Laron Penghisap Darah Bab 07: Bianglala melintas dalam keremangan.

 
Bab 07: Bianglala melintas dalam keremangan.

Jui Pakhay termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Melihat sikapnya yang serba ragu, Tu Siau-thian segera menukas:

"Kalau memang kau anggap sulit untuk diutarakan, yaa sudahlah, aku tidak akan memaksamu lebih jauh"

"Ada satu hal aku perlu mengatakannya kepadamu" ujar Jui Pakhay sambil tertawa pahit.

"Katakan saja, akan kudengarkan"

"Setiap kali kawanan laron penghisap darah itu menampakkan diri, tidak setiap kali aku sedang berada seorang diri, tapi selain aku, orang lain yang turut hadir ditempat kejadian sama sekali tidak melihat kehadiran mereka, coba kau bayangkan, aneh tidak kejadian ini?"

"Aaah, masa ada kejadian seperti ini?"

"Masa saudara Tu juga tidak percaya dengan penuturanku?" "Bukan begitu" cepat cepat Tu Siau-thian menggeleng, "tapi jika hal ini merupakan kenyataan, berarti kawanan laron penghisap darah itu memang benar-benar merupakan jelmaan dari setan iblis"

Tiba-tiba ia tertawa getir, setelah termenung sejenak, terusnya:

"Tapi apa benar di dunia ini terdapat setan iblis atau

siluman? Aku tidak percaya!"

"Aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini terdapat setan iblis ataupun siluman, tapi dengan mata kepalaku

sendiri kusaksikan bagaimana ribuan ekor laron penghisap darah itu munculkan diri secara bersamaan waktu, bahkan selain aku seorang, kenyataannya orang lain tidak ikut melihat, lantas bagaimana penjelasannya dengan peristiwa

ini?"

Tu Siau-thian tidak mampu memberi penjelasan, tentu saja dia hanya bisa membungkam diri.

Kembali Jui Pakhay berkata:

"Kecuali mereka yang hadir bersama aku waktu kejadian, aku pun sudah bertanya kepada seluruh penghuni perkampungan ini, tapi jawaban mereka sama, semuanya bilang tidak tahu, kalau hal tersebut bukan merupakan kenyataan maka satu satunya penjelasan adalah mereka semua sedang berbohong kepadaku!"

"Berapa saat berselang, bukankah kau pernah bilang bahwa seluruh penghuni perkampungan ini amat setia kepadamu?"

"Betul, waktu itu aku memang pernah berkata begitu.

Waktu itu aku bisa berkata demikian karena aku selalu melupakan akan satu hal"

"Melupakan apa?" "Hati manusia memang sukar diduga!" sahut Jui Pakhay sambil menghela napas.

"Apakah kau tidak merasa kalau perkataan itu muncul karena luapan emosi?"

Kembali Jui Pakhay menghela napas panjang. "Andaikata mereka semua benar benar setia kepadaku,

tidak membohongiku, urusan ini malah lebih mudah

penyelesaiannya" "Oya?"

"Sebab tinggal tiga kemungkinan yang perlu dibahas, pertama kawanan laron penghisap darah itu memang benar- benar jelmaan dari siluman, karena itu hanya aku sang korban yang bisa melihat kehadirannya"

"Kalau tidak lantas kenapa?"

"Berarti akulah yang sedang berbohong, sengaja mengarang cerita bohong, sengaja menakuti orang dengan cerita horor, atau kalau tidak berarti otakku ada yang kurang beres, segala sesuatu yang kuucapkan hanya muncul dari ilusiku, dari khayalanku saja"

"Waah, bukankah hal ini berarti juga bahwa otak ku pun tidak beres?" seru Tu Siau-thian sambil tertawa tergelak.

Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya menghela napas berulang kali.

Perlahan-lahan Tu Siau-thian mengalihkan sinar matanya ke ujung jari sendiri, ujung jari yang terluka karena tusukan laron penghisap darah, mendadak senyumannya hilang lenyap, katanya:

"Belum tentu kawanan makhluk itu merupakan jelmaan dari setan iblis, tapi wujud dan keberadaan mereka itu nyata dan benar benar ada" Dia memang amat mempercayai pandangan mata sendiri, apalagi saat itu dia sempat menangkap seekor laron penghisap darah dan mencengkeramnya dalam genggaman

Bukankah ujung jarinya telah ditusuk oleh laron penghisap darah itu? Masa kejadian itupun hanya sebuah ilusi? Sebuah khayalan?

