Laron Penghisap Darah Bab 29 : Pertarungan pedang melawan golok.

Bab 29: Pertarungan pedang melawan golok. 

Kembali Si Siang-ho berkata:

"Sejak dilahirkan hingga detik ini, aku belum pernah menjumpai setan atau iblis, kalau memang bisa bertemu setan iblis, kenapa aku harus lewatkan kesempatan baik ini?"

Tu Siau-thian hanya tertawa getir tanpa menjawab.

Si Siang-ho berkata lebih jauh: "Seandainya kau benar- benar jadi setan gentayangan setelah mati nanti, jangan lupa, datang dan carilah aku terlebih dulu"

Menghadapi perkataan semacam ini, Tu Siau-thian tidak bisa berbuat lain kecuali tertawa getir.

"Silahkan!" kembali Si Siang-ho berkata. Tu Siau-thian segera mencabut keluar goloknya sementara tubuhnya masih berdiri tegap dihadapan meja.

Suara dengungan nyaring bergema lagi dalam ruangan, beberapa ekor Laron Penghisap darah terlihat menempel diatas tubuh golok. Tidak lama kemudian seluruh golok itu sudah dipenuhi oleh laron-laron yang hinggap disitu, kini golok tersebut telah berubah jadi sebilah golok laron. Tidak kuasa Tu Siau-thian merasa hatinya bergidik.

Mendadak dia membentak nyaring, dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke pergelangan tangan kanan, dia lepaskan beberapa kali bacokan ke tengah udara.

Bentakan yang keras dalam ruang penjara yang tertutup rapat kontan saja menimbulkan suara pantulan yang amat nyaring.

Seketika itu juga laron-laron Penghisap darah yang menempel diatas golok itu tersentak kaget dan beterbangan di angkasa.

Ketika Tu Siau-thian menarik kembali senjatanya, bercak darah telah menghiasi mata golok tersebut.

Rupanya diantara ayunan goloknya tadi, ada berapa ekor Laron Penghisap darah yang terpapas oleh senjatanya, darah laron kontan saja menodai mata goloknya, darah segar berwarna merah!

Bau busuk yang memuakkan segera berhamburan di udara dan menyelimuti seluruh ruangan.

Tu Siau-thian tidak berani berayal, sinar matanya tidak pernah bergeser dari wajah Si Siang-ho, dia kuatir musuhnya melancarkan serangan bokongan, sebab saat seperti itu merupakan kesempatan yang sangat baik baginya untuk menyerang.

Tapi Si Siang-ho seakan tidak pandai manfaatkan kesempatan, atau mungkin dia punya rencana lain yang jauh lebih hebat, pada hakekatnya dia tidak pandang sebelah mata pun terhadap Tu Siau-thian.

Dia menunggu terus sampai Tu Siau-thian menarik kembali goloknya, kemudian baru menegur sambil tertawa: "Ternyata ilmu silatmu hanya begitu saja "

Tu Siau-thian membungkam, tapi kewaspadaannya semakin ditingkatkan.

Tiba-tiba Si Siang-ho menarik kembali senyumannya, diiringi bentakan nyaring dia mengayunkan tangannya ke depan, keranjang bambu yang semula digenggamnya itu tahu tahu sudah disambitkan ke arah lawan.

Tu Siau-thian mendengus dingin, goloknya sekali lagi membabat ke muka.

"Sreeet!" keranjang bambu itu seketika terbelah jadi dua.

Bunga berwarna kuning yang berada dalam keranjang bambu itu segera berceceran di udara dan menimpa kepala Tu Siau-thian, bau harum semerbak memenuhi seluruh ruangan.

Si Siang-ho ternyata tidak bohong, bunga itu memang makanan utama kawanan Laron Penghisap darah itu, sebab ketika bunga-bungaan itu berguguran ke bawah dan menimpa tubuh Tu Siau-thian, kawanan makhluk itu langsung menyerbu ke depan dan berebut bunga-bungaan tersebut.

Buru-buru Tu Siau-thian mundur ke belakang, dia tidak ingin menjadi mangsa makhluk menyeramkan ini.

Si Siang-ho membuang sisa keranjang bambu yang ada di tangannya, kemudian dia mulai bergeser lagi merangsek maju ke depan.

