Laron Penghisap Darah Bab 04: Gerombolan Laron muncul kembali.

 
Bab 04: Gerombolan Laron muncul kembali.

Bulan tiga tanggal tujuh, guguran bunga beterbangan di kebun sebelah timur, kabut pun ikut beterbangan.

Padahal bukan kabut yang beterbangan tapi air hujan.

Air hujan dimusim semi lembut bagaikan serat, kabut tipis menyelimuti seluruh halaman, Jui Pakhay berada pula dalam halaman itu.

Biarpun kerutan alis matanya masih terbesit perasaan ngeri dan ketakutan yang dialaminya semalam, namun perasaan hatinya sudah tidak seberat semalam, karena secara rahasia dia telah menulis sepucuk surat, secara rahasia mengutus Jui Gi untuk menyampaikannya kepada Siang Huhoa.

Sepucuk surat permintaan tolong. Secara ringkas dia telah menceritakan situasi yang sedang dihadapinya sekarang, menyampaikan juga betapa butuhnya dia akan perlindungan dari Siang Huhoa.

Dia tidak menulis surat kepada orang lain, surat semacam ini hanya diberikan untuk Siang Huhoa seorang.

Hal ini bukan hanya lantaran kepandaian silat yang dimiliki Siang Huhoa sangat hebat, hal inipun disebabkan meski Siang Huhoa adalah seorang penyamun, namun dia adalah seorang penyamun budiman, seorang pendekar pedang sejati yang menjunjung tinggi kebenaran dan kesetia-kawanan.

Sekalipun di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis atau siluman jelmaan, dia yakin kawanan siluman itu tidak nanti berani mengusik seorang pendekar pedang sejati.

Dia hanya berharap Siang Huhoa bisa datang tepat pada waktunya, dia sama sekali tidak perlu kuatir bila Siang Huhoa tak mau datang.

Dia sama sekali tidak lupa kalau mereka sudah bukan sahabat lagi, juga belum pernah lupa kalau sewaktu mereka masih bersahabat dulu, dia pernah menyelamatkan selembar nyawa Siang Huhoa.

Siang Huhoa bukan orang yang melupakan budi. Tentang hal ini dia jauh lebih jelas dari siapa pun.

Bila Siang Huhoa memang bukan orang yang suka melupakan budi, bagaimana mungkin dia tidak akan datang untuk membalas budinya?

Sayang seluruh mental dan kekuatan tubuhnya sudah rontok, sudah hancur berantakan, dia memang tidak bisa menjumpai orang ke dua lainnya yang bisa dimintai pertolongan.

Hujan rintik di musim semi masih turun dengan tiada hentinya, ketika angin berhembus lewat, berpuluh puluh kuntum bunga jatuh berguguran, bunga yang berguguran sekilas tampak bagaikan hujan, bagaikan kabut tipis yang menyelimuti udara.

Mengawasi bunga-bunga yang berguguran, tiba tiba Jui Pakhay merasa amat sedih, perasaan hatinya amat pedih.

Tanpa terasa dia mengambil sekuntum bunga yang rontok.

Diatas putik bunga berwarna putih itu ternyata muncul titik warna merah, merah darah. Jui Pakhay agak tertegun, belum sempat ingatan ke dua melintas lewat, tiba tiba ujung jari tengahnya terasa amat sakit, sakit sekali, sakit karena tertusuk oleh sebuah benda yang sangat tajam.

Dari balik titik cahaya merah darah diujung putik bunga itu tiba-tiba sudah muncul sebatang jarum tajam berwarna merah darah, sementara putik bunga berwarna putih itu tahu-tahu sudah berubah jadi hijau bening!

Laron penghisap darah!!

Seekor Laron penghisap darah ternyata sedang berdiam diri diatas putik bunga berwarna putih itu, ketika Jui Pakhay mengambil bunga itu, Laron penghisap darah pun menusukkan tabung hisapnya yang tajam, langsung ke ujung jari tengahnya.

Jui Pakhay terkesiap, buru buru dia ayunkan tangannya kuat-kuat, membanting kuntum bunga yang berada dalam genggamannya itu ke atas tanah.

Belum lagi kuntum bunga itu mencapai permukaan tanah, Laron penghisap darah tersebut sudah melejit dan sang bunga dan terbang ke udara.

Hanya didalam waktu singkat makhluk itu sudah terbang ke angkasa dan lenyap dari pandangan mata.

Jui Pakhay segera menghembuskan napas lega tapi

sayang hembusan napas leganya kelewat awal dilakukan.

Angin masih berhembus kencang, bunga masih terus berguguran ke tanah, dalam waktu Hekejap diatas bunga yang berguguran itu kembali muncul setitik warna merah, merah d irah.

Dari setiap kuntum bunga yang berguguran itu segera bermunculan titik warna merah darah, setitik merah darah yang berubah menjadi seekor Laron penghisap darah. Berapa banyak bunga yang berguguran disitu? Dan berapa banyak Laron penghisap darah yang hinggap diatasnya?

Menyaksikan kesemuanya itu Jui Pakhay mulai merasakan jantungnya berdebar keras, hatinya seakan menyusut kecil, tubuhnya mundur sempoyongan dan mulai menggigil keras bagaikan orang kedinginan.

Setelah mundur sejauh berapa kaki, pedang Jit seng toh hun kiam nya segera diloloskan dan digetarkan ditengah udara hingga tegak kaku.

