-->

Laron Penghisap Darah Bab 02: Teka teki seputar Raja Laron.

 
Bab 02: Teka teki seputar Raja Laron.

Bulan tiga tanggal dua, menjelang tengah hari, di tepi telaga.

Air kelihatan jernih berwarna hijau dengan latar belakang bukit nan biru, pepohonan Liu tumbuh rimbun disepanjang tepi telaga, musim semi memang musim yang mudah membuat orang mabuk, membuat orang terpesona.

Perasaan Jui Pakhay sangat murung, kesal dan masgul, jauh lebih murung ketimbang mabuk oleh air kata-kata, kemurungan yang susah terurai, bahkan semakin berusaha dihilangkan, perasaan itu semakin mencekam.

Kejadian semalam masih jelas terbayang di depan matanya, meski kini dia sedang berjalan menelusuri pepohonan Liu yang rindang, namun langkah kakinya terasa berat.

Pemandangan alam nan indah yang terbentang dihadapannya tidak membuat perasaannya tenang, dia bahkan seakan tidak melihatnya, seakan tidak merasakannya.

Dalam keadaan seperti ini, dia memang tidak punya napsu untuk menikmati kesemuanya itu.

Hari ini dia memang sengaja datang kesana, karena ditempat inilah dia akan menemukan Tu Siau-thian.

Tu Siau-thian adalah sahabat karibnya, diapun seorang wakil opas diwilayah itu, seorang jago golok yang handal, selain pintar, kungfunya juga hebat. Hingga sampai hari ini sudah begitu banyak kasus besar yang berhasil dibongkar olehnya.

Ada orang bilang, bila latar belakang Tu Siau-thian setengah saja melebihi Nyoo Sin, maka yang jadi komandan opas di kota ini bukan Nyoo Sin melainkan Tu Siau-thian.

Menanggapi gurauan semacam ini, Tu Siau-thian tidak pernah memberikan pandangan maupun pendapat pribadinya. Dia seperti sudah amat puas dengan posisinya sekarang, wakil komandan opas.

Sekarang dia sedang berjalan menuju ke sisi Jui Pakhay, lagak maupun gayanya persis seperti orang yang sedang terbuai karena mabuk oleh keindahan alam di tepi telaga yang rimbun dengan pohon liu itu.

Berbicara sejujurnya, kedatangannya ke tempat itu memang khusus untuk menikmati pemandangan alam disana.

Karena belum lama ini dia berhasil membongkar sebuah kasus kriminal yang sangat berat, dalam kondisi demikian, dia butuh tempat rileks untuk mengendorkan semua otot dan uratnya yang telah cukup lama kencang dan tegang.

Dia baru terperanjat setelah Jui Pakhay berada disisinya, dengan pandangan terkejut bercampur keheranan ditatapnya wajah sahabatnya lekat-lekat.

Dia seperti tertegun, keheranan dan tidak percaya kalau bakal berjumpa dengan Jui Pakhay ditempat seperti ini, dia sangat mengenal siapa Jui Pakhay itu dan tahu pasti apa kegemerannya.

Tempat semacam ini jelas bukan tempat yang cocok bagi Jui Pakhay, dia bukan termasuk type manusia yang bisa menikmati keindahan alam, terlebih kedatangan Jui Pakhay kali ini hanya seorang diri.

Jui Pakhay sedang mengawasi dirinya pula, dia menatap wajah rekannya dengan mimik muka yang sangat aneh, mimik muka istimewa.

Tu Siau-thian semakin keheranan, setelah menyapanya sambil tertawa, dia menegur:

"Jadi kaupun menyukai tempat ini?"

"Tidak terlalu suka" jawab Jui Pakhay dengan sorot mata tidak tenang. "Sungguh aneh, aku tidak menyangka bakal berjumpa dengan kau di tempat semacam ini" kembali Tu Siau-thian berseru sambil tertawa.

"Tapi aku dapat menduganya" "Oya?" Tu Siau-thian tertegun.

