Laron Penghisap Darah Bab 15: Gelang terbang Pedang baja.

 
Bab 15: Gelang terbang Pedang baja.

Memandang hingga bayangan punggung Gi Tiok-kun lenyap dari pandangan mata, kembali Siang Hu-hoa termenung tanpa bicara. Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam perlahan-lahan berjalan menghampiri Siang Hu-hoa, kemudian ujarnya:

"Kelihatannya saudara Siang masih tetap ragu dan menaruh curiga terhadap persoalan ini?"

Siang Hu-hoa mengangguk membenarkan:

"Apakah saudara Tu tidak ragu atau menaruh curiga terhadap semua yang telah kita temukan?" dia balik bertanya.

Tu Siau-thian hanya menghela napas tanpa menjawab. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh:

"Semisalnya perempuan itu yang melakukan pembunuhan, rasanya tidak masuk diakal jika dia tetap membiarkan mayat korbannya tergeletak dalam ruang loteng"

"Mungkin saja dia tidak menyangka kalau secepat ini kita akan menggeledah tempat ini" sela Nyo Sin.

"Aku rasa dia bukan orang bodoh, masa tidak bisa menduga sampai ke situ?" kata Siang Hu-hoa.

Mendadak Nyo Sin bergidik, dengan badan merinding katanya:

"Atau mungkin dia mengira kalau kawanan laron penghisap darah itu telah melalap habis mayat itu?"

Kemudian setelah bersin berulang kali, tambahnya: "Mungkin juga dia masih merasa sayang untuk membuang

mayat tersebut dan ingin melahapnya lagi "

"Jadi kau menuduh Gi Tiok-kun adalah siluman laron, jelmaan dari seekor laron penghisap darah?" tukas Siang Huhoa cepat.

"Betul!" "Kalau persoalannya hanya begitu, kasus ini malah lebih gampang penyelesaiannya, paling tidak jawaban untuk apa yang ditulis Jui Pakhay dalam catatannya tentang peristiwa aneh yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga sampai tanggal lima belas bulan tiga beserta lenyapnya jejak dia serta kemunculan jenasahnya dalam ruang loteng sudah sangat jelas sekali yakni ulah dari siluman laron atau ulah dari jelmaan laron penghisap darah, kita tidak usah lagi peras otak banting tulang untuk melacak dan melakukan penyelidikan"

"Itupun kita mesti membuktikan dulu bahwa dia memang siluman laron atau jelmaan dari laron penghisap darah" sambung Tu Siau-thian.

"Benar" kata Siang Hu-hoa, "bila dia memang siluman laron atau jelmaan dari laron penghisap darah, cepat atau lambat dia pasti akan tunjukkan wujud aslinya, asal kita menunggu sampai dia tampil dengan wujud lain, semua urusanpun akan terungkap"

"Saat itu kita semua bakal dibuat pusing kepala" Nyo Sin menambahkan sambil memegang kepala sendiri.

"Oleh sebab itulah sekarang kita harus membuat dua perumpamaan, ke satu seandainya Gi Tiok-kun benar-benar adalah siluman laron dan kedua bila ternyata bukan demikian kejadiannya"

"Maksudmu kita tetap harus melanjutkan penyelidikan?" "Benar” Siang Huhoa mengangguk.

"Tapi penyelidikan kita harus dimulai dari mana?" tanya Nyo Sin tiba tiba, namun begitu ucapan tersebut diutarakan, dia pun merasa amat menyesal.

Sebagai seorang komandan opas yang terkenal pintar dan punya nama besar, sama sekali tidak masuk diakal bila persoalan macam begini juga harus menanyakan kepada Siang Hu-hoa, dia seharusnya tahu dari bagian mana penyelidikan ini harus mulai dilakukan.

Tampaknya Siang Hu-hoa tidak memperhatikan akan hal itu, setelah berpikir sebentar dia berkata lagi:

"Terlepas kemungkinan mana yang akan terjadi, sekarang sudah saatnya bagi kita untuk memeriksa seseorang"

"Siapa?" "Kwee Bok!"

"Kakak misan Gi Tiok-kun?"

"Benar, bila kita tinjau dari keterangan yang tercantum dalam catatan tersebut, bukankah dia termasuk orang yang penuh tanda tanya?"

