Laron Penghisap Darah Bab 28 : Pinggir kota yang sepi.

Bab 28: Pinggir kota yang sepi.

Suara aneh itu sebetulnya tidak terlalu nyaring, namun ditengah keheningan yang mencekam, tidak susah untuk menangkap suara itu.

Namun bagi Tu Siau-thian, hal itu tidak penting, mau suara dari pintu rahasia atau bukan, dia sudah mengambil keputusan untuk turun ke bawah dan melakukan penyelidikan.

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia segera padamkan obor yang ada dalam genggamannya. Seketika itu juga suasana tercekam kembali dalam kegelapan.

Hujan masih turun rintik-rintik diluar jendela, malam yang semakin larut membuat keadaan bertambah gelap, baru saja dia akan bangkit berdiri, lagi lagi berkumandang suara aneh dari bawah loteng. Kali ini suara tersebut lebih lirih dan lemah.

Tanpa ragu ragu lagi dia segera bertiarap dilantai sambil menempelkan telinganya ke atas lantai, ternyata suara langkah manusia! Langkah kaki itu bergema sesaat lalu "kreeek!" seperti suara pintu dibuka orang.

Siapa yang tinggal dalam ruangan dibawah loteng? Apakah Si Siang-ho? Apa yang sedang dilakukan Si Siang-ho di bawah sana?

Sebagai orang yang memang berwatak banyak curiga, suara suara aneh itu semakin membangkitkan rasa curiga Tu Siau-thian, biarpun dia sadar situasi yang sangat berbahaya, namun dia tidak ragu untuk menelusurinya, apalagi keadaan ditempat tersebut meski nampak aneh, dia menganggap tidak terlampau berbahaya.

Perlahan-lahan dia merangkak bangun, berdiri. Setiap gerakan, setiap langkah dia lakukan amat berhati-hati, sedapat mungkin tidak sampai menimbulkan suara.

Kemudian dia mulai berjalan menuju ke arah pintu sebelah sana, sambil berjalan dia perhatikan terus suara langkah kaki yang kedengaran dibawah loteng.

Ternyata langkah kaki itu berjalan menuju ke arah ruang utama rumah penginapan. Ketika dia menyelinap keluar dari pintu, terlihatlah secercah cahaya yang sangat lemah.

Sinar berwarna kekuning-kuningan itu kelihatan bertambah terang ketika dia menuruni anak tangga, tidak lama kemudian diapun melihat sebuah lentera minyak.

Saat itu dia sudah hampir selesai menuruni anak tangga. Dengan menempelkan diri disisi dinding ruangan dia mulai berjongkok.

Bila tidak berjongkok, asal orang yang berjalan sambil membawa lentera itu mendongakkan kepalanya, maka jejaknya segera akan ketahuan.

0-0-0 Lampu minyak itu berada dalam sebuah tangan yang amat stabil. Biarpun orang itu sedang berjalan namun lidah api sama sekali tidak bergoyang.

Orang itu berjubah panjang warna putih pucat, rambutnya kusut dan digulung menjadi sebuah konde persis konde seorang tosu.

Jika dilihat dari bayangan punggungnya, Tu Siau-thian segera mengenali orang itu sebagai Si Siang-ho!

Tiba-tiba orang itu menghentikan langkahnya, membungkukkan badan mengambil sebuah keranjang bambu dari balik lemari kemudian membalikkan badan.

Cahaya lentera segera menyinari wajahnya, tidak salah, ternyata dia memang Si Siang-ho!

Cahaya lentera mulai bergerak, dengan tangan sebelah memegang lampu, tangan lain membawa keranjang bambu, Si Siang-ho membalikkan badan dan berjalan balik.

Sekali lagi Tu Siau-thian bertiarap, dia mendengar langkah kaki itu tidak balik ke ruangan dibawah loteng melainkan langsung menuju ke halaman belakang.

Mau apa Si Siang-ho pergi ke halaman belakang dengan membawa keranjang bambu? Tu Siau-thian semakin keheranan.

Langkah kaki itu semakin lirih sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran, menurut perkiraan, seharusnya Si Siang-ho sudah berada di halaman belakang.

Dengan cekatan Tu Siau-thian melompat turun dan menerjang ke samping pagar tangga, dia harus berebut waktu dengan orang itu, sedapat mungkin badannya tidak sampai menyentuh sesuatu benda pun disana.

Kemudian bagaikan seekor ular dia menyelinap ke arah ruangan dibawah loteng. Pintu ruangan dalam keadaan setengah terbuka, Tu Siau- thian langsung menyelinap masuk ke dalam.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, dia segera mendengar suara dengungan yang sangat ramai, seramai suara yang pernah didengar ketika mengunjungi ruang loteng tempo har.

Jangan-jangan kawanan laron itu berkumpul disitu? Tu Siau-thian merasakan bulu kuduknya bangun berdiri, tanpa terasa dia mundur selangkah. Ternyata tidak nampak seekor pun Laron Penghisap darah yang terbang disitu.

Dari sudut dinding ruangan dia menangkap seberkas cahaya yang amat lirih, meski cahaya itu amat redup namun sudah lebih dari cukup bagi Tu Siau-thian yang sudah terbiasa dalam kegelapan.

Sekarang dia dapat melihat keadaan dalam ruangan dengan cukup jelas.

Disisi kiri terdapat sebuah pembaringan, diatas ranjang terletak bantal dan selimut. Sementara disisi kanan terdapat sebuah meja dengan tiga empat buah bangku.