Belakang tubuh Tu Siau-thian adalah sebuah meja, ketika dia mundur setengah depa lagi ke belakang, punggung badannya seketika menempel ditepi meja itu.

Baru saja dia akan bergeser, kawanan laron itu sudah mengejar tiba dan menyambar ke arah tubuhnya dimana bunga kuning sedang berhamburan.

Sebenarnya saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Si Siang-ho untuk melancarkan serangan, sebab waktu itu musuhnya sedang kelimpungan menghadapi serbuan kawanan laron.

Tapi kejadian aneh kembali berlangsung, bukan saja Si Siang-ho tidak mengejar lebih jauh, bahkan dia pun tidak melakukan gerakan apapun.

Apakah dia dibuat kaget oleh bentakan nyaring dari Tu Siau-thian tadi? Atau dia sedang mempersiapkan rencana lain?

0-0-0

Dalam waktu singkat paling tidak ada dua-tiga puluh ekor Laron Penghisap darah yang hinggap ditubuh dan pakaian Tu Siau-thian, malah ada seekor yang hinggap diatas telinganya.

Tapi Tu Siau-thian tidak menggubrisnya bahkan tidak melakukan langkah apapun, sorot matanya hanya tertuju ke wajah Si Siang-ho seorang.

Kendatipun lawannya telah menghentikan langkah majunya, tapi dia masih mengawasi terus lawannya dengan hati hati, dia sudah menangkap hawa napsu membunuh yang menakutkan memancar keluar dari balik matanya.

Tidak ada angin yang berhembus lewat, langit serasa sudah membeku, bau busuk aneh yang menyesakkan dada nyaris membuat pernapasan orang serasa tersumbat.

Tu Siau-thian masih berdiri tidak bergerak, golok ditangannya masih digenggam erat erat.

Dia berusaha menenangkan gejolak perasaan hatinya sementara sepasang matanya mengawasi terus wajah Si Siang-ho tanpa berkedip.

Sementara itu Si Siang-ho juga sedang mengawasi wajah Tu Siau-thian tanpa berkedip, hawa napsu membunuh yang terpancar keluar makin lama semakin bertambah tebal.

Dia sudah mulai menggerakkan sepasang tangannya, tangan kiri menyapu ke muka sedang tangan kanan mengebaskan ujung bajunya, setiap gerakan dilakukan sangat lamban dan aneh sekali.

Tu Siau-thian menggenggam goloknya semakin kencang.

Apa yang sedang dilakukan Si Siang-ho saat itu? Apakah gerakan tangannya itu menandakan kalau dia sedang bersiap sedia melancarkan serangan?

Tapi hingga sekarang dia belum juga turun tangan? Apa yang sedang dia nantikan?

Sementara masih tercengang oleh tingkah laku musuhnya, tiba-tiba Tu Siau-thian merasaan telinga kirinya sakit sekali, sekarang dia baru teringat kalau ada seekor Laron Penghisap darah sudah hinggap diujung telinganya.

Tampaknya laron itu sudah menusukkan jarum penghisapnya menembusi kulit telinga dan mulai menghisap darahnya.....

Buru-buru dia kebaskan tangannya keatas telinga, Plaaak! Laron Penghisap darah itu terhajar telak dan rontok ke tanah.

Pada saat itulah "Criiing!" Si Siang-ho telah meloloskan

sebilah pedang, suara dentingan itu berasal dari sarung pedangnya.

Pedang itu panjangnya tiga depa, sebilah pedang lembek, lebarnya tidak sampai dua jari dan memancarkan sinar tajam ketika tertimpa cahaya rembulan.

Kini Tu Siau-thian tidak berani memperdulikan hal yang lain, dia pusatkan seluruh perhatiannya ke arah lawan.

Si Siang-ho sudah menghunus senjatanya, setiap saat serangan mematikan akan dilancarkan, tentu saja dia tidak berani gegabah!

Kini senjata sudah berada dalam genggaman, tapi Si Siang- ho belum juga turun tangan. Melihat hal itu tidak tahan Tu Siau-thian segera menegur: "Bukankah kau siap membunuhku?"

"Apa yang telah kuputuskan, tidak pernah akan ku rubah!" "Kenapa belum juga turun tangan?"

"Karena aku sedang menunggu kau turun tangan terlebih dulu"

"Akupun sedang menunggumu turun tangan lebih dulu" balas Tu Siau-thian.

