Laron Penghisap Darah Bab 35 : Menyerahkan diri.

Bab 35: Menyerahkan diri.

Setelah menelusuri lorong yang tegak lurus sejauh tiga kaki, jalanan mulai berliku liku dan penuh tikungan.

Setelah berbelok pada sebuah tikungan diikuti tikungan yang lain, secara beruntun mereka telah melalui belasan buah tikungan.

Setelah melalui tikungan yang ke empat belas Siang Huhoa mulai menghela napas panjang sambil berkata:

"Aneh benar jalan lorong ini, kenapa dibikin berliku liku?" "Kepalaku sudah mulai terasa pening" lanjut Ko Thian-liok

yang berada di belakang sambil menghela napas panjang.

"Untung jalan lorong ini tidak disertai persimpangan jalan" "Ini sudah lebih dari cukup, kalau tadi aku masih sempat

memuji kehebatan konstruksi bangunan lorong bawah tanah ini, maka sekarang, tampaknya aku mesti menarik kembali perkataanku itu!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka kembali berbelok disebuah tikungan tajam.

Dua kaki setelah tikungan tajam itu lamat-lamat kelihatan munculnya sebuah anak tangga batu.

Tanpa terasa Siang Huhoa mempercepat langkah kakinya.

Benar saja, didepan sana terdapat sebuah anak tangga batu.

Didepan situ sudah tidak ada jalan tembus lagi, agaknya lorong bawah tanah itu sudah mencapai pada ujungnya. "Ada anak tangga batu!" tanpa terasa Siang Huhoa berpekik.

"Berarti sudah sampai diujung lorong?" tanya Liong Giok-po sambil menyusul datang.

Nada suaranya agak parau, dengusan napasnya kedengaran agak tersengkal, tampaknya perjalanan cepat ini sudah menguras habis sebagian besar tenaganya.

Kalau tadi suara dengusan napasnya tidak kedengaran karena dia memang masih berada ditempat kejauhan, tapi begitu mendekat, jangan lagi Siang Hu-hoa yang memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, orang awam pun dapat dipastikan dapat mendengar juga napasnya yang tersengkal.

Malah dari atas wajahnya yang menyeramkan bagaikan setan itu kelihatan peluh bercucuran dengan amat derasnya.

Dipandang dari sudut manapun, dia sama sekali tidak mirip seorang jago persilatan yang berilmu tinggi.

Sekali lagi sinar aneh memancar keluar dari balik mata Siang Huhoa.

Tapi dia tidak berpaling, sorot matanya pun tidak mengawasi anak tangga batu itu tapi justru mengawasi lampu lentera yang berada dalam genggamannya.

Sesungguhnya lampu lentera itu sama sekali tidak menarik untuk dipandang, biarpun sorot matanya sedang mengawasi lampu lentera, namun pandangan matanya sama sekali tidak berada disana.

Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu, memikirkan suatu persoalan yang amat besar dan penting.

Menanti Ko Thian-liok dan Nyo Sin sekalian sudah menyusul tiba, sorot matanya baru dialihkan ke atas anak tangga batu itu. "Undakan batu itu tembus hingga ke mana?" tanya Ko Thian-liok sambil menghentikan langkah kakinya.

"Asal naik ke atas, kita toh bisa tahu segalanya" sela Liong Giok-po dari samping.

Siang Hu-hoa tidak banyak bicara, dia segera beranjak dari tempat semula dan mulai menaiki undak undakan batu itu.

Anak tangga batu itu berjumlah tiga puluhan dan menjorok naik ke atas, diujung anak tangga merupakan sebuah tanah datar.

Tanah datar itu luasnya enam depa, tiga penjuru berupa dinding batu sementara persis berhadapan dengan mulut lorong itu terdapat lagi sebuah pintu batu selebar dua depa dengan ketinggian tujuh depa.

Ditengah pintu batu terdapat sebuah gelang pintu yang terbuat dari baja, Siang Huhoa segera tempelkan telinganya diatas pintu itu dan mendengarkan berapa saat, kemudian dia baru mencengkeram gelang besi tersebut.