Diatas meja tersedia teko air teh dan cawan, tidak jauh dari meja tersebut menempel dengan sebuah dinding terdapat sebuah pintu.

Pintu itu dalam keadaan terbuka, dari balik ruangan itulah cahaya redup itu berasal. Tu Siau-thian langsung melompat masuk dan menerobos ke tepi pintu.

Ternyata dibelakang dinding masih terdapat dinding, setelah memasuki pintu rahasia itu terbentang sebuah lorong penghubung selebar tiga depa.

Tu Siau-thian tidak terlalu merasa heran dengan keadaan disitu, sebab dia pernah menyaksikan dinding rangkap semacam ini ketika berada di perkampngan Ki-po-cay, dua lapis dinding yang dipisahkan sebuah lorong. Untuk sesaat dia merasa ragu, masuk atau tidak? Jika ditinjau dari keadaan ruangan, tampaknya tempat itu merupakan kamar tidur Si Siang-ho.

Tapi mengapa didalam kamar tidurnya terdapat dinding rangkap?

Lorong itu menghubungkan ruang tidur dengan apa?

Apakah dia sendiri yang membangun atau sudah ada semenjak dulu?

Apa gunanya lorong penghubung itu?

Apakah dia mempunyai rahasia lain yang tidak boleh diketahui orang luar? Tapi apa rahasianya?

Pikiran itu berkecamuk terus dalam benak Tu Siau-thian.

-----dia yakin tidak secepat itu Si Siang-ho akan balik ke situ. Tu Siau-thian putuskan untuk menerobos masuk ke dalam pintu rahasia.

Hanya dengan memasuki ruang rahasia itu, segala sesuatunya akan menjadi jelas.

Dia hanya berharap lorong rahasia ini tidak dilengkapi alat jebakan yang mematikan seperti yang terpasang dalam lorong rahasia di perkampungan Ki-po-cay, dia tidak ingin begitu melangkah masuk, tubuhnya kontan berubah jadi seekor landak.

0-0-0

Tu Siau-thian sadar, tidak banyak waktu yang tersedia baginya, maka dia putuskan untuk menyusup masuk ke balik pintu rahasia. Dia memang sudah nekad untuk pertaruhkan nyawanya.

Dia sama sekali tidak tidakut mati, suara desingan dan dengungan yang muncul dari balik lorong rahasia jauh lebih menarik perhatiannya ketimbang memikirkan keselamatan sendiri.

Apalagi sebagai seorang opas yang sudah bertugas sepuluh tahun, bukan untuk pertama kali dia menyerempet bahaya.

"Weeesss!" tubuhnya meluncur turun ke bawah, detik itu juga dia merasa seluruh perasaan hatinya seakan sedang menyusut.

Tidak ada hujan anak panah atau pisau terbang yang membidik ke arah tubuhnya, mungkin lorong rahasia ini memang berbeda dengan lorong rahasia yang ada dalam perkampungan Ki-po-cay, mungkin juga sewaktu meninggalkan lorong rahasia tersebut Si Siang-ho belum sempat menghidupkan kembali alat rahasianya.

Seandainya benar begitu, berarti Si Siang-ho segera akan balik kemari, tanpa ragu lagi Tu Siau-thian segera menyusup masuk lebih ke dalam.

Gerakan tubuhnya tidak mendapat rintangan atau halangan apa pun, ternyata didalam lorong rahasia itu memang tidak ada orang lain.

Lorong itu tidak terlalu panjang, diujung lorong merupakan sebuah undak-undakan batu yang menjorok turun ke bawah.

Tu Siau-thian menuruni anak tangga itu dan memasuki sebuah penjara bawah tanah. Anehnya, mengapa segala bentuk dan perencanaan lorong rahasia ini mirip sekali dengan lorong rahasia dalam perkampungan Ki-po-cay?

Tu Siau-thian sangat keheranan, namun ada kejadian lain yang jauh lebih mengherankan lagi!

Penjara bawah tanah itu sangat lebar, tapi hal ini bukan sesuatu yang mengherankan. Tu Siau-thian pernah menyaksikan penjara bawah tanah yang jauh lebih lebar daripada tempat ini, yang aneh justru terletak pada interior yang tersedia disitu.

Selama hidup belum pernah Tu Siau-thian saksikan interior sedemikian anehnya, ke empat dinding penjara bawah tanah itu pada hakekatnya mirip sekali dengan langit malam yang hitam pekat.

Demikian juga dengan atap dinding itu, atap penjara merupakan langit biru yang dicekam kegelapan malam, selain itu dibagian tengah terdapat sebuah lentera, lentera yang tertanam didalam dinding dengan diluarnya dilapisi sebuah kristal yang tembus pandang. 

Ketika cahaya lentera memancar keluar menembusi kaca kristal, terbentuklah sinar lembayung yang persis sama dengan cahaya rembulan.

Berada ditempat itu, Tu Siau-thian merasa seakan sedang berdiri dibawah sinar rembulan, berdiri ditengah alam bebas yang maha luas, dibawah sinar rembulan yang menyeramkan.

Ditengah kegelapan malam yang jemih, tidak nampak ada awan yang mengusiknya, sedikit pun tidak nampak.

Segerombolan Laron Penghisap darah sedang beterbangan mengelilingi rembulan itu, menari-nari ditengah kegelapan malam.

Sayap yang berwarna hijau kemala, mata yang merah bagaikan darah, dibawah cahaya icmbulan nampak lebih segar, lebih cantik dan lebih menyeramkan.