"Kita tidak perlu sungkan-sungkan dan saling mengalah, sampai kapan pertarungan baru bisa dilangsungkan?"

"Itulah sebabnya lebih baik kau lancarkan serangan terlebih dulu!"

"Baik!" begitu selesai bicara Si Siang-ho segera membentak nyaring, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia melesat ke udara dan langsung menusuk tubuh Tu Siau-thian dengan sebuah serangan kilat.

Sungguh dahsyat tenaga serangan itu, belum lagi mata pedang mendekati sasaran, hawa serangan sudah menekan datang dengan dahsyatnya.

Tu Siau-thian tahu kehebatan orang, dari desingan angin serangan dia sudah tahu kalau musuh yang dihadapinya amat tangguh.

"Serangan hebat!" pujinya sambil merendahkan tubuhnya ke bawah.

"Blukkk!" dia menjatuhkan diri berguling ke tanah, lalu dengan secepat kilat tubuhnya bergulingan mendekati tubuh Si Siang-ho.

Bersamaan dengan gerakan tubuh itu, goloknya langsung menyambar ke samping menyapu sepasang kaki lawannya, inilah salah satu gerak serangan dari ilmu sapuan goloknya. Ilmu yang paling dia andalkan memang ilmu sapuan golok, maka sekali menggelinding paling tidak dia telah melepaskan enam belas buah sapuan.

Tapi sayang semua serangannya mengenai sasaran kosong, tidak satu pun yang berhasil menyentuh sepasang kaki lawan.

Si Siang-ho melejit ke tengah udara, bagaikan seekor alap- alap dia menyambar ke bawah, pedangnya langsung menusuk tulang rusuk sebelah kiri Tu Siau-thian.

Dalam waktu singkat dia telah melepaskan tiga buah tusukan berantai, satu menusuk ke depan, satu ke belakang kemudian satu dari atas, tapi semuanya tidak mengenai sasaran.

Sekalipun begitu ternyata Tu Siau-thian tidak mampu berdiri tegak, dia dipaksa untuk berguling terus dibawah sambil tiada hentinya melancarkan serangan.

Dalam keadaan begini dia berguling terus, tidak lama kemudian tubuhnya sudah berguling sampai di depan pintu penjara bawah tanah itu.

Tadinya pintu itu berwarna biru tapi setelah tertutup rapat ternyata warnanya berubah seolah menyatu dengan langit nan gelap, sulit bagi orang untuk membedakan mana yang dinding dan mana yang pintu.

Masih untung Tu Siau-thian memiliki daya ingat yang bagus, apalagi sejak pintu itu masih terbuka dia sudah mengingat baik baik letaknya.

Dengan daya ingatannya yang bagus dia berguling terus hingga tiba dihadapan pintu rahasia itu, kemudian dengan sekali lejitan dia sudah melompat bangun.

Kini seluruh tubuhnya sudah menempel diatas pintu rahasia itu, tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia sikut pintu itu kuat kuat. Sayang pintu itu sama sekali bergeming, bukan saja tidak berhasil dibuka malahan sikutnya lamat-lamat terasa amat sakit, ternyata pintu itu terbuat dari batu cadas.

Tu Siau-thian merasakan hatinya tercekat, tapi dia tidak mau menyerah dengan begitu saja, dengan sekuat tenaga dia dorong pintu itu dengan kedua belah tangannya.

Sama sekali tidak ada reaksi, pintu itu seakan sudah mengakar disitu, kenyataan ini kontan saja membuat hatinya semakin tercekat.

"Kau ingin melarikan diri?'' terdengar Si Siang-ho menjengek dari arah belakang.

"Tentu saja aku harus mencoba" jawab Tu Siau-thian tanpa berpaling, "sayang aku tidak mampu membuka pintu ini"

Si Siang-ho segera tertawa tergelak.

"Hahaha bila kau bisa membuka pintu itu sekehendak

hati mu, percuma aku melatih diri hampir sepuluh tahun lamanya"

"Melatih diri selama sepuluh tahun? Apa yang kau latih?" "Kau ingin tahu?"

