Laron Penghisap Darah Bab 06: Malam bulan purnama.

 
Bab 06: Malam bulan purnama.

Meja perjamuan telah dipersiapkan dalam ruang samping. Disitulah Jui Pakhay biasanya menjamu para tamu-

tamunya, paling tidak Gi Tiok-kun masih teringat dengan

kebiasaan suaminya ini. Dia perintahkan orang untuk menyiapkan enam macam hidangan, lima macam hidangan lezat ditambah semacam hidangan lagi yang masih tertutup dengan kain sutera halus.

Dengan sorot mata berkilat Jui Pakhay menyebutkan nama dari kelima macam hidangan itu satu per satu, akhirnya dia berhenti memandang di atas hidangan yang masih tertutup dengan kain sutera itu, tanyanya keheranan:

"Hidangan macam apa lagi yang ada dibalik kain itu?" "Ooh, hidangn ini adalah bola udang masak madu, sebuah

hidangan yang khusus aku masak sendiri" sahut Gi Tiok-kun sambil membuka penutupnya.

Bola udang goreng yang ditaburi madu bening diatasnya, dihiasi pula denga mentimun yang hijau sehingga bentuk hidangan ini mirip dengan sebuah mutiara berwarna hijau kemala.

Selain indah bentuknya juga lezat rasanya, jelas Gi Tiok- kun sudah menggunakan banyak pikiran dan tenaga untuk mempersiapkan hidangan istimewa ini.

Kwee Bok dengan mata melotot besar sedang mengawasi hidangan bola udang itu tanpa berkedip, wajahnya nampak kerakusannya.

Dilihat dari tampang mukanya, jelas dia merasa tidak asing dengan hidangan tersebut, hunya saja sudah kelewat lama tidak pernah mencicipinya lagi. Sebaliknya Jui Pakhay justru menunjukkan wajah keheranan, dia sepertinya belum pernah mendengar nama hidangan seperti itu, terlebih diapun tidak tahu kalau istrinya memiliki kepandaian sehebat ini.

Ditatapnya wajah perempuan itu dengan termangu, kemudian baru tegurnya:

"Rupanya kau mempunyai kepandaian dihidang memasak?" "Kepandaiannya yang paling utama memang dalam bidang

ini" sambung Kwee Bok sebelum perempuan itu sempat

menjawab.

Tidak nyana sang kakak misan ternyata jauh lebih mengerti ketimbang Jui Pakhay yang menjadi suaminya, bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

"Oya ?" serunya kemudian.

Kembali Kwee Bok berkata:

Bola udang dilapisi madu merupakan hidangan andalannya, buatan dia sangat lezat, sudah tiga tahun aku tidak pernah mencicipinya"

Jui Pakhay merasakan hatinya makin kecut, meski begitu dia sempat tertawa juga, katanya:

"Aneh, aku yang menjadi suaminya malah belum pernah mencicipi"

Meskipun dia masih tertawa namun nada suaranya sudah kedengaran agak berubah, Gi Tiok-kun segera dapat merasakan perubahan itu.

Kwee Bok bukan orang bodoh, tentu saja diapun dapat mendengar perubahan nada suara pembicaraannya, teringat kembali apa yang diucapkan orang itu, kontan wajah pemuda tampan ini berubah menjadi beku.

Setelah tertawa tergelak kembali Jui Pakhay berkata: "Rupanya lantaran kehadiranmu kali ini, dia khusus turun ke dapur untuk mempersiapkan sendiri beberapa hidangan ini, hahaha kelihatannya aku telah membonceng hokkie mu!"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, paras muka Gi Tiok- kun kontan berubah makin tidak sedap dipandang.

Sambil tertawa paksa buru buru Kwee Bok berkata: "Setelah menikah dengan orang kaya, kebanyakan wanita

memang enggan turun tangan sendiri, mungkin lantaran kedatangan aku si piauko kali ini, dia jadi teringat akan kepandaiannya memasak hingga turun tangan sendiri, mungkin dia pingin tahu apakah kepandaiannya masih ada atau tidak "

Kemudian sambil berpaling ke arah Gi Tiok-kun, terusnya: "Bukan begitu maksudmu piaumoay?"

Tentu saja Gi Tiok-kun segera mengangguk berulang kali.

"Aaah, kalau begitu aku harus mencobanya, siapa tahu kalau akupun cocok dengan selera masaknya "

Seraya berkata, kembali dia tertawa tergelak.