Tu Siau-thian merasa seakan dirinya sudah terjerumus ke dalam dunia iblis!

Sebuah meja besar berwarna hijau lumut tergeletak ditengah ruangan, meja itu mirip sekali dengan sebuah batu besar yang penuh ditumbuhi lumut, sebuah batu berlumut. Permukaan meja tidak rata, penuh tonjolan dan lekukan sehingga mirip sekali dengan permukaan batu cadas, pada bagian permukaan yang lekuk ke dalam terlihat selapis cairan berwarna merah yang persis seperti cairan darah.

Cairan itu berwarna merah pekat persis seperti cairan darah. Tapi darah apa? Dengan penuh rasa ingin tahu Tu Siau-thian berjalan menghampiri.

Begitu mendekati batu berlumut itu, dia segera mendengar suara mencicit yang amat lirih, suara apa itu?

Tu Siau-thian berjalan semakin mendekat, dia mulai memegang cairan merah seperti darah segar itu.

Baru saja tangannya mendekat, suara dengungan nyaring segera memecahkan keheningan, dari sekeliling meja itu segera bermunculan dua-tiga puluhan ekor Laron Penghisap darah!

Tadinya ke dua-tiga puluh ekor Laron Penghisap darah itu sedang mendekam diatas permukaan meja, tapi sekarang hampir sebagian besar telah beterbangan karena merasa terusik oleh kehadiran Tu Siau-thian.

Dengan perasaan amat terkejut Tu Siau-thian menghentikan tangannya ditengah udara, sekali lagi dia perhatikan permukaan meja.

Kali ini dia dapat melihat dengan lebih jelas tadi, ternyata diatas permukaan meja pun mendekam beberapa ekor Laron Penghisap darah.

Kawanan Laron Penghisap darah itu mempunyai mata yang merah bagaikan darah segar dan tubuh yang hijau pupus bagaikan batu kemala.

Permukaan meja itupun tidak rata dan penuh ditumbuhi lumut yang tebal, pada bagian yang melengkung dipenuhi cairan merah mirip cairan darah, ternyata kawanan Laron Penghisap darah yang berkerumun diatas permukaan meja itu sedang menempelkan tabung-tabung jarum mereka ditengah cairan merah darah itu, tampaknya mereka sedang menghisap cairan tersebut.

Sebenarnya cairan apakah itu? Apakah cairan darah segar? Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian mencelupkan jari tangannya,

dia merasa cairan itu dingin sekali, jari tangannya seolah

sedang direndamkan ke dalam air dingin.

Cepat Tu Siau-thian menarik kembali tangannya, ternyata cairan merah itu segera menodai ujung jarinya, seakan baru saja dia celupkan tangannya ditengah cairan pewarna.

Ketika jari tangan itu didekatkan ke lubang hidung, segera terendus bau busuk yang aneh sekali.

Tu Siau-thian tidak bisa menyimpulkan cairan apakah itu.

----jangan jangan cairan itu adalah bahan minuman untuk kawanan Laron Penghisap darah? Kalau benar, cairan apakah itu?

Baru saja satu ingatan melintas dalam benaknya, kembali hidungnya mengendus sejenis bau lain yang amat khas, padahal sejak tadi bau tersebut sudah mendominasi seluruh ruang penjara bawah tanah itu.

Tapi sekarang Tu Siau-thian baru menyadari akan hal itu.

Dengan penuh rasa ingin tahu dia mulai memeriksa sekeliling tempat itu, berasal dari mana bau khas yang aneh itu?

Ketika dia mulai memeriksa dinding disekitar penjara, terlihat disitu banyak tertumpuk daun-daunan dan bunga yang sudah layu.

Sebagian besar sisa bunga sudah layu dan kusut, tapi masih kelihatan dengan jelas kalau bunga itu berwarna kuning. Mungkinkah bunga itu adalah bunga aneh yang tumbuh di halaman belakang rumah penginapan? Sekarang Tu Siau-thian baru menyadari kalau bau aneh itu berasal dari bau harumnya bunga, jangan-jangan bunga- bungaan itu adalah makanan utama kawanan Laron Penghisap darah?

Dia mulai memeriksa seputar tempat itu, namun tidak nampak sepotong tulang belulang pun disitu, juga tidak terlihat adanya kerangka binatang yang tertinggal disana.

Jika bunga-bungaan itu bukan makanan utama kawanan Laron Penghisap darah, kenapa tumbuhan itu harus diletakkan dalam penjara bawah tanah.

------ atau mungkin ada sebagian Laron Penghisap darah yang pemangsa daging, ada pula yang mamalia?

Tu Siau-thian ingin maju mendekat, asal dia bisa mendekati tumpukan tumbuhan itu maka satu hal lagi yang bisa dia buktikan.

Jika bunga berwarna kuning itu benar adalah bahan makanan kawanan Laron Penghisap darah, diatas tumpukan bunga-bungaan itu pasti akan dijumpai Laron Penghisap darah yang sedang menyantap bunga-bungaan itu.

Bila hal ini bisa dibuktikan maka dia bisa memastikan kalau pemilik kawanan Laron Penghisap darah itu bukan Kwee Bok melainkan orang lain Si Siang-ho!

Kini rasa curiganya terhadap Si Siang-ho meningkat berpuluh kali lipat.

