Laron Penghisap Darah Bab 25: Laron diujung golok

Bab 25: Laron diujung golok

Thio Toa-cui sudah sepuluh tahun kenal dengan Oh Sam- pei, tapi baru pertama kali ini dia menyaksikan senyuman seaneh hari ini.

Senyuman tersebut sudah tidak mungkin dilukiskan dengan kata menyeramkan lagi. Begitu ia mulai tertawa maka Oh Sam-pei sudah tidak mirip lagi dengan Oh Sam-pei.

Pada hakekatnya dia seakan telah berubah jadi seorang manusia yang lain! Sewaktu tertawa, nyaris seluruh permukaan wajahnya ikut bergetar keras, wajah itu mirip dengan ubur-ubur, bergoyang dan berubah tiada hentinya.

Paras muka Thio Toa-cui berubah semakin pucat, sambil mengawasi Oh Sam-pei dengan mata terbelalak serunya penuh kengerian:

“Se sebenarnya siapakah kau?” “Laron!” suara jawaban Oh Sam-pei kedengaran sangat aneh, sama sekali tidak mirip suara manusia.

“Jadi kau juga jelmaan dari siluman laron?” suara Thio Toa- cui semakin gemetar.

“Benar!”

Nada suaranya dari rendah dan berat mendadak berubah jadi tinggi melengking dan tajam, begitu tajam seolah ada gurdi baja yang sedang mengebor kendang telinga Thio Toa- cui.

Kulit wajahnya mulai mengelupas dan rontok, seperti tepung yang mulai mengering, mengelupas selembar demi selembar dan rontok ke tanah.

Ketika seluruh kulit wajahnya telah mengelupas habis, akankah muncul selembar wajah dari siluman laron?

Bagaimana bentuk wajah siluman laron?

Sebetulnya rasa ingin tahu Thio Toa-cui amat besar, dia pingin sekali mengetahui, tapi sayang dia tidak mampu memperhatikan lagi.

Baginya, melarikan diri jauh lebih penting daripada mengobati perasaan ingin tahunya, dia kuatir bila tidak segera kabur, besar kemungkinan siluman laron itu akan menggigit tengkuknya dan menghisap darahnya.

Dia mulai mundur terus ke belakang, sedang Oh Sam-pei selangkah demi selangkah mendesak maju terus ke depan.

Tiba tiba Thio Toa-cui seperti teringat akan satu hal, teriaknya keras:

“Benarkah kau adalah Oh Sam-pei?”

“Oh Sam-pei adalah sahabat karibmu, dia adalah seorang manusia”

“Jadi kau bukan ” seru Thio Toa-cui gelisah. “Tentu saja bukan laron, kalau tidak sudah sejak tadi kuhisap darahmu ”

“Ke mana perginya Oh Sam-pei?”

“Pergi ke tempat dimana mau tidak mau kau harus pergi!” “Kemana?”

“Neraka orang semacam dia memang paling pantas

menjadi penghuni neraka, begitu juga dengan kau!” “Bagai bagaimana mungkin dia bisa mati?”

“Heheheh darahnya telah kuhisap sampai mengering!”

Thio Toa-cui nyaris jatuh pingsan saking takutnya, dengan wajah pucat pias melebihi mayat selangkah demi selangkah dia mundur terus hingga akhirnya punggungnya menempel diatas dinding penjara.

Kembali Oh Sam-pei tertawa seram:

“Sekarang kau bisa kabur ke mana lagi?” jengeknya, dia meletakkan botol araknya ke atas meja kemudian mendesak maju satu langkah lagi.

Kini Thio Toa-cui sudah tidak sanggup mundur lagi, paras mukanya pun sudah tidak mampu berubah, begitu melihat Oh Sam-pei masih mendesak maju ke depan, seketika itu juga dia mendongakkan kepalanya seperti ayam j.igo yang siap tempur dan mulai pasang kuda kuda.

Sekarang dia baru mulai teringat, bukankah ililuar pintu penjara terdapat penjaga yang

sedang meronda? Mengapa dia tidak berteriak untuk minta tolong?

Dia mulai menbuka mulut dan berteriak minta tolong, tapi begitu mulut dibuka, tiba tiba dia jumpai dirinya seolah berubah menjadi orang bisu, entah sejak kapan dia sudah tidak mampu bersuara, biar sudah berusaha untuk berteriak keras keras pun tidak sepotong suara yang muncul.

