Laron Penghisap Darah Bab 19: Membetot serat menguliti kepompong.

Bab 19: Membetot serat menguliti kepompong.

"Kalau bukan kau, lantas siapa?" tanya Siang Huhoa. "Mendiang guruku!"

"Waah obat itu pasti laku keras di pasaran?"

"Betul" Kwee Bok mengangguk, "justru karena itulah diluar sana banyak beredar obat palsu"

"Apakah obat sejenis itu hanya diperjual belikan di Hui cun tong?"

"Benar"

"Sebenarnya pil Si mia wan itu mahal tidak harganya?” "Yang tulen murah harganya, justru yang palsu baru mahal

sekali"

"Maka kau pandang sebelah mata terhadap obat itu?" "Aku memang memandang sebelah mata, masalahnya

bukan dalam hal untung rugi, balai pengobatan Hui cun tong bukan usaha dagang yang mengejar keuntungan besar, aku belajar ilmu pengobatan karena aku ingin menolong orang"

"Kalau memang begitu, kenapa kau masih memandang sebelah mata?" sindir Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Sebab mereka yang memalsukan obatku hanya mampu meniru bagian luarnya saja, sedang isinya sangat berbeda, meskipun setelah diminum tidak sampai menimbulkan kematian namun obat itu tidak banyak berpengaruh bagi penderita sakit, bahkan bila berlarut larut bisa menimbulkan kematian"

"Hmmm, kelihatannya kau bukan termasuk orang berhati keji" kembali sindir Nyo Sin.

"Apakah kau yakin obat Si mia wan yang kutemukan adalah obat asli buatanmu sendiri?" tiba-tiba Siang Hu-hoa menyela.

Kwee Bok mengangguk. "Kalau memang asli buatanmu, seharusnya isi kapsul lilin itu adalah bubuk obat" kata Siang Huhoa lebih jauh, "kenapa isinya sekarang justru segumpal asap harum? Bagaimana penjelasanmu tentang kejadian ini?"

Kwee Bok menghela napas panjang.

"Aaai mungkin ada orang telah mengeluarkan isi bubuk

obat itu, kemudian memasukkan bubuk obat yang lain ke dalam kapsul tersebut"

"Siapa orang itu?" jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin. "Alangkah baiknya bila aku tahu akan hal ini" sahut Kwee

Bok sambil mengalihkan sorot matanya ke wajah Si Siang-ho.

Walau dipandang dengan sinar mata tajam, Si Siang-ho masih tetap berdiri tenang, begitu tenangnya seolah tidak ada urusan dengan dirinya.

"ooh, jadi kau mencurigai dia?" tegur Nyo Sin kemudian. "Benar, aku memang mempunyai kecurigaan itu"

"Ketika memeriksakan kesehatan tubuhnya, apakah kau pernah memberi Si mia wan kepada nya?" tanya Nyo Sin.

"Penyakit yang dideritanya sangat ringan, tidak perlu obat macam si mia wan"

"Apakah dia pernah membeli obat Si mia wan dari balai pengobatanmu?"

"Juga tidak pernah"

"Lalu darimana dia dapatkan Si mia wan dari Hui cun tong?"

"Mungkin saja dia suruh orang lain yang membeli" "Mungkin?" jengek Nyo Sin ketus, "jadi kau tidak yakin?" Mau tidak mau Kwee Bok harus mengakuinya. "Mungkin kau tidak yakin, tapi aku telah yakin akan satu hal" kata Nyo Sin lebih jauh.

Kwee Bok tidak bertanya apa yang dia yakini, sebab dia sudah dapat menebak apa jawaban-nya.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

"Kapsul lilin itu disembunyikan dibalik lipatan ujung bajumu, sementara opas itu meremuk kapsul lilin itu dari luar lipatan baju "

Kwee Bok tidak dapat membantah, sebab apa yang diutarakan memang merupakan sebuah kenyataan.

Setelah tertawa dingin lanjut Nyo Sin:

"Sekarang kau hanya bisa berharap orang dusun tidak ada yang kenal dengan dirimu, dan tidak ada yang tahu kalau setiap sepuluh hari sekali kau pasti datang kemari dengan menunggang kereta kuda"

Kwee Bok tidak berbicara lagi, entah sejak kapan dengus napasnya mulai memburu hingga nyaris tersengkal, dengan sorot mata penuh kebencian dia awasi wajah Si Siang-ho.

