-->

Laron Penghisap Darah Bab 17: Kawanan laron muncul kembali.

Bab 17: Kawanan laron muncul kembali.

Dia maju kedepan menghampiri Siang Huhoa, kemudian sambil tertawa lanjutnya:

"Sudah lama aku mengagumi nama besar anda, sayang selama ini tidak ada kesempatan untuk bersua, sungguh beruntung aku bisa menjumpaimu hari ini, untuk merayakan pertemuan ini, aku harus meneguk habis isi cawan ini" Selesai berkata dia segera mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.

Dengan bertambahnya secawan arak, langkah kakinya semakin enteng dan gontai, namun untung tidak sampai roboh terkapar ke tanah.

Siang Huhoa memandangnya sekejap, tiba-tiba tanyanya sambil tertawa:

"Kau hanya memiliki secawan arak?"

"Hahahaha aku punya banyak arak didalam sana,

apakah saudara Siang sudi memberi muka kepadaku?" Si Siang-ho tertawa tergelak.

"Sayang saat ini bukan saat yang tepat untuk minum arak, masih banyak urusan yang sedang menanti kami"

Seakan baru teringat akan sesuatu, buru-buru Si Siang-ho bertanya:

"Apakah kedatangan kalian adalah untuk mencari aku?" "Benar!"

"Boleh tahu ada urusan apa?"

"Memang ada berapa persoalan yang tidak dapat kami pecahkan, karena itu terpaksa harus berkunjung kemari dan menantikan petunjukmu"

"Tidak berani, tidak berani, kalau memang ada persoalan, katakan saja berterus terang, asal bisa kujawab pasti akan kukatakan sejujurnya"

"Sejak pertaruhan tempo hari, saudara Si telah menyingkir ke mana saja?" tanya Siang Huhoa kemudian.

Si Siang-ho segera menunjuk ke arah dalam rumah, sahutnya:

"Aku selalu bersembunyi di dalam rumah penginapan ini" Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya:

"Waktu itu aku putus asa bercampur kecewa, ditambah lagi akupun merasa sangat kehilangan muka, aku benar benar tidak ingin dijadikan bahan tertawaan orang kota, maka berapa saat lamanya aku hidup menyembunyikan diri"

"Ada orang bilang, waktu itu kau telah pergi jauh meninggalkan kota?"

"Tidak ada, tidak ada kejadian semacam ini" Si Siang-ho gelengkan kepalanya berulang kali, "meskipun aku telah kehilangan perkampungan Ki po cay, namun aku masih memiliki harta kekayaan lain, asal aku mau hidup tenang dan tidak tergila gila untuk main judi lagi, masalah kehidupan sudah bukan masalah lagi bagiku"

Kemudian setelah tertawa getir, tambahnya:

"Sejak peristiwa itu, dalam kenyataan aku memang tidak pernah main judi lagi"

"Benarkah begitu?"

"Penduduk sekitar tempat ini bisa bertindak sebagai saksi ku"

"Dengan cara apa kau urusi harta kekayaanmu itu?" tanya Siang Huhoa lagi

"Hampir semuanya kusewakan kepada orang lain" "Maksudmu, kau hanya menerima uang sewa?" Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Walaupun aku punya keinginan untuk meninggalkan berapa bau sawah untuk dikerjakan sendiri, sayang pengetahuan tentang bercocok tanam sama sekali tidak kumiliki"

"Bagaimana sistim pembayaran uang sewa itu?" "Setiap kali panenan mereka akan menghantar uang sewanya kemari"

"Maksudmu ke rumah penginapan Hun-lay?" "Benar"

"Selama tiga tahun terakhir kau tidak pernah pergi ke tempat jauh, apakah mereka dapat bertindak sebagai saksimu?"

"Benar"

Kwee Bok yang selama ini hanya membungkam diri, kini tidak tahan untuk menimbrung:

"Bukankah kau pernah berkata kepadaku kalau selama tiga tahun terakhir kau hidup berkelana di dalam dunia persilatan dan baru balik kemari pada tiga bulan berselang?"

Si Siang-ho nampak tertegun, lalu serunya: "Kepan aku pernah berkata begitu kepadamu?"

