Laron Penghisap Darah Bab 21: Dongeng dari Siau-siang.

Bab 21: Dongeng dari Siau-siang.

Apakah Jui Pak-hay termasuk lelaki semacam ini? Dia tidak yakin.

Ketika mereka masih bersahabat karib, Jui Pak-hay belum pernah menyinggung soal keinginannya untuk membangun rumah tangga, dia adalah orang yang suka berganti pacar dan mencicipi tubuh perempuan satu ke tubuh perempuan lain.

Tapi akhirnya dia telah menikahi Gi Tiok-kun, benarkah dia amat mencintai perempuan itu sehingga meninggalkan kebiasaan lamanya?

Untuk mendapatkan perhatian dari Gi Tiok-kun, apakah Jui Pak-hay menggunakan pula taktik burung merak jantan yang mempamerkan kelebihan sendiri? Tidak ada yang tahu, mungkin dalam hal ini hanya Jui Pak-hay dan Gi Tiok-kun berdua yang bisa menjawab.

"Tidak ada salahnya kita berandai andai" kembali Tu Siau- thian berkata, "kita anggap Gi Tiok-kun memang sudah tahu kalau Jui Pak-hay memiliki harta karun yang luar biasa besarnya, kitapun menganggap hubungan antara Jui Pak-hay dengan bininya persis seperti apa yang digambarkan Jui Pak- hay di dalam catatannya "

Siang Huhoa yang mendengar sampai disitu segera menghela napas panjang, kalau urusan memang seperti apa yang Tu Siau-thian gambarkan, masalahnya jadi lebih sederhana dan gampang. Kembali Tu Siau-thian berkata:

"Jui Pak-hay mencintai Gi Tiok-kun sebaliknya Gi Tiok-kun mencintai Kwee Bok, bila perempuan itu sedang mengincar harta karum milik Jui Pak-hay sementara diapun enggan hidup bersama suaminya sampai hari tua nanti, menurut kalian jalan terbaik apa yang bakal dia lakukan?"

Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya Nyo Sin segera berseru:

"Jalan yang terbaik adalah berkomplot dengan kekasih gelapnya, membunuh suaminya dan merampas harta kekayaan miliknya!"

"Betul!" sambung Ko Thian-liok pula, "begitu Jui Pak-hay mati, otomatis seluruh harta kekayaan itu akan jatuh ke tangan Gi Tiok-kun"

"Peristiwa pembunuhan karena alasan klasik semacam ini sudah terlalu sering terjadi, oleh sebab itu aku anggap kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi dalam kasus ini" ujar Tu Siau-thian lagi.

Siang Huhoa masih tetap membungkam. Tu Siau-thian berkata lebih lanjut:

"Bila kita membuat perumpamaan seperti ini, maka beberapa bukti yang berhasil kita kumpulkan selama ini sudah lebih dari cukup untuk menuduh Gi Tiok-kun dan Kwee Bok berdua sebagai dalang pembunuhan ini, coba kita bayangkan saja dengan kepala dingin, kecuali Jui Pak-hay, siapa lagi yang bisa keluar masuk di dalam perkampungan Ki po cay dengan leluasa bahkan memelihara Laron Penghisap darah disitu?"

"Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!" sela Nyo Sin cepat. "Dan siapa pula yang bisa menyimpan Laron Penghisap darah didalam lemari pakaian serta di sela sela payudara Gi Tiok-kun?"

"Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!"

Siang Hu-hoa yang membungkam selama ini tiba tiba berkata:

"Kalau aku tidak salah tebak, semestinya Gi Tiok-kun sudah tahu tentang rahasia harta kekayaan Jui Pak-hay semenjak tiga tahun berselang bukan?"

"Mungkin, tapi biarpun sudah tahu sejak lama bukan berarti ia bisa turun tangan secara langsung" sahut Tu Siau-thian.

"Jadi dia mesti menunggu selama tiga tahun?"

"Tiga tahun toh bkan terhitung waktu yang cukup panjang" Siang Hu-hoa segera berpaling dan menatap tajam wajah

Tu Siau-thian, ujarna:

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, aku tahu kau pasti mempunyai alasan yang bagus untuk menjelaskan hal ini"

"Sekalipun sejak awal dia sudah punya ingatan untuk mencelakai Jui Pak-hay, namun sebelum segala persiapan menjadi matang dan segala rencana siap dilaksanakan, perempuan itu pasti tidak akan turun tangan secara gegabah"

"Jadi menurut pendapatmu?"

"Mula mula dia pasti harus selidiki dahulu segala sesuatu mengenai Jui Pak-hay, dia harus yakin kalau lelaki itu tidak memiliki istri lain, tidak punya anak atau sanak keluarga lainnya, sehingga dia harus yakin dulu bila lelaki itu

sampai mati maka seluruh harta kekayaannya akan jatuh ke tangannya"

"Kemudian?" "Dia harus memiliki sebuah rencana yang paling luwes dan paling sempurna" "Selainku?"

