Laron Penghisap Darah Bab 16: Pertaruhan Gedung perpustakaan Ki po cay.

Bab 16: Pertaruhan Gedung perpustakaan Ki po cay.

"Berapa tahun belakangan sudah jarang kami dengar tentang kabar beritanya" kata Siang Huhoa.

"Menurut pendapat saudara Siang, manusia macam apakah dia ini?"

"Aku tidak pernah bertemu dengannya jadi tidak terlalu jelas bagaimana tabiat serta sepak terjangnya, tapi menurut apa yang kudengar, dia terhitung seorang hiapkek, pendekar sejati"

"Moga-moga saja kesemuanya itu memang sebuah kenyataan"

"Jadi kau tidak kenal dengan orang ini?" Tu Siau-thian menggeleng.

"Kami hanya pernah bertemu beberapa kali ditengah jalan"

"Apakah dia mempunyai ganjalan atau sakit hati dengan Jui Pakhay?"

"Kalau bukan gara-gara Jui Pakhay, adik misanku sudah lama menjadi bininya" Kwee Bok segera menimbrung.

"Oooh, jadi mereka adalah musuh cinta?" "Boleh dibilang begitu"

"Kalau begitu aneh sekali " seru Siang Huhoa lebih jauh. "Apanya yang aneh?" sela Nyo Sin.

"Kenapa Si Siang-ho rela menjual perpustakaan ki po cay miliknya ini kepada musuh cintanya?"

Ehmmm, betul juga, akupun merasa kejadian ini rada aneh" kata Nyo Sin setelah termenung sejenak.

Kwee Bok segera menerangkan:

"Ketika Si Siang-ho akan menjual gedung perpustakaan ki po cay ini kepada Jui Pakhay, dia sama sekali tidak tahu kalau Jui Pakhay adalah musuh cintanya, apalagi dalam kenyataan Ki po cay tidak pernah dijual kepada Jui Pakhay"

"Kalau bukan dijual, memangnya dihibahkan kepadanya?" "Bukan, bukan dihibahkan tapi diserahkan dengan begitu

saja karena kalah bertaruh" kata Kwee Bok sambil menggeleng.

"Maksudmu gedung perpustakaan Ki po cay diperoleh Jui Pakhay dari tangan Si Siang-ho karena dia menang bertaruh?"

"Begitulah kenyataannya"

"Aku pernah mendengar juga tentang hal ini" sela Tu Siau- thian, "Ki po cay memang diperoleh Jui Pakhay setelah menangkan pertaruhan dari tangan Si Siang-ho"

"Wah, sepak terjangnya ternyata hebat sekali" "Sebenarnya orang ini gemar sekali berjudi, bertaruh

merupakan kegemarannya yang paling utama, biasanya kalau

dia sudah mulai berjudi maka barang taruhannya pasti sangat mengerikan, mempertaruhkan sebuah perkampungan memang merupakan satu angka pertaruhan yang menakutkan"

"Oooh, tidak kusangka kalau kecanduan Jui Pakhay pada bertaruh demikian hebatnya" "Kalau aku sih sudah pernah menduga sampai ke situ" kata Tu Siau-thian.

"Waktu itu, dia memang berniat untuk menantang Si Siang- ho bertaruh habis habisan!" Kwee Bok menambahkan.

"Kenapa sampai muncul niat seperti itu?" tanya Siang Hu- hoa keheranan.

"Sebab sudah lama dia mengincar gedung Ki po cay bahkan sangat berminat untuk menguasahinya"

"Kalau begitu gedung Ki po cay jelas merupakan sebuah tempat yang sangat bagus dan hebat"

"Sebelum terjadinya peristiwa itu" sambung Kwee Bok lebih lanjut, "sudah beberapa kali dia mengutus orang untuk mengadakan pembicaraan dengan Si Siang-ho, dia berencana untuk membeli gedung Ki po cay dengan harga yang pantas"

"Dan Si Siang-ho enggan menjual kepadanya?" "Benar, penawaran itu ditolak mentah-mentah"

"Kalau tidak punya uang, tidak nanti orang itu memiliki sebuah perkampungan sebesar itu, kalau seseorang punya uang banyak, tentu saja dia tidak bakal menjual perkampungan miliknya"

"Tapi waktu itu dia sudah tidak seberapa punya uang" “Oya?"