"Waktu pertama kali kau datang memeriksakan badanmu"

"Aku memang pernah datang mencarimu untuk berobat" "Bukankah resep obat yang kubuatkan untukmu kau masak

di ruang praktekku?" seru Kwee Bok. "Benar"

"Setelah itu bukankah kau mengundangku pergi minum arak?"

"Benar"

"Aku rasa kau belum lupa bukan ditempat mana kita minum arak?"

"Tentu saja, di rumah makan cong-goan" jawab Si Siang-ho tanpa ragu.

"Bukankah waktu itu kau minum sampai mabuk?" Kali ini ternyata Si Siang-ho menggelengkan kepalanya seraya membantah:

"Siapa bilang aku minum sampai mabuk waktu itu?" Kontan Kwee Bok mendelikkan matanya lebar-lebar. Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

"Aku masih ingat, waktu itu semuanya kita pesan empat poci arak ditambah empat macam hidangan"

"Kita pesan dua poci arak, satu setengah poci diantaranya kau sendiri yang menghabiskan" Kwee Bok mencoba meralat.

"Dengan takaran minum yang kumiliki saat ini, jangankan baru satu setengah poci, ditambah lagi empat lima kali lipat pun aku masih tetap bisa melayaninya tanpa mabuk"

"Sewaktu kita meninggalkan rumah makan itu, kau sudah tak mampu berdiri tegak"

"Apakah waktu itu aku minta kepadamu untuk memayang atau menuntun diriku?" ucap Si Siang-ho sambil tertawa.

"Kalau itu sih tidak!"

"Apakah aku pergi membayar rekening lalu turun dari loteng sendirian?" "Benar"

"Waktu itu kita menghabiskan tiga tahil perak" kata Si Siang-ho lebih jauh, kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya, "sewaktu turun dari loteng, kita bertemu dengan nenek Cho "

"Nenek Cho yang menjual gula-gula? Tukas Tu Siau-thian. "Betul, nenek Cho yang menjual gula-gula!"

Setelah berpikir sejenak, kembali ujarnya:

"Ternyata dia masih mengenali aku, dia ribut dan minta aku membeli sebungkus gula-gula"

"Apakah kau membelinya?" "Aku tetap membelinya, walaupun saat itu kondisi ku sudah tidak semakmur dulu, namun untuk membeli sebungkus gula- gula rasanya aku masih mampu untuk melakukannya"

"Berapa harga gula gula yang dijual nenek Cho waktu itu?" tanya Tu Siau-thian.

"Masih seperti harga lama, lima hun untuk satu bungkus gula gula, aku minta sebungkus dan memberinya satu tangce"

Tu Siau-thian segera mengerling sekejap ke arah Kwee Bok, sementara pemuda itu berdiri termangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diawasinya wajah Si Siang-ho dengan tertegun.

Seandainya waktu itu Si Siang-ho benar-benar berada dalam keadaan mabuk, tidak mungkin dia masih ingat semua kejadian yang dialaminya secara jelas dan terperinci, hanya orang sadar yang bisa melakukan hal seperti itu.

Kembali Tu Siau-thian bertanya kepada Si Siang-ho: "Waktu itu sebenarnya apa saja yang telah kau katakan

kepadanya?"

Si Siang-ho mencoba mengingat kembali, kemudian sahutnya:

"Rasanya tidak banyak yang kami bicarakan, seingatku, bahan pembicaraan saat itu hanya sekitar masalah sepele dan hal yang ringan ringan saja"

"Betul tidak ada urusan yang sedikit lebih istimewa?" desak Tu Siau-thian lebih jauh.

"Kalau dibilang sedikit rada istimewa, mungkin urusan ini yang dimaksud agak istimewa"

"Urusan apa?" "Sewaktu sedang bersantap, dia pernah bertanya kepadaku apakah disekitar tempat tinggalku ada rumah kosong yang hendak disewakan"

"Bagaimana jawabanmu?"