Melihat suasana mereda kembali, Gi Tiok-kun maupun Kwee Bok diam diam menghembuskan napas lega.

Kembali Jui Pakhay berkata sambil tertawa:

"Kita semua kan orang sendiri, kenapa mesti sungkan sungkan? Mari, mumpung masih panas, kita makan bersama"

Sambil berkata, dia segera menyumpit sepotong udang dan digigit ke dalam mulut.

"Ciiit......ciiit !" siapa tahu begitu udang tersebut digigit,

bergema suara yang sangat aneh, ternyata bukan udang yang dia gigit melainkan daging seekor tikus. Bangkai tikus! Cairan merah darah segera memancar keluar dari daging yang digigit dan mengalir masuk melalui tenggorokannya.

Cairan darah itu membawa semacam bau busuk yang tidak terlukiskan dengan kata, mirip sekali dengan bau busuk dan bangkai tikus yang mulai membusuk.

Semestinya bau udang tidak seperti bau begini, sudah pasti bukan!

Lalu apa isi bola udang berlapis madu itu? Kenapa baunya mirip bangkai tikus?

Jui Pakhay tidak ingin bersikap kurang sopan dihadapan tamunya, tapi setelah ditahan berapa saat, akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi.

Cairan berbau busuk itu benar benar membuat perutnya mual, membuat dia pusing dan pingin muntah rasanya....

Dan..... "Huaaa !" dia membuka mulutnya lebar-lebar

dan muntahkan keluar bola udang yang ditelannya tadi.

Ketika bola udang terjatuh persis diatas meja, tenhat jelas daging itu telah tergigit hingga nyaris terbelah dua, ternyata isi dibalik bungkusan madu itu bukan daging udang, melainkan seekor laron.

Seekor laron penghisap darah dengan sayap berwarna hijau kemala dan sepasang mata berwarna merah darah.

Bola laron penghisap darah yang dibungkus dengan madu!

Entah laron penghisap darah itu mati karena tergigit atau pada dasarnya memang seekor bangkai laron penghisap darah, yang pasti darah terlihat bercucuran keluar dari tubuh bangkai itu, membasahi lapisan luar madu yang membungkus hidangan tersebut hingga warnanya ikut berubah jadi merah.

Darah yang berwarna merah kental, dengan membawa semacam bau busuk yag sukar dilukiskan dengan kata mengalir masuk melalui tenggorokan Jui Pakhay bau busuk semakin menyebar ke mana-mana.

Masih mending kalau tidak dipandang, begitu dilihat paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagai mayat.

Sambil berpegangan disisi meja, kontan dia memuntahkan seluruh isi perutnya.

Darah laron penghisap darah yang berbau busuk seketika mengotori seluruh permukaan lantai, bukan cuma itu saja bahkan seluruh isi perutnya ikut tertumpah keluar, membuat Gi Tiok-kun serta Kwee Bok berdiri terkesima.

Sorot mata mereka berdua sama-sama bertuju keatas bola udang yang ditumpahkan Jui Pakhay, namun tiada perasaan aneh atau kaget yang terbesit dari wajah mereka, seakan didalam pandangan mereka, benda itu sama sekali tidak aneh atau menakutkan.

Apakah mereka telah menduga benda apa yang berada dibalik bungkusan madu itu? Buktinya mereka tidak ikut memakan hidangan tersebut.

Jui Pakhay masih saja memuntahkan isi perutnya, malah sekarang air getir pun ikut tertumpah keluar.

Paras mukanya yang semula pucat keabu-abuan kini telah berubah jadi merah padam, tubuhnya ikut gontai dan lemas lantaran tumpahannya nyaris telah menguras seluruh isi perutnya, dia nampak sempoyongan seakan setiap saat bisa roboh terjungkal.

Tanpa terasa Gi Tiok-kun dan Kwee Bok bangkit berdiri lalu memburu ke depan dengan langkah cepat, baru saja mereka akan memayang tubuh Jui Pakhay, tiba-tiba lelaki itu mendongakkan kepalanya lalu melotot ke arah mereka dengan pandangan buas.

Dipelototi dengan pandangan yang begitu buas, tangan Gi Tiok-kun dan Kwee Bok yang sudah terangkat pun seketika terhenti ditengah jalan, mereka berdua melengak dan berdiri mematung.

Bersamaan dengan berhentinya muntahan, otot dan kulit tenggorokan Jui Pakhay mulai mengejang keras.

