-->

Laron Penghisap Darah Bab 10: Pintu rahasia.

 
Bab 10: Pintu rahasia.

Sorot mata Tu Siau-thian ikut bergerak menyusul gerakan pemuda itu, tiba-tiba dia berseru:

"Aaah. Ada beberapa hal hampir saja aku lupa untuk menyampaikan kepadamu"

"Soal apa?" Siang Huhoa segera menghentikan langkahnya. "Malam tanggal lima belas, ketika aku bersama ke dua

orang anak buahku sedang berjaga di luar gedung

Perpustakaan, tiba-tiba dia membuka pintu dan berjalan keluar, dia mengundangku untuk berbicara"

"Apa saja yang dia katakan?" buru-buru Siang Huhoa bertanya.

"Dia memberitahu kepadaku bahwa Jui Gi sudah diutus ke perkampungan Ban hoa sanceng untuk mengundang kehadiranmu, dia bilang kau pasti akan tiba disini"

"Selain itu?" "Dia pun berkata kalau sebuah catatan terperinci yang berisikan semua kejadian yang dialaminya selama belasan hari ini telah dipersiapkan dan disimpan menjadi satu dengan sepucuk surat"

"Dimana disimpannya?"

"Dia tidak beritahu, katanya dengan kecerdasan dan kemampuanmu seharusnya tidak susah untuk menemukannya"

Mendengar itu Siang Huhoa segera tertawa getir, namun dia tidak berkata-kata.

Setelah berhenti sejenak, kembali Tu Siau-thian berkata: "Katanya, asal kau berhasil mendapatkan kitab catatan itu

dan membaca isinya maka semua kasus peristiwa ini akan

terkuak lebih jelas, tidak sulit bagimu untuk menemukan latar belakang yang sebenarnya dari kematiannya!"

"Kalau kudengar dari penjelasanmu itu, seolah dia sudah tahu bakal mati, sudah tahu kalau keselamatan jiwanya terancam, tapi, kenapa dia tidak mencari suatu tempat yang aman dan mengungsi untuk sementara waktu?" gumam Siang Hu-hoa dengan kening berkerut.

"Sebab dia beranggapan mau lari ke ujung dunia pun tidak ada gunanya, sebab dia tidak akan bisa lolos dari musibah ini"

Setelah menghela napas panjang, kembali meneruskan: "Tampaknya dia seolah-olah sudah yakin kalau kawanan

laron penghisap darah itu adalah jelmaan dari setan iblis, bukankah orang kuno selalu berkata, setan iblis adalah makhluk yang serba tahu dan serba bisa?"

Tanpa terasa Siang Huhoa ikut menghela napas panjang. "Menurut apa yang kuketahui" ujarnya, "selama ini dia

bukan termasuk manusia yang terlalu percaya dengan setan iblis, kenapa dalam waktu singkat pandangan dan prinsipnya bisa berubah drastis?"

Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu sekejap, kembali dia bergumam:

"Gedung perpustakaan Ki po cay bukan terhitung sebuah tempat yang kelewat kecil, memangnya gampang untuk menemukan sepucuk surat dan sebuah buku catatan dari dalam gedung sebesar ini?"

"Kalau dalam hal ini tentu saja kau tidak perlu kuatir" "Oya?"

"Sewaktu dia membuka pintu dan mengajak aku berbicara, dia bilang surat dan buku catatan itu telah selesai dipersiapkan, setelah itu dia tidak pernah melangkah keluar dari gedung perpustakaannya, itu berarti surat dan kitab catatan itu seharusnya masih berada di dalam ruang perpustakaan ini"

"Memangnya segampang itu analisamu?" "Aku rasa analisa ku ini bukan sederhana"

"Bukankah kalian telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk memeriksa dan melacak setiap jengkal tanah disini? Apa hasilnya? Apakah berhasil menemukan sesuatu?"

Tu Siau-thian segera terbungkam, tidak bisa menjawab. Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

"Diantara kalian adakah seseorang yang mengerti soal alat rahasia?"

Tu Siau-thian menggeleng.