Si Siang-ho sama sekali tidak menghindari sorot matanya, sekulum senyum tidak senyum justru menghiasi wajahnya.

Dengus napas Kwee Bok makin lama semakin bertambah cepat, tiba tiba dia berteriak keras, sambil mengayunkan tinjunya dia menerjang ke tubuh Si Siang-ho.

Sejak awal Tu Siau-thian sudah menduga sampai ke situ, dia memang sudah bersiap sedia sejak tadi, maka begitu ayunan tinju mulai dilontarkanh, dia segera menghadang dihadapannya.

Siapa tahu baru melangkah beberapa tindak mendadak Kwee Bok berganti arah dan langsung kabur keluar dari ruangan itu. Tindakan ini jauh diluar dugaan siapa pun, untuk sesaat Tu Siau-thian hanya berdiri tertegun sementara Nyo Sin tidak sempat lagi untuk menghalangi.

Siang Huhoa pun nampaknya agak tercengang dengan kejadian ini, tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke wajah Si Siang-ho.

Dalam pada itu Si Siang-ho sedang mengangkat tinggi tangan kirinya, jari telunjukkan ditempelkan diujung hidung sementara diatas jari manisnya nampak sebuah cincin yang aneh sekali bentuknya.

Cincin itu terbuat dari besi dan sangat besar bentuknya, sebuah cincin berwarna hitam yang memancarkan cahaya tajam.

"Mau kabur ke mana kau!" hardik Tu Siau-thian.

"Berhenti!" bentak Nyo Sin pula, baru dia buka mulut, Kwee Bok sudah menerjang keluar dari pintu kamar.

"Kena!" terdengar Si Siang-ho membentak nyaring.

Tangan kirinya segera diayunkan ke muka, cincin besi yang dikenakan dijari telunjuknya itu segera melesat ke tengah udara dan meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Diantara kilatan cahaya berwarna hitam, terdengar Kwee Bok mendengus tertahan dan jatuh berlutut diluar pintu.

"Traang!" cincin besi itupun jatuh ke lantai dari lekukan lutut kakinya.

Dengan satu lompatan cepat Si Siang-ho menghampiri pemuda itu, memungut kembali cincin besi itu dan dikenakan pada jari telunjuknya.

Tidak lama kemudian Siang Huhoa bertiga telah memburu pula dari balik kamar dan menyusul ke samping tubuhnya.

Berbinar sepasang mata Siang Huhoa, pujinya: "Pedang baja gelang terbang, ternyata memang bukan nama kosong"

"Aaah, hanya permainan kucing kaki tiga, tidak ada harganya untuk dikagumi" sahut Si Siang-ho merendah.

"Takaran minum arakmu terhitung hebat juga" kembali Siang Hu-hoa memuji.

"Kenyataan memang begitu, tapi seandainya kedatangan saudara Siang sedikit agak terlambat sehingga aku berkesempatan minum lagi berapa cawan, mungkin kau tidak akan memuji takaran minumku lagi"

Sembari menggosokkan cincin besi itu diantara telapak tangannya, dia berkata lebih jauh:

"Kalau sampai serangan dilancarkan dalam keadaan pusing dan tidak tepat dalam penggunaan tenaga, mungkin yang kena bukan lututnya melainkan batok kepalanya"

Setelah tertawa tergelak, tambahnya:

"Jika sampai terjadi peristiwa macam itu, besar kemungkinan aku bakal menjadi seorang pembunuh sungguhan!"

Siang Huhoa hanya tertawa tanpa komentar.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Tu Siau-thian sudah mencengkeram kerah baju Kwee Bok dan menariknya hingga terbangun dari tanah.

Nyo Sin tidak tinggal diam, dia ikut maju sambil menelikung tangan Kwee Bok ke belakang punggungnya.

Telikungan itu mestinya tidak menggunakan tenaga yang terlalu besar, namun Kwee Bok tidak mampu menahan diri, tubuhnya segera melengkung bagaikan seekor udang. "Kau tidak usah main akal akalan lagi" seru Nyo Sin sambil tertawa seram, "belum pernah ada tersangka yang berhasil kabur dari hadapanku"

Dia pada hakekatnya telah menganggap Si Siang-ho sebagai anak buahnya.