"Kau sedang mempelajari ilmu merancang alat perangkap?" "Tepat sekali"

Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang, bibirnya bergetar seperti ingin menanyakan sesuatu, tapi belum sempat dia berbicara, Si Siang-ho sudah bicara lebih dulu:

"Sebenarnya masih ada cara lain jika kau ingin pergi meninggalkan tempat ini"

"Oya? Bagaimana caranya?"

"Paling tidak masih ada sebuah cara yang bisa kau coba" "Aaah, aku tahu cara apa yang kau maksudkan"

"Kau tahu? Bagaimana caranya?" Si Siang-ho seakan tidak percaya. "Membunuhmu!"

"Hahahaha memang sebuah cara yang sangat bagus"

tidak kuasa lagi Si Siang-ho tertawa tergelak, "ternyata kau memang seseorang yang amat cerdas"

"Aku memang selalu cerdas, dan akupun tahu hanya dengan cara ini maka semua persoalan akan terselesaikan"

Si Siang-ho segera manggut manggut, rupanya dia sangat setuju dengan perkataan itu.

"Hanya sayangnya tidak setiap orang sanggup berbuat demikian" ujar Tu Siau-thian lebih lanjut.

"Kau sendiri bagaimana? Apakah kau merasa sanggup untuk melakukannya?"

"Biarpun tidak sanggup, aku tetap akan mencobanya" "Silahkan saja untuk dicoba!"

"Dan untung sekali aku masih mempunyai sebuah cara untuk menyelamatkan diri"

"Apa caramu itu?"

"Beradu jiwa dengan kau!"

Si Siang-ho segera tertawa tergelak. "Kenapa tidak segera kau coba?" jengeknya.

Tu Siau-thian tidak banyak bicara lagi, dia segera bergerak maju mendekati lawannya, kali ini dia yang mengambil posisi untuk menyerang lebih dahulu.

Meskipun langkah kakinya sangat lambat, namun mimik mukanya nampak hambar tanpa perasaan, tampaknya dia sudah bersiap sedia untuk beradu jiwa, karena dia tahu saat ini hanya cara tersebut yang dia miliki. Dia pun sadar bahwa kemampuan yang dimilikinya belum mampu menghabisi nyawa Si Siang-ho, sebaliknya untuk kabur pun masih tanda tanya besar.

Itulah sebabnya Tu Siau-thian segera mengambil keputusan, bagaimana pun juga, selembar nyawanya memang harus dipertaruhkan dalam beradu jiwa ini.

0-0-0

"Kegelapan malam" tidak pernah berubah, "cahaya rembulan" pun masih tetap seperti semula, tidak terjadi perubahan apa pun ditempat itu.

Bau harumnya bunga berwarna kuning sudah semakin memudar, kini diantara bau lamat lamarnya bunga mulai terendus bau amisnya darah, darah dari kawanan Laron Penghisap darah.

Amisnya darah memancar juga dari tubuh Tu Siau-thian, ketika dia berguling ditanah sambil melancarkan sapuan tadi, ada belasan ekor Laron Penghisap darah yang tertindih oleh tubuhnya dan mati dengan tubuh hancur.

Darah laron membasahi seluruh pakaiannya, bau busuk pun amat menusuk hidung, tapi anehnya dia bisa bertahan dari rasa mual di perut, dia tidak sampai muntah karena bau busuk itu.

Sekalipun dia benar-benar ingin tumpah pun sekarang sudah tidak ada waktu lagi.

Serangan pedang yang dilancarkan Si Siang-ho sudah melayang tiba dari tengah udara.

Tu Siau-thian segera membentak keras, tubuh berikut goloknya maju menyongsong datangnya ancaman, dia benar- benar sudah siap beradu jiwa. Kali ini dia tidak menggunakan ilmu goloknya lagi, golok yang berada dalam genggamannya memang sudah tidak memerlukan ilmu golok yang hebat lagi.

Senjata itu diayunkan berulang kali ke kiri kanan, membacok secara membabi buta, seakan sedang membelah kayu bakar saja.

Dia berharap bisa membacok Si Siang-ho persis seperti kayu bakar, membelah tubuhnya jadi dua bagian, membelah tubuhnya dalam satu kali bacokan.

Serangkaian bacokan telah dia lakukan, walaupun dalam serangan itu dia berhasil memaksa pedang lawan tersingkir dari jangkauan tubuhnya, walau berhasil memaksa lawannya mundur berulang kali, tapi sayang dia tidak berhasil membelah tubuhnya bagaikan kayu bakar.

