Laron Penghisap Darah Bab 12: Kabut hujan gerimis.

 
Bab 12: Kabut hujan gerimis.

Dalam ruang batu itu tidak ditemukan jalan keluar yang lain.

Mereka telah menyingkap semua tirai sutera yang melapisi empat penjuru dinding, bahkan permadani yang melapisi lantai pun sudah dibongkar, namun tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

Akhirnya ke empat orang itu menghentikan penggeledahannya.

Siang Huhoa berjalan balik ke tempat semula dan duduk kembali sambil menengok ke arah Nyo Sin.

Kali ini Nyo sin tidak sanggup berkata-kata lagi.

Siang Hu-hoa menunggu beberapa saat, ketika melihat Nyo Sin belum juga bersuara lagi maka dia pun menegur:

"Apakah kau pikir masih ada kemungkinan yang lain?" "Rasanya sudah tidak ada lagi" sahut Nyo Sin sambil

menghela napas. "Kalau memang sudah tidak ada, bagaimana kalau sekarang mendengar kemungkinanku?"

"Aku sudah siap mendengarkan pendapatmu" "Mungkin setelah berteriak kaget dan ketakutan, dia

menyembunyikan diri disini, hingga ruang perpustakaan benar-benar tidak ada orang lagi, dia baru diam-diam membuka pintu rahasia dan pergi meninggalkan tempat ini"

Nyo Sin mengawasi Siang Hu-hoa dengan mata mendelik, dia seakan hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum dia lakukan hal tersebut, Siang Huhoa sudah berkata lebih jauh:

"Apa yang kuuraikan barusan sebenarnya merupakan alasan yang paling pas, sebab kalau tidak. "

"Kalau tidak kenapa?"

"Kita harus menerima kisah tentang laron penghisap darah itu sebagai suatu kenyataan"

Mendadak Tu Siau-thian menimbrung:

"Kalau kudengar dari perkataanmu itu, seolah kau masih curiga kalau kisah tentang laron penghisap darah itu sebenarnya hanya cerita khayalan belaka"

"Benar, aku memang masih curiga"

"Tapi sikap semacam itu rasanya tidak bermanfaat bagi dia" "Memang sama sekali tidak bermanfaat"

Siang Huhoa membenarkan seraya tertawa, "siapa tahu lantaran kelewat jemu dan kesal, dia sengaja mengajak kita semua bergurau"

Tu Siau-thian tahu kalau rekannya tidak serius dengan perkataan itu, maka diapun hanya tertawa tanpa menjawab.

Berbeda dengan Nyo Sin, dia anggap serius perkataan itu, segera bantahnya: "Tapi menurut apa yang ku tahu, dia bukan seseorang yang gemar bergurau"

"Aku tahu, dia memang bukan manusia type itu"

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih jauh:

"Tampaknya kita sudah melupakan tujuan utama kita datang kemari"

Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk mencari buku catatan milik Jui Pakhay yang berisi catatan terperinci tentang pengalamannya.

Seakan baru tersadar dari lamunan buru-buru Tu Siau-thian menyahut:

"Aaah benar, aku rasa buku catatan itu pasti sudah dia sembunyikan disuatu tempat diseputar sini"

Siang Huhoa mengangguk.

"Aku memang tidak menemukan tempat lain yang lebih aman dan lebih rahasia didalam gedung perpustakaan ini selain ruang rahasia ini "

"Tapi buku catatan itu dimana dia sembunyikan?" tukas Nyo Sin tidak sabar.

"Jauh diujung langit, dekat di depan mata" jawab Siang Huhoa sambil mengalihkan pandangan matanya ke samping meja.

Diatas meja itu tergeletak berpuluh gulung lukisan, dibawah tumpukan lukisan terlihat sepucuk sampul surat.

Setiap gulung lukisan yang tertumpuk disitu bukan berisi lukisan berharga, melainkan tertulis tanggal hari dan bulan.

"Bulan tiga tanggal satu...... bulan tiga tanggal dua bulan

tiga tanggal tiga bulantiga tanggal empat belas!" Mungkinkah catatan yang sedang mereka cari ada di tumpukan lukisan itu?