Sekarang dia baru benar benar gugup bercampur panik..

Sementara itu Oh Sam-pei sudah mendesak maju lagi dua langkah, kulit mukanya yang mengelupas semakin bertambah banyak.

Kini raut mukanya sudah berubah jadi begitu menyeramkan, begitu mengerikan dan memuakkan hati....

Thio Toa-cui benar benar pecah nyali, rasa takut yang luar biasa menimbulkan keinginannya untuk bertindak nekad.

“Aku akan beradu jiwa denganmu!” dalam hati dia menjerit, botol arak yang berada dalam genggamannya langsung dilemparkan ke arah kepala lawan.

Timpukan itu sama sekali tidak mengenai Oh Sam-pei, diapun tidak berusaha untuk berkelit, tangannya begitu diangkat, tahu tahu botol arak itu sudah jatuh ke tangannya.

Biarpun botol itu penuh berisi arak, ternyata lemparan itu tidak menyebabkan arak dalam botol tertumpah keluar, jangan lagi tumpah, menetes satu tetesan pun tidak.

Memangnya dia sedang bermain sulap? Atau dia memang benar benar siluman iblis?

Sambil membentak nyaring Thio Toa-cui mencabut keluar goloknya, cahaya senjata memancar ke empat penjuru dan amat menyilaukan mata, sebilah golok yang sangat tajam!

Namun Oh Sam-pei seakan tidak melihat akan ancaman tersebut, selangkah demi selangkah dia masih maju terus.

Kalau pada mulanya Thio Toa-cui hanya menggertidak maka melihat Oh Sam-pei tidak berhenti malah semakin mendekat, akhirnya sambil membentak nyaring dia ayunkan goloknya melepaskan sebuah bacokan. Dari tenggorokannya sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi, jelas tenaga dan kemampuannya sudah melemah beberapa bagian.

Walau begitu, bacokan golok nya itu telah dilancarkan dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Sekarang dia sudah mulai beradu jiwa, mau tidak mau harus beradu jiwa!

Dengan menggunakan botol arak yang berada dalam genggamannya Oh Sam-pei menangkis datangnya bacokan golok itu, “Traaang!” botol itu seketika terbelah menjadi dua bagian.

Kembali cahaya golok berkelebat lewat, arak yang berwarna merah darah dengan membawa bau busuk yang sangat kuat dan menyengat seketika berhamburan ke empat penjuru, persis seperti hujan darah.....

Sebenarnya cairan merah itu darah laron atau arak laron?

Ketika menyembur diatas wajah Thio Toa-cui segera mendatangkan bau busuk yang merasuk hingga ke tulang sumsum, tapi kali ini dia malah tidak muntah.

Saat ini dia seolah sudah lupa untuk muntah karena dalam detik yang amat singkat Oh Sam-pei kembali melambung ke udara sambil merangsek ke depan.

Waktu itu pandangan mata Thio Toa-cui sudah dibikin kabur karena tersembur cairan arak laron, bukan hanya mukanya yang dibuat basah kuyup, bahkan sepasang matanya pun sudah terasa amat pedas.

Rasa sakit yang luar biasa dimatanya membuat dia tidak mampu untuk membuka matanya, tapi saat ini tidak mungkin baginya untuk pejamkan mata, dengan memaksakan diri dia coba mementangkan matanya lebar lebar.

Mati atau hidup segera akan ditentukan dalam detik ini, tentu saja dia tidak bisa pejamkan mata, ketika matanya terpentang lebar, yang tampak hanya selapis cahaya merah darah.

Tiba tiba dia menjumpai tubuh Oh Sam-pei berada ditengah lapisan merah darah itu, sambil memperdengarkan suara dengungan yang keras sedang menerkam ke hadapannya.

Dia menjerit keras, goloknya segera dibacokkan berulang kali.

Percikan darah segar berhamburan ke empat penjuru, membuat lapisan merah itu nampak lebih merah lagi, sekarang, seluruh angkasa seakan sudah terlapis semua oleh merahnya darah, darah segar !

Kentongan ke tiga, ketika Siang Hu-hoa, Ko Thian-liok, Tu Siau-thian dan Nyo Sin berempat tiba didepan penjara besar, waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga.