Mulutnya masih ternganga, air liur bercampur sisa muntahan masih meleleh dari ujung mulut, sementara butiran peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi seluruh badan, seluruh otot tubuhnya nyaris ikut mengejang keras, tampang dan mimik mukanya menampilkan perubahan yang sangat aneh, entah dia sedang ketakutan atau justru sedang amat gusar.

Mengawasi wajah suaminya, Gi Tiok-kun tertegun berapa saat lalu tegurnya tanpa terasa:

"Kee kenapa kau?"

Jui Pakhay berusaha mengendalikan ujung bibirnya yang mengejang, dengan susah payah akhirnya bisiknya juga:

"La.....la....ron "

"Apa? Laron? Laron penghisap darah?" mimik muka Gi Tiok-kun menampilkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Jui Pakhay berusaha miringkan badannya, lalu sambil menuding Gi Tiok-kun katanya dengan suara parau:

"Darimana kau dapatkan begitu banyak laron penghisap darah?"

"Laron penghisap darah? Dimana lagi kau jumpai laron penghisap darah?" Gi Tiok-kun menghela napas panjang.

Dengan jari tangan yang gemetar keras Jui Pakhay menunjuk ke arah bola udang bungkus madu diatas piring, serunya:

"Kau.....kau bilang masakan apa itu?" "Bukankah bola udang bungkus madu?" sahut Gi Tiok-kun setelah tertegun sejenak.

"Bola udang? Hahaha.....bola udang. ?" Jui Pakhay

tertawa seram, "benarkah dibalik bungkusan madu itu berisi bola udang?"

"Haii kalau bukan bola udang lantas apa?"

"Apa? Laron! Laron penghisap darah!"

Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya berulang kali tanpa komentar lagi.

Kembali Jui Pakhay berkata:

"Kau sengaja masuk ke dapur mempersiapkan secara khusus hidangan bola udang bungkus madu, sebetulnya hidangan ini kau siapkan untuk siapa?"

Sekali lagi Gi Tiok-kun gelengkan kepalanya dengan mulut terbungkam.

"Mana ada laron penghisap darah?" sela Kwee Bok tiba- tiba.

"Itu dia! Masa kau tidak melihat " teriak Jui Pakhay

gusar.

Sembari berkata, dia menuding kearah bola udang yang baru saja dimuntahkan ke atas meja.

Tadi, bola udang itu berbentuk seekor laron penghisap darah, tapi sekarang telah berubah jadi cairan lebah berwarna kuning emas.

Dalam sekejap mata itu pula mendadak dia merasa mulutnya yang semula berbau sangat amis dan busuk, kini telah berubah jadi harum semerbak seperti harumnya patih bunga.

Jui Pakhay berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar entah berapa lama sudah lewat, kemudian sinar matanya baru pelan-pelan dialihkan ke wajah Gi Tiok-kun berdua.

Saat inilah dia telah menyaksikan dua orang "manusia" yang sangat menakutkan!

Dua orang manusia dengan wajah berwarna hijau kemala, sepasang mata tanpa pupil berwarna merah darah dan bola mata yang menyerupai berapa sarang tawon yang bergabung menjadi satu.

Kalau mereka adalah manusia, kenapa begitu seram tampangnya? Siluman! Pekik Jui Pakhay dalam hati kecilnya.

Belum sempat suara jeritannya terlontar keluar, ke dua siluman menyeramkan itu sudah lenyap tidak berbekas, termasuk juga bayangan tubuhnya, bilang lenyap seakan sudah menguap ke udara.

Yang lebih tepat sebenarnya yang hilang lenyap hanya raut wajah mereka berdua yang menyeramkan itu.

Ke dua lembar wajah siluman itu sebenarnya tidak lenyap dengan begitu saja, yang benar wajah itu sudah tidak lagi berwarna hijau, matanya tidak lagi berwarna merah dan biji matanya yang hitam tidak lagi melotot keluar.

Dua lembar wajah siluman itu telah berubah jadi dua lembar wajah manusia lagi, wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok.

Raut muka berwarna hijau kemala, mata berwarna merah darah, pada hakekatnya mereka berdua merupakan jelmaan dari laron penghisap darah.

Jangan jangan mereka berdua adalah jelmaan dari siluman laron penghisap darah?

Jui Pakhay merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya seolah membeku, ditatapnya wajah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok dengan pandangan kaku. Sebaliknya Gi Tiok-kun dan Kwee Bok juga sedang menatap Jui Pakhay tanpa berkedip, begitu melihat dia berpaling, Kwee Bok segera menegur:

"Dimana sih laron penghisap darah nya?"