Tanpa terasa Nyo Sin, Tu Siau-thian maupun Jui Gi berjalan mendekat dan mengelilingi meja itu.

Mula-mula Siang Hu-hoa mengambil dulu surat itu, ternyata surat tersebut bukan ditujukan kepadanya, diatas sampul surat itu tertulis dengan jelas bahwa surat itu dititipkan sementara waktu kepadanya, bila Jui Pakhay sudah mati maka diminta untuk menyerahkan surat tersebut kepada Ko Thian- liok.

Dalam sekilas pandang Tu Siau-thian dapat melihat kalau surat itu persis sama bentuknya dengan surat yang diserahkan Jui Pakhay kepadanya pada malam tanggal lima belas dan hingga kini masih tersimpan dalam sakunya.

Sampul surat yang sama dengan tulisan yang sama pula. Dengan keheranan Siang Hu-hoa berpaling ke arah Tu

Siau-thian, kemudian tegurnya: "Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Buru-buru Tu Siau-thian menjelaskan apa yang dialami pada malam tanggal lima belas serta apa saja yang dikatakan Jui Pakhay kepadanya.

Siang Huhoa mendengarkan dengan serius, sampai Tu Siau-thian menyelesaikan kata-katanya, dia baru berkata:

"Cara kerja orang ini selamanya memang teliti dan cermat"

Tu Siau-thian manggut membenarkan, dia simpan kembali surat miliknya.

Siang Huhoa memasukkan pula surat itu ke dalam sakunya, kemudian baru berkata lagi:

"Sebelum membuktikan kematiannya, lebih baik kita berdua masing-masing menyimpan sepucuk surat tersebut, jika nanti sudah terbukti kalau dia memang mati, barulah kita serahkan surat tersebut ke alamat yang bersangkutan"

"Kelihatannya dia memang bermaksud begitu"

Maka Siang Huhoa mengambil gulungan kertas yang bertuliskan tanggal satu bulan tiga, ujarnya:

"Sekarang kita harus mulai memeriksa isi lukisan ini"

Sambil berkata dia mulai membuka gulungan lukisan itu dan dibentangkan diatas meja.

Ternyata gulungan kertas itu bukan berisi lukisan tapi penuh dengan tulisan, catatan kisah kejadian yang dialami pada tanggal satu bulan tiga.

0-0-0

Malam tanggal satu bulan tiga, untuk pertama kalinya Jui Pakhay bertemu dengan laron penghisap darah.

Dengan ilmu pedang andalannya, tujuh bintang perenggut nyawa, pedang sakti pencabut sukma, dia melancarkan serangan namun gagal membinasakan laron penghisap darah itu.

Baru saja serangan dilancarkan, mendadak laron penghisap darah itu hilang lenyap tidak berbekas, lenyap bagaikan setan iblis.

0-0-0

Lukisan Jui Pakhay tidak bagus, ternyata tulisannya jauh lebih payah apalagi ditulis dalam keadaan tergesa-gesa, tulisannya benar benar sangat payah seperti tulisan cakar ayam.

Masih untung apa yang dituturkan dalam tulisannya itu merupakan sebuah kisah kejadian yang sangat menggidikkan hati, sekalipun tulisannya jelek, orang tetap tertarik untuk membacanya hingga selesai. Empat belas gulung kertas lukisan berisikan catatan lengkap tentang peristiwa yang terjadi selama empat belas hari.

Satu gulung menandakan satu hari.

Dibawah sinar lentera yang redup, dari balik tulisan yang tertera diatas gulungan kertas itu seolah terpancar keluar hawa siluman yang sangat kental.

Hawa siluman yang aneh, hawa siluman yang mengerikan dan menakutkan.

Tanpa terasa ke empat orang itu bergidik, bulu roma bangun berdiri, namun pandangan mata mereka seolah sudah tersihir, sulit dialihkan lagi dari atas gulungan kertas itu.

0-0-0

Bulan tiga tanggal satu, bulan tiga tanggal dua, bulan tiga tanggal tiga,..........

Pada tiga gulungan yang pertama, Siang Huhoa hanya membuka dan membacanya secara perlahan, namun mulai gulungan ke empat, gerakannya dilakukan semakin cepat, semakin dibaca dia membuka gulungan tersebut semakin cepat.