Kawanan Laron penghisap darah itu serentak terbang meninggalkan guguran bunga-bungaan, lalu sambil memuntahkan jarum tajam penghisap darahnya mereka menyerang tubuh Jui Pakhay habis-habisan.

Rontokan bunga berwarna hijau pucat ditambah sayap Laron berwarna hijau muda dan lidah mata berwarna merah darah, membentuk serangka! lukisan yang sangat aneh dibalik hujan berkabut itu.

Dalam keadaan begini, Jui Pakhay tidak berminat untuk menikmati keanehan alam itu, sambil membentak gusar kembali pedang Jit seng toh hun kiam nya melancarkan selapis hujan pedang yang menyelimuti angkasa.

"Sreeet, sreet, sreet!" air hujan terbelah oleh babatan cahaya pedang, guguran bunga hancur berkeping terhajar angin tajam.

Yang nampak hanya air hujan, hanya guguran bunga yang hancur, sementara puluhan ekor Laron penghisap darah itu tidak satupun yang terhajar hingga rontok ke tanah, hampir semuanya hilang lenyap dengan begitu saja.

Dalam waktu sekejap puluhan ekor Laron penghisap darah itu seakan selapis kabut yang tipis, buyar, hilang dengan begitu saja, seakan menguap ke angkasa, Jui Pakhay sadar, lenyapnya kawanan Laron penghisap darah itu bukan karena kepandaiannya, dia sadar kemampuan yang dimiliki masih belum mencapai taraf sehebat itu, dia pun tahu puluhan ekor Laron penghisap darah itu lagi-lagi hilang lenyap seakan musnahnya setan iblis.

Menghadapi musuh tangguh semacam ini, dia benar-benar dibuat kehabisan akal, dia merasa tidak tahu bagaimana harus berbuat

Sambil melintangkan pedangnya di depan dada, dia berdiri kaku ditempat, otot dan kulit badannya mengejang kencang, dalam kelopak matanya meski tak ada air mata, namun serasa ada gerakan yang membuat dia pingin melelehkan air mata.

Meskipun surat permintaan tolong telah dikirim, paling cepat pun butuh enam hari untuk tiba di perkampungan selaksa bunga, seandainya Siang Huhoa langsung berangkat sehabis membaca surat itu, paling tidak dia baru bisa tiba di perpustakaan Ci-po-cay pada tanggal delapan belas bulan tiga.

Itu berarti hati yang ditentukan kawanan Laron penghisap darah itu untuk mulai melancarkan pembunuhan!

Bila Raja Laron sudah menampakkan diri, berarti kawanan Laron penghisap darah itu akan mulai menyerang secara serentak, mereka akan menggunakan badannya sebagai sasaran penusukan jarum jarum penghisap darahnya, lalu menggunakan cairan darah di dalam tubuhnya sebagai bahan konsumsi.

Konon Raja Laron selalu akan muncul disaat bulan sedang purnama, malam bulan purnama berarti malam tanggal lima belas

Bila dongeng yang selama ini tersiar merupakan kenyataan, berarti ketika Siang Huhoa tiba disana, kehadirannya sudah terlambat tiga hari, seandainya kawanan Laron penghisap darah itu benar-benar akan menghisap darahnya, waktu itu dia sudah tinggal sesosok mumi, sesosok mayat yang telah mengering.

0-0-0

Bulan tiga tanggal delapan, malam itu kawanan Laron penghisap darah kembali munculkan diri.

Satu rombongan besar Laron penghisap darah, jumlahnya satu kali lipat lebih banyak ketimbang jumlah yang muncul pada malam sebelumnya, kawanan Laron itu mengelilingi cahaya lentera dan menari-nari kian kemari

Jui Pakhay sama sekali tidak menggubris, juga tidak mengusik, ketika kawanan Laron penghisap darah itu sudah beterbangan selama seperminum teh lamanya, bagaikan bayangan setan, lagi-lagi hilang lenyap tidak berbekas.

0-0-0

Bulan tiga tanggal sembilan, malam itu ketika Jui Pakhay pulang dari bepergian, dia pulang dengan wajah yang muram.

Hari ini sudah berapa kali dia ceritakan kisah Laron penghisap darah itu kepada sebelas orang sahabatnya.

Diantara ke sebelas orang sahabatnya itu ada yang sebagai piausu, ada pedagang bahkan ada pula penjual obat keliling.

Tempat ini merupakan tempat yang dipenuhi dengan pejabat-pejabat tinggi, Komandan opas Nyoo Sin termasuk salah satu orang yang mengetahui kisah horor yang dialaminya.

Sebagian besar orang orang itu merupakan orang yang sudah cukup lama hidup menjelajahi seluruh kolong langit, pengetahuan mereka sangat luas, Jui Pakhay sengaja memberitahukan kejadian ini kepada mereka, tujuannya tidak lain adalah berharap agar mereka bisa mengusulkan kepadanya untuk menghubungi seseorang yang sanggup menghadapi kejadian seperti ini, bahkan kalau mungkin sebuah cara yang ampuh untuk membasmi serangan horor dari kawanan Laron penghisap darah itu.

Tapi alhasil dia merasa sangat kecewa, malahan dia merasa sedikit menyesal.

Kawanan orang-orang itu bukan saja tidak mempercayai apa yang dia katakan, malah dianggapnya dia sedang bergurau, hanya ada dua orang di antaranya yang terkecuali.