Jui Pakhay tidak menjawab, namun sinar matanya lagi lagi mencerminkan perasaan takut dan ngeri yang luar biasa.

Akhirnya Gi Tiok-kun menghela napas panjang, seraya berpaling ke arah Kwee Bok katanya:

"Begitulah kondisinya, berulang kali dia ribut mengatakan telah melihat laron penghisap darah, menurut pendapatku ada baiknya kau periksakan dulu denyut nadinya, mungkin sekarang kau sudah bisa menemukan penyebab penyakitnya"

"Yaa, aku memang punya maksud begitu" Kwee Bok mengangguk.

Baru dia maju dua langkah dan siap memegang nadinya, mendadak terdengar Jui Pakhay menjerit sekeras kerasnya sambil berteriak:

"Jangan dekati aku!"

Teriakan itu sangat aneh dan sangat menggidikkan hati.

Kwee Bok nyaris mati lantaran kaget, sambil paksakan diri tertawa katanya:

"Lebih, baik biarkan aku periksa dulu nadimu" “Apa yang perlu dilihat?" sahut Jui Pakhay dingin,

"sekarang...... sekarang aku semakin mengerti "

Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar pandangan sekejap, seakan mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Jui Pakhay.

"Laron penghisap darah wahai laron penghisap darah!

Sebenarnya apa salahku dengan kalian ?” Setelah bergumam sendirian, tiba-tiba dia mendongakkan kepala nya dan tertawa seram Wajahnya diliputi kedukaan, dibalik gelak tertawanya terselip pula perasaan pedih dan sedih yang luar biasa.

Kembali Gi Tiok-kun dan Kwee Bok saling bertukar pandangan, tiba tiba mereka berdua menghela napas panjang.

"Kelihatannya penyakit lamanya telah kambuh lagi" bisik Gi Tiok-kun sambil menarik napas panjang.

Kelihatannya Jui Pakhay ikut mendengar gumaman itu, mendadak serunya sambil tertawa pedih:

"Yaa betul, penyakit lamaku kambuh kembali!"

Begitu selesai bicara, mendadak dia membalikkan tubuh dan kabur dari situ.

0-0-0

Air dalam kolam teratai terasa dingin bagaikan es.

Jui Pakhay menggunakan sepasang tangannya meraup segenggam air kemudian diguyurkan ke wajah sendiri, gejolak emosinya yang menggelora tadi lambat laun menjadi tenang kembali, perasaan hatinya saat ini tidak ubahnya seperti rerumputan di musim semi.

Ketika Gi Tiok-kun kawin denganku, dia bukan dalam status seorang gadis perawan, walaupun lantaran amat mencintainya aku tidak membongkar rahasia tersebut, juga tidak membuat perhitungan dengan Gi Toa-ma, namun kejadian ini selalu menjadi ganjalan dalam hatiku, aku selalu berharap suatu ketika nanti bisa menemukan orang yang telah merenggut mahkota kegadisannya.

Jangan jangan orang itu adalah kakak misannya, Kwee Bok?

Siapa pun orangnya, bila dia bisa memperoleh gadis secantik dan semenarik Gi Tiok-kun, dapat dipastikan orang itu akan berusaha untuk mempertahankan kepemilikannya, Kwee Bok tidak berani berebut denganku waktu itu dan membiarkan pujaan hatinya kawin denganku, dapat dipastikan karena dia merasa takut untuk berhadapan denganku sehingga tidak berani menampilkan diri dan berebut denganku.

Selama tiga tahun ini bisa jadi dia telah pergi mempelajari semacam ilmu sesat, dan kali ini dia sengaja kembali ke sini untuk merebut Gi Tiok-kun dari tanganku, atau mungkin kemunculan kawanan laron penghisap darah itu ada hubungan dan sangkut pautnya dengannya? Siapa tahu dialah pawang dari laron penghisap darah? Siapa tahu semua peristiwa aneh yang terjadi selama ini adalah hasil karyanya?

Mungkinkah mereka berdua memang jelmaan dari siluman laron penghisap darah? Mungkinkah Kwee Bok memang sengaja membiarkan Gi Tiok-kun kawin denganku, agar setelah saatnya tiba dia bisa muncul dalam wujud aslinya dan menghisap darahku, mencabut nyawaku?