Ternyata sorot mata Tu Siau-thian Nyo Sin dan Jui Gi ikut bergerak mengikuti ke arah mana Siang Hu-hoa bergerak.

Ketika selesai membaca ke empat belas gulung tulisan itu, Siang Huhoa merasa napasnya sesak dan nyaris tidak bisa menghembuskan napas lagi.

Tu Siau-thian bertiga pun ikut menjadi sesak napas, hawa siluman seolah memancar keluar dari balik gulungan kertas dan mulai menyelimuti seluruh ruangan batu.

Ketika Siang Huhoa meletakkan kembali gulungan kertas ke sepuluh, sepasang tangannya meski tidak sampai membeku kaku saking dinginnya, namun seluruh tubuhnya sudah bermandikan peluh dingin.

Paras muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah pucat pias, sementara Jui Gi berdiri dengan badan gemetar keras.

Mereka semua ikut merasakan ketakutan, ngeri dengan teror seperti apa yang dialami Jui Pakhay waktu itu.

Untuk sesaat ke empat orang itu tidak mampu berkata kata, mereka tidak mampu melakukan gerakan apa pun, seakan akan semuanya sudah dibuat beku dan kaku oleh gulungan hawa siluman dalam ruangan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Tu Siau-thian memecahkan keheningan:

"Kejadian ini menyangkut nama baik bininya, tidak heran kalau sulit baginya untuk bercerita"

"Tapi apa benar bininya adalah jelmaan dari laron

penghisap darah? Apa benar dia adalah siluman laron?" kata Nyo Sin.

Tu Siau-thian tidak menjawab, dia memang tidak tahu bagaimana meski menjawab pertanyaan itu.

"Aku tidak percaya kalau semua kejadian itu adalah nyata!" mendadak Jui Gi berteriak keras.

Kalau dia tidak percaya, lalu siapa pula yang percaya? Nyo Sin tertawa getir, ujarnya tiba-tiba:

"Kau tidak percaya? Jadi kau anggap majikanmu sedang berbohong?"

Jui Gi kontan tertegun, dia jadi gelagapan dan tidak mampu menjawab.

Sementara itu Nyo Sin sudah berpaling ke arah Siang Hu- hoa seraya bertanya: "Bagaimana menurut saudara Siang?"

Siang Huhoa hanya menghela napas tanpa menjawab. Dia pun sama seperti yang lain, tidak tahu harus menjawab apa.

Kalau dibilang Jui Pakhay kurang waras otaknya, mustahil dia bisa menuturkan semua pengalamannya secara terperici dalam empat belas gulungan kertas.

Berarti semua peristiwa itu nyata? Tidak ada yang berani mengiayakan.

Sekali lagi Tu Siau-thian memecahkan keheningan, kali ini dia hanya menghela napas panjang.

"Saudara Tu" Siang Huhoa segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Tu Siau-thian, "dalam dua hari belakangan, apakah kau telah bersua dengan bininya?"

"Gi Tiok-kun maksudmu?" seru Tu Siau-thian tertegun. "Memangnya selain Gi Tiok-kun, dia masih mempunyai bini

ke dua?" Siang Hu-hoa balik bertanya keheranan.

"Tidak punya"

"Lantas kenapa kau tunjukkan wajah keheranan ketika aku menyinggung tentang dia?"

"Aku hanya keheranan, kenapa secara tiba-tiba kau menyinggung soal dia"

"Tentu saja ada alasan yang kuat, jawab dulu pertanyaanku"

"Malam tanggal enam belas, dia sudah tahu kalau saudara Jui lenyap tidak berbekas, dia sempat mendatangi ruang perpustakaan untuk mencari berita, kemarin malam ketika aku datang menjenguk untuk menanyakan lagi kabar tentang saudara Jui, dia pula yang muncul untuk menyambut kedatanganku"

"Kalau begitu aneh sekali" "Apanya yang aneh?" Tu Siau-thian tertawa getir. "Kau tidak mengerti?"

"Lebih baik kau terangkan sejelas-jelasnya" sahut Tu Siau- thian sambil menggeleng.