"Diantara kalian semua, siapa yang merasa pernah kenal dengan orang ini?" Nyo Sin segera bertepuk tangan dan bertanya kepada anak buahnya.

Ada empat orang opas berdiri berjaga didepan pintu, salah seorang diantaranya segera menyahut:

"Aku kenal!"

"Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang tabib, tempat prakteknya di selatan kota, konon ilmu pertabibannya sangat hebat, hingga kini sudah banyak pasiennya yang berhasil disembuhkan"

"Kalian berempat cepat pergi mencarinya dan bawa dia kemari" tukas Nyo Sin cepat.

"Baik!" sahut tiga orang opas itu.

"Membawanya kemari?" salah seorang opas itu bertanya "Goblok, kau anggap tempat ini tempat apa?" "Perpustakaan Ki po cay!" jawab opas itu tertegun. "Memangnya perpustakaan Ki po cay adalah tempat untuk melakukan interogasi terhadap tersangka?"

"Bukan!"

"Jadi menurutmu tempat mana yang cocok untuk melakukan interogasi?"

"Kantor polisi!"

"Goblok, kalau begitu segera cari orang itu dan seret ke kantor polisi!"

"Baik!" buru-buru opas itu mengundurkan diri diikuti tiga orang rekan lainnya,

"Aku rasa ada baiknya kita pun ikut ke sana" tiba-tiba Siang Huhoa berkata.

"Tidak usah, mereka berempat termasuk opas yang handal, untuk menghadapi Kwee Bok seorang rasanya lebih dari cukup"

"Seandainya Kwee bok pun jelmaan dari laron penghisap darah "

"Ditengah hari bolong macam begini, aku percaya setan iblis tidak akan mampu mengeluarkan kesaktiannya, bukankah terbukti dengan Gi Tiok-kun tadi? Dia pun tidak mampu berbuat banyak terhadap kita" tukas Nyo Sin sambil tertawa.

Siang Huhoa hanya tersenyum tanpa menanggapi. Kembali Nyo Sin berkata:

"Apalagi saat ini masih ada satu persoalan lain yang sedang menanti kita semua"

"Oya?"

"Sekarang Jui Pakhay sudah terbukti mati, itu berarti ke dua pucuk surat wasiat peninggalannya harus dibuka dan diperiksa isinya." "Maksudmu sekarang juga kita harus menghadapi Ko Tay- siu?"

"Bukankah diatas sampul surat wasiat itu sudah tertulis jelas, surat itu harus dibuka sendiri oleh Ko tayjin?"

Siang Huhoa mengangguk, dia memang belum melupakan hal ini.

"Siapa tahu dari dalam surat wasiatnya, kita bisa menggali lebih banyak keterangan dan petunjuk yang berharga" kata Nyo Sin lagi. "Yaa, mungkin "

Hampir berbarengan waktu mereka bertiga segera beranjak pergi dari situ, jelas mereka semua ingin secepatnya tahu apa yang sebenarnya yang ditulis Jui Pakhay didalam ke dua pucuk surat wasiatnya.

0-0-0

Angin masih berhembus kencang, hujan pun masih turun dengan derasnya, kabut tebal menyelimuti sepanjang jalan raya, membuat pemandangan kabur dan suasana sepi

Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian maupun Nyo Sin merasakan pula keseriusan suasana yang mencekam perasaan mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka berjalan menelusuri jalan raya, dengan wajah murung dan berat mereka meniti jalan raya itu, siapa pun tidak ingin bicara, semua orang terpekur dalam lamunan masing masing.

Saat ini mereka hanya ingin tiba di kantor polisi secepatnya, ingin segera bertemu dengan pembesar Ko dan ikut membaca isi surat wasiat peninggalan Jui Pakhay.

Sekarang mereka bertiga sudah tiba disebuah tikungan jalan, pintu gerbang kantor polisi sudah terlihat di depan mata. Ketika mereka sedang mempercepat langkah kakinya, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang mengejar sambil berteriak memanggil:

"Siang tayhiap! Nyo tayjin! Tu tayjin!"

Seketika Siang Hu-hoa, Nyo Sin dan Tu Siau-thian menghentikan langkahnya seraya berpaling, tapi begitu melihat siapa yang muncul, mereka bertiga segera tertegun dan berdiri melongo.