"Apakah kau mempunyai kesan tentang seseorang yang bernama Hiankicu?" kembali Siang Huhoa bertanya, "Apakah Hiankicu yang kau maksud adalah seorang ahli tehnik yang amat tersohor itu?"

"Benar, dialah yang kumaksud"

"Apa hubungannya dengan Hiankicu?"

"Dia justru murid adalah terakhir dari Hiankicu"

"Murid penutup?" Tu Siau-thian tertegun, "rasanya belum pernah kudengar dia mengungkap tentang hal ini"

Tapi kemudian setelah tertawa tambahnya: "Sekalipun dia mengerti tentang alat rahasia dan

menyembunyikan barang-barang itu dalam sebuah bilik yang

dilengkapi alat rahasia, tapi setelah melalui pelacakan dan pemeriksaan yang begitu seksama dari kami semua, sehebat dan serapi apapun alat rahasia tersebut semestinya tempatnya sudah berhasil kita temukan"

"Apa benar begitu?" Siang Huhoa tertawa.

Sinar matanya dialihkan ke bawah, lalu tambahnya:

"Kalian sudah memeriksa seluruh permukaan lantai?" "Kalau bisa dibalik, seluruh lantai gedung ini sudah kami

balikan"

"Atap ruangan?"

"Seluruh atap pun sudah kami periksa" "Apakah seluruh dinding ruangan ini ada yang

mencurigakan?"

"Sama sekali tidak" jawab Tu Siau-thian, kemudian setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu tambahnya, "Setiap benda, setiap jengkal tanah ditempat ini sudah kami periksa dengan sangat teliti, andaikata dipasang alat rahasia, dimana dia menaruhnya?"

"Dia bisa memasangnya di segala tempat" "Oya?" perasaan ragu melintas diwajah Tu Siau-thian. Tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya lagi:

"Apakah gara-gara perkataanku tadi, kau baru terbayang kemungkinan di tempat ini sudah terpasang alat rahasia?"

"Tempo hari sudah kupertimbangkan kemungkinan itu, tapi tidak terlalu yakin"

"Oleh sebab itu dalam pemeriksaanmu yang lalu, kemungkinan besar, banyak tempat yang kau lewatkan karena kelalaian, kau mesti tahu, tombol rahasia yang dirancang oleh ilmu rahasia Hiancicu tidak gampang ditemukan"

"Atas dasar apa kau begitu yakin kalau disini sudah terpasang alat rahasia?" tanya Tu Siau-thian mendadak.

"Sebab dibalik perkataannya, secara diam-diam dia sudah memberi tanda"

"Berarti kau telah menemukan sesuatu?"

Siang Huhoa menggelengkan kepalanya sebagai pertanda jawaban, kembali dia menggeser langkah kakinya.

Kali ini dia menggeser langkah kakinya dengan lebih lambat, sementara sinar matanya berubah jadi lebih tajam dan lebih mencorong.

Dia sebentar bergeser, sebentar berhenti, hampir seluruh ruangan dijelajahi satu putaran lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu.

Tu Siau-thian dan Jui Gi mengikuti terus di belakangnya, Nyo Sin yang melihat itu tanpa sadar dia juga mengikuti pula di paling belakang.

Matahari memancarkan sinar emas menyinari seluruh halaman, kabut tipis tampak masih melayang diantara pepohonan dan bunga. Setibanya diluar pintu, Siang Hu-hoa mundur lagi sejauh tiga kaki hingga tiba didepan gardu itu, kini dia berada dua depa jauhnya dan pintu ruangan.

Tu Siau-thian segera menghampiri seraya berseru: "Malam itu kamipun berdiri didalam gardu tersebut sambil

mengawasi gerak gerik di dalam ruang perpustakaan"

"Ehmmm, posisi ini memang cukup strategis" sahut Siang Hu-hoa sambil mengangguk, "satu satunya kelemahan adalah tidak bisa melihat jelas keadaan di belakang ruang perpustakaan"

"Masih untung bagian belakang ruang perpustakaan adalah sebuah dinding tembok, disitu juga tidak ada jendelanya" sela Tu Siau-thian

"Moga-moga saja disitu tidak ada pintu rahasianya" Siang Hu-hoa nyelutuk.

"Pintu rahasia?" Tu Siau-thian melengak keheranan.

