-->

Laron Penghisap Darah Bab 39 : Jui Gi berada di dalam perkampungan Ki po cay.

Bab 39: Jui Gi berada di dalam perkampungan Ki po cay.

Waktu itu dia sedang berada di tengah pepohonan di halaman belakang, mimik mukanya kelihatan sangat aneh, seolah ada yang sedang direnungkan.

Ketika seorang pelayan menyusul tiba dan berhenti dihadapannya, dia baru seolah tersentak kaget dan sadar dari lamunan.

"Ada apa?" tegurnya.

"Ada orang datang kemari mencari tuan" "Siapa yang mencari aku?"

"Aku!" jawaban nyaring berkumandang dari kejauhan sana.

Ketika Jui Gi menengok ke arah berasalnya suara itu, dia pun segera melihat Siang Huhoa, Siau-sin, Siau-tho, Ko Thian- liok, Nyo Sin dan Tan Piau sudah muncul disana.

Berubah hebat paras mukanya setelah melihat kehadiran orang orang itu, sahutnya kemudian:

"Rupanya Siang-ya yang datang mencari aku, ada urusan apa?"

"Ingin mengajukan pertanyaan kepadamu" "Tanyakan saja"

"Mengapa kau bunuh Liong Giok-po?"

Begitu pertanyaan tersebut diutarakan keluar, semua yang hadir disisinya jadi tertegun karena keheranan.

Berubah hebat paras muka Jui Gi, dia tertawa paksa sambil katanya:

"Siang-ya, aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu itu" "Jui Gi, aku berani bicara begini tentu saja karena sudah

kuperoleh bukti yang sangat kuat!" Kini Jui Gi tidak sanggup tertawa lagi, dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Kembali Siang Huhoa berkata:

"Kemarin malam, bukankah sewaktu ada diluar pintu kau sempat mendengar kabar kalau ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po telah punah?"

Jui Gi tetap membungkam.

Melihat orang itu tidak komentar, Siang Huhoa berkata lebih jauh:

"Ketika Ko thayjin mempersilahkan Liong Giok-po menginap di kamar tamu kantor pengadilan, kaupun sempat hadir disitu, hal ini tentu saja amat membantu pelaksanaan rencana busukmu itu"

Akhirnya Jui Gi mengangguk. "Benar!" sahutnya.

Dengan jawaban itu sama artinya dengan dia telah mengaku sebagai pembunuh Liong Giok-po.

"Seandainya kau tidak tahu kalau ilmu silatnya telah punah, beranikah kau turun tangan membunuhnya?" tanya Siang Huhoa lagi.

"Aku tidak berani"

"Aaai " Siang Huhoa menghela napas panjang, "tidak

disangka gara-gara sebuah perkataanku, selembar nyawa manusia telah melayang dengan sia sia!"

"Masih banyak hal yang tidak akan kau duga" jengek Jui Gi. "Kau bersedia memberitahukan kepadaku akan hal hal yang

tidak terduga itu?"

"Tidak bersedia" "Hmm, tidak bersedia pun tetap harus bersedia" timbrung Nyo Sin cepat.

"Oya?"

"Sekarang kau sudah tidak punya jalan lain " jengek

Nyo Sin lagi.

"Perkataan komandan Nyo keliru besar" sela Jui Gi sambil tertawa lebar, "berada dalam kondisi dan situasi sejelek apa pun, paling tidak bagi kita masih mempunyai sebuah jalan yang bisa ditempuh"

"Hmm, jalan apakah itu?" seru Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Jalan kematian!" begitu selesai bicara, tubuh Jui Gi sudah roboh terjengkang ke atas tanah.

Entah sejak kapan dalam genggaman tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati, dan sekarang pisau belati itu sudah dihujamkan ke atas ulu hati sendiri.

Sewaktu Jui Gi mengucapkan kata "mati" tadi, sebenarnya Siang Huhoa sudah melambung ke udara dan melayang turun persis disisi tubuh Jui Gi.

Semua gerakan tubuhnya dia lakukan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya!