"Aku bukannya mau melarikan diri" bantah Kwee Bok dengan wajah hijau membesi.

"Oya?"

"Aku hanya ingin keluar dari sini secepatnya, mencari seseorang dan menanyai masalah ini hingga jelas" teriak Kwee Bok lagi.

Nyo Sin sambil tertawa dingin, "apalagi mau cepat atau lambat, jawabannya tetap sama, buat apa kau mesti terburu napsu"

Kwee Bok menutup mulutnya rapat rapat, tapi sepasang matanya mengawasi terus wajah Si Siang-ho dengan penuh amarah.

"Buat apa kau mendelik kepadanya?" tegur Nyo Sin yang menyaksikan hal itu.

"Aku pingin melihat jelas rencana busuk apa lagi yang sedang dia persiapkan"

"Waaah, kau punya kepandaian sehebat itu, mampu melihat jelas rencana yang sedang dia persiapkan?"

Kwee Bok mendengus dingin, tentu saja dia tidak memiliki kepandaian seperti itu.

"Jadi selama ini kau masih menyangka dia yang menfitnahmu, dia yang sengaja mengatur jebakan untuk mencelakaimu?" tanya Nyo Sin.

"Sudah tentu ulah dia!"

"Tapi ada satu hal kau mesti tahu terlebih dulu" "Soal apa yang kau maksud?"

"Jenasah Jui Pak-hay telah ditemukan dimana?" "Kau pernah menjelaskan tadi, aku belum lupa"

"Nah itulah dia, jika dia yang membunuh Jui Pak-hay, kenapa jenasah Jui Pak-hay bisa ditemukan ditempat itu?"

"Aku memang tahu dengan pasti bahwa tempat itu merupakan kamar tidur Jui Pak-hay dan bininya, tapi ada satu hal lebih baik jangan komandan lupakan"

"Soal apa?"

"Dulu, Si Siang-ho adalah pemilik perkampungan Ki po cay!"

"Kalau yaa, lalu kenapa?"

"Tentu saja dia hapal sekali dengan keadaan disekeliling perkampungan Ki po cay, karena dulu tempat ini memang miliknya, apalagi dengan kehebatan ilmu silatnya, bukan satu pekerjaan yang sulit untuk menyelundupkan sesosok jenasah ke dalam ruang loteng itu"

"Tapi hampir sepanjang hari Gi Tiok-kun berada didalam kamar tidurnya, memangnya perempuan itu tidak akan memergoki kehadirannya?" seru Nyo Sin.

"Adik misanku nyaris tidak mengerti ilmu silat, dengan kemampuan ilmu silat yang dia miliki, bukan pekerjaan yang terlampau sulit untuk memasuki kamar tidur adik misanku tanpa harus dipergoki"

"Menurut kau, kenapa dia harus berbuat begitu?" "Tentu saja untuk menuntut balas" sahut Kwee Bok.

Kemudian setelah mendelik ke arah Si Siang-ho, lanjutnya:

"Hingga sekarang dia belum pernah lupa dengan sakit hatinya, sakit hati lantaran Jui Pak-hay berhasil merebut pujaan hatinya bahkan menikahinya, setiap waktu setiap saat dia selalu berusaha untuk balas dendam sambil menunggu tibanya kesempatan yang sangat baik. Dan kini waktunya sudah tiba, dia bukan saja telah merenggut nyawa Jui Pak- hay, bahkan dengan cara begini dia ingin menghabisi pula nyawa adik misanku, satu batu dua burung, satu siasat yang amat  keji  dan  jahat  dan  sesuai  dengan  keinginan hatinya "

Setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, terusnya lagi:

"Sedang mengenai aku karena kehadiranku yang tidak

terduga olehnya, maka demi kesempurnaan rencana kejinya, dia pun sekalian menghabisi aku"

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa dingin, selanya:

"Kau boleh saja bicara semaumu, tapi lebih baik jangan melupakan peristiwa apa saja yang telah berlangsung mulai tanggal satu bulan tiga hingga tanggal lima belas"

Kwee Bok menggelengkan kepalanya berulang kali, teriaknya:

"Antara aku dengan kawanan Laron Penghisap darah itu sama sekali tidak ada hubungannya"

Nyo Sin tidak berkata apa-apa. Dia hanya tertawa dingin. Dalam pada itu Si Siang-ho sudah berjalan mendekat, tiba-

tiba dia mengeluarkan selembar uang kertas dari sakunya lalu

berkata:

"Uang cek ini bernilai tiga ribu tahil perak yang dia serahkan kepadaku, mungkin dengan barang buku ini kau lebih leluasa melacak dan mengungkap kasus ini"

Nyo Sin segera menerimanya.