Bila otaknya waras, bila pikirannya tidak sinting, tidak gila, semestinya otak Jui Pakhay pun waras dan tidak ada masalah.

Tapi apa yang telah terjadi dalam sepuluh hari itu?

Mengapa Jui Pakhay enggan menceritakannya keluar? Mengapa dia harus merahasiakan semua pengalamannya?

Tanpa terasa sorot mata Tu Siau-thian beralih kembali ke wajah Jui Pakhay, dia menemukan rekannya sedang berdiri dengan mata mendelong, bukan sedang mengawasinya tapi sedang memandang ke tempat kejauhan sana.

Sebenarnya apa yang sedang dia perhatikan?

Tanpa terasa pandangan mata Tu Siau-thian mengikuti arah mata Jui Pakhay dan ikut berpaling.

Dengan cepat dia pun menyaksikan sepasang laron! Mata yang merah padam bagai darah dengan sepasang sayap yang hijau bagai pualam.

Laron penghisap darah! Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian bersin berulang kali, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dibawah sinar matahari senja yang berwarna kuning keemas-emasan, sepasang laron penghisap darah itu nampak lebih cantik, lebih menarik dan sangat aneh.

Mereka terbang berpasangan dan menari di antara kelompok bunga-bunga an yang mekar.

Kelopak bunga nampak berguguran, bergetar ditengah hembusan angin senja yang dingin, apakah bunga bunga itu pun berfirasat? Apakah mereka pun tahu kalau kehadiran sepasang laron penghisap darah itu membawa petaka, membawa bencana besar sehingga mereka ketakutan dan gemetaran?

Ternyata benar juga, bencana memang segera tiba. "Weeesss !" diiringi desingan angin tajam, mendadak

bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya tubuh Jui

Pakhay meluncur ke depan, menerjang ke tengah gerombolan bunga itu.

Belum lagi tubuhnya tiba, serangan pedangnya sudah dilancarkan duluan, pedang jit seng coat mia kiam bagaikan titiran air hujan telah berhamburan disekeliling tempat itu.

Seketika itu juga segerombol bunga-bunga hancur dan berguguran terbabat sambaran pedang yang tajam, apakah sepasang laron penghisap darah itupun ikut tercincang dan mati dengan tubuh hancur?

Ketika serangannya berakhir, tubuh Jui Pakhay ikut melayang turun ke bawah, hujan pedang telah merontokan sebagian besar kuncup bunga ditaman itu.

"Criiing !" pedang telah disarungkan kembali, seluruh

gerakan tubuh Jui Pakhay ikut berhenti, berdiri mematung ditengah guguran bunga, sepasang matanya terbelalak lebar dan sinar matanya berkilauan.

Hampir pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian ikut melayang turun disamping tubuh Jui Pakhay, segera tegurnya:

"Saudara Jui, bagaimana?"

Jui Pakhay mengalihkan sorot matanya menatap tajam wajah Tu Siau-thian, lalu tegurnya:

"Barusan, apakah kau pun ikut melihat ada sepasang laron penghisap darah?"

Tu Siau-thian mengangguk tanpa menjawab. "Apakah kau sedang membohongi aku? Kembali Jui Pakhay bertanya dengan suara dalam.

"Aku rasa tidak ada alasan untuk membohongi dirimu, apalagi sekarang bukan saat yang tepat untuk bergurau"

Mendadak Jui Pakhay mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring.

Gelak tertawa itu kontan membuat Tu Siau-thian tertegun, tidak tahan lagi diapun menegur:

"Hey, apa yang kau tertawakan?"

"Aku benar benar merasa gembira, benar benar merasa riang"

"Oya?" sekali lagi Tu Siau-thian tertegun. Sambil tertawa Jui Pakhay berkata lebih jauh:

"Bila sekali lagi hanya aku seorang yang melihatnya, berarti otakku memang benar benar kurang beres, tapi sekarang kau pun ikut melihatnya bahkan melihat untuk kedua kalinya, hal ini membuktikan bahwa laron penghisap darah memang benar-benar nyata, memang ada makhluk semacam ini di dunia kita, aku sendiripun tidak percaya kalau di dunia ini ada kejadian yang kebetulan, otak kita berdua sama-sama sehat, sama sama tidak ada masalah, tidak mungkin bukan secara kebetulan dikala untuk ke dua kalinya kita berada bersama, kita berdua telah sama sama melihat seeekor makhluk yang tidak mungkin ada di dunia ini"

"Yaa, aku pikir otak kita seharusnya memang tidak ada masalah " ujar Tu Siau-thian sambil mengangguk.