"Barusan kau telah ikut membaca catatan pengalamannya, apakah kau tidak merasa banyak bagian dalam catatan itu yang kelewat emosional?"

Tu Siau-thian membenarkan.

"Bila kita bahas dari catatan yang dia tulis" sambung Siang Huhoa lebih jauh, "maka tidak sulit untuk kita ketahui bahwa dia memang menaruh perasaan takut yang luar biasa, rasa diteror yang membuatnya amat tersiksa, membuat kita bisa menduga bahwa dia mempunyai satu pemikiran yang menakutkan"

"Pemikiran yang bagaimana?"

"Dia ingin sekali membunuh Gi Tiok-kun dan Kwe Bok!" "Bila mereka benar-benar berniat mencelakai aku, akupun

tidak akan berlaku sungkan terhadap mereka, mau manusia

atau siluman laron, aku harus membunuhnya!"

Demikian Jui Pakhay menuliskan jalan pemikirannya dalam gulungan kertas yang bertuliskan bulan tiga tanggal dua belas.

"Benar, tampaknya dia memang punya maksud untuk berbuat begitu" Tu Siau-thian segera teringat pula dengan pernyataan itu.

"Mungkin saja apa yang kukatakan kelewatan batas" Siang Huhoa berkata lebih jauh, "tapi satu hal dapat dipastikan, dia memang amat takut dan ngeri terhadap makhluk yang dinamakan laron penghisap darah itu, kemungkinan besar rasa takut yang berlebihan membuat otaknya jadi tidak waras, akibatnya dia menganggap bininya sendiri sebagai laron penghisap darah" "Bila apa yang dikatakan merupakan kenyataan, Gi Tiok- kun tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang” sela Nyo Sin.

"Kalau otaknya memang tidak waras, matinya Gi Tiok-kun dan lenyapnya dia malah tidak susah untuk ditebak"

Setelah bersin berulang kali, dia melanjutkan:

"Sebab dia bisa beralasan kalau dia membunuh Gi Tiok-kun lantaran sudah menganggap bininya sebagai jelmaan siluman laron, dan dia kabur karena berusaha untuk menyembunyikan diri"

"Kita pun bisa menganggap semua catatan aneh yang dia tuangkan dalam gulungan kertas ini sebagai buah pikirannya yang ngawur dan tidak waras" sambung Siang Huhoa.

Bicara sampai disitu dia menggelengkan kepalanya, setelah berhenti sejenak lanjutnya:

"Persoalannya adalah walaupun Kwee Bok dan Gi Tiok-kun tidak melihat kawanan laron penghisap darah itu, namun bukan hanya dia seorang yang telah menyaksikan makhluk tersebut, selain dia, kaupun sempat melihatnya"

"Benar, aku memang menyaksikannya, waktu itu tanggal dua bulan tiga dan tanggal empat belas, aku masih ingat dengan jelas" Tu Siau-thian menandaskan.

"Justru itulah, kejadian ini baru merupakan satu masalah" tukas Siang Hu-hoa.

"Lantas bagaimana kau menerangkan persoalan ini?" tanya Nyo Sin.

"Penjelasan yang paling masuk diakal adalah satu diantara mereka bertiga ada yang sedang berbohong!"

"Siapa yang kau maksud dengan mereka bertiga?" kembali Nyo Sin menimbrung sembari mengerling sekejap ke arah Tu Siau-thian. "Maksudku Jui Pakhay, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok" Setelah berhenti sejenak kembali tambahnya:

"Tapi uraianku tadi hanya sebatas analisaku pribadi, sebelum melihat sendiri bagaimana bentuk dari kawanan laron penghisap darah itu serta segala kemungkinan yang bisa dilakukan laron laron tersebut, untuk sementara waktu kita tidak bisa seratus persen menyangkal"

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Bagaimana pun juga kita harus temukan dulu Jui Pakhay, kecuali kawanan laron penghisap darah itu selain telah menghisap kering darahnya, juga melahap daging termasuk tulang belulangnya hingga habis, kalau tidak, biarpun dia sudah menjadi orang mati, paling tidak harus meninggalkan jenasahnya"

"Tapi di mana mayatnya sekarang?" tanya Nyo Sin tanpa sadar.