Siang Hu-hoa tidak berkata apa apa lagi, dengan langkah lebar dia berjalan balik ke arah ruang perpustakaan.

Tu Siau-thian, Jui Gi dan Nyo Sin segera mengikuti di belakangnya, mereka bertiga seakan telah berubah menjadi anak buahnya lelaki itu.

Ternyata Siang Hu-hoa tidak jadi masuk ke dalam ruang perpustakaan melainkan berjalan mengelilingi seputar gedung.

Gedung perpustakaan itu dikelilingi taman bunga yang sangat luas, waktu itu aneka bunga sedang mekar dengan indahnya.

Meskipun bulan ke tiga sudah berjalan setengahnya namun saat itu memang sedang musim bunga berkembang, mekarnya aneka bunga membuat suasana disitu begitu tenang dan nyaman. Sayang Siang Hu-hoa tidak berminat untuk menikmati keindahan alam, dia hanya berhenti sejenak di bagian belakang gedung perpustakaan itu.

Di bagian belakang gedung ditanam sebatang pohon mawar dan beberapa batang pohon pisang-pisangan.

Gedung perpustakaan itu dibangun menghadap ke timur, waktu itu sinar sang surya yang baru terbit belum lagi mencapai bagian belakang bangunan itu.

Waktu itu sinar mata Siang Hu-hoa sedang tertuju pada dinding di belakang pohon mawar serta permukaan tanah dialas rak mawar.

Setelah berhenti sejenak kembali dia beranjak pergi, mengitari sudut lain dari gedung itu kemudian balik ke pintu depan.

Kini sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya, langkah kakinya jauh lebih ringan dan cepat, seakan setelah berjalan mengelilingi bangunan itu, dia berhasil menemukan sesuatu.

Waktu itu Tu Siau-thian berjalan mengikuti di belakang Siang Hu-hoa, tentu saja dia tidak sempat melihat jelas senyuman itu, dia hanya melihat langkah kaki lelaki tampan itu lebih ringan dan lebih cepat.

Dia segera mempercepat langkahnya mendampingi Siang Huhoa, kemudia bisiknya:

"Siang-heng, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Siang Hu-hoa tidak menjawab, dia hanya mengangguk sambil meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruang perpustakaan.

Nyo Sin yang berada di belakang dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas dan melihat dengan jelas pula, dia segera percepat langkah kakinya, sewaktu memasuki pintu ruangan, dia sudah berebut untuk masuk mendahului Tu Siau- thian.

Siang Huhoa sama sekali tidak menggubris tingkah laku orang ini, dia tetap berjalan masuk ke dalam ruangan dan baru berhenti setelah berada didepan dinding kurang lebih tiga depa dihadapan pintu masuk, perlahan-lahan sorot matanya dialihkan ke atas dinding itu dan menelitinya dengan seksama.

Dinding itu penuh bergantungan lukisan kuno, selain itu juga tergantung dua buah ukiran kayu yang besar lagi tua.

Kedua lembar ukiran kayu itu sama bentuknya, setengah kaki lebar dengan satu kaki tingginya dan masing-masing terpaku di kiri kanan dinding.

Ukiran yang berada disebelah kiri menggambarkan seorang dewi Jian nien Kwan im sementara ukiran disebelah kanan melukiskan seorang Milek Hud.

Walaupun ukiran itu sangat halus dan indah namun bukan hasil karya dari pengukir kenamaan.

Kembali Siang Hu-hoa memeriksa sekeliling dinding itu, lagi lagi sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

Buru-buru Nyo Sin menyusul ke samping Siang Huhoa, setelah mengerling sekejap ke arah lelaki itu, serunya:

"Aku rasa dibalik dinding ini ada hal yang mencurigakan" "Oooh, jadi kau pun berpendapat demikian?" seru Siang

Huhoa seraya berpaling.

Nyo Sin tidak menjawab, dia hanya mengelus jenggot sendiri seraya manggut-manggut.

"Menurut pendapatmu, bagian mana yang mencurigakan?" kembali Siang Huhoa bertanya

"Dinding itu!" Siang Hu-hoa segera tertawa hambar dan tidak bertanya lebih jauh.