"Aku telah berkunjung ke rumahmu, orang rumah yang mengatakan kalau kau berada disini"

"Ooh, jadi kau sengaja datang kemari karena ada keperluan denganku?" seru Tu Siau-thian seperti baru mengerti.

Jui Pakhay manggut manggut pelan.

"Persoalan apa yang kau hadapi? Kenapa terburu-buru mencari aku?" kembali Tu Siau-thian bertanya keheranan.

"Aku khusus kemari karena butuh petunjukmu tentang satu hal" bicara sampai disitu, dia berbalik badan dan kembali berjalan menelusuri jalanan yang baru saja dilaluinya.

Dalam keadaan begini terpaksa Tu Siau-thian mengikuti dari belakang.

Sambil berjalan kembali Jui Pakhay berkata lagi:

"Aku tahu kau sudah banyak mengembara di seantero jagad, pengetahuan dan pengalamanmu sangat luas, banyak kejadian, banyak wilayah yang mungkin tidak pernah diketahui orang, bagimu bukan satu kejadian yang aneh atau paling tidak sama sekali tidak ada bayangan"

"Sebenarnya apa masalahmu?" tidak tahan Tu Siau-thian menegur.

"Pernah tahu makhluk yang bernama Laron penghisap darah?" tanya Jui Pakhay sambil bersin beberapa kali. "Laron penghisap darah?" Tu Siau-thian agak tertegun, "maksudmu Laron penghisap darah yang banyak hidup di dalam belantara hutan diwilayah Siau-siang?"

"Aaah, rupanya kau tahu juga tentang hal ini" seru Jui Pakhay kegirangan.

"Aku memang berasal dari wilayah Siau-siang" "Bagus sekali "

"Kenapa secara tiba-tiba kau menanyakan soal makhluk itu?" Tu Siau-thian bertanya lebih jauh.

Jui Pakhay tidak langsung menjawab, kembali dia bertanya: "Sebenarnya makhluk apakah itu?"

"Salah satu jenis Laron" sahut Tu Siau-thian sambil berusaha menekan perasaan heran dan tercengangnya.

"Jadi sama persis seperti jenis Laron pada umumnya?" "Bentuk luarnya memang sama persis, tapi warnanya

sangat berbeda" "Apa warnanya?"

"Hijau muda" Tu Siau-thian menerangkan sambil tertawa, "hijau muda mendekati warna batu kemala hijau, matanya berwarna merah, pada kedua belah sayapnya terdapat pula guratan merah bermotif mata, sepasang mata itupun berwarna merah, semerah darah segar, sementara disekeliling matanya dipenuhi serat-serat merah seperti guratan darah segar"

"Apakah karena sering menghisap darah manusia dan hewan, maka dia berubah menjadi bentuk seperti itu?"

"Ooh, jadi kaupun terpengaruh oleh cerita dongeng itu?" seru Tu Siau-thian sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Memangnya berita itu hanya sekedar berita angin?" "Memang begitulah!" seru Tu Siau-thian sambil tertawa dan manggut manggut.

"Kalau memang begitu, kenapa makhluk tersebut dinamakan Laron penghisap darah?"

"Ini disebabkan sepasang matanya yang berwarna merah darah, garis guratan mata yang merah darah serta garis garis darah pada sepasang sayapnya, orang yang kurang tahu beranggapan bahwa merahnya mata tersebut lantaran kebanyakan menghisap darah manusia dan hewan, akhirnya semua orangpun menyebut Laron tersebut sebagai Laron penghisap darah"

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya: "Orang bukan hanya menyebutnya sebagai Laron

penghisap darah, malahan ada yang menyebutnya sebagai penyamun bermuka setan"

"Yaa, betul, jika dipandang dari punggungnya makhluk itu memang mirip sekali dengan selembar wajah setan" tanpa terasa Jui Pakhay mengangguk membenarkan.

