunuh. Orang yang bisa membuat E Mei Bao Nang kehilangan Bao Nang dan terbunuh, kecuali.... kecuali pelajar berbaju putih, boleh dikatakan tidak ada lagi pelaku yang mampu melakukannya."

Guan Ning menundukkan kepala dan berpikir, "Siapakah pelajar berbaju putih ini sebenarnya?"

Dia melihat pendeta kurus yang masih duduk dengan mata terus melihat ke bawah. Sejak tadi dia belum bergerak, bila dilihat-lihat dia seperti sebuah patung tanah, tidak seperti manusia yang masih hidup. Pendeta Qi Tian dan Pendeta Xiao Tian sekarang terdiam tanpa suara, dan dengan dingin melihatnya. Guan Ning tahu jika dia tidak memberitahu keberadaan pelajar berbaju putih, mereka bertiga pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Tapi tidak mungkin dia menyerahkan orang yang sekarat ke tangan orang lain untuk dibunuh? Dia diam sebentar kemudian dengan tegas berkata, "Kematian E Mei Bao Nang, dan musibah yang terjadi di Wisma Si Ming sebenarnya tidak  ada hubungannya sama sekali denganku. Karena itu, apapun yang Pendeta ingin ketahui, aku tidak bisa mengatakannya. ”

Pendeta Xiao Tian tertawa, "Maksud Tuan Muda adalah Anda tidak tahu di mana keberadaan pelajar berbaju putih itu?"

Guan Ning menghembuskan nafas dan menjawab, "Benar!"

Dia tidak ingin berbohong, tapi diapun tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak adil, membiarkan orang yang tidak berdaya mati begitu saja, karena itu dia lebih memilih untuk berbohong.

Tiba-tiba tawa Pendeta Xiao Tian berhenti dan diapun berkata, "Menurut orang dunia persilatan, yang datang dengan Tuan Muda ke Bei Jing masih ada sebuah kereta kuda. Di dalam kereta itu menurut mereka ada orang yang sedang sakit, siapakah orang sakit itu? Sekarang dia berada di mana? Tuan Muda Guan, aku kira kau pasti tahu mengenai hal ini."

Guan Ning kaget, dia berpikir, "Ternyata dia sudah mengetahui semua kejadiannya, pantas dia berkata ingin sekali memenggal kepala pelajar berbaju putih. Ternyata mereka tahu kalau orang itu sedang terluka.... meskipun tahu bahwa orang itu terluka, tapi mereka tetap akan membunuhnya, benar-benar pikiran orang kerdil!"

Karena itu Guam Ning bertambah marah. Dia merasa marah misalnya pelajar ini memang orang jahat, dalam keadaan seperti sekarang dia tetap harus melindunginya.

Sifat Guan Ning yang membela keadilan dan bersifat bijak merupakan cermin sifat seorang pendekar dan membuatnya di kemudian hari bisa melakukan banyak hal yang tidak akan memalukan langit dan bumi. Tapi tetap ada saja orang yang diam-diam memakinya, yang inipun membuat hidupnya penuh dengan kesuksesan, cerita ini tersebar sangat lama dan terus diceritakan dari mulut ke mulut.

Apa yang terjadi di kemudian hari, pastinya dia sendiripun tidak bisa menebaknya, yang penting adalah apa yang dilakukannya sekarang adalah apa yang dianggapnya benar. Karena itu diapun menjawab, "Benar, orang berbaju putih itu datang bersama denganku dan masuk ke ibukota, tapi begitu sampai di ibukota ada orang yang menjemputnya, dia dibawa ke mana, aku sendiripun tidak tahu."

Pendeta Xiao Tian tertawa dingin, tapi pendeta kurus itu tiba-tiba berdiri dan berkata, "Walaupun Tuan Muda Guan sudah tidak jujur, tapi kami akan berusaha mempercayainya." "Hanya saja Tuan Muda adalah seorang yang kaya, jika terbawa-bawa masalah pembunuh dunia persilatan, ini benar-benar tidak pantas. Jika pelajar berbaju putih itu mati, ini tidak akan  terjadi apa-apa. Tapi kalau dia belum mati, kelak pasti akan banyak orang dunia persilatan yang datang ke sini dan mencarinya. Bukankah Tuan Muda sendiri yang akan kerepotan, apalagi orang- orang yang datang belum tentu seperti kami yang begitu percaya kepada Tuan Muda Guan, mungkin mereka akan mencari ke seluruh rumah Tuan Muda Guan. Jika demi persoalan ini membuat ayah Tuan Muda menjadi terkejut, bukankah Anda akan menjadi anak yang berdosa?"

Guan Ning kaget, tadi dia masih merasa aneh mengapa pendeta kurus itu yang tidak ada tampang sebagai pemimpin, tidak seramah Qian Tian, tidak berjiwa besar seperti Xiao Tian, tapi dia bisa menjadi seorang ketua Kun Lun. Sesudah mendengar kata-katanya sekarang, diam-diam Guan Ning kaget juga. Kata-kata pendeta itu terdengar sangat tajam, membuat orang tidak bisa membantah. Seperti kita ketahui jika seseorang berbohong, kita tetap mempercayai kebohongannya, kata-kata ini cukup membuat orang menjadi kagum.

Dia memuji kelakuan pendeta kurus itu dan dia merasa malu karena telah berprasangka buruk. Pendeta kurus kering ini membalikkan badannya dan keluar dari ruangan ini. Pendeta Qi Tian dan Pendeta Xiao Tian saling memandang, merekapun ikut keluar ruangan. Guan Ning dengan bengong melihatnya kemudian diapun menyusul keluar.

Hari sudah gelap, salju mulai berhenti, tapi ketiga pendeta ini sudah tidak terlihat lagi bayangannya, jejak telapak kaki di atas hamparan salju juga tidak tampak.

Huang Guan Kun Lun datang dengan tiba- tiba, pergipun sangat cepat. Guan Ning masih berdiri terpaku, angin dingin yang berhembus membuatnya gemetar, dia baru teringat pada Du Yu yang totokannya masih belum terbuka, dia segera berlari ke kamar yang gelap itu. Tapi kursi di dalam kamar itu ternyata sudah kosong. Du Yu ternyata sudah menghilang.

Kemana Du Yu pergi? Dia pergi sendiri atau diculik seseorang? Ini menjadi sebuah teka teki yang tidak bisa dijelaskan.

Karena itu dia kembali lagi ke kamar kecil itu  lalu memungut pedang yang tadi sempat terjatuh juga membereskan papan nisan ayah Du Yu dan bola besinya.

"Jika dia pergi sendiri, mengapa dia tidak membawa benda-benda berharga miliknya?"

Tapi dia tetap tidak bisa menjawab teka- teki ini.

Malam itu bagi Guan Ning adalah malam yang sangat menyedihkan, dia kembali ke kamarnya, dengan bengong diapun mulai berpikir, tiba-tiba dia mengeluarkan Ru Yi Qing Qian yang masih tersimpan di balik bajunya. Semua saputangan dari Ru Yi Qing Qianpun dikeluarkan dan direndam di dalam air.

Kemudian rahasia terbesar dan  tersimpan sangat lama yang sudah lama beredar di dunia persilatan akhirnya muncul dari dalam air. ilmu silat yang tertinggi tersimpan di sini, membuat dia melupakan semua masalah tadi, dengan teliti dia melihat saputangan-sapu tangan itu. Lembaran pertama mengenai ilmu tenaga dalam. Jika lembaran ini dipelajari dengan seksama harus menggunakan seluruh waktunya, sedangkan pada pagi hari dia harus menemui ayah dan ibunya, setelah itu seluruh waktunya akan  dipergunakan di dalam kamar.

Pelajar berbaju putih berada di sebelah kamarnya, dia tetap terbaring seperti orang mati, jika tidak terlihat sedikit nafas dan dadanya naik turun teratur, tidak ada seorangpun yang akan menganggap kalau dia masih hidup.

Orang kaya yang memiliki rumah besar memang ada baiknya, semua kehidupan' dan segala tetek bengeknya, tidak akan diketahui orangtua sama sekali. Orang tuanya masih mengira kalau putranya sedang membaca buku atau membuat puisi, mereka tidak tahu bahwa sastrawan yang terkenal itu sekarang kehidupannya sudah berubah, dia yang dulu dan dia yang sekarang benar-benar berbeda, dia telah memasuki kehidupan lain. Membuat puisi, membaca puisi, dan membaca buku sudah lama ditinggalkannya.

Karena dalam kehidupan barunya dia banyak mempelajari tentang ilmu silat yang telah menarik perhatiannya.

Dia tahu semua keruwetan masalah sekarang ini, jika dia bisa menguasai ilmu silat yang tercantum di dalam saputangan itu, maka semuanya bisa diselesaikan, dia bisa menertawakan dunia persilatan, bisa membantu yang lemah dan tidak berdaya, membasmi kejahatan, dendam dan budi, semua akan bisa diselesaikannya sendiri. Dengan kekuatannya sendiri dia bisa mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di Wisma Si Ming, dan mencari Ling Ying serta Du Yu yang pergi entah ke mana? Dia akan menyelesaikan dendam di antara mereka dan dia akan mencari tahu siapa pelajar berbaju putih itu sebenarnya? Dan berusaha membantunya mengembalikan ingatannya.

Jika benar dia adalah orang yang jahat seperti yang dituduhkan oleh kalangan persilatan, dia pasti akan membunuhnya .dan mayatnya akan diserahkan kepada Kun Lun Huang Guan, kepada pendeta kurus itu. Jika pelajar berbaju putih itu memang tidak bersalah, dia tetap akan akan pergi ke Kun Lun menerangkan kepada pendeta kurus itu, selama ini dia berbohong kepada pendeta itu dan dia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Tapi kemajuan tenaga dalamnya berangsur sangat pelan dan tidak diketahui dengan pasti, dia sendiripun tidak tahu sekarang ini tenaga dalam dia sudah mencapai tahap mana. Apakah masih harus satu hari, dua hari....