"Cukup untuk persiapkan dua hal ini, dia sudah butuh waktu yang lama sekali, apalagi membunuh Jui Pak-hay belum tentu murni usulannya"

Tiba tiba Tu Siau-thian menghela napas panjang, terusnya: "Terus terang, aku pun tidak percaya kalau perempuan itu

begitu keji dan telengas sehingga tega membunuh suami sendiri"

"Jadi kau curiga kalau semua usul dan ide ini muncul dari pemikiran Kwee Bok?" tanya Siang Huhoa.

"Aku memang curiga ke situ" sahut Tu Siau-thian, setelah menghela napas panjang lanjutnya, "tapi sayang bocah muda itu tidak mirip manusia semacam ini "

Saat itulah mendadak Ko Thian-liok menyela:

"Jika mereka berdua benar benar merupakan pembunuh utama dalam kasus ini, lalu bagaimana analisa mu tentang perjalanan mereka untuk melaksanakan pembunuhan berdarah ini?"

"Menurut perhitunganku, sejak menikah dengan Jui Pak- hay, besar kemungkinan Gi Tiok-kun masih memelihara hubungan dengan Kwee Bok secara diam-diam, tatkala dia mendapat tahu kalau Jui Pak-hay sangat takut dan mual terhadap laron, mereka berdua pun menyusun rencana kerja berikut sambil menunggu tibanya saat yang paling tepat untuk membunuh Jui Pak-hay!"

"Bagaimana rencananya?"

"Langkah pertama, tentu saja Kwee Bok harus mempersiapkan sejumlah Laron Penghisap darah"

"Kenapa harus mengumpulkan Laron Penghisap darah?" Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya:

"Mungkin saja didalam pembicaraan sehari hari, Gi Tiok-kun mendapat tahu kalau diantara kelompok laron ternyata Jui

Pak-hay paling takut dengan Laron Penghisap darah, atau mungkin saja Kwee Bok pernah berkunjung ke wilayah Siau- siang, pernah menyaksikan Laron Penghisap darah dan menganggap hanya Laron Penghisap darah yang bisa membuat pikiran Jui Pak-hay kalut dan hilang kontrol"

"Lantas apa langkah ke dua mereka?'

"Tentu saja melatih pengendalian terhadap kelompok Laron Penghisap darah itu"

"Memangnya kawanan Laron Penghisap darah itu benar- benar bisa dikendalikan?"

"Percaya saja, melatih kawanan laron tidak jauh berbeda seperti melatih sekelompok lebah, asal mau dilatih dengan sungguh sungguh, asal mau mempelajari sifat dan kebiasaan makhluk tersebut, suatu saat kawanan makhluk itu pasti dapat dikendalikan"

"Langkah berikut " tanya Ko Thian-liok lagi.

"Ketika semua persiapan sudah matang, mereka pun mulai melancarkan gerakan untuk mencelakai Jui Pak-hay, mula mula mereka gunakan rasa takut Jui Pak-hay terhadap Laron Penghisap darah untuk menteror dirinya, mereka sengaja mengatur kawanan Laron Penghisap darah agar bisa muncul dihadapan Jui Pak-hay berulang kali, semua gerakan, semua penampilan laron laron itu disesuaikan persis sama dengan berita dongeng yang banyak beredar di wilayah Siau-siang, agar Jui Pak-hay yakin dan percaya kalau dirinya telah dijadikan target dan sasaran dari si raja Laron Penghisap darah"

Sesudah berhenti sejenak, kembali lanjutnya: "Untuk kelancaran dalam melaksanakan rencana ini, sejak tiga bulan berselang Kwee Bok menyewa ruangan di rumah penginapan Hun-lay milik Si Siang-ho dengan alasan sedang meramu sejenis obat mustajab, dia sengaja memelihara kawanan Laron Penghisap darah itu didalam rumah penginapan tersebut"

"Yaa, dalam hal ini kita nyaris dapat mengumpulkan saksi dari orang orang seluruh dusun, dia memang tidak mungkin bisa mungkir lagi" sela Nyo Sin.

"Tauke rumah uang Kwong-hong beserta beberapa orang karyawannya juga merupakan saksi saksi yang menguatkan" Ko Thian-liok menambahkan.

"Telah kuselidiki dengan jelas asai usul tauke rumah uang itu" kata Nyo Sin cepat, "dia hanya seorang rakyat biasa, tidak mungkin ada masalah dan dia tidak mungkin sengaja menfitnah atau menuduh Kwee Bok tanpa bukti"

"Selain itu pedagang kelinci juga merupakan saksi yang menguatkan, mereka bisa membuktikan kalau Kwee Bok pernah membeli ribuan ekor kelinci dari mereka" ujar Ko Thian-liok pula.

"Aku pun telah selidiki beberapa orang pedagang itu, mereka memang tidak ada masalah"

0-0-0

Dalam perjalanan kembali ke pengadilan, Nyo Sin, Siang Huhoa dan Tu Siau-thian dengan mengggelandang Kwee Bok sempat mampir di tempat penjualan kelinci.

