Laron Penghisap Darah Bab 13: Serangan kawanan laron.

 
Bab 13: Serangan kawanan laron.

Bangunan bagian dalam terhitung cukup luas, namun mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apa pun meski seluruh bagian bangunan itu sudah diperiksa dan dilacak dengan seksama.

Akhirnya tibalah mereka di kamar tidurnya Jui Pakhay.

Segala sesuatu benda yang ada didalam kamar itu tertata rapi, biarpun kamar itu tidak terhitung kecil namun segala sesuatunya dapat terlihat dalam sekali pandangan, disana memang tidak terdapat tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Mereka mencoba untuk memeriksa almari baju, namun kecuali tumpukan pakaian, disitu tidak nampak sesuatu yang mencurigakan, bahkan kolong ranjang pun tidak ditemukan sesuatu apa pun.

Kamar tidur ini merupakan tempat terakhir yang mereka periksa, di belakang kamar tidur itu masih tersisa sebuah pintu.

Siang Hu-hoa berhenti sejenak didepan pintu itu, kemudian tanyanya:

Tempat apa yang terdapat di belakang pintu ini?" "Sebuah gudang kecil"

Siang Huhoa segera mendorong pintu itu dan berjalan masuk.

Ruangan dibalik pintu itu memang merupakan sebuah gudang kecil, tidak banyak barang yang tersimpan di situ.

Ruangan itu terbagi jadi dua bagian, satu setengah kaki diatasnya terdapat sebuah loteng yang tidak begitu luas.

Anak tangga yang merupakan jalan masuk menuju ke ruang loteng itu dibangun menempel pada dinding, begitu sempit sehingga hanya cukup dilalui satu orang, pada ujung anak tangga terdapat lagi sebuah pintu.

Pintu itu sama sekali tidak terkunci, hanya ditutup rapat, dibawah pintu merupakan tangga yang terbuat dari kayu.

Ketika mulai melangkah naik ke atas tangga itu, paras muka Siang Huhoa tiba tiba berubah menjadi sangat aneh.

Penghubung ruang kecil dengan kamar tidur hanya berupa sebuah pintu, dinding disekeliling ruangan itu tidak nampak pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada. Biasanya ruang kecil semacam ini pasti gelap gulita dan lagi amat sunyi, tapi anehnya saat ini ruangan tersebut tidak nampak gelap, juga tidak dalam kondisi senyap.

Pintu dalam keadaan terbuka lebar, walaupun tidak bisa dibilang terlalu cerah, paling tidak masih ada secerca cahaya yang menyoroti tempat itu, dengan sendirinya suasana di dalam ruang kecil itupun tidak amat gelap, namun suasana disitu tidak ikut berubah karena kehadiran beberapa orang itu.

Semenjak mereka masuk ke dalam ruangan, disitu sudah terdapat semacam suara yang sangat aneh, seakan ada suara kipas yang digoyangkan terus menerus, "Nguuung,....

nguungg. "

Suara "Nguuung,.... nguungg. " itu tidak terlalu nyaring,

namun lantaran berkumandang dalam lingkungan yang sunyi maka semua orang yang hadir disitu dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Nyo Sin merupakan orang ke dua yang berjalan masuk, ia segera berseru:

"Hey, suara apa itu?"

Tu Siau-thian segera pasang telinga ikut mendengarkan, dia tidak berkata apa apa namun paras mukanya mulai berubah hebat.

Gi Tiok-kun dengan dituntun dayangnya ikut berjalan masuk, namun mimik mukanya sangat wajar, dia seolah sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Siang Huhoa segera mundur satu langkah, menghampiri ke samping Gi Tiok-kun, kemudian tegurnya:

"Enso, apakah kau mendengar sejenis suara yang aneh?" "Suara? Suara apa?" paras muka Gi Tiok-kun tetap kaku. Siang Huhoa tertegun sejenak, kemudian serunya: "Itu suara dengungan aneh, suara yang berbunyi

Nguuung .....nguungg. "

"Tidak....! Tidak ada suara apa apa " sahut Gi Tiok-kun

sambil menggeleng.

Sekali lagi Siang Huhoa tertegun, ditatapnya perempuan itu tanpa berkedip.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, dia hanya berdiri mematung, persis seperti sebuah arca yang terbuat dari tanah liat.

Pada saat itulah tiba-tiba Tu Siau-thian berteriak keras: "Suara itu mirip sekali dengan suara sayap laron penghisap

darah yang sedang berkerumun!"

Begitu teriakan tersebut berkumandang, suasana di dalam ruangan pun seketika serasa membeku bagaikan es.

Nyo Sin adalah orang pertama yang bergidik, teriaknya dengan suara gemetar:

"Berasal dari mana suara itu?"

Tidak seorangpun yang menjawab, kecuali Gi Tiok-kun, hampir semua sorot mata telah tertuju ke atas bangunan loteng.