"Dulunya Ki po cay adalah sebuah toko yang menjual aneka mutiara, tapi saat itu usaha dagangnya sudah nyaris bangkrut" Kwee Bok menerangkan.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Si Siang-ho sendiripun amat tergila-gila dengan berjudi, dia pun tidak pandai berdagang, jauh sebelum kejadian tersebut didalam gedungnya yang dinamakan penyimpan mestika nyaris sudah tidak tersisa sebuah mestika pun" "Kalau memang sudah nyaris bangkrut, mengapa Si Siang- ho segan untuk menjual gedungnya itu?" ujar Siang Hu-hoa keheranan.

"Sebab perkampungan itu merupakan warisan dari leluhurnya"

"Kalau sudah tahu merupakan warisan dari leluhurnya, mengapa pula dia dijadikan barang taruhan?"

"Sebab pada waktu itu dia sudah kelewat banyak minum arak, bila seseorang sudah mabuk berat, seringkali perbuatannya bisa mengakibatkan kejadian fatal"

"Jui Pakhay yang suruh dia mempertaruhkan perkampungan Ki Po cay atau dia sendiri yang berniat mempertaruhkan perkampungannya?"

"Pada mulanya yang mereka pertaruhkan hanya uang, sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk membeli seluruh perkampungan Ki po cay"

"Waktu itu apakah Si Siang-ho memiliki jumlah uang sebanyak itu?"

"Tidak punya"

"Saat itu dia baru mabuk tiga puluh persen, semestinya dia tahu bahwa dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu untuk diper-taruhkan?"

"Mungkin dia menyadari akan hal tersebut, tapi kemudian Jui Pakhay memanasi hatinya dengan perkataan dan minta dia menggunakan perkampungan Ki po cay sebagai barang taruhan"

"Tapi sepantasnya dia waspada dan hati-hati sebelum mengambil keputusan" kata Siang Hu-hoa.

"Sayangnya dia sudah mabuk duluan, apalagi ditambah wataknya yang pingin menang sendiri, dia takut dipandang hina orang lain terutama dikala itu banyak sekali yang hadir dan menyaksikan pertaruhan tersebut, kuatir orang mengatakan dia bernyali kecil, takut kalah, ditambah lagi diapun menganggap dirinya belum tentu akan kalah, maka tantangan itu diterimanya tanpa dipikir lagi"

Siang Hu-hoa cukup mengetahui keadaan seperti ini, bukankah pemikiran semacam itu selalu dimiliki setiap penjudi?

Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh:

"Tampaknya dia tidak sadar, kecuali dia tolak taruhan tersebut, kalau tidak, dapat dipastikan dia pasti akan kalah ditangan Jui Pakhay"

"Tapi setahuku, dibidang pertaruhan kemampuan yang dimiliki Jui Pakhay tidak terlampau hebat atau luar biasa"

"Demikian pula dengan keadaan Si Siang-ho, apalagi saat itu dia sudah sangat mabuk, ditambah lagi Jui Pakhay memiliki uang kontan yang lebih dari cukup untuk menantangnya bertaruh"

"Justru kondisi semacam inilah merupakan kunci yang paling utama untuk meraih sebuah kemenangan"

"Itulah sebabnya kecuali dia bernasib luar biasa bagusnya dan selalu meraih kemenangan dalam setiap taruhan, kalau tidak, kekalahan sudah menunggunya di depan mata" Siang Huhoa manggut manggut. "Benar, sesungguhnya posisinya waktu itu sangat tidak menguntungkan, sebab Jui Pakhay boleh kalah berulang kali namun baginya dia hanya bisa kalah satu kali dari Jui Pakhay"

"Ternyata nasibnya memang jelek sekali, pertaruhan baru saja dimulai, dia sudah kalah ditangan Jui Pakhay" Kwee Bok menerangkan.