Beberapa orang pedagang kelinci itu serentak maju mengerubung ketika melihat kemunculan Kwee Bok, mereka semua berkata kalau telah menyiapkan berapa ratus ekor kelinci untuknya.

Tentu saja Nyo Sin tidak menyia nyiakan kesempatan ini untuk memeriksa berapa orang pedagang itu.

Begitu pertanyaan diajukan, dia segera mendapat tahu kalau selama ini Kwee Bok memang pernah membeli berapa ribu ekor kelinci dari tangan mereka.

Langganan besar seperti Kwee Bok pasti tidak akan disia siakan setiap pedagang, mereka pasti mempunyai kesan yang dalam terhadap pelanggan besar seperti ini.

Konon setiap kali membeli kawanan kelinci itu, Kwee Bok selalu berpesan wanti wanti agar mereka menutup rahasia pembelian ini.

Bahkan Kwee Bok pun tidak pernah menawar harga yang diminta para pedagang, dia selalu membayar kontan dan membeli dalam jumlah besar.

Baru pertama kali ini para pedagang kelinci itu bertemu dengan pelanggan seperti ini.

Padahal disekitar tempat itu bukan mereka saja yang menjual kelinci, disana masih banyak terdapat pedagang lain.

Sudah barang tentu mereka tidak ingin pelanggan sebagus ini jatuh ke tangan pedagang lain, maka mereka hanya melakukan transaksi dengan Kwee Bok secara diam diam dan penuh rahasia.

Jual beli telah berlangsung belasan kali, tapi sejak belasan hari terakhir mereka tidak menemukan jejak Kwee Bok lagi.

Padahal selama ini mereka telah persiapkan lagi berapa ratus ekor kelinci, tidak heran kalau mereka segera maju mengerubung begitu melihat kemunculan Kwee Bok.

Tentu saja Nyo Sin pun tidak akan melepaskan kesempatan baik ini. Setelah melalui sederet pemeriksaan yang ketat, diketahui bahwa kawanan pedagang itu sama sekali tidak bermasalah dan tidak ada yang patut dicurigai.

Para pedagang itupun tidak ada yang tahu buat apa Kwee Bok membeli begitu banyak kelinci. Ada orang yang menduga Kwee Bok mempunyai toko penjual kelinci, ada yang menduga dia adalah pedagang besar kelinci yang mengirim binatang binatang itu ke tempat lain. Bahkan ada pula yang curiga Kwee Bok membuka rumah makan dan menggunakan daging kelinci untuk memalsukan daging babi.

Tentu saja dugaan dugaan mereka itu keliru besar.

Dalam kenyataan kawanan kelinci itu dikirim ke rumah penginapan Hun-lay dan saban hari Si Siang-ho menghantar sepuluh ekor kelinci untuk mangsa kawanan Laron Penghisap darah yang dipelihara dalam ruang rumah penginapannya.

0-0-0

Nyo Sin tertawa dingin, kembali ujarnya:

"Sekarang barang bukti sudah lengkap, saksi pun sudah lengkap, tapi orang she-Kwe itu belum juga mau mengaku salah, entah rencana busuk apa lagi yang sedang dia persiapkan"

Tidak ada yang menjawab.

Rencana busuk apa yang sedang dipersiapkan Kwee Bok?

Kecuali dia sendiri, tentu saja orang lain tidak akan bisa menebaknya.

Ko Thian-liok segera mengalihkan pandangannya ke wajah Tu Siau-thian, kemudian perintahnya:

"Lanjutkan!" Tu Siau-thian mengangguk.

"Dengan Gi Tiok-kun membantunya dari dalam, tentu saja semua rencana dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Gi Tiok-kun bukan saja mengatur jadwal pemunculan kawanan Laron Penghisap darah itu dihadapan Jui Pak-hay, bahkan setiap kali muncul dihadapan suaminya, dia selalu berlagak seolah olah dia sama sekali tidak menyaksikan sesuatu"

"Apa gunanya dia berlagak tidak melihat?"

"Agar Jui Pak-hay percaya kalau kawanan Laron Penghisap darah itu merupakan jelmaan dari setan iblis. Pada dasarnya Jui Pak-hay memang sangat takut terhadap Laron Penghisap darah, dengan ditambahnya teror seperti ini tidak heran kalau dia semakin panik dan ketidakutan, tidak heran pula jika pikirannya jadi tidak waras"

Setelah berhenti sebentar, kembali terusnya: "Makin hari mereka menteror Jui Pak-hay semakin hebat, rasa takut Jui Pak-hay terhadap kawanan Laron Penghisap darah pun makin lama semakin menjadi. Kini bukan saja Gi Tiok-kun telah menyembunyikan kawanan Laron Penghisap darah itu didalam lemari pakaiannya, dia pun menyimpan dalam kamar tidurnya, jelas tujuannya adalah untuk semakin menakut nakuti suaminya. Lalu dengan alasan hendak mengobati penyakitnya dia mengundang kedatangan Kwee Bok, dalam perjamuan dia pun meminta Kwee Bok menjadi pihak ke tiga yang menyangkal kalau telah melihat kemunculan Laron Penghisap darah, kesemuanya ini membuat rasa percaya diri yang dimiliki Jui Pak-hay semakin runtuh. Dalam keadaan demikian tidak aneh jika pikiran Jui Pak-hay semakin kalut dan otaknya semakin tidak waras, bila seseorang sudah berada dalam keadaan yang amat ketakutan, perbuatan apa pun bisa dia lakukan"