Dia tahu, bila ingin melakukan penyelidikan maka dia harus melakukan secepat mungkin, sebab bila sampai Si Siang-ho balik ke situ, dapat dipastikan orang itu tidak bakalan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Dia tidak tahu apakah kepandaian silatnya mampu menandingi Si Siang-ho, tiba-tiba saja dia mulai merasa bergidik, tiba-tiba muncul perasaan ngerinya terhadap orang yang bernama Si Siang-ho itu. Rasa seram yang luar biasa membuat dia tidak sanggup lagi berdiam lebih lama disitu, dia harus meninggalkan tempat tersebut sesegera mungkin.

Tidak dapat disangkal, apa yang terlihat olehnya sekarang merupakan sebuah penemuan yang luar biasa, tapi bila sampai ketahuan Si Siang-ho, maka penemuan besar itu segera akan berubah kembali menjadi sebuah rahasia.

Dengan terjadinya peristiwa ini, Si Siang-ho pasti akan merubah semua strateginya, dia pasti akan bekerja lebih hati hati lagi.

Jelas tidak gampang untuk menemukan rahasia sebesar ini, tidak gampang untuk menemukan tempat rahasia ini.

Bahkan kemungkinan besar rahasia ini akan menjadi rahasia yang abadi.

0-0-0

Baru saja Tu Siau-thian akan membalikkan tubuhnya, tiba- tiba jari telunjuk tangan kirinya terasa sakit sekali.

Tanpa terasa dia mengalihkan sorot matanya ke jari tangan sendiri, ternyata Laron Penghisap darah yang dicengkeram dalam tangan kirinya sudah mulai menusukkan jarum tabung penghisapnya ke dalam kulit badannya.

Dia hampir saja melupakan laron tersebut, karena kesakitan genggaman tangannya jadi sedikit mengendor, begitu mengendor laron itupun mulai meronta dengan sekuat tenaga.

Tu Siau-thian segera tertawa dingin, jengeknya sambil mengencangkan

genggamannya:

"Satu kali pengalaman sudah lebih dari cukup, kini, biar raja laron yang jatuh ke tanganku pun jangan harap bisa bisa meloloskan diri lagi" Mendadak terdengar sebuah suara dari belakang tubuhnya, suara itu bukan desisan aneh tapi suara manusia, suara yang menyeramkan hati.

"Bila terlihat olehku, kau pun akan mengalami nasib yang sama!" suara itu bergema dengan ketusnya.

Dengan perasaan terkesiap Tu Siau-thian berpaling.

Entah sedari kapan, tahu tahu Si Siang-ho sudah berdiri dimulut masuk penjara!

Dibawah cahaya lentera berwarna putih, paras muka Si Siang-ho yang sebenarnya sudah memucat kini nampak lebih putih pucat, sedemikian pucatnya sehingga lebih mirip sesosok mayat ketimbang manusia.

Mimik muka maupun nada ucapannya sangat dingin menyeramkan, seluruh badannya seolah diliputi selapis hawa putih yang tebal hawa setan!

Tubuhnya tahu-tahu sudah melayang tiba dengan gerakan yang begitu ringan dan cepat, melayang mendekat bagaikan sesosok sukma gentayangan yang baru muncul dari dalam neraka.

Kemunculannya memang sangat mendadak dan diluar dugaan, tidak ubahnya bagaikan sukma gentayangan.

Sekalipun Tu Siau-thian sedang pecah perhatiannya lantaran jari tangannya digigit Laron Penghisap darah, bagaimana pun dia memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, tapi kenyataannya sekarang dia baru sadar setelah Si Siang-ho muncul didepan pintu dan mulai menegurnya.

Dalam pada itu Si Siang-ho sudah melangkah masuk ke dalam ruang penjara, lentera minyak yang semula ditangan kirinya kini entah sudah berada dimana, tapi tangan kanannya masih menggenggam keranjang bambu. Dalam keranjang bambu itu penuh dengan bunga dan daun, bunga-bungaan yang tumbuh di halaman belakang rumah penginapan, daun yang hijau pupus dan bunga yang berwarna kuning segar.

Bau harum semerbak yang menusuk hidung dengan cepat tersebar di seluruh ruangan penjara bawah tanah.

Ketika mengendus bau harum semerbak itu, gerak tarian kawanan laron itupun nampak jauh lebih segar, lebih lincah dan cepat.

Suara dengungan nyaring semakin menggema disekitar tempat itu.

Tidak terlukiskan rasa bingung Tu Siau-thian saat itu, pikirannya kalut bercampur panik, ditatapnya Si Siang-ho sekejap lalu tegurnya tanpa sadar:

"Si Siang-ho "

"Ada apa?" jawab Si Siang-ho dengan wajah yang kaku, tanpa perubahan mimik muka.

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang hendak dia ajukan, namun untuk sesaat dia jadi bingung dan tidak tahu harus dimulai dari mana.

Si Siang-ho tidak mendesaknya, setelah melirik keranjang bambunya sekejap, dia berkata:

"Sebenarnya aku sudah bersiap siap untuk tidur nyenyak" "Sepagi ini kau sudah ingin tidur?" Tu Siau-thian

menanggapi tanpa terasa.

"Tidur lebih awal, tubuh baru akan sehat" "Semenjak kapan kau mulai perhatikan kesehatan

badanmu?'

"Yang pasti bukan sejak saat ini" "Kalau pingin tidur, kenapa tidak tidur saja?" "Aku tidak bisa tidur"

"Kenapa?"

"Karena ada urusan yang mengganjal pikiranku" "Pikiran apa yang mengganjal hatimu?"