Cahaya obor masih membara dengan hebatnya di depan pintu penjara, lidah api yang menari nari ditengah hembusan angin malam memperdengarkan suara desahan yang keras, terutama ditengah keheningan malam, suara itu kedengaran jauh lebih nyaring.

Pintu gerbang berwarna hitam, sebuah pintu besi yang ditempa dari baja murni dan ditaburi beratus buah paku tembaga, ketika tertimpa cahaya api paku paku itu segera memantulkan cahaya dingin yang menyeramkan.

Diatas pintu baja utama terdapat sebuah ukiran kepala harimau, ukiran itupun memancarkan cahaya berkilauan.

Hawa pembunuhan yang tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.

Tidak nampak ada penjaga yang meronda disitu, tidak ada didepan pintu gerbang, tidak ada pula diseputar penjara. Ke sembilan orang penjara sedang berkumpul diatas undak undakan batu didepan pintu samping, lima orang berdiri, empat orang duduk.

Yang berdiri memegang tombak panjang, tubuhnya tetap berdiri kaku bagaikan senjatanya, sementara yang duduk sudah lama terlelap tidur, kepalanya tertunduk dan suara dengkuran menghiasi bibir.

Ketika Siang Hu-hoa datang menghampiri, empat penjaga yang terduduk sama sekali tidak menunjukkan reaksi, sementara lima orang yang berdiri pun seolah tidak melihat kedatangan rombongan itu.

Mungkinkah mereka semua sudah terlelap tidur?

Dengan perasaan mendongkol Nyo Sin segera bergumam: “Apa apaan mereka ini? Sedang menjaga penjara besar

atau pindah tempat tidur?”

“Apakah biasanya mereka pun bersikap begini?” tiba tiba Ko Thian-liok bertanya.

Nyo Sin segera menggeleng.

“Kalau mereka mempunyai watak seperti ini, sudah sejak dulu aku suruh mereka pensiun”

“Kalau begitu aneh sekali”

“Aku lihat sudah terjadi sesuatu disini!” sela Siang Hu-hoa mendadak.

Ko Thian-liok merasakan hal yang sama, maka mereka berempat pun segera mempercepat langkah kakinya.

Begitu tiba didepan pintu gerbang, mereka baru menjumpai bahwa ke lima orang penjaga yang berdiri itu sedang memejamkan matanya, dari sikap mereka nampak jelas kalau orang orang itu sudah terlelap tidur. Cara mereka berdiri sama sekali tidak wajar, namun mimik mukanya nampak wajar sekali dan kelihatan sangat aneh, dua orang diantara mereka kelihatan seakan sedang bercakap cakap sementara ke tiga orang lainnya seakan sedang memperhatikan pembicaraan rekannya.

Begitu menyaksikan keadaan tersebut, paras muka Tu Siau- thian seketika berubah hebat, sambil menghentakkan kakinya dia berseru:

“Aduh celaka!”

Dia memburu ke atas undak undakan dan baru saja mendekati tubuh salah seorang penjaganya, tiba tiba terdengar Nyo Sin sedang berteriak sambil bertepuk tangan:

“Ayoh bangun, semuanya bangun!”

Suara teriakannya memang keras dan berat, apalagi dia menjerit sekuat tenaga, jangan lagi manusia hidup. Orang mati yang sudah berbaring dalam peti mati pun akan melompat bangun setelah mendengar teriakannya itu.

Ke sembilan orang pengawal itu bukan orang mati, mereka hanya terlelap tidur saja, tidak heran kalau orang orang itu seketika tersadar kembali begitu mendengar teriakan Nyo Sin.

Begitu membuka mata dan melihat semua pejabat tinggi pengadilan telah hadir dihadapan mereka, beberapa orang pengawal itu jadi lemas kakinya, tanpa disuruh pun serentak mereka sudah jatuhkan diri berlutut.

Ko Thian-liok tidak bicara apa apa, sebaliknya Nyo Sin dengan suara yang nyaring telah mengumpat:

“Bagus, rupanya kalian semua telah tertidur ”

Sembilan orang pengawal itu saling bertukar pandangan tanpa menjawab, agaknya mereka sendiripun tidak tahu kalau mereka baru saja terlelap tidur. Melihat sikap serta mimik muka kawanan pengawal itu, Ko Thian-liok segera memberi landa mencegah Nyo Sin bicara lebih jauh, dia maju mendekat lalu menegur:

“Apakah kalian tidak tahu kalau kalian semua sudah tertidur?”