"Ehmmm, analisa mu memang sangat masuk diakal" "Aku yakin tujuan utama mereka adalah begitu, jika Jui Pak-hay benar benar tewas karena alasan semacam ini, sudah pasti orang lain tidak akan mencurigai mereka berdua, kalau toch ada, orang pun sulit untuk menemukan barang bukti yang bisa memberatkan tuduhan terhadap mereka"

Ko Thian-liok kembali manggut manggut.

"Jika Jui Pak-hay dianggap mati bunuh diri, pembunuhnya adalah dia sendiri, tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain" dia berkata.

"Sayang perhitungan manusia tidak mampu mengalahkan kehendak Thian"

"Oya?"

"Ketika Laron Penghisap darah itu muncul untuk ke dua kalinya, mereka tidak menyangka kalau Jui Pak-hay sedag mencari aku. Dengan kehadiranku ditempat kejadian, maka aku pun dapat melihat ke dua ekor Laron Penghisap darah itu, bahkan berhasil menangkap seekor diantar anya"

"Apakah kejadian ini ada pengaruhnya?"

"Tentu saja, kejadian tersebut membuktikan tentang keberadaan Laron Penghisap darah dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri dari Jui Pak-hay, oleh sebab itu ketika Gi Tiok-kun bilang kalau dia tidak melihat kehadiran Laron Penghisap darah, Jui Pak-hay tidak percaya dengan pengakuannya, dia curiga bininya sedang berbohong.

Sesungguhnya Jui Pak-hay termasuk orang yang besar rasa curiganya, bila satu ingatan sudah muncul maka dia akan mengaitkan pemikiran itu dengan masalah yang lain, akibatnya dia pun menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sebagai jelmaan dari siluman laron dan muncullah niatnya untuk menghabisi nyawa ke dua orang ini"

Semua penjelasan dia tuturkan selancar aliran air disungai Tiangkang, terusnya: "Ketika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok menyadari akan rencana jahat Jui Pak-hay terhadap mereka, kedua orang itupun segera membatalkan rencana semula dan segera mempercepat pembunuhan itu dengan dilakukan secara langsung"

"Ehmmm, kemungkinan ini memang bisa diterima" Tu Siau-thian berkata lagi:

"Mereka tentu tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay sangat hebat, bila harus bentrok berhadapan muka jelas mereka mencari kematian, maka bisa jadi terpaksa mereka harus gunakan Laron Penghisap darah untuk menakut nakuti Jui Pak-hay. Ketika tiba pada malam tanggal lima belas, karena secara beruntun Jui Pak-hay sudah mengalami teror selama empat belas hari, ketegangan yang kelewat puncak membuat tubuh maupun mentalnya menjadi melemah, sewaktu sadar, dia hidup layak seperti manusia biasa, tapi begitu otaknya mulai tidak waras, dia seakan berubah jadi orang yang lain, dalam benak dan bayangannya hanya ada bayangan dari Laron Penghisap darah"

Sesudah menghembuskan napas panjang, terusnya:

"Oleh karena selama ini dia selalu beranggapan bahwa raja laron bakal muncul pada malam tanggal lima belas dan kawanan laron itu pasti akan menghisap darahnya hingga kering, maka begitu dia bertemu dengan kawanan Laron Penghisap darah pada malam tersebut, semangat dan mentalnya langsung rontok"

"Bukankah kau pernah bilang bahwa pada malam itu tidak nampak ada rombongan Laron Penghisap darah yang terbang masuk ke ruang perpustidakaan?" sela Nyo Sin.

Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya: "Hanya siluman dan setan iblis yang bisa masuk tembus dinding, kita toch sudah menyangkal kalau kawanan Laron Penghisap darah itu bukan siluman atau setan iblis"

"Itu berarti hanya ilusi, hanya khayalan kosong yang mengganggu pikirannya waktu itu?"

"Juga bukan begitu" Tu Siau-thian menggeleng.

Kontan Nyo Sin mendelik, tapi Tu Siau-thian tidak menggubris, dia menerangkan lagi:

"Gi Tiok-kun sudah mengetahui rahasia kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay, tentu saja diapun tahu ditempat mana suaminya menyembunyikan harta karun itu, bahkan bisa jadi segala alat jebakan dan perangkap yang dipasang berlapis dalam ruang rahasia itu sudah tidak bermanfaat lagi terhadap dirinya"

"Jadi dia mengetahui cara mengendalikan alat perangkap itu?"

"Aku tidak bermaksud begitu" "Lalu apa maksudmu?"

