Laron Penghisap Darah Bab 23: Terancam bahaya.

Bab 23: Terancam bahaya.

Dengan cepat Ko Thian-liok beranjak pergi diikuti Siang Hu- hoa.

Tentu saja Tu Siau-thian tidak mau ketinggalan, tapi baru saja dia mengayunkan langkah kakinya, Nyo Sin telah menarik tangannya.

Dengan keheranan Tu Siau-thian berpaling ke arah komandannya, tampak Nyo Sin memegangi lengan kanannya tanpa bersuara, mimik mukanya kelihatan sangat aneh. Baru saja dia ingin mengajukan pertanyaan, Nyo Sin telah menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak usah banyak bertanya.

Siang Hu-hoa maupun Ko Thian-liok tidak memiliki sepasang mata di belakang kepalanya, tentu saja mereka tidak tahu apa gerangan yang telah terjadi di belakang mereka berdua.

Saat itu seluruh perhatian mereka hanya ingin secepatnya tiba di penjara besar untuk melihat keadaan, karena itu tidak ada yang menggubris ulah Nyo Sin berdua.

Menunggu bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan, Nyo Sin baru tertawa dingin tiada hentinya.

“Komandan ” tidak tahan Tu Siau-thian menegur.

“Hmmm, kuanjurkan kau segera merubah panggilanmu kepadaku” tukas Nyo Sin sambil mendengus dingin.

“Komandan, apa maksudmu?” “Kau masih belum mengerti?” “Tidak, aku tidak mengerti”

“Bukankah selama ini Yau Kun selalu mendampingimu ke manapun kau pergi?”

“Benar”

“Apakah dia anak buahmu?” “Benar”

“Lalu siapa yang menjadi atasanmu?” “Tentu saja dirimu”

“Jadi semestinya kau ikuti perintahku bukan?” “Benar” “Sebelum mengambil keputusan apapun seharusnya kau minta persetujuanku lebih dulu bukan?”

“Benar”

“Bagaimana dengan Yau Kun?” “Tentu saja harus seijinmu”

“Ketika kau mengutus dia untuk menemani Siang Hu-hoa tadi, apakah sudah minta ijin kepadaku?”

Begitu mengetahui duduknya persoalan, Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, cepat ujarnya:

“Komandan, kau salah paham” “Salah paham?”

“Maktu itu aku harus menggunakan peluang dengan sebaik baiknya, karena itu tidak sempat berkonsultasi dulu dengan komandan”

“Jadi kau punya tujuan lain?”

“Benar” kemudian sambil merendahkan suaranya dia berbisik, “aku sengaja mengirim Yau Kun untuk melayaninya bukan lantaran ingin membantu Siang Hu-hoa, tapi secara diam diam mengawasi gerak geriknya”

“Jadi kau mencurigai dia?” seru Nyo Sin tertegun.

“Aku selalu berpendapat bahwa ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan terhadap kita”

“Tampaknya rasa curigamu jauh lebih besar ketimbang aku?”

“Banyak curiga bukan termasuk sifat yang buruk, apalagi terlepas bagaimana hasil pengamatan kita nanti, hal ini tidak akan mendatangkan kerugian apa apa baginya, kalau memang terbukti tidak ada yang patut dicurigai, dia toch tidak rugi apa apa” “Ehmmm, tampaknya caramu memang bagus” Nyo Sin manggut manggut, “kalau begitu apa lagi yang kau tunggu, ayoh jalan!”

Sembari beranjak dari tempat semula, katanya lagi:

“Kalau kita tidak segera menyusul, tayjin akan mengira kita telah menjumpai sesuatu kejadian”

“Sekarang aku justru menguatirkan satu hal” kata Tu Siau- thian sambil menyusul di belakang komandannya.

“Soal apa?”

“Keselamatan dari Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei” “Kenapa dengan mereka berdua?”

“Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok benar benar adalah jelmaan siluman laron, berarti keselamatan jiwa Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei sedang terancam bahaya maut”

Baru selesai perkataan itu diucapkan, Nyo Sin sedah mempercepat langkahnya menuju ke arah penjara.

Waktu itu malam sudah larut, tampak rembulan memancarkan cahayanya yang lembut menembusi kegelapan.

Sewaktu keluar dari ruangan, paras muka Nyo Sin nampak putih memucat, pucat bagaikan mayat.

Cahaya rembulan menyinari pula penjara besar, sinar yang putih memucat menembus ke dalam ruang penjara melalui jendela.

Dalam ruang penjara terdapat lentera, dua buah lentera tergantung masing masing didinding sebelah kiri dan dinding sebelah kanan.