"Sewaktu aku melancarkan serangan pedang tadi, apakah kau sempat menyaksikan sepasang laron penghisap darah itu kabur dari balik jaring pedang?" tiba-tiba Jui Pakhay menukas.

"Rasanya tidak pernah" Tu Siau-thian menggeleng. "Padahal seluruh tubuh mereka sudah terkurung didalam jaring pedang" ujar Jui Pakhay dengan gemas, "tapi begitu aku mulai mempersempit jaring pedang itu, mereka seakan berubah jadi tembus pandang dan lenyap dengan begitu saja bagaikan setan iblis!"

Tu Siau-thian tertawa getir, sorot matanya dialihkan keatas permukaan tanah.

Dia hanya berharap bisa menemukan sebuah saja bangkai laron, sebab hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa laron penghisap darah itu sudah mati karena tusukan pedang tersebut dan apa yang dikatakan Jui Pakhay tidak lebih karena akibat pandangan matanya yang mulai kabur.

Tapi apa yang dia temukan? Hanya hancuran daun-daunan, juga hancuran bunga yang berserakan dimana mana.

Diantara hancuran daun dan bunga itu tidak ditemukan bangkai laron, jangan lagi tubuhnya, biar selembar sayapnya yang kecil pun tidak ada.

Tu Siau-thian segera mengebaskan ujung bajunya, membuat daun-daunan dan bunga-bungaan itu segera beterbangan ke angkasa, namun bangkai laron yang dicari satupun tidak ditemukan, dibawah tumpukan daun dan bunga ternyata memang tidak ditemukan bangkai makhluk kecil itu.

Lantas ke mana perginya laron penghisap darah itu? Masa mereka benar-benar dapat lenyap bagaikan setan iblis?

Apa benar mereka memang jelmaan dari setan iblis atau siluman?

Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang, begitu juga dengan Jui Pakhay, dia pun menghela napas tiada hentinya.

"Apa yang hendak kau lakukan sekarang?" tiba tiba Tu Siau-thian bertanya. "Menunggu mati!" jawaban dari Jui Pakhay ini singkat tapi jelas.

"Apa?" Tu Siau-thian nampak seperti tertegun, "besok sudah tanggal lima belas, berarti kau masih mempunyai waktu satu hari"

"Kau anggap waktu yang tinggal satu hari itu sudah lebih dari cukup untuk menemukan suatu cara yang tepat untuk menghadapi serangan itu?"

"Tapi paling tidak kau toh bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi jauh, pergi tinggalkan tempat ini, atau mungkin mencari sebuah tempat yang rahasia dan bersembunyi sementara waktu, muncullah selewatnya tanggal lima belas"

"Kalau aku kabur dari sini, sejak awal aku sudah pergi meninggalkan tempat ini"

"Lalu kenapa kau tidak pergi dan sini?" tanya Tu Siau-

thian keheranan.

"Seandainya kawanan laron penghisap darah itu benar- benar jelmaan dari iblis atau setan, biar ke mana pun aku pergi, mereka tetap masih bisa menemukan jejakku"

Sekali lagi Tu Siau-thian berdiri termangu, apa yang dikatakan Jui Pakhay memang sangat masuk di akal.

Menurut cerita orang kuno, setan iblis itu tahu segalanya dan mampu melakukan apa pun, mau kabur dan bersembunyi ke dasar tanah pun tidak ada gunanya, sebab akhirnya akan ditemukan juga.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Tu Siau-thian, buru buru serunya:

"Kau bisa kabur ke biara atau kuil Buddha untuk menghindarkan diri"

"Kau anggap aku tidak pernah berpikir sampai ke situ?" Jui Pakhay balik bertanya sambil tertawa. "Menurut apa yang kuketahui, setan iblis pasti akan menghindari tempat tempat suci seperti biara atau kuil Buddha"

"Aku pun tahu kalau diseputar sini banyak terdapat biara atau kuil Buddha"

"Memangnya sudah kau coba cara ini? Sudah tahu dan yakin kalau cara tersebut sama sekali tidak bermanfaat?"