"Karena bocah-bocah kesayanganku kelewat ribut" "Maksudmu kawanan Laron Penghisap darah itu?" "Benar"

"Anak kesayangamu atau kesayangan dari Kwee Bok?"

"Memangnya kau tidak mendengar dengan jelas apa yang kukatakan?" Si Siang-ho balik bertanya.

Tu Siau-thian seketika terbungkam, dia memang mendengar perkataan itu secara jelas.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

"Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan kalau akulah pemilik Laron Penghisap darah yang sesungguhnya?"

Dengan perasaan sedikit bimbang Tu Siau-thian mengangguk, mendadak ujarnya:

"Maukah kau menjawab beberapa pertanyaanku?"

"Boleh saja" jawab Si Siang-ho tanpa berpikir panjang.

Sekali lagi Tu Siau-thian termenung, dia tidak tahu harus dimulai dari mana.

Melihat orang itu kebingungan, Si Siang-ho segera berkata duluan:

"Apakah kau sudah tahu apa sebabnya kawanan bocah kesayanganku itu ribut melulu, bahkan luar biasa ributnya?"

"Kenapa?" Si Siang-ho tidak menjawab sebaliknya bertanya lagi: "Menurut kau, pada saat yang bagaimana watak seseorang

berubah jadi sangat jelek, paling tidak sabaran dan ribut

paling hebat?"

"Ketika merasa sangat lapar"

"Tepat sekali, begitu juga dengan kawanan laron" "Apakah kau lupa memberi makanan kepada mereka?" "Berapa hari belakangan aku memang kelewat repot" "Apa yang kau repotkan?"

"Bolehkah kau ajukan pertanyaan ini nanti saja?" "Kenapa harus kutunda?"

"Sebab apa yang ingin kukatakan belum selesai kusampaikan"

Tu Siau-thian menghela napas panjang, dia mengalihkan kembali pembicaraan ke pokok semula, katanya:

"Padahal aku lihat bocah bocah kesayanganmu itu memiliki kesabaran yang sangat bagus"

"Oya?"

"Coba berganti aku, tidak mungkin hingga kini baru aku mulai ribut"

"Bukankah baru sekarang mereka mulai ribut, sebenarnya selama beberapa hari belakangan ini aku selalu pulang larut malam, ketika tiba disini badanku sudah kelelahan sehingga begitu berbaring langsung saja tertidur"

"Jadi hari ini terkecuali?"

"Yaa, hari ini memang terkecuali"

"Maka kau baru teringat kalau sudah berapa hari tidak memberi makanan kepada mereka?" "Padahal aku sudah menimbun makanan yang cukup banyak dalam penjara ini, hanya saja setelah lewat berapa hari, bahan makanan itu berubah jadi layu dan tidak segar lagi"

"Jadi mereka pun bisa memilih makanan?" tanya Tu Siau- thian keheranan.

"Mereka tidak berbeda dengan manusia"

"Makhluk itu memang aneh sekali" Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, "jadi makanan mereka adalah bunga- bungaan yang tumbuh di belakang halaman itu?"

"Benar" sahut Si Siang-ho, sorot matanya dialihkan keatas keranjang bambunya, "Sebetulnya aku berencana untuk memenuhi keranjang bambu ini dengan bahan makanan"

Sekarang Tu Siau-thian baru melihat kalau keranjang bambu itu belum penuh isinya, tanpa terasa tanyanya:

"Kenapa kau tidak memenuhi keranjangmu itu?"

"Karena sewaktu aku sedang memetik bunga, tiba-tiba ada seekor Laron Penghisap darah yang terbang keluar"

"Apa urusannya dengan memetik bunga?"

"Kau toch mengerti juga bahwa mereka adalah makhluk yang berasal dari hutan seputar wilayah Siau-siang, punya daya hidup yang kuat dan sangat berbeda dengan jenis laron biasa, tidak takut matahari dan selalu berkeluyuran di alam terbuka sekalipun matahari sedang teriknya, sekalipun sudah terkurung pun mereka tetap akan terbang dan terbang terus hingga kelelahan bila menjumpai kesempatan"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Walaupun mereka adalah makhluk liar, namun setelah kulatih dalam jangka waktu yang lama, serangga itu sudah taat dengan perintahku, maka walaupun pintu penjara berada dalam keadaan terbuka pun kalau bukan ada sesuatu yang mengejutkan mereka, tidak nanti mereka akan terbang keluar dari situ"

"Benarkah begitu?"

"Maka aku segera tahu kalau ada orang yang menyusup masuk ke dalam penjara secara diam-diam"

"Darimana kau bisa tahu kalau pasti manusia dan bukan seekor tikus?"

"Karena disekeliling pintu masuk sudah diberi sejenis obat anti ular, tikus dan binatang liar lainnya"

"Kadangkala obat semacam itu toch belum tentu berkasiat?"

Si Siang-ho tidak menyangkal.

"Bisa saja yang menerjang masuk ke dalam penjara adalah seekor kucing atau seekor anjing?" kata Tu Siau-thian lebih jauh.

"Disini tidak ada kucing dan anjing"

"Tapi rumah tetangga pasti memelihara ke dua jenis binatang peliharaan itu"

"Aku tahu, kalau tidak ada kucing dan anjing, mana bisa tempat ini disebut sebuah dusun?"