Sayang ketika Jui Gi mengucapkan kata "mati" tadi, ujung pisau belatinya sudah dihujamkan menembusi dadanya.

Menyaksikan tubuh Jui Gi yang roboh terkapar ditanah, Siang Huhoa hanya bisa gelengkan kepala sambil menghela napas panjang, katanya:

"Sebenarnya kau adalah seorang pembantu yang sangat baik dan setia, sayang kau telah menggunakan kematian untuk membungkam mulutmu sendiri " Sementara itu Ko Thian-liok sudah menatap wajah Siang Huhoa sambil bertanya:

"Siang-heng, atas dasar apa kau begitu yakin kalau pembunuh Liong Giok-po adalah dia?"

"Bila orang tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po sudah punah, siapa yang begitu bernyali berani membunuhnya didalam kantor pengadilan?" Siang Huhoa balik bertanya.

"Aku percaya tidak bakal ada"

"Hingga sekarang, punahnya ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po merupakan satu rahasia yang amat besar" kata Siang Huhoa lebih jauh, "kalau tidak, entah sudah berapa ribu kali dia mati dibantai orang, kalau memang ada yang menginginkan nyawanya, kenapa orang itu tidak turun tangan sebelum kubongkar rahasia besar itu? Padahal ketika kita singgung soal rahasia punahnya ilmu silat Liong Giok-po, selain kalian yang hadir disini, hadir pula Jui Gi. Maka aku segera simpulkan bahwa orang yang paling mencurigakan adalah dia!"

"Betul" Ko Thian-liok membenarkan juga, "sewaktu aku usulkan Liong Giok-po menginap di kantor pengadilan, saat itu Jui Gi juga hadir disampingku"

"Nah itulah dia, berdasarkan dua hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau dialah pembunuhnya, betul perbuatannya memang kebangetan, tapi aku rasa pengalamannya kelewat cetek sehingga belum apa apa sudah salah tingkah sendiri"

"Berarti dia bunuh diri lantaran ketakutan?"

"Bagaimana pun juga dia memang tidak pengalaman dalam hal seperti ini, padahal selama dia pungkiri perbuatan itu, kita pun tidak bisa berbuat apa-apa"

"Satu titik terang telah mati gara-gara ketakutan, kita jadi kehilangan jejak lagi " keluh Ko Thian-liok. "Belum tentu begitu!" tukas Siang Huhoa, sambil berkata dia membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi dari situ.

"Apa rencanamu sekarang?" tanya Ko Thian-liok kemudian. "Pergi ke tempat kedua, mencari orang kedua!"

"Tempat ke dua itu berada dimana?" "Penginapan Hun-lay!"

"Siapa yang kau cari kali ini?"

"Si Siang-ho!" jawab Siang Huhoa sepatah demi sepatah. 0-0-0

Tidak selang berapa saat kemudian, rombongan itu sudah tiba didepan rumah penginapan Hun-lay.

Siang Huhoa segera maju ke depan pintu dan mulai mengetuk keras keras.

"Siapa?" seseorang menjawab, suaranya aneh dan serak basah, jelas suara dari Si Siang-ho.

"Aku, Siang Huhoa!"

Pintu segera dibuka orang, Si Siang-ho menongolkan kepalanya dari balik pintu. Bau arak yang sangat kuat segera menerpa wajah Siang Huhoa.

Si Siang-ho muncul dengan tangan kanan memegang sebuah guci arak, lagi-lagi dia meneguk arak.

Siang Huhoa tidak melakukan apa pun, dia hanya menatap wajah orang itu lekat lekat.

Si Siang-ho dengan matanya yang penuh rona merah balas menatap wajah Siang Huhoa, mendadak dia tertawa lebar dan menegur: "Hahahaha rupanya memang Siang tayhiap, apakah

datang untuk mengambil bunga itu dan mau dibawa pulang ke perkampungan selaksa bunga?"

"Tidak, aku datang untuk mencari orang!" jawab Siang Huhoa sambil menggeleng.

"Mencari siapa?"

"Seorang sahabat lamaku!"