Biasanya hanya orang yang kenal akrab dengan mereka yang akan memanggil dengan cara begitu, tapi kenyataannya, orang itu terasa sangat asing bagi mereka bertiga.

Orang itu masih muda, tampan dan berpakaian sederhana. "Kelihatannya orang ini tidak mirip anak buahmu" ujar

Siang Huhoa sambil berpaling ke arah Nyo Sin.

"Aku malah sama sekali tidak kenal dengan orang itu" sahut Nyo Sin seraya menggeleng.

"Saudara Tu juga tidak kenal?" Siang Huhoa kembali berpaling ke arah Tu Siau-thian.

Dengan cepat opas Tu menggeleng.

"Kalau begitu aneh sekali" ujar Siang Huhoa lebih jauh, "kalau kita semua tidak kenal dengannya, kenapa dia justru kenal dengan kita bertiga?"

"Aku malah mengira dia adalah sahabatmu" kata Tu Siau- thian.

"Aku malah merasa asing sekali dengan orang ini" "Oya?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang itu sudah menyusul tiba, sambil menghentikan langkahnya dihadapan Nyo Sin, dia berdiri dengan napas terengah-engah. "Siapa kau?" dengan mata melotot Nyo Sin segera menegur.

"Siaubin adalah Kwee Bok!" jawab pemuda itu sambil terengah.

Untuk kesekian kalinya Nyo Sin berdiri tertegun.

Rasa heran dan tidak habis mengerti pun segera menyelimuti wajah Siang Huhoa serta Tu Siau-thian, tanpa terasa mereka berdua sama-sama mengawasi pemuda yang mengaku bernama Kwee Bok itu tanpa berkedip.

Pemuda yang bernama Kwee Bok ini tidak mirip seorang yang jahat.

Setelah sekian lama Nyo Sin mengawasi pemuda itu dengan termangu, akhirnya dia berseru keras:

"Kwee bok? Jadi kau yang bernama Kwee Bok?" "Benar"

"Kepandaian yang hebat!" puji Nyo Sin tiba-tiba.

Kali ini giliran Kwee Bok yang dibuat tertegun dan tidak habis mengerti.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh:

"Keempat orang anak buahku adalah empat opas yang handal, sungguh tidak kusangka secepat itu kau berhasil merobohkan mereka semua"

"Nyo tayjin, apa yang kau maksud?" seru Kwee Bok keheranan.

Nyo Sin tertawa dingin.

"Bagus, bagus sekali monyet kecil!" serunya, "sampai sekarangpun kau masih berani berlagak pilon?" Mendadak dia menggenggam gagang goloknya dan siap diloloskan, untung Tu Siau-thian yang berada disampingnya mengetahui hal ini dan segera menahan tangannya.

Dengan mata mendelik Nyo Sin segera berpaling ke arah Tu Siau-thian, baru saja dia hendak membentak agar melepaskan tangannya, opas itu sudah berkata duluan kepada Kwee Bok:

"Apakah kau telah bersua dengan ke empat opas yang kami kirim untuk mencarimu?"

"Tidak!" sahut Kwee Bok seraya menggeleng.

"Lantas kau hendak ke mana sekarang?" kembali Tu Siau- thian bertanya

"Kantor polisi"

"Mau apa pergi ke kantor polisi?"

"Apakah hendak menyerahkan diri?" timbrung Nyo Sin "Menyerahkan diri?" Kwee Bok tertegun.

"Yaa atau tidak?" desak Nyo Sin lebih jauh.

Tampaknya Kwee Bok tidak habis mengerti dengan pertanyaan itu, dia berdiri dengan wajah tercengang, bingung dan tidak tahu apa yang mesti dijawab.

Baru saja Nyo Sin akan mendesak lebih jauh, kembali Tu Siau-thian menarik tangannya sembari berkata:

"Lebih baik kita dengarkan dulu penjelasannya"

Nyo Sin mendengus dingin dan terpaksa membungkam diri. "Ada urusan apa kau datangi kantor polisi?" tanya Tu Siau-

thian kemudian.

"Tadi kakek Gi datang ke kantor praktekku di selatan kota, mengabarkan kalau kalian telah membawa piaumoay ku ke kantor polisi, maka aku segera menyusul kemari untuk mencari tahu apa masalahnya"

"Jadi kau adalah piauko nya Gi Tiok-kun?" "Benar"

"Lalu apa pula hubungan kakek Gi dengan Gi Tiok-kun?"