"Aku hanya mengetahui satu hal" "Apa?"

"Walaupun diseputar tempat ini banyak terdapat biara atau kuil Buddha, namun belum uda sebuah tempat pun yang benar-benar merupakan biara atau kuil Buddha yang sangat tenang, juga tidak seorang pendeta suci pun yang terdapat disini"

Tu Siau-thian tidak mencoba untuk membantah apa yang dikatakan Jui Pakhay, tebagai seorang opas, dia memang cukup tahu keadaan diseputar wilayah itu, tidak ada orang kedua yang lebih jelas ketimbang dirinya.

Apa yang diucapkan Jui Pakhay memang benar dan merupakan satu kenyataan.

Maka setelah menghela napas panjang, ujarnya:

"Yaaa, kalau mau bicara jujur, berapa banyak biara dan kuil suci yang terdapat didunia ini? Berapa banyak pendeta suci yang menghuni di sekeliling kita?"

"Apalagi semakin tinggi ajaran To, semakin tinggi pula pengaruh sesat" sambung Jui Pakhay cepat, "sekalipun aku benar benar bersembunyi didalam biara suci, biarpun ada seorang pendeta suci yang mendampingiku, apakah kesemuanya ini menjamin kalau si Raja laron tidak akan munculkan diri?" "Maka kau lebih suka menunggu kemunculan si Raja laron disini?"

"Betul, terus terang, aku sendiripun ingin sekali bertemu dengannya!" kata Jui Pakhay sambil manggut-manggut.

"Oya?"

"Lebih baik lagi bila tiba pada saatnya nanti dia bisa muncul dengan wujud sebagai manusia, dapat berbicara seperti manusia dan memberi kesempatan pula kepadaku untuk berbicara dan mengeluarkan seluruh isi hatiku"

"Kau ingin bertanya kepadanya, mengapa kau yang dipilih sebagai korbannya?"

Sekali lagi Jui Pakhay tertawa sedih.

"Asal dia bersedia memberikan sedikit keterangan kepadaku, aku pun rela mempersembahkan darahku kepadanya, mempersembahkan dengan ikhlas"

Tu Siau-thian tidak bicara lagi, dia tertunduk dengan mulut membungkam.

"Aku hanya menuntut sebuah penjelasan" sambung Jui Pakhay lagi perlahan.

"Yaa, aku sendiripun berharap bisa mendengar sebuah penjelasan" tanpa terasa Tu Siau-thian menambahkan.

"Kalau itu agak sulit, sebab disaat aku memahami semua duduknya persoalan, saat itulah ajalku akan tiba, orang mati kan tidak bisa menyampaikan kabar apa apa"

"Besok malam aku akan mendampingimu setiap saat setiap detik, asal kau diberi penjelasan maka aku pun pasti akan mendengarnya juga" ujar Tu Siau-thian sambil tertawa.

"Jangan, jangan sekali kali kau berbuat begitu!" cegah Jui Pakhay. "Kenapa?" "Sebab kau adalah sahabatku, kau tidak seharusnya mempertaruhkan nyawamu demi seorang teman macam aku"

"Semakin kau berkata begitu, aku semakin harus menyerempet bahaya ini"

Jui Pakhay tidak berbicara lagi, dia hanya mengawasi rekannya dengan mata melotot.

Terdengar Tu Siau-thian berkata lebih jauh:

"Bila kau sudah anggap aku sebagai sahabatmu, kenapa aku tidak boleh memandang kau sebagai temanku? Ketika melihat teman sedang menghadapi kesulitan, masa aku harus berpeluk tangan belaka?"

"Tahukah kau, siapa pun itu orangnya, bila dia berada bersama aku besok malam, besar kemungkinan dia pun akan dijadikan target sasaran dan kawanan laron penghisap darah itu?"

Tu Siau-thian mengangguk.

"Tahukah kau, bila apa yang dikatakan orang benar, kemungkinan besar kawanan laron itu akan menghisap darah dalam tubuhmu hingga mengering?" kembali Jui Pakhay berkata.

Untuk kedua kalinya Tu Siau-thian mengangguk.

"Kalau sudah tahu begitu, kau masih tetap bersikeras akan menyerempet bahaya?" sambung Jui Pakhay.

Sekali lagi Tu Siau-thian mengangguk.

Mendadak Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siau-thian keras keras, serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahaha sahabat karib, sahabat karib!"