"Bukankah dengan begitu pertaruhan tidak bisa dilanjutkan lagi?" "Yaa, selain memiliki perkampungan Ki po cay, dia memang sudah tidak memiliki secuwil benda pun yang bisa digunakan sebagai barang taruhan"

"Ehmm, sepintas lalu pertaruhan ini kelihatannya seakan adil sekali!"

"Padahal sama sekali tidak adil" seru Kwee Bok, "sebab sejak awal Jui Pakhay memang sengaja mengatur jebakan itu, dia sengaja meloloh Si Siang-ho dengan arak agar cepat mabuk, kemudian sengaja mengajaknya bertaruh, kesemuanya ini merupakan satu rancangan siasat yang luar biasa"

"Tentunya Si Siang-ho juga menyadari akan hal itu bukan?" "Waktu itu dia sih tidak mengatakan sekecap katapun,

perkampungan Ki po cay langsung dia serahkan kepada Jui Pakhay, bagaimanapun dia merupakan seorang lelaki yang berani berbuat berani pula menerima resiko"

"Setelah kehilangan perkampungan Ki po cay, dengan sendirinya dia pun tidak akan berhasil menangkan Gi Tiok-kun dari tangan Jui Pakhay?" kata Siang Hu-hoa.

"Benar, saat itulah dia baru betul-betul naik pitam" "Terjadinya ke dua peristiwa itu berselisih berapa lama?"

"Paling banter cuma dua bulan, itulah sebabnya Si Siang-ho menganggap semua peristiwa ini merupakan serangkaian rencana keji yang sengaja diatur Jui Pakhay dengan tujuan untuk mendapatkan adik misanku"

"Tindakan apa yang kemudian dilakukan Si Siang-ho untuk menuntut balas atas sakit hati ini?"

"Dia tidak melakukan pembalasan, pada hari dimana adik misanku menikah dengan Jui Pakhay, dia segera bebenah dan diam diam pergi meninggalkan tempat ini"

"Dia pergi ke mana?" "Tidak pernah diungkapkan, juga tidak seorang manusia pun yang memperdulikan dirinya"

Tidak sulit bagi Siang Huhoa untuk membayangkan suasana seperti itu, dingin atau hangatnya hubungan sesama manusia seringkali ada hubungan yang erat dengan banyak dan tidaknya kekayaan yang kau miliki, semakin kau banyak uang dan kaya raya, biasanya orang lain akan berusaha untuk mendekatimu dan bersikap hangat kepadamu, semakin sedikit kekayaan yang kau miliki, semakin dingin pula sikap orang terhadapmu.

"Aaai, kelihatannya orang ini memang termasuk orang yang berani berbuat, berani pula menanggung akibatnya" kata Siang Hu-hoa perlahan.

Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam, kini tidak kuasa lagi menahan rasa kesalnya, tiba tiba dia menyela:

"Kalau toh dia sudah pergi meninggalkan tempat ini, lantas mengapa kau menghubungkan peristriwa tentang laron penghisap darah dengan dirinya?”

"Karena sejak tiga bulan berselang dia sudah muncul lagi disini" Kwee Bok menjelaskan.

Tu Siau-thian tertegun.

"Kembalinya dia kali ini bertujuan untuk mencari Jui Pakhay dan membuat perhitungan dengannya" kata Kwee Bok lebih jauh.

"Seandainya dia memang berniat membuat perhitungan dengan Jui Pakhay, seharusnya hal ini dilakukan sedari dulu" kata Tu Siau-thian.

"Tiga tahun berselang, dia tahu kemampuan yang dimilikinya masih bukan tandingan dari Jui Pakhay" "Apakah dalam tiga tahun terakhir dia telah berhasil mempelajari suatu kepandaian silat yang tangguh?" tanya Tu Siau-thian.

"Dalam hal ini aku kurang begitu tahu, mungkin saja dia telah berhasil mempelajari sejenis ilmu silat yang sangat tangguh, mungkin juga telah memperoleh sejenis ilmu sesat yang hebat, yang pasti katanya dia mampu menghabisi nyawa Jui Pakhay setiap waktu setiap saat"

"Waah, nampaknya perbuatan orang ini mencerminkan jiwa seorang kuncu" tiba tiba Siang Hu-hoa tertawa.