Walaupun gerak gerik Nyo sin menunjukkan seolah dia menemukan sesuatu, namun setelah ditanya, segera ketahuan kalau dia tidak tahu apa-apa selain soal dinding itu.

Tu Siau-thian segera memburu maju, tanyanya: "Saudara Siang, sebenarnya apa yang kau temukan?"

"Hanya masalah dinding ini" sahut Siang Huhoa sambil mengalihkan kembali sorot matanya keatas dinding.

Waktu itu sorot mata Tu Siau-thian sudah tertumpu pula pada dinding ruangan, namun setelah diperhatikan sekian lama dia tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh, serunya lagi seraya menggeleng:

"Sebenarnya apa yang aneh dengan dinding ini? Aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan"

"Sekilas pandang dinding ini memang kelihatannya wajar dan tidak ada yang aneh, padahal dibalik semuanya, justru terdapat ketidak wajaran yang amat besar"

"Jangan-jangan diatas dinding ini tersembunyi sebuah lubang rahasia?"

"Bisa jadi sebuah lubang rahasia tapi bisa juga sebuah pintu rahasia, yang jelas sebuah lubang masuk yang berhubungan dengan ruang rahasia dibelakang dinding itu"

"Ruang rahasia di belakang dinding?" seru Tu Siau-thian tertegun.

"Sekalipun di belakang dinding benar benar tersembunyi sebuah ruang rahasia, rasanya hal ini bukan sesuatu yang patut diherankan"

Kontan Tu Siau-thian tertawa terbahak-bahak, serunya: See Yan Tjin Djin "Hahahaha tapi di belakang dinding itu hanya terdapat

sebuah rak yang berisi bunga mawar serta beberapa batang pohon pisang-pisangan"

"Menurut perkiraanmu, seberapa tebal dinding tembok itu?" tiba-tiba Siang Hu-hoa bertanya.

"Ketebalannya paling banter dua depa, bagian tengah yang kosong hanya satu depa, kalau benar disitu ada ruang rahasianya berarti luas ruangan itu hanya satu depa. sama sekali tidak cukup untuk berdiri seorang manusia pun, masa ruangan semacam inipun patut disebut sebuah ruang rahasia?"

"Bagaimana kalau ruangan itu mempunyai luas empat-lima depa?"

"Maksudmu ruang kosong yang terdapat dibalik dinding ini mempunyai luas mencapai empat lima depa?"

"Bahkan bisa jadi lebih dari itu"

"Atas dasar apa kau merasa begitu yakin?" tidak tahan Tu Siau-thian berseru.

"Sewaktu melangkah di dalam ruang perpustakaan tadi, secara diam-diam sudah kuukur panjang lebar dari seluruh ruangan, kemudian setelah aku berjalan mengelilingi halaman luar gedung ini, tiba-tiba kutemukan sesuatu hal"

"Temukan apa?" desak Tu Siau-thian.

"Walaupun sekilas pandang lebar ruang dalam dan halaman luar gedung perpustakaan ini hampir seimbang, namun dalam kenyataan panjangnya terdapat selisih yang cukup besar, panjang ruang dalam perpustakaan itu ternyata tujuh-delapan depa lebih luas ketimbang panjang di halaman depan, kemudian ketebalan dinding di bagian belakang perpustakaan itu rata-rata mencapai dua depa, ini berarti masih ada selisih empat sampai lima depa, lalu ke mana larinya selisih tersebut?" Seketika itu juga Tu Siau-thian jadi paham. Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh:

"Semula kukira bagian belakang perpustakaan itu mungkin cekung ke dalam sepanjang berapa depa, tapi setelah kuperiksa ternyata bukan begitu keadaannya, ini menunjukkan hanya ada satu kemungkinan yakni tempat seluas empat lima depa yang hilang itu kemungkinan besar tersembunyi di belakang dinding itu"

Sambil menuding ke arah dinding dihadapannya, kembali dia berkata:

"Kecuali orang gila, kalau tidak, mustahil seorang normal akan membuat sisi dinding ruangannya setebal tujuh delapan depa, oleh sebab itu aku yakin dibalik dinding ini pasti terdapat ruang kosong, ruangan itu tentu seluas empat lima depa dan lebih dari cukup untuk digunakan berbuat sesuatu"

Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Nyo Sin menyela: "Kalau benar di belakang dinding ini terdapat ruang

rahasia, lalu pintu rahasianya berada dibagian dinding yang

mana?"