Bahkan serangan berantainya tidak berhasil memaksa langkah musuhnya jadi kalut, tidak berhasil membuatnya kelabakan.

Tu Siau-thian mulai terkesiap, baru saja ingatan itu melintas lewat, baru saja gerak serangannya sedikit melambat, Si Siang-ho telah manfaatkan peluang itu dengan merangsek maju ke depan.

Kembali terlihat cahaya pedang berkelebat lewat, mata senjata menerobos masuk melalui celah celah bayangan goloknya, langsung mengancam dada Tu Siau-thian.

Dalam gugupnya buru-buru Tu Siau-thian memutar goloknya untuk menangkis, "Criiing!" diiringi dentingan nyaring, tusukan itu seketika terbendung, namun tusukan ke dua kembali berkelebat lewat.

Begitu mata pedang tertangkis, senjata itu segera menggulung balik sembari melejit, lagi-lagi dia tusuk dada Tu Siau-thian. Begitu cepat, begitu gesit serangan itu ibarat seekor ular berbisa yang siap mematuk mangsanya. Merasa tidak sanggup membendung datangnya tusukan itu, buru-buru Tu Siau-thian melejit ke samping untuk menghindarkan diri.

"Sreeet!" ujung pedang menembusi baju diatas bahunya, untung hanya meninggalkan luka memanjang yang ringan.

Serangan ke tiga kembali menyambar tiba!

Kali ini Tu Siau-thian tidak berkelit maupun menangkis, dia hanya bergeser mundur ke belakang.

Serangan ke empat dari Si Siang-ho kembali menyusul tiba, satu kali berhasil menguasahi keadaan, dia tidak sudi melepasnya kembali.

Ketika serangan ke lima mulai dilontarkan, Tu Siau-thian sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menangkis, terpaksa dia mundur terus berulang kali.

Tapi Si Siang-ho sama sekali tidak mengendorkan serangannya, selangkah demi selangkah dia merangsek maju terus, serangan pedangnya makin cepat, makin ganas dan semakin keji.

Begitu dua belas tusukan lewat, diatas tubuh Tu Siau-thian telah bertambah dengan sebuah luka dan enam buah lubang kecil diatas bajunya.

Mulut luka itu tidak terlampau dalam dan berada pada lengan kirinya, luka semacam ini sama sekali tidak menimbulkan pengaruh apa apa, satu satunya yang terpengaruh saat itu hanyalah semangat tempurnya.

Sebenarnya dia bermaksud akan beradu jiwa, tapi sekarang semangatnya untuk beradu jiwa mulai runtuh.

Kehebatan ilmu silat yang dimiliki lawan jauh diluar dugaannya. Begitu pertarungan berlangsung, dia sudah merasakan kalau ilmu silat mereka berbeda sangat banyak, apalagi setelah menghadapi berapa tusukan pedangnya, dia semakin sadar kalau selisih jarak mereka makin lama makin bertambah besar.

Dua belas tusukan kemudian dia nyaris dapat memastikan bahwa hanya tersedia satu jalan saja baginya yaitu kematian, kendatipun dia berniat beradu nyawa.

Berada dalam keadaan seperti ini, kabur merupakan jalan yang terbaik, sayang dia tidak berhasil menemukan pintu keluar disekitar situ.

Masih untung ruang penjara bawah tanah itu cukup luas, dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit dia masih berhasil menghindarkan diri ke sana kemari.

Tampaknya Si Siang-ho dibikin kewalahan juga oleh ulah lawannya, mendadak dia menarik kembali serangannya dan berkata sambil tertawa dingin:

"Bukankah kau berniat untuk beradu jiwa denganku?" "Kelihatannya aku tidak mampu beradu nyawa lagi, lebih

baik tidak usah beradu lagi" sahut Tu Siau-thian sambil menghembuskan napas panjang.

Si Siang-ho tertawa dingin.

"Hmmm, kau enggan beradu pun akan mati, beradu juga tetap mati!" jengeknya.

Sembari tertawa dingin kembali sebuah tusukan dilancarkan, serangan ini jauh lebih ganas, tajam dan hebat.