Tiba-tiba Tu Siau-thian tertawa tergelak, selanya: "Kapan sih kau pernah bertemu setan?"

Jui Pakhay melengak, sesaat kemudian dia menggeleng: "Belum pernah aku melihat setan"

"Lantas darimana kau bisa membayangkan tampang setan itu seperti apa?"

"Aku sendiripun kurang tahu, aku hanya berpendapat tampang manusia tidak mungkin sejelek dan seseram itu"

Tu Siau-thian kembali tertawa tergelak, terusnya:

"Ada sementara orang menyebut makhluk itu sebagai Laron bermata burung gereja, Laron bermata iblis, hal ini disebabkan pada sepasang sayapnya terdapat guratan merah bermotif mata darah"

"Apakah Laron semacam ini dapat menghisap darah?" "Tentu saja tidak dapat, sebab guratan merah darah

bermotif mata yang tumbuh di sayap makhluk itu sudah ada semenjak lahir"

"Kau yakin?"

Tu Siau-thian tidak menjawab, dia terbungkam. Melihat itu, Jui Pakhay segera menatapnya lekat-lekat

Ditatapnya wajah rekannya itu sekejap, kemudian setelah tertawa getir kembali Tu Siau-thian berkata:

"Walaupun aku tidak berani mengatakan yakin, namun hingga detik ini belum satu kalipun menyaksikan ada Laron yang bisa menghisap darah, bahkan mendengar cerita orang pun belum pernah"

"Siapa tahu orang yang benar-benar pernah melihatnya sudah pada mampus semua, mati karena badannya kering, mati karena cairan darahnya telah dihisap habis oleh si Laron penghisap darah itu"

Setelah menarik napas dalam-dalam, lanjutnya: "Orang mati kan tidak mungkin bisa berbicara" Tu Siau-thian tertawa getir:

"Mungkin saja apa yang kau katakan itu benar, tapi menurut apa yang kuketahui, jenis Laron itu tidak suka darah"

"Siapa tahu ada pengecualian?"

Sekali lagi Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya: "Hingga detik ini aku tetap berpendapat bahwa apa yang kau ucapkan itu hanya sekedar berita angin, isapan jempol, hanya sekedar dongeng!"

"Akupun berharap kesemuanya itu hanya sekedar berita isapan jempol belaka"

"Oya...?"

"Paling tidak, aku sudah tidak perlu menguatirkannya lagi" lanjut Jui Pakhay.

"Sebenarnya apa yang kau kuatirkan?" tanya Tu Siau-thian agak melengak.

"Aku kuatir ada Laron penghisap darah yang menghisap darah tubuhku hingga mengering"

Tu Siau-thian semakin tercengang, dengan perasaan tidak habis mengerti kembali tanyanya:

"Kapan kau telah bertemu dengan Laron penghisap darah?" "Kemarin malam"

"Kemarin malam?" Tu Siau-thian semakin tercengang.

"Walaupun aku pernah mendengar cerita dongeng mengenai Laron penghisap darah, namun selama hidup belum pernah berkunjung ke wilayah Siau-siang, akupun belum pernah melihat Laron  penghisap  darah,  tapi  kemarin malam "

"Atas dasar apa kau yakin kalau makhluk yang kau jumpai semalam adalah Laron penghisap darah?" sela Tu Siau-thian cepat.

Jui Pakhay menghela napas panjang:

"Karena Laron yang tiba tiba muncul di dalam perpustakaan ku semalam, persis sama seperti Laron penghisap darah yang dilukiskan dalam cerita dongeng" "Tapi wilayah Siau-siang selisih jauh sekali dari tempat ini, mana mungkin Laron penghisap darah bisa terbang melewati wilayah yang begitu luas hingga tiba disini? Belum pernah kudengar ada kejadian seperti ini" seru Tu Siau-thian semakin keheranan.