Dia mencoba menarik gelang itu ke belakang.

Sama sekali tidak ada reaksi, pintu batu itu sama sekali bergeming, ketika dicoba untuk mendorong ke depan, hasilnya tetap sama.

Terpaksa dia pun memutar gelang besi itu ke samping, dia ingin tahu apakah pintu itu bereaksi.

"Kraaak!" betul juga, begitu gelang besi diputar ke kanan, dari balik pintu batu segera bergema suara nyaring menyusul kemudian pintu itu perlahan lahan terbuka lebar.

Dibalik pintu batu itu merupakan sebuah lorong yang gelap. tempat apakah itu?

Siang Huhoa melepaskan genggamannya atas gelang besi itu, namun dia belum menggeserkan tubuhnya, lentera yang ada ditangan kiri segera disodorkan masuk ke balik pintu. Dalam waktu singkat suasana dibalik pintu pun terlihat jelas.

Permukaan lantai ruangan itu merupakan ubin berbentuk bunga, sebuah motif lantai yang tidak asing bagi Siang Huhoa, namun untuk sesaat dia tidak bisa membayangkan pernah melihat lantai semacam ini dimana.

Selangkah demi selangkah dia berjalan masuk ke dalam ruangan, jangan dilihat dia seakan berjalan santai, padahal semua gerak geriknya dilakukan dengan sangat berhati hati.

Ko Thian-liok, Liong Giok-po dan Nyo Sin segera mengikuti di belakangnya degan amat berhati hati.

Baru saja mereka berlima masuk ke balik pintu, mendadak terdengar Siang Huhoa yang berada dipaling depan berseru tertahan, seruan itu amat keras, tampaknya dia telah menyaksikan sesuatu hal yang membuatnya tercengang.

"Sebetulnya tempat apakah ini?" tanya Ko Thian-liok tanpa terasa.

"Gudang kecil di belakang kamar tidur Jui Pak-hay suami istri" jawab Siang Huhoa.

Sementara itu Nyo Sin, Tan Piau dan Yau Kun pun segera dapat mengenali ruangan tersebut, tanpa sadar mereka ikut berseru:

"Aaah betul, memang ruang kecil itu" 0-0-0

Bagian luar dari pintu batu sebenarnya merupakan dinding sisi kiri dari ruangan kecil itu, bangunan loteng terletak persis diatas kepala mereka. Walaupun Ko Thian-liok belum pernah mendatangi tempat tersebut, namun dia sudah hapal sekali dengan situasi ruangan, dia mempelajari situasi itu dari laporan kasus pembunuhan yang diberikan anak buahnya.

Laporan yang dibuat Tu Siau-thian memang sangat teliti dan terperinci, untuk membuat laporan yang lengkap dan terperinci, Tu Siau-thian memang sudah membuang banyak pikiran dan tenaga.

Maka dia sangat menguasahi situasi ditempat kejadian, bahkan pemahamannya atas tempat itu jauh diatas pemahaman Nyo Sin.

Begitu mendengar ucapan dari Siang Huhoa tadi, dia segera mendongakkan kepalanya mengawasi bangunan loteng itu, kemudian ujarnya:

"Apakah jenasah Jui Pak-hay beserta sekelompok Laron Penghisap darah itu kalian temukan dalam loteng tersebut?"

"Benar!" sahut Nyo Sin cepat.

"Blaaammm!" entah apa sebabnya mendadak pintu rahasia itu menutup dengan sendirinya.

Semua yang hadir segera berpaling. Dengan perasaan terkejut teriak Nyo Sin:

"Baru saja kita berenam keluar dari situ, siapa siapa

yang telah menutup kembali pintu rahasia tersebut?"

"Yang pasti bukan perbuatan manusia" sahut Siang Huhoa. "Kalau bukan perbuatan manusia, memangnya ulah setan

iblis?" bisik Nyo Sin dengan wajah berubah.

Siang Huhoa kontan tertawa tergelak.

"Mana ada setan di dunia ini? Pintu batu itu sudah dilengkapi alat rahasia" "Sungguh?" Nyo Sin setengah percaya.