Setelah tertawa ewa lanjutnya:

"Sekalipun memang ada kucing atau anjing yang diam- diam menyusup masuk, aku tetap akan balik kemari untuk melakukan pemeriksaan"

Sekali lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang tanpa bisa berkata apapun.

Si Siang-ho berkata lagi sambil tertawa:

"Kalau aku tidak balik kemari, darimana bisa tahu kalau yang menyusup masuk itu anjing atau manusia?" Kembali Tu Siau-thian menghela napas panjang.

"Sejak awal aku memang selalu bertindak sangat hati-hati" katanya, "aku tidak bermaksud mengusik mereka, juga tidak berniat mengejutkan mereka."

"Aku tahu kau pasti akan berbuat sangat hati-hati" "Nyali mereka memang kelewat kecil, padahal aku hanya

bermaksud menyentuh cairan mirip darah yang ada dimeja

untuk diperiksa cairan apakah itu, siapa sangka mereka jadi ketakutan sehingga ada yang kabur keluar dari penjara"

"Apakah pada mulanya kau tidak melihat jika mereka sedang berada diatas permukaan meja?"

"Sama sekali tidak kulihat"

"Bukankah selama ini kau memiliki sepasang mata yang sangat tajam?"

"Maklumlah, apa mau dikata jika warna mereka sangat mirip dengan warna dari permukaan meja itu"

"Ketika masih hidup di hutan belukar wilayah Siau-siang, mereka sangat gemar hinggap di benda-benda yang memiliki warna hampir mirip dengan warna tubuh mereka, sebab kawanan laron itu sadar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan serangan musuh, karena itulah mereka melindungi diri dengan cara demikian, selain untuk mengelabuhi pandangan mata musuh, juga bisa untuk menyelamatkan jiwa sendiri"

"Apakah jarum tabung penghisap yang mereka miliki merupakan senjata andalan mereka yang paling lihay?" tidak tahan Tu Siau-thian bertanya.

Si Siang-ho kembali tertawa, kali ini senyumannya kelihatan sangat aneh dan penuh misteri, ujarnya seraya tertawa:

"Jadi kau mengira mereka benar-benar bisa mengunyah daging dan menghisap darah?" "Memangnya tidak mampu?"

Si Siang-ho hanya tertawa tanpa menjawab, dia segera mengalihkan pembicaraan, tanyanya:

"Ada urusan apa secara tiba-tiba kau datang kemari?" "Tentu saja untuk menyelidiki rahasiamu" "Rahasiaku?"

"Termasuk rahasia Laron Penghisap darah milikmu!" sahut Tu Siau-thian sambil mengangguk.

"Sejak kapan kau mulai curiga kalau aku punya hubungan yang erat dengan kawanan Laron Penghisap darah itu?"

"Sudah semenjak awal" "Sejak kapan?"

"Sejak pertama kali memasuki tempat tinggalmu ini, aku sudah mulai menaruh curiga kepadamu"

"Memangnya sejak awal aku sudah melakukan kesalahan yang mengundang kecurigaanmu?" tanya Si Siang-ho keheranan.

Tu Siau-thian mengangguk.

"Kesalahan apa?" desak Si Siang-ho lebih jauh.

Tu Siau-thian tidak mampu memberikan jawabannya.

Si Siang-ho memandang wajahnya sekejap, tiba-tiba dia gelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.

Tu Siau-thian yang menyaksikan hal itu jadi keheranan, tanyanya tercengang:

"Persoalan apa yang membuat kau menghela napas?"

Sekali lagi Si Siang-ho menghela napas panjang, katanya: "Sebetulnya kau adalah seorang lelaki yang jujur dan polos,

kenapa sekarang bisa berubah menjadi licik dan banyak akal?" Tu Siau-thian melengak, dia seperti tidak menduga akan mendengar perkataan itu.

Kembali Si Siang-ho menatap wajahnya tajam tajam, ujarnya lebih jauh:

"Kalau dilihat dari lagakmu, seakan akan sama sekali tidak ada kejadian apa-apa"

Tampaknya Tu Siau-thian semakin tidak memahami maksud perkataan dari Si Siang-ho itu.

"Sayangnya" ujar Si Siang-ho lagi, "walaupun mimik mukamu tampil sempurna, namun kemampuanmu untuk berbohong masih ketinggalan jauh"

Kembali Tu Siau-thian berdiri tertegun. Si Siang-ho berkata lebih jauh:

"Kalau kau ingin berhasil membohongi orang lain, kau harus belajar membohongi dirimu sendiri, bila kau sendiripun percaya dengan kata bohongmu, orang lain pasti akan percaya juga dengan kebohonganmu"

Kuatir Tu Siau-thian tidak memahami perkataannya, dia segera memberi penjelasan lebih jauh:

"Maksud perkataanku adalah kau mesti membuat diri sendiri yakin terlebih dulu sebelum berbicara dengan orang lain, bohong itu nampaknya mudah, padahal tidak gampang"

"Oya?"

"Sebab tidak bisa dibilang diri sendiri percaya lalu orangpun langsung percaya, kau mesti bisa menaklukkan diri sendiri terlebih dulu sebelum bisa menaklukkan orang lain"

"Mempercayai perkataan sendiri jelas merupakan satu keharusan, apa urusannya orang lain mau percaya atau tidak?"

"Jelas besar sekali hubungannya" "Aku percaya atau tidak dengan perkataan sendiri hanya aku sendiri yang tahu, kecuali diutarakan keluar siapa pula yang bakal tahu?"