"Benar, aku sendiripun belum pernah dengar orang bercerita kalau di tempat ini bisa melihat kehadiran Laron penghisap darah"

"Mungkin juga lantaran ketidak sesuaian suasana dan hawa ditempat ini dengan daerah asalnya, walau begitu bukan berarti suasana dan hawa disini tidak mungkin bisa terjadi perubahan, juga tidak menutup kemungkinan ada Laron penghisap darah yang mampu terbang melintasi wilayah yang luas untuk tiba di sini"

Setelah tertawa dan berganti napas, kembali terusnya: "Padahal meskipun kau telah melihat munculnya seekor

Laron penghisap darah disini, bukan berarti kau mesti kuatir setengah mati. Ketika masih berdiam di daerah Siau-siang dulu, akupun sering bertemu dengan Laron penghisap darah, tapi kenyataannya bukankah hingga detik ini aku masih bisa hidup segar bugar?"

"Tatkala kau bertemu dengan makhluk-makhluk tersebut tempo hari, bisa jadi mereka sudah kekenyangan sehingga tidak berniat menghisap darahmu lagi" ujar Jui Pakhay.

"Hahaha.. mungkin saja perkataanmu itu benar"

Jui Pakhay tidak ikut tertawa, wajahnya semakin murung, keningnya makin berkerut.

Tu Siau-thian merasa kurang leluasa untuk tertawa sendirian, maka sambil berhenti tertawa katanya lagi:

"Aku lihat kau sudah dibikin ketakutan lantaran bertemu dengan Laron penghisap darah semalam" Jui Pakhay tidak menyangkal, dengan mulut membungkam dia mengangguk berulang kali.

"Memangnya Laron penghisap darah yang kau jumpai semalam ada niat akan menghisap darahmu?" tanya Tu Siau- thian lebih lanjut.

Paras muka Jui Pakhay berubah hebat, sahutnya tegas: "Yaa, aku memang melihat kalau dia bermaksud demikian!"

"Kemudian, apakah dia sudah menghisap darahmu?" ejek Tu Siau-thian lagi sambil tertawa.

Bila dilihat dari lagaknya, dia seakan telah menganggap perkataan dari Jui Pakhay itu sebagai bahan gurauan.

Jui Pakhay masih tetap membungkam, tidak tertawa, pun tidak perduli dengan ejekan dari Tu Siau-thian, ujarnya bersungguh-sungguh:

"Tidak, baru saja dia akan menerkam tubuhku, pedangku sudah melancarkan serangan maut ke tubuhnya"

Kali ini Tu Siau-thian nampak terperanjat, serunya tertahan:

"Untuk menghadapi seekor Laron pun kau telah menggunakan senjata andalanmu?"

Jika ditinjau dari lagak serta logat bicaranya, dia seolah sedang menyindir Jui Pakhay karena membesar-besarkan sebuah masalah yang sesungguhnya kecil.

Jui Pakhay sama sekali tak menggubris, bahkan tambahnya:

"Bukan hanya menggunakan senjata andalanku, bahkan senjata rahasia telah kugunakan juga"

"It kiam jit seng, satu pedang tujuh bintang?" "Benar, hampir semuanya telah aku gunakan" jawab Jui Pakhay serius.

Kini Tu Siau-thian baru benar benar terkesiap, akhirnya dia sadar bahwa apa yang diceritakan Jui Pakhay bukanlah cerita lelucon.

Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa) merupakan kepandaian pamungkas andalan Jui Pakhay, tidak sembarangan jago yang mampu menghadapi nya, selama inipun kepandaian pamungkas ini tidak ikan digunakan bila keadaan tidak terlampau gawat.

"Lantas, bagaimana hasilnya?" tanya Tu Siau-thian kemudian.

"Begitu aku lancarkan serangan dengan satu pedang tujuh bintang, tahu-tahu Laron penghisap darah lenyap tidak berbekas"

"Bagaimana lenyapnya?" desak Tu Siau-thian.