Sembilan orang pengawal itu saling I H-rpandangan sekejap, lalu menggeleng.

“Siapa komandan kalian?” “Hamba Khoe Sun”

“Apakah kau pun tidak mengetahui apa yang telah terjadi?”

“Hamba memang bersalah” sahut Khoe Sun dengan kepala tertunduk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” tukas Ko Thian-liok sambil tertawa.

“Hamba benar benar tidak tahu apa yang telah terjadi disini, hamba bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga bisa tertidur diatas undak undakan”

“Tadi kalian ada di mana?”

“Hamba sedang membawa empat orang anak buahku berpatroli mengelilingi tembok pagar penjara ”

“Apakah kau menjumpai orang yang mencurigakan?” “Seorang pun tidak ada”

“Oya”?”

“Apakah kalian sendiri juga tidak mengalami kejadian kejadian yang aneh?” tiba tiba Siang Hu-hoa menimbrung.

Khoe Sun melirik Siang Hu-hoa sekejap, meskipun dia merasa orang ini asing baginya, tapi lantaran jalan bersama Ko Thian-liok, Tu Siau-thian serta Nyo Sin, maka setelah ragu sesaat jawabnya: “Sebenarnya aneh sekali, ada satu kejadian memang sangat aneh”

“Cepat katakan!” desak Ko Thian-liok.

“Entah apa penyebabnya setelah lewat kentongan pertama tadi, hamba bersembilan merasa luar biasa lelahnya hingga menguap berulang kali, bukan saja merasa kantuk yang luar biasa bahkan sepasang mata pun rasanya susah dibuka”

“Kemudian apa yang terjadi?”

“Entah sejak kapan empat orang yang bertugas menjaga pintu gerbang sudah tertidur duluan, menyusul kemudian ke empat orang yang ikut hamba berpatroli pun ikut menyandarkan diri ke dinding penjara dan tertidur, hamba adalah orang terakhir yang terlelap tidur, tapi sebelum aku memejamkan mata, sempat hamba lihat bahwa semua orang sudah tertidur nyenyak lebih dahulu”

“Waktu itu apakah kau menjumpai sesuatu yang aneh disekeliling penjara?” kembali Siang Hu-hoa bertanya.

“Waktu itu aku sama sekali tidak sempat memperhatikan sekeliling tempat itu, yang kupikirkan hanya ingin tidur secepatnya”

“Bagaimana dengan ke empat orang yang ikut berpatroli denganmu?”

Sebelum Khoe Sun menjawab, empat orang pengawal yang berada di belakangnya telah maju ke depan.

“Ooh, jadi kalian berempat?” tanya Ko Thian-liok sambil menyapu wajah mereka sekejap.

“Benar!” sahut ke empat orang pengawal itu sambil serentak menjatuhkan diri berlutut

“Ayoh cepat bangun dan menjawab pertanyaan kami” seru Ko Thian-liok lagi sambil mengulapkan tangannya. Khoe Sun bersama delapan orang pengawal itu menyahut dan serentak bangkit berdiri sambil menunggu pertanyaan.

Setelah memandang sekali lagi wajah ke empat orang pengawal yang berdiri berjajar didepan, tanya Ko Thian-liok:

“Waktu itu apa yang kalian temukan?”

Serentak ke empat orang pengawal itu menggeleng. “Waktu itu keadaan hamba persis sama seperti apa yang

dialami komandan Khoe”

“Kalau begitu menyingkirlah ke samping” seru Ko Thian-liok sambil mengulapkan tangannya.

Ke empat orang pengawal itu menyahut dan segera menyingkir ke samping.

Sekarang Ko Thian-liok mengalihkan sorot matanya ke wajah ke empat orang penjaga pintu gerbang, tegurnya:

“Jadi kalian berempat yang menjaga di depan pintu gerbang?”

“Benar!”

“Apa yang kalian saksikan?” “Sama seperti mereka”

Sembilan orang penjaga mengalami kejadian yang persis sama satu dengan lainnya, jelas kejadian ini kelewat kebetulan dan kelewat aneh.