Kontan Siang Hu-hoa tertawa tergelak: "Hahahaha darimana aku tahu?"

Sadar kalau dirinya telah salah bicara, buru-buru Nyo Sin berkata lagi:

"Kalau begitu mari kita periksa lagi dengan hati-hati, siapa tahu kali ini kita akan berhasil menemukannya"

"Sebelum mulai mencari jenasahnya, terlebih dulu kita harus menjumpai dua orang" kata Siang Hu-hoa.

"Siapa?"

"Gi Tiok-kun dan Kwee Bok. Siapa tahu dari mulut mereka kita akan berhasil mendapat keterangan tambahan”'

"Benar, siapa tahu mereka memang jelmaan dari laron penghisap darah atau siluman laron seperti apa yang dicurigai Jui Pakhay" "Kalau benar begitu, urusan malah jadi semakin gampang!" seru Siang Hu-hoa sambil tertawa. Pelan pelan dia membalikkan tubuhnya, kemudian tambahnya, "sebelum meninggalkan ruang perpustakaan ini, aku akan menutup dulu ruang rahasia ini"

"Sudah seharusnya kau berbuat begitu, aku pun akan mengirim berapa orang anak buah untuk berjaga jaga diluar gedung secara bergilir, didalam sini tersimpan begitu banyak harta karum, kalau sampai hilang, siapa yang sanggup bertanggung jawab"

"Kalau hanya harta karun yang hilang, urusan itu lebih gampang diatasi, justru yang paling aku kuatirkan adalah ada orang yang masuk kemari secara sembrono, bila sampai menggerakkan alat perangkap disini bisa berabe nanti!"

"Jadi disini masih terdapat alat perangkap yang lain?" tanya Nyo Sin terperanjat.

"Hasil rancangan dari Hiankicu merupakan sebuah rancangan yang sempurna, menurut apa yang kuketahui, tidak mungkin dia hanya memasang satu dua macam alat perangkap saja"

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa terbahak bahak, serunya: "Bukankah kita sudah menjelajahi hampir seluruh pelosok

ruangan ini, kapan kita menjumpai ancaman bahaya maut?"

"Mungkin saja hal ini terjadi lantaran alat perangkap itu tidak jalan"

Kemudian setelah berpaling ke arah pintu masuk, terusnya: "Kita ambil contoh pintu masuk ruang rahasia itu,

semestinya pintu itupun sudah dilengkapi alat perangkap yang ampuh dan berada dalam keadaan tertutup, tapi sewaktu kita masuk kemari tadi, pintu sudah berada dalam keadaan terbuka, bukankah hal ini merupakan satu contoh yang sangat jelas?" Tidak kuasa Nyo Sin manggut manggut. Kembali Siang Huhoa berkata:

"Jadi menurut pendapatku, mungkin untuk saat ini semua alat perangkap telah dimatikan"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari arah pintu masuk itu sudah berkumandang suara gemerutuk yang sangat aneh.

Paras muka Siang Huhoa seketika berubah hebat, buru- buru serunya:

"Cepat kita tinggalkan tempat ini"

Kalau diapun mendengar suara tersebut, tentu saja Nyo Sin bertiga dapat mendengar pula suara aneh itu.

Paras muka Nyo Sin seketika berubah jadi pucat kehijau- hijauan, tanpa disuruh, dia orang pertama yang kabur lebih dulu dari sana.

Siang Huhoa merupakan orang terakhir yang keluar dari ruangan, ketika kakinya baru melangkah keluar dari balik pintu, pintu rahasia ruang batu itu sudah mulai bergerak pelahan menutup diri.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Tu Siau-thian dengan mata terbelalak.

"Aku sendiripun kurang jelas" sahut Siang Huhoa sambil menggeleng, matanya masih mengawasi pintu ruangan itu dengan pandangan mendelong, "atau mungkin alat perangkap yang kubilang sudah dimatikan, sekarang telah berjalan normal kembali"

"Haai tidak ubahnya seperti ulah setan iblis atau siluman

saja " teriak Nyo Sin ketakutan.