Satu bulan berlalu. Selama waktu ini kata-kata dari pendeta kurus sewaktu dia akan pergi dari rumahnya selalu terngiang di telinganya. Jika dia

tidak mati, kelak akan banyak orang dunia persilatan datang ke tempat Tuan Muda untuk mencari.... Mereka pasti akan mencari ke rumah Tuan Muda.

Dengan cemas dia memikirkan semua hal  ini lalu mulai berpikir, "Jika benar-benar hal itu terjadi, ayah akan merasa terkejut karena persoalan ini, lalu aku harus bagaimana?"

Sebulan dilewatinya dengan tenang, tapi hati Guan Ning merasa sangat tidak tenang. Dia takut apa yang dia khawatirkan selama ini akan terjadi, karena itu dia berharap ilmu silatnya bisa dikuasai secepatnya dan dia tidak akan takut diganggu oleh siapapun dan dari manapun.

Karena itu dia mulai mempelajari lembar kedua tentang 'ilmu pedang'. Lembar ketiga tentang Ilmu telapak'—Dia telah mempunyai dasar ilmu pedang sebelumnya, tetapi ilmu pedang yang tercantum di dalam Ru Yi Qing Qian adalah ilmu yang tidak pernah dipelajarinya. Satu atau dua jurus seperti tidak mungkin dilakukannya. Pada bagian ilmu telapak tangan gerakannya sangat datar dan tidak ada keistimewaannya sama sekali. Tapi begitu dia mulai mempelajarinya, dia baru sadar ternyata puluhan jurus telapak yang sederhana itu mengandung banyak perubahan hebat.

Lima hari telah berlalu....

Malam sudah larut dan suasana sangat sepi. Wisma yang begitu besar, seperti tenggelam di dalam kegelapan dam kesepian. Hanya di belakang di kamar kelima masih terlihat lampu yang belum dipadamkan. Guan Ning berada di perpustakaan dan dia sedang membaca salah lembar satu saputangan Ru Yi Qing Qian. Kadang terlihat dia mencoba mengeluarkan jurus, kemudian menarik jurusnya lalu duduk kembali. Tiba-tiba....

Ada cahaya seperti kilat masuk melalui jendela. Guan Ning sangat terkejut. Dia belum sempat bergerak, lalu terdengar ada beberapa suara, kemudian cahaya lampu dari lilinpun terjatuh, ternyata ada 2 pedang panjang dan satu golok!

Guan Ning terkejut. Kedua telapak tangannya memegang erat sisi meja. Tubuhnya yang langsing melewati meja dan keluar dari jendela. Ini sudah cukup membuatnya menyombongkan diri karena ini adalah hasil selama beberapa bulan  berlatih dan sedikit- sedikit dia bisa mempraktekkannya.

Tapi begitu sampai di kebun, tidak terlihat ada bayangan seorangpun hanya terlihat bayangan pohon yang terus bergoyang tertiup angin tapi suasana sepi seperti mati. Kemudian dia berputar mengelilingi kebun itu, dengan merasa aneh dia kembali lagi ke kamar dan bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang terjadi sebenarnya?"

Hari ketiga. Dia merasa sangat lelah dan  tertidur, baru saja dia tidur kurang lebih 3 jam, sewaktu terbangun, di atas meja terlihat ada bungkusan. Lalu diapun membukanya, ternyata di dalamnya ada sepasang telinga manusia dan masih mengeluarkan darah!

Suatu pagi, hujan salju turun dengan lebar, di jalan besar di kedua sisi jalan itu tampak pohon- pohon mengering, tiba-tiba terdengar derap lamgkah seekor kuda yang berlari dengan cepat.

Penunggangnya berbaju hitam terbuat dari leken wol. Topi hitam terbuat wol, matanya tampak bersemangat, hidungnya mancung. Orang itu terlihat sangat tampan. Pagi hari yang dingin, jalanan masih sepi karena itu kudanya terus berlari dengan kencang. Tiba-tiba kuda itu memasuki sebuah gang. Kuda tampak berlari lagi dan berhenti di sebuah pintu bercat hitam.

Pintu utama terbuka dengan lebar. Kuda itu meringkik, kemudian terlihat beberapa orang laki- laki tegap segera keluar untuk menyambutnya dan melihat penunggang yang berada di atas kuda, mereka secara bersamaan bertanya, "Siapa kau?"

Orang yang berada di atas kuda, tampak turun dari kudanya, tangan kirinya membawa sebuah pecut panjang, tangan kanannya membuka topi, seorang laki-laki setengah baya segera berteriak, "Kakak seperguruan Guan Ning, ternyata Kakak."

Guan Ning tersenyum, senyuman ini tidak bisa menutup kekhawatiran yang terlihat dari alisnya, dia langsung masuk dan dengan cemas bertanya, "Apakah guru ada?"

Dia mendapatkan jawaban seperti yang diingingkan, dengan cepat Guan Ning melewati tempat latihan silat yang masih tampak bersih, seorang pak tua tinggi besar keluar dari tempat latihan itu, sambil tertawa dan sedikit bernada marah dia berkata, "Sudah lama sekali, kau baru ingat datang untuk menjengukku."

Udara terasa begitu dingin. Pak tua itu hanya mengenakan mantel pendek, tubuhnya masih berdiri dengan tegak, sedikitpun tidak terlihat kalau dia sudah tua. Pak tua ini tak lain adalah guru Guan Ning. Dia seorang guru yang terkenal di ibukota, dia dijuluki Yi Jian Zhen Jiu Cheng Si Tu Wen (dengan satu pedang menggetarkan 9 kota).

Selama beberapa hari dia terus merasa kaget dan tidak tenang, membuatnya tidak bisa mempelajari ilmu silat, akhirnya dia mengambil keputusan, akan membawa pelajar berbaju putih itu mencari tabib sakti yang terkenal di dunia persilatan untuk mengobati lukanya yang parah. Dia berharap begitu dia meninggalkan  rumah, tidak akan ada lagi seorangpun dari kalangan pesilat yang datang ke rumah untuk mengganggunya.

Sekarang dia mengikuti gurunya masuk ke sebuah ruangan besar, mengingat kalau dulu dia pernah belajar ilmu pedang di sini, hatinya terasa bergejolak.

Dengan ragu tapi berusaha tetap tenang dia menceritakan semua kejadian selama setengah tahun ini.

Walaupun tidak begitu jelas dan ceritanya tidak sempurna, tapi sudah cukup membuat gurunya terkejut, karena nama-nama yang disebut muridnya adalah nama-nama nomor satu di dunia persilatan.

Semua cerita yang telah disampaikan  Guan Ning, membuat gurunya sulit untuk percaya. Setelah lama gurunya baru berkata, "Anak Ning, perjalanan hidupmu benar-benar mengejutkan. Jika bukan karena guru telah mengenalmu. apa

yang kau katakan tadi, benar- benar membuat orang sulit untuk mempercayainya."

Suaranya berhenti sebentar lalu dilanjutkan lagi, "Apakah kau tahu, kau sudah masuk ke dalam pusaran misteri pembunuhan yang misterius? Walaupun kau telah kembali ke rumah, tapi orang lain tidak akan melepaskanmu begitu saja ”

Hati Guan Ning bergetar dan berpikir, "Guru benar-benar sangat berpengalaman, apa yang terjadi guru bisa melihat dengan jelas." Sambil mengangguk dia menceritakan kembali tentang kedatangan Kun Lun Huang Guan ke rumahnya. Sewaktu pendeta kurus kering itu pergi dari rumahnya, kata-kata yang sempat  dia ucapkan dan apa yang terjadi selama beberapa  hari ini, semua diceritakan kepada gurunya.

Si Tu Wen mengerutkan dahinya dan berkata, "Pendeta kurus itu adalah ketua Kun Lun Pai, yang biasa dijuluki Xiao Tian Jian Ke, orang itu sudah tiba di Bei Jing, mengapa aku sampai tidak tahu"

"Tapi 3 senjata dan 2 telinga yang dikirim untukku, apa maksud dari semua ini?" tanya Si T u Wen sambil mengerutkan dahinya.

"Aku sendiripun merasa bingung. Jika itu hanya sebagai peringatan untukku, mengapa harus mengirim telinga manusia? Aku sudah memeriksa semua orang yang ada di rumahku, tapi tidak ada seorangpun yang kehilangan telinganya dan di luar rumah aku tidak mempunyai musuh, bukankah kiriman kedua telinga manusia itu  sangat misterius dan aneh?"

Si Tu Wen berpikir sejenak kemudian dia menepuk tangannya dan berkata, "Peristiwa ini hanya ada satu penjelasannya. Diam-diam sudah ada orang yang ingin berbuat jahat kepadamu, tapi dia dibunuh oleh orang yang selalu melindungimu dan telinga mereka dipotong oleh mereka, Anak Ning, di luar sudah berkenalan dengan banyak orang dunia persilatan, hal ini bukan tidak mungkin terjadi." "Murid memang kenal dengan beberapa orang dunia persilatan, tapi dengan identitas seperti diriku ini, apakah ada orang yang mau melindungiku, kecuali. ”

Tiba-tiba dia teringat kepada Ling Ying. "Apakah dia yang melakukannya? Berarti dia belum jauh dariku, tapi dia tidak ingin bertemu denganku"....

wajah Ling Ying yang cantik. Segera terbayang wajahnya. Tapi Guan Ning merasa itu tidak mungkin, dia berkata dengan suara kecil, "Mengapa harus seperti ini? Apakah kau tidak tahu kalau aku ingin bertemu denganmu?"