"Jadi kau sudah mengijinkan aku untuk mendampingimu besok malam?" tanya Tu Siau-thian. "Tidak, aku masih tetap menolak!" tiba tiba Jui Pakhay menghentikan gelak tertawanya, kemudian setelah menatap wajah Tu Siau-thian sesaat, terusnya, "bila kuijinkan kau mendampingiku, berarti aku lah yang tidak setiakawan"

Sambil menggeleng berulang kali, Tu Siau-thian menghela napas panjang:

"Aaai kau terlalu kolot, terlalu kaku dan keras kepala"

"Betul, memang begitu watakku sejak lahir"

"Tapi sampai waktunya aku tetap akan datang, kau toh tidak mungkin bisa mengusirku" tiba tiba Tu Siau-thian tertawa.

"Karena kau adalah seorang opas?"

"Benar, aku bertanggung jawab untuk menghentikan setiap pembunuhan yang bakal terjadi diwilayahku"

"Tapi berbicara dari kedudukanku dalam masyarakat, masa dikala aku sedang tidur pun kau bisa masuk ke kamarku seenaknya?"

"Baiklah, kalau begitu besok malam aku akan berjaga-jaga diluar kamarmu saja" kata Tu Siau-thian sambil tertawa

"Apakah ada sesuatu yang bisa mengubah rencanamu itu?" "Tidak ada"

Dengan perasaan apa boleh buat Jui Pakhay menghela napas panjang, ujarnya kemudian:

"Asalkan kau tidak menyerbu masuk ke dalam kamarku ketika gerombolan laron itu muncul, semestinya diluar pintu merupakan sebuah tempat yang sangat aman"

Tu Siau-thian segera tertawa tergelak. Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh: "Aku tahu, kau tidak bakal memiliki kesabaran seperti itu, jangan lagi gerombolan laron itu sudah menampakkan diri, asal di dalam kamarku terdapat sedikit gerakan pun mungkin kau sudah menyerbu masuk ke dalam"

"Hey, sejak kapan kau tahu dengan begitu jelas tentang watakku?"

Jui Pakhay tidak menanggapi pertanyaan itu, dia hanya bertanya:

"Besok, jam berapa kau akan datang kemari?" "Semakin awal tentu saja semakin baik"

"Besok, seharian penuh aku akan tetap berdiam di dalam perpustakaan ku"

"Ehmmm, memang tidak salah pilih, pemandangan diluar perpustakaanmu memang cukup indah"

"Memang indah, mungkin pemandangan dikala malam bulan purnama jauh lebih indah lagi, hanya sayang hawa pasti dingin dan angin pasti bertambah kencang"

"Kalau udara terlalu dingin, aku bisa mengenakan pakaian lebih"

"Haai, tidak kusangka kau lebih keras kepala ketimbang aku" keluh Jui Pakhay sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Tu Siau-thian hanya tertawa saja, kemudian dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya:

"Aku masih bermandikan debu dan berwajah letih, kenapa kau tidak memberikan pernyataan apa pun?"

"Semestinya aku harus menjamu kedatanganmu dari tempat yang jauh, hanya sayang perasaan hatiku saat ini sedang kurang baik sehingga aku merasa segan untuk melakukan sesuatu apa pun" "Kalau begitu aku mesti mohon diri lebih dulu?"

Jui Pakhay sama sekali tidak berminat untuk menahannya lebih jauh, dengan menunjukkan perasaan menyesal katanya:

"Bila aku masih tetap hidup selepasnya besok malam, aku pasti akan menjamumu besar besaran dan mengajakmu mabuk selama tiga hari tiga malam"

"Sampai waktunya, jangan lupa kau keluarkan semua arak simpananmu!"

"Asal kita dapatkan kesempatan seperti ini, kau anggap aku merasa sayang untuk mengeluarkan barang barang simpananku?" sahut Jui Pakhay sambil tertawa pedih.

Menyaksikan mimik wajah rekannya yang begitu mengenaskan, tentu saja Tu Siau-thian tidak bisa bicara apa apa lagi, katanya kemudian sambil menghela napas:

"Padahal kau tidak perlu begitu kuatir "

"Aaai apa mungkin aku tidak kuatir?"

Tu Siau-thian tidak bicara lagi, diapun segera berpamitan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Jui Pakhay benar benar tidak menghantar kepergjan rekannya, bahkan dia hanya berdiri mematung ditempat, bergerak sedikitpun tidak.