"Uang cek itu berasal dari rumah uang mana?" tanya Siang Hu-hoa. "Kwang-hong!"

"Betul, Rumah uang Kwang-hong" kata Nyo Sin pula setelah memeriksa lembaran uang cek itu.

"Dibuka tanggal berapa?"

"Bulan dua belas tanggal lima belas" jawab Nyo Sin lagi setelah periksa cek itu.

"Terus, lembaran cek itu bernomor berapa?" "Hong-ci nomor dua ratus empat puluh sembilan"

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Tu Siau-thian dan ujarnya:

"Saudara Tu, coba kau turut mengingat nomor cek itu" Tu Siau-thian manggut-manggut.

"Tidak perlu dicatat lagi" tukas Nyo Sin sambil menggeleng, "lebih baik kita sita lembaran cek ini sebagai barang bukti, agar lebih gampang sewaktu dibutuhkan dalam penyelidikan nanti"

"Tadi lembaran cek itu bernilai nominal tiga ribu tahil perak, yaa... tiga ribu tahil perak, sekalipun pemilik cek percaya dengan kita pun, lebih baik kita pertimbangkan lagi"

"Tiga ribu tahil perak memang bukan jumlah yang kecil" Nyo Sin mengangguk sambil mengelus jenggotnya, "apalagi itu hanya selembar kertas tipis yang setiap saat bisa rusak atau hilang, kalau sampai hilang, wah... susah buat kita untuk mencarikan penggantinya:

Ternyata walaupun dalam keadaan tegang, dia masih sempat juga berseloroh dengan rekannya.

Tu Siau-thian tidak bicara apa-apa, dia hanya tertawa getir. Kembali Nyo Sin berkata: "Biarpun kita mampu menggantinya, buat apa mesti menanggung resiko sebesar itu? Baiklah, aku rasa asal kita catat nomor cek dan tanggal dibukanya cek tersebut, itu pun sudah lebih dari cukup"

Seraya berkata diapun mengembalikan lembaran uang cek itu ke tangan Si Siang-ho.

"Kalau dimasa dulu uang sebesar tiga ribu tahil perak masih tidak kupandang sebelah matapun" kata Si Siang-ho sambil tertawa, kelihatan kalau tertawa itu kelewat dipaksakan, tertawa pedih.

Kalau mesti bicara jujur, baginya sekarang, uang sebesar tiga ribu tahil perak memang merupakan sebuah angka yang amat besar. Dengan sangat berhati hati dia lipat kertas cek itu kemudian dengan berhati hati pula memasukkannya ke dalam saku.

Dalam pada itu Nyo Sin telah mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok dan tegurnya:

"Benarkah cek itu milikmu?" "Bukan!" jawab Kwee Bok cepat.

Jawaban tersebut tentu saja jauh diluar dugaan Nyo Sin, dia nampak tertegun, tapi kemudian ujarnya sambil tertawa:

"Cek itu dibuka pada tanggal lima belas bulan dua belas, berarti baru tiga bulnanan, aku percaya pemilik rumah uang kwong-hong masih bisa mengenali pemilik cek itu. Asal kita datangi tempat itu dan melakukan penyelidikan rasanya tidak gampang untuk mengungkap siapa pemilik cek tersebut, apalagi tiga ribu tahil perak bukan sebuah angka yang kecil"

"Silahkan saja ke sana dan tanya saja sampai jelas" seru Kwee Bok.

Sambil tertawa dingin Nyo Sin segera beranjak pergi. Tidak usah diperintah lagi, Tu Siau-thian segera mencengkeram bahu Kwee Bok dan menggelandangnya mengikuti di belakang sang komandan.

Si Siang-ho ikut menyusul diikuti Siang Hu-hoa di paling belakang. Sepasang keningnya nampak berkerut kencang, dia seakan sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin lelaki ini telah berhasil menemukan sesuatu?