"Dia adalah perempuan kesayangan Jui Pak-hay, menurut penilaianmu, bila dia sudah berniat mempelajari cara mengendalikan alat perangkap tersebut, setelah melewati waktu selama tiga tahun, mungkinkah usahanya itu tanpa hasil?"

"Tentu saja tidak"

"Bila dia mengetahui bagaimana caranya mengendalikan alat perangkap dalam ruang rahasia itu, otomatis Kwee Bok juga tahu akan rahasia ini. Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi secara diam diam Kwee Bok telah menyusup masuk ke dalam ruang perpustakaan pada malam tanggal lima belas, membuka pintu rahasia itu dan menyusup ke dalam ruang bawah tanah, ketika dia melihat kesempatan telah datang maka dia buka pintu rahasia itu dan melepaskan Laron Penghisap darah"

"Kemudian?"

"Sewaktu melihat munculnya Laron Penghisap darah didalam ruang

perpustakaannya, Jui Pak-hay menyangka saat ajalnya telah tiba, waktu itu semangat maupun mentalnya sudah runtuh, peristiwa mengerikan apa lagi yang tidak bisa dia lakukan dalam keadaan begitu? Ketika seorang manusia menghadapi ancaman kematian, biasanya ada dua reaksi yang mungkin mereka lakukan"

"Reaksi yang bagaimana?"

"Kalau tidak beradu jiwa tentu berusaha melarikan diri" "Ooh?"

"Kalau bisa beradu jiwa pasti akan beradu jiwa, kalau tidak bisa beradu jiwa tentu berusaha untuk melarikan diri, tidak terkecuali diri Jui Pak-hay. Mula-mula dia mencabut dulu pedangnya dan siap beradu jiwa, ketika melihat usahanya tanpa hasil, tentu saja dia akan berusaha untuk melarikan diri"

Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya:

"Tempat paling aman yang ada dalam ruang perpustakaan ini adalah ruang bawah tanah, sebab dia anggap disitulah dia telah persiapkan pelbagai alat perangkap yang canggih,oleh sebab itu kecuali dia tidak berusaha kabur, bila ingin melarikan diri, dia pasti akan kabur ke ruang bawah tanah, padahal disanalah Kwee Bok telah menunggunya!"

"Kehadiran pemuda itu tentu jauh diluar dugaan Jui Pak- hay bukan?” kata Nyo Sin.

"Betul, selain diluar dugaan dia pun sedang kabur dengan tergesa-gesa, pikirannya kalut dan mentalnya runtuh, dalam kondisi seperti ini mana mungkin Jui Pak-hay bisa lolos dari sergapan Kwee Bok? Maka pada akhirnya dia pun tewas ditangan pemuda itu"

"Dengan kemampuan Kwee Bok, mana mungkin dia mampu membunuhnya?"

"Betul, kepandaian silatnya memang sangat tangguh, namun dalam kondisinya waktu itu, mungkin dia tidak jauh berbeda dengan keadaan manusia biasa"

"Dengan cara apa Kwee Bok membunuhnya?"

"Mungkin menggunakan racun, mungkin menghantam dulu kepalanya dengan benda berat kemudian baru membantainya, apa pun penyebab kematiannya, yang pasti kita tidak akan bisa menemukan bekas bekas tersebut dari atas jenasahnya"

Diam diam Nyo Sin bergidik, dia belum lupa bagaimana kondisi mayat Jui Pak-hay saat itu.

Batok kepalanya sudah berubah jadi tengkorak, tubuhnya sebagian sudah tinggal tulang belulang sebagian masih ada dagingnya namun mulai membusuk dan melelehkan cairan yang memuakkan, bagaimana mungkin mereka bisa melakukan autopsi pada sesosok jenasah yang sudah parah keadaannya?

Tu Siau-thian sendiri ikut bergidik, tapi tidak selang berapa saat kemudian dia telah berkata lagi:

"Ketika aku bersama Tan Piau dan Yau Kun berhasil menjebol pintu dan masuk ke dalam ruangan, Kwee Bok telah kabur lagi ke dalam ruang rahasia, maka kami tidak berhasil menemkan jejaknya"

Dengan suara berat dan dalam dia menambahkan: "Mungkin inilah penyebab hilangnya Jui Pak-hay secara

misterius dari dalam ruang perpustakaan pada malam tanggal

lima belas" "Kalau memang begitu, kenapa dia tidak meninggalkan saja jenasah dari Jui Pak-hay itu didalam ruang rahasia?" tanya Nyo Sin.

"Mungkin dia kuatir kita akan menemukan ruang rahasia itu dan menemukan juga jenasah Jui Pak-hay, karena dengan begitu penyebab kematian Jui Pak-hay segera akan terungkap"

"Maka dia cari kesempatan lagi, menunggu kalian sudah pergi dari situ, jenasah Jui Pak-hay segera diangkut keluar dari ruang bawah tanah?" tanya Nyo Sin.

Tu Siau-thian mengangguk.