Ke dua orang ini menganggap otaknya sudah miring, ada penyakitnya sehingga berpikiran yung bukan-bukan, Jui Pakhay sama sekali tidak membantah ataupun berdebat, dia hanya tertawa getir.

Sebab sejak awal dia sudah menduga, kemungkinan besar akan peroleh hasil seperti ini.

Seandainya peristiwa Laron penghisap darah bukan menimpa dirinya, dia pun sama seperti rekan-rekan lainnya, tidak bakal percaya kalau ada kejadian seperti ini.

Sejak tanggal enam malam, dia sudah tidak berani lagi tidur bersama Gi Tiok-kun.

Selama dua malam sebelumnya, dia selalu tidur seorang diri di dalam perpustakaan bukunya.

Malam ini pun ada rembulan yang bersinar di angkasa.

Jui Pakhay berdiri seorang diri di depan jendela, mengawasi cahaya rembulan yang bening bersih, timbul perasaan sedih dan murung yang amat sangat di dalam hatinya.

Tiba tiba dia merasa sangat kesepian, merasa dirinya hidup seorang diri, sebatang kara.

"Sreet, sreet, sreet" tiba-tiba bergema suara gemerisik dari belakang tubuhnya, suara semacam ini sudah tidak terlalu asing lagi baginya. Setiap kali Laron penghisap darah itu munculkan diri, mereka selalu muncul dengan membawa suara desiran tajam semacam ini.

Suara itu muncul dari kebasan sayap kawanan Laron penghisap darah itu, dengan satu kecepatan luar biasa dia berpaling.

Tapi sepanjang mata memandang hanya kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan, rupanya ketika memasuki ruang perpustakaan dengan perasaan masgul tadi, dia lupa menyulut api lentera.

Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh ruangan, tiba tiba tampak berpuluh puluh bintik cahaya redup berwarna hijau muda, cahaya api yang berkedip kedip persis seperti api setan yang sedang gentayangan.

Dibalik setiap cahaya berwarna hijau itu tampak pula setitik cahaya berwarna merah, walaupun titik cahaya itu kecil dan lembut namun justru amat terang dan mencolong, cahaya darah yang menakutkan!

Berpuluh-puluh titik cahaya hijau bercampur merah darah itu beterbangan di udara bagaikan berpuluh pasang mata setan yang sedang mengintai dan mengawasinya dari balik kegelapan.

Laron penghisap darah!!

Jui Pakhay mulai menjerit di dalam hati, namun tenggorokannya seolah telah tersumbat oleh sesuatu, suara jeritannya sama sekali tidak bisa muncul keluar.

Mendadak ia membalikkan badannya lalu menerjang masuk ke balik kegelapan!

Dia sudah hapal dengan setiap seluk beluk di dalam Perpustakaan bukunya, karena itu dia bisa langsung menerjang ke depan meja tulis, dia masih ingat, diatas meja itu terletak sebuah lentera. Jui Pakhay segera mengayunkan tangan kirinya, "PlaakF cahaya api berkelebat lewat, tahu tahu dia sudah menyulut sebuah korek api dan menyulut lampu lentera yang berada di atas meja.

Seketika itu juga cahaya lentera yang redup mengusir kegelapan yang mencekam ruangan itu.

Bersamaan dengan munculnya cahaya lentera, kerlipan cahaya hijau kemerah-merahan itu hilang lenyap seketika, bahkan suara desingan tajam dari sayap sayap itu pun ikut lenyap tidak berbekas.

Tidak nampak seekor Laron penghisap darah pun di dalam ruang baca Perpustakaan buku itu.

Ketika sinar hijau kemerah merahan itu sirna tertimpa cahaya lentera, kawanan Laron penghisap darah itupun ikut lenyap tidak berbekas! Sambil memegangi lentera untuk menyinari sekeliling tempat itu, Jui Pakhay mulai bersumpah serapah di dalam hati kecilnya.

0-0-0

Bulan tiga tanggal sepuluh, suasana amat hening, rembulan bersinar lembut, angin berhembus sepoi.

Jui Pakhay berbaring seorang diri di dalam perpustakaan bukunya, dia merasa lelah sekali, meski begitu dia belum sampai tertidur pulas.

Dia paksakan diri untuk mementang sepasang matanya lebar-lebar, tujuh buah cahaya api sebesar kepalan tangan menyinari ruangan perpustakaan itu.

Tujuh buah lentera besar dengan tujuh buah lidah api yang besar menerangi setiap sudut ruangan.

Separuh bagian dari lidah api itu terbenam didalam sebuah tabung tembaga yang dipenuhi minyak, tabung tersebut berada diatas sebuah meja kecil, sementara meja kecil itu berada ditengah sebuah tempat yang ceper bentuknya.

Kuali ceper itu dipenuhi air, membuat meja kecil itu terbenam didalam air, bahkan tabung tembaga itupun setengah bagiannya terendam air.

Tujuh buah lidah api yang besar bersama-sama memancarkan cahaya yang terang benderang, ketika terpantul diatas permukaan air, membuat seluruh ruang perpustakaan itu menjadi terang bagaikan disiang hari.

Jui Pakhay harus berpikir satu harian penuh sebelum akhirnya berhasil menemukan jebakan tersebut.

Biasanya Laron akan mendekati cahaya api, maka bila ada rombongan Laron yang menghampiri cahaya dan menari hari disekelilingnya, jika penutup lentera diambil, otomatis Laron- Laron itu akan menerjang langsung ke tengah jilatan api.