Sekalipun Nyo Sin sedang berbicara, sorot matanya tetap tertuju ke atas loteng, hal ini membuat semua yang hadir mau tidak mau mesti menahan napas untuk mendengarkan dengan lebih seksama.

Maka terdengarlah suara "Ngungg....nguuung. !" itu

makin lama semakin bertambah jelas dan nyata.

Mendadak Siang Huhoa mulai melangkah maju, langsung berjalan menuju ke depan anak tangga, setelah mendongakkan kepalanya memperhatikan pintu di atas loteng sekejap, dia pun mulai melangkah naik, langkah kakinya amat lambat tapi ringan, meskipun anak tangga cuma terdiri dari berapa buah namun dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.

Setibanya di depan pintu itu, perlahan-lahan dia mulai mendorong dan membuka pintu loteng tersebut, tapi begitu pintu dibuka, suara "Ngungg.... nguuung. !"tadi kedengaran

bertambah nyaring dan jelas.

Siang Huhoa mencoba untuk menengok sekejap ke ruang dalam, tapi paras mukanya seketika berubah sangat hebat.

Buru-buru dia merapatkan kembali pintu loteng kemudian segera beranjak turun dari anak tangga.

Sebenarnya Tu Siau-thian maupun Nyo Sin yang berada dibawah tidak mengetahui apa yang telah terjadi, namun melihat perubahan wajah Siang Huhoa ditambah tindakannya yang meninggalkan loteng dengan gerak cepat, diam-diam mereka ikut terkesiap.

Perubahan air muka Siang Huhoa memang amat tidak sedap dipandang.

Walaupun selisih waktu hanya sekejap, namun air mukanya saat ini tidak ubahnya seperti paras muka seseorang yang sudah terendam ditengah air salju selama setengah harian lamanya, pucat kehijau-hijauan.

"Saudara Siang, sebenarnya apa isi ruang loteng itu?" tidak tahan Tu Siau-thian bertanya.

"Laron penghisap darah!" jawab Siang Huhoa setelah menarik napas panjang.

Walaupun dia telah berusaha untuk menenangkan suaranya, namun baik Tu Siau-thian maupun Nyo Sin dapat mendengar betapa ngeri dan seramnya lelaki itu.

Tanpa sadar paras muka mereka berdua pun turut berubah hebat. "Laron penghisap darah?" seru Nyo Sin tidak tahan. "Benar, beribu ribu ekor laron penghisap darah serta

sesosok tengkorak manusia!"

"Tengkorak manusia?" Tu Siau-thian menjerit kaget. "Tengkorak siapa?" seru Nyo Sin pula. Siang Hu-hoa tidak

menjawab, mendadak dia berpaling seraya berseru:

"Jui Gi!"

Waktu itu Jui Gi sedang berdiri disamping dengan wajah termangu, paras mukanya pucat kehijau hijauan, ketika dipanggil Siang Huhoa, dia nampak sangat terperanjat hingga tubuhnya bergetar keras.

Buru-buru dia maju menghampiri sambil bertanya: "Ada urusan apa tuan Siang?"

"Disebelah sana ada lampu lentera, tolong ambilkan dua untukku!"

"Baik!"

Buru-buru Jui Gi mengundurkan diri, sementara Nyo Sin maju dua langkah ke depan, namun diapun tidak berbicara lagi.

Suasana didalam ruang kecil ini sudah begitu remang, tentu saja suasana diatas ruang loteng itu lebih gelap lagi, apalagi disana tidak ada jendela, bila seseorang telah berubah jadi tengkorak, darimana mungkin kau bisa mengenali raut muka aslinya?

Saat ini tentu saja Nyo Sin pun memahami akan hal tersebut, sebab dia memang bukan seseorang yang kelewat tolol.

Dalam ruangan terdapat lampu lentera, kebetulan jumlahnya ada dua buah. Baru saja Jui Gi menyulut lampu lampu itu, Nyo Sin dan Tu Siau-thian sudah tidak sabar lagi menanti, dengan cepat mereka maju mendekat dan masing-masing menyambar sebuah lampu.

Dua bilah golok panjang pun serentak diloloskan dari sarungnya.

Tu Siau-thian serta Nyo Sin, masing masing dengan tangan kiri memegang lampu, tangan kanan menggenggam golok, dengan satu lompatan sudah tiba didepan anak tangga dan berebut naik ke atas, saat ini perasaan mereka jauh lebih gelisah dan cemas ketimbang Siang Hu-hoa.

Waktu itu, Siang Huhoa sama sekali tidak ikut berebut, dalam keadaan begini perasaan hatinya malah jauh lebih tenang, dia bahkan sama sekali tidak menggeserkan kakinya, walaupun tangannya sudah menempel diatas gagang senjata, pedang itu masih berada dalam sarungnya, hawa pedangpun seolah sudah terpancar keluar, dia memang sudah berada dalam posisi tempur.