"Jika dia hanya keluarkan jenasah itu dari dalam ruang perpustidakaan, maka tidak sulit hal ini akan ketahuan orang, maka dia pun memindahkan mayat itu ke dalam ruang loteng dibelakang kamar tidur Gi Tiok-kun, dengan kerja sama perempuan itu, tentu saja semua pekerjaan dapat dia lakukan secara mudah"

"Perkampungan Ki po cay sangat luas, kenapa dia tidak memilih tempat lain saja?"

"Tempat mana yang jauh lebih rahasia daripada ruang bawah tanah itu? Kalau tempat yang begitu rahasia pun tidak dipercayai, memangnya ada tempat lain lagi yang bisa mereka pilih?"

"Buktinya kita tetap berhasil menemukan ruang loteng itu!" "Kalau kita tidak membaca buku catatan itu lebih dulu,

mungkin kita pun tidak bakal mencurigai kamar tidurnya"

"Aaah, belum tentu"

Tu Siau-thian tidak ingin berdebat, kembali dia bertanya: "Sebelum kejadian ini, pernahkah kita menaruh curiga

terhadap Gi Tiok-kun? Pernahkah kita mencurigai dia sebagai seorang pembunuh? Seorang istri yang membunuh suami sendiri?"

Mau tidak mau Nyo Sin harus menggeleng.

"Kalau Gi Tiok-kun saja tidak kita curigai, mana mungkin kita bisa menduga kalau jenasah Jui Pak-hay kemungkinan besar telah disembunyikan didalam kamar tidur mereka, mana mungkin kita bisa menyatroni tempat itu dan menemukan ruang rahasia diatas loteng?" sambung Tu Siau-thian cepat.

Terpaksa Nyo Sin mengangguk.

Setelah tertawa lebar Tu Siau-thian berkata lagi:

"Ketika kita menemukan ruangan tersebut, mungkin Kwee Bok mengira jenasah Jui Pak-hay sudah habis dilalap kawanan Laron Penghisap darah itu"

"Tapi jenasah Jui Pak-hay belum habis "

"Disinilah dia salah perhitungan" tukas Tu Siau-thian, "kesalahan ini jadi fatal karena merupakan titik terang akan terungkapnya semua misteri pembunuhan ini"

Setelah menyandarkan diri pada sebuah bangku, dia melanjutkan:

"Ketika dia sadar akan kekeliruan tersebut, waktu itu kita sudah membekuk Gi Tiok-kun"

"Padahal kalau dia sudah berencana menggunakan Laron Penghisap darah untuk melenyapkan jenasah Jui Pak-hay, kenapa tidak dia tinggalkan saja mayat tersebut di ruang bawah tanah? Dengan berbuat begitu, bukan saja dia bisa menghindari Gi Tiok-kun dari segala kecurigaan, lagipula meski dengan cepat kita berhasil menemukan ruang bawah tanah dan menjumpai pula mayat Jui Pak-hay, namun penemuan ini tidak akan berpengaruh apa apa terhadap mereka" "Menurut dugaanku, kemungkinan besar hal ini dikarenakan tumpukan harta karun dalam ruang rahasia itu"

"Oya?"

"Mungkin Laron Penghisap darah itu atau kotoran dari makhluk itu bisa mendatangkan kerusakan atas harta karun yang ada di ruang rahasia itu"

"Ehmmm, kau bisa mengurai semua kejadian secara berurutan dan jelas, atau mungkin memang demikian rangkaian peristiwanya?" tanya Nyo Sin kemudian sambil mengelus jenggotnya.

"Aku hanya menduga dan menganalisanya, belum tentu kenyataan nya demikian"

"Opas Tu, analisamu memang sangat hebat!" puji Ko Thian-liok pula.

Pelan pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Siang Hu-hoa, lalu sapanya:

"Saudara Siang!"

"Ko tayjin " sahut Siang Hu-hoa sembari menjura.

Tidak membiarkan lelaki itu berbicara, kembali Ko Thian- liok menukas:

"Sewaktu masih muda dulu aku pernah berkelana dalam dunia persilatan, meski tidak terlampau lama, sesungguhnya aku masih terhitung separuh orang kangouw, oleh sebab itu kecuali berada di ruang sidang pengadilan, kau tidak usah terlalu memakai aturan"

Siang Huhoa kontan tertawa tergelak.

"Jangan kuatir, biar di ruang sidang atau diluar sidang, aku memang orang yang tidak suka berbasa basi" sahutnya.

"Kalau begitu kau pun tidak usah banyak adat denganku" "Baiklah" ujar Siang Huhoa kemudian, "saudara Ko ada urusan apa?'

"Aku ingin bertanya kepada saudara siang, bagaimana pendapatmu atas analisa dari opas Tu itu?"

"Aku kurang setuju" jawab Siang Hu-hoa tanpa ragu. "Oya?"