Suara itu berasal dari atas, ternyata dia sudah berdiri disamping ukiran kayu Kwan-im bertangan seriu. Kalau sudah dibikin ketakutan, ternyata kecepatan kabur orang ini jauh lebih cepat daripada larinya seekor kuda.

Perubahan cuaca saja sukar diramalkan, apalagi menduga hati manusia?

Cuaca yang semula terang benderang, entah sejak kapan telah berubah menjadi mendung dan gelap, awan tebal menyelimuti seluruh angkasa.

Ketika sinar sang surya telah menghilang dibalik awan, sewaktu awan semakin tebal dan gelap, hujan pun mulai turun, hujan gerimis yang lembut bagaikan lapisan kabut.

Awan gelap menyelimuti pula sebuah bangunan loteng, tidak terkecuali menyelimuti juga perasaan penghuninya.

Seseorang duduk sendirian ditepi jendela.

Sebenarnya orang itu masih muda, namun masa remajanya seolah sudah lenyap, menguap ke angkasa, yang tersisa tinggal sepasang matanya yang memancarkan kehangatan dan kegairahan seorang remaja, sepasang biji mata yang bening bersinar, bagai dua bara api yang sedang berkobar. Gi Tiok-kun!

Ketika Siang Hu-hoa memandang perempuan itu dari kejauhan, timbul suatu perasaan duka yang aneh didalam hati kecilnya.

Tu Siau-thian, Nyo Sin bahkan belasan orang opas yang mengikuti dibelakang mereka, seolah terbuai juga oleh perasaan duka yang begitu tebal, tanpa terasa muncul perasaan murung diwajah setiap orang, terkecuali satu orang, Jui Gil

Perasaan benci, muak, dendam bercampur aduk dalam benak Jui Gi, hal ini disebabkan dia telah terpengaruh oleh catatan peninggalan Jui Pakhay. Tentu saja seorang pelayan yang setia tidak akan menaruh perasaan simpatik terhadap seorang pembunuh yang dicurigai telah menghabisi nyawa majikannya, yang tersisa dalam benaknya kini hanya kebencian, rasa muak disamping perasaan ngeri dan takut yang aneh.

Bila isi catatan pengalaman itu merupakan suatu kenyataan, berarti Gi Tiok-kun bukan manusia, dia adalah jelmaan dari laron penghisap darah, dia adalah siluman laron!

Jelas kenyataan ini merupakan sebuah kejadian yang mengerikan. Masih untung hingga kini kecurigaan tersebut belum terbukti kebenarannya.

Agaknya Jui Gi masih belum melupakan akan hal ini, dia pun masih mengerti apa status dan kedudukan Gi Tiok-kun hingga kini.

Maka begitu memasuki ruang utama, walaupun dalam hati kecilnya tidak rela, dia tetap menghadap Gi Tiok-kun sambil memberikan salam.

Dengan pandangan hambar Gi Tiok-kun meliriknya sekejap, kemudian menegur:

"Berapa hari belakangan ini, kau telah pergi ke mana saja?" "Menjalankan perintah majikan, mengunjungi

perkampungan Ban hoa sanceng" "Majikan yang suruh kau pergi?"

"Benar!" Jui Gi menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Mau apa majikan mengutusmu pergi ke perkampungan Ban hoa sanceng?" Gi Tiok-kun bertanya lebih lanjut.

"Mengundang kehadiran temannya" "Ooh siapa dia?"

"Pemilik perkampungan selaksa bunga, Siang Huhoa, Siang toaya!" "Apa tamunya sudah datang?" tanya Gi Tiok-kun lebih lanjut setelah berpikir sebentar.

"Sudah datang"

Tergopoh-gopoh Gi Tiok-kun bangkit berdiri lalu memberi hormat, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Siang Huhoa telah berkata duluan:

"Kelihatannya saudara Jui belum pernah menyinggung tentang aku dihadapan enso"

"Satu dua kali pernah disinggung"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, secara beruntun Nyo Sin dan Tu Siau-thian telah berjalan masuk.

Gi Tiok-kun mengerling pada mereka, sekejap kemudian tegurnya:

"Oooh... ternyata Nyo tayjin dan Tu tayjin ikut datang juga" biarpun nada suaranya sedikit kaget, paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Dia memang berasal dari dunia hiburan, tidak aneh bila kenal dengan seorang pembesar macam Nyo Sin.