Kalau apa yang diduga memang merupakan satu kenyataan, tujuan mereka jelas tidak akan sedemikian sederhana, mungkinkah hal ini dikarenakan darah yang mengalir dalam tubuhku merupakan sebuah mestika yang luar biasa? Karena itu mereka tidak segan membuang waktu selama tiga tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya?

Kalau bukan karena itu, lantas apa tujuan mereka yang sebenarnya?

Semakin dipikir, Jui Pakhay merasa pikirannya semakin kalut.

Kalau tujuan mereka benar benar berniat akan mencelakai aku, jelas akupun tidak boleh berlaku sungkan lagi terhadap mereka, terlepas dia manusia asli atau jelmaan dari siluman laron penghisap darah, yang penting semuanya harus dibunuh, dibantai sampai habis! Begitu napsu membunuhnya muncul, tanpa sadar Jui Pakhay meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya.

Tapi kesemuanya itu hanya dugaanku sendiri, analisaku sendiri, tanpa diperkuat dengan bukti dan fakta, lebih baik tunggu lagi selama beberapa hari, siapa tahu dalam satu dua hari mendatang aku akan menemukan bukti yang menunjukkan bahwa mereka memang berencana akan membunuhku, nah saat itulah aku baru akan turun tangan.

Berpikir sampai disitu, lambat laun Jui Pakhay mulai mengendorkan kembali genggamannya, genggaman atas gagang pedangnya.

Dia putuskan akan menunggu satu hari lagi.

0-0-0

Bulan tiga tanggal tiga belas, malam ini rembulan nampak tidak utuh, meski tidak terlalu benjol namun masih sebesar setengah bulatan jendela.

Kertas daun jendela ruang Perpustakaan yang menghadap ke arah rembulan telah berubah warnanya menjadi putih kepucat pucatan, pucat seperti wajah sesosok mayat.

Seorang diri Jui Pakhay bersandar diujung pembaringan, dengan tenang mengawasi kertas jendela yang berwarna putih kepucat-pucatan, paras mukanya saat itu berwarna putih juga, putih pucat seperti mayat.

Wajahnya nampak sangat letih, sepasang matanya terbelalak lebar.

Setelah sibuk seharian penuh, dia telah menelusuri hampir setiap sudut ruangan di perkampungan itu, setiap barang milik Gi Tiok-kun sudah diperiksa secara diam diam dan seksama.

Tapi dia tidak berhasil menemukan bukti apa pun, juga tidak berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan, bahkan seekor laron penghisap darah pun tidak dijumpainya. Mungkinkah mereka sudah menduga kalau aku bakal melakukan penyelidikan sehingga bertindak lebih awal dengan menyembunyikan semua benda yang membawa persoalan?

Mungkinkah sarang dari kawanan laron penghisap darah itu bukan berada di perkampungan ini tapi di tempat lain?

Sejak pagi hingga petang dia sudah menyibukkan diri seharian penuh, tapi tidak seekor laron penghisap darah pun ditemukan dan sekarang, baru saja dia merebahkan diri, kawanan laron penghisap darah itu sudah muncul kembali.

Kawanan laron penghisap darah yang mengerikan itu muncul diluar ruangan perpustakaannya, kebasan sayap mereka yang bising kedengaran amat menusuk telinga, apalagi di tengah keheningan malam seperti ini, suara itu menambah seram dan ngerinya suasana.

Mereka seakan terbang datang dan rembulan. Sinar rembulan yang memancar diatas kertas jendela membiaskan pula bayangan tubuh mereka yang kecil.

Bayangan laron-laron itu beterbangan bagaikan gerombolan setan iblis yang sedang menari, dari jauh semakin mendekat, dari besar menjadi kecil!

Cahaya rembulan sudah dihancurkan oleh tarian bayangan sang laron, kertas jendela pun seakan ikut hancur diterjang oleh tarian binatang binatang itu.

Namun Jui Pakhay masih menahan diri, dia masih berusaha tidak bergerak, tidak melakukan sesuatu tindakan apa pun.

Entah berapa lama sudah lewat, suara kebasan sayap dari kawanan laron penghisap darah itupun berhenti secara mendadak, bukan hanya suaranya hilang lenyap, bayangan tarian mereka pun ikut terhenti, suasana serasa menjadi hening dan sepi. Beribu ribu ekor bayangan laron seakan seluruhnya mendekam tenang, mendekam tanpa bergerak diatas kertas jendela yang putih memucat itu.

Kertas jendela bukan lantaran kejadian ini lalu berubah jadi suram, jadi gelap, sebaliknya malah tampak lebih hijau bersinar, hijau dari ebongkah batu kemala.