"Justru karena sudah dilengkapi alat rahasia, maka secara otomatis pintu itu akan menutup kembali setelah dilewati seseorang"

Nyo Sin menghembuskan napas lega setelah mendengar penjelasan itu, tapi tanyanya lagi:

"Darimana kau bisa tahu? Sejak kapan kau mengetahui akan hal ini?"

"Sejak membuka pintu batu itu aku sudah tahu" "Mungkin jauh hari sebelum membuka pintu itu dia sudah

tahu" tiba-tiba Liong Giok-po menimbrung dari samping. "Oya?"

"Kalau tidak, masa dia seakan hapal sekali dengan segala situasi yang sedang dihadapinya?" lanjut Liong Giok-po.

Agak ragu Nyo Sin segera berpaling dan mengawasi wajah Siang Huhoa.

Namun Siang Huhoa tidak meladeni perkataan itu, dia hanya membungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat itu Liong Giok-po tertawa bangga, tertawa dingin tiada hentinya.

Mendadak Ko Thian-liok memotong suara tertawa dari Liong Giok-po itu, ujarnya:

"Setelah pintu batu itu menutup kembali, seharusnya diatas dinding ruangan akan muncul jejak atau celah yang kecil, kenapa tidak nampak sesuatu yang aneh? Kenapa dinding itu kelihatan rata kembali?"

"Kalau ada, pintu rahasia ini sudah kutemukan ketika memeriksa dinding ruangan tersebut tempo hari" sahut Siang Huhoa. "Aaai kemampuan Jui Pak-hay merancang alat rahasia

memang sangat hebat dan mengagumkan" puji Ko Thian-liok sambil menghela napas panjang.

Siang Huhoa tidak menyangkal, sahutnya:

"Menurut pandanganku, keberhasilannya menguasahi kepandaian ini mungkin masih jauh diatas kemampuan gurunya sendiri Hian kicu"

"Luar biasa, luar biasa dia bisa disebut orang berbakat

yang luar biasa diantara orang berbakat lainnya" puji Ko Thian-liok lagi.

"Di tempat inipun masih ada seorang lagi yang berbakat luar biasa, jauh melebihi orang berbakat lainnya" timbrung Liong Giok-po tiba-tiba.

Siapa pun tahu siapa yang dimaksudkan orang ini. "Kelihatannya besar amat rasa curigamu" sindir Siang

Huhoa sambil tertawa dingin.

"Memang besar"

"Kau tetap merasa yakin akulah yang telah mencuri seluruh harta karun yang tersimpan dalam ruang rahasia itu?"

"Yakin seyakin-yakinnya!"

"Selain karena alasan yang sudah kau kemukakan, apakah masih ada alasan lainnya?"

"Kenyataannya kau bisa mengajak kami semua tiba ditempat ini, bukankah bukti ini merupakan sebuah alasan yang sangat tepat?"

"Jadi inipun kau anggap sebagai sebuah alasan?"

"Jika kau tidak pernah melalui lorong rahasia ini, kenapa bisa mengajak kami untuk melalui lorong rahasia tersebut dengan begitu mudah dan lancar?" "Jadi kau anggap dengan mudah kuajak kalian sampai disini?" kembali Siang Huhoa tertawa dingin.

"Benar, mudah sekali" seru Liong Giok-po, setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Kalau pun di dunia ini benar benar terdapat setan iblis, tidak nanti mereka akan mencuri harta karun milik manusia, sekalipun Laron Penghisap darah benar benar bisa makan manusia, menghirup darah manusia seperti apa yang diceritidakan dalam dongeng, tidak nanti mereka akan melalap harta karun itu sampai ludas. Jelas dan tidak bisa diragukan lagi hilangnya harta karun itu merupakan ulah tangan manusia"

Kemudian setelah menarik napas panjang, tambahnya:

"Hanya orang yang suka akan intan permata baru akan berpikiran jahat untuk mengangkangi harta karun milik orang lain"

Siang Huhoa menggetarkan bibirnya seakan hendak berbicara, tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po sudah bicara lagi:

"Tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bila mengincar harta karun milik Jui Pak-hay ini, selain dia mesti mengerti tentang alat perangkap, menguasahi ilmu meringankan tubuh yang hebat, orang itupun mesti punya akal dan agak pintar"

Nada ucapannya berubah makin berat dan dalam, terusnya:

"Di tempat ini hanya ada satu orang yang memenuhi kriteria dan prasyarat tersebut, orang itu tidak lain adalah kau, saudara Siang!"

