Laron Penghisap Darah Bab 38 : Rahasia dibalik surat wasiat.

Bab 38: Rahasia dibalik surat wasiat.

Untung reaksi dari Siang Huhoa amat cepat, tidak sempat lagi mencabut pedangnya, buru-buru dia dorong tubuh Ko Thian-liok ke samping. Waktu itu Ko Thian-liok masih berdiri tertegun disamping Siang Huhoa, dorongan tersebut kontan saja membuat tubuhnya mencelat sejauh satu kaki.

Sedikit banyak Ko Thian-liok pernah belajar silat, walaupun dorongan itu membuat badannya mundur terhuyung, paling tidak dia tidak sampai jatuh terjerembab.

Begitu selesai mendorong tubuh Ko Thian-liok tadi, hampir pada saat yang bersamaan Siang Huhoa turut mengigos ke samping.

Pada saat itulah dengan kecepatan luar biasa sang "setan" itu menerobos lewat melalui antara tubuh mereka berdua dan langsung menerkam ke arah Nyo Sin yang berada persis di belakang ke dua orang itu.

Orang pertama yang melihat kemunculan "setan" itu adalah Nyo Sin, orang pertama yang meneriakkan kata "setan" juga Nyo Sin, tapi sekarang setelah setan itu menerjang ke arahnya, ternyata dia masih berdiri mematung, apakah dia sudah ketakutan setengah mati hingga tidak sanggup bergerak lagi?

Dalam waktu singkat "setan" itu sudah menerkam keatas tubuhnya, dengan sekali sambaran tangan setan itu sudah mencekik lehernya.

Sebuah tangan yang amat dingin dan membeku, sebuah tangan yang seolah tidak punya kehangatan darah bahkan membawa bau busuk yang luar biasa.

Nyo Sin betul betul sudah pecah nyali, saat ini kendatipun dia tidak sampai jatuh pingsan namun seluruh tubuhnya sudah lemas tidak bertenaga, dia cuma bisa duduk terpekur ditanah dengan tubuh amat lemas.

"Setan" itu tidak berhenti begitu saja, dia tetap menindih diatas badannya bahkan wajah setannya yang berbau busuk itu nyaris menempel diatas wajah Nyo Sin. Bau busuk semakin menusuk hidung bahkan membuat perut semakin mual rasanya.

Selang berapa saat kemudian Nyo Sin baru dapat menguasahi diri, sekarang dia sudah dapat melihat jelas wajah setan itu.

"Tu Siau-thian!" jeritnya lengking.

Sekalipun wajah setan itu sangat menyeramkan, namun dia masih dapat mengenalinya sebagai wajah dari Tu Siau-thian.

Ternyata "setan" itu tidak lain adalah Tu Siau-thian!

Belum selesai Nyo Sin menjerit kaget, setan Tu Siau-thian sudah melambung lagi dari atas tubuhnya.

Tubuh itu benar benar melambung ke udara, bukan merangkak bangun, apalagi bangkit berdiri.

Nyo Sin semakin ketakutan, sambil menjerit jerit seperti babi yang mau disembelih dia berguling bercampur merangkak berusaha kabur dari situ, tapi beberapa kali baru merangkak setengah jalan, tubuhnya terjerembab lagi ke tanah.

Saat ini seluruh tulang belulangnya nyaris sudah menjadi lemas semua, jangankan merangkak, bau bangkit pun sudah tidak mampu.

Untung saja setelah melambung ke udara, setan itu tidak menerjang lagi ke arahnya.

Sebenarnya setan dari Tu Siau-thian itu bukan melambung sendiri ke udara, tapi tubuhnya dibetot orang dari belakang dan mengangkatnya ke atas.

Kecuali Siang Huhoa, tentu saja tidak ada orang kedua yang mempunyai keberanian sebesar ini.

Ko Thian-liok merasa kagum sekali dengan keberanian orang itu, tanpa terasa pujinya:

"Nyali mu benar benar amat besar" Siang Huhoa tidak menanggapi pujian itu sebaliknya malah bertanya:

"Coba perhatikan, benarkah tubuh ini adalah mayat dari Tu Siau-thian?"

Ko Thian-liok segera manggut-manggut.