Guan Ning tenggelam di dalam pikirannya sendiri, hal ini membuat dia rindu kepada Ling Ying.

Lama dia baru mengangkat kepalanya  dan bicara kepada dirinya sendiri, "Dengan alasan apapun aku sudah tidak bisa tinggal di rumahku lagi."

Pelan-pelan dia berkata lagi, "Jika murid meninggalkan ibukota, aku khawatir dengan keadaan rumah, jika pergi, masalahku akan bertambah lebih banyak lagi. Hehh—Guru! Aku tidak bisa mengambil keputusan."

Alis Si Tu Wen yang putih tampak berkerut. Dia tertawa terbahak-bahak, "Anak Ning, di depan gurumu, berterus terang saja, ada apa sebenarnya?" Wajah gurunya terlihat memerah. Terdengar orang tua gagah itu berkata lagi, "Kalau kau pergi, aku pasti akan membantu keluargamu, aku tidak akan membiarkan para penjahat mengganggu orangtuamu. Walaupun ada pesilat tangguh yang mencarimu sekalipun, aku akan menyampaikan kepada mereka, supaya mereka bisa pergi dari rumahmu, kau tidak perlu merasa khawatir."

Si Tu Wen melotot dan berkata, "Gurumu sudah berkelana lama di dunia persilatan, masalah yang membuatku bisa terkenal adalah karena kejujuran hati. Apakah aku yang sudah tua begini masih harus berbohong kepada seorang anak muda?"

Guan Ning melihat wajah gurunya yang sudah tua, dia merasa sangat berterima kasih juga kagum kepada gurunya, walaupun ilmu silat gurunya tidak begitu tinggi, tapi dia adalah pendekar gagah dan bertanggung jawab.

Guan Ning berlutut di depan gurunya karena dia tidak tahu bagaimana cara berterima kasih kepada gurunya.

Dengan tersenyum, Si Tu Wen menarik Guan Ning supaya bisa bangun, dia sendiri sadar bahwa janjinya akan menyeretnya ke dalam pusaran yang rumit dan pusing, tapi dia mempunyai pikiran lain, dia sadar kalau sudah tua, tapi dia belum pernah berbuat sesuatu yang bisa menggegerkan dunia persilatan. Cerita misterius Guan Ning menarik perhatian dan keinginannya, begitu ada kesempatan, dia akan  melaksanakan keinginannya.

Guan Ning memegang erat tangan gurunya yang lebar dan juga terasa kasar. Dengan pelan dia' berkata, "Kali ini aku akan meninggalkan rumah lagi, entah kapan aku baru bisa pulang, semua yang terjadi di rumah,. aku titip kepada Guru."

"Anak laki-laki harus keluar rumah untuk mengejar cita-citanya. Pergilah. Di dunia persilatan banyak tempat untuk berkelana bagi anak muda, hanya saja. ”

"Hanya saja dendammu akan menarik perhatian banyak orang, kau sudah masuk ke dalam pusaran misteri pembunuhan misterius di dunia persilatan, keadaanmu harus sedikit tertutup dan jangan terlalu menonjol—"

"Mungkin karena aku sudah tua baru bisa berkata seperti ini, jika masih muda. Heehh. , dia

menghembuskan nafas dan mengelus-elus kumisnya yang panjang dan matanya menerawang jauh. Pak tua yang umurnya sudah ada ini, tapi hatinya belum tua, tapi dia teringat sewaktu dia masih berkelana dan tidak bisa menguasai diri.

Salju sudah berhenti tapi angin tetap berhembus dengan kencang, murid-murid Si Tu Wen masih berlatih. Mereka tidak membuang waktu berlatih, beberapa keranjang pasir ditumpahkan di lapangan sekarang sudah disapu bersih. Angin meniup pasir kuning itu. Pasir kuning itu membuat pak tua itu teringat kepada mimpi- mimpinya yang dulu. Pasir kuning, pasir kuning....

Di sana banyak pasir, keindahan alam, juga persahabatan yang erat. Jalan kota Bei Jing yang terkenal, kecuali salju putih adalah pasir kuning itu.

Suara tajamnya pecut, di kota Bei Jing terlihat sebuah kereta kuda yang dipacu dengan cepat, hanya terlihat salju putih dan pasir kuning yang terbawa oleh gerakan roda kereta.

Roda kereta menggelinding di jalan, kereta kuda keluar dari kota Bei Jing.

Kusirnya tampak memakai mantel tebal juga berat, sebuah topi usang, tepian topi menutupi dahinya yang lebar, mantel panjang menutupi badannya yang tinggi tapi begitu ada angin berhembus, dia membuka matanya. Matanya terlihat bersih dan bening. Sorot mata dan baju yang dipakainya benar-benar tidak cocok  tapi orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan tidak memperhatikan hal itu.

Keluar dari kota, tidak ada seorangpun yang melihat kusir berbaju usang itu, karena itulah dia menjadi tertawa, dari mulutnya terlihat giginya yang bersih.

Siapakah dia? Tidak perlu dikatakan lagi, kita pasti sudah mengetahuinya, supaya tidak menarik perhatian orang, kusir ini menutupi penampilan sehari- harinya kalau dia adalah seorang sastrawan terkenal, orang kaya, dan Tuan Muda Guan Ning yang tampan.

Sesudah berpamitan dengan Si Tu  Wen, beban di hatinya terasa berkurang banyak. Pak tua yang berjiwa besar itu sudah memberikan kepercayaan diri yang besar kepadanya karena itu dengan tenang dia bisa meninggalkan rumah dan memulai petualangannya di dunia persilatan.

Sekarang di bawah tiupan angin dingin,  dia tidak bisa lagi melihat tembok kota Bei Jing yang gagah, perasaannya kepada kota Bei Jing yang kuno, dia merasa rindu karena itu dia tidak berani membalikkan kepalanya untuk melihat lebih jelas, karena dia takut kalau kerinduan pada kota itu akan bisa menghapus keinginan hatinya untuk berkelana.

"Kemarin sewaktu aku akan meninggalkan kota Bei Jing. ”

Kemarin ini sewaktu dia akan meninggalkan kota Bei Jing, ingatan itu masih segar dalam pikirannya, tapi dia tidak berani berpikir lebih lanjut karena dia akan teringat kepada Nang Er, teringat kepada Du Yu, teringat kepada Ling Ying yang cantik dan berbaju hijau, teringat sepanjang perjalanan pulang ke Bei Jing, Ling Ying selalu memberikan kehangatan dan perhatian. Dia tahu semua hal itu akan memberinya rasa rindu yang sangat dalam dan tidak pernah terlupakan.

Kereta berjalan lebih cepat lagi.

Dia berpikir, "Aku harus pergi ke Miao Feng Shan terlebih dulu dan aku akan mencari seorang tabib sakti untuk menghilangkan racun yang ada  di tubuh pelajar berbaju putih misterius ini—pil Cui Xiu Xin Dan benar-benar manjur. Bisa membuat orang yang keracunan, walaupun tidak bisa ditawarkan dan orang yang terkena racun tidak sadarkan diri tapi setidaknya dia tidak akan mati. Meskipun 10 tahun ke depan belum ada obat penawarnya, tapi dia tetap tidak akan mati!"

Guan Ning baru merasakan kebesaran  dunia dan anehnya dunia yang membuatnya tidak bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Sejak kecil hingga dewasa, dia telah membaca banyak buku tapi pengalaman dan pelajaran yang dia dapatkan di sekolah tidak sebanyak pengalaman yang didapatkannya di di Gunung Si Ming yang lamanya hanya beberapa hari itu.

Sewaktu dia sedang melamun, tiba-tiba di depannya ada seseorang yang sedang marah, "Cepat menyingkir, pelayan buta!" Terlihat di depan ada sebuah kereta berlari dengan kencang dan siap menabrak keretanya.

Walaupun Guan Ning kaget, dia juga merasa marah dan berpikir, "Kenapa kusir itu sangat tidak sopan, baru saja membuka mulut dia langsung memarahi orang dan mengatakan aku adalah pelayan buta, dia sendiripun seorang pelayan tapi dia memarahi orang lain buta, bukankah ini hanya seperti lelucon yang tidak lucu?"

Sejak kecil dia memang sudah hidup berkecukupan, sekarang pada saat dia dimarahi sebagai pelayan buta, ini adalah pengalaman pertama baginya ditambah lagi orang yang memarahinya hanya kusir biasa. Karena itu dia segera marah dan berteriak, "Apakah kau tidak bisa menghindar dulu—kau yang pelayan buta."

Karena kedua kereta berjalan sangat cepat dan Guan Ning masih marah, kuda yang menarik kereta meloncat menghindar, kedua kusir itu sama-sama kaget dan menarik tali kekang kuda mereka, kedua kereta miring ke sisi, hampir saja kereta terguling.

Tangan Guan Ning penuh dengan keringat, untung sekarang tenaga dalamnya sudah maju pesat kalau tidak, benar-benar tidak terbayang apa yang akan menimpa dirinya.

Sedangkan kusir kereta itupun sama kagetnya dan diapun segera meloncat turun. Dengan marah dia berteriak, "Pelayan buta, apakah kau sudah gila?"

Suaranya belum habis, pecut yang dipegangnya tampak melayang ke wajah Guan Ning. Guan Ning marah dan membentak, "Apa kau ingin mencari mati?"

Dengan cepat tangannya menyambar pecut itu, ilmu pedangnya memang sudah ada dasar ditambah lagi selama beberapa minggu dia berlatih dengan rajin, apalagi ilmu silat yang dipelajarinya sekarang adalah ilmu silat paling sempurna. Walaupun tidak ada orang yang memberi petunjuk ilmu-ilmu itu, ditambah lagi ilmu silat yang didapatnya sangat misterius, dengan dasar dia mempunyai bakat dalam ilmu silat, karena itu dengan cepat, tepat, pecut berhasil dipegangnya, Tapi....