Perasaan bingung bercampur sangsi segera menghiasi wajah Ko Thian-liok.

Siang Hu-hoa hanya terpekur tanpa bicara, sedang Tu Siau- thian berdiri dengan sepasang alis berkerut.

Tampaknya mereka bertiga sama-sama merasa pusing kepala, untuk sesaat mereka tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang peristiwa ini. Hanya Nyo Sin seorang yang terkecuali, dengan wajah berubah hebat teriaknya keras keras:

“Hey, Apakah kalian semua sudah kesurupan setan gentayangan?”

Siang Hu-hoa bertiga tidak menjawab tapi mereka pun tidak menyangkal.

Apa pun yang dibicarakan Nyo Sin saat ini, mereka hanya menampungnya sementara waktu tanpa memberi tanggapan.

Khoe sun dan ke delapan orang anak buahnya hanya berdiri termangu mangut tanpa mengerti apa yang harus dilakukan, entah hal ini lantaran perkataan dari Nyo Sin ataukah secara tiba tiba mereka pun merasakan suasana yang luar biasa anehnya disekeliling tempat itu.

Lidah api yang berkobar dari obor besar masih menari nari terhembus angin, menggoyangkan pula bayangan tubuh setiap orang yang membias ditanah.

Paling tidak ada setengah dari orang orang itu mulai mencuri lihat disekitar dirinya memeriksa apakah ada setan

yang muncul d i samping mereka.

Ko Thian-liok berpikir sejenak, mendadak ujarnya: “Bagaimana pun juga, sekarang kita harus segera masuk ke

dalam dan memeriksa keadaan disitu”

Serentak Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin mengangguk tanda setuju.

“Pengawal, buka pintu!” perintah Ko Thian-liok kemudian.

Kunci gembokan pintu gerbang penjara i«iKantung dipinggang Nyo Sin, cepat komandan opas ini maju ke depan dan menggunakan tiga macam anak kunci yang berbeda untuk membuka pintu besi itu. Setiap anak kunci mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda, semuanya mempunyai urutan yang pasti, bila salah urutan maka buka saja pintu gerbang itu sulit dibuka bahkan akan membunyikan sebuah lonceng besar yang dipasang secara rahasia, semacam bunyi alarm yang akan memancing hadirnya semua pengawal disekeliling tempat itu.

Penjara besar berada dibagian tengah kompleks pengadilan, bila orang luar ingin masuk ke tempat itu maka paling tidak dia harus melalui tiga lapis dinding tinggi yang dijaga ketat oleh pengawal di empat penjuru.

Tidak mudah bagi siapa pun untuk menembusi penjagaan dan pertahanan semacam ini, maka sewaktu menjumpai pintu gerbang tidak ada yang aneh, Nyo Sin nyaris merasakan hatinya sangat lega.

Tapi begitu pintu gerbang terbuka lebar, perasaan hatinya yang baru saja merasa lega jadi berdebar kembali, bukan cuma jantungnya yang dag dig dug, paras muka pun ikut berubah sangat hebat.

Begitu pintu gerbang terpentang lebar, segulung bau busuk yang amat memuakkan segera berhembus keluar dari balik penjara, bau busuk semacam ini sudah tidak terlampau asing lagi baginya.

Ketika pertama kali menemukan mayat Jui Pak-hay, ketika memasuki ruangan khusus yang digunakan untuk memelihara Laron Penghisap darah di rumah penginapan Hun-lay, dia sudah pernah mengendus bau busuk semacam ini.

Karena sedemikian busuknya bau itu, hingga kini masih berkesan mendalam dihatinya!

0-0-0 Paras muka Siang Hu-hoa maupun Tu Siau-thian ikut berubah hebat, mereka pun belum melupakan bau busuk semacam itu.

Dengan satu gerakan cepat Siang Hu-hoa melambung satu kaki ke udara kemudian melayang turun didepan pintu gerbang, tangan kanannya segera mencengkeram bahu Nyo Sin dan menarik tubuhnya ke samping.

Dia kuatir setelah munculnya bau busuk itu, mungkin akan disusul dengan munculnya sekelompok besar Laron Penghisap darah

Dia menghadang didepan Nyo Sin, tangannya yang lain telah meraba gagang pedang dan setiap saat siap melancarkan serangan.

Pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian menghardik pula: “Kho Sun, cepat bawa anak buahmu melindungi

keselamatan tayjin!”

Selesai menghardik, dia ikut melayang ke sisi lain dari pintu gerbang.

Khoe Sun tidak berani berayal, dia mengiakan sambil maju menghadang didepan Ko Thian-liok sementara ke delapan anak buahnya segera mengelilingi diseputarnya.

Melihat itu Ko Thian-liok merentangkan sepasang tangannya minta mereka semua untuk menyingkir ke samping, kemudian dia meraba ke pinggang sendiri.

Sebilah pedang yang antik dan indah tersoren dipinggangnya itu.

Wajahnya sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, bila ditinjau dari cara dan sikapnya memegang pedang, siapa pun dapat melihat bahwa orang ini pernah belajar silat dan memiliki kepandaian yang cukup tangguh. Walaupun wajahnya tidak nampak kusut namun hidungnya sudah mulai berkerut. Siapa pun itu orangnya, pasti tidak akan tahan bisa mengendus bau busuk seperti ini.

Angin malam berhembus kencang, lambat laun bau busuk yang menyengat itu mulai menipis sebelum akhirnya memudar.

Cahaya lentera yang menerangi ruang penjara sangat redup, suasana pun sangat hening dan sepi.

Setelah munculnya bau busuk sama sekali tidak nampak munculnya Laron Penghisap darah, jangan lagi satu kelompok, seekor pun tidak nampak.

Siang Hu-hoa telah melepaskan cengkeramannya atas bahu Nyo Sin, namun pembesar itu masih tetap berdiri tidak bergerak, dia belum melakukan tindakan apapun, nampaknya pengalaman yang berulang kali membuat dia bersikap lebih cerdik.

Dia tahu, kemungkinan besar didalam ruang penjara telah menunggu sekelompok besar Laron Penghisap darah, sehingga bila ada yang menerjang masuk maka kawanan makhluk itu akan menyerang bersama. Dia tidak ingin kehilangan muka didepan orang banyak.

Berbeda dengan Tu Siau-thian, dia seakan tidak perduli akan hal tersebut, kini dia sudah melakukan aksinya.

Sesungguhnya Siang Hu-hoa sudah bertindak duluan, biarpun pedangnya belum diloloskan dari sarungnya, dia sudah menerjang maju dengan tangan masih menempel pada gagang senjatanya.

Asal ada sesuatu yang tidak beres, maka secepat kilat dia akan mencabut keluar pedangnya sambil melancarkan serangan. Tu Siau-thian tidak memiliki kepandaian sehebat Siang Hu- hoa, dia sadar akan hal itu, maka sebelum melangkah maju goloknya telah diloloskan lebih dulu.

Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke balik pintu dan menerjang ke dalam ruang penjara.

0-0-0

Bau busuk di ruangan penjara masih amat lebal dan menusuk hidung, tidak ada Laron Penghisap darah disitu tapi didekat pintu, diatas permukaan lantai tampak segumpal cairan darah l.aron.

Cairan darah itu membiarkan sinar merah ketika tertimpa sinar lampu lentera, anehnya cairan darah tersebut tidak membeku. Dari atas genangan cairan darah itulah bau busuk tersebut berasal.

Seorang lelaki berbaju opas dengan sebilah golok masih tergenggam ditangannya roboh terkapar diatas genangan darah itu, wajahnya menghadap ke atas dan penuh berlumuran darah. Dia mempunyai sebuah mulut yang sangat besar.

Siang Hu-hoa segera menghentikan langkah kakinya didepan genangan darah, tanyanya:

“Apakah dia adalah salah seorang diantara dua pengawal yang kalian utus untuk menjaga ruang penjara?”

Tu Siau-thian memeriksa sebentar jenasah itu kemudian baru mengangguk.

“Benar, dia adalah Thio Toa-cui!”

“Kalau begitu orang yang tergeletak di sebelah sana adalah Oh Sam-pei?” ujar Siang Hu-hoa lagi. Disamping terali besi didepan ruang penjara sebelah kiri, tergeletak pula sesosok mayat.

Orang itupun berdandan seorang opas, tapi baju bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar, sebagian besar kancingnya tidak dikancingkan.

