Laron Penghisap Darah Bab 37 : Bayangan teror muncul kembali.

Bab 37: Bayangan teror muncul kembali.

"Kalau keadaannya semacam itu, kenapa aku mesti takut masuk bui" ujar Siang Huhoa lagi sambil tertawa.

Siau-sin tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kami berdua adalah komplotanmu, apakah kami pun harus ikut masuk penjara?" tiba-tiba Siau-tho bertanya. "Tentu saja harus masuk semua " seru Nyo Sin tanpa

sadar.

Belum selesai dia berkata, Ko Thian-liok sudah menukas duluan:

"Hingga sekarang kita masih belum menemukan bukti apa pun, aku rasa bila saudara Siang enggan masuk bui, kau memang tidak perlu ke situ, apalagi ke dua orang nona ini"

"Ooh, rupanya kaulah Ko thayjin" sapa Siau-tho sambil berpaling ke arah pejabat itu.

"Benar"

"Dalam sekilas pandang saja aku sudah tahu kalau kau memang seorang pejabat yang baik" puji Siau-tho sambil tertawa.

Ko Thian-liok jadi sangat kikuk dibuatnya. Kembali Siau-tho berkata sambil tertawa:

"Kamipun ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya masuk penjara, apakah tayjin mengijinkan kami berbuat begitu?"

"Bagus sekali kalau memang rela masuk penjara sendiri!" seru Nyo Sin cepat sebelum Ko Thian-liok sempat menjawab.

Siau-tho sama sekali tidak menggubris ocehan pembesar itu, sorot matanya hanya tertuju ke wajah Ko Thian-liok seorang.

"Kalian ingin melayani cengcu?" tanya Ko Thian-liok kemudian.

Siau-tho dan Siau-sin serentak mengangguk.

"Kalau soal itu mah tidak menjadi masalah, yang aku kuatirkan justru kalian tersiksa karena hal tersebut"

"Kami tidak tidakut" "Aku rasa ada baiknya kalian bertanya dulu kepada cengcu kalian"

"Tidak usah ditanya lagi, cengcu pasti setuju " tukas

Siau-tho sambil tertawa.

Belum selesai dia berkata, Siang Huhoa sudah memotong sambil tersenyum:

"Dugaanmu justru keliru"

"Cengcu......." seru Siau-tho dan Siau-sin serentak. "Tidak usah banyak bicara lagi" tukas Siang Huhoa sambil

beranjak pergi.

Siau-tho dan Siau-sin segera mengikuti di belakangnya, sementara Nyo Sin dan Liong Giok-po juga tidak mau kalah, mereka turut membuntuti dari belakang, hanya Ko Thian-liok, Yau Kun dan Jui Gi yang berjalan dipaling belakang.

Sepanjang perjalanan Siang Huhoa tidak berkata apa-apa, tapi dia tertawa terus, senyumannya kelihatan aneh dan membingungkan.

Siau-tho dan Siau-sin tidak mau menyerah dengan begitu saja, mereka membuntuti terus sambil merengek, namun kecuali tertawa, Siang Huhoa sama sekali tidak memberi pernyataan apapun.

Setelah keluar dari pintu gerbang perkampungan Ki po cay, Siang Huhoa masih juga tertawa tiada hentinya.

Akhirnya Siau-tho tidak dapat mengendalikan diri, segera tegurnya:

"Sebetulnya apa yang sedang kau tertawakan?"

Siang Huhoa tetap membungkam, namun tertawanya makin menjadi. "Kalau ada masalah yang menggelikan, kau semestinya mengutarakan keluar, agar kami pun ikut gembira" pinta Siau- tho.

"Betul" seru Siau-sin pula, "masalah apa sih yang tidak boleh kami tahu?"

"Bukan, bukan begitu" akhirnya Siang Huhoa berkata seraya menggeleng.

"Lalu persoalan apa yang membuatmu begitu gembira?" "Siapa bilang aku gembira?"

"Tapi kau tertawa terus"

Siang Huhoa segera menarik kembali senyumannya dan berkata:

"Aku terpaksa hanya tertawa karena aku pun tidak tahu mimik muka macam apa yang mesti kutampilkan sekarang selain tertawa"

Setelah menghela napas panjang, tambahnya: "Sekarang, kepalaku betul betul pusing sekali"

"Lantaran masuk penjara maka kau pusing?" tanya Siau- sin.

"bukan, masuk penjara sebenarnya merupakan kemauanku sendiri"

"Lantas karena apa?"

"Aku butuh sebuah tempat yang tenang untuk bisa beristirahat dengan tenang"

"Kamipun butuh tempat semacam itu"

"Kenapa kau melarang kami berdua untuk melayanimu?" seru Siau-tho pula dari samping.