Tentu saja sorot matanya telah tertuju ke atas pintu ruang loteng itu.

Pintu sudah didongkel hingga terbuka, didongkel oleh ujung golok Nyo Sin.

Rupanya dia yang pertama-tama tiba diujung tangga, dengan golok ditangan kanannya dia mencongkel pintu hingga terbuka, lampu ditangan kirinya segera didorong masuk ke dalam.

Cahaya lentera yang berwarna kuning seketika berubah menjadi hijau kemala.

Hanya didalam waktu amat singkat, penutup lentera itu sudah dipenuhi oleh laron laron terbang. Laron laron itu berwarna hijau pupus, hijau bagaikan sebuah kemala, sepasang matanya merah membara bagaikan darah segar, laron penghisap darah!

Penutup lampu kini telah berubah jadi penutup laron, ketika cahaya lampu menembusi tubuh laron yang hijau, terpantullah sinar lentera berwarna hijau kemala.

Berpuluh puluh ekor laron penghisap darah seakan terbang bersama, suara "Ngungg....nguuung. ” yang menggema di

udara seakan telah berubah menjadi gelak tertawa seram dari setan iblis.

Kawanan laron penghisap darah itu seakan merupakan jelmaan dari setan iblis yang sedang gentayangan di angkasa.

Nyo Sin hanya merasakan pandangan matanya diselimuti cahaya hijau dikombinasi dengan titik titik merah darah, telinganya menangkap suara gemuruh sayap yang seolah telah berubah menjadi gelak tertawa setan iblis....

Karena dia berdiri persis di depan pintu, kawanan laron penghisap darah itupun persis menyongsong kehadirannya.

Dalam waktu singkat suasana seram menyelimuti seluruh ruangan, sedemikian seram dan ngeri nya hingga susah dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan takut, seram, ngeri dan horor yang mencekam hati Nyo Sin saat itupun sukar dilukiskan dengan ucapan.

Sambil memejamkan matanya rapat rapat dia mulai menjerit, suara jeritannya keras menyayat hati, jeritan yang penuh ketakutan dan kengerian yang luar biasa.

Sedemikian seramnya jeritan ifu sehingga pada hakekatnya tidak mirip dengan suara jeritan seorang manusia.

Tampaknya kawanan laron penghisap darah yang sedang menempel dialas penutup lentera itu ikut dikagetkan oleh suara jeritan, serentak mereka terbang di angkasa dan menyambar kian kemari di udara dengan kalutnya.

Sekejap kemudian kawanan laron penghisap darah itu sudah menerjang diatas tubuh Nyo Sin, menyambar wajahnya......

Biarpun waktu itu Nyo Sin memejamkan matanya rapat- rapat, namun dia sempat merasakan sekujur badannya amat sakit, hidungnya seakan terendus bau anyirnya darah!

"Mereka akan menghisap darahku!"

Sekali lagi Nyo Sin memperdengarkan suara jeritannya yang menyayat hati, dengan sepasang tangan melindungi kepalanya, buru buru dia melarikan diri meninggalkan tempat itu, sedemikian terburunya sampai lampu dan golok miliknya pun dilempar ke lantai.

Dia bahkan sudah lupa kalau tubuhnya berdiri diatas anak tangga, begitu membalikkan badan, seketika itu juga tubuhnya terguling dari atas anak tangga dan terjun bebas ke bawah.

Tu Siau-thian yang mengikuti di belakang Nyo Sin agaknya dibuat terkesiap juga oleh pemandangan yang terpampang di depan mata, rasa terkesiap yang membuatnya tertegun dan tidak mampu berbuat apa apa, bahkan dia seakan lupa untuk memayang tubuh Nyo Sin yang sedang terpelanting jatuh ke bawah.

Padahal meski dia bisa memayang pun belum tentu bisa menghentikan tubuhnya.

Tidak ubahnya seperti sebuah buli-buli kosong, tubuh Nyo Sin terguling ke bawah, jatuh menimpa diatas tubuh Tu Siau- thian.

Maka tubuh Tu Siau-thian pun seketika ikut berubah menjadi sebuah buli-buli dan terguling ke bawah. Kini dihadapan Siang Huhoa telah bertambah dengan dua buah buli-buli yang sedang bergulingan diatas lantai

Ternyata dia tidak maju ke depan untuk membangunkan mereka, dia pun tidak meloloskan pedangnya, untuk sesaat lelaki ini hanya berdiri termangu di tempatnya dan tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Sekalipun tangannya masih menggenggam diatas gagang pedang, namun dia seolah dia sudah lupa kalau benda yang dipegangnya adalah sebilah pedang, dia seperti lupa benda itu dipersiapkan untuk berbuat apa.