"Tapi disini hanya ada aku seorang"

"Benar, karena orang yang sedang kucari adalah kau" "Lalu mengapa kau mengatakan aku adalah sahabat

lamamu?" tanya Si Siang-ho dengan wajah keheranan. "Sekarang memang sudah bukan sahabatku lagi" "Berarti dulu aku adalah sahabatmu?"

"Saudara Jui!" tegur Siang Huhoa dengan wajah membesi, "keadaan sudah berkembang jadi begini rupa, apakah kau masih ingin berlagak terus?"

Panggilan "saudara Jui" yang meluncur keluar dari mulut Siang Huhoa seketika membuat seluruh jago yang hadir di arena jadi tertegun.

Mimik wajah Si Siang-ho kelihatan berubah jadi aneh sekali, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sambil menatap tajam wajah orang itu kembali Siang Huhoa berkata:

"Topeng kulit manusia yang kau kenakan itu akan kau lepas sendiri atau aku yang melepaskan untukmu?”

Lama sekali Si Siang-ho menatap wajah lawannya, sesaat kemudian dia baru berseru lantang:

"Siang Huhoa, ternyata kau memang lihay!" Bersama dengan selesainya perkataan itu, kulit wajah Si Siang-ho mendadak retak jadi berapa bagian kemudian mengelupas selembar demi selembar.

Walaupun berada disiang hari bolong, namun kejadian ini membuat perasaan hati semua orang jadi bergetar keras, tidak terkecuali Siang Huhoa.

Setelah kulit wajah yang lama mengelupas semua, kini muncullah selembar wajah yang lain!

Si Siang-ho segera membersihkan sisa sisa kulit wajah lamanya yang belum mengelupas, ketika semua kotoran sudah bersih maka muncullah raut muka aslinya.

Wajah orang itu sangat dikenal oleh semua yang hadir kecuali Siau-sin dan Siau-tho, tidak heran kalau semua orang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Tentu saja Siang Huhoa terkecuali, ketika dia tatap wajah orang itu, mimik mukanya nampak berubah jadi amat kalut, entah dia sedang merasa sedih atau pedih atau marah?

Tidak ada yang bicara, suasana terasa amat hening, amat sepi, seakan akan dengus napas semua orang turut berhenti.

Sampai lama kemudian Ko Thian-liok baru berbisik lirih, suaranya mirip orang merintih:

"Jui Pak-hay!"

Ternyata orang yang menyebut dirinya sebagai Si Siang-ho itu tidak lain adalah penyaruan dari Jui Pak-hay!

Kenyataan ini betul betul membuat siapa pun merasa tidak percaya.

Sambil menatap wajah Jui Pak-hay lekat lekat tanya Nyo Sin lirih:

"Bukankah kau sudah mati?" Jui Pak-hay sama sekali tidak menggubris Nyo Sin, dia hanya menatap wajah Siang Huhoa tanpa berkedip, mendadak ujarnya sambil tertawa:

"Baru hari ini kau berhasil membongkar penyamaranku?" "Benar!" Siang Huhoa sama sekali tidak menyangkal. "Apakah aku telah memperlihatkan titik kelemahan yang

mendatangkan kecurigaanmu?"

"Padahal sejak permulaan kau sudah menunjukkan banyak kelemahan"

"Di mana?"

"Dalam keempat belas gulung lukisan yang menceritakan kisahmu"

"Oya?"

"Apakah kau masih ingat apa warna dari ke empat belas gulung lukisanmu itu?"

"Hijau pupus"

"Benar" Siang Huhoa segera menambahkan, "kertas berwarna hijau pupus dengan kedua ujungnya diberi tali kuncir berwarna merah"

"Apa salahnya dengan warna warna itu?"

"Apa warna mata dan sayap dari Laron Penghisap darah?" "Matanya berwarna merah, sayapnya berwarna hijau" "Itulah dia, biasanya orang yang takut dengan tikus akan

sangat muak menghadapi warna yang mirip dengan tikus.