Sekarang mereka sudah dapat melihat dengan lebih jelas lagi, Tu Siau-thian tidak berubah jadi setan, tubuh yang meluncur datang itu tidak lebih hanya mayat dari Tu Siau- thian.

Raut muka mayat itu sudah mulai membusuk dan banyak kulit wajahnya mulai mengelupas, tapi mereka semua masih dapat mengenalinya dengan jelas, dia memang Tu Siau-thian.

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali kata Ko Thian- liok kemudian:

"Tidak kutemukan sebab kematiannya"

"Aku pun tidak menemukan sebab musababnya" ujar Siang Huhoa pula sambil mengerutkan hidungnya.

Kondisi mayat Tu Siau-thian memang amat mengenaskan, dari seluruh badannya, hanya kondisi wajahnya yang sedikit lebih mending.

Walaupun dikatakan mending kondisinya, sesungguhnya raut muka itu sudah tidak mirip wajah seorang manusia, bukan saja sudah mulai membusuk, banyak kulit dan dagingnya mulai mengelupas, wajah itupun nampak putih pucat, kelopak matanya cekung ke dalam sementara biji matanya menonjol keluar, lamat lamat dari balik biji matanya yang suram terpancar perasaan benci dan dendam yang luar biasa.

Kecuali raut wajah itu, nyaris seluruh badan Tu Siau-thian sudah tidak memiliki sekerat daging pun yang utuh. Mengawasi kondisi mayat ini, tanpa terasa Siang Huhoa turut bergidik.

Perlahan lahan dia mengalihkan sorot matanya ke tangan kiri Tu Siau-thian, dia tidak menjumpai darah dibagian tubuh lainnya, tapi tangan kiri itu justru berdarah.

Biarpun cairan darah itu sudah membeku namun masih memancarkan sinar darah yang merah menyala, bahkan terendus bau busuk yang sangat aneh.

Tangan itu berada dalam posisi mengepal, mengepal dengan kencangnya, dia seolah sedang menggenggam sebuah benda.

Terdorong rasa ingin tahu yang sangat kuat, Siang Huhoa segera membuka genggaman tangannya itu.

Ternyata dibalik genggaman tangan kirinya itu terdapat sebuah benda, seekor bangkai laron!

Sayap yang berwarna hijau pupus dengan mata yang merah darah.

Laron Penghisap darah!

Tapi kini kondisi laron itupun dalam keadaan hancur, hancur karena genggaman yang sangat kuat.

Untuk pertama kalinya paras muka Siang Huhoa berubah hebat.

Dalam pada itu Yau Kun sudah menarik tangan Nyo Sin dan membangunkan tubuhnya dari atas tanah.

Tapi begitu mereka saksikan bangkai Laron Penghisap darah yang berada dalam genggaman mayat Tu Siau-thian, paras muka mereka berdua pun berubah hebat, tidak kuasa lagi mereka menjerit keras:

"Laron Penghisap darah!" "Sekarang aku bisa menduga ke mana hilangnya cairan darah yang berada dalam tubuhnya" kata Ko Thian-liok sambil tertawa pedih.

"Apakah kau beranggapan darah itu dihisap semua oleh Laron Penghisap darah?"

"Apakah kau mempunyai penjelasan yang lain?" "Tidak ada" Siang Huhoa menggeleng.

"Kawanan Laron Penghisap darah itu pasti mempunyai rahasia yang lain dan rahasia tersebut berhasil dia bongkar, karena ketahuan maka dia pun berubah jadi begini"

"Ehmm benar, aku rasa begitulah kejadiannya"

"Tapi ada berapa hal yang tidak kupahami" ujar Ko Thian- liok lagi.

"Katakan saja"

"Jelas sudah Tu Siau-thian sudah mati!" "Bahkan dia sudah mati lama sekali!"

"Kenapa dia bisa muncul dari ujung lorong dan menerjang kemari dengan kecepatan luar biasa?"

"Kalau ada orang memegangi dari punggungnya, tentu saja dia bisa bergerak dengan cepat" sahut Siang Huhoa tanpa ragu.

"Jadi maksudmu di ujung lorong sana masih ada orang lain?"