"Maksudmu?"

"Orang bilang bila seorang kuncu ingin membalas dendam, tiga tahun pun belum terlambat"

"Ooh, rupanya begitu maksudmu" kata Kwee Bok kemudian sambil tertawa.

Mendadak Siang Huhoa menarik kembali senyumannya, sambil mengawasi Kwee Bok dengan mata melotot, tegurnya:

"Kenapa kau bisa mengetahui urusannya dengan begitu jelas?"

"Kapan kau pernah bersua dengannya? Kenapa pula dia beritahukan segala sesuatunya kepadamu?" tanya Tu Siau- thian pula.

"Sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?" Nyo Sin menimbrung pula.

Karena ke tiga orang itu mengajukan pertanyaan hampir bersamaan waktunya, untuk sesaat Kwee Bok jadi bingung, dia tidak tahu pertanyaan mana yang harus dijawab terlebih dulu.

Setelah menghela napas panjang, katanya perlahan: "Si Siang-ho pernah menjadi pasienku!" "Karena sakit apa dia mencarimu?" tidak tahan Nyo Sin bertanya lagi.

"Tempo hari karena kurang hati hati dia masuk angin, setelah minum obat yang kubuat sebanyak satu tiap lalu beristirahat sejenak, kondisi badannya telah pulih kembali"

"Darimana kau bisa begitu yakin?"

"Sebab obat itu dimasak di rumahku" jawab Kwee Bok Setelah berpikir sejenak kembali ujarnya:

"Setiap kali melihat aku sedang menganggur tidak ada pekerjaan, dia selalu memaksaku untuk menemaninya minum berapa cawan arak, menghadapi pasien yang tidak tahu menyayangi kesehatan sendiri macam begini, saat itu aku benar-benar dibuat serba salah"

"Akhirnya apakah kau menemaninya dia pergi minum arak?"

"Menolak pun tidak ada gunanya" "Kenapa?"

"Tenagaku tidak sekuat tenaganya, apalagi dia berbuat demikianpun berdasarkan niat baik"

Maka dia pun memberitahukan semua rahasia tersebut kepadamu?"

"Waktu bercerita, dia sudah berada dalam kondisi mabuk, maka aku percaya semua yang dia tuturkan adalah perkataan yang sejujurnya"

"Apakah dia jugamem beritahu kepadamu bahwa kedatangannya kali ini bertujuan untuk membalas dendam?"

Kwee Bok mengangguk Kembali Nyo Sin bertanya: "Apakah dia sempat menyinggung masalah yang ada hubungannya dengan laron penghisap darah?"

"Soal itu, tidak pernah"

"Selain kepada kami, apakah kau pernah memberitahukan persoalan ini kepada orang lain?"

"Tidak pernah"

"Juga tidak pernah memberitahu kepada Jui Pakhay?" "Selama ini antara aku dengan dia tidak pernah

berhubungan atau mengadakan kontak"

"Kau pun tidak pernah mendatangi perkampungan Ki po cay?" desak Nyo Sin lebih jauh.

"Aku hanya pernah datang satu kali yaitu pada tanggal dua belas bulan tiga, ketika itu aku diundang adik misanku untuk memeriksakan kondisi kesehatan tubuhnya"

"Waktu itu kau toh punya peluang untuk menyampaikan kabar tersebut kepadanya?"

"Waktu itu tidak terpikirkan olehku akan kejadian tersebut, sewaktu aku mulai teringat dan akan sampaikan kabar kepadanya, dia sudah anggap kami sebagai jelmaan siluman atau setan iblis, untuk menghindar saja rasanya sudah tidak sempat apalagi mau berbicara denganku, mendengarkan perkataanku?"

"Ooh " wajah Nyo Sin mulai menunjukkan kesangsian

dan keraguan.