"Analisa dari saudara Tu memang hebat, alasannya cukup kuat dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi sayang sudah melupakan beberapa hal"

"Silahkan diutarakan"

"Bagi seseorang yang memiliki kungfu hebat, sekalipun berada dalam keadaan kurang terkontrol pikirannya, bukan sembarangan obat racun bisa merobohkan dirinya, apalagi meracuninya hingga mati dalam waktu singkat

"Mungkin saja Kwee Bok sudah mengantisipasi sampai ke situ" seru Tu Siau-thian, "obat beracun yang dia gunakan pun sudah pasti bukan obat racun sembarangan"

"Kalau bukan obat racun sembarangan berarti pasti obat yang sangat lihay daya kerjanya?"

"Mungkin saja kadar racunnya sanggup menghabis nyawa Jui Pak-hay dalam waktu setengah detik"

"Kalau memang terdapat racun sehebat itu, berarti setiap waktu setiap saat dia bisa membunuh mati Jui Pak-hay, kalau bisa begitu, buat apa dia mesti repot repot menyusun segala rencana?"

"Dia toh belum pasti menggunakan obat racun" bela Tu Siau-thian.

"Membunuh dengan cara memukulkan benda berat keatas kepalanya jelas lebih sulit dia lakukan" Siang Hu-hoa menerangkan, "dalam perjalanan menuju ke kantor pengadilan tadi, secara diam diam aku telah menjajal kemampuan Kwee Bok"

"Apa yang kau temukan?"

"Dia tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang biasa, sekalipun pernah belajar silat tidak nanti kehebatannya bisa luar biasa, padahal seharusnya kalian sudah tahu sejak dia dirobohkan oleh timpukan cincin besi milik Si Siang-ho"

"Apa lagi kesalahanku dalam analisa itu?" tanya Tu Siau- thian kemudian.

"Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah pembunuh Jui Pak- hay, tidak ada alasan bagi mereka untuk menyimpan jenasahnya dalam ruangan diatas loteng, sebab begitu ketahuan, orang pertama yang bakal dicurigai adalah Gi Tiok- kun "

"Bukankah aku telah membeberkan alasannya tadi?" tukas Tu Siau-thian.

"Tapi kau tidak pernah menjelaskan tentang sesuatu" "Soal apa?"

"Kenapa Kwee Bok mengajak kita pergi mengunjungi Si Siang-ho? Memangnya dia ingin menggali liang kubur buat diri sendiri?"

Tu Siau-thian termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya:

"Aku memang pernah memikirkan persoalan ini, menurut analisaku, sebetulnya kepergian kita ke rumah penginapan itu merupakan bagian dari skenario nya, dia ingin mencelakai Si Siang-ho, ingin menfitnah orang tersebut bukankah antara

Si Siang-ho dengan Jui Pak-hay pernah terlibat satu masalah pelik yang menimbulkan dendam pribadi? Tapi kalau dibilang Si Siang-ho yang mencelakai Jui Pak-hay. pertama kita tidak punya

bukti dan saksi, biar kita percaya pun belum tentu orang lain mau percaya"

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya:

"Sayang hitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan takdir, siapa pun tidak menyangka kalau akan terjadi perubahan yang diluar dugaan, bukan saja dia gagal menfitnah Si Siang-ho, malah aib sendiri yang terbongkar"

"Kalau memang benar begitu, kenapa dia lakukan sendiri semua pekerjaan itu, sedari menyewa ruangan, membeli kelinci, menghantar kelinci ke rumah penginapan semuanya dia kerjakan sendiri, apa dia tidak takut terbongkar rahasianya dikemudian hari? Bukankah tindakannya itu kelewat goblok?"

"Mungkin baru pertama kali ini dia melakukan tindak pidana dia belum mengerti bagaimana caranya menyembunyikan semua perbuatan nya, orang yang bekerja dengan suasana tegang seringkali memang tidak bisa berpikir panjang"

"Aku rasa dia termasuk orang pintar, bukankah sebelum melakukan setiap langkah rencananya, dia selalu mempertimbangkan secara masak masak? Ini sesuai dengan apa yang kau tuduhan tadi"

"Mungkin dia pun kelewat banyak berpikir sehingga tidak bisa mengontrol pikiran sendiri, akibatnya banyak melakukan tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan" Tu Siau-thian tertawa getir, "apakah hanya ini saja keteledoranku?"

"Ooh masih ada satu hal lagi yang jauh lebih penting" "Soal apa?"

"Bila Kwee Bok pernah bersembunyi di dalam ruang rahasia, kenapa dia tidak musnahkan juga buku catatan serta surat wasiat yang diletidakkan Jui Pak-hay diatas meja?"

"Mungkin dia tidak memperhatikan?" "Tidak aneh kalau dia tidak memperhatikan buku catatan itu, sebab semua catatan dituangkan dalam gulungan kertas, tapi surat wasiat itu jelas wujudnya bahkan diletidakkan ditempat yang amat mencolok"

"Mungkin waktu itu dia kelewat tegang sehingga tidak terlalu memperhatikan?" Tu Siau-thian menghela napas panjang, "atau dia hanya bersembunyi ditempat kegelapan dan sama sekali tidak pernah melangkah masuk ke dalam ruang rahasia"

"Jadi semuanya serba mungkin?"