Bila kawanan Laron itu sampai menubruk ke atas jilatan api, dapat dipastikan kawanan makhluk itu akan terbakar, bila di bawah lentera diberi sebaskom air, tidak dapat disangkal lagi binatang-binatang itu pasti akan mati semua.

Sementara kawanan Laron yang terluka akan segera tercebur ke dalam air, bila sayapnya sudah basah maka mereka tidak bakal mampu terbang tinggi lagi.

Kini, Jui Pakhay hanya berharap kebiasaan I aron penghisap darah menghampiri cahaya api tidak berbeda dengan keadaan pada umumnya.

Dia lebih berharap lagi jika api dapat memusnahkan pengaruh sihir, dengan air pun bisa menenggelamkan sihir, asal kawanan Laron penghisap darah itu sudah menubruk ke dalam ipi lalu tercebur ke air maka mereka akan musnah dan lenyap untuk selamanya.

Asal dia bisa mendapatkan satu saja bangkai Laron penghisap darah, maka dia dapat menggunakannya untuk membuktikan dihadapan teman-teman lainnya bahwa dia bukan lagi berbohong.

Asal kecurigaan mereka bisa dihilangkan, dengan sendirinya rekan-rekannya akan bersedia melakukan penyelidikan, atau bahkan bergabung dengannya untuk bersama-sama menghadapi kawanan Laron penghisap darah itu.

Paling tidak dia tidak akan terpencil, tidak akan sendirian seperti keadaannya saat ini.

Sekarang dia tidak tidur, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan diri, dia ingin menunggu munculnya kawanan Laron penghisap darah itu, menunggu kawanan makhluk itu masuk perangkap dan bunuh diri.

Tiga kali suara kentungan bergema dari luar kamar, ternyata waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga.

Jui Pakhay dengan menahan rasa kantuk yang luar biasa berusaha memejamkan sejenak sepasang matanya, sementara perasaan hatinya mulai gelisah, mulai tidak sabar.

Berbicara menurut pengalaman yang dirnilikinya di masa lampau, bila kawanan Laron penghisap darah itu akan muncul lagi pada malam ini, sudah seharusnya mereka muncul pada saat ini.

Tapi anehnya, hingga sekarang kawanan Laron penghisap darah itu belum juga menampakkan diri.

Benarkah kawanan makhluk itu sangat cerdas dan pandai melihat gelagat sehingga tahu kalau disitu telah dipasang sebuah perangkap maut?

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba Jui Pakhay mulai mendengar suara desingan angin tajam.

Setiap kali Laron penghisap darah munculkan diri, dia pasti akan mendengar suara aneh semacam ini. Suara itu memang suara sayap Laron penghisap darah ketika berkebas menembusi angkasa.

...............Apakah sudah datang?

Jui Pakhay segera merasakan semangatnya bangkit, dia membuka sepasang matanya lebar-lebar.

Baru saja dia membuka matanya, tiba tiba dirasakan kelopak matanya berat sekali bagaikan diberi beban besi ribuan kati, beberapa kali dia ingin membuka matanya namun tidak berhasil.

Terpaksa dia pejamkan matanya sambil mengatur pernapasan, dia hanya pejamkan matanya tapi berusaha untuk tidak tertidur. Aneh, sebenarnya apa yang telah terjadi? Belum lama berselang dia masih segar bugar, mengapa sekarang berubah jadi lemas tidak bertenaga?

Buru buru dia menggerakkan tangannya, mencoba untuk meraba kelopak matanya, siapa tahu biarpun sudah dicoba berapa kali ternyata tangannya sama sekali tidak sanggup untuk digerakkan.

Dalam waktu sekejap mata, seluruh tenaga dalam yang dirriiliknya seakan hilang lenyap tidak berbekas.

Tidak terlukiskan rasa kaget, ngeri dan takut yang mencekam perasaan hatinya sekarang. Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Dia menjerit di dalam hati namun tenaga untuk berbicara pun tidak punya, namun dia masih dapat merasakan, juga masih bisa mendengarkan dengan sangat jelas.

"Sreet, sreett" suara desingan makin lama semakin jelas, makin lama semakin bertambah nyaring.

Rupanya kawanan Laron penghisap darah itu mulai beterbangan dalam ruang perpustakaan, mulai menari-nari kian kemari. Jui Pakhay merasa hatinya makin lama makin gelisah, dia ingin sekali meronta untuk bangkit berdiri, mendadak perasaan kantuk yang luar biasa hebatnya, sedemikian hebatnya sehingga serasa tidak mampu dilawan, menyerang dan mencekam seluruh tubuhnya.

Lambat laun pikirannya mulai kabur, bahkan perasaan nya pun lambat laun ikut lenyap tidak berbekas.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak Jui Pakhay mendapatkan kembali semua kesadaran dan perasaannya.

Begitu kesadarannya pulih kembali, dia mulai mendengar semacam suara, semacam suara yang sangat aneh, seakan ada sesuatu benda sedang menjerit lengking, sedang merintih penuh kesedihan.

Dia ingin sekali melihat berada dimanakah dirinya sekarang, sudah berubah menjadi apakah dirinya? Sebab dia memang sangat kuatir, kuatir sewaktu tidak sadar tadi kawanan Laron penghisap darah itu sudah memindahkan tubuhnya keluar dan perpustakaan, menghisap darahnya hingga mengering.