Nyo Sin serta Tu Siau-thian segera balas memberi hormat, sebelum berkata-kata, Gi Tiok-kun telah berkata kembali:

"Sepagi ini tayjin berdua telah datang berkunjung, apakah sudah mendapat sebuah berita?"

Nyo Sin menggeleng, dalam hati dia tertawa dingin.

"Pintar amat perempuan ini berlagak pilon !" tentu saja

ucapan semacam ini tidak nanti diutarakan.

Sementara itu Tu Siau-thian telah menanggapi, katanya: "Apakah hujin sudah mendapat kabar?"

"Belum, sama sekali tidak ada kabar beritanya" "Sebelum saudara Jui menghilang, pernahkah enso berjumpa dengannya?" sela Siang Hu-hoa.

Gi Tiok-kun berpikir sejenak, kemudian jawabnya seraya menggeleng:

"Rasanya tidak pernah"

"Kapan terakhir kali enso berjumpa dengannya?" "Bulan tiga tanggal tiga belas"

"Waktu itu, apakah saudara Jui sempat mengatakan sesuatu?"

Kembali Gi Tiok-kun menggeleng.

"Tidak sepatah kata pun yang dia ucapkan, ketika melihat aku ditempat kejauhan, tergopoh gopoh dia membalikkan badan dan kabur pergi"

Siang Huhoa termenung sambil berpikir sejenak. Menurut data dalam catatan, pada tanggal tiga belas bulan tiga, seharian penuh Jui Pakhay menelusuri seluruh perkampungan dalam rangka melacak dan mengumpulkan barang bukti.

"Bagaimana dengan bulan tiga tanggal dua belas?" tanyanya kemudian.

Gi Tiok-kun tidak langsung menjawab, dia perhatikan dulu Siang Huhoa dan atas hingga ke bawah, lalu tegurnya:

"Aku lihat paman pasti kerap kali berhubungan dengan orang orang pengadilan"

Mula mula Siang Huhoa agak tertegun, kemudian katanya: "Maksud enso, caraku mengajukan pertanyaan barusan

mirip seorang opas yang sedang memeriksa seorang

tersangka?" "Tidak berani"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: "Sejak permulaan bulan ini, tingkah laku saudaramu itu aneh dan tidak wajar, jauh berbeda dari sikapnya dulu, selama belasan hari belakangan, dia selalu berteriak telah melihat laron penghisap darah, kadangkala dia membuat keonaran dengan mengobrak abrik barang, ada kalanya jendela pun dibongkar sampai hancur, aku amat menguatirkan kesehatan dan keselamatannya, maka pada tanggal dua belas aku mengundang kakak misanku Kwee Bok agar datang memeriksakan kesehatan tubuhnya, ternyata didapati dia dalam kondisi sehat, namun ketika kami sedang makan bersama, ketika dia menyumpit sepotong bola udang masak madu, tiba-tiba dia muntah, katanya bola udang yang dia telan adalah bola daging laron penghisap darah, malah kemudian sambil tertawa kalap dia kabur meninggalkan meja makan. Itulah peristiwa yang terjadi di hari itu"

Ternyata apa yang dituturkan Gi Tiok-kun persis sama seperti apa yang tercatat dalam gulungan kertas catatan Jui Pakhay.

Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Siang Huhoa kembali termenung.

Gi Tiok-kun sendiripun tidak berbicara banyak lagi, dia hanya mengawasi Siang Huhoa tanpa berkedip. Paras mukanya kelihatan putih memucat, sedemikian pucatnya seakan sama sekali tidak ada aliran darah.

Dibalik putih kepucatan terselip pula warna hijau kemala yang bening.

Sewaktu Tu Siau-thian, Nyo Sin dan Jui Gi melirik sekejap ke arahnya, entah mengapa, tiba tiba muncul perasaan bergidik dari hati kecilnya.

Benarkah perempuan ini jelmaan dari siluman laron?