Pecut yang dipegang oleh kusir itu seperti mempunyai mata. Begitu Guan Ning mengeluarkan tangan untuk menyambar, pecut itu melengkung ke arah lain. Suaranya terdengar kencang dan menyerang nadi Guan Ning yang lain.

Kalau peristiwa ini terjadi beberapa hari yang lalu, mungkin Guan Ning akan terluka karena pukulan pecut ini, tapi sekarang walaupun dia dalam keadaan terkejut tapi dia tetap bisa memutar pergelangannya, kedua jarinya membentuk seperti gunting dengan cepat menggunting pecut yang siap menyerang telinganya. Jurus ini terlihat sangat biasa tapi perubahan yang terjadi sangat cepat dan tepat, gerakan ini biasanya hanya bisa dilakukan oleh pesilat tangguh yang bisa mempunyai jurus ini. Pesilat biasa yang berlatih selama hidupnya juga belum tentu bisa mengeluarkan jurus sangat sederhana dan tidak aneh ini.

Kusir yang sedang marah besar itu sekarang mulai terkejut, pecutnya turun dengan dengan posisi miring.

Perubahan yang terjadi beberapa jurus berlangsung secara tiba-tiba dan cepat  seperti kilat, tapi di dalam hati mereka masing-masing merasa sangat terkejut. Sebelum mereka berkelahi tidak menyangka kalau lawan mereka adalah kusir yang bisa mengeluarkan jurus yang begitu hebat.

Guan Ning turun dari keretanya dan bersiap marah. Begitu dia melihat....

Lawannya ternyata adalah kusir yang mengenakan mantel yang terlihat berat dan tebal, dia juga memakai topi usang, pecut yang baru saja diturunkan, siap diayunkan lagi—

Mata mereka sudah saling memandang, sama- sama mempunyai sepasang mata yang bersih dan berkilau, dalam hati mereka tidak menduga lawannya ternyata adalah laki-laki yang begitu tampan.

Begitu beradu pandang, mereka sangat terkejut dan terpaku. Guan Ning dengan tenang berkata, "Kenapa Tuan berjalan begitu tergesa-  gesa, untung yang ada di kereta itu adalah aku. Jika orang lain bukankah akan mati seketika karena ditabrak oleh kereta Tuan, apalagi di dalam kereta ada orang yang sedang terluka dan sakit!" Pengalamannya sangat sedikit, didikan yang diterimanya sejak kecil membuat kata- katanya terdengar sangat sopan, dia tidak terpikir kalau dari mulut seorang kusir kasar apakah akan keluar kata-kata seperti itu?

Kusir yang berdiri di depannya, terlihat ada sedikit tawa di mulutnya. Diapun berkata, "Tuan begitu tergesa-gesa, untung bertemu denganku, kalau orang lain, akan ditabrak mati oleh kereta Tuan."

Dia mengulangi kata-kata Guan Ning, nada dan sikapnyapun persis seperti Guan Ning sikap dan ucapan Guan Ning tadi.

Walaupun Guan Ning merasa sangat marah, tapi diapun merasa ingin tertawa setelah mendengar perkataan kusir itu. Dalam hati dia berpikir, "Aku memang terlalu terburu-buru!" Dia melihat wajah lawannya, bukan seorang yang tidak tahu aturan. Karena itu kemarahannyapun surut. Kusir itu menunjuk ke belakangnya dengan pecut lalu berkata, "Apalagi di dalam keretaku juga ada orang yang sedang sakit dan terluka!"

Mereka sekarang sadar bahwa mereka bukan kusir sebenarnya, tapi mengapa bisa terjadi begitu kebetulan?

Guan Ning berpikir. "Masalahku sudah cukup banyak dan rumit, untuk apa aku sekarang harus mengurus masalah orang lain, apalagi tadi kereta kami tidak saling menabrak!" Karena itu segera dia berkata, "Kalau begitu, silakan Tuan dulu yang pergi."

Dia membalikkan badan ingin segera pergi dari sana.

Tapi pemuda itu meloncat ke depannya dan berkata, "Nanti dulu, jangan pergi!"

Guan Ning merasa aneh, "Masih ada apa lagi?" "Tuan tunggu sebentar, aku ingin melihat

terlebih dulu apakah orang yang ada di dalam keretaku merasa terkejut, jika tidak Tuan baru boleh pergi, jika orang sakit yang kubawa itu merasa terkejut dan sakitnya bertambah berat. ”

Walaupun kusir ini sering menggunakan kata tuan' dan 'aku', seperti sangat sungkan kepadanya tapi kata-katanya selalu menyudutkan orang.

Kata-katanya belum selesai, Guan Ning sudah marah dan berkata, "Kalau tidak bagaimana?"

"Kalau Tuan mau pergi begitu saja, tidak akan semudah itu."

Tiba-tiba Guan Ning tertawa terbahak- bahak tapi kusir itu tetap tidak mengubah sikapnya. Dengan dingin dia berkata, "Tuan bisa tertawa seperti itu, tapi tidak. ”

"Kalau aku sudah mengejutkan orang sakit yang ada di dalam keretamu, apa yang akan kau lakukan terhadapku? Tapi tetap ada yang tidak kumengerti dan aku ingin bertanya kepada Tuan." "Apa yang ingin Tuan tanyakan?"

Awal pertemuan mereka berdua sudah tidak enak, tapi semenjak beradu pandang, mereka baru tahu kalau ternyata lawan yang mereka hadapi adalah pendekar muda, karena itu kata-kata merekapun mulai memanas lagi dan kata-kata  yang keluar sangat tajam.

Guan Ning mendorong topinya hingga ke belakang dan bertanya, "Kalau orang sakit yang ada di dalam kereta Tuan merasa kaget karena tingkah laku Tuan sendiri, bagaimana?"

Kusir muda itu segera bersikap sombong dan dingin. Dia melihat langit dan berkata, "Orang terluka yang ada di dalam kereta Tuan walaupun ada seratus orangpun, kondisinya tidak akan sama dengan penumpang yang ada di dalam keretaku. Jika Tuan telah membuatnya kaget dan sakitnya bertambah parah, walaupun aku memaafkanmu, tapi orang dunia persilatan tidak akan melepaskanmu begitu saja.... apalagi jika Tuan ingin berkelana di dunia persilatan, itu akan menyulitkan Tuan."

"Semua orang di dunia ini hanya memiliki satu nyawa. Apakah ada nyawa yang mahal dan murah, apalagi ”

"Apalagi pasien yang ada di dalam keretaku, nama dan kedudukannya mungkin saja lebih tinggi dari pasienmu. Jika Tuan telah menganggu dan membuat kaget pasienku, bagaimana?" Tata bahasa yang keluar dari mulut mereka terdengar sangat sopan dan sungkan, tapi sangat tajam dan tidak mau kalah.

Perkataan Guan Ning baru selesai, kusir muda itu terpaku mendengar perkataannya, kemudian dia menatap Guan Ning dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri, lalu diapun tertawa, "Baiklah, baiklah, baru pertama kali aku mendengar perkataan seperti yang Tuan katakan, selama aku berkelana belum pernah kudengar sebelumnya, aku pernah melihat orang gila tapi belum pernah ada orang yang tiba- tiba membandingkan tingkat sakit pasien yang dibawa ”

Dia tertawa sambil menyindir, kemudian terdengar dia berkata lagi, "Apakah Tuan tahu siapa pasien yang berada di dalam keretaku?"

Pertama kali bertemu dengan pelajar berbaju putih dia sudah tahu kalau dia bukan orang biasa- biasa saja, di kemudian hari dia melihat orang- orang persilatan begitu takut kepadanya, dari perkataan kusir yang ada di depannya, dia sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa pelajar berbaju putih bukan orang biasa.

Tapi melihat pembawaan kusir muda itu pikiran Guan Ning mulai goyah, karena pemuda itu terlihat sangat tampan dan percaya diri, Guan Ning yakin ilmu silatnyapun pasti tinggi. Sepertinya dia juga bukan orang biasa-biasa saja. Tapi melihat kelakuan dan perkataannya mengenai pasien yang dibawanya dapat terlihat kalau pemuda itupun kagum dan hormat kepada pasiennya, sepertinya pasien itu adalah orang terkenal!

Menghadapi orang terkenal persilatan memang Guan Ning tidak begitu mengerti, setelah berada di Si Ming Hong Pao (Wisma Si Ming) dia baru mengetahui nama-nama seperti Huang Shan Cui Xiu, Luo Fu Cai Yi—, nama- nama itu memang sudah lama terkenal di dunia persilatan, tapi sebelum terjadi peristiwa berdarah di Si Ming Shan, dia belum pernah mendengar nama-nama itu, maka sekarang hatinya tidak tenang, dia takut kata-katanya tadi terlalu berani dan kurang ajar, dia benar-benar seperti orang gila yang besar mulut.

Tampak ada kilat di mata kusir muda itu, dia menangkap ekspresi gusar Guan Ning, dia tertawa dan berkata, "Apakah Tuan mengaku tadi telah salah bicara? Tuan masih muda, pengalaman di dunia persilatanpun masih dangkal, aku tidak akan mempersulitmu, asalkan pasienku tidak bermasalah, Tuan boleh pergi."