Tidak menunggu serangan itu mendekati tubuhnya buru- buru Tu Siau-thian menjatuhkan diri berguling ke atas tanah.

Kali ini dia bukan berguling sambil mengeluarkan ilmu goloknya, juga tidak berguling untuk mendekati Si Siang-ho, dia justru berguling ke belakang sebuah meja kemudian baru melejit bangun. "Sreeet!" kembali sebuah tusukan meluncur tiba melewati meja, langsung mengancam dadanya.

Buru-buru Tu Siau-thian menangkis dengan goloknya, sreet, sreeet, sreeet, secara beruntun kembali meluncur datang tiga buah tusukan pedang.

Dengan mengayunkan goloknya ke kiri dan kanan Tu Siau- thian menangkis dua serangan pertama, tiba-tiba badannya berjongkok ke bawah dan dia lolos dari serangan yang ke tiga.

Melihat hal itu Si Siang-ho segera tertawa dingin, serunya: "Jangan dikira dengan adanya meja sebagai penghalang

lalu aku tidak mampu membunuhmu!"

"Paling tidak tidak segampang itu bila ingin membunuhku" jawab Tu Siau-thian sambil tertawa dingin.

"Benarkah begitu?" kembali sebuah tusukan pedang dilontarkan.

"Serangan bagus" teriak Tu Siau-thian sambil menangkis tusukan itu dengan goloknya.

Si Siang-ho tertawa dingin, mendadak dia melejit ke tengah udara, bagaikan seekor burung bangau yang terbang menembusi awan, dia meluncur turun secepat kilat sambil melepaskan sebuah tusukan maut.

Buru-buru Tu Siau-thian memutar goloknya untuk melindungi diri, kemudian dia berputar dari sisi meja yang satu menuju ke sisi meja yang lain.

Tiga serangan kembali sudah lewat, namun kedua orang itu tetap terpisah oleh meja yang besar itu.

Si Siang-ho tertawa dingin, sekali lagi dia melejit ke tengah udara sambil melepaskan tusukan secepat sambaran petir, kali ini tubuhnya ikut berputar bagaikan gangsingan lalu melayang turun ke atas permukaan meja itu. Jika dia berhasil berdiri diatas permukaan meja itu, maka posisinya jadi sangat menguntungkan karena dia bisa menyerang ke segala arah dengan lebih leluasa.

Tentu saja Tu Siau-thian tidak membiarkan lawannya berbuat begitu, sambil membentak nyaring dia lancarkan serangkaian bacokan kilat, dalam waktu singkat dua puluh satu sapuan golok telah dilontarkan.

Dengan gerakan yang sangat ringan Si Siang-ho memunahkan semua serangan yang datang ketika berhasil memunahkan serangan yang ke dua puluh dua, kakinya yang sebelan telah berhasil menginjak diatas permukaan meja.

Dengan kaki sebelah dia menopang seluruh berat badannya, sekali lagi pedangnya selincah ular berbisa menusuk ke tubuh lawan.

Begitu serangan Tu Siau-thian sedikit melambat, kakinya yang lain cepat cepat menginjak diatas permukaan meja itu.

Kini dia telah berdiri mantap diatas meja, serangan yang dilancarkan pun makin menghebat dan dahsyat, setelah membendung lagi dua tusukan golok Tu Siau-thian, dia membentak keras dan pedangnya langsung menerobos pertahanan lawan dan rnerangsek lebih ke depan.

Tergopoh gopoh Tu Siau-thian memutar goloknya untuk menangkis.

"Traaang. " golok dan pedang saling beradu keras

sebelum ke dua senjata itu saling mencelat ke belakang, mendadak pedang lemas milik Si Siang-ho itu bagaikan seekor ular telah melilit diatas senjata lawan.

Tu Siau-thian amat terkesiap, buru-buru dia menarik senjatanya ke belakang.

Hampir bersamaan waktunya telapak tangan kiri Si Siang- ho segera didorong ke muka, menghajar tubuh Tu Siau-thian. Meskipun selisih jarak mereka berdua amat dekat, bukan berarti pukulan itu bisa bersarang ditubuh Tu Siau-thian secara mudah, sekalipun begitu dahsyatnya angin pukulan sama saja dapat melukai lawannya.

Tu Siau-thian semakin terkesiap, sakit kagetnya paras mukanya berubah hebat.

0-0-0