Sebenarnya dia sudah berada dalam posisi siap siaga, setiap waktu setiap saat pedangnya bersiap melancarkan serangan, namun dalam waktu sekejap dia seakan sudah terkesima oleh suasana seram dan ngeri yang mencekam sekeliling tempat itu.

Jui Gi, dua orang dayang yang memayang Gi Tiok-kun maupun puluhan orang opas yang ada diluar pintu ikut dicekam oleh perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, paras muka mereka sudah berubah jadi pucat melebihi mayat.

Bahkan ada diantara mereka yang sudah dibuat ketakutan hingga kabur dari situ sambil melindungi kepala sendiri, ada pula yang tergeletak dilantai dalam keadaan lemas tidak bertenaga, rasanya saat itu hanya ada satu orang yang terkecuali, dia adalah Gi Tiok-kun!

Paras muka Gi Tiok-kun sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, dia masih berdiri bagaikan sebuah patung pouwsat.

Satu satunya yang berubah hanya air mukanya, paras muka yang pada dasarnya sudah pucat pias kini bertambah pucat lagi, sedemikian pucatnya hingga mirip mayat yang sudah membujur selama berhari hari.

0-0-0 Lampu yang terguling dilantai sudah padam, dua buah lentera padam hampir bersamaan waktunya.

Tampaknya lantaran kehilangan cahaya kawanan laron itupun seolah kehilangan sasaran, mereka beterbangan di udara beberapa saat lamanya kemudian tiba-tiba berkumpul menjadi satu dan terbang menuju ke luar ruangan.

Diluar pintu ruangan terdapat cahaya, walaupun makhluk semacam laron lebih suka api namun tampaknya takut dengan cahaya langit, itulah sebabnya mereka hanya muncul dikala malam sudah tiba.

Tidak terkecuali pula dengan kawanan laron penghisap darah itu, tapi ke mana mereka akan pergi?

Tidak seorang pun yang memperdulikan pertanyaan ini, semua yang hadir seakan sudah terpengaruh oleh keadaan disitu, seolah sudah terkena teluh, mereka hanya mengawasi perginya kawanan laron penghisap darah itu dengan mata terbelalak dan mulut melongo, tidak terkecuali Siang Huhoa.

Akhirnya kawanan laron itu telah terbang pergi, suara "Ngungg.... nguuung. ” pun makin reda dan akhirnya

lenyap, kini suasana dalam ruangan pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.

Semua suara seakan telah terhenti, bahkan suara dengusan napas pun seakan ikut terhenti.

Semua orang seperti telah berubah jadi orang bodoh, orang blo'on yang tidak tahu apa apa, untuk sesaat mereka hanya berdiri mematung, tanpa bergerak tanpa bersuara.

Suasana benar benar dicekam dalam keheningan yang luar biasa.

Udara yang sejak awal sudah kurang segar di dalam ruang kecil itu kini terasa makin tidak sehat, karena lamat lamat terendus bau busuk yang sangat aneh, bau busuk yang sukar dicerna dengan perkataan. Bau busuk itu seolah berasal dari ruang loteng, bau busuk laron? Atau bau busuk dari mayat yang mulai membusuk?

Seorang dayang yang berdiri disamping Gi Tiok-kun tampaknya mulai tidak tahan dengan bau busuk yang luar biasa itu, tiba-tiba dia mulai muntah........

Isi perut yang tertumpah keluar hanya air pahit, tapi muntahan itu justru seakan telah mengembalikan sukma setiap orang yang sempat hilang untuk sesaat.

Siang Huhoa menghembuskan napas panjang, dia segera maju ke depan dan memungut sebuah lentera diantaranya.

Sebuah lentera masih berada dalam keadaan utuh sementara lentera yang lain sudah hancur berantakan, dia pun mengeluarkan korek api dan menyulut sumbu lampu.

Bersama dengan terangnya cahaya lampu lentera, Nyo Sin dan Tu Siau-thian segera merangkak bangun dari atas tanah, tampaknya mereka tidak sampai terluka gara-gara terjatuh tadi.

Walau begitu, paras muka Nyo Sin telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, bibirnya gemetar keras, sampai lama kemudian ia baru mampu bersuara:

"Jadi jadi makhluk itulah laron penghisap darah?"

"Bee.....benar " jawaban dari Tu Siau-thian

kedengaran sangat lirih karena suara itu seolah muncul dari balik sela-sela giginya.

"Coba tolong periksakan wajahku, apakah ada sesuatu yang tidak beres" pinta Nyo Sin kemudian sambil menunjuk ke wajah sendiri.

Tu Siau-thian segera mengalihkan perhatiannya ke wajah Nyo Sin. Siang Hu-hoa yang ikut mendengarkan pembicaraan itu turut maju menghampiri, dia angkat lampu tinggi tinggi sehingga paras muka Nyo Sin dapat terlihat sangat jelas.