"Kalau ada kalian berdua, mana mungkin aku bisa tenangkan pikiran" jawab Siang Huhoa sambil tertawa. "Cengcu, apakah kau sudah membenci kami?" tiba-tiba sepasang mata Siau-sin memerah, tampaknya sebentar lagi dia bakal menangis.

"Bukan begitu, aku ada tugas lain yang harus kalian kerjakan" bisik Siang Huhoa lirih.

"Ooh... rupanya begitu" kontan sepasang mata Siau-sin berbinar kembali.

"Cengcu, kenapa tidak kau katakan dari tadi" seru Siau-tho pula sambil tersenyum, "untung kami tidak sampai menangis"

"Aku baru bisa bicara sekarang karena kini baru ada kesempatan untuk berbicara"

Tanpa terasa Siau-tho dan Siau-sin melirik sekejap ke arah belakang.

Waktu itu meski Nyo Sin dan Liong Giok-po mengikuti dari belakang, tapi mereka sudah ketinggalan sejauh tujuh depa.

"Sekarang kau bisa bicara bukan?" bisik Siau-tho. Siang Huhoa manggut-manggut.

"Jangan sekarang" cegah Siau-sin cepat, "konon ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po sangat lihay, kau tidak kuatir kedengaran dia?"

"Jangan kuatir, sejak terkena bubuk racun Ngo tok san dari Tok tongcu, bukan saja wajahnya hancur berantidakan, ilmu silatnya juga telah punah, ketajaman mata dan pendengarannya sudah tidak seperti dulu"

"Cengcu, kau bisa bicara sekarang"

Sambil mempercepat langkah kakinya bisik Siang Hu-hoa: "Kalian masih ingat dengan manusia yang bernama Thio

Kian-cay?" "Apakah orang tua yang bekerja sebagai tabib itu?" tanya Siau-tho.

"Kau masih punya bayangan tentang orang ini?"

"Kalau tidak salah dia masih punya nama lain yaitu Thio It- tiap"

"Bagus sekali daya ingatmu" puji Siang Huhoa sambil manggut- manggut, "ilmu pertabibannya amat hebat dan sempurna, selama ini memang cukup minum obat satu tiap, segala macam penyakit segera akan lenyap"

"Apakah cengcu menderita suatu penyakit?"

"Kalau manusia macam aku sampai sakit dan penyakit itu baru sembuh bila memanggil Thio Kian-cay, itu menandakan kalau aku sudah hampir mampus, masa masih bisa berbicara dengan kalian?"

"Kenapa secara tiba-tiba cengcu menyinggung soal tabib ini?"

"Tunjukkan sebuah benda kepadanya!" "Benda apakah itu?"

"Sekuntum bunga!"

"Sekuntum bunga" Siau-sin maupun Siau-tho membelalakkan matanya bulat-bulat.

"Selain ampuh dalam ilmu pertabiban, Thio Kian-cay lihay juga dalam hal pertanaman, khususnya tentang aneka bunga"

"Apakah dia lebih lihay ketimbang cengcu?"

"Bahkan satu tingkat diatas kemampuanku" Siang Huhoa menjelaskan, "dia sudah banyak mengunjungi pelbagai daerah, bahkan banyak tempat yang belum pernah kudengar sebelumnya, pengetahuan nya tentang jenis bunga pun sangat luas" "Jadi cengcu tidak mengetahui asal usul bunga itu?" "Benar"

"Dan cengcu suruh kami menyelidiki asal usul bunga itu?" "Benar"

"Apakah bunga itu berhubungan erat dengan kasus yang sedang kita hadapi sekarang?"

"Bukan cuma berhubungan erat, bahkan bisa jadi merupakan salah satu kunci utama untuk mengungkap misteri kasus ini"

"Masa sedemikian pentingnya bunga itu?"

"Itulah sebabnya kalian harus selidiki hingga jelas" "Tapi aku masih menguatirkan satu hal" bisik Siau-sin. "Kuatir dia pun tidak kenal dengan asal usul bunga itu?" "Benar"

Siang Huhoa segera tertawa, ujarnya kemudian:

"Kalau sampai terjadi hal begini yaa sudahlah, apa boleh buat, memangnya kita bisa paksa dia untuk mengenali benda yang tidak dia kenal? Apalagi aku cukup paham dengan wataknya, kalau dia tidak tahu, tidak nanti dia akan memberikan keterangan yang menyesatkan"

"Waah, paling enak berhubungan dengan manusia macam begini"

"Maka dari itu, jika dia tahu asal usulnya maka kalian harus catat semua keterangan yang dia berikan"

"Masalahnya dia masih ingat tidak dengan kami" tanya Siau-sin ragu.