"Aku menjawab sejujurnya, sekitar tempat tinggalku tidak ada rumah kosong yang akan disewakan, tapi rumah penginapan Hun-lay milikku sudah tutup usaha, jadi tempat kami terdapat ruang kosong yang bisa disewa"

"Bagaimana jawabannya?"

"Dia akan mengunjungi tempat kami berapa hari kemudian, apabila cocok dia akan menyewanya"

"Kemudian, apakah dia datang berkunjung?" "Benar"

"Kapan itu kejadiannya?"

"Kurang lebih sepuluh hari kemudian" "Datang untuk melihat rumahmu?" "Benar"

"Berarti bukan datang karena dipanggil untuk memeriksakan sakitmu?" tukas Siang Hu-hoa tiba-tiba.

"Siapa bilang aku sakit?" tanya Si Siang-ho tertegun. "Aku!" jawaban Kwee Bok keras dan lantang.

"Apa maksudmu berkata begitu?" tegur Si Siang-ho.

"Justru aku yang ingin bertanya kepadamu, apa maksudmu berkata begitu?" teriak Kwee Bok semakin keras.

"Jadi kau menuduh aku sedang berbohong?" "Kau memang sedang berbohong!"

"Buat apa aku meski berbohong?" "Untuk menutupi semua dosa dan perbuatan bejadmu" "Perbuatan bejad apa yang telah kulakukan? Kenapa harus

kututupi?" Si Siang-ho balik bertanya.

"Seharusnya kau lebih mengerti"

"Aku benar-benar tidak mengerti" seru Si Siang-ho cepat, kemudian sambil berpaling ke arah Siang Huhoa katanya lebih jauh, "hingga sekarang aku masih belum tahu peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi"

"Benarkah begitu?" jengek Siang Huhoa hambar "Sebenarnya apa maksud dan tujuan kedatangan kalian

semua mencari aku?" tanya Si Siang-ho lagi.

Siang Hu-hoa tidak menjawab, malah katanya kepada Kwee Bok:

"Kau bilang dia mengutus orang untuk mengundangmu kemari dan memeriksakan kesehatan tubuhnya?"

"Memang begitu kenyataannya!"

"Siapa yang dia utus waktu itu untuk mengundang kedatanganmu?"

"Seorang kakek yang mengaku dari marga Kwee, kakek itu tetangganya, sewaktu datang membawa sebuah kereta kuda yang sudah kuno dan jelek"

"Dengan kereta kudanya itu si kakek Kwe menghantarmu sampai disini?"

"Tidak, hanya menghantar sampai di mulut dusun, dia bilang harus pergi ke tempat lain maka setelah aku turun dari kereta, dia pun segera pergi"

Baru saja Siang Hu-hoa ingin bertanya lagi, mendadak Si Siang-ho menukas: "Di dalam dusun ini sama sekali tidak ada kakek dari marga Kwee, juga tidak ada kakek Kwee yang memiliki kereta kuda"

"Hmmm, benarkah begitu?" Kwee Bok mendengus dingin. "Aku rasa didalam dusun ini bukan hanya aku seorang yang

masih hidup, bukan hanya aku seorang yang bisa berbicara"

"Maksudmu asal diselidiki, segera akan diketahui apakah didusun ini terdapat seorang kakek semacam ini atau bukan?" sambung Siang Hu-hoa.

Setelah menatap wajah Si Siang-ho lekat lekat, kembali tanyanya:

"Kau bilang Kwee Bok datang kemari untuk melihat rumahmu?"

Si Siang-ho mengangguk tanda membenarkan. "Bagaimana hasilnya setelah peninjauan itu?" "Tampaknya merasa sangat puas"

"Dan jadi menyewanya?"

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Dia bahkan bersedia membayar tiga ribu tahil perak" sahutnya.

"Ehmmm, satu jumlah yang tidak kecil"

"Benar, sebuah penawaran yang sangat menggiurkan karena pada tahun yang paling baguspun pemasukan rumah penginapan Hun-lay paling banter Cuma seribu tahil perak"

"Tentu saja kau menyetujuinya bukan?" "Tentu saja" sahut Si Siang-ho.