Tampak kilatan cahaya kehijau hijauan memancar dari seluruh wajah pembesar itu.

Ternyata seluruh permukaan wajahnya telah dilapisi oleh serbuk berwarna putih kehijau hijauan, masih untung hanya serbuk laron, sama sekali tidak ada luka apalagi darah.

"Apakah berdarah?" kembali Nyo Sin bertanya. “Tidak!"

Sekarang Nyo Sin baru bisa menghembuskan napas lega, dari dalam sakunya dia mengeluarkan selembar saputangan lalu digosokkan ke atas wajah sendiri.

Sementara itu Tu Siau-thian telah melirik sekejap ke arah pintu ruangan, sambil memperhatikan ruang sempit itu katanya:

"Aku rasa jumlah laron penghisap darah yang berkumpul disana tadi mencapai ribuan banyaknya "

"Ehmmm " Siang Huhoa mengangguk.

Kemudian setelah memandang lagi ruang loteng itu sekejap, Tu Siau-thian berkata lebih jauh:

"Aneh, apa yang sedang dilakukan ribuan ekor laron penghisap darah itu diatas ruang loteng?"

Sebelum Siang Huhoa sempat menjawab, Nyo Sin telah berteriak aneh:

"Mereka sedang melalap daging manusia"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, bahkan dia sendiripun ikut merinding dan bersin berulang kali. Pucat pasi selembar wajah Siang Huhoa, begitu pula dengan Tu Siau-thian, dengan wajah hijau kepucat pucatan ia berbisik:

"Apa kau bilang? Sedang melahap daging manusia?" "Benar" suara Nyo Sin kedengaran gemetar keras, "ketika

kuterangi ruangan dengan lampu, kusaksikan mereka sedang

mengerubungi sesosok jenasah manusia, menempel diatas mayat itu sambil mengeluarkan suara mencicit yang amat menyeramkan!"

"Sesosok mayat atau tengkorak manusia?" Siang Huhoa mencoba menegaskan, nada suaranya kedengaran gemetar juga.

"Yang kusaksikan adalah sesosok mayat"

"Sekarang kawanan laron itu sudah terbang pergi, ayoh kita ke atas dan periksa lagi dengan lebih seksama!"

Dengan membawa lampu untuk menerangi sekeliling tempat itu, Siang Huhoa segera beranjak naik ke atas anak tangga.

Tampaknya nyali orang ini sangat besar.

Ternyata Tu Siau-thian cukup bernyali juga, dia segera mengikuti dibelakang Siang Huhoa, tapi goloknya tetap di persiapkan, tangannya yang menggenggam golok basah oleh keringat dingin.

Kali ini Nyo Sin tidak berani berebut maju ke depan, namun setelah ada dua orang yang bertindak sebagai pembuka jalan, nyali nya tumbuh kembali.

Apalagi saat itu berada dihadapan anak buahnya, kalau tidak ikut naik, jelas dia akan kehilangan muka.

Maka sambil keraskan kepala, dia memungut kembali goloknya yang tergeletak dilantai kemudian sekali lagi menaiki anak tangga. Sebenarnya anak tangga itu cukup kokoh, namun berat badan ke tiga orang itu terhitung lumayan juga, maka begitu Nyo Sin mulai menaiki anak tangga itu, terdengarlah suara mencicit yang sangat keras.

Sebuah suara yang amat menyeramkan dan menakutkan dalam situasi seperti ini.

Biarpun Nyo Sin tahu kalau suara mencicit itu berasal dari anak tangga, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya.

Sekarang dia kuatir anak tangga itu tidak mampu menahan bobot badan mereka hingga patah secara tiba tiba, kalau hal itu sampai terjadi, sekali lagi mereka akan menjadi buli-buli yang bergulingan diatas tanah

Tentu saja dia tidak ingin kehilangan muka lagi dihadapan anak buahnya.

Untung pada saat itu Siang Huhoa sudah meninggalkan anak tangga dan mulai melangkah masuk ke dalam ruang loteng.

Cahaya yang terpancar keluar dari sebuah lentera ternyata masih cukup untuk menerangi seluruh ruangan loteng.

Kali ini cahaya lentera yang terpancar keluar tidak lagi berubah jadi hijau kemala, tidak seekor laron penghisap darah pun yang tampak di dalam ruang loteng, tampaknya rombongan makhluk aneh itu sudah terbang keluar dari tempat itu.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, terenduslah bau busuk yang makin lama semakin tajam dan kuat, sebuah bau busuk yang memuakkan, membuat orang pingin muntah rasanya.

