Laron Penghisap Darah Bab 24: Banyak curiga

Bab 24: Banyak curiga

Akhirnya cahaya rembulan bergeser meninggalkan tubuh Gi Tiok-kun, hawa dingin yang mencekam ruang penjara pun seolah semakin memudar.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak berubah, dia tidak muncul dalam wujud siluman laron, bahkan dia seolah telah berubah jadi sesosok boneka kayu yang tidak bernyawa.

Sekarang Thio Toa-cui baru bisa menarik kembali sorot matanya, berpaling seraya menghembuskan napas lega. Oh Sam-pei yang buka suara lebih dulu, ujarnya:

“Aaah, aku lihat kau hanya dipermainkan oleh perasaanmu sendiri”

“Tapi hingga sekarang aku masih dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang” bantah Thio Toa-cui.

“Apa benar?”

Tiba tiba tenggorokan Thio Toa-cui berbunyi keras, bisiknya:

“Alangkah baiknya kalau disini ada sepoci arak!”

“Ooh, rupanya kau hanya pingin minum arak?” serui Oh Sam-pei sambil tertawa geli.

“Memangnya kau tidak kepingin?” “Siapa bilang aku tidak pingin?”

“Arak bisa mengusir hawa dingin yang menusuk badan, dapat pula memperbesar nyali kita”

“Sayang lo-Nyo sudah berjanji duluan, melarang kita minum arak”

“Sekalipun kita minum secara diam diam, belum tentu dia bakal tahu”

“Tapi kalau aku yang minum, dia pasti bakal tahu” sahut Oh Sam-pei sambil menghela napas panjang.

“Tidak ada orang yang suruh kau harus minum sebanyak tiga cawan, kenapa tidak meneguk dua setengah cawan saja, dengan begitu tidak bakalan ada yang tahu kau sudah minum arak atau tidak”

“Ah betul, sebuah cara yang bagus”

“Sayang tidak ada gunanya kalau hanya mempunyai cara bagus, yang penting punya arak atau tidak”

Kemudian setelah menghela napas, tambahnya: “Ketika Nyo tua datang aiencari kita, dia tidak pernah menggeledah srku kita berdua, ebetulnya bisa saja kusei unyikan berapi gui i ..v rak didalam sakuku”

“Dan sudah kau lakukan?” tanya Oh Sam-pei penuh harap. “Tidak, pertama karena terdesak waktu, ke dua Nyo tua

sudah berbicara duluan, aku kuatir dia baru mau melepask

kita masuk setelah menggeledah saku saku kita”

“Padahal seharusnya kau selundupkan berapa guci didalam sakumu, paling tidak kita beradu nasib”

“Kau hanya pandainya bicara ”

“Bukan hanya pandai bicara ” sahut Oh

Sam-pei sambil tertawa secara tiba tiba, tertawa yang sangat aneh.

Seakan teringat sesuatu Thio Toa-cui segera melompat bangun, kemudian bisiknya:

“Jadi kau telah selundupkan berapa guci arak didalam sakumu?”

Belum selesai dia berkata, diatas meja tepat dihadapannya telah bertambah dengan dua buah botol arak.

Ternyata dari balik baju dinasnya yang lebar dia mengeluarkan lagi botol arak yang ke tiga, bahkan isi arak botol ke tiga adalah arak bagus.

Berbinar sepasang mata Thio Toa-cui, saking gembiranya sampai mulut pun ikut terbuka lebar.

Dia sambar botol arak dimeja lalu serunya sambil tertawa terkekeh:

“Bocah monyet, tidak nyana kau memang hebat”

“Ssst jangan keras keras, kalau sampai Nyo tua kebetulan

lewat, dia bisa masuk kemari dan  merampas arak kita ” “Tidak usah kuatir, saat ini paling Nyo tua :•. udah tidur pulas”

“Kecilkan suaramu, coba lihat, mereka berdua sampai dibuat kaget oleh suara tertawamu”

Diam-diam Thio Toa-cui melirik, sinar matanya segera berpapasan dengan sorot mata dingin Gi Tiok-kun.