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:

"Rumah penginapan ini terpaksa tutup usaha karena tamu yang menginap ditempat kami akhir-akhir ini amat sepi dan minim, sekarang bertemu dengan orang yang mau membayar tinggi rumah kami, tentu saja tidak akan kulepas kesempatan baik itu, apalagi pihak penyewa bersedia membayar dengan tiga ribu tahil perak”

"Dengan uang sebesar tiga ribu tahil perak, rasanya sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah penginapan ini" kata Siang Hu-hoa.

Si Siang-ho segera tertawa.

"Jangan lagi tiga ribu tahil perak, sewaktu membeli rumah penginapan ini, aku hanya cukup mengeluarkan uang lima ratus tahil"

"Memangnya dia tidak bisa menilai berapa harga dari rumah penginapan itu?"

"Mungkin saja dia memang tidak tahu" jawab Si Siang-ho. Kemudian setelah mengerling Kwee Bok sekejap, terusnya, "mungkin juga uang sebesar tiga ribu tahil perak merupakan sebuah angka yang kecil baginya, atau bahkan dia tidak pernah pandang sebelah matapun atas jumlah tersebut"

"Kenapa tidak membeli sekalian rumah penginapan itu?"

"Menurut pendapatku, hal ini disebabkan ada dua alasan" "Salah satu alasannya pasti karena dia kuatir kau enggan

menjual kepadanya"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Selain itu masih ada sebuah alasan lagi yakni karena dia hanya butuh rumah penginapan ini untuk sementara waktu" katanya.

"Sebenarnya dia mau pakai rumah penginapan ini berapa lama?" tanya Siang Hu-hoa.

"Setengah tahun" "Tiga ribu tahil perak untuk menyewa selama setengah tahun? Wah, siapa pun pasti akan bersedia untuk melakukan transaksi yang sangat menguntungkan ini"

"Itulah sebabnya aku segera mengabulkan pennintaannya" seru Si Siang-ho, kemudian setelah mengerling lagi Kwee Bok sekejap, lanjutnya, "cuma, ke tiga ribu tahil perak itu bukan seluruhnya untuk membayar uang sewa"

"Lalu berapa semestinya uang sewa gedung?" "Hanya seribu tahil perak"

"Lalu yang dua ribu tahil perak untuk apa?" "Upah kerjakul"

"Upah kerja? Apa yang harus kau lakukan?"

"Menjaga rumah ini, melarang siapa pun masuk keluar tempat ini dan setiap hari mempersiapkan sejumlah makanan untuk segerombolan mestika miliknya"

"Kau bersedia melakukan pekerjaan seperti itu?" tanya Siang Huhoa keheranan

"Tiga ribu tahil perak masih belum kupandang sebelah matapun, aku mengabulkan tawarannya karena terdorong oleh rasa ingin tahu, aku merasa sangat tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan dan mulai asyik mengerjakannya"

"Sebenarnya apa tujuannya menyewa rumah penginapan ini?" tanya Siang Hu-hoa keheranan.

"Mencarikan tempat tinggal bagi sekelompok mestika nya!" "Makhluk apa sih yang kau sebut sebagai sekelompok

mestika itu?" desak Siang Huhoa lebih jauh.

Seketika itu juga paras muka Si Siang-ho berubah sangat aneh, bahkan nada ucapannya pun ikut berubah jadi aneh sekali, jawabnya: "Sekelompok laron, sekelompok laron hijau!" Laron hijau!

Siang Huhoa merasa hatinya tercekat sementara paras muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah hebat.

Paras muka Kwee Bok turut berubah hebat, baru saja dia membuka mulutnya siap mengatakan sesuatu, Si Siang-ho telah berkata lebih jauh:

"Kelompok laron hijau yang kupelihara merupakan sejenis laron yang paling aneh dan paling cantik yang pernah kujumpai sepanjang hidupku! Mereka memiliki tubuh yang bening bagaikan batu kemala hijau, matanya merah seperti bercak darah, sayapnya dipenuhi garis garis merah seperti lelehan darah segar sementara diatas sepasang sayapnya terdapat garis darah yang berbentuk seperti mata, bentuk mata itu mirip mata burung hantu, tapi mirip juga ular kobra sementara perutnya berbentuk seperti hidung sehingga kalau dilihat dari punggungnya, pada hakekatnya sangat mirip dengan selembar wajah setan!"