"Setelah kejadian itu, apakah kau pernah berjumpa lagi dengan Si Siang-ho?" tanya Tu Siau-thian kemudian

"Masih bertemu satu kali lagi"

"Lagi-lagi untuk memeriksakan kesehatan tubuhnya?" "Benar, datang untuk memeriksakan diri, hanya kali ini dia mengutus orang untuk mengundangku datang ke tempat tinggalnya"

"Jangan-jangan perbuatannya?" "Benar!"

"Kali ini dia sakit apa lagi?"

"Seperti yang lalu, masuk angin, hanya kali ini kondisinya sedikit lebih parah"

"Dia tinggal di mana?" tiba-tiba Nyo Sin menyela. "Sebuah rumah penginapan disebelah timur kota, konon

penginapan itu merupakan perusahaan miliknya"

"Apa nama penginapan itu?" desak Nyo Sin lebih jauh. "Hun-lay!"

Nyo Sin segera berpaling ke arah Siang Hu-hoa dan ajaknya:

"Bagaimana kalau kita mengunjungi rumah penginapan Hun-lay?"

Siang Huhoa tidak berkata apa apa, dia pun tidak menolak atau mengajukan usul lain.

"Siapa tahu disana kita akan menemukan lagi sesuatu" sambung Nyo Sin.

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Kwee Bok, lalu katanya lagi:

"Kau ikut bersama kami dan menjadi petunjuk jalan" "Bolehkah aku tidak ikut serta?" pinta Kwee Bok sambil

tertawa hambar.

"Tentu saja tidak boleh, mulai sekarang tanpa seijinku, jangan harap kau bisa berlalu dari hadapanku barang setengah langkah pun" "Nyo tayjin tidak usah kuatir" ucap Kwee Bok sambil menghela napas, "sebelum duduknya persoalan menjadi jelas dan tuntas, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini"

"Memang paling bagus begitu, jadi masing masing tidak perlu direpotkan oleh yang lain"

Kwee Bok tidak banyak bicara lagi, dia segera beranjak, sikapnya sangat tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

Ketika sikapnya yang tenang itu terlihat oleh Siang Huhoa, Nyo Sin maupun Tu Siau-thian, tanpa terasa satu ingatan melintas bersama dalam benak mereka.

Benarkah peristiwa berdarah ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya? Benarkah semua kejadian ini merupakan ulah dari Si Siang-ho?

Tanpa terasa mereka pun ikut beranjak dan mengikuti di belakang tubuhnya.

Terlepas benar atau tidak, asal Si Siang-ho berhasil ditemukan, sudah pasti akan diperoleh jawaban yang jelas, mereka hanya berharap Si Siang-ho masih tetap berdiam di rumah penginapan Hun-lay.

0-0-0

Rumah penginapan Hun-lay, sebuah nama yang sangat indah, sayang letaknya sedikit diluar kota, disisi timur pintu gerbang kota.

Jalanan menuju ke luar kota sangat tidak rata dan tidak enak dilalui. Rumah penginapan itu meski dibangun tidak terlalu dekat dengan kota namun tidak juga terhitung kelewat jauh, asal langkah mereka agak cepat maka sebelum malam menjelang tiba nanti, mereka masih sempat untuk balik ke dalam kota. Oleh sebab itu rumah penginapan Hun-lay bukan termasuk sebuah penginapan yang berlimpah tetamunya, dusun itu pada hakekatnya merupakan sebuah dusun yang amat miskin.

Dalam seluruh dusun tersebut hanya terdapat sebuah jalanan yang beralaskan batu, tentu saja rumah penginapan Hun-lay dibangun disisi jalan besar.

Beberapa orang bocah cilik nampak sedang bermain disisi jalan, pintu depan rumah penginapan kelihatan amat sepi dan hening.

Ketika Siang Hu-hoa sekalian sudah berjalan mendekat, mereka baru tahu kalau sepasang pintu gerbang rumah penginapan itu berada dalam keadaan tertutup rapat, malah diatas salah satu pintunya tertempel selembar kertas pengumuman yang bertuliskan:

"Sementara berhenti usaha"

Kertas itu sudah lusuh dan warnanya sudah luntur, ini menunjukkan kalau sudah lama rumah penginapan Hun-lay menutup usahanya, tanpa terasa Siang Huhoa bertiga mengalihkan sorot matanya mengawasi wajah Kwee Bok.