Matahari senja sudah condong diluar jendela kecil, menyinari tanah lapang diluar dinding pekarangan.

Walaupun malam belum menjelang, namun cuaca lambat laun bertambah gelap dan suram, angin malam yang dingin pun mulai berhembus kencang.

Segulung angin berhembus lewat menyibak mantel panjang yang dikenakan Jui Pakhay, menyibak pula tumpukan daun- daunan yang berada disisi kakinya. Diatas daun terdapat bercak darah, darah itu darah kental, walaupun hanya setetes namun memancarkan sinar yang menyilaukan.

Ketika cahaya darah siluman itu berkelebat lewat kemudian lenyap, daun itu kembali berbalik dan jatuh kembali ke tempat semula.

Jui Pakhay membalikkan badan, sorot matanya mengawasi bayangan tubuh Tu Siau thian yang lenyap di balik pintu didepan situ, ketika kakinya bergeser itulah cahaya darah kembali menampakkan diri.

Bercak darah yang terlihat kali ini bukan berada diatas daun-daunan, juga bukan hanya setitik saja.

Segumpal bercak darah membasahi permukaan lantai, darah itu kental dan bersinar aneh, sebenarnya darah apa itu?

Darah muncul dari bawah kaki Jui Pakhay, mungkinkah darah tersebut adalah darah yang meleleh dari tubuhnya?

Kalau benar darahnya, mengapa dia berdarah?

Darah itu kental bagaikan cairan lem yang telah menggumpal, lamat-lamat terendus pula bau amis yang aneh, bau yang sukar dilukiskan dengan kata, cahaya darah yang aneh membuat suasana disekeliling tempat itu terasa seakan menyeramkan.

Mimik muka Jui Pakhay tiba-tiba mengalami perubahan, raut wajahnya seakan ikut berubah jadi aneh karena pengaruh suasana itu.

0-0-0

Bulan tiga tanggal lima belas, hujan rintik-rintik membasahi bumi disaat senja menjelang datang, ketika malam semakin mencekam jagad, hujan rintik itu seakan buyar terhembus angin malam yang kencang. Perlahan lahan rembulan mulai muncul dari balik awan gelap, sinar yang redup mulai merambah seluruh jagad.

Tanggal lima belas saat bulan purnama, rembulan nampak bulat bagai cermin.

"Aneh " mendadak Tu Siau-thian seperti menemukan

sesuatu, "kenapa seawal ini rembulan sudah menampakkan diri?"

Tidak kuasa dia merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri hingga bersin berulang kali.

Rembulan yang berada diangkasa seakan mendatangkan hawa dingin yang membekukan tubuh, mendatangkan perasaan dingin, aneh, seram bagi siapa pun yang melihatnya.

Sekarang dia sedang berada di dalam perpustakaan Ki po cay.

Karena sejak awal Jui Pakhay sudah meninggalkan pesan, maka begitu Tu Siau-thian muncul disitu, pelayan segera menghantarnya ke ruang perpustakaan dan meninggalkannya di depan ruangan itu.

Memang inilah kehendak Tu Siau-thian sendiri, dia ingin berjaga jaga didepan gedung.

Pelayan itu segera pergi meninggalkan tamunya seorang diri, karena Jui Pakhay telah berpesan pula, bila Tu Siau-thian sudah tiba disana, maka siapa pun dilarang mendekati lagi ruang perpustakaan itu.

Dia memang sengaja berbuat demikian agar tidak menyeret orang lain ke dalam kancah kekalutan ini.

Tu Siau-thian cukup memahami maksud dan niat rekannya itu, maka dia bukan datang seorang diri, dia muncul didampingi dua orang rekan opas lainnya, Tan Piau dan Yau Kun. Kedua orang ini merupakan opas opas andalannya, anak buah yang sangat dipercaya olehnya, mereka miliki kepandaian silat yang cukup tangguh.

Pintu ruang perpustakaan berada dalam keadaan tertutup rapat, biarpun cahaya lentera telah menerangi ruangan itu, namun tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun berada disitu.

Pelan pelan Tu Siau-thian mengalihkan sorot matanya keatas pintu, dia sedang mempertimbangkan haruskah mengetuk pintu ruang perpustakaan atau tidak, dia pingin menyapa Jui Pakhay rekannya itu sekalian memeriksa bagaimana kondisi dalam ruangan itu sekarang.