Kata-katanya terdengar sangat menghina, apalagi melihat tawanya hati Guan Ning benar- benar panas dibuatnya, dia hampir tidak bisa menguasai diri, dan akhirnya dia membentak dengan marah, "Siapa orang yang ada di dalam keretaku juga kau belum tahu, tapi Tuan sudah berani bicara seperti itu, apakah semua ini tidak terlalu terburu-buru. ” Dia berhenti bicara sebentar lalu segera menyambung lagi, tadi dia sama sekali tidak diberi kesempatan bicara oleh kusir muda itu, sekarang Guan Ning berkata, "Betul seperti kata- kata Tuan tadi, aku masih muda dan tidak berpengalaman, tapi orang yang ada di dalam keretaku tidak sama kedudukannya denganku."

"Apakah benar?" tanya kusir muda itu.

"Sejak tadi kita terus ribut, aku rasa tidak akan ada gunanya; lebih baik kita katakan saja identitas pasien kita masing-masing yang ada di dalam kereta, dengan begitu kita akan segera tahu mana yang salah dan mana yang benar, daripada kita terus bertengkar mulut di sini."

Kusir muda itu tertawa dan berkata, "Aku setuju!"

Tawanya berhenti dan dia bicara dengan dingin, "Kalau aku menyebut nama orang yang ada di dalam keretaku, aku harap Tuan mendengarkannya baik-baik, dan apabila kedudukan pasienku lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang ada di dalam kereta Tuan....

Apa yang akan Tuan lakukan?"

"Kalau aku memang kalah, apa yang Tuan kehendaki, aku akan berusaha melaksanakan semampuku tapi kalau Tuan yang kalah, Tuan harus mendengarkan dan melaksanakan semua perintahku," jawab Guan Ning dengan dingin. Kusir muda itu bertepuk tangan dan tertawa, "Baiklah, baiklah! Taruhan ini tidak akan merugikan kedua belah pihak dan sangat adil. Kalau aku kalah walaupun aku mati dengan tiba- tiba aku tidak akan mengerutkan dahiku."

Guan Ning membusungkan dadanya dan menjawab, "Betul, memang harus seperti itu!"

Tawa kusir muda itu belum selesai tapi dia sudah melempar pecutnya dan tangan kanannya terangkat lalu dia berkata, "Benar- benar laki-laki sejati!"

"Aku akan menepatinya!" jawab Guan Ning. Mereka berjabat tangan tiga kali.

Kedua pemuda itu, yang satu adalah putra seorang kaya, sastrawan yang sudah mempunyai nama dan terkenal di daerah utara, diapun mempunyai ilmu silat yang lumayan, dia tampan dan luwes. Hatinya selalu ingin membela keadilan, jarang ada seorang tuan muda bersifat seperti itu.

Sedangkan pemuda yang satu lagi lahir dari keluarga pesilat, sejak kecil dia sudah belajar ilmu silat, begitu dia berkelana di dunia persilatan dia sudah menggegerkan dunia persilatan, dia adalah jago pecut dan pedang, seorang pesilat muda yang terkenal.

Yang satu jago silat sedangkan yang satu lagi jago dalam bidang sastra, mereka sama- sama terkenal dan mempunyai masa depan yang cerah. Tapi sekarang ini mereka sedang meributkan sesuatu, mereka menganggap lawan mereka adalah musuh dan mereka sama-sama tidak mau kalah, setelah tiga kali berjabat tangan, mereka sudah memutuskan taruhannya, walaupun mereka merasa tegang tapi mereka berusaha untuk menutupinya.

"Sekarang Tuan harus mengatakan siapa nama orang yang ada di dalam kereta Tuan," kata Guan Ning.

"Ide ini Tuan yang mencetuskannya, seharusnya Tuan yang memberitahu dulu....” kata kusir muda itu.

Tiba-tiba dia tertawa dan berkata, "Sebenarnya siapapun yang memberitahukan terlebih dahulu tidak menjadi masalah, kalau Tuan tidak mau mengatakannya, maka aku akan bicara dulu."

Baru saja dia akan bicara, Guan Ning segera berkata, "Siapapun yang kalah atau menang, hal ini tidak boleh disebarluaskan pada pihak ketiga, ini bukan berarti aku. ”

Perkataannya belum selesai pemuda itu sudah berkata, "Betul, betul! Walau tadi Tuan tidak mengatakannya akupun berniat tidak akan mengatakan kepada pihak ketiga. ”

Tiba-tiba dia membalikkan badan dan berjalan menuju keretanya dan berkata, "Bila mulut bicara tidak ada bukti, lebih baik melihat dengan mata kepala sendiri, mungkin Tuan tidak akan percaya tapi kalau orang yang sudah terbiasa berkelana, mereka pasti akan langsung mengenali tetua ini."

Dia menunjuk ke dalam keretanya....

Hati Guan Ning tiba-tiba berdebar dengan kencang dia berpikir, "Kalau memang benar orang yang ada di dalam kereta itu adalah orang terkenal, dan aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, aku akan merasa malu" Dia memarahi dirinya sendiri mengapa telah bertindak ceroboh, tapi dia ingat Gong Sun Zuo Zu pernah berkata, "Hati marah karena kecerobohannya sendiri."

Tapi dia pernah mendengar Gong Sun Zuo Zu pernah menyebutkan nama 14 orang terkenal di dunia persilatan yang terbunuh di Wisma Si Ming—Si Ming Hong Pao, Huang Shan Cui Xiu— masih ada Gong Sun Zuo Zu yang tidak berdaya di bawah tangan pelajar berbaju putih. "Gong Sun Zuo Zu sama sekali tidak bisa mengeluarkan ilmunya.

Kedudukannya pasti kalah dengan kedudukan pelajar berbaju putih yang ada di dalam keretaku. Jika pasien yang ada di dalam kereta kusir itu bukan salah satu dari 14 orang terkenal itu, aku tidak perlu merasa takut dan cemas."

Berpikir sampai di sini diapun merasa agak lega dan diapun tertawa. Kusir muda itu menunjuk keretanya dan berkata, "Tetua ini adalah orang terkenal Jun Shan Shuang Can, ketua Gai Bang, yaitu Tuan Gong Sun Zuo Zu!" Dengan pelan dia menyebut Gong Sun Zuo Zu. Dari sudut matanya dia melihat Guan Ning. Sikapnya sangat sombong, dia mengira begitu Guan Ning mendengar nama ini dia pasti terkejut terkejut.

Memang benar Guan Ning terkejut, kusir itu tertawa dengan senang kemudian berkata, "Tuan telah berkelana di dunia persilatan pasti mengenal nama tetua ini! Nama dan kedudukan- tetua ini, apakah lebih tinggi. ”

Dengan sombong dia berkata, tapi—

Suaranya belum habis, Guan Ning sudah  tertawa terbahak-bahak, nadanya terdengar sangat senang. Pemuda itu kaget dan berpikir, "Apakah orang yang ada di dalam keretanya lebih terkenal dari Gong Sun Zuo Zu?" Tapi  dia berusaha menghibur dirinya, "Di dunia ini jika ingin mencari seseorang yang lebih kuat dari Gong Sun Zuo Zu, sepertinya tidak mungkin. Walaupun ilmu silat orang ini lumayan tapi kemampuannya biasa-biasa saja. Kata-katanya seperti seorang tuan muda biasa, mana mungkin dia bisa kenal dengan orang tangguh dunia persilatan? Orang yang ada di dalam keretanya itu, nama atau kedudukan tidak mungkin lebih tinggi dari Jun Shan Shuang Can."

Tapi dia malah mendengar Guan Ning tertawa dan berkata, "Gong Sun Zuo Zu adalah ketua Gai Bang, aku pernah mendengar namanya tetapi. ” Kata-katanya belum habis, tapi pemuda itu sudah menyambung perkataannya, "Tapi apa?"

Guan Ning tertawa geli melihatnya. Dia berkata, "Tapi ketua Gong Sun jika melihat pasien yang ada di dalam keretaku, dia pasti akan takut."

Kusir muda itu bertanya untuk memastikan, "Apakah benar semua perkataanmu?"

Dia tertawa, "Silakan Tuan menyebut nama orang yang di dalam kereta."

"Sebenarnya aku tidak tahu nama orang yang ada di dalam keretaku, tapi aku bisa mengambil kesimpulan bahwa nama dan kedudukan orang ini lebih kuat dibandingkan dengan Gong Sun Zuo Zu, karena—" Guan Ning telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri pertarungan yang terjadi antara Gong Sun Zuo Zu dan pelajar berbaju putih karena itu dengan tenang dia bisa mengatakan semuanya, bukan karena terpaksa.

Tapi kata-kata Guan Ning membuat kusir muda itu tertawa, nadanya terdengar sombong dan menghina, "Jika Tuan mengira dengan kata- kata Tuan tadi bisa menipuku, itu hanya seperti tipuan anak kecil, tapi bukan aku. ”

Kau tidak bisa menipuku Wu Bu Yun.

Guan Ning marah, "Walaupun aku adalah Guan Ning, bukan orang terkenal di dunia persilatan, aku juga bukan orang yang suka berbohong. Kata- kataku tadi sama sekali bukan omong kosong, jika memang aku berbohong kepada Tuan biar aku mati disambar geledek, apakah kau mau percaya atau tidak, terserah, aku tidak akan memaksa Tuan!"

Wu Bu Yun tertawa, "Bukankah kita sudah berjanji, walaupun di dalam kereta Tuan adalah raja, aku tidak akan peduli. Tapi jika sekarang Tuan ingin menipuku, maaf, itu tidak bisa."

"Sekarang aku tanya kepada Tuan mengenai perjanjian kita tadi, apakah masih berlaku? Jika Tuan tidak menarik perjanjian ini, aku akan menyuruh Tuan melakukan satu hal untuk aku!"

Guan Ning marah, kali ini benar-benar sangat marah, tapi dia segera berpikir, "Nama orang yang di keretaku aku tidak tahu, mana boleh aku menyalahkan orang lain?" Karena itu dengan sikap dan rupa sangat sedih dia melihat pemuda yang sombong itu, dia ingin memukul dirinya sendiri karena telah bicara sembarangan lalu dia menghembuskan nafas panjang.