Masih untung semua kejadian yang telah dialaminya sebelum tidak sadarkan diri tadi, dia masih teringat semuanya, dia pun amat kuatir dapatkah sepasang matanya dibuka kembali, dapatkah dia menggerakkan tubuhnya lagi.

Dia mencoba untuk membuka matanya, begitu dipentangkan lebar dengan cepat dia memejamkan kembali matanya.

Walau pun hanya membuka matanya sebentar, namun dia menjumpai tubuhnya masih berada di dalam ruang perpustakaan, paling tidak satu hal tidak perlu dikuatirkan lagi.

Biarpun dia sangsi apakah masih berada dalam perpustakaan, walaupun masih ragu apakah perasaannya sudah pulih kembali, asal Laron penghisap darah belum menghisap kering darah dalam tubuhnya, dia percaya dia masih dapat hidup terus.

Dia mencoba membuka matanya lagi, kali ini keadaannya jauh lebih mendingan.

Menanti matanya sudah terbiasa dengan keadaan diseputar sana, paras mukanya pun ikut berubah jadi sangat aneh.

Dia telah menyaksikan sebuah kejadian yang luar biasa anehnya.

Dari tujuh buah lidah api yang membara di tabung tembaga itu ada dua diantaranya sudah terjatuh ke dalam air dan padam, kini tinggal lima buah lidah api yang masih membara.

Lima buah lidah api memancarkan cahaya yang amat terang, membuat seluruh ruangan perpustakaan itu jadi terang benderang bermandikan cahaya.

Dibawah pancaran sinar api, cahaya air sudah tidak nampak sama sekali, sejauh mata memandang hanya selapis cahaya hijau yang berkedip, seluruh permukaan air seakan dilapisi oleh cahaya kemala berwarna hijau.

Diantara kerlipan cahaya kemala hijau terbesit setitik cahaya lain, cahaya terang berwarna merah darah.

Lapisan hijau kemala itu bukan terbentuk dari sebuah lapisan besar, tapi terbentuk karena gabungan dari lembaran- lembaran kecil, penggabungan itu tidak terlalu rapi, tidak terlalu rapat satu dengan lainnya.

Ketika cahaya merah darah itu berkedip tiada hentinya, lapisan-lapisan kecil dibawahnya pun ikut bergoncang, bentuknya mirip sekali dengan lapisan sisik ikan.

Tentu saja Jui Pakhay tahu lapisan itu bukan lapisan sisik ikan, dia telah menyaksikan dengan jelas sekali, sisik-sisik bening itu tak lain adalah laron-laron penghisap darah yang mengambang diatas permukaan air, titik cahaya merah darah tidak lain adalah mata laron-laron itu.

Perangkap yang dipersiapkan ternyata mulai membuahkan hasil, kawanan laron penghisap darah itu benar-benar berkumpul begitu berjumpa dengan cahaya api.

Tujuh buah lidah api yang besar dan kasar nyaris telah membakar dan melukai sayap kawanan laron penghisap darah itu, membuat tubuh mereka tercebur ke dalam air dalam baskom.

Tapi kejadian aneh yang berlangsung justru bukan mengambangnya bangkai laron penghisap darah yang memenuhi permukaan air.

Sorot mata Jui Pakhay yang keheranan bukan tertuju ke atas kawanan laron penghisap darah diatas permukaan air, sinar matanya justru terpaku oleh seekor laron penghisap darah yang sedang terbang mengelilingi baskom air itu

Laron penghisap darah yang sama namun berbeda dalam keindahan warnanya, bentuk badan laron penghisap darah ini tiga-empat kali lipat lebih besar dari rekannya, sayap ditubuhnya selebar telapak tangan, ketika dikebaskan maka bergemalah suara dengungan yang keras bagaikan kipas yang sedang diayunkan kuat-kuat, sayap itu dikebaskan disekeliling lidah api sehingga membuat jilatan api itu bergoyang tiada hentinya.

Laron penghisap darah itu tidak menerkam ke arah jilatan api yang membara, dia hanya beterbangan naik turun disekeliling api.

Setiap kali tubuhnya bergerak naik turun, maka ada seekor laron penghisap darah yang tercengkeram dari permukaan air kemudian diangkat dan diletakkan disisi baskom air itu. Ternyata dia sedang memberi pertolongan kepada rekan rekan laron penghisap darah yang terluka bakar dan tercebur ke dalam air.

Sekeliling baskom sudah dibuat basah kuyup, sekitar dua- tiga puluhan ekor laron penghisap darah yang terluka sedang mengerang dan menggeliat disitu, menggeliat sembari menggetarkan sayapnya

Jeritan lengking yang begitu aneh, desisan lirih yang begitu mengibakan hati ternyata berasal dari kawanan laron penghisap darah yang terapung diatas permukaan air dan tergeletak disekeliling baskom itu.

Tatkala kesadarannya pulih kembali, otomatis ketajaman pendengaran-nya pun semakin meningkat tajam, semua suara itu terdengar semakin jelas dan nyata, membuat perasaan hati Jui Pakhay semakin tercekat.

Ditatapnya laron penghisap darah yang luar biasa besarnya itu tanpa berkedip.