Ternyata Siang Hu-hoa memiliki daya tahan yang luar biasa, dia tidak sampai muntah karena bau busuk yang menyengat itu, namun sekujur tubuhnya kelihatan gemetar keras. Pemandangan yang terpampang dihadapan matanya sekarang sudah tidak mungkin dilukiskan dengan kata "Seram" atau "menakutkan" atau "ngeri" lagi.

Biarpun dia telah berhasil melatih sepasang mata malamnya, namun apa yang terlihat tidak sejelas apa yang terpampang dibawah cahaya lentera saat ini, ketika untuk pertama kalinya dia mendorong pintu dan berjalan masuk, yang terlihat hanya sebuah raut muka yang samar, kendatipun dia segera tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sekarang dia sudah melihat semuanya dengan sangat jelas, ternyata kejadian yang ada di depan mata tidak sesederhana apa yang dibayangkan semula.

Dibawah sinar lentera yang remang, dengan jelas dia saksikan sesosok mayat membujur kaku diatas lantai, bahkan mayat itu sudah berubah menjadi sesosok tengkorak.

Tadi dia mengatakan telah melihat sesosok tengkorak, sementara Nyo Sin bersikeras mengatakan telah melihat sesosok mayat, padahal mereka berdua sama-sama benar, hanya penjelasan diberikan kurang lengkap.

Mayat itu berada dalam posisi duduk bersila ditengah ruangan, bagian tengkuk ke bawah masih tetap berdaging tapi bagian tengkuk ke atas telah berubah menjadi sesosok tengkorak.

Tulang tengkorak yang berwarna putih memucat tampak memancarkan sinar yang amat menyeramkan.

Dibalik kelopak mata tengkorak itu sudah tidak nampak biji matanya, kelopak itu berada dalam keadaan berlubang besar, lamat lamat terlihat cahaya api yang mirip dengan api setan berkelip dari balik lubang hitam itu.

Ketika Siang Huhoa mencoba memperhatikan tengkorak itu, dia segera merasakan kedua lubang mata yang hitam diatas kepala tengkorak itu seakan akan sedang melotot pula ke arahnya.

Biarpun kelopak mata itu sudah tidak punya biji mata, namun seakan masih terdapat biji mata disitu, seakan masih bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Dalam sekejap mata Siang Huhoa segera merasakan suatu pancaran kebencian dan dendam kesumat yang sangat kuat terpancar keluar dari balik kelopak mata yang berlubang hitam itu.

Dia bergidik, dia saksikan hidung tengkorak itupun telah berubah jadi sebuah lubang hitam yang menyeramkan, mulutnya.......

Tengkorak itu tidak bermulut tapi barisan giginya masih utuh, mulutnya dalam keadaan ternganga, seolah sedang mengucapkan kutukan atau sumpah serapa, mata yang memancarkan kebencian dipadukan dengan mulut yang seolah mengucapkan kutukan jahat......

Lidah dimulutnya juga telah lenyap, dari balik lubang mulutnya yang hitam gelap seakan memancarkan selapis uap putih yang lembut dan halus....

Jelas itulah hawa mayat!

Dibawah dagu tengkorak itu masih nampak ada sedikit daging, namun daging disitu pun sudah tidak utuh, sebab daging itu hakekatnya sudah tidak mirip daging tapi lebih mirip ubur ubur.

Hancuran daging itu bergelantungan disepanjang dagunya, daging itu sudah hancur dan membusuk, seakan pernah digigit dan dicincang oleh sekelompok makhluk bergigi tajam.

Benarkah kawanan laron penghisap darah itu selain menghisap darah manusia, juga pandai makan daging manusia? Hanya daging, tidak ada lelehan darah, hancuran daging yang meleleh disepanjang dagu itu bukan saja bentuknya mirip ubur ubur bahkan dalam kenyataan tidak ubahnya seperti ubur-ubur, selain memancarkan cahaya yang menyeramkan, pada setiap ujung hancuran daging itu seakan terdapat setitik air yang sedang menetes jatuh Air mayat!

Kepala tengkorak pun terlihat basah karena cairan air mayat yang sudah membusuk, cairan busuk itu bahkan membiaskan cahaya fosfor yang berwarna putih kehijau- hijauan.

Serbuk laron berwarna putih kehijau-hijauan nyaris hampir menempel diseluruh kepala tengkorak itu bahkan pakaian yang dikenakan mayat itupun penuh bertaburan serbuk laron berwarna putih kehijau hijauan.

Pakaian yang dikenakan mayat tersebut masih berada dalam keadaan utuh, namun sepasang tangannya yang muncul dari balik ujung bajunya tinggal tulang tengkorak berwarna putih pucat.

Tangan itu masih menggenggam sebilah pedang!

Ujung pedang menancap dalam dalam diatas lantai ruangan, sementara tubuh pedang melengkung bagaikan bianglala karena tenaga tekanan dari atas, rupanya jenasah itu tidak sampai roboh ke lantai karena ditunjang oleh kekuatan pedang itu.