Kemudian dia berpikir, dia segera berkata, "Mulut bicara tidak ada bukti, lihat dengan mata kepala sendiri, baru bisa percaya apa yang kau lihat, jika Tuan tidak percaya pada kata-kataku, walaupun aku terus bicara, itu akan percuma saja, lebih baik. ”

Dia berjalan memutari keretanya lalu membuka jendela kereta, "Tuan tadi memuji diri sendiri karena sangat berpengalaman di dunia persilatan, apakah Tuan bisa mengenali siapa tetua ini?"

Awalnya Wu Bu Yun merasa ragu, tapi  kemudian dengan tersenyum dia berjalan mendekati kereta. Hari begitu cerah, membuat jalanan yang begitu sepi tampak berkilauan seperti perak, karena salju telah menutupi jalan.

Wu Bu Yun pelan-pelan mengikuti arah jari Guan Ning menunjuk kemudian dia melihat ke dalam kereta, kereta yang dari luar terlihat sangat jelek dan tua, ternyata di dalam dihiasi dekorasi mewah dan nyaman. Di dalam masih terlihat sebuah papan. Di atas papan terdapat selimut lembut yang terbuat dari sutra. Masih ada kasur bagus berwarna ungu. Di atas kasur ada seseorang yang sedang berbaring, wajahnya sangat pucat, ikat kepalanya sudah dilepas, rambutnya berantakan, nafasnya terdengar lemah. Sulit dibedakan apakah dia masih hidup atau sudah mati? Dia seorang laki-laki setengah baya.

Pemuda itu dengan teliti melihat laki-laki setengah baya itu, wajahnya kurus, kedua alis berbentuk seperti pedang, bibirnya berbentuk tipis dan bagus, tapi sepasang matanya terpejam rapat.

Dia seperti mengenali wajah laki-laki separuh baya itu, tapi juga seperti tidak mengenalinya. Dia melihat lagi dengan teliti, tiba- tiba dia teringat pada seseorang, "Apakah benar orang ini adalah dia?" Perkiraannya ini membuat dia sendiripun tidak percaya.

Angin berhembus dingin dan melewatinya, membuat dia menjadi gemetar. Tiba-tiba dia membuka pintu kereta, dengan cepat dia menarik tangan kiri pelajar berbaju putih, kemudian tiba- tiba menyerang Guan Ning yang masih berdiri di sisi kereta.

Serangan ini benar-benar membuat Guan Ning terkejut, dia sempat melihat gerakan pemuda yang bernama Wu Bu Yun, dia merasa aneh, dia tidak tahu mengapa pemuda itu tiba- tiba menarik tangan kiri untuk melihatnya. Apa yang ingin dilihatnya? Sekarang tiba-tiba saja dia  diserang, dia merasa kaget dan secara refleks mundur....

Posisinya yang tiba-tiba mundur membuat dirinya sendiri terkejut. Karena tempat itu adalah persimpangan jalan, dan jalan tidak begitu lebar, selain itu orang yang berlalu lalang di sanapun sangat sedikit. Sewaktu keluar dari kota Bei Jing, pikiran Guan Ning sedang kacau, dia sama sekali tidak memperhatikan arah jalan, dia membiarkan kudanya berjalan ke arah yang kudanya inginkan karena itu tanpa sadar dia sudah berada di sini.

Kebetulan saat itu ada 2 orang yang lewat di sana, tiba-tiba terasa ada bayangan orang yang melayang terbang, melayang setinggi beberapa meter, mereka kaget dan kuda yang mereka pakai juga segera dihentikan. Karena dalam keadaan terdesak Guan Ning mundur, badannya secara tiba-tiba terbang, melayang terbang jauh melewati jalan dan turun di balik semak-semak.

Dia belajar ilmu pedang selama 3 tahun, terhadap ilmu meringankan tubuh dia sama sekali tidak mempunyai dasar. Tapi karena dia tidak tertarik dengan ilmu meringankan tubuh, hal ini membuatnya tidak bisa melompat walaupun dia sudah rajin mempelajarinya.

Sekarang dia dalam keadaan kaget karena ilmu meringankan tubuhnya mengalami kemajuan, dia tidak sadar kalau beberapa bulan ini, ilmu meringankan tubuh yang dipelajarinya benar-benar sangat aneh dan hebat. Seorang petani biasapun, bila dia mendapatkan buku rahasia silat yang diperebutkan semua orang persilatan, dalam waktu 3 tahun dia akan menjadi seorang pesilat tangguh, apalagi bagi seorang Guan Ning.

Serangan Wu Bu Yun tadi tidak mengenai sasaran, dia kembali menyerang dan membentak, "Sebelumnya aku mengira kau adalah pemuda jujur, tidak disangka kau berteman dengan  iblis ini. sepertinya pemuda yang tidak tahu malu yang diceritakan oleh Tetua Gong Sun tak lain adalah kau. Hari ini kau sangat sial karena bertemu denganku, aku tidak akan melepaskanmu....

Mengikuti suara amarahnya, tubuhnya yang tinggi berputar ke depan Guan Ning, telapak tangan menyerang ke arah Guan Ning. Sejak kecil Wu Bu Yun sudah mempelajari ilmu silat dan mendapatkan ilmu turunan keluarganya yang tinggi. Walaupun di dunia persilatan dia bukan nomor satu, tapi ilmunya sudah berada di atas banyak pendekar, sekarang karena marah, angin kencang yang dilancarkan untuk menyerang, benar-benar membuat orang kaget.

Yi Jian Shen Jiu Zhou, Si Tu Wen, walaupun dia sangat terkenal karena selama berkelana dia selalu berlaku adil dan jujur. Guan Ning yang menjadi muridnya, walaupun sangat disayang oleh gurunya, tapi lantaran gurunya tidak mempunyai ilmu yang cukup tinggi, otomatis Guan Ning juga tidak bisa menguasai ilmu yang tinggi. Apalagi  yang disebut dengan ilmu silat, kecuali bila ada Ru Yi Qing Qian yang bisa membuat orang dengan jalan pintas menguasai ilmu silat tapi jika ingin menguasai ilmu silat yang tinggi dalam waktu 3 tahun, itu hanyalah sebuah mimpi.

Maka walaupun dalam beberapa bulan, Guan Ning sudah berlatih ilmu yang terdapat dalam Ru Yi Qing Qian dan mempelakari tenaga dalamnya, tapi dia tetap tidak bisa menahan serangan Wu Bu Yun yang sejak kecil memang telah belajar ilmu silat.

Telapak tangan Wu Bu Yun seperti memenuhi langit, telapaknya membawa angin kencang siap menindih Guan Ning.

Guan Ning merasakan ada angin yang begitu kencang, dia tidak bisa menahan. Dia memejamkan mata pasrah menerima pukulan yang dilontarkan kepadanya tapi karena badannya bergerak secara refleks, membuatnya tanpa terasa mundur lagi, dia bisa menghindari serangan yang dilancarkan begitu dasyat. Tapi sebelum dia menarik nafas dengan normal, serangan itu datang lagi.

Tadi Wu Bu Yun memecut Guan Ning dan dengan mudahnya Guan Ning menghindar, dia mengira Guan Ning hanya seorang angkatan baru. Dia sama sekali tidak tahu kalau tadi Guan Ning hanya asal-asalan.

Pada saat bertarung, walaupun dia masih muda tapi dia sudah berpengalaman dalam menghadapi musuh, dia sudah mengetahui sampai di batas mana kemampuan silat Guan Ning, karena itu dia yakin bisa dengan cepat memenangkan pertarungan ini.

Wu Bu Yun dan Gong Sun Zuo Zu mempunyai hubungan yang erat. Dari mulut Gong Sun Zuo Zu, dia mendengar cerita yang membuatnya ingin membunuh Guan Ning, karena itu dia tidak memberi ampun lagi.

Wu Bu Yun terus menyerang dan Guan Ning hanya bisa menghindar, hanya dalam waktu sekejap, mereka telah meninggalkan jalan dan sekarang berada di sawah yang padinya sudah dipanen. Padi yang sudah dipanen penuh salju dan belum mencair, membuat sawah itu menjadi sangat licin. Guan Ning tidak  bisa mengatur keseimbangan tubuhnya dan akhirnya dia terjatuh....

Langit mendung tiba-tiba berubah  menjadi gelap. Apakah ini melambangkan bahwa akan terjadi hal yang menyedihkan di dunia ini?

Langkah Wu Bu Yun mengikutinya dari belakang. Jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk seperti pedang dikeluarkan dari sarungnya lalu mengarah ke dada Guan Ning.

Tapi begitu telapak tangannya sampai di tengah- tengah, badan Guan Ning yang tadinya akan terjatuh tiba-tiba salto ke belakang.

Serangan Wu Bu Yun meleset lagi, tapi karena Guan Ning terjatuh tubuhnya sudah dikelilingi bayangan telapak, walaupun Guan Ning terus menghindar tapi karena dia sempat terjatuh, hal ini membuatnya sulit untuk menghindari serangan itu, palagi ilmu silat Guan Ning tidak sekuat dan sehebat Wu Bu Yun.

Wu Bu Yun tahu kalau Guan Ning tidak akan bisa lolos dari cengkramannnya lagi, karena itu serangan nya juga berubah menjadi sangat pelan. Tapi Guan Ning melihat ada telapak yang datang menyerangnya, dia malah membusungkan dadanya dan berkata, "Benar- benar orang licik!"

Wu Bu Yun terpaku. Guan Ning adalah orang yang sangat pintar, walaupun dia belum pernah bertarung tapi pada saat penentuan hidup dan matinya, semua kepintarannya membantunya mengambil keputusan dengan tepat. Serangan Wu Bu Yun sudah tidak bisa dihindari, dia malah menyambut serangan itu dan marah. Hal ini membuat Wu Bu Yun ingin dengan memenangkan pertarungan.