"Tempat ini yang kau maksudkan meliputi daerah mana saja?" tanya Siang Huhoa sambil tertawa dingin.

"Tentu saja meliputi seluruh keresidenan" "Rasanya magrib tadi kau baru tiba di sini bukan?" "Betul"

"Begitu sampai disini, kau langsung menuju ke kantor pengadilan dan belum pernah meninggalkan kantor barang selangkah bukan?"

"Benar!"

"Aneh, kenapa kau bisa begitu hapal dan menguasahi wilayah tempat ini?"

Liong Giok-po segera terbungkam.

"Mungkin saja sebagian besar orang yang berada diwilayah ini merupakan orang orang yang cerdas" ujar Siang Huhoa lagi.

Liong Giok-po kembali tertawa dingin.

"Tapi hingga detik ini hanya satu orang yang patut dicurigai, orang itu adalah kau, Siang tayhiap!"

"Lalu mau apamu?"

"Aku sih cuma seorang rakyat kecil, seorang rakyat kecil bisa berbuat apa?"

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Nyo Sin, terusnya:

"Orang yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah ini adalah komandan Nyo, biar dia yang selesaikan urusan ini"

Tanpa sadar Nyo Sin segera membusungkan dadanya. Kembali Liong Giok-po bertanya kepada Nyo Sin:

"Menurut komandan Nyo, apa yang pantas kita perbuat terhadap seorang tersangka macam begini?"

"Tentu saja harus dibekuk dan ditahan " jawab Nyo

Sin tanpa sadar. Tapi begitu ucapan tersebut meluncur keluar, dia baru teringat kalau Siang Huhoa adalah seorang jagoan yang sangat tangguh, kontan saja dia menutup kembali mulutnya.

Dalam pada itu Liong Giok-po sudah berkata lebih jauh: "Dengan pengalaman yang dimiliki komandan Nyo, jika kau

anggap tindakan ini yang paling tepat, aku rasa memang

tindakan itulah yang harus kita lakukan sekarang" "Soal ini " Nyo Sin jadi tergagap.

"Kenapa?"

"Ilmu silatnya sangat tangguh, jika dia enggan menyerahkan diri, kamipun tidak bisa berbuat apa-apa"

"ooh, rupanya persoalan ini yang dikuatirkan komandan Nyo "

Tampaknya dia masih akan bicara lebih lanjut, tapi sebelum dia sempat berkata Nyo Sin kembali sudah menukas:

"Aaah benar, aku hampir lupa dengan Liong kongcu, aku dengar kau adalah jago nomor wahid dari Kanglam, asal Liong kongcu mau membantu, persoalan ini malah lebih gampang penyelesaiannya"

Kalau dilihat dari mimik mukanya, dia seolah benar benar ingin menangkap Siang Huhoa.

Semenjak kasus pembunuhan ini terjadi, khususnya sejak kehadiran Siang Huhoa disana, Nyo Sin sebagai komandan opas nyaris tidak ada kesempatan untuk angkat bicara, hal mana sudah membuat hatinya sangat mengganjal dan tidak suka hati, entah sudah berapa kali dia berusaha mencari kesempatan untuk menjatuhkan pamor Siang Huhoa.

Sekarang kesempatan yang langka itu sudah muncul di depan mata, tentu saja dia tidak ingin melepaskannya dengan begitu saja. Di dalam anggapannya, Liong Giok-po sebagai jago tangguh yang tanpa tandingan di wilayah Kanglam pasti memiliki kepandaian silat setara dengan kemampuan Siang Huhoa, itu berarti bila terjadi pertempuran, jagoan dari Kanglam ini bisa memaksakan satu pertarungan yang seimbang.