"Sejak enam bulan berselang rumah penginapan ini memang sudah menghentikan usahanya untuk sementara waktu" Kwee Bok menerangkan.

Dia segera maju ke depan, memegang gelang diatas pintu dan dipukulkan kuat kuat sebanyak berapa kali diatas pintu itu.

Tidak lama kemudian kedengaran seseorang menegur dari dalam pintu:

"Siapa?"

"Aku, Kwee Bok!" jawab pemuda itu cepat.

"Ooh, rupanya saudara Kwee!" suara orang itu segera berubah jadi tinggi melengking. Menyusul kemudian kedengaran suara langkah kaki yang berjalan mendekat, suara langkah yang sangat aneh, seolah- olah orang tersebut sangat rapuh kesehatannya sehingga tenaga untuk berdiri tegak pun tidak ada.

henti dibalik pintu tapi pintu itu tidak segera dibuka, sampai sesaat kemudian dia baru membukakan pintu gerbang.

Bau arak yang sangat menyengat segera menyebar disekeliling tempat itu, tanpa terasa Siang Huhoa berempat pun mengalihkan perhatiannya ke wajah orang itu.

Orang itu berdiri sambil berpegangan pada daun pintu, namun tubuhnya masih kelihatan gontai seakan akan setiap saat bakal roboh ke tanah.

Dalam genggamannya masih terdapat sebuah cawan arak, cawan itu penuh berisikan arak, pakaian berwarna biru yang dikenakannya juga dipenuhi oleh noda arak yang menusuk hidung.

Rambutnya awut awutan, jenggotnya tidak terawat, mukanya sangat dekil, entah sudah berapa hari dia tidak pernah cuci muka dan menyisir rambutnya.

Dalam ruangan itupun tidak ada lentera, seluruh jendela dibiarkan dalam keadaan tertutup rapat, hal ini membuat suasana dalam bangunan itu terasa remang remang dan sangat menyeramkan, seakan sebuah neraka ditengah alam manusia.

Dalam kenyataan raut muka orang ini memang tidak jauh berbeda seperti wajah setan gentayangan dari neraka, wajahnya pucat kehijau hijauan dan sama sekali tidak ada rona merahnya, namun sepasang matanya justru dipenuhi dengan garis garis merah darah, sedemikian merahnya sehingga mirip dengan lelehan darah segar.

Siapa pun yang bertemu dengan manusia macam begini, dapat dipastikan mereka akan terkesiap bercampur ngeri. Untung saja waktu itu masih tengah hari sehingga nyali mereka pun otomatis jauh lebih besar.

Sejak terjadinya peristiwa berdarah dalam perkampungan Ki-po-cay, segala persoalan yang kemudian mereka jumpai seakan tak ada yang tidak mengejutkan hati, semua penemuan, semua kejadian seolah sama sekali diluar dugaan dan mendatangkan kabut tanda tanya yang semakin besar.

Saat itu, orang yang benar benar terperanjat ternyata hanya Kwee Bok seorang, tampaknya pemuda itupun baru pertama kali ini bersua dengan manusia tersebut, untuk berapa saat dia nampak berdiri termangu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Siang Hu-hoa melirik sekejap wajah orang itu, kemudian sambil berpaling ke arah Tu Siau-thian, ujarnya:

"Apakah orang ini yang bernama Si Siang-ho?" "Benar, dialah orangnya"

"Dulu, apakah begitu juga tampangnya?" tanya Siang Huhoa lebih jauh.

Tu Siau-thian segera menggeleng.

"Tidak, dulu dia sangat memperhatikan penampilan, pakaiannya, dandanannya selalu rapi dan perlente"

"Pakaian yang dikenakan seseorang bisa saja berganti tiga kali dalam sehari, tapi apa raut wajah orang tidak mungkin berubah setiap tiga tahun?"