"Tidak usah kuatir, daya ingat orang ini jauh lebih bagus ketimbang aku" berbicara sampai disitu dia segera mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam sakunya. Bungkusan itu tidak lain adalah saputangan yang digunakan untuk membungkus bunga berwarna kuning itu, bunga kuning yang tumbuh dibelakang rumah penginapan Hun-lay.

Bunga yang semula berwarna kuning kini sudah luntur warnanya, maklum sudah berhari hari bunga itu berada dalam gembolannya.

Mungkinkah Thio Kian-cay bisa mengenali asal usul sejenis bunga dari kuntum bunga yang sudah kusut macam begini?

Siang Huhoa tidak perlu kuatir, sebab pada malam itu juga dia telah bubuhkan semacam obat diatas kuntum bunga itu.

Kuntum bunga yang telah diberi obat tersebut biasanya warna aslinya bisa bertahan paling tidak sampai setengah hingga satu tahun lamanya.

Baru saja Siau-sin menerima bungkusan kecil itu, dari arah belakang sudah terdengar Nyo Sin membentak nyaring:

"Barang apa itu?"

Dengan kecepatan bagaikan kuda yang terlepas dari ikatan, dia segera memburu maju ke depan.

Jangan dilihat kepala opas ini berkepala ubi, ketajaman matannya benar-benar cukup mengagumkan.

Siau-sin menjengek dingin, dia segera melejit ke udara dan langsung melambung ke atas atap rumah penduduk ditepi jalan.

Siau-tho tidak tinggal diam, dia segera menyusul di belakang rekannya dan melambung pula ke tengah udara.

Nyo Sin tidak melakukan pengejaran, sambil berdiri disamping Siang Huhoa bentidaknya lagi:

"Cepat turun!" "Huhhh, kenapa aku mesti turun?" jawab Siau-sin setengah mengejek.

"Apa yang kau takuti dari aku?" tanya Nyo Sin lagi. "Aku takut kau akan merampas barang milikku"

"Memangnya kalau kalian tidak turun lantas aku tidak bisa mengejarmu?"

Siau-sin tertawa cekikikan.

"Kalau bisa mengejarku, ayoh cepat mengejar, asal bisa menyusulku, tidak usah dirampaspun barang ini akan kuserahkan kepadamu"

Sambil berkata dia tunjukkan bungkusan kecil itu kemudian bersama Siau-tho sekali lagi tubuh mereka melambung ke udara.

Sekalipun berteriak teriak ternyata Nyo Sin tidak melakukan pengejaran, sebab dia tahu ilmu meringankan tubuh yang dia miliki masih belum mencapai tingkatan sehebat itu.

Dia hanya bisa menyaksikan tubuh Siau-tho dan Siau-sin bagaikan kupu kupu yang menari di angkasa, hanya dalam sekejap mata kemudian sudah lenyap dari pandangan mata.

Dalam keadaan begini, saking jengkelnya dia cuma bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak dan wajah menghijau.

Tiba-tiba dia berpaling ke arah Siang Hu-hoa, melotot ke arahnya sambil menegur:

"Benda apa yang kau serahkan kepada mereka? Intan permata atau mutu manikam?"

"Jangan kuatir, bukan intan permata" "Lalu benda apakah itu?"

"Maaf, tidak bisa kukatakan sekarang" Dalam pada itu Liong Giok-po sudah tiba pula ditempat kejadian, sambil tertawa dingin segera serunya:

"Kalau barang itu memang barang yang tidak melanggar hukum, kenapa takut diucapkan keluar?"

Kini ilmu silatnya sudah buyar, rupanya apa yang dibicarakan Siang Huhoa bertiga tadi sama sekali tidak terdengar olehnya.

Siang Huhoa hanya membungkam dalam seribu basa, dia seakan merasa segan untuk berdebat melawan Liong Giok- po,.

Melihat pihak lawan membungkam, tampaknya Liong Giok- po tidak mau melepaskan dengan begitu saja, kembali jengeknya sambil tertawa dingin:

"Kau merasa tidak mampu untuk berbicara bukan? Baiklah, bagaimana kalau aku saja yang mewakilimu untuk berbicara?"

Siang Huhoa tidak memberikan pernyataan apa pun. Terdengar Liong Giok-po berkata lebih jauh:

"Benda itu kalau bukan intan permata atau mutu manikam, sudah pasti termasuk barang mahal lainnya hasil curianmu, kau takut kena digeledah setelah masuk ke dalam penjara nanti, maka kau suruh ke dua orang komplotanmu untuk membawanya kabur terlebih dulu"

Siang Huhoa tetap membungkam dalam seribu basa. "Kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?" kembali Liong

Giok-po mendesak.