"Hilang lenyap dengan begitu saja, lenyap secara tiba-tiba bagaikan setan iblis"

"Apakah semalam kau mabuk berat?" tegur Tu Siau-thian kemudian sambil menatap rekannya lekat-lekat.

"Tidak, jangan lagi mabuk, minum arak setetespun tidak" "Berarti kau tidur kelewat awal hingga bermimpi?" kata Tu

Siau-thian lebih jauh.

"Waktu itu aku baru saja menghantar tamuku pulang, kemudian balik ke perpustakaan dan baru saja akan masuk ke dalam"

Tu Siau-thian membelalakkan matanya lebar-lebar, serunya cepat: "Kalau memang bukan mabuk kepayang karena pengaruh alkohol, juga bukan bermimpi karena kebanyakan tidur, berarti apa yang kau ceritakan merupakan kejadian yang beneran?"

Jui Pakhay menghela napas panjang:

"Haai, masa sampai sekarang kau masih sangsi dengan perkataanku?"

Tu Siau-thian tertawa getir:

"Kini kau sudah menceritakan semua kejadian dengan begitu nyata, biar masih sangsi juga aku harus mulai belajar menerima ucapanmu sebagai satu kenyataan"

"Padahal kalau bukan mengalami sendiri belum tentu aku percaya kalau peristiwa ini merupakan sebuah kenyataan" kata Jui Pakhay pula sambil tertawa getir.

"Kali ini kau datang mencari aku, apakah tujuanmu hanya ingin beritahukan kejadian ini saja?"

"Masih ada dua alasan lain" "Apa alasanmu yang pertama?"

"Aku ingin tahu secara jelas, apakah benar terdapat makhluk yang disebut Laron penghisap darah?"

"Dan sekarang kau sudah jelas, lantas apa alasanmu yang kedua?"

"Minta petunjukmu, bagaimana cara menanggulangi serangan dari makhluk semacam ini"

Untuk sesaat Tu Siau-thian berdiri termangu, agaknya dia tidak menyangka kalau harus menghadapi permintaan semacam ini.

Terdengar Jui Pakhay berkata lebih jauh: "Sebenarnya cara apa yang paling tepat untuk

menanggulangi serangan mematikan dari Laron penghisap darah? Benda apa pula yang paling dipantang Laron penghisap darah semacam ini?"

Tu Siau-thian berdiri melongo, lama kemudian dia baru tertawa getir sembari menggeleng:

"Aku sendiri juga tidak tahu"

Seketika itu juga semangat Jui Pakhay surut kembali, dia jadi lemas dan tidak bernapsu untuk bicara lagi.

"Tapi kaupun tidak usah kelewat kuatir" buru buru Tu Siau- thian menghibur, "aku rasa makhluk tersebut belum tentu sangat menakutkan seperti apa yang diceritakan orang"

Tiba-tiba Jui Pakhay berkata lagi:

"Aku masih dengar ada orang bercerita demikian, Laron pertama yang munculkan diri biasanya adalah utusan dari raja Laron penghisap darah, ketika sang raja Laron sudah memilih sasaran yang akan dijadikan korban penghisapan darah, dia akan mengirim utusannya, seakan hendak memberi kabar kepada orang tersebut bahwa dia akan terpilih menjadi korban, maka setelah kemunculan sang utusan, Laron penghisap darah baru akan muncul berikutnya, menanti sang raja Laron sudah menampilkan diri, kawanan Laron itu baru akan menyerang bersama-sama, setiap Laron akan menusukkan tabung suntiknya ke tubuh sang korban lalu beramai-ramai menghisap cairan darah korbannya sampai mengering!"

"Benar, cerita yang beredar memang mengatakan begitu" Tu Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

"Aku dengar raja Laron baru akan muncul disaat malam bulan purnama"

"Konon memang begitu" kembali Tu Siau-thian mengangguk setelah termenung dan berpikir sejenak.

Menyusul kemudian ia berkata lebih jauh: "Malam ini baru tanggal dua, hingga tanggal lima belas berarti masih ada tiga belas malam"