Guan Ning merasakan telapak tangan lawannya hampir mengenai dadanya, tapi ditarik kembali.  Dia melihat Wu Bu Yun yang sedang membentak, "Pada siapa kau marah?"

Guan Ning tertawa, "Kau kalah taruhan, tapi ilmu silatmu berada di atasku, sebenarnya kau  bisa membunuhku, mengapa. ”

"Mengapa kau tidak membunuhku? Kalau kau membunuhku, tidak akan ada orang yang tahu. Kau sudah kalah d ariku dan tidak ada orang lagi yang akan memaksamu untuk memenuhi taruhan ini.... Tuan adalah orang pintar, masa tidak tahu aku marah pada siapa?"

Guan Ning bukan orang yang takut mati, sejak dulu sampai sekarang, kematian terasa berat seperti Gunung Tai dan hujan seperti bulu begitu halus, jika untuk membela kebenaran dia harus mati, dia tidak perlu merasa takut, tapi sekarang dia merasa sia-sia mati di tangan Wu Bu Yun. Bukan saja tidak pantas juga tidak ada artinya?

Karena itu dia lalumengeluarkan kata- kata pedas, Wu Bu Yun kaget dan terpaku. Wajahnya menjadi merah, telapak tangannya juga pelan- pelan ditarik kembali. Guan Ning bertanya, "Mengapa serangan  telapak  Tuan  ditarik kembali. ”

Wu Bu Yun menghembus nafas, dia menjawab dengan gagah, "Perkataan dari mulut seorang laki- laki sejati berharga seperti emas, aku mengenal orang yang ada di dalam kereta Tuan, ilmu silatnya memang lebih tinggi Tetua Gong Sun Zuo Zu, karena itu apa yang kau inginkan, aku akan menepatinya."

Guan Ning benar-benar memuji sikap dan perilaku Wu Bu Yun sebagai seorang laki-laki sejati.

Terlihat Wu Bu Yun masih penuh dengan hawa membunuh dia berkata, "Ilmu silat Tetua Gong Sun memang tidak sekuat orang itu, tapi dia . adalah pendekar yang dihormati banyak orang, mana bisa disamakan dengan iblis itu. Aku. aku,

Wu Bu Yun benar-benar sangat ingin mengupas kulitnya lalu memakan dagingnya. ”

Hati Guan Ning bergetar, "Apakah pelajar berbaju putih itu memang iblis jahat? Apakah orang-orang yang berada di Wisma Si Ming dia yang membunuh semuanya?

HeehhL.Kau mengira kau adalah orang pintar dan jujur, dan selalu berhati tenang, sekarang kau malah membantu penjahat, malu jika bertemu dengan orang. ” Guan Ning merasa bingung.

Terdengar Wu Bu Yun berkata lagi, "Cepat katakan, apa yang kau inginkan. Aku akan membantumu melaksanakan keinginanmu kemudian aku akan membunuhmu serta iblis itu."

Guan Ning mengeluh di dalam hati, dengan teliti dia mengenang apa saja yang sudah terjadi. Kepercayaannya kepada pelajar berbaju putih sudah berkurang sebanyak 30%. Apa yang terjadi di Wisma Si Ming,, kembali dipikirkannya lagi dengan teliti. Tiba-tiba matanya terbuka dengan lebar dan menjawab, "Kalau Tuan sudah berkata seperti itu, Tuan benar-benar seorang laki-laki sejati, sekarang aku akan menyuruh Tuan untuk membawa tetua yang ada di dalam keretaku ke Gunung Miao Feng untuk mencari seorang tabib sakti dan mengobati lukanya, kemudian apa yang akan Tuan lakukan kepada iblis itu, tidak ada hubungannya lagi denganku."

Dari mulut Ling Ying, Guan Ning tahu  di Gunung Miao Feng disana tinggal seorang tabib. Dia bisa mengobati berbagai macam racun. Siapakah orang itu? Dimana dia berada? Bagaimana caranya dia bisa menemukan orang itu, serta meminta dia untuk mengobati racun  yang ada di tubuh pelajar berbaju putih. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana langkah- langkahnya.

Tapi Guan Ning telah bertekad apapun yang terjadi, dia tetap akan berusaha menawarkan racun yang ada di tubuh pelajar berbaju putih dan membantunya mengembalikan ingatannya.

Karena sudah bertekad kuat, dia segera mengatakan hal itu, tapi wajah Wu Bu Yun terlihat sudah berubah. Dengan perlahan dia berkata, "Aku lihat Tuan masih muda juga tampan serta mempunyai ilmu silat lumayan bagus, masa depan Tuan di dunia persilatan sangat cerah." Matanya melihat ke dalam kereta dan berkata, "Orang macam apakah Tetua yang ada di dalam kereta itu?"

Guan Ning melihat sorot mata pemuda itu penuh dengan kebencian, hati Guan Ning bergetar dibuatnya, dia menggelengkan kepala dan berkata, "Nama dan identitas Tetua itu saja aku tidak tahu."

"Tuan tidak mengenal orang itu, mengapa Tuan harus menolongnya?" Wu Bu Yun bertanya dengan dingin.

Dia terus menatap Guan Ning.

Guan Ning terpana cukup lama dan berpikir, tapi dia tidak bisa mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Guan Ning adalah pemuda yang senang menolong sesamanya, hatinya tidak sama dengan orang lain, dia tidak mengenal pelajar berbaju putih, dia bukan saudara juga bukan kenalan lama, tapi dia sudah berjanji bahwa dia akan membantu pelajar berbaju putih itu mengembalikan ingatannya, apalagi dia merasa kalau peristiwa di Wisma Si Ming banyak yang patut dicurigai, kecurigaan ini tidak terlihat dari luar dan dia yakin kalau pelakunya bukan pelajar berbaju putih.

Keputusan ini sebagian berasal dari perasaannya tapi juga disertai dengan bukti, apalagi di dalam pondokan itu tiba-tiba keluar pak tua kurus dan membunuh Nang Er. Cangkir yang tersimpan di atas meja di ruangan itu tiba- tiba saja menghilang.... semau ini membuatnya menjadi curiga.

Tapi kecurigaannya ini tidak bisa diungkapkan begitu saja, maka dia lebih memilih diam. Wu Bu Yun berkata lagi, "Apakah kau tahu apa saja yang telah dikerjakan oleh orang itu, tidak ada satupun yang masuk ke dalam kategori benar. Orang dunia persilatan begitu membencinya sampai ke tulang sumsum, tapi Tuan malah begitu baik kepadanya, jika hal ini diketahui oleh orang dunia persilatan, semua ini benar-benar tidak ada kebaikannya untuk Tuan. Waktu itu.... hei, hei, bukan nama Tuan saja yang akan tercemar, bahkan mungkin nyawa Tuanpun akan terancam—"

Mereka berdua sama-sama masih muda, sama- sama tampan, mereka juga merasa harus saling dinasehati. Dari mulut Gong Sun Zuo Zu, Wu Bu Yun mendengar penghinaan dan rasa marah Gong Sun Zuo Zu kepada Guan Ning. Wu Bu Yun mengira kalau Guan Ning telah bersekongkol dengan pelajar berbaju putih itu maka diapun berusaha menasehati Guan Ning. Tapi begitu dia melihat Guan Ning tampak kebingungan, dia hanya melihat langit seperti tidak mendengar kata-kata Wu Bu Yun. Tiba-tiba Guan Ning melihat Wu Bu Yun dan bertanya, "Kalau Tuan begitu tahu bagaimana kelakuannya, Tuan pasti tahu nama dan identitasnya?"

"Kelak Tuan pasti akan tahu nama dan identitasnya." Suara Wu Bu Yun penuh dengan kebencian. Rasa benci membuatnya sulit untuk mengatakan nama pelajar berbaju putih itu.

Guan Ning menghembus nafas dan berkata, "Walaupun Tuan tidak akan memberitahukan nama orang itu, aku tidak akan memaksanya, tapi Tuan sudah kalah taruhan maka itu Tuan mau tidak mau harus menepati perjanjian yang telah kita sepakati, yaitu pergi membawaku ke Gunung Miao Shan dan menemukan tabib sakti. Jika Tuan ingin pergi tanpa peduli, aku tidak akan melarang Tuan."

Guan Ning melihat Wu Bu Yun begitu membenci pelajar berbaju putih, maka dia merasa tidak pantas memaksa orang lain untuk melakukan hal yang tidak dikehendakinya.

Wu Bu Yun marah dan berkata, "Apakah Tuan tidak mendengar kata-kataku tadi?"

"Apa yang Tuan bicarakan tadi, aku telah mendengar semuanya, hanya saja aku sudah terlanjur berjanji dengan orang ini. Ceritanya sangat panjang, jika ada waktu aku pasti akan menceritakannya, jadi walau bagaimanapun aku harus tetap mengobati lukanya."

Sejak tadi Guan Ning tidak mau mengubah pandangannya, terpaksa Wu Bu Yun mendengar kata-katanya, karena itu Wu Bu Yun hanya bisa marah, kemudian kembali ke kereta sendiri dan lalu naik ke atas kereta.

Terlihat jalan dipenuhi salju itu, pada saat ditendang oleh Wu Bu Yun menjadi sebuah lubang besar. Wu Bu Yun menarik tali kereta dan kereta mulai berjalan. Guan Ning dengan cepat naik ke atas keretanya dan keretapun mulai berjalan.

Tiba-tiba di belakang terdengar suara Wu Bu Yun yang dingin, "Tuan mau pergi ke mana?"