Tampaknya upaya pertolongan yang dilakukan laron penghisap darah raksasa itu sudah berlangsung cukup lama, kemunculannya paling tidak disaat kawanan laron penghisap darah lainnya mulai muncul disitu dan menerjang ke arah jilatan api, kalau tidak kenapa tak ada lagi kawanan laron penghisap darah yang menerkam api? Kenapa tiada lagi kawanan laron penghisap darah yang tercebur ke air?

Begitu sibuknya laron penghisap darah raksasa itu bekerja sehingga rupanya diapun tidak tahu kalau Jui Pakhay sudah mendusin dan sedang menatapnya lekat-lekat, bahkan sudah bersiap sedia melakukan tindak selanjutnya.

Waktu itu, Jui Pakhay memang sudah siap melakukan langkah selanjutnya, tangannya mulai meraba dan menggenggam kencang gagang pedangnya. Jit seng coat mia kiam miliknya memang selalu berada disisi tubuhnya, gagang pedang memang selalu menempel diantara telapak tangannya.

Tatkala dia selesai menyiapkan perangkap maut itu, pedang jit seng coat mia kiam juga telah dipersiapkan dan diletakkan pada posisi yang paling strategis dan paling gampang untuk digunakan.

Memang sejak awal dia sudah siap melancarkan serangan maut.

Begitu tangannya mulai menggenggam gagang pedang, dia pun mulai sadar kalau tenaga dalam miliknya sama sekali tidak buyar, dia pun tidak merasakan rasa sakit dibagian tubuhnya yang mana pun.

Lalu mengapa dia tidak sadarkan diri? Apa benar lantaran dia kelewat lelah sehingga tidak sanggup membendung rasa kantuk yang luar biasa ketika mulai menyerang tubuhnya tadi?

Jui Pakhay tidak sempat berpikir lebih jauh, dia memang tidak punya waktu untuk berpikir ke situ, sekarang dia hanya tahu memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk membantai laron penghisap darah raksasa itu.

Bila ditinjau dari bentuk dan sepak teriang laron penghisap darah itu, kalau dia bukan raja laron penghisap darah, sudah pasti merupakan pimpinan dari kawanan laron penghisap darah yang datang menyerang

Asal pemimpinnya sudah dibantai, tidak terlalu sulit untuk menghabisi anak buahnya, apalagi kecuali pemimpin laron penghisap darah yang amat besar itu, sebagian besar kawanan laron penghisap darah lainnya sudah terluka parah atau mati atau tergeletak lemas ditepi baskom.

Tanpa pemimpin ditambah jumlah korban yang tewas dan terluka sangat banyak, biarpun raja laron penghisap darah datang untuk menuntut balas, setelah melihat keadaan seperti ini, dia tentu akan mempertimbangkan kembali rencananya.

Itu berarti raja laron penghisap darah akan menunda saat munculnya, tatkala rombongan besar laron penghisap darah itu berdatangan untuk melancarkan serangan, dia percaya Siang Huhoa tentu sudah tiba disana.

Maka dari itu, bila dia ingin menyelamatkan jiwa sendiri maka mau tidak mau saat ini dia harus berusaha untuk membunuh pentolan laron penghisap darah itu, harus dibantai hingga mampus!

Gagang pedang segera digenggam semakin kencang, hawa napsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajah Jui Pakhay, dia sudah siap menyerang, siap melakukan pembunuhan besar-besaran.

Dalam waktu singkat seluruh tubuh Jui Pakhay sudah dilapisi oleh selapis kabut tipis yang berwarna putih. Cahaya tentera dalam ruangan pun seakan ikut berubah jadi remang karena lapisan kabut.

Tampaknya laron penghisap darah yang sangat besar itu mulai merasakan datangnya hawa pembunuhan yang menekan tubuhnya, tiba-tiba dia menghentikan semua gerakannya kemudian sambil menggerakkan sayapnya dia berbalik menerjang ke arah Jui Pakhay.

Dengan membalikkan tubuhnya, kini Jui Pakhay dapat melihat bentuk laron penghisap darah itu dengan lebih jelas, ternyata laron penghisap darah tersebut benar benar luar biasa besarnya.

Tidak terlukiskan rasa kaget Jui Pakhay setelah melihat kejadian ini, hatinya tercekat, jantungnya berdebar keras, bukan saja bentuk tubuh serangga ini luar biasa besarnya, sepasang matanya pun lebih besar daripada bentuk mata manusia. Sepasang mata laron penghisap darah itu merah membara, jauh lebih merah dari kentalnya darah, begitu merah seperti lidah api yang membara, selain mencolok juga amat mengerikan dan menggidikkan hati.

Apalagi ketika sepasang mata Jui Pakhay saling bertatapan dengan sorot mata serangga itu, rasa seram dan ngeri yang mencekam perasaan hatinya semakin menjadi-jadi.

Namun kesemuanya itu hanya berlangsung dalam waktu singkat, karena dengan cepat semua perasaannya itu telah diambil alih oleh semacam perasaan yang lain.

Semacam perasaan yang tidak terlukiskan dengan kata, bahkan termasuk Jui Pakhay sendiripun tidak dapat menerangkan bagaimana macam perasaan hatinya saat itu.

Dia hanya merasakan sukmanya seakan sedang bergerak meninggalkan tubuh kasarnya, dia merasa kesadaran otaknya lambat laun makin memudar dan menghilang.

Pedang yang semula sudah digenggam kencang, sudah siap melancarkan serangan mematikan, tahu tahu menjadi lemas kembali bahkan tanpa sadar dia sudah mengendorkan genggamannya.