Waktu itu Gi Tiok-kun sedang mengawasinya dengan sorot mata yang dingin, ketika perempuan itu melihat Thio Toa-cui berpaling, dia kembali tundukkan kepalanya.

Meski begitu tidak urung bergidik juga hati Thio Toa-cui dibuatnya, cepat dia berbisik:

“Tidak usah kita gubris mereka, ayoh minum, minum ”

Sementara itu Oh Sam-pei telah membuka penutup botol, bau harum arak segera menyebar ke seluruh ruangan.

“Arak bagus” puji Thio Toa-cui sambil menarik napas panjang, dia merasa semangatnya berkobar kembali, “cukup mengendus bau nya aku sudah tahu kalau arakmu arak pilihan, tahu begini mestinya kau membawa lebih banyak lagi”

Oh Sam-pei tidak menjawab, dengan lahapnya dia meneguk isi botol hingga ludes dalam berapa kali tegukan.

Dengan perasaan terkejut Thio Toa-cui mengawasi rekannya itu. Tegurnya:

“Kalau kau teguk arakmu dengan cara begitu, tidak sampai sesaat lagi, seluruh arak bakal kau lalap sampai habis”

“Siapa bilang aku tidak bisa minum lagi?” sahut Oh Sam-pei cepat.

Thio Toa-cui tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi, sebab tahu tahu diatas meja telah bertambah lagi dengan dua botol arak. Tanpa membuang waktu lagi Thio Toa-cui menyambar sebotol diantaranya dan membuka penutup botol dengan gigitan.

“Ciiit !” begitu penutup botol terbuka, bau arak segera

muncul dari balik botol itu menembusi lubang hidungnya.

Tentu saja Thio Toa-cui tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia segera mengendusnya dalam dalam, mendadak......

seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras.

Ternyata bau arak yang terendus olehnya bukan berbau harum, tapi bau busuk yang sangat memuakkan, bau busuk yang tidak terlukiskan dengan kata.

Seolah baru saja tercebur ke dalam kubangan berisi kotoran manusia, Thio Toa-cui tidak sanggup mengendalikan diri lagi, akhirnya dia muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya.

Dengan wajah keheranan Oh Sam-pei mengawasi rekannya, mimik mukanya nampak sangat aneh.

“Arak macam apa yang kau simpan dalam botol itu?” seru Thio Toa-cui sambil muntah terus.

“Tentu saja arak harum”

“Omong kosong!” umpat Thio Toa-cui gusar. “Siapa bilang aku omong kosong?”

“Memangnya kau tidak mengendus bau busuk yang amat menusuk hidung?”

“Bau busuk? Siapa bilang bau busuk? Aku hanya mengendus bau harumnya arak. ”

“Kau benar benar tidak merasa kalau botol arak itu agak aneh?”

“Aneh? Menurut kau dimana letak keanehannya?” “Isi botol itu bukan arak ”

“Kalau bukan arak, apa isi botol itu?”

“Entahlah, tapi coba kau endus sendiri baunya, kelewat busuk dan amat memuakkan”

Dengan perasaan keheranan Oh Sam-pei mengambil botol arak itu dari tangan Thio Toa-cui, kemudian mengendusnya sebentar.

Dia tidak mual apalagi muntah, malah tanyanya keheranan: “Kau anggap isi botol ini bukan arak?”

“Kalau arak masa begitu busuk baunya?”

Oh Sam-pei semakin tercengang, sambil mengawasi wajah rekannya dengan pandangan heran katanya:

“Jangan jangan hidungmu yang tidak beres?”

“Jadi kau tidak mengendus bau busuk?” Thio Toa-cui agak tertegun.

“Bau busuk? Sudah jelas bau nya adalah bau harumnya arak”

“Kau bukan sedang bergurau bukan?” paras muka Thio Toa-cui berubah semakin aneh.