"Kau punya teman?" tiba-tiba Si Siang-ho bertanya. "Tentu saja punya, banyak sekali"

"Sahabat karib?" kembali Si Siang-ho bertanya. "Ada juga!"

"Ketika kau sedang berbohong atau tidak, mampukah sahabat karibmu membedakannya?"

"Mungkin saja mereka mampu" sahut Tu Siau-thian cepat, setelah tertawa lanjutnya, "tapi sayang kau bukan sahabat karibku"

"Tapi kalau mendengarkan perkataanmu tadi, tidak usah sahabat karibmu, teman biasa pun sudah mampu untuk membedakan apakah kau sedang berbohong atau tidak"

"Kenapa?" tanya Tu Siau-thian tercengang.

"Dengan watakmu itu, jika semenjak awal sudah menaruh curiga, kenapa baru sekarang kau lakukan penyelidikan?"

Tu Siau-thian tidak langsung menjawab, dia awasi wajah Si Siang-ho berulang kali kemudian baru ujarnya:

"Dulu maupun sekarang kau bukanlah sahabatku, bahkan teman biasa pun bukan "

Si Siang-ho tidak berkomentar, kali ini dia hanya membungkam.

"Darimana kau bisa mengetahui watakku dengan begitu jelas?" ujar Tu Siau-thian lebih jauh, "aneh, sungguh aneh, kejadian ini memang sangat mengherankan"

"Bukan hanya persoalan itu saja yang aneh, masih banyak" "Oya?" "Aku bahkan juga tahu kalau kau selalu senang bergelandangan seorang diri, tidak terkecuali pula dengan kehadiranmu kali ini"

Dalam hati kecilnya Tu Siau-thian merasa amat terkesiap, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang, katanya sambil tertawa hambar:

"Betul, aku memang suka bekerja seorang diri, tidak terkecuali kali ini"

"Benarkah begitu?"

"Aku tahu, sekali melangkah masuk kemari maka besar kemungkinan jiwaku akan terancam bahaya maut, sebagai orang yang bekerja sangat hati-hati, memangnya aku tidak melakukan persiapan apa pun?"

Tiba-tiba Si Siang-ho tertawa, jengeknya: "Sekalipun apa yang kau katakan merupakan kenyataan, aku pun tidak bakalan membiarkan kau pergi dari sini dalam keadaan hidup"

Selesai berkata dia mulai menggeserkan tubuhnya dan maju ke depan, satu langkah, dua langkah......

Dengan mata melotot Tu Siau-thian mengawasi terus gerak gerik Si Siang-ho, tanpa terasa dia mundur satu langkah, dua langkah mendadak Si Siang-ho menghentikan langkahnya.

Pintu rahasia di belakang tubuhnya tiba-tiba menutup rapat, menutup rapat tanpa menimbulkan sedikit suara pun, kini belakang tubuhnya pun telah berubah persis seperti warna dinding lainnya.

Sekarang seluruh penjara bawah tanah itu berubah bagaikan sebuah angkasa luas, langit nan biru, langit yang dicekam dalam kegelapan malam.

Dibawah sinar lentera yang mirip dengan cahaya rembulan, mereka berdua seakan akan sedang berada di sebuah tempat yang sepi, alas yang jauh dari pemukiman, hening, sepi dan menyeramkan.

0-0-0

Dibawah cahaya rembulan, tampak segerombolan Laron Penghisap darah beterbangan dan menari-nari dibawah cahaya yang redup, suara sayap mereka yang mendengung keras mirip sekali dengan gelak tertawa setan iblis.

Tu Siau-thian merasa dirinya seakan akan sudah terjerumus ke dalam dunia iblis.

------mungkinkah Si Siang-ho adalah setan iblis penghuni dunia iblis?

Berpikir sampai kesitu tanpa terasa Tu Siau-thian merasakan hatinya bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.

Tangannya sudah mulai menggenggam kencang gagang golok, sepasang matanya yang melotot besar mengawasi gerak gerik Si Siang-ho tanpa berkedip.

Waktu itu sepasang mata Si Siang-ho sedang mengawasi rembulan ditengah angkasa, sepasang matanya kelihatan penuh dengan garis merah, mukanya yang pucat membuat penampilannya bertambah menyeramkan.

Tiba-tiba terdengar dia menghela napas panjang sembari bergumam:

"Mengapa kau tidak pergi ke tempat yang lain, mengapa kau justru mendatangi tempat rahasia ku ini?"

Tu Siau-thian tertawa getir, dia sendiripun tidak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan itu.

Kembali Si Siang-ho berkata sambil menghela napas: "Sebetulnya aku sama sekali tidak berminat untuk

membunuhmu, tapi sekarang kau telah menemukan tempat rahasiaku ini, tahu banyak tentang rahasiaku, selain membuat mulutmu terbungkam untuk selamanya, aku tidak menemukan cara lain yang lebih bagus"

"Aaai, aku sendiripun tidak menemukan, kalau tidak pasti akan kuberitahukan kepadamu" kata Tu Siau-thian pula sambil menghela napas.

"Jadi kau setuju kalau aku menghabisi nyawamu?" tanya Si Siang-ho sambil tersenyum.

"Memangnya kalau kukatakan tidak setuju lalu kau tidak jadi membunuhku?"

"Tentu saja tidak mungkin"

Tu Siau-thian tertawa hambar, dia alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya:

"Kau mengetahui begitu jelas tentang watakku, apakah kaupun mengetahui dengan jelas kemampuan ilmu silatku?"