Belum selesai dia mengucapkan perkataannya, semua orang sudah merasakan badannya merinding hingga bersin berulang kali.

Begitu Si Siang-ho menyelesaikan perkataannya, Nyo Sin langsung menjerit keras:

"Laron Penghisap darah! Itulah Laron Penghisap darah!" "Laron Penghisap darah?" Si Siang-ho agak tertegun. "Laron laron yang kau maksud itu adalah Laron Penghisap

darah"

Mendadak Si Siang-ho seakan teringat akan sesuatu, paras mukanya berubah jadi hijau membesi, serunya tertahan:

"Aaah, benar! Kelihatannya mereka memang pandai sekali menghisap darah " "Darimana kau bisa tahu?" tukas Siang Hu-hoa.

"Sebab setiap hari aku harus menghantar makanan untuk kawanan laron itu, setiap hari mereka butuh sepuluh ekor kelinci hidup"

"Lalu apa hubungannya dengan menghisap darah?” tanya Siang Hu-hoa.

Dengan wajah hijau membesi sahut Si Siang-ho: "Keesokan harinya ketika aku balik lagi ke kandang, maka

akan kujumpai ke sepuluh ekor kelinci itu tinggal sepuluh

kerat tulang belulang, kulitnya sudah tersayat, dagingnya sudah habis dan darah pun sudah lenyap"

"Apakah kau pernah melihat bagaimana cara kawanan laron itu menyerbu santapannya?" tanya Siang Huhoa lebih lanjut.

"Satu kali, setelah memberi makanan kepada mereka, aku mengintipnya dari balik celah celah pintu"

"Apa yang kau saksikan?"

"Aku saksikan rombongan laron itu mengerumuni kelinci- kelinci tersebut, yang kudengar hanya suara dengungan dan suara cicitan, suara itu mirip sekali seperti suara yang sedang menghisap cairan dan mengunyah daging. " kata Si Siang-

ho dengan nada gemetar.

Tidak kuasa lagi Siang Huhoa merasakan hatinya bergidik, cepat tanyanya:

"Sekarang dimana rombongan laron itu berada?" "Diruangan atas loteng"

"Cepat ajak kami ke sana, akan kulihat bagaimana keadaannya"

Si Siang-ho manggut-manggut, ujarnya tiba-tiba: "Kedatangan kalian memang tepat pada waktunya" "Oya?"

Buru-buru Si Siang-ho menerangkan lebih jauh:

"Selama belasan hari terakhir, setiap malam mereka selalu terbang keluar secara rombongan, pada mulanya aku kuatir mereka terbang dan tidak balik lagi, tapi kenyataannya keesokan harinya mereka terbang balik lagi secara rombongan"

"Kapan mereka baru balik malam ini?"

"Jauh lebih malam ketimbang dihari biasa, mereka baru saja balik ke kandangnya"

Tergerak perasaan Siang Huhoa setelah mendengar penjelasan itu, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Tu Siau-thian kemudian menengok pula ke arah Nyo Sin.

Pada saat yang sama Tu Siau-thian dan Nyo Sin memandang pula ke arahnya, maka mereka bertiga pun saling bertukar pandangan sekejap lalu bersama-sama mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok.

Dalam pada itu Kwee Bok kembali berdiri tertegun dengan wajah melongo dan mata terbelalak, agaknya dia merasa jauh diluar dugaan terhadap apa yang barusan diucapkan Si Siang- ho itu.

Sepasang mata Siang Huhoa berbinar-binar, kembali dia menatap wajah Si Siang-ho, setelah berpikir sejenak, tanyanya lagi:

"Sewaktu dalam kenyataan kau ketahui bahwa dia menyewa rumah penginapanmu bukan untuk ditempati manusia melainkan untuk memelihara laron, pernahkan timbul rasa antipati dalam hati kecilmu?"

"Siapa bilang tidak?" "Tapi nyatanya kau tidak pernah protes, kau terima semua kenyataan itu dengan mulut membungkam?"