"Itulah sebabnya meski keadaannya saat ini sangat payah, aku masih tetap dapat mengenalinya dalam pandangan pertama"

"Aku pun dapat mengenali dirinya" Nyo Sin menambahkan. "Aku rasa usianya jauh lebih tua ketimbang usia Jui

Pakhay" kata Siang Hu-hoa. "Waah, kalau soal ini aku kurang begitu jelas" ucap Tu Siau-thian.

"Kalau dilihat dari penampilannya sekarang, paling tidak dia telah berusia diatas lima puluh tahunan" Nyo Sin menimpali.

"Aku benar benar kurang jelas tentang masalah ini" kembali Tu Siau-thian menggeleng.

Mendadak terdengar Si Siang-ho menghela napas panjang, tanyanya:

"Benarkah penampilanku sekarang nampak sangat tua?"

Tampaknya semua pembicaraan mereka bertiga terdengar pula oleh Si Siang-ho.

"Sebenarnya berapa sih usiamu tahun ini?" tanya Nyo Sin kemudian.

"Satu bulan lagi aku baru berusia tiga puluh sembilan tahun"

"Apa? Empat puluh tahun pun belum sampai?"

"Aku toh bukan wanita, kenapa mesti merahasiakan umur?" "Tapi kalau dilihat dari penampilanmu sekarang, kau lebih

mirip berusia lima puluhan tahun ketimbang berusia tiga puluh sembilan tahun"

"Mana mungkin" bantah Si Siang-ho sambil garuk-garuk kepalanya, "malah tiga tahun berselang orang bilang dari penampilanku, usiaku paling banter baru tiga puluhan tahun"

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya:

"Masa baru lewat tidak sampai tiga tahun, penampilanku sudah berubah dua puluh tahun lebih tua?"

"Memangnya kau tidak menyadari?" "Aku hanya menyadari akan sesuatu" "Soal apa?" "Perasaan hatiku memang sudah semakin tua, bahkan sedemikian tuanya hingga mendekati saat ajalnya"

"Berarti kau masih terbayang terus akan peristiwa yang telah terjadi tiga tahun berselang?" tanya Nyo Sin

Si Siang-ho mengangguk berulang kali.

Tidak tahan lagi Nyo Sin menghela napas panjang, namun dia tidak berkata-kata.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

"Padahal aku sudah berusaha dengan segala cara untuk melupakan kejadian itu"

"Jadi inikah alasanmu kenapa minum arak sebanyak- banyaknya?"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Sebenarnya aku menyangka cara ini merupakan sebuah cara terbaik untuk melupakan kejadian lama, namun belakangan aku malah semakin sulit dibuat mabuk"

"Mengapa tidak langsung pergi mencari Jui Pakhay dan menantangnya untuk berduel, agar semua sakit hatimu terlampiaskan?" tanya Nyo Sin.

Tiba-tiba Si Siang-ho tertawa tergelak, katanya: "Hahahaha karena tidak lama setelah itu, aku telah

berhasil memahami semua masalah yang sedang kuhadapi"

"Kau berhasil memahami? Memahami apa?" Nyo Sin semakin keheranan.

"Walaupun peristiwa ini terjadi gara-gara rencana busuk yang diatur Jui Pakhay, seandainya aku tidak gemar berjudi, sebenarnya diapun tidak akan berhasil menjalankan rencana busuknya itu, dan dengan sendirinya perkampungan Ki po cay pun tidak nanti bisa terjatuh ke tangannya, jadi kalau mau mecari sumber masalahnya, aku harus menyalahkan diriku sendiri, aku tidak boleh menyalahkan orang lain saja, kalau aku tidak kemaruk, kalau aku tidak suka bertaruh, peristiwa ini tidak mungkin akan menimpa diriku"

Kemudian setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, lanjutnya:

"Terus terang saja aku katakan, waktu itu aku memang terlalu suka berjudi, aku gemar bertaruh, jadi, seandainya perkampungan Ki po cay tidak hilang pada saat itu, suatu ketika akupun pasti akan kehilangan perkampungan tersebut, karena masalahnya tinggal cepat atau lambat"

Nyo Sin mengawasi Si Siang-ho dengan mata melotot, mimik mukanya dipenuhi rasa heran dan tercengang.

Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh:

"Kalau mau bicara yang lebih jujur, sebenarnya pertaruhan yang berlangsung waktu itu cukup adil, aku mesti salahkan nasibku yang tidak mujur, jadi peristiwa itu merupakan kejadian yang lumpah, tidak ada yang bisa disalahkan"

"Tapi bagaimana pula dengan masalah yang menyangkut Gi Tiok-kun?"

"Bila perkampungan Ki po cay sudah jatuh ke tangan orang lain, dengan sendirinya Gi Tiok-kun juga tidak bakal jatuh ke tanganku, sebab aku pasti bukan tandingannya lagi" kata Si Siang-ho dengan wajah sedih.

"Tapi kau tidak mirip dengan orang yang rela menerima kekalahan?"

"Kalau kenyataan sudah terpampang di depan mata, tidak rela pun harus rela juga menerima nasib"

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya: "Waktu itu, sisa harta kekayaan yang kumiliki bila

dijumlahkan keseluruhannya, paling banter baru senilai

perkampungan Ki po cay, apakah aku mampu menandingi kekayaan Jui Pakhay rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi, pada hakekatnya aku sudah tidak mungkin memenuhi kebutuhan dari Gi toama"

"Maka terpaksa kau lepas tangan?"

"Kalau tidak lepas tangan, apa lagi yang bisa kuperbuat?" "Ooh, rupanya kau belum sampai mabuk, kenyataannya

kau masih bisa berbicara dengan jelas" Si Siang-ho tertawa terkekeh.

"Hahaha walaupun saat ini aku merasakan kepalaku

berat dan kakiku ringan, namun otak dan kesadaranku masih sangat waras"

"Apa yang barusan kau katakan apakah ungkapan yang sejujurnya?" tanya Nyo Sin lagi.

"Sekarang aku sudah terjerumus dalam kehidupan yang susah, keadaanku sudah bukan rahasia lagi, kenapa aku mesti takut untuk bicara sejujurnya?" Si Siang-ho balik bertanya sambil tertawa.

"Kau tetap akan bercerita kepada orang asing mana pun?" "Bagiku, kau bukan termasuk orang yang terlalu asing" kata

Si Siang-ho seraya mengangguk.

"Berarti kau sudah tahu siapakah aku?"

"Siapa yang tidak kenal dengan komandan Nyo yang punya nama besar dan amat tersohor di kolong langit? Tidak banyak orang diseputar sini yang tidak mengenali namamu" Nyo Sin tertawa senang.

"Tidak heran kalau semua pertanyaan yang kuajukan telah kau jawab dengan sejujurnya, seolah bukan sedang berbicara dengan orang asing saja"

Perlahan-lahan Si Siang-ho mengalihkan sorot matanya ke wajah Tu Siau-thian, kemudian katanya lagi: "Bila aku tidak salah ingat, semestinya saudara ini adalah wakil komandan opas Tu Siau-thian bukan?"

"Benar akulah orangnya" Tu Siau-thian menyahut. Dia berpaling ke arah Siang Huhoa lalu tanyanya: "Apakah saudara Si tahu siapakah dia?"

Sambil memicingkan matanya yang setengah mabuk, Si Siang-ho mengawasi Siang Hu-hoa berulang kali, lama kemudian dia baru menggeleng.

"Wajahnya terasa asing sekali bagiku, apakah dia "

"Dia adalah Siang Huhoa, Siang tayhiap" Tu Siau-thian memperkenalkan rekannya.

Mula-mula Si Siang-ho agak tertegun, kemudian sambil tertawa tergelak serunya:

"Hahaha ternyata saudara Siang!"

"Aneh, tadi bilang tidak kenal, sekarang kenapa tiba-tiba sudah kenal?" sindir Nyo Sin dingin.

Si Siang-ho tertawa.

"Aku hanya mengenali nama besarnya, aku rasa tidak banyak orang persilatan yang tidak mengenali nama besarnya"