Bila ditambah dengan golok panjang, tombak pendek dari Yau Kun dan rantai besi dari tanpoh, dia merasa sudah lebih dari cukup untuk membekuk Siang Huhoa.

Begitu keputusan diambil, dia pun segera memberi tanda kepada Tan Piau dan Yau Kun.

Tanda itu dimaksudkan agar mereka bersiap siap untuk turun tangan.

Tanpa terasa Yau Kun dan Tan Piau saling bertukar pandangan sekejap dengan wajah tertegun, khususnya Yau Kun, dia kelihatan teramat kikuk.

Sekali lagi Nyo Sin mengalihkan pandangan matanya ke wajah Liong Giok-po, dia menunggu jagoan dari Kanglam itu melancarkan serangan terlebih dulu, kemudian dia bersama kedua anak buahnya akan maju mengembut.

Ternyata Liong Giok-po sama sekali tidak bereaksi, bergerak pun tidak.

Nyo Sin menunggu lagi berapa saat, melihat tiada reaksi juga dari jagoan tersebut, tidak tahan dia segera menegur:

"Liong kongcu!"

Mimik muka Liong Giok-po kelihatan mengejang keras, namun dia tetap membungkam dan tidak melakukan gerakan apapun.

Saat itulah Siang Huhoa mengejek, katanya:

"Jika dia mampu turun tangan, sedari tadi dia sudah menyerang aku" "Kenapa dia tidak mampu turun tangan?" tanya Nyo Sin makin keheranan.

"Sebab dia sudah bukan Liong Giok-po yang dulu lagi"

Nyo Sin semakin tercengang, dengan nada tidak habis mengeri tanyanya lagi:

"Apakah identitasnya bermasalah? Bukankah tadi sudah kau buktikan kalau dia asli?"

"Aku tidak pernah mempermasalahkan identitasnya, dia memang Liong Giok-po yang asli"

"Lalu dimana letak perbedaannya dengan Liong Giok-po yang dulu?"

Siang Huhoa tidak langsung menjawab, sorot matanya dialihkan ke wajah Liong Giok-po dan menatapnya sekejap, kemudian tanyanya:

"Liong-heng, kau yang akan menjelaskan sendiri atau aku yang memberikan penjelasan?"

Sekali lagi mimik muka Liong Giok-po nampak mengejang keras, bukannya menjawab dia malah bertanya:

"Sejak kapan kau tahu akan hal ini?"

"Sejak masuk ke lorong bawah tanah, aku sudah curiga" "Lantaran langkah kakiku berat?"

"Itu hanya salah satu alasan, ketika kujumpai kau menyusulku naik ke undak undakan batu tadi, keyakinanku semakin besar"

Liong Giok-po nampak tergagap dan tidak bisa bicara lagi. "Apakah lantaran pengaruh bubuk lima racun dari Tok

tongcu?"

"Benar!" "Sungguh dahsyat dan menakutkan bubuk lima racun itu!" pekik Siang Hu-hoa terkesiap.

"Memang sangat hebat, segenggam bubuk lima racun bukan saja telah menghancurkan wajahku, juga membuyarkan seluruh tenaga dalam yang kumiliki"

Setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Sekarang aku lemah tidak bertenaga, jangan lagi bertempur, tenaga untuk menangkap ayam pun tidak punya. Dibandingkan dengan kemampuanku sewaktu malang melintang di wilayah Kanglam dulu, aku ibarat dua orang yang berbeda"

"Oooh " sekarang Nyo Sin baru sadar apa yang telah

terjadi, paras mukanya langsung berubah hebat.

Dengan hilangnya kekuatan dari Liong Giok-po, bagaimana mungkin mereka bertiga sanggup menghadapi Siang Huhoa?

Pada saat itulah mendadak Siang Huhoa berpaling ke arah pintu kamar tidur sambil menghardik:

"Siapa disitu?"

Seseorang menyahut sambil mendorong pintu dan berjalan masuk.