"Bagaimana pun juga bangunan rumah ini sudah disewa orang, selama pihak penyewa tidak menggunakannya untuk membuka usaha gelap, atau melakukan pembunuhan dan perampokan, biar mau dipakai untuk pelihara babi pun tidak ada alasan bagiku untuk merasa keberatan, apalagi aku sendiripun sebenarnya pingin tahu apa maksud dan tujuannya yang terutama dengan memelihara sekelompok laron itu"

"Apakah pihak penyewa pernah menyinggung soal ini?" tanya Siang Hu-hoa.

Si Siang-ho mengangguk.

"Apa yang dia katakan?" tanya Siang Hu-hoa lagi. "Berulang kali dia kemukakan alasan yang sama yaitu

hendak dipakai untuk meramu sejenis obat"

"Obat apa?"

"Obat untuk menyembuhkan sejenis penyakit, obat untuk melenyapkan nyawa seseorang"

"Kau percaya dengan pengakuannya itu?" "Tidak percaya"

"Kalau hanya dipakai untuk meramu obat, dia tidak perlu jauh jauh datang kemari dan lagi dia pun tidak perlu berlagak sok rahasia"

"Dalam hal ini dia mempunyai alasan dan penjelasannya" ujar Si Siang-ho menerangkan.

"Bagaimana penjelasannya?"

"Menurut dia, bentuk dari kawanan Laron Penghisap darah itu menakutkan dan sangat mengerikan hati, bila dipelihara ditempat ramai dan banyak penghuninya, kejadian ini pasti gampang menjadi pembicaraan orang, gampang pula memancing kecurigaan pihak pemerintah, sekalipun tidak banyak berpengaruh terhadap perkembangan kawanan laron tersebut, namun hal mana akan sangat merepotkan, maka untuk memeliharanya secara diam diam dan tidak mudah diketahui orang banyak, satu satunya cara adalah pindah ke pinggiran kota"

"Penjelasan yang sangat bagus" puji Siang Hu-hoa, kemudian setelah berhenti sejenak tanyanya lagi:

"Sebelum dipindah kemari, kawanan laron itu pernah dipelihara di mana?"

"Itu sih kurang jelas" Si Siang-ho menggeleng. "Dengan cara apa dia memindahkan kawanan Laron

Penghisap darah itu kemari?" Siang Hu-hoa mengalihkan

pertanyaannya.

"Diangkut kemari dengan menggunakan sebuah kereta kuda"

"Kereta kuda milik siapa?" "Kurang jelas"

"Berapa besar usia sang kusir kereta? Bagaimana bentuk tubuh dan wajahnya? Apakah masih tersisa ingatan tentang orang tersebut?"

"Kusirnya bukan orang lain tapi dia sendiri"

"Semua pekerjaan dia lakukan seorang diri, tanpa bantuan orang lain?"

"Benar, semua pekerjaan dia lakukan seorang diri kecuali tugas menghantar masuk kawanan kelinci ke dalam kamar setiap harinya, karena dia tidak punya waktu untuk mendatangi tempat ini saban hari" "Lalu dengan cara apa pula dia mengangkut masuk kawanan Laron Penghisap darah itu ke dalam rumah penginapan?"

"Menggunakan kerangkengan, dia masukkan kawanan laron itu ke dalam beberapa buah kerangkeng"

"Beberapa buah kerangkeng? Berapa besar kerangkeng itu?”

"Kurang lebih lima enam depa persegi"

"Berapa banyak Laron Penghisap darah yang dia angkut kemari?" agak berubah paras muka Siang Huhoa.

Si Siang-ho termenung seperti berpikir sejenak, kemudian sahutnya:

"Menurut perkiraanku, jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor"

Tanpa terasa sekali lagi Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan sekejap, sebaliknya paras muka Kwee Bok telah berubah jadi hijau membesi.

Kembali Siang Huhoa berkata:

"Oleh sebab itu setiap hari mereka butuh sepuluh ekor kelinci sebagai santapannya?"

Sebelum pertanyaan itu dijawab, kembali dia bertanya: "Dia yang mempersiapkan kelinci-kelinci itu setiap harinya

atau kau yang pergi membelinya di pekan?"