"Dia adalah salah satu famili jauh adik misanku, orangnya sudah tua dan sangat miskin, karena kasihan melihat kondisinya maka sejak dua tahun terakhir piaumoay menerimanya di rumah dan dipekerjakan sebagai salah satu pembantunya"

"Apa lagi yang dia katakan kepadamu?"

"Beritahu kepadaku apa alasan kalian menangkap piaumoay ku"

"Berapa usia kakek Gi?" tanya Tu Siau-thian lebih jauh. "Enam puluh tahun lebih"

"Enam puluh tahun?" kembali Nyo Sin menimbrung. "Usia yang pasti tidak terlalu jelas"

Kontan Nyo Sin tertawa dingin.

"Hmmm, heran, usianya sudah tua ternyata telinganya masih tajam dan larinya masih cepat, belum lagi ke empat orang anak buahku tiba, ia sudah tiba duluan"

"Menurut penuturannya, kenapa kami menangkap Gi Tiok- kun?" kembali Tu Siau-thian bertanya.

"Konon dia ditangkap karenakalian menuduhnya sebagai pembunuh Jui Pakhay"

"Tepat sekali!"

"Tidak mungkin!" teriak Kwee Bok lantang, "dia bukan manusia type begitu, mana mungkin dia adalah seorang pembunuh, apalagi pembunuh suami sendiri?" "Benar atau tidak percuma diperdebatkan sekarang, lebih baik kita tunggu semua bukti sudah terkumpul karena sampai sekarang pun kami belum yakin seratus persen"

"Kalau memang belum yakin, kenapa dia tetap ditangkap?" "Sebab dialah satu satunya orang yang paling mungkin jadi

pembunuh berdarah itu"

"Jadi kalian utus orang untuk memanggilku karena menganggap akupun patut dicurigai sebagai salah satu pembunuhnya?"

Tu Siau-thian mengangguk membenarkan.

"Atas dasar apa kalian menuduh aku?" protes Kwee Bok. Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, mendadak Nyo

Sin bertanya pula:

"Darimana kau bisa mengenali kami?"

"Rasanya tidak banyak orang disini yang tidak kenal dengan tayjin berdua"

"Tapi aku tidak kenal kau" Kwee Bok tertawa getir.

"Aku ini manusia macam apa, tentu saja Nyo tayjin tidak bakal kenal aku. Seperti juga penduduk kota ini jarang yang pernah bersua dengan Ko tayjin, tapi hampir setiap kepala tahu akan nama besar Ko tayjin, sebaliknya Ko tayjin sendiri belum tentu akan mengetahui penduduk kota ini, jangan lagi namanya, bagaimana bentuk mukanya pun tidak bakal tahu"

Dalam hati kecilnya Nyo Sin merasa senang sekali dengan pujian itu, tapi dengan lagak sok keren kembali ia menegur:

"Baru pertama kali ini Siang tayhiap berkunjung kemari, darimana kau bisa mengenalinya?" "Kakek Gi yang beritahu kepadaku, katanya Jui Gi telah pulang bersama seorang pendekar besar yang dipanggil Siang tayhiap!" jawab Kwee Bok tenang.

"Kalau hanya mendengar kata orang, kenapa kau bisa mengenali bahkan berteriak memanggil meski masih berada dikejauhan?"

"Sebab kakek Gi telah melukiskan bentuk badan dan bentuk wajah Siang tayhiap"

"Apalagi yang dia katakan kepadamu?" smdir Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Tidak ada lagi"

"Tapi suara panggilanmu tadi kedengaran begitu kenal dengan hangat"

"Biarpun baru pertama kali ini kami bersua, namun sebelumnya aku sudah kerapkali mendengar orang menyinggung tentang nama besar Siang tayhiap"

"Siapa yang pernah membicarakan masalah ini?" tanya Nyo Sin.

"Pasien yang datang berobat, aku tidak pernah berkelana di dalam dunia persilatan tapi pasien yang datang mencariku banyak sekali merupakan anggota dunia persilatan"

"Oya?"

"Dari penuturan mereka, sudah lama aku tahu manusia macam apakah Siang tayhiap ini, asal Siang tayhiap mau tampilkan diri niscaya segala masalah akan menjadi beres dan tuntas"

Nyo Sin mendengus tidak senang hati.