Cahaya rembulan menyinari tubuh laron laron itu, membuat kawanan binatang itu seakan bermandikan cahaya putih.

Paras muka Jui Pakhay yang putih memucat tiba tiba berubah jadi hijau membesi, mendadak badannya melejit ke udara, melompat bangun dari ujung pembaringan.

"Sreeet!" bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia hinggap didepan jendela, jendela dengan beribu buah bayangan laron.

Dengan mata yang melotot besar diawasinya kawanan laron penghisap darah itu tanpa berkedip, dia akan menunggu sampai kawanan binatang itu benar-benar jadi tenang sebelum mengambil sesuatu tindakan.

Sementara tubuhnya masih melambung, sepasang tangannya sudah siap melancarkan serangan, begitu kakinya hinggap di tanah, sepasang tangannya itu langsung melepaskan sebuah bacokan, menghajar daun jendela itu.

Begitu bacokan sudah dilepas, tangan kanannya berputar pula cepat dan "Criiing!" dia sudah meloloskan pedangnya.

Dia sudah bersiap sedia menghadapi serbuan dari kawanan laron itu ketika daun jendela terbentang lebar karena bacokan mautnya tadi.

Siapa tahu sama sekali diluar dugaannya, kawanan laron penghisap darah yang semula menempel penuh diatas kertas jendela, kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, lenyap seakan menguap menjadi asap. Namun dihalaman luar, dibalik kabut tebal yang menyelimuti kegelapan malam, seakan terlihat ada ribuan titik cahaya berkedip mirip api setan sedang bergoyang menarikan tari samba disana, cahayanya berwarna hijau yang menggidikkan hati.

Jui Pakhay tidak melakukan pengejaran, tapi rasa duka, rasa gusar bercampur aduk dalam lubuk hatinya dan tercermin jelas diraut mukanya.

Mendadak dia mengayunkan kepalan tinjunya, menghantam daun jendela dihadapannya kuat-kuat.

"Braaak...!" seluruh daun jendela hancur berantakan terhajar pukulan itu, sayang hancurnya jendela tidak menguraikan rasa duka dan gusar yang mengganjal dalam hatinya.

Walaupun dia tidak tahu mengapa kawanan laron penghisap darah yang menampakkan diri secara beruntun selama berapa hari ini tidak melakukan tindakan lebih jauh, walaupun dia tidak tahu apakah hal ini merupakan kebiasaan dari kawanan laron tersebut atau karena takut dan jeri terhadapnya, tapi ada satu hal yang dia ketahui secara pasti, jika keadaan demikian dibiarkan berlangsung terus maka pada akhirnya dia akan menjadi orang gila, orang yang tidak waras otaknya karena gangguan jiwa.

Bila seseorang harus hidup berkepanjangan dalam suasana teror, suasana horor dan suasana ketakutan yang begitu mencekam, lambat laun rasa percaya diri orang tersebut akan luntur dan memudar, kesadaran otaknya juga akan hancur berantakan, pada akhirnya kalau bukan jadi pemurung, tentu menjadi orang yang tidak waras olaknya.

Masih untung hari ini baru bulan tiga tanggal tiga belas, lusa baru bulan tiga tanggal lima belas. Konon ketika bulan sedang purnama setiap tanggal lima belas, raja laron akan munculkan diri untuk menikmati keindahan alam dan menghisap sari cahaya dari langit.

Ketika raja laron sudah menampakkan diri, maka saat itulah semua masalah, semua persoalan akan berakhir.

Ini berarti dia masih harus hidup selama dua hari lagi dalam suasana penuh teror, penuh horor seperti ini.

Jui Pakhay hanya berharap selama dua hari ini dia masih dapat mempertahankan kejernihan otaknya, dia berharap tidak sampai berubah jadi orang sinting, orang gila yang tidak waras otaknya.

Walaupun disaat berakhirnya semua masalah dan semua persoalan sama artinya saat berakhirnya kehidupan dia, namun paling tidak, saat itu dia sudah tak perlu lagi menghadapi teror dan horor yang menegangkan pikiran seperti saat ini.

Rasa takut karena teror dan horor kadangkala memang jauh lebih menyiksa daripada menghadapi kematian itu sendiri.

0-0-0

Bulan tiga tanggal empat belas, saat itu matahari sore sudah mulai condong ke langit barat.