Ternyata orang itu adalah Jui Gi!

Cahaya lentera menerangi wajah Jui Gi, entah karena pantulan sinar atau lantaran alasan lain paras muka Jui Gi kelihatan pucat pias seperti mayat, tapi sikapnya sangat tenang.

Belum sempat Siang Huhoa mengucapkan sesuatu, Nyo Sin sudah menegur lebih dulu:

"Jui Gi, mau apa yang sembunyi di luar pintu?" "Aku bukan lagi bersembunyi" bantah Jui Gi sambil

goyangkan tangannya berulang kali. "Lalu sedang apa kau disitu?"

"Barusan kebetulan aku sedang lewat diluar pintu, ketika melihat ada sinar lentera bergeser didalam kamar ini, kukira ada pencuri yang nyelonong masuk, maka akupun menyusul kemari untuk melakukan pemeriksaan"

"Tajam amat matamu" jengek Nyo Sin. "Gerakan tubuhnya juga hebat" Siang Huhoa

menambahkan, "seandainya dia tidak menyentuh pintu kamar secara tidak sengaja, akupun tidak sadar kalau diluar kamar ada orangnya"

"Semasa masih hidup dulu, majikan sering mengajarkan ilmu silat kepadaku" Jui Gi menjelaskan sambil tertawa.

"Kenapa begitu kutegur kau langsung membuka pintu dan berjalan masuk? tidak kuatir orang yang menegurmu adalah pencoleng?"

"Mana ada pencoleng bernyali besar?" Jui Gi tertawa tergelak.

Setelah berhenti tertawa, dia berpaling ke arah Ko Thian- liok sambil menyapa:

"Tayjin, rupanya kaupun ikut datang?"

"Benar" sahut Ko Thian-liok, "barusan kau telah pergi ke mana?"

"Setelah bersantap aku berjalan mengelilingi perkampungan"

"Kau tidak meninggalkan pesan kepada anggota perkampungan lainnya?"

"Karena tidak pergi jauh, maka aku tidak meninggalkan pesan"

"Sewaktu kembali tadi, apakah ada yang beritahu kepadamu kalau kami telah datang kemari?" "Aku masuk melalui pintu belakang, maka tidak berjumpa dengan mereka"

Tiba-tiba Ko Thian-liok bertanya lagi:

"Apakah kau tidak merasa keheranan, kenapa kami bisa muncul di tempat ini?"

Jui Gi menghela napas panjang.

"Buat apa aku mesti merasa heran? Sudah terlalu banyak kejadian aneh yang terjadi disini berapa hari belakangan" katanya.

Ko Thian-liok manggut berulang kali, kembali tanyanya: "Apakah kau juga tahu kalau dari ruang rahasia dimana

majikanmu menyimpan harta karun terdapat sebuah lorong

rahasia yang menghubungkan tempat tersebut dengan ruangan ini?"

"Lorong rahasia?' sekali lagi Jui Gi tertegun, cepat-cepat dia menggeleng.

"Jadi majikanmu belum pernah menyinggung soal ini?" "Belum pernah"

"Kenapa?"

"Di waktu biasa, majikan jarang sekali berbicara, yang dibicarakan biasanya hanya urusan sehari-hari"

Ko Thian-liok tidak bertanya lebih jauh, dia segera mengulapkan tangannya seraya berseru:

"Kalau begitu menyingkirlah untuk sementara waktu"

Jui Gi sangat penurut, dia segera mengundurkan diri ke samping.

Kini Ko Thian-liok mengalihkan pandangan matanya ke wajah Liong Giok-po.

Melihat itu Liong Giok-po segera berseru: "Apa yang kukatakan tadi semestinya sudah tayjin dengar semua bukan?"

Ko Thian-liok mengangguk. Liong Giok-po berkata lagi:

"Sekarang keadaanku tidak berbeda dengan kebanyakan orang, sudah bukan jago persilatan lagi, aku pun sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungi harta dan nyawa sendiri"

"Lalu kenapa?"