Tiba kembali di ruang penginapan lantai bawah, suasana terasa jauh lebih nyaman dan segar, sekarang mereka sudah terbebas dari bau busuk yang sangat menusuk hidung kendatipun lamat lamat bau tersebut seakan masih menempel terus diujung hidung masing masing.

Untung saja keadaan tersebut hanya berlangsung sekejap karena tidak lama kemudian bau harumnya arak telah mengusir jauh-jauh bau busuk tersebut.

Nyo Sin segera berjalan menghampiri tepi meja, sambil menghadap guci arak yang sama sekali tak tertutup itu, dia menarik napas panjang panjang.

Setelah menghirup bau harumnya arak, dia merasa semangatnya segar kembali, pujinya sambil tertawa:

"Ehmm, arak bagus!"

Si Siang-ho ikut tertawa.

"Tentu saja arak bagus, aku tidak pernah sembarangan memilih dalam soal kwalitas arak"

Diambilnya sebuah cawan arak lalu katanya lagi: "Bagaimana kalau meneguk dulu satu cawan?"

Sambil mengelus jenggotnya mendadak Nyo Sin menarik muka.

"Tidak boleh, sekarang aku sedang berdinas" katanya. Si Siang-ho pun tertawa dan tidak memaksa lagi, sementara Nyo Sin juga tidak berkata apa apa lagi.

Segulung angin berhembus lewat, menembusi pintu belakang dan menerpa ke dalam ruangan. Angin itu dengan cepat membuyarkan bau harumnya arak, tapi mendatangkan semacam bau harum lain yang terasa sangat aneh.

Nyo Sin dengan daya penciumannya yang sensitip seketika dapat menangkap bau harum yang aneh itu.

Dia segera berpaling ke arah Siang Huhoa dan Tu Siau- thian, ternyata ke dua orang itupun sedang berpaling ke arah sumber datangnya hembusan angin itu, tampaknya daya penciuman mereka berdua tidak kalah dengan kemampuannya dan merasakan pula hal tersebut. 

"Bau harum apa lagi itu?" akhirnya tidak tahan dia berseru. "Entahlah, belum pernah kuendus bau harum semacam ini"

sahut Tu Siau-thian seraya menggeleng.

Begitu pula dengan Siang Huhoa, dengan penuh tanda tanya dia berpaling ke arah Si Siang-ho.

Sebelum dia sempat bersuara, Si Siang-ho sudah menjawab duluan:

"Oh, bau harum itu berasal dari harumnya sejenis bunga" "Bunga apa?"

"Aku sendiripun kurang jelas, ketika kubeli rumah penginapan ini, di belakang bangunan sudah tumbuh bunga jenis itu"

"Tidak pernah kau tanyakan kepada pemilik lama?" tanya Siang Hu-hoa.

"Waktu itu tidak terpikir olehku sampai ke situ" "Setelah itu apakah kalian pernah bersua lagi?" "Tatkala aku mencarinya untuk menanyakan masalah ini, ternyata orang itu sudah pergi meninggalkan desa"

Siang Huhoa mencoba untuk mengendus bau harum itu berulang kali, kemudian ujarnya:

"Bau harum ini sangat khas dan istimewa, sudah pasti berasal dari sejenis bunga langka yang jarang ada"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Bagaimana kalau kita periksa sebentar bunga itu?" ajak Siang Huhoa sambil melirik Tu Siau-thian sekejap.

Begitu selesai berkata dia segera membalikan tubuh dan beranjak pergi, dia tidak menunggu lagi jawaban dari Tu Siau- thian, juga tidak ambil perduli apakah Si Siang-ho setuju atau tidak.

Rasa ingin tahu orang ini memang sangat besar, apa yang aneh, apa yang tidak diketahui olehnya pasti ditinjau dengan segera.

Dengan pandangan heran dan penuh kesangsian Tu Siau- thian melirik Siang Hu-hoa sekejap, kemudian setelah termenung sejenak, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menggelandang Kwee Bok dan mengikuti di belakangnya.

Nyo Sin sendiripun menunjukkan kesangsian, dia seakan enggan untuk ikut ke belakang, tapi pada akhirnya dia tetap mengayunkan langkahnya menyusul dari belakang.

Si Siang-ho mengikuti di paling belakang, dia tidak bermaksud mencegah atau menghalangi. Mungkin lantaran dia sadar, mau dicegah pun jelas tidak mungkin.