"Setiap sepuluh hari satu kali dia datang menghantar kawanan kelinci itu dengan menunggang kereta kuda"

"Bukankah berarti penduduk didusun ini hampir sebagian besar mengenalinya?"

"Seharusnya begitu" "Apakah mereka juga tahu kalau dia telah memindahkan berapa buah kerangkeng berisi Laron Penghisap darah kemari?"

"Aku percaya mereka tidak akan tahu soal ini, pertama karena aku tidak pernah menyinggung persoalan ini dengan orang lain, kedua sewaktu memindahkan beberapa buah kerangkeng berisi Laron Penghisap darah itu, seluruh kerangkeng telah dikerudungi dengan selembar kain warna hitam"

"Kemudian ketika setiap kali dia datang menghantar begitu banyak kelinci, masa tidak ada yang menaruh curiga? Atau tidak ada yang mengajukan pertanyaan?" tanya Siang Hu-hoa.

"Sewaktu mengirim kawanan kelinci itupun dia gunakan kerangkeng yang ditutupi kain hitam, kalau tidak memangnya orang lain tidak akan menaruh curiga kepadaku, masa tidak membuka toko penjual kelinci, aku mendatangkan begitu banyak binatang tersebut, memangnya aku seorang bisa menghabiskan begitu banyak kelinci sekaligus?"

"Paling tidak semestinya mereka menaruh curiga juga bukan ketika melihat ada begitu banyak barang yang dibongkar dari atas kereta dan diangkut masuk ke dalam rumah penginapan?" kata Siang Huhoa.

"Seandainya aku jadi mereka, aku pasti akan menaruh curiga"

"Apa pernah ada orang yang bertanya kepadamu, barang apa yang kau bongkar dari atas kereta dan diangkut ke dalam rumah? Apa mereka tidak bertanya, siapa tamu asing yang kerap datang berkunjung?"

"Mungkin saja mereka curiga, tapi selama ini tidak seorangpun yang berani datang menanyakan kepadaku"

"Kenapa tidak berani?" "Sebab sudah berapa kali aku mabuk berat karena arak dan membuat keonaran yang sangat hebat disini, maka selama ini mereka selalu menaruh perasaaan was was dan ngeri terhadapku, otomatis semua tingkah laku dan perbuatanku juga tidak ada yang berani bertanya"

Setelah tertawa santai, lanjutnya:

"Walaupun begitu aku juga sudah banyak mendengar isu yang beredar di masyarakat, di antara mereka ada yang mengira aku sedang bersiap sedia untuk membangun kembali usahaku, mungkin saja barang yang diangkut kereta kuda itu adalah barang perabot baru untuk keperluan rumah penginapan, tapi ada juga yang menuduh aku sebagai seorang perampok ulung dan barang yang diangkut masuk merupakan barang barang hasil rampokan"

"Isu tersebut pasti akan menakutkan orang banyak!" "Apalagi selama setengah bulan terakhir, mereka semakin

ngeri terhadapku, setiap kali bertemu, tergopoh gopoh mereka akan menghindar dan bersembunyi" Si Siang-ho berkata kembali.

"Kenapa bisa begitu?"

"Mungkin saja mereka sempat menyaksikan munculnya sekelompok laron dari dalam rumah penginapan yang sangat banyak bagaikan gerombolan lebah"

"Atas dasar apa kau menduga begitu?"

"Berapa hari berselang, ketika aku lewat disebuah tanah lapang diluar dusun sana, kebetulan disitu sedang ada sekelompok bocah sedang bermain, tapi begitu melihat kemunculanku, seperti bertemu setan saja mereka langsung membubarkan diri, bahkan satu diantara mereka sempat berteriak. "

"Teriak apa?" "Siluman tosu pemelihara laron telah datang!" sahut Si Siang-ho sambil tertawa getir.

"Siluman tosu?"