“Bergurau? Siapa yang sedang bergurau?”

“Kalau isi botol ini arak, kenapa begitu busuk baunya?” seru Thio Toa-cui, sekali lagi dia mengambil botol arak itu dan membuka penutupnya.

Lagi lagi bau busuk yang membuat perut jadi mual menyebar keluar dari dalam botol arak itu.

Untung kali ini Thio Toa-cui sudah membuat persiapan sehingga bau busuk itu tidak langsung menembusi lubang hidungnya. “Bagaimana sih kau ini? Jelas jelas baunya sangat memuakkan ”

“Jadi kau benar benar merasakan bau busuk?” bukan menjawab Oh Sam-pei malah balik bertanya.

“Memangnya tidak kau lihat, cairan pahit pun sudah ikut tertumpah keluar, jadi kau anggap aku sedang berpura pura?”

Oh Sam-pei manggut manggut, mendadak dia mengucapkan perkataan yang sangat aneh:

“Ternyata perasaan setiap manusia memang berbeda beda ”

“Apa maksud perkataanmu itu?” tegur Thio Toa-cui gusar. Oh Sam-pei kembali tidak menjawab, gumamnya: “Sekarang aku sudah tahu bagaimana perasaanmu saat ini” Thio Toa-cui tidak habis mengerti.

Kembali Oh Sam-pei berkata:

“Aku sama sekali tidak bergurau, pun tidak membohongi dirimu, dalam pandangan kami, isi botol itu benar benar adalah arak”

“Kami? Kami adalah ” dengan tercengang

Thio Toa-cui menyela.

“Yang aku rasakan arak itu adalah arak harum, arak yang sangat wangi dan lezat”

“Yang kau maksudkan adalah arak dalam botol pertama?” “Ke tiga tiganya sama saja”

“Tapi aku hanya mengendus bau harumnya arak dari botol yang berada ditanganmu”

“Tentu saja, karena botol tersebut selalu berada dalam genggamanku dan tidak pernah melalui tanganmu” “Tapi apa pengaruhnya?”

“Besar sekali pengaruhnya, begitu arak tersebut melalui sentuhan tanganmu maka isi botol akan segera berubah kwalitasnya”

“Sebetulnya arak yang kau bawa adalah arak aneh dari mana?”

“Sebetul nya bukan arak aneh, arak itu hanya arak laron!” “Apa kau bilang?” seru Thio Toa-cui kaget.

“Arak laron!”

“Aku belum pernah mendengar nama arak seaneh ini” “Memang tidak banyak yang mendengar dan

mengetahuinya”

“Arak yang sudah melalui sentuhan tanganku akan berubah? Memangnya tanganku memiliki kekuatan yang hebat?

Oh Sam-pei menggeleng. “Lalu apa sebabnya?”

“Karena sepasang tanganmu adalah tangan dari manusia”

“Memangnya tanganmu bukan tangan manusia?” Thio Toa- cui semakin tercengang.

Kembali Oh Sam-pei mengangguk.

“Jadi maksudmu kau bukan termasuk manusia?” sekali lagi Thio Toa-cui tertegun.

Kembali Oh Sam-pei mengangguk membenarkan.

“Hey, otakmu memangnya sudah tidak beres? Atau mulai kurang waras?”

“Sama sekali tidak” Hingga kini Thio Toa-cui masih menganggap Oh Sam-pei sedang mengajak dirinya bergurau, tanpa terasa dia perhatikan rekannya itu berulang kali.

Tidak ada yang aneh dengan Oh Sam-pei, tapi ketika dia perhatikan beberapa kejap lagi, entah mengapa tiba-tiba muncul segulung hawa dingin dari dalam lubuk hatinya.

Setelah bersin berulang kali dengan nada menyelidik ia bertanya:

“Kalau bukan manusia, memangnya kau siluman?”

Kembali Oh Sam-pei tertawa, pada hakekatnya tertawanya kali ini sama sekali tidak mirip dengan tertawa seorang manusia.