Sebelum Siang Hu-hoa menjawab, Tu Siau-thian sudah menyahut duluan:

"Menurut analisaku, besar kemungkinan berada dibelakang ke dua ukiran kayu itu"

"Betul, aku pun berpendapat demikian" Siang Huhoa manggut manggut.

Kemudian sambil meraba ukiran Milek Hud itu, dia berkata lagi:

"Sejak awal aku sudah mencurigai ke dua ukiran kayu itu" "Apakah lantaran ke dua ukira kayu itu tidak serasi digantung bersama dengan sebuah lukisan diatas dinding yang sama?"

Siang Huhoa berpaling dan memandang Tu Siau-thian sekejap, katanya:

"Menggantungkan sebuah lukisan tangan diatas dinding sudah merupakan satu hal yang tidak serasi"

"Aku tidak mengerti soal lukisan"

"Kalau memang begitu, kenapa bisa timbul perasaan kurang serasi dalam hati kecilmu?" sebuah pertanyaan dari Siang Huhoa yang kedengaran sangat aneh.

"Bukan baru kali ini saja kulihat bentuk ukiran semacam ini "

"Lalu biasanya di mana kau menjumpai ukiran semacam ini?"

"Dalam kuil!"

"Bisa saja sebagai umat Buddha dia membeli ukiran tersebut dan digantungkan di rumahnya untuk disembah"

"Sekalipun begitu, jarang ada yang menggantungkan dalam ruang perpustakaan, apalagi menurut apa yang kuketahui, dia bukan penganut Buddha"

Siang Huhoa kembali manggut-manggut. Terdengar Tu Siau-thian berkata lagi:

"Meskipun sejak awal aku sudah merasakan sesuatu yang kurang serasi dengan tempat ini, namun tidak menaruh curiga lebih jauh, sebab belakang dinding itu adalah halaman terbuka, dinding disebelah situ tidak kujumpai sesuatu celah, juga penuh ditumbuhi lumut hijau hingga mustahil terdapat ruang rahasia dibaliknya, permukaan tanah disekeliling tempat itupun tidak meninggalkan jejak pernah diinjak manusia" Setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Apalagi selama berapa waktu belakang, otaknya hanya dipenuhi bayangan setan iblis dan siluman, aku mengira dia sengaja memindahkan ukiran Buddha itu kemari karena ingin mengatasi rasa takut dan seramnya terhadap gangguan setan iblis"

"Tapi rasanya kedua buah ukiran kayu itu tidak mirip baru saja digantungkan disitu"

"Soal itu aku kurang jelas, sebab sejak lima belas hari berselang aku sudah tidak pernah lagi masuk ke dalam perpustakaan ini"

Sorot matanya kembali dialihkan keatas dinding itu, katanya lagi:

"Bagaimana pula lukisan yang tidak serasi bisa tergantung disitu?"

"Coba kau perhatikan lukisan itu" ujar Siang Huhoa sambil menuding sebuah lukisan diantaranya yang tergantung diatas dinding, "menurut kalian, berapa harga lukisan itu?"

Tu Siau-thian tertawa getir, dia bukan orang yang gemar lukisan, mengerti saja tidak, darimana bisa tahu berapa harga dari lukisan itu?

Kembali Siang Hu-hoa berkata:

"Kalau kau membawa lukisan itu ke toko, toko mana pun diseantero negeri, maka kau segera dapat menjualnya dengan harga dua sampai tiga ribu tahil perak"

"Wouw... mahal amat, lukisan siapa sih?" seru Tu Siau- thian tanpa sadar.

"Tong Pek-hauw!"

"Ooh... pantas begitu mahal" Biarpun dia tidak mengerti soal lukisan, nama besar Tong Pek-hauw sudah lama diketahuinya dan dia sadar bahwa orang itu memang seorang pelukis terkenal.