Dalam sekilas pandangan saja Tu Siau-thian telah melihat jelas bentuk pedang itu, tidak kuasa lagi dia menjerit kaget.

Nyo Sin segera memburu masuk ke dalam ruangan, begitu memandang pedang tersebut, tidak kuasa lagi dia berseru tertahan:

"Apa benar pedang itu adalah pedang tujuh bintang pencabut nyawa miliknya?"

"Rasanya tidak mungkin salah" jawab Siang Huhoa. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Pedang itu sesungguhnya merupakan pedang pusaka milik keluarga Hiankicu yang diwariskan turun temurun, selama ini Hiankicu hanya mewariskan ilmunya pada satu orang, karena tidak punya keturunan maka pusaka itu dia wariskan kepada muridnya, jadi hakekatnya selain menjadi murid penutup dari Hiankicu, Jui Pakhay juga terhitung anak angkatnya"

"Sekarang kita temukan pedang itu sebagai pedang miliknya, berarti mayat itu mayat itu juga mayatnya?" bisik

Nyo Sin tergagap.

Siang Huhoa menghela napas panjang.

"Menurut apa yang kuketahui, diatas gagang pedang itu tertera beberapa huruf yang berbunyi: Pedang utuh manusia hidup, pedang hilang manusia mati "

"Pedang utuh manusia hidup, pedang hilang manusia mati " Tu Siau-thian turut menghela napas panjang.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh: "Selama ini dia selalu menganggap pedang tersebut

melebihi nyawa sendiri, kalau dia masih hidup, tidak nanti pedangnya ditinggalkan ditempat ini, sekarang kita temukan pedang tersebut tergenggam ditangan sang mayat, sedang dia sendiri hilang tanpa jejak, ini membuktikan kalau mayat ini bukan dia lalu siapa?"

"Aku pun berpendapat begitu, apalagi " tiba-tiba Tu

Siau-thian menghentikan kata katanya. "Apalagi kenapa?" tanya Nyo Sin.

"Pada senja hari tanggal lima belas, yaitu saat untuk terakhir kalinya aku berjumpa dengannya, pakaian yang dia kenakan waktu itu persis sama seperti pakaian yang dikenakan mayat ini" Kali ini paras muka Siang Huhoa benar-benar berubah hebat, rupanya tadi meskipun dia berkata begitu namun dalam hati kecilnya masih menaruh setitik pengharapan kalau dugaannya meleset.

Paras muka Nyo Sin turut berubah hebat, dia pun tidak percaya kalau dikolong langit benar-benar bisa terjadi peristiwa yang begitu kebetulan.

"Kau tidak salah ingat?" tegurnya kemudian. "Komandan, bila kau kurang yakin, panggil saja Tan Piau

dan Yau Kun, suruh mereka ikut kenali, sebab mereka pun ikut

hadir waktu itu"

"Tidak usah, aku tahu kalau daya ingatmu selalu memang bagus" sambil berkata, pembesar itu miringkan kepalanya dan melirik Tu Siau-thian sekejap.

Sudah cukup lama Tu Siau-thian bekerja mengikuti komandannya ini, dia pun sudah amat hapal dengan kebiasaannya, melihat tingkah laku orang tersebut diapun segera tahu kalau ada tugas yang harus dia kerjakan, maka tanyanya:

"Komandan ada perintah apa?"

"Coba dekati gagang pedang itu dan periksa, apakah betul ada ukiran tulisan yang dimaksud"

"Haaahh?" berubah hebat paras muka Tu Siau-thian.

Gagang pedang itu masih tergenggam oleh sepasang tangan mayat tersebut, bila ingin memeriksa ukiran tulisan diatas gagang pedangnya maka dia mesti menarik lepas dulu sepasang tangan sang mayat yang menggenggam kencang itu, tak heran kalau paras mukanya langsung berubah.

Betul mayat itu adalah mayat sahabat karibnya, betul selama dia masih hidup sudah berulang kali dia berjabatan tangan dengannya, tapi sekarang kondisi mayat itu sangat menjijikkan dan mengerikan, cukup dilihatpun sudah membuat perut mual,  apalagi  mesti  menyentuh  dan menyingkirkannya ?

Tampaknya Nyo Sin sudah mengambil ke putusan untuk memaksa Tu Siau-thian melaksanakan perintahnya, melihat keraguan anak buahnya, kembali dia menegur:

"Apakah kau kurang jelas mendengar perintahku?" Tu Siau-thian menghela napas panjang.

"Baiklah, akan segera kulakukan" sahutnya terpaksa.

Sembari berkata dia alihkan sorot matanya ke atas kepala tengkorak itu, baru pertama kali ini dia benar-benar menatap kepala tengkorak tersebut.