0-0-0 Ternyata halaman belakang rumah penginapan itu sangat lebar dan luas, dimana mana tumbuh pepohonan dan bebungahan.

Diantara pepohonan dan bebungahan itu membujur sebuah jalan setapak selebar tiga depa yang beralaskan batu putih, jalanan setapak itu berada disisi kiri yang berawal dari beranda belakang, mengelilingi tembok pagar dan membentang terus ke depan, kemudian berputar lagi ke sisi kanan hingga menyambung ke beranda sebelah kanan.

Pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang tumbuh disitu sama sekali tidak terawat, sedemikian lebatnya daun-daunan hingga siapa pun yang berada dijalan setapak itu, bayangan tubuhnya segera akan tenggelam dibalik semak belukar.

Dinding pekarangan yang mengelilingi kebun itu tingginya mencapai dua kaki, kecuali memanjat ke puncak dinding, maka sulit bagi orang luar untuk mengetahui bahwa dibalik dinding terdapat pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang begitu lebat.

Bunga yang tumbuh sepanjang jalan setapak itu berwarna kuning segar, daunnya panjang dan rantingnya penuh tumbuh duri yang tajam.

Sepanjang hidup belum pernah Siang Hu-hoa menjumpai bunga macam begini.

Lama sekali dia berdiri ditengah bunga-bungaan sambil mengawasi tumbuhan itu, kemudian gumamnya:

"Kelihatannya bunga jenis ini bukan berasal dari daratan Tionggoan"

"Darimana kau bisa berpikir begitu?" tanya Tu Siau-thian yang mengikuti di belakangnya.

"Kau tentu tahu bukan bahwa aku tinggal di perkampungan selaksa bunga?" Tu Siau-thian kembali mengangguk.

"Didalam perkampungan selaksa bunga milikku itu, meski tidak terdapat selaksa jenis bunga, namun kalau dibilang tiga empat ribu jenis mah lebih dari itu" kata Siang Huhoa lagi.

Tu Siau-thian terbelalak matanya, semula dia mengira nama perkampungan selaksa bunga hanya berupa sebuah nama belaka, kalaupun dibilang tumbuh aneka bunga, dalam perkiraannya semula paling banter hanya ada dua ratusan jenis bunga.

Sebab siapa pun sadar, bukan pekerjaan yang gampang untuk mengumpulkan dua ratusan jenis bunga sekaligus.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

"Hampir semua jenis bunga yang bisa tumbuh di daratan Tionggoan telah kutanam dalam perkampunganku, kecuali tumbuhan yang tidak mungkin bisa ditanam disitu atau selama ini belum pernah kulihat atau kudengar, hampir seluruhnya pernah ku telusuri dan kucari. Selain itu akupun memiliki buku catatan tentang aneka bunga, sehingga terhadap jenis bunga yang langka lainnya bisa kupelajari dari buku itu. Tapi kenyataannya sekarang, jangan lagi aku tidak mengenali jenis bunga ini, didengar pun belum pernah"

"Maka kau menaruh curiga kalau bunga ini bukan berasal dari daratan Tionggoan?" kata Tu Siau-thian.

Baru saja Siang Hu-hoa hendak menjawab, Tu Siau-thian sudah maju mendekat sambil berbisik:

"Tentunya kedatanganmu ke kebun belakang bukan cuma untuk menonton jenis bunga itu bukan?"

"Boleh dibilang begitu" jawab Siang Huhoa setelah berpikir sebentar.

"Jadi masih ada maksud lain?" desak Tu Siau-thian. Siang Huhoa mengangguk. "Lalu apa tujuanmu?" kembali Tu Siau-thian bertanya. "Coba menganalisa mungkinkah tanaman langka ini ada

hubungannya dengan kasus tersebut dan mungkinkah

tanaman ini akan menjadi titik terang"

"Berarti sejak tadi kau sudah menemukan sesuatu?" tergerak hati Tu Siau-thian.

Ternyata Siang Huhoa tidak menyangkal. Tu Siau-thian segera mendesak lebih jauh: "sebenarnya apa yang telah kau temukan?"

"Sesungguhnya tidak menemukan apa-apa, hanya secara tiba-tiba timbul satu perasaan "

"Perasaan apa?"