Guan Ning balik bertanya, "Tuan sendiri akan pergi ke mana?"

Wu Bu Yun tiba-tiba turun dari keretanya dan memungut pecut yang tadi terjatuh, langkahnya ringan, gerakan tubuhnya juga ringan, dia kembali lagi ke atas kereta dan berkata, "Aku akan ke Miao Feng Shan."

"Apakah Tuan akan membawaku ke sana?" tanya Guan Ning.

Wajah Wu Bu Yun tampak datar, tapi sorot mata seperti sangat marah, dia membentak, "Apakah kau kira aku akan melanggar janjiku?"

Guan Ning melihat langit agak gelap, sepertinya akan turun hujan, karena itu dia segera memutar kereta mengikuti kereta Wu Bu Yun dari belakang. Terdengar Wu Bu Yun bersiul 2 kali, dua kereta berjalan beriringan, yang satu di depan dan yang lainnya di belakang. Siulan Wu Bu Yun penuh dengan kebencian dan tampaknya Guan Ning akan mengalami banyak kesulitan. Guan Ning berpikir, "Apakah dalam hati orang ini terdapat pikiran yang sulit diselesaikan?"

Udara terasa semakin dingin.

Walaupun jalan di sana lebar tapi jarang ada orang yang lewat, karena itu dua kereta bisa berjalan bersamaan-sama. Guan Ning melihat Wu Bu Yun tetap tidak bicara kepadanya, alisnya yang panjang tertutup oleh tepi topinya. Alis itu tampak berkerut.

"Apa yang sedang dipikirkannya? Apa yang kuminta darinya bukan masalah yang sulit untuk dilakukan."

Guan Ning terus berpikir. Wu Bu Yun berkata dengan dingin, "Miao Feng sudah tidak jauh dari sini, sebelum sampai disana aku harus memberitahukan beberapa hal kepadamu."

Dengan serius dan pelan dia mulai berkata, "Gunung Miao Feng adalah tempat di mana tinggal tabib sakti, tapi tempat itu seperti kandang harimau juga naga. Kita pergi ke sana, apakah keadaan aman atau tidak, sukses atau gagal masih sulit ditebak, hanya dengan modal ilmu  silat seperti itu saja kau ingin bertemu dengan orang ini, persoalan ini benar-benar lebih sulit daripada memanjat langit. Aku hanya memperkirakan kau hanya akan berhasil 30%, karena itu kau jangan menganggap enteng semua ini."

Guan Ning mengangguk, dia merasa aneh dan berpikir, "Biasanya seeorang tabib harus mempunyai hati menolong nyawa orang lain, mengapa dia bisa begitu berbahaya?"

Sepertinya Wu Bu Yun sedang menghembus nafas dan melihat gunung yang begitu besar dan gelap.

Dia berkata lagi, "Kau bukan orang persilatan, kau tidak akan mengerti meskipun dari luar, dunia persilatan terlihat begitu tenang, tapi di dalamnya ada gelombang besar yang mulai bergejolak, semua perkumpulan di dunia persilatan dan ketua-ketua perkumpulan yang jarang muncul, mereka sudah meninggalkan gunung dan keluar dari tempatnya. Apa sebabnya, kau pasti sudah mengetahuinya."

"Apakah karena peristiwa di Wisma Si Ming?" "Benar,"  jawab Wu Bu  Yun  dingin,  "Aku  harus

kasih   tahu   lagi  kepadamu,  orang  yang   ada  di

dalam keretamu sekarang menjadi pusat perhatian dunia persilatan. Tentang diri Tuan, juga menjadi orang yang ingin ditemui oleh orang-orang dunia persilatan, apalagi perkumpulan Luo Fu, Wu Dang, Shao Lin dan Tai Hang. Murid-murid mereka telah meninggal di Wisma Si Ming, mereka tidak akan melepaskanmu begitu saja." "Mengapa?" suara Guan Ning terdengar sedikit bergetar.

"Mengapa?" Wu Bu Yun mengulangi pertanyaan Guan Ning sambil tertawa kecut dan menjawab, "Semua orang dunia persilatan tahu kalau pesilat tangguh yang mati di Wisma Si Ming semua mati di tangan iblis yang sekarang berada di dalam keretamu, jangankan Shao Lin, Wu Dang yang berhubungan langsung dengan peristiwa ini, Kun Lun dan Tian Zhang, perkumpulan inipun karena peristiwa berdarah ini, mereka keluar untuk meminta keadilan. Sekarang daerah Chang Jiang dan Huang He, di kedua sungai itu menjadi tempat berkumpulnya orang persilatan, mereka akan meminta keadilaan karena peristiwa di Wisma Si Ming. Walaupun iblis yang ada di dalam keretamu berilmu silat tinggi, apakah dia bisa menahan gabungan semua orang dunia persilatan?" Dia tertawa tapi juga menghembuskan nafasnya.

"Kali ini aku membawamu ke Gunung Miao Feng hanya sekedar untuk mencari tabib sakti, jika hal ini diketahui oleh dunia persilatan, akupun akan sulit melarikan diri.... heehh! Di depan sana ada rumah makan, kita mampir ke sana dulu setelah itu baru naik ke Gunung Miao Feng, bagaimana menurutmu?"

Guan Ning mengikutinya dari belakang, dia terus memikirkan kata-kata Wu Bu Yun, bukan karena mendengar kata-kata Wu Bu Yun maka  dia menjadi takut, tapi yang dia khawatirkan adalah apakah dia bisa mengungkapkan rahasia Wisma Si Ming. Karena sampai saat ini dia semakin tenggelam ke dalam kabut yang tebal, sedikit bukti untuk mulai mencari tahu juga tidak ada, diam- diam dia berkata pada dirinya sendiri.

"Cangkir yang tiba-tiba saja menghilang itu sebenarnya siapa yang telah mencurinya? Di pondok itu tiba-tiba saja muncul pak tua, sebenarnya siapa pak tua itu? Di jembatan kecil pada saat aku menyeberang siapa yang telah menyerangku dengan senjata rahasia? Apakah E Mei Bao Nang? Pelajar berbaju putih itu kapan dan di mana telah terkena racun? Siapa yang telah meracuninya? Semua ini hanya pelajar berbaju putih saja yang bisa menjawab walaupun hanya sebagian, siapapun tidak akan bisa memberikan jawabannya tapi pelajar berbaju putih ini sudah hilang ingatan. Siapa namanya juga dia tidak  tahu." Dia menghembuskan nafas panjang. Mereka sudah sudah sampai di rumah makan, arak bisa membuat semua masalah sirna untuk sementara.

Dengan langkah besar diapun masuk ke dalam rumah makan itu, lalu dengan langkah tergopoh- gopoh dia keluar lagi, angin dingin menghembus tubuhnya, dia sudah tidak merasa dingin lagi. Wajah Wu , Bu Yun pun sudah berubah menjadi merah, mereka berdua mabuk di rumah makan kecil ini, dengan tidak bersuara mereka terus saja minum tapi sekarang perasaan mereka mulai bergejolak. Dua orang pemuda berbaju compang camping, mereka pasti tidak akan menarik perhatian orang. Wu Bu Yun merasa sangat senang, tapi bagi Guan Ning ini adalah pertama kalinya tidak dipedulikan orang lain. Karena itu sewaktu dia akan meninggalkan rumah makan, dia memberikan uang cukup banyak kepada pelayan, membuat pelayan itu merasa kaget hingga terpana. Sekarang dengan langkah besar dia berjalan menuju keretanya. Dia berkata, "Kakak Wu, tadi kau sudah menasehatiku dengan  beberapa kalimat. Sekarang giliranku yang bicara. ”

"Pertama, aku tidak tahu mengapa Tetua Gong Sun bisa terluka. ”

Wu Bu Yun menjawab, "Tetua Gong Sun terluka karena dia merasa sedih telah kehilangan saudara kembarnya, maka dia merasa marah dan dengan sekuat tenaga berusaha melawan iblis itu., tenaga dan nafasnya habis, ditambah lagi dengan adanya angin dingin yang menyerang tubuhnya,  karena hal inilah maka beliaupun roboh di gunung terpencil itu. Jika bukan secara kebetulan bertemu denganku, tetua yang selalu bersikap adil, lurus, dan mempunyai hati pendekar ini, pasti akan mati di tangan kalian."

Guan Ning tertawa terbahak-bahak, "Apa? Mati di ttangan kami.    hei, Kakak Wu, kau salah besar,

walaupun aku.... tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini, sekalipun orang yang ada di dalam keretaku berniat mengambil nyawa Gong  Sun  Zuo Zu, sejak awal dia pasti sudah mengambilnya tidak perlu menunggu sampai sekarang. ”

Wu Bu Yun mengerutkan dahinya. Dia ingin membantah. Guan Ning dengan cepat berkata lagi, "Aku harus bersulang dengan Kakak Wu, kelak  aku pasti bisa mencari kebenaran tentang semua persoalan ini dan membuktikan bahwa tetua yang ada di dalam keretaku tidak ada hubungannya dengan semua peristiwa ini.... aku ingin melihat bagaimana para tetua dunia persilatan menjawabnya."

"Kalau memang dia yang melakukannya, bagaimana?"

Tangan kanan memukul tangan kiri. Guan Ning berkata, "Kalau dia memang biang keladi  semua hal ini, aku akan membunuh dia untuk membalaskan dendam pendekar-pendekar dunia persilatan yang sudah mati."

Wu Bu Yun tertawa dingin, "Apa? Kau ingin membunuh dia. Hei, hei. Hei!"

Segera dia membalikkan badan  dan menjalankan keretanya, dia sama sekali tidak melihat ke arah Guan Ning lagi. Langit yang gelap dan udara yang terasa dingin, salju mulai turun.

(Oo-dwkz-lav-oO)