Belum lagi dia melakukan sesuatu, mendadak pintu ruangan dibuka orang.

Sambil memegangi pintu ruangan dengan kedua tangannya, Jui Pakhay melongok keluar dari balik ruangan, namun dia tidak bertindak keluar dari situ.

Maka sorot mata Tu Siau-thian pun beralih keatas wajah rekannya, tapi dengan cepat dia merinding sambil bersin berulang kali.

Baru berpisah satu hari, raut muka Jui Pakhay telah berubah hebat, kini air mukanya tampak putih memucat, bahkan pucat kehijauan persis seperti wajah sesosok mayat, ketika tertimpa sinar rembulan yang redup, membuat raut muka itu tampil menyeramkan, persis seperti wajah siluman.

Tampaknya sebelum membukakan pintu dia sudah tahu akan kehadiran Tu Siau-thian, tapi diapun seakan baru sekarang tahu akan kehadiran rekannya, suara maupun mimik mukanya nampak dingin, kaku dan sangat aneh.

"Apa yang telah terjadi?" buru-buru Tu Siau-thian bertanya. "Apa yang terjadi?" Jui Pakhay nampak agak melengak, "tidak ada kejadian apa apa disini, kenapa kau mengajukan pertanyaan yang aneh?"

"Masa kau tidak merasa kalau wajahmu nampak jelek sekali?"

Jui Pakhay tertawa getir.

"Kalau orang tidak bisa tidur barang sekejap pun sepanjang malam, seharian penuh mesti bersiap dalam suasana tegang dan panik, apakah tampangnya masih bisa tampil bagus dan enak dipandang?"

"Apa yang kau sibukkan seharian ini?"

"Mencatat semua peristiwa yang telah kualami selama belasan hari ini dalam sebuah kitab catatan "

"Boleh aku melihatnya?"

"Boleh sih boleh, tapi bukan sekarang"

"Kalau bukan sekarang, aku harus menunggu sampai kapan?" desak Tu Siau-thian lebih jauh.

"Tunggu setelah aku mati"

Tu Siau-thian tertegun, berapa saat lamanya dia hanya bisa berdiri mematung tanpa mengucapkan sepat ah kata pun.

Dengan sedih Jui Pakhay berkata lebih jauh: "Seandainya aku tidak jadi mati, maka akan kuusut

peristiwa ini hingga tuntas dan melakukan penyelesaian sesuai

dengan caraku sendiri"

"Bagaimana kalau kau keburu mati duluan?" seru Tu Siau- thian tanpa sadar.

"Cepat atau lambat kau pasti akan menemukan kitab catatanku itu, dengan membaca seluruh rangkaian peristiwa yang kucatat dalam kitab itu, kau bakal paham sendiri hal ikhwal terjadinya peristiwa ini dan tidak sulit untuk menemukan latar belakang yang sebenarnya atas kematianku itu"

Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Kenapa tidak kau tunjukkan kepadaku sekarang saja?

Siapa tahu aku akan menemukan cara penanggulangan yang

belum terpikirkan sebelumnya, siapa tahu dengan cara tersebut nyawamu masih bisa diselamatkan?"

Jui Pakhay menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya:

"Kitab catatan tersebut hanya boleh dibaca setelah aku mati"

"Buat apa sih kau gunakan nyawa sendiri sebagai taruhan untuk membuktikan kebenaran dari semua peristiwa ini?" seru Tu Siau-thian dengan mata terbelalak.

"Sebab hanya cara inilah merupakan satu satunya cara yang terbaik"

"Jadi kau sudah bosan hidup?"

"Siapa yang tidak bosan hidup bila tiap saat tiap detik harus hidup dalam suasana horor dan penuh teror?"

Tu Siau-thian memperhatikan rekannya sekejap, mengawasi dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, kemudian bergumam:

"Aku lihat kau sudah mirip dengan orang gila ”

"Aku justru berharap diriku benar-benar bisa berubah menjadi orang gila!"

Sesudah tertawa getir, lanjutnya:

"Kalau aku berubah menjadi orang gila maka aku tidak perlu menguatirkan persoalan apa pun, juga tidak perlu tersiksa oleh perasaan apa pun, aku tak usah takut, tak perlu kuatir, tak usah tegang dan ketakutan, tak usah marah atau sedih "

Sekali lagi Tu Siau-thian tertegun.