"Bau harumnya bunga langka ini sangat mirip atau paling tidak berasal dari jenis yang sama dengan bau harum yang kita endus dalam kamar tadi"

Setelah disinggung, Tu Siau-thian seakan merasakan juga hal itu, katanya kemudian:

"Yaa, nampaknya memang mirip sekali"

"Tapi sekarang aku lihat perasaan tersebut ternyata sama sekali tidak bermanfaat untuk menangani masalah ini"

Sorot matanya perlahan-lahan dialihkan kembali ke atas pepohonan itu, setelah termenung sejenak terusnya:

"Atau mungkin aku harus mengetahui terlebih dulu jenis apakah bunga ini, kemudian baru mendatangkan manfaat?"

"Mungkin saja?" sahut Tu Siau-thian, mendadak dia semakin merendahkan suaranya, "jadi kau tidak percaya dengan perkataannya?"

Yang dimaksud "dia" jelas adalah Si Siang-ho. "Memangnya kau percaya?" bukan menjawab Siang Huhoa balik bertanya.

Tu Siau-thian tidak menjawab, bunga jenis itu bukan termasuk sejenis bunga yang indah, anehnya setelah rumah penginapan itu dibeli, mengapa bunga itu dibiarkan tumbuh di halaman belakang, dan setelah tumbuh menjadi lebat mengapa tidak dipangkas atau ditata secara rapi, mengapa tumbuhan itu dibiarkan tumbuh liar? Bukankah kejadian ini aneh sekali?

Setelah termenung sebentar, Tu Siau-thian bertanya lagi: "Apakah kau bisa berupaya untuk mengetahui bunga itu

berasal dari jenis apa?"

"Asal kita petik sekuntum bunga dan sehelai daunnya lalu ditanyakan orang, aku yakin kita pasti akan mendapatkan jawaban yang memuaskan"

"Tapi mau ditanyakan kepada siapa?"

"Aku mempunyai beberapa orang teman yang punya keahlian khusus tentang tumbuhan, aku percaya mereka pasti dapat mengenali bunga ini"

"Tinggal dimana teman temanmu itu?"

"Ada yang tinggal di tepi perbatasan, ada yang jauh di negeri asing, tapi ada satu orang yang justru berdiam di keresidenan tetangga"

"Itu sih gampang dicari"

"Sayangnya temanku ini tidak senang berdiam di rumah, moga moga saja kali ini terkecuali" kata Siang Hu-hoa.

"Apa perlu aku membantumu untuk mencarinya?"

"Kalau dia tidak berada dirumah, terpaksa aku harus pergi mencari orangnya, tidak ada orang yang tahu dia berada di mana dan senang berdiam di mana" "Kalau begitu hanya ada satu hal yang bisa kubantu untuk mu" kata Tu Siau-thian kemudian sambil tertawa.

"Oya?"

"Aku yakin masih bisa membantumu untuk memetik bunga itu"

"Tidak usah dipetik" cegah Siang Huhoa, sambil berkata dia membungkukkan tubuhnya untuk memungut selembar daun yang rontok ke tanah.

Ketika bangkit berdiri, kebetulan segulung angin berhembus lewat dan menggugurkan beberapa kuntum bunga.

Dengan selembar saputangan dia terima guguran bunga itu sambil katanya:

"Aku rasa ini sudah cukup"

"Wah, aku lihat namamu memang sesuai benar dengan sifatmu, Hu-hoa, pelindung bunga-bungaan!" ejek Tu Siau- thian sambil tertawa tergelak.

Siang Huhoa ikut tertawa, tiba-tiba dia bertanya: "Kau pernah menanam bunga?"

"Semasa masih muda dulu pernah"

"Dari sebuah biji yang sangat kecil ternyata bisa tumbuh pohon yang begitu besar, apakah kau tidak merasa sangat aneh?"

"Benar, aku memang merasa keheranan" Tu Siau-thian mengangguk.

"Apakah kau pernah berpikir, mengapa bisa terjadi hal seperti ini?"

"Aku pernah berpikir, namun tidak mengerti" "Padahal prinsip mereka sama seperti penghidupan manusia, asal ada nyawa maka mereka bisa tumbuh dan tumbuh terus hingga dewasa dan besar"

"Oleh karena itu kau menganggap mereka pun sama seperti manusia, berperasaan, bisa memiliki naluri?"