Penjara besar berdinding hitam itu mempunyai dua puluh buah sel yang terbagi dua, sepuluh buah ruangan sel berada disisi kiri dan sepuluh ruangan di sisi kanan. Kini, didalam ruang penjara yang begitu luas hanya terdapat dua orang hukuman, Kwee Bok dan Gi Tiok-kun.

Mereka berdua masing masing dikurung dalam ruang sel pertama, satu diruang kiri dan satu lagi di ruang kanan.

Dalam ruang penjara terdapat pula sebuah pembaringan kayu, sebuah meja dan sebuah bangku.

Sementara pembaringan kayu beralaskan seprei yang agak kusam, sebuah teko air teh dan dua buah cawan diletakkan diatas meja.

Penjara besar memang khusus digunakan untuk mengurung narapidana kelas berat, tidak heran kalau pelayanan terhadap mereka pun sedikit lebih istimewa.

Kalau narapidana di penjara biasa, mereka masih punya kesempatan untuk menghirup udara bebas, berbeda dengan mereka yang dijebloskan ke dalam penjara besar, biasanya mereka hanya tersedia satu jalan.

Terhadap narapidana yang bakal dihukum mati, apa salahnya kalau diberi pelayanan yang lebih istimewa, toch keadaan seperti ini biasanya tidak akan berlangsung terlalu lama.

Kwee Bok dan Gi Tiok-kun tidak duduk diatas pembaringan, mereka berdua duduk ditepi meja, sikap maupun wajah mereka nampak kaku, dungu dan layu.

Mereka pun tidak saling berpandangan muka.

Kwee Bok sedang mengawasi atap penjara, sementara Gi Tiok-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, entah apa yang sedang mereka pikirkan.

Sudah cukup lama mereka duduk dalam posisi seperti ini...... Malam sudah semakin larut, tapi mereka belum juga bergeming, apakah mereka akan lewatkan malam pertama di penjara ini dengan duduk mematung?

Lampu lentera digantung di sudut kiri dan kanan pintu masuk penjara, biarpun merupakan lampu lentera yang cukup besar, namun sinar yang terpancar keluar tidaklah terlalu terang.

Tentu saja suasana di dalam ruang penjara jauh lebih gelap, suram dan menyeramkan.

Cahaya lampu tidak pernah bergeser, yang bergeser justru cahaya yang terpancar dari rembulan di udara.

Cahaya putih kepucat pucatan itu pada akhirnya bergeser dan menerobos masuk ke dalam ruang penjara, menyinari tubuh Gi Tiok-kun yang putih mulus.

Seluruh tubuh Gi Tiok-kun seakan telah dilapisi oleh selapis cahaya putih yang menggidikkan hati.

Cahaya itu membuat tubuh perempuan itu berubah bagaikan pualam, seakan sama sekali tidak memancarkan hawa kehidupan.

Diwaktu biasa pun Gi Tiok-kun sudah nampak dingin membeku, apalagi dalam suasana begini, dia ibaratnya sukma gentayangan yang baru kabur dari alam baka.

Masih untung wajahnya amat cantik, maka kendatipun hati kecilnya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, seringkali Thio Toa-cui masih curi curi melirik perempuan itu, tidak terkecuali Oh Sam-pei.

Disisi pintu masuk penjara besar terdapat pula sebuah meja dengan beberapa buah bangku.

Diatas meja pun terdapat sebuah poci air teh, tidak ada guci arak. Ke dua orang itu benar-benar duduk disitu dengan penuh sopan dan tahu aturan, yang aneh mereka tidak ada rasa kantuk, pun tidak pernah bicara biar sepatah kata pun.

Dari kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi lamat lamat.......

“Aah, sudah kentongan ke dua!” tiba tiba Thio toa-cui berbisik.

“Ehmm!” sahut Oh Sam-pei.

“Siau-Oh, apakah kau sedang memperhatikan perempuan dari marga Gi itu?” bisik Thio Toa-cui lirih.

“Aku ”

Baru sepotong kata meluncur keluar dari mulutnya, Thio Toa-cui sudah menghardik lagi, tentu saja dengan suara lirih:

“Jangan keras keras, bicaralah perlahan sedikit”

“Baiklah” sahut Oh Sam-pei setengah berbisik, “selama ini aku memang selalu memperhatikan gerak geriknya”

“Apakah kau tidak menemukan sesuatu yang istimewa pada dirinya?”

“Tidak, dan kau?”

“Juga tidak” Thio Toa-cui menggeleng.