"Benar, aku tahu dengan jelas"

"Berapa besar keyakinanmu untuk membunuh aku?" "Dua belas bagian!"

"Jadi kau sangat yakin " tanpa terasa Tu Siau-thian

berseru dengan wajah melengak, "darimana kau bisa mengetahui ilmu silatku sejelas itu?"

"Sekarang kau boleh saja tidak percaya dengan perkataanku"

"Dulu kita tidak pernah saling mengenal, antara kita berduapun tidak pernah terlibat dalam pertarungan sengit, selain itu kaupun tidak akan menduga kalau kasus tentang kematian Jui Pak-hay akan terjatuh ke tanganku, tidak ada alasan kau sudah menyelidiki kemampuan ilmu silatku sejak awal, tidak mungkin kau bisa menduga sejak awal bakal berhadapan denganku" "Jika sebelumnya kita tidak pernah saling mengenal, memang tidak ada alasan bagiku untuk berbuat begitu"

"Jadi sudah kau duga sejak awal?" "Tidak"

Tu Siau-thian termenung, lama kemudian dia baru berkata:

"Kalau dibilang kita pernah saling mengenal, rasanya aku tidak punya kesan apa pun tentang dirimu"

"Dalam waktu singkat kau akan mengetahui segala- galanya"

"Oya?"

"Kalau sudah menjadi sukma gentayangan, kau pasti akan tahu dengan jelas semua kejadian masa lampau maupun kejadian yang akan datang"

Sekarang Tu Siau-thian baru mengerti apa yang dimaksudkan, diapun tertawa hambar.

"Jelek-jelek begini aku tidak terhitung orang jahat, kebanyakan yang mati diujung golokku pun terhitung orang jahat, jadi biarpun harus mati nanti, kemungkinan masuk ke dalam neraka mah kecil sekali"

"Aku hanya sebatas menghantar keberangkatanmu saja, soal lancar atau tidak tiba di alam baka, sama sekali tidak ada urusannya dengan aku"

"Soal ini aku mengerti" Tu Siau-thian tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya: "Sekarang akupun sudah mengerti kenapa baru saja tampilkan diri, kau sudah mengetahui begitu jelas tentang diriku"

"Aku tahu kau memang orang yang pintar"

"Sekarang tentunya kau bisa menjawab pertanyaanku yang lain bukan?" "Tidak bisa" Kembali Tu Siau-thian tertegun.

"Aku tahu pertanyaanmu akan dimulai dari soal yang mana" kata Si Siang-ho lagi.

Tu Siau-thian mengangguk, baru saja dia akan bicara, Si Siang-ho sudah mendahuluinya:

"Sayang mulai sekarang aku sudah tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun darimu"

"Kenapa?"

"Karena aku pun seorang yang pintar" Tu Siau-thian tidak mengerti.

"Orang pintar tidak akan melakukan perbuatan bodoh" kembali Si Siang-ho berkata.

Tu Siau-thian masih juga tidak mengerti.

"Sekarang aku mulai sadar, sebetulnya tidak ada alasan bagiku untuk banyak bicara lagi denganmu" kata Si Siang-ho lagi.

"Kenapa?"

"Karena sebentar lagi kau akan jadi sesosok mayat!" "Oooh, rupanya karena alasan ini"

"Benar, sudah tidak ada artinya lagi untuk bicara denganmu"

Tu Siau-thian turut menghela napas panjang.

"Kalau didengar dari nada pembicaraanku, seakan malam ini sembilan puluh persen aku pasti bakal mati?" tanyanya.

"Kalau hanya sembilan puluh persen berarti kau masih punya sepuluh persen harapan hidup, sayangnya satu persen pun kau sudah tidak punyai" "Kalau memang begitu, kau harus menjawab dulu pertanyaanku"

"Kenapa?"

"Sebab kalau tidak mana mungkin aku bisa mati dengan mata terpejam, sedang kau mana mungkin bisa merasa bangga?"

"Perkataanmu memang benar, sayang urusan ini kelewat rumit"

"Tidak jadi masalah, jelaskan pelan pelan, toch aku sudah berada dalam cengkeraman mautmu, cukup waktu untuk berbicara"

"Tapi sayang kesabaranku terbatas. Apalagi selama aku berbicara panjang lebar, kau akan mempunyai kesempatan untuk melancarkan bokongan"

"Jangan kuatir, aku berjanji tidak akan menggunakan kesempatan untuk melancarkan bokongan, apalagi sebelum kau selesai memberi penjelasan"

Si Siang-ho hanya tertawa tanpa menjawab.

"Jangan kuatir" kembali Tu Siau-thian berkata, "aku selalu pegang janji"

"Aku tahu, Cuma "

"Cuma kenapa?"

"Buat apa aku mesti nyerempet bahaya?"

Tu Siau-thian segera menghela napas panjang dan membungkam.

Kembali Si Siang-ho berkata:

"Apalagi pada akhirnya kau toch bakal mati, kenapa aku mesti buang waktu?" "Kau tidak kuatir sukmaku gentayangan terus dan selalu mengganggumu?"

"Hahahaha jadi kau anggap di dunia ini benar-benar

terdapat setan iblis atau siluman?" Si Siang-ho tertawa tergelak.

"Memangnya tidak ada?"

"Hahahaha aku justru berharap di dunia ini benar-benar

terdapat setan iblis" mendadak nada suara Si Siang-ho berubah jadi dingin dan menyeramkan.

Tu Siau-thian melengak.