Jui Pakhay sedang duduk santai ditengah halaman barat, duduk dibawah cahaya matahari senja yang mulai redup, pada saat itulah seorang pelayannya muncul diiringi Tu Siau-thian.

Dengan dandanan seorang wakil opas Tu Siau-thian munculkan diri disitu, wajahnya nampak letih dan penuh debu.

Begitu melihat kehadiran orang tersebut, dengan penuh kegirangan Jui Pakhay maju menyambut seraya berseru:

"Saudara Tu, kenapa baru muncul sekarang? Kau tahu, aku sudah hampir gila karena menantikan kehadiranmu!" Dengan penuh tenaga Jui Pakhay menepuk bahu Tu Siau- thian, tepukan yang merupakan luapan rasa gembiranya.

Tapi tepukan itu menyebabkan pula debu dan pasir beterbangan ke udara.

Jui Pakhay nampak agak tertegun, sepasang tangannya segera terhenti ditengah jalan.

Buru-buru Tu Siau-thian menyingkir ke samping, lalu sahutnya sambil tertawa tergelak:

"Jika kau tepuk lebih jauh, maka tubuhmu pun akan ikut bermandikan debu dan pasir"

Setelah tertegun sesaat Jui Pakhay baru bertanya: "Sebenarnya kau datang dari mana? Mengapa seluruh

tubuhmu bermandikan pasir dan debu? Memangnya kau

menongol dan dalam tanah?"

"Hahaha tentu saja aku bukan baru nongol dari dalam

tanah, baru saja aku pulang dari menempuh perjalanan jauh, seharian penuh berjalan ditengah pasir yang menderu"

"Oooh jadi selama sepuluh hari terakhir kau sedang

pergi? Ke mana kau pergi selama ini?" "Ke Hong-yang!"

"Karena urusan dinas?"

Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan. "Sudah kau selesaikan tugas kantormu itu?” kembali Jui

Pakhay bertanya. "Yaaa, sudah selesai"

"Lantas kenapa kau masih nampak terburu-buru?"

"Sebab aku terburu-buru kemari karena ingin berjumpa denganmu"

"Oya?” "Jadi kau anggap aku sudah melupakan sama sekali urusan tentang laron penghisap darah itu?"

"Yaa, kelihatannya aku memang berpendapat begitu" Jui Pakhay mengangguk membenarkan.

"Ooh, jadi kau anggap aku termasuk manusia yang tidak akan memperdulikan keselamatan jiwa rekan sendiri?"

"Bukan begitu maksudku" ujar Jui Pakhay serius, "tapi kejadian ini memang tidak masuk akal, susah membuat orang lain percaya, sekalipun kau benar-benar tidak memikirkannya dihati, aku juga tidak bakal salahkan dirimu"

"Seandainya secara tidak sengaja aku tidak bertemu dengan dua ekor laron penghisap darah ditepi telaga tempo hari, bahkan secara tanpa sengaja tertusuk oleh salah satu diantaranya, mungkin aku benar benar tidak akan memikirkannya dihati"

"Kau sudah menemukan cara yang paling jitu untuk menghadapi kawanan binatang itu?”

"Belum!"

"Lantas mau apa kau datang kemari mencari aku?" "Coba lihat kau, kenapa watakmu berubah jadi begini

rupa?" seru Tu Siau-thian cepat, kemudian setelah memperhatikan sekejap wajah rekannya, dia berkata lebih jauh, "sekarang, tampaknya kau tetap sehat tanpa kekurangan sesuatu apa pun?"

Jui Pakhay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir. Kembali Tu Siau-thian berkata:

"Seandainya apa yang diceritakan orang selama ini benar, Raja laron baru akan muncul pada malam tanggal lima belas dikala bulan sedang purnama, hari ini toh baru tanggal empat belas, maka kepulanganku kali ini masih pada aatnya, aku masih cukup waktu untuk membantumu menghadapi serangan kawanan laron penghisap darah tersebut"

"Haai, walaupun kepulanganmu tepat pada aatnya, tapi aku kuatir kau tidak bisa membantu apa apa kepadaku"

Tu Siau-thian melengak, serunya:

"Kalau didengar dari perkataanmu barusan, seakan dalam sepuluh hari terakhir kau sudah banyak mengalami kejadian yang aneh?"

"Benar, sudah terlalu banyak" Jui Pakhay mengangguk membenarkan.

"Apakah kawanan laron penghisap darah itu kembali menampakkan diri?"