Kembali Tu Siau-thian menghela napas panjang. "Aku tahu analisaku ini memang kelewat dipaksakan"

"Aku pikir, tidak ada alasan bagi Kwee Bok untuk tidak memusnahkan surat wasiat yang dia temukan dalam ruang rahasia itu" kata Siang Huhoa lagi.

Sementara berbicara, sinar matanya dialihkan ke atas meja.

Ke dua pucuk surat wasiat peninggalan Jui Pak-hay terletidak diatas meja.

Walaupun disitu terdapat dua pucuk, namun isinya persis sama satu dengan lainnya, seperti apa yang pernah dikatakan Jui Pak-hay sendiri.

Sudah barang tentu Siang Hu-hoa cukup hapal dengan gaya tulisan Jui Pak-hay, Ko Thian-liok sendiri pun merasa tidak asing, ini berarti keaslian surat wasiat itu memang tidak perlu diragukan.

Setelah memperhatikan surat wasiat itu sekejap, Ko Thian- liok berkata:

"Menyinggung soal surat wasiat, hal inipun terasa sangat aneh"

"Dimana letak keanehannya?" "Didalam ke dua pucuk surat wasiat itu masing-masing disertakan selembar kertas yang mencantumkan seluruh harta kekayaan yang mmilikinya"

"Apakah kau merasa heran karena dia meiniliki begitu banyak harta?"

"Bukan, ada dua hal yang membuatku heran" kata Ko Thian-liok seraya menggeleng.

"Dua hal yang mana?"

"Pertama, dari begitu banyak harta kekayaan yang dia miliki ternyata tidak sepotong pun yang diwariskan kepada bininya Gi Tiok-kun"

"Selama ini dia menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sebagai jelmaan siluman yang bekerja sama ingin membunuhnya, hal ini bisa dimaklumi" ujar Siang Huhoa.

"Apapun analisa mu, tapi aku rasa kebangetan bila dia tidak mewariskan secuwil harta pun untuk bininya"

"Lalu apa yang kedua?"

"Tiga ahli waris yang dia pilih untuk mewarisi seluruh harta kekayaannya"

Kali ini Siang Huhoa terbungkam dan tidak berkata-kata. Terdengar Ko Thian-liok berkata lebih jauh:

"Ke tiga orang ahli waris yang dipilih adalah Liong Ong-po, Wan Kiam-peng serta Cu Hiap. sebelum membaca isi surat

wasiat itu, aku sama sekali tidak tahu akan wujud ke tiga orang itu, pun tidak pernah ada orang yang menyinggung tentang ke tiga orang itu dihadapanku, ini menunjukkan kalau mereka bertiga tidak memiliki hubungan yang kelewat akrab dengan dirinya, tapi di dalam kenyataannya sekarang, dia telah mewariskan seluruh harta kekayaannya yang begitu banyak untuk mereka bertiga" "Bukankah kau bersahabat karib dengan Jui Pak-hay?" tanya Siang Huhoa.

"Aku sudah empat tahun kenal dengan dirinya"

"Dalam empat tahun ini pernahkah saudara Ko mendengar dia menyinggung tentang diriku?" tanya Siang Hu-hoa lagi.

"Rasanya tidak pernah" jawab Ko Thian-liok tanpa ragu, setelah berhenti sesaat tanyanya lagi, "sudah berapa tahun kalian berkenalan?"

"Kalau bukan dua puluh tahun, paling tidak sudah delapan- sembilan belas tahunan"

Seolah terbayang kembali masa lampau, dia menghela napas panjang, lalu tambahnya:

"Ketika pertama kali berkenalan, waktu itu kami masih kanak kanak"

"Bersahabat selama banyak tahun, aku percaya kalian tentu merupakan sahabat yang sangat karib?"

"Semestinya begitu"

"Sebelum Jui Pak-hay lenyap, dia pernah menyinggung akan kehadiranmu dihadapan opas Tu, aku dengar dia pun pernah berkata bahwa kau adalah sahabat karibnya"

"Nah, terhadap seorang sahabat macam aku pun dia tidak pernah menyinggung dihadapanmu, bukankah kau pun merasa keheranan?"

Ko Thian-liok mengangguk.

"Padahal sedikitpun tidak aneh" ujar Siang Huhoa lagi. "Oya?"

"Sebab sejak tiga tahun berselang, kami sudah bukan sahabat lagi"

"Tapi " "Sekalipun begitu" tukas Siang Hu-hoa, "ketika dia menghadapi kesulitan dan hal itu kuketahui, aku tidak akan berpeluk tangan belaka, kecuali aku memang tidak tahu, kalau tidak aku pasti akan datang mencarinya"

"Kenapa?"

"Sebab dia tahu, aku bukan seorang manusia yang lupa budi"

"Jadi kau berhutang budi kepadanya?"

"Benar, hutang budi karena dia pernah selamatkan jiwaku"