"Maksudmu, kalau kami yang selesaikan persoalan ini maka penyelesaiannya tidak beres dan tidak tuntas?" serunya.

"Aku tidak pernah berkata begitu" "Tapi dalam hati kecilmu kau berpendapat demikian bukan?"

"Tidak berani!"

"Kau anggap kami sudah salah menangkap, salah menuduh Gi Tiok-kun?" kembali Nyo Sin bertanya.

"Salah menuduh atau tidak persis seperti apa yang telah dikatakan Tu tayjin tadi, harus menunggu pembuktian serta lengkapnya penyelidikan, tapi berbicara dari sudut pandangku, sampai detik terakhir pun aku tetap beranggapan bahwa piaumoay ku bukanlah manusia semacam itu!"

"Bagaimana dengan kau sendiri?" Kwee Bok tertawa getir. "Aku? Hingga detik inipun aku masih belum tahu apa

gerangan yang sebenarnya telah terjadi"

"Hmmm, kalau didengar dari nada pembicaraanmu, seakan kau benar-benar tidak tahu"

"Tapi di dalam kenyataan aku memang tidak tahu" Nyo Sin tertawa dingin, hanya tertawa dingin.

Siang Huhoa yang selama ini hanya membungkam, mendadak memecahkan keheningan dengan bertanya kepada Kwee Bok:

"Tanggal dua belas bulan tiga hari itu, benarkah kau telah terkunjung ke perpustakaan Ki po cay?"

"Benar!"

"Gi Tiok-kun yang mengundangmu?"

"Darimana kau bisa tahu? Apakah piaumoay ku yang mengatakan?" tanya Kwee Bok keheranan.

Bukannya menjawab, Siang Huhoa bertanya lebih lanjut: "Ada urusan apa Gi Tiok-kun mengundangmu untuk datang

mengunjungi perpustakaan Ki po cay?" "Memeriksa pasien" "Siapa pasiennya?" "Jui Pakhay!"

"Atas ide siapa ini?" "Adik misanku!"

"Apakah Jui Pakhay mengetahui rencana ini?" "Tidak tahu"

"Kenapa dia mencari mu secara mendadak?" Siang Hu-hoa mendesak lagi.

"Dia bilang selama berapa hari belakangan, pikiran dan perasaan suaminya sangat kalut, tingkah lakunya sering diluar batas kewajaran bahkan kerap mengucapkan kata-kata yang aneh dan mengherankan, dia curiga suaminya mengidap sakit gila atau tidak waras otaknya, maka aku diundang untuk melakukan pemeriksaan"

"Menurut kau penyakit apa yang diidapnya?" "Menurut pandanganku, dia sehat, sama sekali tidak

mengidap penyakit apa pun"

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Nyo Sin seraya bertanya:

"Apakah dalam catatan tersebut, dia menulis begitu?" "Sejak awal aku sudah tahu kalau isi catatan itu sama sekali

tidak ada masalah"

"Catatan apa sih yang kalian maksudkan?" tanya Kwee Bok keheranan.

"Catatan peninggalan Jui Pakhay yang berisikan semua pengalaman yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga hingga tanggal lima belas bulan tiga" "Dia pun mencatat peristiwa yang dialaminya pada tanggal dua belas bulan tiga?"

"Benar, bahkan dicatat dengan sangat terperinci" sahut Siang Hu-hoa sambil mengangguk.

"Ooh...?"

"Selesai memeriksa penyakitnya, benarkah Jui Pakhay mengundangmu untuk makan bersama di rumahnya?"

"Benar"

"Benarkah Gi Tiok-kun turun tangan sendiri ke dapur dengan mempersiapkan sebuah hidangan yang disebut bola udang masak madu?"

Kembali Kwee Bok mengangguk.

"Hidangan tersebut memang merupakan hidangan faforitnya, dia paling senang memasak masakan itu"

"Sewaktu Jui Pakhay makan bola udang masak madu itu, benarkah telah terjadi suatu peristiwa yang sangat aneh?"