"Tentu saja aku berusaha mendapat jaminan keamanan dari hukum, seperti kebanyakan orang yang lain"

"Belum tentu harapanmu merupakan satu hal yang menguntungkan bagimu"

"Tentunya tayjin memandang aku sama seperti rakyat kebanyakan bukan?" kembali Liong Giok-po mendesak.

"Tentu saja"

"Itu berarti tayjin akan memutuskan masalah ini dengan seadil adilnya bukan?"

"Pasti" Ko Thian-liok mengangguk, "aku sudah sepuluh tahun menjabat sebagai pembesar negeri, aku selalu bersikap adil terhadap siapa pun dan masalah apa pun"

"Kalau begitu aku bisa berlega hati sekarang" "Kau memang tidak usah kuatir"

"Sekarang, apa yang hendak tayjin lakukan terhadap Siang Hu-hoa?" desak Liong Giok-po kemudian.

Ko Thian-liok tidak menjawab, dia cuma termenung. "Apakah tayjin menganggap Siang Huhoa tidak pantas

dicurigai?" kembali Liong Giok-po bertanya. "Benar" "Apa alasannya?"

"Aku yakin tidak salah menilai orang"

"Apakah tayjin akan putuskan kasus ini hanya berdasarkan pertimbangan dan penilaian pribadi?"

"Tentu saja tidak"

Liong Giok-po segera tertawa dingin, jengeknya: "Menurut pandanganku, lebih baik tayjin menahan Siang

Huhoa terlebih dulu, tersangka macam dia bisa berbahaya kalau tidak dijebloskan dulu ke dalam tahanan, selain itu nama besar tayjin juga.......hmmmm hmmm!"

"Terhadap persoalan ini tayjin harus mempertimbangkan dulu dengan seksana" kata Nyo Sin pula menimpali.

Ko Thian-liok tetap membungkam, dia hanya termenung terus.

Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa tergelak, selanya: "Saudara Liong, kelihatannya kau belum puas kalau belum

melihat aku masuk penjara?"

"Aku rasa saudara Siang toh sudah terbiasa dengan suasana dalam penjara" jengek Liong Giok-po tertawa dingin.

"Sebaliknya, aku justru sangat asing" Liong Giok-po segera tertawa tergelak.

"Hahahaha aku hampir saja lupa kalau saudara Siang

memang memiliki kemampuan yang luar biasa, seorang penyamun ulung macam saudara Siang pasti mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk meloloskan diri dari setiap tuduhan yang dialamatkan kepadamu"

Siang Huhoa tidak menanggapi. "Aku rasa kali inipun tidak terkecuali!" kembali Liong Giok- po menambahkan.

Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa, ujarnya:

"Salah atau benar, suatu ketika pasti akan terungkap juga, aku yakin kalau diriku bersih, baiklah, kalau aku diminta masuk penjara, sekarang juga aku akan masuk penjara"

Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang malah tertegun dibuatnya.

Kembali Siang Huhoa berkata:

"Bagaimana pun juga sudah lama aku memang ingin mendapatkan kesempatan semacam ini, merasakan bagaimana enaknya masuk penjara"

"Saudara Siang. " Ko Thian-liok berseru tertahan.

"Saudara Ko tidak usah menguatirkan diriku" tukas Siang Hu-hoa cepat, setelah menghembuskan napas panjang, terusnya:

"Apalagi berada dalam penjara pasti jauh lebih tenang daripada berada ditempat lain, sekarang aku memang membutuhkan satu tempat yang tenang untuk beristirahat, dengan begitu aku baru bisa memikirkan kembali semua kejadian yang berlangsung selama beberapa hari ini"

Liong Giok-po segera menyikut Nyo Sin sambil berseru: "Komandan, apa lagi yang kau tunggu?"

Nyo Sin agak tertegun tapi segera teriaknya: "Pengawal, borgol dia!"

Baik Yau Kun maupun Tan Piau, semuanya membawa borgol dipinggangnya dan mendengar dengan jelas perintah itu, namun ke dua orang opas itu hanya berdiri mematung tanpa bergerak. Nyo Sin baru sadar akan tindakannya setelah ucapan tersebut meluncur keluar dari mulutnya, mau dibatalkan pun sudah terlambat.