Bahkan Siang Hu-hoa sendiripun mempunyai pemikiran seperti itu. Gi Tiok-kun sendiri seakan tidak menyadari akan hal itu, paras mukanya tetap hambar, kaku, tanpa perubahan mimik wajah sedikitpun, dia ibarat sesosok mayat hidup yang tidak berperasaan.

Kembali Siang Hu-hoa termenung berapa saat, akhirnya setelah menghela napas, katanya:

"Enso, kami mempunyai satu permintaan yang mungkin kurang pantas ”

“Katakan saja berterus terang"

"Kami bermaksud melakukan penggeledahan diseputar gedung ini, apakah enso mengijinkan?"

Gi Tiok-kun melirik sekejap ke arah Tu Siau-thian dan Nyo Sin, lalu mengerling juga ke arah Jui Gi, setelah itu baru sahutnya:

"Kelihatannya keputusanku tidak akan berpengaruh apa- apa lagi "

Siang Huhoa tidak menanggapi, dia hanya membungkam. Sekali lagi sorot mata Gi Tiok-kun dialihkan ke wajah Siang

Huhoa, ujarnya lebih jauh:

"Aku dengar paman adalah seorang yang jujur dan penuh timbang rasa, kelihatannya kau minta persetujuanku karena kuatir aku sedih, padahal pertanyaanmu tidak ada gunanya"

"Ucapan enso kelewat serius!"

"Boleh tahu, apa yang sebenarnya sedang kalian cari?" "Kabar berita saudara Jui"

"Jadi kalian curiga kalau dia bersembunyi disini?" Gi Tiok- kun nampak melengak dan sedikit diluar dugaan. "Kami hanya berharap dapat menggeledah seluruh bangunan yang ada disini, baik bangunan luar maupun bangunan bagian dalam"

"Apakah baru hari ini paman tiba disini?"

Siang Huhoa mengangguk tanda membenarkan. "Apakah tahu juga kalau dalam dua hari belakangan, Tu

tayjin sudah melakukan penggeledahan secara besar-besaran diseluruh perkampungan?" lanjut Gi Tiok-kun.

"Aku tahu cara kerja saudara Tu selalu teliti dan cermat, tapi sayang dia telah melupakan bangunan dalam"

"Bangunan bagian dalam tidak terlalu luas, seandainya ada yang bersembunyi disini, masa aku tidak tahu?"

"Saudara Tu juga  berpendapat  sama,  hanya persoalannya " dia seperti ingin mengucapkan sesuatu,

namun akhirnya diurungkan. "Kenapa?' tanya Gi Tiok-kun cepat.

Siang Hu-hoa menghela napas panjang.

"Masalahnya, mungkin dia sudah bukan seorang manusia hidup lagi"

Berubah hebat paras muka Gi Tiok-kun.

Setelah menghela napas lagi, Siang Huhoa berkata lebih jauh:

"Orang mati tidak nanti bisa menimbulkan suara apa pun" Gi Tiok-kun termenung sesaat, ujarnya kemudian:

"Kalau toh ada kecurigaan semacam ini, alangkah baiknya kalau dilakukan penggeledahan yang seksama, mari, aku akan menjadi petunjuk jalan"

Tidak berani merepotkan enso"

"Tidak jadi masalah" Gi Tiok-kun menggeleng. Perlahan-lahan dia beranjak dari tempat itu, ke dua orang dayangnya tanpa diperintah lagi segera maju dan mendampingi majikannya.

Tapi Gi Tiok-kun segera menggoyangkan tangan kanannya sambil menahan pundak dayangnya itu.

Tangannya kelihatan ramping dan indah, putih bagaikan salju, berkilat bagai batu pualam, sayang tiada warna merah darah sehingga nyaris tidak mirip tangan seorang manusia.

Dia pun memiliki pinggang yang sangat ramping, ketika angin berhembus lewat melalui daun jendela, tubuhnya tampak bergoyang keras seakan segera akan terhempas karena dorongan angin itu.

Siang Huhoa berjalan persis di belakang tubuhnya, dia dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelas.

Dia merasa sedikit tidak percaya, mungkinkah perempuan yang lemah lembut dan tidak tahan hembusan angin, sesungguhnya adalah siluman laron, setan iblis yang telah berubah menjadi laron penghisap darah.