Baru saja pedang itu terangkat setengah depa, tahu tahu genggamannya sudah mengendor dan melepaskannya, pedang itupun segera terjatuh ke atas kakinya.

Untung saja punggung pedang yang menjatuhi betisnya, bukan mata pedang yang tajam sehingga sama sekali tidak melukainya, walau begitu hawa pedang yang dingin bagaikan es seakan jarum jarum tajam yang menusuk betisnya, menusuk ke dalam syaraf dibalik tulang belulangnya hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Dengan tubuh merinding dia tersentak kaget dan sadar kembali! Aaah, tampaknya sepasang mata serangga itu yang membuat ulah!! Dia segera tersadar kembali apa gerangan yang telah terjadi, hatinya makin tercekat, makin merasa seram.

Apakah serangga itu akan menghisap darahnya? Apakah sukmanya akan dibetot dan dilarikan?? Aaah tidak! Aku harus pertahankan hidupku, aku harus mempompa dan membangkitkan kembali semangat tempurku! Aku tidak boleh terpengaruh lagi oleh kekuatan magic yang terpancar keluar dari sepasang matanya....

Begitulah dia mencoba memperingatkan diri, memberitahu diri sendiri, meskipun sepasang matanya masih saling bertatapan dengan mata laron penghisap darah itu, namun semangat tempurnya harus tetap teguh, seteguh batu karang, syarafnya juga harus tetap mengeras bagai kawat baja.

Orang yang terbiasa berlatih pedang seringkali juga melatih pikiran dan perasaannya, tidak terkecuali dirinya.

Kembali dia menggenggam pedang itu erat erat, sorot mata yang memancar keluar pun kini lebih tajam dari mata senjatanya

Kelihatannya laron penghisap darah yang amat besar itu mulai sadar kalau Jui Pakhay telah memperoleh kembali kesadaran otaknya, serangga itupun mulai sadar kalau pengaruh matanya sudah tidak mampu mempengaruhi pikiran lawan, tiba tiba sepasang matanya yang berwarna merah darah itu mulai meredup dan samar.

Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah menggerakkan sayapnya dan terbang menuju ke sisi jendela.

Apakah dia sudah menyadari datangnya mara bahaya dan sekarang bersiap untuk melarikan diri?

Pada saat yang bersamaan, Jui Pakhay telah meluncur ke depan langsung menerjang ke arah jendela.

"Nguung. 1" pedang jit seng coat mia kiam telah

digetarkan hingga menegang kencang, tubuh berpadu dengan pedang segera berubah menjadi sekilas cahaya bianglala dan langsung menerjang ke tubuh laron penghisap darah itu.

Belum lagi ujung pedang mengenai sasaran, hawa pedang yang terpancar keluar telah menderu-deru hingga memadamkan dua lidah api yang masih menyala.

Bersamaan dengan meredupnya suasana dalam perpustakaan buku itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang yang amat keras, suara itu jelas bukan suara jeritan dari Jui Pakhay.

Suara jeritan itu tinggi melengking dan merdu, jelas suara seorang wanita! Tapi, darimana munculnya perempuan itu?

Di dalam ruangan perpustakaan itu hanya ada seorang pria, dia adalah Jui Pakhay.

Suara jeritan wanita itu ternyata berasal dari mulut laron penghisap darah yang maha besar itu.

Bersamaan dengan bergemanya jeritan lengking itu, laron penghisap darah yang maha besar itu pun bagaikan setan yang tembus pandang, seluruh tubuhnya mendadak berubah bening lalu menerobos dari daun jendela dan lenyap di luar ruangan sana.

Tusukan maut yang dilancarkan Jui Pakhay pun mengenai sasaran kosong, tubuhnya tahu tahu sudah berdiri disisi baskom besar berisi air itu.

Cahaya api menyinari tubuhnya, juga menyinari pedang dalam genggamannya!

Diujung pedang itu nampak ada cahaya darah, Jui Pakhay coba mendekatkan pedangnya ke depan mata.

Ternyata benar, memang noda darah, setitik noda darah sebesar kacang kedele yang membasahi ujung pedang itu. Dengan jari tangannya dia mencoba untuk meraba cairan tersebut, memang darah! Terasa cairan itu masih hangat dan sedikit kental, darah yang masih segar!

Biarpun ujung pedang itu mengenai tempat yang kosong, namun semuanya itu terjadi disaat laron penghisap darah itu belum sempat lenyap dari pandangan mata

Mungkinkah tusukan kilatnya berhasil mengenai tubuh laron penghisap darah raksasa itu?

Benarkah cairan darah yang menodai ujung pedangnya sekarang adalah darah dari tubuh laron penghisap darah tersebut?

Tapi anehnya, mengapa darah laron berwarna merah? Kenapa darah laron terasa hangat seperti darah manusia?

Atau jangan-jangan laron penghisap darah itu benar-

benar adalah jelmaan dari siluman laron? Kalau semuanya merupakan kenyataan, sudah pasti siluman itu adalah siluman laron perempuan!

Bukankah suara jeritan yang terdengar tadi berasal dari suara seorang wanita?

Dengan pandangan terkesima dan ketakutan, Jui Pakhay berdiri termangu disisi baskom air, memandang darah yang menodai jari tangannya sekarang, perasaan ngeri bercampur seram menghiasi seluruh mimik mukanya.