Terpaksa dia melotot ke arah Tan Piau dan Yau Kun sambil hardiknya:

"Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa hanya berdiri melongo? Cepat borgol dia"

Yau Kun nampak sangat rikuh, dia seakan hendak melangkah maju tapi segera diurungkan kembali niatnya, sementara Tan Piau telah melepaskan rantai borgol dari pinggangnya.

Tidak seperti Yau Kun, Tan Piau memang tidak mempunyai hubungan yang terlalu akrab dengn Siang Huhoa.

Mengawasi rantai borgol yang disodorkan ke hadapannya Siang Huhoa bertanya:

"Bagaimana? Aku pun harus mengenakan benda ini?" "Atas perintah komandan, terpaksa hamba harus

menjalankan perintah" sahut Tan Piau sambil tertawa paksa.

Liong Giok-po yang berada disamping kembali menimbrung:

"Borgol melambangkan hukum, jika kau tidak mengenakan borgol itu sama artinya kau tidak menganggap hukum"

Siang Huhoa hanya tertawa, dia segera meluruskan tangannya ke depan.

Tampaknya dia sama sekali tidak ambil perduli terhadap semua kejadian itu.

Baru saja Tan Piau maju ke depan, Ko Thian liok telah menghardik keras:

"Tunggu sebentar!" Tan Piau segera menghentikan langkahnya. Kembali Ko Thian-liok berkata:

"Kau anggap Siang tayhiap itu siapa? Apa yang telah dia setujui tidak bakal disesali kembali, tidak mungkin dia bakal kabur ditengah jalan, kalau dia sudah bersedia bekerja sama, kenapa mesti menyusahkan dirinya lagi?"

Tan Piau melirik Nyo Sin sekejap kemudian menundukkan kepalanya.

Nyo Sin menundukkan pula kepalanya sambil menjawab agak tergagap:

"Tapi peraturan "

"Peraturan apa?' kembali Ko Thian-liok menghardik, "kalau ada kejadian, biar aku yang bertanggung jawab"

Kemudian dengan memperberat nada suaranya ia berkata lagi:

"Selama masih ada aku disini, belum tiba giliranmu untuk mengambil keputusan, pergi, semuanya pergi dari hadapanku!"

Tergopoh gopoh Nyo Sin mengundurkan diri dari situ, apalagi Tan Piau.

Kembali Ko Thian-liok berpaling ke arah Siang Huhoa, katanya:

"Saudara Siang, kau tidak perlu masuk penjara" "Aku rasa lebih baik masuk saja"

"Aku rasa hal ini akan menyiksa dirimu"

"Saudara Ko, tampaknya kau merasa begitu yakin kalau persoalan ini sama sekali tidak ada kaitannya denganku"

"Aku percaya dugaan dan analisaku tidak bakal salah" "Tapi, seperti apa yang dikatakan saudara Liong, orang yang paling mencurigakan saat ini hanyalah aku seorang, tersangka macam aku mana boleh tidak dijeblokkan ke dalam penjara?" kata Siang Hu-hoa tertawa.

Melihat suara tertawanya begitu riang, tidak kuasa lagi Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya:

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, seakan kau malah senang sekali dapat masuk penjara?"

"Sekarang aku memang merasa gembira"

"Selama menjadi pembesar hampir sepuluh tahun lamanya, baru pertama kali ini kujumpai ada orang malah senang karena akan dijebloskan ke dalam penjara"

"Orang bilang pengalaman itu penting bagi kehidupan manusia, selama ini aku belum punya pengalaman masuk bui, apa salahnya kalau menggunakan kesempatan ini aku menambah pengalamanku?"

"Baiklah, kalau memang itu maumu, aku pasti akan perintahkan mereka untuk melayanimu secara baik baik" kata Ko Thian-liok kemudian.

Siang Huhoa tertawa tergelak, tanpa banyak bicara lagi dia segera beranjak pergi dari situ.

0-0-0