Dengan langkah tergesa Tu Siau-thian menghampiri mayat itu.

Orang tersebut tertelentang dengan wajah menghadap ke atas, tidak ada noda darah diwajahnya itu, tentu saja dia lebih mudah dikenali ketimbang Thio Toa-cui.

Setelah memandangnya sekejap, Tu Siau-thian segera mengangguk.

“Benar, dia adalah Oh Sam-pei!”

Dia segera berjongkok sambil memeriksa denyut nadi Oh Sam-pei, tapi sayang detak jantung opas itu sudah lama berhenti. Kenyataan ini membuat hatinya tercekat sehingga badannya bergetar keras.

“Bagaimana?” tanya Siang Hu-hoa. “Sudah mati!”

“Thio Toa-cui masih bernapas” mendadak Siang Hu-hoa berkata.

“Sungguh?” seru Tu Siau-thian sambil melompat ke samping rekannya.

Waktu itu Siang Hu-hoa sedang menguruti jalan darah penting ditubuh Thio Toa-cui sembari menyalurkan tenaga murninya.

Benar juga, ternyata Thio Toa-cui masih bernapas walau napasnya sudah amat lirih dan lemah sekali.

Dalam pada itu Ko Thian-liok dan Nyo Sin sekalian telah menyusul masuk ke dalam ruang penjara. Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, Ko Thian- liok berseru keheranan:

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, tiba tiba terdengar suara helaan napas panjang, ternyata helaan napas itu berasal dari Thio Toa-cui.

Dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Thio Toa-cui dan mengawasinya dengan mata melotot.

Tampak Thio Toa-cui membuka matanya perlahan, sementara tubuhnya kembali gemetar keras.

“Thio Toa-cui!” jerit Tu Siau-thian.

Otot wajah Thio Toa-cui kelihatan mengejang keras, lama kemudian ia baru menghembuskan napas pajang dan membuka lebar matanya, garis garis darah terlihat memenuhi bola matanya.

“Apa yang telah terjadi ditempat ini?” buru luiru Tu Siau- thian bertanya.

“Laron!” dari balik kelopak mata Thio Toa-cui memancar keluar rasa takut dan ngeri yang luar biasa.

“Laron? Laron apa?” desak Tu Siau-thian lebih lanjut.

Rasa tidakut dan ngeri yang memancar keluar dari balik mata Thio Toa-cui bertambah tebal dan kental, kembali dia mengucapkan sepatah kata:

“Arak. ”

“Arak apa?” Tu Siau-thian semakin tertegun. Dengan suara terbata-bata bisik Thio Toa-cui:

“Arak laron...... arak laron berwarna merah darah......

kulit...kulit wajah yang mengelupas tiada hentinya siluman

laron dengan kulit muka yang mengelupas terus...... laron.....

Laron Penghisap darah ” “Laron Penghisap darah?” ulang Tu Siau-thian dengan wajah hijau membesi.

Sekujur tubuh Thio Toa-cui gemetar keras, tiba tiba ia berteriak nyaring:

“Laron Penghisap darah!”

Nada suaranya penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, mendadak dia bangkit dan duduk, tapi sesaat kemudian tubuhnya sudah roboh kembali ke tanah.

Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian ingin memayang tubuhnya, tapi tidak sempat. “Blaaaam!” begitu badan Thio Toa-cui jatuh terjungkal ke tanah, dia tidak pernah bergerak lagi.

Sepasang matanya masih terbelalak besar, rona matanya sudah memudar sementara garis-garis merah yang memenuhi bola matanya kini nampak jauh lebih jelas.

Siang Hu-hoa coba memeriksa dengus napas Thio Toa-cui, tapi tangannya yang sudah diulurkan sampai tengah jalan tiba tiba berhenti.

“Bagaimana?” buru buru Tu Siau-thian bertanya. “Dia sudah mati!” jawab Siang Hu-hoa singkat.

“Dimana letak lukanya ” timbrung Nyo Sin, tapi baru

setengah jalan sudah ditukas oleh Ko Thian-liok.

“Kita periksa dulu bagaimana kondisi para lawanan!” perintahnya dengan suara lantang.