"Bukan hanya menampakkan diri, bahkan ctiap kali kemunculannya jumlah mereka tambah lama tambah banyak, sewaktu muncul !ugi semalam, aku lihat jumlah mereka sudah mencapai ribuan ekor"

Agak berubah paras muka Tu Siau-thian, tanpa sadar serunya:

"Masa kejadian seperti ini bukan hanya sebuah dongeng belaka?"

"Yaa, tampaknya bukan, semua sudah menjadi sebuah kenyataan, aku telah melihat dan mengalaminya sendiri"

"Mereka terbang, datang dari mana?" tiba tiba Tu Siau- thian bertanya lagi.

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu"

"Apakah mereka menyerangmu?" Tu Siau-thian bertanya lebih jauh.

"Tidak, mereka hanya menebar teror dan horor, mungkin begitulah kebiasaan mereka, mungkin juga merupakan perintah dari si Raja laron, sebelum tiba tanggal lima belas, sebelum bulan jadi purnama, sebelum raja laron menampakkan diri, mereka dilarang melakukan suatu tindakan apa pun"

"Bagaimana dengan kau sendiri" desak Tu Siau-thian, "Apakah kau tidak melakukan sesuatu tindakan terhadap mereka?"

"Sudah, aku telah melakukan suatu tindakan" "Tidak mampu mencegah mereka? Tidak mampu

menghadapi mereka?"

"Bukan cuma tidak mampu mencegah mereka, pada hakekatnya sama sekali tidak berguna"

"Memangnya mereka tidak takut dengan bacokan golok atau sambaran pedang?"

"Betul, persis seperti kejadian pertama kali dulu" "Apakah mereka mendadak hilang lenyap bagaikan

bayangan setan setiap kali kau siap melakukan sesuatu

tindakan?"

Jui Pakhay menghela napas panjang.

"Haai pada hakekatnya mereka memang jelmaan dari

setan iblis" bisiknya.

Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu tanyanya:

"Pernah berpikir, sejak kapan kau usik kawanan makhluk itu?"

Tampaknya Jui Pakhay tidak mengira kalau rekannya akan mengajukan pertanyaan seperti itu, untuk sesaat dia terbelalak dengan wajah tertegun.

Kembali terdengar Tu Siau-thian berkata: "Pernah kau berpikir, ada begitu banyak manusia di dunia ini, mengapa mereka justru menjatuhkan pilihannya kepadamu? Jelas mereka pasti mempunyai alasan tertentu, maka aku pikir asal kita memahami alasan mereka, urusan akan lebih gampang untuk diatasi dan diselesaikan"

Jui Pakhay tertawa getir, dia seperti akan mengucapkan sesuatu tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

Dengan kepala tertunduk kembali Tu Siau-thian berpikir, dia seakan tidak menaruh perhatian atas perubahan sikap yang ditampilkan Jui Pakhay, tanyanya lebih jauh:

"Kebanyakan mereka muncul di mana?"

"Nyaris tidak pernah sama, setiap kali muncul mereka selalu memilih tempat penampilan yang berbeda"

"Semalam mereka muncul di mana?" desak Tu Siau-thian lagi.

"Diluar ruang perpustakaan"

"Beberapa hari berselang, mereka muncul di mana?"

Jui Pakhay segera menutup mulutnya rapat-rapat, dia seperti enggan untuk menjawab pertanyaan itu.

"Sudah lupa?" tanya Tu Siau-thian.

"Memangnya aku mirip seorang pelupa?" teriak Jui Pakhay. "Berarti ada kesulitan bagimu untuk bicara terus terang?" Sekali lagi Jui Pakhay menutup mulutnya rapat-rapat.

"Bila tidak keberatan, katakanlah terus terang" pinta Tu Siau-thian, "siapa tahu dari keterangan yang kau ungkap nanti aku bisa menemukan titik kelemahan dari laron penghisap darah tersebut dan merancangkan siasat untuk menghadapinya, sebaliknya bila kau enggan mengungkapnya, aku kuatir aku benar-benar tidak akan bisa membantu apa- apa lagi" Sekali lagi Jui Pakhay tertawa getir, katanya:

"Ada sementara persoalan biar sudah kuungkap pun belum tentu kau mau mempercayainya"

"Aaah belum tentu, coba saja kau utarakan"

Tapi Jui Pakhay hanya terbungkam sambil termenung, sampai lama sekali dia belum juga memberikan tanggapan.

Tu Siau-thian tidak merecokinya, dia hanya menunggu disisinya dengan tenang.