Tanpa sadar dia tundukkan kepalanya sambil menengok, namun perasaan hatinya makin membeku, darahnya semakin dingin, begitu dingin dan membeku bagaikan gumpalan salju abadi.

Sebaskom laron terluka yang menggelepar diatas permukaan air, membiaskan cahaya hijau bening yang mencolok mata, bagai sisik ikan yang menggelepar, kawanan serangga itu masih meronta, masih berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Sementara suara aneh yang mirip rintihan, bergema makin keras dan nyaring, membuat suasana disekitar situ bukan Cuma menyeramkan, bahkan sangat menggidikkan hati.

Jui Pakhay merasa dirinya seakan-akan sudah terperosok ke dalam neraka jahanam, terperosok dalam suasa seram yang mencekat hati.

Kembali dia menyapu sekeliling tempat itu sekejap, tiba- tiba pandangan matanya terhenti lagi diatas lantai persis dimuka jendela, lagi-lagi ditemukan bercak darah segar.

Jui Pakhay menarik napas panjang, tubuhnya segera melambung lalu menerobos keluar melalui daun jendela.

Angin malam berhembus kencang diluar jendela sana, rembulan masih tergantung di awang-awang, rembulan yang bersinar terang dan angin yang menderu-deru.

Ketika Jui Pakhay melompat keluar dari jendela, kebetulan rembulan sedang bersembunyi dibalik awan, hal ini membuat suasana diseputar halaman terasa redup dan gelap, angin musim semi yang semula terasa hangat, tahu tahu berubah jadi dingin dan menusuk tulang.

Cahaya lentera yang memancar keluar dari balik ruang perpustakaan masih cukup menerangi sekeliling bangunan, membuat keadaan diseputar sana masih terlihat cukup jelas.

Kembali dijumpai bercak darah diatas lantai, ini membuktikan tusukan yang dilepaskan Jui Pakhay tadi cukup hebat.

Biarpun siluman laron itu sudah hilang lenyap tidak berbekas, lenyap bagaikan setan iblis, namun cairan darah yang meleleh keluar dari mulut lukanya tidak urung membocorkan juga jejaknya yang misterius.

Asal mengikuti bercak darah yang menodai sepanjang jalan, tidak sulit bagi kita untuk menemukan tempat persembunyiannya. Namun sayang Jui Pakhay sudah tidak sanggup lagi untuk memandang lebih jauh ke depan, karena waktu itu cahaya rembulan telah bersembunyi dibalik awan, seluruh halaman dicekam dalam kegelapan yang mengerikan.

Tiba-tiba dia membalikkan badan lalu menerjang masuk lagi ke dalam ruangan, dalam kamar ada lentera, dia bersiap mengambil lentera untuk kemudian melanjutkan lagi pengejarannya.

Tapi begitu tubuhnya melayang turun, kembali jagoan ini berdiri tertegun.

Baskom berisi air masih tetap seperti sediakala, lidah api dalam tabung tembaga juga masih membara seperti semula, namun kawanan laron penghisap darah yang terluka dan semula tergeletak disekeliling baskon, kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, seekor pun tidak nampak.

Bukan begitu saja bahkan sekawanan laron penghisap darah yang semula masih mengapung diatas permukaan air pun kini juga ikut lenyap.

Padahal serangga-serangga itu dalam keadaan terluka, mustahil mereka bisa menggerakkan lagi sayapnya, aneh, mengapa mereka dapat pergi meninggalkan tempat ini? Terbang? Jelas tidak mungkin, atau pergi dengan merangkak?

Dengan sebuah lompatan kilat Jui Pakhay mendekati baskom berisi air itu, lalu sambil pentangkan matanya lebar- lebar dia periksa seputar tempat itu.

Meski sudah ada empat buah lidah api yang padam dalam tabung tembaga itu, namun masih ada tiga yang hidup dan tetap membakar, cahaya yang terpancar keluar pun sangat terang, membuat dia dapat melihat seputar sana dengan sangat jelas. Tidak salah, disana memang tidak ada seekor laron pun, namun air bersih yang semula memenuhi baskom itu, kini telah berubah jadi air darah!

Jangan-jangan bangkai dari kawanan laron penghisap darah itu sudah hancur dan berubah jadi air darah? Dengan perasaan penuh tanda tanya, jagoan itu mencoba mencelupkan ujung pedangnya ke dalam air darah.

Belum sempat ujung pedang menyentuh permukaan air, mendadak air darah dalam baskom itu hilang lenyap. Yang lenyap hanya darah, bukan airnya.

Baskom itu masih dipenuhi dengan air, air bersih. Jui Pakhay segera mengurungkan niatnya untuk mencelupkan ujung pedang ke dalam air.

Dengan sigap dia berpaling ke arah jendela, namun bercak darah yang semula menodai permukaan lantai, kinipun hilang lenyap tidak berbekas, seakan sudah meresap ke dasar tanah.

Dengan perasaan tercekat dia periksa tangan sendiri, ujung jarinya sempat memegang noda darah itu bahkan masih dapat merasakan hangatnya darah, tapi ternyata diujung jaripun

tidak nampak ada noda darah, jangan jangan semua yang dialami hanya ilusi? Hanya khayalan? Atau darah itu memang benar-benar darah iblis?

Jui Pakhay tidak tahu. Peristiwa aneh ini benar-benar membuatnya tidak habis mengerti dan tidak percaya, namun mau tidak mau dia harus mempercayainya juga

Sebenarnya air bersih? Atau air darah?