Tidak menunggu ucapan itu selesai diutarakan, Siang Hu- hoa sudah melompat bangun dari atas tanah lalu dengan sekali lompatan dia tiba disamping jenasah Oh Sam-pei.

Tu Siau-thian tidak berani berayal, cepat cepat dia menyusul ke samping Siang Hu-hoa. Dalam pada itu Siang Hu-hoa sudah melongok ke dalam terali besi. Ternyata ruang penjara tidak ada penghuninya, maka dia pun bertanya:

“Apakah mereka disekap di dalam ruang penjara?” “Benar, Gi Tiok-kun disekap didalam sana” Tu Siau-thian

membenarkan.

“Tidak salah ingat?”

“Tidak mungkin salah ingat”

“Tapi ke mana orangnya sekarang?”

Tu Siau-thian kontan terbungkam tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Siang Hu-hoa mencoba memeriksa kunci gembokan didepan terali besi, gembokan masih berada di posisi semula dalam keadaan utuh, tidak nampak sesuatu gejala yang aneh.

“Cepat kita geledah!” seru Tu Siau-thian kemudian. “Tunggu sebentar!” mendadak Siang Hu-hoa mencegah. “Kau berhasil menemukan sesuatu?”

Siang Hu-hoa menunjuk kearah meja yang berada ditengah ruang penjara, sebilah pisau panjang yang amat tajam menancap diatas meja itu, diujung pisau yang tajam menancap seekor laron!

Seekor laron dengan sepasang mata berwarna merah darah dan tubuh hijau bagaikan kemala, seekor Laron Penghisap darah!

Paras muka Tu Siau-thian dari pucat berubah jadi hijau, dari hijau kembali memucat, pucat pasi seperti wajah mayat. Tiba tiba dia berpaling kemudian teriaknya keras:

“Cepat bawa kemari kunci ruang penjara!” Orang yang berdiri di belakangnya tidak lain adalah Nyo Sin, dia seakan lupa kalau Nyo Sin adalah komandannya. Teriakan yang begitu keras dan nyaring nyaris membuat Nyo Sin terkesiap.

Nyo Sin pun seolah sudah lupa kalau dia adalah atasan Tu Siau-thian, sambil mengiakan dia mengeluarkan anak kunci dan membuka gembokan itu.

Dengan tangan sebelah mendorong pintu sel, dalam dua tiga langkah kemudian Tu Siau-thian sudah menerjang masuk ke dalam ruang penjara, mendekati meja itu.

Dia berdiri begitu dekat, tentu saja segala sesuatunya dapat terlihat dengan sangat jelas.

Padahal sejak tadi dia sudah tidak salah melihat, seekor Laron Penghisap darah terpantek diatas permukaan meja oleh sebilah pisau panjang yang tajam.

Tubuh laron itu nyaris terbelah jadi dua, disekitar mulut luka bercecer cairan darah. Cairan darah itu berwarna merah dan menyiarkan bau amis serta busuk yang sangat kuat.

Inikah yang dinamakan darah laron? Kenapa darah laron berwarna merah? Merah seperti darah manusia?

Tu Siau-thian berpaling memperhatikan jenasah Oh Sam- pei. Dipinggang mayat itu tergantung sebilah sarung golok, tapi golok tersebut tidak berada dalam genggamannya, juga tidak nampak disekeliling tempat itu.

Karenanya Tu Siau-thian berpaling dan sekali lagi memperhatikan golok tajam yang menancap diatas permukaan meja.

“Apakah golok itu adalah golok milik Oh Sam-pei?” Siang Hu-hoa bertanya kemudian.

“Aku rasa benar miliknya” “Kelihatannya golok itu dilemparkan ke udara dan menancap diatas meja”

“Bila ditinjau dari posisi mayat serta sudut golok yang menancap di meja, tampaknya persis seperti apa yang kau katakan”

“Kelihatannya ketajaman matanya cukup mengagumkan” “Sekalipun ketajaman matanya tidak seberapa bagus pun,

dia sama saja dapat menimpuknya secara tepat” tiba tiba ujar Nyo Sin.

“Oya?”

“Sebab sasaran yang sebenarnya tidak sekecil itu” Nyo Sin menjelaskan.

“Kalau begitu seberapa besarnya?”

“Manusia itu besar sekali, karena sasarannya memang seorang manusia”

“Siapa?”