Padahal kau amat membenci Laron Penghisap darah, kaupun takut dengan kawanan Laron Penghisap darah, tapi mengapa kau justru memilih warna yang mirip dengan Laron Penghisap darah untuk gulungan kertas catatanmu itu? Maka dari itu sejak awal aku sudah curiga akan kebenaran dari semua isi catatanmu itu"

"Ehm, pengamatanmu amat teliti" gumam Jui Pak-hay. "Kalau begitu di dunia ini memang benar-benar tidak ada

siluman laron bukan?" timbrung Nyo Sin tidak tahan.

"Dalam benak kita bisa muncul gambaran dan bayangan tentang siluman laron karena semuanya ini terpengaruh oleh isi catatan yang dia tulis dalam gulungan kertas itu, padahal catatan tersebut merupakan rekayasa dia" Siang Huhoa menerangkan.

"Oooh "

"Tidak bisa disangkal dia memang sangat berbakat untuk menulis cerita dongeng, dia pun sangat berbakat membunuh orang" lanjut Siang Huhoa, "dengan sekali timpukan dia telah membunuh lima ekor burung, coba bayangkan, siapa lagi yang bisa menciptakan peluang sehebat dia?"

Setelah menghela napas panjang katanya lagi:

"Sampai seluruh harta karun yang ada dalam ruang rahasia itu hilang tercuri, aku baru mulai curiga bahwa dia sesungguhnya belum mati"

"Apa alasanmu berpikiran demikian?" tanya Nyo Sin lagi. "Kecuali dia, siapa lagi yang bisa mempergunakan alat

perangkap dalam ruang rahasia itu sekehendak hati sendiri?

Siapa lagi yang bisa mengangkut keluar seluruh harta karun itu selain dia?"

Nyo Sin segera manggut-manggut, tapi sebentar kemudian katanya lagi sambil menggeleng:

"Tadi kau bilang sekali timpuk dapat lima ekor burung, apa maksud perkataan itu? Aku tidak mengerti" "Semalam, aku harus peras otak semalaman suntuk sebelum berhasil memahami semua persoalan yang telah terjadi, sekarang aku hanya bisa mengutarakan semuanya berdasarkan analisaku, bila keliru tolong bisa diralat"

Jelas perkataan yang terakhir itu ditujukan kepada Jui Pak- hay karena sorot matanya telah dialihkan ke wajah orang itu.

Namun Jui Pak-hay tidak memberikan pernyataan apapun. 0-0-0

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Siang Huhoa baru melanjutkan kembali perkataannya:

"Kisah ini harus dimulai dari kejadian pada tiga tahun berselang, waktu itu kami empat belas orang sahabat karib berhasil merampas harta karun Kim tiau beng dari tangan Liong Giok-po dan komplotannya, sebenarnya kami sudah berjanji sejak awal akan menukar harta karun itu dengan ransum untuk menolong kaum miskin dan rakyat jelata yang tertimpa musibah banjir di sepanjang sungai Huang-ho, siapa tahu begitu aku pergi meninggalkan tempat itu, sahabat karibku ini ternyata mengangkangi sendiri seluruh harta karun itu, secara diam diam dia bawa kabur seluruh mestika itu"

Setelah menghela napas panjang, katanya lagi: "Persoalan inilah yang menyebabkan hubungan

persahabatan kami berdua menjadi retak dan memburuk" "Bagaimana kemudian?" tanya Ko Thian-liok.

"Aku sih tidak apa apa, paling tidak gara-gara kejadian ini aku berhasil mengetahui watak asli dirinya, berbeda dengan Liong Giok-po dan komplotannya, mereka tidak mau menyudahi persoalan tersebut dengan begitu saja, tidak lama kemudian Liong Giok-po berhasil melacak hingga ke tempat tinggalnya"

"Benar" Jui Pak-hay membenarkan.

"Liong Giok-po saja dapat melacak hingga menemukan titik terang, apalagi bagi manusia cerdas macam kau, mana mungkin kau tidak menyadari akan kejadian ini?" ujar Siang Huhoa lebih jauh, "akhirnya kau mengambil keputusan untuk mendahului turun tangan, diam-diam kau bantai Wan Kiam- peng"

0-0-0