Setelah memandang sekejap sekitar tempat itu, ujarnya lagi:

"Ditempat ini paling tidak terdapat dua puluhan lukisan semacam ini, padahal setiap lukisan bernilai beberapa ribu tahil perak, bukankah sama artinya kalau dijumlahkan seluruhnya sudah bernilai tiga puluh ribu tahil perak? Gila, barang yang begini berharga dia hanya menempelkan diatas dinding, jangan jangan pemilik tempat ini sudah sinting atau tidak waras otaknya?"

"Lagi-lagi kau keliru besar" tukas Siang Huhoa hambar, "kecuali lukisan buah tangan dari Tong Pek-hauw, jika kau bisa menjual gabungan lukisan yang lain senilai seratus tahil perak saja, kau sudah kuanggap luar biasa hebatnya"

"Maksudku lukisan-lukisan yang lain paling banter hanya laku tiga-empat tahil perak?"

"Malah ada empat lukisan diantaranya tidak bakal laku lebih dari satu tahil perak"

Dengan keheranan Tu Siau-thian menatap wajah Siang Huhoa, dia seakan merasa kagum, tapi seakan juga merasa tercengang dibuatnya.

Dengan tenang Siang Hu-hoa berkata lagi:

"Sebab ke empat buah lukisan itu adalah buah karya dia sendiri"

"Waah, kelihatannya kalian memang bersahabat karib hingga dalam sekilas pandang saja kau dapat mengenali lukisan mana yang merupakan hasil karyanya sendiri"

"Menerut spa yang kau katakan, berarti tidak susah untuk bersahabat karib dengannya bukan!" Tu Siau-thian tidak mengerti dengan ucapan tersebut, dia hanya berdiri melongo.

Tampaknya Siang Hu-hoa tahu akan kebingungan orang, segera dia memberi penjelasan:

"Dia sudah meninggalkan nama sendiri diatas ke empat lukisan itu, asal mau diperhatikan dengan lebih seksama, tidak sulit untuk mengetahuinya"

Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, mau tidak mau dia mesti merasa kagum atas kejelian orang ini, manusia teliti dan cermat macam Siang Hu-hoa memang merupakan sesuatu yang langka.

Sejak hadir dalam ruang perpustakaan hingga sekarang, Siang Hu-hoa hanya menghabiskan waktu yang amat singkat, tapi hasil penyelidikannya ternyata jauh lebih banyak ketimbang pemeriksaan nya yang dilakukan selama berhari- hari.

Bukan cuma begitu, pemeriksaan yang berhari hari itu bahkan sama sekali tidak membuahkan hasil apa-apa.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lagi:

"Bagi orang yang sama sekali tidak tertarik dengan lukisan, tidak aneh bila tidak terlalu memperhatikan soal seperti itu"

"Benarkah lukisan hasil karyanya tidak laku barang setahil perak pun?" tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa.

"Harga tersebut menurut penilaianku, dalam pandanganku lukisan hasil karyanya memang tidak laku satu tahil pun"

Setelah tertawa lebar, lanjutnya:

"Dia memang hebat dalam bermain pedang, namun soal lukisannya amat payah!"

"Menurut apa yang kuketahui, dia bukan termasuk orang yang tidak suka menyembunyikan sesuatu dihadapan orang" Siang Huhoa mengangguk.

"Bukan hanya dalam soal intan permata dan mutu manikam, dalam masalah lukisan pun dia punya selera tinggi dan sangat memperhatikan hal hal yang detil, bagi seorang ahli yang mengerti nilai sesuatu benda, masa dia tidak tahu kalau lukisan tersebut adalah lukisan asli dari pelukis Tong Pek-hauw?"

Setelah mengalihkan kembali sorot matanya keatas lukisan itu, katanya lebih jauh:

"Sampai detik ini belum pernah kujumpai ada orang yang berani menggantungkan sebuah lukisan ternama disembarangan tempat, kalau dibilang tujuannya untuk mempamerkan kekayaan, tidak ada alasan untuk menggantungkannya ditempat ini, apalagi sejak tiga tahun berselang dia telah berhasil mengumpulkan tiga lukisan yang lain dari Tong Pek-hauw, kalau ingin pamer kekayaan, paling tidak seharusnya dia gantungkan ke empat lukisan kenamaan itu sekaligus, kenapa sekarang yang digantungkan cuma satu? Bukankah kejadian ini sangat aneh?"