"Aku memang berpandangan demikian"

"Maka kau tidak tega untuk memetik dan mematahkan rantingnya?"

"Yaa, sebab berbuat seperti itu tidak ada bedanya dengan membunuh manusia"

"Sekarang aku baru paham" dia memperhatikan Siang Hu- hoa sekejap, "tidak banyak manusia macam kau yang hidup di dalam dunia persilatan"

Orang persilatan memang sebagian besar lebih suka masuk dengan pisau mengkilap, waktu keluar golok sudah berubah menjadi warna merah.

Siang Huhoa menghela napas, dia bungkus saputangannya dan memasukkan daun dan bunga itu ke dalam sakunya, kemudian dia berjalan menelusuri jalan setapak dan mengelilingi kebun itu satu kali, namun tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Dari beranda sebelah kanan dia berjalan menuju ke beranda kiri setelah itu baru balik ke hadapan Si Siang-ho sambil berkata tiba tiba:

"Bagaimana kalau kau hadiahkan berapa batang pohon itu untukku?"

"Kau maksudkan pohon bunga itu?" tanya Si Siang-ho tertegun.

"Benar" "Bila kau suka, angkut saja seluruh pepohonan itu" seru Si Siang-ho sambil tertawa.

"Jadi kau tidak suka dengan bunga-bungaan itu?"

"Aku memang tidak pernah tertarik dengan aneka macam tumbuhan, begitu juga dengan segala macam hewan peliharaan" setelah berhenti sejenak dan tertawa, tambahnya, "yang paling menarik perhatianku hanya semacam benda"

"Arak?"

"Benar, hanya arak!"

"Ternyata kau memang tidak pelit, untung perkampungan selaksa bunga ku terletak tidak jauh dari sini"

"Kau bisa mengangkutnya beberapa kali"

"Tidak perlu semuanya, berapa batang pun sudah cukup" "Kalau begitu aku hadiahkan berapa batang pohon itu

untukmu" dia membalikkan badan sambil beranjak, "tunggulah

sejenak, segera kuambilkan sekop"

"Tidak usah, aku tidak akan mengambilnya sekarang" "Oya?"

"Sekarang aku masih ada urusan, tidak mungkin bisa pulang ke perkampungan selaksa bunga"

"Kalau begitu kapan kau akan pulang kapan ambillah pohon itu, aku rasa tidak nanti rumah penginapan ini akan kedatangan perampok atau pencuri yang akan membabat habis pepohonan itu, sekalipun ada pun tidak nanti mereka bisa mengangkut pergi seluruh tumbuhan itu" kata Si Siang- ho.

Kemudian setelah tertawa ringan, lanjutnya:

"Kecuali seluruh persediaan arakku habis, kalau tidak, tidak nanti aku akan pergi meninggalkan rumah penginapan ini, bila nanti kau datang lagi dan kebetulan tidak berjumpa denganku, tidak usah sungkan sungkan, ambil saja sendiri, aku jamin tidak akan ada orang yang menganggap dirimu sebagai pencuri"

Sebelum Siang Huhoa memberikan tanggapannya, Nyo Sin yang berada disisinya telah menyela:

"Biarpun kasus Laron Penghisap darah sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, lebih baik kau jangan pergi dulu selama berapa hari ini, siapa tahu setiap saat pengadilan membutuhkan kesaksianmu"

"Waah, begitu merepotkan " keluh Si Siang-ho.

"Tidak bisa dibilang merepotkan, karena setiap penduduk punya kewajiban membantu pemerintah untuk mengungkap setiap kasus kejahatan"

Si Siang-ho tertawa getir dan tidak berkata lagi.

Siang Huhoa juga tidak berkata apa apa, dia berjalan balik menuju ke arah semula.

Mengawasi bayangan punggung laki-laki itu, Nyo Sin gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam:

"Orang ini betul-betul membingungkan "

"Dia tidak membingungkan, hanya kebetulan suka sekali dengan bunga" ujar Tu Siau-thian.

"Menurut pendapatku, masalahnya tidak begitu sederhana" tiba tiba Si Siang-ho menimpali.

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Nyo Sin seraya berpaling.

"Tampaknya dia sudah menaruh curiga atas tumbuhan bunga itu!"

"Apa yang perlu dicurigai dengan tumbuhan bunga itu?" 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(