"Aku rasa inilah penjelasan yang paling bisa masuk diakal" "Ehmm, benar, memang masuk diakal" Ko Thian-liok

manggut manggut, dia segera memberi tanda, "ayoh kita

geledah!" "Aku rasa tidak perlu digeledah lagi" cegah Siang Huhoa sambil menarik lengannya, "sekalipun analisaku benar seperti kenyataan, aku yakin saat ini dia sudah kabur ke ujung dunia"

"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" Siang Huhoa berpikir sejenak, kemudian ujarnya:

"Lebih baik kita hantar dulu jenasah Tu Siau-thian agar bisa dilakukan autopsi, aku berharap dengan dilakukan bedah mayat maka bisa kita telusuri sebab kematiannya yang sebenarnya"

"Kemudian kita baru melacak jejak Tu Siau-thian tempo hari?" sambung Ko Thian-liok.

"Benar, dan aku harap semua laporan bisa dihantar ke dalam penjara" Siang Huhoa menambahkan lagi.

Selesai berkata dia membaringkan kembali jenasah Tu Siau-thian lalu beranjak dari situ dengan langkah lebar.

"Kau akan masuk penjara sekarang juga?" teriak Ko Thian- liok.

Sekali lagi Siang Huhoa menghela napas.

"Kalau tidak, apa lagi yang harus kutunggu?" jawabnya.

Ko Thian-liok ikut menghela napas sambil menyusul dari belakang.

0-0-0

Matahari sudah berada ditengah udara, kini tengah hari sudah menjelang tiba.

Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam langit langit penjara, menyinari persis diwajah Siang Huhoa. Akhirnya Siang Huhoa membuka matanya dan bangun terduduk, sekarang semangat dan tenaganya telah segar kembali.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang ribut berkumandang datang dari luar penjara, mendengar itu Siang Huhoa segera berjalan menuju ke pintu penjara.

Berbareng dengan berhentinya suara langkah kaki itu, terdengar suara gembokan pintu dibuka orang.

Tidak selang berapa saat kemudian empat orang sudah muncul di depan pintu.

Ko Thian-liok, Nyo Sin, Yau Kun dan Tan Piau! Mereka berdiri dengan wajah serius.

Begitu bertemu Siang Huhoa, Ko Thian-liok segera menegur:

"Saudara Siang sudah bangun?"

"Darimana kau tahu kalau aku sudah tertidur dalam penjara?" sahut Siang Huhoa sambil tertawa.

"Aku hanya menduga" meskipun jawaban itu agak santai namun tidak bisa menutupi ketegangan dan keseriusan yang mencekam wajahnya.

"Sudah terjadi peristiwa besar?" tanya Siang Huhoa. "Benar!"

"Peristiwa apa yang telah terjadi?" "Pembunuhan berdarah!"

"Siapa korbannya?" desak Siang Hu-hoa. "Liong Giok-po!"

"Tewas di mana? Dalam kamar tamu kantor pengadilan?" "Benar!" "Cepat bawa aku ke sana!" teriak Siang Huhoa lantang.

Begitu selesai berkata, dia sudah menerjang keluar dari pintu penjara.

Betapa pun cepatnya Siang Huhoa memburu ke tempat kejadian, hal itu tidak ada gunanya, meski dia pun mengerti ilmu pertabiban, sayang kepandaiannya terbatas, dia tidak punya kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati.

Jangankan dia, seandainya tabib sakti Hoa Tuo hidup kembali pun belum tentu dia bisa menghidupkan Liong Giok- po.

Sebab Liong Giok-po sudah seratus persen menjadi mayat, mayat yang sudah membeku sejak berapa jam berselang.

Sebilah pisau belati menancap diatas ulu hatinya, sebilah pisau belati yang amat sederhana dan umum, tidak ada keistimewaan apa pun.

Dengan wajah tertegun Siang Huhoa mengamati pisau belati itu tanpa berkedip, dalam waktu sekejap dia seakan telah berubah menjadi sesosok boneka kayu yang tidak bernyawa.

Suasana hening mencekam seluruh ruangan, entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Yau Kun yang pertama kali tidak dapat menahan diri, tegurnya:

"Tuan Siang, apa yang berhasil kau temukan?"

Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya: "Petugas autopsi sudah melakukan pemeriksaan atas mayat

ini?"

"Sudah!"