Jilatan api berwarna hijau yang seolah memancar keluar dari balik mata tengkorak itu tampak semakin menyala tajam, tengkorak itu seakan sedang balas menatap Tu Siau-thian karena dia merasa sedang diawasi opas itu.

Rasa benci, dendam dan hawa jahat yang terpancar keluar dari mata tengkorak itu terasa makin menebal dan berat.

Hawa mayat yang menyembur keluar lewat rongga giginya pun tampak semakin menebal, dia seolah sedang peringatkan Tu Siau-thian agar tidak menyentuh jenasahnya, kalau tidak, dia akan menurunkan kutukan yang paling jahat terhadap opas itu.

Bagaimanapun beraninya Tu Siau-thian, betapa besarnya nyali orang ini, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya setelah dihadapkan dengan suasana seperti ini.

Padahal dia sudah menjadi opas selama puluhan tahun, entah berapa banyak jenasah yang pernah disentuhnya, namun baru pertama kali ini dia merasa begitu seram, begitu takut dan ngeri untuk menyentuh mayat itu. Tapi akhirnya dia tetap maju mendekat, baginya sekarang, tugas tersebut mustahil bisa dihindari lagi.

Semakin mendekati mayat itu bau busuk yang tersiar keluar makin tebal, dengan pengalaman Tu Siau-thian yang luas, dia segera tahu kalau kematian orang itu paling tidak sudah terjadi dua hari berselang, sebab hanya kematian selama ini akan menghasilkan bau busuk mayat seperti sekarang

Padahal Jui Pakhay sudah lenyap sejak dua hari berselang, tiga hari pun belum sampai.

Pakaian yang sama dengan senjata yang sama pula, tidak bisa disangkal mayat itu adalah mayat dari Jui Pakhay.

Sekarang dia semakin percaya dengan apa yang telah dikatakan Siang Huhoa tadi.

Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Siang Huhoa, tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenali sebilah pedang, apalagi pemilik pedang itu adalah sahabat karibnya.

Sebagai teman karibnya, Siang Huhoa pasti sangat mengenal dengan segala kebiasaan rekannya itu, kalau dia bisa mengenali pedang itu sebagai pedang miliki Jui Pakhay, tentu saja dia pun tahu kalau diatas gagang pedangnya terukir beberapa huruf kecil.

Sekalipun begitu, menurut prosedur dia tetap harus melakukan perintah itu, maka dia tidak keberatan untuk melaksanakan titah dari Nyo Sin, satu satunya hal yang membuat dia merasa keberatan adalah tidak seharusnya perintahkan dia untuk turun tangan sendiri.

Namun dalam keadaan seperti saat ini, tentu saja dia tidak bisa protes dan tidak mungkin untuk protes, maka setelah maju ke depan, dia pun mengeluarkan sebuah saputangan lalu dibalutkan di tangan kanannya.

Dengan hidung berkerut, sorot matanya mulai dialihkan ke tangan mayat itu, sepasang matanya sengaja disipitkan, agar wajah seram dari tengkorak itu terlihat agak samar. Untung keadaan dari sepasang tangan itu tidak terlampau mengerikan.

Dengan tangan kirinya dia cengkeram gagang pedang, tangan kanannya segera menggenggam tangan kiri mayat itu.

Walaupun sudah dilapisi dengan sapu tangan namun dia masih bisa merasakan kalau tangan yang digenggamnya hanya sekerat tulang, pada saat itulah bau busuknya mayat terendus makin berat dan tebal.

Sambil menahan diri Tu Siau-thian mencoba untuk menarik tangan itu, padahal dia sudah mengerahkan tenaga cukup besar namun usahanya untuk menarik lepas gagang pedang dari genggaman tangan mayat itu tetap tidak berhasil.

Dia mencoba untuk menarik tangan yang lain, namun hasilnya sama saja.

Sangat aneh, kenapa genggaman sepasang tangan mayat itu bisa begitu kuat? Kenapa tangannya yang menggenggam gagang pedang susah dilepaskan. Tapi kesemuanya ini semakin membuktikan sesuatu yakni tidak mungkin pedang itu disusupkan ke tangan mayat tersebut setelah kematian orang itu, kalau hal ini yang dilakukan, tidak mungkin tangan mayat itu bisa menggenggam gagang pedang sedemikian kencangnya.

Orang mati tidak akan menggenggam pedangnya sangat kencang, dengan perkataan lain, sewaktu orang ini menemui ajalnya, dia berada dalam kondisi menggenggam pedang itu.

Jika pedang ini benar benar adalah pedang tujuh bintang pencabut nyawa, bukankah hal ini semakin memperkuat bukti bahwa sang korban adalah Jui Pakhay?

Hanya Jui Pakhay seorang yang menganggap pedang tujuh bintang lebih berharga daripada nyawa sendiri, hanya dia seorang yang tidak akan melepaskan senjatanya sampai maut menjemput dirinya.