"Apa dia menulis begitu di dalam buku catatannya?" "Benar"

"Peristiwa itu memang aneh sekali, ketika dia menyumpit sebiji bola daging dan baru saja dimasukkan mulut dan menggigitnya sekali, tiba tiba hidangan tersebut dimuntahkan kembali, kemudian dia muntah tiada hentinya sambil menuduh bola udang itu bukan hidangan udang melainkan bola laron penghisap darah"

"Apakah memang begitu dalam kenyataannya?"

"Mana mungkin?" bantah Kwee Bok cepat, "sebenarnya aku yakin benar dengan hasil pemeriksaan nadiku, tapi setelah menyaksikan ulah serta tingkah lakunya, mau tidak mau aku menjadi sangsi juga" "Apa yang kau sangsikan?" "Aku curiga otaknya memang kurang waras, sekalipun dari denyut nadi bisa dicari sumber dari kekalutan itu, namun jika penyakitnya timbul pada otaknya maka akan jadi sulit untuk menemukan sumber penyakitnya hanya dari pemeriksaan denyut nadi, atau dengan perkataan lain hasil diagnosaku sebelumnya memang tidak keliru"

"Kalau memang sudah muncul kecurigaan semacam itu, kenapa kau tidak lakukan pemeriksaan sekali lagi dengan lebih teliti?"

Kwee Bok tertawa getir.

"Sebenarnya aku pun punya rencana untuk berbuat begitu, tapi sejak peristiwa itu, pada hakekatnya dia sudah menganggap kami berdua sebagai siluman atau setan iblis, setelah menghardik kami agar tidak mendekatinya, dia langsung melarikan diri dari meja perjamuan"

"Jadi dia benar-benar telah menganggap kalian sebagai siluman atau setan iblis?" Nyo Sin menatap tajam pemuda tampan itu.

"Kenapa dia bisa berpendapat begitu?" tanya Kwee Bok tercengang.

"Seharusnya kau mengerti akan hal ini" "Tapi aku benar benar tidak tahu" sekali lagi Kwee Bok tertawa getir.

"Hmmm, pandai amat kau berlagak pilon" jengek Nyo Sin.

Kwee Bok menghela napas panjang, selang sesaat kemudian dia baru bertanya lagi: "Jui Pakhay benar benar telah mati?" "Kenapa kau masih belum yakin kalau dia telah mati?"

"Kenapa pula Nyo tayjin begitu yakin kalau kematian Jui Pakhay benar-benar ada sangkut pautnya dengan kami berdua?" Kwee Bok balik bertanya sambil menghela napas. "Karena dua alasan" "Apa itu alasannya?"

"Pertama, didalam catatan yang ditinggalkan Jui Pakhay, dia pernah menyinggung kalau kalian berdua punya rencana akan menghabisi nyawanya!"

"Soal ini "

Tidak menunggu pemuda itu membantah, Nyo Sin berkata lebih jauh:

"Kedua, jenasah Jui Pakhay ditemukan didalam sebuah ruang kecil persis dibelakang kamar tidur mereka suami istri berdua, untuk bisa mencapai ruangan kecil itu, orang harus melalui kamar tidurnya lebih dulu, disaat kami menjumpai mayat dari Jui Pakhay, kami pun menemukan juga sejumlah laron penghisap darah"

"Laron penghisap darah?" "Beribu-ribu ekor laron penghisap darah sedang menghisap darah jenasah dan melalap daging mayat"

"Benarkah ada kejadian seperti ini?" seru Kwee Bok dengan tubuh bergidik.

Kalau ditinjau dari lagaknya, dia seakan memang benar- benar tidak mengetahui akan peristiwa ini.

Sorot mata Siang Hu-hoa tidak pernah bergeser dari raut muka Kwee Bok, dia memperhatikan terus setiap perubahan mimik muka pemuda itu, setelah dicermati sampai disitu, tanpa terasa pikirnya:

"Apa benar peristiwa ini memang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka?"

Sementara dia masih termenung, Nyo Sin telah berkata lebih jauih: "Kecuali mereka suami istri berdua, aku tidak percaya kalau masih ada orang luar yang bisa menyembunyikan mayat serta sejumlah laron penghisap darah didalam ruangan kecil itu tanpa ketahuan orang lain"

"Aku pun tidak percaya" sahut Kwee Bok setelah termenung sejenak.

"Bila sang korban adalah satu diantara sepasang suami istri tersebut, bukankah orang yang tersisa merupakan tersangka yang pantas paling dicurigai?"