“Menurut Lo-Nyo, dia adalah jelmaan dari siluman laron, tapi sudah sekian lama kita perhatikan gerak geriknya, namun dia tidak menunjukkan gejala yang aneh, jangan jangan Nyo tua salah menilai?”

“Aku rasa tidak begitu, apakah dia jelmaan siluman atau bukan, tidak mungkin bisa kita pecahkan hanya mengandalkan pengetahuan yang kita miliki”

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya: “Biarpun dia tidak nampak istimewa, namun dibawah pancaran sinar rembulan terasa hawa siluman menyelimuti tubuhnya”

“Aku tidak pernah berharap hal itu menjadi sebuah kenyataan” bisik Oh Sam-pei dengan badan menggigil.

“Oya?”

“Jika dia benar benar jelmaan dari siuman laron, kita bakal celaka”

“Bagaimana mungkin bisa celaka?”

“Kecuali dia tidak muncul dari bentuk aslinya, kalau tidak, darah kita berdua pasti akan dihisapnya hingga kering”

Thio Toa-cui bersin berulang kali, tidak kuasa hawa bergidik muncul dari dasar hatinya, biarpun hatinya sudah mulai menciut namun diluar ia tetap berlagak sok:

“Kenapa mesti takut?” serunya, “bukankah kita membawa golok tajam”

Tanpa terasa tangannya mulai meraba diatas gagang goloknya.

“Aku dengar bangsa setan atau iblis atau siluman sama sekali tidak tidakut menghadapi golok atau senjata tajam apa pun” kata Oh Sam-pei sembari menggeleng.

Kini paras muka Thio Toa-cui sudah berubah jadi hijau membesi, dia melirik sekejap ke arah perempuan dalam ruang sel itu, kemudian setelah tertawa paksa katanya:

“Untung kita masih cukup waktu untuk melarikan diri” Sekali lagi Oh Sam-pei menghela napas panjang. “Aaai tampaknya lagi lagi kau melupakan

satu hal” “Soal apa?” “Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, lo-Nyo telah menggembok pintu penjara dari luar”

Paras muka Thio Toa-cui berubah makin memuat, tapi sejenak kemudian, seakan teringat akan sesuatu, ujarnya lagi:

“Untung diluar sana ada penjaganya”

“Tapi sewaktu penjaga diluar sana berhasil membuka pintu dan masuk kemari untuk menolong kita, cairan darah dalam tubuh kita mungkin sudah habis dihisap olehnya” Oh Sam-pei menarik napas panjang.

Sekarang Thio Toa-cui baru mengerti apa yang dimaksud rekannya, dengan suara gemetar tegurnya:

“sialan, kau lagi ngoceh apaan?”

“Aku pun berharap apa yang barusan kukatakan bukan ocehan belaka ”

Sekali lagi Thio Toa-cui bersin berulang kali, untuk kesekian kalinya dia mencuri lihat Gi Tiok-kun.

Dibawah sinar rembulan hawa siluman yang menyelimuti tubuh Gi Tiok-kun nampak makin lama semakin menebal, sekarang perempuan itu kelihatan jauh lebih menyeramkan lagi, seperti peri yang muncul dari dalam neraka......

Tangan Thio Toa-cui yang menggenggam gagang golok mulai gemetar keras, bahkan nada suara nya pun ikut gemetar keras.

“Tampaknya dia segera akan tampil pada wujud aslinya ”

“Apa apa kau bilang?” teriak Oh Sam-pei dengan

perasaan tercekat.

Baru saja Thio Toa-cui hendak menjawab, Oh Sam-pei sudah bertanya lagi: “Dari sudut mana kau melihat kalau dia akan muncul dalam wujud aslinya?”

“Aku hanya merasa udara disekitar tempat ini makin lama semakin dingin dan menggigilkan tubuh”

“Tapi apa hubungannya dengan dia?”

“Menurut dongeng yang banyak beredar dalam masyarakat, konon setiap kali setan iblis akan munculkan diri, angin akan berhembus makin kencang dan udara akan terasa semakin dingin”

Mau tidak mau Oh Sam-pei manggut manggut juga, maka bersama Thio Toa-cui mereka awasi terus setiap gerak gerik Gi Tiok-kun dengan mata terbelalak lebar.

Namun Gi Tiok-kun masih tetap seperti sedia kala, duduk mematung ditempat tanpa bergerak sedikitpun juga.

Biarpun tidak nampak perubahan, Thio Toa-cui berdua tidak berani gegabah, dengan perasaan tegang dan serius mereka awasi terus perempuan itu.

Udara dalam ruang penjara terasa makin dingin membeku, bulu kuduk ke dua orang itu semakin bergidik......