"Menurut analisa mereka, dia sudah mati berapa lama?" "Menurut perkiraan, peristiwa itu terjadi kemarin malam" "Semalam apakah ada orang yang mendengar suara yang mencurigakan?"

"Tidak ada"

"Memang mudah sekali bila ingin membunuh orang ini" ujar Siang Huhoa kemudian, setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Semestinya aku harus menduga sampai ke situ"

Ko Thian-liok, Yau Kun, Tan Piau serta Nyo Sin hanya bisa saling berpandangan dengan sorot mata keheranan, mereka tidak habis mengerti apa maksud perkataan itu.

Siang Huhoa tidak menggubris rasa heran orang orang itu, kembali tanyanya:

"Bagaimana hasil autopsi atas mayat Tu Siau-thian? Apakah berhasil menemukan sesuatu?"

"Mereka tidak berhasil menemukan penyebab kematiannya" sahut Yau Kun cepat, "tapi dari balik sepatunya ditemukan selembar daun dan dua kuntun bunga kecil"

"Bawa kemari!"

Dari dalam sakunya Yau Kun mengeluarkan sebuah bungkusan kertas.

Setelah menerima bungkusan tersebut, Siang Huhoa segera membukanya, ternyata benar juga, isi bungkusan itu adalah daun berwarna hijau pupus dengan bunga kecil berwarna kuning.

Dia merasa tidak asing dengan bunga dan daun tersebut, karena daun dan bunga kuning itu pernah dijumpai di halaman belakang rumah penginapan Hun-lay.

Dengan sepasang mata berbinar tanyanya lagi:

"Sudah diketahui jejak yang dilalui Tu Siau-thian tempo hari?" "Tidak terlalu jelas, hanya diketahui dia pernah lewat di pintu gerbang kota sebelah timur"

"Kota timur!" Siang Huhoa nyaris melompat ke atas. "Benar, kota timur!"

"Ada apa dengan kota timur?" tidak kuasa Ko Thian-liok turut bertanya.

Siang Huhoa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata:

"Ayoh ikut aku pergi ke suatu tempat dan menjumpai seseorang"

"Ke mana?" "Perkampungan Ki po cay!"

"Mencari siapa?" tanya Ko Thian-liok lagi. "Jui Gi!"

Selesai bicara dia langsung menerjang keluar dengan kecepatan tinggi, Ko Thian-liok berempat tidak mau ketinggalan, cepat cepat mereka mengikuti di belakangnya.

Baru keluar dari pintu kantor pengadilan, dua ekor kuda yang dilarikan kencang telah menerjang tiba.

Ke dua orang penunggang kuda itu tidak lain adalah Siau- tho dan Siau-sin.

Begitu melihat kedatangan dua orang gadis itu, Siang Huhoa segera berseru keras:

"Tepat waktu kedatangan kalian berdua"

Sepak terjang dan gerak geriknya saat ini tidak berbeda dengan orang sinting.

Sebelum Siau-tho dan Siau-sin mengucapkan sesuatu, kembali Siang Huhoa telah berteriak keras: "Kalian telah bertemu dengan Thio Kian-cay?" "Sudah, kami sudah bertemu" jawab Siau-sin. "Dan dia kenal dengan jenis bunga itu?" Sekali lagi Siau-sin mengangguk.

"Apa yang dia katakan?" desak Siang Huhoa lebih jauh.

"Semuanya sudah tertulis dalam surat ini" sahut Siau-sin sambil mengambil keluar sepucuk surat dari sakunya.

"Bawa kemari!" sambil berseru Siang Huhoa segera merebut surat itu.

"Cengcu, duduklah dulu kemudian baru pelan-pelan dibaca isi surat itu" bujuk Siau-sin.

"Tidak, tidak usah, kita sambil berjalan sambil membaca" dia langsung merobek sampul surat dan mengeluarkan isinya.

"Cengcu, kita akan ke mana sekarang?" buru-buru Siau-sin bertanya.

"Perkampungan Ki po cay!" jawab Siang Huhoa tanpa berpaling.

Sementara pembicaraan berlangsung, dia telah selesai membaca isi surat tersebut, sekulum senyuman segera tampil diujung bibirnya.

Apa isi surat itu?

0-0-0