Mau tidak mau Kwee Bok harus mengangguk juga. "Jadi berdasarkan dua alasan tersebut maka kau

menangkap kami berdua?" tanyanya.

"Memangnya dengan dua alasan tersebut masih belum cukup?"

"Benar, memang sudah lebih dari cukup" Kwee Bok mengangguk.

"Kalau memang begitu, ayoh ikut kami kembali ke kantor polisi" seru Nyo Sin sambil mengulurkan tangan kirinya dan mencengkeram bahu pemuda itu.

Kwee Bok tidak membiarkan bahunya ditangkap orang, belum sampai tangan pembesar itu menyentuh badannya, dia sudah menarik diri sambil bergeser mundur.

"Kunyuk jelek, kau berani melawan?" kontan saja Nyo Sin berkaok kaok gusar.

"Aku bukannya bermaksud melawan, tapi ada yang mesti kusampaikan dulu" sahut Kwee Bok sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Kalau ada yang hendak disampaikan, katakan saja setelah tiba di kantor polisi" "Kalau harus menunggu sampai waktu itu, mungkin keadaan sudah terlambat"

"Tidak ada gunanya kau berusaha mengulur waktu "

Mendadak Siang Huhoa menyela, ujarnya:

"Biarkan dia sampaikan dulu apa yang hendak dikatakan"

Nyo Sin memandang Siang Huhoa sekejap, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat sahutnya:

"Baiklah kalau begitu"

Sesudah menghembuskan napas panjang ujar Kwee Bok: "Terlepas Nyo tayjin mau percaya atau tidak, perkataanku

ini harus kusampaikan dulu sejelasnya"

"Kalau ingin berbicara, cepat katakan" tukas Nyo Sin tak sabar.

"Aku sama sekali tidak membunuh Jui Pakhay!" "Mungkin kau tidak, tapi Gi Tiok-kun yang melakukan

pembantaian tersebut"

"Aku yakin peristiwa ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan adik misanku"

"Oya?" jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Jika kami yang melakukan pembunuhan itu, kenapa mayatnya tidak kami musnahkan saja untuk menghilangkan jejak, kalau dibilang peristiwa itu merupakan hasil perbuatan pribadi, akupun tidak mempunyai alasan untuk berbuat demikian, terlebih lagi tidak mungkin akan kumasukkan jenasahnya ke dalam ruangan kecil itu. Apalagi jika pembunuhan ini dilakukan piaumoay ku, dia terlebih tak mungkin akan meninggalkan mayatnya ke dalam ruangan yang dekat dengan kamar tidur pribadinya" "Dalam hal ini kau tidak perlu menguatirkan cara kerja kami sebab kami sudah mempunyai alasan yang paling bagus untuk menerangkan kesemuanya itu"

"Aku percaya, tapi aku yakin semua penjelasan kalian hanya berdasarkan perkiraan"

Nyo Sin tidak menyangkal akan hal tersebut. Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh:

"Nyo tayjin, pernahkah kau mencurigai seseorang lain yang bisa jadi sedang menfitnah kami berdua atau ada orang lain yang menjadikan kami berdua sebagai kambing hitam atas perbuatannya?"

"Hmm, siapa yang sudi mengkambing hitamkan kalian berdua?" jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Mungkin saja semuanya ini merupakan ulah dari Si Siang- ho"

"Si Siang-ho?" Nyo Sin mengerutkan dahinya, "nama ini rasanya seperti pernah kudengar disuatu tempat"

"Si Siang-ho adalah pemilik lama gedung perpustakaan Ki po cay ini" Tu Siau-thian segera menerangkan.

Begitu dijelaskan, Nyo Sin seakan teringat kembali akan orang tersebut, serunya tertahan:

"Oooh, rupanya dia!"

Sementara itu Tu Siau-thian telah berpaling ke arah Siang Hu-hoa sambil bertanya:

"Saudara Siang, pernah mendengar nama orang ini?" Siang Huhoa manggut-manggut.

"Si Siang-ho dengan sebilah pedang baja dan tiga buah gelang terbangnya sudah lama menjagoi dunia persilatan, hampir semua anggota persilatan pernah mendengar nama besarnya itu"

"Menurut apa yang kuketahui, dia mempunyai sebuah julukan yaitu Pedang baja gelang terbang!" Tu Siau-thian kembali menjelaskan.