Sembari meraba batok kepala sendiri Si Siang-ho menerangkan:

"Mungkin lantaran saban hari aku selalu menggulung rambutku diatas kepala dan menggunakan sebuah tusuk konde dari bambu, mereka mengira aku adalah seorang tosu"

Sekarang Siang Huhoa baru memperhatikan gulungan rambut Si Siang-ho itu, benar juga, dia memang mirip sekali dengan seorang tosu.

Maka tanyanya sambil tertawa:

"Setelah mendengar olokan itu, apakah kau merasa marah sekali?"

"Marah sih tidak, Cuma merasa mendongkol bercampur geli"

"Kapan teraldiir kalinya dia berkunjung kemari?" selidik Siang Huhoa lebih jauh.

"Lima hari berselang" "Datang menghantar kelinci?"

"Yaa, menghantar tiga puluh ekor kelinci"

"Apakah masih ada sisa dari pengiriman yang terakhir kali?" "Seekor pun sudah tidak tersisa"

"Tiga puluh ekor kelinci berarti jatah ransum tiga hari untuk kawanan Laron Penghisap darah itu?"

"Benar"

"Biasanya berapa banyak kelinci yang dia kirim setiap kalinya?" "Seratus ekor kelinci setiap sepuluh hari"

"Kali ini dia hanya mengirim tiga puluh ekor, tentunya kau bertanya apa alasannya bukan?"

Si Siang-ho mengangguk.

"Apa jawabannya?" tanya Siang Hu-hoa.

"Dia bilang ada rencana lain setelah tiga hari"

"Selain itu adakah pesan istimewa yang dia sampaikan?" Si Siang-ho berpikir sejenak, kemudian katanya:

"Aku seperti mendengar ada beberapa patah kata "

Tanpa terasa Siang Huhoa, Tu Siau-thian serta Nyo Sin pasang telinga baik baik untuk mendengarkan, sementara Kwee Bok sendiripun ikut pasang telinga.

Terdengar Si Siang-ho berkata:

Tanpa sengaja aku seperti mendengar dia sedang bergumam, katanya selewat bulan purnama tanggal lima

belas, semua urusan akan beres "

"Apakah kau paham apa maksud dan perkataannya itu?" tanya Siang Hu-hoa.

"Tidak, aku tidak mengerti" Si Siang-ho menggeleng.

Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan sekejap, Si Siang-ho memang tidak mengerti, tapi mereka mengerti amat jelas.

"Pada malam bulan purnama tanggal lima belas, apakah kawanan Laron Penghisap darah itu terbang keluar lagi?" tanya Siang Huhoa lagi.

"Benar, malam itu sebelum bulan purnama berada diatas angkasa, kawanan laron itu sudah mulai bergolak dengan hebatnya"

"Waktu itu kau belum tidur?" "Sedang bersiap siap untuk tidur"

"Kau dikejutkan oleh kegaduhan yang ditimbulkan kawanan laron itu?"

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Kegaduhan yang mereka lakukan saat itu luar biasa hebatnya dan belum pernah terjadi sebelum ini, secara kebetulan akupun sempat menyaksikan kawanan laron itu terbang menyongsong datangnya rembulan di angkasa"

"Keesokan harinya baru kembali?"

"Tidak, pagi tadi baru kembali ke kandang" kata Si Siang- ho sambil menggeleng.

"Ini berarti mereka telah hilang selama dua, tiga hari lamanya?"

"Benar"

"Apakah selama berapa hari ini kau tidak berusaha untuk melacak jejak mereka?"

"Pernah terlintas ingatan tersebut dalam benakku, khususnya pada malam tanggal lima belas, keinginanku untuk menguntil ke mana perginya kawanan laron itu kuat sekali"

Tiba-tiba dia menggeleng, terusnya:

"Sayang aku tidak bersayap, kecepatan terbang mereka luar biasa, dalam sekejap mata bayangan dari rombongan laron itu sudah lenyap dibalik kegelapan malam"

"Benarkah begitu?"

"Benar, aku benar benar tidak tahu selama tiga hari ini ke mana saja perginya kawanan laron tersebut" kata Si Siang-ho sambil angkat tangannya.

Siang Hu-hoa manggut manggut sementara Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan. Si Siang-ho memang tidak tahu, tapi mereka tahu jelas.