Siang Huhoa melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, akhirnya dia buka suara, sahutnya:

"Karena sekarang aku sudah tahu, ternyata kau adalah seorang manusia bodoh yang tidak mau pakai otak, bicara dengan manusia macam begini hanya bikin lidahku lelah, percuma!"

Tidak terkirakan rasa geram Liong Giok-po mendengar kata umpatan itu, saking jengkelnya, untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Kembali Siang Huhoa mengalihkan pandangan matanya ke wajah Nyo Sin, katanya lagi:

"Kalau aku yang melakukan pencurian itu, kalau benda tersebut adalah barang hasil curian, sekarang aku sudah kabur ke ujung langit"

Sesudah tertawa dingin, kembali ujarnya:

"Hanya menghadapi komplotanku pun kalian tidak mampu, seandainya aku yang mau pergi dari sini, memangnya kau sanggup menahanku?"

Merah padam selembar wajah Nyo Sin saking mendongkolnya, tapi dia tidak mau kalah, teriaknya pula dengan suara lantang:

"Aku tidak perduli apa yang hendak kau katakan, setelah konco koncomu kabur, kau si pentolan harus tetap tinggal disini"

"Buat apa kau sewot? Toh aku tidak pernah bilang mau pergi dari sini?" jengek Siang Huhoa dingin, sekali lagi dia beranjak pergi dari situ.

"Mau pergi ke mana kau!" hardik Nyo Sin, ternyata orang ini jauh lebih tidak punya otak ketimbang Liong Giok-po.

Siang Huhoa betul betul dibuat kewalahan oleh ulah manusia tidak berotak macam begini.

Untunglah pada saat itu terdengar seseorang berseru dari arah belakang sana: "Saat ini bukankah saudara Siang sedang berjalan menuju ke arah kantor pengadilan? Memangnya kau sudah melupakan hal itu?"

Mendengar teguran tersebut, api kemarahan Nyo Sin kontan padam sebagian.

Perlahan Ko Thian-liok jalan menghampiri Siang Huhoa, katanya kemudian:

"Silahkan saudara Siang!"

Siang Huhoa tersenyum dan kembali beranjak diikuti Ko Thian-liok di belakangnya.

........ Benarkah Siang Hu-hoa sama sekali tidak tersangkut dalam kasus hilangnya harta karun itu?

........ Jangan-jangan dugaanku selama ini keliru besar?

Tanpa terasa Nyo Sin mulai berpikir, dia mulai sangsi dengan pendapatnya selama ini.

........ seandainya bukan Siang Huhoa yang melakukan pencurian itu, lalu siapa yang telah melarikan harta karun itu?

........ Jangan-jangan perbuatan setan iblis atau siluman?

Nyo Sin merasa hatinya bergidik, tanpa terasa dia celingukan sendiri ke sana kemari macam orang kebingungan.

Pada saat itulah tiba-tiba dia saksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di ujung lorong sebelah depan.

"Siapa?" hardiknya keras.

Baru selesai dia membentak, bayangan manusia itu sudah melambung di tengah udara dan langsung menerkam ke arahnya.

Belum lagi bayangan itu menghampirinya, bau busuk darah yang amis dan memuakkan sudah menerjang ke arah tenggorokannya. "Setan!" tanpa sadar Nyo Sin menjerit keras.

Waktu itu Siang Huhoa dan Ko Thian-liok sedang berjalan sambil berbincang, begitu mendengar teriakan aneh dari Nyo Sin, serentak mereka berdiri tertegun.

Bersamaan waktunya itulah Siang Huhoa pun menyaksikan ada sesosok bayangan manusia menerjang datang dari arah mulut lorong.

Dia memang memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, gerakan tubuhnya juga terhitung gesit dan cepat, baru saja pedangnya akan dicabut keluar, dia sudah mendengar Nyo Sin meneriakkan kata "setan"

Dia dapat menangkap jeritan dari Nyo Sin itu penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, jeritannya sudah tidak mirip suara manusia, apalagi ditengah malam buta seperti ini, jeritan itu membuat suasana makin terasa menyeramkan.

Kata "setan" memang mudah menimbulkan rasa ngeri bagi siapa pun yang mendengar, tidak terkecuali Siang Huhoa.

Menanti ia berhasil mengendalikan diri, sang "setan" sudah menerjang tiba. Bau amisnya darah terendus makin tebal, membuat siapa pun merasa muak.

0-0-0