"Itu berarti dia punya maksud lain" seru Tu Siau-thian. "Benar, tombol pembuka pintu rahasia tersebut kalau

bukan terletak diatas ke dua ukiran kayu itu, besar kemungkinan berada di belakang lukisan antik dari Tong Pek- hauw"

Baru selesai dia berkata, Nyo Sin yang berada disampingnya telah memburu maju ke depan dan menyingkap lukisan antik dari Tong Pek-hauw itu.

Gerak geriknya sangat berhati hati, lamban dan seakan sangat menguras tenaga, seperti sedang memegang dua-tiga ribu tahil perak dalam genggamannya.

Siang Hu-hoa tidak berusaha untuk mencegah, dia membiarkan Nyo Sin berulah, sorot matanya justru mengikuti gerak gerik pembesar itu dan dialihkan keatas dinding di belakang lukisan.

Tidak ada lekukan atau tonjolan apapun ditempat itu, permukaan dinding kelihatan rata dan halus.

"Mana tombol rahasianya?" seru Nyo Sin kemudian tertegun.

Siang Huhoa memburu maju ke depan, setelah diperhatikan sekejap tiba-tiba dia menekan beberapa kali diatas permukaan dinding itu.

"Ternyata memang berada disini" serunya dengan senyuman menghiasi wajahnya.

"Sudah kau temukan? Di mana?" sela Nyo sin. "Itu dia, dibalik dinding"

"Kalau begitu biar kuperintahkan orang untuk membongkar dinding ini"

"Tidak usah" Siang Hu-hoa menggeleng, setelah tertawa lanjutnya, "tidak gampang menjumpai kesempatan semacam ini, mari kita kenali lebih jauh kehebatan dan keampuhan alat rahasia yang dirancang berdasarkan ajaran Hiankicu"

Tangannya segera diputar lalu ditabokkan ke tengah dinding itu.

Pukulan tersebut sama sekali tidak menggunakan tenaga, tapi begitu tangannya menempel diatas dinding terdengar suara mantap yang sangat aneh, jelas dalam pukulan tadi dia telah sertakan tenaga dalam yang kuat.

"Triiing!" dentingan aneh seketika bergema dari balik dinding, meski suaranya lirih dan lemah namun Nyo Sin maupun Tu Siau-thian dapat mendengarnya dengan jelas. Rupanya ketika Siang Hu-hoa melepaskan pukulannya tadi, mereka telah menghimpun tenaga sambil pasang mata baik- baik.

Seluruh ruangan perpustakaan itu tercekam dalam keheningan yang luar biasa, menyusul suara dentingan itu, bergema suara gemerutuk yang panjang, suara itupun kedengaran sangat jelas.

Lapisan dinding dimana tergantung dua buah ukisan kayu yang melukiskan Kwan-Im bertangan seribu dan Milek Hud itu segera bergeser ke samping kiri dan kanan, ternyata dinding dengan dua ukiran kayu itu merupakan dua buah pintu rahasia.

Suasana dibalik pintu itu sangat gelap, tapi luasnya memang sekitar empat-lima depa, dibelakang itu terdapat lagi sebuah lapisan dinding, dinding berwarna hitam gelap.

Gelap dan suramnya suasana dibalik pintu rahasia itu mungkin disebabkan warna hitam pekat yang mendominasi warna ruang rahasia itu.

Siang Huhoa memandang sekejap ke pintu sebelah kiri kemudian menengok pula pintu disebelah kanan, untuk berapa saat lamanya dia hanya bisa berdiri tertegun.

Munculnya dua buah pintu rahasia yang sekaligus tampaknya jauh diluar dugaan lelaki tampan ini, dia tidak habis mengerti, sebuah pintu saja seharusnya lebih dari cukup, kenapa harus dibuatkan dua buah pintu rahasia?

Lalu pintu yang manakah merupakan pintu masuk yang sebenarnya? Apa pula gunanya pintu rahasia ke dua?